Anda di halaman 1dari 31

Klasifikasi lipatan menurut Billing (1986) di dasarkan pada: Bentuk penampang tegak, Intensitas

lipatan, Sifat lipatan dan kedalaman, dan Kedudukan axial surface dan hinge line. Berikut akan
dijelaskan lebih rinci terkait klasifikasi lipatan tersebut:
A. Berdasarkan bentuk penampang tegak :

B. Berdasarkan intensitas lipatan :

Lipatan simetri :lipatan dimana axial plane-nya vertikal


Lipatan asimetri :lipatan dimana axial plane-nya condong
Overturned fold :lipatan dimana axial plane-nya condong dan kedua sayapnya miring ke
arah yang sama dan biasanya pada sudut yang berbeda
Recumbent fold :lipatan dimana axial plane-nya horizontal
Vertical isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya vertical
Isoclined isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya condong
Recumbent isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya horizontal
Chevron fold :lipatan dimana hinge-nya tajam dan menyudut
Box fold :lipatan dimana crest-nya luas dan datar
Fan fold :lipatan dimana sayapnya membalik
Monocline :lipatan dimana kemiringan lapisan secara lokal terjal
Structure terrace :lipatan dimana kemiringan lapisan secara lokal dianggap horizontal
Homocline :lapisan yang miring dalam satu arah pada sudut yang relatif sama

Open fold :lipatan yang lapisannya tidak mengalami penebalan atau penipisan karena
deformasi yang lemah
Closed fold :lipatan yang lapisannya mengalami penebalan atau penipisan karena
deformasi yang kuat
Drag fold :lipatan-lipatan kecil yang terbentuk pada sayap-sayap lipatan yang besar
akibat terjadinya pergeseran antara lapisan kompeten dengan lapisan tak kompeten
En enchelon fold :beberapa lipatan yang sifatnya lokal dan saling overlap satu dengan
yang lain
Culmination dan depression :lipatan-lipatan yang menunjam pada arah yang berbeda,
sehingga terjadi pembubungan dan penurunan
Anticlinorium :yaitu antiklin mayor yang tersusun oleh beberapa lipatan yang lebih kecil
Synclinorium :yaitu sinklin mayor yang tersusun oleh beberapa lipatan yang lebih kecil

C. Berdasarkan sifat lipatan dan kedalaman :

Similar fold :lipatan yang tiap lapisannya lebih tipis pada sayapnya dan lebih tebal pada
hinge-nya
Paralel/concentric fold :lipatan dengan anggapan bahwa ketebalan lapisan tidak berubah
selama perlipatan
Pierching/diaphiric fold :lipatan dimana intinya yang aktif telah menerobos melalui
batuan diatasnya yang lebih rapuh

Supratenuous fold :lipatan yang terbentuk karena adanya perbedaan kompaksi sedimen
pada saat pengendapan terjadi di punggung bukit
Disharmonic fold :lipatan yang bentuknya tak seragam dari lapisan ke lapisan

D. Berdasarkan kedudukan axial surface dan hinge line :

Horizontal normal :lipatan dimana kedudukan axial surface vertikal dan hinge line
horizontal
Plunging normal :lipatan dimana kedudukan axial surface vertikal dan hinge line
menunjam
Horizontal inclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line
horizontal
Plunging inclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line
menunjam, tetapi jurus axial plane miring terhadap sumbu lipatan
Reclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line menunjam, tetapi
jurus axial plane tegak lurus terhadap sumbu lipatan
Vertical :lipatan dimana kedudukan axial surface dan hinge line vertical
Recumbent :lipatan dimana kedudukan axial surface dan hinge line horizontal

Makalah Geologi Struktur


8.1 Pengertian Geologi Stuktur
Geologi stuktur adalah ilmu yang mempelajari geometri (struktur) pada batuan serta berbagai
mekanisme (gaya-gaya) yang menyebabkan terbentuknya geometri-geometri tersebut. Strukturstruktur geologi yang ada di muka bumi ini umumnya sesuai dengan sifat pergerakan tektonik
lempeng yang ada di daerah tersebut. Struktur geologi sendiri dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
lipatan, sesar dan kekar.
8.2 Lipatan
8.2.1 Pengertian
Terdapat beberapa definisi lipatan menurut ahli geologi struktur, antara lain:
1. Hill (1953).
Lipatan merupakan pencerminan dari suatu lengkungan yang mekanismenya disebabkan oleh
dua proses, yaitu bending (melengkung) dan buckling (melipat). Pada gejala buckling, gaya yang
bekerja sejajar dengan bidang perlapisan, sedangkan pada bending, gaya yang bekerja tegak
luurs terhadap bidang permukaan lapisan.
2. Billing (1960)
Lipatan merupakan bentuk undulasi atau suatu gelombang pada batuan permukaan.
3. Hob (1971)
Lipatan akibat bending, terjadi apabila gaya penyebabnya agak lurus terhadap bidang
lapisan(gambar 8.1), sedangkan pada proses buckling, terjadi apabila gaya penyebabnya sejajar
dengan bidang lapisan (gambar 8.1). Selanjutnya dikemukakan pula bahwa pada proses buckling
terjadi perubahan pola keterikan batuan, dimana pada bagian puncak lipatan antiklin,

berkembang suatu rekahan yang disebabkan oleh akibat adanya tegasan tensional (tarikan)
sedangkan pada bagian bawah bidang lapisan terjadi tegasan kompresi yang menghasilkan Shear
Joint. Kondisi ini akan terbalik pada sinklin.
4. Park (1980)
Lipatan adalah suatu bentuk lengkungan (curve) dari suatu bidang lapisan batuan.
8.2.2 Unsur-unsur Lipatan
1. Plunge, sudut yang terbentuk oleh poros dengan horizontal pada bidang vertical.
2. Crest, daerah tertinggi dari suatu lipatan biasanya selalu dijumpai pada antiklin
3. Trough, daerah terendah pada suatu lipatan, selalu dijumpai pada sinklin.
4. Limb (sayap), bagian dari lipatan yang terletak Downdip (sayap yang dimulai dari
lengkungan maksimum antiklin sampai hinge sinklin), atau Updip ( sayap yang
dimulai dari lengkungan maksimum antiklin sampai hinge sinklin ). Sayap lipatan
dapat berupa bidang datar ( planar), melengkung curve, atau bergelombang wave ).
5. Hinge Point, mtitik yang merupakan kelengkungan maksimum pada suatu perlipatan.
6. Hinge Line, garis yang menghubungkan Hinge Point pada suatu perlapisan yang
sama.
7. Hinge Zone, daerah sekitar Hinge Point.
8. Axial Line, garis khayal menghubungan titik-titik dari lengkungan maksimum
pada tiap permukan lapisan dari suatu struktur lapisan.
9. Axial Plane, bidang sumbu lipatan yang membagi sudut sama besar antara sayap
sayap lipatannya.
8.2.3 Geometri
Secara umum lipatan dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Antiklin, yaitu lipatan yang cembung ke atas
2. Sinklin, yaitu lipatan yang cekung ke bawah
8.2.4 Klasifikasi
Beberapa klasifikasi lipatan antara lain:
1. Hubungan antara hinge line dan axial surface (fleuty, 1964)
2. Bentuk lipatan, yang meliputi:
3. Fold tightness (fleuty,1964)
4. Kesimetrisan lipatan
5. Bentuk keseluruhan (Huddlestone, 1973)
6. Perubahan ketebalan (Van Hisse, 1986)
8.2.5 Deskripsi
Beberapa hal yang dapat di deskripsikan untuk lipatan antara lain:
1. Strike/dip perlapisan batuan dan tentukan apakah lipatan tersebut telah mengalami pembalikan
atau belum.
2. Unsur-unsur lipatan lainnya (melalui stereonet).
3. Stuktur-struktur lain yang menyertai lipatan tersebut.
4. Geometri lipatan tersebut.
Dari hal-hal tersebut maka kita dapat menentukan:

1. Jenis lipatan
2. Arah sumbu lipatan.
3. Mekanisme yang menyebabkan lapisan tersebut.
4. Arah tegasan.
8.3 Kekar
8.3.1 Definisi
Kekar (joint) adalah strukturb rekahan pada batuan dimana tidak ada atau relative sedikit sekali
terjadi pergeseran. Kekar merupakan salah satu struktur yang paling umum pada batuan. Joint set
adalah kumpulan kekar pada satu tempat yang memiliki ciri khas yang dapat dibedakan dengan
Joint set lainnya.
8.3.2 Geometri dan Klasifikasi
Secara genetik, kekar terbagi atas:
1. Kekar Genus (Shear Joint), yaitu kekar yang terjadi akibat tegasan yang cenderung
mengelincir bidang satu sama lainnya yang berdekatan (Gambar 8.6).
Ciri-ciri:
Biasanya bidangnya licin.
Memotong seluruh batuan
Memotong komponen batuan
Bidang rekahnya relative kecil.
Adanya joint set berpola belah ketupat
2. Kekar Tarikan (Tensional Joint), yaitu kekar yang terbentuk dengan arah tegak lurus dari gaya
yang cenderung untuk memindahkan batuan (gaya tension). Hal ini terjadi akibat dari stress yang
cenderung untuk membelah dengan cara menariknya pada arah yang berlawanan, dan akhirnya
kedua dindingnya akan saling menjauhi (Gambar 8.7)
Ciri-ciri dilapangan:
Bidang kekar tidak rata.
Bidang rekahnya relative lebih besar.
Polanya sering tidak teratur, kalaupun teratur biasanya akan berpola kotak-kotak.
Karena terbuka, maka dapat terisi mineral yang kemudian disebut vein.
3. Kekar Hibrid (Hybrid Joint), yaitu merupakan campuran dari kekar gerus dan kekar tarikan
dan pada umunya rekahannya terisi oleh mineral sekunder.
8.3.3 Deskripsi
Data yang harus kita tentukan jika kita menemukan kekar adalah:
Lihat bagaimana geometri kekarnya.
Tentukan jenis kekarnya.
Hitung strike/dip bidang kekarnya.
Tentukan vein (mineral yang mengisi bidang kekar) jika ada.
Dari data-data tersebut maka kita dapat menentukan:
Bagaimana pembentukan kekar tersebut
Kemungkinan adanya hubungan antara kekar dengan struktur lainnya.
Arah dan sifat tegasan yang membentuk kekar terebut.

8.4 Sesar
8.4.1 Definisi
Sesar adalah rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran yang berarti. Suatu sesar
jarang yang terdapat soliter (satu bidang), tetapi pada umumnya berupa satu zona sesar yang
didalamnya terdiri dari banyak sesar-sesar minor.
8.4.2 Klasifikasi
Berdasarkan arah pergeserannya sesar dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Strike Slip Fault, sesar yang pergerakannya searah dengan strike bidang sesar (pitc 00 - 100).
Sesar ini juga disebut sebagai sesar mendatar. Sesar mendatar terbagi lagi atas:
1. Sesar mendatar dextral, yaitu sesar mendatar yang blok batuan kanannya lebih mendekati
pengamat (Gambar 8.8)
2. Sesar mendatar sinistral, yaitu sesar mendatar yang blok batuan kirinya lebih mendekati
pengamat (Gambar 8.9).
b. Dip Slip Fault, sesar yang pergerakannya tegak lurus dengan strike bidang sesar dan berada
pada dip bidang sesar. Sesar jenis ini dicirikan oleh nilai pitch sekitar 800-900. Dip Slip Fault
terbagi lagi atas :
1. Sesar Normal, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relative kebawah terhadap
footwall (Gambar 8.10).
2. Sesar Naik, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relative keatas terhadap footwall
(Gambar 8.11).
c. Strike-Dip Slip Fault atau (Oblique Fault), yaitu sesar yang pergerakannya relative diagonal
terhadap srike dan dip bidang sesar. (Pitch 100-800). Strike-dip slip fault terbagi lagi atas
kombinasi-kombinasi strike slip fault dan dip slip fault, yaitu:
1. Sesar Normal Sinistral, yaitu sesar yang pergerakan Hanging Wallnya relative kebawah
terhadap foot-wall dan blok di sebelah kiri bidang sesar relative mendekati pengamat.
2. Sesar Normal Dextral, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relative kebawah
terhadap foot-wall dan blok disebelah kanan bidang sesar relative mendekati pengamat.
3. Sesar Naik Sinistral, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relative keatas terhadap
Foot-Wall dan blok di sebelah kiri bidang sesar relative mendekati pengamat.
4. Sesar Naik Dextral, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relative keatas terhadap
dan Foot-Wall dan blok di sebelah kanan bidang sesar relative mendekati pengamat.
8.4.3 Indikasi Sesar
1. Adanya pola-pola kelurusan..
Suatu sesar akn mengakibatkan terbentuknya pola-pola kelurusan, seperti kelurusan
sungai.
2. Triangular Facet.
Erosi pada gawir umunya akan membentuk triangular facet.
3. Keberadaan mata air panas.
Sesar-sesar yang dalam dapat mengakibatkan magma memanaskan aquifer air.
4. keberadaan zona hancuran.

Proses penggerusan pada skala besar yang diakibatkan oleh sesar akan menyebabkan
perubahan orientasi dan kemiringan batuan yang disebut sebagai zona hancuran.
5. Keberadaan kekar.
Suatu sesar dapat membentuk rekahan-rekahan lain yang lebih kecil (kekar).
6. Keberadaan lipatan seret (Dragfold).
Lipatan yang diakibatkan penggerusan pada batuan.
7. Keberadaan bidang gores garis (slicken Side)dan Slicken Line.
Pergeseran batuan yang terjadi pada batuan akan membentuk bidang sesar (slicken
side) yang didalamnya terdapat slicken line.

8. Adanya tatanan Stratigrafi yang tidak teratur.


Sesar akan mengakibatkan penghilangan atau perulangan urut-urutan batuan.
9. Keberadaan air terjun.
Terjadi pada air yang mengalir pada sesar dip slip.
10. Batuan sesar (fault rock).
Contohnya : Breksi sesar dan milonit.
11. Intusi batuan beku
Sesar akan membentuk zona lemah yang kemudian dapat diterobos oleh intrusi.

GEOLOGI STRUKTUR

1.1 Pengenalan Geologi Struktur


Geologi struktur adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari bentuk arsitektur kerak
bumi. Geologi struktur mengkajian mengenai batuan, termasuk asal-usulnya, geometri dan kinetiknya.
Sebagaimana diketahui bahwa batuan-batuan yang tersingkap dimuka bumi maupun yang terekam
melalui hasil pengukuran geofisika memperlihatkan bentuk bentuk arsitektur yang bervariasi dari satu
tempat ke tempat lainnya. Bentuk arsitektur susunan batuan di suatu wilayah pada umumnya
merupakan batuan-batuan yang telah mengalami deformasi sebagai akibat gaya yang bekerja pada
batuan tersebut. Deformasi adalah perubahan dalam tempat dan/atau orientasi dari tubuh batuan.
Deformasi secara definisi dapat dibagi menjadi :

Distortion, yaitu perubahan bentuk.

Dilatation, yaitu perubahan volume.

Rotation, yaitu perubahan orientasi.

Translation, yaitu perubahan posisi.

Gambar 1Jenis-Jenis Deformasi

Arah dari gaya yang bekerja pada atau dalam kulit bumi dapat bersifat :
a. Berlawanan arah tetapi bekerja dalam satu garis. Gaya seperti ini dapat bersifat: Tarikan (tension) dan
Tekanan (compression).
b. Berlawanan, tetapi bekerja dalam satu bidang (couple)
c. Berlawanan, tetapi bekerja pada kedua ujung bidang (torsion).

d. Gaya yang bekerja dari segala jurusan terhadap suatu benda, yang pada umumnya berlangsung dalam
kerak bumi (tekanan Lithostatis).

Gambar Jenis Gaya Tension, Compression dan Couple

Gambar
Bentuk Torsion

Kita dapat membagi material menjadi 2 (dua) kelas didasarkan atas sifat perilaku dari material ketika
dikenakan gaya tegasan padanya, yaitu :

a. Material yang bersifat retas (brittle material), yaitu apabila sebagian kecil atau sebagian besar bersifat
elastis tetapi hanya sebagian kecil bersifat lentur sebelum material tersebut retak/pecah.
b. Material yang bersifat lentur (ductile material) jika sebagian kecil bersifat elastis dan sebagian besar
bersifat lentur sebelum terjadi peretakan / fracture.

Gambar 2. Gambar Deformasi Brittle dan Ductile

Bagaimana suatu batuan / material akan bereaksi tergantung pada beberapa faktor, antara lain adalah:
a. Temperatur.
Pada temperatur tinggi molekul molekul dan ikatannya dapat meregang dan berpindah, sehingga
batuan/material akan lebih bereaksi pada kelenturan dan pada temperatur, material akan bersifat retas.
b. Tekanan bebas
Pada material yang terkena tekanan bebas yang besar akan sifat untuk retak menjadi berkurang
dikarenakan tekanan disekelilingnya cenderung untuk menghalangi terbentuknya retakan. Pada material
yang tertekan yang rendah akan menjadi bersifat retas dan cenderung menjadi retak.
c. Kecepatan tarikan

Pada material yang tertarik secara cepat cenderung akan retak. Pada material yang tertarik secara
lambat maka akan cukup waktu bagi setiap atom dalam material berpindah dan oleh karena itu maka
material akan berperilaku / bersifat lentur.
d. Komposisi
Beberapa mineral, seperti Kuarsa, Olivine, dan Feldspar bersifat sangat retas. Mineral lainnya, seperti
mineral lempung, mica, dan kalsit bersifat lentur. Hal tersebut berhubungan dengan tipe ikatan kimianya
yang terikat satu dan lainnya. Jadi, komposisi mineral yang ada dalam batuan akan menjadi suatu faktor
dalam menentukan tingkah laku dari batuan. Aspek lainnya adalah hadir tidaknya air. Air kelihatannya
berperan dalam memperlemah ikatan kimia dan mengitari butiran mineral sehingga dapat
menyebabkan pergeseran. Dengan demikian batuan yang bersifat basah cenderung akan bersifat lentur,
sedangkan batuan yang kering akan cenderung bersifat retas.
Proses yang menyebabkan batuan mengalami deformasi adalah gaya yang bekerja pada batuan
tersebut. Sebagaimana diketahui dalam teori Tektonik Lempeng dinyatakan bahwa kulit bumi
tersusun dari lempeng-lempeng yang saling bergerak satu dengan lainnya. Pergerakan lempenglempeng tersebut dapat berupa pergerakan yang saling mendekat (konvergen), saling menjauh
(divergen), dan atau saling berpapasan (transform).

Divergen Plate

Konvergen Plate

Transform Plate

Pergerakan lempeng-lempeng inilah yang merupakan sumber asal dari gaya yang bekerja pada batuan
kerak bumi. Sehingga secara umum pengertian geologi struktur adalah ilmu yang mempelajari tentang
bentuk arsitektur batuan sebagai bagian dari kerak bumi serta menjelaskan proses pembentukannya.
Beberapa kalangan berpendapat bahwa geologi struktur lebih ditekankan pada studi mengenai unsurunsur struktur geologi, seperti perlipatan (fold), rekahan (fracture), patahan (fault), dan sebagainya yang
merupakan bagian dari satuan tektonik (tectonic unit), sedangkan tektonik dan geotektonik dianggap
sebagai suatu studi dengan skala yang lebih besar, yang mempelajari obyek-obyek geologi seperti
cekungan sedimentasi, rangkaian pegunungan, lantai samudera, dan sebagainya.
1.2 Prinsip Dasar Mekanika Batuan
Mengenal dan menafsirkan tentang asal-usul dan mekanisme pembentukan suatu struktur geologi
akan menjadi lebih mudah apabila kita memahami prinsip prinsip dasar mekanika batuan, yaitu tentang
konsep gaya, tegasan (stress/compressive), tarikan (strength) dan faktor-faktor lainnya yang
mempengaruhi karakter suatu materi/bahan.
1.2.1. Gaya (Force)
a. Gaya merupakan suatu vektor yang dapat merubah gerak dan arah pergerakan suatu benda.
b. Gaya dapat bekerja secara seimbang terhadap suatu benda (seperti gaya gravitasi dan elektromagnetik)
atau bekerja hanya pada bagian tertentu dari suatu benda (misalnya gaya-gaya yang bekerja di
sepanjang suatu sesar di permukaan bumi).
c. Gaya gravitasi merupakan gaya utama yang bekerja terhadap semua obyek/materi yang ada di sekeliling
kita.
d. Besaran (magnitud) suatu gaya gravitasi adalah berbanding lurus dengan jumlah materi yang ada, akan
tetapi magnitud gaya di permukaan tidak tergantung pada luas kawasan yang terlibat.

e. Satu gaya dapat diurai menjadi 2 komponen gaya yang bekerja dengan arah tertentu, dimana
diagonalnya mewakili jumlah gaya tersebut.
f. Gaya yang bekerja diatas permukaan dapat dibagi menjadi 2 komponen yaitu: satu tegak lurus dengan
bidang permukaan dan satu lagi searah dengan permukaan.
g. Pada kondisi 3-dimensi, setiap komponen gaya dapat dibagi lagi menjadi dua komponen membentuk
sudut tegak lurus antara satu dengan lainnya. Setiap gaya, dapat dipisahkan menjadi tiga komponen
gaya, yaitu komponen gaya X, Y dan Z.
1.2.2. Tekanan Litostatik
a. Tekanan yang terjadi pada suatu benda yang berada di dalam air dikenal sebagai tekanan hidrostatik.
Tekanan hidrostatik yang dialami oleh suatu benda yang berada di dalam air adalah berbanding lurus
dengan berat volume air yang bergerak ke atas atau volume air yang dipindahkannya.
b. Sebagaimana tekanan hidrostatik suatu benda yang berada di dalam air, maka batuan yang terdapat di
dalam bumi juga mendapat tekanan yang sama seperti benda yang berada dalam air, akan tetapi
tekanannya jauh lebih besar ketimbang benda yang ada di dalam air, dan hal ini disebabkan karena
batuan yang berada di dalam bumi mendapat tekanan yang sangat besar yang dikenal dengan tekanan
litostatik. Tekanan litostatik ini menekan kesegala arah dan akan meningkat ke arah dalam bumi.
1.2.3. Tegasan
a. Tegasan adalah gaya yang bekerja pada suatu luasan permukaan dari suatu benda. Tegasan juga dapat
didefinisikan sebagai suatu kondisi yang terjadi pada batuan sebagai respon dari gaya-gaya yang berasal
dari luar.
b. Tegasan dapat didefinisikan sebagai gaya yang bekerja pada luasan suatu permukaan benda dibagi
dengan luas permukaan benda tersebut: Tegasan (P)= Daya (F) / luas (A).
c. Tegasan yang bekerja pada salah satu permukaan yang mempunyai komponen tegasan prinsipal atau
tegasan utama.
d. Tegasan pembeda adalah perbedaan antara tegasan maksimal dan tegasan minimal. Sekiranya
perbedaan gaya telah melampaui kekuatan batuan maka retakan/rekahan akan terjadi pada batuan
tersebut.

e. Kekuatan suatu batuan sangat tergantung pada besarnya tegasan yang diperlukan untuk menghasilkan
retakan/rekahan.
1.2.4. Gaya Tegangan (Tensional Force)
a. Gaya Tegangan merupakan gaya yang dihasilkan oleh tegasan, dan melibatkan perubahan panjang,
bentuk (distortion) atau dilatasi (dilation) atau ketiga-tiganya.
b. Bila terdapat perubahan tekanan litostatik, suatu benda (homogen) akan berubah volumenya (dilatasi)
tetapi bukan bentuknya. Misalnya, batuan gabro akan mengembang bila gaya hidrostatiknya diturunkan.
c. Perubahan bentuk biasanya terjadi pada saat gaya terpusat pada suatu benda. Bila suatu benda dikenai
gaya, maka biasanya akan dilampaui ketiga fasa, yaitu fasa elastisitas, fasa plastisitas, dan fasa pecah.
d. Bahan yang rapuh biasanya pecah sebelum fase plastisitas dilampaui, sementara bahan yang plastis akan
mempunyai selang yang besar antara sifat elastis dan sifat untuk pecah. Hubungan ini dalam mekanika
batuan ditunjukkan oleh tegasan dan tarikan.
e. Kekuatan batuan, biasanya mengacu pada gaya yang diperlukan untuk pecah pada suhu dan tekanan
permukaan tertentu.
f. Setiap batuan mempunyai kekuatan yang berbeda-beda, walaupun terdiri dari jenis yang sama. Hal ini
dikarenakan kondisi pembentukannya juga berbeda-beda.
g. Batuan sedimen seperti batupasir, batugamping, batulempung kurang kuat dibandingkan dengan batuan
metamorf (kuarsit, marmer, batusabak) dan batuan beku (basalt, andesit, gabro).

1.3 Struktur Batuan


Struktur batuan terbagi atas tiga, yaitu :
1.

Struktur Primer, yaitu struktur yang terjadi pada saat proses pembentukannya, struktur ini biasanya
dikenal sebagai struktur sedimen. contohnya :

Graded Bedding

Parallel Lamination

2.

Struktur Sekunder, yaitu struktur yang terjadi setelah batuan terbentuk, struktur ini bisa biasanya
dihasilkan oleh interaksi batuan dengan batuan, batuan dengan mahluk hidup, batuan dengan erosi dan
dengan sedimentasi, serta batuan dengan proses tektonik.

Bioturbation (batuan-mahluk hidup)

Load Cast (batuan-batuan)

Flute Cast (batuan-erosi-sedimentasi)

Sesar,Lipatan, Kekar (batuan-tektonik)


Geologi Struktur dalam kajiannya akan mempelajari struktur sekunder batuan yang terbentuk sebagai
akibat interaksi batuan dengan tektonik, walaupun tidak semua struktur geologi terbentuk akibat
interaksi ini.

truktur Batuan
Unsur struktur geologi, berdasarkan pengertian geometrinya terbagi atas: Struktur Bidang (3D atau 2D)
dan Struktur Garis (2D).
Beberapa unsur struktur yang termasuk struktur bidang adalah :
a. Bidang Sumbu Lipatan.
b. Bidang Kekar.
c. Bidang Sesar.
Beberapa unsur struktur yang termasuk struktur garis adalah:
a. Sumbu Lipatan.
b. Gores Garis (Striation) pada Cermin Sesar (Slicken Side).
c. Lineasi Mineral (Contohnya Foliasi pada Gneiss)

1.5 Struktur Geologi


Struktur Geologi mencakup berbagai skala dan dimensi, dari mulai microstructures sampai
megastructures. Struktur geologi yang dikenal secara umum adalah:
1. Sesar /patahan (fault).
2. Lipatan (fold).
3. Kekar (joint).

1.5.1 SESAR
Sesar atau patahan adalah rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran yang berarti
pada bidang rekahnya. Suatu sesar dapat berupa bidang sesar (Fault Plain) atau rekahan tunggal. Tetapi
sesar dapat juga dijumpai sebagai semacam jalur yang terdiri dari beberapa sesar minor. Jalur sesar atau
jalur penggerusan, mempunyai dimensi panjang dan lebar yang beragam, dari skala minor sampai
puluhan kilometer. Kekar yang memperlihatkan pergeseran bisa juga disebut sebagai sesar minor.
Rekahan yang cukup besar akibat regangan, amblesan, longsor, yang disebut Fissure, tidak termasuk
dalam definisi sesar.
Beberapa indikasi umum adanya sesar :
1. Kelurusan pola pengaliran sungai.
2. Pola kelurusan punggungan.
3. Kelurusan Gawir.
4. Gawir dengan Triangular Facet.
4. Keberadaan mata air panas.
5. Keberadaan zona hancuran.
6. Keberadaaan kekar.

7. Keberadaan lipatan seret (Dragfolg)


8. Keberadaan bidang gores garis (Slicken Side) dan Slicken Line.
9. Adanya tatanan stratigrafi yang tidak teratur.

Klasifikasi Sesar
a. Slip (pergeseran relatif)
Pergeseran relatif pada sesar, diukur dari jarak blok pada bidang pergeseran titik-titik yang
sebelumnya berhimpit. Jarak total dari pergeseran disebut dengan Net Slip.
Slip Fault terbagi atas:
a)

Strike Slip Fault, sesar yang arah pergerakannya relatif paralel dengan strike bidang sesar. (Pitch 00 100). Sesar ini disebut juga sebagai Sesar Mendatar. Sesar mendatar terbagi lagi atas :
- Sesar Mendatar Sinistral, yaitu sesar mendatar yang blok batuan kirinya lebih mendekati pengamat.
- Sesar Mendatar Dextral, yaitu sesar mendatar yang blok batuan kanannya lebih mendekati pengamat.

b) Dip Slip Fault, sesar yang arah pergerakan nya relatif tegak lurus strike bidang sesar dan berada
pada dip bidang sesar. (Pitch 800 - 900). Dip Slip Fault terbagi lagi atas :
- Sesar Normal, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relatif turun terhadap Foot-Wall.
- Sesar Naik, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relatif naik terhadap Foot-Wall.

- Strike-Dip Slip Fault atau (Oblique Fault), yaitu sesar yang vektor pergerakannya terpengaruh arah
strike dan dip bidang sesar. (Pitch 100 - 800). Strike-Dip Slip Fault terbagi lagi atas kombinasi-kombinasi
Strike Slip Fault dan Dip Slip Fault, yaitu:

Sesar Normal Sinistral, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relatif turun dan sinistral terhadap
Foot-Wall.

Sesar Normal Dextral, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relatif turun dan dextral terhadap
Foot-Wall.

Sesar Naik Sinistral, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relatif naik dan sinistral terhadap
Foot-Wall.

Sesar Naik Dextral, yaitu sesar yang pergerakan Hanging-Wallnya relatif naik dan dextral terhadap FootWall.

b. Separation (Pergeseran Relatif Semu)


Bila pitch tidak dapat ditemukan, maka pergeseran tidak dapat ditentukan, maka
pergeseran disebut separation.

Unsur- unsur struktur sesar


1.

Bidang Sesar, yaitu bidang rekahan tempat terjadinya pergeseran yang kedudukannya
dinyatakan dengan jurus dan kemiringan.

2. Hanging-Wall, yaitu blok bagian terpatahkan yang berada relatif diatas bidang sesar.
3. Foot-Wall, yaitu blok bagian terpatahkan yang relatif berada dibawah bidang sesar.
4. Throw, yaitu besarnya pergeseran vertikal pada sesar.
5. Heave, yaitu besarnya pergeseran horizontal pada sesar.
6. Pitch, yaitu besarnya sudut yang terbentuk oleh perpotongan antara gores garis (Slicken Line)
dengan garis horizontal (garis horizontal diperoleh dari penandaan kompas pada bidang sesar
saat pengukuran Strike bidang sesar).

1.5.2. LIPATAN
Terdapat beberapa definisi lipatan menurut ahli geologi struktur, antara lain:
1. Hill (1953).
Lipatan merupakan pencerminan dari suatu lengkungan yang mekanismenya disebabkan oleh
dua proses, yaitu bending (melengkung) dan buckling (melipat). Pada gejala buckling, gaya
yang bekerja sejajar dengan bidang perlapisan, sedangkan pada bending, gaya yang bekerja
tegak lurus terhadap bidang permukaan lapisan.
2. Billing (1960)
Lipatan merupakan bentuk undulasi atau suatu gelombang pada batuan permukaan.
3. Hob (1971)

Lipatan akibat bending, terjadi apabila gaya penyebabnya agak lurus terhadap bidang lapisan,
sedangkan pada proses buckling, terjadi apabila gaya penyebabnya sejajar dengan bidang
lapisan. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa pada proses buckling terjadi perubahan pola
keterikan batuan, dimana pada bagian puncak lipatan antiklin, berkembang suatu rekahan yang
disebabkan akibat adanya tegasan tensional (tarikan) sedangkan pada bagian bawah bidang
lapisan terjadi tegasan kompresi yang menghasilkan Shear Joint. Kondisi ini akan terbalik pada
sinklin.

4. Park (1980)

Lipatan adalah suatu bentuk lengkungan (curve) dari suatu bidang lapisan batuan.

Beberapa unsur perlipatan


1. Plunge, sudut yang terbentuk oleh poros dengan horizontal pada bidang vertikal.

2. Core, bagian dari suatu lipatan yang letaknya disekitar sumbu lipatan.
3. Crest, daerah tertinggi dari suatu lipatan biasanya selalu dijumpai pada antiklin
4. Pitch atau Rake, sudut antara garis poros dan horizontal, diukur pada bidang poros.
5. Depresion , daerah terendah dari puncak lipatan.
6. Culmination, daerah tertinggi dari puncak lipatan.
7. Enveloping Surface, gambaran permukaan (bidang imajiner) yang melalui semua Hinge Line
dari suatu lipatan.
8. Limb (sayap), bagian dari lipatan yang terletak Downdip (sayap yang dimulai dari lengkungan
maksimum antiklin sampai hinge sinklin), atau Updip (sayap yang dimulai dari lengkungan
maksimum sinklin sampai hinge antiklin). Sayap lipatan dapat berupa bidang datar (planar),
melengkung (curve), atau bergelombang (wave).
9. Fore Limb, sayap yang curam pada lipatan yang simetri.
10. Back Limb, sayap yang landai.
11. Hinge Point, titik yang merupakan kelengkungan maksimum pada suatu perlipatan.
12. Hinge Line, garis yang menghubungkan Hinge Point pada suatu perlapisan yang sama.
13. Hinge Zone, daerah sekitar Hinge Point.
14. Crestal Line, disebut juga garis poros, yaitu garis khayal yang menghubungkan titik-titik tertinggi
pada setiap permukaan lapisan pada sebuah antiklin.
15. Crestal Surface, disebut juga Crestal Plane, yaitu suatu permukaan khayal dimana terletak di
dalamnya semua garis puncak dari suatu lipatan.
16. Trough, daerah terendah pada suatu lipatan, selalu dijumpai pada sinklin.
17. Trough Line, garis khayal yang menghubungkan titik-titik terendah ada setiap permukaan
lapisan pasa sebuah sinklin.
18. Trough Surface, bidang yang melewati Trough Line.

19. Axial Line, garis khayal yang menghubungkan titik-titik dari lengkungan maksimum pada tiap
permukaan lapisan dari suatu struktur lapisan.
20. Axial Plane, bidang sumbu lipatan yang membagi sudut sama besar antara sayap-sayap
lipatannya.
Gambar unsur lipatan

Klasifikasi lipatan
1. Klasifikasi lipatan berdasarkan unsur geometri, antara lain:
A. Berdasarkan kedudukan Axial Plane, yaitu:

Upright Fold atau Simetrical Fold (lipatan tegak atau lipatan setangkup).

Asimetrical Fold (lipatan tak setangkup atau lipatan tak simetri)

Inclined Fold atau Over Fold (lipatan miring atau lipatan menggantung).

Recumbent Fold (lipatan rebah)


2. Klasifikasi lipatan berdasarkan bentuknya, antara lain:
Concentric Fold\

Fan Fold.

Similar Fold.

Closed Fold

Chevron Fold.

Harmonic Fold

Isoclinal Fold.

Disharmonic Fold.

Box Fold

Open Fold

Fan Fold.

Kink Fold, terbagi lagi atas :

Box Fold

a.

Monoklin.

b.

Homoklin.

c.

Terrace.

Jenis-jenis lipatan

1.5.3 KEKAR
Kekar adalah struktur rekahan pada batuan dimana tidak ada atau relatif sedikit sekali
terjadi pergeseran. Kekar merupakan salah satu struktur yang paling umum pada batuan.

Klasifikasi kekar
Secara genetik, kekar terbagi atas:
1. Kekar Gerus (Shear Joint), yaitu kekar yang terjadi akibat stress yang cenderung mengelincir
bidang satu sama lainnya yang berdekatan.
2. Kekar Tarikan (Tensional Joint), yaitu kekar yang terbentuk dengan arah tegak lurus dari gaya
yang cenderung untuk memindahkan batuan (gaya tension). Hal ini terjadi akibat dari stress

yang cenderung untuk membelah dengan cara menekannya pada arah yang berlawanan, dan
akhirnya kedua dindingnya akan saling menjauhi.
3. Kekar Hibrid (Hybrid Joint), yaitu merupakan campuran dari kekar gerus dan kekar tarikan dan
pada umumnya rekahannya terisi oleh mineral sekunder.
a.

Kekar Gerus.
Ciri-ciri dilapangan :

Biasanya bidangnya licin.

Memotong seluruh batuan.

Memotong komponen batuan.

Bidang rekahnya relatif kecil.

Adanya joint set berpola belah ketupat.

b.

Kekar Tarikan

Ciri-ciri dilapangan :

Bidang kekar tidak rata.

Bidang rekahnya relatif lebih besar.

Polanya sering tidak teratur, kalaupun teratur biasanya akan berpola kotak-kotak.

Karena terbuka, maka dapat terisi mineral yang kemudian disebut vein.
Kekar tarikan dapat dibedakan atas:

1. Tension Fracture, yaitu kekar tarik yang bidang rekahannya searah dengan tegasan.
2. Release Fracture, yaitu kekar tarik yang terbentuk akibat hilangnya atau pengurangan tekanan,
orientasinya tegak lurus terhadap gaya utama. Struktur ini biasanya disebut STYLOLITE.

Definisi
Lipatan adalah bentuk lengkung suatu benda yang pipih/lempeng, dapat disebabkan oleh 2
macam mekanisme, yaitu buckling (melipat) dan bending (melengkung), (Sukendar Asikin,
1978).
Pada gejala buckling atau melipat, gaya penyebab adalah gaya tekan yang arahnya sejajar dengan
permukaan lempeng, sedang pada bending atau pelengkungan gaya utamanya mempunyai arah
yang tegak lurus pada permukaan lempeng.
Gaya perlipatan pada umumnya terjadi pada lapisan batuan sedimen. Sebelum suatu urutan
batuan sedimen mengalami perlipatan, batuan tersebut diendapkan dalam keadaan yang
mendatar. Tetapi ada kalanya juga sudah mempunyai timbulan-timbulan, hal ini disebabkan oleh
keadaan cekungannya yang sifat permukaannya tidak rata. Kemudian sejak saat
pengendapannya, lapisan-lapisan sedimen tersebut telah pula mengalami tekanan-tekanan atau
tarikan-tarikan oleh gaya-gaya berasal dari dalam. Kebanyakan berupa gaya tekan atau shearing.
Dengan perkataan lain sedimen tersebut secara terus menerus mengalami perubahan-perubahan
sepanjang sejarah pembentukkannya, dan mengakibatkan terjadinya lipatan-lipatan berukuran
besar ataupun kecil.
Lipatan yang berukuran besar dapat mencapai berkilo-kilo meter untuk melaluinya, sedangkan
yang berukuran kecil hanya beberapa meter sampai sentimeter.
II. Geometri Lipatan
Lipatan merupakan struktur seperti gelombang yang terhasil akibat canggaan perlapisan, foliasi
dan permukaan planar yang lain pada skala yang berbagai.
Lipatan terbentuk di persekitaran canggaan yang berbagai, daripada permukaan kerak bumi
yang rapuh hingga ke bahagian dalam bumi yang mulur.

Lipatan boleh berbentuk secara terbuka dan landai hingga ke sangat ketat dan berlaku secara
berasingan atau berkumpulan.
Batuan mungkin mengalami satu episod perlipatan atau lebih, sehingga menyebabkan
pertindihan beberapa generasi lipatan.
Semasa mengkaji lipatan, ada tiga skala digunakan untuk memudahkan penerangan, iaitu
struktur mikroskopik (dilihat di bawah mikroskop), mesoskopik (saiz daripada sampel tangan
hingga singkapan) dan makroskopik (saiz peta atau lebih besar).
Kebanyakan kajian geometri lipatan melibatkan pengukuran pada skala mesoskopik, dan skala
yang lain menguatkan lagi cerapan kita. Biasanya struktur berskala kecil akan menyerupai
struktur berskala besar dan sebaliknya.

III. Anatomi Lipatan Ringkas


- Anticline (antiform), adalah unsur struktur lipatan dengan bentuk yang konveks ke atas.
- Syncline (sinform) adalah lipatan yang concave ke atas.
- Limb (sayap) adalah bagian dari lipatan yang terletak down dip dimulai dari lengkungan
maksimum suatu antiklin atau updip bila dari lengkungan maksimum suatu syncline.
- Backline adalah sayap yang landai.
- Fore limb adalah sayap yang curam pada bentuk lipatan yang tidak simetris.
- Axial line (garis poros), garis khayal yang menghubungkan titik-titik dari lengkungan
maksimum pada setiap permukaan lapisan dari suatu struktur.
- Axial suface, permukaan khayal dimana terdapat semua axial line dari suatu lipatan.
Pada beberapa lipatan permukaan ini dapar merupakan suatu bidang planar, dan dinamakan axial
plane.
- Crestal line (garis puncak), suatu garis khayal yang menghubungkan titik-titik tertinggi pada
setiap permukaan lapisan dari suatu antiklin.
IV. Jenis Lipatan
Pengelompokkan lipatan secara morfologis
Didasarkan atas :
1. Perubahan bentuk daripada lipatan pada kedalaman.
2. Susunan atau pola daripada struktur lipatan, dilihat dalam penampang denah.
Jenis-jenis lipatan tersebut adalah :
- Concentric fold (lipatan konsentris/lipatan paralel) adalah sebutan untuk perlapisan dimana
jarak-jarak (tebal) tiap lapisan yang terlipat tetap sama.
- Similar fold adalah sebutan untuk perlipatan dimana lapisan-lapisan yang terlipat/dilipat
dengan bentuk-bentuk yang sama sampai ke dalam. Antiklin maupun sinklin ukurannya tidak
banyak berubah ke dalam maupun ke atas.

V. Klasifikasi Lipatan
Ada beberapa pengelasan yang digunakan oleh pengkaji tertentu dengan penekanan yang

berbeda. Ada yang berdasarkan kepada bentuknya dan ada berdasarkan kepada mekanisma
pembentuknya.
Antara yang lebih terkenal adalah pengelasan John Ramsay, di mana beliau menggunakan isogon
sebagai petunjuk secara tidak bias kelas lipatan tertentu.
Isogon adalah garis yang menyambung titik pada sayap lipatan yang mempunyai kemiringan
yang sama. Taburan garis isogon ini samada selari, mencapah atau menumpuh menjadi asas
pengelasan ini. Mengikut pengelasan Ramsay ada 3 kelas lipatan. Kelas pertama menunjukkan
isogon yang menumpuh, sementara kelas 2 dan 3 menunjukkan isogon yang selari dan
mencapah, masing-masing.
VI. Mekanisme Lipatan
Perlipatan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, cecair dan sifat badan batuan (komposisi, tekstur
dan sifat setiap lapisan).
Mekanisma perlipatan merangkumi pemampatan atau pemendekkan (buckling),
pembengkokkan (bending), aliran fleksur (flexural flow) dan aliran pasif (passive flow). Setiap
mekanisma ini disertai oleh gelincir fleksur (flexural slip).
Untuk lapisan mengekalkan ketebalannya semasa ia dilipat, gelincir fleksur berlaku sepanjang
sempadan perlapisan. Kesan gelinciran ini diperhatikan daripada kehadiran kesan gores-garis
(slickenside) pada permukaan lapisan.
Mekanisma pembengkokkan melibatkan arah canggaan yang tegak dengan sesuatu lapisan dan
biasanya menghasilkan lipatan yang terbuka, seperti kubah, lembangan dan gerbang.
Pembengkokkan boleh berlaku bila ada objek tertentu (seperti intrusi batuan igneus, struktur
dupleks) berada di bawah sesuatu lapisan.
Pemampatan/Pemendekkan (buckling) melibatkan arah canggaan yang selari dengan
perlapisan. Pada suhu yang rendah, buckling disertai oleh gelincir fleksur.
Sebelum buckling berlaku lapisan biasanya dipendekkan secara mendatar dan ditebalkan secara
menegak dengan lapisan.
Variasi daripada buckling adalah kinking. Kinking ini biasanya berasosiasi dengan batuan skis
dan membentuk lipatan chevron. Ia terhasil akibat daripada proses gelincir fleksur yang
terkekang.
Mekanisma aliran fleksur (flexural flow) berlaku bila sebahagian lapisan bersifat mulur dan
sebahagian bersifat rapuh. Lapisan yang bersifat rapuh mempengaruhi bentuk lipatan yang
terhasil.
Mekanisma aliran pasif (passive flow) melibatkan aliran mulur pada keseluruhan batuan.
Perlapisan, foliasi atau jalur hanya menjadi lapisan petunjuk. Aliran pasif ini hanya berlaku pada
batuan di mana tidak ada perbezaan kemuluran antara lapisan dan menghasilkan lipatan serupa.
Kombinasi antara beberapa mekanisma di atas sering berlaku atau bersaingan pada persekitaran
tekanan dan suhu yang berbagai.
Dekat permukaan bumi, gelincir fleksur dan buckling biasa berlaku. Bila lipatan menjadi lebih
ketat, geseran antara lapisan meningkat dan gelinciran sukar berlaku. Pada peringkat ini
mekanisma yang menghasilkan ira mengambilalih untuk proses canggaan seterusnya.
VII. Lipatan Kompleks

Lipatan kompleks berlaku apabila satu set lipatan ditindih oleh satu atau lebih set lipatan baru,
samada akibat arah daya yang sama atau berlainan.
Bentuk lipatan bertindih ini adalah berkaitan dengan orientasi kedua-dua set lipatan itu dan
juga sifat fizikal batuan yang tercangga.
Dua episod perlipatan boleh dipisahkan oleh masa beberapa saat sahaja atau berjuta tahun, atau
berlaku secara berterusan.
Batuan bersifat mulur membolehkan lipatan kompleks terhasil. Keadaan ini biasanya terdapat
di kawasan teras pergunungan, di kawasan zon subduksi dan kawasan sesar transform di mana
mampatan, metamorfisma dan ricihan berterusan berlaku.
Secara amnya ada tiga jenis lipatan bertindih.
1. Struktur Kotak Telur atau Corak Kubah dan Lembangan.
Ia berlaku bila dua set lipatan tegak bertemu atau berinteraksi pada sudut besar.
2. Corak Boomerang
Ia berlaku bila lipatan yang dengan paksi permukaan miring (e.g. lipatan isoklinal) dan lipatan
dengan paksi permukaan tegak (e.g. lipatan tegak) bertemu/berinteraksi pada sudut yang besar.

II.

3. Corak Hook
Ia berlaku bila lipatan isoklinal yang ketat dilipat semula pada paksi yang sama, pada berbagai
skala.
Kombinasi ketiga-tiga jenis di atas juga boleh berlaku. Satu jenis boleh bertukar secara
beransur-ansur ke jenis yang lain.
Lipatan yang bertindih ini penting untuk menentukan sejarah canggaan sesuatu kawasan.
Kita boleh mengenalpasti pertindihan lipatan ini bila kita membuat permerhatian dan pemetaan
struktur secara terperinci sesuatu kawasan.
Biasanya, satu kawasan yang telah mengalami dua arah perlipatan menunjukkan perubahan
arah jurus dan miringan yang agak mendadak tetapi sistematik.
Sedimentologi adalah ilmu yang mempelajari sedimen atau endapan (Wadell, 1932).
Sedangkan sedimen atau endapan pada umumnya diartikan sebagai hasil dari proses
pelapukan terhadap suatu tubuh batuan, yang kemudian mengalami erosi, tertansportasi
oleh air, angin, dll, dan pada akhirnya terendapkan atau tersedimentasikan.

III.
Sulit rasanya menelusuri sejarah perkembangan ilmu sedimentologi, terutama pada awal
perkembangannya. Dengan dikemukannya doktrin uniformitarisme pada akhir abad ke 19
berdampak besar sekali pada perkembangan ilmu sedimentologi ini. Hal ini terlihat jelas pada
tulisan beberapa penulis, seperti Sorby (1853) dan Lyell (1865) yang mengemukakan interpretasi
modern tentang struktur dan tekstur dari batuan sedimen.
Sampai pertengahaan abad ke 20, sedimentologi lebih dikenal hanya sebatas pada studi di bawah
mikroskop, terutama untuk fosil. Dalam perioda itu mineral berat dan penghitungan secara
petrografis (point counting) berkembang dengan pesat. Secara serentak, para ahli stratigrafi
menemukan fosil-fosil kunci penunjuk umur batuan.

Para ahli geologi struktur mempunyai andil besar mendorong pengembangan ilmu
sedimentologi. Mereka menemui kesulitan dalam menentukan bagian atas dan bagian bawah
suatu lapisan yang sudah terlipat kuat sampai terjadi pembalikan lapisan. Beberapa struktur
sedimen seperti retakan (desiccation crack), silang siur dan perlapisan bersusun, sangat edial
untuk memecahkan persoalan ini (Shrock, 1948). Pada 1950an sampai awal 1960an berkembang
konsep tentang arus turbit. Sementara itu ahli petrografi masih sibuk menghitung zirkon dan ahli
stratigrafi sibuk pula mengumpulkan fosil sebanyak-banyaknya, ahli struktur geologi sudah
mulai bertanya berapa tebal runtunan endapan turbit ini di geosinklin. Pertanyaan ini
menyibukan geologiawan untuk mengetahui hasil endapan turbit pada setiap jenis.
Pendorong lain terhadap perkembangan sedimentologi datang dari perusahaan minyak, dimana
mereka mulai mencari jebakan stratigrafi. Pelopornya adalah American Petroleum Institute
dengan Project 51-nya, yang mempelajari secara multi disiplin dari sedimen moderen di Teluk
Meksiko. Kemudian kegiatan seperti ini diikuti oleh perusahaan lain, universitas dan institusi
oseanografi. Sehingga pada akhir 1960an sedimentologi sudah kokoh menjadi suatu cabang ilmu
pengetahuan sendiri.
Pada 1970an penelitian sedimentologi mulai beralih dari makroskopis dan fisik ke arah
mikroskopis dan kimia. Dengan perkembangan teknik analisa dan penggunaan katadoluminisen
dan mikroskop elektron memungkinkan para ahli sedimentologi mengetahui lebih baik tentang
geokimia. Perkembangan yang pesat ini memacu kita untuk mengetahui hubungan antara
diagenesa, pori-pori dan pengaruhnya terhadap evolusi porositas dengan kelulusan batupasir dan
batugamping.
Saat ini berkembang perbedaan antara makrosedimentologi dan mikrosedimentologi.
Makrosedimentologi berkisar studi fasies sedimen sampai ke struktur sedimen. Di lain fihak,
mikrosedimentologi meliputi studi batuan sedimen di bawah mikroskop atau lebih dikenal
dengan petrografi.