Anda di halaman 1dari 12

untuk golongan yg belum mendapatkan soal pembahasan biologi bunga, kastrasi

dan hibridisasi ,..


1. Jelaskan proses penyerbukan pada bunga unisexual!
2. Bagiamana rumus bunga yang kalian amati/bawa (kelompok)? dan jelaskan !
3. Mengapa kastrasi dilakukan pada bunga yang mekar hingga ? hubungkan
dengan waktu dan kondisi lingkungan yang tepat untuk melakukan hibridisasi!
Sertakan literatur!
4. Bagaimana cara yang tepat dalam melakukan hibridisasi dalam skala luas?
5. BAHAS HASIL PRAKTIKUM dan Hubungkan dengan faktor faktor yang
mempengaruhi keberhasilan kastrasi!
,..
golongan A, B dan C dikumpulkan hari rabu dan D, E dan F dikumpulkan hari
jum'at
Semangat dan selamat mengerjakan, semoga bermanfaat! Kesungguhan
menentukan manfaat diri untuk menjadi yg bermanfaat.

LAPORAN PRAKTIKUM
PEMBIAKAN TANAMAN

ACARA 9
BIOLOGI BUNGA, KASTRASI DAN HIBRIDISASI

BILLY SABILLA MERCURY BIMA SAKTI


131510501208
GOLONGAN C / KELOMPOK 1

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014

BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum PembiakanTanamandengan acara Biologi Bunga, Kastrasi dan
Hibridisasi dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 5 November 2014 pukul 12.00
di Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jember.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
1. Pinset dan forcep hibridisasi
2. Lup
3. Kantong kertas
4. Kertas label
5. Penanda
6. Pollen bag
7. Kuas pengumpul pollen
8. Gunting

3.2.2 Bahan
1. Tanaman Terong
2. Tanaman Cabe
3. Tanaman Tomat

3.3 Cara Kerja


1. Memilih bunga yang akan mekar pagi hari berikutnya.
2. Membuang semua benangsari menggunakan pinset. Pengambilan benangsari
harus hati-hati agar tidak merusak putik.
3. Membungkus bunga yang telah dikastrasi dengan kantong kertas.
4. Mengumpulkan kepala sari dari tanaman lain, menusuk dengan jarum agar
kepala mengumpulkan tepungsarinya, kemudian menaburkan (meletakkan) di

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
No

Gambar / foto

Foto

tanaman

(Terung ungu)

Keterangan
1 ciri ciri khas varietas tanaman
Tanaman terong mempunyai ciri-ciri yaitu bisa tumbuh hingga
tinggi mencapai 40-150. Daunnya besar, dengan lobus yang kasar.
Ukurannya 10-20 cm panjangnya dan 5-10 cm lebarnya. Jenis-jenis
setengah liar lebih besar dan tumbuh hingga setinggi 225 cm), dengan
daun yang melebihi 30 cm dan 15 cm panjangnya. Batang pohon
tanaman terong biasanya berduri. Warna bunga terong antara putih
hingga ungu, dengan mahkota yang memiliki lima lobus. Benang
sarinya berwarna kuning. Buah tepung berisi, dengan diameter yang
kurang dari 3 cm untuk yang liar, dan lebih besar lagi untuk jenis
yang ditanam. Tipe penyerbukan terung dengan menyerbuk sendiri
sebab benang sari dan putik terung berada dalam satu tanaman berarti
berada dalam satu rumah dan berdekatan.

Foto

tanaman

(Tomat)

2 ciri ciri khas varietas tanaman


Bunga tomat hijau memiliki ciri-ciri merupakan bunga
sempurna, setiap kuntum bunga tersusun atas kelopak, mahkota,
bakal buah, kepala putik, tangkaui putik, dan benang sari. Sebagai
bunga hermaprodit

sebagian besar bunga

tomat

melakukan

penyerbukan sendiri.

Foto

tanaman

(Cabai Hijau)

3 ciri ciri khas varietas tanaman


Bunga cabai ini berada disela-sela ranting atau menggantung.
Mahkota buah dari tanaman ini berwarna putih dan memiliki 4-6
kelopak bunga. Panjang bunga kurang lebih 1-15 cm dan lebarnya
sekitar 0,5 cm. Panjang tangkainya sekitar 0,5 cm, kepala putik agak
ungu dan kepala sari berwarna biru ungu atau biru muda. Panjang
tangkai sari sekitar 0,5 cm. melakukan penyerbukan sendiri.

Hasil

hibridisasi Berhasil atau tidak : Tidak

tanaman terung ungu Alasan berhasil atau tidaknya :


dan hijau setelah 2 Dikarenakan faktor lingkungan yang tidak mendukung yaitu adanya
minggu

hujan dan angin kencang sehingga menyebabkan bunga yang telah di


hibridisasi dan di kastrasi menjadi patah dan mati. Umur bunga yang
masih terlalu muda menyebabkan alat kelamin jantan dan betina yang
masih belum matang sehingga tidak dapat merangsang terjadinya
pembuahan pada bunga terong tersebut.

4.2 Pembahasan
Bunga merupakan organ perkembangbiakan generatif yang umum
dijumpai pada tanaman. Masing-masing tanaman memiliki karakteristik bunga
yang berbeda. Beberapa bunga juga diketahui memiliki oragan atau bagian bunga
tertentu saja. Bunga unisexual merupakan salah satu kelompok bunga yang
dibedakan berdasarkan kelengkapan alat kelaminnya. Bunga unisexual merupakan
bunga yang hanya memiliki salah satu dari kedua macam alat kelamin yang biasa
terdapat pada bunga, baik berupa kelamin jantan saja (flos maskulus) atau kelamin
betina saja (flos femineus). Pada tanaman unisexual, penyerbukan sendiri sulit
dilakukan karena letak bunga jantan dan betina yang berjauhan. Penyerbukan
sendiri pada bunga jenis ini belum memberi jaminan akan terjadinya pembuahan
karena serbuk sari belum tentu dapat mencapai sel telur yang terdapat pada putik.
Biasanya penyerbukan pada bunga unisexual dapat terjadi akibat adanya faktor
luar yang dapat membantu sampainya serbuk sari pada putik. Penyerbukan
tersebut antara lain dapat dibantu oleh angin (anemogami), hewan (zoidogami),
air (hidrogami), dan karena adanya bantuan dari manusia (antropogami).
Masuknya serbuk sari ke kepala putik akibat bantuan dari beberapa polinator
tersebut kemudian menyebabkan terjadinya proses pembuahan pada bunga
unisexual.
Bunga terong memiliki struktur bunga yang lengkap sehingga dapat
dikatakan bahwa bunga ini merupakan bunga sempurna. Bunga terong memiliki

hiasan bunga berupa kelopak dan benang sari yang dapat dilihat dengan jelas.
Berdasarkan letak dan susunan bagian-bagiannya, bunga terong juga termasuk
bunga cyclis atau bunga yang bagian-bagiannya tersusun dalam lingkaranlingkaran. Terong memiliki lima helai kelopak yang saling berlekatan. Mahkota
bunga berwarna ungu sebagai hiasan bunga terdiri dari lima helai yang tersusun
secara mellingkar dan berlekatan. Serbuk sari berwarna kuning berjumlah lima
buah yang tersusun melingkar mengelilingi putik. Sedangkan putiknya hanya satu
buah dan terletak tepat pada bagian tengah bunga. Identifikasi bagian bunga
terong tersebut nantinya dapat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik
dari bunga terong. Salah satu istilah yang dikenal dalam kegiatan identifikasi
bunga adalah rumus bunga. Rumus bunga terdiri dari huruf, angka, dan simbol
yang dapat memberikan gambaran mengenai sifat bunga, bagian bunga, dan
susunan-susunannya. Kelopak bunga dinyatakan dengan huruf K, mahkota bunga
dinyatakan dengan huruf C, benang sari dinyatakan dengan huruf A, sedangkan
putik dinyatakan dengan huruf G. Sesuai dengan hasil identifikasi bunga terong
sebelumnya, maka dapat diketahui bahwa rumus bunga terong adalah

K(5) C(5)

A5 G1.
Saat yang paling baik untuk melakukan kastrasi dan hibridisasi adalah saat
bunga telah setengah mekar sampai tiga perempat bagian bunganya (bunga yang
masih kuncup) dan kepala putiknya berwarna putih. Pada saat itu, bunga jantan
(benang sari) pada kotak sari tersebut belum masak atau pecah. Hal ini juga
dipengarui oleh morfologi dari masing-masing bunga yang akan disilangkan.
Kematangan putik dan benang sari merupakan hal yang sangat penting bagi
keberhasilan suatu proses penyerbukan. Menurut Deswiniyanti dkk. (2011),
menyatakan bahwa informasi mengenai kematangan polen (serbuk sari) dan
reseptif (putik) stigma pada suatu bunga menjadi penting karena untuk
merangsang proses pembungaan. Selain itu informasi mengenai anthesis juga
sangat penting, yaitu informasi mengenai waktu atau lamanya mulainya bunga
mekar sampai mekar sempurna. Pada masa anthesis ini terjadi proses penyerbukan
antara organ reproduksi jantan dan organ betina. Sedangkan menurut Choi et al.
(2011), waktu yang tepat untuk melakukan kastrasi sebaiknya dilakukan sebelum

bunga mekar beberapa jam sebelumnya. Pada tanaman-tanaman yang mekarnya


bunga di 0aktu malam hari, maka kastrasi dilakukan pada sore hari sebelumnya,
bunga yang telah dikastrasi ditutup dengan kantong kertas atau kantong plastik
untuk mencegah tepung sari asing yang tidak dikehendaki.
Hibridisasi untuk mendapatkan varietas unggul dapat dilakukan dengan
metode konvensional yaitu persilangan pada umumnya, dan metode nonkonvensional atau modern dengan rekayasa genetika. Untuk metode konvensional
dalam perakitan varietas unggul sangat tergantung oleh tipe tanaman yang akan
disilangkan tanaman menyerbuk sendiri atau tanaman menyerbuk silang,
berkaitan erat dengan morfologi dan biologi bunga. Dalam upayanya yaitu
kastrasi dan hibridisasi dalam perakitan varietas unggul dilakukan persilangan
dengan mentaati persyaratan tersebut dan dapat dilakukan dengan cara seleksi
populasi, penggabungan karakter yang diinginkan melalui persilangan secara non
konvensional atau modern dapat dilakukan dengan transgenik yaitu dengan cara
perluasan variasi genetik melalui mutasi bila karakter yang diinginkan tidak ada di
alam, atau penyisipan gen untuk memproduksi tanaman transgenik.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan hibridisasi adalah
bagaimana cara perkembangbiakan tanaman yang ingin disilangkan atau
diperbaiki sifatnya. Apabila tanaman tersebut berkembangbiak dengan biji dan
menghasilkan bunga, maka diharapkan dapat dilakukan persilangan sehingga
dapat diperoleh hasil sesuai dengan sifat yang diinginkan. Dalam skala yang luas,
kegiatan hibridisasi pada tanaman menyerbuk sendiri dapat dilakukan dengan
melakukan seleksi terhadap tanaman sejenis yang memiliki sifat yang lebih
unggul, misalnya produktivitas yang tinggi. Menurut Hartati et. al., (2009),
langkah pertama hibridisasi pada tanaman yang menyerbuk sendiri yaitu memilih
tetua yang berpotensi. Pemilihan tetua ini tergantung pada sifat yang akan
dimuliakan apakah sifat kualitatif atau sifat kuantitatif. Pemilihan tetua kualitatif
lebih mudah karena perbedaan penampakan tetua menunjukkan pula perbedaan
gen pengendali sifat itu. Pemilihan tetua untuk sifat kuantitatif lebih sulit karena
adanya perbedaan fenotipe yang belum tentu. Oleh karena itu, pemilihan tetua

perlu dipertimbangkan dari segi lain, yaitu sifat fisiologi, adaptasi dan susunan
genetik.
Setelah dipilih bunga jantan dengan kualitas yang baik, maka selanjutnya
dapat dilakukan penyungkupan pada bagian bunga jantan tersebut sehingga
serbuk sari tidak terlepas dan menyerbuki bunga lainnya. Bunga betina juga perlu
dipersiapkan dengan cara disungkup sehingga dapat mencegah terjadinya
penyerbukan sendiri. Setelah masing-masing bunga yang telah diseleksi tersebut
matang, selanjutnya dapat dilakukan persilangan dengan cara memasukkan serbuk
sari pada bunga tanaman betina yang telah terpilih sehingga dapat menghasilkan
tanaman baru. Tanaman baru tersebut kemudian dapat disilangkan kembali
dengan bunga tanaman induknya (tetua) yang ingin diperbaiki sifatnya sehingga
dapat diperoleh tanaman dengan sifat yang diinginkan. Hasil persilangan tanaman
dengan sifat yang diinginkan tersebut kemudian dapat diperbanyak untuk
dikembangkan pada pertanaman selanjutnya. Keunggulan dalam teknik ini adalah
dapat dilakukan dengan mudah serta dapat menghasilkan tanaman dengan
karakteristik yang bervariatif.
Teknik hibridisasi dengan rekayasa genetika juga sudah mulai banyak
dilakukan. Rekayasa Genetika adalah teknik yang dilakukan manusia dengan cara
mentransfer (memindah-kan) gen (DNA) yang dianggap menguntungkan dari satu
organisme kepada susunan gen (DNA) dari organisme lain. Rekayasa genetika
dalam arti paling luas adalah penerapan genetika untuk kepentingan manusia.
Dengan pengertian ini kegiatan pemuliaan tanaman dilakukan dengan melalui
kegiatan seleksi tetua dengan sifat unggul dalam suatu populasi yang kemudian
dilakukan perbaikan terhadap sifat yang dimiliki oleh tetua tersebut. Demikian
pula penerapan mutasi buatan tanpa target dapat pula dimasukkan. Walaupun
demikian, masyarakat ilmiah sekarang lebih bersepakat dengan batasan yang lebih
sempit, yaitu penerapan teknik-teknik biologi molekular untuk mengubah susunan
genetik dalam kromosom atau mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan
pada pemanfaatan tertentu. Keunggulan dari pemanfaatan rekayasa genetika
terletak pada keakuratan dalam membuat rekombinasi materi genetik sehingga

lebih mudah dalam memperoleh sifat yang diinginkan. Selain itu, rekayasa
genetika juga tidak terbatas pada jenis organisme yang disilangkan.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap bunga terong yang telah
disilangkan, diketahui bahwa terjadi kegagalan dalam proses hibridisasi yang
telah dilakukan. Bunga terong yang diamati selama dua minggu mengering dan
tidak menunjukkan adanya pembuahan pada bunga tersebut. Kegagalan dalam
kegiatan persilangan bunga terong tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor
yang terbagi menjadi faktor luar, faktor dalam dan faktor pelaksanaan. Faktor luar
berasal dari lingkungan di sekitar tempat pengamatan yang tidak optimal untuk
mendukung terjadinya pembuahan. Hujan dan angin merupakan salah satu faktor
yang paling menghambat masuknya serbuk sari ke dalam putik. Selain itu, hujan
dan angin yang kencang juga menyebabkan tangkai bunga menjadi patah sehingga
bunga mengering dan mati. Sedangkan faktor dalam yang juga banyak
berpengaruh terhadap keberhasilan kegiatan kastrasi dan hibridisasi ini adalah
umur bunga yang masih belum siap. Tingkat kematangan alat kelamin jantan dan
betina yang digunakan dalam kegiatan hibridisasi ini belum optimal. Alat kelamin
jantan yang masih terlalu muda masih belum dapat menyerbuki bunga betina.
Sedangkan bunga betina yang belum matang sempurna juga masih belum siap
untuk digunakan dalam kegiatan ini. Kegagalan kastrasi dan hibridisasi juga dapat
berasal dari faktor pelaksanaan yang kurang tepat. Teknik kastrasi yang dilakukan
secara kurang cermat dapat merusak putik sehingga putik tersebut tidak dapat
digunakan dalam kegiatan hibridisasi. Perawatan tanaman serta penempatan
tanaman yang kurang baik juga dapat menyebabkan kematian pada bunga.

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Penyerbukan pada bunga unisexual dapat terjadi karena adanya bantuan dari
angin (anemogami), hewan (zoidogami), air (hidrogami), dan karena adanya
bantuan dari manusia (antropogami).
2. Bunga terong merupakan bunga lengkap yang rumus bunga

K(5) C(5) A5

G1.
3. Kastrasi dan Hibridisasi dilakukan pada bunga yang mekar hingga untuk
memastikan bahwa tidak terjadi penyerbukan sendiri pada bunga tersebut.
4. Hibridisasi dalam skala luas dapat dilakukan dengan metode konvensional
(persilangan) dan non-konvensional (rekayasa genetika).
5. Kegagalan kegiatan persilangan yang dilakukan pada bunga terong terutama
disebabkan oleh kurang matangnya alat kelamin jantan dan betina.

5.2 Saran
Praktikan masih belum begitu menguasai tentang teknik kastrasi dan
hibridisasi yang menjadi acara dalam praktikum kali ini. Sebaiknya asisten dapat
mendampingi praktikan selama kegiatan praktikum dengan lebih baik lagi. Selain
dapat mempermudah dalam pengawasan, praktikan juga lebih mudah dalam
menanyakan hal-hal teknis praktikum yang belum dimengerti.

DAFTAR PUSTAKA

Abbott, R., D. Albach, S. Ansell, J. W. Arntzen, S. J. E. Baird, N. Bierne, J.


Boughman, A. Brelsford, C. A. Buerkle, R. Buggs, R. K. Butlin, U.
Dieckmann, F. Eroukhmanoff, A. Grill, S. H. Cahan, J. S. Hermansen, G.
Hewitt, A. G. Hudson, C. Jiggins, J. Jones, B. Keller, T. Marczewski, J.
Mallet, P. Martinez-Rodriguez, M. Most, S. Mullen, R. Nichols, A. W.
Nolte, C. Parisod, K. Pfennig, A. M. Rice, M. G. Ritchie, B. Seifert, C. M.
Smadja, R. Stelkens, J. M. Szymura, R. Vainola, J. B. W. Wolf dan D.
Zinner. 2013. Target Review Hybridization and Speciation. Evolutionary
Biology, 26 (2013): 229 246.
Ahoton, L. E. Dan Quenum, F. 2012. Floral Biology and Hybridization Potential
of Nine Accesories of Physic Nut (Jatropha curcas L.) Originating from
Three Continents. Tropicultura, 30 (4): 193 198.
Aksi Agraris Kanisius. 1980. Bercocok Tanam Lada. Yogyakarta: Kanisius.
Choi H. J., A., R. Davis, and J. H. C. Snchez. 2011. Comparative Floral Structure
of Four New World Allium (Amaryllidaceae) Species. Systematic Botany,
36 (4): 870882.
Deswiniyanti, N. W., I. A. Astarini dan N. M. Puspawati. Studi Fenologi
Perbungaan Lilium longifirum Thunb. Metamorfosa, 1 (1): 6 10.
Hidayat, Yayat. 2010. Perkembangan Bunga dan Buah pada Tegakan Benih
Surian (Toona Sinensis Roem). Agrikultura, 21 (1): 13 20.
Mangoendidjojo, Woerjono.
Yogyakarta: Kanisius.

2003.

Dasar-dasar

Pemuliaan

Tanaman.

Nasution, M. A., R. Poerwanto, Sobir, M. Surahman dan Trikoesoemaningtyas.


2010. Seleksi Hasil Persilangan antara Queen dan Smootht Cayenne
untuk Perbaikan Hasil dan Mutu Buah Nenas. Hortikultura Indonesia, 1
(1): 10 16.
Ribeiro, G. S., A. F. Ferreira, C. M. L. Neves, F. S. M. Sousa, C. Oliveira, E. M.
Alves, G. S. Sodre dan C. A. L. Carvalho. 2013. Aspect of the Floral
Biology and Pollen Properties of Vigna unguiculata L. Walp (Fabaceae).
African Journal of Plant Science, 7 (5): 149 154.
Sukaya, R. Wijayanti dan E. S. Muliawati. 2011. Pengaruh Penyerbukan Buatan
terhadap Pembentukan dan Kualitas Buah Naga. Agrosains, 13 (1) 11 14.

Yakandawala, Deepthi dan Yakandawala, Kapila. 2011. Hybridization Between


Native and Invasive Alien Plants: an Overlooked Threat to the
Biodiversity of Sri Lanka. Biology Science, 40 (1): 13 23.