Anda di halaman 1dari 24

KERANGKA ACUAN KERJA

(TERM OF REFFERENCE)
SURVEI DAN EVALUASI LAHAN UNTUK KOMODITAS
KOPI ARABIKA DI WONOSALAM JOMBANG

GOLONGAN A2.1
DISUSUN OLEH :

AGNES SEPTIYA N. (17025010018)


ZULFIKAR ALVIN N. (17025010023)
SITI FATIMATUS S. (17025010027)
YESSY SASTYA (17025010131)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR
2019
SURABAYA
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Tanaman kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang penting dalam
perekonomian di Indonesia. Tanaman kopi di Indonesia umumnya membudidayakan tiga
jenis kopi, yaitu Robusta, Arabika, dan Liberika. Tiga jenis kopi memiliki keunggulan
masing-masing. Salah satunya pada aroma dan rasa kopi, kopi arabika lebih disenangi oleh
konsumen. Kopi arabika umumnya ditanam di tanah mineral dengan ketinggian di atas 1.000
mdpl, ketinggian tempat akan berkaitan dengan cita rasa kopi. Curah hujan yang sesuai untuk
kopi arabika adalah 1.500 – 2.500 mm per tahun, dengan rata-rata bulan kering 1-3 bulan dan
suhu rata-rata 12-25oC. (Pustiloka, 2006)
Penggunaan lahan terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kopi arabika di
Indonesia. Dalam upaya pengoptimalkan penggunaan lahan secara berkelanjutan dan terarah
diperlukan tersedianya data dan informasi yang lengkap mengenai keadaan iklim, tanah dan
sifat lingkungan fisik lainnya serta persyaratan tumbuh tanaman kopi arabika. Kemudian data
tersebut identifikasi melalaui kegiatan survei dan pemetaan sumber daya lahan. Pendekatan
penilaian suatu lahan atau evaluasi lahan menggunakan beberapa sistem sistem matching
atau mencocokan anrata kualitas dan sifat lahan dalam setiap satuan peta lahan (SPL) dengan
kriteria kelas kesesuain lahan, kemampuan lahan dan kesuburan lahan berdasarkan
persyaratan tumbuh komoditas kopi arabika, serta faktor pembatas tergantung karakteristik
lahan. (Djaenudin, et al., 2011)
Kegitan survei lahan pada satuan peta lahan daerah Wonosalam yang berada pada
Kabupaten Jombang. Wonosalam merupakan daerah yang berpotensi pada sektor kehutanan
dengan produksi hasil hutan kayu dan non kayu, selain itu pada sektor pertanian digunakan
sebagai perkebunan. Pengembangan komoditas perkebuhan dan tanaman tahunan. Wilayah
Wonosalam memiliki tingkat kerapatan garis kontur yang tinggi dan memiliki rentang
ketinggian 1.100-2.150 serta kemiringan lereng kurang dari 8% sehingga diperlukan
penanganan penggunaan lahan yang tepat. (Wijayanto, 2015)
Penggunaan lahan untuk komoditas kopi arabika pada lahan di wilayah Wonosalam
memerlukan data spasial yang akurat untuk kegiatan survei dan evaluasi lahan. Hasil dari
evaluasi lahan berupa analisis kelas kesesuian , kemampuan dan kesuburan lahan untuk
komoditas kopi arabika dapat diketahui, dan dilakukan pengembangan penggunaan lahan
untuk tanaman kopi arabika di Wonosalam yang sesuai dengan sumber daya lahan.
I.2 Tujuan
1. Mengetahui karakteristik tanah di lahan wonosalam
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

2. Menyusun kelas kesesuain lahan sesuai tanaman kopi arabika


3. Mendeskripsikan tingkat kemampuan lahan sesuai dengan tanaman kopi arabika
4. Mendeskripsikan kesuburan tanah pada lahan sesuai dengan tanaman kopi
arabika
5. Menginterpretasikan kesesuaian lahan, tingkat kemampuan lahan serta kesuburan
lahan pada satuan peta lahan untuk penggunaan lahan tanaman kopi arabika
I.3 Manfaat
1. Sumber data dan informasi karakteristik tanah di lahan wonosalam
2. Peta kesesuain lahan sesuai tanaman kopi arabika
3. Peta kemamapuan lahan sesuai tanaman kopi arabika
4. Peta kesuburan sesuai tanaman kopi arabika
5. Saran upaya perbaikan dan atau pengelolaan lahan sesuai dengan penggunaan
lahan untuk komoditas kopi arabika
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Botani Tanaman Kopi

Nama ilmiah kopi arabika adalah Coffea arabica. Carl Linnaeus, ahli botani asal
Swedia, menggolongkannya ke dalam keluarga Rubiaceae genus Coffea. Sebelumnya
tanaman ini sempat diidentifikasi sebagai Jasminum arabicum oleh seorang naturalis asal
Perancis. Kopi arabika diduga sebagai spesies hibrida hasil persilangan dari Coffea
eugenioides dan Coffea canephora. Cita rasa dari kopi ini adalah beraroma sedap seperti
buah, memiliki rasa asam yang tidak dimiliki kopi robusta, dan memiliki rasa kental namun
halus saat disesap (Hamni dkk., 2013). Klasifikasi tanaman kopi arabika adalah sebagai
berikut :

Kingdom : Plantae

Super Divisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Sub Kelas : Asteridae

Ordo : Rubiales

Famili : Rubiaceae

Genus : Coffea

Spesies : Coffea arabica L.

(USDA, 2002)

Kopi Arabika berbentuk semak tegak atau pohon kecil yang memiliki tinggi 5 m
sampai 6 m dan memiliki diameter 7 cm saat tingginya setinggi dada orang dewasa. Kopi
Arabika dikenal oleh dua jenis cabang, yaitu orthogeotropic yang tumbuh secara vertikal dan
plagiogeotropic cabang yang memiliki sudut orientasi yang berbeda dalam kaitannya dengan
batang utama. Selain itu, kopi Arabika memiliki warna kulit abu - abu, tipis, dan menjadi
pecah - pecah dan kasar ketika tua (Hiwot, 2011).
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

Daun kopi Arabika berwarna hijau gelap dan dengan lapisan lilin mengkilap. Daun ini
memiliki panjang empat hingga enam inci dan juga berbentuk oval atau lonjong. Menurut
Hiwot (2011) daun kopi Arabika juga merupakan daun sederhana dengan tangkai yang
pendek dengan masa pakai daun kopi Arabika adalah kurang dari satu tahun. Pohon kopi
Arabika memiliki susunan daun bilateral, yang berarti bahwa dua daun tumbuh dari batang
berlawanan satu sama lain (Roche dan Robert, 2007).

Bunga kopi Arabika memiliki mahkota yang berukuran kecil, kelopak bunga
berwarna hijau, dan pangkalnya menutupi bakal buah yang mengandung dua bakal biji.
Benang sari pada bunga ini terdiri dari 5-7 tangkai yang berukuran pendek. Kopi Arabika
umumnya akan mulai berbunga setelah berumur ± 2 tahun. Mula -mula bunga ini keluar dari
ketiak daun yang terletak pada batang utama atau cabang reproduksi. Bunga yang jumlahnya
banyak akan keluar dari ketiak daun yang terletak pada cabang primer. Bunga ini berasal dari
kuncup -kuncup sekunder dan reproduktif yang berubah fungsinya menjadi kuncup bunga.
Kuncup bunga kemudian berkembang menjadi bunga secara serempak dan bergerombol
(Budiman, 2012).

Tanaman kopi menghendaki penyinaran matahari yang cukup panjang, akan tetapi
intensitas cahaya matahari yang terlalu tinggi kurang baik. Oleh karena itu dalam praktek
kebun kopi diberi naungan dengan tujuan agar intensitas cahaya matahari tidak terlalu kuat.
Sebaliknya naungan yang terlalu berat (lebat) akan mengurangi pembuahan pada kopi.
Produksi kopi dengan naungan sedang, akan lebih tinggi dari pada kopi tanpa naungan. Kopi
termasuk tanaman hari pendek (short day plant), yaitu pembungaan terjadi bila siang hari
kurang dari 12 jam (Wachjar, 1984).

Buah tanaman kopi terdiri atas daging buah dan biji. Daging buah terdiri atas tiga
lapisan, yaitu kulit luar (eksokarp), lapisan daging (mesokarp) dan lapisan kulit tanduk
(endokarp) yang tipis tapi keras. Buah kopi umumnya mengandung dua butir biji, tetapi
kadang – kadang hanya mengandung satu butir atau bahkan tidak berbiji (hampa) sama sekali
(Budiman, 2012). Biji kopi terdiri atas kulit biji dan lembaga. Lembaga atau sering disebut
endosperm merupakan bagian yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat kopi
(Tim Karya Tani Mandiri, 2010).

2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Kopi Arabika


Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

Persyaratan tumbuh tanaman kopi arabika terdiri dari berbagai faktor yang
mempengaruhi diantaranya :

2.2.1 Iklim

1. Kopi di Indonesia saat ini umumnya dapat tumbuh baik pada ketinggian tempat di
atas 700 m di atas permukaan laut. Walaupun beberapa klon baru introduksi dari
luar negeri dapat ditanam dengan ketinggian minimal >500 mdpl, namun demikian
yang terbaik seyogyanya kopi ditanam di atas 700 mdpl (Ritung dkk., 2011),
terutama jenis kopi arabika. Ada sumber menyebutkan bahwa batas minimum
suatu lahan (kelas kesesuaian S3) arabika untuk ditanami kopi adalah ketinggian
650 mdpl (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2014). Ketinggian tempat penanaman
akan berkaitan juga dengan citarasa kopi.
2. Curah hujan yang sesuai untuk kopi sebaiknya adalah 1500 – 2500 mm per tahun,
dengan rata-rata bulan kering 1-3 bulan/tahun dan suhu rata-rata 15-25oC dengan
lahan kelas S1 atau S2 (Puslitkoka, 2006).
3. Kelembaban udara yang tinggi sekitar 30-70% diperlukan untuk mengurangi
penguapan.

2.2.2 Tanah

1. Tanaman kopi arabika memerlukan kondisi tanah yang subur, gembur, dan,
kedalaman efektif tanah lebih dari 100 cm, kemiringan kurang dari 30%, dengan
drainase yang memadai, bertekstur lempung (loamy) dengan struktur tanah lapisan
tanah remah. (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2014)
2. Nilai pH tanah yang optimal yaitu kisaran 5,5 - 6,5. Sifat kimia tanah terutama
pada lapisan 0-30 cm seharusnya memiliki kadar bahan organik lebih dari 3,5%
dengan kadar C lebih dari 2% atau nisbah C/N antara 10 – 12. KTK diharapkan
sebesar >15 me/100g tanah dengan kejenuhan basa sekitar < 35%. Kadar unsur
hara makro N, P, K, Ca, Mg cukup tersedia sampai tinggi (Ritung dkk., 2011).
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

III. GAMBARAN UMUM LOKASI

3.1. Deskripsi Wilayah

Wonosalam merupakan salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Jombang.


Kecamatan Wonosalam memiliki 9 desa yakni: Desa Sumberrejo, Wonokerto, Panglungan,
Carangwulung, Wonosalam, Sambirejo, Wonomerto, Galangdowo, dan Jarak. Adapun batas-
batas kecamatan Wonosalam yaitu: a. Sebelah utara berbatsan dengan Kabupaten Mojokerto
b. Sebelah selatan berbatsan dengan Kabupaten Kediri c. Sebelah timur berbatasan dengan
Kabupaten Malang d. Sebelah barat berbatsan dengan Kecamatan Mojowarno dan
Kecamatan Mojoagung.

Kecamatan Wonosalam berada di tenggara Kabupaten Jombang dengan luas wilayah


121, 63 km2, dan pada tahun 2010 jumlah penduduknya mencapai 32.542 jiwa. Terletak
antara 112 º 21′ 05″ sampai dengan 112 º 23′ 22″ bujur timur dan 07 º 44′ 59″ sampai
07º40’01″ lintang selatan. Kecamatan Wonosalam mempunyai batas administrasi sebelah
timur berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto, sebelah selatan berbatasan dengan
Kabupaten Kediri dan Malang dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bareng dan
Mojowarno, dan sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Mojoagung.

Secara topografi Kecamatan Wonosalam berada di sekitar lereng Gunung Arjuna


sehingga memiliki kondisi fisik yang berbukit. Ketinggian Wilayah Kecamatan dari
permukaan laut adalah ±500 mdpl. Dengan identifikasi bentuk wilayah datar sampai
berombak 44 %, berombak sampai berbukit 56 %, dan berbukit sampai bergunung 0 %.
Kondisi geologi Kecamatan Wonosalam adalah holosen alluvium dan sebagian pistosen
fasein. Jenis tanah Kecamatan Wonosalam bertekstur lempung, lempung pasir napal atau
termasuk jenis tanah pada kompleks mediteran coklat kemerahan dan litosol. Kecamatan
Wonosalam sebagian besar lahannya sudah dimanfaaatkan untuk kegiatan permukiman yaitu
seluas 1.046, 43 Ha, sawah 707,94 Ha dan tegalan 3.535,41 Ha (Kecamatan Wonosalam,
2014).
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

Sumber : www.jombangkab.go.id

Gambar 3.1 Peta Administrasi Kabupaten Jombang

Secara hidrologis Kecamatan Wonosalam tidak terlalu banyak dialiri sungai sehingga
kegiatan irigasi di sektor pertanian perkebunan dan peternakan kurang memadai. Namun,
kondisi air di Kecamatan Wonosalam tidak mengandung kadar garam yang tinggi, sehingga
memberikan kemudahan dalam pemilihan tanaman tropis yang lebih variatif. Suhu
maksimum/minimum di Kecamatan Wonosalam yang memiliki ketinggian ± 500m diatas
permukaan laut adala berkisar antara 30o C – 23o C. Dan curah hujannya adalah jumlah hari
dengan curah hujan terbanyak 93 hari, banyaknya curah hujan 2239 mm/th. Kecamatan
Wonosalam memiliki iklim tropis dan subtropis. Jika meninjau data dari Koordinator Statistik
Kecamatan Wonosalam pada tahun 2009, menyatakan bahwa jumlah lahan terbangun di
Kecamatan Wonosalam adalah 1.046,43 Ha, sedangkan luas lahan tak terbangun sebesar
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

12.848,65 Ha.Kecamatan Wonosalam yang mempunyai wilayah pegunungan untuk lahan


pertanian hanya mempunyai lahan pertanian sebesar 5,24% dari total luas lahan Kecamatan
Wonosalam. Produksi padi di Kecamatan Wonosalam pada tahun 2013 mencapai 5.344,75
ton dengan luas panen 742 ha. Rata-rata produktivitas padi di Kecamatan Wonosalam pada
tahun 2013 sebanyak 71,03 kw/ha. Desa penyumbang produksi padi terbesar adalah Desa
Galengdowo dengan total produksi 1.136,15 ton dan luas panen bersih sebesar 156 ha. Rata-
rata produktivitas padi Kecamatan Wonosalam pada tahun 2013 sebesar 72,03 kw/ha. Hampir
semua desa di Kecamatan Wonosalam memiliki luas panen padi sawah yang sedikit hal ini
disebabkan karena begitu luasnya lahan yang ada di wilayah kecamatan ini yang merupakan
hutan. Komoditi selain padi yang menjadi andalan di Kecamatan Wonosalam adalah
cengkeh. Komoditi ini menjadi primadona di beberapa desa di Kecamatan Wonosalam, hal
ini karena letak geografis wonosalam yang sangat cocok untuk perkebunan cengkeh. Selain
perkebunan cengkeh juga ada komoditi perkebunan yang lain yaitu kopi, kakao, dan tebu.

3.2. Iklim
Curah hujan di Wonosalam dan sekitarnya terbilang sedang / tinggi, yakni
mencapai 2.092 mm (BPS Jombang, 2019). Iklim disini diklasifikasikan menurut Sistem
Klasifikasi Schmidth & Fergusson yang berarti menentukan jumlah bulan basah (BB)
dan bulan kering (BK) tahun demi tahun selama periode pengamatan yang kemudian
dijumlahkan masing-masingnya selama tahun pengamatan dan dihitung reratanya.
Wonosalam dan sekitarnya termasuk dalam kategori tipe iklim C yaitu dengan nilai Q
antara 33,3 - 60 yang berarti vegetasi hutan rimba, diantaranya terdapat vegetasi yang
daunnya gugur saat kemarau e.g tanaman jati. Suhu rata-rata di Wonosalam dan
sekitarnya mencapai 23,3 o C
Klasifikasi
Bulan Schmidth &
Fergusson
Januari BB
Pebruari BB
Maret BB
April BB
Mei BL
Juni BB
Juli BL
Agustus BK
September BK
Oktober BK
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

Nopember BB
Desember BB

Sumber : BPS Kab. Jombang 2019

Gambar 3.2 Curah hujan per tahun di Wonosalam


dan sekitarnya
Presipitasi terendah di bulan Agustus, dengan rata-rata 16 mm, sedangkan tingkat
presipitasi tertinggi di bulan Pebruari dengan nilai presipitasi rata-rata 412 mm.

Sumber : Climate-Data.org 2019


Gambar 3.3 Fluktuasi suhu
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

Temperatur tertinggi atau bulan panas terdapat pada bulan Oktober dengan rata-rata
temperatur 24 oC, sedangkan Juli adalah bulan dengan temperatur paling rendah dengan rata-
rata temperatur 22,3 oC.

1V. METODOLOGI PELAKSANAAN

4.1 Waktu Pelaksanaan

Kegiatan survei dan evaluasi lahan akan dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 2020 di
kebun percobaan UPN Wonosalam Kabupaten Jombang dengan luas kebun ± 5 ha (hektare).
Kegiatan survei dilaksanakan pada area SPL 5 (Satuan Petak Lahan).

4.2 Bahan dan Alat Survei Lahan


Bahan –bahan yang akan digunakan dalam kegiatan survei dan evaluasi lahan antara
lain :
1. Citra satelit berupa foto udara kebun UPN Wonosalam Kabupaten Jombang
2. Peta-peta pendukung seperti Peta Rupa Bumi Indonesia atau Topografi dan Peta
Satuan Petak Lahan.
3. Bahan untuk analisis tanah dilaboratorium sesuai dengan aspek yang dianalisis.
Alat-alat yang digunakan antara lain :
1. Alat-alat yang digunakan kegiatan survei : GPS, Kamera Digital, kompas, buku
klasifikasi tanah, altinometer, clinometer, bor tanah, ring, meteran, pisau
komando, sekop, cangkul, kantong plastik, gelang karet dan kresek.
2. Alat- alat tulis untuk mencatat data pengamatan tanah dan pengambilan sampel
tanah dilapang : lembar deskripsi tanah, kertas label, buku tulis, bolpoint, spidol,
papan dada.

4.3 Pendekatan
Langkah pertama yang dilakukan yakni membuat delineasi satuan lahan melalui
pendekatan geomorfologi atau landform. Deleniasi merupakan penarikan garis untuk
membuat batas pada suatu wilayah. Bentuk lahan atau landform ditentukan dengan foto udara
dengan Google Earth. Setiap bentuk lahan yang ditentukan kemudian di karakterisasi serta
digambarkan dalam peta satuan lahan dan tanah yang selanjutnya dilakukan evaluasi
kesesuaian lahan.
Tahap pertama yakni pengumpulan data, beberapa data yang digunakan ialah,
observasi, pengukuran di lapangan, uji laboratorium, dan dokumentasi. Observasi lapangan
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

dilakukan dalam rangka memperoleh data sifat fisik tanah dan kimia tanah, serta penggunaan
lahan (eksisting) yang sesuai dengan lembar deskripsi. Pengukuran di lapangan dilakukan
untuk mendapatkan data koordinat letak titik unit lahan sebagai objek penelitian. Uji
laboratorium dilakukan analisis lengkap sifat fisik dan kimia tanah.

4.4 Metode Pelaksanaan Survei


Metode yang akan dilaksankan dalam kegiatan survei dan evaluasi lahan terdiri dari 3
bagian, diantaranya :
4.4.1 Pra-survei
1. Membuat Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kerangka Acuan Kerja atau juga disebut dengan Term of Reference  (TOR) 
adalah suatu dokumen yang menginformasikan latar belakang, tujuan, ruang lingkup
dan struktur sebuah kegiatan yang akan dilaksanakan. Kerangka acuan kerja
digunakan sebagai pedoman pelaksanaan di lapang pada kegiatan survei. Kerangka
Acuan Kerja digunakan untuk identifikasi penggunaan lahan yang disesuaikan
dengan sifat kegiatan yang akan dilaksanakan dengan mengkombinasikan metode
survei dan observasi lingkungan.
2. Pengumpulan Data Sekunder
Data sekunder digunakan sebagai materi pendukung dalam kegiatan survei dan
evaluasi lahan. Sumber data sekunder meliputi kegiatan browsing di internet atau
wawancara. Sumber data pendukung antara lain data iklim, smber daya air, dan
sosial ekonomi pertanian.
Data iklim yang dibutuhkan antara lain curah hujan, suhu udara, kelembaban
udara, lama penyinaran, dan kecepatan angin rata-rata bulanan dari stasiun yang ada
di wilayahWonosalam Kabubaten Jombang untuk periode pengamatan selama 5-10
tahun terakhir. Data iklim digunakan untuk menduga neraca air (periode defisit-
surplus), pola tanam, menduga rejim kelembaban tanah dan rejim suhu tanah serta
sebagai data dukung untuk klasifikasi tanah dan evaluasi lahan. Ketersediaan
sumberdaya air untuk keperluan domestik dan air pengairan/irigasi perlu
diidentifikasi, seperti air permukaan (sungai, danau, rawa, air sumur dangkal, dan
mata air).
Data sosial ekonomi pertanian yang dibutuhkan antara lain data jumlah
penduduk, pendapatan, kondisi atau fasilitas transportasi, jenis-jenis komoditas
utama yang diusahakan, produksi pertanian dan perkebunan, serta pola tanam. Data
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

tersebut dapat diperoleh dari BPS (Badan Pusat Statistik) serta melalui wawancara
dengan petani atau petugas pertanian setempat.
3. Pembuatan Peta Rupabumi Indonesia Kebun Wonosalam
Pembuaatan peta RBI Kebun UPN Wonosalam berdasarkan peta RBI lembar
Ngoro. Pemilihan wilayah hanya pada tempat yang akan dilaksanakan praktikum
survei dan evaluasi lahan. (Lampiran 1)
4.4.2 Pelaksanaan survei
1. Deskripsi lahan
Merupakan gambaran kawasan yang akan dilakukan kegiatan survei dan
evaluasi lahan di Desa Wonosalam Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang
yang meliputi informasi penggunaan lahan, bentuk lahan di kawasan tersebut.
2. Pengambilan sampel tanah
Pengambilan sampel tanah dilakukan pada wilayah SPL 5 (Lampiran 2).
Metode pengambilan contoh tanah yaitu secara sistematik atau Systematic Sampling
(SyS), dimana titik koordinat dipilih secara acak dengan sesuai jarak titik yang telah
ditentukan. Metode ini sering digunankan untuk studi pola spasial dikarenakan
memudahkan dalam pembuatan peta pola yang berasal dari grid dan metode ini
mempertimbangkan lokasi sampling dengan luas sampling, maka dari itu jarak 60 x
60 dari setiap titik sampling karena dapat mengurangi waktu untuk menuju titik di
lokasi penelitian.
Jumlah kluster harus dibatasi, namun sedapat mungkin mencakup keseluruhan
areal. Dengan cara membuat kluster dalam bentuk regular grid, tetapi perlu
diperhatikan skala yang tepat, kemudahan mencapai medan, teknik dan penunjuk
arah yang digunakan. Pengambilan contoh tanah dengan metode SyS yaitu pada
areal survei yang memiliki topografi datar sampai berombak/bergelombang dengan
jenis tanah bervariasi. Pengelompokan didasarkan, misalnya karena kesamaan jenis
tanah. Dengan ketentuan jenis tanah yang sama dianggap satu kluster walaupun
jaraknya berjauhan. Pengambilan contoh dengan cara ini diharapkan memperoleh
hasil analisis yang dapat mencerminkan nilai sifat fisik tanah sebenarnya.
(Sugandan, et al. 2002).
3. Klasifikasi Penggunaan Lahan
Pengklasifikasian lahan dilakukan dengan cara menggolongkan bentuk
penggunaan lahan yang disesuaikan dengan tujuan survei. Dalam penggunaan lahan
tersebut akan di evaluasi tingkat kesesuaian lahannya untuk tanaman kopi arabika.
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

4. Pemetaan
Peta rekomendasi penggunaan lahan tanaman kopi arabika disusun berdasarkan
hasil pengamatan satuan lahan dan tanah yang diperoleh dari hasil pemboran,
minipit dan profil. Peta tanah perlu dilengkapi dengan legenda peta. Legenda peta
tanah lapang disusun dengan urutan berikut: 1) nomor urut satuan petak lahan
(SPL), 2) satuan tanah pada tingkat macam tanah, termasuk sifat-sifat fisika dan
kimia tanah, serta proporsinya, 3) satuan landform, 4)satuan bahan induk, 5) satuan
bentuk wilayah/lereng, dan 6) luasan masing-masing SPL (dalam ha dan %).
Satuan tanah terdiri dari: macam tanah, kedalaman tanah, drainase, tekstur, reaksi
tanah (pH), kapasitas tukar kation (KTK) tanah, dan kejenuhan basa (KB). Satuan
tanah pada setiap SPT dapat lebih dari satu macam tanah, dan penyebarannya
dinyatakan dalam proporsi, yaitu: sangat dominan (P > 75%), dominan (D = 50-
75%), sedang (F = 25-49%), sedikit (M = 10-24%) dan sangat sedikit (T=<10%)
(CSR/FAO, 1983).
4.4.3 Pasca-survei
1. Analisis data laboratorium
Kegiatan analisis di laboratorium dilakukan untuk memperoleh data dari
pengambilan sampel tanah untuk di uji sifat fisik tanah (tekstur, struktur, warna
tanah, permeabilitas, kadar air, konsistensi tanah, berat isi tanah dan berat jenis
tanah), sifat kimia tanah (KTK, pH, EC, Redoks, C-organik, analisis N, P dan K).
2. Pengolahan dan Analisis Data
Data hasil pengamatan tanah di lapangan, data analisis tanah laboratorium, dan
peta yang telah diolah, disimpan dalam basis data yang terdiri atas 4 macam, yaitu:
Data hasil pengamatan tanah di lapangan berupa site (titik pengamatan) dan data
morfologi tanah disimpan dan diolah dalam site and horizon description dengan
sistem pengkodean telah dirancang simbol dan formatnya. Entri data hasil
pengamatan tanah yang telah dilakukan pada saat survei lapangan akan
memudahkan proses editing data. Sebelum disimpan, data tersebut perlu diolah dan
dilengkapi dengan ketebalan horizon tanah (cm) dan sifat-sifat tanah yang dihitung
dari data laboratorium tersebut, terdiri dari analisis lengkap sifat fisik dan kimia
tanah.
3. Penyusunan Laporan Kegiatan Survei dan Evaluasi Lahan
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

Data yang diperoleh dari pengamatan di lapang dan hasil analisis laboratorium
di sajikan dalam bentuk laporan. Pembahasan laporan kegiatan survei dan evaluasi
lahan disesuaikan dengan komoditas masing-masing.
4.5 Kriteria penilaian kelas kemampuan lahan
Evaluasi kemampuan lahan merupakan salah satu upaya untuk memanfaatkan lahan
sumberdaya lahan sesuai dengan potensinya. Penilaian potensi lahan sangat diperlukan
terutama dalam rangka menyusun kebijakan,pemanfaatan lahan, pengelolaan lahan secara
berkesinambungan. Kelas kemampuan lahan dilakukan penilaian secara sistematis dan
dikelompokkan ke dalam berbagai kategori berdasarkan sifat-sifat yang merupakan potensi
dan pembatas dalam penggunaan lahan. Evaluasi kelas kemampuan lahan dilakukan untuk
komoditas tanaman kopi arabika. Penilaian evaluasi kemampuan lahan berdasarkan faktor-
faktor pembatas yang ada pada tanaman kopi arabika. Kelas kemampuan lahan tediri dari
kelas 1 sampai 8. Semakin tinggi kelas maka semakin tinggi pula faktor pembatasnya.
Kriteria penilaian pada kemampuan lahan terdiri dari kelas kemampuan lahan, sub kelas dan
faktor pembatas. Faktor pembatas kelas kemampuan lahan terdiri dari :

1. Tekstur tanah (t) 4. Kedalaman efektif


a. Lapisan atas 5. Tingkat erosi
b. Lapisan bawah 6. Batu/kerikil
2. Lereng (%) 7. Bahaya banjir
3. Drainase

4.6 Kriteria penilaian kelas kesuburan lahan


Kesuburan lahan salah satunya adalah kemampuan tanah dalam menyediakan hara
bagi tanaman. Kesuburan lahan merupakan suatu nilai kualitas dari kemampuan tanah untuk
menyediakan hara bagi pertumbuhan suatu jenis tanaman dalam jumlah yang memadai dan
seimbang. Tingkat kesuburan tanah akan mempengaruhi produksi dan hasil tanaman. Tingkat
kesuburan suatu lahan akan menandakan bahwa lahan tersebut mempunyai komposisi
seimbang yang mendukung pertumbuhan tanaman sehingga dapat memproduksi secara
maksimal. Penilaian kelas kesuburan lahan terdiri dari KTK (Kapasitas Tukar Kation), KB
(Kejenuhan Basa), P2O, K2O dan C-organik. Berikut merupakan penilaian terhadap kelas
kesuburan lahan :

No KTK KB P2O, K2O, C organik Status Kesuburan


1 T T 2 T Tanpa R Tinggi
2 T T 2 T Dengan R Sedang
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

No KTK KB P2O, K2O, C organik Status Kesuburan


3 T T 2 S Tanpa R Tinggi
4 T T 2 S Dengan R Sedang
5 T T TSR Sedang
6 T T 2 R Dengan T Sedang
7 T S 2 R Dengan S Rendah
8 T S 2 T Tanpa R Tinggi
9 T S 2 T Dengan R Sedang
10 T S 2 S Tanpa R Sedang
11 T S Kombinasi Lain Rendah
12 T R 2 T Tanpa R Sedang
13 T R 2 T Dengan R Rendah
14 T R Kombinasi Lain Rendah
15 S T 2 T Tanpa R Sedang
16 S T 2 T Dengan R Sedang
17 S T Kombinasi Lain Rendah
18 S S 2 T Tanpa R Sedang
19 S S 2 T Dengan R Sedang
20 S S Kombinasi Lain Rendah
21 S R 3T Sedang
22 S R Kombinasi Lain Rendah
23 R T 2 T Tanpa R Sedang
24 R T 2 T Dengan R Rendah
25 R T 2 S Tanpa R Sedang
26 R T Kombinasi Lain Rendah
27 R S 2 T Tanpa R Sedang
28 R S Kombinasi Lain Rendah
29 R R Semua Kombinasi Rendah
30 SR TSR Semua Kombinasi Sangat Rendah
Sumber: (PPT Bogor, 1995)
Keterangan : SR/R/S/T/SR/TSR= Sangat Rendah/Rendah/Sedang/Tinggi/Tinggi/Sedang Rendah

4.7 Metode evaluasi dan kesesuaian lahan


Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan
tertentu. Kesesuaian lahan tersebut dapat dinilai untuk kondisi saat ini (kesesuaian lahan
aktual) atau setelah diadakan perbaikan (kesesuaian lahan potensial). Sitorus (1998)
menyatakan bahwa evaluasi lahan pada hakekatnya merupakan proses pendugaan potensi
sumber daya lahan untuk berbagai kegunaan dengan cara membandingkan persyaratan yang
diperlukan untuk suatu penggunaan lahan dengan sifat sumber daya yang ada pada lahan
tersebut.
Struktur klasifikasi kesesuaian lahan menurut kerangka FAO (1976) dibedakan
menurut tingkatannya, yaitu tingkat Ordo, Kelas, Subkelas dan Unit. Ordo adalah keadaan
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

kesesuaian lahan secara global. Pada tingkat ordokesesuaian lahan dibedakan antara lahan
yang tergolong sesuai (S=Suitable) dan lahan yang tidak sesuai (N=Not Suitable). Kelas
adalah keadaan tingkat kesesuaian dalam tingkat ordo. Berdasarkan tingkat detail data yang
tersedia pada masing-masing skala pemetaan, Ritung dkk., (2007) berpendapat bahwa kelas
kesesuaian lahan dibedakan menjadi 2 yaitu :
1) Untuk pemetaan tingkat semi detail (skala 1:25.000-1:50.000) pada tingkat kelas, lahan
yang tergolong ordo sesuai (S) dibedakan ke dalam tiga kelas, yaitu: lahan sangat
sesuai (S1), cukup sesuai (S2),dan sesuai marginal (S3). Sedangkan lahan yang
tergolong ordo tidak sesuai (N) tidak dibedakan ke dalam kelas-kelas.
2) Untuk pemetaan tingkat tinjau (skala 1:100.000-1:250.000) pada tingkat kelas
dibedakan atas Kelas sesuai (S), sesuai bersyarat (CS) dan tidak sesuai (N).
Kesesuaian lahan tingkat kelas merupakan pembagian lanjut dari ordo dan
menggambarkan tingkat-tingkat kesesuaian dari ordo. Tingkatan kelas tersebut antara lain :
1. Kelas S1 : Lahan tidak mempunyai faktor pembatas yang berarti atau nyata
terhadap penggunaan secara berkelanjutan, atau faktor pembatas bersifat minor dan
tidak akan berpengaruh terhadap produktivitas lahan secara nyata.
2. Kelas S2 : Lahan mempunyai faktor pembatas, dan faktor pembatas ini akan
berpengaruh terhadap produktivitasnya, memerlukan tambahan masukan (input).
Pembatas tersebut biasanya dapat diatasi oleh petani sendiri.
3. Kelas S3 : Lahan mempunyai faktor pembatas yang berat, dan faktor pembatas ini
akan sangat berpengaruh terhadap produktivitasnya, memerlukan tambahan
masukan yang lebih banyak daripada lahan yang tergolong S2. Untuk mengatasi
faktor pembatas pada S3 memerlukan modal tinggi, sehingga perlu adanya bantuan
atau campur tangan (intervensi) pemerintah atau pihak swasta.
4. Kelas N : Lahan yang karena mempunyai faktor pembatas yang sangat berat
dan/atau sulit diatasi.
Pada tingkat subkelas kesesuaian lahan mencerminkan jenis pembatas,
sedangkan pada tingkat unit merupakan pembagian lebih lanjut dari subkelas berdasarkan
atas besarnya faktor pembatas. Pada tingkat subkelas-kelas kesesuaian lahan dibedakan
berdasarkan karasteristik lahan yang merupakan faktor pembatas terberat. Bergantung
peranan faktor pembatas pada masing-masing sub kelas, kemungkinan kelas kesesuaianlahan
yang dihasilkan ini bisa diperbaiki dan ditingkatkan kelasnya sesuai dengan masukan yang
diperlukan. misal Subkelas S3rc, sesuai marginal dengan pembatas kondisi perakaran
(rc=rooting condition). Unit adalah keadaan tingkatan dalam subkelas kesesuaian lahan, yang
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

didasarkan pada sifat tambahan yang berpengaruh dalam pengelolaannya. Contoh kelas S3rc1
dan S3rc2, keduanya mempunyai kelas dan subkelas yang sama dengan faktor penghambat
sama yaitu kondisi perakaran terutama faktor kedalaman efektif tanah, yang dibedakan ke
dalam unit 1 dan unit 2. Unit 1 kedalaman efektif sedang (50-75 cm), dan Unit 2 kedalaman
efektif dangkal (<50 cm). Dalam praktek evaluasi lahan, kesesuaian lahan pada kategori unit
ini jarang digunakan.
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

V. PELAKSANA DAN PENANGGUNGJAWAB KEGIATAN SURVEI DAN


EVALUASI LAHAN

5.1 Pelaksana kegiatan


Pelaksanaan penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK) pada kegiatan survei dan
evaluasi lahan dilakukan oleh tim Mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur. Kegiatan secara
teknis akan dilakukan oleh sebuah tim dengan susunan anggota sebagai berikut :
No. Tenaga Personal Jabatan Tugas dan Tanggung Jawab
1. Zulfikar Alvin Ketua Bertanggungjawab atas semua kegiatan yang
Naufal anggota dijalankan.
2. Siti Fatimatus Anggota Menganalisis hasil kajian dan survei
Syahrok
3. Agnes Septiya Anggota Penanggungjawab administrasi kegiatan penyusunan
Nuraningtias KAK dan laporan hasil kegiatan.

4. Yessy Sastya Anggota Persiapan kajian di lapangan, melakukan


pengumpulan data primer. Melakukan rekapitulasi
hasil pengumpulan data primer.

5.2 Penanggungjawab kegiatan

Penanggungjawab kegiatan adalah Kepala Laboratorium Sumberdaya Lahan dalam


pelaksanaan praktimum survei dan evaluasi lahan di kebun percobaan UPN Desa Wonosalam
Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang Jawa Timur.

5.3 Jadwal Pelaksanaan


Adapun jadwal kegiatan pelaksanaan kegiatan survei dan evaluasi lahan sebagai
berikut :

Minggu
No. Kegiatan
1 2 3 4 5
1. Persiapan
2. Pelaksanaan
3. Pengelolaan data
4. Pembahasan Hasil
5. Laporan dan Presentasi
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

VI. PENUTUP

Lahan merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting dalam sektor pertanian,
dalam pemanfaatannya sebagai salah satu media budidaya tanaman merupakan modal dasar
yang utama dan terpenting dalam usaha tani yang harus tetap dijaga dan dipertahankan
kelestariannya. Evaluasi lahan merupakan bagian dari proses perencanaan tataguna tanah
yang membandingkan persyaratan yang diminta untuk penggunaan lahan yang akan
diterapkan dengan sifat-sifat atau kualitas lahan yang dimiliki oleh lahan tersebut.

Kerangka Acuan Kerja pelaksanaan kegiatan PKL dibuat sebagai dasar acuan bagi
semua pihak termasuk pihak pelaksana pekerjaan dalam melaksanakan kegiatan survey
evaluasi kesesuaian, kesuburan, dan kemampuan lahan untuk tanaman kopi arabika di
Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang.
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

DAFTAR PUSTAKA
Anonim(1). 2013. Kabupaten Jombang. http://bappeda.jatimprov.go.id/bappeda/wp-
content/uploads/potensi-kab-kota-2013/kab-jombang-2013.pdf diakses Kamis 28
Februari 2019 pukul 07.07 WIB

Anonim(2).2015.Juknis Kesuburan 2015.


http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/juknis
%20kesuburan2015/bab%20V%20tanah-JP.pdf diakses Minggu 24 Februari 2019
pukul 20.10 WIB.

Anonim(3). 2019. Panduan Praktikum Survei Tanah dan Evaluasi Lahan. Fakultas Pertanian
UPN “Veteran” Jawa Timur

Badan Pusat Statistika Jombang. 2019. Kecamatan Wonosalam dalam Angka. Pemkab
Jombang. www.jombangkab.bps.go.id

Budiman, H. 2012. Prospek Tinggi Bertanam Kopi Pedoman Meningkatkan Kualitas


Perkebunan Kopi. Pustaka Baru Press. Yogyakarta.

Climate-Data.org. 2019. Climate Wonosalam.


https://en.climate-data.org/asia/indonesia/east-java/wonosalam-597308/ diakses Jumat
13 Maret 2020 pukul 7.25 WIB.

CSR/FAO. 1983. Reconnaissance Land Resource Survei 1:250.000 Scale. Atlas Format
Procedures. Land Resources Evaluation with Emphasis on Outer Island Project.
CSR/FAO Indonesia AGOFANS/78/006. Mannual 4 version 1.
FAO. 1976. A Framework for Land Evaluation. Soil Resources Management and
Conservation Service Land and Water Development Division. FAO Soil Bulletin No.
32. FAO-UNO, Rome

Hamni, A., Gusri, A., Suryadiwansa, Yanuar, B.,dan Tarkono. 2013. Potensi Pengembangan
Teknologi Proses Produksi Kopi Lampung. Universitas Lampung. Lampung. Jurnal
Mechanical 4 (1).

Hiwot, H. 2011. Growth and physiological response of two Coffea arabica L. population
under high and low irradiance. Thesis. Addis Ababa University.

Puslitkoka. 2006. Pedoman Teknis Tanaman Kopi. 96 hal. Pusat Penelitian Tanaman Kopi
dan Kakao. Jember.

Republik Indonesia. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 49/Permentan/OT.140/4/2014


tentang Pedoman Teknis Budidaya Kopi yang Baik (GAP on Coffee). Direktorat
Jenderal Perkebunan. Kementrian Pertanian.
Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

Ritung, S., A. Wahyunto, Fahmudin Agus, Hapid Hidayat. 2007. Panduan Evaluasi Lahan
dengan Contoh Peta Arahan Penggunaan Lahan Kabupaten Aceh Barat . Balai
Penelitian Tanah, Bogor, Indonesia.

Ritung, S., Kusumo N., Anny M., Erma S. 2011. Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan untuk
Komoditas Pertanian. Kementrian Pertanian. Bogor

Roche, D dan Robert, 2007. A Family Album Getting to The Roots of Coffee’s Plants
Heritage. (www.roastmagazine.com).

Suganda, H., A. Rahman dan Sutono. 2002. Petunjuk Pengambilan Contoh Tanah.
Balittanah. Bogor

Subardja, D. dan S. Ritung, Markus Anda, Sukarman, E. Suryani, dan R.E. Subandiono.
2014. Petunjuk Teknis Klasifikasi Tanah Nasional. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. Jakarta.
Soil Survei Staff, 2014. Keys to Soil Taxonomy. NRCS-USDA. Washington D.C.

Tim Karya Tani Mandiri. 2010. Pedoman Budidaya Tanaman Kopi. Nuansa Aulia. Bandung.

United States Department of Agriculture (USDA). 2002. Plants Profile for Coffea arabica L.
http://plants.usda.gov/java/profile?symbol=COAR2 [10 Februari 2016].

Wachjar, A. 1984. Pengantar Budidaya Kopi. Fakultas Pertanian. Bogor.


Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

Lampiran 1. Peta Rupabumi Indonesia Kebun Wonosalam Jombang


Kerangka Acuan Kerja Survei dan Evaluasi Lahan SPL 5 di Wonosalam Kabupaten Jombang

Lampiran 2. Peta Satuan Petak Lahan (SPL) 5