Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM STERILISASI, PEMBUATAN MEDIA, TEKNIK BIAKAN DAN ISOLASI KULTUR MURNI, DAN PERHITUNGAN

ANGKA LEMPENG TOTAL (TPC)

Ayu Hilyatul Millah 115090107111017 3-A

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2013

STERILISASI, PEMBUATAN MEDIA, TEKNIK BIAKAN DAN ISOLASI KULTUR MURNI, DAN PERHITUNGAN ANGKA LEMPENG TOTAL (TPC) Ayu Hilyatul Millah Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya, Malang Abstrak Tujuan dilakukan praktikum ini yaitu : untuk mengetahui berbagai cara sterilisasi ruang kerja atau laboratorium dan peralatan serta media pertumbuhan mikroorganisme, untuk mengetahui jenis-jenis media serta cara pembuatan dan sterilisasinya, untuk mengetahui tahapan-tahapan dari beberapa teknik isolasi mikroba, untuk mengetahui teknik penyimpanan kultur murni yang baik dan benar, untuk mengkarakterisasi pertumbuhan koloni hasil isolasi. Media yang digunakan untuk pertumbuhan bakteri adalah NA atau Nutrient Agar, dan media yang digunakan untuk pertumbuhan kapang adalah PDA atau Potatos Dextrose Agar. Sampel yang digunakan meliputi sampel tanah Rana Pane dan sampel tanah Sawah. Isolasi mikrob dilakukan dengan menggunakan teknik dilusi, pour plate, dan streak plate. Berdasarkan hasil perhitungan dengan teknik Total Plate Count atau TPC ditemukan lebih banyak mikrob pada sampel tanah Ranu Pane dibandingkan tanah Sawah, baik berupa kapang ataupun bakteri, yang menujukkan kualitas tanah Ranu Pane lebih baik dibandingkan tanah sawah. Kata kunci : isolasi mikroba, Nutrient Agar, Potatos Dextrose Agar , Total Plate Count.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan makhlukmakhluk kecil (mikroorganisme) yang hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Dalam bahasa Yunani, micros berarti kecil, bios berarti hidup dan logos berarti hidup(Dwidjoseputro, 2001). Penelitian mengenai mikroorganisme dalam berbagai habitat ini memerlukan teknik untuk memisahkan populasi campuran yang rumit atau biakan campuran, menjadi spesies-spesies yang berbeda sebagai biakan murni. Biakan murni terdiri dari suatu populasi sel yang semuanya berasal dari satu sel induk. Pemisahan biakan campuran menjadi biakan murni disebut dengan isolasi yang dapat dilakukan dengan berbagai teknik. Penyediaan dan pemeliharaan media juga dibutuhkan dalam pembelajaran mikroorganisme untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme yang diteliti((Pleczar, 2002). Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada media ataupun alat yang akan digunakan (Hadioetomo dan Ratna, 2003). Sehingga diharapkan alat dan media yang akan digunakan tidak terkontaminasi oleh mikrooerganisme yang lain. Jadi sterilisasi, pembuatan media, teknik biakan dan isolasi kultur murni, dan perhitungan angka lempeng total merupakan hal yang penting dan perlu diperhatikan bagi seorang peneliti di bidang mikrobiologi. Oleh karena itu, pada praktikum mikrobiologi dilakukan kegiatan sterilisasi, pembuatan media, teknik biakan dan isolasi kultur murni, dan perhitungan angka lempeng total yang penting untuk memberikan pelatihan awal dan bekal bagi praktikan mikrobiologi. 1.2. Rumusan Masalah Permasalahan yang ingin dipecahkan pada praktikum ini yaitu : 1. bagaimanakah cara sterilisasi ruang kerja atau laboratorium dan peralatan serta media pertumbuhan mikroorganisme? 2. apa sajakah jenis-jenis media dan bagaimana cara pembuatan dan sterilisasinya? 3. apa sajakah dan bagaimana tahapan-tahapan dari beberapa teknik isolasi mikroba? 4. bagaimanakah teknik penyimpanan kultur murni yang baik dan benar?

5. bagaimanakah cara mengkarakterisasi pertumbuhan koloni hasil isolasi? 1.3. Tujuan Tujuan dilakukan praktikum ini yaitu : 1. untuk mengetahui berbagai cara sterilisasi ruang kerja atau laboratorium dan peralatan serta media pertumbuhan mikroorganisme 2. untuk mengetahui jenis-jenis media serta cara pembuatan dan sterilisasinya 3. untuk mengetahui tahapan-tahapan dari beberapa teknik isolasi mikroba 4. untuk mengetahui teknik penyimpanan kultur murni yang baik dan benar 5. untuk mengkarakterisasi pertumbuhan koloni hasil isolasi 1.4. Manfaat Manfaat setelah dilakukan praktikum mikrobiologi umum dengan kegiatan Sterilisasi, Pembuatan Media, Teknik Biakan Dan Isolasi Kultur Murni, Dan Perhitungan Angka Lempeng Total (TPC) diharapkan mahasiswa dapat terampil dalam melakukan sterilisasi, teknik aseptis, pembuatan media mikroba, isolasi, pemurnian, pemeliharaan kultur murni dan perhitungan angka lempeng total sehingga dapat terampil dan diaplikasikan dalam kegiatan praktikum berikutnya dan kegiatan mikrobiologi lainnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Mikroorganisme dapat diperoleh dari lingkungan air, tanah, dan udara, substrat yang berupa bahan pangan, tanaman dan hewan. Jenis mikroorganismenya sangat berupa bakteri, kamir, kapang, dan sebagainya. Populasi dari mikroba yang ada dilingkungan ini sangatlah beranekaragam sehingga dalam mengisolasi diperlukan beberapa tahap penanaman sehingga berhasil diperoleh koloni mikroba yang tunggal. (Ferdiaz, 1992). Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada media ataupun alat yang akan digunakan(Hadioetomo dan Ratna, 2003). Sterilisasi dapat dilakukan dengan beberapa cara, umumnya dilakukan dengan mendidihkan medium tersebut selama beberapa jam yang sudah dilakukan sejak abad 18. Metode lainnya Tyndallisasi, dengan cara mendidihkan medium dengan uap untuk beberapa menit, kemudian dibiarkan selama satu hari, keesokannya dididihkan kembali dan akan diperoleh medium yang steril. Dengan autoklaf, merupakan alat berupa tangki yang diisi dengan uap. Tangki autoklaf diisi dengan media yang akan disterilkan. Cara yang lain dengan penyaringan atau filtrasi, yaitu dengan cara menyaring dengan saringan porselin atau dengan tanah diatom. Namun cara ini dapat meloloskan virus. Jadi cara ini dilanjutkan dengan sterilisasi dengan menggunakan autoklaf, sehingga mendapatkan media yang benar-benar steril(Dwidjoseputro, 2001). Medium yang umum digunakan oleh manusia untuk pertumbuhan ataupun penanaman mikroba adalah kaldu cair dan kaldu agar yang tersusun dari kaldu bubuk, pepton, dan air suling. Jika medium agar maka ditambahkan agar-agar. Medium yang digunakan umumnya dibagi menjadi 5 yaitu: medium cair, medium kental (padat), medium yang diperkaya, medium yang kering dan medium yang sintetik(Dwidjoseputro, 2001). Penyediaan media bertujuan tidak hanya untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba, tetapi juga untuk isolasi, seleksi, evaluasi, dan deferensiasi biakan yang didapatkan. Artinya beberapa jenis zat tertentu digunakan untuk mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba tertentu. Sehingga tiap-tiap media mempunyai sifat (spesifikasi) tersendiri sesuai dengan tujuan yang diharapkan(Baker, 2001).

Isolasi merupakan cara untuk dapat memisahkan dan memindahkan mikroba tertentu ke dalam medium atau kultur murni yang diinginkan. Beberapa cara yang dilakukan untuk mengisolasi mikroba meliputi streak plate (goresan), pour plate (taburan), spread plate (sebar), dilution plate (pengenceran), dan micromanipulator (Pleczar, 2002). Cara lain untuk isolasi mikroba dari sampel yang telah didapatkan dapat dilakukan dengan langkah yaitu (Prescott, 2003): 1. Pengenceran (dilusi) 2. Pour plate 3. Streak plate 4. Single cell isolation Untuk melakukan isolasi mikroba biasanya dilakukan tahap-tahap yang runtut . Tahap runtut tersebut merupakan langkah-langkah dasar yang sering dilakukan mikrobiologis untuk mengisolasi mikroba pada suatu sampel. Langkah-langkah tersebut meliputi(Lindquist, 2001): 1. Pengambilan sampel yang akan diisolasi mikrobanya 2. Broth enrichment 3. Isolasi 4. Melakukan penyimpanan kultur 5. Analisa sampel Pada pengisolasian bakteri dari tanah/benda padat yang mudah tersuspensi atau terlarut atau zat cair, dilakukan serangkaian pengenceran terhadap zat tersebut. Misalnya suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran yang diencerkan dalam suatu tabung tersendiri secara berkelanjutan dari suatu tabung ke tabung lain (Dwidjoseputro, 2001). Ada banyak metode untuk pemeliharaan dan pengawetan biakan hasil isolasi. Metode-metode itu akan dipilih berdasarkan keadaan biakan yang dibiaakan. Seperti contoh, untuk pemeliharaan dalam jangka panjang dapat disimpan dalam nitrogen cair pada suhu -1960C atau dapat juga didehidrasi dalam tabung, selagi dibekukan dan ditutup rapat di dalam ruangan hampa udara. Proses ini dinamakan liofilisasi (Pleczar, 2002). Serangkaian pengenceran biasanya dilakukan terhadap sampel dengan zat tertentu untuk mengisolasi bakteri dari tanah atau benda padat yang mudah tersuspensi atau terlarut atau zat cair. Pengenceran ini bertujuan untu agar bakteri yang akan diamati dapat berpencar sehingga akan mempermudah perhitungan. Pengenceran dilakukan secara berkelanjutan dari suatu tabung ke tabung lain(Dwidjoseputro, 1994).

BAB III METODE 3.1. Waktu dan Tempat Waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum mikrobiologi dengan kegiatan Sterilisasi dan teknik aseptis, Media pertumbuhan mikroba, isolasi, pemurnian, pemeliharaan kultur murni dan perhitungan angka lempeng total adalah pada pukul 07.00-10.00 WIB, hari Kamis, 28 Februari 2013 di Laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. 3.2. Cara Kerja 3.2.1. Sterilisasi dan Teknik Aseptis 3.2.1.1. Sterilisasi dengan Filtrasi Langkah awal yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sterilkan alat filtrasi dan botol penampung filtrate, kemudian rangkai alat tersebut beserta pompa vakum. Selanjutnya membran filter steril diletakkan secara aseptis dengan menggunakan pinset steril pada dasar penopag filter. Bahan yang difiltrasi dituang, kemudian pompa vakum dihidupkan. Filtrat yang telah tertampung di dalam botol penampung telah steril dan siap digunakan untuk perlakuan selanjutnya. 3.2.1.2. Sterilisasi dengan Pembakaran Lampu bunsen dan diaturn nyala apinya secara maksimal. Kemudian jarus ose diambil dan dibakar dengan menggunakan Bunsen dari pangkal kawat ose sampai bagian ujung kawat jarum ose. Pembakaran dilakukan sampai jarum berubah merah membara. Selanjutnya jarum dibiarkan dingin dan siap digunakan untuk mengambil atau menginokulasi mikrobia. 3.2.1.3. Sterilisasi dengan Panas Kering Cawan petri bagian bawah dan tutupnya ditangkupkan, kemudian dibungkus dengan kertas bungkus dan disusun sampai berjumlah 5-10 buah. Selanjutnya ditali dengan benang kasur. Untuk tabung reaksi ditutup dengan kapas, kemudian beberapa tabung 5-10 tabung diikat menjadi satu , lalu dibungkus dengan kertas bungkus dan diikat. Pipet ukur bagian ujung atas diberi sedikit sumbat kapas agak longgar, kemudian dibungkus dengan kertas payung dan diikat dengan benang kasur. Semua alat yang telah diikat dan dibungkus dimasukkan kedalam oven, kemudian oven dinyalakan pada suhu 1750C. Setelah sterilisasi

selama 2 jam, pemanasan didinginkan dan pada hari berikutnya siap untuk digunakan. 3.2.1.4. Sterilisasi dengan Panas Basah Bertekanan Tinggi atau Autoklaf Tabung reaksi yang berisi media PDA dan NA ditutup dnegan menggunakan kapas, kemudian beberapa dari tabung tersebut diikat menjadi satu dengan bagian tutupnya dibungkus dengan kertas payung, namun disisakan satu tabung yang tidak disterilisasikan. Autoklaf yang akan digunakan diisi dengan aquadest steril sampai pada permukaan di bawah ansang atau keranjang autoklaf. Selanjutnya autoklaf disambungkan dengan sumber listrik dan dinyalakan. Tabung reaksi berisi media dimasukkan ke dalam ansang atau keranjang autoklaf, kemudian autoklaf ditutup dengan rapat dan kuat. Suhu, waktu dan tekanan diatur. Umumnya digunakan suhu 1210C, tekanan 1 atm dan selama 15 menit. Tanda digital pada autoklaf menunjukkan sterilisasi sedang berlangsung dan akan berlangsung secara otomatis. Pada saat akan membuka tutup autoklaf, harus dipastikab bahwa suhu turun berkisar 600C dan tekanan nol. Selanjutnya media yang telah disterilkan diambil. Untuk media yang miring, disiapkan serbet yang telah digulung kemudian diletakkan dengan kemiringan 300. Untuk media erlemeyer, sebelum dituang, media didinginkan terlebih dahulu sampai sekitar suhu 450C. 3.2.2. Media Pertumbuhan Mikroba 3.2.2.1. Media Nutrien Cair (Nutrient Broth/NB) Daging sapi yang akan digunakan dicuci bersih dan dipotong kecil-kecil. Kemudian potongan tersebut dimasak selama 25 menit dalam 1000 mL aquades. Kaldu yang diperoleh disaring dengan kapas atau kain kasa. Pepton dilarutkan kedalam kaldu hingga homogen dan diatur pada pH 7. Selanjutnya larutan yang telah homogeny dimasukkan ke dalam tabung reaksi atau erlemeyer sesuai penggunaan yang diinginkan, dan disumbat dengan kapas agak longgar. Selanjutnya ditutup dengan kertas bungkusdan diikat dengan benang kasur. Selanjutnya media siap untuk disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit dengan tekanan 1 atm. 3.2.2.2. Media Agar Nutrien (Nutrient Agar/NA) Air kaldu dicampur dengan pepton sampai homogen dan diatur pada pH 7, kemudian ditambah agar dan dipanaskan hingga mendidih serta diaduk terus menerus hingga semua larut. Media dalam keadaan

masih cair dimasukkan kedalam tabung reaksi. Untuk agar tegak dibuat 10 mL media dan agar miring 406 mL dalam tabung reaksi. Selanjutnya tabung reaksi disumbat dengan kapas. Dilanjutkan sterilisasi dengan autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit dengan tekanan 1 atm. Untuk agar miring, stelah sterilisasi tabung reaksi dimiringkan hingga beku. Kemiringan media diatur dengan batas bawah kemiringan sekitar 1 cm dari dasar tabung dan batas atas tidak melebihi tinggi tabung reaksi ukuran 15 mL. 3.2.2.3. Media Agar Dekstrosa(Potato Dextrose Agar/PDA) Kentang yang segar dan baik dikupas dan dicuci bersih. Kemudian dipotong kecil-kecil dan direbus dengan akuades, volume dijaga agar tetap dengan penambahan setiap berkurang. Selanjutnya ekstrak kentang disaring dengan kapas atau kertas saring dan filtrat yang dihasilkan diatur pada pH 6-6.5. filtrate dicampur dengan agar dan dekstrosa, dipanaskan sampai mendidih agar semua larut. Lalu dimasukkan kedalam tabung reaksi dan sterilisasi dengan autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit dengan tekanan 1 atm. Pembuatan agar miring dan tegak dilakukan sama dengan cara media agar nutrient. 3.2.3. Isolasi, Pemurnian, Pemeliharaan Kultur Murni dan Perhitungan Angka Lempeng Total (TPC) 3.2.3.1. Teknik Dilusi (Pengenceran) Larutan sampel diambil 1 mL atau 1 mg dan dimasukkan kedalam 9 mL atau 9 mg grafis atau larutan buffer pepton (dilusi 1/10). Selanjutnya dari larutan dilusi tersebut diambil sebanyak 1 mL lagi dan ditambahkan 9 mL grafis atau larutan buffer pepton (dilusi 1/100). Dari larutan dilusi 1/100 diencerkan kembali dengan mengambil 1 mL dan ditambahkan 9 mL larutan buffer pepton akan diperoleh dilusi 1/1000. Dilakukan pengenceran seterusnya untuk mempermudah perhitungan pada saat koloninya tumbuh. 3.2.3.2. Teknik Pour Plate Media pada cawan petri yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu sampai mendidih merata dan dibiarkan beberapa saat sampai agak dingin. Untuk isolasi bakteri cawan ditambahkan media nutrient agar, sedangkan jamur ditambahkan media PDA.Selanjutnya pada setiap hasil pengenceran sampel diambil 0.1 mL, dimasukkan kedalam cawan petri steril, dan segera ditutup. Putar cawan petri secara perlahan-lahan diatas meja secara horizontal. Setelah memadat, cawan petri diposisikan

terbalik dan dilanjutkan inkubasi pada suhu kamar. Untuk bakteri 24 jam, sedangkan untuk jamur 3x24 jam. 3.2.3.3. Teknik Streak Plate (Lempeng Gores) Media agar cair dituangkan kedalam cawan petri dan dibiarkan hingga mengeras. Kemudian jarum ose yang telah dibakar kedalam tabung reaksi yang berisi kultur bakteri yang telah dibakar bagian bibir tabung, lalu segera dikeluarkan tanpa menyentuh bagian dinding tabung dan dilakukan didekat pembakaran Bunsen. Permukaan atas cawan petri dibagi manjadi empat bagian yang akan distreak dengan menggunakan spidol. Sebelum dilakukan pemindahan dari quadran satu ke quadran yang lainnya dilakukan pemnasan untuk sterilisasi. Selanjutnya jarum ose digoreskan dari ujung terakhir quadran satu ke quadran lainnya. Permukaan atas agar distreak dengan perlahan tanpa menghancurkan agar yang arahnya sesuai dengan pembagian quadran. Dilakukan inkubasi pada suhu kamar selama 24 jam untuk bakteri dan 3 x 24 jam untuk jamur. 3.2.3.4. Teknik Penyimpanan Kultur Murni Media agar cair dituangkan kedalam tabung reaksi secara aseptis. Kemudian didinginkan dalam keadaan miring. Agar miring yang telah mengeras distreak dengan jarum ose secara aseptis dan dilanjutkan dengan inkubasi ke dalam inkubator.

BAB IV PEMBAHASAN 4.1. Analisa Hasil


70000
60000 50000 40000 30000 20000 10000 9400 3800 Bakteri (cfu/gr) Kapang (cfu/gr) 39000 Tanah Ranu pane Tanah Sawah 61000

Gambar 1. Grafik jumlah mikroorganime kapang dan bakteri pada dua sampel berbeda Dari grafik yang diperoleh (Gambar 1) menunujukkan bahwa mikroba pada sampel tanah ranu pane memiliki jumlah individu atau koloni lebih banyak, baik kapang ataupun jamur dan sampel dari tanah sawah memiliki jumlah individu ataupun koloni lebih sedikit dibandingkan tanah sampel ranu pane. Hal ini dapat diketahui bahwa tanah ranu pane memiliki kualitas yang lebih baik dibandinngkan tanah sawah, karena menurut Brown (2005), jumlah dari mikroorganisme yang berada dalam tanah digunakan sebagai indeks kesuburan tanah karena dapat merombak bahan-bahan organik didalam tanah sehingga menjadikan tanah lebih subur. Lebih sedikitnya jumlahnya mikroba pada sampel sawah dibandingkan ranu pane dapat disebabkan karena saat ini tanah sawah telah terkontaminasi dengan pestisida atau pupuk anorganik yang sering digunakan oleh petani untuk menanam atau menyuburkan tanaman yang justru akan merusak kualitas tanah yang akan semakin tidak subur. 4.2. Karakterisasi Kapang Berdasarkan hasil prakitkum yang dilakukan kapang yang ditemukan pada sampel tanah Ranu Pane memiliki rata-rata margin

yang bercabang dengan warna putih kekuningan, serta kuning dan memiliki filament, untuk permukaan datarnya terdapat yang hilly dan datar. Untuk kapang yang tumbuh dari sampel tanah sawah memiliki variasi yang lebih banyak dibandingkan dengan pada tanah ranu pane, bentuk margin yang dimiliki ada yang tepi berserabut banyak hifa, bergerigi, beralun dan erose, dan warnanya putih yang tengahnya kuning, putih tengah hitam, dan putih saja. Bentuk koloni yang dimiliki pada sampel sawah berfilamen dan membulat, serta permukaan yang ditemukan rata pada bagian atas, cembung, dan cembung papilat. 4.3. Karakterisasi Bakteri Untuk bakteri yang ditemukan pada media NA dari sampel Ranu Pane memiliki bentuk berserabut atau bulat atau berfilamen, dengan pinggiran yang lobat atau menyulurh, dan permukaan yang cembung rata-rata atau umbonate. Permukaan tekstur pada bakteri Ranu Pane juga rata-rata berkontur dengan permukaan konsitensinya seperti mentega atau tipis seperti membran, dan cirri potiknya berkilat, serta berpgmentasi krem atau putih susu. Sedangkan sampel pada tanah sawah memiliki bentuk yang bulata atau tidak teratur, dengan pinggiran menyeluruh atau beralur atau erose atau lobate, permukaannya cembung atau datar, dan permukaan teksturnya lebih banyak berkontur dibandingkan kasar. Untuk permukaan permukaan konsistensinya sampel tanah sawah seperti mentega lebih banyak dibandingkan kering rapuh, dengan ciri-ciri optik berkilat dan pudar, serta berpigmentasi krem, putih, hijau atau tidak berwarna. 4.4. Fungsi Penggunaan Streptomycin Pada media PDA yang digunakan untuk pertumbuhan kapang atau jamur diberikan streptomisin. Hal ini berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri, jadi diharapkan yang akan tumbuh hanya kapang atau jamur. Menurut Anwar (2008), Streptomisin merupakan antibiotik aminoglikosida yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan manghambat sintesis protein. 4.5. Fungsi Dilusi Untuk Isolasi Mikroba Dilusi atau pengenceran sangat diperlukan dalam praktikum ini karena teknik ini merupakan teknik untuk mendapatkan kolonit tunggal dari sampel yang diencerkan secara bertahap dari mulai pengencer terkecil hingga terbesar. Dengan menggunakan teknik ini akan mendapatkan mikroba yang lebih sedikit dan mempermudah dalam

perhitungan sehingga tidak terjadi terlalu banyak untuk dihitung dalam perhitungan menggunakan TPC. Biasnya teknik ini diikuti dengan teknik perhitungan kuantitatif yaitu Total Plate Count atau TPC(Lindquist, 2001). 4.6. Fungsi Penggunaan dua Sampel Praktikum ini digunakan dua sampel yang berbeda yaitu sampel tanah dari Ranu Pane dan sampel tanah dari taman Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Penggunaan 2 sampel yang berbeda ini bertujuan untuk membandingkan jumlah mikroba, baik kapang ataupun bakteri sehingga bioindikator untuk pengukuran kualitas tanah. Menurut Brown (2005), jumlah total dari mikroorganisme yang berada dalam tanah digunakan sebagai indeks kesuburan tanah karena dapat merombak bahan-bahan organik didalam tanah sehingga menjadikan tanah lebih subur. 4.7. Kandungan Senyawa pada Media Untuk pertumbuhan kapang digunakan media PDA atau potato dextrose agar, sedangkan untuk pertumbuhan bakteri digunakan media NA atau Nutrient Agar. Menurut Hadioetomo dan Siri (2003), PDA merupakan media yang sangat cocok untuk pertumbuhan kapang karena pada media PDA mengandung ekstrak dari kentang dan glukosa yang dapat dimanfaatkan oleh kapang sebagai sumber makanan yaitu karbohidrat sehingga pertumbuhan kapang akan lebih optimal dibandingkan pada media NA. pengaturan pH yang sesuai dengan kehidupan kapang dalam pembuatan media PDA dapat memungkinkan kapang tumbuh lebih baik. Menurut Hadioetomo dan Siri (2003), petumbuhan bakteri lebih optimal pada media NA karena media NA terbuat dari ekstrak daging yang memiliki kadar protein tinggi sehingga sangat mendukung pertumbuhan bakteri lebih cepat dan optimal 4.8. Pengaruh Media Konvensional dan Instant terhadap TPC Media konvensional atau buatan dari waktu ke waktu dapat berubah kualitasnya karena kualitas pada bahan pokok (contoh : kentang dan daging) yang digunakan dapat berubah-ubah bergantung dari pengolahan atau kualitas bahan asalnya. Hal ini menyebabkan pertumbuhan mikroba dari media konvensional dapat tumbuh secara optimal, sedangkan pada media instan atau langsung pakai yang disusun secara sengaja untuk memberikan nutrisi sehingga perutmbuhan mikroba dapat lebih optimal dan lebih tertakar dengan jelas. Media

instan terbuat dari bahan-bahan organic dengan senyawa kimia yang bersifat semi sintetik(Tortora, 2002). 4.9. Faktor-faktor yang mempengaruhi TPC Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perhitungan dengan menggunakan teknik Total Plate Count atau TPC ini adalah kefokusan dalam menghitung jumlah koloni atau individu mikroba yang tumbuh, karena terkadang seseorang yang tidak fokus akan menghasilkan jumlah yang kurang sesuai atau tidak falid. Selain itu keahlian dalam menentukan beberapa jenis mikroba yang tergolong bakteri atau kapang jika dalam suatu media telah tumbuh keduanya yang dalam hal ini harus pandai dalam membedakan yang tergolong bakteri ataupun kapang. Selain itu ketelitian, kesabaran dan ketekunan juga diperlukan dalam perhitungan TPC, karena terkadang jumlah yang terlalu banyak dapat menyebabkan seseorang tidak sabar dan menghitung dengan semaunya sendiri. 4.10. Cara Perhitungan dan fungsi TPC Total plate count atau TPC merupakan metode kuantitatif untuk mengetahui jumlah mikroba pada sebuah media tertentu terutama cawan. Kuantifikasi ini dapat dilakukan pada mikroorganisme uniseluler. Teknik ini menunjukkan menghitung jumlah koloni yang muncuk yang menjadikan indeks bagi jumlah organism yang terkandung didalam suatu sampel. TPC ini membutuhkan pengenceran dan menumbuhkan mikroba sampel pada media cawan yang kemudian akan terbentuk beberapa jumlah koloni yang akhirnya akan dihitung. Jumlah hasil perhitungan yang digunakan berdasarkan statistika hanya berikisara antara 30-300(Leboffe dan Pierce,2006).

Gambar 2. Teknik perhitungan mikroba dengan pengenceran atau dilusi(Radchie, 2008).

Dari perhitungan pada setiap media pngencer dimasukkan kedalam tabel sehingga akan mempermudah dalam perhitungan nantinya. Kemudian pada nilai yang dianggap mungkin mulai dari pengenceran terkecil dimasukkan kedalam rumus yaitu : Sel = Sel yang teramati x volume-1 x faktor pengenceran-1 4.11. Aplikasi TPC dalam skala Industri Aplikasi metode TPC atau total plate count saat ini sering kali kita temukan pada industry-industri. Seperti contoh menurut Bromberg, dkk.(2004), yang diaplikasikan dengan mengetahui bakteri-bakteri yang bersifat pathogen pada daging sehingga dapat diketahui sebelum dipasarkan atau dikonsumsi. Aplikasi lainnya seperti pengujian sensitivitas sebuah produk tertentu yang dengan menggunakan mikroba lawan atau pathogen. 4.12. Kelebihan dan Kekurangan TPC TPC atau total plate count merupakan cara untuk mengetahui jumlah suatu mikroorganisme secara tepat, dan hanya bias digunakan untuk menghitung jumlah bakteri yang bersifat aerob saja. Teknik hanya diperlukan menghitung jumlah mikroorganisme yang ada pada media sehingga tanpa diperlukan keahlian khusus dan tidak membutuhkan banyak biaya. Hal ini yang membuat TPC menjadikan teknik yang sering digunakan dalam praktikum. Namun teknik ini tidak dapat memastikan jumlah dari mikroorganisme secara tepat, terutama jika berkoloni, sehingga sering kali hanya diaplikasikan dalam perhitungan bakteri aerob. Perhitungan menggunakan TPC ini hanya pada skala jumlah 30-300 dari jumlah seluruh mikroorganisme jadi tidak dapat digunakan melebihi atau kurang dari batas yang digunakan karena dianggap kurang baik(Curtis, 2004).

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Setelah dilakukannya praktikum ini dapat disimpulkan media yang cocok untuk pertumbuhan optimal bakteri adalah NA atau Nutrient Agar, dan media yang cocok untuk pertumbuhan optimal kapang adalah PDA atau Potatos Dextrose Agar. Isolasi mikroba dilakukan dengan menggunakan teknik dilusi, pour plate, dan streak plate. Berdasarkan hasil perhitungan dengan teknik Total Plate Count atau TPC ditemukan lebih banyak mikrob pada sampel tanah Ranu Pane dibandingkan tanah Sawah, baik berupa kapang ataupun bakteri, yang menujukkan kualitas tanah Ranu Pane lebih baik dibandingkan tanah sawah. 5.2. Saran Saran untuk praktikum kedepannya adalah harap praktikan lebih berhati-hati dalam melakukan setiap langkah, terutama isolasi, teknik streak plate dan teknik aseptis, agar media ataupun peralatan tidak terkontaminasi dari mikroba yang lainnya diluar dari sampel.

DAFTAR PUSTAKA Anwar, Yassier. 2008. Isolasi dan Karakterisasi fragmen cDNA dari Gen Penyandi Metallothionein dari Kedelai Kultivar Slamet. Skripsi. Bogor. Baker Fj, Silverton RE. 2001. Microssopy and Microbiology. Saunder Collage Publishing, London. Brown, A.E. 2005. Bensons Microbiological Applications 9th Edition. McGraw-Hill. New York. Curtis, L., A. Lieberman, M. Stark, W. Rea & M. Vetter. 2004. Isolation. http:// www.e-dukasi.net /. Diakses pada tanggal 17 Maret 2013. Dwidjoseputro. 2001. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit Djambatan. Jakarta. Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hadioetomo dan Ratna Siri. 2003. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek, Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Leboffe, M.J. dan B.E. Pierce. 2006. Microbiology Laboratory, Theory and Application Secondnd Edition. Morton Publishing Company. Colorado. Lindquist, J. 2001. General Micro. http://www.jlindquist.net/general micro.html. Diakses pada tanggal 27 Februari 2013 Pelczar, M.J dan E.C.S Chan. 2002. Element of Microbiology. McGraw Hill Book Company. New York. Prescott, L.M. 2003. Microbiology Fifth edition. McGraw-Hill Book Company. New York. Rachdie. 2008. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba. http://rachdie.blogsome.com/2006/10/14/faktor-yangmempenga ruhi-pertumbuhan-mikroba/. Diakses tanggal 18 maret 2013. Tortora,G. Y, Berdell.R.F, Christine,L.C. 2002. Microbiology an Introduction. Benjamin Cummings, Addrson Wesley Long man Inc. New York.