Anda di halaman 1dari 16

V.

NILAI FEKUNDITAS

5.1. Tinjauan Pustaka


Pengetahuan mengenai fekunditas merupakan salah satu aspek yang memegang
peranan penting dalam biologi perikanan. Fekunditas ikan merupakan aspek yang
berhubungan dengan dinamika populasi, sifat-sifat rasial, produksi, dan persoalan
stok rekuitmen (Bagenal, 1978 dalam Effendie 2002). Fekunditas merupakan salah
satu cara untuk menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan
mementukan pula jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Fekunditas
merupakan suatu subyek yang dapat menyesuaikan dengan bermacam-macam kondisi
terutama dengan respons terhadap makanan. Ada faktor lain yang memegang peranan
penting dan sangat erat hubungannya dengan strategi reproduksi dalam rangka
mempertahankan kehidupan spesies tersebut di alam.
Beberapa kegunaan pengetahuan fekunditas diantara lain sebagai bagian studi
sistematik atau studi mengenai ras, dinamika populasi, produktivitas, potensi
reproduksi dan sebagainya. Dalam bidang akuakultur, jumlah telur yang dihasilkan
oleh ikan pada waktu pemijahan secara alami atau buatan sangat jelas kegunaannya
terutama dalam persiapanfasilitas-fasilitas kultur ikan tersebut untuk keperluan
selanjutnya (Effendi, 1977).
Fekunditas (Fecundity) ikan ialah jumlah telur masak sebelum dikeluarkan pada
waktu memijah. Fekunditas demikian dinamakan fekunditas individu atau fekunditas

mutlak, sedangkan fekunditas relatif ialah jumlah per satuan berat atau panjang
dari ikan yang diamati tersebut (Nikolsky, 1963 dalam Effendi, 1975).
Data fekunditas yang berbeda dapat digunakan sebagai indikator perbedaan dua
atau lebih kondisi atau stok dalam eksploitasi sumber daya ikan. Namun penaksiran
fekunditas tergantung oleh beberapa faktor antara lain jumlah absolute telur yang
diproduksi oleh ikan yang mengalami salin total (total spawner) dan salin sebagian
(partial spawner). Serta tingkat perbedaan ukuran telur yang dipijahkan pada suatu
musim dengan telur yang masih dibawa untuk musim selanjutnya yang disimpan dan
dijaga (Baxter, 1963 dalam Karyaningsih, 1992) .
Fekunditas adalah jumlah telur yang telah matang dalam suatu ovarium
sebelum dikeluarkan pada waktu memijah. Fekunditas yang seperti ini dinamakan
fekunditas mutlak (fekunditas individu), sedangkan fekunditas relatif adalah jumlah
telur per satuan berat dan panjang ikan (Effendie, 2002).
Fekunditas relatif jumlah telur per satuan berat atau panjang. Fekunditas ini pun
sebenarnya mewakili fekunditas individu kalau tidak diperhatikan berat atau panjang
ikan. Penerapan fekunditas relatif telah banyak dilakukan oleh beberapa orang
peneliti. Ada yang mengambil berat sebagai pembaginya dan ada pula yang
mengambil panjang. Bahkan ada yang mengkombinasikan penggunaan fekunditas
relatif tidak memperlihatkan kapasitas reproduksi dari populasi karena fekunditas
induvidu tidak menunjukkan fekunditas populasi. Penggunaan fekunditas relatf
dengan satuan berat (Greking, 1967 dalam Effendie, 2002).
Pengetahuan fekunditas dan indeks gonad somatic (IGS) merupakan salah satu
aspek yang memiliki peran penting dalam biologi perikanan, dimana fekunditas

berkaitan erat dengan studi dinamika populasi produksi serta stock recruitment yang
terdapat dalam indek gonad somatik (Bagenal, 1978 dalam Patriono, 2003).
Menerapkan fekunditas akan sukar

untuk ikanikan yang mengadakan

pemijahan beberapa kali dalam setahun, karena mengandung telur dari berbagai
tingkat dan akan lebih sulit lagi menentukan telur yang benar benar akan
dikeluarkan pada tahun yang akan datang.

Jadi fekunditas individu ini baik

diterapkan pada ikan ikan yang mengadakan pemijahan tahunan atau satu tahun
sekali. Sehubungan dengan hal ini maka fekunditas individu tidak relevan dengan
fekunditas total. Fekunditas total ialah jumlah telur yang dihasilkan ikan selama
hidup (Royce, 1972 dalam Effendie, 2002).
Menurut (Yuniarti , 2005), hubungan fekunditas dengan panjang total diperoleh
dengan panjang total diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
F = aLb
Keterangan:

F = Fekunditas
L = Panjang total (mm)
a = Intersep
b

= Koefisien regresi

Penentuan hubungan fekunditas dengan berat total diperoleh dengan menggunakan


rumus:

F = a+ bW

Keterangan : F = Fekunditas (butir)


W = Berat total (gram)
a = Intersep
b = Koefisien regresi

Jumlah telur yang terdapat dalam ovari ikan dinamakan fekunditas induvidu,
fekunditas mutlak atau fekunditas total. Dalam hal ini memperhitungkan telur yang
ukurannya berlainan. Oleh karena itu dalam memperhitungkannya harus diikut
sertakan semua ukuran telur dan masing-masing harus mendapatkan kesempatan yang
sama. Konsekuensinya harus mengambil telur dari beberapa bagian ovari (kalau
bukan dengan metoda numerikan). Kalau ada telur yang jelas kelihatan ukurannya
berlainan dalam daerah yang berlainan dengan perlakuan yang sama harus dihitung
terpisah (Nikolsky, 1963 dalam Effendie, 2002).
Fekunditas mutlak sering dihubungkan dengan berat, karena berat lebih
mendekati kondisi ikan daripada panjang. Namun dalam hubungan fekunditas dengan
berat terdapat beberapa kesukaran. Berat akan cepat berubah pada waktu musim
pemijahan. Misalnya ikan salmon dan sidat yang melakukan ruaya sebelum berpijah,
mereka tidak lagi mengambil makanan, jadi berpuasa sampai ketempat pemijahan.
Material untuk pertumbuhan gonadnya diambil dari jaringan somatik (Effendi, 2002).
Spesies tertentu pada umur yang berbeda-beda memperlihatkan fekunditas yang
bervariasi sehubungan dengan persediaan makanan tahunan. Pengaruh ini terjadi juga
untuk induvidu yang berukuran sama dan dapat pula untuk populasi secara
keseluruhan. Sebagian dari pengaruh tadi mempengaruhi telur dan persediaan telur.
Dengan demikian sekarang jelas bahwa fekunditas pada ikan berukuran tertentu atau
kelompok tertentu variasinya besar (Nikolsky, 1969).

5.2.

Materi dan Metode

5.2.1. Materi
a. alat
Alat yang digunakan pada praktikum materi Nilai Fekunditas adalah sebagai
berikut:
Tabel . Alat yang digunakan pada praktikum Nilai Fekunditas
No.
Alat
Ketelitian
Kegunaan
1.
Styrofoam
Sebagai tempat meletakkan ikan

b.

2.

Gunting

Sebagai

memotong

pada

3.

Timbangan

0,01gram

4.

elektrik
Pisau cutter

Sebagai

section
Sebagai pengolah angka

waktu

section
Sebagai penghitung berat
memotong

pada

waktu

5.

Kalkulator

6.

Mikroskop

40x

7.

Sectio kit

perbesaran
Sebagai alat untuk membedah

8.

Pipet tetes

Sebagai pengambil campuran sel

9.

Kaca penutup

telur dan aquades


Sebagai penutup

10.

Sedwigck

diamati
Sebagai

11.

rafter
Beaker glass

1ml

Sebagai

alat

media

bantu

saat
sel

melihat

sel

telur

untuk

diamati di bawah mikroskop


Sebagai media pencampur sel telur

12.

Pengaduk

dengan aquades
Sebagai alat pencampur

13.

Hand counter

Sebagai penghitung sel telur

bahan

telur

Bahan yang digunakan pada praktikum materi Nilai Fekunditas adalah sebagai
berikut:
Tabel . Bahan yang digunakan pada praktikum materi Nilai Fekunditas
No.
Nama Bahan
Jumlah
Fungsi
1.
Gonad ikan Kurisi
3 buah
Sebagai sampel sel telur
2.

(Nemipterus hexodon)
Aquades

100 ml

Sebagai pencampur sel telur

5.2.2. Metode
Metode yang digunakan dalam perhitungan nilai fekunditas dilakukan dengan
cara sebagai berikut:
1. Mengambil gonad dari tubuh ikan kemudian dibersihkan dan menimbangnya (G).
2. Mengambil gonad kemudian memotongnya menjadi 5 bagian, dan ambil sebagian
gonad pada bagian pangkal, tengah, dan ujung gonad sehingga diharapkan seluruh
bagian terwakili.
3. Menimbang berat (Q) sebagian telur yang telah diambil kemudian masukan ke
dalam beaker glass dan mengencerkan gonad tersebut dengan air hingga 100 ml
(V) dan mengaduknya hingga homogen, dimana sudah tidak ada lagi telur yang
mengelompok.
4. Setelah homogen, mengambilnya dengan pipet dan menuangkan ke dalam
sedgwick rafter dan mengamatinya dibawah mikroskop, dan menghitung
jumlahnya (X).
5. Melakukan pengamatan pada sedgwick rafter, masing-masing tiga kali
pengulangan.
6. Menghitung Nilai fekunditas dengan rumus:

G xV x X
Q

Keterangan:
F = Nilai Fekunditas
G = Berat gonad
V = Volume air
X = Jumlah telur
Q = Berat telur
7. Memasukan data dalam tabel

5.3.

Hasil dan Pembahasan

5.3.1. Hasil

Hasil yang didapat setelah pengamatan Nilai Fekunditas pada ikan Kurisi
(Nemipterus hexodon) adalah sebagai berikut:
Tabel . Hasil pengamatan nilai fekunditas pada ikan Kurisi (Nemipterus hexodon)
X
Kel

G (gr)

V (ml)

0,76

100

34

28

30

30,67

0,14

16,65

10

0,86

100

1175

843

854

957,33

0,45

18295

11

1,40

100

832

662

783

759

0,69

154000

12

0,41

100

75

85

82

80,67

0,18

18.374,83

5.3.2. Pembahasan
Dari praktikum yang dilakukan didapatkan nilai fekunditas kelompok 9 untuk
ikan Kurisi (Nemapterus hexodon) adalah 16,65 dengan berat gonad 0,76 dan banyak
telur 30,67. Fekunditas suatu populasi ikan tidak sama, karena berhubungan dengan
komposisi umur, faktor lingkungan seperti persediaan makanan, kepadatan populasi,
suhu

dan

karena

adanya

ikan-ikan

yang

tidak

berpijah

pada

tiap-tiap

tahun/berpijahnya selang beberapa tahun. Fekunditas dapat dikaitkan dengan


permukaan air yaitu jika permukaan air tinggi maka fekunditas tinggi dan sebaliknya.
Hal ini disebabkan karena permukaan air dari tahun ke tahun tidak sama akibat
pemasukan air yang tidak tetap. Kenaikan fekunditas dapat disebabkan oleh
kematangan gonad dari individu yang tumbuh lebih cepat.
Ciri-ciri dari gonad betina pada ikan Kurisi betina (Nemipterus hexodon) yaitu
bentuk gonadnya tidak terlalu besar dan berwarna putih kekuningan. Sel telur yang

dihasilkan ovarium ikan Kuris (Nemipterus hexodon) tidak terlalu banyak, hal ini
dapat terjadi karena indeks kematangan gonadnya belum matang. Pada waktu
penimbangan berat gonad ikan tersebut di timbangan elektrik hanya memiliki berat
sekitar 0,76 gram.
Menurut (Nikolsky ,1963 dalam Effendi, 1975), fekunditas (Fecundity) ikan
ialah jumlah telur masak sebelum dikeluarkan pada waktu memijah. Fekunditas
demikian dinamakan fekunditas individu atau fekunditas mutlak, sedangkan
fekunditas relatif ialah jumlah per satuan berat atau panjang dari ikan yang diamati
tersebut.
Ada beberapa macam cara yang dapat dipakai dalam menghitung telur untuk
meneliti fekunditas yaitu cara menjumlah langsung, cara volumetrik, cara
gravimetrik, cara gabungan gravimetrik, volumetrik dan hitung.

Keempat cara

tersebut sebenarnya sama saja mungkin hanya tingkat ketelitian perhitungannya saja
yang akan berpengaruh.
Menurut Effendi (1977), ada beberapa cara untuk menghitung telur dalam
meneliti fekunditas. Cara-cara tersebut ialah:
a. Cara menjumlah langsung
Cara ini merupakan cara yang paling baik dan tepat hasilnya. Caranya
menghitung telur satu per satu dari telur yang ada. Namun cara ini hanya
untuk ikan yang relatif menghasilkan telur sedikit seperti ikan yang
melahirkan, ikan yang menjaga keturunannya dengan baik dan ikan-ikan
berukuran kecil. Apabila ikan yang mempunyai telur banyak sekali, metoda
ini tidak efesien karena terlalu banyak menghabiskan waktu.
b. Cara Volumetrik

Seluruh gonad yang berisi telur dikeringkan dahulu kemudian ukur


volumenya dengan menggunakan teknik. Setelah diketahui gonadnya, ambil
sebagian kecil dari telur kemudian ukur lagi isinya dengan menggunakan
teknik pemindahan air pula. Setelah itu diketahui isinya sebagian dari telur
yang diambil tadi sekarang hitung jumlah telurnya. Dengan menggunakan
rumus:
X:x = V:v
Dimana X = jumlah telur di dalam gonad (fekunditas)
x = jumlah telur dari sebagian kecil gonad
V = isi (volume) seluruh gonad
v = isi (volume) sebagian gonad
c. Cara gravimetrik
Dasar dari cara gravimetrik sama dengan cara volumetrik, hanya isi diganti
dengan berat. Tentukan terlebih dahulu berat kering udara seluruh gonadnya,
demikian pula sebagian dari telur yang akan ditimbang beratnya. Cara
menghitungnya sama dengan cara volumetrik.
d. Cara gabungan gravimetrik, volumetrik dan hitung
Telur yang akan dihitung itu butirannya sangat kecil sehingga dengan cara
gravimetric masih mendapat kesukaran juga yang terutama dalam
menghitung jumlah telur dalam contoh yang sedikit itu masih terlalu banyak
sehingga dapat menyita banyak waktu. Rumus yang dipakai yaitu:
F=GxVxX
Q
Dimana : F = Fekunditas
G = Berat gonad (gr)
V = Isi pengenceran (ml)
X = Jumlah telur tiap ml
Q = Berat telur yang dihitung (gr)
Fekunditas suatu populasi ikan tidak sama, karena berhubungan dengan komposisi
umur, faktor lingkungan seperti persediaan makanan, kepadatan populasi, suhu dan

karena adanya ikan-ikan yang tidak berpijah pada tiap-tiap tahun/berpijahnya selang
beberapa tahun. Fekunditas dapat dikaitkan dengan permukaan air yaitu jika
permukaan air tinggi maka fekunditas tinggi dan sebaliknya. Hal ini disebabkan
karena permukaan air dari tahun ke tahun tidak sama akibat pemasukan air yang tidak
tetap. Kenaikan fekunditas dapat disebabkan oleh kematangan gonad dari individu
yang tumbuh lebih cepat.
Menurut Baxter (1963) dalam Karyaningsi (1991), data fekunditas yang
berbeda dapat digunakan sebagai indikator perbedaan dua atau lebih kondisi atau stok
dalam eksploitasi sumber daya ikan. Namun penaksiran fekunditas tergantung oleh
beberapa faktor antara lain jumlah absolute telur yang diproduksi oleh ikan yang
mengalami salin total (total spawner) dan salin sebagian (partial spawner). Serta
tingkat perbedaan ukuran telur yang dipijahkan pada suatu musim dengan telur yang
masih dibawa untuk musim selanjutnya.
Hubungan fekunditas dengan panjang berat gonad ikan dipengaruhi oleh besar
kecilnya ikan, tingkat kematangan gonad serta umur ikan. Ukuran ikan bisa
mempengaruhi besar kecilnya gonad dimana ikan yang besar akan menghasilkan
ukuran gonad yang besar, sebaliknya ukuran kecil tentunya ukuran gonadnya akan
kecil. Selain itu tingkat kematangan gonad juga mempengaruhi berat dari gonad ikan,
dimana semakin matang gonad maka ukuran gonad akan semakin besar dan berat dan
setelah memijah ukuran gonad akan kecil kembali.
Menurut Effendi (2002), fekunditas mutlak sering dihubungkan dengan berat,
karena berat lebih mendekati kondisi ikan itu daripada panjang. Namun dalam

hubungan fekunditas dengan berat terdapat beberapa kesukaran. Berat akan cepat
berubah pada waktu musim pemijahan.
Banyak hal sebenarnya yang sangat mempengaruhi fekunditas, pertama dari ikan
itu sendiri apakah umur ikan sudah cukup untuk mengalami fekunditas, jenis ikan
apakah jenisnya yang mudah mengalami fekunditas atau tidak dan spesiesnya. Tidak
hanya dari ikan itu sendiri saja yang mempengaruhi, tetapi lingkungan disekitarnya
juga sangat mempengaruhi kondisi fisik ikan untuk mengalami fekunditas seperti
suhu misalnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fekunditas menurut Nikolsky (1969) dalam
Effendi (1997) adalah sebagai berikut :
1. Sampai umur tertentu fekunditas itu akan bertambah kemudian menurun lagi,
fekunditas relatifnya menurun sebelum terjadi penurunan fekunditas mutlaknya.
Fekunditas relatif maksimum terjadi pada golongan ikan muda;
2. Fekunditas mutlak atau relatif sering menjadi kecil pada ikan-ikan atau kelas
umur yang jumlahnya banyak, terjadi untuk spesies yang mempunyai perbedaan
spesies yang mempunyai perbedaan makanan kelompok diantara ukuran;
3. Pengaturan fekunditas terbanyak dalam berespon terhadap persediaan makanan
berhubungan dengan telur yang dihasilkan oleh ikan yang cepat pertumbuhannya,
lebih gemuk dan besar;
4. Ikan yang bentuknya kecil dengan kematangan gonad lebih awal serta
fekunditasnya tinggi mungkin disebabkan oleh kandungan makanan dari predator
dalam jumlah besar;
5. Perbedaan fekunditas diantara populasi spesies yang hidup pada kondisi
lingkungan yang berbeda-beda, bentuk migran fekunditasnya lebih besar;

6. Fekunditas disesuaikan secara otomatis melalui metabolisme yang mengadakan


reaksi terhadap perubahan persedian makanan dan menghasilkan perubahan dalam
pertumbuhan;
7. Fekunditas bertambah dalam mengadakan respon terhadap perbaikan makanan
melalui kematangan gonad yang terjadi lebih awal, menambah kematangan
individu pada individu yang lebih gemuk dan mengurangi antara siklus pemijahan;
dan
8. Kualitas telur terutama isi kuning telur bergantung pada umur dan persedian
makanan dan dapat berbeda dari satu populasi ke populasi yang lain.
5.4.

Kesimpulan dan Saran

5.4.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari pengamatan nilai fekunditas adalah:
1. Nilai fekunditas yang didapatkan kelompok 9 adalah 16,65 sehingga telur yang
dikeluarkan sangat sedikit karena ikan Kurisi (Nemipterus hexodon) belum
masak;
2. Jumlah telur yang dihasilkan oleh ikan juga akan mempengaruhi fekunditas,
dimana semakin banyak telur yeng terkandung meka semakin tinggi pula nilai
fekunditasnya;
3. Hubungan panjang berat ikan sama dengan nilai fekunditas, dimana berat dari
ikan itu sendiri kecil sehingga nilai fekunditasnya pun juga kecil;
4. Faktor yang mempengaruhi fekunditas adalah umur ikan, jenis ikan, spesies ikan,
dan lingkungan.
5.4.2. Saran
Saran yang dapat diambil dari praktikum materi Nilai Fekunditas yaitu:

1. Sebaiknya ikan yang akan disectio dalam keadaan baik dan tidak rusak, agar saat
disectio tidak hancur;
2. Sebaiknya telur diamati dengan teliti agar data yang didapat valid;
3. Sebaiknya saat melakukan sectio harus hati-hati agar tidak ada organ yang rusak.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Mochammad Ichsan. 1975. Metoda Biologi Perikanan

Yayasan Dewi

Sri:Bogor.
________________________. 1977. Metoda Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan
Institut Pertanian Bogor.
_______________________.f2002.Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara:
Jakarta.
Karyaningsi, Sri. 1992. Pengamatan Fekunditas dan Diameter Fekunditas Telur Ikan
Kakap Merah. Jurnal Perikanan Laut No.68 tahun 1992 hal 67-82.
Patrioono, Enggar. 2001. Fekunditas Ikan Bilih di Muara Sungai Sekitar Danau
Singkarak. Jurnal Penelitian Sains. Volume 13 Nomor 3.
Yuniarti, Ivana. 2005. Hemafroditisme dan Fekunditas Ikan Baji-baji di Perairan
Pantai Mayangan Jawa Barat. Jurnal Ikhtiologi Indonesia, volume 5 nomor 1,
juni 2005.

Lampiran

. Perhitungan Nilai Fekunditas kelompok 9

G xV x X
Q

Rumus:
Diketahui:
G = Berat gonad : 0,76 gr
V = Volume air :100 ml
X = Jumlah telur : 30,67 butir
Q = Berat telur yang dihitung : 0,14 gr

G xV x X
Q

Jawab:
F = 0,76 x 100 x30,67
0,14
F = 16,65 butir