Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN
I1; Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat di segala
bidang, terutama dalam bidang transportasi. Alat transportasi yang sangat
dibutuhkan oleh manusia setiap hari untuk menuju dari suatu tempat ke tempat
lain salah satunya adalah kendaraan roda empat.
Salah satu roda empat yang digunakan adalah TOYOTA KIJANG Pick Up
7K. Jenis kendaraan ini mempunyai komponen utama, yaitu transmisi utama yang
didalamnya terdapat roda gigi yang tersusun sedemikian rupa sehingga dapat
meneruskan daya dari output mesin dimana kecepatan putarannya dapat diubah
berdasarkan perbandingan jumlah gigi yang pertama dengan roda gigi yang
berikutnya.
I2; Tujuan
Penulis akan merancang ulang sistem transmisi roda gigi LURUS DAN
MIRING dengan :
Daya (P) = 80 ps
Putaran (n) = 4800 rpm
I3; Batasan Masalah
Dalam hal ini dibatasi untuk mengetahui komponen-komponen yang ada pada
transmisi, fungsi dan cara kerja serta perhitungan poros, spline, naff, dengan daya
dan putaran yang telah ditentukan.
I4; Metodologi Perencanaan
Dalam perancangan roda gigi ini penulis melakukan survei ke lapangan untuk
memperoleh data pada mobil TOYOTA KIJANG ini, serta melakukan tanya jawab
kepada orang yang lebih mengerti dan mengetahui tentang roda gigi ini.

I5; Sistematika Penulisan


Adapun dalam perancangan ini, Penulis membuat sistematika penulisan
yaitu :
BAB I

Pendahuluan
Pada Bab ini membahas tentang latar belakang, tujuan, metodologi
perencanaan dan sistematika penulisan.

BAB II

Landasan Teori
Dalam Bab ini menguraikan tentang sistem transmisi roda gigi dan
komponen-komponen utama serta persamaan yang diberikan dengan
perhitungan perancangan roda gigi.

BAB III Perhitungan Roda Gigi


Di dalam Bab ini melakukan perhitungan komponen utama,
pemeriksaan kekuatan roda gigi
BAB IV Perhitungan Poros
Pada Bab ini menguraikan perhitungan poros input, poros counter, dan
poros output.
BAB V

Perhitungan Spline Dan Bantalan


Dalam Bab ini melakukan perhitungan pada spline dan bantalan.

BAB VI Kesimpulan

BAB II
LANDASAN TEORI
II1; Fungsi dan Kegunaan Roda Gigi
Roda gigi adalah suatu elemen mesin yang berfungsi untuk memindahkan
atau meneruskan daya atau putaran yang tidak slip dan berlawanan arah melalui
uraian bentuk serta ukuran, roda gigi juga dapat mentransmisikan putaran secara
variasi, sehingga dengan demikian putaran roda gigi daspat dipercepat maupun
diperlambat dengan cara perhitungan perbandingan diametri dan bentuknya. Roda
gigi dapat mentransmisikan putaran ke segala arah sumbu yang diinginkan
seperti : sejajar, tegak lurus atau membentuk sudut secara bervariasi maupun
konstan dengan tidak mengurangi besarnya daya sebab tidak terjadi slip (kerugian
putaran). Demikian juga pemeliharaan beban serta proses pembuatannya
memerlukan ketelitian yang tinggi juga membutuhkan biaya yang mahal demi
memperoleh kualitas roda gigi yang lebih baik.
II2; Klasifikasi Roda Gigi
Berdasarkan bentuknya serta kegunaannya, maka roda gigi dapat dibedakan
atas :
a; Roda Gigi Lurus
Roda gigi lurus fungsinya adalah untuk memberikan transmisi daya yang
positif antara dua poros yang sejajar dengan sebuah perbandingan kecepatan
angular (sudut yang konstan/tetap). Roda ini merupakan roda gigi yang paling
dasar dengan jalur gigi yang sejajar dengan poros, dimana roda gigi ini sejajar
dengan poros pada dua bidang silinder atau bidang jarak bagi dan kedua bidang
silinder tersebut saling bersinggungan dan satu lagi mengelilingi roda pada gigi
yang lain dengan sumber tetap sejajar.

Gbr. Roda Gigi Lurus


b; Roda Gigi Miring
Roda gigi miring berbeda dengan roda gigi lurus, dalam hal ini gigi yang
dibuat tidak sama dengan poros yang silindris. Namun mempunyai sudut helix.
Jumlah gigi yang membentuk ulir pada silinder. Jarak bagi roda gigi itu miring
juga setiap jumlah pasangan membentuk saling kontak, sehingga pemindahan
momen atau putaran melalui gigi-gigi tersebut berlangsung dengan halus,
sehingga roda gigi sangat baik untuk mentransmisikan putaran tinggi dan daya
yang besar. Roda gigi ini memerlukan bantalan aksial dan kontak roda gigi yang
besar karena jalur gigi yang membentuk ulir, sehingga menimbulkan daya reaksi
yang sejajar dengan poros.

Gbr. Roda Gigi Miring


Roda gigi miring pada gambar, mempunyai kemiringan antara 7 o s/d 23o
dapat ditransmisikan putaran yang paralel, beban yang ditransmisikan lebih besar
daripada roda gigi halus. Hal ini dikarenakan adanya penguraian gaya dengan
kemiringan tersebut dengan daya aksial dan tangensial.
c; Roda Gigi Miring Ganda
Roda gigi miring ganda ini mempunyai gaya aksial yang timbul pada gigigigi yang mempunyai bentuk alur V yang gaya-gayanya saling meniadakan.
Roda miring ganda ini mempunyai perbandingan reduksi kecepatan keliling dan
daya diteruskan dan dapat diperbesar, akan tetapi melihat bentuknya dapat
dipastikan sangat sukar dalam pembuatannya.

Gbr. Roda Gigi Miring Ganda

d; Roda Gigi Dalam


Penggunaan roda gigi dalam ini, sebagai alat transmisi atau pemindah
daya untuk ukuran-ukuran kecil dengan perbandingan reduksi yang besar sebab
rodas gigi pinionnya terdapat dalam roda gigi pinionnya.
Gambar di bawah ini memperlihatkan batang gigi yang merupakan besar
profil pembuatan gigi. Dimana pemasang antara batang dengan pinionnya
digunakan untuk merubah gerakan berputar menjadi gerakan lurus atau gerakan
putara sebaliknya.

Gbr. Roda Gigi Miring


e; Roda Gigi Kerucut
Terlihat pada gambar, roda gigi kerucut mempunyai bidang jarak bagi dan
bidang kerucut jaraknya terletak di titik potong sumbu poros. Roda gigi kerucut
dan roda gigi lurus ini adalah yang paling mudah dibuat serta sering disebabkan
perbandingan kontaknya yang kecil, serta konstruksinya tida mementingkan untuk
dipasangkan bantalan pada kedua ujung porosnya, kegunaan roda gigi ini adalah
untuk memindahkan getaran poros yang saling menyilang.

Gbr. Roda Gigi Kerucut

b; Roda Gigi Kerucut Spiral


Seperti gambar di bawah ini, roda gigi ini mempunyai perbandingan
kontak dengan besar dan dapat ditransmisikan daya pada putaran yang tinggi
dengan beban yang besar, dan biasanya kerucut spiral ini mempunyai sudut poros
dari kedua roda gigi seperti telah dijelaskan pada roda gigi kerucut lurus.

Gbr. Roda Gigi Kerucut Spiral


a; Roda Gigi Cacing
Pada roda gigi cacing fungsinya adalah untuk memindahkan daya dan
putaran yang tinggi pada dua poros yang tidak berpotongan (tegak lurus). Batang
penggerak mempunyai jenis ulir yang dipasang pada sebuah atau lebih roda gigi
dan biasanya disebut roda gigi cacing. Roda gigi cacing digolongkan pada dua
jenis yaitu rodas gigi cacing silindris dan globoid.

Gbr. Roda Gigi Cacing Silindris

Gbr. Roda Gigi Cacing Globoid

Selain roda gigi tersebut. ada tiga (3) jenis roda gigi lain diantaranya
adalah :
1; Roda gigi miring silang
2; Roda gigi hipoid
6

3; Roda gigi pinion batang gigi

b; Roda Gigi Permukaan


Roda gigi ini berfungsi untuk meneruskan putara untuk perbandingan
reduksi yang besar, selain dari pada itu, terdapat pula roda gigi yang berbanding
kecepatan sudutnya itu dapat bervariasi, misalnya roda gigi eksentrik, roda gigi
bukan lingkaran dan roda gigi lonjong, dan lain-lain.

Gbr. Roda Gigi Permukaan


II3; Persamaan-persamaan pada Perhitungan Roda Gigi
a; Persamaan Ukuran Utama pada Roda Gigi
Dalam pembahasan berikut, akan ditinjau dari beberapa persamaanpersamaan, dimana dalam hal tersebut merupakan langkah untuk melakukan
perhitungan perencanaan pada roda gigi. Misalnya pada kecepatan (1) sampai
dengan kecepatan reverse (R).

Jarak bagi gigi (t)


t=xM
dimana harga M diperoleh dari :

M=

Tn
Z n TM

........................................................................... (pers. 2.3.1)


7

Tebal profil gigi (h)


h=

M
2 .................................................................................. (pers. 2.3.2)

Kelunggaran Puncak (ck)


ck = 0,25 x M .............................................................................. (pers. 2.3.3)

Tinggi kaki gigi (hf)


hf = k x M x ck ............................................................................ (pers. 2.3.4)
Harga k (faktor tinggi kepala) ditentukan.

Diameter lingkaran bagi (d)


d = M x Z .................................................................................... (pers. 2.3.5)
Harga Z (jumlah gigi yang direncanakan) ditentukan

Diameter lingkar kepala (dk)


dk = (Z+2) x M ............................................................................ (pers. 2.3.6)

Diameter lingkar kaki (df)


df = dk 2 (hk + hf) .................................................................... (pers. 2.3.7)

b; Persamaan Umum pada Perhitungan Poros

Gbr. Poros
Dalam hal ini penyambungan roda gigi output dengan roda gigi counter
maka moment torsi terjadi pada roda gigi input. Pada saat meisn dihidupkan
terjadi beban yang besar, dengan demikian diperlukan faktor koreksi rata-rata
dengan daya rencana (Pd) dengan rumus sebagai berikut :
Pd = P x Fc ....... .................................................................... (pers. 2.3.8)
Dimana :
P
Pd = Fc
8

Momen torsi rencana (T)


Pd
T = 9,74 x 10 x n (kg.mm) ...................................................... (pers. 2.3.9)
5

Untuk bahan poros diambil dasri baja karbon 545c dengan kekuatan tarik ( B
) = 58 kg/mm2, maka tegangan geser yang diizinkan adalah :

b
SF1 SF2 ....... ................................................................... (pers. 2.3.10)

Dimana :
SF1 = Faktor pengaruh massan dan baja paduan (6,0)
SF2 = Pengaruh kekerasan permukaan
= (1,3 3,0) 2,3 diambil

Diameter Poros (ds)

ds =

5,1

kt cb d

.......................................................... (pers. 2.3.11)

dimana :
kt = faktor koreksi tumbukan (1,0 / 1,5) diambil (1,2)
cb = faktor lenturan (1,2 / 2,3) diambil (1,6)

Pemeriksanaan kekuatan poros

a ....... ............................................................................. (pers. 2.3.12)


c; Persamaan Umum untuk Perhitungan Spline
Daya dan putaran mesin yang ditransimisikan melalui roda gigi kemudian
dipindahkan ke poros output melalui sebuah penyambungan. Konstruksi yang
sesuai untuk ini adalah sambungan dengan menggunakan spline. Spline yang
direncanakan adalah jumlah alurnya (n) = 8 buah dan diameter poros output
(ds) = 32 mm.

Diameter Spline (D)


ds
D = 0,81 mm ....... ..................................................................... (pers. 2.3.13)
Dimana ds = diameter poros
9

Panjang Spline (L)


L = 1,5 . D mm ....... ................................................................. (pers. 2.3.14)

Tinggi Spline (h)


D ds
2
h=
mm ....... ................................................................ (pers. 2.3.15)

Lebar Spline (w)


w = 0,098 . D mm ..................................................................... (pers. 2.3.16)

Besar gaya pada spline (Fs)


T
Fs = rm kg ................................................................................. (pers. 2.3.17)
Dimana : T = momen puntir
rm = jari-jari spline

Besar tegangan yang terjadi pada spline ( c )


Fb
c = Ac ..................................................................................... (pers. 2.3.18)

Besar tegangan yang terjadi (

Fb
g Aq
=
..................................................................................... (pers. 2.3.19)
d; Persamaan untuk Bantalan
Dalam perancangan ini ada tida buah bantalan yang direncanakan
yaitu :
-

Bantalan poros input

Bantalan poros counter

Bantalan poros output

Ukuran utama bantalan dapat dilihat pada tabel bantalan (Sularso dan
Suga, hal 143)
Tabel : Bantalan (Sularso dan Suga, 1997, hal 143)

10

Nomor bantalan
Jenis
terbuka

Ukuran luar (mm)

Kapasitas Kapasitas

Dua sekat
Dua sekat tampak

DB

kantak

6000

nominal

nominal

dinamis

statis

spesifik

spesifik

10

26 8

0,5

C(kg)
360

Co (kg)
1296

6001

6001ZZ6001VV

12

28 8

0,5

400

229

6002

02ZZ02VV

15

32 9

0,5

440

263

6003

6003ZZ6003VV

17

35 10

0,5

470

296

6004

04ZZ04VV

20

42 12

735

465

6005

05ZZ05VV

25

47 12

790

530

6006
6007

6006ZZ6006VV
07ZZ07VV

30
35

55 13
62 14

1,5
1,5

1030
1250

740
915

6008

08ZZ08VV

40

68 15

1,5

1310

1110

6009

6009ZZ6009VV

45

75 16

1,5

1640

1320

6010
10ZZ10VV
6200 6200ZZ 6200VV

50
10

80 16
30 9

1,5
1

1710
400

1430
236

6210 01ZZ

01VV

12

32 10

535

305

6202 02ZZ

02VV

15

35 11

600

360

6203 6203ZZ 6203VV

17

40 12

750

460

6204 04ZZ

04VV

20

47 14

1,5

1000

635

6205 05ZZ

05VV

25

52 15

1,5

1100

730

6206 6206ZZ 6206VV

30

62 16

1,5

1530

1050

6207 07ZZ

07VV

35

72 17

2010

1430

6208 08ZZ

08VV

40

80 18

2380

1650

45

85 19

2570

1880

50

6209 6209ZZ 6209VV


6210 10ZZ
10VV
6300 6300ZZ 6300VV

10

90 20
35 11

2
1

2750
635

2100
365

6301 01ZZ

01VV

12

37 12

1,5

760

450

6302 02ZZ

02VV

15

42 13

1,5

895

545

6303 6303ZZ 6303VV

17

47 14

1,5

1070

660

6304 04ZZ

20

52 15

1250

785

04VV

11

6305 05ZZ

05VV

25

62 17

1610

1080

6306 6306ZZ 6306VV

30

72 19

2090

1440

6307 07ZZ

07VV

35

80 20

2,5

2620

1840

6308 08ZZ

08VV

40

90 23

2,5

3200

3200

6309 6309ZZ 6309VV

45

100 25 2,5

4150

3100

6310 10ZZ

50

110 27 3

4850

3650

10VV

e; Persamaan Pelumasan dan Temperatur


Untuk roda gigi dengan kondisi kerja dengan putaran lebih dari 1500 rpm
dengan V = 37 60 (est)
E

V = 7,6(E) - 4

Viskositas Pelumas

Temperatur Kerja
18

0,00022T
T

12

BAB III
PERHITUNGAN POROS
III1;

Perhitungan Poros Input


Daya dan putaran dalam rancangan ini digunakan pada mobil TOYOTA

KIJANG 7k dengan data-data sebagai berikut :


Daya (N)

= 80 ps

Putaran (n)

= 4800 rpm

Gambar 3.1. Poros


Dalam hal ini penyambungan roda gigi output dengan rodas gigi counter
maka momen torsi terjadi pada roda gigi input. Pada saat mesin dihidupkan terjadi
beban yang besar, dengan demikian diperlukan faktor koreksi rata-rata dengan
daya rencana (Pd) adalah sebagai berikut dengan menggunakan persamaan 2.3.8.
yaitu :
Pd = P . Fc
Dimana :
1 Ps = 0,735 kW
P = 80 x 0,735 kW
= 58,8 kW
Fc = Factor keamanan
= 0,8 / 1,2 (daya rata-rata) tabel 4.1
= diambil (1,1)
Sehingga :
Pd = P . Fc
= 58,8 x 1,1

13

= 64,68 kW
Tabel 3.1. Faktor Keamanan (Sularso, 1997)
Daya yang akan ditransmisikan
Daya rata-rata yang diperlukan

Fc
1,2 2,0

Daya maksimum yang diperlukan

0,8 1,2

Daya normal

1,0 1,5

Untuk menghitung momen Torsi (T) dari persamaan 2.3.9.


Pd
T = 9,74 x 105 n kg . mm
64,68
= 9,74 x 105 4800 kg . mm
= 13124,65 kg . mm
Dalam perancangan ini bahan poros diambil dari baja karbon konstruksi
mesin yang disebut bahan S-C yaitu baja steel (S40C) dengan kekuatan tarik

b 55 kg/mm2. Sularso 1997

Maka

b
kg / mm 2
SF1 SF2

Dimana :
SF1 = kekuatan yang dijamin, bahan S-C (6,0)
SF2 = 1,3 / 3,0 (diambil 2,0)
Maka :

55
kg / mm 2
6 2

= 4,58 kg/mm2

14

Tabel 3.2. Baja Karbon untuk Konsruksi Mesin (Sularso, 1997)


Standar dan macam Lambang

Perlakuan Kekuatan tarik


Keterangan
panas
(kg/mm2)
Baja karbon
S30C Penormalan
48
konstruksi mesin (JIS S35C Penormalan
52
G 4501)
S40C Penormalan
55
S45C Penormalan
58
S50C Penormalan
62
S55C penormalan
66
Batang baja yang
S35C-D
53
Ditarik dingin,
difinis dingin
S45C-D
60
digerinda,
S55C-D
72
dibubut, atau
gabungan antara
hal-hal tersebut
Untuk mengukur diameter poros dari persamaan 2.3.11
5,1

Kt Cb T

Ds =

Dimana :
Ds = diameter poros
Cb = faktor koreksi pada pemakaian beban lentur
(1,2 / 2,3) diambil 2,0
Kt = faktor koreksi untuk kejutan
= 1,5 / 3,0 : jika terjadi kejutan yang besar diambil (1,5)
Maka
5,1

4,58 1,5 2,0 13124,65

Ds =

= 23,58
= 24 mm sesuai (dengan tabel 1,7 hal 9. Sularso)

15

Tabel 3.3. Diameter Poros (Sularso, 1997)


(Satuan mm)
4

10

*22,4

40

24
11
4,5

*5,6

25

*11,2

28

12

30

*12,5

14

42
45

*31,5

48

32

50

35

55

*35,5

56

(15)
6

16

38

60

(17)
*6,3

18

100

*224

(105)

240

110

250

420

260

440

*112

280

450

120

300

460

315

480

125

320

500

130

340

530

140

*355

560

150

360

160

380

170
63

170

19

180

20

190

22

65

190

70

200

*7,1

71

220

75

80
85
90
95

16

400

600
630

Keterangan :
1; Tanda * menyatakan bahwa bilangan yang bersangkutan dipilih dari bilangan
standar.
2; Bilangan didalam kurung hanya dipakai untuk bagian dimana akan dipasang
bantalan gelinding.
III2;

Perhitungan Poros Counter


Daya (P) = 80 ps
Putaran (n) = 3428 (sesuai dengan putaran yang terjadi pada poros
counter)

Daya sebenarnya
P = 80 . 0,735 kW
= 58,8 kW
Daya rencana
Pd = Fc . P
= 1,1 . 58,8 kW
= 64,68 kW
Momen puntir rencana
Pd
T = 9,74 x 10 n
5

64,68
= 9,74 x 105 3428
= 18377,57 kg.mm
Bahan poros direncanakan S45C dengan b = 58 kg/mm2

Maka

b
kg / mm 2
SF1 SF2

Dimana : SF1 = diambil 6,0


SF2 = diambil 2,0
Maka :

58
6,0 2,0

= 4,83 kg/mm2

17

Diameter poros

Ds =

5,1

Kt Cb T

5,1

4,83 1,5 2,0 18377,57

= 38,75 mm
Sehingga diameter poros diambil 38 (Sularso, 1997)
Pemeriksaan kekuatan poros

5,1 T
Ds 2

5,1 18377,57
38 3
=

= 1,708 kg/mm2
4,83 kg/mm2 1,708 kg/mm2. Poros layak digunakan.
III3;

Perhitungan Poros Output


Pada poros output, putaran yang terjadi berubah-ubah sesuai dengna

kecepatan yang dikehendaki, putaran yang tertinggi pada poros output yaitu speed
5 dengan putaran n = 5640 rpm
Daya yang dipindahkan
Daya (P) = 80 ps
Putaran (n) = 5640 rpm
Daya rencana
Pd = Fc . P
= 1,1 . 58,8 kW
= 64,68 kW
Maka :
Pd
T = 9,74 x 105 n
58,8
= 9,74 x 105 5640

18

= 10154,46 kg.mm
Bahan yang direncanakan S45C dengan b = 58 kg/mm2

Maka

b
kg / mm 2
SF1 SF2

Dimana : SF1 = diambil 6,0


SF2 = diambil 2,0
Maka :

58
6,0 2,0

= 4,83 kg/mm2
Diameter poros

Ds3 =

5,1

Kt Cb T

5,1

4,83 1,5 2,0 10154,46

= 31,8 mm
= 32 (sesuai dengan table 1,7 hal 9 Sularso)
Pemeriksaan kekuatan poros

5,1 T
3
Ds3

5,1 10154,46
32 3
=
= 1,58 kg/mm2
Maka :
4,83 kg/mm2 1,58 kg/mm2. Poros layak digunakan.

19

BAB IV
SPLINE DAN BANTALAN
IV1;

Perhitungan Spline
Wh

rs

Gambar Spline
Spline yang direncakan atau ketentuan ukuran dari spline
Z

= jumlah spline = 8 buah

= tinggi spline = D ds/2

Ws = lebar spline = 0,098 . D


D

= Diameter spline = ds / 0,81

Diameter poros (diambil ds = 32 mm)


Dimana
ds = 0,81 . D
ds
jadi D = 0,81
32
= 0,81
= 39,5 mm
Maka
L = panjang spline
L = 1,5 . D = 1,5 . 39,5
= 59,25 mm
D ds 39,5 32
2 =
2
hs =
= 3,75 mm
20

Ws = 0,098 . D
= 0,098 . 39,5
= 3,87 mm
Jari-jari (rm) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
D ds
4
rm =
............................... (Sularso hal 59)
39,5 32
4
=
= 17,87 mm
Besar gaya pada spline adalah
T
Fs = rm
Dimana :
T = momen puntir (10154,46 kg.mm)
Fs = besar gaya yang bekerja (kg)
10154,46
Fs = 17,87
= 568,24 kg
Besar tegangan tumbukan yang terjadi pada spline ( C ) adalah :

Fb
Ac

Dimana :
Fb = Gaya yang diterima oleh masing-masing spline (kg)
Ac = Luas yang mengalami tumbukan (mm2)
Fs 568,24
Fb = n = 8 = 71,03 kg
Ac = h . L = 3,75 x 59,25 = 222,18 mm2
Maka :

21

71,03
222,18

= 0,319 kg/mm2

Tegangan gesek yang terjadi (

) adalah :

Fb
Aq

Dimana :
Aq = Luas bidang yang mengalami gesekan
Aq = W . L = 3,87 x 59,25 = 229,29 mm2
Maka :
71,03
q
229,29
= 0,309 kg/mm2
Pemeriksaan tegangan kombinasi, maka tegangan kombinasi yang terjadi ( ) adalah :

c 2 q 2

0,319 2 0,309 2

0,45 kg/mm2
Bahan poros dan spline diambil sama dengan kekuatan tarik b =58 kg/mm2
(S45C)
Maka tegangan tarik izin adalah ( a ) = 4,83 kg/mm2
Dimana : a = 4,83 kg/mm2 0,45 kg/mm2 maka konstruksi spline layak
digunakan.
IV2;

Perhitungan Bantalan (Bearing)


B

22

Bantalan merupakan tempat dudukan dari poros. Ukuran-ukuran bantalan dapat


disesuaikan berdasarkan diameter poros. Dalam perancangan ini ada tiga buah
bantalan yaitu :
-

bantalan poros input

bantalan poros counter

bantalan poros output

a; Bantalan poros input


Ukuran-ukuran utama pada bantalan dapat dilihat pada tabel bantalan
(Sularso dan Suga hal 143). Untuk diameter poros 24 mm diperoleh sebagai
berikut :

Diameter dalam (d)

= 24 mm

Diameter luar (D)

= 47 mm

Tebal bantalan (B)

= 12 mm

Jari-jari (r)

= 1 mm

Kapasitas nominal statis spesifik co = 530 kg

b; Bantalan poros counter


Dengan diameter poros 38 mm

Diameter dalam (d)

= 38 mm

Diameter luar (D)

= 68 mm

Tebal bantalan (B)

= 15 mm

Jari-jari (r)

= 1,5 mm

Kapasitas nominal statis spesifik co = 1110 kg

c; Bantalan poros output


Dengan diameter poros 32 mm

Diameter dalam (d)

= 32 mm

Diameter luar (D)

= 55 mm

Tebal bantalan (B)

= 13 mm

Jari-jari (r)

= 1,5 mm

23

Kapasitas nominal statis spesifik co = 740 kg

Jenis-jenis bantalan yang dipakai adalah :


-

Untuk bantalan poros input dipakai jenis terbuka 6005

Untuk bantalan poros counter dipakai jenis terbuka 6008

Untuk bantalan poros output dipakai jenis terbuka 6006

Tabel Bantalan (Sularso dan Suga 1997, hal 143)


Nomor bantalan
Jenis
terbuka

Ukuran luar (mm)

Kapasitas Kapasitas

Dua sekat
Dua sekat tampak

DB

kantak

6000

nominal

nominal

dinamis

statis

spesifik

spesifik

10

26 8

0,5

C(kg)
360

Co (kg)
1296

6001

6001ZZ6001VV

12

28 8

0,5

400

229

6002

02ZZ02VV

15

32 9

0,5

440

263

6003

6003ZZ6003VV

17

35 10

0,5

470

296

6004

04ZZ04VV

20

42 12

735

465

6005

05ZZ05VV

25

47 12

790

530

6006

6006ZZ6006VV

30

55 13

1,5

1030

740

6007

07ZZ07VV

35

62 14

1,5

1250

915

6008

08ZZ08VV

40

68 15

1,5

1310

1110

6009

6009ZZ6009VV

45

75 16

1,5

1640

1320

6010
10ZZ10VV
6200 6200ZZ 6200VV

50
10

80 16
30 9

1,5
1

1710
400

1430
236

6210 01ZZ

01VV

12

32 10

535

305

6202 02ZZ

02VV

15

35 11

600

360

6203 6203ZZ 6203VV

17

40 12

750

460

6204 04ZZ

04VV

20

47 14

1,5

1000

635

6205 05ZZ

05VV

25

52 15

1,5

1100

730

24

6206 6206ZZ 6206VV

30

62 16

1,5

1530

1050

6207 07ZZ

07VV

35

72 17

2010

1430

6208 08ZZ

08VV

40

80 18

2380

1650

6209 6209ZZ 6209VV

45

85 19

2570

1880

6210 10ZZ
10VV
6300 6300ZZ 6300VV

50
10

90 20
35 11

2
1

2750
635

2100
365

6301 01ZZ

01VV

12

37 12

1,5

760

450

6302 02ZZ

02VV

15

42 13

1,5

895

545

6303 6303ZZ 6303VV

17

47 14

1,5

1070

660

6304 04ZZ

04VV

20

52 15

1250

785

6305 05ZZ

05VV

25

62 17

1610

1080

6306 6306ZZ 6306VV

30

72 19

2090

1440

6307 07ZZ

07VV

35

80 20

2,5

2620

1840

6308 08ZZ

08VV

40

90 23

2,5

3200

3200

6309 6309ZZ 6309VV

45

100 25 2,5

4150

3100

6310 10ZZ

50

110 27 3

4850

3650

10VV

25

BAB V
PERHITUNGAN RODA GIGI
Merencanakan sistem transmisi pada roda gigi yaitu sebuah desain roda
gigi yang digunakan untuk meneruskan daya dan putaran dari mesin dimana
rancangan ini digunakan pada mobil TOYOTA KIJANG 7K dengan daya
sebagai berikut :
Daya (N)

= 80 ps

Putaran (n)

= 4800 rpm

Dimana daya (N) merupakan daya yang ditransmisikan dan putaran


maksimum per menit berasal dari mesin penggerak, sehingga pemindahan daya
dan putaran direncanakan dengan transmisi roda gigi secara bertingkat dengan
perbandingan kecepatan berikut :
Speed

Perbandingan putaran

3,928:1

rpm mesin : rpm output

II

2,142:1

rpm mesin : rpm output

III

1,397:1

rpm mesin : rpm output

IV

1,000:1

rpm mesin : rpm output

0,851:1

rpm mesin : rpm output

4,743:1

rpm mesin : rpm output

Dalam hal ini, perbandingan penyambungan roda gigi output dengan roda
gigi counter, maka momen torsinya terjadi pada poros input, pada saat mesin
distart terjadi beban yang besar sehingga memerlukan daya yang besar pada saat
di start.
Dengan demikian sering digunakan koreksi rata-rata dengan daya yang
diperlukan (direncanakan).
Tabel 5.1. Faktor Koreksi yang Ditransmisikan
Daya yang ditransmisikan
Daya rata-rata yang diperlukan

Fc
1,2 2,0

Daya maksimum yang diperlukan

0,8 1,2

Daya normal

1,0 1,5
26

Dimana :
Daya (N)

= 80 ps

Putaran (n)

= 4800 rpm

Dengan faktor koreksi (Fc) = 1,2 2,0 = (1,9) diambil


Pd = Fc x P
Pd = 1,8 x 80 Ps
= 152 Ps

27

Dari spesifikasi telah diketahui bahwa torsi maksimum (max torque) SAE-NET
adalah diperoleh dari spesfikasi :
14,6 kg.m

4800 rpm
T
2

Momen torsi rencana (Mt)

Mt = 71620

152 ps
4800 rpm

= 2267,96 kg.mm
Dari perhitungan diatas diperoleh Td < Tmax, sehingga konstruksi dapat
aman untuk digunakan : Td = 11,9135 kg.m / 4800 rpm < Tmax = 8,8 kg.m / 4800
rpm. Selanjutnya untuk mendapatkan harga modul yang sesuai dengan standart
JIS dapat dilihat pada Tabel 2.2, dimana dalam pemakaian modul ini dapat
menjadi ukuran roda gigi dalam pemilihan. Dianjurkan untuk mengambil modul
dari seri pertama dan memungkinkan untuk menghindari seri kedua atau ketiga.
Untuk menghemat biaya pengadaan pahatnya.
Tabel 5.2. Harga Modul Standart (JIS B 1701 1973)
Seri ke-1
0,1

Seri ke-2

Seri ke-3

Seri ke-1

Seri ke-2
3,5

0,15

Seri ke-3
3,75

0,2

4
0,25

4,5

0,3

5
0,35

5,5

0,4

6
0,45

6,5

0,5

7
0,55

0,6

9
0,65

10

0,7

11

28

0,75

12

0,8

14
0,9

16

18

1,25

20

1,5

22
1,75

25

28
2,25

32

2,5

36
2,75

40

45
3,25

50

Pada tabel 3.3. Adalah faktor bentuk gigi. Pada tabel ini diberi harga-harga
untuk profil roda gigi sesuai dengan standar dengan sudut tekanan 20o.
Tabel 5.3. Faktor Bentuk Gigi untuk Profil Roda Gigi dengan Sudut Tekanan 20o
Jumlah Gigi Z
10

Y
0,201

Jumlah Gigi Z
25

Y
0,339

11

0,226

27

0,349

12

0,245

30

0,358

13

0,261

34

0,371

14

0,276

38

0,383

15

0,289

43

0,396

16

0,295

50

0,408

17

0,302

60

0,421

18

0,308

75

0,434

19

0,314

100

0,446

20

0,320

150

0,459

21

0,327

300

0,471

29

23
IV3;

0,333

Batang gigi

0,484

Ukuran Utama Roda Gigi

V.11; Ukuran Utama Roda Gigi (4)

Jarak bagi gigi (t)


T4 = M
= 2,5
= 7,85 mm
Harga M dapat dicari dengan cara menggunakan persamaan 2.3. yaitu :
3

M=

Td
Z b

Dimana :
M = modul
Td = Torsi rencana (kg.m)

b = Kekuatan tarik bahan (sc 45c)


Z = Jumlah gigi
Jadi :
3

M=

2267,96
15 58

= 1,37 (diambil 1,4)

Tebal profil gigi (h)


Diperoleh dari persamaan 2.3.2.
hb =
=

M
2

1,4
2

= 2,2 mm

Kelonggaran puncak (ck)


Diperoleh dari persamaan 2.33
ck6 = 0,25 x M
30

= 0,25 x 1,4
= 0,35 mm

Tinggi kepala gigi (hc)


Hc6 = M = 1,4 mm

Tinggi kaki gigi (hf)


Didapat dari persamaan 2.3.4. yaitu :
hf4 = k x M x ck4
= 1 x 1,4 x 0,35

(k = faktor tinggi kepala = 1)

= 1,75 mm

Tinggi profil gigi (H)


H4 = 2 x M + ck4
= 2 x 1,4 + 0,35
= 3,15 mm

Lebar gigi (b)


bb = 7 x M
= 7 x 1,4
= 9,8 mm
= 10 mm

(6 - 10mm) diambil

Diameter lingkaran bagi (d) didapat persamaan dari 2.3.5


d4 = M x Z4
= 1,4 x 15

(Z4 = jumlah gigi yang direncanakan)

= 21 mm

Diameter lingkaran kepala (dk) dengan menggunakan persamaan 2.3.6


dk4 = (Z+2) x M
= (15+2) x 1,4
= 23,8 mm
df4 = 23,8 2 (1,4+1,75)
= 17,5 mm
= 18 mm

31

V.12; Ukuran Utama Counter Gear (A)


Dimana roda gigi (4) dan counter (A) merupakan perpanjangan dan
menggunakan modul yang sama, maka ukuran counter gear A.

Diameter lingkaran bagi (d)


dA = M x ZA
= 1,4 x 21 = 29,4 mm

(Z = jumlah gigi yang direncanakan = 21)

Diameter lingkaran kepala


dFA = dA 2 (hkA + hF6)
= 29,4 2(1,4 + 1,75)
= 23,1 mm

Diameter lingkaran kepala


dkA = (ZA + 2) M
= (21 + 2) 1,4
= 32,2 mm

Jarak sumbu poros gigi yang berpasangan (a)


d4 dA
2
a=
21 29,4
2
=
= 25,2 mm

Putaran counter gear A


n Z4
nA = Z A
480015
21
=
= 3428,6 rpm
Sehingga perbandingan putaran didapat
n = 4800 rpm, nA = 3428,6 rpm

32

IV4;

Ukuran Utama Roda Gigi yang dipakai pada Kecepatan 1


Roda gigi yang dipakai poros output dikaitkan dengan roda gigi yang

dipasang pada poros gear atau roda gigi (1) yang terpasang dengan counter gear
(D). Pemindahan daya dan putaran dengan roda gigi akan menimbulkan kerugian
atau kehilangan sebagian daya oleh gesekan yang terjadi pada roda gigi yang
berpasangan tersebut. kerugian gesekan akibat pemindahan daya dengan sistem
roda gigi tersebut dengan rendemen pemindahan roda gigi.

1 Z ZA
1 c
100%
7 Z6 Z A

1 15 21

1
100%
7 15 21

= 98,36 %
= 0,98

Sehingga daya yang diteruskan counter gear (E) adalah


Pd E = Pd x
= 152 x 0,98
= 148,96 ps

Jadi daya yang hilang akibat gesekan itu adalah :


= Pd PdE
= 152 148,96
= 3,04 ps

Putaran counter gear D (n) adalah


nA = nD = 3428,6 rpm
maka momen torsi yang terjadi pada counter gear (E) dan roda gigi (1)
Pd
Mt = 71620 x n A
152 ps
= 71620 x 3428 rpm
= 3175,7 kg.mm

33

V.21; Ukuran Utama Roda Gigi 1


Karena counter gear D berpasangan dengan rodas gigi 1 maka ukuran roda
giginya sama yaitu :
t1

= 6,28 mm

hF1 = 2,5 mm

h1 = 3,14 mm

H1 = 4,5 mm

ck1 = 0,5 mm

b1 = 14 mm

hk1 = 2 mm

Diameter lingkaran bagi (d)


d1 = M x Z1

Z1 (jumlah roda gigi I = 21)

= 1,4 x 21
= 29,4 mm

Diameter lingkaran kepala (dk)


dk1 = (Z1 + 2) x M
= (21 + 2) x 1,4
= 32,2 mm

Diameter lingkar kaki (dF)


dF1 = dk1 2 (hc1 + hF1)
= 28 2 (2 + 2,5)
= 117 mm

Jarak sumbu poros yang berpasangan (a)


d E d1
2
a1 =
24 29,4
2
=
= 26,7 mm

Putaran roda gigi (1)


nE
1
n1

34

3428,6
n1 = 3,928

Perbandingan ratio 3,928 : 1

n = 873 rpm
Maka dapat disimpulkan bahwa putaran yang terjadi pada roda gigi satu
(1) adalah :
n = 4800 rpm
nA = nE = 3428,6 rpm
n1 = 873 rpm
IV5;

Ukuran Utama yang dipakai untuk Kecepatan II


Roda gigi yang berpasangan adalah counter gear D dan pada roda gigi 2

yang berputar bersama-sama. Putaran counter gear D sama dengan putara counter
gear A.
Dimana :
n = 4800 rpm
nA = 3428 rpm
V.31; Ukuran Utama Counter Gear C

Jarak bagi gigi (t)


tD = M
= 2
= 6,28 mm
Dimana harga M dapat dicari dengan cara
3

M=

Td
Zc b

Dimana :
M = modul
Td = torsi rencana (kg.m)
Zd = jumlah gigi di D (direncanakan 21)
Tb = kekuatan tarik bahan (sc45c), diambil 58 kg/m

35

Jadi : M =

2287,96
21 58

= 1,2 mm (diambil 1 mm)

Tebal profil gigi (h)


hD =
=

M
2

2
2

= 3,14 mm

Kelonggaran puncak (ck)


ck = 0,25 x M
= 0,25 x 2
= 0,5 mm

Tinggi kepala gigi (hk)


hkD = M = 2 mm

Tinggi kaki gigi (hF)


hFD = k x (M + ckc)
= 2 x (2 + 0,5)
= 5 mm

Tinggi profil (H)


HD = 2 x M + ckc
= 2 x 2 + 0,5 = 4,5 mm

Lebar gigi (b)


bD = 7 x M (6 / 10) diambil 7
=7x2
= 14 mm

Diameter lingkaran bagi (d)


dD = m x Zc (Zc = jumlah gigi C = 13)

36

= 2 x 13
= 26 mm

Diameter lingkaran kepala (dk)


dkD = (ZC + 2) x M
= (13 + 2) x 2
= 30 mm

Diameter lingkaran kaki (dF)


dFD = dkC 2 (hkC + HfC)
= 30 2 (2 + 5)
= 196 mm

V.32; Ukuran Utama Roda Gigi II


Karena counter gear D berpasangan dengan roda gigi II maka ukuran roda
gigi sama yaitu :
t2

= 6,28 mm

h2 = 3,14 mm
ck2 = 0,5 mm
hk2 = 2 mm
hF2 = 5 mm
b2 = 14 mm

Diameter lingkar bagi (d)


d2 = M x Z2

(Z2 = jumlah gigi direncakan 19)

= 2 x 19
= 38 mm
Dimana harga M dapat dicari dengan cara :
3

Td
Z 2 Tb

2287,96
19 58

M=

37

= 1,3 mm diambil = 2 mm

Diameter lingkaran bagi (dk)


dk2 = (Z2 + 2) . M Z2 (jumlah roda gigi 2)= 19
= (19 + 2) . 2
= 42 mm

Diameter lingkaran kaki (dF)


dF2 = dk2 2 (hk2 + hF2)
= 42 2 (2 + 5) = 280 mm

Jarak sumbu poros yang berpasangan (a)


dD dZ
2
a=
26 38
2
=
= 32 mm

Tinggi profil (H)


H2 = 2 x M + ckE
= 2 x 2 + 0,5
= 4,5 mm

Putaran roda gigi II


Kecepatan putaran antara poros mesin dengan poros output dimana
perbandingan rasionya adalah : 2,142 : 1, sehingga
nD
n2

=1

3428
n2 = 2,142
n2
IV6;

= 1600 rpm

Ukuran yang dipakai untuk Kecepatan III


Pemindahan daya dimana roda gigi 3 berhubungan langsung dengan

counter gear c dan berputar bersama-sama dengan counter gear A yaitu :

38

nA = nC = 3428 rpm dan modul yang digunakan M = 3


V.51; Ukuran Utama Counter Gear C

Jarak bagi gigi (t)


tC = x M
= x3
= 9,42 mm

Tebal profil gigi (h)


hC = x M/2
= x 3/2 = 4,71 mm

Kelonggaran puncak (ck)


ckC = 0,25 x M
= 0,25 x 3
= 0,75 mm

Tinggi kepala gigi (hk)


hkC = M = 3 mm

Tinggi kaki gigi (hF)


hFC = k x M + ckC k (faktor tinggi kepala = 1)
= 1 x 3 + 0,75
= 3,75 mm

Tinggi profil gigi (H)


HC = 2 x M + ckC
= 2 x 3 + 0,75
= 6,75 mm

Lebar gigi (b)


bC = 7 x M (6 10 mm), diambil 7 mm
=7x3
= 21 mm

Diameter lingkar bagi (d)


dC = M x ZC ZC (jumlah gigi roda gigi C) = 14

39

= 3 x 14
= 42 mm

Diameter lingkar kepala (dk)


dkC = (ZC + 2) . M
= (14 + 2) . 3
= 48 mm

Diameter lingkar kaki (dF)


dFC = dkC 2 (hkC + hFC)
= 48 2 (3 + 3,75)
= 34,5 mm

V.52; Ukuran Utama Roda Gigi III


Karena counter gear berpasangan dengan roda gigi 3. maka ukuran gigigiginya sama yaitu :
t3

= 9,42 mm

h3 = 4,71 mm
ck3 = 0,75 mm
hk3 = 3 mm
hF3 = 3,75 mm
H3 = 6,75 mm
b2 = 21 mm

Diameter lingkar bagi (d)


D3 = M x Z3

(Z3 = jumlah roda gigi 3 = 17)

= 3 x 17
= 51 mm
Dimana harga M dapat dicari dengan cara :
3

M=

Td
Z 3 Tb

40

2287,96
17 58

= 1,4 mm diambil = 2 mm

Diameter lingkaran bagi (dk)


dk3 = (Z3 + 2) . M
= (17 + 2) . 2
= 38 mm

Diameter lingkaran kaki (dF)


dF3 = dk3 2 (hk3 + hF3)
= 38 2 (3 + 3,76)
= 24,5 mm

Jarak sumbu poros yang berpasangan (a)


dC d3
2
a=
42 51
2
=
= 46,5 mm

Putaran pada roda gigi 3


nC
3428
i
1,397
n3
n3
n3 = 2454 rpm

Jadi perbandingan putarannya adalah


n = 4800 rpm
nA = nC = 3428 rpm
n3 = 2454 rpm

IV7;

Ukuran yang dipakai untuk Kecepatan IV

41

Pemindahan shincronizer (9) mendekati gigi 4 yang berhubungan dengan


counter gear B dan berputar bersama-sama dengan putaran counter gear A yakni :
nA = nB = 3428 rpm dan modul yang digunakan (M = 3).
V.51; Ukuran Utama Counter Gear B

Jarak bagi gigi (t)


tB = x M
= x3
= 9,42 mm

Tebal profil gigi (h)


hB = x M/2
= x 3/2
= 4,71 mm

Kelonggaran puncak (ck)


ckB = 0,25 x M
= 0,25 x 3
= 0,75 mm

Tinggi kepala gigi (hC)


hCB = M = 3 mm

Tinggi kaki gigi (hF)


hFB = k x M + ckB k (faktor tinggi kepala = 1)
= 1 x 3 + 0,75
= 3,75 mm

Tinggi profil gigi (H)


HB = 2 x M + ckB
= 2 x 3 + 0,75
= 6,75 mm

Lebar gigi (b)


BB = 7 x M (6 10 mm), diambil 7 mm
=7x3

42

= 21 mm

Diameter lingkar bagi (d)


dB = M x ZB ZB (jumlah gigi roda gigi 4 = 15)
= 3 x 15
= 45 mm

Diameter lingkar kepala (dk)


dkB = (ZB + 2) . M
= (15 + 2) . 3
= 51 mm

Diameter lingkar kaki (dF)


dFB = dkB 2 (hkB + hFB)
= 51 2 (3 + 3,75)
= 37,5 mm

V.52; Ukuran Utama Roda Gigi III


Karena counter gear B berpasangan dengan roda gigi A. Maka ukuran gigi
dan jumlah giginya sama yaitu Z = 15
t4

= 9,42 mm

h4 = 4,71 mm
ck4 = 0,75 mm
hk4 = 3 mm
hF4 = 3,75 mm
H4 = 6,75 mm
B4 = 21 mm

Diameter lingkar bagi (d)


D4 = M x Z4

(jumlah roda gigi diambil = 15)

= 3 x 15
= 45 mm

Diameter lingkar kepala (dk)

43

dk4 = dk4 2 (hk4 + hF4)


= 51 2 (3 + 3,75)
= 37,5 mm
dF4 = dk4 2 (hk4 + hF4)
= 37,5 2 (3 + 3,75)
= 239,625 mm

Jarak sumbu poros yang berpasangan (a)


dB d4
2
da =
45 45
2
=
= 45 mm

Putaran pada roda gigi 4


nB
3428
1
1
n3
n4
n4 = 3428 rpm
Jadi perbandingan roda giginya adalah
n = 4800 rpm
nA = nB = 3428 rpm
nA = 3428 rpm

IV8;

Ukuran yang dipakai untuk Kecepatan V


Untuk kecepatan 5, putaran ditransmisikan langsung dari poros output

mesin, ke posisi roda gigi tanpa bantuan dari counter gear.


V.61; Ukuran Utama Roda Gigi V

Jarak bagi gigi (t)


t5 = x M
= x3
= 9,42 mm

44

Dimana harga M dapat dicari dengan cara :


3

Td
Z 5 Tb

2287,96
14 58

M=

= 1,5 mm diambil = 3 mm

Tebal profil gigi (h)


h5 = x M/2
= x 3/2
= 4,71 mm

Kelonggaran puncak (ck)


ck5 = 0,25 x M
= 0,25 x 3
= 0,75 mm

Tinggi kepala gigi (hC)


hC5 = M = 3 mm

Tinggi kaki gigi (hF)


hF5 = k x M + ck5 k (faktor tinggi kepala = 1)
= 1 x 3 + 0,75
= 3,75 mm

Tinggi profil gigi (H)


H5 = 2 x M + ck5
= 2 x 3 + 0,75 = 6,75 mm

Lebar gigi (b)


B5 = 7 x M (6 10 mm), diambil 7 mm
=7x3
= 21 mm

Diameter lingkar bagi (d)


d5 = M x Z5
45

= 3 x 14 = 42 mm

Diameter lingkar kepala (dk)


dk5 = (dkA + 2) . M
= (14 + 2) . 3
= 48 mm

Diameter lingkar kaki (dF)


dF5 = dkA 2 (hk5 + hF5)
= 48 2 (3 + 3,75)
= 35 mm

Putaran pada roda gigi 5


n
4800
i
0,851
n5
n5
N5 = 5640 rpm
Jadi perbandingan putarannya adalah
n = 4800 rpm
n5 = 5640 rpm
BAB VI
KESIMPULAN
Dari hasil perancangan roda gigi ini dan hasil literatur telah diperoleh

ukuran-ukuran dan komponen yang direncanakan sebagai berikut :


Daya (N) : 80 Ps
Putaran (n) : 4800 rpm
Dimana telah diperoleh ukuran-ukuran serta harga-harga dari spesifik
diatas adalah sebagai berikut :
1; Hasil Perhitungan Poros

Poros input
Bahan poros

= S40C

Momen torsi (T)

= 13124,65 kg.mm

46

Diameter poros (ds)

= 24 mm

Tegangan yang diizinkan ( a )

= 4,83 kg/mm2

Poros counter
Bahan poros

= S45C

Momen torsi (T)

= 18377,57 kg.mm

Diameter poros (ds)

= 38 mm

Tegangan yang diizinkan ( a )

= 4,83 kg/mm2

Poros output
Bahan poros

= S40C

Momen torsi (T)

= 10154,46 kg.mm

Diameter poros (ds)

= 32 mm

Tegangan yang diizinkan ( a )

= 4,83 kg/mm2

2; Hasil Perhitungan Spline


Bahan spline

= S45C

Panjang spline (L)

= 59,25 mm

Diameter spline (D)

= 39,5 mm

Lebar spline (W)

= 3,87 mm

Tinggi spline (h)

= 3,75 mm

Besar gaya pada spline (Fs)

= 568,24 kg

Tegangan tumbukan pada spline ( C )

= 0,319 kg/mm2

3; Perhitungan Bantalan

Bantalan Poros input


Diameter dalam (d)

= 24 mm

Diameter luar (D)

= 47 mm

Tebal bantalan (B)

= 12 mm

Jari-jari (r)

= 1 mm

Kapasitas nominal statis spesifik (Co)

= 530 kg

47

Bantalan Poros counter


Diameter dalam (d)

= 38 mm

Diameter luar (D)

= 68 mm

Tebal bantalan (B)

= 15 mm

Jari-jari (r)

= 1,5 mm

Kapasitas nominal statis spesifik (Co)

= 1110 kg

BantalanPoros output
Diameter dalam (d)

= 32 mm

Diameter luar (D)

= 55 mm

Tebal bantalan (B)

= 13 mm

Jari-jari (r)

= 1,5 mm

Kapasitas nominal statis spesifik (Co)

= 740 kg

4; Perhitungan Roda Gigi


a; Ukuran utama roda gigi

Ukuran utama roda gigi (4)


Jarak bagi gigi (t)

= 7,85 mm

Tebal profil gigi (h)

= 2,2 mm

Kelonggaran puncak (ck)

= 0,35 mm

Tinggi kepala gigi (hc)

= 1,4 mm

Tinggi kaki gigi (hF)

= 1,75 mm

Tinggi profil gigi (H)

= 3,15 mm

Lebar gigi (b)

= 10 mm

Diameter lingkar bagi (d)

= 21 mm

Diameter lingkar kepala (dk)

= 18 mm

Ukuran utama counter gigi (A)


Diameter lingkar bagi (d)

= 29,4 mm

Diameter lingkar kaki (dF)

= 23,1 mm

Diameter lingkar kepala (dk)

= 32,2 mm

Jarak sumbu poros gigi yang berpasangan (a)

= 25,2 mm

48

Putaran counter gear A(n)

= 3428,6 rpm

b; Ukuran utama roda gigi pada kecepatan 1

Ukuran utama counter gear D


Jarak bagi gigi (t)

= 6,28 mm

Tebal profil gigi (h)

= 3,14 mm

Kelonggaran puncak (ck)

= 0,5 mm

Tinggi kepala gigi (hc)

= 2 mm

Tinggi kaki gigi (hF)

= 5 mm

Tinggi profil gigi (H)

= 4,5 mm

Lebar gigi (b)

= 14mm

Diameter lingkar bagi (d)

= 26 mm

Diameter lingkar kepala (dk)

= 30 mm

Diameter lingkar kaki (dF)

= 196 mm

Ukuran utama roda gigi 2


Diameter lingkar bagi (d)

= 38 mm

Diameter lingkar kaki (dF)

= 280 mm

Diameter lingkar kepala (dk)

= 42 mm

Jarak sumbu poros gigi yang berpasangan (a)

= 32 mm

Tinggi profil (H)

= 4,5 mm

Putaran roda gigi (n)

= 160 rpm

c; Ukuran utama roda gigi pada kecepatan 3

Ukuran utama counter gear C


Jarak bagi gigi (t)

= 9,42 mm

Tebal profil gigi (h)

= 4,71 mm

Kelonggaran puncak (ck)

= 0,75 mm

Tinggi kepala gigi (hc)

= 3 mm

Tinggi kaki gigi (hF)

= 3,75 mm

Tinggi profil gigi (H)

= 6,75 mm
49

Lebar gigi (b)

= 21 mm

Diameter lingkar bagi (d)

= 42 mm

Diameter lingkar kepala (dk)

= 48 mm

Diameter lingkar kaki (dF)

= 34,5 mm

Ukuran utama roda gigi 3


Diameter lingkar bagi (d)

= 51 mm

Diameter lingkar kaki (dF)

= 24,5 mm

Diameter lingkar kepala (dk)

= 38 mm

Jarak sumbu poros gigi yang berpasangan (a)

= 46,5 mm

Putaran roda gigi (n)

= 2454 rpm

d; Ukuran utama roda gigi pada kecepatan 4

Ukuran utama counter gear


Jarak bagi gigi (t)

= 9,42 mm

Tebal profil gigi (h)

= 4,71 mm

Kelonggaran puncak (ck)

= 0,75 mm

Tinggi kepala gigi (hc)

= 3 mm

Tinggi kaki gigi (hF)

= 3,75 mm

Tinggi profil gigi (H)

= 6,75 mm

Lebar gigi (b)

= 21 mm

Diameter lingkar bagi (d)

= 45 mm

Diameter lingkar kepala (dk)

= 51 mm

Diameter lingkar kaki (dF)

= 37,5 mm

Ukuran utama roda gigi 4


Diameter lingkar bagi (d)

= 45 mm

Diameter lingkar kaki (dF)

= 239,625 mm

Diameter lingkar kepala (dk)

= 37,5 mm

Jarak sumbu poros gigi yang berpasangan (a)

= 45 mm

Putaran roda gigi (n)

= 3428 rpm

5; Perhitungan Pelumasan dan Temperatur


50

Untuk roda gigi kondisi kerja dengan putaran lebih dari 1500 rpm
dengan :
V = 37 60 (est)
Dimana E 3,2 (diambil 7)

Viskositas dinamik

425 mPa . s

Temperatur kerja
T = 42,3 oC

Maka :
Minyak pelumas yang cocok utnuk roda gigi ini adalah SAE 70.

51

DAFTAR PUSTAKA
1; Sularso dan Suga, K, 1997, Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen
Mesin, Edisi ke 9, PT. Pradya Pramitya, Jakarta.
2; Umar Sukrisno J. 1984, Bagian-bagian Mesin dan Merencana, Penerbit
Erlangga, Jakarta.\
3; Jhosepeshir Lengen, 1991, Dasar Konstruksi Mesin Edisi 4 Jilid I, Penerbit
Erlangga, Jakarta.
4; Jack Steck, 1993, Elemen Konstruksi Bangunan Mesin, Edisi 21, Penerbit
Erlangga, Jakarta.
5; Suratman M., 1998, Menggambar Teknik Mesin, Penerbit Pustaka Grafika,
Bandung.

52