Anda di halaman 1dari 17

FERTILISASI DAN PERKEMBANGAN EMBRIO IKAN NILEM

(Osteochillus hasselti C.V)

Oleh:
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Qurrotu Ayunin
: B1J011164
: III
:1
: Agus Zakaria

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2012

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fertilisasi merupakan persatuan spermatozoon yang masak dan ovum.
Sperma tak dapat mempengaruhi fertilasi dan telur yang tak masak. Fertilisasi
merangsang telur untuk pembelahan aktif dan pertumbuhan, mengahasilkan
kombinasi cirri-ciri keturunan. Fertilisasi pada ikan terjadi secara internal dan
eksternal. Fertilisasi secara internal ikan dilengkapi dengan organ khusus (copulatory
organ), dan biasanya pada jenis ikan perenang cepat dan hewan-hewan teristrial.
Percobaan fertilisasi dan perkembangan embrio pada Ikan Nilem dilakukan
dengan perlakuan berbeda-beda diantaranya tingkat pengenceran dan jeda waktu
pengamatan yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi sperma
yang sesuai agar dapat membuahi sel telur hingga terjadinya fertilisasi. Tingkat
pengenceran milt yang dilakukan juga bervariasi bertujuan untuk mengetahui berapa
lama waktu yang diperlukan oleh spermatozoid untuk menembus dinding ovum.
Perlakuan waktu yang dilakukan berbeda-beda bertujuan untuk mengetahui tahapan
perkembangan yang terjadi dalam setiap waktunya.
Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) dipilih sebagai preparat dalam praktikum
ini karena memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil (berat per ekor induk yang telah
masak kelamin adalah 120 gram), dapat dipelihara di akuarium dan produk telur
yang dihasilkan oleh setiap induk betina yang masak kelamin cukup banyak yaitu
20.000 butir. Ikan nilem hidup di air tawar dan banyak dibudidayakan masyarakat
sehingga mudah untuk mendapatkannya. Ikan Nilem dapat dipelihara dengan baik
pada daerah dengan ketinggian 150 1000 m dpl, daerah yang paling baik pada
ketingian 1800 m dpl dengan suhu optimum 18 28 C. Pembelahan segmentasi

pada ikan nilem memerlukan waktu yang relatif tidak terlalu lama, sehingga tidak
menjadi kendala pada saat melakukan pengamatan.

B. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah dapat melakukan fertilisasi pada ikan Nilem
(Osteochillus hasselti), mengenali sel telur ikan yang telah difertilisasi dan
mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi fertilisasi, serta mengidentifikasi
tahapan perkembangan embrio ikan.

//
II. TINJAUAN PUSTAKA

Tahap awal pembenihan dilakukan dengan memijahkan induk yang akan


menghasilkan zigot (sel telur yang telah dibuahi spermatozoa). Zigot kemudian
berkembang menjadi calon individu baru melelui proses perkembangan embrio
(embriogenesis). Embriogenesis ini sangat menentukan perkembangan tahapan
selanjutnya untuk menjadi individu baru (Hartanto, 2000).
Fungsi sel sperma dan sel telur, spermatozoa adalah nama yang diberikan pada
sel reproduksi jantan. Fungsinya adalah untuk melakukan pembelahan melalui
penyatuan dengan sel telur. Hewan jantan dapat memproduksi jutaan sperma pada
setiap ejakulasi. Sperma dikelilingi oleh cairan mani. Setelah sperma terbentuk di
testis, bergerak menuju epididimis, di sini sperma disimpan sampai mencapai
kematangan penuh. Selanjutnya menuju vasdiferent dan kedasar kandung kencing
untuk menerima cairan mani. Indung telur berfungsi membuat dan melepaskan telurtelur yang sudah matang (Rozaq, 2006).
Pembuahan atau fertilisasi adalah peleburan dua gamet yang dapat berupa
nukleus atau sel-sel bernukleus untuk membentuk sel tunggal (zigot) atau peleburan
nukleus. Biasanya melibatkan penggabungan sitoplasma (plasmogami) dan
penyatuan bahan nukleus (kariogami). Dengan meiosis, zigot itu membentuk ciri
fundamental dari kebanyakan siklus seksual eukariota, dan pada dasarnya gametgamet yang melebur adalah haploid. Bilamana keduanya motil maka fertilisasi itu
disebut isogami, bilamana berbeda dalam ukuran tetapi serupa dalam bentuk maka
disebut anisogami, bila satu tidak motil (dan biasanya lebih besar) dinamakan
oogami (Huttner, 1980).

Fertilisasi dapat terjadi dengan dua cara, yaitu fertilisasi eksternal dan
fertilisasi internal. Fertilisasi eksternal (khas pada hewan-hewan akuatik) terjadi
karena gamet-gametnya dikeluarkan dari dalam tubuhnya sebelum fertilisasi.
Fertilisasi internal (khas untuk adaptasi dengan kehidupan di darat) terjadi karena
sperma dimasukkan ke dalam daerah reproduksi betina yang kemudian disusul
dengan fertilisasi. Telur itu membentuk membran fertilisasi untuk merintangi
pemasukan sperma lebih lanjut. Kadang-kadang sperma itu diperlukan hanya untuk
mengaktivasi telur (Pattern, 1992).
Perkembangan embrio merupakan suatu kelanjutan hasil fertilisasi dari hasil
sel telur dan sel sperma yang kemudian setelah dibuahi akan mengalami proses
pembentukan pola-pola pembelahan telur yang disebut cleavage. Sel telur membelah
secara berturut-turut hingga mencapai fase diferensiasi menjadi bentuk dewasa pada
tahap organogenesis. Pertumbuhan menjadi sistem organ yang kompleks dan saling
tergantung merupakan suatu hal yang terinci dalam sistem biologis yang semuanya
akan termodifikasi secara sempurna (Harvey, 1979).
Tahap perkembangan embrio adalah Singgami yaitu pembentukan pronuklei
jantan dan betina, Cleavage yaitu pembelahan zigot secara tepat menjadi unit-unit sel
yang lebih kecil (blastomer), Blastulasi yaitu proses pembentukan blastula,
Gastrulasi yaitu proses pemisahan blastoderm menjadi tiga lapis sel germinal yang
sudah terbentuk pada saat blastulasi dan yang terakhir Organogenesis yaitu proses
perkembangan berbagai organ tubuh. Hal ini sesuai dengan pernyataan Welsen dalam
Sutisna dan Sutarmanto (1995) bahwa tahap perkembangan embrio adalah sinngami,
cleavage, blastulasi, gastrulasi dan organogenesis. Menurut Yatim (1994) perubahan
yang terjadi pada tingkat inti yaitu dilanjutkan proses meiosis II dan dilepaskannya

polarbody II. Inti telur selanjutnya mengalami perubahan membentuk pronuklei


betina, bersamaan dengan itu inti spermatozoa membentuk pronuklei jantan.
Ciri ikan siap memijah adalah ikan masak kelamin, baik ikan jantan maupun
betina. Ikan betina akan mengeluarkan senyawa kimia yang menyebabkan jantan
pasangannya tertarik untuk mengawininya. Selain cirri diatas, ikan yang siap
memijah menunjukkan tingkah laku yang berbeda dari biasanya (Soeminto, 2008)

III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah spuit injeksi, kain
katun, akuarium yang dilengkapi dengan sistem aerasi, mangkuk untuk menampung
milt, pipet transfer, well plate, cawan, mikroskop cahaya, pencatat waktu,
haemocytometer, cavity slide, dan saringan.
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah ikan nilem jantan dan
betina matang gonad dan sediaan hormon, larutan NaCl fisiologid atau laturan
Ringer dan air sumur.

B. Metode

Metode yang digunakan dalam praktikum Fertilisasi dan Perkembangan


Embrio Ikan adalah sebagai berikut :
1. Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) jantan dan betina distripping.
2. Milt dari Ikan Nilem jantan diambil dengan spuit injeksi dan diletakkan
dipiring.
3. Telur dari Ikan Nilem betina diambil dengan menggunakan sendok dan
diletakkan dalam saringan teh.
4. Fertilisasi dilakukan dengan cara:
a. Milt dicampurkan dengan telur pada pengenceran 100x
b. Semprotkan air untuk aktivator sperma.
c. Goyang selama satu menit agar homogen.
d. Pindah ke mangkuk pemeliharaan.
5. Sepuluh sel telur diambil untuk dilihat perkembangannya.
6. Diamati perubahan selnya dengan selang waktu tertentu.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Gambar Perkembangan Zigot (hasil yang di dapat sampai praktikum berakhir)

Gambar Hylock

Gambar 2 sel

4 sel

morula

Gambar 4 sel

Gambar Morula

Gambar sel rusak


Tabel 1. Persentase telur terbuahi pada jeda waktu yang berbeda
Jeda waktu Persentase telur terbuahi
Total (%)
(menit)
Ulangan 1 Ulangan 2
Kontrol
1 menit
0%
0%
2 menit
0%
0%

Rerata (%)
0%
0%

3 menit

0%

0%

0%

0%

Tabel 2. Persentase telur terbuahi dari setiap konsentrasi spermatozoa/ ml milt


Persentase telur terbuahi

Konsentrasi
spermatozoa/
ml milt

Ulangan I

Ulangan II

1.000 x
10.000 x

0%
0%

0%
0%

Total (%)

Rerata(%)

0%
0%

0%
0%

Tabel 3. Persentase telur pada setiap tahap perkembangan selama waktu pengamatan
pada masing-masing perlakuan
% Telur pada
Jumlah Rerata
setiap tahap
Waktu
Tahap
(%)
(%)
Perlakuan
perkembangan
Pengamatan
Perkembangan
U1
U2
5 pertama
Rusak
0%
%
Hylock
5 kedua
1 sel
0%
0%
2 sel
8 sel
Rusak
10
Hylock
0%
0%
Rusak
2 sel
kontrol
10
Rusak
0%
0%
2 sel
4 sel
10
Rusak
0%
0%
Hylock
1 sel
4 sel
Perlaku
an
Jeda
Waktu
2 menit

Waktu
Tahap
Pengamata Perkemba
n
ngan
5 pertama Rusak
Hylock
5 kedua
Rusak
1 sel
Hylock
10
Rusak
1 sel
10
Rusak
Hylock

% Telur pada setiap


tahap perkembangan
U1
U2
100% 90%
10%
80%
100%
20%
80%
100%
20%
90%
100%
10%
-

Jumlah
270%
30%
250%
30%
20%
220%
80%
220%
20%

Rerata
90%
15%
83%
15%
20%
73%
40%
73%
10%

Perlakua
n

10

1 sel
2 sel
8 sel
Rusak

Waktu
Pengamata
n

Tahap
Perkembang
an

5 pertama

Hylock
Rusak
1 sel
2 sel
8 sel
Rusak
Hylock
Rusak
2 sel
Rusak
2 sel
4 sel
Rusak
1 sel
4 sel
Hylock

5 kedua
Jeda
waktu 1
menit

10
10
10

Perlakua
n

Waktu
Pengamata
n
5 pertama
5 kedua

Jeda
Waktu
2 menit

10
10

10

Tahap
Perkemban
gan
Rusak
Hylock
Rusak
1 sel
Hylock
Rusak
1 sel
Rusak
Hylock
1 sel
2 sel
8 sel
Rusak

80%

100%

40%
10%
10%
220%

40%
10%
10%
73%

% Telur pada
setiap tahap
perkembangan
U1
U2
0%
0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

0%

% Telur pada setiap


tahap perkembangan
U1
U2
100% 90%
10%
80%
100%
20%
80%
100%
20%
90%
100%
10%
80%
100%

Jumlah
(%)

Rerata
(%)

Jumlah
270%
30%
250%
30%
20%
220%
80%
220%
20%
40%
10%
10%
220%

Rerata
90%
15%
83%
15%
20%
73%
40%
73%
10%
40%
10%
10%
73%

Perlakua
n

Waktu
Pengamata
n

Tahap
Perkembanga
n

5 pertama

Rusak
1 sel
4 sel
Rusak
1 sel
Hylock
4 sel
Rusak
1 sel
Hylock
2 sel
4 sel
8 sel
Rusak
Morulla
Hylock
1 sel
2 sel
Rusak
Hylock

5 kedua

10

Jeda
waktu 3
menit

10

10

% Telur pada
setiap tahap
perkembangan
U1
U2
70 %
20 %
30%
50%
40%
60%
30%
10%
30%
70%
40%
10%
20%
10%
20%
30%
10%
90%
60%
10%
60%
10%
80%

Jumlah
110%
140%
10%
40%
60%
60%
30%
30%
150%
70%
30%
10%
20%
30%
20%
130%
110%
10%
70%
70%

Rerata
37%
47%
10%
40%
60%
30%
15%
30%
50%
35%
15%
10%
20%
30%
10%
65%
37%
10%
35%
150%

A. PEMBAHASAN

Praktikum kali ini praktikan hanya mengamati perkembangan telur yang


telah dibuahi, karena pada praktikum rombongan III terjadi kegagalan pada acara
fertilisasinya, hal tersebut dikarenakan ikan betina telah memijah sebelum dilakukan
fertilisasi. Diperkirakan ikan memijah 7 6 jam sebelum digunakan untuk
praktikum. Oleh karenanya, pada saat diamati dengan mikroskop sel telur sudah
menandakan adanya fertilisasi, yaitu telah terbentuknya hylock, ada juga sel telur
yang telah rusak yang mungkin dikarenakan proses ovulasinya tidak sempurna.
Sedangkan kelompok 3 dan 4 tetap melakukan praktikum walaupun telurnya sudah
rusak.

Pembuahan atau fertilisasi adalah peleburan dua gamet yang dapat berupa
nucleus atau sel-sel bernukleus untuk membentuk se tunggal (zigot) atau peleburan
nucleus. Biasanya melibatkan penggabungan sitoplasma dan penyatuan bahan
nucleus. Dengan meiosis, zigot itu membentuk cirri fundamental dari kebanyakan
siklus seksusl eukariot,dan pada dasarnya gamet-gamet yang melebur adalah haploid.
Bilamana keduanya motil pada tumbuhan, maka fertilisasi itu disebut isogami,
bilamana berbeda dalam ukuran tetapi serupa dalam bentuk disebut anisogami, bila
satu tidak motil (dan biasanya lebih besar) dinamakan oogami. Hal ini merupakan
cara khas pada bebrapa hewan, tumbuhan dan sebagian besar jamur. Fertilisasi pada
hewan ada dua macam yaitu fertilisasi eksternal dan fertilisasi internal. Fertilisasi
eksternal khas pada hewan-hewan akuatik, yaitu merupakan proses fertilisasi dimana
gamet-gametnya dikeluarkan dari dalam tubuhnya sebelum fertilisasi. Fertilisasi
internal khas untuk adaptasi dengan kehidupan di darat, sperma dimasukkan ke
dalam daerah reproduksi betina yang kemudian disusul dengan fertilisasi. Setelah
pembuahan, telur itu membentuk membran fertilisasi (membran feripitelina) untuk
merintangi pemasukan sperma lebih lanjut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan fertilisasi adalah kualitas
pakan induk yang diberikan dan salah satu unsur nutrien pakan yang harus ada dalam
pakan induk untuk meningkatkan reproduksinya adalah vitamin E (Yulfiperius,
2003). Rendahnya tingkat fertilisasi dari spermatozoa di dalam air. Hal ini
mengakibatkan banyaknya sel telur yang tidak terbuahi secara sempurna (Masrizal
dan Efrizal, 1997). Dalam satu siklus reproduksi ikan dapat dihasilkan sel telur
sampai jutaan per ekor, tetapi yang terbuahi hanya mencapai 5% dari total.
Permasalahan lain adalah kurangnya ketersediaan cairan spermatozoa pada waktu
pembuahan buatan, rendahnya

spermatozoa dalam fertilisasi buatan ini juga

disebabkan oleh aktivitas spermatozoa yang relatif singkat (Nurman, 1988). Hal
tersebut dapat disebabkan oleh singkatnya waktu viabilitas dan motilitas dari
spermatozoa untuk menembus lubang mikrifol pada sel telur rendah.
Fertilisasi dapat didukung oleh kualitas spermatozoa yang baik. Untuk
mengetahui tingkat fertilitas yang lebih tinggi, perlu dicari larutan fisiologis yang
dapat menambah daya motilitas dan viabilitas spermatozoa. Penggunaan larutan
fisiologis yang mengandung NaCl dan urea dapat mempertahankan daya hidup
spermatozoa antara 20-25 menit (Nurman. 1998).
Fungsi sel sperma dan sel telur, spermatozoa adalah nama yang diberikan
pada sel reproduksi jantan. Fungsinya adalah untuk melakukan pembuahan melalui
penyatuan dengan sel telur. Hewan jantan dapat memproduksi jutaan sel sperma pada
setiap ejakulasi. Sperma dikelilingi oleh cairan mani. Setelah sperma terbentuk di
testis, bergerak menuju epididimis, di sisni sperma disimpan sampai mencapai
kematangan penuh. Selanjutnya sperma menuju vasdiferent dan ke dasar kandung
kencing untuk menerima cairan mani. Pada saat ejakulasi sperma keluar melalui
saluran kencing.
Tahap perkembangan embrio awalnya adalah zigot mulai menjalani
pembelahan awal mitosis sampai beberapa kali. Sel-sel yang dihasilkan dari setiap
pembelahan berukuran lebih kecil dari ukuran induknya, disebut blastomer. Sesudah
memasuki 3-4 kali pembelahan, zigot memasuki tingkat 16 sel, disebut stadium
morula, morula terdiri dari inner cell mass (kumpulan sel-sel disebelah dalam, yang
akan tumbuh menjadi trofoblas sampai plasenta). Rongga sela-sela inner cell mass
akan merembes menembus zona pellucida, membentuk ruang antar sel. Ruang antar
sel ini kemudian bersatu dan memenuhi sebagian besar massa zigot membentuk
blastokista. Inner cell mass tetap berkumpul di salah satu sisi, tetap berbatasan

dengan lapisan sel luar. Zigot dalam stadium ini disebut berada dalam stadium
balastula atau pembentukan blastokista. Inner cell mass kemudian disebut sebagai
embrioblas, dan outer cell mass kemudian diisebut sebagai trofoblas.
Proses terakhir dari fertilisasi adalah pembelahan mitosis berulang-ulang dari
telur yang disebut pembelahan (cleavage). Cleavage adalah proses proliferasi zigot
menjadi morula melalui pembelahan mitosis secara berangkai yang terjadi segera
pasca pembuahan. Mula-mula zigot membelah menjadi dua buah sel yang disebut
blastomer turunan pertama. Kemudian masing-masing blastomer tersebut membelah
lagi menjadi empat blastomer turunan kedua dan begitu seterusnya, sehingga
terbentuk 8, 16, dan 32 blastomer turunan ketiga, keempat, dan kelima. Besar
blastomer turunan pertama, turunan kedua, dan blastomer turunan berikutnya makin
mengecil, karena blastomer yang baru terbentuk segera membelah diri lagi, sehingga
tidak ada waktu untuk tumbuh. Oleh karena itu perlu diingat bahwa selama cleavage,
zona pelusida ovum tetap utuh. Dalam cleavage, blastomer melekat satu sama lain
oleh kekuatan tigmotaksis (Sukra, 2000).
Zigot

yang

telah

terbentuk

selanjutnya

membelah-belah

diri

atau

berproliferasi dengan cara mitosis menjadi dua sel, kemudian menjadi empat sel dan
seterusnya. Sehingga jumlah sel hasil pembelahan menjadi banyak. Proses zigot
membelah diri ini disebut cleavage. Blastogenesis meliputi pembentukan morula,
blastula, dan gastrula (Sukra, 2000).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan


bahwa:

1. Pembuahan ikan nilem terjadi di luah tubuh induknya atau disebut juga
fertilisasi eksternal, dan dalam praktikum ini praktikan telah mampu
melakukan pembuahan pada Ikan Nilem (Osteochillus hasselti C.V).Adapun
tahapan perkembangan embrio adalah morula, blastula, gastrula, neurulasi,
morfogenesis, diferensiasi, dan organogenesis.
2. Fertilisasi dipengaruhi oleh temperatur, pH, dan salinitas.
A. Saran
Sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum dipersiapkan
dengan baik dan benar agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, praktikan
harus teliti,dan lebih sabar dalam menjalankan praktikum.

DAFTAR REFERENSI

Basaran, f et al. 2007. Induced Spawning, Fertilization Rate and Hatching Rate of
Brill, Scophthalmus rhombus. Journal of Applied Biological
Sciences 2 (1): 17-21, 2008.
Effendy, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Nusatama. Bogor.
Jamieson, B.G. M. 1990. Fish Evolution and Systematics: Evidance from
Spermatozoa (with a survey of lophophorate, echinoderm and

protochordate sperm and an account of gamete cryopreservation.


Cambridge University Press. New York.
Kamler, E. 1992. Early life history of fish. An energetics approach. Chapman and
hall. London. 267 pp.
Linder, M.C. 1992. Biokimia nutrisi dan metabolisme (terjemah). Universitas
Indonesia, Jakarta. 781 hal.
Masrizal dan Efrizal. 1997. Pengaruh Rasio Pengenceran Mani Terhadap Fertilisasi
Sperma dan Daya Tetas Telur Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Fisheries
Journal Garing 6:1-9
M. M. Turcotte, M. N. Pires, R. C. Vrijenhoekand D. N. Reznic Department of
Biology, University of California, Riverside, CA, USA; and Moss Landing,
CA, USA Monterey Bay Aquarium Research Institut.
Nurman. 1998. Pengaruh Penyuntikan Ovaprim terhadap Kualitas Spermatozoa Ikan
Lele Dumbo (Clarias gariepinus Burchell). Fisheries Journal Garing 7: 3442
Squest M, Billard. R, Cosson J., Dorange G.,Chauvaud l., Mugnier C.,& Fauvel L.,
1994. Sperm features in turbot (Scophtalmus maximus): A comparison eith
other freswater and marine fish species. Aquatic living Resaurces. 7: 283294.
Wijayanti, Grantiana.E. 2005. Viabilitas dan Perkembangan Embrio serta Larva Ikan
Nilem (Osteochillus hasselti C.V.) Pasca Chorion Puncture. J. Biol. Indon.
Vol. III, No. 10: 411-419
Yulferius, 2001. Pengaruh kadar vitamin E dalam pakan terhadap kualitas telur ikan
patin Pangisius hypophthalamus. Tesis, Program Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor. 40 hal.