Anda di halaman 1dari 36

Asiten : Imelda Sofia L.

Gultom
Hari/ Sesi/ Kelompok
7 : Jumat/II/6

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN

SEKSUALITAS IKAN, TINGKAT KEMATANGAN GONAD,

FEKUNDITAS DAN DIAMETER TELUR

OLEH

MAYA FITRI ZULY

1504115214

TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN

LAPORAN BIOLOGI PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS RIAU

PEKANBARU

2016
i

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya,

sehingga laporan praktikum biologi perikanan yang berjudul “Seksualitas Ikan,

Tingkat Kematangan Gonad serta Fekunditas dan Diameter Telur” ini dapat

diselesaikan tepat pada waktunya.

Laporan ini disusun berdasarkan praktikum yang telah dilakukan secara

langsung terhadap 24 ekor spesies ikan Tambakan (Helostoma temmincki) pada

hari Jumat, 4 November 2016 di Laboratorium Biologi Perairan, Fakultas

Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau.

Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada para dosen yang telah

memberikan ilmu pengetahuan yang menjadi acuan dalam pembuatan laporan ini

serta kepada para assisten praktikum biologi perikanan yang telah memberikan

arahan ketika melakukan praktikum tersebut.

Tidak ada gading yang tak retak oleh karena itu penulis menyadari bahwa

laporan praktikum ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis

mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi

kesempurnaan dalam penulisan untuk masa akan datang. Semoga laporan ini

bermanfaat dan berguna.

Pekanbaru, November 2016

Maya Fitri Zuly


ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iii

DAFTAR TABEL .................................................................................................. iv

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... v

BAB 1. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

1.1.Latar belakang ............................................................................................... 1

1.2 Tujuan ............................................................................................................ 2

1.3 Manfaat .......................................................................................................... 2

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 3

BAB 3. BAHAN DAN METODE ........................................................................ 12

3.1. Waktu dan Tempat ..................................................................................... 12

3.2. Bahan dan Alat ........................................................................................... 12

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................ 14

4.1 Hasil............................................................................................................. 14

4.2 Pembahasan ................................................................................................. 17

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 22

5.1. Kesimpulan ................................................................................................. 22

5.2. Saran ........................................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Morfologi ikan tambakan (Helostoma temminckii).............................20


iv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pengukuran morfometrik, dan TKG pada ikan tambakan.......................22

Tabel 2. Perhitungan Fekunditas............................................................................22

Tabel 3. Ukuran Diameter Telur dari Keenam Bagian Ovary Ikan.......................23


v

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Alat, bahan yang digunakan.............................................................27

Lampiran 2. Pengukuran morfometrik, dan TKG pada ikan tambakan.................28

Lampiran 3. Perhitungan Fekunditas.....................................................................30

Lampiran 4. Ukuran Diameter Telur dari Keenam Bagian Ovary Ikan.................30


1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Pemeriksaan jenis kelamin dalam budidaya sangatlah penting. Karena hal

tersebut menentukan dalam proses-proses selanjutnya dalam kegiatan budidaya,

termasuk dalam merekayasa untuk mendapatkan produksi ikan yang maksimum.

Selain itu, identifikasi dan pembedaan jenis kelamin ini dapat digunakan untuk

menguji hasil ginogenesis dan androgenesis.

Studi mengenai jenis kelamin dari suatu spesies yang memiliki banyak

strain merupakan suatu hal yang sangat menarik dan penting untuk dilakukan

terutama bagi orang-orang yang menekuni bidang budidaya perikanan dan

melakukan penelitian di bidang Biologi Perikanan. Hal ini karena setiap individu

dari setiap spesies ikan memiliki ciri – ciri khusus sebagai penentu apakah indi-

vidu ikan itu berjenis kelamin jantan atau betina. Penampakan ciri – ciri seksual

ini pada beberapa spesies ikan baru nyata terlihat apabila individu ikan mengalami

kematangan gonad (kelamin), akan tetapi pada beberapa spesies ikan lainnya ciri–

ciri seksual itu dapat terlihat dengan jelas walaupun individu ikan tersebut belum

matang gonad ataupun sudah selesai memijah karena dapat terlihat pada ciri – ciri

morfologi pada permukaan tubuhnya.

Oleh karena itu sangat diperlukan pengetahuan tentang tingkat kematangan

gonad dari setiap individu ikan sehingga membantu mereka yang berkecimpung di

bidang budidaya perikanan dan biologi perikanan untuk menghitung jumlah ikan

dewasa yang siap bereproduksi dan memijah, kapan mereka akan memijah dan

bertelur serta kapan dan berapa telur yang akan dibuahi dan menetas serta
2

perbandingan antara ikan yang belum matang gonad dengan yang sudah matang,

ikan yang belum dewasa dengan yang sudah dewasa dan ikan yang belum

bereproduksi dengan yang sudah (Pulungan, 2006).

1.2 Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah untuk mengenal ikan yang dewasa, siap

bereproduksi dan memijah serta tingkat kematangan gonad dan untuk mengenal

secara jelas jenis kelamin ikan yang diamati, baik diamati dengan ciri seksual

primer maupun ciri seksual sekunder, untuk mengetahui fekunditas suatu individu

ikan betina dan menghitung diameter telur ovari suatu individu ikan yaitu pada

bagian anterior, tengah dan posterior ovari kiri dan kanan sehingga pada

praktikum ini para praktikan mampu untuk mengenali setiap jenis kelamin ikan

baik itu jantan, betina ataupun hermaprodit, selain itu untuk mengetahui jumlah

telur dari seekor hewan uji, mengetahui ukuran telur terhadap perkembangan

individu menjelang pemijahan dan untuk menduga atau studi dalam menduga

produktivitas dalam potensi produksi dari kelompok ikan.

1.3 Manfaat

Adapun manfaat dari praktikum ini adalah untuk mengetahui bagaimana

dan apa saja organ-organ yang digunakan dalam sistem reproduksi seperti testes

dan ovari, mengetahui apakah ikan tersebut berkelamin jantan atau betina,

mengetahui fekunditas suatu individu ikan betina dan mengetahui cara

menghitung diameter telur ovari suatu individu ikan yang terdapat pada bagian

anterior, tengah dan posterior ovari kiri dan kanan. Dan dapat memberikan

informasi lebih lanjut terhadap ilmu pengetahuan yang ada.


3

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Seksualitas ikan dapat ditentukan dengan mengamati ciri-ciri seksual

skunder dan seksual primer. Pengamatan seksual primer harus dengan

pembelahan diperut ikan. Sedangkan seksual skunder dengan memperhatikan ciri-

ciri morfologi yaitu bentuk tubuh, organ pelengkap dan warna (Andea,2005).

Pada prinsipnya seksualitas hewan terdiri dari dua jenis makanan yaitu

jenis jantan dan betina,suatu populasi terdiri ikan-ikan yang berbeda

seksualitasnya,maka populasi tersebut populasi homoseksua. Bila populasi

tersebut terdiri darii kan-ikan betina saja maka disebut monoseksual, namun

penentuan seksualitas ikan disuatu perairan harus berkali-kali karena keseluruhan

terdapat macam-macam seksualitas ikan mulai dari hermaprodit

sinkroni,protogini, hingga gonokharismayang berdeferebsiasi maupun yang tidak

(Wahyuningsih, 2006)

Sebagian besar spesies ikan adalah gonokristik dimana sepanjang

hidupnya memiliki jenis kelamin yang sama. Selama gonokristik juga dikenal dua

jenis gonad. Bila kedua jenis gonad berkembang secara serentak dan maupun

berfungsi, keduanya dapat matang bersamaan atau bergantian, maka jenis

hermaprodit ini disebut hermaprodit sinkroni. Hemaprodit protandri bila pada

awalnya ikan-ikan tersebut berkelamin jantan namun semakin tua akan berubah

kelamin menjadi betina. (Fujaya, 2004).

Sifat seksualitas primer dan sekunder adalah sifat seksual primer pada ikan

ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses

reproduksi, yakni ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina dan testes dengan
4

pembuluhnya pada ikan jantan. Tanpa melihat tanda-tanda lain pada ikan akan

sukar mengetahui organ seksual primernya. Sifat seksual sekunder pada ikan

adalah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan

ikan betina. (Fujaya, 2004).

Sifat seksualitas terbagi menjadi 2 yaitu sifat Seksualitas Primer dan

seksualitas sekunder. Seksualitas Primer pada ikan ditandai dengan adanya organ

yang berhubungan secara langsung dengan proses reproduksi yaitu ovarium dan

pembuluhnya pada ikan betina dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan.

Sedangkan sifat Seksualitas Sekunder adalah tanda-tanda luar yang dapat dipakai

untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina dengan jelas, maka spesies itu

bersifat seksual di morfisme. Namun apabila ada satu spesies ikan dibedakan

jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna, maka ikan itu bersifat seksual

dikromatisme. Pada umumnya ikan jantan mempunyai warna yang lebih cerah

dan lebih menarik dari pada ikan betina. (Wahyuningsih, 2006).

Sifat seksual sekunder adalah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk

membedakan ikan jantan dan ikan betina. Satu spesies ikan yang mempunyai sifat

morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina dengan jelas,

maka spesies itu bersifat seksual dimorfisme. Namun apabila spesies ikan

dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna, maka ikan itu

bersifat seksual dikromatisme. Pada umumnya ikan jantan mempunyai warna

lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina. (Pulungan, 2006).

Tanda-tanda kelamin sekunder ada dua macam, yang pertama tidak ada

hubungan dengan alat kelamin primer, sedang yang kedua alat kelamin tersebut

merupakan sambungan (Accessora) sebagai alat perkembangbiakan. Tanda-tanda


5

jenis kelamin yang sekunder pada beberapa jenis ikan laut yang hidup menetap

misalnya pada ikan susu (Kurtusindirus) yang menampakkan perubahan pada

masa dewasa. Pada ikan jantan pada jidatnya tumbuh kait tempat menempelkan

telur ikan betina (Asep, 2006).

Ikan jantan mempunyai kelenjar yang berwarna putih yang permukaan

licin, berisi sel-sel kelamin jantan (sperma) dan saluran pelepasan disebut

vasdeferens. Saluran ini bertemu dan bersatu dengan saluran kencing. Sedangkan

pada ikan betina kelenjar kelaminnya mempunyai permukaan kasar, berbintik

bintik, berisi sel telur dan saluran pelepasan disebut dengan oviduct (Pulungan,

2006).

Ovari ikan telestoi berstruktur sepasang, menempel pada kedua dinding

tubuh bagian punggung oleh suatu mesovarium telur. Seluruh struktur diliputi

selaput peritoneum tipis dan bentuk memanjang. (Asep, 2006).

Pematangan sel telur dapat dilakukan dengan member rangsangan

hormonal yang sesuai akan menyebabkan bertambahnya diameter telur oosit

karena penyerapan cairan lumen dan selanjutnya terjadi ovulasi. (Asep, 2006).

Penanganan induk yang salah dapat menyebabkan telur yang sudah

matang menjadi hancur (diserap kembali dalam perut ikan). Dalam hal ini

manipulasi hormonal perlu dilakukan. Jumlah telur yang dihasilkan oleh setiap

jenis ikan tergantung kualitas induk dan penanganan (Pulungan, 2006).

2.2 Tingkat Kematangan Gonad

Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsi menghasilkan sel kelamin

(gamet). Gonad yang terdapat pada tubuh ikan jantan tersebut disebut testes yang
6

berfungsi menghasilkan spermatozoa, sedangkan yang terdapat pada individu ikan

betina disebut ovari berfungsi menghasilkan telur. (Pulungan et. al, 2006).

Akibat adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan, maka ikan-ikan muda

yang berasal dari telur yang menetas pada waktu yang bersamaam akan mencapai

tingkat kematangan gonad pada umur yang berlainan. Ukuran ikan jika pertama

kali matang gonad tidak selalu sama, disebabkan antara lain oleh suhu air dan dan

ketersediaan pakan (Pulungan et. al, 2006).

Produksi artinya memperbanyak diri atau berkembang biak pada hewan

airbdiketahui dan pproses fundamental reproduksi yaitu reproduksi asseksual

misalnya dengan pembelahan dam memproduksi seksual dengan membentuk sel-

sel gamet yakni sperma dan, reproduksi adalah kemampuan individu untuk

menghasilkan keturunan sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau gamet

jantandan betina. Penyatuan gamet jantan dan betina akan membuat zigot yang

selanjutnya berkembang menjadi generasi baru (Fujaya, 2004).

Faktor internal dalam diri ikan jenis ikan, heriditas, fsiologik, faktor

eksternal (lingkungan), makanan, lama penyinaran suhu dan naiknya permukaan

air pada musim penghujan. (Pulungan et. al, 2006).

Faktor yang mempengaruhi tingkat kematangan gonad diketahui sistem

endokrin memiliki pesan yang penting dalam koagulasi pembentukan ganet pada

prosabarnch. Dipercaya bahwa suhu,kualitas air, lama penyinaran, ombak,

tekanan dari ombak, tekanan tempratur udara, salinitas, suplay makanan dan

nutrisi adalah faktor yang mempengaruhi pembentukan gonad dan siklus

breeding. (Fujaya, 2004).


7

Penelusuran ukuran telur masak dalam komposisi ukuran telur secara

keseluruhan dapat menuntun kepada pandangan pada memijah ikan tersebut.

Tanda utama untuk membedakan kematangan gonad berdasarkan berat gonad.

Secara alamiah halini berhubungan deengan ukuran dan berat tubuh ikan

keseluruhan atau tanpa berat gonad. Perbandingan antara berat gonad deengan

berat tubuh (Efendi, 2002)

Tingkat kematangan gonad merupakan bentuk analisis proses kematangan

gonad ikan yang semakin matang sebelum terjadi pembuahan. Dalam reproduksi,

sebagian hasil metabolisme tertuju pada perkembangan gonad. Berat gonad

semakin bertambah dan mencapai maksimum ketika ikan akan memijah,

kemudian beratnya menurun setelah pemijahan. Kondisi gonad ini dapat

dinyatakan sebagai berat gonad dibagi berat tubuh ikan (termasuk gonad)

dikalikan 100%. Proses reproduksi sebagian besar merupakan hasil metabolisme

yang tertuju pada perkembangan gonad. Berat gonad semakin bertambah dan

mencapai maksimal ketika ikan itu kan berpijah, kemudian berat ikannya

menurun setelah pemijahan (Efendi, 2002)

Pengamatan tentang tahap tahap kematangan gonad ikan dapat dilakukan

secara morphologi dan histologi. Pengamatan secara histologi dapat dilakukan di

lapangan dan di laboratorium, sedangkan pengamatan secara histologi hanya

dapat dilakukan di dalam laboratorium. Pengamat secara histologi sangat

memerlukan peralatan canggih dan teliti dan memerlukan pendanaan yang cukup

(Rustidja, 2001).

Pengelompokan tingkat kematangan gonad (TKG) dapat dilakukan secara

visual, tanpa mematikan hewannya,yaitu dengan melihat perbandingan volume


8

visual gonad bulk ripe (>50 %). Namun, bila hanya dilihat dari ukuran gonad atau

VGB (tanpa pembedahan),sangat susah untuk membedakan antara recovery

dengan partly spawned atau spent pada TKG yang terakhir,gonad bersifat lembek

dan berwarna pucat (Fujaya, 2004).

Dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan

cara morfologi ialah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan

isi gonad yang dapat dilihat. Perkembangan gonad ikan betina lebih banyak

diperhatikan dari pada ikan jantan karena perkembangan diameter telur yang

terdapat dalam gonad lebih mudah dilihat dari pada sperma yang terdapat di

dalam testes (Effendie, 2002).

Gonad pada ikan akan mengalami perkembangan seiring dengan

perkembangan organ reproduksi ikan tersebut. Perkembangan gonad ikan dapat

menjadi acuan untuk mengetahui kapan ikan akan memijah, lama waktu

pemijahan dan frekuensi pemijahan pada ikan selain itu dapat juga diketahui

kemungkinan populasi ikan yang akan hidup di perairan (Andea,2005)

Ovari ikan telestoi berstruktur sepasang, menempel pada kedua dinding

tubuh bagian punggung oleh suatu mesovarium telur. Seluruh struktur diliputi

selaput peritoneum tipis dan bentuk memanjang. Pengukuran indeks kematangan

gonad dihitung dengan cara membandingkan berat gonad terhadap berat tubuh

ikan. (Fujaya, 2004).

Gonado Somatik Indeks tinggi akan menunjukkan tingkat perkembangan gonad,

sedangkan nilai Gonad Somatik Indeks rendah dapat menunjukkan baik

kedewasaan atau gonad dikeluarkan atau dengan kata lain gonad sudah

dikeluarkan. (Efendi, 2002).


9

Cara yang umum digunakan ialah metode pengamatan visual derdasarkan

ukuran dan penampakan gonad, sebagai catatan metode ini bersifat subyektif.

Indikator pembagian tahapan kematangan gonad dengan cara visual ialah ukuran

gonad dalam menempati rongga badan (kecil ¼ bagian, ½ bagian, 3/4bagian) ,

berat gonad segar (ditimbang), penampakan, warna gonad, penampakan butiran

telur (ovarium) untuk ikan betina, ada tidaknya pembuluh darah. (Ridwan et al,

2009).

2.3 Fekunditas dan Diameter Telur

Fekunditas adalah jumlah telur yang terdapat pada ovary ikan betina yang

telah matang gonad dan siap untuk dikeluarkan pada saat memijah,. Pengetahuan

tentang fekunditas dibidang budidaya perikanan sangatlah penting artinya untuk

memprediksi berapa banyak jumlah larva tau benih yang akan dihasilkan oleh

individu ikan pada waktu mijah sedangkan dibidang biologi perikanan untuk

memprediksi berapa jumlah stok suatu populasi ikan dalam lingkungan perairan

(Andea,2005).

Banyak telur yang belum dikeluarkan sesaat sebelum ikan memijah atau

biasa disebut dengan fekunditas memiliki nilai yang bervariasi sesuai dengan

spesies. Jumlah telur yang dihasilkan merupakan hasil dari pemijahan yang

tingkat kelangsungan hidupnya dialam sampai menetas dan ukuran dewasa sangat

ditentukan oleh faktor lingkungan. Dalam pendugaan stok ikan dapat diketahui

dengan tingkat fekunditasnya. Tingkat fekunditas ikan air laut biasanya relatif

lebih tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar. Telur yang dihasilkan memiliki

ukuran yang bervariasi . ukuran telur dapat dilihat dengan menghitung diameter

telur. Diameter telur merupakan garis tengah atau ukuran panjang dari suatu telur
10

dengan mikrometer yang berskala yang sudah ditera. Pengamatan fekunditas dan

diameter telur dilakukan pada ikan dengan TKG III dan IV (Asep,2006).

Ikan – ikan yang tua dan besar ukurannya mempunyai fekunditas relatif

lebih kecil, umumnya fekunditas relatif lebih tinggi dibanding dengan fekunditas

individu. Fekunditas relatif akan menjadi maksimum pada golongan ikan yang

masih muda (Wahyuningsih, 2006).

Dialam pemijahan (spawing) dipengatuhi oleh kondisi lingkungan

(eksternal) misalnya : hujan, hábitat, oksigen terlarut, daya hantar listrik, cahaya,

suhu, kimia, fisika air, waktu ( malam hari) dan lain-lain. Kondisi lingkungan ini

akan mempengaruhi control endokrin untuk menghasilkan hormon-hormon yang

mendukung proses perkembangan gonad dan pemijahan (Fujaya,2004).

Diameter telur adalah garis tengah atau ukuran panjang dai suatu telur

yang diukur dengan mikrometer berskala yang sudah ditera. Semakin meningkat

tingkat kematangan gonad garis tengah telur yang ada dalamovarium semakin

besar. Masa pemijahan setiap spesies ikan bebeda-beda, ada pemijahan yang

berlangsung singkat, tetapi banyak pula pemijahan dalam waktu yang panjang ada

pada ikan yang berlangsung beberapa hari. Semakin meningkat tingkat

kematangan, garis tengah telur yang ada dalam ovarium semakin besar pula

(Andea,2005)

Fekunditas secara langsung dapat memberi penaksiran jumlah anak ikan

yang akan dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam suatu kelas umur.

Fekunditas merupakan suatu subjek yang dapat menyesuaikan terhadap beberapa

macam kondisi terutama respon terhadap makanan (Effendie,2002)


11

Fekunditas adalah semua telur-telur yang akan dikeluarkan pada waktu

ikan melakukan pemijahan. Dengan mengetahui fekunditas dapat ditaksir jumlah

ikan yang akan dihasilkan dan juga dapat ditentukan jumlah ikan dalam kelas

umur tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi fekunditas anatara lain

perbandingan induk betina dan jantan. Faktor yang memegang peranan dalam

mortalitas, factor genetic serta respons terhadap makanan (Efendi, 2002)

Jumlah telur yang terdapat dalam ovarium ikan dinamakan fekunditas

individu. Dalam hal ini ia memperhitungkan telur yang ukurannya berlain-lainan.

Oleh karena itu dalam memperhitungkannya harus diikutsertakan semua ukuran

telur dan masing-masing harus mendapatkan kesempatan yang sama. Bila ada

telur yang jelas kelihatan ukurannya berlainan dalam daerah yang berlainan

dengan perlakuan yang sama harus dihitung terpisah (Wahyuningsih, 2006).

Kegiatan pemijahan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan

ikan dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup generasinya dari waktu

ke waktu. Spesies ikan yang terdapat di alam ini dikelompokkan menjadi ikan

ovipar, vivipar dan ovovivipar. Kelompok vivipar dan ovovivipar terkenal

dengan ikan yang melahirkan anaknya dan sebelum itu proses pertemuan antara

gamet jantan dan betina berlangsung didalam ovari ikan betina (Ridwan et al,

2009).
12

BAB 3. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilakukan pada tanggal 4 November 2016 pada pukul 10.30

WIB sampai selesai, di Laboratorium Biologi Perairan Fakultas Perikanan dan

Kelautan, Universitas Riau, Pekanbaru.

3.2. Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini ada 24 spesies

ikan Tambakan (Helostoma temminckii). Kesemuanya itu diamati masing masing

jenis kelaminnya, baik secara primer maupun secara sekunder.

Sedangkan alat yang digunakan yaitu nampan untuk meletakkan ikan

sampel, kain lap, pensil, pena, penghapus, penggaris yang panjangnya 30 cm,

jarum dan, gunting bedah/pisau, timbangan serta buku penuntun praktikum untuk

mempermudah dalam melakukan praktikum dan buku data sementara untuk

tempat menulis.

3.3. Metode Praktikum

Metode praktikum adalah metode survey dengan mengamati dan

mengenali langsung objek praktikum dengan mengikuti petunjuk yang terdapat di

dalam buku penuntun praktikum. Kemudian dilakukan pengukuran dan

pencatatan ciri-ciri meristik dan morfometrik dari setiap objek.

3.4. Prosedur Praktikum

3.4.1 Prosedur Seksualitas Ikan

Prosedur praktikum seksualitas ikan yang dilakukan adalah sebagai berikut

mengukur panjang total (TL), panjang baku (SL), panjang fork (FL), BdH, dan
13

HdL serta menggambarkan setiap individu ikan yang diamati. Lalu

megidentifikasi dan menimbang setiap ikan objek yang dipraktekkan. Lalu

memisahkan menurut jenis kelamin berdasarkan ciri seksual sekunder. Setelah itu,

membedah perut ikan dengan alat bedah secara abdominal, lalu diamati menurut

ciri seksual primer dan amati organ reproduksi apakah berbentuk testes atau ovari.

Hal yang perlu diamati untuk testes/ovari adalah bentuk testes/ovari,

ukuran testes/ovari (panjang), perbandingan panjang testes/ovari dengan panjang

rongga tubuh, dan warna testes/ovari. Setelah dibedah kemudian ditentukan tahap-

tahap perkembangan gonad menurut Nikolski dan Kesteven.

3.4.2 Prosedur Praktikum Kematangan Gonad

Gambar dan tulis klasifikasi ikan. Lalu menimbang berat ikan dan

mengukur morfometrik ikan (TL, SL, FL, HdL, BdH). Diamati ciri-ciri

seksualnya, kemudian menentukan jenis kelaminnya. Untuk memastikan jenis

kelamin, bedah ikan dan keluarkan gonadnya. Kemudian menentukan jenis

kelamin dari ikan tersebut serta gambarkan bentuk dari jenis kelamin tersebut

(ovari dan testes) dan menyatakan tingkat kematangan gonadnya yang

berpedoman pada kriteria yang dikemukakan oleh Cassei (dalam Effendie 1979).

Setelah itu menimbang berat gonad, menentukan nilai Coeffisien Kematangan

Gonad, lalu mengukur diameter beberapa telur dari setiap ovari.

3.4.3 Prosedur Praktikum Fekunditas dan Diameter Telur

Prosedur Praktikumnya yaitu mengukur dan mencatat data morfometrik

ikan (TL, SL, FL, BdH, HdL) dan berat tubuh ikan, lalu menentukan tahap

kematangan ovari, dan mengukur serta mencatat data diameter telur di masing-

masing bagian ovari dengan metode volumetrik dan gravimetrik.


14

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Adapun klasifikasi dari ikan tambakan adalah sebagai berikut:

Phylum : Chordata
Kelas : Actinopterygii,
Ordo : Perciformes
Sub ordo : Anabantoidei
Famili : Helostomatidae
Genus : Helostoma
Spesies : Helostoma temminckii.

Gambar 1. Morfologi ikan tambakan (Helostoma temminckii)

Deskripsi ikan tambakan (Helostoma temminckii), yaitu:

Ikan tambakan memiliki ciri-ciri bentuk tubuh compresed, kapala bersisik dan

ujung kepala tumpul, mulut subterminal, berukuran sempit dan protractile. Posisi

sudut mulut satu garis lurus dengan sisi bawah bola mata. Bibir tebal, kedua bibir

berlipatan, bibir atas bergerigi. Rahang tidak bergerigi. Moncong berukuran

pendek dan tidak mempunyai sungut. Gurat sisi lengkap dan terputus.
15

ikan tambakan (Helostoma temminckii) memilki lima buah sirip, yaitu:

- Sirip punggung (D), berbentuk sempurna dan berjumlah satu, terletak di

belakang kepala bagian anterior, terpisah dengan sirip ekor, pemulaan dasar

sirip ini persis sama dengan perut.

- Sirip dada (P), posisi sirip ini miring 45o horizontal (oblique), terletak

dibawah gurat sisi persis dibawah sudut operculum.

- Sirip perut (V), posisinya sub abdominal.

- Sirip anus (A), terpisah dengan sirip ekor.

- Sirip ekor (C), berpinggiran tegak dan tidak bercagak.

4.1.1 Seksualitas Ikan Tambakan (Helostoma temminckii)

Ciri seksual primer ikan tambakan jantan: bentuk gonad memanjang dan

bewarna putih susu. Sedangkan ikan tambakan betina: bentuk gonadnya bulat dan

bewarna kuning keemasan.

Sedangkan untuk ciri seksual sekunder terbagi menjadi dua: ciri seksual

sekunder dimorphisme dan ciri seksual sekunder dichromatisme. Adapun ciri

seksual sekunder dimorphisme ikan tambakan jantan: ukuran tubuh kecil, tengkuk

pada kepala lebih lengkuk, permukaan kepala lebih kasar , bentuk ujung sirip

punggung runcing, bentuk abdominal datar, bentuk papila genital kecil. Untuk

ikan tambakan betina: ukuran tubuh lebih besar, tengkuk pada kepala sedikit

lengkuk, permukaan kepala lebih halus , bentuk ujung sirip punggung lebih lurus,

bentuk abdominal datar, bentuk papila genital lebih besar.

Untuk ciri seksual sekunder dichromatisme ikan tambakan jantan yaitu

warna pada badan lebih cerah dibandingkan dengan ikan tambakan betina, warna

pada sirip punggung dan ekor pada ikan tambakan jantan hitam sedangkan pada
16

ikan tambakan betina sedikit hitam, serta garis – garis warna pada sirip ekor dan

tubuh pada ikan tambakan jantan sedikit hitam sedangkan pada ikan tambakan

betina bewarna putih.

4.1.2. Tingkat Kematangan Gonad Ikan Tambakan (Helostoma temminckii)

Tabel 1. Pengukuran morfometrik, dan TKG pada ikan tambakan

NO TL SL BdH HDL BT JK BG TKG IKG


(cm) (cm) (cm) (cm) (gram) (gram) (%)
1 12,5 10 4,5 2,5 60 Betina 1,1 II 1,83
2 11,5 9 4,3 2,5 50 Betina 0,6 I 1,2
3 11,6 9 4,4 2,7 45 Betina 0,5 II 1,11
4 10,5 8 3,5 2,5 35 Jantan 0,9 II 2,57
5 12,5 10 4,5 3,1 55 Betina 0,7 II 1,27
6 12 9,5 4,5 2,7 50 Betina 0,8 II 1,6
7 11 8,5 4 3 45 Betina 3 IV 6,97
8 11,2 8,6 4 2,4 40 Betina 2 III 5
9 13 10 3 3 50 Betina 0,9 III 1,8
10 13 10 3 3 50 Betina 0,4 II 0,8
11 12 10 3 3 40 Jantan 1 III 2,5
12 12 9 3 3 50 Jantan 1,4 III 2,8
13 13 10 4 4 60 Betina 5 IV 8,3
14 13 10 3 3 50 Betina 0,2 IV 0,4
15 12 9 3 3 50 Betina 5 IV 10
16 13 11 4 4 60 Betina 6 III 10
17 12,5 9,5 4,5 3 40 Jantan 0,2 II 0,5
18 9,5 10 4,8 3 50 Jantan 0,8 II 1,6
19 7,5 10 2,7 3,8 30 Jantan 2 III 0,7
20 7,5 10 2,5 3,7 30 Jantan 1,6 III 3,2
21 9,5 12,5 3,1 4,8 50 Jantan 0,2 I 0,4
22 9,5 12,6 3,5 4,6 50 Jantan 0,2 I 0,4
23 9,3 13 3,5 5 60 Jantan 0,2 I 0,5
24 10 9 3,5 4,8 50 Jantan 2 III 4

4.1.3 Fekunditas dan Diameter Telur Ikan Tambakan(Helostoma temminckii)

Tabel 2. Perhitungan Fekunditas

No Kanan Kiri
1 Anterior = 13x20x2 = 520 Anterior = 12x25x2 = 600
2 Tengah = 13x20x2 = 520 Tengah = 14x21x2 = 588
3 Posterior = 11x28x2 = 616 Posterior = 10x26x2 = 520
Total 1565 1708
17

Rumus = Banyak telur dalam 1 cm x panjang gonad x 2 (sisi penggaris)

Maka, x = 1565+1708
6
= 3273 = 545,5
6

Jadi, X = V X
v
= 2 ml 545,5 = 2182
0,5 ml

Dimana: X = Jumlah telur dalam ovari yang akan dihitung


x = jumlah rataan telur dari sub sampel ovari
V = Volume ovari
v = Volume sub sampel ovari

Tabel 3. Ukuran Diameter Telur dari Keenam Bagian Ovary Ikan

No. Frekuensi (Butir)


Telur KIRI KANAN
Anterior Tengah Posterior Anterior Tengah Posterior
1 34 x 33 x 25 x 40 x 30 x 37 x
0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 =
0,085 0,0825 0,0625 0,1 0,075 0,0925
2 30 x 36 x 27 x 42 x 35 x 35 x
0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 =
0,075 0,09 0,0675 0,105 0,0875 0,0875
3 31 x 29 x 32 x 44 x 36 x 25 x
0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 =
0,0775 0,0725 0,08 0,11 0,09 0,0625
4 35 x 31 x 35 x 50 x 25 x 30 x
0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 =
0,0875 0,0775 0,0875 0,125 0,0625 0,075
5 37 x 34 x 36 x 41 x 35 x 24 x
0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 =
0,0925 0,085 0,09 0,1025 0,0875 0,06

4.2 Pembahasan

4.2.1 Seksualitas Ikan

Seperti yang telah dikemukakan, Saanin (1984) telah

mengklasifikasikan ikan Tambakan ke dalam kelas Pisces, famili Anabantidae,


18

genus Helostoma dan spesies Helostoma temminckii. Dari ke-24 ekor

ikan Tambakan (Helostoma temmincki) yang dipraktikumkan.Di dapatkan 13 ekor

berjenis kelamin betina dan 11 ekor berjenis kelamin jantan. Data tersebut

diperoleh dengan mengamati masing masing individu, baik melalui penampakan

ciri seksual primer ataupun ciri seksual sekunder.

Menurut Effendi, (2002) penampakan ciri-ciri seksual sekunder dilakukan

dengan dua cara, yaitu seksual dimorphisme dan seksual dichromatisme. Sifat

seksual sekunder ialah tanda tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan

jantan dan betina. Apabila satu spesies ikan mempunyai sifat morfologi yang

dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina, maka spesies itu memilki

seksual dimorphisme. Apabila yang menjadi tanda itu warna, maka ikan itu

mempunyai sifat seksual dikromatisme. Pada ikan jantan mempunyai warna lebih

cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina.

Biasanya tanda seksual sekunder itu terdapat positif pada ikan jantan saja.

Apabila ikan jantan tadi dikastrasi (testisnya dihilangkan), bagian yang menjadi

tanda seksual sekunder tadi menghilang, tetapi pada ikan betina tidak

menunjukkan sesuatu. Secara umum dapat dikatakan bahwa ikan jantan

mempunyai warna yang cemerlang dari pada ikan betina.

Sedangkan untuk penampakan seksual primer kita melakukan pengamatan

dengan melakukan striping dan membedah bagian abdominal tubuh ikan yang

diamati. Sifat seksual primer pada ikan tandai dengan adanya organ yang secara

langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya

pada ikan betina, dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan.

4.2.2 Tingkat Kematangan Gonad


19

Setelah dilakukan penimbangan terhadap masing-masing gonad ikan dan

penghitungan IKG (Indeks Kematangan Gonad) atau sering disebut Coeffisien

Kematangan Gonad atau Gonado Somatic Index, yaitu suatu nilai dalam persen

sebagai hasil dari perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk

gonad dikali dengan 100 %.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa

ukuran diameter telur tiap bagian anterior, tengah dan posterior berbeda, baik

sebelah kiri maupun sebelah kanan telur. Ini diakibatkan oleh perbedaan kuantitas

dan kualitas makanan dan juga karena kondisi lingkungan perairan seperti suhu

yaitu pada saat gonad dalam tahap perkembangannya.

Menurut Rustidja (2001), menyatakan bahwa nilai Gonado Somatik

Indeks tinggi akan menunjukkan tingkat perkembangan gonad, sedangkan nilai

Gonad Somatik Indeks rendah dapat menunjukkan baik kedewasaan atau gonad

dikeluarkan atau dengan kata lain gonad sudah dikeluarkan.

4.2.3 Fekunditas dan Diameter Telur

Setelah melaksanakan praktikum, diketahui bahwa nilai fekunditas dan

diameter telur dari dari satu ovari ikan berbeda. Hal ini dikarenakan beberapa

faktor yang mempengaruhinya seperti umur atau ukuran individu ikan, jenis dan

jumlah dari makanan yang dimakan, sifat ikan, kepadatan populasi, lingkungan

hidup dimana individu ikan itu berada serta faktor fisiologi tubuh.

Ukuran diameter telur juga dapat berpengaruh terhadap nilai fekunditas

dari setiap jenis individu ikan dimana semakin besar diameter diameter telur maka

semakin kecil nilai fekunditasnya dan semakin kecil ukuran diameter telur maka

semakin besar nilai fekunditasnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai fekunditas
20

berbanding terbalik terhadap diameter telur. Fekunditas adalah semua telur – telur

yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan.

Fekunditas sering dihubungkan dengan panjang dari pada dengan berat,

karena panjang penyusutannya relatif kecil sekali tidak seperti berat yang dapat

berkutang dengan mudah. Hal ini terjadi pada pengambilan sampel secara

berulang-ulang harus berhati-hati, karena apabila ikan yang diambil pada waktu

gonad sedang tumbuh hal ini tidak merupakan pertumbuhan somatik. Jadi disini

harus ada perbedaan antara pertumbuhan somatik dengan pertumbuhan gonad.

Dan pada praktikum kali ini, metode yang digunakan untuk menghitung

telur adalah metode jumlah dan metede volumetrik. Dimana menghitung secara

langsung satu persatu telur yang ada pada individu ikan. Kami menghitung jumlah

rataan telur dari sub sampel ovari (x) dengan cara banyak telur pada 1 cm

penggaris dikali panjang gonat dikali 2 (sisi penggaris). Setelah itu kami lanjutkan

dengan metode volumetrik untuk mencari jumlah telur dalam ovari yang akan

dihitung (X).

Ikan sungai yang baru menjadi penguhuni resevoar yang baru dibuat, yang

persediaan makanan pada tahun-tahun pertama biasanya banyak, menyababkan

ikan itu cepat masak gonad pada umur muda dan terdapat pertambahan fekunditas

baik fekunditas relatif maupun mutlak. Tetapi hal ini kemudian di ikuti oleh

jumlah yang berpijah menjadi berkurang sehingga jumlah seluruh telur yang

dikeluarkan oleh individu ikan menjadi berkurang pula. Selain dari itu ikan-ikan

yang hidup disungai fekunditasnya mempunyai hubungan dengan tinggi air.

Apabila sampai pada tahun-tahun tertentu permukaan air selalu tinggi,

fekunditasnya tinggi pula, jika dibadingkan dengan tahun yang permukaan airnya
21

rendah.Ukuran diameter telur juga dapat berpengaruh terhadap nilai fekunditas

dari setiap jenis individu ikan dimana semakin besar diameter diameter telur maka

semakin kecil nilai fekunditasnya dan semakin kecil ukuran diameter telur maka

semakin besar nilai fekunditasnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai fekunditas

berbanding terbalik terhadap diameter telur.


22

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan tentang seksualitas ikan,

tingkat kematangan gonad, fekunditas dan diameter telur, maka diperoleh

kesimpulan bahwa seksualitas ikan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan

betina.Ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma

berjumlah 11 ekor dan ikan betina ialah ikan mempunyai organ penghasil telur

berjumlah 13 ekor.

Dari hasil pengamatan selama praktikum tingkat kematangan gonad dan

seksualitas ikan didapatkan bahwa ikan Tambakan (Helostoma temmincki). Ciri

ikan tambakan jantan adalah bentuk badan tidak terlalu melengkung, bentuk

kepala lebih meruncing, ukuran kepala lancip, dasar sirip dada lebih keras, letak

sirip perut lebih panjang, bentuk lubang genital bulat (tumpul). Sedangkan ciri

ikan tambakan betina adalah badan melengkung, perut membujur dan mendatar

sampai ke anus, bentuk kepala lebih besar dan dasar sirip dada lunak, bentuk sirip

perut lebih pendek dan bentuk lubang genital menonjol (agak lancip). Data

morfometrik antara ikan jantan dan betina cukup bervariasi sesuai jenis

kelaminnya.

Dari hasil pratikum yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa dalam

dalam perhitungan fekunditas dan diameter telur dilakukan beberapa metode yaitu

metode jumlah dan metode volumetrik. Adapun cara mendapatkan telur telur dari

ovary individu ikan untuk dihitung fekunditasnya adalah telur diambil dari induk

ikan betina yang sudah matang gonad dan siap untuk dikeluarkan pada waktu
23

mijah, kalau ikan tersebut masih hidup gunakan cara striping atau pengurutan.

Dan induk ikan tersebut dimatikan dan ovary diawetkan dengan formalin.Untuk

pengawetan dilakukan melalui dua cara yakni dengan menggunakan bahan

pengawet yang terdiri atas larutan formalin dan larutan gilson dan melalui proses

pendinginan.

Sedangkan dari hasil praktikum seksualitas ikan, kita dapat mengetahui

jenis kelamin ikan ikan tersebut dengan menggunakan penampakan penampakan

yang ada. Penampakan ciri seksual sekunder dinilai lebih baik karena kita tidak

perlu melakukan pembedahan ataupun melakukan hal yang macam macam kepada

individu ikan yang diamati. Tetapi bukan berarti ciri seksual primer tidak begitu

baik, karena dengan cara inilah data yang diperoleh lebih akurat.

5.2. Saran

Sebagai salah satu praktikan saya menyadari bahwa melakukan pengamatan

secara sekunder itu lebih sulit, karena ciri-ciri yang ditampakan itu malah

membingungkan untuk mengetahui jenis kelamin ikan itu sendiri. Tetapi sebagai

seorang mahasiswa, kita harus mampu melakukannya. Cobalah diteliti baik baik

dengan mengidentifikasi setiap inchi ikan tersebut. Walaupun pada akhirnya kita

akan membedahnya untuk membuktikan pengamatan kita. Untuk praktikum

selanjutnya diharapkan agar lebih mengefisienkan waktu yang ada, praktikum kali

ini terlalu merepotkan karena harus mengantri diakibatkan keterbatasan sarana

dan prasarana. Dan semoga dikemudian hari praktikumakan berjalan dengan lebih

baik dan dapat menambah ilmu pengetahuan bagi praktikan.


24

DAFTAR PUSTAKA

Andrea. 2005. Kapankah waktu yang tepat untuk memberi makan ikan.Diakses

pada tanggal 7 November 2016 dalam (http://www.merdeka.com).

Anonim. Laporan Bioper Fekunidtas dan Diameter Telur. Diakses pada tanggal 7
November 2016 dalam (http://cfcaal.blogspot.com/2013/10/laporan-
bioper-fekunditas-dan-diameter.html)

Asep. 2006. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus

editions limited. Jakarta. 293 hal.

Bambang agus murtidjo. 2001. Berbudidaya Ikan Dalam Menciptakan Bibit

Unggul. Penerbit Agro Media Pustaka. Jakarta.84.hal.

Effendie Ichsan Moch, M.Sc, H, Dr, Prof, 2002. Biologi Perikanan. Yayasan

Pustaka Nusantara: Yogyakarta.

Fujaya, Y. 2004. Fisiologi ikan dasar pengembangan teknologi perikanan. PT.

Rineka cipta : Jakarta

Paberson. 2011.. Fisiologi ikan. Proyek peningkatan penelitian pendidikan tinggi.

Departemen pendidikan nasional : Jakarta

Pulungan et, al. 2006. Kumpulan Hand Out Kuliah. Mata Ajaran Biologi

Perikanan. Laboratorium Biologi Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu

Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru.

Rustidja. 2001. Pemijahan buatan ikan-ikan daerah tropis. Bahtera press :

Surabaya

Ridwan et al. 2009. Penuntun Praktikum Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan

dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru..


25

Saanin. 1984. Taksonomi dan Identifikasi Ikan. Jilid I dan II. Bina Cipta,

Bandung.

Wahyuningsih, H dan T.A, Barus. 2006. Buku ajar iktiologi. Departemen biologi :

Medan
26

LAMPIRAN
27

Lampiran 1. Alat, bahan yang digunakan.

Buku penuntun Pena Pensil Penghapus

Penggaris Serbet Gunting Bedah Nampan

Metode Volumetrik Ikan tambakan Gonad ikan yang

telah dipisahkan
28

Lampiran 2. Pengukuran morfometrik, dan TKG pada ikan tambakan

NO TL SL BdH HDL BT JK BG TKG IKG


(cm) (cm) (cm) (cm) (gram) (gram) (%)
1 12,5 10 4,5 2,5 60 Betina 1,1 II 1,83
2 11,5 9 4,3 2,5 50 Betina 0,6 I 1,2
3 11,6 9 4,4 2,7 45 Betina 0,5 II 1,11
4 10,5 8 3,5 2,5 35 Jantan 0,9 II 2,57
5 12,5 10 4,5 3,1 55 Betina 0,7 II 1,27
6 12 9,5 4,5 2,7 50 Betina 0,8 II 1,6
7 11 8,5 4 3 45 Betina 3 IV 6,97
8 11,2 8,6 4 2,4 40 Betina 2 III 5
9 13 10 3 3 50 Betina 0,9 III 1,8
10 13 10 3 3 50 Betina 0,4 II 0,8
11 12 10 3 3 40 Jantan 1 III 2,5
12 12 9 3 3 50 Jantan 1,4 III 2,8
13 13 10 4 4 60 Betina 5 IV 8,3
14 13 10 3 3 50 Betina 0,2 IV 0,4
15 12 9 3 3 50 Betina 5 IV 10
16 13 11 4 4 60 Betina 6 III 10
17 12,5 9,5 4,5 3 40 Jantan 0,2 II 0,5
18 9,5 10 4,8 3 50 Jantan 0,8 II 1,6
19 7,5 10 2,7 3,8 30 Jantan 2 III 0,7
20 7,5 10 2,5 3,7 30 Jantan 1,6 III 3,2
21 9,5 12,5 3,1 4,8 50 Jantan 0,2 I 0,4
22 9,5 12,6 3,5 4,6 50 Jantan 0,2 I 0,4
23 9,3 13 3,5 5 60 Jantan 0,2 I 0,5
24 10 9 3,5 4,8 50 Jantan 2 III 4

IKG (Indeks Kematangan Gonad) = Berat Gonad (BG) X 100%


Berat Total (BT)

IKG Ikan 1 = BG ikan 1 X 100% = 1,11%


BT ikan 1
= 1,1gram X 100% IKG Ikan 4 = BG ikan 4 X 100%
60 gram BT ikan 4
= 1,83% = 0,9gram X 100%
IKG Ikan 2 = BG ikan 2 X 100% 35 gram
BT ikan 2 = 2,57%
= 0,6gram X 100% IKG Ikan 5 = BG ikan 5 X 100%
50 gram BT ikan 5
= 1,2% = 0,7gram X 100%
IKG Ikan 1 = BG ikan 3 X 100% 55 gram
BT ikan 3 = 1,27%
= 0,5gram X 100% IKG Ikan 6 = BG ikan 6 X 100%
45 gram BT ikan 6
29

= 0,8gram X 100%
50 gram IKG Ikan 16 = BG ikan 16 X 100%
= 1,6% BT ikan 16
= 6 gram X 100%
IKG Ikan 7 = BG ikan 7 X 100% 60 gram
BT ikan 7 = 10%
= 3 gram X 100% IKG Ikan 17 = BG ikan 17 X 100%
45 gram BT ikan 17
= 6,97% = 0,2 gram X 100%
IKG Ikan 8 = BG ikan 8 X 100% 40gram
BT ikan 8 = 0,5%
= 2 gram X 100% IKG Ikan 18 = BG ikan 18 X 100%
40gram BT ikan 18
= 5% = 0,8gram X 100%
IKG Ikan 9 = BG ikan 9 X 100% 50 gram
BT ikan 9 = 1,6%
= 0,9 gram X 100% IKG Ikan 19 = BG ikan 19 X 100%
50 gram BT ikan 19
= 1,8% = 2 gram X 100%
IKG Ikan 10 = BG ikan 10 X 100% 30 gram
BT ikan 10 = 0,7%
= 0,4 gram X 100% IKG Ikan 20 = BG ikan 20 X 100%
50 gram BT ikan 20
= 0,8% = 1,6gram X 100%
IKG Ikan 11 = BG ikan 11 X 100% 30 gram
BT ikan 11 = 3,2%
= 1gram X 100% IKG Ikan 21 = BG ikan 21 X 100%
40 gram BT ikan 21
= 2,5% = 1,1gram X 100%
IKG Ikan 12 = BG ikan 12 X 100% 60 gram
BT ikan 12 = 1,83%
= 1,4 gram X 100% IKG Ikan 22 = BG ikan 22 X 100%
50 gram BT ikan 22
= 2,8% = 0,2gram X 100%
IKG Ikan 13 = BG ikan 13 X 100% 50 gram
BT ikan 13 = 0,4%
= 5gram X 100% IKG Ikan 23 = BG ikan 23 X 100%
60 gram BT ikan 23
= 8,3% = 0,2 gram X 100%
IKG Ikan 14 = BG ikan 14 X 100% 60 gram
BT ikan 14 = 0,5%
= 0,2 gram X 100% IKG Ikan 24 = BG ikan 24 X 100%
50 gram BT ikan 24
= 0,4% = 2gram X 100%
IKG Ikan 15= 5 gram X 100% 50 gram
50 gram = 4%
= 10%
30

Lampiran 3. Perhitungan Fekunditas

No Kanan Kiri
1 Anterior = 13x20x2 = 520 Anterior = 12x25x2 = 600
2 Tengah = 13x20x2 = 520 Tengah = 14x21x2 = 588
3 Posterior = 11x28x2 = 616 Posterior = 10x26x2 = 520
Total 1565 1708
Rumus = Banyak telur dalam 1 cm x panjang gonad x 2 (sisi penggaris)

Maka, x = 1565+1708
6
= 3273 = 545,5
6

Jadi, X = V X
v
= 2 ml 545,5 = 2182
0,5 ml

Dimana: X = Jumlah telur dalam ovari yang akan dihitung


x = jumlah rataan telur dari sub sampel ovari
V = Volume ovari
v = Volume sub sampel ovari

Lampiran 4. Ukuran Diameter Telur dari Keenam Bagian Ovary Ikan

No. Frekuensi (Butir)


Telur KIRI KANAN
Anterior Tengah Posterior Anterior Tengah Posterior
1 34 x 33 x 25 x 40 x 30 x 37 x
0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 =
0,085 0,0825 0,0625 0,1 0,075 0,0925
2 30 x 36 x 27 x 42 x 35 x 35 x
0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 =
0,075 0,09 0,0675 0,105 0,0875 0,0875
3 31 x 29 x 32 x 44 x 36 x 25 x
0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 =
0,0775 0,0725 0,08 0,11 0,09 0,0625
4 35 x 31 x 35 x 50 x 25 x 30 x
0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 =
0,0875 0,0775 0,0875 0,125 0,0625 0,075
5 37 x 34 x 36 x 41 x 35 x 24 x
0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 = 0,0025 =
0,0925 0,085 0,09 0,1025 0,0875 0,06