Anda di halaman 1dari 16

Penentuan Kadar Zat Aditif pada Plastik Kemasan dengan

Menggunakan Spektroskopi Inframerah


Tanggal praktikum : 14 April 2014
A. Tujuan praktikum
1. Menentukan keberadaan zat aditif pada plastik kemasan melalui perlakuan pemanasan
2. Memahami prinsip dasar spektrometri inframerah dan menggunakannya untuk
identifikasi zat
3. Mengembangkan kemampuan komunikasi verbal dan nonverbal berkaitan dengan
hasil analisi
B. Tinjauan pustaka
Senyawa kimia terntentu (hasil sintesis atau alami) melalui kemampuan menyerap
radiasi elektromagnetik dalam daerah spectrum inframerah (IR). Absorpsi radiasi IR pada
material tertentu berkaitan dengan fenomena bergetarnya molekul atau atom. Spectrum
serapan inframerah suatu senyawa mempunyai pola yang khas, sehingga berguna untuk
identifikasi senyawa (identifikasi keberadaan gugus-gugus fungsi yang ada).
(Wiji,2014 :15)
Radiasi elektromagnetik dapat dianggap sebagai radiasi energi yang disebar sebagai
gelombang transversal. Vibrasinya tegak lurus dengan arah gelombang, hal ini
menghasilkan pergerakan gelombang pada radiasinya. Gelombang dinyatakan dalam
bentuk panjang gelombang, yakni jarak antar gelombang, atau dalam bentuk frekuensi,
yakni jumlah perputaran yang melewati titik tetap per satuan waktu. Kebalikan dari
panjang gelombang disebut bilangan gelombang yang merupakan jumlah gelombang
dalam satuan panjang atau jarak per putaran.

Gambar 1 : Gelombang Radiasi Elektromagnetik


Hubungan antra panjang gelombang dan frekuansi adalah :
adalah panjang gelombang,

, dimana

adalah frekuansi yang berbanding terbalik dengan waktu

dalam detik (s) atau Hertz (Hz) dan c adalah kecepatan cahaya (
gelombang ditunjukkan oleh

). Panjang

dalam

Panjang gelombang radiasi elektromagnetik bervariasi, mulai dari satuan angstrong


sampai meter. Radiasi elektromagnetik memiliki sejumlah energi. Satuan energi radiasi
disebut foton. Jika dihubungkan dengan frekuensi atau panjang gelombang diperoleh
persamaan :
Hubungan tersebut dapat dinyatakan bahwa semakin kecil panjang gelombang, atau
semakin tinggi frekuensi, maka energi semakin besar.
Dari pernyataan tersebut, spectrum elektromagnetik dibagi-bagi ke dalam daerah-daerah
yang berbeda berdasarkan panjang gelombang.
Spektrometri

inframerah

meruapakan

salah

(Cristian,2003 : 458-460)
teknik analisis untuk

satu

mengidentifikasi senyawa-senyawa organik murni maupun senyawa anorganik.


Absorbansi radiasi inframerah sesuai dengan tingkat energi vibrasi dan rotasi pada ikatan
kovalen yang mengalami perubahan momen dipol dalam suatu molekul. Maka dari itu
hampir semua senyawa dapat menyerap radiasi inframerah kecuali yang berinti sama,
seperti O2, N2 dan lain-lain.
(Mudzakir, 2008: 6)
Spectrometri inframerah meruapakan suatu metode yang mengamati interaksi molekul
dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang gelombang 0,78 1000
atau pada bilangan gelombang 12800-10
Tabel 1. Daerah Spektra Inframerah
Wavelength

Wavenumbers
Frequencies

Region

, Hz

,
Dekat

0.78 - 2.5

12800 - 4000

3,8

1014 1,2

1014

Tengah

2.5 - 50

4000 - 200

1,2

1014 6,0

1012

50 - 1000

200 - 10

6,0

1012 3,0

1011

2.5 - 15

4000 - 670

1,2

1014 2,0

1013

Jauh
Banyak digunakan

(Skoog, 2004 : 431)


Dari pembagian daerah spektrum elekromagnetik tersebut diatas, daerah panjang
gelombang yang sering digunakan pada alat spektroskopi inframerah adalah pada daerah
inframerah pertengahan, yaitu pada panjang gelombang 2,5 m 50 m atau pada
bilangan gelombang 4000 cm-1 200 cm-1. Daerah tersebut adalah cocok untuk
perubahan energi vibrasi dalam molekul. Daerah inframerah yang jauh berguna untuk
molekul yang mengandung atom berat, seperti senyawa anorganik tetapi lebih
memerlukan teknik khusus percobaan.
Senyawa kimia tertentu (hasil sintesa atau alami) mempunyai kemampuan menyerap
radiasi elektromagnetik dalam daerah spektrum inframerah. Absorpsi radiasi IR pada
material tertentu berkaitan dengan fenomena bergetarnya molekul atau atom. Metode
Spektroskopi inframerah ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu senyawa yang
belum diketahui karena spektrum yang dihasilkan spesifik untuk senyawa tersebut,
metode ini banyak digunakan karena :
1. Cepat dan relatif murah
2. Dapat digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsional dalam molekul.
3. Spektrum inframerah yang dihasilkan oleh suatu senyawa adalah khas dan
oleh karena itu dapat menyajikan sebuah fingerprint untuk senyawa tersebut.
Serapan khas beberapa gugus fungsi

Molekul yang dapat berinteraksi dengan sinar inframerah merupakan molekul yang
mempunyai dipol atau tidak simetris. Radiasi inframerah yang dipakai harus berada pada
frekuensi yang sesuai dengan rentang frekuensi alamiah molekul tersebut. Besarnya
frekuensi yang diserap tergantung pada struktur molekul dan jenis vibrasi yang dimiliki
oleh molekul.
Vibrasi molekul hanya akan terjadi bila suatu molekul terdiri dari dua atom atau lebih.
Untuk dapat menyerap radiasi inframerah (aktif inframerah), vibrasi suatu molekul harus
menghasilkan perubahan momen dipol. Momen dipol ditentukan oleh besarnya perbedaan
muatan dan jarak antara dua inti atom.
Dengan

menyatakan momen dipol,

besarnya muatan (Debye,0) dan d jarak antara dua

inti atom yang berikatan. Sebagai akibat dari terjadinya vibrasi, posisi relative atom-atom
dalam sebuah molekul tidaklah tetap, tetapi berfluktuasi secara kontinyu. Molekul yang
tidak mempunyai momen dipol (

atau selama bervibrasi ikatannya tidak

menghasilkan perubahan dipol seperti O2, N2, atau Cl2 maka reaksi ataupun vibrasi
molekulnya tidak menyerap radiasi inframerah (tidak aktif inframerah).
Molekul-molekul poliatom memperlihatkan dua jenis vibrasi molekul, yaitu stretching
dan bending. Vibrasi ikatan yang melibatkan hydrogen sangat berarti, karena atom-atom
dengan massa rendah cenderung lebih mudah bergetar daripada atom dengan massa lebih
tinggi. Bentuk-bentuk vibrasi gugus metilen

Vibrasi stretching

Vibrasi bending

Semakin rumit struktur suatu molekul, semakin banyak bentuk-bentuk vibrasinya yang
mungkin terjadi. Akibatnya semakin banyak pita-pita absorbs yang diperoleh pada
spectrum inframerah, bahkan bisa lebih rumit lagi bergantung pada molekul dan kepekaan
instrument.

Keterangan :
= jumlah gelombang (cm-1)
= kecepatan cahaya (cm det-1)
= massa atom 1 (g)
= massa atom 2 (g)
= tetapan gaya (dyne cm-1 = g det-2)
Semakin besar tetapan gaya, semakin besar frekuensi vibrasi dan semakin besar jarak
energi diantara tingkat-tingkat kuantum vibrasi. Tetapan gaya untuk ikatan tunggal,
rangkap dua dan rangkap tiga masing-masing 5

10-5,10

10-5 dan 15

10-5 dyne cm-1.

Untuk mengidentifikasi senyawa yang belum diketahui perlu dibandingkan dengan


spectrum standar yang dibuat pada kondisi yang sama. Daerah absopsi pada kisaran
frekuensi 1500 700 cm-1 atau panjang gelombang 6,7 14 m disebut dengan daerah
sidik jari (fingersprint). Senyawa yang mempunyai spectrum inframerah sama adalah
identik.
(Hendayana, 1994 : 192)
Instrumentasi IR
Prinsip kerja spektofotometer inframerah pada dasarnya yaitu radiasi inframerah
dilewatkan melalui suatu cuplikan yang dapat menyerap energi. Setelah itu terjadi lah
transisi diantara tingkat vibrasi dasar dan vibrasi tereksitasi berupa berkas radiasi
inframerah yang ditangkap oleh dtektor. Kemudian sinyal yang dihasilkan dari detector
direkam sebagai spectrum inframerah yang berbentuk puncak-puncak absorpsi berupa
grafik.

1. Sumber Radiasi
Suatu sumber radiasi untuk spektroskopi IR harus memenuhi persyaratan
sumber radiasi yang ideal, yaitu bahwa intensitas radiasi (1) terus menerus selama
rentang panjang gelombang yang dgunakan, (2) mencakup rentang panjang
gelombang yang luas, (3) konstan selama jangka waktu yang lama. Sumber yang
paling umum dari radiasi IR untuk wilayah mid-IR adalah Nernst Glower, globars
dan heated weirs. Suhu pengoprasian normal untuk sumebr IR adalah antara 1100
- 1500 K.
a. Nernst Glower
Merupakan campuran oksida zirkonium dan natrium yaitu ZrO3 dan Y2O3.
Nernst glower berupa silinder dengan diameter 1-2 mm dan panjang 20mm.
pada ujung silinder dilapisi platina untuk melewatkan arus listrik. Nernst
glower mempunyai radiasi maksimum dan panjang gelombang 1,4
bilangn gelombang 7100 cm-1.

b. Globar
6

atau

Merupakan sebarang silicon karbida (SiC) dengan diameter 5mm dan panjang
50mm, radiasi maksimum terjadi dalam

max = 1,8 2,0

atau bilangan

gelombang 7100 cm-1.

c. Kawat nikrom
Merupakan campuran nikel dank rom, berbentuk spiral mempunyai intensitas
radiasi inframerah lebih rendah dari Nernst glower dang lobar tetapi lebih
umum.
2. Interferometer
Interferometer berfungsi untuk mengubah cahaya infra merah yang polikromatik
yang menghasilkan beberapa berkas cahaya membentuk sinar interferogram.
Diagram interferogram sebagai berikut :

Interferometer terdiri atas beam splitter, moving mirror dan fixed mirror.
a. Beam splitter
Dugunakan untuk memecah dan menyatukan kembali berkas sinar karena
sifatnya dapat meneruskan (transmisi) dan memantulkan (refleksi) sinar yang
mengenainya. Berkas sinar hasil penggabungan dan dua berkas yang telah
diperoleh atau terjadi interferensi dengan memvariasi jarak tempuh berkas
dengan mengubah posisi cermin bergerak menjau dan mendekat.
b. Cermin datar
Cermin datar berjumlah dua buah yang digunakan untuk memantulkan sinar
dari bema splitter kembali ke beam splitter lagi untuk dogabung agar terjadi
proses interferensi gelombang cahaya. Salah satu cermin (moving mirror)
7

dapat digerakan mendekati atau menjauhi beam splitter, sedangkan cermin


yang lain (fixed mirror) dibuat tetap. Dengan demikian radiasi inframerah
akan menghasilkan (menimbulkan) perbedaan jarak yang ditempuh menuju
cermin yang bergerak (M) dan jarak cermin yang diam (F). Perbedaan jarak
tempuh radiasi tersebut yang selanjutnya disebut sebagai rotardasi. Hubungan
antara intensitas radiasi IR yang diterima detector terhadap rotardasi disebut
sebagai interferogram. Ukuran cermin datar disesuaikan dengan cahaya yang
terbentuk yaitu dengan bentuk lingkaran dengan diameter sekitar 5cm.
3. Wadah sampel
Sampel berbentuk gas digunakan sel gas denga lebar sel atau panjang berkas
radiasi 40mm. Sampel berbentuk cairan umumnya mempunyai panjang berkas
radiasi kurang dari 1mm. Sampel cair dibuat lapisan tipis (film) diantara dua
keeping senyawa transfaran terhadap radiasi IR atau dibuat larutan dan
dimasukkan ke dalam sel. Senyawa yang biasa digunakan adalah CCl4, CS2 dan
CHCl3. Untuk sampel padat dibuat pelet, pasta atau lapisan tipis menggunakan
KBr atau NaCl. Wadah sampel untuk padatan disebut window atau diamond table
cell.
4. Detektor
Berfungsi untuk mendeteksi atau mengukur sinyal radiasi IR yang berupa
interferogram. Detector pada spectrometer inframerah merupakan alat yang bisa
mengukur energi radiasi berupa panas. Berbeda dengan detector lainnya,
penguraian radiasi inframerah lebih sulit karena intensitas radiasi rendah dan
energi foton inframerah juga rendah. Akibatnya sinyal dari detektor inframerah
kecil dalam pengukurannya harus diperbesar.
5. Rekorder
Alat pencatat ini menggunakan rekorder berupa kertas grafik ukuran tertentu.
Hasil yang diperoleh dicatat sebagai pita dengan puncak-puncak persen
transmitansi dengan bilangan gelombang.
Plastik merupakan polimer sintetik yang terbentuk dari reaksi polimerisasi monomermonomernya.
Jenis-jenis Plastik :
1. PETE atau ETE (Polietilen tereftalat)

PET atau PETE sering digunakan sebagai botol minuman, minyak goreng, kecap,
sambal, obat maupun kosmetik. Tembus pandang, kuat, tahan pelarut, kedap gas dan
cairan, melembek pada suhu 80 . Hanya dianjurkan 1 kali pakai.

2. HDPE (High Density polyethylen)


HDPE banyak ditemukan sebagai kemasan makanan dan obat yang tidak tembus
pandang. HDPE biasanya keras dan tahan terhadap bahan-bahan kimia dan cair.
Permukaan berlilin namun buram, melembek pada suhu 75 .

3. V atau PVC (Polyvinyl Cloride)


PVC sering digunakan pada produk mainan anak, bahan bangunan, dan kemasan pada
produk makanan. Biasanya kuat, keras, tembus pandang, melembek pada 80 , sulit
didaur ulang. Dianjurkan dihindari

4. LDPE (Low Density Polyethylene)


LDPE biasa digunakan untuk membungkus makanan. Lunak, fleksibel, berlilin, tidak
jernih tapi tembus sinar, mudah tergores, melembek pada
suhu 70 .

5. PP (Polipropilen)

PP merupakan plastik terbaik dan paling aman untuk yang berhubungan dengan
makanan dan minuman. Biasanya keras tapi fleksibel, berlilin, tidak jernih tapi
tembus sinar, tahan pelarut, melembek
pada suhu 140 , aman.

6. PS (Polistirena)
PS merupakan plastik yang hanya digunakan sekali pakai. Contoh paling akrab adalah
sterofoam. Kotak CD juga mengandung Polistirena. Kandungan bahan kimia plastik
jenis ini berbahaya bagi kesehatan. Biasanya jernih, kaku, mudah patah, terpengaruh
oleh lemak dan pelarut, melembek pada 95

serta sulit didaur ulang.

7. Lain-lain
Dikelompokkan dalam 4 macam
a. SAN (Styrene Acrylonitrile), terdapat pada piring, sikat gigi, mangkuk mixer.
b. ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene), bahan mainan lego dan pipa.
c. PC (PolyCarbonate), botol susu bayi, gelas anak balita, dll.
d. Nylon.
Zat aditif bermassa molekul rendah sering ditambahkan ke dalam polimer untuk
memperoleh sifat-sifat berkaitan dengan keterbatasan dan keterluwesannya. Zat aditif ini
dapat berpindah ke makanan dan minuman, jika mengalami kontak yang cukup lama
dengan makanan, minuman atau terkena panas. Metode spektrometri inframerah dapat
digunakan untuk menentukan keberadaan zat aditif ini jika diberi perlakuan panas.
Beberapa struktur dari zat aditif
1. Poliester

10

2. Dietil Adipat

3. Dimetil adipat

4.

DOP (Dioctil Ftalat)

5. Dibutil Ftalat

6. BPA (Bisphenol A)

C. Alat dan bahan praktikum


1. Alat
a. Gunting
b. Botol semprot
c. FTIR shimadzu 8400
d. Batang pengaduk
e. Gelas Kimia 250 mL

1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
11

2. Bahan
a. Etanol
b. Sampel plastik wrap
c. Aquades
D. Prosedur kerja praktikum
1. Preparasi sampel plastik wrap
a. Tanpa perlakuan (Sampel 1)
Plastik wrap digunting dengan ukuran 2x2 cm. Kemudian sampel tersebut
dimasukkan ke dalam etanol kemudian diangkat dan dikeringkan. Setelah kering,
sampel ditempatkan pada widow. Sampel siap diukur dengan FTIR.
b. Dengan perlakuan (Sampel 2)
Plastik wrap digunting dengan ukuran 2x2 cm Sampel dimasukkan ke dalam gelas
kimia berisi 40 mL etanol kemudian dipanaskan sambil diaduk menggunakan
magnetic stirrer selama 2 jam. Etanol pada gelas kimia dikondisikan tetap 40 mL
sehingga dilakukan penambahan berkali-kali agar volume tetap. Setelah 2 jam
film diangkat dan dikeringkan. Kemudian sampel ditempatkan pada widow, lalu
dilakukan pengukuran pada FTIR.
c. Pengujian Sampel dengan FTIR
Kedua wadah sampel satu persatu dimasukkan ke dalam alat FTIR kemudian
diamati data spectrum IR masing-masing sampel pada computer. Kemudian
spectrum tersebut dicetak dan dibandingkan hasilnya.
2. Pengoperasian instrumen FTIR
1) Persiapan Alat
Sumber arus listrik di- on kan dan alat FTIR di- on kan, lalu komputer di-onkan
dan ditunggu beberapa menit.
2) Pengukuran
Sebelum pengukuran sampel dilakukan, udara pada sel FTIR diukur terlebih
dahulu sebagai background. Untuk itu file name diisi background dan tombol
BKG pada layar diklik.
Pada dekstop diklik gambar Short Cut program aplikasi FTIR 8400.
Ditunggu beberapa saat sampai keluar dialog box dan diklik OK sehingga
muncul menu pada hasil dan analisis data layar, kemudian diklik FTIR 8400
pada menu. Setelah itu diklik BKG Start untuk memulai pengukuran dan
ditunggu spektra pada layar sampai menghilang. Sampel siap ukur ditempatkan
pada tempat pada tempat sampel dari alat interferometer. Diklik lagi FTIR 8400
pada menu,kemudian diklik BKG Start untuk memulai pengukuran. Lalu diisi
dialog box dengan identitas sampel dan di klik SAMPEL START. Ditunggu
spektra yang diperoleh. Spektra yang diperoleh muncul pada layar diklik peak
tabel pada menu CALC untuk memunculkan harga bilangan gelombang. Treshold
12

dan Noise Level ditentukan untuk mengatur pemunculan harga bilangan


gelombang.
3) Mematikan Alat FTIR
Komputer dimatikan dengan cara mengklik start kemudian Shut Down. Kemudian
alat FTIR serta sumber listriknya di matikan.
E. Analisis Data
Percobaan penentuan zat aditif dalam plastik kemasan makanan dengan FTIR
bertujuan untuk menentukan zat aditif yang terdapat dalam sampel plastik wrap makanan
melalui perlakuan pemanasan dengan menggunakan instrumen FTIR Shimadzu 8400.
Pada percobaan ini digunakan sampel plastik wrap. Sebelum dianalisis, sampel ke-1
dicelupkan terlebih dahulu ke etanol agar pengotor seperti lemak yang menempel pada
plastik dapat larut dan plastik menjadi bebas dari pengotor. Setelah dicelupkan pada
etanol, plastik harus dikeringkan terlebih dahulu agar etanol tidak mempengaruhi
pengukuran.
Sama seperti sampel ke-1, sampel ke-2 dicelupkan ke dalam etanol, tetapi sampel ke2 diberi perlakuan lain yaitu dilakukan pemanasanan dan pengadukan dalam 40 mL
etanol. Sampel ke-2 dipanaskan dalam suhu 120

dan diaduk dengan menggunakan

magnetic stirrer. Pemanasan dan pengadukan bertujuan untuk menghilangkan zat aditif
pada plastik yang diduga ditambahkan saat pembuatan plastik tersebut. Kemungkinan zat
aditif telah ditambahkan pada plastik tersebut untuk menambah kelenturan plastik
tersebut. Sehingga dalam percobaan ini ingin diketahui pengaruh pemanasan terhadap
plastik. Jika setalah dilakukan pengujian terdapat pengaruh plastik terhadap pemanasan
maka plastik wrap tersebut tidak baik digunakan untuk membungkus makanan atau
minuman yang panas, karena dapat dikatakan bahwa zat aditif pada plastik wrap
berpindah ke makanan dan minuman yang dapat menyebabkan makanan tersebut tidak
baik untuk dikonsumsi.
Dari hasil spektra FTIR pada sampel 1 didapatkan beberapa puncak. Dari data
bilangan gelombang setiap puncak tersebut dapat diidentifikasi gugus yang mungkin,
yaitu :
Bilangan Gelombang (cm-1)
2927,7
1732,0
1427,2
1253.6
636,5

Gugus Fungsi
C-H stretching
C=O stretching
C-H bending
C-O
C-Cl

13

%T
28
32
53
36
60

Dari hasil spektra FTIR pada sampel 2 didapatkan beberapa puncak. Dari data
bilangan gelombang setiap puncak tersebut dapat diidentifikasi gugus yang mungkin,
yaitu :
Bilangan Gelombang (cm-1)
2914,2
1737,7
1427,2
1253.6
636,5

Gugus Fungsi
C-H stretching
C=O stretching
C-H bending
C-O
C-Cl

%T
52
78
46
40
50

Hasil analisis spectra yang diperoleh bahwa dalam wrap terdapat gugus fungsi C-H,
C=O, C-O dan C-Cl baik tanpa maupun dengan perlakuan pemanasan. Yang membedakan
adalah perubahan %T setiap gugus fungsi. Perubahan %T ini menunjukan perubahan
konsentasi gugus fungsi dalam wrap. Ketika %T

meningkat

menunjukan bahwa

konsentasi menurun. Hal tersebut sesuai dengan hukum Lambert Beer


A = a bc

A= -log T

-log T = a b c
Pada spectra sampel 2 %T gugus C=O streching dan C-O yang terlihatberkurang
secara signifikan. Dapat diduga gugus tersebut merupakan gugus dari zat aditif yang
berkurang akibat pemanasan. Beberapa zat aditif yang mungkin adalah DEHA, dimetil
adipat, dietil adipat, poliester, DOP (Dioctil Ftalat), dan dibutil ftalat. Zat aditif tersebut
ditambahkan salah satunya untuk menambah kelenturan dari suatu plastik. Terlihat bahwa
plastik yang telah dipanaskan menjadi lebih keras dan kusam dibandingkan dengan
plastik yang tidak dipanaskan.
Dari spektra gabungan (spektra terlampir) terlihat bahwa gugus C=O strecthing dan
C-O berkurang, namun tidak hilang seluruhnya. Proses pemanasan yang kurang optimal
menyebabkan pelarutan zat aditif pada pelarut etanol tidak maksimal..
F. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan didapat bahwa plastik wrap yang digunakan
tersusun oleh PVC yang memiliki gugus fungsi C-H streching, C-H bending, dan C-Cl.
Zat aditif yang mungkin ditambahkan pada plastik tersebut adalah DEHA yaitu untuk
melenturkan plastik. Zat aditif tersebut memiliki gugus fungsi C=O streching dan C-O.
Dari percobaan juga didapat bahwa pemanasan berpengaruh pada plastik wrap
tersebut, dan dapat dikatakan bahwa plastik wrap tersebut tidak baik digunakan untuk

14

makanan atau minuman panas karena zat aditif pada plastik tersebut dapat berpindah ke
makanan dan minuman yang akan dikonsumsi sehingga membahayakan tubuh.
G. Daftar pustaka
Hendayana,Sumar.1994.Kimia Analitik Instrumen.Semarang : IKIP Semarang Press.
Mudzakir,Ahmad.dkk.2008.Praktikum Kimia Anorganik (KI425).Bandung : Fakultas
Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UPI.
Robinson, James W., Frame, Eilee M.S, dan Frame II, George M. (2005). Undergraduate
Instrumental Analysis. New York: Marcel Dekker
Skoog, et, al. (2004). Fundamentalis of Analysis Chemistry 8 th Edition. Canada :
Brooks/Cole Thomson Learning
Wiji, dkk. 2009. Penuntun Praktikum Kimia Analitik Instrumen. Bandung: LKI. Jurusan
Pendidikan Kimia FPMIPA UPI.
LAMPIRAN
1. Data Pengamatan
Ukuran plastik : 2 cm x 2 cm
Jenis plastik : wrap
Sifat fisik plastik : tidak berwarna, tipis, dan lentur
Pelarut yang digunakan : etanol
Sifat fisik pelarut : cairan tidak berwarna

Suhu yang digunakan : 120

Sifat fisik plastik setelah pemanasan : agak keras dan berwarna putih kusam

selama 2 jam

Spektra IR Plastik Wrap Tanpa Pemanasan

15

Spektra IR Plastik Wrap Dengan Pemanasan

Spektra IR Plastik Wrap Gabungan

16