Anda di halaman 1dari 93

ASKEP TIROIDEKTOMI

A.Pengertian
Tiroidektomi adalah sebuah operasi yang melibatkan operasi pemindahan semua
atau sebagian dari kelenjar tiroid. Klasifikasi dari tiroidektomi adalah total
tiroidektomi dan nyaris total tiroidektomi. Indikasi dilakukan tiroidektomi adalah
gondok, kanker tiroid, hipertiroidisme, gejala obstruksi,
B.Klasifikasi
Tiroidektomi terbagi atas
1. Tiroidektomi total
Tiroidektomi total yaitu mengangkat seluruh kelenjar tiroid. Klien yang menjalani
tindakan ini harus mendapat terapi hormone pengganti yang besar dosisnya
beragam pada setiap individu dan dapat dipengaruhi oleh usia, pekerjaan, dan
aktifitas (Rumahorbo,1999).
1. Tiroidektomi sub total
Tiroidektomi subtotal yaitu mengangkat sebagian kelenjar tiroid. Lobus kiri atau
kanan yang mengalami pembesaran diangkat dan diharapkan kelenjar yang masih
tersisa masih dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan hormone-hormon tiroid
sehingga tidak diperlukan terapi penggantian hormon (Rumahorbo,1999).

1. A.
Perawatan pre-operasi
Perawatan yang tepat dapat dilakukan pada pasian pre-oprerasi pada tiroidektomi
adalah :
1. Kadar hormon tiroid harus diupayakan dalam keadaan normal
2. Pemberian obat antitiroid masih tetap dipertahankan disamping menurunkan
kadar hormon darah
3. Masalah jantung juga sudah harus teratasi

4. Kondisi nutrisi harus optimal, diet tinggi protein dan karbohidrat


5. Latih klien cara batuk yang efektif dan latih napas dalam
6. Ajarkan cara mengurangi peregangan pada luka operasi akibat rangsangan
batuk dengan menahan di bawah, insisi dengan kedua tangan
7. Beri tahu pasien kemungkinan suara menjadi serak setelah operasi jelaskan
bahwa itu adalah hal yang wajar dan dapat kembali seperti semula
Perawatan Pasca Operasi
Perawatan yang dapat dilakukan pada pasien pasca operasi pada tiroidektomi adalah
:
1. Monitor tanda-tanda vital setiap 15 menit sampai stabil dan kemudian
lanjutkan setiap 30 menit selama 6 jam
2. Gunakan bantal pasir atau bantal tambahan untuk menahan posisi kepala
tetap ekstensi sampai klien sadar penuh
Bila sadar, berikan posisi semi fowler, apabila memindahkan klien hindarkan
penekanan pada daerah insisi.
Berikan obat analgesic sesuai program terapi
Bantu klien batuk dan napas dalam setiap 30 menit
Gunakan penghisap oral atau trachea sesuai kebutuhan
Monitor komplikasi yang terjadi pada pasca operasi tiroidektomi, seperti :
i.
Perdarahan
ii.

Distress

pernapasan
iii.
Hipokalsemia akibat pengangkatan paratiroid yang ditandai dengan tetani
iv.

Kerusakan

saraf laryngeal

Pendidikan Kesehatan
Memberikan pemahaman pada setiap obat atau prosedur yang akan dilaksanakan
pada anggota keluarga pasien, seperti :
1. Penggunaan obat-obatan. Konsistensi waktu sangat perlu diperhatikan
2. Gunakan kipas angin/van atau ruangan ber AC agar klien dapat beristirahat
3. Pada klien dengan tiroidektomi total atau penggunaan obat antitiroid, jelaskan
tanda hipotiroidisme dan hipertiroidisme
4. Jelaskan pada keluarga penyebab emosi yang labil pada klien dan bantu
mereka untuk dapat menerima dan mengadaptasinya.
5. Ajarkan untuk followup secara teratur ketempat pelayanan terdekat

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TIROIDEKTOMI PADA LANSIA


I.

Pengkajian

Pengkajian secara pasien bedah saat kembali ke unit terdiri atas :

1.

1.

1.

1.

Respirasi
Kepatenan jalan napas
Kedalaman
Frekuensi
Bunyi napas
Sirkulasi
tanda-tanda vital : T/D, suhu, nadi
kondisi kulit : dingin, basah
sianotis
Neurologi
tingkat respons
neurosensori
fungsi bicara
kualitas dan tonasi
Drainase
Mengantisipasi perdarahan :
Perhatikan cairan drainase yang keluar khususnya 24 jam pertama pasca
operasi.
Inspeksi balutan luka
1. Kenyamanan
Tipe nyeri dan lokasi
Mual dan muntah
Perubahan posisi yang dibutuhkan
1. Keselamatan
Kebutuhan akan pagar tempat tidur
1. Peralatan
diperiksa untuk fungsi yang baik

II.

Rencana Keperawatan

i.
Diagnosa Keperawatan I
Bersihkan jalan napas tak efektif yang b/d obstruksi akibat perdarahan atau edema
daerah insisi.
Tujuan :

Mempertahankan jalan napas paten


Aspirasi di cegah

Intervensi Keperawatan :

Pantau tanda-tanda distress pernapasan, sianosis, takipnea


Auskultasi suara napas setiap 2 jam, catat adanya suara ronki
Periksa balutan luka setiap jam selama periode pertama pasca operasi dan
kemudian dilakukan setiap 4 jam
Pertahankan posisi semi fowler

Gunakan kirbat es untuk mengurangi edema di daerah sekitar insisi


Lakukan penghisapan pada mulut dan trachea sesuai dengan indikasi, catat
warna dan karakteristik sputum
ii.
Diagnosa keperawatan II
Komunikasi, kerusakan; verbal yang b/d cedera pita suara, kerusakan saraf laring
Tujuan :
Mampu menciptakan metode komunikasi di mana kebutuhan dapat dipahami
Intervensi keperawatan :

Kaji fungsi bicara secara periodic


Anjurkan untuk tidak bicara terus menerus
Pertahankan komunikasi yang sederhana
Berikan metode komunikasi alternatif yang sesuai
Pertahankan lingkungan yang tenang

iii.
Diagnosa Keperawatan III
Nyeri yang berhubungan dengan insisi pada kelenjar tiroid
Tujuan :
Klien mengalami nyeri yang minimal.
Intervensi Keperawatan :

Kaji tingkat nyeri dengan menggunakan skala penilaian nyeri


Letakkan klien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala atau leher dengan
bantal pasir atau bantal kecil
Ajarkan klien cara menopang leher dan kepala saat merubah posisi
Tempatkan bel pemanggil disisi klien agar mudah digunakan
Pertahankan lingkungan yang tenang, kurangi stressor
Kolaborasi :
Berikan obat analgetik sesuai program
Berikan minuman yang sejuk atau makanan yang lunak seperti es krim.

III.
Evaluasi
Evaluasi di sesuaikan dengan kriteria hasil yang ingin dicapai :

Mempertahankan jalan napas pasien

Aspirasi dicegah
Mampu menciptakan metode komunikasi di mana kebutuhan dapat dipahami
Mengalami nyeri yang minimal
Cidera dengan komplikasi minimal

BAB III
PENUTUP

1. A. Kesimpulan
Tiroidektomi adalah sebuah operasi yang melibatkan operasi pemindahan semua
atau sebagian dari kelenjar tiroid. Klasifikasi dari tiroidektomi adalah total
tiroidektomi dan nyaris total tiroidektomi. Indikasi dilakukan tiroidektomi adalah
gondok, kanker tiroid, hipertiroidisme, gejala obstruksi,
1. B.
Saran
Bagi perawat dapat di harapkan melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan
prosedur yang ada..

DAFTAR PUSTAKA
Rumahorbo, Hotma.1999. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Endokrin. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Jakarta : EGC.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia Cabang Jakarta. 2008. Penatalaksanaan
Penyakit-penyakit Tiroid bagi Dokter. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

| Tinggalkan Komentar

MACAM HORMON

Posted on 04/04/2013
beberapa macam HORMON MANUSIA dan FUNGSINYA
hormon merupakan zat kimia yang diproduksi oleh sel-sel kelenjar ( kelenjar endokrin
) dan mempunyai peranan strategis bagi kelangsungan hidup mahkluk hidup tak
terkecuali manusia.
Secara umum , hormon di dalam tubuh berfungsi dalam mengkoordinasi kan prosesproses fisiologis dalam tubuh kita.
Setidaknya ada 3 fungsi utama dari sistem hormon, yaitu :
1. mempertahankan keseimbangan tubuh
2. merespons stress pada tubuh secara tepat
3. mengatur pertumbuhan dan perkembangan tubuh Ada banyak jenis hormon
yang disekresi kan oleh kelenjar endokrin, dengan beragam funggsi serta
peranan masing-masing. Pelajari tabel di bawah ini.
Tabel berbagai macam hormon pada manusia beserta fungsinya.
No Nama hormone Fungsinya
1. Anti Diuretik Hormone ( ADH ) Meningkatkan absorbsi air dr tubulus ginjal dan
meningkatkan tekanan darah
2. Oksitosin Merangsang kontraksi uterus, pengeluaran air susu
3. Growth Hormone
( GH ) Merangsang pertumbuhan tulang dan otot, meningkatkan sintesis
protein,mobilisasi lemak, menurunkan metabolisme karbohidrat
4. Prolaktin Meningkatkan perkembangan payudara selama kehamilan dan produksi
air susu setelah kelahiran
5. Tiroid Stimulating Hormone ( TSH ) Merangsang produksi dan sekresi hormon tiroid
6. Adenocorticotropic Hormone ( ACTH ) Merangsang sekresi dan produksi hormon
steroid dan korteks adrenal
7 Luteinizing hormon ( LH ) Merangsang pertumbuhan korpus luteum, ovulasi,
produksi esterogen dan progesteron ( pd wanita )
Merangsang sekresi testosteron, perkembangan jaringan interstisial ( pd pria )
8 Folicel stimulating hormone Merangsang pertumbuhan folikel telur dan ovulasi ( pd.
Wanita )
Merangsang produksi sperma ( pd pria )
9 Melanosit stimulating hormone Bersama dg ACTH terlibat dalam pembentukan kulit

10 Tiroksin ( T4 ) dan Triidotironin ( T3 ) Meningkatkan laju metabolisme, sensitivitas


kardiovaskuler thd aktivasi saraf simpatik, mempengaruhi kematangan homeostasis
otot skelet
1 Kalsitonin Menurunkan konsentrasi Ca dan fosfat,
12 Hormon paratiroid Meningkatkan konsentrasi Ca dlm darah, menurunkan kadar
fosfat darah, bekerja mempengaruhi tulang, usus, ginjal, dan sel-sel lainnya
13 Adrenalin / epinefrin Meningkatkan kecepatan denyut jantung, dan tekanan darah,
mengatur diameter arteriol, merangsang kontraksi otot polos, meningkatkan
konsentrasi gula darah
14 Noradrenalin / norepinefrin Menyebabkan konstriksi arteriol dan meningkatkan
laju metabolisme
15 Glukokortikoid ( kortison dan kortikosteron ) Mempengaruhi proses metabolisme,
mengatur konsentrasi gula darah, antiinflamasi, mempengaruhi proses pertumbuhan,
menurunkan pengaruh stress dan sekresi ACTH
16 Insulin Menurunkan gula darah, meningkatkan simpanan glikogen, mempengaruhi
otot, hati dan jaringan adiposa
17 Glukagon Meningkatkan kadar gula darah
18 Estrogen Mempengaruhi perkembangan organ seks dan ciri-ciri kelamin wanita,
merangsang perkembangan folikel telur, mempengaruhi siklus menstruasi,
merangsang penealan dinding uterus, dan memeilihara kehamilan
19 Progesteron mempengaruhi siklus menstruasi, merangsang penealan dinding
uterus, dan memeilihara kehamilan
20 Human chorionic gonadotrpin ( HCG ) Memelihara kehamilan
21 Testosteron Mempengaruhi perkembangan organ seks dan ciri kelamin pria, serta
pembentukan sperma
Hormon
Hormon merupakan zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin yanh mengatur
homeostatis, reproduksi, metabolism dan tingkah laku.
Kelenjar-kelenjar hormone yang terdapat di dalam tubuh manusia
1. Kelenjar hipofise
Terdapat dibagian otak, terbagi menjadi ttiga bagian, yaitu:
a. Lobus anterior (depan) biasa disebut dengan adeno-hipofisis disebut master of
gland menghasilkan:
Hormon andrenotropin atau ACTH (Adeno Corti Tropis Hormon) fungsinya
merangsang sekresi dan pertumbuhan korteks anak ginjal

Hormon tereotropin atau TSH (Thyroid Stimulating Hormon) fungsinya


mempengaruhi kelenjar anak gondok (kelenjar tiroid)
Hormon prolaktin atau laktogen atau LTH (Lutteo Tropik Hormon) fungsinya
merangsang sekresi kelenjar mamae/ susu
Hormon somatotrop atau STH (Growth Hormon). Bila kekurangan akan
menyebabkan kretinisme (kekerdilan) dan bila kelebihan akan menyebabkan
gigantisme (pertumbuhan raksasa), dan bila kelebihannya terjadi setelah dewasa
akan menyebabkan akromegali membwesarnya bagian-bagian ujung dan ruas-ruas
tulang
Hormon gonadotropin, terdiri dari FSH (Folikel Stimulating Hormon) terdapat pada
wanita berfungsi merangsang pertumbuhan folikel dan ovarium, pada pria
mempengaruhi proses spermatogenesis. LH (Lutheneizing Hormon) pada wanita akan
merangsang ovulasi dan pembentukan oestrogen oleh korpus luteum, pada pria
merangsang sel leydig dalam pengeluaran testosterone.
b. Lobus intermedia (tengah)
Hanya terdapat pada beberapa hewan. Pada manusia menyatu dengan lobus
anterior. Menghasilkan melanotropin dan intermedin, fungsinya merangsang
melonosit untuk menghasilkan pigmen.
c. Lobus posterior (belakang) biasa disebut dengan neurohipofisis menghasilkan:
Oksitosin yang merangsang uterus (rahim) sehingga kontraksinya kuat ketika akan
melahirkan dan mengerut setelah melahirkan.
Antidiuretik dikenal dengan ADH (Anti Diuretik Hormon) fungsinya mengatur
volume urine.
Vasopresin fungsinya merangsang penciutan pembuluh darah (vasodilatasi) bekerja
lebih lama/ tahan dari pada adrenalin sehingga dapat mempengaruhi tekanan darah.
Kelebihan hormone ini dapat menimbulkan diabetes insipidus.
2. Kelenjar epifise
Terdapat di dalam tengkorak dan kelenjarnya sangat kecil. Sampai saat ini belum
diketemukan fungsinya secara pasti.
3. Kelenjar gondok atau tiroid
Terdapat pada leher bagian depan atau disebelah bawah jakun, terdiri dari dual obi
yang dihubungkan oleh ismus (isthmus). Menghasilkan hormone teroksin yang
dibentuk dari asam amino tirosin + iodium. Fungsinya mengatur metabolism
karbohidrat, mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan diferensiasi jaringan
tubuh.
Kekurangan hormone ini dapat menimbulkan kretinisma, dan apabila kekurangannya
terjadi pada usia dewasa akan menyebabkan aktivitas peredaran darah menurun,
danmiksodema yaitu menebal dan menggelembungnya kulit. Hal ini diakibatkan
tertimbunnya zat-zat berupa lender pada daerah jari-jari, ditandai dengan kegiatan
metabolisme rendah, rambut rontok dan tubuh sangat gemuk. Sedang bila
kekurangan iodium ddapat menimbulkan terganggunya pembentukan hormone
tiroksin dengan ditandai timbulnya gondok.
Kelebihan hormone tiroksin menyebabkan morbus basedowi dditandai dengan
meningkatnya metabolism tubuh, meningkatnya denyut jantung, gugup, emosional,
mata lebar dan lidah terjulur keluar. Dan bila terjadi pada usia dewasa menyebabkan
gigantisme (pertumbuhan raksasa).
4. Kelenjar paratiroid (anak gondok)
Melekat pada daerah dorsal kelenjar tiroid dan pada setiap lobus tiroid terdapat dua
buah kelenjar. Menghasilkan parathormon fungsinya mengatur kadar Ca dan P di
dalam darah. Kekurangan hormone ini akan menimbulkan kekejangan misalnya pada
penderita tetanus dan meningkatnya eksitabilitas system saraf.
5. Kelenjar ginjal
Disebut juga kelenjar suprorenalis, dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:
Bagian korteks (luar) menghasilkan hormone kortison. Kekurangan hormone ini

menyebabkan penyakit Adison dengan gejala kulit merah dan dapat menimbulkan
kematian.
Bagian medulla (dalam) menghasilkan hormone epirefrin atau adrenalin. Fungsinya
memacu aktifitas jantung, mengerutkan otot polos pada arteri, menyebabkan
tekanan darah naik, mengendurkan otot polos bronkiolus sehingga melapangkan
pernafasan, mempercepat pengubahan glikogen menjadi glukosa.
6. Kelenjar Lambung
Menghasilkan hormone gastrin, fungsinya merangsang keluarnya getah-getah
lambung.
7. Kelenjar usus
Usus halus mengeluarkan hormone sekretin yang memacu sekresi getah usus dan
getah pancreas dan hormone kolesistokinin yang memacu sekresi getah empedu dan
pancreas.
8. Kelenjar pancreas
Menghasilkan hormone insulin yang bekerja secara antagonis dengan hormone
adrenalin yaitu mengubah gula darah (glukosa) menjadi glikogen dihati. Kekurangan
hormone ini menyebabkan timbulnya penyakit gula (diabetes mellitus)
9. Kelenjar timus (kacangan)
Merrupakan penimbunan hormone somatotrof (perttumbuhan). Kekurangan hormone
ini akan menyebabkan kretinisma dan bila kelebihan akan menyebabkan gigantisme
dan akromegali.
10. Kelenjar kelamin
Pada pria akan menghasilkan kelenjar kelamin pria (testes) yang menghasilkan
hormone androgen dan testosterone. Pada wanita akan menghasilkan kelenjar
kelamin wanita (ovarium) menghasilkan hormone oestrogen dan progesterone.
Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2141380hormon/#ixzz29Rz6WQ9f

Rumus menghitung BMR


Untuk pria = 1 x kg BB x 24 jam
Diatas umur 50 tahun = 0,9 x kg BB x 24 jam
Untuk wanita = 0,9 x kg BB x 24 jam
Diatas umur 50 tahun = 0,8 x kg BBx 24jam
@ BMR dihitung dalam keadaan istirahat total (jasmani dan rahani) dan dalam ruang
bersuhu normal
@ Energi yang diperlukan untuk setiap meter persegi (m) permukaan tubuh disebut
nilai metabolisme basal.
@ Metabolisme basal bergantung pada umur, jenis kelamin dan luas permukaan
tubuh yang dihitung berdasarkan BB
Contoh soal :
Dik : Seorang ? umur 54 tahun
BB 65 kg
Dit : hitung BMR-nya
Jawab :
BMR = 0,9 x 65 x 24 = 1.404 kalori ( 1.404 kkal)
(Sedangkan untuk ? dengan umur dan BB yang sama adalah :
BMR = o,8 x 65 x 24 = 1.248 kkal )

| Tinggalkan Komentar

ASKEP RECTUM
Posted on 04/04/2013
BAB I
PENDAHULUAN

1. A.
LATAR BELAKANG
Tumor usus halus jarang terjadi, sebaliknya tumor usus besar atau rektum relatif
umum. Pada kenyataannya, kanker kolon dan rektum sekarang adalah tipe paling
umum kedua dari kanker internal di Amerika Serikat. Ini adalah penyakit budaya
barat. Diperkirakan bahwa 150.000 kasus baru kanker kolorektal di diagnosis di
negara ini setiap tahunnya. Kanker kolon menyerang individu dua kali lebih besar
dibanding kan kanker rektal. Insidensnya meningkat sesuai dengan usia (kebanyakan
pada pasien yang berusia lebih dari 55 tahun) dan makin tinggi pada individu dengan
riwayat keluarga mengalami kanker kolon, penyakit usus inflamasi kronis atau polip.
Perubahan pada persentase distribusi telah terjadi pada tahun terakhir. Insidens
kanker pada sigmoid dan area rektal telah menurun, sedangkan insidens pada kolon
asendens dan desendens meningkat.
Lebih dari 156.000 orang terdiagnosa setiap tahunnya, kira-kira setengah dari jumlah
tersebut meninggal setiap tahunnya, meskipun sekitar tiga dari empat pasien dapat
diselamatkan dengan diagnosis dini dan tindakan segera. Angka kelangsungan hidup
di bawah lima tahun adalah 40% sampai 50%, terutama karena terlambat dalam
diagnosis dan adanya metastase. Kebanyakan orang asimtomatis dalam jangka
waktu lama dan mencari bantuan kesehatan hanya bila mereka menemukan
perubahan pada kebiasaan defekasi atau perdarahan rektal.
Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetapi faktor resiko telah
teridentifikasi, termasuk riwayat atau riwayat kanker kolon atau polip dalam
keluarga, riwayat penyakit usus inflamasi kronis dan diet tinggi lemak, rotein dan
daging serta rendah serat.

BAB II
PEMBAHASAN

1. 1.
DEFINISI
Ca. Rectum adalah keganasan jaringan epitel pada daerah rektum. Karsinoma Recti
merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang khusus
menyerang bagian Recti yang terjadi akibat gangguan proliferasi sel epitel yang tidak
terkendali. Karsinoma rekti merupakan keganasan visera yang sering terjadi yang
biasanya berasal dari kelenjar sekretorik lapisan mukosa sebagian besar kanker
kolostomy berawal dari polip yang sudah ada sebelumnya. Karsinoma Rektum
merupakan tumor ganas yang berupa massa polipoid besar, yang tumbuh ke dalam
lumen dan dapat dengan cepat meluas ke sekitar usus sebagai cincin anular (Price
and Wilson, 1994, hal 419).

.
2. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Secara anatomi rektum terbentang dari vertebre sakrum ke-3 sampai garis anorektal.
Secara fungsional dan endoskopik, rektum dibagi menjadi bagian ampula dan
sfingter. Bagian sfingter disebut juga annulus hemoroidalis, dikelilingi oleh muskulus
levator ani dan fasia coli dari fasia supra-ani. Bagian ampula terbentang dari sakrum
ke-3 ke difragma pelvis pada insersi muskulus levator ani. Panjang rrektum berkisa
10-15 cm, dengan keliling 15 cm pada recto-sigmoid junction dan 35 cm pada bagian
ampula yang terluas. Pada orang dewasa dinding rektum mempunyai 4 lapisan :
mukosa, submukosa, muskularis (sirkuler dan longitudinal), dan lapisan serosa.
Perdarahan arteri daerah anorektum berasal dari arteri hemoroidalis superior, media,
dan inferior. Arteri hemoroidalis superior yang merupakan kelanjutan dari a.
mesenterika inferior, arteri ini bercabang 2 kiri dan kanan. Arteri hemoroidalis
merupakan cabang a. iliaka interna, arteri hemoroidalis inferior cabang dari a.
pudenda interna. Vena hemoroidalis superior berasal dari plexus hemoroidalis
internus dan berjalan ke arah kranial ke dalam v. mesenterika inferior dan seterusnya
melalui v. lienalis menuju v. porta. Vena ini tidak berkatup sehingga tekanan alam
rongga perut menentukan tekanan di dalamnya. Karsinoma rektum dapat menyebar

sebagai embolus vena ke dalam hati. Vena hemoroidalis inferior mengalirkan darah
ke v. pudenda interna, v. iliaka interna dan sistem vena kava.
Pembuluh limfe daerah anorektum membentuk pleksus halus yang mengalirkan
isinya menuju kelenjar limfe inguinal yang selanjutnya mengalir ke kelenjar limfe
iliaka. Infeksi dan tumor ganas pada daerah anorektal dapat mengakibatkan
limfadenopati inguinal. Pembuluh rekrum di atas garis anorektum berjalan seiring
dengan v. hemoroidalis seuperior dan melanjut ke kelenjar limfe mesenterika inferior
dan aorta.

3. ETIOLOGI
Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetapi faktor risiko telah
teridentifikasi termasuk riwayat kanker kolon atau polip pada keluarga, riwayat
penyakit usus inflamasi kronis dan diet tinggi lemak protein dan daging serta rendah
serat.
( Brunner & Suddarth,buku ajar keperawatan medikal bedah,hal. 1123 ).
a.
Polip di usus (Colorectal polyps): Polip adalah pertumbuhan pada dinding
dalam kolon atau rektum, dan sering terjadi pada orang berusia 50 tahun ke atas.
Sebagian besar polip bersifat jinak (bukan kanker), tapi beberapa polip (adenoma)
dapat menjadi kanker.
b.
Colitis Ulcerativa atau penyakit Crohn: Orang dengan kondisi yang
menyebabkan peradangan pada kolon (misalnya colitis ulcerativa atau penyakit
Crohn) selama bertahun-tahun memiliki risiko yang lebih besar.
c.
Riwayat kanker pribadi: Orang yang sudah pernah terkena kanker colorectal
dapat terkena kanker colorectal untuk kedua kalinya. Selain itu, wanita dengan
riwayat kanker di indung telur, uterus (endometrium) atau payudara mempunyai
tingkat risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker colorectal.
d. Riwayat kanker colorectal pada keluarga: Jika Anda mempunyai riwayat kanker
colorectal pada keluarga, maka kemungkinan Anda terkena penyakit ini lebih besar,
khususnya jika saudara Anda terkena kanker pada usia muda.
e. Faktor gaya hidup: Orang yang merokok, atau menjalani pola makan yang tinggi
lemak dan sedikit buah-buahan dan sayuran memiliki tingkat risiko yang lebih besar
terkena kanker colorectal.
f. Usia di atas 50: Kanker colorectal biasa terjadi pada mereka yang berusia lebih
tua. Lebih dari 90 persen orang yang menderita penyakit ini didiagnosis setelah usia
50 tahun ke atas.

4. GEJALA KLINIS
a.

Perubahan kebiasaan buang air besar (diare atau sembelit/konstipasi)

b.

Usus besar terasa tidak kosong seluruhnya

c.

Ada darah (baik merah terang atau kehitaman) di kotoran

d.

Kotoran lebih sempit dari biasanya

e.

Sering kembung atau keram perut, atau merasa kekenyangan

f.

Kehilangan berat badan tanpa alasan

g.

Selalu merasa sangat letih

h.

Mual atau muntah-muntah.

Semua karsinoma kolorektal dapat menyebabkan ulserasi, perdarahan, obstruksi bila


membesar atau invasi menembus dinding usus dan kelenjar-kelenjar regional.
Kadang-kadang bisa terjadi perforasi dan menimbulkan abses dalam peritoneum.
Keluhan dan gejala sangat tergantung dari besarnya tumor.
Tumor pada Recti dan kolon asendens dapat tumbuh sampai besar sebelum
menimbulkan tanda-tanda obstruksi karena lumennya lebih besar daripada kolon
desendens dan juga karena dindingnya lebih mudah melebar. Perdarahan biasanya
sedikit atau tersamar. Bila karsinoma Recti menembus ke daerah ileum akan terjadi
obstruksi usus halus dengan pelebaran bagian proksimal dan timbul nausea atau
vomitus. Harus dibedakan dengan karsinoma pada kolon desendens yang lebih cepat
menimbulkan obstruksi sehingga terjadi obstipasi.

5. FAKTOR RESIKO
Kanker yang ditemukan pada kolon dan rektum 16 % di antaranya
menyerang recti terutama terjadi di negara-negara maju dan lebih tinggi pada lakilaki daripada wanita. Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi sebagai berikut:
a.
Kebiasaan diet rendah serat.
b.

Mengkonsumsi diet tinggi lemak dan rendah serat.

c.

Menahan tinja / defekasi yang sering.

d.

Faktor genetik.

6. KLASIFIKASI
Stadium 0: Kanker ditemukan hanya pada lapisan terdalam di kolon atau
rektum. Carcinoma in situ adalah nama lain untuk kanker colorectal Stadium 0.
Stadium I: Tumor telah tumbuh ke dinding dalam kolon atau rektum. Tumor belum
tumbuh menembus dinding.
Stadium II: Tumor telah berkembang lebih dalam atau menembus dinding kolon atau
rektum. Kanker ini mungkin telah menyerang jaringan di sekitarnya, tapi sel-sel
kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening,
Stadium III: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya, tapi
belum menyebar ke bagian tubuh yang lain.
Stadium IV: Kanker telah menyebar ke bagian tubuh yang lain, misalnya hati atau
paru-paru.
Kambuh: Kanker ini merupakan kanker yang sudah diobati tapi kambuh kembali
setelah periode tertentu, karena kanker itu tidak terdeteksi. Penyakit ini dapat
kambuh kembali dalam kolon atau rectum, atau di bagian tubuh yang lain.
Menurut klasifikasi duke berdasarkan atas penyebaran sel karsinoma dibagi menjadi :
Kelas A

: Tumor dibatasi mukosa dan submukosa.

Kelas B

: Penetrasi atau penyebaran melalui dinding usus.

Kelas C

: Invasi kedalam sistem limfe yang mengalir regional.

Kelas D

: Metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas.

( Brunner & Suddarth,buku ajar keperawatan medikal bedah,hal. 1126 ).

7. PATOFISIOLOGI

Brunner dan Suddart (2002), menjelaskan patofisiologi terjadinya karsinoma rektum


sebagai berikut :

Polip jinak pada kolon atau rectum


|
menjadi ganas
|
menyusup serta merusak jaringan normal kolon
|
meluas ke dalam struktur sekitarnya
|
bermetastatis dan dapat terlepas dari tumor primer
Menyebar ke bagian tubuh yang lain dengan cara :

Limfogen ke kelenjar parailiaka, mesenterium dan paraaorta.


Hematogen terutama ke hati
Perkontinuitatum (menembus ke jaringan sekitar atau organ
sekitarnya)misalnya : ureter, buli-buli, uterus, vagina, atau prostat dan dapat
mengakibatkan peritonitis karsinomatosa.

8. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a)

Dengan RECTAL TOUCHER biasanya diketahui :

a.

Tonus sfingterani keras/lembek.

b.

Mukosa kasar,kaku biasanya tidak dapat digeser.

c.
Ampula rektum kolaps/kembung terisi feses atau tumor yang dapat teraba
ataupun tidak.
b)
Foto sinar X Pemeriksaan radiologis dengan barium enema dianjurkan sebagai
pemeriksaan rutin sebelum dilakukan pemeriksaan lain. Pada pemeriksaan ini akan
tampak filling defect biasanya sepanjang 5 6 cm berbentuk anular atau apple core.
Dinding usus tampak rigid dan gambaran mukosa rusak.

c)
Pemeriksaan antigen karsinoembrionik (CEA)Pemeriksaan CEA dapat dilakukan,
meskipun antigen CEA mungkin bukan indikator yang dapat dipercaya dalam
mendiagnosa kanker karena tidak semua lesi menyekresi CEA.

d)

Tes-tes Khusus

a.
Proktosigmoidoskopi Dilakukan pada setiap pasien yang dicurigai menderita
karsinoma usus besar. Jika tumor terletak di bawah, bisa terlihat langsung. Karsinoma
kolon di bagian proksimal sering berhubungan dengan adanya polip pada daerah
rektosigmoid.
b.
Sistoskopi Indikasi sistoskopi adalah adanya gejala atau pemeriksaan yang
mencurigai invasi keganasan ke kandung kencing.

e)
Tes darah samar pada feses/kotoran (Fecal Occult Blood Test FOBT):Terkadang
kanker atau polip mengeluarkan darah, dan FOBT dapat mendeteksi jumlah darah
yang sangat sedikit dalam kotoran. Karena tes ini hanya mendeteksi darah, tes-tes
lain dibutuhkan untuk menemukan sumber darah tersebut. Kondisi jinak
(seperti hemoroid), juga bisa menyebabkan darah dalam kotoran.

f)
Sigmoidoskopi: Dokter akan memeriksa rektum dan bagian bawah kolon
dengan tabung cahaya (sigmoidoskop). Jika ditemukan polip (pertumbuhan jinak
yang dapat menjadi kanker), maka polip bisa diangkat.

g)
Kolonoskopi: Dokter akan memeriksa rektum dan seluruh kolon dengan
menggunakan tabung panjang bercahaya (kolonoskop). Jika ditemukan polip
(pertumbuhan jinak yang dapat menjadi kanker), maka polip bisa diangkat.
h)
Enema barium kontras ganda (Double-contrast barium enema): Prosedur ini
mencakup pengisian kolon dan rektum dengan bahan cair putih (barium) untuk
meningkatkan kualitas gambar sinar X. Dengan demikian, ketidaknormalan (seperti
polip) dapat terlihat dengan jelas.

i) Pemeriksaan rektal secara digital: Pemeriksaan rektal seringkali menjadi bagian


pemeriksaan (check-up) fisik rutin. Dokter akan memasukkan jari dengan sarung
tangan yang telah dilumasi ke dalam rektum, untuk merasakan ketidaknormalan.

9. PENATALAKSANAAN
Prinsip prosedur untuk karsinoma rektum menurut Mansjoer, et al, (2000) adalah :
a)
Low anterior resection / anterior resection. Insisi lewat abdomen. kolon kiri atau
sigmoid dibuat anastomosis dengan rektum.
b)

Prosedur paliatif, dibuat stoma saja.

c)
Reseksi abdomino perineal / amputasi rekti (Milles Procedure). Bagian Distal
sigmoid, rektosigmoid, dan rektum direseksi, kemudian dibuat end kolostomi.
d)
Pull through operation. Teknik ini sulit, bila tidak cermat dapat menyebabkan
komplikasi antara lain inkontinensia alvie.
e)

Fulgurasi (elektrokogulasi) untuk tumor yang keluar dari anus dan unresektabel.

Pengobatan medis untuk karsinoma kolorektal paling sering dalam bentuk


pendukung/terapi ajufan yang mencakup kemoterapi, radiasi dan atau imunoterapi
(Brunner & Suddart, 2002, hal 1128).

Pengobatan pada stadium dini memberikan hasil yang baik.


1.Pilihan utama adalah pembedahan
2.Radiasi pasca bedah diberikan jika:
a.sel karsinoma telah menembus tunika muskularis propria
b.ada metastasis ke kelenjar limfe regional
c.masih ada sisa-sisa sel karsinoma yang tertinggal tetapi belum ada metastasis a
bedah hanya diberikan pada karsinoma rektum).
3.Obat sitostatika diberikan bila:

a.inoperabel
b.operabel tetapi ada metastasis ke kelenjar limfe regional, telah menembus tunika
muskularis propria atau telah dioperasi kemudian residif kembali.
Obat yang dianjurkan pada penderita yang operabel pasca bedah adalah:
a)
Fluoro-Uracil 13,5 mg/kg BB/hari intravena selama 5 hari berturut-turut.
Pemberian berikutnya pada hari ke-36 (siklus sekali 5 minggu) dengan total 6 siklus.
b)

Futraful 3-4 kali 200 mg/hari per os selama 6 bulan

c)

Terapi kombinasi (Vincristin + FU + Mthyl CCNU)

d)
Pada penderita inoperabel pemberian sitostatika sama dengan kasus operabel
hanya lamanya pemberian tidak terbatas selama obat masih efektif. Selama
pemberian, harus diawasi kadar Hb, leukosit dan trombosit darah.Pada stadium lanjut
obat sitostatika tidak meberikan hasil yang memuaskan.

10.

KOMPLIKASI

Komplikasi karsinoma rektum menurut Schrock (1991) adalah:


a)

obstruksi usus parsial

Obstruksi usus adalah penyumbatan parsial atau lengkap dari usus yang
menyebabkan kegagalan dari isi usus untuk melewati usus.
b)

Perforasi atau perlobangan

c)

perdarahan

d)

Syok

Syok merupakan keadaan gagalnya sirkulasi darah secara tiba-tiba akibat gangguan
peredaran darah atau hilangnya cairan tubuh secara berlebihan.

11. ASKEP

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KANKER REKTUM

Pengkajian
Riwayat kesehatan diambil untuk mendapatkan informasi tentang :
a)

Perasaan lelah

b)
Nyeri abdomen atau rectal dan karakternya ( lokasi, frekuensi, durasi,
berhubungan dengan makan atau defekasi )
c)

Pola eliminasi terdahulu dan saat ini

d)
Deskripsi tentang warna, bau dan konsistensi feses, mencakup adanya darah
atau mucus.
e)

Riwayat penyakit usus inflamasi kronis atau polip kolorektal

f)
Riwayat keluarga dari penyakit kolorektal dan terapi obat saat ini
Kebiasaan diet ( masukan lemak, serat & konsumsi alcohol ) juga riwayat
g)

penurunan BB.

Pengkajian objekif meliputi :


a)

Auskultasi abdomen terhadap bising usus

b)
Palpasi abdomen untuk area nyeri tekan, distensi, dan massa padat
Inspeksi specimen terhadap karakter dan adanya darah

Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan semua data pengkajian, diagnosa keperawatan utama yang mencakup,
adalah sebagai berikut :
a)

Konstipasi b/d lesi obstruksi

b)

Nyeri b/d kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi

c)

Keletihan b/d anemia dan anoreksia

d)
Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual dan anoreksia
Resiko kekurangan volume cairan b/d muntah dan dehidrasi Ansietas b/d rencana
pembedahan dan diagnosis kanker Kurang pengetahuan mengenai diagnosa,
prosedur pembedahan, dan perawatan diri setelah pulang

e)
Kerusakan integritas kulit b/d insisi bedah ( abdominoperineal ), pembentukan
stoma, dan kontaminasi fekal terhadap kulit periostomal
f)

Gangguan citra rubuh b/d kolostomi.

Perencanaan & Implementasi


Tujuan
Tujuan utama dapat mencakup eliminasi produk sisa tubuh yang adekuat; reduksi /
penghilangan nyeri; peningkatan toleransi aktivitas; mendapatkan tingkat nutrisi
optimal; mempertahankan keseimbangan cairan & elektrolit; penurunan ansietas;
memahami tentang diagnosis, prosedur pembedahan dan perawatan diri setelah
pulang; mempertahankan penyembuhan jaringan optimal; perlindungan kulit
periostomal yang adekuat; penggalian dan pengungkapan perasaan dan masalah
tentang kolostomi dan pengaruhnya pada diri sendiri;

Intervensi Keperawatan PraOperatif


1.Mempertahankan eliminasi
Frekuensi dan konsistensi defekasi dipantau
Laksatif dan enema diberikan sesuai resep
Pasien yang menunjukkan tanda perkembangan ke arah obstruksi total disiapkan
untuk mejalani pembedahan.

2.Menghilangkan Nyeri
Analgesic diberikan sesuai resep
Lingkungan dibuat kondusif untuk relaksasi dengan meredupkan lampu, mematikan
TV atau radio, dan membatasi pengunjung dan telepon bila diinginkan oleh pasien
Tindakan kenyamanan tambahan ditawarkan : perubahan posisi, gosokan punggung,
dan teknik relaksasi.

3.Meningkatkan Toleransi Aktivitas


Kaji tingkat toleransi aktivitas pasien

Ubah dan jadwalkan aktivitas untuk memungkinkan periode tirah baring yang
adekuat dalam upaya untuk menurunkan keletihn pasien.
Terapi komponendarah diberikan sesuai resep bila pasien menderita anemia berat.
Apabila transfusi darah diberikan, pedoman keamanan umum dan kebijakan institusi
mengenai tindakan pengamanan harus diikuti.
Aktivitas post op ditingkatkan dan toleransi dipantau.

4.Memberikan Tindakan Nutrisional


Bila kondisi pasien memungkinkan, diet tinggi kalori, protein, karbohidrat serta
rendah residu diberikan pada pra op selama bberapa hari untuk memberikan nutrisi
adekuat dan meminimalkan kram dengan menurunkan peristaltic berlebih Diet cair
penuh 24 jam pra op, untuk menggantikan penipisan nutrient, vitamin dan mineral.
Penimbangan BB harian dicatat, dan dokter diberitahu bila terdapat penurunan BB
pada saat menerima nutrisi parenteral.

5.Mempertahankan Keseimbangan Cairan & Elektrolit


Catat masukan dan haluaran, mencakup muntah, yang akan menyediakan data
akurat tentang keseimbangan cairan
Batasi masukan maknan oral dan cairan untuk mencegah muntah.
Berikan antiemetik sesuai indikasi
Pasang selang nasogastrik pada periode pra op untuk mengalirkan akumulasi cairan
dan mencegah distensi abdomen
Pasang kateter indwelling untuk memantau haluaran urin setiap jam. Haluaran
kurang dari 30 ml / jam dilaporkan sehingga terapi cairan intravena dapat
disesuaikan.
Pantau pemberian cairan IV dan elktrolit, terutama kadar serum untuk mendeteksi
hipokalemia dan hiponatremia, yang terjadi akibat kehilangan cairan gastrointestinal.
Kaji TTV untuk mendeteksi hipovolemia : takikardi, hipotensi dan penurunan jumlah
denyut.
Kaji status hidrasi, penurunan turgor kulit, membrane mukosa kering, urine pekat,
serta peningkatan berat jenis urine dilaporakan.

6.Menurunkan Ansietas
Kaji tingkat ansietas pasien serta mekanisme koping yang digunakan Upaya
pemberian dukungan, mencakup pemberian privasi bila diinginkan dan
menginstruksikan pasien untuk latihan relaksasi Luangkan waktu untuk
mendengarkan ungkapan, kesedihan atau pertanyaan yang diajukan oleh pasien.
Atur pertemuan dengan rohaniawan bila pasien menginginkannya, dengan dokter
bila pasien mengharapkan diskusi pengobatan atau prognosis.
Penderita stoma lain dapat diminta untuk berkunjung bila pasien mengungkapkan
minat untuk berbicara dengan mereka.
Untuk meningkatkan kenyamanan pasien, perawat harus mengutamakan relaksasi
dan perilaku empati.
Jawab pertanyaan pasien dengan jujur dan menggunakan bahasa yang mudah
dipahami.
Setiap informasi dari dokter harus dijelaskan, bila perlu. Kadang kadang kecemasan
berkurang, bila pasien mengetahui persiapan fisik yang diperlukan selama periode
pra op dan mengetahui kemungkinan post op. beberapa pasien akan lebih senang
jika diperbolehkan untuk melihat hasil pemeriksaan, sementara yang lain memilih
untuk tidak mengetahuinya.

7.Mencegah Infeksi
Berikan antibiotic seperti kanamisin sulfat ( Kantrex ), eritromisin (Erythromycin), dan
Neomisin Sulfat sesuai resep, untuk mengurangi bakteri usus dalam rangka
persiapan pembedahan usus. Preparat diberikan per oral untuk mengurangi
kandungan bakteri kolon dan melunakkan serta menurunkan bulk dari isi kolon.
Selian itu, usus juga dapat dibersihkan dengan enema, atau irigasi kolon.
8.Pendidikan Pasien Pra Operatif
Kaji tingkat kebutuhan pasien tentang diagnosis, prognosis, prosedur bedah, dan
tingkat fungsi yang diinginkan pasca op.
Informasi yang diperlukan pasien tentang persiapan fisik untuk pembedahan,
penampilan dan perawatan yang diharapkan dari luka pasca op, teknik perawatan
kolostomi, pembatasan diet, control nyeri, dan penatalaksanaan obat dimsukkan ke
dalam materi penyuluhan.

Intervensi Keperawatan Pasca Operatif


1.Perawatan Luka
Luka abdomen diperiksa dngan sering dalam 24 jam pertama, untuk meyakinkan
bahwa luka akan sembuh tanpa komplikasi ( infeksi, dehidens, emoragik, edema
berlebihan ).
Ganti balutan sesuai kebutuhan untuk mencegah infeksi.
Bantu pasien untuk membebat insisi abdomen selama batuk dan napas dalam untuk
mengurangi tegangan pada tepi insisi.
Pantau adanya peningkatan TTV yang mengindikasikan adanya proses infeksi.
Periksa stoma terhadap edema ( edema ringan akibat manipulasi bedah adalah
normal ), warna ( stoma sehat adalah mera jambu ), rabas ( rembesan berjumlah
sedikit adalah normal ), dan perdarahan ( tanda abnormal ).
Bersihkan kulit peristoma dengan perlahan serta keringkan untuk mencegah iritasi,
berikan pelindung kulit sebelum meletakkan kantung drainase.
Apabila malignansi telah diangkat dengan rute perineal, luka diobservasi dengan
cermat untuk tanda hemoragik. Luka dapat mengandung drain atau tampon yang
diangkat secara bertahap. Mungkin terdapat jaringan yang terkelupas selama
beberapa minggu. Proses ini juga dipercepat dengan irigasi mekanis luka atau
rendam duduk yang dilakukan dua atau tiga kali sehari.
Dokumentasikan kondisi luka perineal, adanya perdarahan, infeksi atau nekrosis.
2.Citra Tubuh Positif
Dorong pasien untuk mengungkapkan masalah yang dialami serta mendiskusikan
tentang pembedahan dan stoma ( bila telah dibuat ).
Ajarkan pasien mengenai perawatan kolostomi dan pasien sudah harus ulai untuk
memasukkan perawatan stoma dalam kehidupan sehari hari.
Berikan lingkungan yang kondusif bagi pasien serta berikan dukungan dalam
meningkatkan adaptasi pasien terhadap perubahan yang terjadi akibat pembedahan.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC,


Jakarta
Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta
Doengoes, Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan . Edisi 3. Penerbit : EGC,
Jakarta.
Gale, Danielle & Charette, Jane, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi, EGC,
Jakarta, 2000.
Price, Sylvia A., & Wilson, Lorraine M., Patofisiologi ; Konsep Klinis ProsesProses
Penyakit Vol. 1, Edisi 4, EGC, Jakarta, 1995.
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC,
Jakarta
Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G., Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner &
Suddarth Vol. 2, Edisi 8, EGC, Jakarta, 2002.
Schrock, Theodore R. MD. 1999. Ilmu Bedah ( Hand Book of Surgery ) Edisi 7. Penerbit
: EGC, Jakarta.
Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, BP FKUI, Jakarta.

| Tinggalkan Komentar

RESUME JALAN NAFAS KARENA


BENDA ASING
Posted on 04/04/2013
TEKNIK-TEKNIK MENGATASI SUMBATAN JALAN NAFAS KARENA BENDA ASING.

Pengertian
Benda asing di jalan napas merupakan masalah klinis yang memiliki tantangan
tersendiri, ekstraksi benda asing jalan napas bukanlah suatu prosedur yang mudah
dan memerlukan keterampilan serta pengalaman dari tenaga kesehatan lainnya
yang melakukannya.
Masuknya benda asing ke dalam laring, trakea/bronkus terjadi ketika benda berada di
dalam mulut penderita, penderita menghirup nafas ( inspirasi ) dengan mulut terbuka
(waktu tertawa atau menangis ), sehingga benda tersebut terhisap masuk ke dalam
laring atau trakea / bronkus.

Benda asing dalam suatu organ di bagi 2:


1. Benda asing eksogen (dariluar tubuh).
2. Benda asing endogen (dari dalam tubuh), yang dalam keadaan normal benda
tersebut tidak ada.
Jenis benda asing: kacang, kecik, sempritan mainan dll.
Faktor-faktor yang mempengaruhi aspirasi benda asing ke dalam saluran
napas, antara lain:

Faktor individual: umur, jenis kelamin, pekerjaan, kondisi sosial, tempat


tinggal.
Kegagalan mekanisme proteksi yang normal: keadaan tidur, kesadaran
menurun, alkoholisme dan epilepsi.
Faktor fisik: kelainan dan penyakit neurologik. Proses menelan yang belum
sempurnapada anak.
Faktor dental, medical dan surgical, misalnya tindakan bedah, eks-traksi gigi,
belum tumbuhnya gigi molar pada anak usia kurang dari 4 tahun.
Faktor kejiwaan: emosi, gangguan psikis. Ukuran, bentuk dan sifat benda
asing.

Faktor kecerobohan, antara lain; meletakkan benda asing di mulut, persiapan


makananyang kurang baik, makan atau minum tergesa-gesa, makan sambil
bermain, memberikan kacang atau permen pada anak yang gigi molarnya
belum tumbuh.

Tujuan mengatasinya yaitu supaya jalan nafas tidak terhalang oleh benda asing
tersebut. Dan menghilangkan obstruksi di jalan napas atas yang disebabkan oleh
benda asing & yg ditandai oleh beberapa atau semua dari tanda dan gejala berikut
ini:

1. Secara mendadak tidak dapat berbicara.


2. Tanda-tanda umum tercekikrasa leher tercengkeram
3. Bunyi berisik selama inspirasi.
4. Penggunaan otot asesoris selama bernapas dan peningkatan kesulitan bernapas.
5. Sukar batuk atau batuk tidak efektif atau tidak mampu utk batuk.
6. Tidak terjadi respirasi spontan atau sianosis
7. Bayi dan anak dg distres respirasi mendadak disertai dg batuk, stidor atau wizing.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara 3 metode sebagai berikut:


1. Abdominal Thrust.
2. Chest Thrust.
3. Back Blow

Kontraindikasi dan Perhatian.

1. Pada klien sadar, batuk volunter menghasilkan aliran udara yg besar


dan dapat menghilangkan obstruksi.
2. Chest thrust hendaknya tidak digunakan pada klien yg mengalami cedera
dada, seperti flail chest, cardiac contusion, atau fraktur sternal (Simon &
Brenner, 1994).
3. Pada klien yg sedang hamil tua atau yg sangat obesitas, disarankan dilakukan
chest thrusts.

4. Posisi tangan yg tepat merupakan hal penting untuk menghindari cedera pada
organ-organ yang ada dibawahnya selama dilakukan chest thrust.

Peralatan
1. Suction oral, jika tersedia.
2. Magill atau Kelly forcep dan laryngoscope (utk mengeluarkan benda asing
yg dapat dilihat di jalan napas atas).

Persiapan Klien:
1. Posisi klienduduk, berdiri atau supine.
2. Suction semua darah/mukus yg terlihat dimulut klien.
3. Keluarkan semua gigi yg rusak/tanggal.
4. Siapkan utk dilakukan penanganan jalan napas yg definitif, misalnya
cricothyrotomi.

Tahapan Prosedur Abdominal Thrust


1. Jika pasien dlm keadaan berdiri/duduk:
1. Anda berdiri di belakang klien
2. Lingkarkan lengan kanan anda dengan tangan kanan terkepal, kemudian
pegang lengan kanan tsb dg lengan kiri. Posisi lengan anda pd abdomen klien
yakni dibawah prosesus xipoideus dan diatas pusat/umbilikus.
3. Dorong secara cepat (thrust quickly), dengan dorongan pada abdomen ke
arah dalam-atas.
4. Jika diperlukan, ulangi abdominal thrust beberapa kali utk menghilangkan
obstruksi jalan napas.
5. Kaji jalan napas secara sering utk memastikan keberhasilan tindakan ini.

2. Jika pasien dlm keadaan supine/unconcious:


1. Anda mengambil posisi berlutut/mengangkangi paha klien.
2. Tempatkan lengan kiri anda diatas lengan kanan anda yg menempel di
abdomen tepatnya di bawah prosesus xipoideus dan diatas pusat/umbilikus.

3. Dorong secara cepat (thrust quickly), dengan dorongan pada abdomen ke


arah dalam-atas.
4. Jika diperlukan, ulangi abdominal thrust beberapa kali utk menghilangkan
obstruksi jalan napas.
5. Kaji jalan napas secara sering utk memastikan keberhasilan tindakan ini.

3. Jika mungkin, lihat secara langsung mulut dan paring klien dengan laringoskopi
dan jika tampak utamakan mengekstraksi benda asing tersebut menggunakan Kelly
atau Megil forcep.

Tahapan Prosedur Chest Thrust


1. 1.
Jika posisi klien duduk/ berdiri:
2. Anda berdiri di belakang klien
3. Lingkarkan lengan kanan anda dengan tangan kanan terkepal di area
midsternal di atas prosesus xipoideus klien (sama seperti pada posisi saat
kompresi jantung luar).
4. Lakukan dorongan (thrust) lurus ke bawah ke arah spinal. Jika perlu ulangi
chest thrust beberapa kali utk menghilangkan obstruksi jalan napas.
5. Kaji jalan napas secara sering utk memastikan keberhasilan tindakan ini.

1. Jika posisi klien supine:


2. Anda mengambil posisi berlutut/mengangkangi paha klien.
3. Tempatkan lengan kiri anda diatas lengan kanan anda dan posisikan bagian
bawah lengan kanan anda pada area midsternal di atas prosesus xipoideus
klien (sama seperti pada posisi saat kompresi jantung luar).
4. Lakukan dorongan (thrust) lurus ke bawah ke arah spinal. Jika perlu ulangi
chest thrust beberapa kali utk menghilangkan obstruksi jalan napas.
5. Kaji jalan napas secara sering utk memastikan keberhasilan tindakan ini.

1. Jika mungkin, lihat secara langsung mulut dan paring klien dengan
laringoskopi dan jika tampak utamakan mengekstraksi benda asing tersebut
menggunakan Kelly atau Megil forcep.

Tahapan Prosedur Back Blow & Chest Thrust (untuk Bayi <>
1. Bayi diposisikan prone diatas lengan bawah anda, dimana kepala bayi lebih
rendah dari pada badannya.
2. Topang kepala bayi dengan memegang rahang bayi.
3. Lakukan 5 kali back blow dengan kuat antara tulang belikat menggunakan
tumit tangan anda.

4. Putar bayi ke posisi supine, topang kepala dan leher bayi dan posisikan di atas
paha.
5. Tentukan lokasi jari setingkat dibawah nipple bayi. Tempatkan jari tengah anda
pada sternum dampingi dengan jari manis.
6. Lakukan chest thrust dengan cepat.
7. Ulangi langkah 1-6 sampai benda asing keluar atau hilangnya kesadaran.
8. Jika bayi kehilangan kesadaran, buka jalan napas dan buang benda asing jika
ia terlihat. Hindari melakukan usapan jari secara membuta pada bayi dan
anak, karena benda asing dapat terdorong lebih jauh ke dalam jalan napas.

Tahapan Prosedur Back Blow & Chest Thrust (untuk Anak 1-8 th)

1. Untuk klien yg berdiri/duduk:


1. Posisi anda dibelakang klien.
2. Tempatkan lengan anda dibawah aksila, melingkari tubuh korban
3. Tempatkan tangan anda melawan abdomen klien, sedikit di atas pusar dan
dibawah prosesus xipoideus.
4. Lakukan dorongan ke atas (upward thrusts) sampai benda asing keluar atau
pasien kehilangan kesadaran.

2. Utk klien pada posisi supine:


1. Posisi anda berlutut disamping klien atau mengangkangi paha klien.
2. Tempatkan lengan anda di atas pusar & dibawah prosesus xipoideus.
3. Lakukan thrust ke atas dengan cepat, dengan arah menuju tengah-tengah dan
tidak diarahkan ke sisi abdomen.
4. Jika benda asing terlihat, keluarkan dengan menggunakan sapuan jari tangan.

Attention.
Back blow tidak direkomendasikan pada pasien diatas usia bayi. Sapuan jari
membuta harus dihindari pada bayi dan anak, sebab kemungkinan dapat
mendorong benda asing lebih kebelakang ke dalam jalan napas.

Komplikasi
1. Nyeri abdomen, ekimosis
2. Mual, muntah
3. Fraktur iga

4. Cedera/trauma pada organ-organ dibawah abdomen/dada.

Pendidikan Kesehatan untuk Klien


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Makan perlahan
Potong makanan menjadi kecil-kecil
Kunyah mkanan hingga halus
Jangan mengobrol dan tertawa saat mengunyah
Pastikan gigi/gigi palsu anda baik
Duduk saat makan
Jaga makanan/mainan yang berukuran kecil/keras seperti kacang, agar jauh
dari jangkauan
8. anak di bawah 3 tahun
9. Larang anak berjalan atau lari saat makan utk menurunkan kemungkinan
aspirasi

| Tinggalkan Komentar

ASKEP Nefrosklerosis
Posted on 04/04/2013

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Defenisi
Nefrosklerosis adalah pengerasan atau sklerosis arteri ginjal akibat hipertensi yang
lama.Penyakit ini menyebabkan penurunan aliran darah ke ginjal dan bercak nekrosis
parenkim renal.Kadang-kadang terjadi fibrosis dan glomerulus rusak.

2.2. Klasifikasi Nefrosklerosis


Terdapat dua bentuk nefrosklerosis :
1. Nefrosklerosis maligna
Sering dihubungkan dengan hipertensi maligna (tekanan darah diastolik >
130 mm Hg).Hal ini biasanya terjadi pada dewasa muda,dan pria terkena dua kali
lipat lebih sering dari pada wanita.Proses penyakit berkembang cepat dan lebih dari
50% pasien meninggal akibat uremia dalam beberapa tahun.

v Penyebab:

Nefrosklerosis maligna merupakan suatu keadaan yang lebih berat, yang terjadi
bersamaan dengan hipertensi maligna.
Hipertensi maligna paling sering terjadi akibat tekanan darah tinggi yang tidak
terkendali,tetapi juga bisa terjadi akibat:

Glomerulonefritis
Gagal ginjal kronis
Penyempitan arteri renalis (hipertensi vaskuler renalis)
Peradangan pembuluh darah ginjal (vaskulitis renalis)
Kelainan hormonal (misalnya feokromositoma), sindroma Conn atau sindroma
Cushing).
v Gejala:
Gejala-gejalanya disebabkan oleh cedera di otak, jantung dan ginjal akibat tekanan
darah tinggi yang berat; tekanan diastolik biasanya lebih tinggi dari 130 mmHg.
Gejalanya berupa:
Gelisah.
Linglung.
Mengantuk.
Penglihatan kabur.
Sakit kepala.
Mual.
Muntah.
Hematuria makroskopik.
Proteinuria berat.
Peningkatan kreatinin plasma

Dengan menggunakan oftalmoskop akan tampak daerah perdarahan, penimbunan


cairan dan pembengkakan pada saraf optikus di belakang mata. Jantung membesar
dan sering terjadi gagal jantung. Koma bisa terjadi akibat pembengkakan (edema)
atau perdarahan di dalam otak.

1. Nefrosklerosis benigna
Biasanya ditemukan pada dewasa lanjut.
Penyebabnya:Nefrosklerosis benigna ini sering dihubungkan dengan
arterisklerosis/usia tua dan hipertensi.

Gejalanya
asien dengan nefrosklerosis benigna jarang mengeluh gejala
renal,gejala yang muncul:

Proteinuria ringan
Nokturia

2.3. Diagnosa
Akibat kelainan fungsi ginjal maka:

Terdapat protein di dalam air kemih.


Pada pemeriksaan air kemih bisa menunjukkan adanya sel darah.
Pemeriksaan darah menunjukkan anemia akibat ketidakseimbangan antara
pemecahan dan pembentukan sel darah merah.
Kadar renin dan aldosteron (hormon yang dihasilkan ginjal untuk membantu
mengatur tekanan darah) sangat tinggi.

2.4. Pengobatan
Tekanan darah sangat tinggi dapat diatasi dengan pengaturan diet dan obatobatan. Penderita yang mengalami gagal ginjal progresif menjalani dialisa.

2.5. Prognosis
Jika keadaan ini tidak diobati,sekitar 50% penderita meninggal dalam waktu 6
bulan dan sisanya meninggal dalam waktu 1 tahun. Sekitar 60% kematian terjadi
akibat gagal ginjal,20%karena gagal jantung,20% karena stroke dan 1% karena
serangan jantung(infark miokard).
Menurunkan tekanan darah dan mengobati gagal ginjal akan menurunkan angka
kematian,terutama yang disebabkan oleh gagal ginjal,gagal jantung dan stroke.

2.6. Pencegahan
Pengawasan tekanan darah secara ketat pada orang-oarang yang cenderung
menderita hipetensi akan menurunkan resiko terjadinya nefrosklerosis.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
1. A.
Pengkajian
2. Aktifitas /istirahat
Gejala:
-

Kelemahan malaise.

Kelelahan ekstrem.

Gangguan tidur (insomnis/gelisah atau somnolen).

Tanda:

Kelemahan otot.

Kehilangan tonus.

Penurunan rentang gerak.

1. Sirkulasi
Gejala:Riwayat hipertensi lama atau berat
Tanda:
Hipertensi, nadi kuat, edema jaringan umum dan piting pada kaki, telapak
tangan.
-

Nadi lemah, halus, hipotensi ortostatik.

Disritmia jantung.

Pucat pada kulit.

1. Integritas ego
Gejala:
-

Faktor stress, misalnya masalah finansial, hubungan dengan orang lain.

Perasaan tak berdaya, tak ada harapan.

Tanda:
-

Menolak.

Ansietas.

Takut.

Marah.

Perubahan kepribadian.

Mudah terangsang.

1. Eliminasi
Gejala:Penurunan frekuensi urin,nokturia, proteinuria.

Tanda:
-

Perubahan warna urin, contoh kuning pekat, coklat, kemerahan, berawan.

Oliguria, dapat menjadi anuria.

1. Makanan/cairan
Gejala:
-

Peningkatan BB cepat (edema), penurunan BB (malnutrisi).

Anoreksia, mual/muntah

Tanda:
-

Distensi abdomen/ansietas, pembesaran hati (tahap akhir).

Edema (umum, tergantung).

Perubahan turgor kulit/kelembaban.

Ulserasi gusi, perdarahan gusi/lidah.

Penurunan otot, penurunan lemak subkutan, penampilan tak bertenaga.

1. Neurosensori
Gejala:
Kram otot/kejang, sindrom kaki gelisah, kebas rasa terbakar pada sakit kepala,
penglihatan kabur.
Kebas/kesemutan dan kelemahan khususnya ekstrimitas bawah (neuropati
perifer).
Tanda:
Gangguan status mental, contohnya ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan
memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, penurunan lapang perhatian, stupor,
koma.
-

Kejang, fasikulasi otot, aktivitas kejang.

Rambut tipis, kuku tipis dan rapuh.


1. Nyeri/kenyamanan

Gejala:
-

Sakit kepala.

Kram otot/nyeri kaki.

Nyeri panggul.

Tanda:
-

Perilaku berhati-hati/distraksi.

Gelisah

1. Pernapasan
Gejala:
-

Dispnea.

Nafas pendek.

Nokturnal paroksismal.

Batuk dengan/tanpa sputum.

Tanda:
-

Dispnea.

Takipnea pernapasan kusmaul.Batuk produktif dengan sputum merah muda


encer (edema paru).
1. Keamanan
Gejala: Ada/berulangnya infeksi
Tanda:Demam (sepsis, dehidrasi)

1. Seksualitas
Gejala:
-

Amenorea.

Infertilitas.

Penurunan libido

1. Interaksi sosial
Gejala:Kesulitan menurunkan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankan
fungsi peran dalam keluarga
-

1. Penyuluhan
Riwayat hipertensi.

Riwayat terpajan pada toksin, contoh obat, racun lingkungan.

Penggunaan antibiotik nefrotoksik saat ini/berulang.

(Doenges, E Marilynn, 2000, hal 626- 628)

1. B.
Diagnosa Keperawatan
2. Kelebihan volume cairan b.d. penurunan haluaran urin, retensi cairan dan
natrium sekunder terhadap penurunan fungsi ginjal.
3. Resiko tinggi perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d. anoreksi,
mual, muntah.
4. Resiko tinggi terjadi kekurangan volume cairan b.d. kehilangan cairan
berlebihan (fase diuretik).
5. Resiko tinggi penurunan curah jantung b.d. ketidakseimbangan volume
sirkulasi, ketidakseimbangan elektrolit.
6. Intoleransi aktivitas b.d. penurunan produksi energi metabolic, anemia,
retensi produk sampah dan prosedur dialisa.
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
b.d keterbatasan kognitif, kurang terpajan, misintepretasi informasi.

1. C.

1.

Intervensi

Kelebihan volume cairan b.d.


penurunan haluaran urin, retensi
cairan dan natrium sekunder
terhadap penurunan fungsi ginjal

Tujuan : pasien menunjukkan pengeluaran urin tepat seimbang dengan pemasukan.


Kriteria Hasil :
1. Hasil laboratorium mendekati normal.

2. BB stabil.
3. Tanda vital dalam batas normal.
4. Tidak ada edema.
Intervensi :
Mandiri

Rasional

1. Monitor denyut jantung, tekanan


darah, CVP.
2. Catat intake & output cairan,
termasuk cairan tersembunyi seperti
aditif antibiotic, ukur IWL.
3. Awasi BJ urin.
4. Batasi masukan cairan.
5. Monitor rehidasi cairan dan berikan
minuman bervariasi.
6. Timbang BB tiap hari dengan alat dan
pakaian yang sama.
7. Kaji kulit,wajah, area tergantung
untuk edema. Evaluasi derajat edema
(skala +1 sampai +4).
8. Auskultasi paru dan bunyi jantung.
9. Kaji tingkat kesadaran : selidiki
perubahan mental, adanya gelisah.
10. Takikardi dan hipertensi terjadi
karena kegagalan ginjal
mengeluarkan urine, pembatasan
cairan berlebihan selama mengobati
hipovolemia/hipotensi atau
perubahan fase oliguria gagal ginjal,
dan perubahan sistem reninangiotensin.
11. Perlu untuk menentukan fungsi ginjal,
kebutuhan penggantian cairan, dan
penurunan risiko kelebihan cairan.
12. Mengukur kemampuan ginjal untuk
mengkonsentrasikan urine.
13. Edema terjadi terutama pada
jaringan yang tergantung pada
tubuh. BB pasien dapat meningkat
sampai 4,5 kg cairan sebelum edema
pitting terdeteksi.
14. Kelebihan cairan dapat menimbulkan
edema paru dan GJK dibuktikan oleh
terjadinya bunyi napas tambahan,
bunyi jantung ekstra.
Kolaborasi
Rasional
1. Perbaiki penyebab, misalnya perbaiki
perfusi ginjal, me COP.
2. Awasi Na dan Kreatinin Urine Na
serum, Kalium serumHb/ Ht.
3. Rongent Dada.

4. Berikan Obat sesuai indikasi : Diuretik


: Furosemid, Manitol; Antihipertensi.
5. Klonidin, Metildopa.
6. Masukkan/pertahankan kateter tak
menetap sesuai indikasi.
7. Siapkan untuk dialisa sesuai indikasi.
8. Mampu mengembalikan ke fungsi
normal dari disfungsi ginjal atau
membatasi efek residu.
9. Mengkaji berlanjtnyadan penanganan
disfungsi/gagal ginjal meskipun
kedua nilai meningkat. Kreatini
adalah indikator yang yang lebih baik
untuk fungsi ginjal karena tidak
dipengaruhi oleh hidrasi, diet, dan
katabolisme jaringan.
10. Peningkatan ukuran jantung, batas
vaskular para prominen, efusi pleura,
infiltrat/kongesti menunjukkan
respons akut terhadap kelebihan
cairan atau perubahan kronis
sehubungan dengan gagal ginjal dan
jantung.
11. Manajemen cairan diukur untuk
menggantikan pengeluaran dari
semua sumber ditambah perkiraan
kehilangan yang tampak
(metabolisme, diaforesis).
12. Kateterisasi mengeluarkan obstruksi
saluran bawah dan memberikan ratarata pengawasan akurat terhadap
pengeluaran urine selama fase
akut.namun kateter tak menetap
dapat dikontraindikasikan
sehubungan dengan tingginys risiko
infeksi.

1. 2. Resiko tinggi perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh


b.d katabolisme protein, pembatasan diet, peningkatan
metabolisme, anoreksi, mual, muntah.
Tujuan : mempertahankan status nutrisi adekuat
Kriteria hasil :
1. Berat badan stabil.

2. Tidak ditemukan edema.


3. Albumin dalam batas normal.
Intervensi :
Mandiri

Rasional

1. Kaji status nutrisi.


2. Kaji/catat pola dan pemasukan
diet.
3. Kaji faktor yang berperan merubah
masukan nutrisi : mual, anoreksia.
4. Berikan makanan sedikit tapi
sering, sajikan makanan kesukaan
kecuali kontra indikasi.
5. Lakukan perawatan mulut, berikan
penyegar mulut.
6. Timbang BB tiap hari.
7. Membantu dalam mengidentifikasi
defisiensi dan kebutuhan diet.
8. Minimalkan anoreksia dan mual
sehubungan dengan status
uremik/menurunnya peristaltik.
9. Perawatan mulut menyejukkan,
meminyaki, dan membantu
menyegarkan rasa mulut, yang
sering tidak nyaman pada uremia
dan membatasi pemasukan oral.
10. Pasien puasa/katabolik akan
secara normal kehilangan 0.2-0,5
kg/hari. Perubahan kelebihan 0,5
kg dapat menunjukkan
perpindahan keseimbangan cairan.
Kolaborasi
Rasional
1. Awasi hasil laboratorium : BUN,
Albumin serum, transferin, Na, K
2. Konsul ahli gizi untuk mengatur
diet
3. Berikan diet kalori, protein,
hindari sumber gula pekat
4. Batasi K, Na, dan Phospat
5. Berikan obat sesuai indikasi :
sediaan besi; Kalsium; Vitamin D
dan B kompleks; Antiemetik

1. Indikator kebutuhan nutrisi, pembatasan,


pembatasan, dan kebutuhan/efektifitas terapi.
2. Menentukan kalori individu dan kebutuhan
nutrisi dalam pembatasan, dan
mengidentifikasi rute paling efektif dan
produknya.
3. Karbohidrat memenuhi kebutuhan energi dan
membatasi jaringan katabolisme, mencagah
pembentukan asam keto dari oksidasi protein
dan lemak.
4. Pembatasan elektroit ini diperlukan untuk
mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut,
khususnya bila dialisis tidak menjadi bagian
pengobatan, atau selama fase penyembuhan
GGA.
5. Defisiensi besi dapat terjadi bila protein
dibatasi; memperbaiki kadar normal serum
untuk memperbaiki fungsi jantung
neuromuskular, pembekuan darah, dan

metabolisme tulangt; perlu untuk


memudahkan absorpsi kalsium dari traktus GI;
vital sebagai koenzim pada pertumbuhan sel
dan kerjanya; diberikan untuk menghilangkan
mual/muntah dan dapat meningkatkan
pemasukan oral.

3. Resiko tinggi terjadi kekurangan volume cairan b.d. kehilangan cairan


berlebihan (fase diuretik)
Kriteria hasil :
1. Klien menunjukkan keseimbangan intake & output.
2. Turgor kulit baik.
3. Membrane mukosa lembab.
4. Nadi perifer teraba.
5. BB dan TTV dalam batas normal.
6. Elektrolit dalam batas normal.
Intervensi :
Mandiri

Rasional

1. Ukur intake & output cairan, hitung


IWL yang akurat.
2. Berikan cairan sesuai indikasi.
3. Awasi tekanan darah, perubahan
frekuansi jantung, perhatikan tandatanda dehidrasi.
4. Kontrol suhu lingkungan.
5. Awasi hasil Lab : elektrolit Na.
6. Membantu memperkirakan
kebutuhan penggantian cairan.
Pemasukan cairan harus
memperkirakan kehilangan melalui
urine, nasogastrik/drainase luka,
dan kehilangan tak kasat mata.
7. Fase diuretik GGA dapat berlanjut
pada fase oliguria bila pemasukan
cairan tidak dipertambahkan atau
terjadi dehidrasi nokturnal.
8. Hipotensi ortostatik dan takikardia
indikasi hipovolemia. Kekurangan
volume cairan ekstraselular
menyebabkan haus menetap tidak
hilang dengan minum air.
9. Menurunkan diaforesis yang
memperberat kehilangan cairan.
Kolaborasi
Rasional

Pada GGA non-oliguria atau fase diuretik GGA,


kehilangan urine besar dapat mengakibatkan
kehilangan natrium yang meningkat natrium urine
bekerja secara osmotik untuk meningkatkan
kehilangan cairan.
1. Awasi pemeriksaan labotorium

4. Resiko tinggi penurunan curah jantung b.d. ketidakseimbangan volume


sirkulasi, ketidakseimbangan elektrolit
Tujuan : klien dapat mempertahankan curah jantung yang adekuat.
Kriteria Hasil :
1. TD dan HR dalam batas normal.
2. Nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler.
Intervensi
Mandiri
1. Auskultasi bunyi jantung, evaluasi
adanya, dispnea, edema
perifer/kongesti vaskuler.
2. Kaji adanya hipertensi, awasi TD,
perhatikan perubahan postural
saat berbaring, duduk dan berdiri.
3. Observasi EKG, frekuensi jantung.
4. Kaji adanya nyeri dada, lokasi,
radiasi, beratnya, apakah
berkurang dengan inspirasi dalam
dan posisi telentang.
5. Evaluasi nadi perifer, pengisian
kapiler, suhu, sensori dan mental.
6. Observasi warna kulit, membrane
mukosa dan dasar kuku.
7. Kaji tingkat dan respon thdp
aktivitas.
8. Pertahankan tirah baring
9. Terbentuknya s3/s4 menunjukkan
kegagalan. Friksi gesek perikardial
mungkin hanya manifestasi
perikarditis uremik, memerlukan
upaya intervensi/kemungkinan

Rasional

dialisis.
10. Penggunana obat (antasida)
mengandung magnesium dapat
mengakibatkan hipermagnesemia,
potensial disfungsi neuromuskular
dan risiko henti napas/jantung.
11. Perubahan pada fungsi
eletromekanis dapat menjadi bukti
pada respons terhadap
berlanjutnya gagal
ginjal/akumulasi toksin dan
ketidakseimbangan elektrolit.
12. Pucat mungkin menunjukkan
vasokonstriksi atau anemia.
Sianosis mungkin berhubungan
dengan kongesti paru dan gagal
jantung.
13. Neuromuskular indikator
hipokalemia, yang dapat juga
mempengaruhi kontraktilitas
danfungsi jantung.
Kolaborasi
Rasional
1. Awasi hasil laboratorium : Elektrolit
(Na, K, Ca, Mg), BUN, creatinin.
2. Berikan oksigen dan obat-obatan
sesuai indikasi.
3. Siapkan dialysis
1.
Selama fase oliguria,
hiperkalemia dapat terjadi
tetapi menjadi hipokalemia
pada fase diuretik atau
perbaikan; selain efek pada
jantung defisit kalsium
meningkatkan efek toksik
kalium; dialisis atau pemberian
kalsium diperlukan untuk
melawan efek depresif SSP dari
peningkatan kadar magnesium.
2.
Memaksimalkan sedian
oksigen untuk kebutuhan
miokardial untuk menurunkan
kerja jantung dan hipoksia
selular.
3.
Dindikasi untuk distrimia
menetap, gagal jantung
progresif yang tidak responsif
terhadap terapi lain.

1. 5. Intoleransi aktivitas b.d. penurunan produksi energi metabolic,


anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialisa
Tujuan : klien mampu berpartisipasi dalam aktifitas yang dapat ditoleransi

Intervensi :
Mandiri
1. Kaji tingkat kelelahan, tidur,
istirahat.
2. Kaji kemampuan toleransi
aktivitas.
3. Identifikasi faktor yang
menimbulkan keletihan.
4. Rencanakan periode
istirahat adekuat.
5. Berikan bantuan ADL dan
ambulasi.
6. Tingkatkan aktivitas sesuai
toleransi, anjurkan aktifitas
alternative sambil istirahat

Rasional

Kolaborasi

1. Menentukan derajat (berlanjutna/perbaikan) dari


efek ketidakmampuan.
2. Mengidentifikasi kebutuhan individual dan
membantu pemilihan intervensi.
3. Mungkin mempunyai efek akumulatif (sepanjang
faktor psikologis) yang dapat diturunkan bila
masalah dan takut diakui/dietahui.
4. Mencegah kelelahan berlebihan dan menyimpan
energi untuk penyembuhan, regenerasi jaringan.
5. Mengubah energi, memungkinkan berlanjutnya
aktivitas yang dibutuhkan/normal. Memberikan
keamanan pada pasien.
6. Meningkatkan rasa membaik/meningkatkan
kesehatan, dan membatasi frustasi.
Rasional

Awasi kadar elektrolit termasuk


kalsium, magnesium, dan kalium.

Ketidakseimbangan dapat mengganggu fungsi


neuromuskular yang memerlukan peningkatan enggunaan
energi untuk menyelesaian tugas potensial perasaan lelah.

1. 6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan


pengobatan b.d keterbatasan kognitif, kurang terpajan,
misintepretasi informasi
Tujuan :
-

klien menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan.

melakukan dengan benar prosedur yang perlu, perubahan perilaku hidup

Intervensi :
Mandiri
1. kaji ulang penyakit, prognosis, dan
faktor pencetus bila diketahui.
2. Jelaskan tingkat fungsi ginjal setelah
episode alut berlalu.
3. Diskusiskan dialisis ginjal atau
transplantasi bila ini merupakan bagian
yang mungkin akan dilakukan di masa
mendatang.
4. Kaji ulang rencana diet/ pembatasan.

Rasional

Termasuk lembar daftar makanan yang


dibatasi.
5. Dorong pasien untuk mengobservasi
karakteristik urine dan jumlah/
frekuensipengeluaran.
6. Buat jadwal teratur untuk
penimbangan.
7. Kaji ulang pemasukan/pembatasan.
Ingatkan pasien untuk membagi cairan
selamasehari dan termasuk semua
cairan pada jumlah cairan sehari.
1.
Memberikan dasar pengetahuan
dimana pasien dapat membuat
pilihan informasi.
2.
Pasien dapat mengalami defek
sisa pada fungsi ginjal yang
mungkin sementara.
3.
Meskipun bagian ini akan
diberikan sebelumnya oleh dokter,
pasien boleh mengetahui dimana
keputusan harus dibuat dan
mungkin memerlukan masukan
tambahan.
4.
Nutrisi adekuat perlu untuk
meningkatkan penyembuhan/
regenerasi jaringan dan kepatuhan
pada pembatasan dapat mencegah
komplikasi
5.
Perubahan dapat menunjukkan
gangguan fungsi ginjal/kebutuhan
dialisis.
6.
Alat berguna untuk pengawasan
status cairan dan kebutuhan diet.
7.
Tergantung pada penyebab
GGA, asien dapat memerlukan
pembatasan atau peningkatan
pemasukan cairan.

DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. Brunner and Suddarths textbook of medicalsurgical
nursing. 8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A. Jakarta: EGC; 2000 (Buku asli
diterbitkan tahun 1996)
Reeves, C.J., Roux, G., Lockhart, R. Medical surgical nursing. Alih bahasa : Setyono,
J. Jakarta: Salemba Medika; 2001 (Buku asli diterbitkan tahun 1999)
Corwin, E.J. Handbook of pathophysiology. Alih bahasa : Pendit, B.U. Jakarta: EGC;
2001 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
Price, S.A. & Wilson, L.M. Pathophysiology: Clinical concept of disease processes. 4th
Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC; 1994 (Buku asli diterbitkan tahun
1992)
Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. Nursing care plans: Guidelines for
planning and documenting patients care. Alih bahasa: Kariasa,I.M. Jakarta: EGC; 2000
(Buku asli diterbitkan tahun 1993)
Suyono, S, et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI; 2001

| Tinggalkan Komentar

MAKALAH EKLAMSIA
Posted on 04/04/2013
BAB II

TINJAUAN TEORITIS
1. A. Defenisi
Preeklampsia (toksemia gravidarum) adalah tekanan darah tinggi yang disertai
dengan proteinuria (protein dalam air kemih) atau edema (penimbunan cairan), yang
terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan
( Manuaba, 1998 ).
Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan
nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan protein uria tetapi tidak menunjukkan
tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya
biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ( Rustam Muctar,
1998 ).
Eklampsia berasal dari bahasa yunani dan berarti Halilintar. Kata tersebut dipakai
karena seolah- olah gejala- gejala eklampsia timbul dengan tiba tiba tanpa
didahului oleh tanda tanda lain. Sekarang kita ketahui bahwa eklampsia pada
umumnya timbul pada wanita hamil atau dalam nifas dengan tanda tanda pre
eklampsia. Pada wanita yang menderita eklampsia timbul serangan kejangan yang
diikuti oleh koma. Tergantumg dari saat timbulnya eklampsia dibedakan eklampsia
gravidarum, eklampsia parturientum dan eklampsia puerperale. Perlu dikemukakan
bahwa pada eklampsia gravidarum sering kali persalinan mulai tidak lama kemudian.

Eklampsia adalah preaklampsia yang disertai kejang dan atau koma yang timbul
bukan akibat dari kelainan neurologi (Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 : 310 ; 1999).
Pre eklamsi dan eklamsi adalah penyakit pada wanita hamil yang secara langsung
disebabkan oleh kehamilan. Pre eklamsi dan eklamsi hampir secara eksklusif
merupakan penyakit pada nullipara. Biasanya terdapat pada wanita usia subur
dengan umur ekstrem, yaitu pada remaja belasan tahun atau pada wanita yang
berumur lebih dari 35 tahun. Pada multipara biasanya dijumpai pada keadaankeadaan : kehamilan multifetal dan hidrop fetalis, penyakit vaskuler, termasuk
hipertensi essensial kronis dan diabetes mellitus, penyakit ginjal

Dengan pengetahuan bahwa biasanya eklampsia didahului oleh pre


eklampsia,tampak pentingnya pengawasan antenatal yang teliti dan teratur, sebagai
usaha untuk mencegah timbulnya penyakit itu.

1. B. Etiologi
Apa yang menjadi penyebab preeclampsia dan eklampsia sampai sekarang belum
diketahui. Beberapa teori yang mengatakan bahwa perkiraan etiologi dari kelainan
tersebut sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun
teori-teori tersebut antara lain :

Peran Prostasiklin dan Tromboksan .


Peran faktor imunologis.
Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi system komplemen pada
pre-eklampsi/eklampsia.
Peran faktor genetik /familial
Terdapatnya kecenderungan meningkatnya frekuensi preeklampsi/ eklampsi
pada anak-anak dari ibu yang menderita preeklampsi/eklampsi.
Kecenderungan meningkatnya frekuensi pre-eklampsi/eklampspia dan anak
dan cucu ibu hamil dengan riwayat pre-eklampsi/eklampsia dan bukan pada
ipar mereka.
Peran renin-angiotensin-aldosteron system (RAAS)
Adapun penyebab preeklampsia sampai sekarang belum diketahui, namun ada
beberapa teori yang dapat menjelaskan tentang penyebab preeklampsia, yaitu :

Bertambahnya frekuensi pada primigravida, kehamilan ganda, hidramnion,


dan
mola hidatidosa.
Bertambahnya frekuensi seiring makin tuanya kehamilan.
Dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dalam
uterus.
Timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma.
Sebab eklampsia belum diketahui pasti, namun salah satu teori mengemukakan
bahwa eklampsia disebabkan ishaemia rahim dan plasenta (Ischaemia Utera
Placentoe).
1. C. Patofosiologi
Pada pre eklampsia terdapat penurunan plasma dalam sirkulasi dan terjadi
peningkatan hematokrit. Perubahan ini menyebabkan penurunan perfusi ke organ ,
termasuk ke utero plasental fatal unit. Vasospasme merupakan dasar dari timbulnya
proses pre eklampsia. Konstriksi vaskuler menyebabkan resistensi aliran darah dan
timbulnya hipertensi arterial. Vasospasme dapat diakibatkan karena adanya
peningkatan sensitifitas dari sirculating pressors. Pre eklampsia yang berat dapat
mengakibatkan kerusakan organ tubuh yang lain. Gangguan perfusi plasenta dapat
sebagai pemicu timbulnya gangguan pertumbuhan plasenta sehinga dapat berakibat
terjadinya Intra Uterin Growth Retardation.
Patofisiologi preeklamsia-eklamsia setidaknya berkaitan dengan perubahan
fisiologis kehamilan. Adaptasi fisiologis normal pada kehamilan meliputi peningkatan
volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskuler sistemik,
peningkatan curah jantung, dan penurunan tekanan osmotik koloid. Pada
preeklamsia, volume plasma yang beredar menurun, sehingga terjadi
hemokonsentrasi dan peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini membuat
perfusi organ maternal menurun, termasuk perfusi ke unit janin-uteroplasenta.
Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan
sel-sel darah merah, sehingga kapasitas oksigen maternal menurun.
Predisposisi genetik dapat merupakan fakktor imunologi lain( Chesley, 1984 ).
Sibai menemukan adanya frekuensi preeklamsia dan eklamsia pada anak dan cucu
wanita yang memiliki riwayat eklampsia, yang menunjukkan suatu gen resesif
autosom yang mengatur respons imun maternal.

1. D.

Manifestasi Klinis

Nyeri kepala hebat pada bagian depan atau belakang kepala yang diikuti
dengan peningkatan tekanan darah yang abnormal. Sakit kepala tersebut
terus menerus dan tidak berkurang dengan pemberian aspirin atau obat sakit
kepala lain
Gangguan penglihatan a pasien akan melihat kilatan-kilatan
cahaya, pandangan kabur, dan terkadang bisa terjadi kebutaan sementara
Iritabel a ibu merasa gelisah dan tidak bisa bertoleransi dengan suara berisik
atau gangguan lainnya
Nyeri perut a nyeri perut pada bagian ulu hati yang kadang disertai dengan
muntah
Gangguan pernafasan sampai cyanosis
Terjadi gangguan kesadaran
Pada preeklampsia berat didapatkan sakit kepala di daerah frontal, diplopia,
penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium, mual atau muntah.

1. E.
Klasifikasi
Dibagi menjadi 2 golongan, yaitu sebagai berikut :
1. Preeklampsia Ringan
Bila disertai keadaan sebagai berikut:

Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring
terlentang; atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih; atau kenaikan sistolik
30 mmHg atau lebih .Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada 2 kali
pemeriksaan dengan jarak periksa 1 jam, sebaiknya 6 jam.
Edema umum, kaki, jari tangan, dan muka; atau kenaikan berat 1 kg atau
lebih per minggu.
Proteinuria kwantatif 0,3 gr atau lebih per liter; kwalitatif 1 + atau 2 + pada
urin kateter atau midstream.
b. Preeklampsia Berat

Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.


Proteinuria 5 gr atau lebih per liter.
Oliguria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam .
Adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri pada epigastrium.
Terdapat edema paru dan sianosis.
Pre eklamsi dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu :
a.

Pre eklamsi ringan, bila disertai keadana sebagai berikut :

1) Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring
terlentang; atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih; atau kenaikan sistolik 30

mmHg atau lebih. Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada 2 kali pemeriksaan


dengan jarak periksa 1 jam, sebaiknya 6 jam
2) Edema umum, kaki, jari tangan, dan muka; atau kenaikan berat badan 1 kg atau
lebih per minggu.
3) Proteinuria kwantitatif 0,3 gr atau lebih per liter; kwalitatif 1+ atau 2+ pada uri
kateter atau midstream.
b. Pre eklamsi berat, bila disertai keadaan sebagai berikut :
1) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.
2) Proteinuria 5 gr atau lebih per liter.
3) Oliguria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam.
4) Adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri di epigastrium.
5) Terdapat edema paru dan sianosis.
Sedangkan eklamsia di bagi atas 2 macam yaitu:
1. Eklampsia gravidarum (Eklampsia antepartum)
adalah tekanan darah tinggi yang disertai dengan proteinuria (protein dalam air
kencing) atau edema (penimbunan cairan), yang terjadi pada kehamilan 20 minggu
sampai akhir minggu pertama setelah persalinan.
1. Eklampsia parturientum (Eklampsia intrapartum)
intrapartum eklampsia adalah pengembangan kejang atau koma pada wanita hamil
menderita tekanan darah tinggi. Intrapartum berarti bahwa itu terjadi selama
pengiriman bayi. Eklampsia adalah kondisi serius yang memerlukan pengobatan
medis yang mendesak. Eklampsia dapat dikaitkan dengan peningkatan moderat
serta signifikan pada tekanan darah. Tekanan darah dapat kembali normal setelah
melahirkan atau mungkin bertahan untuk jangka waktu tertentu.
1. Eklampsia puerperale (Eklampsia post partum)
pengembangan kejang atau koma pada wanita hamil menderita tekanan darah
tinggi. Postpartum berarti bahwa segera setelah melahirkan. Eklampsia adalah
kondisi serius yang memerlukan pengobatan medis yang mendesak. Eklampsia dapat
dikaitkan dengan peningkatan moderat serta signifikan pada tekanan darah.

1. Faktor Resiko
Preeklampsia umumnya terjadi pada kehamilan yang pertama kali, kehamilan di usia
remaja dan kehamilan pada wanita diatas 40 tahun. Faktor resiko yang lain adalah:

1.

Riwayat tekanan darah tinggi yang kronis sebelum kehamilan.

2.

Riwayat mengalami preeklampsia sebelumnya.

3.

Riwayat preeklampsia pada ibu atau saudara perempuan.

4.

Obesitas, DM, Molahidatidosa

5.

Mengandung lebih dari satu orang bayi.

6.

Riwayat kencing manis, kelainan ginjal, lupus atau rematoid arthritis.

7.

Primigravida, terutama primigravida muda, kehamilan ganda.

1. Komplikasi
Kompliksai yang terberat adalah kematian ibu dan janin. Komplikasi ini biasanya
terjadi pada Preeklamsia dan Eklamsia.

Solutio plasenta. Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensi
akut dan lebih sering terjadi pada Preeklamsia.
Hipofibrinogenemia,terjadi pada Preeklamsi berat.
Hemolisis. Penderita dengan Preeklamsi berat kadang-kadang menunjukkan
gejala klinis hemolisis yang dikenal ikterus. Belum diketahui dengan pasti
apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah merah.
Perdarahan otak, kelainan mata (kehilangan penglihatan sementara)
Edem paru-paru, nekrosis hati, kelainan ginjal

1. H. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :

Gambaran klinik : pertambahan berat badan yang berlebihan, edema,


hipertensi, dan timbul proteinuria
Gejala subyektif : sakit kepala didaerah fromtal, nyeri epigastrium; gangguan
visus; penglihatan kabur, skotoma, diplopia; mual dan muntah.
Gangguan serebral lainnya: refleks meningkat, dan tidak tenang
Pemeriksaan: tekanan darah tinggi, refleks meningkat dan proteinuria pada
pemeriksaan laboratorium
G. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah

Penurunan hemoglobin ( nilai rujukan atau kadar normal hemoglobin untuk


wanita hamil adalah 12-14 gr% )
Hematokrit meningkat ( nilai rujukan 37 43 vol% )
Trombosit menurun ( nilai rujukan 150 450 ribu/mm3 )
2.
Urinalisis
Ditemukan protein dalam urine.
3.

Pemeriksaan Fungsi hati

Bilirubin meningkat ( N= < 1 mg/dl )


LDH ( laktat dehidrogenase ) meningkat
Aspartat aminomtransferase ( AST ) > 60 ul.
Serum Glutamat pirufat transaminase ( SGPT ) meningkat ( N= 15-45 u/ml )
Serum glutamat oxaloacetic trasaminase ( SGOT ) meningkat ( N= <31 u/l )
Total protein serum menurun ( N= 6,7-8,7 g/dl )

4. Tes kimia darah


Asam urat meningkat ( N= 2,4-2,7 mg/dl )
b.

Radiologi

a. Ultrasonografi
Ditemukan retardasi pertumbuhan janin intra uterus. Pernafasan intrauterus lambat,
aktivitas janin lambat, dan volume cairan ketuban sedikit.
b. Kardiotografi
Diketahui denyut jantung janin bayi lemah.
H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan pre eklamsi
a.

Pencegahan

Pemeriksaan antenatal teratur dan bermutu serta teliti, mengenal tandatanda sedini mungkin (pre elkamsi ringan), lalu diberikan pengobatan yang
cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre eklamsi kalau ada
faktor-faktor peredisposisi.
b.
Penanganan

Tujuan utama penanganan adalah


Untuk mencegah terjadinya pre-eklamsi dan eklamsi
Hendaknya janin lahir hidup
Trauma pada janin seminimal mungkin
Prinsip penanganan preeklampsia:
1) Melindungi ibu dari efek peningkatan tekanan darah
Tujuan pengobatan ini adalah untuk mengurangi resiko pada ibu seperti infark cerebri
atau gagal jantung dan juga untuk mengurangi gangguan pada sirkulasi
uteroplasenter.Penurunan tekanan darah yang terlalu rendah dapat mengganggu
sirkulasi aliran darah pada janin.
2) Mencegah progresifitas penyakit menjadi eklampsia
3) Mengatasi atau menurunkan resiko janin (solusio plasenta, pertumbuhan janin
terhambat, hipoksia sampai kematian janin)
Penatalaksanaan Pre-eklamsi ringan
1. Istirahat di tempat tidur masih merupakan terapi utama untuk penanganan
preeklampsia
2. Tidak perlu segera diberikan obat anti hipertensi atau obat lainnya, tidak perlu
dirawat kecuali tekanan darah meningkat terus (batas aman 140-150/90-100
mmHg
3. Pemberian luminal 1 sampai 2 x 30 mg/hari bila tidak bisa tidur
4. Pemberian asam asetilsalisilat (aspirin) 1 x 80 mg / hari
5. Bila tekanan darah tidak turun dianjurkan dirawat dan diberikan obat anti
hipertensi: metildopa 3 x 125 mg/hari (maksimal 1500 mg/hari), atau nifedipin
3-8 x 5 10 mg / hari, atau nifedipin retard 2-3 x 20 mg / hari atau pindolol 13 x 5 mg / hari 9 maks. 30 mg / hari
6. Diet rendah garam dan diuretika tidak perlu
7. Jika maturitas janin masih lama, lanjutkan kehamilan, periksa setiap 1 minggu
8. Indikasi rawat jika ada perburukan, tekanan darah tidak turun setelah rawat
jalan, peningkatan berat badan melebihi 1 kg/minggu 2 kali berturut-turut,
atau pasien menunjukkan preeklampsia berat.
9. Jika dalam perawatan tidak ada perbaikan, tatalaksana sebagai preeklampsia
berat
10. Jika ada perbaikan lanjutkan rawat jalan.
11. Pengakhiran kehamilan ditunggu sampai usia kehamilan 40 minggu, kecuali
ditemukan pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, solusio plasenta,
eklampsia atau indikasi terminasi kehamilan lainnya.
12. Persalinan dalam preeklampsia ringan dapat dilakukan spontan atau dengan
bantuan ekstraksi untuk mempercepat kala II.

Penatalaksanaan Pre-eklamsi berat

Per-eklamsi berat kehamilan kurang 37 minggu:


a. Janin belum menunjukkan tanda-tanda maturitas paru-paru, dengan
pemeriksaan shake
dan rasio L/S maka penanganannya adalah sebagai berikut:
Berkan suntikan sulfat magnesium dosis 8gr IM, kemudian disusul dengan injeksi
tambahan 4 gr Im setiap 4 jam( selama tidak ada kontra dindikasi)
Jika ada perbaikan jalannya penyakit, pemberian sulfas magnesium dapat
diteruskan lagi selama 24 jam sampai dicapai kriteria pre-eklamsia ringan (kecuali
jika ada kontraindikasi)
Jika dengan terapi diatas tidak ada perbaikan, dilakukan terminasi kehamilan:
induksi partus atau cara tindakan lain, melihat keadaan.
b.

Jika pada pemeriksaan telah dijumpai tanda-tanda kematangan paru janin, maka
penatalaksan kasus sama seperti pada kehamilan di atas 37 minggu.

Pre-eklamsi berat kehamilan 37 minggu ke atas:


a.Penderita di rawat inap
Istirahat mutlak dan di tempatkan dalam kamar isolasi
Berikan diit rendah garam dan tinggi protein
Berikan suntikan sulfas magnesium 8 gr IM (4 gr bokong kanan dan 4 gr bokong
kiri)
Suntikan dapat di ulang dengan dosis 4 gr setiap 4 jam
Syarat pemberian Mg So4 adalah: reflek patela (+), diurese 100cc dalam 4 jam
yang lalu, respirasi 16 permenit dan harus tersedia antidotumnya: kalsium lukonas
10% ampul 10cc.
Suntikan dapat

Infus detroksa 5 % dan ringer laktat


b.
Obat antihipertensif: injeksi katapres 1 ampul IM dan selanjutnya diberikan
tablet katapres 3x tablet sehari
c.
Diuretika tidak diberikan, kecuali terdapat edema umum, edema paru dan
kegagalan jantung kongesif. Untuk itu dapat diberikan IV lasix 1 ampul.

d.
Segera setelah pemberian sulfas magnesium kedua, dilakukan induksi dipakai
oksitosin (pitosin atau sintosinon) 10 satuan dalam infus tetes.
e.
Kala II harus dipersingkat dengan ekstrasi vakum dan forsep, jadi wanita
dilarang mengedan
f.
Jangan berikan methergin postpartum, kecuali terjadi pendarahan disebsbkan
atonia uteri.
h.

Bila ada indikasi obstetik dilakukan sectio cesaria.

2. Penatalaksanaan eklamsi
Prinsip penataksanaan eklamsi sama dengan pre-eklamsi berat dengan tujuan
menghentikan berulangnya serangan konvulsi dan mengakhiri kehamilan secepatnya
dengan cara yang aman setelah keadaan ibu mengizinkan.
a.

Penderita eklamsia harus di rAwat inap di rumah sakit

b. Saat membawa ibu ke rumah sakit, berikan obat penenang untuk mencegah
kejang-kejang
selama dalam perjalanan. Dalam hal ini dapat diberikan pethidin
100 mg atau luminal 200mg atau morfin 10mg.
c.

Tujuan perawatan di rumah sakit;


Menghentikan konvulsi
Mengurangi vaso spasmus
Meningkatkan diuresis
Mencegah infeksi
Memberikan pengobatan yang tepat dan cepat

Terminasi kehamilan dilakukan setelah 4 jam serangan kejang terakhir dengan


tidak memperhitungkan tuannya kehamilan.
d.

Sesampai di rumah sakit pertolongan pertama adalah:


Membersihkan dan melapangkan jalan pernapasan

Menghindari lidah tergigit


Pemberian oksigen
Pemasangan infus dekstrosa atau glukosa 10 %-20%-40%
Menjaga jangan terlalu trauma
Pemasangan kateter tetap(dauer kateter)
e.

Observasi ketat penderita:

Dalam kamar isolasi: tenang, lampu redup- tidak terang, jauh dari kebisingan
dan rangsangan.
Dibuat daftar catatan yang dicatat selama 30 menit: tensi, nadi, respirasi, suhu
badan, reflek, dan dieresis diukur. Kalau dapat dilakukan funduskopi sekali sehari.
Juga dicatat kesadaran dan jumlah kejang.
Pemberian cairan disesuaikan dengan jumlah diuresis, pada umumnya 2 liter
dalam 24 jam.
Diperiksa kadar protein urine 24 jam kuantitatif
f.

Penatalaksanaan pengobatan

1.
Sulfas Magnesium injeksi MgSO4% dosis 4 gram IV perlahan-lahan selama 510menit, kemudian disusul dengan suntikan IM dosis 8 gram. Jika tidak ada
kontraindikasi suntikan IM diteruskan dengan dosis 4 gr setiap 4 jam. Pemberian ini
dilakukan sampai 24jam setelah konvulsi berakhir atau setelah persalinan, bila tidak
ada kontraindikasi(pernapasan,reflek, dan diuresis). Harus tersedia kalsium glukonas
sebagai ntidotum. Kegunaan MgSO4 adalah:
Mengurangi kepekaan syaraf pusat untuk mencegah konvulsi
Menambah diuresis, kecuali bila ada anuria
Menurunkan pernafasan yang cepat
2.

Pentotal sodium

Dosis inisal suntikan IV perlahan-lahan pentotal sodium 2,5% sebanyak 0,20,3gr.

Dengan infus secara tetes (drips)tiap 6 jam:


1 gr pentotalsodium dalam 500 cc dektrosa 10 %
gr pentotalsodium dalam 500 cc dektrosa 10 %
gr pentotalsodium dalam 500 cc dektrosa 5 %
gr pentotal sodium dalam 500 cc dektrosa 5 %(selama 24 jam) Kerja pentotal
sodium; menghentikan kejang dengan segara. Obat ini hanya diberikan di rumah
sakit karena cukup berbahay menghentikan pernapasa(apnea)
3.

Valium (diazepam)

Dengan dosis 40 gr dalam 500cc glukosa 10% dengan tetesan 30 tetes permenit.
Seterusnya berikan setiap 2 jam 10mg dalam infus atau suntikan IM, sampai tidak
ada kejang. Obat ini cukup aman.
4.

Litik koktil
Ada 2 macam kombinasi obat:
Largatil (100mg)+ phenergen(50mg)+phetidin (100mg)
Phetidin (100mg)+Chorpromazin(50mg)+Promezatin(50mg)

Dilarutkan dalam glukosa 5% 500cc dan diberikan secara infuse tetes IV 4 jumlah
tetesan disesuaikan dengan serangan kejang dan tensi penderita.
5.

Sfonograf
Pertama kali morfin 20mg SC
jam stelah 1 MgSO415 % 40cc SC
2jam setelah 1 morfin 20 mg SC
5 jam setelah 1 MgSO4 15% 20-40cc SC
11 jam setelah 1 MgSO4 15% 10cc SC

19 jam setelah 1 MgSO4 15% 10cc SC Lama pengobatan 19 jam , cara ini
sekarang sudah jarang dipakai.

g.

Pemberian antibiotika

Untuk mencegah infeksi diberikan antibiotika dosis tinggi setiap hari Penisilin
prokain 1,2-2,4 juta satuan.

h.

Penanganan Obstetrik

Setelah pengobatan pendahuluan, dilakukan penilaian tentang status


obsterikus penderita: keadaan janin, keadaan serviks dan sebagainya.
Setelah kejang dapat diatasi, keadaan umum penderita , direncanakan untuk
mengakhiri keh amilan atau mempercepat jalannya persalinan dengan cara yang
aman.
Kalau belum inpartu,maka induksi partus dilakukan setelah 4 jam bebas kejang
dengan atau tanpa amniotomi.
Kala II harus dipersingkat dengan ekstraksi vakum atau ekstraksi forsep. Bila
janin mati embriotomi
Bila serviks masih tertutup dan lancip(pada Primi), kepala janin masih tinggi,
atu ada kesan disproporsi sefalopelvik atau ada indikasi obstetrik lainnya sebaiknya
dilakukan sectio secaria(bila janin hidup). Anestesi yang dipakai lokal atau umum
dikonsultasikan dengan ahli anestesi.
i.

Bahaya yang masih tetap mengancam


Pendarahan post partum
Infeksi nifas
Trauma pertolongan obstetrik.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

1. A.

Pengkajian
Data yang dikaji pada ibu dengan pre eklampsia adalah :

1. Data subyektif :
2. Data Obyektif :

Identitas pasien dan penanggung jawab


Umur biasanya sering terjadi pada primi gravida , < 20 tahun atau
> 35 tahun

Riwayat kesehatan ibu sekarang


Terjadi peningkatan tensi,
oedema, pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur.

Riwayat kesehatan ibu sebelumnya


Penyakit ginjal, anemia, vaskuler
esensial, hipertensi kronik, DM

Riwayat kehamilan
Riwayat
kehamilan ganda, mola hidatidosa, hidramnion serta riwayat kehamilan
dengan pre eklampsia atau eklampsia sebelumnya.

Riwayat penyakit
Ada hubungan genetik yang telah diteliti. Riwayat keluarga ibu
atau saudara perempuan meningkatkan resiko empat sampai delapan kali.

Pola nutrisi
Jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun
selingan.

Psiko sosial spiritual


Emosi yang tidak
stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan
moril untuk menghadapi resikonya.

Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam

Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema

Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress

Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian


SM ( jika refleks + )
Pemeriksaan Fisik :

Pemeriksaan tekanan darah, nadi dan pernafasan minimal setiap 2


sampai 4 jam untuk menetapkan nilai dasar dan memantau perubahan
kecil sepanjang masa hamil.
Suhu setiap 4 jam atau kurang bila terjadi peningkatan suhu tubuh
Kecepatan denyut jantung janin setiap 2 sampai 4 jam atau diawasi
terus menerus.
Edema dievaluasi pada wajah, ekstremitas dan sacrum setiap 4 jam;
kedalaman ditentukan dengan melakukan penekanan pada area di atas
tulang
Berat badan ditentukan setiap hari pada waktu yang sama kecuali tirah
baring ketat
Refleks tendon dalam dievaluasi setiap 4 jam terhadap hiperaktivitas
dari tendon bisep, trisep atau achiles
Edema pulmoner ditentukan setiap 4 jam sekali dengan melakukan
auskultasi
Pelepasan plasenta dikaji setiap jam dengan memeriksa perdarahan
vagina atau rigiditas uterus.

Breathing : Pernafasan meliputi sesak nafas sehabis aktifitas, batuk


dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok, penggunaan obat bantu
pernafasan, bunyi nafas tambahan, sianosis.

Pemeriksaan penunjang :

Protein urine ditentukan setiap jam bila dipasang kateter (hasil +3


menandakan kehilangan 5 mg protein dalam 24 jam)
Berat jenis urine ditentukan setiap jam bila dipasang kateter (hasil
yang didapat 1,040 berhubungan dengan oliguria dan proteinuria)
Hitung sel darah lengkap (termasuk hitung trombosis)
Pemeriksaan pembekuan (termasuk waktu perdarahan, PT, PTT, dan
fibrinogen)
Enzim hati (Laktat Dehidrogenase (LDH), Aspartat aminotransferase
(AST) (SGOT), Alanin aminotransferase (ALT) (SGPT)
Kimia darah (BUN, kreatinin, glukosa, asam urat)
Pemeriksaan silang darah
Hematokrit, Hemoglobin, trombosis
Laboratorium : protein urine dengan kateter atau midstream ( biasanya
meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif.
USG : untuk mengetahui keadaan janin
NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin.

1. B.
No

Analisa Data
Data

Masalah

Etiologi

DS :

Klien mengatakan kalau ia


merasa nyei pada kepala,
kadang-kadang mual dan
muntah, kakinya bengkak.

DO :

1.
2.

DS :

TD : 140/90 mmHg
Udem pada kedua ekstremitas Perfusi jaringan
Hb :11 gr %
Cidera pada janin
Klien mengatakan sempat
minum obat dan jamu peluntur
kehamilan tetapi tidak berhasil.

Hipertensi, Vasospasme
Fetal distress

DO :

DS :

3.

DO :

TD : 140/90 mmHg
kehamilan 39-40 mg,
Hb : 11 gr %
Reduksi urine (-)
Gerakan janin < 10x/jam.

Klien mengatakan merasa


cemas menjelang persalinan.

Klien tampak cemas


Nadi : 92x/menit
RR : 22x/menit

kecemasan
Ancaman cidera pada
bayi

DS :

Klien mengatakan belum


paham betul tentang
kehamilannya dan cara
perawatannya.
Klien mengatakan akan kontrol
ke dokter dengan ditemani
suaminya.

DO :

4.

1. C.

Klien tampak lebih ingin


mengetahui tentang
perkembangan kehamilannya.

Diagnosa Keperawatan

Kurang informasi

Kurang pengetahuan

1.
2.
3.
4.

Perubahan perfusi jaringan b/d Hipertensi, Vasospasme siklik, Edema serebral.


Resiko tinggi cidera pada janin b/d fetal distress.
Kecemasan b/d ancaman cedera pada bayi sebelum lahir.
Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan tindakan b/d kurang informasi.

No Diagnose keperawatan

1.
2.

Perubahan perfusi
jaringan b.d.
Hipertensi,
Vasospasme siklik,
Edema serebral.
Resiko tinggi cedera
pada janin b/d fetal
distress.

Tujuan

Intervensi

Rasional

11. MGSO4 adalah obat


anti kejang yang bekerja
pada sambungan
Tidak terjadi
mioneural dan
vasospasme dan
merelaksasi
perfusi jaringan
1. 1. Memantau
vasospasme sehingga
dengan
asupan oral dan
menyebabkan
ifus IV MGSO4.
peningkatan perfusi
2 2. Memantau urin ginjal, mobilisasi cairan
k/h:
yang kluar.
ekstra seluler (edema
dan dieresis).
- klien akan
22. Tirah baring
3. 3. Memantau
mengalami
menyebabkan aliran
edema yang terlihat.
vasodilatasi
darah urtero plasenta,
ditandai dengan
yang sering kali
diuresis, penurunan 4.4.Mempertahankan menurunkan tekanan
tekanan darah,
tirah baring total
darah dan
edema.
dengan posisi miring. meningkatkan dieresis.
Setelah dilakukan 11. Monitor DJJ sesuai 11. Peningkatan DJJ
tindakan perawatan indikasi.
sebagai indikasi
tidak terjadi fetal
terjadinya hipoxia,
distress pada janin
prematur dan solusio
22. Kaji tentang
dengan
plasenta.
pertumbuhan janin.
Kriteria hasil :

22. Penurunan fungsi


33. Jelaskan adanya
plasenta mungkin
tanda-tanda solutio
diakibatkan karena
DJJ ( + ) : 12-12- plasenta ( nyeri
hipertensi sehingga
12
perut, perdarahan,
timbul IUGR.
rahim tegang,
aktifitas janin turun ).
33. Ibu dapat
mengetahui tanda dan
44. Kaji respon janin
gejala solutio plasenta
pada ibu yang diberi
dan tahu akibat hipoxia
SM.
bagi janin.
55. Kolaborasi
44. Reaksi terapi dapat
dengan medis dalam
menurunkan pernafasan
pemeriksaan USG
janin dan fungsi jantung
dan NST.
serta aktifitas janin.

55. USG dan NST untuk


mengetahui keadaan
atau kesejahteraan
janin.
3.

Kecemasan b/d
Ansietas dapat
ancaman cedera pada teratasi dengan
bayi sebelum lahir.
Kriteria hasil:
1- Tampak rileks,
dapat istirahat
dengan tepat.
2- Menunjukkan
ketrampilan
pemecahan
masalah.

11. Kaji tingkat


ansietas pasien.
Perhatikan tanda
depresi dan
pengingkaran.
22. Dorong dan
berikan kesempatan
untuk pasien atau
orang terdekat
mengajukan
pertanyaan dan
menyatakan
masalah.

1.1. Membantu
menentukan jenis
intervensi yang
diperlukan.
2. 2. Membuat perasaan
terbuka dan bekerja
sama untuk
memberikan informasi
yang akan membantu
mengatasi masalah.

3. 3. Keterlibatan
meningkatka perasaan
berbagi, manguatkan
33. Dorong orang
perasaan berguna,
terdekat
memberikan
berpartisipasi dalam kesempatan untuk
asuhan, sesuai
mengakui kemampuan
indikasi.
individu dan
memperkecil rasa takut
karena ketidaktahuan.

Kurang pengetahuan, kondisi dan tindakan b/d kurang informasi.

Pengetahuan pasien bertambah dengan


Kriteria hasil:
-Pasien mengerti terhadap apa yang disampaikan.
-Mampu menerapkan informasi yang didapat.
-Mentaati pengobatan.

K 1. Kaji kesiapan pasien dan hambatan belajar.


2. Jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung
3. Berikan pengertian pentingnya kerja sama.
4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian penjelasan mengenai penyakit.
1. Meningkatkan minat pasien untuk belajar.
2 Agar pasien mengerti mengenai penyakit.
3. Agar masalah dapat diatasi dengan baik.
4. Agar informasi yang disampaikan dapat lebih lengkap dan jelas.
1. D. Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari intervensi keperawatan dimana
awalan kata pada intervensi ditambah dengan kata kerja misalnya jika pada
intervensi keperawatan kaji TTV maka pada implementasi keperawatan mengkaji TTV.
(Judith M.W.2007).

1. E.

Evaluasi

Evaluasi adalah suatu proses yang berkesinambungan. Untuk menjadi efektif,


evaluasi perlu didasarkan pada criteria yang dapat diukur yang mencerminkan hasil
akhir perawatan yang diharapkan.

Ibu dan janin tidak menderita gejala sisa akibat per eklampsia atau
penatalaksanaannya
Ibu tidak akan mengalami eklampsia atau komplikasi yang berat
Janin tidak akan mengalami distress
Bayi baru lahir akan dilahirkan dalam kondisi optimal tanpa suatu efek akibat
penyakit maternal dan penatalaksanaannya
Ibu akan melahirkan dalam kondisi optimal tanpa suatu akibat pada kondisi
dan penatalaksanaannya
Keluarga akan mampu berkoping secara efektif terhadap keadaan ibu yang
beresiko tinggi, penatalaksanaan dan hasil akhirnya.
Jika hasil akhir bagi ibu atau bagi janin tidak menguntungkan, keluarga dibantu untuk
mengatasi kehilangan dan kesedihan.

BAB IV
PENUTUP
1. A. Kesimpulan
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, odema, dan protein
urine yang timbul karena kehamilan, penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke3 kehamilan. Preeklampsia juga merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat
menyebabkan kematian pada ibu dan bayi pada masa ante, intra dan post partum.
Preeklamsi berakibat fatal jika tidak segera ditindak. Ia merusak plasenta sehingga
menyebabkan bayi lahir dalam keadaan tidak bernyawa, atau lahir prematur,
penyakit ini juga membahayakan ginjal ibu hamil. Pada beberapa kasus, bisa
menyebabkan ibu hamil mengalami koma. Pre eklamsi adalah timbulnya hipertensi
disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu
atau segera setelah persalinan. Pre eklamsi dan eklamsi adalah penyakit pada wanita
hamil yang secara langsung disebabkan oleh kehamilan.
Pre eklamsi dan eklamsi hampir secara eksklusif merupakan penyakit pada nullipara.
Biasanya terdapat pada wanita usia subur dengan umur ekstrem, yaitu pada remaja
belasan tahun atau pada wanita yang berumur lebih dari 35 tahun. Pada multipara
biasanya dijumpai pada keadaan-keadaan : kehamilan multifetal dan hidrop fetalis,
penyakit vaskuler, termasuk hipertensi essensial kronis dan diabetes mellitus,
penyakit ginjal.

B. Saran

Diharapkan kepada mahasiswa dapat mempelajari dan memahami tentang


penyakit pre-eklampsia dan pencegahannya.
Dalam bidang keperawatan, mempelajari suatu penyakit itu penting, dan
diharapkan kepada mahasiswa mampu membuat konsep teoritis suatu
penyakit tersebut beserta asuhan keperawatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3 . EGC : Jakarta.
Persis Mary Hamilton, (1995). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, EGC : Jakarta.
Price, Silvia A. 2006. Patofisiologi, volume 2. Jakarta: Buku kedokteran EGC.
Ramli Ahmad, dkk. 2000. Kamus Kedokteran. Djambatan : Jakarta.

| Tinggalkan Komentar

COUGH

Posted on 04/04/2013
COUGH

1. A. Definition
Coughing is the bodys way of removing foreign material or mucus from the lungs
and upper airway passages or of reacting to an irritated airway. A cough is only a
symptom, not a disease.
1. B.
Causes
Recent upper airway infections, such as the common cold and flu, can cause coughs.
Other common causes include:

ACE inhibitors (medications used to control blood pressure)

Allergic rhinosinusitis (inflammation of the nose or sinuses)


Asthma
Chronic obstructive pulmonary disease (emphysema or chronic bronchitis)
Cigarette smoking
Exposure to secondhand smoke
Gastroesophageal reflux disease (GERD)
Lung disease such as bronchiectasis, interstitial lung disease, or tumors
Lung infections such as pneumonia or acute bronchitis
Sinusitis leading to postnasal drip

1. C. Pathophysiology
A cough is a protective reflex in healthy individuals which is influenced
by psychological factors. The cough reflex is initiated by stimulation of two different
classes of afferent nerves, namely the myelinated rapidly adapting receptors, and
nonmyelinated C-fibers with endings in the lungs. However it is not certain that the
stimulation of nonmyelinated C-fibers leads to cough with a reflex as its meant
in physiology (with its own five components): this stimulation may cause mast
cells degranulation (through an asso-assonic reflex) and edema which may work as a
stimulus for rapidly adapting receptors.

1. D. Classification
A cough can be classified by its duration, character, quality, and timing. The duration
can be either acute (of sudden onset) if it is present less than three
weeks, subacute if it is present between three and eight weeks, andchronic when
lasting longer than eight weeks. A cough can be non-productive (dry) or productive
(when sputumis coughed up).
1. Productive coughs
A productive cough produces phlegm or mucus (sputum). The mucus may have
drained down the back of the throat from the nose or sinuses or may have come up
from the lungs. A productive cough generally should not be suppressed-it clears
mucus from the lungs. There are many causes of a productive cough, such as:

Viral illnesses. It is normal to have a productive cough when you have a


common cold. Coughing is often triggered by mucus that drains down the
back of the throat.
Infections. An infection of the lungs or upper airway passages can cause a
cough. A productive cough may be a symptom
of pneumonia, bronchitis, sinusitis, or tuberculosis.
Chronic lung disease. A productive cough could be a sign that a disease such
as chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is getting worse or that you
have an infection.
Stomach acid backing up into the esophagus. This type of coughing may be a
symptom ofgastroesophageal reflux disease (GERD) and may awaken you
from sleep.
Nasal discharge (postnasal drip) draining down the back of the throat. This
can cause a productive cough or the feeling that you constantly need to clear
your throat. Experts disagree about whether a postnasal drip or the viral
illness that caused it is responsible for the cough.

Smoking or other tobacco use. Productive coughs in a person who smokes or


uses other forms of tobacco is often a sign of lung damage or irritation of the
throat or esophagus.

1. Nonproductive coughs
A nonproductive cough is dry and does not produce sputum. A dry, hacking cough
may develop toward the end of a cold or after exposure to an irritant, such as dust or
smoke. There are many causes of a nonproductive cough, such as:

Viral illnesses. After a common cold, a dry cough may last several weeks
longer than other symptoms and often gets worse at night.
Bronchospasm. A nonproductive cough, particularly at night, may mean
spasms in the bronchial tubes (bronchospasm) caused by irritation.
Allergies. Frequent sneezing is also a common symptom of allergic rhinitis.
Medicines called ACE inhibitors that are used to control high blood pressure.
Examples of ACE inhibitors include captopril (Capoten), enalapril maleate
(Vasotec), and lisinopril (Prinivil, Zestril, or Zestoretic).
Exposure to dust, fumes, and chemicals in the work environment.
Asthma. A chronic dry cough may be a sign of mild asthma. Other symptoms
may include wheezing, shortness of breath, or a feeling of tightness in the
chest. For more information, see the topic Asthma in Teens and Adults.
Blockage of the airway by an inhaled object, such as food or a pill.

1. E.
Symptom
The symptoms are

High fever with stiff muscles of the body


Sneezing
Nasal congestion
Sore throat
Intense, hacking bouts of coughing, which bring up thick phlegm
A whoop sound with each sharp intake of breath after coughing
Vomiting in infants and young children
Fatigue and redness in the face from the effort of coughing

1. F.
Impact
If left untreated, excessive coughing leads to certain effects.
1.
2.
3.
4.

Urinary incontinence
Dizziness
Headache
Rib Fractures

1. G.
1.

Sollution
Dont smoke and stay away from secondhand smoke.

2.

3.
4.
5.
6.

If you have seasonal allergies like hay fever, stay indoors during days
when airborne allergens are high. If possible, keep the windows closed and
use an air conditioner. Avoid fans that draw in air from outdoors. Shower
and change your clothes after being outside.
If you have allergies year round, cover your pillows and mattress with
dust mite covers, use an air purifier, and avoid pets and other triggers.
Drink water very much
Take medicine
When it worsens, consult to a doctor

1. H.
1.

Conclusion
A cough can be classified by its duration, character, quality, and
timing.
2.
Recent upper airway infections, such as the common cold and flu, can
cause coughs.
3.
The symptoms are high fever with stiff muscles of the body, sneezing,
nasal congestion, and sore throat.
4.
Prevention : dont smoke, drink water very much, shower and change
your clothes after being outside, and take medicine.

| Tinggalkan Komentar

ASKEP PLACENTA PREVIA


Posted on 04/04/2013

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Perdarahan pada kehamilan harus dianggap sebagai kelainan yang berbahaya.


Perdarahan pada kehamilan muda disebut sebagai abortus sedangkan perdarahan
pada kehamilan tua disebut perdarahan antepartum. Batas teoritis antara kehamilan
muda dengan kehamilan tua adalah 22 minggu mengingat kemungkinan hidup janin
diluar uterus .
Perdarahan antepartum biasanya berbatas pada perdarahan jalan lahir setelah
kehamilan 22 minggu tapi tidak jarang terjadi pula pada usia kandungan kurang dari
22 minggu dengan patologis yang sama. Perdarahan saat kehamilan setelah 22
minggu biasanya lebih berbahaya dan lebih banyak daripada kehamilan sebelum 22
minggu . Oleh karena itu perlu penanganan yang cukup berbeda . Perdarahan
antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta,
sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya
kelainan serviks biasanya tidak seberapa berbahaya. Pada setiap perdarahan
anterpartum pertama-tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada
kelainan plasenta.
Perdarahan anterpartum yang bersumber dari kelainan plasenta yang secara klinis
biasanya tidak terlampau sukar untuk menentukannya ialah plasenta previa dan
solusio plasenta serta perdarahan yang belum jelas sumbernya . Perdarahan

anterpartum terjadi kira-kira 3 % dari semua persalinan yang terbagi atas plasenta
previa , solusio plasenta dan perdarahan yang belum jelas penyebabnya.
Pada umumnya penderita mengalami perdarahan pada triwulan tiga atau setelah
usia kehamilan , namun beberapa penderita mengalami perdarahan sedikit-sedikit
kemungkinan tidak akan tergesa-gesa datang untuk mendapatkan pertolongan
karena disangka sebagai tanda permulaan persalinan biasa. Baru setelah perdarahan
yang berlangsung banyak , mereka datang untuk mendapatkan pertolongan.
Setiap perdarahan pada kehamilan lebih dari 22 minggu yang lebih banyak pada
permulaan persalinan biasanya harus lebih dianggap sebagai perdarahan
anterpartum apapun penyebabnya , penderita harus segera dibawah ke rumah sakit
yang memiliki fasilitas untuk transfusi darah dan operasi . Perdarahan anterpartum
diharapkan penanganan yang adekuat dan cepat dari segi medisnya maupun dari
aspek keperawatannya yang sangat membantu dalam penyelamatan ibu dan
janinnya.
B.

Tujuan

1.

Tujuan Umum

Mampu menerapkan asuhan keperawatan klien dengan plasenta previa


2.

Tujuan Khusus

a. Dapat melakukan pengkajian secara langsung pada klien plasenta previa.


b. Dapat merumuskan masalah dan membuat diagnosa keperawatan pada klien
plasenta previa.
c. Dapat membuat perencanaan pada klien plasenta previa.
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan dan mampu mengevaluasi tindakan
yang telah dilakukan pada klien plasenta previa.

BAB II
LANDASAN TEORI

A.

Konsep Dasar Penyakit

1.

Definisi

Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah
uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir.
Menurut Prawiroharjo, plasenta previa adalah plasenta yang ada didepan jalan lahir
(prae = di depan ; vias = jalan). Jadi yang dimaksud plasenta previa ialah plasenta
yang implantasinya tidak normal, rendah sekali hingga menutupi seluruh atau
sebagian ostium internum.
Menurut Cunningham, plasenta previa merupakan implantasi plasenta di bagian
bawah sehingga menutupi ostium uteri internum, serta menimbulkan perdarahan
saat pembentukan segmen bawah rahim.

2.

Etiologi

Plasenta bertumbuh pada segmen bawah uterus tidak selalu jelas dapat
diterangkan . bahwasanya vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atropi pada
desidua akibat persalinan yang lampau dapat menyebabkan plasenta previa ,
tidaklah selalu benar . Memang dapat dimengerti bahwa apabila aliran darah ke
plasenta tidak cukup seperti pada kehamilan kembar maka plasenta yang letaknya
normal sekalipun akan memperluaskan permukaannya sehingga mendekati atau
menutupi sama sekali pembukaan jalan lahir .Frekuensi plasenta previa pada
primigravida yang berumur lebih 35 tahun kira-kira 10 kali lebih sering dibandingkan
dengan primigravida yang berumur kurang dari 25 tahun . Pada grandemultipara
yang berumur lebih dari 30 tahun kira-kira 4 kali lebih sering dari grandemultipara
yang berumur kurang dari 25 tahun.

3.

Patofisiologi

Perdarahan anter partum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 20 minggu
saat sekmen uterus telah terbentuk dan mulai melebar dan menipis. Umumnya
terjadi pada trimester ke tiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami
perubahan. Pelebaran sekmen bawah uterus dan pembukaan servik menyababkan
sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan
sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tak dapat dihindarkankarena adanya
ketidakmampuan selaput otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada
plasenta letak normal.

klasifikasi Plasenta Previa :


a.

Plasenta Previa totalis : seluruh ostium internum tertutup oleh plasenta

b.

Plasenta Previa Lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta.

c. Plasenta previa parsialis, apabila sebagian pembukaan (ostium internus servisis)


tertutup oleh jaringan plasenta.
d. Plasenta previa marginalis, apabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir
pembukaan (ostium internus servisis).
e. Plasenta letak rendah, apabila plasenta yang letaknya abnormal pada segmen
bawah uterus belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir atau plasenta berada 34 cm diatas pinggir permukaan sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan
lahir.

4.

Gejala Klinis

Perdarahan adalah gejala primer dari placenta previa dan terjadi pada mayoritas
(70%-80%) dari wanita-wanita dengan kondisi ini. Perdarahan vagina setelah minggu
ke 20 kehamilan adalah karakteristik dari placenta previa. Biasanya perdarahan tidak
menyakitkan, namun ia dapat dihubungkan dengan kontraksi-kontraksi kandungan
dan nyeri perut. Perdarahan mungkin mencakup dalam keparahan dari ringan sampai
parah.
Pemeriksaan ultrasound digunakan untuk menegakan diagnosis dari placenta previa.
Evaluasi ultrasound transabdominal (menggunakan probe pada dinding perut) atau
transvaginal (dengan probe yang dimasukan kedalam vagina namun jauh dari mulut
serviks) mungkin dilakukan, tergantung pada lokasi dari placenta. Adakalanya kedua
tipe-tipe dari pemeriksaan ultrasound adalah perlu. Adalah penting bahwa
pemeriksaan ultrasound dilakukan sebelum pemeriksaan fisik dari pelvis pada
wanita-wanita dengan placenta previa yang dicurigai, karena pemeriksaan fisik pelvic
mungkin menjurus pada perdarahan yang lebih jauh.
Gejala paling khas dari plasenta previa adalah perdarahan pervaginam (yang keluar
melalui vagina) tanpa nyeri yang pada umumnya terjadi pada akhir triwulan kedua.
Ibu dengan plasenta previa pada umumnya asimptomatik (tidak memiliki gejala)
sampai terjadi perdarahan pervaginam. Biasanya perdarahan tersebut tidak terlalu
banyak dan berwarna merah segar. Pada umumnya perdarahan pertama terjadi
tanpa faktor pencetus, meskipun latihan fisik dan hubungan seksual dapat menjadi
faktor pencetus. Perdarahan terjadi karena pembesaran dari rahim sehingga
menyebabkan robeknya perlekatan dari plasenta dengan dinding rahim. Koagulapati
jarang terjadi pada plasenta previa. Jika didapatkan kecurigaan terjadinya plasenta
previa pada ibu hamil, maka pemeriksaan Vaginal Tousche (pemeriksaaan dalam
vagina) oleh dokter tidak boleh dilakukan kecuali di meja operasi mengingat risiko
perdarahan hebat yang mungkin terjadi.

5.

Komplikasi

a. Plasenta abruptio. Pemisahan plasenta dari dinding rahim


b. Perdarahan sebelum atau selama melahirkan yang dapat menyebabkan
histerektomi (operasi pengangkatan rahim).
c. Plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta
d. Prematur atau kelahiran bayi sebelum waktunya (< 37 minggu)
e. Kecacatan pada bayi
6.

Pemeriksaan diagnostik

a. Pemeriksaan darah : hemoglobin, hematokrit


b. Pemeriksaan ultra sonografi, dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan plasenta
atau jarak tepi plasenta terhadap ostium
c. Pemeriksaan inspekkulo secara hati-hati dan benar,
dapat menentukan sumber perdarahan dari karnalis servisis atau sumber lain
(servisitis, polip,keganasan, laserasi/troma)
7.

Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Medis
Episode pendarahan significan yang pertama biasanya terjadi di rumah pasien, dan
biasanya tidak berat. Pasien harus dirawat dirumah sakit dan tidak dilakukan
pemeriksaan vagina, karena akan mencetuskan perdarahan yang sangat berat.
Dirumah sakit TTV pasien diperiksa, dinilai jumlah darah yang keluar, dandilakukan
close match. Kehilangan darah yang banyak memerlukan transfusi. Dilakukan palpasi
abdomen untuk menentukan umur kehamilan janin, presentasi,dan posisinya.
Pemeriksaan Ultrasonografi dilakukan segara setelah masuk, untuk mengkonfirmasi
diagnosis Penatalaksanaan selajutnya tergantung pada perdarahan dan
umur kehamilan janin. Dalam kasus perdarahan hebat, diperlukan tindakan darurat
untuk melahirkan bayi (dan plasenta) tanpa memperhitungkan umur kehamilan janin.
Jika perdarahan tidak hebat, perawatan kehamilan dapat dibenarkan jika
umur kehamilan janin kurang dari 36 minggu. Karena perdarahan ini cenderung
berulang,ibu harus tetap dirawat di RS. Episode perdarahan berat mungkin
mengharuskan pengeluaran janin darurat, namum pada kebanyakan kasus
kehamilan dapat dilanjutkan hingga 36 minggu ; kemudian pilihan melahirkan
bergantung padaapakah derajat plasenta previanya minor atau mayor. Wanita yag
memiliki derajat plasenta previa minor dapat memilih menunggu kelahiran sampai
term atau denganinduksi persalinan, asalkan kondisinya sesuai. Plasenta previa

derajat mayor ditangani dengan seksio seksarae pada waktu yang ditentukan oleh
pasien ataudokter, meskipun biasanya dilakukan sebelum tanggal yang disepakati,
karena perdarahan berat dapat terjadi setiap saat
b.

Penatalaksanaan keperawatan

Sebelum dirujuk anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan


menghadap ke
kiri, tidak melakukan senggama, menghidari peningkatan tekanan rongga perut
(misal batuk, mengedan karena sulit buang air besar). Pasang infus NaCl fisiologis.
Bila tidak memungkinkan, beri cairal peroral, pantau tekanan darah dan frekuensi
nadi pasien secara teratur tiap 15 manit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau
syok akibat perdarahan. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin.Bila terjadi renjatan,
segera lakukan resusitasi cairan dan transfusi darah bila tidakteratasi, upaya
penyelamatan optimal, bila teratasi, perhatikan usia kehamilan.Penanganan di RS
dilakukan berdasarkan usia kehamilan. Bila terdapatrenjatan, usia gestasi kurang dari
37 minggu, taksiran Berat Janin kurang dari 2500g, maka :
Bila perdarahan sedikit, rawat sampai sia kehamilan 37 minggu,lalu lakukan
mobilisasi bertahap, beri kortikosteroid 12 mg IV/hari selama 3hari.
Bila perdarahan berulang, lakukan PDMO kolaborasi (PemeriksaanDalam Di
atas Meja Operasi), bila ada kontraksi tangani seperti kehamilan preterm. Bila tidak
ada renjatan usia gestaji 37 minggu atau lebih, taksiran berat janin 2500g atau lebih
lakukan PDMO, bila ternyata plasenta previa lakukan persalinan perabdominam, bila
bukan usahakan partus pervaginam.

B.

Konsep Asuhan Keperawatan

1.

Pengkajian

a.

Pengumpulan data

1)

Anamnesa

a)
Identitas klien: Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan,
alamat, medicalrecord dll.
b)
Keluhan utama : Gejala pertama; perdarahan pada kehamilan setelah 28
minggu/trimester III.

Sifat perdarahan; tanpa sebab, tanpa nyeri, berulang

Sebab perdarahan; placenta dan pembuluh darah yang robek; terbentuknya


SBR, terbukanya osteum/ manspulasi intravaginal/rectal.
Sedikit banyaknya perdarahan; tergantung besar atau kecilnya robekan
pembuluh darah dan placenta.
c)

Inspeksi

Dapat dilihat perdarahan pervaginam banyak atau sedikit.

Jika perdarahan lebih banyak; ibu tampak anemia.

d)

Palpasi abdomen

Janin sering belum cukup bulan; TFU masih rendah.

Sering dijumpai kesalahan letak

Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya


kepala masih goyang/floating
2)

Riwayat Kesehatan

a)

Riwayat Obstetri

Memberikan imformasi yang penting mengenai kehamilan sebelumnyaagar perawat


dapat menentukan kemungkinan masalah pada kehamilansekarang. Riwayat obstetri
meliputi:
-

Gravida, para abortus, dan anak hidup (GPAH)

Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi

Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, dan penolong


persalinan
-

Jenis anetesi dan kesulitan persalinan

Komplikasi maternal seperti diabetes, hipertensi, infeksi, dan perdarahan.

Komplikasi pada bayi

Rencana menyusui bayi

b)

Riwayat mensturasi

Riwayat yang lengkap di perlukan untuk menetukan taksiran persalinan(TP). TP


ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT). Untuk menentukan TP
berdasarkan HPHt dapat digunakan rumus naegle, yaitu hari ditambah tujuh, bulan
dikurangi tiga, tahun disesuaikan.
c)

Riwayat Kontrasepsi

Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada janin,


ibu, ataukeduanya. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didapatkan pada saat
kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan berlanjut
pada kehamilan yang tidak diketahui dapat berakibat buruk pada pembentukan
organ seksual pada janin.
d)

Riwayat penyakit dan operasi:

Kondisi kronis seperti dibetes melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal bisa berefek
buruk pada kehamilan. Oleh karena itu, adanya riwayat infeksi, prosedur operasi, dan
trauma pada persalinan sebelumnya harus di dokumentasikan
3)

Pemeriksaan fisik

a)

Umum

Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil:


(1) Rambut dan kulit
-

Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.

Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.

Laju pertumbuhan rambut berkurang.Wajah

(2) Mata : pucat, anemis


(3) Hidung
(4) Gigi dan mulut

(5) Leher
(6) Buah dada / payudara
-

Peningkatan pigmentasi areola putting susu

Bertambahnya ukuran dan noduler

(7) Jantung dan paru


-

Volume darah meningkat

Peningkatan frekuensi nadi

Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.

Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.

Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.

Diafragma meningga.

Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.

(8) Abdomen
-

Menentukan letak janin

Menentukan tinggi fundus uteri

(9) Vagina
Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda
Chandwick)
-

Hipertropi epithelium

(10) System musculoskeletal


-

Persendian tulang pinggul yang mengendur

Gaya berjalan yang canggung

Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal

b)

Khusus

(1) Tinggi fundus uteri


(2) Posisi dan persentasi janin
(3) Panggul dan janin lahir
(4) Denyut jantung janin
2.

Diagnosa keperawatan

a.
Penurunan cardiac out put berhubungan dengan perdarahan dalam jumlah
yang besar.
b.
Ansietas yang berhubungan dengan perdarahan kurangnya pengetahuan
mengenai efek perdarahan dan menejemennya.
c.
Resiko tinggi cedera (janin) b/d Hipoksia jaringan / organ, profil darah
abnormal, kerusakan system imun.
3.

No

Rencana keperawatan

Diagnosa
Keperawatan Tujuan/Kriteria Hasil

Intervensi

Setelah dilakukkanya
tindakan keperawatan 2
X 24 jam diharapkan
penurunan kardiak
output tidak terjadi atau
1. Kaji dan catat
teratasi dengan kriteria
TTV, TD serta jumlah
hasil :
perdarahan.

Rasional

Pengkajian yang akurat


mengenai status
hemodinamik merupakan
dasar untuk perencanaan,
intervensi, evaluasi.

o Volume darah
intravaskuler dan
Penurunan
kardiak output dapat
kardiak output diperbaiki sampai nadi, 2. Bantu pemberian
berhubungan tekanan darah, nilai
pelayanan kesehatan
dengan
hemodinamik, serta nilai atau mulai sarankan
perdarahan
laboratorium
terapi cairan IV atau
dalam jumlah menunjukkan tanda
terapi transfusi darah
1 yang besar
normal
sesuai kebutuhan.

Memperbaiki volume
vaskuler membutuhkan
terapi IV dan intervensi
farmakologi. Kehilangan
volume darah harus
diperbaiki untuk mencegah
komplikasi seperti infeksi,
gangguan janin dan
gangguan vital ibu hamil.

2 Ansietas
berhubungan
dengan
kurangnya

Kehadiran perawat dan


pemahaman secara empati
merupakan alat terapi
yang potensial untuk

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 3 x 24
diharapkan ansietas

1. Terapi bersama
pasangan dan
menyatakan

mempersiapkan pasangan
untuk menanggulangi
situasi yang tidak
diharapkan.

perasaan.

Hal yang diberikan


perawat akan memperkuat
penjelasan dokter dan
untuk memberitahu dokter
jika ada penjelasan yang
penting.

dapat berkurang dengan 2. Menentukan


kriteria hasil :
tingkat pemahaman
pasangan tentang
situasi dan
1. Pasangan dapat
Pendidikan pasien yang
manajemen yang
mengungkapkan
diberikan merupakan cara
sudah direncanakan.
harapannya dengan
yang efektif mencegah dan
pengetahuan kata-kata tentang
menurunkan rasa cemas.
efek
manajemen yang sudah 3. Berikan pasangan Pengetahuan akan
perdarahan dan direncanakan, sehingga informasi tentang
mengurangi ketakutan
manejemennya dapat mengurangi
manajemen yang
akan ha-hal yang tidak
.
kecemasan pasangan. sudah direncanakan. diketahui.
3. Resiko tinggi
cedera (janin)
b/d hipoksia
jaringan/
organ,profil
darah
abnormal,kerus
akan system
imun.

Kriteria evaluasi :
Menunjukkan profil
darah dengan hitung
SDP, Hb, dan
pemeriksaan koagulasi
DBN normal.

1. Kaji jumlah darah Hemoragi berlebihan dan


yang hilang. Pantau menetap dapat
tanda/gejala syok
mengancam hidup klien
atau mengakibatkan
infeksi pascapartum,
anemia pascapartum, KID,
gagal ginjal, atau nekrosis
hipofisis yang disebabkan
oleh hipoksia jaringan dan
malnutrisi.
Kehilangan darah
berlebihan dengan
penurunan Hb
meningkatkan risiko klien
untuk terkena infeksi.
Penurunan perfusi ginjal
mengakibatkan penurunan
haluaran urin.

2. Catat suhu,
hitung SDP, dan bau
serta warna rabas
Heparin dapat digunakan
vagina, dapatkan
kultur bila dibutuhkan. pada KID di kasus
kematian janin, atau
kematian satu janin pada
3. Catat
kehamilan multiple, atau
masukan/haluaran
untukmemblok siklus
urin. Catat berat jenis pembekuan dengan
urin.
melindungi factor-faktor
pembekuan dan
4. Berikan heparin, menurunkan hemoragi

bila diindikasikan

sampai terjadi perbaikan


pembedahan
Mungkin diindikasikan
5. Berikan antibiotic untuk mencegah atau
secara parenteral
meminimalkan infeksi.
4.

Pelaksanaan

Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan


rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri
dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor
kemajuan kesehatan klien.

5.

Evaluasi

Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana
tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan dilakukan dengan cara
berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya.
Penilaian dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam melaksanakan rencana
kegiatan klien secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan.
Penilaian keperawatan adalah mengukur keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan
tindakan perawatan yang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan klien.
Evaluasi dapat berupa : masalah teratasi dan masalah teratasi sebagian.
6.

Penkes

Plasenta previa merupakan perdarahan di trimester ketiga dan jika tidak mendapat
penanganan yang cepat bisa mendatangkan syok dan kematian. Asuhan
keperawatan pada ibu hamil dengan komplikasi Plasenta previa dikategorikan pada
asuhan keperawatan pada lingkup emergensi obstetri. Maka untuk meminimalkan
keterlambatan tahap III yaitu tidak adekuatnya penanganan di fasilitas kesehatan
diperlukan perawat yang sudah melalui pendidikan formal seperti perawat spesialis
keperawatan maternitas.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan

Perdarahan yang salah satunya disebabkan oleh plasenta previa, dapat


menyebabkan kesakitan atau kematian baik pada ibu maupun pada janinnya. Faktor
resiko yang juga penting dalam terjadinya plasenta previa adalah kehamilan setelah
menjalani seksio sebelumnya ,kejadian plasenta previa meningkat 1% pada
kehamilan dengan riwayat seksio. Kematian ibu disebabkan karena perdarahan
uterus atau karena DIC (Disseminated Intravascular Coagulopathy). Sedangkan
morbiditas/ kesakitan ibu dapat disebabkan karena komplikasi tindakan seksio
sesarea seperti infeksi saluran kencing, pneumonia post operatif dan meskipun
jarang dapat terjadi embolisasi cairan amnion (Hanafiah, 2004).
Terhadap janin, plasenta previa meningkatkan insiden kelainan kongenital dan
pertumbuhan janin terganggu sehingga bayi yang dilahirkan memiliki berat yang
kurang dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ibu yang tidak menderita plasenta
previa. Risiko kematian neonatal juga meningkat pada bayi dengan plasenta previa
(Hanafiah, 2004).
B.
1.

Saran
Bagi Mahasiswa

Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam


memberikan pelayanan keperawatan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari.
2.

Bagi petugas Kesehatan

Diharapkan dengan makalah ini dapat meningkatkan pelayanan kesehatan


khususnya dalam bidang keperawatan sehingga dapat memaksimalkan kita untuk
memberikan health education dalam perawatan luka perineum untuk mencegah
infeksi

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arief. 2001. Kapita Selekta Kedokteran , edisi ketiga . Media Aesculapius
FKUI .Jakarta
Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse, 2001, Rencana Perawatan
Maternal/Bayi, edisi kedua. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
Murah, Manoe dkk. 199. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Obstetri Dan Ginekologi.
Bagian /SMF obstetri dan ginekologi FK Unhas . Ujung Pandang.
Sandra M. Nettina. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Penerbit buku kedokteran
EGC. Jakarta.
Sarwono. 1997. Ilmu Kebidanan. Yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Jakarta.

| Tinggalkan Komentar

ABSES RENAL
Posted on 04/04/2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksi bakteri.
Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi.
Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel
yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam
melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri,

sel darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk
nanah, yang mengisi rongga tersebut.
Abses ginjal adalah salah satu yang terbatas pada ginjal dan disebabkan baik oleh
bakteri dari infeksi bepergian ke ginjal melalui aliran darah atau infeksi saluran
kemih bepergian ke ginjal dan kemudian menyebar ke jaringan ginjal.
Abses ginjal adalah penyakit yang sangat tidak biasa, tetapi umumnya terjadi
sebagai akibat dar i masalah umum seperti radang ginjal, penyakit batu dan refluks
vesicoureteral. Kadang-kadang, abses ginjal dapat berkembang dari sumber infeksi
di setiap area tubuh . Abses kulit multiple dan penyalah gunaan obat intravena juga
dapat menjadi sumber abses ginjal. Infeksi saluran kemih yang rumit terkait
dengan batu, kehamilan, kandung kemih neurogenik dan diabetes mellitus juga
menempatkan seseorang pada risiko untuk abses ginjal.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Secara umum makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan
keperawatan abses renal .
1. Tujuan Khusus
Menjelaskan defenisi, etioogi, patofisiologi dari abses renal
Menjelaskan klasifikasi, manifestasi klinis dan penatalaksanaan dari abses
renal
Menjelaskan asuhan keperawatan dari abses renal

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Definisi

Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksi bakteri.
Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi.
Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel
yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam
melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri,
sel darah putih akan mati.
Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah, yang mengisi rongga
tersebut.
Abses Ginjal yaitu peradangan ginjal akibat infeksi. Ditandai dengan pembentukan
sejumlah bercak kecil bernanah atau abses yang lebih besar yang disebabkan oleh
infeksi yang menjalar ke jaringan ginjal melalui aliran darah.

Penyakit Abses ginjal bisa disebabkan oleh bakteri yang berasal dari suatu infeksi
yang terbawa ke ginjal melalui aliran darah atau akibat suatu infeksi saluran kemih
yang terbawa ke ginjal dan menyebar ke dalam jaringan ginjal.

B. Etiologi

Suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara:

bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum
yang tidak steril
bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain
bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak
menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.
Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika:

terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi


daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang
terdapat gangguan sistem kekebalan.

C. Patofisiologi

Abses ginjal hasil dari penyebaran hematogen kortikal bakteri dari fokus
extrarenal utama infeksi. Staphylococcus aureus adalah agen etiologi dalam 90%
kasus abses kortikal. Sebaliknya, abses corticomedullary ginjal berkembang sebagai
infeksi menaik oleh organisme yang telah diisolasi dari urin. Keterlibatan parenkim
ginjal yang parah dalam kombinasi dengan abses corticomedullary lebih mungkin
untuk memperluas pada kapsul ginjal dan berlubang, sehingga membentuk abses
perinephric. Ginjal corticomedullary infeksi termasuk proses infeksi bawah akut dan
kronis ginjal.

D. Manifestasi klinis

demam, menggigil.
nyeri di punggung sebelah bawah
Nyeri tekan

Nyeri perut
nyeri ketika berkemih,
air kemih mengandung darah (kadang-kadang).

E.Pemeriksaan diagnostic
rontgen,
USG,
CT scan
MRI

F. Penatalaksanaan

Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa


ditusuk dan dikeluarkan isinya.
Antibiotik bisa diberikan setelah suatu abses mengering dan hal ini dilakukan
untuk mencegah kekambuhan. Antibiotik juga diberikan jika abses
menyebarkan infeksi ke bagian tubuh lainnya.
Abses diinsisi, didrainase dan di test kultur
Pemilihan obat antimicrobial yang tepat berdasarkan hasil test kultur

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
a. identitas pasien :

Nama
jenis kelamin
Usia
Alamat
agama, dan lain- lain
b. riwayat kesehatan

riwayat kesehatan sekarang


riwayat kesehatan dahulu
riwayat kesehatan keluarga
c. pemeriksaan fisik
1. Aktivitas/istirahat
Gejala: kelemahan/malaise
Tanda: kelemahan otot, kehilangan tonus otot
2. Sirkulasi
Tanda: pucat,edema
3. Eliminasi
Gejala: perubahan pola berkemih (oliguri)
Tanda: Perubahan warna urine (kuning pekat, merah)
4. Makanan/cairan
Gejala: penurunan BB , anoreksia, mual,muntah
Tanda: penurunan haluaran urine
5. Pernafasan
Gejala: nafas pendek
Tanda: Takipnea, dispnea, peningkatan frekwensi, kedalaman (pernafasan kusmaul)
6. Nyeri/kenyamanan
Gejala: nyeri pinggang, sakit kepala
Tanda: perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah

d. Pemeriksaan penunjang
Pada laboratorium didapatkan:
-Leukosit +
-Eritrosit +
-Urinalisis (Urine meningkat)
- darah + Dalam urin

B. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan proses insisi
3. Kurangnya pengetahuan sehubungan dengan kekurangan informasi tentang
penyakitnya, prosedur perawatan
4. Gangguan nutrisi berhubungan dengan intake yang dibatasi.

C. Intervensi
Dx 1
-Kaji intensitas nyeri (skala 1-10).
-Atur posisi yang nyaman bagi pasien
-Perhatikan petunjuk nyeri nonverbal (perubahan pada tanda vital dan emosi/prilaku)
-Ajarkan klien tentang alternative lain untuk mengatasi dan mengurangi rasa
nyerinya
Dx 2
-pantau tanda-tanda vital
-berikan posisi yang nyaman, batasi pengujung bila perlu
-kaji dan catat respon pasien
Dx 3
-Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang proses penyakit
-Beri informasi yang sesuai tentang prosedur perawatan dari tindakan yang diberikan
selama dan sesudah sembuh.
-Bantu kebutuhan kebersihan perawatan diri sampai mampu mandiri.
-Rawat kebersihan kulit dan lakukan prosedur perawatan luka, infus, kateterisasi
secara steril
Dx 4
- Awasi konsumsi makanan/cairan dan hitung intake per hari
- Batasi pemberian cairan, garam, kalium peroral (makan dan minum) .
- Menjelaskan tentang pembatasan makan yang diberikan

-Perhatikan adanya mual dan muntah