Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN

KARAKTERISASI PADI (Oryza sativa L.)

Anggota Kelompok :
1. Muhammad Syaiful
2. Muhammad Subhan Amin
3. Prasetyo Ramadhan
4. Muhammad Anam Fathoni
5. Sugeng Sancoko
6. Luky Eka Rahmawati
7. Ika Nur Farida
8. Nur Cahyaningsih
9. Army Kusuma Dyah Anggraini
10. Bagus Indra Wicaksono
11. Zainullah Fathul Bari
12. Fakih Nur Rahman
13. Bastian Dwiki Juliadi
14. Novia Riska Damayanti
15. Angga Bagus Budi Artha
16. Erwanda Rista Permana
17. Alfian Bagas
18. Ubaydillah

PROGRAM STUDI TEKNIK PRODUKSI BENIH


JURUSAN PRODUKSI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2016
Kata Pengantar

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan
rahmat serta hidayahnya, sehingga laporan pemuliaan tanaman padi dapat
terselesaikan dengan tepat waktu.
Terima kasih kami ucapkan kepada Ibu Dwi Rahmawati Sp,Mp selaku
dosen pengampu mata kuliah pemuliaan tanaman, dan bapak Syaiful Mukhlis Sp.
Selaku teknisi pemuliaan tanaman di program studi teknik produksi benih yang
telah membimbing kami dalam kegiatan belajar mengajar pada semester yang
sedang di tempuh.

Kami menyadari, bahawa laporan yang kami susun masih banyak kesalahan.
Sehingga kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan. Sehingga,
laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Jember, 20 Juli 2016

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori


Tanaman sangat penting bagi manusia, sehingga orang selalu mencari cara
untuk memperoleh hasil seoptimal mungkin dari tanaman yang diusahakan. Cara
ini dapat ditempuh melalui teknik bercocok tanam yang baik dan peningkatan
kemampuan berproduksi tanaman sesuai dengan harapan manusia. Perbaikan
bercocok tanam adalah usaha untuk menciptakan lingkungan di sekitar tanaman
agar tanaman dapat tumbuh dengan baik sehingga diperoleh hasil optimal.
Peningkatan kemampuan tanaman adalah usaha untuk memperbaiki karakter
tanaman agar diperoleh tanaman yang lebih unggul daripada varietas yang sudah
ada. Usaha ini disebut pemuliaan tanaman. Pemuliaan tanaman (plant breeding)
didefinisikan sebagai suatu paduan antara seni (art) dan ilmu (science) dalam
merakit keragaman genetik dari suatu populasi tanaman tertentu menjadi bentuk
tanaman baru yang lebih baik atau unggul (untuk beberapa karakter penting
tertentu) dari sebelumnya.
Pemuliaan tanaman sebagai seni terletak pada kemampuan dan bakat para
pemulia tanaman dalam merancang (mendesain) dan melakukan proses seleksi
(memilih) bentuk-bentuk tanaman baru yang ingin dikembangkan yang sesuai
dengan kebutuhan dan selera masyarakat pemakainya (petani dan pasar) serta juga
sesuai dengan tantangan permasalahan yang sedang dan akan berkembang dalam
kurun waktu 3-10 tahun ke depan atau lebih. Pemuliaan tanaman sebagai seni
sudah berumur sama tuanya dengan peradaban manusia. Pada mulanya pemuliaan
tanaman dititikberatkan pada pemilihan atau seleksi, karena yang memegang
peranan adalah kemampuan pemulia tanaman (plant breeder) untuk menilai atau
meramalkan tanaman yang dapat menjadi varietas lebih unggul. Kemampuan ini
terutama didasarkan atas pengalaman dan bakat. Namun perkembangan
selanjutnya menunjukkan bahwa teori yang mendasari amat diperlukan baik
dalam menghitung maupun menganalisis tanaman agar perkiraan dan peramalan
lebih tepat, walaupun pengalaman masih tetap diperlukan. Dalam hal ini pemulia
tanaman dapat diidentikkan dengan seorang arsitek, dan metodologi yang
digunakan identik dengan teknologi. Sebelum program pemuliaan dilakukan,
perlu penentuan tujuan program pemuliaan. Untuk menentukannya pemulia perlu
mengetahui masalah serta harapan produsen dan konsumen. Dengan demikian
tujuan pemuliaan pada dasarnya adalah ekonomis. Tujuan pemuliaan tanaman
secara lebih luas adalah memperoleh atau mengembangkan varietas agar lebih
efesien dalam penggunaan unsur hara sehingga memberi hasil tertinggi per satuan
luas dan menguntungkan bagi penanam serta pemakai. Selanjutnya bahwa varietas
yang diperoleh diharapkan tahan pada lingkungan ekstrim seperti kekeringan,
serangan hama serta penyakit dan lain-lain. Tujuan pemuliaan tanaman dapat
diringkas sebagai berikut: 1) untuk mendapatkan tanaman yang a) berdaya hasil
tinggi dalam ukuran, jumlah dan kandungan dan b) adaptif, 2) untuk mendapatkan
tanaman yang tahan Dalam rangka mencapai tujuan program pemuliaan, pemulia
tanaman harus menyusun dahulu ideotipe varietas yang akan dikembangkan
sebagai tujuan yang ingin dicapai. Ideotipe adalah karakter-karakter ideal yang
menunjang produktivitas tinggi. Berdasarkan ideotipe tanaman yang akan
dikembangkan tersebut, pemulia mulai menyusun tahapan tahapan yang tepat
agar diperoleh varietas yang diinginkan. Yang dimaksud varietas ini adalah
varietas agronomi atau kultivar. Varietas agronomi adalah sekelompok tanaman
yang memiliki satu atau lebih ciri yang dapat dibedakan secara jelas, dan tetap
mempertahankan ciri-ciri khas ini ini jika direproduksi secara seksual maupun
aseksual (Syukur M.,dkk., 2010).

1.2 Tujuan
Mahasiswa diharapkan mampu :
a. Mahasiswa diharapkan mampu mendeskripsikan karakter suatu tanaman padi
berdasarkan morfologinya.
b. Mahasiswa dharapkan mengetahui hubungan antara karakterisasi tanaman
dalam pemuliaan tanaman.

BAB 2. METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat


Praktikum pemuliaan tanaman dilakukan mulai hari senin tanggal 07 Maret
2016 sampai dengan selesai di green house dan laboratorium teknik produksi
benih, jurusan produksi pertanian politeknik negeri jember.

2.2 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan yaitu :
a. Top soil
b. Baki persemaian
c. Benih padi ciherang, pandan arum dan pandan wangi
d. Pupuk kandang
e. Label
f. Tali benang
g. Alat tulis
h. Bak atau pot penanaman
i. Pupuk
j. Air
k. Gembor
l. Kamera
m. Plastik
n. Pupuk
o. Penggaris

2.3 Pelaksanaan
a. Persemaian
Timba ukuran diameter 25-30 cm di isi campuran tanah dengan sekira 70:30
setinggi 25 cm. Tanah sebaiknya diambil dari sawah atau dari tempat lain yang
tidak banyak mengandung pasir. Sebelum dimasukkan ke dalam polibag tanah
dengan kompos diaduk merata dalam keadaan kering. Bagian bawah dilubangi
untuk drainase air. Seleksi benih yang bagus. Caranya dengan merendam benih
dalam air. Benih yang mengapung dibuang, benih yang tenggelam disemaikan
pada baki persemaian.
b. Penanaman
Benih yang sudah dipilih tadi ditanam satu polibag satu benih yang diletakkan di
tengah-tengah. Sediakan satu pot untuk menanam bibit cadangan sebagai
penyulam jika ada bibit yang mati. Setelah satu minggu tinggi tanaman sudah
mencapai 7-10 cm.
c. Pengairan
Penanaman padi di pot tidak membutuhkan penggenangan. Namun tanah harus
dijaga tetap lembab atau basah dan tidak boleh kering. Cara menyiram bisa
menggunakan alat penyiram air. Waktu penyiraman dilakukan saat teduh di waktu
pagi atau sore (seperti menyiram tanaman hias).
d. Pemupukan
Sejak awal tanah dalam polibeg sebagai tempat pertumbuhan akar sudah
mengandung pupuk organik yang berasal dari kompos. Selama pertumbuhan
vegetatif tanah harus dipupuk juga untuk mendapatkan hasil yang optimal.
e. Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama padi dalam polibag tidak akan terlalu sulit. Karena memang
penanaman padinya skala kecil untuk pekarangan. Dapat dilakukan pengendalian
dengan cara manual. Misal memotong bagian tanaman yang terserang hama,
mencabut gulma dan mengambil hama yang melakukan serangan.
f. Pengamatan dan Karakterisasi Tanaman
Pengamatan dengan cara megambil data mulai dari warna daun, warna batang,
permukaan daun, bentuk tanaman, tinggi tanaman, umur tanaman, tinggi tanaman,
anakan produktif, warna kaki, warna batang, warna telinga daun, warna lidah
daun, muka daun, posisi daun, daun bendera, bentuk gabah, warna gabah, bobot
1000 butir, panjang malai, jumlah biji permalai.

BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Data hasil pengamatan


a. Varietas Pandan Wangi
Bagian Deskripsi Tanaman Keterangan
Warna Daun Hijau
Lebar Daun 1 cm
Panjang Daun 35 cm
Permukaan Daun Kasar
Warna batang Hijau
Tinggi Tanaman 150 cm
Jumlah anakan produktif 15
Umur tanaman 160 hari
Daun bendera Tidak berwarna
Posisi daun Tegak
lidah daun Hijau
Muka daun Kasar
Warna kaki Hijau
Bentuk gabah Bulat lonjong
Warna gabah Kuning kecoklatan
Permukaan gabah Berbulu
Warna telinga daun Tidak berwarna
Bentuk tanaman Tegak
Panjang malai 40 cm
Jumlah bulir per malai 192
Bobot 1000 butir -

b. Pandan Arum
Bagian Deskripsi Tanaman Keterangan
Warna Daun Hijau
Lebar Daun 1 cm
Panjang Daun 20 cm
Permukaan Daun Kasar
Warna batang Hijau
Tinggi batang 160 cm
Jumlah anakan produktif 16
Umur Tanaman 150 hari
Daun bendera Tidak berwarna
Posisi daun Tegak
Lidah daun Hijau
Muka daun Kasar
Warna kaki Hijau
Bentuk gabah Bulat lonjong berekor
Warna gabah Kuning keemasan
Permukaan gabah Berbulu
Warna telinga daun Putih kekuningan
Bentuk tanaman Tegak
Panjang malai 30 cm
Jumlah bulir per malai 179
Bobot 1000 butir -

c. Ciherang
Bagian Deskripsi Tanaman Keterangan
Warna Daun Hijau
Lebar Daun 1 cm
Panjang Daun 30 cm
Permukaan Daun Kasar
Warna batang Hijau muda
Tinggi Tanaman 100 cm
Jumlah anakan produktif 14
Umur berbunga 100 hari
Daun bendera Tidak berwarna
Posisi daun Tegak
Lidah daun Tidak berwarna
Muka daun Kasar
Warna kaki Hijau
Bentuk gabah Lonjong panjang dan ramping
Warna gabah Kuning keemasan
Permukaan gabah Berbulu
Warna telinga daun Putih
Bentuk tanaman Tegak
Panjang malai 40 cm
Jumlah bulir per malai 116
Bobot 1000 butir -

3.2 Pembahasan
Dari hasil pengamatan diatas dapat diperoleh pembahasan yaitu karakter
atau ciri morfologi masing-masing genotipe tanaman padi memiliki ciri khas yang
berbeda. Masing-masing genotipe miliki kelebihan dan kekurangan. Baik dari segi
hasil jumlah bulir per malai, anakan produktif, maupun umur dari tanaman itu
sendiri. Setiap kultivar padi lokal bisa memiliki persamaan ataupun perbedaan
ciri/karakter. Adanya persamaan ataupun perbedaan tersebut dapat digunakan
untuk mengetahui jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara kultivar-kultivar
padi. Semakin banyak persamaan ciri, maka semakin dekat hubungan
kekerabatannya. Sebaliknya, semakin banyak perbedaan ciri, maka semakin jauh
hubungan kekerabatannya. Pengelompokan ciri yang sama merupakan dasar untuk
pengklasifikasian (Irawan B dan Purbayanti Kartika, 2008).
Tanaman padi dapat dikatakan mempunyai potensi yang tinggi apa bila
memiliki umur panen genjah, dan jumlah bulir pada setiap malai melebihi jumlah
bulir padi pada umumnya. Semakin banyak jumlah bulir padi pada malai, maka
hasil produksi semakin tinggi. Semakin pendek umur produktifitas padi, maka
umur panen semakin singkat. Ada genotipe padi yang yang memiliki umur
pendek, akan tetapi jumlah bulir tidak mencapai 190 bulir permalainya. Ada padi
yang memiliki bentuk gabah bulat, bulat berekor, jumlah bulir permalai mencapai
jumlah lebih dari pada padi umumnya . Ada pula padi yang memiliki bentuk
gabah panjang dan ramping, bulir sedikit tetapi umur panen lebih singkat. Pada
padi genotipe pandan wangi memiliki jumlah bulir 192 permalainya, pandan arum
170 permalainya, akan tetapi memiliki umur panen lebih dari 100 hari. Sedangkan
untuk padi genotipe ciherang memiliki jumlah bulir yang kurang dari 150 bulir
pada setiap malainya mempunyai umur panen yang relatif singkat, yaitu 100 hari
setelah tanam.
Menurut Supriyanti, dkk (2015) Informasi tentang karakter suatu tanaman
sangat dibutuhkan untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki serta
menghilangkan karakter yang tidak diinginkan dengan tujuan perbaikan varietas.
Hal tersebut menunjukkan, bahwa genotipe padi mempunyai sifat yang beragam,
dan dapat dijadikan sebagai plasma dalam pemuliaan tanaman. Jika antara sifat
genotipe dari padi pandan arum, pandan wangi dijadikan sebagai tetua dalam
pemuliaan tanaman, dapat di duga bahwa akan menghasilkan keturunan yang
mewarisi sifat unggul kedua tetuanya. Misalnya, padi pandan wangi memiliki
karakter jumlah bulir permalai mencapai 192 di silangkan dengan padi genotipe
ciherang yang memiliki sifat unggul umur tanaman 100 hari, maka diharapkan
adanya keturunan yang mempunyai jumlah bulir permalai yang banyak, dan umur
tanaman lebih pendek. Sehingga, diperolehlah genotipe baru yang mempunyai
potensi hasil produksi tinggi, serta umur panen yang singkat. Menurut Lesmana,
dkk. (2004), ciri morfologi yang sering digunakan sebagai pembeda kultivar padi
adalah tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, warna batang, warna daun,
permukaan daun, jumlah gabah per malai, bentuk gabah, warna gabah, dan
permukaan gabah. Jadi, karakter atau ciri morfologi tanaman setiap genotipe dapat
dijadikan sebagai identitas atau pengenal dalam pelestarian agar dapat
dikembangkan secara terus menerus.
BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Jadi, dari pembahaasan diatas dapat diperoleh kesimpulan bahwa,
pemuliaan tanaman merupakan kegiatan atau seni penggabungan sifat dari dua
individu yang memiliki sifat berbeda, dengan kepentingan serta tujuan untuk
menghasilkan varietas yang lebih unggul dari generasi- generasi sebelumnya.
Sedangkan dalam pemulian tanaman sangat diperlukan adanya sebuah kegiatan
yang dinamakan dengan karakterisasi. Kegiatan karakterisasi tanaman adalah
suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang maupun pemulia tanaman untuk
memahami sifat dan mengenali ciri morfologi genotipe tanaman. Hal tersebut
digunakan sebagai tolok ukur keunggulan yang dimiliki setiap genotipe tanaman
untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik.

4.2 Kritik dan Saran


Kegiatan pemuliaan tanaman tidak dapat berjalan dengan efektif maupun
efisien, akan tetapi banyak pembelajaran bagi kami khususnya mahasiswa
program studi teknik produksi benih. Sebaiknya, dalam kegiatan pemuliaan
tanaman, di khususkan hanya 1 komoditi tanaman, sehingga proses dari awal
hingga akhir dapat di terima dengan baik oleh mahasiswa.
DAFTAR PUSTAKA

Syukur M. 2010. Teknik Pemuliaan Tanaman.


http://muhsyukur.staff.ipb.ac.id/2010/06/01/teknik-pemuliaan-tanaman/

Irawan B., Purbayanti K. 2008. Karakterisasi Dan Kekerabatan Kultivar Padi


Lokal Rancakalong Kabupaten Sumedang. Universitas Padjadjaran.

Lesmana, O. S., H. M. Toha, I. Las, dan B. Suprihatno. 2004. Deskripsi Varietas


Unggul Baru Padi. Sukamandi, Subang : Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian-Balai Penelitian Tanaman Padi.

Supriyanti A., Supriyanta., Kristamtini. 2015. Karakterisasi Dua Puluh Padi


(Oryza sativa L.) Lokal di Daerah Istimewa Yogyakarata. Vol.4. No.3. BPTP :
Yogyakarta.
LAMPIRAN
a. Pandan wangi
b. Ciherang
c. Pandan arum