Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

“MORFOLOGI JAMUR”

GOLONGAN A2

NAMA NPM

ZULFIKAR ALVIN NAUFAL 17025010023

LIA ISWINDARI MUKAROMAH 17025010028

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL "VETERAN" JAWA

TIMUR

2018

SURABAYA
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala

limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan

praktikum Mikrobiologi untuk memenuhi tugas praktikum Mikrobiologi

Dengan selesainya penyusunan proposal ini, maka kami ingin

menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya kami mampu

menyelesaikan laporan praktikum ini dengan baik.

2. Orang tua kami tercinta yang telah banyak memberikan dukungan baik

secara moril maupun materil.

3. Ibu Dr. Ir. Arika Purnawati, M.P. selaku dosen pengampu laboratorium

Mikrobiologi yang membimbing kami dalam menyelesaikan laporan

praktikum ini.

4. Saudara M. Hipti selaku asisten pembimbing laboratorium yang memberi

kami arahan untuk melakukan praktikum dan segala teknisnya.

Dengan segala kerendahan hati, kami mengharapkan kritik dan saran yang

bersifat membangun dari para pembaca. Kami berharap laporan praktikum ini

bermanfaat bagi semua pihak.

Surabaya, 4 Maret 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i

DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

DAFTAR TABEL ................................................................................................. iii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iv

MATERI III : MORFOLOGI JAMUR

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1

1.2 Tujuan Praktikum ................................................................................ 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 3

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat .............................................................................. 8

3.2 Alat dan Bahan .................................................................................... 8

3.3 Prosedur Kerja .................................................................................... 9

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan ................................................................................ 10

4.2 Pembahasan ......................................................................................... 11

ii
BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan ......................................................................................... 14

5.2 Saran .................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 15

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Hasil pengamatan praktikum acara "Morfologi Jamur" ....................... 10

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1.1 Jamur Aspergillus ......................................................................... 10

v
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jamur (fungi) banyak kita temukan disekitar kita. Jamur tumbuh subur

terutama di musim hujan karena jamur menyukai habitat yang lembap. Beberapa

ahli mikologi membagi jamur menjadi dua kelompok berdasarkan bentuk

tubuhnya, yaitu kapang (mold) dan khamir (yeast). Kebanyakan jamur masuk

dalam kelompok kapang. Tubuh vegetatif kapang berbentuk filamen panjang

bercabang yang seperti benang disebut hifa. Hifa akan memanjang dan menyerap

makanan dari permukaan substrat (tempat hidup jamur). Sedangkan jamur dalam

kelompok khamir bersifat uniseluler (berinti satu), bentuknya bulat atau oval .

Pengamatan morfologi sangat penting untuk identifikasi dan determinasi.

Bahkan pengamatan morfologi ini lebih penting daripada pengamatan fisiologis.

Terdapat beberapa cara atau metode pengamatan yaitu dengan pembuatan slide

cultur atau hanging drop. Untuk pengamatan morfologi dapat dilakukan

pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis.

Jamur tidak mempunyai batang, daun, dan akar serta tidak mempunyai sistem

pembulu seperti pada tumbuhan tingkat tinggi. Jamur umumnya berbentuk seperti

benang, bersel banyak, dan semua dari jamur mempunyai potensi untuk tumbuh,

karena tidak mempunyai klorofil yang berarti tidak dapat memasak makanannya

1
1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu untuk dapat

mengetahui morfologi jamur.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Fungi adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau

sel tunggal, eukariotik, berdinding sel dari kitin atau selulosa, berproduksi

seksual atau aseksual. Dalam dunia kehidupan fungi merupakan kingdom

tersendiri, karena cara mendapatkan makanannya berbeda dengan

organisme eukariotik lainnya yaitu melalui absorpsi. Sebagian besar tubuh

fungi terdiri dari atas benang – benang yang disebut hifa, yang saling

berhubungan menjalin semacam jala yaitu miselium. Miselium dapat

dibedakan atas miselium vegetative yang berfungsi meresap menyerap

nutrient dari lingkungan , dan miselium fertile yang berfungsi dalam

reproduksi.

Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah mempunyai cirri khas

yaitu berupa benang tunggal atau bercabang – cabang yang disebut hifa.

Fungi dibedakan menjadi dua golongan yaitu kapang dan khamir. Kapang

merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan

khamir merupakan fungi bersel tunggal da tidak berfilamen. (Ita Trie

2012). Pada umumnya jamur dibagi menjadi 2 yaitu: khamir (Yeast) dan

kapang (Mold).

1. Khamir

Khamir adalah bentuk sel tunggal dengan pembelahan secara

pertunasan. Khamir mempunyai sel yang lebih besar daripada

kebanyakan bakteri, tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar

3
bakteri yang terbesar.khamir sangat beragam ukurannya,berkisar

antara 1-5 μm lebarnya dan panjangnya dari 5-30 μm atau lebih.

Biasanya berbentuk telur,tetapi beberapa ada yang memanjang atau

berbentuk bola. Setiap spesies mempunyai bentuk yang khas,

namun sekalipun dalam biakan murni terdapat variasi yang luas

dalam hal ukuran dan bentuk.Sel-sel individu, tergantung kepada

umur dan lingkungannya. Khamir tidak dilengkapi flagellum atau

organ-organ penggerak lainnya (Coyne 1999)

a. Khamir Murni

Khamir yang dapat berkembang biak dengan cara seksual

dengan pembentukan askospora khamir ini diklasifikasikan

sebagai Ascomycetes (Saccharomyces cerevisae, Saccharomyces

carlbergesis, Hansenula anomala, Nadsonia sp). (Coyne 1999)

b. Khamir Liar

Khamir murni yang biasanya terdapat pada kulitanggur.

Khamir ini mungkin digunakan dalam proses fermentasi,

meskipun galur yang diperbaiki telah dikembangkan yang

menghasilkan anggur dengan rasa yang lebih enak dengan bau

yang lebih menyenangkan. Khamir liar yang ada dikulit anggur

dimatikan dengan penambahan dioksida belerang pada buah

anggur yang telah dihancurkan. Inokulum galur khamir yang

dikehendaki ditambahkan kemudian untuk memfermentasi air

perasan anggur. (Coyne 1999)

4
c. Khamir Atas

Khamir murni yang cenderung memproduksi gas sangat

cepat sewaktu fermentasi,sehingga khamir itu dibawa

kepermukaan. Khamir atas mencakup khamir yang digunakan

dalam pembuatan roti,untuk kebanyakan anggur minuman dan bir

inggris (Saccharomycescereviceae). (Coyne 1999

d. Khamir Dasar

Khamir murni yang memproduksi gas secara lebih lamban

pada bagian awal fermentasi. Jadi sel khamir cenderung untuk

menetap pada dasar. Galur terpilih digunakan dalam industri bir

lager (Saccharomyces carlsbergensis). (Coyne 1999)

e. Khamir Palsu atau Torulae

Khamir yang didalamnya tidak terdapat atau dikenal tahap

pembentukan spora seksual. Banyak diantaranya yang penting

dari segi medis (Cryptococcus neoformans, Pityrosporum ovale,

Candida albicans). (Coyne 1999)

2. Kapang

Tubuh atau talus suatu kapang pada dasarnya terdiri dari 2 bagian

miselium dan spora (sel resisten, istirahat atau dorman). Miselium

merupakan kumpulan beberapa filamen yang dinamakan hifa. Setiap

hifa lebarnya 5-10 μm, dibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya

5
berdiameter 1 μm. Disepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma bersama

(Syamsuri 2004)

Ada 3 macam morfologi hifa:

a. Aseptat atau senosit, hifa seperti ini tidak mempunyai dinding sekat

atau septum. (Syamsuri 2004)

b. Septat dengan sel-sel uninukleat, sekat membagi hifa menjadi ruang-

ruang atau sel-sel berisi nucleus tunggal. Pada setiap septum terdapat

pori ditengah-tengah yang memungkinkan perpindahan nucleus dan

sitoplasma dari satu ruang keruang yang lain.setiap ruang suatu hifa

yang bersekat tidak terbatasi oleh suatu membrane sebagaimana

halnya pada sel yang khas, setiap ruang itu biasanya dinamakan sel.

(Syamsuri 2004)

c. Septat dengan sel-sel multinukleat, septum membagi hifa menjadi

sel-sel dengan lebih dari satu nukleus dalam setiap ruang. (Syamsuri

2004)

Jamur tidak dapat hidup secara autotrof, melainkan harus hidup

secara heterotrof. Jamur hidup dengan jalan menguraikan bahan-bahan

organik yang ada dilingkungannya. Umumnya jamur hidup secara

saprofit,artinya hidup dari penguraian sampah sampah-sampah organic

seperti bangkai, sisa tumbuhan, makanan dan kayu lapuk, menjadi

bahan-bahan anorganik. Ada pula jamur yang hidup secara parasit

artinya jamur mendapatkan bahan organic dari inangnya misalnya dari

manusia, binatang dan tumbuhan. Adapula yang hidup secara simbiosis

6
mutualisme, yakni hidup bersama dengan orgaisme lain agar saling

mendapatkan untung, misalnya bersimbiosis dengan ganggang

membentuk lumut kerak. (Syamsuri 2004)

Jamur uniseluler misalnya ragi dapat mencerna tepung hingga

terurai menjadi gula, dan gula dicerna menjadi alkohol. Sedangkan

jamur multiseluler misalnya jamur tempe dapat mengaraikan protein

kedelai menjadi protein sederhana dan asam amino. Makanan tersebut

dicerna diluar sehingga disebut pencernaan ekstraseluler, sama seperti

pada bakteri. Caranya,sel-sel yang bekerja mengeluarkan enzim

pencernaan. Enzim-enzim itulah yang bekerja menguraikan molekul-

molekul kompleks menjadi molekul-molekul sederhana. (Syamsuri

2004)

7
BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Hari & Tanggal : Senin, 22 April 2018

Pukul : 11.00 - 13.00

Tempat : Laboratorium Kesehatan Tanaman Fakultas

Pertanian.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat yang kami gunakan dalam praktikum yaitu:

1. Mikroskop

2. Lampu Bunsen

3. Korek

4. Jarum ose

5. Pipet

6. Gelas Beaker

7. Gelas Benda

8. Kaca Penutup\

8
3.2.2 Bahan

Bahan yang kami gunakan dalam praktikum yaitu:

1. Biakan mikroba hasil pemurnian media PDA (dalam cawan

Petri)

2. Aquades

3. Alkohol 70%

4. Spiritus

3.3 Langkah Kerja.

1. Mensterilkan alat-alat yang di gunakan

2. Meneteskan setetes aquades pada permukaan kaca benda

3. Mengambil jamur pada media biakan mikroba hasil pemurnian

media PDA menggunakan jarum ose

4. Meletakkan jamur yang telah diambil pada permukaan kaca

benda yang sebelum nya telah di tetesi aquades

5. Menutup permukaan kaca benda dengan menggunakan gelas

penutup

6. Mengamati morfologi jamur menggunakan mikroskop dengan

perbesaran 40x

9
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 4.1 Hasil pengamatan praktikum acara "Morfologi Jamur"

Gambar 4.1.1

Taksonomi. A. niger termasuk dalam Aspergillus

Subgenus : Circumdati

Kingdom : Fungi

Phylum : Ascomycota

Subphylum : Pezizomycotina

Class : Eurotiomycetes

Order : Eurotiales

Family : Trichocomaceae

Genus : Aspergillus

Species : A. niger

10
Habitat . Spesies ini kosmopolit didaerah tropis dan subtropics, dan mudah

diisolasi dari tanah, udara,air. Aspergillus niger penting pada produksi asam sitrat.

Aspergillus niger dapat tumbuh pada suhu 35ºC-37ºC (optimum), 6ºC-8ºC

(minimum), 45ºC-47ºC (maksimum) dan memerlukan oksigen yang cukup

(aerobik). Aspergillus niger memiliki bulu dasar berwarna putih atau kuning

dengan lapisan konidiospora tebal berwarna coklat gelap .

4.2 Pembahasan

Fungi atau jamur adalah suatu divisi organisme eukariotik yang

tumbuh dalam massa iregular, tanpa akar, batang, atau daun, dan tanpa

klorofil atau pigmen lain yang mampu untuk berfotosintesis. Setiap

organisme (talus) bersifat uniseluler hingga filamentosa, dan memiliki

struktur somatik bercabang (hifa) yang dikelilingi oleh dinding sel yang

mengandung selulosa atau sitin atau keduanya, dan mengandung nuklei

asli. Organisme ini bereproduksi secara seksual atau aseksual

(pembentukan spora) dan dapat memperoleh makanan dari organisme

hidup lain sebagai parasit atau dari bahan organik sebagai saprofit (Direkx,

2001).

Jenis jamur yang digunakan dalam praktikum morfologi jamur ini

adalah Aspergillus niger. Aspergillus niger merupakan salah satu dari tiga

spesies Aspergillus. Menurut Sacher et al. (2002) . Jamur jenis Aspergillus

mudah tumbuh pada medium bakteri dan jamur, membentuk koloni yang

11
dapat dilihat dalam 3 hari inkubasi. Aspergillus melakukan reproduksi

secara seksual dan aseksual. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan

pembentukan kuncup atau tunas pada jamur uniseluler serta pemutusan

benang hifa (fragmentasi miselium) dan pembentukan spora aseksual

(spora vegetatif) pada fungi multiseluler. Reproduksi jamur secara seksual

dilakukan oleh spora seksual.

Bagian tubuh dari Aspergillus niger yang tampak ketika diamati

dengan menggunakan mikroskop adalah bagian spora, sporangium dan

sporangiofor. Sporangium yang berbentuk bulat yang berisi spora,

sporangium akan pecah jika spora telah matang. Spora pada Aspergillus

niger berfungsi sebagai reproduksi seksualnya sedangkan sporangifor

adalah hifa yang tumbuh tegak lurus substrat yang berfungsi sebagai

batang. Rizoid dari Aspergillus niger tidak tampak disebabkan ketika

pengambilan Aspergillus niger dari medium kurang ke bawah, sehingga

yang terambil hanyalah bagian sporangiofor dan sporangiumnya saja.

Rizoid adalah hifa yang bercabang-cabang membentuk seperti jangkar

yang berfungsi menyerap nutrisi. Maka jamur Aspergillus niger

menunjukkan hifa yang bercabang yang merupakan jamur dengan hifa

bersepta. Aspergillus niger memiliki warna dasar berwarna putih atau

kuning dengan lapisan konidiospora tebal berwarna coklat gelap sampai

hitam. Secara makroskopis, permukaan terlihat berwarna kehitaman,

ketika diposisi terbalik (berlawanan) terlihat berwarna putih kekuningan.

Kepala konidia dari Aspergillus niger berwarna hitam, bulat, cenderung

memisah menjadi bagian-bagian yang lebih longgar seiring dengan

12
bertambahnya umur. Aspergillus niger mempunyai koloni pada medium

cxapek’s dox mencapai diameter 4-5cm koloninya berwarna putih pada

PDA 25oC dan berubah menjadi hitam ketika media dibentuk (Miskiyah el

al,2006). Selain itu, Aspergillus niger dalam kehidupan memiliki banyak

fungsi, salah satunya adalah digunakan dalam proses fermentasi

13
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari pengamatan yang telah kami lakukan, kami dapat menarik

kesimpulan bahwa :

1. Fungi atau jamur adalah suatu divisi organisme eukariotik yang

tumbuh dalam massa iregular, tanpa akar, batang, atau daun, dan tanpa

klorofil atau pigmen lain yang mampu untuk berfotosintesis

2. Bagian tubuh dari Aspergillus niger yang tampak ketika diamati

dengan menggunakan mikroskop adalah bagian spora, sporangium dan

sporangiofor.

3. Jamur Aspergillus niger menunjukkan hifa yang bercabang yang

merupakan jamur dengan hifa bersepta

5.2 Saran

Dalam melakukan praktikum hendaknya praktikan lebih teliti saat

mengambil suspensi jamur, sehingga jamur yang akan dipindahkan

kemedia terambil dengan baik.

14
DAFTAR PUSTAKA

Coyne, Mark S. 1999. Soil Microbiology: An Exploratory Approach. USA :

Delmar Publisher

Direkx, John H. 2001. Kamus Ringkas Kedokteran Stedman Untuk Profesi

Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Miskiyah., I. Mulyawati., dan W. Haliza. 2006. Pemanfaatan Ampas Kelapa

Limbah Pengolahan Minyak Kelapa Murni Menjadi Pakan. Balai Besar

Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Kampus Penelitian

Pertanian. Bogor.

Nishimura, K. 1999. Aspergillus niger Microscopy. (http://www.pf.chiba-

u.jp/gallery/fungi/a/Aspergillus_niger_microscopy.html).

Diakses tanggal 18 Mei 2014 pukul 23.32 WIB.

Syamsuri, Istamar. 2004. Biologi. Erlangga :Jakarta.

15