Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM REPRODUKSI IKAN

PENGENALAN CIRI KELAMIN SEKUNDER

DISUSUN OLEH:
1. Alvian Irwan Prayoga 141411535015
2. Ranti Dwiyanti Putri 141511535001
3. Margaretta Wahyu Diana P. 141511535015
4. Novi Adi Setiawan 141511535019
5. Rahma Hidayah 141511535026

PROGAM STUDI S1 BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
PSDKU UNIVERSITAS AIRLANGGA
DI BANYUWANGI
2017
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam dunia budidaya perikanan apapun komoditinya, pendalaman
terhadap fisiologi dan reproduksi sangatlah penting. dengan memperlajari
fisiologi dan reproduksi kita menjaga keberlanjutan usaha dengan penyediaan
benih sebgai bahan baku usaha. Dengan mengenal ciri kelamin ikan maka kita
akan bisa membedakan antara ikan jantan dan ikan betina. Ilmu ini merupakan
dasar jika kita akan memeijahkan ikan untuk menghasilkan benih sebgai bahan
baku usaha perikanan budidaya. Pada umumnya ikan memiliki dua jenis kelamin,
betina dan jantan. Dalam budidaya perairan teknik pembedaan kelamin sangat
diperlukan untuk kegiatan pembenihan dan pembesaran. Pembedaan ciri kelamin
jantan dan betina meliputi ciri kelamin primer dan ciri kelamin sekunder.
Pembedaan ciri kelamin primer dilakukan dengan cara langsung terhadap
gonad dan lubang genital, sedangkan pembedaan ciri kelamin sekunder dilakukan
dengan pengamatan morfologi (dimorfisme) dan warna (dikromatisme) pada ikan.
Ciri primer pada ikan tandai dengan adanya organ yang secara langsung
berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya pada
ikan betina, dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan. Sedangkan ciri
sekunder adalah penampakan luar dari ikan yang dapat digunakan untuk
membedakan ikan jantan dan ikan betina. Setiap spesies ikan mempunyai sifat
morfologi yang dapat digunakan untuk membedakan jantan dan betina dengan
jelas, maka spesies itu bersifat seksual dimorfisme. Namun, apabila satu spesies
ikan dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna, maka spesies
itu bersifat seksual dikromatisme. Pada umumnya ikan hias jantan mempunyai
warna yang lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina. Ciri kelamin
sekunder adalah ciri kelamin yang tidak berhubungan langsung dengan organ
reproduksi.
1. Ciri kelamin sekunder berdasarkan fisik/wujudnya :
Dimorfisme ciri kelamin sekunder berdasarkan perbedaan bentuk
tubuh.
Dikromatisme ciri kelamin sekunder berdasarkan perbedaan warna
2. Ciri kelamin sekunder berdasarkan waktu :
Tetap ciri kelamin sekunder yang selalu terlihat setiap saat
Sementara ciri kelamin sekunder yang hanya terlihat pada waktu
tertentu biasanya sesaat sebelum memijah hingga sesaat setelah memijah.

I.2 Maksud dan Tujuan Praktikum


a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi individu jantan dan betina berdasar ciri
morfologi.
b. Mahasiswa dapat mengamati ciri kelamin sekunder pada ikan yang
diamati.
II. METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat


Waktu : Kamis, 7 September 2017
Tempat : Laboratorium Pakan PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi.

2.2 Alat dan Bahan


- Ikan hias dan konsumsi
- Aquarium berisi air
- Aerator
- Alat tulis

2.3 Prosedur Kerja


1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Memasukkan ikan dalam aquarium dan diberi aerator
3. Mengamati ciri kelamin sekunder yang tampak (morfologi dan warna)
4. Mengambil gambar ikan yang diamati
5. Mencatat ciri yang diamati dan menuliskannya pada laporan
III. PEMBAHASAN

1. Ikan Molly (Poecilia sp.)


Klasifikasi ikan Molly menurut Saanin (1994) dalam Gusto (2009) adalah
sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Subkelas : Ostheichthyes
Ordo : Cyrinodontoidei
Famili : Poecilidae
Genus : Poecilia
Species : Poecilia Sp.
Ikan molly jantan mempunyai daya pertumbuhan yang lebih lambat
dibandingkan dengan ikan molly betina. Ikan molly jantan dan betina pada usia
yang sama memiliki perbedaan yakni tubuh si penjantan lebih pendek. Namun
pertumbuhan sirip ikan jantan jauh lebih cepat sehingga ukuran sirip-siripnya
lebih panjang dan lebih lebar dari pada ikan molly betina. Ikan molly jantan juga
mempunyai tubuh yang ramping, pergerakan yang lebih gesit, dan warna tubuh
yang lebih cerah. Bagian belakang sirip perut ikan moly jantan terdapat
gonopodium yang berbentuk seperti tonjolan. Gonopodium ini merupakan
perubahan sirip anal yang berubah menjadi sirip yang panjang. Gonopodium
merupakan alat bantu pemijahan pada ikan molly (Bayu, 2008). Ikan molly betina
memiliki postur tubuh yang lebih gemuk. Bentuk perutnya buncit dengan ukuran
sirip yang sedang/normal. Alat kelamin ikan balon betina berbentuk lubang serta
tidak mempunyai gonopodium. Mayoritas ikan betina ini memiliki warna tubuh
yang kurang dan terkadang kusam. Yang membedakan ialah bentuk kepalanya
agak runcing ke depan.
Perbedaan ikan moly jantan dan betina berdasarkan pengamatan
Ikan molly jantan :
Mempunyai gonopodium (berupa tonjolan dibelakang sirip perut) yang
merupakan modifikasi sirip anal yang panjang reproduksi tetap.
Tubuhnya ramping .
Warnanya lebih cerah dan pekat.
Sirip punggung lebih panjang.
Kepalanya agak besar
Ikan molly betina:
Dibelakang sirip perut tidak ada gonopodium, tetapi berupa sirip halus
reproduksi tetap
Tubuhnya gemuk
Warnanya kurang cerah dan cenderung kusam
Sirip punggung tidak meliki corak
Abdomennya lebih besar
Memiliki ekor yang lebih lebar

Gambar 1. Perbedaan jantan dan betina ikan Molly

2. Ikan Sumatra
Klasifikasi ikan sumatra menurut Sally (1997) dalam Atom (2009) adalah
sebagai berikut :
Fillum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Subkelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Puntius
Spesies : Puntius tetrazona
Morfologi Ikan Sumatra yang berukuran kecil, dengan panjang total
(beserta ekor) mencapai 70 mm. Tubuh berwarna kekuningan dengan empat pita
tegak berwarna gelap, pita yang pertama melewati mata dan yang terakhir pada
pangkal ekor. Gurat sisi tak sempurna, 22-25 buah dengan hanya 8-9 sisik
terdepan yang berpori. Batang ekor dikelilingi 12 sisik. Tinggi tubuh sekitar
setengah kali panjang standar (tanpa ekor). Sekitar mulutnya, sirip perut dan ekor
berwarna kemerahan. Sirip punggung dan sirip dubur berwarna hitam, namun
warna hitam pada sirip punggung dibatasi oleh garis merah (Atom, 2009).
Perbedaan ikan sumatra jantan dan betina berdasarkan pengamatan
Ikan Sumatra Jantan
Memiliki warna mulut orange kemerahan ciri kelamin sementara
Tubuhnya ramping
Memiliki warna tubuh yang lebih cerah dan mencolok
Ikan Sumatra betina
Tidak memiliki warna mulut orange kemerahan
Memiliki abdomen yang lebih besar ciri kelamin tetap
Abdomen akan terasa lembek apabila disentuh ciri kelamin sementara

Gambar 2. Perbedaan jantan dan betina ikan Sumatra


3. Ikan Nila
Klasifikasi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) menurut (Santoso, 1996)
adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Osteichtes
Ordo : Percomorphii
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus
Ikan nila mempunyai nilai bentuk tubuh yang pipih kea rah vertical (kompres),
Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis yang vertical dan pada sirip punggungnya garis
terlihat condong lekuknya. Pada bagian sirip caudal/ ekor yang berbentuk membulat
warna merah dan biasa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Sisik ikan nila
adalah tipe scenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari darsal yang keras, begitupun
bagian awalnya. Dengan posisi siap awal dibagian belakang sirip dada (abdormal).
(Pratama, 2009)

Gambar 3. Perbedaan jantan dan betina ikan nila


Bedasarkan pengamatan yang telah dilakukan mendapat data ciri sekunder
ikan nila jantan yakni;
Kepala cembung
Mulut menjorok ke depan
Warna lebih gelap
Jika dilihat dari atas, sirip putus-putus
Sirip nampak kemerahan
Hal ini didukung dengan pernyataan Permadi (2009) bahwa ikan nila jantan
memiliki ciri sekunder yakni;
Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas.
Warna lebih gelap/kehitam-hitaman.
Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan
Bentuk kepala lebih menonjol
Sedangkan ikan Nila Betina bedasarkan pengamatan yang telah dilakukan
mendapat data ciri sekunder ikan nila jantan yakni;
Kepala landai
Warna cerah
Perut nampak lebih besar ciri kelamin sementara
Bentuk tubuh ramping
Hal ini didukung oleh pernyataan Permadi (2009) bahwa ikan nila jantan
memiliki ciri sekunder yakni;
Bentuk badan bulat pipih, dan memanjang.
Bagian perut berwarna putih dan dagu bewarna putih.
Warna tubuh cendrung lebih tranparan dibandingkan dengan jantan.

4. Ikan Mas Koki


Klasifikasi Ikan Mas Koki (Carassius auratus) menurut Lingga dan
Susanto dalam Chui et al. (2009)adalah sebagai berikut:
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Sub kelas : Teleostei
Ordo : Ostariphisysoidei
Sub ordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Carassius
Spesies : Carassius auratus
Bentuk tubuh ikan mas koki agak memanjang dan pipih tegak
(compressed) dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat
disembulkan (protaktil). Bagian ujung mulut memiliki dua pasang sungut. Di
ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan yang tersusun dari tiga baris. Gigi
geraham secara umum, hampir seluruh tubuh ikan mas koki ditutupi oleh sisik
yang berukuran relatif kecil.
Sirip punggung (dorsal) memanjang dan bagian belakangnya berjari
tulang keras. Sementara itu, sirip ketiga dan keempatnya bergerigi. Letak sirip
punggung berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral). Sirip dubur
(anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yakni berjari tulang keras dan
bergerigi dan seluruh bagian siripnya berbentuk rumbai-rumbai atau panjang.
Garis rusuk atau gurat sisi (linnea lateralis) pada ikan mas koki tergolong
lengkap, berada dipertengahan tubuh dengan posisi melentang dari tutup insang
sampai ke ujung belakang pangkal ekor.
Ciri Sekunder Ikan Mas Koki Jantan dan Betina
Gambar 4. Perbedaan Jantan dan Betina Ikan Mas Koki
Bedasarkan pengamatan yang telah dilakukan mendapat data ciri sekunder
ikan mas koki jantan yakni;
Terdapat warna putih pada bagian sirip pectoral
Tubuh lebih ramping
Sirip kasar
Perutnya labih ramping
Hal ini didukung dengan pernyataan Taufik, (2012) bahwa ikan mas koki
jantan memiliki ciri sekunder yakni;
Dilihat dari atas perutnya lebih ramping / langsing
Bila sudah cukup umur, pada saat birahi / musim kawin muncul titik 2 putih
pada kedua tutup insang dan kedua sirip depannya
Dilihat dari samping anusnya rata
Sedangkan ikan mas koki betina menurut pengamatan yang telah dilakukan
mendapat data ciri sekunder ikan mas koki betina yakni;
Ukuran perut lebih besar ciri kelamin sementara
Tidak muncul warna putih pada kedua sirip depannya
Hal ini didukung dengan pernyataan Taufik, (2012) bahwa ikan mas koki betina
memiliki ciri sekunder;
Dilihat dari atas nampak perut lebih besar
Tidak muncul bintik putuh pada kedua sirip
Lebih pasif

5. Ikan Bawal
Klasifikasi ikan Bawal menurut Amri (2008) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas :Pisces
Ordo :Cypriniformes
Famili :Characidae
Genus :Colossoma
Spesies :Colossoma Sp.
Perbedaan jenis kelamin pada ikan bawal lebih mudah diketahui pada saat
bawal sudah dewasa (Amri, 2008). Ikan bawal betina memiliki bentuk tubuh lebih
gemuk dengan warna tubuh yang tidak terlalu menyala. Sedangkan ikan bawal
jantan bentuk tubuhnya lebih ramping dengan warna agak gelap, bagian bawah
ikan bawal jantan berwarna merah menyala. Selain itu, ikan bawal yang sudah
dewasa operculumnya terasa kasar. Ciri sekunder jantan dan betina berdasarkan
pengamatan ikan bawal
Ikan bawal jantan
Memiliki ukuran lebih kecil ciri sekunder tetap
Bagian abdomen lebih merah
Memiliki ukuran tubuh yang ramping
Ikan bawal betina
Memiliki ukuran tubuh lebih besar dan gembung ciri sekunder tetap
Bagian abdomen lebih hitam ciri sekunder sementara
Memiliki abdomen lebih besar

6. Ikan Black Tetra


Klasifikasi black tetra menurut ( Boulenger, 1895 ) adalah sebagai berikut
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Order : Characiformes
Family : Characidae
Genus : Gymnocorymbus
Species : G. ternetzi
Badannya agak panjang dengan potongan pipih ke samping (compressed).
Punggung berwarna hijau zaitun, sedangkan perutnya berwarna putih keperakan.
Pada sisi badannya terdapat 3 garis/band 3 buah berwarna hitam. Pada seluruh
atas badannya berwarna hitam, sedangkan separuhnya lagi berwarna putih. Sirip
punggung, anal, adipose berwarna hitam, sedangkan sirip dada, perut, ekor,
berwarna putih, jernih. Ikan tetra jantan mempunyai tubuh yang lebih langsing
dibanding pasangannya. Sedangkan, betina sebaliknya, Montok dengan bentuk
badan yang kelihatan lebih pendek. Memilih indukan ikan hias black tetra yang
baik minimla berukuran 3,75 cm. Jika memilih induk dari sekumpulan black tetra,
sebaiknya masing-masing dipisahkan dulu ( menurut jenis kelamin ) sebelum
dimasukkan ke tempat pemijahan sebelumnya.

Gambar 5. Indukan Ikan Black Tetra


7. Ikan Cupang
Klasifikasi ikan cupang menurut Setyani dan Deden (2009)
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Oesteochytes
Ordo : Perciformes
Family : Anabantidae
Genus : Betta
Spesies : Betta Sp.
Ikan cupang memiliki bentuk yang sangat langsing atau ramping, memiliki
panjang hingga 6 7 cm dan juga memiliki warna dasar kuning hingga sawo
matang. Ikan ini memiliki sisik yang sangat halus, dan mengkilap. Sisik ikan ini
memiliki bentuk persegi dengan ukuran 0,2 0,3 mm bahkan lebih kecil
tergantung dengan ukuran tubuh dan varietesnya. Ikan cupang ini memiliki warna
yang sangat bervariasi dan juga bergam mulai dari warna merah pekat, kuning
pekat hingga kebiruan, dan lainnya (Setyani dan deden, 2009). Perbedaan ikan
cupang jantan dan betina berdasarkan praktikum
Ikan cupang jantan :
Memiliki tubuh langsing
Gerakan sangat lincah / agresif
Ekor ( caudal fin ) dan sirip (ventral fin) lebar dan panjang
Warna lebih cerah dan menarik dari pada betina ciri sekunder tetap
Ikan cupang betina :
Bertubuh gempal (padat, tidak panjang)
Gerakan lebih lambat (tidak agresif)
Ekor (caudal fin) dan sirip (ventral fin)
Warna kurang menarik
Ada titik putih di perut ciri sekunder tetap

Gambar 6. Ikan Cupang Betina Gambar 7. Ikan Cupang Jantan

8. Ikan Platy
Klasifikasi ikan platy menurut Lingga dan Heru (2003) adalah sebagai
berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cyprinodontiformes
Famili : Poeciliidae
Genus : Xiphophorus
Spesies : Xiphophorus Sp.
Ukuran maksimum dari ikan Platy yaitu mencapai 5cm. Ikan ini memiliki
sifat yang ramah dan tidak agresif, oleh karena itu sangat cocok digunakan
sebagai ikan hias pada aquascaping ikan platy dapat hidup pada pH 7,0 8,0 pada
suhu 20 26 C. Pada dasarnya, ikan platy memiliki beberapa perbedaan ciri
kelamin antara jantan dan betina. Yang pertama adalah ciri primer. Ciri primer dari
ikan platy jantan adalah ikan platy yang memiliki gonopodium yang terletak
didekat sirip analnya, sedangkan ikan platy betina tidak memiliki gonopodium.
Ciri sekunder pada ikan platy jantan yaitu ukurannya lebih kecil dari pada betina.
Selain itu warna ikan platy jantan warnanya lebih mencolok dari pada betina
(Lingga dan Heru, 2003).

Gambar 8. Perbedaan Jantan dan Betina Ikan Platy

9. Ikan Gappy
Klasifikasi ikan gapi menurut Nelson (1984) :
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Cyprinodonoidi
Sub Ordo : Poecilioidei
Family : Poecilidae
Genus : Poecilia
Spesies : Poecilia reticulata
Ikan gapi merupakan ikan yang bersifat ovovivipar yaitu ikan yang
bertelur dan melahirkan. Selama di dalam perut induknya, embrio mendapat
makanan bukan langsung dari induknya melainkan dari kuning telur. Ikan gapi
memiliki gonad yang cepat berkembang yaitu 3 minggu setelah larva lahir
gonopodium pada jantan telah berkembang , karena itu ikan gapi dikenal sebagai
ikan yang berkembang biak cepat. Dalam satu kali perkawinan, seekor ikan gapi
melahirkan secara parsial sampai 3 kali dengan interval waktu 1 bulan. (Utomo,
2008)
Perbedaan antara ikan gapi jantan dan ikan betina telihat dari ciri-ciri
morfologisnya. Ikan gapi jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil
dibandingkan ikan betina, ikan gapi jantan memiliki ekor lebih lebar dan warna
ekor yang lebih cemerlang dibandingkan betina. Pada ikan gapi jantan, sirip anal
mengalami modifikasi menjadi gonopodium. Ikan gapi pada habitat alami untuk
ikan betina dapat mencapai ukuran maksimal 7cm, lebih panjang dari jantan yang
panjangnya kurang dari 4 cm. (Panjaitan, 2016).

Gambar 9. Perbedaan Jantan dan Betina ikan Guppy


10. Ikan Komet
Kedudukan ikan komet di dalam sistematika (Lingga dan Susanto, 2003)
adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Sub kelas : Teleostei
Ordo : Ostariphisysoidei
Sub ordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Carassius
Spesies : Carassius auratus
Ikan komet (Carassius auratus auratus) merupakan salah satu jenis ikan
mas hias, ciri yang membedakan dengan ikan mas hias lainnya adalah caudal fin
atau sirip ekornya lebih panjang dan percabangan di sirip ekornya sangat terlihat
jelas, tidak seperti ikan mas biasa yang percabangan di sirip ekornya tidak begitu
terlihat jelas. Selain itu, ikan komet mempunyai warna oranye yang mencolok
sehingga sangat menarik untuk menjadi ikan hias di dalam ruangan ataupun di
luar ruangan.
Ikan komet memiliki badan yang memanjang dan ramping sehingga di
dalam akuarium ataupun di kolam, ikan ini selalu aktif berenang ke segala
penjuru. Panjang tubuh ikan komet bisa mencapai sekitar 35 cm dari ujung kepala
sampai ujung ekor.
Adapun ciri ikan komet jantan dan ikan komet betina adalah sebagai
berikut:
- Ciri induk jantan yaitu terdapatnya bintik-bintik bulat menonjol pada sirip dada
dan jika diraba terasa kasar, pada induk yang telah matang gonad jika diurut
perlahan dari perut ke arah lubang genital akan keluar cairan berwarna putih.
- Ciri induk betina yaitu terdapat bintik-bintik pada sirip dada namun terasa halus
jika diraba, jika diurut perlahan dari perut ke arah lubang genital akan keluar
cairan kuning bening, dan pada induk yang telah matang perutnya terasa lembek
juga lubang genital berwarna kemerah merahan.
IV. PENUTUP

4.1 Simpulan
Jenis Kelamin pada ikan bisa dibedakan melalui ciri kelamin pimer
maupun ciri kelamin sekunder. Ciri kelamin primer adalah ciri ciri yang
berhubungan langsung dengan reproduksi sedangkan cii kelamin sekunder adalah
ciri yang tidak berhubungan langsung dengan reproduksi. Ciri ciri kelamin ini
bersifat spesifik dalam arti pada setiap jenis ikan ciri cirinya berbeda dan tidak
bisa samakan.
DAFTAR PUSTAKA

Amri. 2008. Budidaya Ikan Bawal Air Tawar. Agro Media Pustaka. Jakarta

Atom. 2009. Budidaya Ikan Sumatra yang Menguntungkan. Jakarta: Penebar


Swadaya.

Bachtiar. 2005. Panduan Lengkap Budidaya Ikan. Agro Media Pustaka. Jakarta

Bayu S.,2008.,Pembenihan Ikan Black Molly.,Universitas Pajajaran.,Semarang

Gusto T.,2009.,Budidaya Ikan Molly Black Gold Dalam Aquarium


Terkontrol.,Universitas

Lingga, D., dan Heru, S,. 2003. Ikan Hias Air Tawar Edisi Revisi. Penebar
Swadaya : Depok

Panjaitan, Y. K. 2016. Struktur Populasi Ikan Guppy (Poecilia reticulata Peters) Di


Sungai Gajah Putih Surakarta Guppy Fish (Poecilia reticulata Peters)
Population Structure In Gajah Putih River Surakarta. Skripsi. Fakultas
Biologi Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga.

Permadi,2009. Teknologi Reproduksi (Spawning) dalam Pembenihan Ikan Nila.


Institut Teknologi Bandung. Bandung

Pratama, 2009. Morfologi Ikan Nila. Airlangga. Jakarta

Saanin. H., 1994., Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan., Bina Cipta., Bandung.

Santoso. Budi 1996. Budidaya Ikan Nila. Kasinius: Yogyakarta

Setyani, L, D., dan Deden, D. 2009. Panduan Lengkap Ikan Hias Air Tawar
Populer. Peneber Swadaya : Depok

Taufik,2012. Ciri Kelamin Ikan Mas Koki (Carassius auratus). Institut Pertanian
Bogor. Bogor

Utomo, B. 2008. Efektivitas Penggunaan Aromatase Inhibitor Dan Madu


Terhadap Nisbah Kelamin Ikan Gapi ( Poecilia Reticulata Peters ).
Skripsi. Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB. Bogor.