Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

TINJAUAN UMUM PROYEK


1. 1

LATAR BELAKANG PROYEK

Untuk meningkatkan dan melancarkan aktifitas transportasi di wilayah RW 24


Komplek Permata Blok N, sangat dibutuhkan sarana dan prasarana Transportasi .
Adapun sarana dan prasarana yang dimaksud adalah salah satunya adalah
pembangunan berupa jalan utama di wilayah Blok N RW 24. Tanpa dukungan
tersebut akan sulit mencapai hasil yang maksimal.
Salah satu langkah kongkrit yang dilakukan oleh kepengurusan RW 24 melalui
bantuan dana dari Pemerintad Daerah Kabupaten Bandung Barat, untuk
mencapai tujuan tersebut adalah menyediakan sarana pendukung berupa Paket
Pembangunan Jalan Utama Blok N RW 24, Desa Tanimulya Kec. Ngamprah.
Dimana jalan ini dapat digunakan sebagai akses jalan utama yang dapat di
dalam antara Blok n dengan perumahan di sekelilingnya yaitu Blok M , Blok O
atau lebih luasnya antara jalan H.Ghofur dengan jalan di dalam Komple Permata
Cimahi.
1. 2

TUJUAN PROYEK
Untuk mempermudah akses transportasi warga masyarakat Blok N dengan wilayah

sekitarnya.
1. 3
1.3. 1

DATA PROYEK
Data Non Teknis Proyek

Nomor

: ....../............./12/2014

TANGGAL

: 17 Desember 2014

PEKERJAAN

: PEMBANGUNAN PEMBETONAN JALAN UTAMA BLOK N,RW.24

PEMILIK PROYEK

: RW 24 / PEMDA BANDUNG BARAT

LOKASI

: RW.24, DESA TANIMULYA, KEC. NGAMPRAH, KABUPATEN


BANDUNG BARAT

KONTRAKTOR

: PT. ............................

PELAKSANA

: PT. ..............................

DIREKTUR

: ......................................

ALAMAT

: ........................................

NILAI PROYEK

: Rp 51.470.000.000,-

1.3. 2

Data Teknis Proyek

Panjang rigid

: 115 M

Lebar rigid

:5M

Tebal rigid

: 12 cm

1.3. 3

Bagan Struktur Organisasi Proyek

PAKET PEKERJAAN PEMBETONAN JALAN UTAMA BLOK N (RW-24)


DESA TANIMULYA-KEC. NGAMPRAH
KAB.BANDUNG BARAT

KETUA RT 1
KETUA RT 2
KETUA RT 3
KETUA RT 4
KETUA RT 5

BENDAHARA

PEMDA KAB.
BANDUNG BARAT
(PEMBERI DANA)

CAMAT NGAMPRAH
KADES TANIMULYA

KETUA PELAKSANA
PEMBANGUNAN JALAN

KETUA RW 24

WAKIL KETUA
PELAKSANA

SEKRETARIS

PIMPINAN PROYEK
PEMBANGUNAN

PENGAWAS
PROYEK

KONTRAKTOR

Gambar 2.1 Bagan Struktur Organisasi

1. 4

ORGANISASI PROYEK

Proyek adalah suatu usaha yang mempuyai awal dan akhir dan dilaksanakan
untuk memenuhi tujuan yang sudah di tetapkan dalam biaya, jadwal dan sasaran
kualitas. Manajemen proyek yang menyatukan dan mengoptimumkan sumber
daya yang di perlukan untuk menyelesaikan proyek dengan baik. Sumber daya
ini mencakup : keterampilan, bakat, dan kerjasama tim, fasilitas, alat,
perlengkapan, informasi, sistem teknik serta keuangan.
Untuk melaksanakan suatu proyek yang besar maupun yang kecil diperlukan
suatu sistem organisasi yang mengelola dan mengontrol jalannya proyek.

Organisasi proyek tersebut harus memiliki badan hukum, sarana serta personil
yang dapat yang bekerja secara kolektif dan kualitatif agar mendapat hasil yang
baik.
Struktur organisasi pekerja merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan
dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
Sedapat dapatnya segala urusan didalam proyek dapat diselesaikan sebaik
baiknya,

jika

terdapat

perselisihan

atau

ketidakcocokan

pendapat

maka

dirundingkan secara kekeluargaan demi kelancaran proyek tersebut.


1.4.1

Pemilik Proyek

Pemilik proyek adalah pihak yang memiliki proyek, pada jalan dan area parkir
(service road) Bandar udara Kuala Namu. Pemilik proyek adalah Pemda Kab.
Bandung Barat cq. Warga RW 24.
1.4.2

Pemimpin Proyek

Pemimpin proyek adalah pimpinan proyek yang bertanggung jawab terhadap


proyek , dan dalam pelaksanaan tugasnya pimpinan proyek dibantu oleh staf
pemimpin bagian proyek
1.4.3

Perencana

Yang bertindak sebagai perencana pada proyek adalah konsultan perencana,


bertugas antara lain :
1.

Mengumpulkan data di lapangan, lingkungan dan penyelidikan tanah.

2.

Membuat gambar kerja dan perhitungan.

3.

Melaksanakan

pengadaan

dokumen

konstruksi

dan

memberikan

penjelasan pekerjaan pada waktu pelelangan.


4.

Memberikan penjelasan terhadap persoalan perencanaan yang timbul


selama tahap konstruksi.

5.

Melaksanakan pengawasan berkala selama proyek berlangsung.

6.

Membuat laporan umum perencanaan bangunan.

1.4.4

Konsultan Pengawas

Tugas dan kewajiban tim konsultan pengawas (supervisi) akan mencakup tetapi
tidak terbatas hal-hal sebagai berikut :
1.

Selama pelaksanaan pekerjaan konsultan pengawas harus melakukan


penilaian rencana kerja yang diusulkan oleh Kontraktor. Evaluasi dan
penilaian meliputi urut urutan, metode kerja, rencana alokasi waktu,
alokasi bahan/material, alokasi tenaga kerja dan peralatan kerja.

2.

Setelah diadakan koreksi dan masukan seperlunya, oleh Konsultan


Pengawas memberikan persetujuan rencana kerja yang diusulkan oleh
kontraktor.

3.

Konsultan Pengawas melakukan Supervisi dan pengendalian agar kerja


yang sudah disetujui bisa dilaksanakan pada saat pembangunan fisik.

4.

Supervisi dan pengendalian meliputi jumlah dan kualitas material/bahan,


peralatan, tenaga kerja dan jadwal pelaksanaannya. Khusus untuk Supervisi
bahan/material harus dipahami betul karakteristik dan metode Supervisi
dan pengujiannya seperti tertuang didalam persyaratan bahan/material
pada Rencana Kerja dan syarat-syarat pekerjaan pembangunan.

5.

Bersama-sama pelaksana fisik (Kontraktor) melakukan pengukuran dan


menyepakati hasil pekerjaan sesuai dengan yang tercantum didalam
Kontrak Pelaksanaan Fisik.

6.

Mencatat semua hasil pengukuran besaran/volume pekerjaan yang telah


diperlukan untuk pembayaran.

7.

Melaporkan kepada Pengguna Jasa/Pejabat Pembuat Komitmen Proyek


Pembangunan Jalan atas setiap persoalan yang timbul sehubungan dengan
Perjanjian dan memberikan pilihan/alternatif cara penyelesaian.

8.

Menelaah semua perhitungan pekerjaan tambah kurang (CCO) atau


perpanjangan waktu yang diajukan oleh Pelaksana Fisik dan memberikan
saran/pendapat kepada Pengguna Jasa/Pejabat Pembuat Komitmen Proyek
Pembangunan Jalan (Service Roada) Bandar Udara Cengkareng.

9.

Melaksakan pemeriksaan secara periodik terhadap bahan bahan


bangunan yang digunakan oleh Pelaksana Fisik, dan sesuai dengan
persyaratan teknis yang telah ditentukan dalam kontrak.

10. Konsultan Pengawas harus menolak bahan/material, peralatan dan tenaga


kerja yang tidak sesuai dengan ketentuan.
11. Melakukan pemeriksaan dan memberikan saran/pendapat atas pekerjaan
Pelaksanaan Fisik yang telah selesai secara lengkap untuk dapat dinyatakan
/diterima

baik

oleh

Pengguna

Jasa

(Pejabat

Pembuat

Komitmen)

Pembangunan Jalan.
12. Memeriksa dan menyetujui laporan-laporan yang dibuat oleh pelaksana
fisik/kontraktor antara lain yaitu :
13. Laporan harian pelaksana pekerjaan.
14. Gambar hasil pelaksanaan/asbuilt drawing, dan Membuat laporan
laporan:

1.
Membuat laporan bulanan
2.
Membuat laporan khusus (bila ada/dianggap perlu).
2.4..6. Kontraktor Pelaksana
Kontraktor pelaksana pada Pembangunan Jalan dan Area Parkir (Service Road) Bandar Udara Kuala
Namu adalah PT. DUTA AGUNG (Persero). Tugas dari kontraktor adalah melaksanakan pekerjaan
konstruksi. Pemilihan kontraktor pada proyek ini melalui proses pelelangan. Penting dalam hal ini
kontraktor harus menyadari berapa besar pekerjaanya.
Adapun susunan organsasi PT. DUTA AGUNG pada proyek ini terdiri dari :
Direktur Utama

Tugas tugas dan wewenang Direktur Utama dari perusahaan yang di pimpinnya adalah sebagai
berikut :
Mengkoordinir kegiatan kantor
Bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan proyek
Mengadakan kegiatan evaluasi kegiatan proyek
Koordinator Lapangan

Adapun tugas koordinator lapangan adalah sebagai berikut ;


Mengkoordinir kegiatan proyek di lapangan
Mengkontrol gambar pelaksana perhitungan konstruksi atas persetujuan pemilik proyek.
Menghitung pekejaan tambah kurang
Mengadakan pengukuran dan pengujiaan hasil pekerjaan.
Pelaksana

Adapun tugas pelaksana antara lain :


Bertanggung jawab terhadap koordinator lapangan
Bertanggung jawab atas kelancaran pekerjaan yang menjadi kewajibannya
Membuat surat perintah mandor
Memberikan perintah kepada pembantu pelaksana
Mengisi catatan cuaca dan laporan harian
Mengatur pekerjaan sesuai gambar rencana, metode metode serta spesifikasi
Menjelaskan teknik- teknik pelaksanaan kepada tenaga kerja (buruh yang diberikan melalui

mandor)
Mengusahakan penggunaan peralatan kerja seefektif mungkin
Tenaga bagian logistik

Adapun tugas dari tenaga bagian logistik adalah sebagai berikut :


Membuat jadwal pengadaan bahan dan peralatan.
Melakukan survey dan memberikan informasi kepada manager proyek sesuai jadwal

pengadaan bahan.
Melaksanakan administrasi pemesan dan pengiriman bahan diproyek.
Memahami prosedur dan pelaksanaan penyimpanan bahan.
Penyediaan perlengkapan dan peralatan proyek.
Tenaga bagian gudang

Adapun tugas dari tenaga bagian gudang adalah membantu tenaga bagian logistik melakukan hal
sebagai berikut :
Menguasai arus masuk dan keluar material dan barang.
Menyiapkan berita acara permintaan barang dan sesuai dengan penggunaan.
Mengatur penempatan barang di gudang.
Tenaga bagian keuangan

Adapun tugas dari tenaga bagian keuangan adalah menyusun dan membuat laporan tentang
keuangan proyek sesuai dengan instruksi direktur utama.
Tenaga bagian gambar

Adapun tugas dari tenaga bagian gambar adalah sebagai berikut :


Mendetail gambar proyek yang belum jelas.
Menyiapkan gambar pelaksanaan di lapangan.
Membuat gambar revisi jika ada perusahaan gambar kerja.
Mandor

Adapun tugas dari mandor adalah melakukan pekerjaan konstruksi sesuai dengan instruksi pelaksana
dan persetujuan pengawas.
Tenaga bagian adminstrasi

Adapun tugas dari tenaga bagian administrasi adalah sebagai berikut :


Mencatat, menyimpan dan mengelolah segala dokumen yang berkaitan dengan kegiatan

diproyek.
Mengelola kegiatan di proyek terutama menyangkut pelaksanaan di lapangan dan dokumen
pelaksanaan lainnya yang penting.
2.4..7. Hubungan Kerja Antara Organisasi Proyek

1.

1.

1.

1) Kedudukan Masing-Masing Pihak Secara Teknis


Perencanaan
Perencanaan bertugas membantu pengelolaan proyek untuk pengadaan dokumen perancangan,
dokumen lelang, dokumen pelaksanaan konstruksi serta memberikan penjelasan terhadap persoalanpersoalan perancangan yang timbul selama tahap konstruksi serta bertanggung jawab kepada pemilik
proyek.
Kontraktor Perencana
Perusahaan yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk melaksanakan pekerjaan pemborong,
konstruksi fisik, serta bertanggung jawab secara konstruktual dalam bentuk kontrak kepada pemilik
proyek.
Konsultan Pengawas
Konsultan pengawas membantu mengelola proyek untuk melaksanakan pengawasan pada tahap
konstruksi serta bertanggung jawab secara konstruktual kepada pemilik proyek.
2) Kedudukan Masing-Masing Pihak Secara Hukum
Kedudukan masing-masing pihak secara hukum dimaksudkan bahwa pemilik proyek langsung
membawahi kontraktor pelaksana. Artinya pelaksana langsung bertanggung jawab atas hasil
pekerjaan kepada pemilik proyek. Sedangkan konsultan perencana dan konsultan pengawas secara
hukum tidak bertanggung jawab kepada pihak pemilik proyek.
2.5. RENCANA KERJA
Pelaksanaan pembangunan suatu proyek agar dapat berjalan dengan lancar, mudah dikontrol dan
dapat selesai tepat pada waktu yang telah ditentukan. Maka perlu diperlukan pembagiaan waktu pada
setiap tahapan pelaksanaan pekerjaan dan rencana kerja (Network Planning) yang biasa disebut
Time Schedule.
Melalui time schedule pelaksanaan suatu proyek yang sedang berlangsung dapat dikontrol sampai
berapa jauh kemajuan pelaksanaannya, prestasi dari pada pekeja, sehingga pengaruh untung rugi
terhadap perusahaan dalam melaksanakan proyek tersebut dapat dikontrol dan untuk mengajukan
permohonan anggaran sesuai dengan kontrak kerja.

1.

1.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

1.

1.

1.

1.

Time Schedule dibuat kontraktor selaku pelaksana, sesuai dengan jangka waktu pelaksanaan yang
ditentukan oleh pemilik, kemudian harus disahkan oleh pimpinan proyek (pihak pemilik) dari pihak
kontraktor.
Rencana kerja atau Time Schedule yang dibuat kontraktor meliputi rencana kerja induk (master
plann) , rencana kerja hariaan, mingguan, serta bulanan.
Rencana Kerja Induk
Rencana kerja induk harus diserahkan kontraktor selambat lambatnya 4 (empat) hari setelah
dikeluarkan surat perintah mulai kerja (SPMK). Rencana kerja ini merupakan program kerja
kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan.
Rencana Kerja Harian, Mingguan, Serta Bulanan
Rencana kerja harian yang diserahkan kontraktor kepada konsultan pengawas selambat lambatnya
sore hari, yang berisi rencana kerja pelaksanaan pekerjaan yang akan dikerjakan untuk esok hari.
Rencana kerja mingguan yang diserahkan kontraktor kepada konsultan pengawas selambat
lambatnya setiap akhir minggu, yang berisi rencana kerja pelaksanaan pekerjaan yang akan
dikerjakan untuk minggu berikutnya.
Rencana kerja bulanan yang diserahkan kontraktor kepada konsultan pengawas selambat
lambatnya pada hari terakhir tiap bulan, yang berisi rencana kerja pelaksanaan pekerjaan yang akan
dikerjakan untuk bulan berikutnya.
Pembuatan rencana kerja yang baik harus didasarkan pada data data sebagai berikut :
Daftar volume pekerjaan
Rencana kerja dan syarat syarat
Jenis dan macam pekerja
Spesifikasi peralatan dan bahan bangunan
Keadaan lapangan
Waktu pelaksanaan yang tersedia
Biaya yang direncanakan dan yang tersedia
Hal hal yang perlu diperhatikan adalah gambar kerja, sifat konstruksi bangunan, kelangsungan
ataupun kontinuitas pelaksanaan pekerjaan.
2.6. TENAGA KERJA
Tenaga kerja merupakan unsur penting pada pelaksanaan pekerjaan dilapangan. Tenaga kerja yang
terlibat pada proyek pembangunan jalan dan area parkir (service road) Bandar Kuala Namu menurut
statusnya terbagi atas :
Tenaga kerja tetap
Adalah tenaga kerja yang dipakai oleh perusahaan baik selama ada proyek maupun tidak ada proyek.
Tenaga kerja tetap disini adalah tenaga kerja atau karyawan PT. DUTA AGUNG, (Persero).
Tenaga kerja harian
Adalah tenaga kerja yang bekerja berdasarkan kebutuhan jumlah pekerja pada proyek ini. Tenaga
kerja harian ini jumlahnya sewaktu waktu dapat ditambah atau dikurangi sesuai volume pekerjaan
yang dilaksanakan.
Tenaga kerja kontrak
Adalah karyawan yang bersifat kontrak selama pelaksanaan pekerjaan proyek ini. Jika telah selesai
maka dengan sendirinya karyawan ini diberhentikan dari perusahaan kecuali jika masih dibutuhkan.
Sedangkan tenaga kerja yang ditinjau menurut keahliaannya dapat dibagi atas :
Tenaga kerja ahli
Yaitu tenaga kerja dengan tingkat pendidikan minimal sarjana muda dengan pengalaman pada
proyek serupa minimal 2 (dua) tahun.

1.

1.

Tenaga kerja menengah


Yaitu tenaga kerja yang berpendidikan sekolah kejuruan atau sekolah menengah atas dengan
pengalaman pada proyek serupa minimal 3 (tiga) tahun.
Tenaga pekerja
Seluruh tenaga kerja yang melaksanakan pekerjaan secara langsng sesuai dengan perintah atasannya.

BAB III
PERALATAN DAN MATERIAL
3.1. PELAKSANAAN PEKERJAAN PERSIAPAN
Sebelum pekerjaan proyek dilaksanakan terlebih dahulu harus mengadakan persiapan persiapan
sebagai langkah awal, antara lain :
1.
Untuk mempermudah pengangkutan bahan bahan bangunan ke lokasi proyek, maka
kontraktor mempersiapkan jalan atau pintu masuknya transportasi ke lokasi proyek.
2.
Sebelum melakukan pekerjaan fisik terlebih dahulu dilakukan pembersihan lahan.
3.
Untuk keperluaan pelaksanaan pekerjaan, kontraktor menyediakan kantor dilapangan,
gudang penyimpanan bahan dan peralatan kerja serta los kerja untuk pengerjaan bahan bahan.
4.
Ijin mendirikan bangunan secara administrasi akan di urus oleh pimpinan proyek, tetapi
seluruh biaya izin merupakan tanggungan kontraktor.
3.2. BAHAN DAN ALAT KERJA
3.2.1. Bahan
Bahan atau material yang dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan rigid pada proyek
pembangunan jalan dan areal parkir (service road) Bandar Udara Kuala Namu didatangkan dari
beberapa perusahaan pengelola bahan yang telah disetujui oleh pihak pimilik proyek, dalam hal ini
PT. Angkasa Pura II (Persero). Adapun perusahaan pengelola bahan antara lain :
a) Untuk beton K-350 dan K-125 diperoleh dari :
Batching plant PT. Kraton
Batching plant PT. USI (Unggul Sejati Indonesia)
Batching plant PT. Sukses Beton
b)
Untuk besi beton, diperoleh dari :
PT. Putera Baja Deli
PT. Growth Sumatera
1.
Semen
Semen yang dipakai dalam pembangunan harus Portland Cemen (PC), yang dalam segala hal harus
sesusai denga persyaratan yang telah disyahkan Dewan Normalisasi Indonesia (NI-8), antara lain
yang menyebutkan bahwa kantongan semen tidak boleh ada yang rusak. Semen tidak boleh membatu
dan berat atau volume semen tidak boleh kurang dari ketentuan-ketentuan yang sudah ada.
Pada proyek ini di gunakan semen produksi dalam negri yaitu semen padang. Pemakaian semen tiap
campuran dapat ditentukan menurut ukuran yang sesuai dalam gambar rencana. Untuk menjamin
kualitas semen, perlu dilakuakan beberapa hal sebagai berikut:

a) Semen harus ditempatkan dalam gudang tertutup.


b) Semen tidak boleh di campur dengan bahan bahan yang lain lain.
c) Supaya kering , maka tempat penyimpanan harus di berikan alas.
d) Untuk semen yang tersimpan lama dan diragukan mutunya, maka penggunaannya harus
persetujuaan pengawas.
B.Pasir
Pasir yang digunakan untuk campuran beton jika dilihat dari sumbernya dapat berasal dari sungai
ataupun dari galian tambang (quarry). Agregat yang berasal dari tanah galian yaitu tanah yang
dibuka lapisan penutupnya (pre-striping), biasanya berbentuk tajam, bersudut, berpori dan bebas
dari kandungan garam. Pada kasus tertentu, agregat yang terletak pada lapisan yang paling atas harus
dicuci terlebih dahulu sebelum digunakan.
Menurut SII.0052 pasir (agregat halus) hasrus memenuhi syarat sebagai berikut :
a) Modulus halus butir 1,5 sampai 3,8.
b) Kadar lumpur atau bagian yang lebih kecil dari 70 mikron (0,074 mm) maksimum 5%.
c)
Kadar zat organic yang terkandung yang ditentukan dengan mencampur agregat halus dengan
larutan natrium sulfat (NaSO4) 3 %, jika dibandingkan dengan warna standar/pembanding tidak lebih
tua dari pada warna standar.

1.

d) Kekerasan butiran jika dibandingkan dengn kekerasan butiran pasir pembanding yang berasal
dari pasir kwarsa Bangka memberikan angka tidak lebih dari 2,20.
e)
Kekekalan (jika diuji dengan natrium sulfat bagian yang hancur maksimum 10%, dan jika
dipakai magnesium sulfat, maksimum 15%)
Kerikil dan Batu Pecah
Batu pecah merupakan hasil pengolahan batu dengan stone crusher. Butiran yang dihasilkan
berbentuk tajam sehingga dapat memperkuat mortar. Batu pecah lebih sering digunakan untuk
pekerjaan structural. Ukuran yang paling dikenal dalam pekerjaan beton adalah ukuran 10/20 dan
20/30.
Kerikil adalah bahan agregat kasar yang dalam proyek ini harus memenuhi standar Agregat Normal
Menurut SII. 0052 (Teknologi Beton, Ir. Tri Mulyono, MT).
a) Modulus halus butir 6.0 sampai 7.1
b) Kadar lumpur atau bagaian yang lebih kecil dari 70 mikron (0.074 mm) maksimum 1%.
c) Kadar bagian yang lemah jika diuji dengan goresan batang tembaga maksimum 5%.
d) Kekekalan jika diuji dengan natrium sulfat bagian yang hancur maksimum 12%, dan jika dipakai
magnesium sulafat bagian yang hancur maksimum 18%.
e) Tidak bersifat reaktif terhadap alkali jika kadar alkali dalam semen sebagai Na 2O lebih besardari
0,6%.
f)
Tidak mengadung butiran yang panajang dan pipih lebih dari 20%.
g) Kekasaran agregat harus memenuhi syarat sepereti tabel 3.1 di bawah.
Tabel 3.1 Syarat Mutu Kekuatan Agregat Sesuai SII.0052-80
Kekerasan dengan bejana Rudelloff, bagian
hancur menembus ayakan 2 mm, persen (%) Kekerasan dengan
maksimum
bejana geser Los
Kelas dan Mutu Beton

Angelos,

Bagian hancur menembus ayakan 1,7 mm,


% makasimum
(1)
(2)

(3)
(4)
Beton Kelas I dan mutu B0 dan B1
Beton Kelas II dan mutu K.125, K.175 dan K.225
Beton Kelas III dan mutu > K.225 atau beton pratekan
22-30
14-22
Kurang dari
14
24-32
16-24
Kurang dari
16
40-50
27-40
Kurang dari
27
1.

1.

Sumber : Tabel 4.4 Teknologi Beton, Ir. Try Mulyono, MT


Air
Air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih, tidak boleh mengandung minyak, asam,
alkali, zat organis atau bahan lainnyayang dapat merusak beton atau tulangan. Sebaiknya dipakai air
tawar yang dapat diminum. Air yang digunakan dalam pembuatan beton pratekan dan beton yang
akan ditanami logam almunium (termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat) tidak boleh
mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan (ACI 318-89:2-2). Untuk perlindungan
terhadap korosi, konsentrasi ion klorida maksimum yang terdapat dalam beton yang telah mengeras
pada umur 28 hari yang dihasilkan dari bahan campuran termasuk air, agregat, bahan bersemen dan
bahan campuran tambahan tidak boleh melampaui nilai batas yang diberikan pada tabel 3.2.
Tabel 3.2 Batas Maksimum Ion Klorida
Jenis Beton
Batas (%)
Beton Pra-tekan
Beton bertulang yang selamanya berhubungan dengan klorida.
Beton bertulang yang selamanya kering atau terlindung dari basah.
Konstruksi beton bertulang lainnya.
0,06
0,15
1,00
0,30
Sumber : Tabel 3.2 Teknologi Beton, Ir. Try Mulyono, MT
Baja Tulangan
Setiap jenis besi tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai. Pada
umumnya setiap pabrik baja mempunyai standart mutu dan jenis baja, sesuai dengan yang berlaku
dinegara yang bersangkutan, namun demikian, umumnya baja tulangan yang terdapat di pasaran
Indonesia dapat dibagi dalam mutu-mutu tercantum dalam tabel.
Tabel 3.3 Mutu Baja Tulang

Mutu
U 22
U 24
U 32
U 39
U 48

Sebutan
Baja lunak
Baja lunak
Baja sedang
Baja keras
Baja keras

Tegangan leleh karakteristik (sau) atau tegangan


karakteristik yang memberikan regangan teteap
0.2% (s 0.2%) ( kg/cm2)
2.200
2.400
3.200
3.900
4.800

Sumber: Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971. N.I. 2.


Baja tulangan tidak boleh di tumpuk langsung diatas tanah, tapi harus di tinggikan dengan
menggunakan ganjal/balok. Penumpukan ditempat yang terbuka untuk jangka waktu yang lama
harus dihindarkan.
Baja tulangan yang yang digunakan harus bebas dari kotoran karat, miyak, cat serta bahan lain yang
dapat mengurangi daya lekat beton terhadap baja. Diameter baja yang digunakan harus sesuai dengan
diameter baja yang direncanakan dalam gambar bestek.
1.

1.

1.

1.
1.
1.

Kawat Pengikat Tulangan


Kawat Pengikat tulangan ini terbuat dari besi yuang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak
tersepuh seng. Kawat yang digunakan harus bersih dari kotoran karat, miyak dan cat sertra bahan lain
yang dapat mengurangi daya lekat terhadap beton.
3.2.2. Alat Kerja
Untuk memperlancar pelaksanaan pekerja di lapangan, tentu tidak lepas dari penyediaan alat alat
pekerjaan. Dalam Proyek ini digunakan alat alat kerja antara lain :
Concrete Mixer ( Molen )
Untuk mengadukkan beton harus menggunakan alat pengaduk concrete mixer. Pada proyek ini
menggunakan beton dengan mutu K-350 untuk pengecoran rigid dan beton dengan mutu K-125
untuk pengecoran lean concrete. Karena keterbatasan alat, dan beton yang dibutuhkan dalam jumlah
besar maka perusahaan yang bersangkutan memilih untuk membeli beton siap pakai (yang telah
diaduk) dari beberapa perusahaan pengelola beton yang juga berada dalam lokasi Proyek Bandara
Kuala Namu.
Truck dan Grobak Dorong
Alat ini digunakan untuk mengangkut bahan bahan seperti pasir, batu, besi atau baja, baut serta
bahan bahan lain yang diperlukan untuk berada disekitar lokasi sesuai dengan kapasitas dan
kemampuaannya.
Alat Pemotong Besi
Alat ini digunakan untuk memotong besi tulangan sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan.
Alat pembengkok Besi Tulangan
Alat ini digunakan untuk membengkokkan besi tulangan sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan.
Vibrator Roller
Untuk mencegahnya timbulnya rongga-rongga kosong pada adukan beton, maka adukan beton harus
dipadatkan. Pemadatan dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu :
1) Merojok dan menumpuk atau memukul mukul cetakan dengan besi atau kayu (non mekanis)
2) Memadatkan dengan cara mekanis yaitu Vibrator.
Bila pemadatan menggunakan vibrator, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1.

1.

Jarum penggetar harus dimasukkan ke dalam adukan beton secara vertikal pada keadaan
khusus boleh dimiringkan sampai 450.
Selama penggetaran, jarum tidak boleh digerakkan ke arah horizontal, karena akan
menyebabkan pemisahan bahan.
Jarum penggetar tidak boleh bersentuhan dengan tulangan beton, untuk menjaga agar
tulangan tidak bergeser dari betonnya.
Untuk beton tebal penggetaran dilakukan berlapis-lapis dan setiap lapis 30 cm sampai 50cm.
Jarum pengetar di tarik secara pelan-pelan, bila adukan beton sudah nampak mengkilat (air
semen memisah dari agregat) alat penggetar ditarik.
Jarak antara pemasukan jarum penggetar harus dipilih sehingga daerah-daerahnya saling
menutupi.
Mesin Pompa.
Alat ini digunakan untuk menghisap sisa air pada pipa baja dan mengurangi kelebihan air pada tapak
pilar sebelum pengecoran.
Waterpass
Digunakan untuk mengukur elevasi tanah untuk dapat melakukan pekerjaan pengecoran lean
concrete sebelum pengecoran rigid dilakukan.

1.

Escafator
Setelah dilakukan pengukuran elevasi dengan menggunakan waterpass, maka dilakukan pengerukan,
penimbunan dan meratakan tanah dengan menggunakan escafator.
1.
Paku
2.
Tali
3.
Martil
4.
Slang
5.
Sendok spesi

BAB IV
PEKERJAAN STRUKTUR

4.1. PENDAHULUAN
Sebelum pekerjaan struktur dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan persiapan struktur, Hal ini
dimaksudkan agar pelaksanaan pembangunan proyek dapat berjalan sesuai dengan rencana kerja
yang berpedoman kepada perturann refrensi dan standar yang berlaku. Pekerjaan struktur tersebut
meliputi pekerjaan pembesian dan pengerjaan pengecoran.
Perkerasan jalan atau lebih sering disebut perkerasan kaku (rigid pavement) terdiri dari plat beton
semen portland dan lapisan pondasi (bisa juga tanpa lapisan pondasi) di atas tanah dasar/timbunan.
Tahapan pekerjaan rigid K-350 sesuai urutannya adalah sebagai berikut, pengukuran (penentuan)
elevasi, pemasangan bekisting/besi, penghamparan concrete pavement, perawatan beton/curring,
pembuatan celah dengan saw cutter, dan diakhiri dengan pekerjaan joint sealant.
Gambar 4.1.1. Tipikal Struktur Perkerasan Kaku (Rigid Pavement)
4.2. PENGUKURAN/PENENTUAN ELEVASI
Pekerjaan pengukuran (penentuan elevasi) adalah pekerjaan awal setelah pekerjaan pembersihan
lahan. Penentuan elevasi dilakukan dengan menggunakan alat waterpass, penentuan elevasi
dimaksudkan agar dapat memperoleh ketinggian yang direncanakan.

4.3. PEKERJAAN BEKISTING (BEKISTING PLAT BAJA)


Dalam pelaksanaan pembangunan, beton membutuhkan suatu bekisting baik untuk mendapatkan
bentuk yang direncanakan maupun untuk pengerasannya. Walaupun bekisting sebagai alat Bantu
sementara, tetapi bekisting memegang peran penting. Hal ini yang perlu diperhatikan dalam
membuat bekisting antara lain :
Bekisting diperlukan untuk dipasang di sisi arah shoulder, setinggi tebal rigid yang akan dicor

atau setinggi 27 cm yang nantinya akan berguna juga untuk pengukuran elevasi tinggi pengecoran
rigid.
Pemasangan bekisting disesuaikan dengan modul/blok rigid yang akan dilaksanakan, sebagai

contoh untuk jalur poros ruang A1 dan A2 akan dilakukan dengan cara membagi dua lebar jalan (2 x
3,5 m) dengan blok 5 m.
Pemasangan bekisting untuk pengecoran tahap pertama dipasang pada sisi luar jalan dan sisi

tengah, untuk pengecoran tahap selanjutnya pemasangan bekisting hanya untuk bagian tepi luar.
Pemasangan bekisting harus sudah mengikuti level yang direncanakan terutama untuk tahap
pertama setting elevasi bekisting sisi luar dan sisi dalam harus mengikuti sloope kemiringan
melintang jalan yang direncanakan (2%), dengan menggunakan alt ukur (theodolit/total station)
4.4. PEKERJAAN PEMBESIAN
Pelaksanaan pekerjaan pembesian pada proyek pembangunan jalan dan areal parkir bandar udara
Kuala Namu meliputi pembesian dowel dan tie bar, tahap tahap pekerjaannya ialah :
a)
Pemasangan dowel per 5 m pada arah melintang jalan (TJ-1) dengan tulangan diameter 32 mm
polos dimana bagian ujungnya searah jalan yang digunakan dilumasi dengan pelumas (gemuk) dan
dibungkus dengan us plastic.
b) Pada arah memanjang dipasang tulangan tepi (TP) pada bagian kiri dan kanan jalan dan bagian
tengahnya/as jalan dipasang tie bar/longitudinal joint (LJ-2)
c) Untuk mengantisipasi pengembangan/penyusutan arah memanjang dipasang penulangan untuk
construction joint (TJ-2)
d) Pemotongan dan fabrikasi dilaksanakan di workshop dengan membuat masing masing modul
penulangan dan dipasang di atas lean concrete apabila akan dilaksanakan tahapan pengecoran rigid.

e)
Agar posisi penulangan kokoh tidak bergerak maka pada posisi tertentu diangkur pada lean
concrete dengan menggunakan besi berdiameter 10 mm.

Gambar 4.4.1 Detail Arrangement Dowel D-32 Untuk rigid Pavement


Sumber : Gambar Rencana Pembesian Rigid Pavement Proyek Pembangunan Jalan dan Area
Parkir Bandar Udara Kuala Namu Sumatera Utara.

Gambar 4.4.2 Longitudinal Keyed Abutting Joint (LJ-1)


Sumber : Gambar Rencana Pembesian Rigid Pavement Proyek Pembangunan Jalan dan Area
Parkir Bandar Udara Kuala Namu Sumatera Utara.

Gambar 4.4.3 Longitudinal Dummy Joint (LJ-2)


Sumber : Gambar Rencana Pembesian Rigid Pavement Proyek Pembangunan Jalan dan Area
Parkir Bandar Udara Kuala Namu Sumatera Utara.

Gambar 4.4.4 Constraction Joint Melintang (TJ-1)


Sumber : Gambar Rencana Pembesian Rigid Pavement Proyek Pembangunan Jalan dan Area
Parkir Bandar Udara Kuala Namu Sumatera Utara.

Gambar 4.4.5 Expantion Joint Melintang


Sumber : Gambar Rencana Pembesian Rigid Pavement Proyek Pembangunan Jalan dan Area
Parkir Bandar Udara Kuala Namu Sumatera Utara

Gambar 4.4.6 Penulangan Tepi (TP)

Sumber : Gambar Rencana Pembesian Rigid Pavement Proyek Pembangunan Jalan dan Area
Parkir Bandar Udara Kuala Namu Sumatera Utara

Gambar 4.4.7 Metode Perkuatan Dowel dan Tie Bar


Sumber : Gambar Rencana Pembesian Rigid Pavement Proyek Pembangunan Jalan dan Area
Parkir Bandar Udara Kuala Namu Sumatera Utara.

1.

4.5. PEKERJAAN PENGECORAN


Pengerjaan pengecoran dilakukan dalam dua bagian yang masing masing bagian mempunyai
tahapan tersendiri.
4.
4.1.
4.2.
4.3.
4.4.
4.5.
4.5.1. Pekerjaan Pengecoran Lean Concrete (Lantai Kerja)
Lantai kerja dicor di atas tanah yang telah ditimbun/digali berdasarkan elevasi yang telah
direncanakan. Setelah pekerjaan timbun/gali selesai akan dilanjutkan dengan pekerjaan Lean
Concrete (lantai kerja) setebal 10 cm dengan beton K-125. Pekerjaan ini memerlukan ketelitian dalam
hal kerataan dan elevasi harus diperhatikan. Lean concrete akan menentukan kualitas pekerjaan
beton rigid diatasnya.
Material lean concrete akan disuplai dari baching plant dalam bentuk ready mix yang diangkut ke
lapangan dengan menggunakan truck mixer dan pekerjaan penghamparannya akan dilakukan dengan
menggunakan tenaga manusia (pekerja). Untuk menjaga kerataan disiapkan Straight Edge agar tidak
ada gelombang.
4.5.2. Pengecoran Rigid Pavement (Perkerasan Rigid)
Perkerasan kaku adalah perkerasan yang menggunakan semen sebagai bahan pengikat. Beton dengan
tulangan atau tanpa tulangan diletakkan di atas lapis pondasi bawah atau langsung di atas tanah
dasar yang sudah disiapkan, dengan atau tanpa lapisan aspal sebagai lapis permukaan. Kekuatan
perkerasan kaku ditentukan oleh kekuatan lapisan beton itu sendiri, sedangkan kekuatan tanah dasar
tidak begitu menentukan. Kekuatan pelat beton yang tinggi dapat memikul sebagian besar beban lalu
lintas sehingga pengaruh pada daya dukung tanah dasar kecil. Gambar distribusi beban pada
perkerasan kaku terdapat pada Gambar 4.5.2.1 Karena kekakuan pelat beton yang relatif tinggi

sehingga dapat menyebarkan beban pada bidang yang luas. Tegangan yang timbul pada lapis pondasi
bawah relatif kecil karena beban telah disebarkan oleh pelat beton.
Gambar 4.5.2.1 Distribusi Beban Pada Perkerasan kaku
Untuk menghindari terjadinya segregasi dan bleeding, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam penuangan beton. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Campuran yang akan dituangkan harus ditempatkan sedekat mungkin dengan cetakan akhir

untuk mencegah segregasi karena penanganan kembali atau pengaliran adukan.


Pembetonan harus dilaksanakan dengan kecepatan penuangan yang diatur sedemikian rupa

sehingga campuran beton selalu dalam keadaan plastis dan dapat mengalir dengan mudah ke dalam
rongga di antara tulangan.
Campuran beton yang telah mengeras atau yang telah terkotori oleh material asing tidak

boleh dituang ke dalam struktur.


Campuran beton yang setengah mengeras atau telah mengalami penambahan air tidak boleh

dituangkan, kecuali telah disetujui oleh pengawas ahli.


Setelah penuangan campuran beton dimulai, pelaksanaan harus dilakukan tanpa henti hingga
diselesaikan penuangan suatu panel atau penampang, yang dibentuk oleh batas-batas elemennya atau
batas penghentian penuangan yang ditentukan, kecuali diizinkan atau dilarang dalam pelaksanaan

siar pelaksanaan (construction joint).


Permukaan atas dari acuan yang diangkat secara vertical pada umumnya harus terisi rata

dengan campuran beton.


Sama halnya dengan lean concrete, pengecoran beton kaku K-350 dilakukan dengan tenaga manusia
dan material beton rigid disuplai dari baching plant dalam bentuk ready mix yang diangkut ke
lapangan dengan menggunakan truck mixer dan dicor setebal 25 cm yang diletakkan di atas lean
concrete yang sebelumnya telah dipasang penulangan.
4.5.3. Pemadatan.
Apabila spesi beton dituang dalam bekisting maka diantara dinding dan spesi beton didalam
campuran spesi beton sendiri terdapat banyak udara. Ruang kosong ini sangat merugikan bagi
kualitas beton. Karnanya spesi beton yang baru dicor harus dipadatkan.
Metode pemadatan beton rigid yang dilaksanakan pada proyek ini adalah pemadatan mekanis yaitu
dengan menggunakan vibrator. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian vibrator adalah :
Pada tempat tempat yang dekat jaraknya dilakukan dengan waktu getar yang pendek tidak

boleh lebih dari 5 detik untuk satu titik.


Masukkan alat penggetar dengan arah tegak lurus.
Bila tampak permukaan agak licin, tarik perlahan lahan sehingga lubang yang ditinggalkan

akan menutup dengan sendirinya.


Jangan sampai menggetarkan konstruksi tulangan.
Hindarkan singgungan alat penggetar dengan bekisting.

4.5.4. Pembongkaran bekisting


Pada prinsipnya pembongkaran bekisting dilakukan dengan ketentuan ketentuan yang terdapat
dalam peraturan PBI-1971. Adapun ketentuan ketentuannya adalah sebagai berikut :
Untuk bekisting bagian struktur hanya boleh dibongkar setelah mencapai kekuatan yang

cukup untuk memikul berat sendiri dan beban beban pelaksanaan yang bekerja padanya selama
pembangunan. Cetakan dapat dibongkar setelah beton berumur 3 minggu atau menurut ketentuan
lain.
Bekisting harus tetap dipasang selama paling sedikit 8 jam setelah penghamparan beton.
Setelah acuan dibongkar, permukaan beton yang terbuka harus segera dirawat.

4.5.5. Perawatan Beton (Curing)


Setelah pengecoran beton selesai, beton perlu dirawat agar mutu beton tidak berubah atau berkurang.
Perawatan beton dimaksudkan untuk mencegah pengerasan bidang bidang beton secara mendadak
akibat terik matahari. Pengerasan mendadak dapat menimbulkan retak retak pada permukaan
beton, karena beton belum meningkat secara sempurna.
Beton yang telah dicor harus dicurring dengan Curring Compound eks. Fosroc segera setelah
pekerjaan pembuatan alur (grooving) dilaksanakan, untuk menjaga kelembapan air sering digunakan
karung goni atau geoteksil non wovan dan disiram berulang ulang dan karung harus selalu dalam
kondisi basah. Proses curring ini dilakukan sampai kekuatan beton memenuhi syarat penelitian
laboratorium yang biasanya sampai 7 hari setelah pengecoran.
Adapun cara perawatan beton adalah :
Beton yang belum kering / harus dilindungi dari aliran air dan peralatan yang merusak beton.
Beton harus dilindungi dari pengaruh panas langsung, sehingga tidak terjadi penguapan yang

terlalu cepat.
Beton harus dilindungi dari hujan yang bisa merusak ikatan beton.
4.5.6. Pengendalian Mutu Di Lapangan
Pengujian Untuk Kelecakan (Workability)

Satu atau lebih pengujian slump, harus dilaksanakan pada setiap takaran beton yang dihasilkan.
Pengujian Kuat Tekan
Kontraktor harus melaksanakan tidak kurang dari 1 pengujian kuat tekan untuk setiap 60 m 3 beton
yang dicor. Setiap pengujian harus termasuk 3 contoh yang identik untuk diuji pada umur 3, 7 dan 28
hari. Tetapi bila jumlah beton yang dicor dalam satu hari memberikan kurang dari 5 contoh untuk
diuji, maka contoh-contoh harus diambil dari 5 takaran yang dipilih secara acak. Contoh pertama dari
contoh-contoh ini harus diuji pada umur 3 hari disusul dua oleh pengujian lebih lanjut pada umur 7
dan 28 hari.
Pengujian Tambahan
Kontraktor harus melaksanakan pengujian tambahan yang diperlukan untuk menentukan mutu
bahan atau campuran atau pekerjaan beton akhir, pengujian tambahan tersebut meliputi :
Pengujian yang tidak merusak menggunakan sclerometer atau perangkat penguji lainnya.
Pengambilan dan pengujian benda uji inti (core) beton.
Pengujian lainnya sebagaimana ditentukan secara khusus.

4.5.7. Pemasangan dilatasi


Dilatasi dilakukan setiap 5 meter dengan memakai alat potong concrete cutter yang kemudian
disealant eks fosroc. Sebelum disealant atau sering disebut penyegelan permanent, maka lubang
lubang yang telah dibuat harus bersih dari segala kotoran dengan menggunakan kompresor.
Gambar 4.5.7.1 Pembuatan Dilatasi Dengan Concrete Cutter
Gambar 4.5.7.2. Pekerjaan Joint sealant
4.5.8. Antisipasi Terhadap Cuaca
Perlindungan untuk selama proses pengecoran dilakukan dengan pembuatan tenda beroda

dengan panjang 4-5 meter selebar badan jalan.


Perlindungan rigid yang baru selesai akan dilakukan dengan penutupan menggunakan terpal.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan dalam pelaksanaan jembatan selama 2 bulan kerja praktek pada proyek
pembangunan jalan dan area parkir (service road) bandar udara Kuala Namu, maka penyusun dapat
menyimpulkan beberapa hal, antara lain :
Lokasi Bandar udara Kuala Namu sangat strategis sehingga menjadikan kota Medan sebagai

salah satu Gerbang keluar masuk dari dan ke Indonesia.


Lokasi jalan dan area parkir adalah yang berada dalam Bandar udara juga sangat strategis

karena dapat membantu dan mendukung segala aktivitas di dalam bandara.


Perencanaan jalan ini telah didasarkan pada semua pedoman dan peraturan yang berlaku di

Indonesia.
Koordinasi antar unur unsur pelaksanaan proyek dalam pelaksanaan proyek ini cukup baik

antara Kontraktor, PT. Angkasa Pura II dan PU.


PT. Duta Agung telah menempatkan pekerja pekerja yang berpengalaman dibidang proyek.

Ini dapat dilihat dengan cara mereka yang terkoordinasi, sehingga pelaksanaan pekerjaan cukup
lancer.
Pada proyek ini, mutu pelaksanaan dapat sesuai dengan apa yang diharapkan berkat

pengawasan dan pengendalian yang baik.


Pemanfaatan areal lapangan dan para pekerja yang optimal sehingga aktifitas dalam proyek

tidak terganggu satu sama lain.


5.2.
SARAN
Adapun saran yang dapat di ambil oleh penyusun antara lain :
Perencanaan hendaknya melakukan chek pengukuran langsung ke lapangan dan konsultasi

dengan pihak pemilik proyek sebelum melaksanakan perencanaan sehingga bentuk dan kekuatan
bangunan sesuai dengan apa yang diinginkan.
Perencanaan gambar hendaknya perlu dipersiapkan lebih matang agar hasil gambar

sinkron antar denah dan detail sehingga tidak adalagi perubahan perubahan.
Perlu pengwasan yang lebih ketat lagi untuk para pekerja.
Peralatan pekerjaan hendaknya ditingkatkan lagi pemeliharaanny