Anda di halaman 1dari 95

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS EDUKASI PASIEN UNTUK MENCEGAH


REHOSPITALISASI KARENA ANEMIA PADA PENYAKIT
GINJAL KRONIK DI RUANG RAWAT UMUM LANTAI
ENAM RSPAD GATOT SOEBROTO JAKARTA

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners

RAISA MINATI RAMADHANI


0906564196

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PROFESI NERS
DEPOK
JULI 2014

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014
Scanned by CamScanner
Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014
Scanned by CamScanner
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir ini. Penulisan karya
ilmiah akhir ini dilakukan guna memperoleh gelar Ners Keperawatan, Program
Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia. Saya
menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa
perkuliahan sampai pada penyusunan karya ilmiah akhir ini, sangatlah sulit bagi
saya untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih
kepada:
(1) D r a . Junaiti Sahar, M.App. Sc., Ph.D., sebagai Dekan Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia
(2) Kuntarti, S.Kp., M.Biomed., selaku dosen pembimbing yang telah
menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam
penyusunan karya ilmiah akhir ini
(3) Ns. Siti Anisah, S.Kep, ETN., selaku pembimbing klinik dan penguji yang
telah membimbing selama praktik di RSPAD Gatot Soebroto, terimakasih
untuk waktu, ilmu, dan tenaga yang telah mengarahkan saya dan teman-
teman
(4) Fajar Tri Waluyanti S.Kp., M.Kep., sebagai Koordinator MA
PKKKMP dan KIAN, sekaligus Penanggung Jawab Profesi/ Sekretaris
Program Studi Ners FIK-UI.
(5) Titin Ungsianik S.Kp., M.B.A selaku pembimbing akademik yang
senantiasa memotivasi dan membimbing saya dalam menjalankan masa
perkuliahan
(6) Orang tua tercinta, yaitu Bapak Muksinin dan Ibu Rosidah, kedua adik saya
(Nia dan Alya), dan keluarga besar yang telah memberikan banyak bantuan
doa, motivasi, kasih sayang yang tiada henti, dan bantuan finansial untuk
saya
(7) Para perawat dan jajaran staf di lantai 6 Perawatan Umum RSPAD Gatot
Soebroto, terimakasih untuk tujuh minggu yang berharga yang telah
meningkatkan kemampuan klinik dan berpikir sebagai perawat

iv

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


(8) Sahabat seperjuangan Arai, Desti, Dede, Fina, Isti, , Ririn, Rona, Sopi,
Kiki dan Winda yang saling menyemangati, membantu, dan memotivasi
untuk menyelesaikan karya ilmiah akhir ini dengan baik. Saya
sangat bersyukur kalian telah mengisi perjalanan hidup saya dengan
pengalaman dan pembelajaran yang luar biasa.
(9) Teman-teman kelompok praktik lantai enam perawatan umum: Desti,
Vera, Sulas, C h r i s t a , G y a , K a I s ma , Ka Mulyana, dan Ka Yuyum,
yang saling membantu dan menyemangati satu sama lain, perjuangan
kita masih dan akan terus berlanjut kawan.
(10) Teman-teman FIK UI reguler 2009 dan ekstensi 2011, khususnya
kelompok D Program Profesi 2014, terimakasih telah memberikan
pengalaman yang indah selama satu tahun perjalanan profesi ini.
(11) Semua pihak yang terlibat dalam penulisan karya ilmiah akhir ini,
yang tanpa mengurangi rasa hormat tidak dapat peneliti sebutkan satu
persatu.
Akhir kata, saya berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua
pihak yang telah membantu penyusunan karya ilmiah akhir ini. Semoga karya
ilmiah akhir ini diterima dan bisa dilakukan penelitian lebih lanjut sehingga
dapat membawa manfaat bagi pengembangan ilmu keperawatan di Indonesia.

Depok, 9 Juli 2014

Penulis

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014
Scanned by CamScanner
ABSTRAK

Nama : Raisa Minati Ramadhani


NPM : 0906564196
Program Studi : Profesi Ners-Ilmu Keperawatan
Judul : Analisis Edukasi Pasien untuk Mencegah Rehospitalisasi karena Anemia pada
Penyakit Ginjal Kronik di Ruang Rawat Umum Lantai 6 RSPAD Gatot
SoebrotoJakarta

Penyakit ginjal kronik merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah di masyarakat
perkotaan. Penyakit ginjal kronik menyebabkan beberapa komplikasi, salah satunya adalah
anemia. Perawat berperan penting dalam pemberian edukasi untuk mencegah rehospitalisasi
karena anemia kepada pasien penyakit ginjal kronik. Karya ilmiah ini bertujuan untuk memberikan
gambaran asuhan keperawatan pada penyakit ginjal kronik, khususnya mengenai penerapan
edukasi pasien untuk mencegah rehospitalisasi karena anemia pada penyakit ginjal kronik.
Edukasi yang diberikan kepada pasien berupa penjelasan tentang anemia, perencanaan diet untuk
anemia pada pasien ginjal kronik, medikasi, adaptasi toleransi aktivitas, dan waktu kontrol
kesehatan. Pasien mampu mengenal masalah, memutuskan perawatan, dan bersedia melanjutkan
perawatan.

Kata kunci : anemia, edukasi pasien, penyakit ginjal kronik, rehospitalisasi

ABSTRACT

Name : Raisa Minati Ramadhani


Major : Ners Programme
Title : Analysis of Patient Education to Prevent Rehospitalization caused by Anemia in
Chronic Kidney Disease in the General Care Room 6th RSPAD Gatot Soebroto,
Jakarta

Chronic kidney disease (CKD) was the one of problem of urban health. Anemia was one of CKDs
complications. Nurses had an important role to give education about how to prevent CKD
patients rehospitalization caused by anemia. This paper aimed to provide an overview of nursing
care in chronic kidney disease, particularly regarding implementation of patient education to
prevent rehospitalization because of anemia in chronic kidney disease. Patient got education
about description of anemia, dietary planning for anemia in patients with chronic kidney,
medication, how to increase tolerance adaptation, and schedule of health control. The patient was
able to recognize the problem, deciding care, and are willing to continue treatment.

Keywords: anemia, chronic kidney disease, patient education, rehospitalization

vii

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. iii
KATA PENGANTAR ..................................................................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ....................... vi
ABSTRAK ....................................................................................................... vii
DAFTAR ISI .................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ ix
DAFTAR RUMUS .......................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xi
BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah.............................................................................. 5
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................. 6
1.4 Manfaat Penelitian................................................................................ 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 8
2.1 Keperawatan Masyarakat Perkotaan .................................................... 8
2.3 Penyakit Ginjal Kronik ........................................................................ 10
2.3 Anemia pada Penyakit Ginjal Kronik .................................................. 16
2.4 Asuhan Keperawatan pada Klien Penyakit Ginjal Kronik................... 18
2.5 Edukasi Pasien pada Pelayanan Kesehatan Primer .............................. 21
BAB 3 LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA ................................... 25
3.1 Pengkajian ............................................................................................ 25
3.2 Analisis Data ........................................................................................ 33
3.3 Rencana Keperawatan .......................................................................... 35
3.4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan ............................................ 37
BAB 4 ANALISIS SITUASI.......................................................................... 39
4.1 Profil Lahan Praktik ............................................................................. 40
4.2 Analisa Masalah Keperawatan dengan Konsep Terkait KKMP dan
Konsep Kasus Terkait .......................................................................... 42
4.3 Analisa Salah Satu Intervensi dengan Konsep dan Penelitian Terkait 48
4.5 Alternatif Pemecahan Masalah yang dapat Dilakukan ........................ 52
BAB 5 PENUTUP........................................................................................... 54
5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 54
5.2 Saran..................................................................................................... 54
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 56
LAMPIRAN

viii

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pengklasifikasian Penyakit Ginjal Kronik Berdasarkan Estimasi Laju


Filtasi Glomerulus....................................................................... 11
Tabel 2.2 Penangan Penyakit Ginjal Kronik Berdasarkan Derajat Penurunan
Laju Filtrasi Glomerulus.............................................................. 16
Tabel 3.1 Daftar Terapi Obat pada Tn. S.................................................... 32

ix

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


DAFTAR RUMUS

2.1 Rumus Perhitungan Laju Filtrasi Glomerulus............................................ 10


3.1 Rumus Perhitungan Laju Filtrasi Glomerulus............................................ 27

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Pemeriksaan Diagnostik


Lampiran 2. Analisa Data
Lampiran 3. Rencana Tindakan Keperawatan
Lampiran 4. Catatan Perkembangan
Lampiran 5. Patofisiologi
Lampiran 6. Leaflet
Lampiran 7. Biodata Diri

xi

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masyarakat perkotaan dengan dinamika kehidupan perkotaan yang dilaluinya
akan merasakan dampak pada setiap bagian hidupnya. Kehidupan perkotaan
cenderung memiliki aktivitas yang tinggi, setiap kegiatan berjalan dengan cepat,
sehingga dapat menyebabkan sebagian besar masyarakatnya berprinsip waktu
adalah uang. Pola hidup yang berkembang di perkotaan antara lain serba instan,
kerja adalah segalanya, dan melupakan kegiatan yang dianggap terlalu rumit,
seperti berolahraga, memilah makanan yang sehat, berekreasi, dan lain-lain. Pola
hidup yang demikian berdampak buruk dengan timbulnya berbagai masalah
kesehatan masyarakat perkotaan seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes
mellitus (DM), dan infeksi saluran pernapasan, sampai penyakit yang mulai
meningkat presentasenya saat ini, yaitu kanker (Stewart & Wild, 2014).

Penyakit ginjal kronik merupakan salah satu penyakit yang berkaitan dengan pola
hidup masyarakat perkotaan, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan cairan
dan eliminasi urin. Pada pendertita penyakit ginjal kronik, ginjal mengalami
kerusakan yang menyebabkan kemampuan untuk menyaring darah menurun.
Akibatnya sampah tubuh di dalam darah tertahan yang kemudian menyebabkan
masalah kesehatan lainnya. Apabila tidak ditangani lebih dini, dapat
menyebabkan ginjal tidak berfungsi dan harus digantikan dengan transplantasi
ginjal atau hemodialisis pada penderita penyakit ginjal kronik tahap akhir atau
gagal ginjal kronik (National Kidney Foundation, 2002).

Kasus penyakit ginjal kronik di dunia terus merangkak naik setiap tahunnya. The
2010 Global Burden of Disease Study menunjukkan penyakit ginjal kronik
menempati urutan ke 27 dari daftar penyakit yang menyebabkan kematian di
dunia pada tahun 1990 (rata-rata kematian 15,7% per 100.000 jiwa), kemudian
meningkat menjadi urutan ke 18 pada tahun 2010 (rata-rata kematian 16,3% per
100.000 jiwa) (Lozano, et al, 2013). Kasus meningkatnya penyakit ginjal kronik

1 Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


2

di beberapa negara memiliki karakteristik tersendiri. Prevalensi penyakit ginjal


kronik di Amerika Serikat cukup tinggi kasus penyakit ginjal kronik diderita lebih
dari 10% orang dewasa di sana. Sebagian besar faktor risiko yang menyebabkan
penyakit ginjal kronik di Amerika Serikat adalah DM dan hipertensi. Menurut U.S
Departmen of Health and Human Services pada tahun 2005 di Amerika Serikat
insiden kasus penyakit ginjal kronik yang disebabkan oleh diabetes melllitus
mencapai 43,8% (McPhee & Hammer, 2010) dan prevalensi penderita penyakit
ginjal kronik dengan diabetes mellitus pada tahun 2012 mencapai 27% dari
penderita penyakit ginjal kronik pada rentang usia lebih dari 70 tahun (Center for
Disease Control and Prevention, 2012). Sedangkan Insiden kejadian penyakit
ginjal kronik di Amerika Serikat menurut U.S Departmen of Health and Human
Services pada tahun 2005 yang disebabkan oleh hipertensi mencapai 26,8%
(McPhee & Hammer, 2010). Pada tahun 2012 prevalensi penderita penyakit ginjal
kronik dengan hipertensi di Amerika Serikat mencapai 31,68% dari penderita
penyakit ginjal kronik pada rentang usia 50-59 tahun (Center for Disease Control
and Prevention, 2012).

Penyebab dari penyakit ginjal kronik bermacam-macam, berdasarkan Laporan


Tahunan Sistem Data Ginjal Amerika Serikat tahun 2007 penyebab penyakit
ginjal kronik, antara lain: DM, hipertensi, glomerulonefritis, penyakit ginjal sistik,
dan penyakit urologi lainnya. Diantara beberapa penyebab tersebut, penyebab
tertinggi adalah DM dan hipertensi di beberapa negara maju dan berkembang,
seperti Amerika Serikat, Taiwan, New Zealand, Malaysia, dan Australia. Berbeda
dengan beberapa negara di atas, di beberapa negara di Asia dan sub sahara Afrika
penyebab yang banyak ditemukan adalah glomerulonefritis dan penyebab yang
belum diketahui. Perbedaan ini terjadi dikarenakan negara-negara maju memiliki
pergeseran kasus penyakit, dari infeksi menjadi pola hidup kurang tepat,
penurunan angka kelahiran, dan angka harapan hidup meningkat. Sedangkan di
negara-negara berkembang sampai dengan negara berpenghasilan rendah, masih
banyak kasus penyakit menular, sanitasi yang buruk, penggunaan pestisida tinggi,
penyalahgunaan analgesik, penggunaan obat-obat herbal, dan makanan yang

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


3

mengandung zat adiptif, yang kesemua itu dapat berkontribusi meningkatkan


kasus penyakit ginjal kronik (Jha, et al, 2013).

Kasus penyakit ginjal kronik di Indonesia sebagai salah satu negara yang cukup
berkembang di kawasan Asia Tenggara telah mengalami peningkatan.
Berdasarkan 4th Report of Indonesian Renal Registry jumlah penduduk Indonesia
yang didiagnosis menderita penyakit ginjal kronik tahap akhir mencapai 12.466
orang (Perkumpulan Nefrologi Indonesia, 2011). Pada tahun 2013, berdasarkan
data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) prevalensi penyakit ginjal kronik tahap
akhir atau gagal ginjal kronik berdasar diagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,2%
(144.466 orang) (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia [Kemenkes RI],
2013).

Penanganan penyakit ginjal kronik yang belum mencapai tahap akhir adalah
mencegah peningkatan kerusakan ginjal dan mengatasi komplikasi yang telah
dirasakan oleh pasien. Komplikasi dari penyakit ginjal kronik yang dapat muncul,
antara lain: anemia, ketidakseimbangan elektrolit tubuh, edema, gangguan
mineral, gangguan tulang, dislipidemia, dan gangguan kardiovaskuler (Thomas,
Kanso, & Sedor, 2008). Penanganan yang tepat akan meningkatkan kualitas hidup
penderita penyakit ginjal kronik.

Salah satu komplikasi yang banyak dirasakan oleh penderita penyakit ginjal
kronik adalah anemia. Keadaan anemia sering muncul pada pasien penyakit ginjal
kronik yang telah mencapai penurunan laju filtasi glomerulus <60ml/min/1,73m2
(Kazmi, et al, 2001). Prevalensi anemia semakin meningkat seiring penurunan
laju filtrasi glomerulus dari penyakit ginjal kronik. Pada tahap empat awal
penyakit ginjal kronik (laju filtasi glomerulus 25-34 ml/min/1,73m2) prevalensi
mencapai 51%, sedangkan pada tahap empat akhir (laju filtasi glomerulus <25
ml/min/1,73m2) prevalensi mencapai 87%. Sedangkan pada tahap lima penyakit
ginjal kronik (laju filtasi glomerulus <15 ml/min/1,73m2) prevalensi anemia 60-
80%.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


4

Penegakkan diagnosis anemia disesuaikan dengan penentuan diagnosis anemia


berdasarkan rentang hemoglobin oleh World Health Organization (WHO), yaitu
pada pasien laki-laki jika kadar hemoglobin kurang dari 13 g/dl, sedangkan pada
pasien perempuan jika kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl. Anemia pada
penyakit ginjal kronik sering terjadi akibat dari produksi eritopoetin yang tidak
adekuat. Eritropoetin adalah substansi yang diproduksi ginjal dalam keadaan
normal yang menstimulasi sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah merah.
Pada gagal ginjal, produksi eritropoetin menurun dan anemia berat dapat terjadi
(National Kidney Foundation, 2002).

Dampak dari anemia pada penyakit ginjal kronik adalah meningkatnya morbiditas
dan mortalitas berkaitan dengan gangguan kardiovaskular, seperti: angina,
perbesaran jantung kiri, dan perburukan gagal jantung. Kejadian yang saling
berkaitan ini disebut dengan Cardiorenal Anemia Syndrome (Thomas, Kanso, &
Sedor, 2009). Anemia memang dapat memberikan dampak yang cukup besar pada
penderita penyakit ginjal kronik, tetapi anemia lebih mungkin untuk mengalami
perbaikan dengan penanganan yang tepat (Kidney Disease Improving Global
Outcome, 2012). Penelitian terakhir menunjukkan bahwa manajemen yang tepat
dari semua tim kesehatan tidak hanya mengurangi mortalitas tetapi juga menunda
inisiasi terapi dialisis (Wu, et al, 2009). Oleh karena itu, dibutuhkan manajemen
penatalaksanaan medis dan keperawatan yang tepat untuk mengatasi dan
mencegah pasien mengalami anemia berat.

Kasus anemia pada pasien penyakit ginjal kronik di ruang rawat penyakit dalam
Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto cukup banyak ditemukan.
Berdasarkan pengamatan penulis, setelah menjalani praktik selama tiga minggu di
lantai enam perawatan umum, jumlah pasien yang dirawat karena kasus penyakit
ginjal kronik sebanyak sepuluh orang dengan masa rawat satu sampai tiga
minggu. Keseluruhan pasien yang dirawat tersebut mengalami komplikasi
anemia, dan beberapa pasien merupakan pasien yang pernah dirawat dan kembali
menjalani perawatan karena mengalami anemia.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


5

Manajemen perawatan diri merupakan salah satu bagian penting yang dapat
mempengaruhi pasien dalam mengontrol proses penyakitnya (National Clinical
Guideline Center, 2011). Manajemen perawatan diri dari masing-masing pasien
bergantung pada kualitas informasi dalam diri pasien dan sistem pendukung dari
luar diri pasien. Edukasi pasien penting diberikan karena dapat meningkatkan
kualitas informasi untuk mencapai keefektifan manajemen perawatan diri pasien.
Karya ilmiah akhir ini akan membahas lebih lanjut bagaimana penatalaksanaan
keperawatan khususnya dalam mempersiapkan pasien untuk menjalani perawatan
mandiri di rumah dengan pemberian edukasi kepada pasien, sehingga dapat
mencegah terjadinya anemia berulang.

1.2 Perumusan Masalah


Penyakit ginjal kronik merupakan kerusakan ginjal dengan laju filtrasi glomerulus
kurang dari 60ml/menit/1,73m2 selama lebih dari 3 bulan. Kerusakan yang
dialami oleh ginjal menyebabkan ginjal mengalami penurunan kemampuan untuk
menyaring darah sebagaimana keadaan ginjal yang sehat, sehingga menyebabkan
sampah tubuh di dalam darah tertahan yang kemudian menyebabkan masalah
kesehatan lainnya. Komplikasi dari penyakit ginjal kronik yang dapat muncul,
antara lain: anemia, ketidakseimbangan elektrolit tubuh, edema, kelemahan otot,
restless leg syndrome, kehilangan nafsu makan, gangguan pola tidur, mual, dan
muntah.

Salah satu komplikasi yang banyak dirasakan oleh penderita penyakit ginjal
kronik adalah anemia. Pada penyakit ginjal kronik, produksi eritropoetin menurun
dan anemia berat dapat terjadi. Oleh karena itu, dibutuhkan manajemen
penatalaksanaan keperawatan yang tepat untuk mengatasi dan mencegah pasien
mengalami anemia berat. Salah satu tindakan keperawatan yang dapat menunjang
peningkatan manajemen mandiri pasien dan mencegah terjadinya anemia pada
pasien dengan penyakit ginjal kronik adalah pemberian edukasi pasien. Karya
ilmiah akhir ini akan membahas lebih lanjut bagaimana penatalaksanaan
keperawatan khususnya terkait edukasi pasien untuk mempersiapkan pasien

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


6

menjalani perawatan mandiri di rumah, sehingga dapat mencegah terjadinya


anemia berulang.

1.3 Tujuan Penelitian


Penulisan ini memiliki beberapa tujuan antara lain:
1.3.1. Tujuan umum :
Menggambarkan analisis edukasi pasien dalam mencegah rehospitalisasi karena
anemia pada penyakit ginjal kronik di lantai enam perawatan umum RSPAD
Gatot Soebroto

1.3.2. Tujuan khusus


Tujuan khusus dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
1.3.2.1 Menggambarkan kasus pasien penyakit ginjal kronik di lantai enam
perawatan umum RSPAD Gatot Soebroto
1.3.2.2 Menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien penyakit ginjal kronik
di lantai enam perawatan umum RSPAD Gatot Soebroto
1.3.2.3 Menganalisis kasus pasien dengan penyakit ginjal kronik berdasarkan
masalah Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan (KKMP)
1.3.2.4 Menganalisis asuhan keperawatan pasien anemia pada penyakit ginjal
kronik di lantai enam perawatan umum RSPAD Gatot Soebroto
1.3.2.5 Menganalisis tindakan edukasi pasien dalam asuhan keperawatan pasien
anemia pada penyakit ginjal kronik di lantai enam perawatan umum
RSPAD Gatot Soebroto

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat dari penulisan ini antara lain:
1.4.1 Pelayanan Keperawatan
Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada para
perawat untuk lebih memodifikasi lagi dalam menyusun asuhan
keperawatan. Khususnya dalam memberikan intervensi keperawatan terkait
edukasi pasien penyakit ginjal kronik dengan anemia untuk mencegah
pasien mengalami rehospitalisasi akibat anemia berulang.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


7

1.4.2 Pendidikan
Hasil penulisan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran
dan mengembangkan ilmu yang berkaitan dengan edukasi pasien anemia
pada penyakit ginjal kronik.
1.4.3 Penelitian
Hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk melakukan
evidence based practice yang serupa dengan kasus yang lain sesuai dengan
penelitian terbaru.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan


Laju urbanisasi di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh World Bank (2014) grafik peningkatan
jumlah penduduk urban terus terjadi dari tahun 2009 ke 2012. Jumlah penduduk
yang tinggal di daerah urban di Indonesia pada tahun 2009 sebanyak 116,669,236
penduduk, pada tahun 2012 meningkat menjadi 127,005,702 penduduk.

Urbanisasi menjadi fenomena yang mengglobal dan merupakan isu yang


multisektor dan kompleks. Dari aspek demografi, urbanisasi merupakan suatu
proses perubahan persebaran penduduk di suatu wilayah yang berdampak pada
kepadatan penduduk. Secara ekonomi, urbanisasi mengubah struktural dalam
sektor mata pencarian. Keterkaitan dari kedua aspek ini dapat terlihat dari segi
daerah perkotaan sebagai pusat perputaran bisnis yang menjanjikan lapangan kerja
memadai. Hal ini kemudian menarik banyak masyarakat pedesaan yang
berbondong-bondong pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Akan tetapi,
sebagian besar dari kaum urban tersebut adalah tenaga tak terdidik yang biasanya
menjadi buruh kasar dan memperoleh penghasilan minim. Akibatnya, mereka
hanya mampu tinggal di kawasan kumuh dengan segala permasalahannya.
Dampak yang terkait kesehatan adalah masalah air bersih, sanitasi, dan tingginya
penyakit infeksi. Aspek sosiologi urbanisasi mengubah sikap hidup dari perdesaan
menuju sikap hidup orang kota. Hal ini terlihat dari perubahan sikap penduduk
urban yang lebih banyak menggunakan kendaraan bermotor, lebih senang dengan
pola makan cepat saji, dan gaya hidup yang instan.

Arus urbanisasi tersebut akan mendatangkan masalah kesehatan bagi masyarakat


dengan faktor yang mempengaruhi kesehatan perkotaan meliputi tata kota,
karakteristik populasi, lingkungan alam, pembangunan sosial dan ekonomi,
pelayanan-manajemen kesehatan darurat, dan ketahanan pangan (WHO, 2014).
Jika masalah kesehatan dilihat dari faktor karakteristik populasi, dimana

8 Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


9

masyarakat urban terbagi menjadi dua bagian, yaitu populasi urban dengan
penghasilan menengah ke atas dan populasi dengan penghasilan rendah yang
tinggal di daerah padat perkotaan. Terbentuklah dua kesenjangan populasi yang
menghadirkan permasalahan kesehatan dominan. Masalah kesehatan pada
masyarakat urban dengan penghasilan rendah terkait dengan infeksi, sanitasi, air
bersih, dan pemukiman kumuh, sehingga masalah kesehatan yang banyak muncul
adalah penyakit-penyakit yang menular (Kjellstorm, 2007). Hal ini akan berbeda
polanya ketika dilihat dari masyarakat perkotaan yang memiliki penghasilan
menengah ke atas, masalah kesehatannya adalah penyakit tidak menular yang
berkaitan dengan pola hidup (makanan dan aktivitas), seperti hipertensi, diabetes
mellitus, penyakit jantung, dan lain-lain (WHO, 2010).

Masalah kesehatan perkotaan yang berkaitan dengan gaya hidup terkait


pemenuhan kebutuhan cairan adalah penyakit ginjal kronik. Di negara
berkembang, seperti Indonesia, menurut Barsoum (2006) penyebab utama
terjadinya penyakit ginjal kronik adalah glomerulusnefritis kronik dan nefritis
intersisial. Hal ini berkaitan dengan tingginya prevalensi infeksi dari bakteri,
virus, dan parasit yang mempengaruhi kinerja ginjal. Berbeda dengan hasil 4th
Report of Indonesian Renal Registry yang menunjukkan penyebab utama pasien
yang di diagnosis penyakit ginjal kronik tahap akhir dan harus menjalani dialisis
adalah hipertensi dan diabetes mellitus (Perkumpulan Nefrologi Indonesia, 2011).
Hal ini mungkin berkaitan dengan perubahan gaya hidup yang telah terjadi di
masyarakat perkotaan Indonesia, seperti pola diet dengan meningkatkan konsumsi
energi tinggi dan makanan cepat saji yang tinggi lemak; dan menurunkan tingkat
pengguna transportasi ilmiah yang membutuhkan aktivitas fisik (jalan kaki dan
sepeda). Konsumsi makanan yang tidak sehat dan aktivitas fisik yang berkurang
berkontribusi dalam meningkatkan berat badan, sehingga ancaman kesehatan di
daerah perkotaan Indonesia saat ini adalah epidemi obesitas dan permasalahan
degeneratif lainnya.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


10

2.2 Penyakit Ginjal Kronik


2.2.1 Definisi
Penyakit ginjal kronik adalah menurunnya fungsi jaringan ginjal yang irreversibel
dan progresif (Black & Hawks, 2009). Menurut National Kidney Foundation
(2002) penyakit ginjal kronik merupakan kerusakan ginjal dengan laju filtrasi
glomerulus kurang dari 60ml/menit/1,73m2 yang terjadi selama lebih dari 3 bulan.
Selain itu, penentuan dari diagnosis penyakit ginjal kronik adalah terdapat tanda
kelainan ginjal termasuk kelainan pada komposisi darah, urin, dan tes pencitraan.
Jadi, penyakit ginjal kronik merupakan ketidakmampuan ginjal untuk
mempertahankan keseimbangan lingkungan internal tubuh yang muncul secara
bertahap sebelum jatuh ke fase penurunan fungsi ginjal tahap akhir. Penurunan
semua fungsi ginjal yang terjadi secara bertahap dan irreversibel, diikuti
penimbunan sisa metabolisme protein dan gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit, yang menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain
dalam darah).

2.2.2 Klasifikasi
Klasifikasi penyakit ginjal kronik didasarkan pada kerusakan ginjal yang terjadi
secara secara bertahap dan irreversibel. Tahapan kerusakan dan penurunan fungsi
ginjal tersebut terbagi menjadi lima tahap, yang ditentukan berdasarkan laju
filtrasi glomerulus, yaitu kemampuan glomerulus dalam melakukan tugasnya
untuk menyaring sampah yang akan dikeluarkan. Penentuan laju filtrasi
glomerulus dapat dilihat dari hasil creatinin clearances yang merupakan hasil
perhitungan dari konsentrasi kreatinin urin yang diukur dalam urin tampung per
24 jam. Selain itu, penentuan laju filtrasi glomerulus juga dapat dilakukan dengan
perhitungan cepat yang disebut dengan estimate Glomerular Filtration Rate
(eGFR). Perhitungan ini menggunakan konsentrasi kreatinin serum, yang diukur
dengan rumus Cockcroft-Gault (National Kidney Foundation, 2002):


LFG (2.1)
,

*Pada perempuan dikalikan dengan 0,85

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


11

Pengklasifikasian ini dilakukan untuk memfasilitasi pengkajian tingkat keparahan


penyakit ginjal kronik, berikut pengklasifikasian berdasarkan eGFR (National
Kidney Foundation, 2002).

Tabel 2.1 Pengklasifikasian Penyakit Ginjal Kronik Berdasarkan Estimasi Laju


Filtasi Glomerulus

Derajat Penjelasan LFG (ml/mm/1,73 m2)


1 Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau 90
2 Kerusakan ginjal dengan LFG ringan 60 89
3 Kerusakan ginjal dengan LFG sedang 30 59
4 Kerusakan ginjal dengan LFG berat 15 29
5 Gagal ginjal < 15

Keadaan ginjal yang terus memburuk kemudian akan sampai pada keadaan ginjal
yang benar-benar gagal untuk menyaring darah. Hal ini disebut dengan penyakit
ginjal tahap akhir atau tahap gagal ginjal kronik, yang akan menunjukkan nilai
laju filtrasi glomerulus <15 ml/min per 1,73 m2. Orang dengan keadaan ginjal
pada tahap ini membutuhkan prosedur cuci darah (hemodialisis) sebagai
pengganti kinerja ginjalnya yang telah mengalami kerusakan (National Kidney
Foundation, 2002).

2.2.3 Etiologi
Penyebab dari penyakit ginjal kronik bermacam-macam, berdasarkan Laporan
Tahunan Sistem Data Ginjal Amerika Serikat tahun 2007 penyebab penyakit
ginjal kronik, antara lain: DM, hipertensi, glomerulonefritis, penyakit ginjal sistik,
dan penyakit urologi lainnya (Jha, et al, 2013).
1. Glomerulonefritis : Primer dan sekunder
Glomerulonefritis adalah peradangan ginjal bilateral, yang biasanya timbul
setelah infeksi Streptococcus. Manifestasinya adalah proteinuria dan atau
hematuria. Gangguan fisiologis utama pada glomerulonefritis akut adalah
berkurangnya ekskresi air, Na dan zat-zat nitrogen, sehingga timbul edema dan
azotemia. Glomerulonefritis kronik, biasanya timbul tanpa diketahui asal
usulnya. Ditandai dengan kerusakan glomerulus secara progresif lambat, akan
tampak ginjal mengkerut, berat lebih kurang 50 gram dengan permukaan
bergranula. Hal ini disebabkan karena jumlah nefron berkurang karena iskemia
Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


12

yang disebabkan oleh tubulus yang mengalami atropi, fibrosis interstisialis dan
penebalan dinding arteri. Menurut stadium penyakitnya, gejala yang mungkin
timbul antara lain poliuria atau oliguria, protenuria, hipertensi, azotemia
progresif, dan kematian akibat uremia.

2. Penyakit ginjal herediter dan congenital


Penyakit ginjal polikistik, ditandai dengan kista-kista multiple yang berisi
cairan jernih atau hemoragik, bilateral yang melakukan ekspansi dan lambat
laun mengganggu dan menghancurkan parenkim ginjal normal akibat
penekanan. Kista tersebut mudah terjadi komplikasi seperti infeksi berulang,
hematuria, poliuria, dan mudah membesar.

3. Hipertensi esensial
Hipertensi esensial merupakan penyakit primer dan menyebabkan kerusakan
pada ginjal. Sebaliknya penyakit ginjal kronik juga dapat menyebabkan
hipertensi melalui mekanisme retensi Na dan H2O, pengaruh vasopressor dari
sistem renin angiotensin dan defisiensi prostaglandin. Keadaan ini merupakan
salah satu penyebab utama penyakit ginjal kronik yang berkembang menjadi
gagal ginjal kronik. Dampak hipertensi lama pada organ ginjal adalah
terjadinya arteriosklerosis ginjal yang menyebabkan nefrosklerosis benigna.
Gangguan ini merupakan akibat langsung dari iskemia yang terjadi karena
penyempitan lumen pembuluh darah intrarenal. Ginjal dapat mengecil,
biasanya simetris, dan mempunyai permukaan yang berlubang-lubang dan
bergranula. Penyumbatan arteria dan arteriol (aferen adalah yang paling sering
terjadi) akan menyebabkan kerusakan glomerulus, sehingga seluruh nefron
rusak.

4. Uropati obstruktif
Obstruksi aliran urine yang terletak di sebelah proksimal vesika urinaria dapat
mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter.
Hal ini saja sudah cukup untuk mengakibatkan atrofi hebat pada parenkim
ginjal (hidronefrosis). Di samping itu, obstruksi yang terjadi di bawah vesika

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


13

urinaria sering disertai refluk vesikoureter dan infeksi pada ginjal. Penyebab
umum obstruksi ginjal adalah jaringan parut ginjal atau uretra, batu,
neoplasma, benigna prostat hipertrofi, kelainan kongenital pada leher vesika
urinaria dan uretra serta penyempitan uretra.

5. Infeksi saluran kemih (ISK) dan ginjal (pielonefritis)


ISK dinyatakan bila terdapat bakteriuria yang bermakna (mikroorganisme
patogen 105/ml pada urine pancaran tengah yang dikumpulkan dengan benar).
ISK bagian atas adalah pielonefritis akut dan ISK bagian bawah adalah
uretritis, sistitis, dan prostatitis. Sistitis akut dan pielonefritis akut jarang
berakhir sebagai gagal ginjal progresif. Pielonefritis kronik adalah cidera ginjal
progresif yang menunjukkan kelainan parenkimal, disebabkan oleh infeksi
berulang/infeksi menetap pada ginjal. Diperkirakan bahwa kerusakan ginjal
pada pielonefritis kronik/ nefropati refluks, diakibatkan oleh refluks dari
kandung kemih yang terinfeksi kedalam ureter kemudian masuk kedalam
parenkim ginjal. Menurut teori hemodinamik intrarenal atau hipotesa
hiperfiltrasi, infeksi awal penyebab kerusakan nefron mengakibatkan
kompensasi peningkatan tekanan kapiler glomerulus dan hiperperfusi pada sisa
nefron yang masih relatif normal. Hipertensi intraglomerulus ini yang
menyebabkan menimbulkan cedera pada glomerulus dan akhirnya
menyebabkan sklerosis.

6. Nefropati diabetik (lesi yang terjadi di ginjal pada diabetes melitus)


Glomerulosklerosis diabetik difus adalah lesi yang paling sering terjadi, terdiri
dari penebalan difus matriks mesangial dengan bahan eosinofilik disertai
penebalan membran basalis kapiler. Kelainan non glomeroulus pada nefropati
diabetik adalah nefritis tubulointertitial kronik, nekrosis papilaris, hialinosis
arteri aferen dan eferen, serta iskemia.

7. Nefropati toksik
Ginjal rentan terhadap efek toksik, obat-obatan, dan bahan-bahan kimia karena:

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


14

a. ginjal menerima 25% dari curah jantung sehingga sering dan mudah kontak
dengan zat kimia dalam jumlah besar
b. interstisium yang hiperosmotik memungkinkan zat kimia dikonsentrasikan
pada daerah yang relatif hipovaskular
c. ginjal merupakan jalur ekskresi obligatorik untuk sebagian besar obat,
sehingga insufisien ginjal mengakibatkan penimbunan obat dan
meningkatkan konsentrasi dalam cairan tubulus

2.2.4 Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala secara umum yang muncul pada klien dengan penyakit ginjal
kronik adalah kelemahan, malaise, edema (lebih sering muncul pada periorbital
dan periperal), dan penurunan urin output pada tahap akhir. Selain itu, tanda dan
gejala khas pada sistem pencernaan, yaitu anorexia, mual, muntah, konstipasi, dan
perdarahan. Manifestasi klinis pada sistem integumen adalah pruritus, ekimosis,
dan pallor. Manifestasi klinis sistem neuromuskular, antara lain: restless legs
syndrome, kram otot, kesadaran lemah, kejang, neuropati perifer, dan nyeri
tulang. Manifestasi klinis sistem kardiovaskuler, yaitu hipertensi, gagal jantung,
perikarditis, dan arteriosklerosis. Perubahan metabolisme yang mungkin terjadi
pada klien dengan penyakit ginjal kronik, antara lain: penurunan kadar
hemoglobin, bikarbonat, dan kalsium; kenaikan kadar kalium, fosfat, asam urat,
dan trigliserida (Stigant, Stevens, & Levin, 2003).

2.2.5 Pemeriksaan Diagnostik


Berikut pemeriksaan diagnostik yang dibutuhkan untuk mendiagnosis sejauh
mana kerusakan yang dialami oleh klien dengan penyakit ginjal kronik (Stigant,
Stevens, & Levin, 2003)
2.2.5.1 Pemeriksaan Urin
Hal yang perlu diperhatikan dari hasil pemeriksaan urin, antara lain: a) Volume
urin, jumlah urin kurang dari 400 ml per24 jam (oliguria), bahkan terjadi anuria;
b) Warna urin yang secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus,
bakteri, lemak, partikel koloid, fosfat/urat. Jika berwarna kecoklatan menunjukkan
adanya darah, hemoglobin, mioglobin, dan forfirin; c) Berat jenis urin < 1,015

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


15

(menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal berat); d) Osmolalitas urin <
350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan tubular, dan rasio urine/serum sering 1:1;
e) Clearence Creatinin yang menunjukkan hasil penurunan dari nilai normal; f)
Natrium terdeteksi > 40 mEq/L karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi natrium;
g) Protein, terdeteksi derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukkan
kerusakan glomerulus jika SDM dan fragmen juga ada

2.2.5.2 Pemeriksaan Darah


Hal yang dianalisis dari pemeriksaan darah, antara lain: a) Blood Urea Nitrogen
(BUN) untuk pemeriksaan urea yang merupakan produksi akhir dari metabolisme
protein. Peningkatan BUN dapat merupakan indikasi dehidrasi, kegagalan pre
renal, atau gagal ginjal; b) Creatinin, produksi katabolisme otot dari pemecahan
creatinin otot dan creatinin fosfat. Bila > 50% nefron rusak maka kadar kreatinin
meningkat. Kreatinin merupakan indikator penyakit ginjal yang lebih spesifik dari
BUN dalam mengevaluasi fungsi glomerulus; c) Elektrolit, yang menganalisis
nilai natrium, kalium, kalsium, dan fosfor; d) Hematologi, yang menganalisis
nilai hemoglobin, hematokrit, eritrosit, trombosit, dan leukosit; e) protein, untuk
melihat adanya penurunan protein darah dan komponennya (albumin dan
globulin); f) Analisis gas darah, dilakukan untuk mengkaji gangguan
keseimbangan asam-basa

2.2.5.3 Tes Pencitraan (Imaging Test)


Pemeriksaan yang dapat dilakukan, antara lain: renogram, ultrasonografi abdomen
(menetukan ukuran ginjal dan adanya massa, kista, obstruksi pada saluran
perkemihan bagian atas), intravenous pyelography, retrograde pyelography
(menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan uretra), renal arteriography
(mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskuler), computed
tomography, magnetic resonance imaging, dan biopsi ginjal (menentukan sel
jaringan untuk diagnosis secara histologi, jaringan dapat diambil dengan prosedur
secara endoskopi)

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


16

2.2.6 Penatalaksanaan
Prinsip terapi untuk menangani penyakit ginjal kronik, antara lain: terapi untuk
penyakit penyebab, memperlambat progesivitas penyakit ginjal kronik, dan
penanganan komplikasi. Penanganan penyakit ginjal kronik dapat berdasarkan
derajat penurunan laju filtrasi glomerulus yang akan dijabarkan pada tabel 2.2
(Thorp, 2011)

Tabel 2.2 Penangan Penyakit Ginjal Kronik Berdasarkan Derajat Penurunan Laju
Filtrasi Glomerulus

Derajat Pengkajian Rencana Tindakan


Klien dengan Tekanan darah, serum kreatinin Jika terbukti mengalami
risiko penyakit (pengecekan eGFR), urin analisis: penyakit renal, lanjutkan dengan
ginjal kronik ratio protein/kreatinin dan pemeriksaan diagnostik lebih
pemeriksaan sedimen lanjut
Atasi hipertensi jika terjadi

Tahap 1 Pemeriksaan lebih lanjut, Tegakkan diagnosis


Tahap 2 pemeriksaan diagnostik yang lebih Lakukan tindakan untuk
spesifik (USG Ginjal, biopsi, dll) mencegah progres penyakit
Monitor progres penyakit (kontrol tekanan darah, kontrol
gula darah, dll)

Tahap 3 Kaji klien terhadap komplikasi Tangani komplikasi yang perlu


Tahap 4 spesifik dari penyakit ginjal kronik, segera ditangani, seperti:
seperti: pemberian eritropoetin,
Anemia (hemoglobin, jumlah perbaikan fosfor, kontrol
retikulosit, dan zat besi) hipertensi, dll)
Penyakit tulang (kenaikan fosfor,
hormon paratiroid, kalsium)
Malnutrisi (albumin, dll),
Neuropati (ataxia, restlegg
syndrom, kesemutan, dll)
Persiapkan pasien untuk terapi
pengganti ginjal

Tahap 5 Mulai menjalani terapi pengganti Terapi dialisis atau transplantasi

2.3 Anemia pada Penyakit Ginjal Kronik


Anemia didefinisikan sebagai penurunan dari satu atau lebih sel darah merah yang
terukur (hemoglobin konsentrasi, hematokrit, dan jumlah sel darah merah).
Penegakkan diagnosis anemia disesuaikan dengan penentuan diagnosis anemia
berdasarkan rentang hemoglobin oleh World Health Organization (WHO), yaitu
pada klien laki-laki dan wanita post-menopouse jika kadar hemoglobin kurang
Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


17

dari 13 g/dl, sedangkan pada klien wanita pre-menopouse jika kadar hemoglobin
kurang dari 12 g/dl (Thomas, Kanso, & Sedor, 2009).

Anemia pada klien penyakit ginjal kronik dapat disebabkan oleh banyak faktor,
diantaranya kekurangan zat besi, asam folat, atau vitamin B12; perdarahan
gastrointestinal; mengalami hiperparatiroid; inflamasi sistemik; dan
memendeknya usia sel darah merah. Namun, penurunan sintesis eritropoetin
adalah penyebab terpenting dan spesifik yang menimbulkan anemia pada penyakit
ginjal kronik. Eritropoetin adalah substansi glicoprotein yang diproduksi oleh
fibroblast intersisial ginjal, yang bekerja menstimulasi sumsum tulang untuk
menghasilkan sel darah merah. Pada penyakit ginjal kronik, atropi tubulus
menyebabkan fibrosis tubulus intersisial, yang menyebabkan kapasitas sintesis
eritropoetin menurun dan anemia berat dapat terjadi (Thomas, Kanso, & Sedor,
2009).

Dampak dari anemia pada penyakit ginjal kronik adalah meningkatnya morbiditas
dan mortalitas berkaitan dengan gangguan kardiovaskular, seperti: angina,
perbesaran jantung kiri, dan perburukan gagal jantung. Kejadian yang saling
berkaitan ini disebut dengan Cardiorenal Anemia Syndrome. Selain itu, anemia
adalah prediktor independen dari kematian penyakit arteri koroner pada penderita
penyakit ginjal kronik (Thomas, Kanso, & Sedor, 2009).

Timbulnya perbesaran jantung kiri berkaitan dengan penurunan kelangsungan


hidup pasien yang menjalani dialisis. Klien dengan penyakit ginjal kronik tahap
akhir yang mengalami perbesaran jantung kiri memiliki 30% rentang
kelangsungan hidup kurang dari lima tahun dibandingkan individu dengan
penyakit ginjal kronik tanpa perbesaran jantung kiri (Levin, et al, 1996 dalam
Thomas, Kanso, & Sedor, 2009). Studi epidemiologi menunjukkan respons
terhadap penggunaan alfa-epoetin pada pasien predialisis memberikan keuntungan
rentang kelangsungan hidup lebih lama saat menjalani dialisis nanti dibandingkan
pasien dialisis yang belum menggunakan alfa-epoetin (Canadian Erythropoietin
Study Group, 1990 dalam Nurko, 2006). Berdasarkan kedua studi di atas dengan

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


18

menangani anemia akan membantu menyelamatkan klien dengan penyakit ginjal


kronik pada derajat tiga dan empat saat nanti mulai menjalani dialisis karena
mencegah kejadian perbesaran jantung kiri.

Penanganan anemia yang bertujuan mencapai peningkatan hematokrit setidaknya


36%, dapat meningkatkan kualitas hidup, menurunkan kebutuhan untuk transfusi,
menurunkan angka hospitalisasi, kematian, dan meningkatkan kekuatan otot dan
fungsi kognitif (Nurko, 2006). Penanganan anemia dapat dilakukan dengan
konsumsi erythropoetin stimulating agent (ESA) yang dapat menstimulasi
peningkatan produksi sel darah merah. Namun, ESA tidak dapat bekerja sendiri,
dibutuhkan pula suplemen zat besi untuk memproduksi sel darah merah yang
cukup untuk menjaga kesehatan (American Association of Kidney Patiens, 2013).
Saat anemia yang dialami oleh penderita penyakit ginjal kronik sangat parah dan
harus segera ditangani, maka pemberian trasfusi darah perlu dilakukan. Transfusi
yang diberikan merupakan Packed Red Blood Cell, sehingga transfusi darah yang
dilakukan langsung mencapai tujuannya (The Kidney Foundation of Canada,
2006).

2.4 Asuhan Keperawatan pada Klien Penyakit Ginjal Kronik


2.4.1 Pengkajian Keperawatan
Menurut Doenges, Moorhouse, & Murr (2010) hal-hal yang perlu dikaji terkait
penyakit ginjal kronik, antara lain:
a) Aktivitas/Istirahat
Pasien dengan penyakit ginjal kronika biasanya memiliki gejala, seperti:
kelelahan ekstermitas, kelemahan, malaise, dan Gangguan tidur
(insomnia/gelisah atau samnolen). Tanda-tanda yang muncul berupa
kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.
b) Sirkulasi
Pada sistem sirkulasi gejala yang muncul yaitu riwayat hipertensi lama atau
berat, palpitasi; nyeri dada (angina). Tanda dari penyakit yang dapat
ditemukan, yaitu: Hipertensi ; DVJ, nadi kuat, edema jar. Umum & pitting
pada kaki, telapak tangan. Disritmia jantung. Nadi lemah halus, hipotensi

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


19

ortostatik menunjukkan hipovolemia, yang jarang pada penyakit tahap


akhir, Friction rub pericardial (respon terhadap akumulasi sisa. Pucat; kulit
coklat kehijauan, kuning, kecendrungan perdarahan).
c) Integritas Ego
Gejala yang muncul pada klien, antara lain: stres, perasaan tidak berdaya,
tak ada harapan, mungkin timbul masalah finansial dan hubungan, dan tak
ada kekuatan. Tanda yang nampak, yaitu: ansietas, menolak, takut, marah,
mudah terangsang, perubahan kepribadian
d) Eliminasi
Pasien akan mengeluhkan penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (gagal
tahap lanjut), abdomen kembung, diare atau konstipasi, dengan tanda-tanda
yang nampak berupa perubahan warna urine, kuning pekat, merah, coklat,
berawan oliguri, dapat menjadi anuri
e) Makanan/Cairan
Pasien dengan penyakit ginjal kronik biasanya memiliki gejala kehilangan
nafsu makan, mual, muntah, nyeri ulu hati, rasa metalik tak sedap pada
mulut (pernafasan ammonia) Penambahan berat badan cepat (edema), atau
penurunan berat badan (malnutrisi), atau mungkin efek pemberian deuretik.
Tanda-tanda yang muncul, antara lain: Perubahan turgor kulit, edema,
ulserasi gusi, perdarahan gusi/lidah. Penurunan kekuatan otot, penurunan
lemak subkutan, penampilan tak bertenaga. Distensi abdomen/asites
f) Neurosensori
Pasien dengan penyakit ginjal kronik biasanya memiliki gejala sakit kepala,
kesemutan, penglihatan kabur. Kram otot/kejang; sindrom kaki gelisah,
kebas rasa terbakar pada telapak kaki. Kebas/kesemutan dan kelemahan,
khususnya ekstermitas bawah (neuropati perifer). Tanda yang muncul, yaitu
gangguan status mental, contoh: penutunan lapang perhatian,
ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan
tingkat kesadaran, stupor, koma. Penurunan DTR. Tanda Chvostek dan
trousseau positif. Kejang, fasikulasi otot, aktivitas kejang. Rambut tipis,
kuku rapuh dan tipis.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


20

g) Nyeri/kenyamanan
Pasien dengan penyakit ginjal kronik biasanya memiliki gejala nyeri
panggul, sakit kepala; kram otot/nyeri kaki (memburuk pada malam hari).
Tanda yang muncul, yaitu Prilaku berhati-hati/distraksi, gelisah
h) Pernafasan
Pasien dengan penyakit ginjal kronik biasanya memiliki gejala nafas
pendek; dispnea nocturnal paroksismal; batuk dengan/tanpa sputum kental
dan banyak. Tanda yang muncul, yaitu takipnea, dispnea, peningkatan
frekuensi/kedalaman (pernafasan kusmaul). Batuk produktif dengan sputum
merah muda, encer (edema paru).
i) Keamanan
Pasien dengan penyakit ginjal kronik biasanya memiliki gejala kulit gatal;
ada/berulangnya infeksi. Tanda yang muncul, yaitu Pruritus, Demam
(sepsis, dehidrasi);normotermia dapat secara actual terjadi peningkatan pada
pasien yang mengalami suhu tubuh lebih rendah dari normal (efek
GGK/depresi respon imun). Petikie, area ekimosis pada kulit, fraktur tulang;
defosit posfat kalsium (kalsifikasi metastatik) pada kulit, jaringan lunak,
sendi; keterbatasan gerak sendi.
j) Seksualitas
Pasien dengan penyakit ginjal kronik biasanya memiliki gejala penurunan
libido; amenorea; infertilitas.
k) Interaksi Sosial
Pasien dengan penyakit ginjal kronik biasanya memiliki gejala kesulitan
menentukan kondisi, cth : tak mampu bekerja, mempertahankan fungsi
peran biasanya dalam keluarga.
l) Penyuluhan/pembelajaran
Pasien dengan penyakit ginjal kronik biasanya memiliki gejala Riwayat DM
keluarga (risiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakit polikistik, nefritis
herediter, kalkulus urinaria. Riwayat terpajan toksin, contoh obat, racun
lingkungan. Penggunaan antibiotik nefrotoksik saat ini/berulang.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


21

2.4.2 Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul


a) Kelebihan volume cairan
b) Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
c) Intoleransi aktivitas
d) Konstipasi
e) Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung
f) Risiko tinggi terhadap cedera
g) Perubahan proses pikir
h) Risiko gangguan integritas kulit
i) Kurang pengetahuan mengenai kondisi, program pengobatan

2.5 Edukasi Pasien di Pelayanan Kesehatan Primer


Edukasi dalam dunia keperawatan merupakan satu bentuk intervensi keperawatan
yang mandiri untuk membantu klien baik individu, kelompok, maupun
masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan
pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai pendidik. Edukasi
pasien dalam dunia keperawatan terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu
edukasi kesehatan dan edukasi pasien di pelayanan kesehatan primer. Edukasi
kesehatan merupakan proses belajar dan mengajar yang berkonsentrasi pada
kondisi sehat, pencegahan, dan promosi kesehatan. Selain itu, edukasi kesehatan
diberikan kepada pasien, kelompok, dan komunitas. Fokus utama dari edukasi
kesehatan adalah mengubah dan meningkatkan perilaku kesehatan masyarakat.
Sedangkan, edukasi pasien di pelayanan kesehatan primer berintegrasi dengan
asuhan keperawatan merupakan kegiatan pembelajaran dengan melalui tahapan
pengkajian kebutuhan belajar klien, penegakan diagnosa keperawatan,
perencanaan edukasi, implementasi edukasi, evaluasi edukasi, dan dokumentasi
edukasi.

Edukasi pasien didefinisikan sebagai sebuah pengalaman sistematis yang


mengombinasikan metode yang bermacam-macam. Hal tersebut dapat berupa
metode kombinasi seperti mengajar, konseling, dan teknik modifikasi tingkah
laku yang mempengaruhi pengetahuan dan tingkah laku kesehatan pasien.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


22

Pengetahuan dan perilaku sehat yang pasien miliki bertujuan untuk meningkatkan
dan memelihara, serta sebagai bekal untuk menanggulangi kondisi yang harus
dihadapi pasien, umumnya pada pasien penyakit kronik (Engers A, et al., 2008
dalam Pellise & Sell, 2009). Oleh karena itu, edukasi pasien dapat berupa
infomasi, konseling, dan modifikasi perilaku kesehatan. Dalam hal ini, perawat
memberikan edukasi kepada klien berupa beberapa rencana aktivitas mengenai
tindakan peningkatan kesehatan yang telah disesuaikan dengan kondisi klien dan
tindakan yang dapat mencegah klien menderita penyakit yang sama maupun
terjangkit penyakit lainnya, dan mengalami perburukan. Edukasi pasien
merupakan pemberian informasi yang dibutuhkan klien untuk melakukan
perawatan diri dalam menjamin kelanjutan perawatan dari rumah sakit ke rumah
(Falvo, 2004). Edukasi pasien dapat menjadi solusi untuk menyiapkan pasien agar
tidak terlalu lama dirawat di rumah sakit.

Edukasi pasien di pelayanan kesehatan primer penting karena setiap klien berhak
untuk tahu dan diinformasikan tentang diagnosis dan prognosis dari penyakitnya,
sama halnya dengan pilihan pengobatan dan risiko dari pengobatan. Selain itu,
edukasi pasien di pelayanan kesehatan juga sangat dibutuhkan karena hal ini dapat
meningkatkan tanggung jawab pasien terhadap perawatan dirinya, pemantauan,
dan keberlanjutan perawatan. Kesimpulannya, edukasi pasien merupakan
pemberian informasi dan praktik kesehatan yang dapat membantu klien dalam
meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan, sehingga klien mampu
meningkatkan derajat kesehatannya secara mandiri.

Tujuan dari pemberian edukasi pasien diantaranya:


a) Untuk membantu individu dan keluarga untuk mendapat tingkat kesehatan
yang optimal (Edelman & Mandle, 2002). Pada asuhan kesehatan saat ini,
pasien mengetahui lebih banyak tentang kesehatan dan ingin dilibatkan pada
pemeliharaan kesehatan, sehingga perawat memberikan edukasi.
b) Memperbaiki kesehatan: pasien yang terluka atau sakit membutuhkan
informasi atau keterampilan yang akan membantu mereka meningkatkan atau
memperbaiki tingkat kesehatan mereka. Pasien yang pulih dari penyakit atau

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


23

yang beradaptasi pada penyakit atau luka mencari informasi tentang kesehatan
mereka. Namun, pasien yang mendapati bahwa sulit untuk beradaptasi pada
penyakit mungkin menjadi pasif dan tidak tertarik untuk belajar. Identifikasi
kemauan pasien, dan motivasi pasien untuk belajar.
c) Koping dengan fungsi yang terganggu: tidak semua pasien pulih secara utuh
dari penyakit atau luka. Banyak yang belajar untuk mengatasi perubahan
kesehatan yang permanen. Pada kasus ini, pasien membutuhkan pengetahuan
dan kemampuan baru untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari. Contoh, pasien
yang kehilangan kemampuan untuk berbicara setelah operasi laring belajar cara
baru untuk berkomunikasi (Potter & Perry, 2007).

Seseorang dengan penyakit ginjal kronik memiliki kondisi yang lebih baik ketika
mereka berperan aktif dalam mengatur kondisi tubuhnya. Oleh karena itu,
pelayanan kesehatan primer dapat berperan dalam mempromosikan manajemen
kesehatan mandiri untuk klien, sehingga klien dapat berperan aktif dalam menjaga
kesehatannya. Hal yang dapata dilakukan oleh tim pelayanan kesehatan primer,
antara lain pertama, penyedia pelayanan kesehatan primer dapat membantu pasien
dan keluarga belajar tentang penyakit ginjal kronik dan mengawal penerimaan
klien dan keluarga terhadap diagnosis penyakit yang diderita. Kedua, penyedia
pelayanan kesehatan primer dapat bekerjasama dengan klien untuk
mengidentifikasi tujuan perawatan, perubahan gaya hidup, dan sumber-sumber
pendukung. Ketiga, penyedia pelayanan kesehatan primer dapat menganjurkan
klien untuk memonitor peningkatan kesehatan menggunakan diari atau lembaran
catatan klien. Tahapan tersebut merupakan bagian dari edukasi klien di pelayanan
kesehatan primer yang dapat mendorong klien menjadi lebih aktif terhadap
kesehatannnya dan menyatu dengan asuhan keperawatan di pelayanan kesehatan
(Craven, 2005).

Setelah klien pulang dari perawatan, diharapkan manajemen mandiri ini dapat
berlanjut dan dapat terevaluasi. Oleh karena itu, pelayanan kesehatan primer akan
melimpahkan status kesehatan klien ke pelayanan kesehatan di komunitas yang
terdekat dengan rumah klien. Klien dan keluarga dapat datang ke pelatihan yang

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


24

terkait bagaimana hidup dengan penyakit ginjal kronik, menjaga perilaku positif,
dan mengembangkan rencana tindakan disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Pelayanan kesehatan primer akan memberikan informasi tentang pelatihan ini dan
menyarankan klien untuk hadir. Sistem ini termasuk ke dalam sistem pendukung
manajemen mandiri (self management support) yang berdasarkan penelitian Chen,
et al (2011) sistem pendukung manajemen mandiri dapat memperlambat progres
dari penyakit ginjal kronik derajat akhir dan mengurangi morbiditas selama
perjalanan penyakit.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


BAB 3
LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas Pasien
Pasien dengan inisial Tn. SM (No. RM: 429715) berusia 46 tahun (Tanggal lahir
17 November 1967), masuk ke Instalasi Gawat Darurat RSPAD Gatot Soebroto
pada Tanggal 14 Mei 2014 Pukul 13.08, dengan keluhan lemas sehingga jalan
dipapah. Klien sebelum masuk rumah sakit didiagnosis Tuberkulosis paru dan
sudah minum obat anti tuberkulosis selama hampir 4 bulan secara rutin. Selain itu,
pada perawatan di rumah sakit sebelumnya klien juga terdiagnosis mengalami
hipertiroid, dan saat ini mengonsumsi obat pengendali hormon tiroid, yaitu PTU.

3.1.2 Keluhan Saat ini (19 Mei 2014)


Klien mengeluh tubuhnya lemah, kadang timbul pusing, kaki kiri sulit digerakkan,
dan kadang merasa mual. Selain itu, kadang bokongnya terasa nyeri.

3.1.3 Aktivitas
Klien sehari-hari sebelum sakit bekerja sebagai pegawai swasta di bidang
ekspedisi. Oleh karena itu, klien banyak menghabiskan waktunya mengendarai
motor atau mobil. Semenjak sakit, klien mengalami penurunan aktivitas, bahkan
tidak mampu lagi mobilisasi secara mandiri. Klien berkata, saya sulit berjalan,
kaki saya lemes. Biasanya klien tidur malam diatas jam 24.00, dan tidak pernah
tidur siang. Satus mental saat ini sadar dan terorientasi. Aktivitas lebih banyak
dibantu, dengan skor barthel indeks 7 (Ketergantungan Berat). Hasil pengkajian
neuromuskular, kaki kanan dan kedua tangan mampu digerakkan secara mandiri,
dengan postur tubuh tegap.

3.1.4 Sirkulasi
Gejala (Subyektif): Riwayat hipertensi tidak ada, klien mengaku tidak pernah
mengalami masalah jantung. Klien mengatakan, kaki saya rasa kesemutan,
seperti berjalan di atas air. Ada perubahan dengan pola berkemih, semenjak

25 Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


26

menggunakan pampers refleks berkemih langsung menurun, saya kalau disuruh


pipis lewat pispot, dari yang mau pipis jadi gak kepingin pipis.

Tanda (Obyektif): Tekanan darah diukur di tangan kanan saat klien berbaring,
yaitu 100/70 mmHg. Tekanan nadi radialis dengan frekuensi 80 x/menit, kualitas
kuat, dan irama teratur. Jantung dipalpasi teraba getaran dengan dorongan yang
kuat. Bunyi jantung 1 dan 2 terdengar tanpa ada murmur dan gallop. Bunyi nafas
terdengar saat auskultasi adalah vesikuler. Ekstrimitas teraba hangat,
denganwarna kulit sebagaimana warna kulit klien biasanya, tidak ditemukan
kebiruan. Pengisian kapiler berlangsung kurang dari 3 detik. Tidak ditemukan
adanya varises kaki dan kuku jari tidak menebal. Rambut rontok, berminyak di
bagian kulit kepala, rambut di bagian muka mulai tumbuh memanjang, sehingga
klien tampak kurang terawat. Warna wajah sedikit pucat, membran mukosa:
pucat, konjungtiva: pucat, sklera tampak sedikit ikterik.

3.1.5 Integritas Ego


Gejala (Subyektif): klien menyatakan, saya merasa sedih, saya gak boleh ini itu,
kaki gak bisa gerak. Cara mengatasi stres: klien menangis atau menceritakan
keluh kesahnya pada istri. Masalah finansial: keluarga tidak mengungkapkan hal
tersebut. Tanda (Obyektif): Status hubungan menikah, Agama Islam, gaya hidup
kelas menengah ke atas. Perasaan saat ini ketidakberdayaan, dengan status emosi
yang labil, mudah tersinggung. Klien memiliki sifat public pain.

3.1.6 Eliminasi
Gejala (Subyektif): pola buang air besar, klien mengusahakan setiap hari
setidaknya 1 kali dilakukan, jika kesulitan klien berusaha untuk mengedan dengan
kuat. Klien mengatakan BAB terakhir tadi pagi, dengan karakter feses padat,
keras, sebesar jempol kaki, dan tidak ada perdarahan. Buang air kecil saat ini
dilakukan di tempat tidur, ditampung dengan pampers atau pispot. Klien
mengatakan sehabis menahan buang air kecil, saat akan dikeluarkan dan pispot
telah siap klien merasa kehilangan rasa untuk berkemih, sehingga urin tidak jadi

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


27

dikeluarkan. Klien mengatakan urin yang dikeluarkan masih banyak jumlahnya


dan tidak ada nyeri saat BAK.
Tanda (Obyektif): tidak ada nyeri tekan pada abdomen, tidak teraba keras massa,
bising usus ada. Karakter urine kuning keruh, jumlah per hari saat ditampung
850ml/ 24 jam. Perhitungan laju filtrasi glomerulus (LFG), sesuai dengan hasil
laboratorium tanggal 14 Mei 2014, dimana didapatkan nilai kreatinin plasma 2,9
mg/dl.

LFG 140 umur x BB / 72 x kreatinin plasma mg/dl


LFG 140 46 tahun x 50kg / 72 x 2,9 mg/dl
3.1
LFG 4700 / 208,8

LFG 22,509 23 /1,73m2

Berdasarkan nilai LFG tersebut, derajat kerusakan ginjal adalah derajat 4.

3.1.7 Makanan dan Cairan


Gejala (Subyektif): Diet saat ini MBRP (makanan biasa rendah protein) 1900
kkal/hari, sehari makan 3 kali. Makanan yang klien gemari adalah sayur bayam
bening dan makanan manis, seperti bubur sum-sum. Klien mengeluhkan adanya
mual dan muntah. Alergi terhadap makanan tidak ada, juga tidak ada masalah
mengunyah dan menelan. Ada penurunan berat badan yang cukup drastis
semenjak sakit.

Tanda (Obyektif): berat badan saat ini 50 kg, dan sebelum sakit 57 kg. Tinggi
badan 170 cm, lingkar lengan atas 20cm. Bangun tubuh tinggi kurus. Makanan
dari rumah sakit kadang tidak dihabiskan, klien lebih senang mengonsumsi
makanan yang dibeli sendiri seperti nasi kuning atau sop. Bising usus aktif di
keempat kuadran. Cairan yang diminum perhari sekitar 1500 ml. Turgor kulit
menurun, beberapa bagian kulit mulai bersisik, mukosa bibir kering, dan pucat.

3.1.8 Kebersihan Diri


Gejala (Subyektif): aktivitas sehari-hari bergantung pada orang lain, hanya
terbaring di tempat tidur. Toileting menggunakan pampers dan pispot. Tanda
Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


28

(Obyektif): penampilan umum lemah, rambut mulai memanjang, tumbuh kumis


dan jenggot yang belum dicukur. Kulit kepala berminyak, berisisik putih, dan
rontok.

3.1.9 Neurosensori
Gejala (Subyektif): klien mengatakan, saya sering merasa kepala saya
keleyengan saat bangun dari posisi tidur ke duduk, dan saat duduk terlalu lama.
Ada rasa kebas di kaki. Kedua kaki masih memiliki rasa sakit. Kaki kiri klien
tidak dapat digerakkan, keluarga mengatakan, bapak merasa kedua kakinya
lemas sejak beberapa bulan yang lalu, tapi masih mampu digerakkan. Beberapa
hari yang lalu, setelah buang air besar mengedan dengan keras, kaki kiri bapak
jadi sulit untuk digerakkan (menekuk) sendiri. Tidak ada kehilangan kemampuan
indera penglihatan, penciuman, dan pendengaran

Tanda (Obyektif): status mental compos mentis, terorientasi terhadap waktu-


tempat-orang. Memori saat ini masih ingat dan yang lalu juga masih ingat. Tidak
menggunakan alat bantu lihat dan dengar. Ukuran/ reaksi pupil kanan dan kiri
simetris. Bola mata nampak menonjol keluar, pergerakan bola mata ada, kelopak
mata bisa digerakkan, atpi saat diminta memejam kuat klien dapat melakukan
tidak lama. Saat diminta mengerutkan dahi klien sedikit kesulitan melakukan.
Genggaman tangan kuat perlahan dikedua tangan, tapi terasa tremor.

3.1.10 Nyeri atau Ketidaknyamanan


Gejala (Subyektif): lokasi nyeri terasa di bokong dan kepala. Kualitas nyeri 2,
terasa perih di bokong dan nyut-nyutan di kepala. Frekuensi nyeri kadang-kadang
muncul, tanpa ada penjalaran ke area lain. Faktor pencetus: (kepala) saat diposisi
bangun ke duduk, (bokong) saat duduk terlalu lama. Cara mengatasi berbaring
dengan posisi miring. Tanda (Obyektif): klien mengerutkan muka saat terasa
nyeri, dan menjaga area yang terasa sakit. Respon emosional meringis, tegang,
dan mudah tersinggung.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


29

3.1.11 Pernapasan
Gejala (Subyektif): dispnea tidak ada. Klien mengatakan tidak ada batuk. Klien
saat ini sedang minum OAT, sudah berlangsung selama 3 bulan, Tuberkulosis
paru (+). Klien perokok, bisa menghabiskan 1 bungkus perhari, dan klien
merokok sejak SMA. Saat ini klien tidak menggunakan alat bantu pernapasan.
Tanda (Obyektif): frekuensi penapasan 18 x/menit, kedalaman normal, dan
simetris. Bunyi nafas vesikuler, tidak ada sianosis. Fungsi mental compos mentis.

3.1.12 Keselamatan
Gejala (Subyektif): klien tidak pernah mengalami alergi, pernah menjalani prosesi
transfusi darah, klien mengatakan tidak ada penyakit hubungan seksual. Klien
pernah mengalami dislokasi dan patah di bagian siku tangan kanan, dikarenakan
kecelakaan saat mengendarai motor. Klien tidak mengalami kesurakan indera
penglihatan dan pendengaran. Alat ambulatori menggunakan kursi roda. Tanda
(Obyektif): suhu pengkajian 36oC, integritas kulit ada yang terganggu, klien
mengalami luka dekubitus di bagian bokong (tepat di tonjolan tulang sacrum).
Luka dekubitus saat ini diameternya 2,5cm, dengan grade 2, tidak ada
pengeluaran nanah, dan tidak berbau. Tonus otot lemah, rentang gerak terbatas,
kelemahan pada kaki kiri. Kekuatan otot klien:
4444 4444
2333 2222

3.1.13 Seksualitas
Gejala (Subyektif): ada perubahan terakhir dalam frekuensi dan minat, yaitu
menurun. Tidak ada rabas penis, tidak ada gangguan prostat. Tanda (Obyektif):
pemeriksaan genitalia tidak ditemukan laserasi, dll.

3.1.14 Interaksi Sosial


Gejala (Subyektif): status perkawinan menikah, hidup dengan istri. Keluarga
besar: klien meruapakn anak tunggal, ayah-ibu klien telah meninggal dunia.
Peran: klien sebagai kepala keluarga yang bekerja sebagai pegawai swasta di
sebuah perusahaan ekspedisi. Klien memiliki usaha kontrakan sebagai sumber

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


30

pemasukan tambahan. Saat ini semenjak sakit, peran klien terganggu. Orang-
orang pendukung lain adalah saudara-saudara lain. Tidak ditemukan adanya
perubahan bicara dan penggunaan alat bantu komunikasi.

Tanda (Obyektif): bicara klien jelas dan dapat dimengerti. Komunikasi secara
verbal dan non verbal dapat berjalan dengan baik. Pola interaksi keluarga: Klien
dan istri senang mengobrol untuk berdiskusi atau sekedar bercerita,
mengungkapkan hal yang kurang menyenangkan. Istri duduk di samping temapt
tidur, kerap membereskan ruangan dan tempat tidur klien, membantu aktivitas
klien, dan saling berkomentar.

3.1.15 Penyuluhan dan Pembelajaran


Gejala (Subyektif): bahasa dominan adalah bahasa indonesia, dan klien melek
huruf. Tingkat pendidikan klien sarjana. Keyakinan kesehatan yang dilakukan,
bapak tidak pernah berobat karena penyakit yang sepele, tapi saat bapak merasa
lemah banget diawal sakit ini, bapak segera dibawa berobat ke dokter. Selain
minum obat dari dokter, bapak juga minum suplemen kayak sari kurma dan
minuman spirulina. Kalau kata orang bagus buat kesehatan, ya kami coba. Faktor
risiko keluarga atau hubungan, ibu meninggal dunia karena kanker payudara, dan
ayah meninggal dunia karena penyakit jantung. Obat yang diresepkan tampak
pada tabel berikut:

Tabel 3.1 Daftar Terapi Obat pada Tn. S

Nama Obat Dosis Waktu Pemberian Tujuan


KSR 1200 mg /8jam Oral Koreksi kalium
NaCl 4 mg /24jam Oral Koreksi Natrium dan Clorida
Ondancentron 4 mg /8jam IV Mengatasi mual
Cefepime 1g /24jam IV Antibiotik
Rifampisin 450mg /24jam Oral OAT
Etambutol 750mg /24jam Oral OAT
CaCO3 50mg /24jam Oral Koreksi kalsium
Citicolin 50mg /12jam IV Brainact
Asam Folat 15mg /24jam Oral Menangani anemia
Mecobalamin 500mg /8jam IV Vitamin B12

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


31

Riwayat keluhan terakhir, sejak bulan Februari yang lalu bapak sempat dirawat
di RSIJ Pondok Kopi, dengan diagnosis TB paru, setelah itu sambil rawat jalan
bapak didiagnosis kena hipertiroid, saat itu bapak telah mengeluh kakinya terasa
lemas meskipun masih bisa digerakkan dan digunakan untuk berjalan. Namun saat
dirawat disini, kaki kiri yang lemas tidak dapat digerakkan sendiri sejak tanggal
16 Mei 2014, setelah bapak mengedan dengan keras waktu itu. Harapan pasien
terhadap perawatan ini, saya bisa sehat, beraktivitas lagi, dan kaki saya bisa
digerakkan. Penyakit lain yang relevan: terkait dengan kelemahan kaki pernah
kecelakaan dengan posisi akhir terduduk. Kebiasaan hidup, klien sering begadang
dan makan kacang, minum-minuman berenergi saat harus mengendarai mobil,
khususnya saat harus keluar kota, dan senang minum teh di pagi hari.

Pertimbangan Rencana Pulang


Rencana pulang : 28 Mei 2014
Sumber-sumber yang tersedia, dukungan orang terdekat, yaitu istri dan dukungan
keuangan dari usaha kontrakan. Antisipasi perubahan pola hidup pada diet dan
pemulihan motorik (klien harus menjalani fisioterapi secara rutin). Bantuan yang
dibutuhkan: belajar tentang diet yang tepat untuk kondisi kesehatan bapak.

3.1.16 Pemeriksaan Penunjang


Saat klien masuk unit gawat darurat RSPAD Gatot Soebroto (14 Mei 2014), klien
menjalani pemeriksaan darah yang menunjukkan adanya ketidaknormalan nilai,
yaitu hemoglobin 7,2 g/dl, hematokrit 22%, eritrosit 2,5 juta/uL, leukosit
18540/uL, ureum 122 mg/dl, kreatinin 2,9 mg/dl, natrium 128 mmol/L, dan
kalium 2,9 mmol/L. Selain itu, klien juga menjalani pemeriksaan
elektrokardiogram dan rontgen thoraks. Hasil pemeriksaan elektrokardiogram
menunjukkan Sinus rhytm dengan detak jantung 88 x/menit; ventricular premature
complexes leftward axis; right bundle branch block lead V1, V2, V3, dan V4; Q
patologis lead II, III, dan aVF. Hasil rontgen thoraks menunjukkan kesan jantung
dalam batas normal dan tampilan paru dengan tuberkulosis paru.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


32

Kemudian selama dua hari (15-16 Mei 2014) berturut-turut klien dilakukan
pemeriksaan darah rutin dan urinalisis. Hasil pemeriksaan darah pada tanggal 15
Mei 2014 menunjukkan ketidaknormalan nilai, yaitu: hemoglobin 7,8 g/dl,
hematokrit 23%, eritrosit 2,7 juta/uL, leukosit 17600/uL, dan trombosit
110000/uL. Hasil pemeriksaan darah pada tanggal 16 Mei 2014 menunjukkan
ketidaknormalan nilai, yaitu: hemoglobin 9,6 g/dl, hematokrit 27%, eritrosit 3,3
juta/uL, leukosit 20700/uL, dan RDW 16,30%. Pemeriksaan urinalisis tanggal 16
Mei 2014 menunjukkan adanya ketidaknormalan, yaitu adanya protein (positif 1)
dan adanya leukosit (10-15-10).

Selama perawatan untuk menegakkan diagnosis lebih kuat dilakukan beberapa


pemeriksaan, seperti pemeriksaan rontgen lumbosacaral, magnetic resonance
imaging (MRI) pada thoraks, USG Abdomen, Clearance Creatinin, dan BTA
Urin. Pemeriksaan rontgen lumbosacaral dan magnetic resonance imaging (MRI)
pada thoraks dimaksudkan untuk melihat apa kerusakan yang menyebabkan klien
mengalami parefarese inferior. Hasil pemeriksaan rontgen lumbosacral (16 Mei
2014) menunjukkan kesan straight lumbalis dan adanya osteofit minimal di
anterior lumbal empat. Hasil pemeriksaan resonance imaging (MRI) pada thoraks
(21 Mei 2014) menunjukkan kesan tidak tampak tanda-tanda spondilitis pada
vertebra torakal, vertebrae torakal intak, tidak tampak bulging, HNP, maupun
kompresi nerve root segmen torakal.

Pemeriksaan USG Abdomen, Creatinin Clearance, dan BTA Urin dimaksudkan


untuk mengetahui kerusakan ginjal dan memastikan penyebabnya. Hasil
pemeriksaan USG Abdomen (20 Mei 2014) menunjukkan kesan ukuran ginjal
kanan dan kiri membesar dengan peninggian cortical echoes, sulit mengukur tebal
cortex ginjal; hepar, kandung empedu, pancreas, lien dalam batas normal; dan
vesikaurinaria, prostat dalam batas normal. Hasil pemeriksaan Creatinin
Clearance (21 Mei 2014) menunjukkan ketidaknormalan, yaitu nilai Creatinin
Clearance 9,78 ml/menit, ureum 104 mg/dl, kreatinin 2,3 mg/dl, kreatinin (Urin
24 jam) 37mg/24jam, dan Volume urin 850ml/24 jam. Hasil pemeriksaan BTA
urin (22 Mei 2014) menunjukkan nilai negatif pada hasil pemeriksaan.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


33

3.2 Analisis Data


Berdasarkan data hasil pengkajian pada Tn. S didapatkan bahwa terdapat lima
masalah keperawatan, yaitu intoleransi aktivitas, resiko ketidakseimbangan
volume cairan, gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan, ganggguan integritas
kulit, dan hambatan mobilitas fisik. Diagnosis keperawatan Intoleransi aktivitas
berhubungan dengan gangguan sistem penghantaran Oksigen dalam tubuh
didapatkan dari keluhan klien yang mengatakan jika dari posisi tidur ke duduk
kepalanya terasa pusing, nyut-nyutan, keleyengan, tubuh lemas, dan hanya
berbaring di tempat tidur. Data obyektif untuk membuat diagnosis ini, antara lain:
Tanda-Tanda Vital: (Tekanan Darah) 100/70mmHg, (Nadi) 80x/menit, (Frekuensi
Nafas) 18 x/menit, (Suhu) 36oC; Konjungtiva pucat; Genggaman tangan perlahan
kuat dengan tremor; Riwayat hipertiroid 1 bulan sebelum masuk rumah sakit
(SMRS) dan riwayat TB Paru 3 bulan SMRS; Nilai laboratorium (16 Mei 2014,
Pk 10.00): Hb 8g/dl Ht 25%, Eritrosit 2,9 juta/uL, Leukosit 21820 / uL, Albumin
2,8 g/dl, Kalsium 7,3 mg/dl, fosfor 6,1 mg/dl, magnesium 1,27 mEq/L, Natrium
128 mg/dl, Kalium 2,9 mg/dl; Pemeriksaan EKG (14 Mei 2014): Sinus rhytmik
dengan detak jantung 88 x/menit; ventricular premature complexes leftward axis;
right bundle branch block lead V1, V2, V3, dan V4; Q patologis lead.

Diagnosa Keperawatan risiko ketidakseimbangan volume cairan berhubungan


dengan ketidakseimbangan elektrolit dan penurunan fungsi ginjal diangkat
berdasarkan data subyektif, dimana klien menyatakan kaki kirinya sempat
mengalami bengkak sebelum masuk rumah sakit dan senang banyak minum, tapi
pengeluaran urinnya juga masih banyak. Data obyektif yang membangun
diagnosis ini adalah Balance Cairan: +150 ml; tekanan darah 100/70 mmHg; nadi
80 x/menit; pernapasan: frekuensi 18 x/mnt, kedalaman sedang, auskultasi bunyi
nafas vesikuler; hasil perhitungan LFG = 23ml/mm/1,73m3 (Penyakit Ginjal
Kronik Derajat 4); hasil pemeriksaan laboratorium: Kadar elektrolit darah (16 Mei
2014, Pk 10.00) kalsium 7,3 mg/dl, fosfor 6,1 mg/dl, magnesium 1,27 mEq/L,
Natrium 128 mg/dl, Kalium 2,9 mg/dl.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


34

Diagnosis keperawatan gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan mual dan intake nutrisi yang tidak adekuat diangkat
berdasarkan data klien yang mengeluhkan adanya mual dan muntah dan
penurunan berat badan yang cukup drastis semenjak sakit. Data obyektif yang
menyusun diagnosis ini, yaitu: data antopometri: Berat badan saat ini 50 kg,
sebelum sakit 57 kg, Tinggi badan 170 cm, Lingkar lengan atas 20cm, IMT saat
ini: 17,3 ( gizi kurang); Nilai laboratorium (16 Mei 2014, Pk 10.00): Hb 8g/dl, Ht
25%, Eritrosit 2,9 juta/uL, Leukosit 21820 / uL, Albumin 2,8 g/dl, Kalsium 7,3
mg/dl, fosfor 6,1 mg/dl, magnesium 1,27 mEq/L, Natrium 128 mg/dl, Kalium 2,9
mg/dl; turgor kulit menurun; konjungtiva pucat, lemah; bangun tubuh kurus
tinggi; rambut rontok; dan makanan dari rumah sakit kadang tidak dihabiskan,
klien lebih senang mengonsumsi makanan yang dibeli sendiri seperti nasi kuning
atau sop.

Diagnosis keperawatan gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring


yang lama dan proses perjalanan penyakit dibangun berdasarkan data subyektif,
dimana klien mengeluh nyeri dibagian bokong, terutama saat duduk terlalu lama,
kualitas 2, nyeri berlangsung sekitar 5 menit. Data obyektif dari diagnosis ini
antara lain: terdapat luka dekubitus di bokong klien (tepat di tonjolan tulang
sacrum), diameter 2,5cm dengan grade 2; kulit di bagian ekstrimitas bersisik dan
mengelupas; klien menghabiskan waktunya ditempat tidur dengan lebih banyak
tidur pada posisi berbaring; nilai aktivitas sesuai barthel index : 7
(Ketergantungan Berat); rentang sendi terbatas, Nilai kekuatan otot : 4444 4444
2333 2222

Diagnosis keperawatan hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan


ketidakmampuan pergerakan pada ekstrimitas bawah (paraparese inferior)
diangkat berdasarkan data klien yang mengatakan kaki klien terasa lemas, dan
sekarang kaki bagian kiri tidak dapat digerakkan sendiri. Data obyektif yang
membangun diagnosis ini antara lain: klien menghabiskan waktunya ditempat
tidur dengan lebih banyak tidur pada posisi berbaring; nilai aktivitas sesuai
barthel index: 7 (Ketergantungan Berat); rentang sendi tidak ada yang kaku, tapi
tidak dapat digerakkan sendiri; rangsangan sakit dikedua kaki ada; nyeri dikaki

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


35

kiri muncul kadang-kadang; nilai kekuatan otot: 4444 4444


2333 2222

3.3 Rencana Tindakan Keperawatan


Rencana tindakan keperawatan ditegakkan berdasarkan data-data pengkajian yang
telah dikelompokkan. Mahasiswa merencanakan beberapa tindakan keperawatan
yang bertujuan untuk menyelesaikan empat dignosa keperawatan, yaitu intoleransi
aktivitas, risiko kelebihan volume cairan, gangguan integritas kulit, dan hambatan
mobilitas fisik. Rencana tindakan keperawatan tersebut dilakukan dalam bentuk
tindakan mandiri maupun tindakan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain
seperti dokter, ahli gizi, dan apoteker.

Rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi diagnosis intoleransi aktivitas


bertujuan supaya klien klien mampu melakukan akvitias sesuai dengan toleransi
tubuh. Kriteria hasil yang akan dicapai dari rencana tindakan keperawatan tersebut
yaitu klien mampu berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan dalam
memenuhi kebutuhan perawatan diri, kelamahan/ lemas dan sesak napas
berkurang ketika beraktivitas, tanda-tanda vital dalam batas normal (tekanan
darah sistole 110-130 mmHg, tekanan darah distole 70-90 mmHg, nadi 60-100
x/menit, frekuensi nafas 16-20x/menit). Rencana tindakan mandiri keperawatan
yang disusun mahasiswa dalam mengatasi masalah intoleransi aktivitas kaji
tingkat toleransi klien terhadap aktivitas yang dilakukan; catat respon klien
sebelum, selama atau setelah beraktivitas, kaji atau monitor tanda-tanda vital,
anjurkan klien untuk isirahat; evaluasi tingkat atau level toleransi toleransi
aktivitas klien; anjurkan keluarga untuk membantu memenuhi kebutuhan klien
yang belum dapat dilakukan mandiri; libatkan klien dalam perencanaan
kebutuhannya yang memerlukan bantuan; dan ajarkan klien secara bertahap
latihan aktivitas sesuai dengan kondisi klien.

Rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi diagnosis risiko


ketidakseimbangan volume cairan bertujuan untuk mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit tetap adekuat. Kriteria hasil yang akan dicapai
dari rencana tindakan keperawatan tersebut, yaitu klien mengatakan tubuhnya
Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


36

tidak bengkak, tidak ada sesak, tidak ada edema, tekanan darah stabil (sistole 110-
130 mmHg, distole 70-90 mmHg), tidak terdengar ronkhi, tidak ditemukan
peningkatan vena juguaris (JVP), dan kadar elektrolit dalam batas normal.
Rencana tindakan mandiri keperawatan yang disusun mahasiswa dalam mengatasi
masalah ini meliputi kaji tanda-tanda vital (terutama tekanan darah) per 8 jam,
pantau pencatatan intake dan output klien, kaji tanda-tanda kelebihan volume
cairan, auskultasi bunyi pernapasan. Sedangkan tindakan kolaborasi yang
direncanakan meliputi pemberian medikasi untuk mengoreksi ketidakseimbangan
elektrolit, konsultasi dengan ahli diet, dan pemantauan hasil pemeriksaan
laboratorium.

Rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi diagnosis gangguan nutrisi


kurang dari kebutuhan tubuh bertujuan untuk memperbaiki dan mempertahankan
intake nutrisi yang adekuat. Kriteria hasil yang akan dicapai dari rencana tindakan
keperawatan tersebut, yaitu berat badan stabil, hasil lab normal, menyatakan
pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat, dan berpartisipasi dalam
penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya. Tindakan
keperawatan yang akan dilakukan adalah pemantauan asupan makanan perhari,
pantau antopometri yang dapat dilakukan, sarankan klien untuk makan makanan
lebih sedikit tapi seiring, ciptakan suasana makan yang menyenangkan, berikan
dorongan kebersihan oral, pantau hasil studi laboraturium; dan berikan medikasi
sesuai indikasi.

Rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi diagnosis gangguan integritas


kulit bertujuan untuk memperbaiki dan mempertahankan integritas kulit klien.
Kriteria hasil yang akan dicapai dari rencana tindakan keperawatan tersebut, yaitu
luka pada kulit klien mengalami perbaikan, tidak ditemukan luka baru, dan
kelembapan kulit klien baik. Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah
Inspeksi dan perubahan kulit (warna, turgor, dan vaskularitas), Catat adanya
kemerahan, eksoriasi, ekimosis dan purpura; lakukan perawatan luka tekan klien
1x per hari; Monitor masukan cairan dan hidrasi kulit membran mukosa;
Inspeksi adanya edema, tinggikan bagian kaki jika terdapat edema; lakukan

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


37

perubahan posisi setiap dua jam; berikan perawatan kulit, dan jaga linen tetap
kering dan tidak berlipat-lipat.

Rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi diagnosis hambatan mobilitas


fisik kulit bertujuan agar mobilitas klien meningkat bertahap. Kriteria hasil yang
ingin dicapai dari tindakan keperawatan yang dilakukan, yaitu: mempertahankan
posisi yang optimal ditandai dengan tidak adanya tanda kontraktur dan footdrop;
mempertahankan kekuatan otot; dan mampu melakukan ROM aktif dan/ataupun
pasif secara bertahap. Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh mahasiswa,
antara lain: kaji kemampuan fungsional atau luasnya gangguan sejak awal,
klasifikasikan dalam skala 0-4; lakukan terapi fisik yang di fokuskan pada latihan
gerak pasif dan aktif (jika pasien sadar) minimal 2 kali dalam sehari; letakkan
pasien pada posisi tengkurap satu-dua kali dalam 24 jam jika pasien dapat
mentoleransi; sokong ekstremitas dalam posisi fungsionalnya, gunakan papan
kaki (foot board) selama periode paralysis flaksi; Bila pasien ditempat tidur,
lakukan tindakan untuk mempertahankan posisi kelurusan postur tubuh; libatkan
orang terdekat untuk berpartisipasi dalam aktifitas/latihan dan merubah posisi;
dan anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan
menggunakan ekstremitas yang tidak sakit. Tindakan kolaborasi dilakukan
perawat dengan dokter berupa pemberian medikasi dan fisioterapi berupa terapi
menguatkan otot-sendi secara rutin. Sebelum dilakukan latihan bersama
fisioterapi, perawat perlu menjelaskan terapi apa yang akan dilakukan dan apa
tujuan dari terapi yang dilakukan. Selain itu, untuk mempersiapkan klien pulang
informasi mengenai keberlanjutan fisioterapi perlu diinformasikan kepada klien
dan keluarga.

3.4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan


a) Intoleransi Aktivitas
Pada hari pertama perawatan klien mengatakan tubuhnya lemah dan merasa cepat
lelah jika tidak dalam posisi berbaring. Semua aktivitas dilakukan di tempat tidur
dan dibantu oleh istri. Perawat mencoba secara bertahap aktivitas yang dapat
dilakukan secara mandiri oleh klien, seperti menyuapi makan sendiri, memegang

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


38

gelas minum, dan merapikan dirinya. Hal ini dirasa perawat dapat dilakukan oleh
klien karena kedua tangan klien mampu bergerak cukup kuat, dan saat dilakukan
klien tidak mengalami peningkatan nadi, tekanan darah, dan frekuensi pernapasan.
Setelah empat hari menjalani latihan bertahap, beberapa aktivitas yang tidak
membutuhkan mobilisasi, klien mampu lakukan, asalkan barang-barang yangg
dibutuhkan didekatkan dengan klien. Tubuh klien juga dapat mentoleransi
aktivitas-aktivitas tersebut, karena tidak ada perubahan fisiologis yang berarti.
Penting untuk diberikan kepada klien adalah motivasi agar kuat dan menjalani
pelatihan.

b) Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan


Tindakan yang dilakukan perawat adalah kolaborasi pemberian medikasi dan
kolaborasi terapi diet yang diharapkan dapat memperbaiki status elektrolit dalam
tubuh klien. Tanggal 20 Mei 2014 kondisi elektrolit klien mengalami penurunan,
yaitu Natrium: 134 mmol/L dan Kalium: 2,8 mmol/L. Kemudian mengalami
perbaikan pada tanggal 22 Mei 2014 dengan nilai natrium 137 mmol/L, tetapi
niali kalium masih belum mengalami perbaikan, yaitu 2,8 mmol/L. Klien juga
menjalani pemerikasaan creatinin clearence pada tanggal 21 Mei 2014 dari urin
yang dikumpulkan 850ml per 24 jam dengan nilai ureum 104mg/dl, kreatinin 2,3
mg/dl, dan creatinin clearance 9,78 ml/menit. Hasil pengukuran balance cairan,
klien kerap mengalami kelebihan cairan (input > output) per delapan jam. Namun,
perawat tidak menemukan edema. Sampai pada tanggal 27 Mei 2014 di tungkai
kaki kiri grade satu. Perawat merekomendasikan klien untuk meninggikan
kakinya, dan mulai menyeimbangkan input-output cairan.

c) Gangguan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh


Tindakan keperawatan yang dilakukan pada gangguan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh antara lain memantau asupan makanan perhari, memantau
antopometri (lingkar lengan atas), menyarankan klien makan sedikit tapi sering,
memantau hasil laboratorium, dan memberikan medikasi sesuai indikasi. Selain
itu, untuk menyiapkan klien kembali ke rumah, klien diberikan edukasi mengenai

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


39

diet yang tepat untuk anemia pada penyakit ginjal kronik dan perencanaan diet
yang dapat klien terapkan saat dirumah nanti.

d) Gangguan Integritas Kulit


Klien masuk rumah sakit dengan sebelumnya pernah pula dirawat di rumah sakit
lain. Klien datang dengan luka dekubitus di bagian tonjolan sacrum dengan
diameter 2,5cm grade luka tiga. Perawatan yang dilakukan adalah perawatan luka
sederhana menggunakan NaCl 0.9% sebagai pembersihnya, kemudian ditutup
dengan supratul kemudian dilapisi kasa kering di bagian atasnya. Pada tanggal 1
Juni 2014 diameter luka menjadi 1 cm dengan grade dua luka tanpa sekresi dan
masuk ke dalam tahap penyembuhan.

e) Hambatan Mobilitas Fisik


Saat awal perawatan sebelum klien dikonsultasikan ke dokter rehabilitasi medik,
perawat telah memberikan latihan rentang pergerakan sendi aktif-assistif dengan
memperhatikan toleransi fisiologis tubuh klien. Dua minggu setelah dirawat
mandiri, klien telah dikonsultasikan dengan tim rehabilitasi medik, dan
mendapatkan terapi khusus dari fisioterapi. Perawat kemudian berkolaborasi
dengan pihak fisioterapi untuk memberikan latihan-latihan yang dapat
meningkatkan rentang pergerakan sendi dan otot klien, khususnya dibagian
ekstrimitas bawah. Pada tanggal 3 Juni 2014 terlihat klien telah mampu
melakukan latihan mengangkat bagian bokong sambil tidur dan menggerakkan
kaki kanan secara mandiri, meskipun kaki bagian kiri masih membutuhkan
bantuan. Setelah klien pulang, klien telah dipersiapkan untuk terus menjalani
fisioterapi untuk memulihkan kondisi pergerakan fisiknya.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


BAB 4
ANALISIS SITUASI

4.1 Profil Lahan Praktik


Rumah Sakit Umum Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto merupakan
rumah sakit pusat rujukan bagi seluruh tentara. Namun, seiring kebijakan
pemerintah, maka RSPAD Gatot Soebroto telah terbuka untuk masyarakat umum
dan menjadi salah satu rumah sakit yang melayani program asuransi kesehatan
untuk masyarakat Indonesia yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Rumah sakit yang berlokasi di jalan Abdul
Rahman Saleh nomor 24, Jakarta pusat ini sudah berdiri sejak zaman belanda
dengan nama groot militare hospital welterveden yang merupakan rumah sakit
tentara Belanda. Pada tanggal 26 Juli 1950 diserahkan kepada Djawatan
Kesehatan Angkatan Darat dan menjadi rumah sakit tentara pusat. Tanggal
tersebut hingga kini diperingati sebagai hari jadi RSPAD Gatot Soebroto (Admin,
2014).

Visi RSPAD Gatot Soebroto adalah menjadi rumah sakit berstandar internasional,
sebagai rujukan tertinggi dan rumah sakit pendidikan utama serta merupakan
kebanggan prajurit dan masyarakat. Visi tersebut diturunkan ke dalam misi
berikut, antara lain: 1) menyelenggarakan fungsi rumah sakit tingkat pusat dan
rujukan tertinggi bagi rumah sakit TNI AD dalam rangka mendukung tugas pokok
TNI AD, 2) menyelenggarakan dukungan dan pelayanan kesehatan yang bermutu
secara menyeluruh untuk prajurit PNS TNI AD serta masyarakat, 3)
mengembangkan keilmuan secara berkesinambungan, 4) meningkatkan
kemampuan tenaga kesehatan melalui pendidikan berkelanjutan, 5) memberikan
lingkungan yang mendukung proses pembelajaran dan penelitian bagi tenaga
kesehatan (Admin, 2014).

RSPAD Gatot Soebroto mulai mengadakan pengambangan secara signifikan pada


masa pemerintahan orde baru (1966-1988), meliputi pengembangan fisik
bangunan, pengadaan alat canggih, organisasi dan sumber daya manusia. Presiden
Suharto menetapkan kebijaksanaan tentang Pembangunan RSPAD Gatot Soebroto
40 Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


41

menjadi Rumah Sakit yang modern secara bertahap dengan biaya bantuan residen
sebagai bentuk penghargaan dan sumbangsih bagi Prajurit. Hal pertama yang
dilakukan adalah dengan penetapan tim pembangunan RSPAD Gatot Soebroto
dengan Keppres Nomor 31 Tahun 1971. Guna menghormati dan mengenang jasa
Letjen TNI Gatot Soebroto, dengan Surat Keputusan Kasad Nomor:
Skep/582/X/1970 tanggal 22 Oktober 1970 nama beliau ditetapkan sebagai nama
RSPAD dan sejak saat itu rumah sakit ini bernama "Rumah Sakit Gatot
Soebroto. Pada tanggal 17 November 1971 dilakukan peletakan batu pertama
pembangunan unit perawatan umum. Unit Perawatan Umum yang dikenal dengan
Unit I / PU, terdiri atas enam lantai dengan luas bangunan 13.950 m2 dan
berkapasitas 298 tempat tidur yang dibangun sejak November 1971 telah selesai
dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 28 Oktober 1974 oleh Jenderal TNI
Suharto (Admin, 2014). Lantai enam perawatan umum merupakan salah satu lahan
praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan (KKMP) mahasiswa
profesi Ners FIK UI di RSPAD Gatot Soebroto.

Ruangan di lantai enam perawatan umum merupakan ruang rawat inap kelas tiga.
Terdapat sebelas kamar, dengan kapasitas kapasitas tempat tidur sebanyak 56
tempat tidur, dengan pembagian 52 tempat tidur untuk ruang perawatan, dan
empat tempat tidur untuk perawatan khusus (isolasi). Pasien yang dirawat di
lantai enam perawatan umum adalah pasien yang menderita sakit kanker; penyakit
mata dan telinga; penyakit diabetes mellitus dan gangguan endokrin; penyakit
stroke dan gangguan saraf lainnya; penyakit gangguan pada hati dan ginjal;
HIV/AIDS; penyakit autoimun; dan penyakit tropis, seperti Demam berdarah,
malaria, thypoid. Dalam rentang waktu dua bulan terakhir (Mei-Juni 2014) cukup
banyak pasien yang dirawat di lantai enam perawatan umum menderita penyakit
diabetes mellitus, penyakit ginjal kronik, demam berdarah, sirosis hepatikum,
hipertensi, dan penyakit persarafan (Stroke, SOL, dll).

Beragamnya jenis penyakit dalam yang ada di lantai enam perawatan umum
mendukung pula iklim belajar bagi mahasiswa yang sedang praktik, karena
mahasiswa dapat lebih banyak terpapar variasi penyakit dan asuhan keperawatan
yang khas pada setiap penyakit. Mahasiswa dapat merasakan pengalaman
Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


42

langsung berinteraksi dan menerapkan asuhan keperawatan yang telah dipelajari


di kampus untuk diterapkan kepada pasien-pasien di lantai enam perawatan umum
dengan bimbingan dari pembimbing klinik dan perawat ruangan. Lantai enam
perawatan umum juga digunakan sebagai tempat riset untuk mengembangkan
keilmuan khususnya di bidang kesehatan. Hal tersebut sesuai dengan misi yang
diemban oleh RSPAD Gatot Soebroto mengembangkan keilmuan secara
berkesinambungan, meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan melalui
pendidikan berkelanjutan dan memberikan lingkungan yang mendukung proses
pembelajaran dan penelitian bagi tenaga kesehatan

4.2 Analisis Masalah dengan Konsep Keperawatan Kesehatan Masyarakat


Perkotaan dan Konsep Kasus Terkait
Perkembangan kota yang sangat cepat dan dinamis secara tidak langsung telah
berdampak pada perkembangan dan masalah kesehatan masyarakat yang khas di
perkotaan. Perawat yang merupakan ujung tombak pelayanan baik di rumah sakit
maupun di komunitas atau masyarakat, harus mampu mendemonstrasikan
kepakarannya melalui pengembangan praktik keperawatan, yang dapat digunakan
untuk meningkatkan kesehatan dan membantu memenuhi kebutuhan
biopsikososial masyarakat, termasuk masyarakat perkotaan yang rentan terhadap
perubahan pola hidup dan lingkungan yang berdampak pada kesehatan
masyarakat. Keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan adalah pelayanan
keperawatan profesional yang ditujukan kepada masyarakat perkotaan terutama
pada kelompok risiko tinggi. Proses keperawatan kesehatan masyarakat
perkotaan bertujuan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui
pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan serta pelaksanaan pelayanan
keperawatan yang menyeluruh.

Masalah kesehatan perkotaan yang berkaitan dengan gaya hidup terkait


pemenuhan kebutuhan cairan adalah penyakit ginjal kronik. Di negara
berkembang, seperti Indonesia, menurut Barsoum (2006) penyebab utama
terjadinya penyakit ginjal kronik adalah glomerulusnefritis kronik dan nefritis
intersisial. Hal ini berkaitan dengan tingginya prevalensi infeksi dari bakteri,

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


43

virus, dan parasit yang mempengaruhi kinerja ginjal. Selain itu, berdasarkan
Laporan Tahunan Sistem Data Ginjal Amerika Serikat tahun 2007 penyebab
tertinggi penyakit ginjal kronik di beberapa negara maju dan berkembang (seperti
Amerika Serikat, Taiwan, New Zealand, Malaysia, dan Australia) adalah
hipertensi dan diabetes mellitus (Jha, et al, 2013). Namun, kedua hasil penelitian
tersebut berbeda dengan hasil 4th Report of Indonesian Renal Registry yang
menunjukkan penyebab utama pasien yang didiagnosis penyakit ginjal kronik
tahap akhir dan harus menjalani dialisis adalah hipertensi dan diabetes mellitus
(Perkumpulan Nefrologi Indonesia, 2011).

Pertentangan ini mungkin berkaitan dengan perubahan gaya hidup yang telah
terjadi di masyarakat perkotaan Indonesia, seperti pola diet dengan meningkatkan
konsumsi energi tinggi dan makanan cepat saji yang tinggi lemak; dan
menurunnya tingkat pengguna transportasi ilmiah yang membutuhkan aktivitas
fisik (jalan kaki dan sepeda). Konsumsi makanan yang tidak sehat dan aktivitas
fisik yang berkurang berkontribusi dalam meningkatkan berat badan, sehingga
ancaman kesehatan di daerah perkotaan Indonesia saat ini adalah epidemi obesitas
dan permasalahan degeneratif lainnya yang kemudian salah satunya berujung pada
penyakit ginjal kronik.

Pasien yang mengalami penyakit ginjal kronik tentunya disebabkan adanya


beberapa faktor risiko. Faktor tersebut antara lain keadaan sosial ekonomi, diet,
aktivitas, dan lingkungan. Keadaan sosial ekonomi daerah perkotaan terkenal
dengan perumahan padat penduduk, yang berdampingan dengan gedung-gedung
perkantoran bertingkat, lingkungan seperti inilah yang dijalani oleh pasien. Selain
itu, terkait gaya hidup dari hasil analisis kasus Tn. S, didapatkan pasien merokok
sejak sekolah menengah atas, senang makan kacang-kacangan, sering minum
minuman berenergi, dan saat ini memiliki riwayat kesehatan tuberkulosis paru
(sedang menjalani terapi pengobatan).

Pasien merupakan penderita penyakit ginjal kronik yang berjenis kelamin laki-
laki, pasien dapat dikatakan memiliki faktor lebih berisiko penyakitnya

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


44

berkembang menjadi gagal ginjal kronik. Kasus penyakit ginjal kronik


berdasarkan jenis kelamin, yang lebih banyak mengalami gagal ginjal kronik
adalah laki-laki. Hal ini ditunjukkan dengan hasil Riskesdas 2013 yang
menunjukkan prevalensi gagal ginjal kronik pada laki-laki lebih tinggi (0,3%)
dibandingkan dengan perempuan (0,2%). Hal tersebut sejalan dengan pernyataan
Center for Disease Control and Prevention (2014), dimana laki-laki dengan
penyakit ginjal kronik 50% lebih berisiko mengalami gagal ginjal dibandingkan
perempuan.

Pasien merupakan perokok aktif sejak menjalani pendidikan di sekolah menengah


atas, setidaknya sudah 30 tahun pasien merokok, dimana setiap harinya pasien
mampu menghabiskan satu bungkus rokok. Hal ini menjadikan pasien memiliki
risiko mengalami gangguan fungsi ginjal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Orth (2004), merokok adalah salah satu faktor risiko penting yang dapat
diubah pada gangguan ginjal. Merokok memberikan efek negatif pada fungsi
ginjal, meskipun pada seseorang yang belum jelas penyakit ginjalnya hal ini
mungkin berkaitan dengan konsekuensi dari keadaan sosial ekonomi. Efek
merugikan merokok terhadap kondisi kesehatan ginjal secara khusus ditemukan
pada laki-laki (terutama lanjut usia), pasien dengan diabetes mellitus tipe 1 dan 2,
pasien dengan transplantasi ginjal, dan pasien yang sebelumnya telah mengalami
penyakit ginjal primer. Pasien semenjak menderita sakit di awal tahun ini, telah
memutuskan untuk berhenti merokok.

Saat pemeriksaan awal didapatkan pasien mengalami gangguan jantung, dari hasil
pemeriksaan elektrokardiogram ditemukan adanya gelombang Q patologis yang
mengindikasikan adanya nekrosis miokardium. Selain itu, terdapat pula
ventricular premature complexes leftward axis dan right bundle branch block.
Hasil ini menunjukkan pasien telah mengalami kelainan fungsi pada jantungnya.
Pemeriksaan selanjutnya untuk memperkuat diagnosis, maka dilakukan rontgen
thorak yang menunjukkan kesan paru dengan tuberkulosis, tetapi tanpa ada
perbesaran jantung.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


45

Pasien termasuk ke dalam golongan keluarga menengah ke atas, dengan bekerja


sebagai pegawai swasta, istri juga bekerja, dan memiliki usaha penyewaan kos-
kosan. Sebelum sakit pasien kerap begadang, merokok, mengonsumsi makanan
tanpa pantangan, dan kurang berolahraga. Pasien bekerja di salah satu jasa
pengiriman barang dan terbiasa membawa kendaraan jarak jauh. Pasien saat
masuk rumah sakit telah menderita penyakit Tuberkulosis dan sedang menjalani
pengobatan. Terpapar polusi perkotaan, perumahan yang padat, makanan kurang
bergizi, dan kebiasaan merokok memperbesar faktor risiko pasien mengalami
penyakit tuberkulosis paru. Penyakit tuberkulosis paru yang dialami oleh pasien
dicurigai telah mengalami penyebaran ke sistem tubuh yang lain, seperti sistem
muskuloskeletal dan perkemihan. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan
diagnostik lebih lanjut dengan (MRI) pada lumbosacral dan BTA Urin, tidak
ditemukan adanya Spondilitis Tuberkulosis dan Tuberkulosis pada ginjal. Oleh
karena itu, perjalanan penyakit pasien dapat dimungkinkan disebabkan oleh efek
toksik dan gangguan jantung yang mempengaruhi kinerja sistem kardiovaskuler.

Pemeriksaan darah telah dilakukan saat awal pasien masuk rumah sakit, dan hasil
yang didapatkan sebagian besar mengalami masalah pada pemeriksaan
hematologi dan kimia klinik darah. Pasien memiliki kadar hemoglobin,
hematokrit, dan eritrosit berada di bawah rentang normal, sedangkan leukosit
berada di atas rentang normal. Pada pemeriksaan kimia klinik darah didapatkan
nilai ureum serum 122 mg/dl, kreatinin 2,9 mg/dl, natrium 128 mmol/L, dan
kalium 2,9 mmol/L. Hasil pemeriksaan awal ini pasien dicurigai mengalami
penyakit ginjal kronik yang berkaitan dengan proses infeksi dari tuberkulosis,
sehingga pasien segera dirawat dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Penentuan derajat kerusakan ginjal pada pasien ditentukan berdasarkan rumus


eGFR dari Cockcroft-Gault (National Kidney Foundation, 2002), didapatkan nilai
23 ml/mm/1,73m2 yang menunjukkan pasien berada pada derajat empat penyakit
ginjal kronik. Diagnosis diperkuat dengan pemeriksaan analisis urin, creatinin
clearence, dan USG Abdomen. Pemeriksaan analisis urin menunjukkan adanya
penurunan berat jenis urin menjadi 1,005 dengan nilai protein dalam urin positif 1

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


46

(proteinuria), dan ditemukan adanya leukosit dalam urin yang nilainya lebih tinggi
dari rentang normal, yaitu 10-15-10. Pemeriksaan creatinin clearence dilakukan
tanggal 21 Mei 2014 dari urin tampung 24 jam sebanyak 850 ml, nilai ureum urin
104 mg/dl dan nilai creatinin clearence 9,78 ml/menit, keduanya menunjukkan
adanya kerusakan dari penyaringan ginjal. Pemeriksaan USG Abdomen yang
dilakukan pada tanggal 20 Mei 2014 menunjukkan pasien mengalami perbesaran
ukuran di kedua ginjal pasien dengan peninggian cortical echoes.

Pasien telah menjalani pemeriksaan diagnostik berupa penilaian laju filtrasi


glomerulus berdasarkan serum kreatinin dan clearence creatinin, tes pencitraan
dengan USG Abdomen, dan pemeriksaan urin yang menandakan proteinuria.
Namun, berdasarkan National Kidney Foundation (2002), penentuan diagnosis
seseorang yang mengalami penyakit ginjal kronik, selain yang telah dilakukan
diatas, juga perlu dilakukan pemeriksaan urin lebih lanjut terkait keberadaan
albuminuria. Selain itu, untuk mengonfirmasi hasil pemeriksaan proteinuria
dibutuhkan pengukuran kuantitatif rasio antara protein-kreatinin atau albumin-
kreatinin dalam waktu tiga bulan.

Berbagai penyebab penyakit ginjal kronik diatas mengakibatkan adanya beberapa


masalah keperawatan terkait dengan penyakit tersebut. Penegakan masalah
keperawatan pada pasien ini berdasarkan hasil pengkajian, pemeriksaan fisik dan
data penunjang. Berikut beberapa masalah keperawatan pada klien yang memiliki
hubungan langsung dengan penyakit ginjal kronik, yaitu masalah keperawatan
intoleransi aktivitas, risiko ketidakseimbangan volume cairan, gangguan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh, dan gangguan integritas kulit.

Masalah keperawatan pertama yang telah ditegakkan adalah intoleransi aktivitas.


Masalah ini diangkat berdasarkan pengakuan pasien yang merasa pusing saat
perubahan posisi tubuh dan tubuhnya lemas. Selain itu, berdasarkan hasil
pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil yang menjurus ke keadaan penurunan
jumlah sel darah merah (anemia), yaitu hemoglobin 8g/dl; hematokrit 25%;
eritrosit 2,9 juta/uL. Hal ini diperkuat dengan konjungtiva pucat dan penurunan

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


47

fungsi jantung dilihat dari hasil pemeriksaan elektrokardiogram yang


menggambarkan adanya Q patologis yang menjurus ke keadaan nekrosis
miokardium dan gangguan sistem penghantaran impuls listrik jantung yang
ditandai dengan adanya raight bundle branch block. Secara patofisiologi keadaan
anemia yang dialami pasien memiliki hubungan dengan kerusakan ginjal yang
pasien alami, dimana adanya penurunan sekresi eritropoetin yang seharusnya
dapat menstimulus sum-sum tulang belakang menghasilkan sel darah merah.
Selain itu, gangguan fungsi jantung yang dialami pasien saat ini, dapat merupakan
efek atau penyebab dari penyakit ginjal yang saat ini pasien alami.

Masalah keperawatan kedua yang telah direncanakan diselesaikan adalah risiko


ketidakseimbangan volume cairan. Klien berisiko mengalami ketidakseimbangan
cairan, meskipun belum termasnifestasi dengan nyata, karena salah satu
penyebabnya yaitu penurunan laju filtrasi glomerulus telah terjadi pada klien.
Penurunan laju filtrasi glomerulus karena kerusakan yang terjadi pada fungsi
ginjal berpengaruh pada retensi cairan dan natrium. Retensi cairan dan natrium
tidak terkontrol dikarenakan ginjal tidak mampu untuk mengonsentrasikan atau
mengencerkan urin secara normal pada penyakit ginjal tahap akhir, respon ginjal
yang sesuai terhadap perubahan masukan cairan dan elektrolit sehari-hari juga
tidak terjadi. Natrium dan cairan sering tertahan dalam tubuh kita yang
meningkatkan risiko terjadinya edema, gagal jantung kongesti, dan hipertensi.

Masalah keperawatan ketiga yang telah direncanakan untuk diselesaikan adalah


gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan masalah yang keempat adalah
gangguan integritas kulit. Masalah ini muncul karena adanya gangguan filtrasi
protein, tubulus ginjal tidak mampu mensekresikan ammonia (NH3), sehingga
terjadilah peningkatan ureum dan kreatinin dalam darah, yang menyebabkan
kondisi uremia. Zat-zat tersebut menimbulkan efek toksik pada tubuh, sehingga
menimbulkan gangguan pada sistem tubuh yang lain. Gangguan pada sistem
gastrointestinal menimbulkan respon mual dan muntah pada klien. Gangguan
pada sistem integumen menyebabkan kulit mengalami pruritus, perubahan
pigmentasi, kulit kering, dan ekimosis.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


48

4.3 Analisis Intervensi dengan Konsep dan Penelitian Terkait


Anemia didefinisikan sebagai penurunan dari satu atau lebih sel darah merah yang
terukur (hemoglobin konsentrasi, hematokrit, dan jumlah sel darah merah).
Penegakkan diagnosis anemia disesuaikan dengan penentuan diagnosis anemia
berdasarkan rentang hemoglobin oleh World Health Organization (WHO), yaitu
pada pasien laki-laki dan wanita post-menopouse jika kadar hemoglobin kurang
dari 13 g/dl, sedangkan pada pasien wanita pre-menopouse jika kadar hemoglobin
kurang dari 12 g/dl (Thomas, Kanso, & Sedor, 2009).

Anemia pada pasien penyakit ginjal kronik dapat disebabkan oleh banyak faktor,
diantaranya kekurangan zat besi, asam folat, atau vitamin B12; perdarahan
gastrointestinal; mengalami hiperparatiroid; inflamasi sistemik; dan
memendeknya usia sel darah merah. Namun, penurunan sintesis eritropoetin
adalah penyebab terpenting dan spesifik yang menimbulkan anemia pada penyakit
ginjal kronik. Eritropoetin adalah substansi glicoprotein yang diproduksi oleh
fibroblast intersisial ginjal, yang bekerja menstimulasi sumsum tulang untuk
menghasilkan sel darah merah. Pada penyakit ginjal kronik, atropi tubulus
menyebabkan fibrosis tubulus intersisial, yang menyebabkan kapasitas sintesis
eritropoetin menurun dan anemia berat dapat terjadi (Thomas, Kanso, & Sedor,
2009).

Tn. S merupakan salah satu pasien di lantai enam perawatan umum dengan
penyakit ginjal kronik yang mengalami anemia. Berdasarkan hasil pemeriksaan
laboratorium hematologi saat pertama kali pasien masuk didapatkan nilai
hemoglobin 8g/dl; hematokrit 25%; eritrosit 2,9 juta/uL; leukosit 18540/uL; dan
trombosit 196000/uL. Namun, berdasarkan Kidney Disease Improving Global
Outcome (2012) pemeriksaan kasus anemia pada penyakit ginjal kronik selain
hematologi (Complete Blood Count) perlu dilakukan pula pemeriksaan jumlah
retikulosit absolut, tingkat ferritin serum, saturasi transferrin serum (TSAT), dan
tingkat serum Vitamin B12 serta asam folat.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


49

Kasus anemia pada pasien penyakit ginjal kronik di ruang rawat penyakit dalam
Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto cukup banyak ditemukan.
Berdasarkan pengamatan penulis, setelah menjalani praktik selama tiga minggu di
lantai enam perawatan umum, jumlah pasien yang dirawat karena kasus penyakit
ginjal kronik sebanyak sepuluh orang dengan masa rawat satu sampai tiga
minggu. Keseluruhan pasien yang dirawat tersebut mengalami komplikasi anemia,
bahkan beberapa pasien merupakan pasien yang pernah dirawat dan kembali
menjalani perawatan karena mengalami anemia.

Penanganan terkait anemia yang dilakukan oleh mahasiswa pada Tn. S adalah
pencegahan dirawatnya kembali setelah pasien menjalani perawatan di rumah
(rehospitalisasi) karena anemia, dengan menerapkan tindakan edukasi pasien.
Berdasarkan Agency for Healthcare Research and Quality (2009) pasien yang
mendapatkan instruksi yang jelas mengenai langkah-langkah setelah perawatan di
rumah sakit, 30% lebih sedikit kembali masuk Unit Gawat Darurat (UGD) karena
penyakit berulang dibandingkan pasien yang kurang informasi. Oleh karena itu,
perawat memberikan edukasi kepada pasien berupa beberapa rencana aktivitas
mengenai tindakan peningkatan kesehatan yang telah disesuaikan dengan kondisi
pasien dan tindakan yang dapat mencegah pasien menderita penyakit yang sama
maupun terjangkit penyakit lainnya (rehospitalisasi).

Hal-hal yang diberikan dalam edukasi pasien Tn. S terkait anemia, antara lain:
pemaparan lebih lanjut mengenai anemia, diet anemia, meningkatkan toleransi
aktivitas pasien dengan anemia, dan perencanaan perawatan setelah kembali ke
rumah. Pemaparan lebih lanjut mengenai anemia dimaksudkan untuk
mengenalkan kepada klien dan keluarga mengenai definisi, tanda-gejala,
penyebab, dan akibat dari anemia, sehingga klien dan keluarga dapat menyadari
bahwa perlu adanya penanganan anemia.

Berdasarkan Potter dan Perry (2007) edukasi dan konseling terkait diet penting
dilakukan karena dapat membantu mencegah timbulnya penyakit dan
meningkatkan kesehatan pasien. Selain itu, pasien yang memahami mengapa ia

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


50

harus menjalani diet terapeutik dan tahu apa saja diet yang harus ia konsumsi akan
lebih menerima untuk menjalani program terapi diet tersebut. Oleh karena itu,
tahap yang selanjutnya setelah klien dan keluarga mengenal masalah dan
mengetahui mengapa harus melakukan perawatan kesehatan, perawat menjelaskan
mengenai diet yang tepat untuk kondisi klien saat ini. Peranan perawat dalam
edukasi ini menjelaskan apa saja makanan yang dapat membantu klien
meningkatkan produksi sel darah merah.

Berdasarkan Waspadji, et al (2010) makanan yang baik untuk klien dengan


anemia adalah yang mengandung zat besi, vitamin c, asam folat, dan vitamin B12.
Keseluruhan zat ini, berfungsi meningkatkan produksi sel darah merah. Zat besi
merupakan zat yang dibutuhkan tubuh untuk memaksimalkan pengelolaan
eritropoetin. Peningkatan asupan zat besi dari makanan dapat berasal dari
kelompok heme-zat besi dan nonheme-zat besi. Heme-zat besi dapat
meningkatkan bioavaibiliti dari zat besi karena dapat diserap tubuh lebih baik dari
pada sumber zat besi yang lain, sumber heme-zat besi antara lain ayam, ikan, dan
daging. Sumber makanan nonheme-zatbesi dapat menyediakan zat besi, tetapi
hanya dapat diserap oleh tubuh 30%-50% dibandingkan sumber heme-zatbesi.
Sumber makanan nonheme-zatbesi, antara lain: buncis dan bayam. Namun, perlu
diperhatikan dalam pemberian sumber protein yang juga merupakan sumber zat
besi, dengan adanya penurunan fungsi ginjal maka perlu adanya pembatasan
asupan protein. Klien danjurkan untuk membatasi asupan protein, lebih
diprioritaskan untuk makan sumber protein yang memiliki nilai biologis tinggi
dan mengandung semua asam amino essensial, serta mengandung heme-zatbesi
sehingga penyerapan nutrisi yang dibutuhkan dapat maksimal. Contoh sumber
makanan tersebut adalah ikan, daging ayam, dan daging sapi (Thomas &
Othersen, 2012).

Vitamin C juga dibutuhkan untuk meningkatkan produksi sel darah merah, karena
vitamin C merupakan zat antioksidan yang dapat meningkatkan penyerapan zat
besi. Zat besi membutuhkan lingkungan yang asam saat penyerapan, sehingga
vitamin C dapat membantu penyerapan, setidaknya 30 menit sebelum makan

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


51

supplement atau makan makanan berzat besi. Selain itu, vitamin C dapat
melepaskan zat besi dari ferritin, sehingga zat besi lebih banyak yang dibawa ke
sumsum tulang belakang untuk memproduksi sel darah merah. Vitamin B12 dan
asam folat jika mengalami kekurangan dapat menyebabkan anemia macrocystic
dan memperburuk anemia karena CKD. Sumber makanan vitamin B12, yaitu
ikan, telur, dll, sedangkan sumber makanan asam folat adalah sayuran yang
berdaun hijau (Thomas & Othersen, 2012).

Pasien yang akan keluar dari rumah sakit dengan persiapan terapi diet di rumah,
perlu diberikan contoh menu makan perhari dengan jumlah makanan
menggunakan satuan rumah tangga, sehingga sangat membantu pasien dan
keluarga merencanakan terapi diet saat di rumah nanti. Selain itu, pasien dan
keluarga saat di rumah mungkin akan menemui kesulitan, sehingga membutuhkan
konseling terkait perencanaan makanan yang tepat yang dapat meemenuhi
kebutuhan diet yang telah ditentukan. Perawat dapat berperan memberikan
informasi terkait sumber-sumber di komunitas yang dapat memberikan konseling
diet terhadap pasien dan keluarga. Hal ini berkaitan dengan sistem pendukung
manajemen mandiri (self management support), dimana perawat di pelayanan
kesehatan primer akan melimpahkan status kesehatan klien ke pelayanan
kesehatan di komunitas yang terdekat dengan rumah klien (Chen, et al, 2011).
Pelayanan kesehatan di komunitas dapat memberikan pelatihan dan konsultasi
terkait bagaimana hidup dengan penyakit ginjal kronik, salah satunya dalam
adaptasi diet yang harus dilakukan.

Edukasi pasien selanjutnya berkolaborasi dengan dokter terkait medikasi yang


perlu dilanjutkan untuk dikonsumsi klien dan waktu kontrol kesehatan klien,
terutama kapan waktu pemeriksaan untuk mengevaluasi keadaan klien. Terakhir,
edukasi pasien mengenai peningkatan toleransi aktivitas, dimana klien dianjurkan
untuk melakukan olahraga ringan secara teratur untuk meningkatkan pengaturan
penggunaan tenaga, meminta bantuan orang lain jika aktivitas yang dilakukan
membutuhkan tenaga lebih, istirahat yang cukup, dan dapat mendeteksi keadaan
diri saat mengalami kelemahan.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


52

Keterbatasan yang ditemukan pada tindakan edukasi pasien ini adalah terkait
evaluasi tindakan. Evaluasi secara langsung setelah pemberian edukasi pasien
dapat dilakukan. Pasien dan keluarga telah mengalami peningkatan pengetahuan
dan sepakat untuk melakukan perawatan kesehatan terkait masalah anemia yang
dialami pasien. Namun, evaluasi jangka panjang terkait perubahan perilaku
setelah pemberian edukasi sulit untuk dilakukan. Penulis mencoba menghubungi
klien untuk memantau bagaimana kondisi pasien setelah menjalani perawatan di
rumah. Ternyata terdapat permasalahan di dalam keluarga dan penulis tidak
mampu mengintervensi lebih lanjut. Penulis hanya mampu mendapatkan
informasi bahwa klien masih menjalani proses rehabilitasi mobilisasi di pelayanan
kesehatan terdekat, penulis tidak dapat menanyakan lebih lanjut terkait
permasalahan anemia yang telah diberikan tindakan edukasi. Selain itu, penerapan
self management support belum bisa dilakukan karena belum adanya kebijakan
yang menghubungkan perawatan di rumah sakit ke perawatan di komunitas. Hal
ini merupakan salah satu hambatan untuk menjalankan keperawatan teraupeutik di
Indonesia.

4.4 Alternatif Pemecahan Masalah yang Dapat Dilakukan


Asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien memiliki beberapa kendala,
salah satunya adalah dalam penerapan edukasi pasien terkait anemia. Langkah
yang diambil mahasiswa adalah mencari alternatif solusi yang tepat untuk
menyelesaikannya. Alternatif penyelesaian masalah diharapkan mampu
dipraktikkan saat melakukan intervensi keperawatan, sehingga dapat
menyelesaikan masalah keperawatan pasien dengan efektif.

Penerapan edukasi pasien yang telah dilakukan oleh penulis belum dilakukan
secara efektif, sehingga menemui beberapa permasalahan. Oleh karena itu, perlu
adanya beberapa solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efektivitas
pemberian edukasi pasien, yaitu (Krames Patient Education, 2014):
1) Identifikasi orang terdekat yang akan selalu menjadi pendamping pasien
selama menjalani tindakan edukasi pasien. Menurut Debra Peter, spesialis

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


53

perawatan pasien (Kremes Patient Education, 2014), upaya edukasi pasien bisa
gagal dikarenakan pendamping pasien selalu berubah-ubah saat proses
pembelajaran. Pendamping klien merupakan orang terdekat pasien yang
bertanggungjawab terhadap proses pembelajaran, ia dapat membantu pasien
minum obat, menjaga pasien saat di rumah, dan mengantarkan pasien saat
menjalani rehabilitasi. Perawat dapat menuliskan pada papan di ruangan pasien
siapa pendamping pasien saat pemberian edukasi, sehingga saat tim kesehatan
akan memberikan edukasi dapat mengetahui dengan pasti siapa yang akan
terlibat dalam proses edukasi.
2) Evaluasi pembelajaran secara berkelanjutan, evaluasi dapat dilakukan dengan
teknik pengulangan pembelajaran. Teknik ini dilakukan dengan cara tim
kesehatan mengajukan beberapa pertanyaan, kemudian pendamping pasien
menyampaikan apa yang telah dipelajari dengan kata-kata mereka sendiri.
Teknik ini dapat diterapkan secara berulang setiap hari selama pasien dirawat.
Pertanyaan yang diajukan dilakukan secara bertahap, bisa dimulai dengan
pertanyaan pengetahuan, esoknya sikap, dan esoknya lagi terkait perilaku.
Setiap hal yang telah dievaluasi, didokumentasikan bersama tim kesehatan, apa
saja respon yang diberikan, sehingga dapat diketahui dengan pasti bagian mana
yang membutuhkan pembelajaran lebih lanjut. Pendokumentasian bersama tim
kesehatan ini dapat menjadi panduan kerja untuk tim kesehatan apa saja yang
akan memberikan intervensi edukasi.
3) Pemberian edukasi pasien menggunakan media yang menarik dan efektif.
Media merupakan bagian penting saat memberikan edukasi, media dapat
membantu edukator menyampaikan materi dengan mudah kepada pasien. Oleh
karena itu perlu dihindari hal-hal yang dapat membuat media edukasi menjadi
hal yang rumit bagi pasien. Hal yang perlu diperhatikan dalam membuat media
edukasi, antara lain: kejelasan tulisan, kesesuaian gambar, tulisan
menggunakan bahasa umum masyarakat, desain yang tidak rumit, dan sesuai
dengan materi yang akan disampaikan. Media yang berkualitas dapat membuat
informasi tidak hanya mudah dilihat, tetapi juga dapat lebih mengena untuk
membangun perilaku pasien yang positif.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
5.1.1 Penyakit ginjal kronik merupakan salah satu masalah kesehatan perkotaan
yang berkaitan dengan prevalensi masalah infeksi dan perubahan pola hidup
di masyarakat perkotaan
5.1.2 Anemia pada penyakit ginjal kronik disebabkan oleh penurunan sekresi
eritropoetin oleh ginjal. Kejadian anemia semakin meningkat seiring
peningkatan derajat penyakit ginjal kronik.
5.1.3 Tn. S dengan penyakit ginjal kronik derajat empat mengalami masalah
keperawatan diantaranya intoleransi aktivitas, resiko ketidakseimbangan
volume cairan, gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan, gangguan integritas
kulit, dan hambatan mobilitas fisik.
5.1.4 Edukasi pasien yang efektif dapat mencegah terjadinya rehospitalisasi pada
pasien penyakit ginjal kronik dengan anemia. Materi edukasi pasien yang
dapat disampaikan, antara lain: perihal penyakit, perencanaan diet,
medikasi, dan kontrol kesehatan secara berkala

5.2 Saran
5.2.1 Pelayanan Keperawatan
Karya ilmiah ini dapat menjadi masukan bagi rumah sakit dalam penerapan
tindakan edukasi pasien untuk mencegah rehospitalisasi pada pasien
penyakit ginjal kronik dengan anemia. Pemberian edukasi pasien dapat
dilakukan secara efektif dengan adanya pengidentifikasian pendamping
pasien saat proses edukasi dengan mencantumkan nama pendamping di
kamar pasien, evaluasi berkelanjutan dalam suatu dokumentasi terintegrasi,
media yang efektif, dan lembar evaluasi mandiri untuk pasien. Namun,
semua hal itu membutuhkan iklim rumah sakit yang menyatakan edukasi
pasien sebagai salah satu tindakan yang penting untuk pasien. Sehingga, tim

54 Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


55

kesehatan khususnya perawat memiliki tanggungjawab yang lebih dalam


melakukan edukasi pasien. Pihak rumah sakit juga perlu memberikan
pelatihan pemberian edukasi pasien kepada perawat dan tim kesehatan,
sehingga terjadi pembaharuan ilmu yang akan diedukasi. Selain itu, perlu
adanya bagian yang mengurus penyediaan media edukasi pasien yang
mumpuni.
5.2.2 Pendidikan Keperawatan
Karya ilmiah ini dapat menjadi bahan untuk instansi pendidikan dalam
mengoptimalkan pengetahuan mahasiswa keperawatan mengenai penerapan
edukasi pasien pada pasien penyakit ginjal kronik dengan anemia.
5.2.3 Penelitian
Karya ilmiah ini dapat menjadi informasi tambahan untuk penelitian
selanjutnya, terkait penyakit ginjal kronik dengan anemia, ataupun
penerapan edukasi pasien. Peneliti menyarankan penelitian selanjutnya
dapat menerapkan edukasi pasien pada kasus penyakit yang lain dan latar
belakang kemampuan belajar pasien yang berbeda. Selain itu, peneliti
selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan kemampuan evaluasi jangka
panjang dari edukasi yang telah diberikan, dengan menjalankan evaluasi
kunjungan rumah.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


DAFTAR PUSTAKA

Admin. (2014). Sejarah perkembangan RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad. 03 Juli


2014. http://rspadgs.net/index.php/page/2.
Admin. (2014). Visi dan Misi RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad. 03 Juli 2014.
http://rspadgs.net/index.php/page/3.
Agency for Healthcare Research and Quality. (2009). Educating Patients Before
They Leave the Hospital Reduces Readmissions, Emergency Department
Visits and Saves Money. 04 Juli 2014.
http://www.ahrq.gov/news/press/pr2009/redpr.htm.
American Association of Kidney Patiens. (2013). Understanding anemia in
kidney disease. Florida: American Association of Kidney Patients.
Barsoum. (2006). Chronic kidney disease in the developing world. The New
England Journal of Medicine, 354(10). 997-999.
Bastable. (2003). Nurse as Educator: Principles of Teaching and Learning for
Nursing Practice. Sudburry: Mass.
Black & Hawks. (2009). Medical Surgical Nursing: Clinical management for
positive outcome. 8th edition. Philadelphia: Saunders-Elsevier.
Center for Disease Control and Prevention. (2012). Prevalensi chronic kidney
disease and diabetes diagnosis 2012 in United States.
http://nccd.cdc.gov/CKD/detail.aspx?QNum=Q16.
Center for Disease Control and Prevention. (2014). National Chronic Kidney
Disease Fact Sheet 2014. 18 Mei 2014. http://www.cdc.gov/info.
Chen, et al. (2011). The impact of self management support on the progression of
chronic kidney disease: a prospective randomized controlled trial.
Nephrology Dialisis Transplantation. 1-7. Doi: 10.1093/ndt/gfr047.
Craven. (2005). Management of chronic kidney disease in the primary care
setting. BC Medical Journa,l 47(6). 296-299.
Dreeben, O. (2010). Patient Education in Rehabilitation. Florida: Jones and
Bartlett Learning.

56 Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


57

Doenges, Moorhouse, & Murr. (2010). Nursing care plans: Guidelines for
individualizing client care across the life span edition 8. Philadelphia: FA.
Davis Company.
Edelman & Mandle. (2002). Health Promotion Throughout the Lifespan. 5th ed. St
Louis: Mosby.
Falvo. (2004). Effective Patient Education: A Guide to Increased Compliance. 3rd
ed. Sudburry: Mass.
Jha, et al. (2013). Chronic kidney disease: global dimention and perspective. The
Lancet, 382. 260-272.
Kazmi, et al. (2001). Anemia: An early complication of chronic renal
insufficience. American Journal of Kidney Diseases (4) 38. 803-812. DOI:
10.1053/ajkd.2001.27699
Lozano, et al. (2013). Global and regional mortality from 235 causes of death for
20 age groups in 1990 and 2010: a systematic analysis for the Global
Burden of Disease Study 2010. The Lancet, 380.
Krames Patient Education. (2014). Reducing Hospital Readmissions With
Enhanced Patient Education. 04 Juli 2014.
https://www.bu.edu/fammed/projectred/publications/news/krames_dec_final
.pdf.
Kementerian Kesehatan RI. (2013). Riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun
2013. Jakarta: Badan penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.
Kidney Disease Improving Global Outcome (KDIGO). (2012). KDIGO Clinical
Practice Guideline for Anemia in Chronic Kidney Disease. Kidney
International Supplement, 2. 331-335. http://www.kidney-international.org.
Kjellstrom, et al. (2007). Urban Environmental Health Hazards and Health
Equity. Journal of Urban Health, 84(1). i86-i96. doi:10.1007/s11524-007-
9171-9.
McPhee & Hammer. (2010). Pathophysiology of disease : an introduction to
clinical medicine. New York: McGraw-Hill Medical.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


58

National Clinical Guideline Center. (2011). Anemia Management in Chronic


Kidney Disease Rapid Update 2011. London: National Clinical Guideline
Center.
National Kidney Foundation. (2002). Clinical practice guidelines for chronic
kidney disease: evaluation, classification, and stratification. New York:
National Kidney Foundation Inc.
Nurko. (2006). Anemia in chronic kidney disease:Causes, diagnosis, treatment.
Clevelane Journal of Madicine, 73(3). 289-297.
Orth, S. R. (2004). Effects of Smoking on Systemic and Intrarenal Hemodynamics:
Influence on Renal Function. Journal of the American Society of
Nephrology, 15. S58S63. Doi 0.1097/01.ASN.0000093461.36097.D5
Pellise, F., & Sell, P. (2009). Patient information and education with modern
media: the Spine Society of Europe Patient Line. Eur Spine J, 18(3). S395-
S341. Doi 10.1007/s00586-009-0973-1.
Perkumpulan Nefrologi Indonesia. (2011). 4th Annual Report of Indonesian Renal
Registry. http://www.pernefri-
inasn.org/Laporan/4th%20Annual%20Report%20Of%20IRR%202011.pdf
Potter & Perry. (2007). Basic Nursing: Essentials for Practice. 6th ed. Canada:
Mosby.
Stewart & Wild. (2014). International Agency of Research Cancer: World cancer
report 2014. New York: WHO Press.
Stigant, Stevens, & Levin. (2003). Nephrology: 4. Strategies for care of adults
with chronic kidney disease. Canadian Medical Association Journal,
(168)12. 1553-1560.
The Kidney Foundation of Canada. (2006). Anemia and chronic kidney disease.
Ontario: The Kidney Foundation of Canada.
Thomas, Kanso, & Sedor. (2008). Chronic Kidney Disease and Its Complications.
National Institutes of Health Public Access, 35(2). 1-15.
Thomas, L. K. & Othersen, J. B. (2012). Nutrition Therapy for Chronic Kidney
Disease. Boca Raton: CRC Press, Taylor and Francis Group.

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


59

Thorp. (2011). Nephrology research and clinical developments: Handbook of


common problems in clinical nephrology. New York: Nova Science
Publishers, Inc.
Waspadji, et al. (2010). Daftar bahan makanan penukar: petunjuk praktis untuk
perencanaan makan sehat, seimbang, bervariasi, sistem carbohydrat
counting, standar diet berbagai penyakit. Edisi ke 3. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.
World Bank. (2014). Urban population. 26 Juni 2014
http://data.worldbank.org/indicator/SP.URB.TOTL
WHO. 2014. Urban Health. 26 Juni 2014.
http://www.who.int/topics/urban_health/en/
WHO.( 2010). Hidden cities: unmasking and overcoming health inequities in
urban settings, Chapter 2: Health in an urban context.
http://www.who.int/kobe_centre/publications/hiddencities_media/ch2_who_
un_habitat_hidden_cities.pdf

Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 1. Pemeriksaan Diagnosis

a) Pemeriksaan Darah dan Urin Tn. S

Pemeriksaan Tanggal Nilai normal


14/5 15/5 16/5 16/5
Hematologi
Hemoglobin 7,2 7,8 8 9,6 13,00 - 18,00 gr/dl
Hematokrit 22 23 25 27 40 52 %
Eritrosit 2,5 2,7 2,9 3,3 4,3 6,0 juta/uL
Leukosit 18540 17600 21820 20700 4800 10800 /uL
Trombosit 196000 110000 187000 248000 150000 400000 /uL
MCV 86 85 86 84 80 96 fL
MCH 28 29 28 29 27 32 pg
MCHC 33 34 32 35 32 -36 g/dL
RDW 16,3 11,5 14,5 %

Kimia Klinik
SGOT 31 <35 U/L
SGPT 32 <40 U/L
Ureum 122 20 50 mg/dl
Kreatinin 2,9 0,5 1,5 mg/dl
GDS 109 <140 mg/dl
Natrium 128 135 147 mmol/L
Kalium 2,9 3,5 5,0 mmol/L
Clorida 99 95 105 mmol/L
Kalsium 7,3 8,6 10,3 mg/dl
Fosfor 6,1 2,5 5,0 mg/dl
Magnesium 1,27 1,8 3,0 mEq/L
Protein Total 7,1 6 8,5 g/dl
Albumin 2,8 3,5 5,0 g/dl
Globulin 4,3 2,5 3,5 g/dl

Urinalisis
pH 6 6
Berat jenis 1,005 1,010 1,030
Protein Positif 1 Negatif
Glukosa Negatif Negatif
Bilirubin Negatif Negatif
Nitrit Negatif Negatif
Keton Negatif Negatif
Urobilinogen Negatif Negatif Positif 1
Eritrosit 2-1-2 <2 /LPB
Leukosit 10-15-10 <5 /LPB
Silinder Negatif Negatif /LPK
Kristal Negatif Negatif
Epitel Positif 1 Positif
Lain-lain Negatif Negatif
Keterangan: Hasil yang dicetak tebal menunjukkan masalah

b) Pemeriksaan Darah Tanggal 22 Mei 2014

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 1. Pemeriksaan Diagnosis

Pemeriksaan Hasil Rentang Normal


Hematologi 8,4 13,00 - 18,00 gr/dl
Hemoglobin 25 40 52 %
Hematokrit 2,9 4,3 6,0 juta/uL
Eritrosit 4800 10800 /uL
14800
Leukosit 150000 400000 /uL
Trombosit 163000 80 96 fL
MCV 88 27 32 pg
MCH 29 32 -36 g/dL
MCHC 33 11,5 14,5 %
Kimia Klinik
Natrium 137 135 147 mmol/L
Kalium 2,8 3,5 5,0 mmol/L
Clorida 108 95 105 mmol/L
Keterangan: Hasil yang dicetak tebal menunjukkan masalah

c) Pemeriksaan Clearence Creatinin (21 Mei 2014)


nilai Creatinin Clearance 9,78 ml/menit, ureum 104 mg/dl, kreatinin 2,3 mg/dl,
kreatinin (Urin 24 jam) 37mg/24jam, dan Volume urin 850ml/24 jam.

d) Pemeriksaan BTA Urin (22 Mei 2014)


menunjukkan nilai negatif pada hasil pemeriksaan.

e) Pemeriksaan EKG (14 Mei 2014)


Sinus rhytm dengan detak jantung 88 x/menit; ventricular premature complexes
leftward axis; right bundle branch block lead V1, V2, V3, dan V4; Q patologis
lead II, III, dan aVF.

Gambar 6.1 Hasil Rekaman Pemeriksaan EKG

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 1. Pemeriksaan Diagnosis

f) Pemeriksaan Radiologis - Rontgen Thoraks (14 Mei 2014)


Kesan: Jantung dalam batas normal, tampilan paru dengan tuberkulosis paru

Gambar 6.2 Hasil Pemeriksaan Rontgen Thoraks

g) Pemeriksaan Radiologis Rontgen Lubosacral (16 Mei 2014)


Kesan: straight lumbalis dan adanya osteofit minimal di anterior lumbal empat

Gambar 6.3 Hasil Pemeriksaan Rontgen Lubosacral

h) Pemeriksaan Radiologi USG Abdomen (20 Mei 2014)


Kesan: kesan ukuran ginjal kanan dan kiri membesar dengan peninggian cortical
echoes, sulit mengukur tebal cortex ginjal; hepar, kandung empedu, pancreas, lien
dalam batas normal; dan vesikaurinaria, prostat dalam batas normal

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 1. Pemeriksaan Diagnosis

Gambar 6.3 Hasil Pemeriksaan USG Abdomen

i) Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging Thoraks (21 Mei 2014)


Kesan: tidak tampak tanda-tanda spondilitis pada vertebra torakal, vertebrae
torakal intak, tidak tampak bulging, HNP, maupun kompresi nerve root segmen
torakal.

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 2. Analisa Data

No Data Diagnosis
Keperawatan
1 Data Subyektif Intoleransi Aktivitas
- Klien mengatakan jika dari posisi tidur ke duduk berhubungan dengan
kepalanya terasa pusing, nyut-nyutan, keleyengan gangguan sistem
- Klien mengatakan tubuhnya lemas penghantaran Oksigen
- Keluarga mengatakan saat ini kondisi klien lemas dalam tubuh
dan hanya berbaring di tempat tidur
Data Obyektif
- Tanda-Tanda Vital: (Tekanan Darah) 100/70mmHg,
(Nadi) 80x/menit, (Frekuensi Nafas) 18 x/menit,
(Suhu) 36oC
- Konjungtiva pucat
- Genggaman tangan perlahan kuat dengan tremor
- Riwayat hipertiroid 1 bulan sebelum masuk rumah
sakit (SMRS) dan riwayat TB Paru 3 bulan SMRS
- Nilai laboratorium (16 Mei 2014, Pk 10.00)
Hb 8g/dl; Ht 25%; Eritrosit 2,9 juta/uL; Leukosit
21820 / uL; Albumin 2,8 g/dl; Kalsium 7,3 mg/dl;
fosfor 6,1 mg/dl; magnesium 1,27 mEq/L; Natrium
128 mg/dl; Kalium 2,9 mg/dl
- Pemeriksaan EKG (14 Mei 2014)
Sinus rhytmik dengan detak jantung 88 x/menit;
ventricular premature complexes leftward axis;
right bundle branch block lead V1, V2, V3, dan V4;
Q patologis lead II, III, dan aVF.
2 Data Subyektif Risiko
- Klien mengatakan kaki kirinya sempat mengalami ketidakseimbangan
bengkak SMRS volume cairan
- Klien dan keluarga menyatakan klien senang berhubungan dengan
banyak minum, tapi pengeluaran urinnya juga ketidakseimbangan
masih banyak elektrolit dan

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 2. Analisa Data

No Data Diagnosis
Keperawatan
Data Obyektif penurunan fungsi
- Balance Cairan +150 ml ginjal
Input (hanya minum) 1500 ml
Output (urin) 850ml dan (IWL) 500ml
- Edema tidak ditemukan
- Tekanan Darah 100/70 mmHg; Nadi 80 x/menit
- Pernapasan: frekuensi 18 x/mnt, kedalaman sedang,
auskultasi bunyi nafas vesikuler
- Hasil perhitungan LFG = 23ml/mm/1,73m3
(Penyakit Ginjal Kronik Derajat 4)
- Hasil pemeriksaan laboratorium: Kadar elektrolit
darah (16 Mei 2014, Pk 10.00)
Kalsium 7,3 mg/dl; fosfor 6,1 mg/dl; magnesium
1,27 mEq/L; Natrium 128 mg/dl; Kalium 2,9 mg/dl
3 Data Subyektif: Gangguan Nutrisi
Klien mengeluhkan adanya mual dan muntah. Ada Kurang dari
penurunan berat badan yang cukup drastis semenjak Kebutuhan Tubuh
sakit. berhubungan dengan
Data Obyektif: mual dan intake nutrisi
- Antopometri: Berat badan saat ini 50 kg, sebelum yang tidak adekuat
sakit 57 kg; Tinggi badan 170 cm; Lingkar lengan
atas 20cm; IMT saat ini: 17,3 ( gizi kurang)
- Nilai laboratorium (16 Mei 2014, Pk 10.00)
Hb 8g/dl; Ht 25%; Eritrosit 2,9 juta/uL; Leukosit
21820 / uL; Albumin 2,8 g/dl; Kalsium 7,3 mg/dl;
fosfor 6,1 mg/dl; magnesium 1,27 mEq/L; Natrium
128 mg/dl; Kalium 2,9 mg/dl
- Turgor kulit menurun; konjungtiva pucat, lemah;
bangun tubuh kurus tinggi; rambut rontok
- Makanan dari rumah sakit kadang tidak dihabiskan,

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 2. Analisa Data

No Data Diagnosis
Keperawatan
klien lebih senang mengonsumsi makanan yang
dibeli sendiri seperti nasi kuning atau sop
4 Data Subyektif Gangguan Integritas
- Klien mengeluh nyeri dibagian bokong, terutama Kulit berhubungan
saat duduk terlalu lama, kualitas 2, nyeri dengan tirah baring
berlangsung sekitar 5 menit yang lama dan proses
- Keluarga mengatakan klien telah sakit, mengalami perjalanan penyakit
kelemahan, dan sempat dirawat di RS sejak bulan
februari 2014
Data Obyektif
- Terdapat luka dekubitus di bokong klien (tepat di
tonjolan tulang sacrum), diameter 2,5cm dengan
grade 2
- Kulit di bagian ekstrimitas bersisik dan mengelupas
- Klien menghabiskan waktunya ditempat tidur
dengan lebih banyak tidur pada posisi berbaring
- Nilai aktivitas sesuai barthel index : 7
(Ketergantungan Berat)
- Rentang sendi terbatas, Nilai kekuatan otot

4444 4444
2333 2222
5 Data Subyektif Hambatan mobilitas
- Keluarga mengatakan kaki klien terasa lemas, dan fisik berhubungan
sekarang kaki bagian kiri tidak dapat digerakkan dengan
sendiri ketidakmampuan
Data Obyektif pergerakan pada
- Klien menghabiskan waktunya ditempat tidur ekstrimitas bawah
dengan lebih banyak tidur pada posisi berbaring (Paraparese Inferior)
- Nilai aktivitas sesuai barthel index : 7
(Ketergantungan Berat)

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 2. Analisa Data

No Data Diagnosis
Keperawatan
- Rentang sendi tidak ada yang kaku, tapi tidak dapat
digerakkan sendiri, rangsangan sakit dikedua kaki
ada, Nilai kekuatan otot
4444 4444
2333 2222

- Nyeri dikaki kiri muncul kadang-kadang jika


digerakkan sendinya

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 3. Rencana Keperawatan

DIAGNOSA 1
INTOLERANSI AKTIVITAS berhubungan dengan ketidakseimbangan asupan
atau penghantaran oksigen yang ditandai dengan kelemahan, kelelahan, lebih
banyak aktivitas tidur atau istirahat, palpitasi, takikardi
Tujuan: Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari
Hasil yang diharapkan, pasien akan:
- Mengatakan terjadi peningkatan toleransi aktivitas
- Menunjukkan penurunan tanda fisiologis dari intoleransi (nadi, frekuensi
pernapasan, dan tekanan darah dalam rentang normal)
- Menunjukkan nilai laboraturium pada rentang normal
Tindakan Keperawatan
1) Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
2) Catat perubahan keseimbangan, gangguan bergerak, dan kelemahan otot
3) Pantau TD, nadi, dan RR selama dan setelah beraktivitas
4) Tinggikan kepala tempat tidur (semifowler)
5) Anjurkan klien merubah posisi secara perlahan
6) Bantu klien menentukan aktivitas prioritas dan aktivitas yang hanya ia
inginkan
7) Anjurkan keluarga untuk membantu klien dalam beraktivitas atau ambulasi
sederhana, dan ikutsertakan klien sebanyak mungkin sesuai kemampuan
8) Rencanakan peningkatan aktivitas bersama klien, peningkatan aktivitas
disesuaikan dengan kemampuan klien.
9) Kaji dan terapkan teknik penyimpanan energi, seperti menggunakan kursi
untuk mandi dan duduk selama melakukan aktivitas
10) Instruksikan klien untuk berhenti beraktivitas jika palpitasi, nyeri dada, nafas
dangkal, kelemahan, dan pusing terjadi
Kolaborasi
11) Pantau hasil laboratorium
12) Sediakan terapi oksigen adekuat
13) Berikan transfusi darah sesuai indikasi

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 3. Rencana Keperawatan

DIAGNOSA 2
RESIKO KETIDAKSEIMBANGAN VOLUME CAIRAN berhubungan dengan
ketidakseimbangan elektrolit dan penurunan fungsi ginjal
Tujuan : klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan
adekuat
Hasil yang diharapkan, klien akan:
- Mengatakan tubuhnya tidak ada yang bengkak
- Tidak ada edema
- Tekanan darah stabil
- Tidak terdengar ronkhi
- Kadar elektrolit dalam batas normal
Tindakan Keperawatan:
1) Monitoring tanda-tanda vital per 8 jam
2) Catat intake dan ouput cairan
3) Kaji ulang edema periorbital, pretibial, dan sakral
4) Kaji masukan diet dan kebiasaan yang dapat menunjang retensi cairan
5) Monitor pemeriksaan laboratorium : hematologi, elektrolit, berat jenis urin
6) Pemberian medikasi sesuai indikasi
7) Konsultasi dengan ahli gizi dalam pemenuhan nutrisi yang sesuai

DIAGNOSA 3
GANGGUAN NUTRISI KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH berhubungan
dengan mual dan intake nutrisi yang kurang ditandai dengan penurunan berat
badan, IMT pada rentang gizi kurang, dan Hb dibawah rentang normal.
Tujuan: memperbaiki dan mempertahankan intake nutrisi yang adekuat.
Hasil yang diharapkan, klien akan:
menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda
malnutrisi
menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat
berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan
penyakitnya

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 3. Rencana Keperawatan

Tindakan Keperawatan
1) Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan
kebutuhannya.
2) Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat
badan.
3) Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis.
4) Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake
cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.
5) Sarankan makanan yang lebih kecil tetapi lebih sering
6) Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama
teman atau keluarga.
7) Berikan dorongan higiene oral
8) Posisikan pasien dengan tepat saat makan
9) Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan.
10) Pantau nilai laboraturium seperti total protein, albumin
11) Konsultasikan dengan ahli gizi, asupan yang tepat untuk pemenuhan nutrisi
yang adekuat
12) Berikan pengobatan sesuai indikasi

DIAGNOSA 4
GANGGUAN INTEGRITAS KULIT berhubungan dengan dengan tirah baring
yang lama dan proses perjalanan penyakit
Tujuan: untuk memperbaiki dan mempertahankan integritas kulit klien
Hasil yang diharapkan, klien akan:
- Kulit lambab tak bersisik
- Turgor kulit normal
- Tidak terjadi luka tekan baru, dan ada perbaikan pada luka tekan yang saat
ini diderita
Tindakan Keperawatan
1) Inspeksi dan perubahan kulit (warna, turgor, dan vaskularitas)
2) Catat adanya kemerahan, eksoriasi, ekimosis dan purpura

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 3. Rencana Keperawatan

3) lakukan perawatan luka tekan klien 1x per hari


4) Monitor masukan cairan dan hidrasi kulit membran mukosa
5) Inspeksi adanya edema, tinggikan bagian kaki jika terdapat edema
6) lakukan perubahan posisi setiap dua jam
7) berikan perawatan kulit, dan jaga linen tetap kering dan tidak berlipat-lipat.

DIAGNOSA 5
HAMBATAN MOBILITAS FISIK berhubungan dengan ketidakmampuan
pergerakan pada ekstrimitas bawah (Paraparese Inferior)
Tujuan: agar mobilitas klien meningkat bertahap
Hasil yang diharapkan, klien akan:
- mempertahankan posisi yang optimal ditandai dengan tidak adanya tanda
kontraktur dan footdrop;
- mempertahankan kekuatan otot; dan
- mampu melakukan ROM aktif dan/ataupun pasif secara bertahap
Tindakan Keperawatan:
1) Kaji kemampuan fungsional atau luasnya gangguan sejak awal, klasifikasikan
dalam skala 0-4;
2) Lakukan terapi fisik yang di fokuskan pada latihan gerak pasif dan aktif (jika
pasien sadar) minimal 2 kali dalam sehari;
3) Letakkan pasien pada posisi tengkurap satu-dua kali dalam 24 jam jika pasien
dapat mentoleransi;
4) Sokong ekstremitas dalam posisi fungsionalnya, gunakan papan kaki (foot
board) selama periode paralysis flaksi;
5) Bila pasien ditempat tidur, lakukan tindakan untuk mempertahankan posisi
kelurusan postur tubuh;
6) Libatkan orang terdekat untuk berpartisipasi dalam aktifitas/latihan dan
merubah posisi;
7) Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan
menggunakan ekstremitas yang tidak sakit.
8) Pemberian medikasi sesuai indikasi
9) Fisioterapi berupa terapi menguatkan otot-sendi secara rutin.

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 4. Catatan Perkembangan

Catatan Perkembangan Tn. S

Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi


20 Mei Intoleransi Mengukur tanda-tanda vital (TTV) Subyektif:
2014 Aktivitas Memantau toleransi pasien saat melakukan klien mengatakan tubuhnya masih lemas
berhubungan aktivitas (usaha berpindah) Obyektif:
dengan gangguan Melibatkan keluarga dalam pemenuhan Tekanan darah 110/70 mmHg; Nadi 90x/mnt; Frekuensi Nafas
sistem kebutuhan klien, seperti makan, minum, mandi, 20x/mnt; suhu 36,8oC
penghantaran berpakaian, buang air kecil, dan buang air Tangan klien mampu melakukan aktivitas (tidak ada hambatan
oksigen: Anemia besar rentang pergerakan) rencanakan pemenuhan aktivitas secara
Memberikan medikasi bertahap
Konjungtiva anemis, jantung berdebar-debar, tidak ada sesak
Analisis:
Masalah belum teratasi
Perencanaan:
Bersama pasien dan keluarga merencanakan aktivitas mandiri
yang secara bertahap klien lakukan
Pantau TTV dan tanda hipoksi

Resiko Memantau TTV Subyektif


ketidakseimbangan Memantau balance cairan Klien mengatakan tubuhnya tidak ada yang bengkak dan tidak
volume cairan Membantu klien mobilisasi pemeriksaan USG sesak
berhubungan Abdomen Obyektif
dengan Memberikan medikasi Tidak ditemukan adanya edema di tubuh klien, balance cairan
ketidakseimbangan 0ml, hemodinamik stabil (Tekanan darah 110/70 mmHg; Nadi
elektrolit dan 90x/mnt; Frekuensi Nafas 20x/mnt; suhu 36,8oC)
penurunan fungsi Analisis:
ginjal Masalah teratasi sebagian
Perencanaan
Pantau status hemodinamik klien
Pantau hasil pemeriksaan USG Abdomen

21 Mei Intoleransi Mengukur tanda-tanda vital (TTV) Subyektif


2014 Aktivitas Klien mengatakan tubuhnya lemah, tetapi saat ini kedua tangan

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 4. Catatan Perkembangan

Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi


berhubungan Memantau toleransi pasien saat melakukan tremornya telah menurun dan menggenggam lebih baik
dengan gangguan aktivitas (usaha berpindah) Obyektif
sistem Melibatkan klien dan keluarga dalam Kesadaran klien Compos mentis, keadaan umum baik
penghantaran perencanaan aktivitas pemenuhan kebutuhan Tekanan Darah 110/70 mmHg; Nadi 86x/mnt; frek. Napas
oksigen: Anemia klien secara mandiri 20x/mnt; suhu 37oC
Membantu klien mobilisasi pemeriksaan MRI Tidak ada sesak nafas dan takikardi
Thoraks Klien mampu menggosok gigi sendiri diatas tempat tidur
Memantau hasil laboratorium: evaluasi Hasil pemeriksaan laboratorium: Hormon FT4 RIA 0,86 ug/dl
keadaan hormon tiroid saat ini dan TSH RIA 2,79u/ml
Memberikan medikasi Kondisi hormon telah mengalami perbaikan, sehingga pemberian
medikasi PTU di stop
Analisis
Masalah teratasi sebagian
Perencanaan
Evaluasi hasil pemeriksaan laboratorium (khususnya kadar
hemoglobin darah), tingkatkan kembali lebih banyak aktivitas
mandiri klien

Resiko Memantau TTV Subyektif


ketidakseimbangan Memantau tanda-tanda kelebihan atau Klien mengatakan tubuhnya tidak mengalami bengkak, urinnya
volume cairan kekurangan cairan banyak yang keluar
berhubungan Memantau balance cairan Obyektif
dengan Memberikan medikasi Tekanan Darah 110/70 mmHg; Nadi 86x/mnt; frek. Napas
ketidakseimbangan 20x/mnt; suhu 37oC
elektrolit dan Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan atau kelebihan cairan
penurunan fungsi Balance Cairan : +200ml
ginjal Hasil pemeriksaan USG Abdomen (20 Mei 2014): ukuran ginjal
kanan dan kiri mengalami pembesaran dengan peninggian
cortical echoes
Analisis
Masalah teratasi sebagian
Perencanaan
Pantau status hemodinamik klien dan hasil laboratorium

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 4. Catatan Perkembangan

Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi


22 Mei Intoleransi Mengukur tanda-tanda vital (TTV) Subyektif
2014 Aktivitas Melakukan latihan aktivitas mandiri: makan Klien mengatakan masih terasa lemas, tadi malam mengalami
berhubungan dan minum sulit tidur
dengan gangguan Melatih menyimpan energi saat melakukan Obyektif
sistem aktivitas Kesadaran Compos mentis
penghantaran Memantau hasil laboratorium Tekanan Darah 110/60 mmHg; Nadi 90x/mnt; frek. Napas
oksigen: Anemia Memberikan medikasi 20x/mnt; suhu 37,3oC
Klien mampu makan sendiri, dengan sebelumnya peralatan
makan dan minum didekatkan ke klien, dan klien diposisikan
semifowler.
Menganjurkan kepada keluarga untuk menerapkan hal ini saat
makan selanjutnya.
Hasil pemeriksaan laboratorium:
(Hb 8,4 g/dl; Ht 25%; eritrosit 2,9 juta/L; leukosit 14.800 /L)
Analisis
Masalah teratasi sebagian
Perencanaan
Pantau tanda-tanda hipoksia
Pantau hasil laboratorium (hematologi dan analisa gas darah),
klien diberikan transfusi PRC
Tingkatkan latihan aktivitas mandiri klien
Resiko Memantau TTV Subyektif
ketidakseimbangan Memantau balance cairan Klien mengatakan ada bengkak di kaki kiri
volume cairan Membantu klien mobilisasi pemeriksaan USG Obyektif
berhubungan Abdomen Tekanan Darah 110/60 mmHg; Nadi 90x/mnt; frek. Napas
dengan Memberikan medikasi 20x/mnt; suhu 37,3oC
ketidakseimbangan Balance cairan: +200ml
elektrolit dan Hasil pemeriksaan laboratorium
penurunan fungsi Creatinin Clearance: 9,78 ml/mnt
ginjal Natrium 137 mmol/L, Kalium 2,8mmol/L, Clorida 108 mmol/L
Analisis
Masalah belum dapat diatasi (penurunan kondisi)
Perencanaan

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 4. Catatan Perkembangan

Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi


Pemantau hemodinamik; pantau kelebihan cairan; evaluasi
pemeriksaan laboratorium; tinggikan tungkai yang mengalami
pembengkakan; edukasi klien mengenai pentingnya pengaturan
cairan input sesuai dengan output
23 Mei Gangguan Nutrisi Memonitor intake makanan Subyektif
2014 Kurang dari Mengukur LLA klien Keluarga mengatakan saat makan pagi klien enggan makan
Kebutuhan Tubuh Menganjurkan klien dan keluarga agar klien makanan rumah sakit (memilih makan nasi kuning)
berhubungan makan sedikit tapi sering Klien mengatakan akan meningkatkan oral higine
dengan mual dan Memberikan dorongan kepada klien untuk lebih Obyektif
asupan makan yang meningkatkan oral higine Makanan selingan tidak dimakan & Makan siang klien habis
tidak adekuat Memantau hasil laboratorium setengah porsi
Edema dikaki kiri grade 1+
LLA klien 22 cm
Hasil laboratorium:
(Hb 11,2 g/dl; 33%; eritrosit 4,3 juta/L; leukosit 22540 /L)
Analisis
Masalah teratasi sebagian
Perencanaan
Menjelaskan makanan yang sesuai untuk kondisi kesehatan klien
Pantau antopometri dan hasil laboratorium terkait

24 Mei Gangguan menginspeksi dan perubahan kulit (warna, Subyektif


2014 Integritas Kulit turgor, dan vaskularitas) Bokong masih perih, kulit kering tapi tidak gatal
berhubungan melakukan perawatan luka tekan klien 1x per Obyektif
dengan tirah baring hari Luka dekubitus tidak ditemukan sekresi, dan tidak berbau,
yang lama dan menginspeksi adanya edema, tinggikan bagian diameter 2cm
proses perjalanan kaki jika terdapat edema Kulit kering dibagian ekstrimitas, khususnya dilipatan.
penyakit Mengajarkan miring kanan dan kiri, lakukan Pemberian minyak membantu melembabkan kulit
perubahan posisi setiap dua jam Klien kesulitan mika-miki (menganjurkan keluarga untuk
memberikan perawatan kulit dengan minyak membawa bantal tambahan yang dapat membantu menopang
kelapa, dan jaga linen tetap kering dan tidak badan saat miring
berlipat-lipat. Menganjurkan kelaurga untuk Analisis
Masalah teratasi sebagian

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 4. Catatan Perkembangan

Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi


turut serta Perencanaan
Lanjutkan perawatan kulit dan lakukan mika-miki
26 Mei Intoleransi Mengukur tanda-tanda vital (TTV) Subyektif
2014 Aktivitas Melakukan latihan aktivitas mandiri: makan dan Klien dan keluarga sepakat akan mengatur aktivitas dan pola
berhubungan minum tidurnya kembali
dengan gangguan Melatih menyimpan energi saat melakukan Obyektif
sistem aktivitas Tekanan Darah 110/70 mmHg; Nadi 90x/mnt; frek. Napas
penghantaran Klien sulit tidur malam: menjelaskan kepada 20x/mnt; suhu 36,5oC
oksigen: Anemia klien untuk mengatur pola tidur awal sebelum Klien melakukan aktivitas mandiri: makan dan minum
sakit, dimana saat siang hari diperbanyak Klien mulai duduk di atas tempat tidur, disangga dengan bantal
dengan aktivitas bukan tidur, sehingga saat dan tempat tidur posisi fowler
malam hari klien akan merasa mengantuk Analisis
Memberikan medikasi Masalah teratasi sebagian
Perencanaan
Saat klien perlahan bisa menoleransi aktivitasnya, bantu klien
meningkatkan kemampuan mobilisasi
27 Mei Hambatan melakukan terapi fisik yang di fokuskan pada Subyektif
2014 mobilitas fisik latihan gerak pasif dan aktif minimal 2 kali Klien mengatakan kaki kiri masih sulit digerakkan sendiri, lebih
berhubungan dalam sehari enak saat dilakukan latihan
dengan menganjurkan pasien untuk membantu Obyektif
ketidakmampuan pergerakan dan latihan dengan menggunakan Tekanan Darah 110/70 mmHg; Nadi 92x/mnt
pergerakan pada ekstremitas yang tidak sakit Klien dapat melakukan rps aktif-assistif
ekstrimitas bawah melibatkan orang terdekat untuk berpartisipasi Analisis
(Paraparese dalam aktifitas/latihan dan merubah posisi; Masalah teratasi sebagian
Inferior) Pemberian medikasi sesuai indikasi Perencanaan
Klien mau melakukan mobilisasi tidak di tempat tidur
Tunggu konsultasi dengan ortopedi
28 Mei Gangguan menginspeksi dan perubahan kulit (warna, Subyektif:
2014 Integritas Kulit turgor, dan vaskularitas) Klien mengatakan perih di bokongnya sudah mulai berkurang,
berhubungan melakukan perawatan luka tekan klien 1x per dan lebih nyaman saat duduk
dengan tirah baring hari Obyektif
yang lama dan menginspeksi adanya edema, tinggikan bagian Edema kaki kiri grade 1
proses perjalanan kaki yang terdapat edema Tidak terbentuk luka dekubitus di tempat lain

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 4. Catatan Perkembangan

Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi


penyakit Mengajarkan miring kanan dan kiri, lakukan Kulit kering dibagian ekstrimitas, khususnya dilipatan.
perubahan posisi setiap dua jam Pemberian minyak membantu melembabkan kulit
memberikan perawatan kulit dengan minyak Klien aktif melakukan mika-miki
kelapa, dan jaga linen tetap kering dan tidak Analisis
berlipat-lipat. Menganjurkan keluarga untuk Masalah teratasi sebagian
turut serta melakukan perawatan Perencanaan
Lanjutkan perawatan luka dan kulit klien
29 Mei Gangguan Nutrisi Memonitor intake makanan Subyektif
2014 Kurang dari Mengukur LLA klien Klien mengatakan sudah lebih bernafsu untuk makan, mual tidak
Kebutuhan Tubuh Menganjurkan klien dan keluarga agar klien ada
berhubungan makan sedikit tapi sering Klien dan keluarga memahami pentingnya pengaturan diet dan
dengan mual dan Menjelaskan pentingnya pengaturan diet dan cairan klien
asupan makan yang cairan pada pasien penyakit ginjal kronik Obyektif
tidak adekuat LLA klien saat ini 23 cm
Makanan rumah sakit lebih dari setengah porsi dihabiskan, dan
makanan selingan juga dihabiskan
Analisis
Masalah teratasi sebagian
Perencanaan
Pantau nilai antopometri dan Pantau hasil laboratorium;
lanjutkan pemberian edukasi (ttg anemia)
30 Mei Hambatan Berkolaborasi dengan terapis dalam Subyektif
2014 mobilitas fisik memberikan fisioterapi untuk klien Klien mengatakan latihan fisioterapi yang diberikan mengurangi
berhubungan Memobilisasi klien dari tempat tidur ke kursi kaku di alat geraknya
dengan roda Klien dan keluarga bersedia melanjutkan fisioterapi setelah
ketidakmampuan melibatkan orang terdekat untuk berpartisipasi pulang ke rumah nanti dan belajar menggunakan alat bantu gerak
pergerakan pada dalam latihan dan merubah posisi; Obyektif
ekstrimitas bawah menjelaskan kepada klien dan keluarga, Klien mampu melakukan beberapa gerakan dengan anggota
(Paraparese fisioterapi yang dilakukan secara bertahap dan gerak bagian bawah secara mandiri
Inferior) berkelanjutan akan meningkatkan kekuatan otot Analisis
dan klien dapat belajar mobilisasi secara mandiri Masalah teratasi sebagian
dengan alat bantu gerak Perencanaan
Lanjutkan fisioterapi, pantau perubahan hemodinamik klien

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 4. Catatan Perkembangan

Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi


Pemberian medikasi sesuai indikasi setelah latihan
2 Juni 2014 Gangguan menginspeksi dan perubahan kulit (warna, Subyektif
Integritas Kulit turgor, dan vaskularitas) Perih di bokong klien berkurang
berhubungan melakukan perawatan luka tekan klien 1x per Obyektif
dengan tirah baring hari dan melakukan evaluasi kondisi luka luka dekubitus di bokong klien saat ini diameter 1 cm, tidak ada
yang lama dan menjelaskan kepada keluarga mengenai sekresi, mulai terbentuk jaringan kulit putih dan siap menutup
proses perjalanan perawatan luka saat dirumah nanti kulit klien lebih lembab, setiap habis mandi klien diolesi minyak
penyakit menginspeksi adanya edema, tinggikan bagian atau body lotion
kaki jika terdapat edema tidak ditemukan luka baru di tubuh klien
Mengajarkan miring kanan dan kiri, lakukan Analisis
perubahan posisi setiap dua jam, dan Masalah teratasi sebagian
menyarankan untuk terus melanjutkan selama di Perencanaan
rumah nanti Lanjutkan perawatan luka
3 Juni 2014 Gangguan Nutrisi Memonitor intake makanan Subyektif
Kurang dari Menganjurkan klien dan keluarga agar klien Klien dan keluarga sepakat akan menerapkan perencaan diet
Kebutuhan Tubuh makan sedikit tapi sering tersebut saat di rumah nanti
berhubungan Menjelaskan contoh diet yang tepat untuk klien Obyektif
dengan mual dan dengan anemia pada penyakit ginjal kronik Makan siang dan selingan klien habis dimakan
asupan makan yang Mengatur perencanaan diet bersama klien dan Perencanaan diet dilakukan
tidak adekuat keluarga, menjelaskan mengenai supplement Analisis
dan medikasi yang mungkin klien konsumsi Masalah teratasi
Perencanaan
Lanjutkan perawatan dengan pengecekan kondisi sesuai jadwal
di RS, pantau antopometri dan lakukan pemeriksaan
laboratorium secara berkala setelah keluar dari RS

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 5. Patofisiologi

Pra Renal Intra Renal Post Renal

Masalah aliran darah ke ginjal Nekrotik tubulus: INFEKSI Obstruksi bagian distal
Hipotensi saluran perkemihan
Syok hipovolemik,
anafilaktik, sepsis Antigen
Antigen dari
Diabetes mellitus berasal Urin Aliran balik
luar
Hipertensi Glomerulus Glomerulus statis ke ginjal

Penurunan aliran darah ke


ginjal secara bermakna Glomerulonefritis Bakteri

Kerusakan Glomerulus
secara bertahap
Ginjal gagal
membentuk
Nefron yang masih baik mengompensasi kerusakan ginjal
eritropoetin

Peningkatan kerja filtrasi, reabsorpsi, sekresi


Anemia Keletihan Stage 1: LFG >90 ml/mnt
Stage II: LFG 60-89 ml/mnt
Stage III: LFG 30-59 ml/mnt
Suplai oksigen ke jaringan Hipertrofi Nefron : Nefron rusak
Stage IV: LFG 15-29 ml/mnt
di seluruh tubuh menurun Stage V: LFG <15 ml/mnt
Penurunan fungsi nefron scr progresif
Curah jantung meningkat
Penurunan ekskresi
ion kalium
Hipertensi Gangguan fungsi ginjal
Fungsi Sekresi
Retensi Na Fungsi ekskresi Hiperkalemia
Urin & cairan
Gagal jantung
output
turun Kardiak Aritmia

Penurunan Penurunan
Produksi 1,25 Edema ekskresi NH3 Penurunan
ekskresi fosfat
dihidroksin rearbsorbsi HCO3
vitamin D turun Kadar
amoniak & Hiperfosfatemia Peningkatan ion H
kreatinin Gangguan
Arbsorpsi Asidosis Keseimbagan
darah naik absorbsi
kalsium diusus Takipnea Metabolik Asam basa
turun kalsium turun

Uremia Kalsium di Fungsi tulang = penyangga H


Kalsium dalam
darah turun tulang turun
Peningkatan hormon paratiroid
Hormon Paru: infeksi toksik, shg pneumonia
menyebabkan fibrosa serosa, edema Agregasi kalsium
paratiroid
paru
Jantung: perikarditis Osteodistorpi Renal
Pengeluaran Penurunan kesadaran, letargi
kalsium dari Gastrointestinal: mual, muntah, BB
tulang turun
Integumen: pruritus, ekimosis, kulit
kering, dan berubah pigmen

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 6. Leaflet

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 6. Leaflet

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 6. Leaflet

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 6. Leaflet

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014


Lampiran 7. Biodata Diri

BIODATA DIRI

Nama : Raisa Minati Ramadhani


Tempat & Tanggal Lahir : Bandar Lampung, 16 Maret 1992
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat Rumah : Jalan Mayjen Ryacudu, Perum BBI, blok A1 no 9,
Campang Raya, Bandar Lampung
Hp/ Email : 085669968414/ raisa.minati@gmail.com
Riwayat Pendidikan :
1) Tahun 1997 Lulus dari TK Nurul Fuad Panjang
2) Tahun 2003 Lulus dari SD Negeri 1 Karang Maritim
3) Tahun 2006 Lulus dari SMP Negeri 2 Bandar Lampung
4) Tahun 2009 Lulus dari SMA Negeri 2 Bandar Lampung
5) Tahun 2013 Lulus dari Program Sarjana Fakultas Ilmu Keperawatan,
Universitas Indonesia

Analisis edukasi ..., Raisa Minati Ramadhani, FIK UI, 2014