Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GELOMBANG LAUT


(PLTG)

Oleh:
Fitra Ramadhanti
1206398

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat, taufik, dan hidayahNya, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini. Harapan kami, semoga makalah ini berguna untuk membantu
pembaca dalam mempelajari Pembangkit listrik Tenaga Gelombang Laut,
Makalah ini disusun sebagai bekal pembaca dan melengkapi tugas Tekni Tenaga
Listrik. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan pengerjaan makalah ini
masih banyak kekurangan, sehingga penulis berharap saran dan kritik yang
membangun dari berbagai pihak agar makalah ini dapat lebih bermanfaat.

Padang, 08 Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
1.
2.
3.
4.

Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan
Manfaat

BAB II PEMBAHASAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sejarah Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL)


Pengertian Dari Pembangkit Listrik Tenaga Ombak
Saja Komponen-Komponen Utama pada PLTGL
Proses PLTGL
Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut dunia dan di Indonesia
Apa saja Keuntungan dan Kekurangan Pembangkit Listrik Tenaga Ombak

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Krisis energi telah diprediksikan akan melanda lima tahun yang akan
datang. Hal ini dikarenakan semakin langkanya minyak bumi dan semakin
meningkatnya permintaan energi. Untuk itu diperlukan sebuah terobosan baru
untuk memanfaatkan energi lain, selain energi yang tidak dapat diperbaharui ini.
Karena jika kita tergantung pada energi yang tidak dapat diperbaharui saja, maka
di masa depan kita akan kesulitan untuk memanfaatkan energi ini karena
keterbatasan sumber dari energi tersebut. Lalu bagaimana dengan nasib anak cucu
kita nanti? Oleh karena itu manusia harus berusaha memanfaatkan sumber daya
hayati yang ada di bumi ini dengan sebaik-baiknya dan dalam pemanfaatannya
harus dikembangkan dari sekarang. Akan tetapi penggunaannya haruslah
mempunyai tujuan yang positif yang nantinya tidak akan membahayakan manusia
itu sendiri.
Sumber daya hayati yang ada di bumi ini salah satunya adalah lautan.
Wilayah bumi didominasi oleh laut, dan laut juga mempunyai banyak potensi
pangan dan potensi sebagai sumber energi. Potensi pangan yang ada di laut adalah
beranekaragamnya spesies ikan dan tanaman laut. Dan potensi sumber energi
yang ada di laut ada 3 macam, yaitu: energi ombak, energi pasang surut dan energi
panas laut. Salah satu energi di laut adalah energi ombak. Sebenarnya ombak
merupakan sumber energi yang cukup besar. Ombak merupakan gerakan air laut
yang turun-naik atau bergulung-gulung. Energi ombak adalah energi alternatif
yang dibangkitkan melalui efek gerakan tekanan udara akibat fluktuasi pergerakan
gelombang.
Untuk itu kita akan mencoba menggali informasi tentang tenaga ombak
yang sudah dimanfaatkan oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan

survei

yang

dilakukan Badan

Pengkajian

dan

Penerapan

Teknologi

(BPPT) dan Pemerintah Norwegia sejak tahun 1987, terlihat bahwa banyak
daerah-daerah pantai yang berpotensi sebagai pembangkit listrik bertenaga
ombak. Ombak di sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa, di atas Kepala Burung
Irian Jaya, dan sebelah barat Pulau Sumatera sangat sesuai untuk menyuplai
energi listrik. Kondisi ombak seperti itu tentu sangat menguntungkan, sebab tinggi
ombak yang bisa dianggap potensial untuk membangkitkan energi listrik adalah
sekitar 1,5 hingga 2 meter, dan gelombang ini tidak pecah sampai di pantai.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah :
7. Bagaimana Sejarah Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut
(PLTGL) ?
8. Apa Pengertian Dari Pembangkit Listrik Tenaga Ombak ?
9. Apa saja Komponen-Komponen Utama pada PLTGL ?
10. Bagaimana Proses PLTGL ?
11. Bagaimana Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut dunia dan di
Indonesia ?
12. Apa saja Keuntungan dan Kekurangan Pembangkit Listrik Tenaga
Ombak ?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui Sejarah Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut
2. Mengetahui pengertian dari pembangkit listrik tenaga ombak.
3. Mengetahui komponen-komponen pada pembangkit listrik tenaga
ombak.
4. Mengetahui proses pembangkitan listrik dengan menggunakan tanaga
ombak.
5. Mengetahui apa kelebihan dan kekurangan pada pembangkit listrik
tenaga ombak.
6. Perkembangan pembangkit listrik tenaga ombak di Indonesia dan
dunia.

D. Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu :
1. Mengetahui mengenai pembangkit listrik tenaga ombak.
2. Memenuhi tugas mata kuliah Teknik Tenaga Listrik (TTL).

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL)


Sebenarnya PLTGL bukanlah sesuatu yang baru. Berdasarkan sejarahnya,
pemanfaatkan gelombang laut sebagai sumber energi listrik telah dilakukan sejak
abad ke-18. Berdasarkan catatan sejarah, Girard dan anaknya dari Prancis telah
menggunakan energi gelombang laut. Selanjutnya pada 1919, Bochaux-Praceique
telah memanfaatkan gelombang laut untuk menggerakkan alat pembangkit listrik
untuk menerangi lampu rumahnya di Royan, dekat Boedeaix, Prancis.
Apa yang dilakukannya telah menunjukkan kemajuan teknologi dalam
pemanfaatan energi gelombang laut. Bahkan dia telah menggunakan perangkat
teknologi yang diberi nama Oscillating Water Column untuk pertama kalinya. Tak
hanya di Prancis, kalangan ilmuwan mencoba memanfaatkan energi gelombang
laut. Dari 1855 hingga 1973 tercatat sekitar 340 paten mengenai teknologi
pemanfaatan gelombang laut di Inggris.
Penggunaan teknologi yang ilmiah dan modern untuk pemanfaatkan energi
gelombang laut dirintis oleh peneliti Jepang Yoshio Masuda pada 1940-an. Dia
telah mengetes berbagai konsep dari perangkat yang memanfaatkan energi
gelombang laut. Ratusan unit alat pembangkit dites untuk menghasilkan listrik
yang bisa menyalakan lampu. Pada 1950, Masuda telah menghasilan konsep yang
juga maju.
Tetapi

sayangnya

pengembangan

teknologi

yang

memanfaatkan

gelombang laut kurang mendapat respons. Seiring perjalanan waktu pada 1973,

dunia dilanda krisis minyak. Krisis bahan bakar dari fosil itu kembali mendorong
dan memacu peneliti dari berbagai universitas mencoba mengembangkan
pembangkit listrik tenaga gelombang laut. Peneliti itu di antaranya Stephen Salter
dari Edinburgh University, Johannes Falnes dari Norwegian Institute of
Technology, Michael E. McCormick dari U. S. Naval Academy, David Evans dari
Bristol University, Michael French from University of Lancaster, John Newman,
serta Chiang C. Mei dari MIT.
Pembangkit listrik tenaga gelombang telah dikembangkan di Jerman.
Perusahaan Energie Baden-Wuttemberg Ag (EnBW) bekerja sama dengan Vorth
Siemen Hydro Power Generation GmbH & Co. Bermula dari EnBW melihat
potensi untuk pembangkit gelombang di pantai Laut Utara. Akhirnya pemerintah
Jerman merancang pilot project pembangkit listrik tenaga gelombang.
Pembangkit listrik tenaga gelombang laut (PLTGL) yang telah berjalan
adalah PLTGL Limpet dikelola oleh Wavegen, anak perusahaan Vorth Siemen
yang berbasis di Inggris. PLTGL Limpet mampu memproduksi listrik 500 kwh.
Pembangkit tersebut menggunakan teknologi Oscillating Water Column (OWC)
yang mengubah energi gelombang menjadi udara pendorong untuk menggerakan
turbin.
Sementara itu, PLTGL yang di Jerman akan memiliki kapasitas 250 kWh.
Dengan kapasitas tersebut, PLTGL tersebut dapat mengaliri listrik ke 120 rumah.
Pemerintah Jerman berharap pembangunan PLTG tersebut tidak mengganggu
lingkungan sekitar pantai. Oleh karena itu, EnBW menjalin kerja sama dengan
proyek konservasi pantai agar pembanguan PLTGL tidak merusak keindahan alam
daerah sepanjang pantai.

Pembangkit listrik gelombang laut komersial juga dikembangkan di


Negeri Kanguru. Pusat PLTGL itu terletak di lepas pantai Australia. Pembangkit
dengan terobosan teknologi yang masih langka itu telah memasok kebutuhan
listrik sekitar 500 rumah yang berada di daerah Selatan Sydney, Australia.
Listrik baru bisa dihasilkan PLTGL jika gelombang laut datang menerpa
corong yang menghadap ke lautan. Gerakan tersebut mengalirkan udara melalui
dan masuk menggerakan turbin. Dari putaran turbin tersebut, sebanyak 500 kWh
daya listrik dihasilkan setiap hari dan langsung disalurkan ke rumah-rumah .
Pusat PLTGL yang di Australia merupakan proyek percontohan.
Pemerintah Australia berencana membangun PLTGL yang lebih besar dan
menghasilkan listrik lebih kuat di pantai selatan Australia. Dengan pembangunan
PLTGL, para ahli teknologi PLGL Australia pun mendapat kebanjiran order untuk
membangunan PLTGL di beberapa negara. Hawai, Spanyol, Afrika Selatan, Cile,
Meksiko, dan Amerika Serikat juga tertarik.
Perusahaan yang mengelola PLTGL, Energetech mengaku pembangkit
yang masih jarang dikembangkan memiliki banyak keuntungan. John Bell,
Direktur Keuangan Energetech mengatakan energi gelombang laut merupakan
energi yang tidak pernah habis jika dibandingkan sumber energi lainnya. Energi
gelombang laut tidak berbeda dengan energi dari matahari dan angin.
Energi gelombang laut adalah satu potensi laut dan samudra yang belum
banyak bisa menghasilkan listrik. Negara yang melakukan penelitian dan
pengembangan potensi energi samudra untuk menghasilkan listrik adalah Inggris,
Australia, Perancis, dan Jepang.

B. Jenis-jenis Energi
Tiga tipe Energi Secara umum, potensi energi gelombang laut dapat
menghasilkan listrik dapat dibagi menjadi tiga tipe potensi energi yaitu energi
pasang surut (tidal power), energi gelombang laut (wave energy), dan energi
panas laut (ocean thermal energy).
1. Energi pasang surut merupakan energi yang dihasilkan dari pergerakan air
laut akibat perbedaan pasang surut.
2. Energi gelombang laut adalah energi yang dihasilkan dari pergerakan
gelombang laut menuju daratan dan sebaliknya.
3. Energi panas laut memanfaatkan perbedaan temperatur air laut di
permukaan dan di kedalaman.
Energi

panas laut memanfaatkan perbedaan temperatur air laut di

permukaan dan di kedalaman. Indonesia belum pemanfaatan energi gelombang


laut sebagai sumber listrik. Memang Indonesia dengan wilayahnya yang luas,
memiliki potensi mengembangkan PLTGL. Namun untuk merealisasikan hal
tersebut perlu dilakukan penelitian lebih mendalam. Tetapi secara sederhana dapat
dilihat bahwa probabilitas menemukan dan memanfaatkan potensi energi
gelombang laut dan energi panas laut lebih besar dari energi pasang surut.
Pada dasarnya pergerakan laut yang menghasilkan gelombang laut terjadi
akibat dorongan pergerakan angin. Angin timbul akibat perbedaan tekanan pada 2
titik yang diakibatkan oleh respons pemanasan udara oleh matahari yang berbeda
di kedua titik tersebut. Dengan sifat tersebut, energi gelombang laut dapat
dikategorikan sebagai energi terbarukan.

Gelombang laut secara ideal dapat dipandang berbentuk gelombang yang


memiliki ketinggian puncak maksimum dan lembah minimum. Pada selang waktu
tertentu, ketinggian puncak yang dicapai serangkaian gelombang laut berbedabeda. Ketinggian puncak ini berbeda-beda untuk lokasi yang sama jika diukur
pada hari yang berbeda. Meskipun demikian, secara statistik dapat ditentukan
ketinggian signifikan gelombang laut pada satu titik lokasi tertentu.
C. Pengertian Dari Pembangkit Listrik Tenaga Ombak
Ombak adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak lurus
permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal. Gelombang laut
disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan mentransfer energinya ke perairan,
menyebabkan riak-riak yang kemudian berubah menjadi apayang kita sebut
sebagai gelombang. Energi ombak laut adalah energi kinetik yang ada pada
gelombang laut digunakan untuk menggerakkan turbin. Ombak naik ke dalam
ruang generator, lalu air yang naik menekan udara keluar dari ruang generator dan
menyebabkan turbin berputar. Ketika air turun, udara bertiup dari luar ke dalam
ruang generator dan memutar turbin kembali. Putaran turbin kemudian
dihubungkan ke generator dan diubah menjadi energi listrik dan di distribusikan
ke beban.
Ombak merupakan gerakan air laut yang turun-naik atau bergulunggulung. Pembangkit listrik tenaga ombak adalah suatu pembangkitan energi listrik
yang merubah energi mekanik gelombang ombak menjadi energi listrik.
Merupakan energi alternatif yang dibangkitkan melalui efek gerakan tekanan
udara akibat fluktuasi pergerakan gelombang, yang mana pembangkitan energi ini
akan terjadi di lepas pantai yang memiliki laju ombak besar (stabil). Energi ombak

dapat digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik, seperti saat ini telah didirikan
sebuah Pembangkit Listrik Bertenaga Ombak (PLTO) di Yogyakarta, yaitu
model Oscillating Water Column.
D. Komponen-Komponen Utama pada PLTGL
1. Piston Hirolik
Piston hidrolik adalah bagian yang berfungsi menjaga keseimbangan
generator agar kedudukanya tidak terpengaruh oleh laju ombak yang
bergerak.
2. Turbin
Pada Prinsipnya turbin bekerja sebagai "Penerima Energi", artinya dia
menerima energi (kinetik) dari angin dan merubahnya menjadi energi lain
yang dapat digunakan seperti listrik. Angin yang datang akan menumbuk
sayap kipas (baling-baling) pada kincir angin, sehingga sayap kipas akan
berputar. Kemudian sayap kipas akan memutar memutar generator.
3. Generator
Generator berfungsi untuk merubah energy mekanik yang berasal dari
turbin menjadi energy listrik. Generator inilah yang disebut konventer
energy. Jenis generator yang digunakan pada PLTGL ialah jenis Generator
Asinkron (generator tak-serempak) yang merupakan motor induksi yang
dirubah menjadi generator, generator ini dipilih karena PLTGL sebagai
energi alternatif tidak banyak membutuhkan perawatan seperti halnya
generator sinkron, lebih kuat, handal, harga lebih murah dan tidak
membutuhkan bahan bakar pada saat diaplikasikan di lapangan, tapi cukup
bergantung pada sumber energi terbarukan seperti air, angin, dan lain

lain sebagai prime over (penggerak mula). Tegangan dan arus listrik yang
dihasilkan ini disalurkan melalui kabel jaringan listrik untuk akhirnya
digunakan oleh masyarakat. Tegangan dan arus listrik yang dihasilkan oleh
generator ini berupa AC (Alternating Current).
E. Proses PLTGL
Pertama aliran gelombang laut yang mempunyai energi kinetik masuk
kedalam mesin konversi energi gelombang. Kemudian dari mesin konversi aliran
gelombang yang mempunyai energi kinetik ini dialirkan menuju turbin. Di dalam
turbin ini, energi kinetik yang dihasilkan gelombang digunakan untuk memutar
rotor. Kemudian dari perputaran rotor inilah energi mekanik yang kemudian
disalurkan menuju generator. Di dalam generator, energi mekanik ini dirubah
menjadi energi listrik (daya listrik). Dari generator ini, daya listrik yang dihasilkan
dialirkan lagi menuju sistem tranmisi (beban).

1. Prinsip kerja Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut


Pertama-tama aliran gelombang laut yang mempunyai energi kinetik
masuk kedalam mesin konversi energi gelombang. Kemudian dari mesin konversi
aliran gelombang yang mempunyai energi kinetik ini dialirkan menuju turbin. Di
dalam turbin ini, energi kinetik yang dihasilkan gelombang digunakan untuk
memutar rotor. Kemudian dari perputaran rotor inilah energi mekanik yang
kemudian disalurkan menuju generator. Di dalam generator, energi mekanik ini
dirubah menjadi energi listrik (daya listrik). Dari generator ini, daya listrik yang
dihasilkan dialirkan lagi menuju sistem tranmisi (beban).

PLTGL-OWC (Oscilatting Water Column)


OWC merupakan salah satu sistem dan peralatan yang dapat mengubah
energi gelombang laut menjadi energi listrik dengan menggunakan kolom osilasi.
Alat OWC ini akan menangkap energi gelombang yang mengenai lubang pintu
OWC, sehingga terjadi fluktuasi atau osilasi gerakan air dalam ruang OWC,
kemudian tekanan udara ini akan menggerakkan baling-baling turbin yang
dihubungkan dengan generator listrik sehingga menghasilkan listrik.

Pada teknologi OWC ini, digunakan tekanan udara dari ruangan kedap air
untuk menggerakkan whells turbine yang nantinya pergerakan turbin ini
digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Ruangan kedap air ini dipasang
tetap dengan struktur bawah terbuka ke laut. Tekanan udara pada ruangan kedap
air ini disebabkan oleh pergerakan naik-turun dari permukaan gelombang air laut.

Gambar 1. Proses terbentuknya aliran udara yang dihasilkan oleh gelombang laut
Gerakan gelombang di dalam ruangan ini merupakan gerakan compresses
dan gerakan decompresses yang ada di atas tingkat air di dalam ruangan. Gerakan
ini mengakibatkan, dihasilkannya sebuah alternating streaming kecepatan tinggi
dari udara. Aliran udara ini didorong melalui pipa ke turbin generator yang
digunakan untuk menghasilkan listrik. Sistem OWC ini dapat ditempatkan
permanen di pinggir pantai atau bisa juga ditempatkan di tengah laut. Pada sistem
yang ditempatkan di tengah laut, tenaga listrik yang dihasilkan dialirkan menuju
transmisi yang ada di daratan menggunakan kabel.

Gambar2 . Turbin dan generator, Gambar3. Tampak keseluruhan PLTG-OWC


2. Generator pada Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut
(PLTGL)
Jenis generator yang digunakan pada PLTGL ialah jenis Generator
Asinkron (generator tak-serempak) yang merupakan motor induksi yang dirubah
menjadi generator, generator ini dipilih karena PLTGL sebagai energi alternatif

tidak banyak membutuhkan perawatan seperti halnya generator sinkron, lebih


kuat, handal, harga lebih murah dan tidak membutuhkan bahan bakar pada saat
diaplikasikan di lapangan, tapi cukup bergantung pada sumber energi terbarukan
seperti air, angin, dan lain lain sebagai prime over (penggerak mula). Tegangan
dan arus listrik yang dihasilkan ini disalurkan melalui kabel jaringan listrik untuk
akhirnya digunakan oleh masyarakat. Tegangan dan arus listrik yang dihasilkan
oleh generator ini berupa AC (Alternating Current).

Gambar 4. Turbin dan Generator Asinkron


3. PLTO memakai Teknologi OWC (Oscillating Wave Column)
Untuk sistem mekanik PLTO dikenal memakai teknologi OWC
(Oscillating Wave Column). Untuk OWC ini ada dua macam, yaitu OWC tidak
terapung dan OWC terapung.
1. Untuk OWC tidak terapung prinsip kerjanya sebagai berikut. Instalasi OWC
tidak terapung terdiri dari tiga bangunan utama, yakni saluran masukan air,
reservoir (penampungan), dan pembangkit. Dari ketiga bangunan tersebut,
unsur yang terpenting adalah pada tahap pemodifikasian bangunan saluran
masukan air yang tampak berbentuk U, sebab ia bertujuan untuk menaikkan air
laut ke reservoir.
Bangunan untuk memasukkan air laut ini terdiri dari dua unit, kolektor dan
konverter. Kolektor berfungsi menangkap ombak, menahan energinya
semaksimum mungkin, lalu memusatkan gelombang tersebut ke konverter.
Konverter yang didesain berbentuk saluran yang runcing di salah satu ujungnya
ini selanjutnya akan meneruskan air laut tersebut naik menuju reservoir.

Karena bentuknya yang spesifik ini, saluran tersebut dinamakan tapchan


(tappered channel).
Setelah air tertampung pada reservoir, proses pembangkitan listrik tidak
berbeda dengan mekanisme kerja yang ada pada pembangkit listrik tenaga air
(PLTA). Air yang sudah terkumpul itu diterjunkan ke sisi bangunan yang lain.
Energi potensial inilah yang berfungsi menggerakkan atau memutar turbin
pembangkit listrik. OWC ini dapat diletakkan di sekitar ~50 m dari garis pantai
pada kedalaman sekitar ~15 m.
Selain OWC tidak terapung, kita juga mengenal OWC tidak terapung lain
seperti OWC tidak terapung saat air pasang. OWC ini bekerja pada saat air
pasang saja, tapi OWC ini lebih kecil. Hasil survei hidrooseanografi di wilayah
perairan Parang Racuk menunjukkan bahwa sistem akan dapat membangkitkan
daya listrik optimal jika ditempatkan sebelum gelombang pecah atau pada
kedalam 4-11 meter. Pada kondisi ini akan dapat dicapai putaran turbin antara
3000-700 rpm. Posisi prototip II OWC (Oscillating Wave Column) masih
belum mencapai lokasi minimal yang disyaratkan, karena kesulitan
pelaksanaan operasional alat mekanis. Posisi ideal akan dicapai melalui
pembangunan prototip III yang berupa sistem OWC apung.
2. Untuk OWC terapung, prinsip kerjanya sama seperti OWC tidak terapung,
hanya saja peletakannya yang berbeda. Energi tidal juga merupakan salah satu
macam dari energi ombak. Kelemahan energi ini diantaranya adalah
membutuhkan alat konversi yang handal yang mampu bertahan dengan kondisi
lingkungan laut yang keras yang disebabkan antara lain oleh tingginya tingkat
korosi dan kuatnya arus laut.
Saat ini baru beberapa negara yang yang sudah melakukan penelitian secara
serius dalam bidang energi tidal, diantaranya Inggris dan Norwegia. Di

Norwegia, pengembangan energi ini dimotori oleh Statkraft, perusahaan


pembangkit listrik terbesar di negara tersebut. Statkraft bahkan memperkirakan
energi tidal akan menjadi sumber energi terbarukan yang siap masuk tahap
komersial berikutnya di Norwegia setelah energi hidro dan angin. Keterlibatan
perusahaan listrik besar seperti Statkraft mengindikasikan bahwa energi tidal
memang layak diperhitungkan baik secara teknologi maupun ekonomis sebagai
salah satu solusi pemenuhan kebutuhan energi dalam waktu dekat.
F. Data fakta Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut dunia dan di
Indonesia
Pemerintah Jerman merancang pilot project pembangkit listrik tenaga
gelombang. Pembangkit listrik tenaga gelombang laut (PLTGL) yang telah
berjalan adalah PLTGL Limpet dikelola oleh Wavegen, anak perusahaan Vorth
Siemen yang berbasis di Inggris. PLTGL Limpet mampu memproduksi listrik 500
kwh. Pembangkit tersebut menggunakan teknologi Oscillating Water Column
(OWC) yang mengubah energi gelombang menjadi udara pendorong untuk
menggerakan turbin. Sementara itu, PLTGL yang di Jerman akan memiliki
kapasitas 250 kWh. Dengan kapasitas tersebut, PLTGL tersebut dapat mengaliri
listrik ke 120 rumah. Pemerintah Jerman berharap pembangunan PLTG tersebut
tidak mengganggu lingkungan sekitar pantai. Oleh karena itu, EnBW menjalin
kerja sama dengan proyek konservasi pantai agar pembanguan PLTGL tidak
merusak keindahan alam daerah sepanjang pantai. Pembangkit listrik gelombang
laut komersial juga dikembangkan di Negeri Kanguru. Pusat PLTGL itu terletak
di lepas pantai Australia. Pembangkit dengan terobosan teknologi yang masih
langka itu telah memasok kebutuhan listrik sekitar 500 rumah yang berada di

daerah Selatan Sydney, Australia. Listrik baru bisa dihasilkan PLTGL jika
gelombang laut datang menerpa corong yang menghadap ke lautan. Gerakan
tersebut mengalirkan udara melalui dan masuk menggerakan turbin. Dari putaran
turbin tersebut, sebanyak 500 kWh daya listrik dihasilkan setiap hari dan langsung
disalurkan ke rumah-rumah . Pusat PLTGL yang di Australia merupakan proyek
percontohan. Pemerintah Australia berencana membangun PLTGL yang lebih
besar dan menghasilkan listrik lebih kuat di pantai selatan Australia. Dengan
pembangunan PLTGL, para ahli teknologi PLGL Australia pun mendapat
kebanjiran order untuk membangunan PLTGL di beberapa negara. Hawai,
Spanyol, Afrika Selatan, Cile, Meksiko, dan Amerika Serikat juga tertarik.

Gambar12. Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang-OWC di Skotlandia


Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua setelah Norwegia.
Sehingga Energi gelombang laut di pantai tersebut digunakan sebagai pembangkit
tenaga listrik, seperti saat ini telah didirikan sebuah Pembangkit Listrik Bertenaga
Ombak (PLTO) di Yogyakarta, yaitu model Oscillating Water Column. Tujuan
didirikannya PLTO ini adalah untuk memberikan model sumber energi alternatif
yang ketersediaan sumbernya cukup melimpah di wilayah perairan pantai

Indonesia. Yogyakarta merupakan daerah di Indonesia yang memiliki potensi


gelombang laut terbesar dibanding daerah lainnya. Pantai Selatan di daerah
Yogyakarta memiliki potensi gelombang 19 kw/panjang gelombang. Pembangkit
Listrik Tenaga Gelombang Laut di daerah Yogyakarta dikembangkan oleh BPPT
khususnya BPDP (Balai Pengkajian Dinamika Pantai). Pembangkit Listrik Tenaga
Gelombang Laut ini menggunakan metode OWC (Ocillating Water Column).
BPDP BPPT pada tahun 2004 telah berhasil membangun prototype OWC
pertama di Indonesia. Prototype itu dibangun di pantai Parang Racuk, Baron,
Gunung Kidul. Prototype OWC yang dibangun adalah OWC dengan dinding
tegak. Luas bersih chamber 3m x 3m. Tinggi sampai pangkal dinding miring 4
meter, tinggi dinding miring 2 meter sampai ke ducting, tinggi ducting 2 meter.
Prototype OWC 2004 ini setelah di uji coba operasional memiliki efisiensi 11%.
Pada tahun 2006 ini pihak BPDP BPPT kembali membangun OWC dengan
sistem Limpet di pantai Parang Racuk, Baron, Gunung Kidul . OWC Limpet
dibangun berdampingan dengan OWC 2004 tetapi dengan model yang berbeda.
Dengan harapan besar energi gelombang yang bisa dimanfaatkan dan efisiensi
dari OWC Limpet ini akan lebih besar dari pada OWC sebelumnya

Gambar13. Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang-OWC di Pantai Parang Racuk,


Gunung Kidul-Yogyakarta

G. Keuntungan dan Kekurangan Pembangkit Listrik Tenaga Ombak


Krisis energi telah diprediksikan akan melanda lima tahun yang akan
datang. Hal ini dikarenakan semakin langkanya minyak bumi dan semakin
meningkatnya permintaan energi. Untuk itu diperlukan sebuah terobosan baru
untuk memanfaatkan energi lain, selain energi yang tidak dapat diperbaharui ini.
Karena jika kita tergantung pada energi yang tidak dapat diperbaharui saja, maka
di masa depan kita akan kesulitan untuk memanfaatkan energi ini karena
keterbatasan sumber dari energi tersebut. Lalu bagaimana dengan nasib anak cucu
kita nanti? Oleh karena itu manusia harus berusaha memanfaatkan sumber daya
hayati yang ada di bumi ini dengan sebaik-baiknya dan dalam pemanfaatannya
harus dikembangkan dari sekarang. Akan tetapi penggunaannya haruslah
mempunyai tujuan yang positif yang nantinya tidak akan membahayakan manusia
itu sendiri.
Pada kenyataanya, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua
setelah Norwegia. Namun, potensi energi pantai yang ada belum banyak
dimanfaatkan karena banyaknya keterbatasan dalam pemanfaatkannya. Sumber
daya hayati yang ada di bumi ini salah satunya adalah lautan. Wilayah bumi
didominasi oleh laut, dan laut juga mempunyai banyak potensi pangan dan potensi
sebagai sumber energi. Potensi pangan yang ada di laut adalah beranekaragamnya
spesies ikan dan tanaman laut. Dan potensi sumber energi yang ada di laut ada 3
macam, yaitu: energi ombak, energi pasang surut dan energi panas laut.

Salah satu energi di laut adalah energi ombak. Sebenarnya ombak


merupakan sumber energi yang cukup besar. Ombak merupakan gerakan air laut
yang turun-naik atau bergulung-gulung. Energi ombak adalah energi alternatif
yang dibangkitkan melalui efek gerakan tekanan udara akibat fluktuasi
pergerakan gelombang.
Untuk itu kita akan mencoba menggali informasi tentang tenaga ombak
yang sudah dimanfaatkan oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan
survei

yang

dilakukan Badan

Pengkajian

dan

Penerapan

Teknologi

(BPPT) dan Pemerintah Norwegia sejak tahun 1987, terlihat bahwa banyak
daerah-daerah pantai yang berpotensi sebagai pembangkit listrik bertenaga
ombak. Ombak di sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa, di atas Kepala Burung
Irian Jaya, dan sebelah barat Pulau Sumatera sangat sesuai untuk menyuplai
energi listrik. Kondisi ombak seperti itu tentu sangat menguntungkan, sebab tinggi
ombak yang bisa dianggap potensial untuk membangkitkan energi listrik adalah
sekitar 1,5 hingga 2 meter, dan gelombang ini tidak pecah hingga sampai di
pantai.
Potensi tingkat teknologi saat ini diperkirakan bisa mengkonversi per
meter panjang pantai menjadi daya listrik sebesar 20-35 kW (panjang pantai
Indonesia sekitar 80.000 km, yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau, dan sekitar
9.000 pulau-pulau kecil yang tidak terjangkau arus listrik nasional, dan
penduduknya hidup dari hasil laut). Dengan perkiraan potensi semacam itu,
seluruh pantai di Indonesia dapat menghasilkan lebih dari 2~3 Terra Watt
Ekuivalensi listrik, bahkan tidak lebih dari 1% panjang pantai Indonesia (~800

km) dapat memasok minimal ~16 GW atau sama dengan pasokan seluruh listrik di
Indonesia tahun ini.
Saat ini telah didirikan sebuah Pembangkit Listrik Bertenaga Ombak
(PLTO) di Yogyakarta,

yaitu

model Oscillating

Water

Column.

Tujuan

didirikannya PLTO ini adalah untuk memberikan model sumber energi alternatif
yang ketersediaan sumbernya cukup melimpah di wilayah perairan pantai
Indonesia. Model ini menunjukan tingkat efisiensi energi yang dihasilkan dan
parameter-parameter minimal hiroosenografi yang layak, baik itu secara teknis
maupun ekonomis untuk melakukan konversi energi.
Proyek yang mendapat bantuan (hibah) dari pemerintah Norwegia
sebanyak 70 persen (sekitar 5,1 juta dolar AS) dari total investasi itu
direncanakan, dalam periode tiga tahun, PLTO Baron selesai dikerjakan dan
sebesar 1.100 kilo watt jam listriknya bisa dinikmati oleh sekitar dua ribu rumah
warga sekitarnya. Sebagai proyek percontohan, memang PLTO di Baron ini masih
dalam tahap uji coba, belum dalam skala komersial. Namun demikian tidak
tertutup kemungkinan, jika proyek percontohan Baron sukses, maka instalasiinstalasi listrik yang bersumber pada tenaga ombak akan banyak bermunculan.
Yang digunakan PLTO Baron, pada prinsipnya serupa dengan yang dikembangkan
di daerah Toftestailen, Norwegia. Namun para peneliti di Indonesia kini sedang
mempersiapkan software (piranti lunak) yang unik, lain dari pada yang lain.
Untuk sistem mekaniknya, PLTO dikenal memakai teknologi OWC
(Oscillating Wave Column). Untuk OWC ini ada dua macam, yaitu OWC tidak
terapung dan OWC terapung. Untuk OWC tidak terapung prinsip kerjanya
sebagai berikut. Instalasi OWC tidak terapung terdiri dari tiga bangunan utama,

yakni saluran masukan air, reservoir (penampungan), dan pembangkit. Dari ketiga
bangunan tersebut, unsur yang terpenting adalah pada tahap pemodifikasian
bangunan saluran masukan air yang tampak berbentuk U, sebab ia bertujuan untuk
menaikkan air laut ke reservoir.
Bangunan untuk memasukkan air laut ini terdiri dari dua unit, kolektor
dan konverter. Kolektor berfungsi menangkap ombak, menahan energinya
semaksimum

mungkin,

lalu

memusatkan

gelombang

tersebut

ke

konverter. Konverter yang didesain berbentuk saluran yang runcing di salah satu
ujungnya ini selanjutnya akan meneruskan air laut tersebut naik menuju reservoir.
Karena bentuknya yang spesifik ini, saluran tersebut dinamakan tapchan (tapered
channel).
Setelah air tertampung pada reservoir, proses pembangkitan listrik tidak
berbeda dengan mekanisme kerja yang ada pada pembangkit listrik tenaga air
(PLTA). Air yang sudah terkumpul itu diterjunkan ke sisi bangunan yang lain.
Energi potensial inilah yang berfungsi menggerakkan atau memutar turbin
pembangkit listrik.
Selain OWC tidak terapung, kita juga mengenal OWC tidak terapung lain
seperti OWC tidak terapung saat air pasang. OWC ini bekerja pada saat air pasang
saja, tapi OWC ini lebih kecil. Hasil survei hidrooseanografi di wilayah perairan
Parang Racuk menunjukkan bahwa sistem akan dapat membangkitkan daya listrik
optimal jika ditempatkan sebelum gelombang pecah atau pada kedalam 4-11
meter. Pada kondisi ini akan dapat dicapai putaran turbin antara 3000-700 rpm.
Posisi prototip II OWC (Oscillating Wave Column) masih belum mencapai lokasi
minimal yang disyaratkan, karena kesulitan pelaksanaan operasional alat mekanis.

Posisi ideal akan dicapai melalui pembangunan prototip III yang berupa sistem
OWC apung. Untuk OWC terapung, prinsip kerjanya sama seperti OWC tidak
terapung, hanya saja peletakannya yang berbeda.
Selain model Oscillating Water Column, ada beberapa perusahaan &
lembaga lainnya yang mengembangkan model yang berbeda untuk memanfaatkan
ombak sebagai penghasil energi listrik, antara lain:

Ocean Power Delivery; perusahaan ini mendesain tabung-tabung yang sekilas


terlihat seperti ular mengambang di permukaan laut (dengan sebutan Pelamis)
sebagai penghasil listrik. Setiap tabung memiliki panjang sekitar 122 meter
dan terbagi menjadi empat segmen. Setiap ombak yang melalui alat ini akan
menyebabkan tabung silinder tersebut bergerak secara vertikal maupun
lateral. Gerakan yang ditimbulkan akan mendorong piston diantara tiap
sambungan segmen yang selanjutnya memompa cairan hidrolik bertekanan
melalui sebuah motor untuk menggerakkan generator listrik. Supaya tidak
ikut terbawa arus, setiap tabung ditahan di dasar laut menggunakan jangkar

khusus.
Renewable Energy Holdings; ide mereka untuk menghasilkan listrik dari
tenaga ombak menggunakan peralatan yang dipasang di dasar laut dekat tepi
pantai sedikit mirip dengan Pelamis. Prinsipnya menggunakan gerakan naik
turun dari ombak untuk menggerakkan piston yang bergerak naik turun pula
di dalam sebuah silinder. Gerakan dari piston tersebut selanjutnya digunakan

untuk mendorong air laut guna memutar turbin.


SRI International; konsepnya menggunakan sejenis plastik khusus bernama
elastomer dielektrik yang bereaksi terhadap listrik. Ketika listrik dialirkan
melalui elastomer tersebut, elastomer akan meregang dan terkompresi

bergantian. Sebaliknya jika elastomer tersebut dikompresi atau diregangkan,


maka energi listrik pun timbul. Berdasarkan konsep tersebut idenya ialah
menghubungkan sebuah pelampung dengan elastomer yang terikat di dasar
laut. Ketika pelampung diombang-ambingkan oleh ombak, maka regangan

maupun tahanan yang dialami elastomer akan menghasilkan listrik.


BioPower Systems; perusahaan inovatif ini mengembangkan sirip-ekor-ikanhiu buatan dan rumput laut mekanik untuk menangkap energi dari ombak.
Idenya bermula dari pemikiran sederhana bahwa sistem yang berfungsi paling
baik di laut tentunya adalah sistem yang telah ada disana selama beribu-ribu
tahun lamanya. Ketika arus ombak menggoyang sirip ekor mekanik dari
samping ke samping sebuah kotak gir akan mengubah gerakan osilasi tersebut
menjadi gerakan searah yang menggerakkan sebuah generator magnetik.
Rumput laut mekaniknya pun bekerja dengan cara yang sama, yaitu dengan
menangkap arus ombak di permukaan laut dan menggunakan generator yang
serupa untuk merubah pergerakan laut menjadi listrik.
Dengan demikian, keuntungan yang didapat dari teknologi PLTO ini

antara lain, selain hemat biaya dari segi investasi maupun operasional, juga
bermanfaat bagi lingkungan hidup. PLTO tidak mengeluarkan limbah berupa
padat, cair, maupun gas seperti halnya pada PLTA, PLTO pun bisa dimanfaatkan
untuk membudidayakan ikan air laut. Sebab, pada bangunan reservoirnya banyak
sekali mengandung oksigen akibat gerakan air laut naik menuju reservoir
tersebut.
Ditanjau dari sudut wisata, PLTO Baron diharapkan semakin menambah
kashanah wisata ilmiah di lokasi tersebut. Dengan kata lain tidak tertutup

kemungkinan kalau Pantai Baron nantinya bisa menjadi objek wisata ilmiah, suatu
wisata yang menawarkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kekurangan dalam pemanfaatan energi ombak sebagai pembangkit
listrik ini adalah :
Bergantung pada ombak; kadang ombak tersebut dapat menjadi sumber
energi, kadang tidak, Perlu menemukan lokasi yang sesuai dimana ombaknya kuat
dan muncul secara konsisten. Akan tetapi jika kita memanfaatkan energi ini maka
kelebihan yang kita dapatkan adalah energi bisa diperoleh secara gratis, tidak
butuh bahan bakar, tidak menghasilkan limbah, mudah dioperasikan dan biaya
perawatan rendah, serta dapat menghasilkan energi dalam jumlah yang memadai.
Oleh karena itu mengingat potensi yang telah dmiliki oleh ombak begitu
besar, maka sebaiknya mulai sekarang kita perlu memanfaatkan energi ombak ini
sebagai pembangkit tenaga listrik guna memenuhi kebutuhan akan energy listrik
di hari mendatang, dengan mengembangkan model tersebut di seluruh pesisir
pantai Indonesia.
Energi tidal juga merupakan salah satu macam dari energi ombak.
Kelemahan energi ini diantaranya adalah membutuhkan alat konversi yang handal
yang mampu bertahan dengan kondisi lingkungan laut yang keras yang
disebabkan antara lain oleh tingginya tingkat korosi dan kuatnya arus laut.
Saat ini baru beberapa negara yang yang sudah melakukan penelitian
secara serius dalam bidang energi tidal, diantaranya Inggris dan Norwegia. Di
Norwegia, pengembangan energi ini dimotori oleh Statkraft, perusahaan
pembangkit listrik terbesar di negara tersebut. Statkraft bahkan memperkirakan
energi tidal akan menjadi sumber energi terbarukan yang siap masuk tahap

komersial berikutnya di Norwegia setelah energi hidro dan angin. Keterlibatan


perusahaan listrik besar seperti Statkraft mengindikasikan bahwa energi tidal
memang layak diperhitungkan baik secara teknologi maupun ekonomis sebagai
salah satu solusi pemenuhan kebutuhan energi dalam waktu dekat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahsan di atas, dapat disimpulkan bahwa :

1. Pembangkit listrik tenaga ombak adalah suatu pembangkitan energi


listrik yang merubah energi mekanik gelombang ombak menjadi energi
listrik.
2. Komponen dari pembangkit listrik tenaga ombak antara lain : piston
hidrolik, turbin, generator, submarine towers, pipa kabel bawah tanah,
gardu induk atau kendali, dan grid conection.
3. Secara mekanis, PLTO dikenal memakai teknologi OWC (Oscillating
Wave Column). Untuk OWC ini ada dua macam, yaitu OWC tidak
terapung dan OWC terapung. Prinsip kerjanya sama, hanya
peletakannya yang berbeda.
4. Kelebihan dari PLTO ini yaitu, energi yang digunakan dapat didapatkan
secara gratis,tidak menghasilkan limbah, dan lain-lain. Sedangkan
kekurangannya yaitu bergantung pada ombak (kadang dapat energi,
kadang pula tidak), perlu menemukan lokasi yang sesuai dimana
ombaknya kuat dan muncul secara konsisten serta membutuhkan alat
konversi yang handal yang mampu bertahan dengan kondisi lingkungan
laut yang keras yang disebabkan antara lain oleh tingginya tingkat
korosi dan kuatnya arus laut.
5. Di Indonesia sudah mulai dikembangkan Pembangkit Listrik Tenaga
Ombak (PLTO) yang berpusat di Yogyakarta. Di Dunia, Pembangkit
Listrik Tenaga Ombak (PLTO) pertama kali dibuat di Norwegia.

B. Saran
Saran yang dapat diberikan pada pembahasan ini adalah agar Indonesia
dapat lebih memanfaatkan ombak sehingga dapat menjadi sumber energi alternatif
untuk pembangkit listrik.

DAFTAR PUSTAKA
Khazaku.

2010.

Pembangkit

Listrik

Tenaga

Ombak

(online).

(http://khanzaku.wordpress.com/2010/01/23/pembangkit-listrik-tenaga-ombak,
diakses 24 Mei 2011).
(http://insinyurmuslim.blogspot.com/2013/05/pembangkit-listrik-tenagagelombang-laut.html). Diakses pada tanggal 04 Oktober 2014

Michael. 2011. Pembangkit Listrik Tenaga Ombak Pertama (online).


(http://michaelmewa.blogspot.com/2011/05/pembangkit-listrik-tenaga-ombakpertama.html, diakses 24 Mei 2011).
(http://listrikindonesia.com/pembangkit_listrik_tenaga_gelombang_laut_ta
npa_bahan_bakar_fosil__dan_ramah_lingkungan_70.htm). Diakses pada tanggal
04 Oktober 2014
Niken.

2009.

Pembangkit

Listrik

Tenaga

Ombak

(online).

(http://niken11.wordpress.com/2009/09/11/pembangkit-listrik-tenaga-ombak/,
dikses 24 Mei 2011).