Anda di halaman 1dari 82

LAB.

MEKANIKA TANAH JURUSAN TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

HAND OUT
MEKANIKA TANAH

HANGGORO TRI CAHYO A.

EDISI 2013

Tanah dan Mekanika Tanah


Ilmu yang mempelajari tentang keseimbangan
dan gerakan dari tanah adalah mekanika tanah.

MATERI

01

Tanah merupakan material hasil pelapukan batuan, yang setiap gumpalnya


mengandung butiran tanah, udara dan air. Seperti halnya material baja maupun
beton, tanah juga akan mengalami deformasi, tegangan serta regangan akibat
beban luar ataupun berat sendiri tanah. Namun perilaku tanah yang kompleks
membuat material properties dan boundary condition tanah tidak dapat terdefinisi
secara jelas. Sifat non-linear hubungan tegangan dan regangan, deformasi
permanen jika terjadi unloading, serta perilaku tanah yang tergantung waktu
seperti lempung merupakan contoh kekomplekkan perilaku tanah. Sehingga
banyak asumsi yang dibuat untuk menyederhanakan perilaku tanah dan ketajaman
engineering judgement yang didukung pengalaman masa lalu sangat membantu
menyelesaikan permasalahan geoteknik.
Pada Gambar 1, agar tanah tidak longsor pada saat untuk penggalian tanah untuk
pondasi, maka diperlukan turap sebagai penahan. Dengan memahami prinsip
mekanika tanah, kita dapat memprediksi perilaku tanah dan metode konstruksi
yang tepat agar desain turap menjadi ekonomis dan stabil.
Memprediksi perilaku tanah, memberikan solusi desain sub-structure dan
mengantisipasi kemungkinan terjadinya kegagalan geoteknik merupakan tugas
insinyur geoteknik dalam sebuah proyek konstruksi. Permasalahan penurunan
tanah pada jalan dan rel kereta api akibat pegaruh berat sendiri dan beban lalulintas, atau menentukan beban yang diijinkan untuk sebuah pondasi bangunan
merupakan contoh permasalahan yang sering dihadapi. Dan untuk menyelesaikan
itu semua, ilmu mekanika tanah merupakan pengetahuan dasar yang harus
dikuasai. Diharapkan setelah menempuh mata kuliah mekanika tanah ini,
mahasiswa dapat membaca hasil penyelidikan tanah yang disajikan oleh
laboratorium mekanika tanah untuk berbagai keperluan di lapangan.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 1

Gambar 1. Prediksi deformasi dan gaya yang bekerja pada dinding turap, serta
arah pergerakan tanah menggunakan metode elemen hingga
dengan software PLAXIS.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 2

Tentang Penyelidikan Tanah


You pay for a site investigation whether you have one or not.
--Institution of Civil Engineers (1991)--

MATERI

02

A. TUJUAN PENYELIDIKAN TANAH


Tujuan umum :
1) Memberikan data yang mewakili kondisi tanah dan relevansi terhadap
pembangunan.
2) Memberikan info kondisi disekitar lokasi yang dikembangkan. Misalnya,
dalam proyek ada alur air hujan.
3) Informasi perlunya bangunan sementara/pendukung, misalnya perlu
tidaknya jembatan sementara atau meninggikan tanah.
4) Alternatif-alternatif bila perlu, misalnya jika ada situs purbakala maka
penyelidikan perlu memberikan alternatif penyelesaiannya.
Tujuan khusus :
1) Menetapkan kesesuaian dari lapangan dan sekitarnya terhadap proyek
yang direncanakan [ideal]. Misalnya untuk proyek pengolahan limbah.
2) Menyajikan data dari beberapa aspek : ekonomi, keamanan dan kehadalan
desain pondasi, pekerjaan tanah/sementara yang diperlukan, pengaruh
penggunaan lahan sebelumnya.
3) Menginformasikan kemungkinan terjadinya masalah/kendala pada
pelaksanaan akibat kondisi tanah sehingga diperlukan pekerjaan sementara
untuk galian, drainasi, jalan ke lokasi (akses) dan lain sebagainya. Misalnya
ada kasus muka air tanah (m.a.t) yang tinggi sehingga diperlukan proses
dewatering.
4) Memberikan perbandingan metode pelaksanaan /alternatif lokasi. Misalnya:
alternatif pondasi yang cocok.
5) Pengaruh perubahan di lapangan akibat pengembangan misalnya reklamasi
dan pengeprasan bukit untuk jalan.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 3

B. LAPORAN PENYELIDIKAN TANAH


Biasanya terdiri atas 2 bagian :
1) Factual dan Descriptive Record
a. Deskripsi lapangan : lokasi apa berupa lereng / tepi sungai /di tengahtengah bangunan. Deskripsi lapangan digunakan sebagai bahan
pertimbangan pelaksanaan.
b. Pekerjaan penyelidikan yang dilakukan.
c. Data yang dihasilkan misal : bor log (profil tanah).
d. Komentar cara penyelidikan dan kesulitan yang dihadapi di lapangan
Contoh : pelaksanaan pekerjaan pondasi pada tanah pasir berair yang
mudah longsor, akan kesulitan pada saat penggalian.
e. Rangkuman kondisi tanah.
f. Rangkuman cara pengujian lapangan dan laboratorium serta hasilnya.
g. Identifikasi formasi geologi (bila dimungkinkan).
2) Engineering Interpretation
a. Jenis pondasi yang sesuai.
b. Kapasitas daya dukung tanah/pondasi yang direkomendasikan.
c. Kemungkian penurunan yang akan terjadi.

C. TITIK PENGEBORAN DAN SONDIR


C.1. Penentuan Letak dan Banyaknya Titik Bor dan Sondir
Untuk menentukan letak dan banyaknya titik bor dan sondir suatu proyek
banyak ditentukan oleh : jenis dan karakteristik sruktur bangunan atas yang
direncanakan, keanekaragaman struktur geologi dan kondisi topografi daerah
setempat, serta lokasi atau daerah yang dianggap kritis. Intinya adalah kita harus
memahami apa masalahnya terlebih dahulu, baru kemudian mengerti apa yang
akan kita lakukan untuk mendapatkan solusi. Pedoman penentuan letak dan
banyaknya bor dan sodir belum ada acuan yang jelas/pasti, dari berbagai sumber
yang pernah kami dapat dapat disimpulkan sebagai berikut :

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 4

Tanah Lunak

Tanah
Keras

Dicurigai
patahan

terjadi

Tanah
Lunak

Tanah
Keras

Longsor

Drainase bawah tanah,


sebabkan longsor

Gambar 1. Contoh engineering interpretation.


Untuk proyek baru yang luas, untuk survey pendahuluan jarak titik bor dan
sondir antara 50 m sampai 150 m satu dengan yang lainnya. Sedangkan pada
survey detail penentuan titik-titik bor dan sondir harus dilakukan pada bangunan
yang berat dan penting.
Untuk struktur yang besar dengan jarak kolom dekat, tempatkan titik-titik bor
dan sondir berjarak 15 25 m, utamakan meletakkan titik bor dan sondir pada
kolom yang bebannya berat, lokasi shearwall, lokasi ruang mesin dan sebagainya.
Bangunan Jembatan, tempatkan titik bor dan sondir ditengah/sekitar perletakan
pondasi, jika tanah diragukan perlu dilakukan pemboran kearah keliling pondasi.
Pada timbunan oprit jembatan yang tinggi dan lebar, minimal dilakukan 1 (satu)
titik bor dan sondir.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 5

Bangunan Gedung atau pabrik yang luas dengan beban kolom ringan sampai
sedang, penempatan titik bor dan sondir cukup pada ke-empat sudut ditambah
satu titik ditengah. Sedangkan untuk beban kolom berat dan daerah pantai perlu
ditambah titik sondir dan boring.
Bangunan berat di tepi laut, seperti dry dock yang sudah ditentukan letaknya,
letakkan titik bor dan sondir berjarak 15 meter, dan tempatkan titik-titik bor pada
daerah kritis dan rawan erosi.
Rencana tembok penahan tanah yang panjang, tempatkan titik bor dan sondir
masing-masing berjarak 60 m sepanjang alinyemen dinding, dan tambahkan 2
(dua) titik bor atau 2 (dua) titik sondir diluar rencana dinding pada daerah yang
dianggap kritis dan rawan longsor.
Stabilitas lereng galian dalam (deep cut) atau lereng urugan yang tinggi (high
embankment), minimal diperlukan 3 (tiga) titik bor pada titik kritis, sehingga dapat
diperoleh potongan geologis yang baik untuk dianalisis, perlu diperlukan beberapa
potongan geologis yang disesuaikan dengan kondisi geologi setempat.
Perencanaan Bendung atau bendungan, tempatkan titik-titik bor berjarak 60 m
sepanjang daerah rencana pondasi, kemudian tambahkan titik-titik bor pada
tempat yang kritis, seperti pada rencana spillway, pintu air, terowongan dan
sebagainya, sehingga jarak titik bor menjadi 30 m.
Rencana dermaga pelabuhan, jetty dan trestle, paling sedikit diperlukan 3 titik
bor pada rencana jetty, satu titik bor pada rencana mooring dolphin, dan 2 titik bor
yang berjarak 50 sampai 200 m pada rencana trestle.

Meskipun sudah ada acuan tersebut diatas dan sumber-sumber yang lain,
penentuan akhir letak dan jumlah titik boring dan sondir tergantung dari tenaga ahli
geoteknik yang bersangkutan dan tergantung dari pengalaman yang pernah
dilakukan. Namun demikian, pada tahap perencanaan bangunan, kadang kala
konsultan perencana masih membatasi biaya penyelidikan tanah dalam
prosentase yang kecil dibandingkan nilai proyek fisik bangunan. Prosentase biaya
penyelidikan tanah yang kecil terhadap biaya fisik bangunan (kurang dari 1%)
merupakan konsep yang kurang benar, penyelidikan tanah haruslah berorientasi
nilai kegunaan hasil laporan penyelidikan sesuai dengan kondisi lapangan dan
peruntukan bangunan yang akan direncanakan. Penyelidikan tanah yang kurang
memadahi menyebabkan data akan kurang mewakili kondisi yang sebenarnya dan
memiliki resiko kegagalan yang tinggi. Sedangkan penyelidikan tanah yang
berlebih akan menyebabkan pemborosan biaya dan waktu.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 6

SAMPLE

INTERPRETASI ENGINEER 2
( dengan penambahan data pelengkap )

INTERPRETASI
ENGINEER 1

Gambar 2. Perbedaan interpretasi engineer.

C.2. Kedalaman Pengeboran Tanah


Kedalaman penyelidikan (bukan yang sangat pasti, hanya saran)
Kriteria :
Lebih dalam dari lapisan tanah yang tak stabil / lunak untuk menyakinkan tanah
dapat memberikan dukungan pondasi supaya aman.
Jika lapisan tanah cukup baik, kedalaman penyelidikan 1- 1 b
INDIVIDUAL FOOTING
Untuk z=1 b terjadi 1 << 0, mungkin tinggal 10% atau kurang.
P

0
Z
1

Gambar 3. Kedalaman penyelidikan tanah yang disarankan untuk footing.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 7

untuk beberapa kasus :


INDIVIDUAL FOOTING DALAM STRUKTUR

1 b

RAFT / MAT FOUNDATION

1 b

Gambar 4. Kedalaman penyelidikan tanah yang disarankan untuk pondasi raft.


Untuk kasus-kasus tertentu tidak perlu misal jika pondasi raft dengan b = 30 meter,
jika kondisi tanah kedalaman 30 m sudah tanah keras maka tidak perlu
penyelidikan hingga 1 b = 45 meter.

PONDASI TIANG KELOMPOK


Untuk nilai b yang kecil, 1 b dapat berada di dalam area tiang.
Disarankan kedalaman penyelidikan tanah minimum 6 meter baik untuk rumah
lantai 2 dan rumah tak bertingkat.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 8

Untuk meyakinkan, dibuat 1 lubang bor atau lebih yang cukup dalam dan yang
lain menyesuaikan keperluan.
Jika dijumpai lapisan batuan yang keras dan kompak, perlu diyakini ketebalannya
miminum 3 meter atau disarankan 5 meter.
Untuk kemungkinan pondasi tiang, diyakinkan bahwa beban bangunan bisa
dipindahkan ke tanah pendukung yang baik.

2/3 L
L

1 b

Gambar 5. Kedalaman penyelidikan tanah yang disarankan untuk pondasi tiang.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 9

Perbandingan Hasil
Boring dan Sondir

MATERI

Kita masukan suatu batang baja dengan menekan,


data merupakan perlawanan dari tanah yang ditekan.
--- prinsip pengujian penetrasi --

03

A. TENTANG SONDIR
Sondir adalah salah satu alat pengujian tanah di lapangan. Sondir disebut juga
static cone penetration test (CPT) yang berasal dari Belanda, Prancis, Swedia,
Norwegia. Tetapi yang paling banyak digunakan dan telah distandarkan
internasional adalah yang berasal dari Belanda.
Beban statik menekan batang baja dengan ujung standar (konis/kerucut).
Konis tunggal (single cone), ganda (biconis) yang merupakan friction cone.
Luas ujung cone (Ac) =10 cm2, luas selimut yang diukur (As) = 100-150 cm2.
Perlawanan tanah terhadap conis :
Perlawanan Ujung Cone Resistance (qc) kg/cm2
Perlawanan Selimut Side / local friction (fs)
Pembacaan perlawanan setiap kedalaman 20 cm
Hasil penyelidikan adalah grafik :
Kedalaman Vs qc (cone resistance)
Kedalaman Vs fs (friction resistance)
Kedalaman Vs jumlah fs
Kedalaman Vs Rf (friction ratio)
Cara ukur :
Pembacaan pertama adalah nilai qc dalam kg/cm2
Kemudian pembacaan kedua adalah nilai (qc + fs) dalam kg/cm2

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 10

Cara Hitung :
fs = [(qc + fs) qc ] x (Ac / As) dalam kg/cm2
Rf = fs/qc x 100 dalam prosentase.
ft = komulatif dari (fs x 20) untuk tiap pembacaan data, dalam kg/cm.
.

20 cm
f t 1 = 20 . f s 1

20 cm

f t 2 = f t 1 +2 0 . f s 2

Ada
lapisan
lensa
keras
Ada lapisan lensa lunak
qc
24 m

ft
Lapisan keras

Gambar 1. Contoh penggunaan sondir untuk pendugaan lapisan tanah.

B. PERBANDINGAN HASIL SONDIR DENGAN BORING


Di Indonesia, salah satu cara yang biasanya digunakan untuk membantu
mengurangi kemungkinan terjadinya mis-interpretasi penampang profil tanah di
antara titik bor yang secara visual tidak nampak adalah penggunaan cone
penetration test (CPT) atau lebih dikenal dengan nama sondir. CPT telah
menunjukkan manfaat untuk pendugaan profil atau pelapisan tanah terhadap
kedalaman karena tipe perilaku tanah telah dapat diidentifikasi dari kombinasi hasil
pembacaan qc dan fs.
Perbandingan praktis jumlah titik bor dengan jumlah titik CPT adalah 1 : 3
(Rahardjo et al, 2001). Sedangkan menurut CUR (1996) untuk tahah lunak, secara
umum perbandingan yang digunakan adalah 10-20% jumlah titik CPT yang ada

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 11

dalam suatu lokasi dilakukan satu kali pemboran. Posisi titik CPT untuk suatu area
proyek adalah minimal satu titik CPT di dekat titik bor sebagai verifikasi data,
sedangkan yang lainnya terletak di antara titik bor untuk keperluan interpolasi.
Dalam grafik klasifikasi tipe perilaku tanah berdasarkan CPT (Robertson et al.,
1986) dan (Begemann, 1965), tanah akan memiliki tipe perilaku tanah dalam
kisaran yang sama jika memiliki nilai qc dan Rf yang sama seperti yang tampak
pada Gambar 2 dan 3. Jika tipe perilaku tanah dalam kisaran (range) yang sama
disajikan dalam model lapisan tanah untuk setiap titik CPT yang ada, maka batasbatas perubahan lapisan tanah untuk setiap titik CPT akan terbentuk dan
selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai informasi penunjang untuk pembuatan
model profil tanah.
Perlu dipahami bahwa tipe perilaku tanah hasil ploting data titik CPT ke dalam
grafik klasifikasi seperti pada Gambar 2 dan 3 dapat berbeda secara signifikan
dengan jenis tanah pada suatu lapisan hasil titik bor terdekatnya, sehingga grafik
perlu disesuaikan dengan pengalaman lokal yang ada untuk suatu lokasi
penyelidikan tanah.
Tingkat keandalan profil tanah hasil interpretasi semata-mata bergantung dengan
perbedaan tanah yang sebenarnya dan tanah yang diidealisasikan pada batasbatas tertentu. Jika perbedaan yang berarti terlepas dari perhatian maka desain
menjadi tidak memuaskan walaupun penyelidikan tanahnya dilakukan secara
cermat (Terzaghi dan Peck, 1967). Hal ini mengingat perencana akan bekerja
dengan profil tanah hasil penyederhanaan yang harus dipandang tidak lebih
sebagai ungkapan hipotesa kerja yang senantiasa direvisi atas dasar hasil
observasi di lapangan saat tahap pelaksanaan proyek.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 12

Gambar 2. Grafik klasifikasi tipe perilaku tanah berdasarkan CPT


(Robertson et al., 1986).

Gambar 3. Grafik klasifikasi tipe perilaku tanah berdasarkan CPT


( Begemann, 1965 ).

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 13

Klasifikasi Tanah

MATERI

Dengan mengetahui klasifikasi tanahnya,


prediksi awal perilaku tanah dapat digambarkan.-

04

A. KLASIFIKASI TANAH HASIL PENGUJIAN LABORATORIUM


Klasifikasi tanah dapat dilakukan pengujian cepat di lapangan (secara visual dan
peremasan dangan tangan) maupun didasarkan pada hasil pengujian
laboratorium. Sifat-sifat tanah sangat bergantung pada ukuran butiran-butirannya,
sehingga demikian distribusi ukuran butiran dapat menjadi acuan pemberian nama
klasifikasi tanah. Untuk mengetahui distribusi ukuran butiran tanah diperlukan uji
Sieve Analysis (analisis ayakan) dan uji Hydrometer Analysis untuk butiran lebih
kecil dari 0.075 mm. Setelah dilakukan analisis ukuran butiran, hasil prosentase
butiran yang lolos untuk tiap-tiap nomor saringan digambarkan dalam grafik semilogaritmik seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Contoh penyajian distribusi ukuran butiran tanah (Das.,2007).

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 14

Berikut ini akan disajikan klasifikasi tanah hasil pengujian laboratorium dengan
menggunakan sistem Unified (USCS). Perlu dipahami bahwa sistem ini hanya
mengklasifikasikan tanah berdasar atas data distribusi ukuran butiran dan
pengujian Atterberg Limit sehingga masalah kemampumampatan tanah, perilaku
tanah akibat pembebanan dan kapasitas dukung tanah tidak dapat begitu saja
diprediksi dari klasifikasi tanah.
Sistem ini membedakan tanah menjadi dua klasifikasi awal yakni tanah berbutir
kasar dan berbutir halus dengan berdasarkan banyaknya butiran yang tertahan
saringan no. 200 atau 0.075 mm seperti pada Gambar 2. Jika tanah terdiri dari
campuran tanah berbutir kasar dan berbutir halus maka ukuran butiran yang
dominan tentunya akan mengontrol beberapa aspek perilaku tanahnya. Misalnya,
tanah pasir kelempungan, (yang artinya tanah pasir yang mengandung lempung)
akan memiliki perilaku yang berbeda dengan tanah lempung kepasiran.
A.1. TANAH BERBUTIR KASAR
Sifat tanah berbutir kasar tergantung terutama pada ukuran butirannya, sehingga
digunakan koefisien bilangan untuk menggambarkan bentuk kurva lengkung
distribusi butirannya. Selain ukuran butiran tanah, bentuk dan susunan butiran juga
berpengaruh pada sifat tanah berbutir kasar.
Ukuran efektif

Koefisien keseragaman (CU)


Koefisien gradasi (CC)

:
:

D10, yang didefinisikan sebagai 10% dari berat


butiran total berdiameter lebih kecil dari ukuran
butiran tertentu.
D60/D10
(D30)2 / (D60 x D10)

Tanah dengan gradasi baik adalah campuran antara tanah berbutir kasar dan
halus yang memiliki porsi berimbang sehingga juga disebut dengan gradasi rapat.
Tanah berbutir kasar yang bercampur secara homogen dengan butiran-butiran
yang lebih halus merupakan bahan yang baik untuk stabilitas bendungan. Semakin
kecil ukuran butiran tanah, maka koefisien permeabilitas (k) semakin kecil.
Adapun kriteria tanah bergradasi baik adalah :
Untuk krikil, tanah bergradasi baik jika CU > 4 dan 1 CC 3
Untuk pasir, tanah bergradasi baik jika CU > 6 dan 1 CC 3
Secara umum, tanah memiliki gradasi sangat baik jika CU > 15.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 15

Gambar 2. Bagan alir klasifikasi tanah sistem Unified.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 16

A.2. TANAH BERBUTIR HALUS


Sifat tanah berbutir halus seperti lempung dan lanau lebih tergantung pada
komposisi partikel mineralnya dan secara
secara langsung tidak ada hubungannya
dengan ukuran butirannya. Sehingga pengujian batas plastisitas akan memberikan
gambaran yang lebih baik akan sifatnya. Istilah plastisitas menggambarkan
kemampuan tanah dalam menyesuaikan perubahan bentuk pada volume yang
konstan tanpa retakan. Tanah dapat berbentuk cair, plastis, semi padat atau padat
bergantung pada kadar air (w). Kedudukan fisik tanah berbutir halus pada kadar air
tertentu disebut dengan konsistensi. Atterberg (1911) memberikan cara untuk
menggambarkan batas cair ((liquid limit), batas plastis (plastic
plastic limit),
limit dan batas
susut (shrinkige
shrinkige limit)
limit dengan posisi batas-batas
batas seperti pada Gambar 3.
Pengujian Atterberg Limit dilakukan hanya untuk tanah yang lebih dari 12% lolos
pada saringan no.200 dengan tanah yang
yang diuji adalah tanah yang lolos saringan
no.40 (0.42 mm) saja.

Gambar 3. Hubungan batas-batas


batas batas konsistensi tanah berbutir halus dan perubahan
volume total (V).

Pengujian batas konsistensi ini dapat memberikan suatu gambaran secara g


garis
besar akan sifat-sifat
sifat tanah yang diuji. Selisih LL dan PL disebut dengan indek
plastisitas (IP), jika IP semakin besar maka jumlah partikel lempung dalam tanah

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 17

semakin banyak. Jika IP rendah seperti pada tanah lanau, sedikit pengurangan
kadar air (w) akan berakibat tanah menjadi kering. Sebaliknya jika kadar air
bertambah sedikit saja, tanah menjadi cair. Indeks plastisitas biasanya digunakan
sebagai salah satu syarat bahan timbunan, misalnya pembatasan IP maksimum
6% pada bahan timbunan berbutir bersih. Jenis tanah berplastisitas tinggi seperti
CH (lempung berplastisitas tinggi) sama sekali tidak boleh digunakan pada 30 cm
lapisan langsung di bawah bagian dasar perkerasan atau bahu jalan atau tanah
dasar bahu jalan.

Gambar 4. Bagan Plastisitas Tanah.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 18

Volume dan Berat Tanah

MATERI

Tanah memiliki sesuatu untuk dibaca, diamati,


diinterpretasikan perilakunya.

05

A. HUBUNGAN VOLUME DAN BERAT TANAH


Dalam ilmu mekanika tanah, biasanya tanah disederhanakan menjadi model untuk
memahami perilakunya. Tanah tersusun atas butiran padat dan rongga pori (void).
Rongga pori sendiri dapat berupa air atau udara atau kedua-duanya. Bila tanah
dalam kondisi jenuh air, rongga pori seluruhnya akan terisi oleh air. Dalam ilustrasi
berikut ini akan disajikan bagian-bagian tanah :

Vv

Va

UDARA

Vw

AIR

Wa=0
Ww

Vv

Ww

Vw

Vs

Ws

Vs

V
Vs

BUTIRAN

Ws

Jika Vs=1, maka e=Vv

Prinsip yang harus dipahami terlebih dahulu adalah :


W
V
Vv

= W w + Ws
= V a + Vw + V s
= V a + Vw

dengan,
W = berat tanah total (ton)
W w = berat air (ton)
Ws = berat butiran padat (ton)

V
Va
Vw
Vs
Vv

=
=
=
=
=

volume tanah total (m3)


volume udara (m3)
volume air (m3)
volume butiran padat (m3)
volume rongga pori (m3)

Hubungan volume yang biasa digunakan dalam mekanika tanah adalah angka
pori (void ratio), porositas (porosity) dan derajat kejenuhan (degree of saturation).

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 19

Angka pori (e) =

Vv
Vs

Porositas (n) =

Vv

Derajat
Vw
X 100 (%)
kejenuhan (S) =

Vv

Sedangkan hubungan berat yang biasa digunakan adalah kadar air (moisture
content), dan berat volume (unit weight).
Kadar air (w ) =

Ww
Ws

X 100 (%)

Berat volume basah (b ) =


Berat volume kering (d ) =

(ton/m3)

V
Ws

(ton/m3)

Jika berat volume butiran padat (s) = W s / Vs (ton/m3), maka perbandingan antara
berat volume butiran padat (s) dengan berat volume air (w) pada temperatur 4c
adalah berat jenis (spesific gravity) :

Gs =

s
w

Persamaan lain yang biasa digunakan adalah :


Derajat Kejenuhan (S) :
S = w.Gs/e
Berat volume jenuh air (sat ) untuk S = 1 :
sat = (Gs.w + e.w) / (1 + e)
Berat volume kering (d ) : d = b / (1+w)
Angka pori (e) : e = n / (1-n)
Porositas (n) : n = e / (1+e)

B. CONTOH HASIL PENGUJIAN SOIL PROPERTIES


Untuk memahami kisaran angka-angka hasil uji soil properties, berikut ini disajikan
tabel hasil penyelidikan tanah untuk beberapa lokasi di Semarang :

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 20

Lokasi

Diskripsi Boring

Lempung plastis
campur sedikit
krikil kandungan
air sedang.
Lempung plastis
kandugan air
tinggi.
Jl. Erlangga
Lanau
kelempungan
lunak
di atas m.a.t
Lanau
kelempungan
lunak
di bawah m.a.t
Lanau kepasiran
medium
di bawah m.a.t
Bukit Sari
Lempung padat
campur butir
kasar / pasir
Lempung padat
campur butir
kasar / pasir dan
batuan
Tembalang
Lempung
kelanauan
campur tanah
butir kasar
medium padat
Lempung
kelanauan
campur tanah
butir kasar padat
Kokrosono
Lempung
kelanauan lunak
di bawah m.a.t
Polder Tawang Lempung pasiran
lunak di bawah
m.a.t
Lempung
kelanauan lunak
di bawah m.a.t
Jl. Arteri
- Lempung lunak di
Kokrosono
bawah m.a.t
Lempung sangat
lunak di bawah
m.a.t

w
(%)

Gs

d
(t/m3)

b
(t/m3)

n
(%)

44.86

2.243

1.118

1.62

50.17

1.007

64.41

2.276

0.923

1.517

59.45

1.466

33.27

2.63

1.25

1.67

52.32

1.09

42.65

2.61

1.16

1.65

55.55

1.249

34.85

2.622

1.23

1.66

52.92

1.124

26.2

2.605

1.315

1.659

34.44

0.525

30.95

2.76

1.489

1.950

46.09
7

0.855

25.74

2.5

1.52

1.91

39.16

0.64

20.27

2.52

1.00

1.66

33.85

0.51

85.22

2.52

0.8

1.48

68.24

2.14

44.82

2.45

1.16

1.69

52.43

1.10

90.02

2.511

0.77

1.46

69.33

2.26

74.25

2.57

1.19

2.09

53.38

1.14

45.35

2.55

1.13

1.65

55.49

1.24

Jl. Pahlawan

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 21

Pemadatan Tanah

MATERI

Bagaimana mungkin jalan menjadi mulus kembali jika


setelah digali untuk jalur kabel dan pipa hanya
dipadatkan dengan stemper atau baby roller ?

06

Pemadatan tanah merupakan proses berkurangnya volume rongga pori (Vv) tanpa
diikuti oleh perubahan volume air (Vw) akibat pembebanan dinamis. Pengurangan
volume rongga pori (Vv) akibat mekanisme pergerakan dari partikel padatnya
sehingga tersusun rapat satu sama lain dan saling mengunci akan mengurangi
volume tanah total (V). Sehingga dari persamaan berat volume kering (d) :
Berat volume kering (d) =

Ws
V

(ton/m3)

jika volume tanah total (V) berkurang, maka berat volume kering (d) akan
bertambah mengingat berat butiran padat (W s) adalah tetap. Tujuan dari
pemadatan ini antara lain untuk mengurangi sifat mudah mampat, meningkatkan
kuat geser tanah, mengurangi permeabilitas dan mengurangi perubahan volume
tanah.

Vv

Va

UDARA

Vw

AIR

Wa=0
Ww

Vv

Ww

Vw

Vs

Ws

Vs

V
Vs

BUTIRAN

Ws

Jika Vs=1, maka e=Vv

dengan,
W = berat tanah total (ton)
W w = berat air (ton)
Ws = berat butiran padat (ton)

V
Va
Vw
Vs
Vv

=
=
=
=
=

volume tanah total (m3)


volume udara (m3)
volume air (m3)
volume butiran padat (m3)
volume rongga pori (m3)

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 22

A. PENGUJIAN KEPADATAN DI LABORATORIUM


Proctor (1933) telah mengamati bahwa ada hubungan yang pasti antara kadar air
(w) dan berat volume kering (d). Di laboratorium, tanah yang berada di dalam
silinder mould (tanah dengan diameter butir> 20 mm disingkirkan) dipadatkan
dengan ditumbuk dengan berat penumbuk dan tinggi jatuh tertentu. Tanah
dipadatkan dalam beberapa lapisan dan tiap lapisan ditumbuk dalam jumlah
tumbukan tertentu. Dalam pengujian ini, percobaan diulang paling sedikit 5 kali
dengan kadar air (w) tiap percobaan divariasikan. Terdapat satu nilai kadar air
optimum (wopt) untuk mencapai berat volume kering maksimumnya (dmaks) seperti
disajikan pada Gambar 1.

dmaks
(ton/m3)

wopt

w (%)

Gambar 1. Kurva hubungan kadar air dengan berat volume kering.

Tingkat kepadatan tanah setelah proses pemadatan dapat dilihat dari berat volume
keringnya yang nilainya bergantung pada jenis tanah, kadar air dan usaha
pemadatan. Pada nilai kadar air rendah, untuk kebanyakan tanah, tanah
cenderung bersifat kaku dan sulit dipadatkan. Setelah kadar air bertambah, tanah
menjadi lebih mudah dipadatkan. Pada kadar air yang tinggi, berat volume kering
akan berkurang karena rongga pori tanah menjadi penuh terisi air yang tidak
mampu dikeluarkan dengan cara pemadatan.
Logikanya, bila seluruh udara di dalam tanah dapat dipaksa keluar pada waktu
pemadatan, tanah akan berada dalam kedudukan jenuh dan nilai berat volume
kering akan menjadi maksimum. Namun kenyataannya kondisi zero air void (zav)
ini sulit tercapai. Persamaan garis zav adalah :

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 23

Berat volume kering (d) =

Gs (1-A) w
1 + w.Gs

(ton/m3)

dengan,
Gs = berat jenis (spesific gravity)
A = kadar udara (%)
Untuk memudahkan sistem pembelajaran pengujian proctor, saat ini telah tersedia
software simulasi ProctorW versi 1.01 yang dikembangkan pada tahun 1998 oleh
M.B. Jaksa dari Universitas Adelaide, Australia seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Simulasi uji Proctor dengan software ProctorW.

B. PENGUJIAN KEPADATAN DI LAPANGAN


Untuk memeriksa kepadatan (berat volume kering) di lapangan dapat dilakukan
dengan metode sand cone. Tanah yang telah dipadatkan kemudian digali dan
dihitung kadar airnya. Setelah itu, dihitung volume tanah yang digali dengan cara
pasir kering yang telah diketahui berat volumnya dituangkan ke dalam lubang
lewat kerucut pengukuran. Volume lubang dapat ditentukan dari berat pasir di
dalam lubang dan berat volume keringnya. Tentukan berat volume basahnya dan
berat volume keringnya (dlapangan). Perbandingan dlapangan/dmaks adalah kepadatan
relatifnya.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 24

C. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN URUGAN TANAH DENGAN ALAT


BERAT PADA BANGUNAN GEDUNG.
Timbun daerah yang akan diurug dengan menggunakan bulldozer lapis per lapis
setebal 20 cm dan dipadatkan sesuai dengan mesin pemadat (misal : Vibro
Compactor, Sheep Foot Roller dan lain-lain) dari hasil percobaan pemadatan di
lapangan yang memvariasikan jumlah lintasan, peralatan pemadat, dan kadar air
(+1% s/d 3%) hingga syarat kepadatan terpenuhi. Biasanya untuk pekerjaan
timbunan dihindari material lempung berplastisitas tinggi (CH) atau tanah sangat
ekspansif. Timbunan tidak boleh ditempatkan, dihampar atau dipadatkan sewaktu
hujan. Pemadatan tidak boleh dilaksanakan setelah hujan atau bilamana kadar air
material berada di luar rentang yang disyaratkan. Untuk timbunan lapis pertama
(work table) tidak diperlukan uji kepadatan tanah. Timbunan dilanjutkan dengan
lapis timbunan berikutnya dan untuk timbunan lapis kedua dan selanjutnya
dilakukan pengujian kepadatan tanah dengan metode sand cone dengan
kepadatan relatif 95% standar proctor. Pengujian proctor, uji ayakan dan plastisitas
dilakukan tiap 1000m3. Setelah elevasi atau ketinggian urugan tercapai, maka
dilakukan pengukuran akhir untuk mengecek elevasi tersebut apakah telah sesuai
dengan ketinggian yang telah ditentukan atau sesuai dengan shop drawing.
vibratory padded drum roller

pneumatic rubber-tired roller

vibratory steel-wheeled roller

Gambar 3. Peralatan pemadat dan contoh hasil percobaan pemadatan di


lapangan.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 25

Kontraktor bertanggung jawab dalam memilih metode dan peralatan untuk


mencapai tingkat kepadatan yang disyaratkan. Pada Gambar 4.3, hasil dari
percobaan penggilasan dengan vibrating roller 8-10 ton, dimana lempung
dihampar setebal 20 cm dan 15 cm dengan tangan maupun bulldozer setelah 1, 4,
8, 12 dan 16 lintasan. Dari hasil laboratorium didapatkan dmaks = 1,73 gr/cm3. Maka
paling tidak jika disyaratkan kepadatan relatif adalah 95% kepadatan standar
proctor (dlapangan = 1,73 x 0,95 = 1,64 gr/cm3), maka dapat dipilih penggilasan
dengan 6 lintasan dan tebal tiap lapisan 20 cm.
CONTOH SOAL :
Percobaan pemadatan Proctor standar yang dilakukan terhadap suatu contoh
lempung kepasiran memberikan hasil untuk 5 kali pengujian sebagai berikut :
1
2
3
4
5
w (%)
13.6
15.5
18
21.3
24.3
3
b (ton/m ) 1.726
1.851
1.934
1.920
1.860
Tentukan kadar air optimum (wopt) dan berat volume kering maksimumnya (dmaks).
JAWAB :
1
13.6
1.726

2
15.5
1.851

3
18
1.934

4
21.3
1.920

5
24.3
1.860

w (%)
b (ton/m3)
d (ton/m3)
d = b/(1+w)
Gambarkan kurva hubungan w (%) dengan d (ton/m3) :

d (ton/m3)

w (%)
Kadar air optimum (wopt) = ________ %.
Berat volume kering maksimumnya (dmaks).= ________ ton/m3.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 26

Tegangan Efektif

MATERI

Bersyukurlah orang yang dapat


memahami persamaan v = v + u.

07

A. PRINSIP TEGANGAN TOTAL, TEKANAN AIR PORI DAN TEGANGAN


EFEKTIF

Muka air

Piston

Piston

Katup

Tanah
Jenuh
S=100%
Pembaca
tekanan

(b)

(a)

Pegas

(c)

P
P

Katup

(f)

(e)

(d)

Gambar

Kondisi
katup

Beban P

b
c
d
e
f

tertutup
tertutup
terbuka
terbuka
terbuka

0
10 kg
10 kg
10 kg
10 kg

Beban yang
diterima oleh
pegas
0
0
4 kg
8 kg
10 kg

Beban yang
diterima oleh air
0
10 kg
6 kg
2 kg
0

Beban P adalah analog dari Tegangan Total.


Beban yang dipikul pegas adalah analog dari Tegangan Efektif.
Beban yang dipikul air adalah analog dari Tekanan Air Pori.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 27

B. DEFINISI DAN CARA PERHITUNGANNYA


Untuk memudahkan pengertian tegangan total, tekanan air pori dan tegangan
efektif, berikut akan disajikan definisi serta contoh cara perhitungannya :

1m

b = 1.716 ton/m3

1m

sat = 1.6538 ton/m3

Kondisi tidak jenuh

Kondisi jenuh
S=100%

Tegangan Total (
v)
adalah tekanan overburden yang bekerja searah gravitasi untuk suatu kedalaman
z akibat berat sendiri tanah termasuk air yang terkandung di dalam masa tanah
ditambah dengan beban yang bekerja dipermukaan tanah asli (misalnya air,
timbunan yang tak terbatas maupun timbunan yang terbatas sehingga
menggunakan teori stress distribution). Tegangan total (v) di titik A dapat dihitung
dengan :
v
=
b x 1 + sat x 1
=
1.716 x 1 + 1.6538 x 1
=
3.3698 ton/m2
Tekanan Air Pori (u)
adalah tekanan air pori (pore pressure) pada kedalaman z yang mengisi rongga
antar butiran padat yang bekerja ke segala arah dengan kondisi hidrostatis.
Tekanan air pori (u) di titik A dapat dihitung dengan :
u
=
w x 1 = 1 x 1
=
1 ton/m2

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 28

Tegangan Efektif (
v)
Tegangan efektif (v) di titik A dapat dihitung dengan :
v
=
v u
=
3.3698 1
=
2.3698 ton/m2
C. LEBIH DALAM TENTANG TEGANGAN EFEKTIF
Di dalam bidang engineering jika kita berurusan dengan kompresi, distorsi dan
kekuatan bahan yang berhubungan dengan tanah, kita harus selalu
mempertimbangkan tegangan efektif serta perubahan tegangan efektif. Kekuatan
geser tanah tergantung terutama pada tekanan antar butiran, yakni pada tegangan
efektif. Demikian juga volume tanah tergantung pada tegangan pada kerangka
butiran tanah sendiri. Ada tiga hal yang perlu dipahami tentang tegangan efektif :
1) Perilaku 2 jenis tanah dengan struktur dan mineral penyusun yang sama
akan sama jika keduanya memiliki tegangan efektif yang sama.
2) Jika suatu tanah bebannya ditambah atau dikurangi tanpa ada perubahan
volume dan tanpa adanya distorsi, maka tidak akan ada perubahan
tegangan efektif.
3) Volume tanah akan mengembang (dan melemah) atau terkompresi (dan
menguat) jika hanya besarnya tekanan air pori naik atau turun.

D. LIQUIFAKSI
Dari gambar di bawah ini, untuk kedalaman D, tegangan efektif (v) yang terjadi
adalah :
v
u
v

=
=
=
=

sat.D
w.(D+h)
v - u
(sat-w).D - w.h

h adalah ketinggian dari muka air dalam tandon air. Nilai tegangan efektif akan
menjadi nol jika h = D(sat-w)/w, dan pada saat itu tanah tidak dapat memikul
beban. Perilaku tanahnya seperti cairan padat dengan berat volume adalah sat.
Orang yang berdiri di atas permukaan tanah akan terbenam dalam pasir yang
terliquifaksi dan terapung dalam cairan padat.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 29

CONTOH SOAL :
Tentukan tegangan efektif (v) pada titik A untuk 3 kondisi muka air tanah (m.a.t)
jika diketahui : jenis tanah lempung kepasiran dengan sat = 2 ton/m3, b = 1.8
ton/m3. Berat volume air (w) diambil 1 ton/m3. Diasumsikan tanah homogen dan
tidak terjadi aliran air (hidrostatis).

2m
2m

2m

2m

4m

4m

4m

KONDISI 1

KONDISI 2

KONDISI 3

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 30

Kuat Geser Tanah

MATERI

08
A. ILUSTRASI TENTANG KUAT GESER TANAH
Dalam Gambar 1. jika beban aksial kolom berlebihan, kegagalan biasanya terjadi
dalam bentuk kegagalan geser. Jadi sebenarnya kekuatan struktur tanah yang
utama merupakan fungsi kekuatan gesernya. Kuat geser tanah dalam arah yang
mana saja merupakan tegangan geser maksimum yang dapat di kerahkan ke
struktur tanah dalam arah tersebut. Pada saat nilai tegangan geser mencapai
maksimum, tanah dianggap telah mengalami kegagalan, kekuatan geser tanah
telah termobilisasi seluruhnya.
Beban
kolom

Kegagalan kapasitas
dukung tanah

Tahanan
geser
Tegangan
Normal

Gambar 1. Kegagalan kapasitas dukung tanah

Kekuatan geser tanah ini tentunya hanya berasal dari struktur tanah saja, karena
air pori (u) tidak memiliki kekuatan geser. Tanah mendapatkan kekuatan gesernya
berasal dari friksi antar butiran (internal friction) dan kohesi tanah (cohesion)
seperti pada persamaan Coulomb :
= c + tan

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 31

dengan,

= kekuatan geser (kg/cm2).


c
= kohesi (kg/cm2).

= tegangan normal efektif (kg/cm2).

= sudut geser dalam ().


tan = koefisien friksi.

Tanah non-kohesif
= tan
= c + tan

Tanah kohesif
=c

Gambar 2. Kekuatan geser tanah.


Selain itu, kekuatan geser juga dapat dinyatakan dalam tegangan utama besar
(1) dan kecil (3) pada keadaan runtuh di titik yang ditinjau. Garis yang dihasilkan
oleh persamaan Coulomb di atas seperti pada Gambar 2, pada keadaan runtuh
merupakan garis singgung terhadap lingkaran Mohr yang menunjukkan keadaan
tegangan dengan nilai positif untuk tegangan tekan seperti pada Gambar 3.
Koordinat singgungnya adalah :
f
f

=
=
=

(1 - 3) sin 2
(1 + 3) + (1 - 3) cos 2
45 + /2

Hubungan antara tegangan utama efektif pada keadaan runtuh dan parameter
kuat geser (c, ) merupakan kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb yang dapat dalam
pers :
1 = 3 tan2 (45 + /2) + 2.c.tan (45 + /2)

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 32

Selubung
kegagalan
3

f
f

2
3

Gambar 3. Kondisi tegangan pada keadaan runtuh.

B. PENGUJIAN KUAT GESER TANAH


Parameter kuat geser dapat ditentukan dari pengujian laboratorium pada benda uji
yang diambil dari lapangan (boring) . Pengujian geser yang akan dibahas dalam
materi ini hanya pengujian di laboratorium dengan uji geser langsung (direct shear
test) seperti pada Gambar 4.
Prinsipnya, setelah beban aksial diberikan ke sampel tanah, kotak geser segera
diisi air dengan muka air kira-kira rata dengan muka atas sampel tanah. Kemudian
dilakukan pergeseran dengan cepat, sehingga selama penggeseran berlangsung,
air pori (u) tidak sempat mengalir keluar. Kecepatan diambil 1.06 mm/menit.
Penggeseran dilakukan selama 6 menit, dan selama penggerseran berlangsung
dicatat besarnya pergeseran lateral dan penurunan sampel setiap 0,25 menit.
Hasil pengujian kemudian di hitung dan disajikan seperti pada Gambar 5.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 33

Gambar 4. Alat uji geser langsung.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 34

= 37.23
C = 0 kg/cm2

Pengujian

1
2
3

Tegangan
Normal
(Kg/cm2)
0.25
0.50
1.00

Tegangan Geser
saat runtuh
(Kg/cm2)
0.17
0.41
0.75

Gambar 5. Hasil uji geser langsung untuk mendapatkan parameter geser c dan .

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 35

Tekanan Lateral yang Bekerja


pada Dinding Penahan Tanah

MATERI

09

A. TEKANAN AIR DAN TEKANAN TANAH DIAM


Sebelum memasuki materi tekanan lateral yang bekerja pada dinding penahan
tanah, ada baiknya kita mengulang pengertian tekanan air. Apa yang Anda ingat
tentang tekanan air ? Jika tekanan air itu bekerja permukaan dinding seperti pada
Gambar 1, bagaimana menghitung besar dan distribusi tekanan lateral yang
diterima oleh dinding ?

z
A

Gambar 1. Tekanan air ke segala arah besarnya sama.


Sedangkan dalam tanah, perbandingan antara besaranya tekanan tanah lateral
(h) dan tekanan overburden-nya (v) dinyatakan dalam persamaan :
h = ko.v
dengan ko = koefisien tekanan tanah diam. Menurut Jacky (1944), ko = 1 sin

untuk jenis tanah granular.


v

z
h
h

Garis
selubung

Gambar 2. Besarnya v dan h jika diplot dalam grafik kriteria kegagalan Mohr dan
Couloumb.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 36

B. TEKANAN LATERAL AKIBAT BERAT SENDIRI TANAH


(TEKANAN TANAH LATERAL)

Gambar 3. Apa yang dapat Anda pelajari dari percobaan ini ?

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 37

B.1. TEKANAN TANAH AKTIF


Gaya horisontal yang menyebabkan keruntuhan ini merupakan tekanan tanah aktif
dan nilai banding tekanan arah horisontal dan vertikalnya pada kondisi ini adalah
ka (Koefisien tekanan tanah aktif).
h = ka.v
Menurut Rankine, ka = tg2(45-/2).
Asumsi : Muka tanah datar dan permukaan dinding halus.
Pergeseran dinding
akibatkan h turun.

menyentuh
selubung
kegagalan.

h
hkritis
h

Penyederhanaan
Bidang

45+/

Gambar 4. Jika besarnya v tetap dan h terus turun, maka lingkaran akan
menyentuh selubung kegagalan Mohr dan Couloumb.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 38

B.2. TEKANAN TANAH PASIF


Gaya horisontal yang menyebabkan keruntuhan ini merupakan tekanan tanah
pasif dan nilai banding tekanan arah horisontal dan vertikalnya pada kondisi ini
adalah kp (Koefisien tekanan tanah pasif).
h = kp.v
Menurut Rankine, kp = tg2(45+/2).
Asumsi : Muka tanah datar dan permukaan dinding halus.
Pergeseran dinding
akibatkan h naik.

z
h

menyentuh
selubung
kegagalan.

hkritis

Penyederhanaan
Bidang

45-/2

keruntuhan

Gambar 5. Jika besarnya v tetap dan h terus naik,


menyentuh selubung kegagalan Mohr dan Couloumb.

maka lingkaran akan

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 39

C. TEKANAN TANAH LATERAL PADA KONDISI TANAH JENUH AIR


Di dalam air, untuk menghitung tekanan lateral yang bekerja pada sebuah dinding
dapat dihitung dengan h = v. Namun di dalam tanah, besarnya tekanan tanah
lateral belum tentu sama dengan tekanan overburden-nya atau h v.
Perbedaan inilah yang membuat perhitungan tekanan lateral (h) yang bekerja
pada dinding untuk kondisi tanah yang jenuh air (di bawah m.a.t) dihitung sendirisendiri, tekanan tanah lateralnya (h) dan tekanan air (u) yang bekerja.
CONTOH SOAL 1 :
Pada Gambar 6, hitung besarnya tekanan tanah lateral (h) pada titik A :

Pasir
= 1,716 ton/m3

1m
1m

= x 1 + sat x 1
= 1,716 x 1 + 1,6538 x 1
= 3,3698 ton/m2

= w x 1 = 1 x 1
= 1 ton/m2

= v u
= 3,3698 1
= 2,3698 ton/m2

ko
h

= 1 sin
= ko.v

Kondisi tidak
jenuh

Pasir
sat = 1,6538 ton/m3 Kondisi
jenuh
= 19

Gambar 6. Penyederhanaan lapisan dari hasil boring.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 40

CONTOH SOAL 2 :
Pada sebuah proyek penyediaan air bersih, terjadi kegagalan struktur bak
tandon air. Kegagalan berupa retaknya dinding bak yang menyebabkan air tidak
dapat tertampung. Anda sebagai staf sebuah konsultan perencana ditugaskan
untuk menghitung tekanan tanah lateral (h) yang terjadi di sepanjang dinding.
Data tanah dan permodelan diasumsikan sebagai berikut :

0.00 m
Lapisan 1 : Tanah urugan
b1 = 1.7 ton/m3
1 = 18
Bak

-2.00

Lapisan 2 : Tanah pasir


sat2 = 1.94 ton/m3
b2 = 1.8 ton/m3
2 = 20

-3.00
Terjadi keretakan
-4.00

Gambar 7.

Keretakan terjadi pada saat bak tandon air tidak terisi.

1 = 18
2 = 20

ka1 = tg2(45-/2) =
ka2 = tg2(45-/2) =

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 41

Hasil Perhitungan h (ton/m2)


Elevasi
(m)

Tekanan tanah lateral h (ton/m2)

0.00

h = 0

- 2.00

h = (b1.2).ka1
h = (b1.2).ka2

- 3.00

h = (b1.2 + b2.1).ka2

- 4.00

h = (b1.2 + b2.1 + (sat2 w).1).ka2

w = 1 ton/m3
Untuk menggambarkan diagram tekanan tanah lateral, plot hasil perhitungan pada
dinding bak tandon air.

D. TEKANAN LATERAL AKIBAT TEKANAN AIR DAN BEBAN DI ATAS


PERMUKAAN TANAH
Setelah mempelajari perhitungan tekanan tanah lateral (h) yang bekerja pada
sebuah bidang datar seperti dinding basement akibat berat sendiri tanah
(overburden). Kini, sebagai seorang engineer, kita juga harus mempertimbangkan
kondisi pembebanan terjelek yang akan terjadi. Sehingga tekanan lateral (h)
merupakan total dari tekanan tanah lateral (h) ditambah dengan tekanan air
serta distribusi dari beban di atas permukaan tanah ke dinding. Dari Gambar
8, coba asumsikan beban luar yang akan menambah tekanan tanah lateral yang
bekerja pada dinding penahan tanah.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 42

Jalan

Tanah urugan
Selokan
Tanah asli

Gambar 8. Struktur dinding penahan tanah di tepi jalan raya.

Tekanan air
Jika kondisi tanah jenuh air atau adanya beban tekanan air (misalnya air di dalam
kolam) yang bekerja pada dinding penahan tanah, maka selain tekanan tanah
lateral, beban lateral tambahan akibat tekanan air sedalam z (meter) dari muka air
tanah (m.a.t) diperhitungkan dengan persamaan :
h = air.z

Beban terbagi rata (q) di atas permukaan tanah


Jika terdapat penambahan beban sebesar q (t/m2), misalnya pada area parkir di
suatu terminal direncanakan dibuat dengan lapisan rigid pavement. Beban pelat
beton akan menambah tekanan lateral yang bekerja pada dinding penahan tanah
sebesar :
h = Ka. v
h = Ka. q

q (t/m2)
Rigid pavement

Gambar 9. Beban merata q di


atas tanah urugan.

Tanah urugan

Tanah asli

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 43

Jika ada beban titik (P) di dekat dinding.


Beban titik ini misalnya beban yang disalurkan oleh kolom sebesar P (ton) ke
dalam tanah melalui pondasi dangkal seperti pelat setempat. Beban titik ini akan
menambah tekanan lateral yang bekerja pada dinding penahan tanah sebesar :
x = m.H
z = n.H
Untuk m >0,4 maka h = 1,77.P m2.n2
H2
(m2+n2)3
Untuk m 0,4 maka h = 0,28.P
n2
H2
(0,16+n2)3
x

P (ton)

z
Gambar 10. Distribusi beban kolom
yang membebani
dinding penahan

H
Tanah urugan
Tanah asli

Jika ada beban garis (Q) di dekat dinding.


Beban garis ini misalnya beban yang disalurkan oleh pasangan dinding bata
sebesar Q (ton/m) ke dalam tanah melalui pondasi menerus pasangan batu kali.
Beban garis ini akan menambah tekanan lateral yang bekerja pada dinding
penahan tanah sebesar :
x = m.H
z = n.H
Untuk m >0,4 maka h = 4.Q
m2.n
H
(m2+n2)2
Untuk m 0,4 maka h = 0,203.Q
n
H
(0,16+n2)2
= 22/7

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 44

x
Gambar 11. Distribusi beban
pasangan bata yang
membebani dinding

Q (ton/m)

z
H
Tanah urugan
Tanah asli

Beban pasangan batu bata = 0,25 t/m2


CONTOH SOAL 3 :
Sebuah sekolah di Semarang telah membangun gedung lantai 3 dengan
posisi pondasi seperti pada Gambar 12. Dari hasil pemeriksaan pengawas,
ternyata kontraktor memasang pipa drainase tidak sesuai spesifikasi teknis dan
dikawatirkan akan mempengaruhi stabilitas dinding penahan tanah pada saat
musim penghujan. Coba hitung tegangan lateral yang bekerja, jika diketahui tanah
urugan berupa tanah pasir dengan sat = 1.9 ton/m3, b = 1.7 ton/m3, dan = 18.
1.2 m

P = 60 ton

0.00

Pipa drainase yang tidak


sesuai spesifikasi
- 1.60
- 1.75

- 1.00
Tanah urugan
Tanah asli

Gambar 12. Struktur dinding penahan tanah dan posisi pondasi pelat setempat.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 45

CONTOH SOAL 4 :
Coba gambarkan diagram tegangan tanah lateral yang bekerja, jika diketahui
tanah urugan berupa tanah pasir dengan sat = 1.9 ton/m3, b = 1.7 ton/m3, dan
= 18.
15

Tanah urugan
1.5 m

b = 1.7 ton/m3
= 18.
Tanah asli

Gambar 13. Struktur dinding penahan tanah dengan kemiringan tanah timbunan
15.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 46

Analisis Stabilitas Lereng

MATERI

10
A. GRAVITASI DAN STABILITAS LERENG
Untuk mempelajari filosofi kestabilan lereng pada tanah timbunan, sebenarnya
dengan bekal ilmu kesetimbangan gaya yang telah kita pelajari di fisika ditambah
pemahaman tentang gravitasi, rasanya telah cukup. Namun perlu diingat bahwa
semua persamaan yang akan dijabarkan hanyalah penyederhanaan dari keadaan
yang sebenarnya, jadi masih perlu engineering judgement untuk memutuskan
timbunan itu aman atau tidak.
Misalnya suatu area perumahan yang berada di lokasi perbukitan, akan menimbun
di atas lereng tanah asli yang masih terdapat lapisan lemah yang berada di dasar
timbunannya seperti pada Gambar 1. Sebagai seorang engineer, Anda ditugaskan
untuk mengecek apakah timbunan setinggi 9,54 meter untuk badan jalan selebar
9 meter masih layak untuk dilaksanakan (Fs>2) ?

9.0 m

Timbunan
9.54 m
Tanah asli

22
30

Gambar 1. Timbunan di atas lereng tanah asli.


Data :
Berat volume tanah timbunan (timbunan) = 1,8 ton/m3.
Pada bidang longsor, nilai kohesi (c) = 2,5 ton/m2 dan sudut gesek dalam () = 17.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 47

Pertama, kita uraikan gaya-gaya yang bekerja sepanjang bidang longsor (L)
seperti pada Gambar 2.

Na

WTimbuna
Ta

Tr

Bidang longsor

Nr

Tanah

Gambar 2. Analisis gaya-gaya yang bekerja pada bidang gelincir.

Berat tanah timbunan (W) = Luas x


= .H.(H/tg - H/tg). timbunan
= .9,54(9,54/tg30 9,54/tg52).1,8
= 77,87 ton
Gaya geser yang terjadi (Ta) = W.sin = 77,87.sin30 = 38,935 ton
Tahanan geser yang dikerahkan oleh tanah untuk kesetimbangan,
=

Fs

cd
tg d

Tr

=
=
=
=
=
=

Gaya yang menahan


=
Gaya yang menggerakkan

c + tg
cd + tg d

c / Fs
tg / Fs
Na / L
L (cd + tg d)
L (c / Fs+ Na / L. tg / Fs)
1/Fs (L.c + Na tg)

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 48

Na = W. cos = 77,87.cos30 = 67,43 ton


L
= H /sin = 9,54 / sin30 = 19,08 m
Tr
= 1/Fs (19,08.2,5 + 67,43 tg 17) = 68,315/ Fs
Pada kondisi kesetimbangan, Ta= Tr
68,315/ Fs = 38,935
Fs = 1,754

Faktor aman terhadap longsoran (Fs) < 2 maka timbunan tidak aman.

B. PERHITUNGAN STABILITAS DENGAN METODE CULMANN


Dalam metode Culmann, tanah dianggap homogen dan bidang longsor berupa
garis lurus seperti pada Gambar 3. Kasus seperti ini dapat digunakan untuk
perhitungan pekerjaan cut and fill.

Bidang longsor asumsi

Tanah homogen

Gambar 3. Bidang longsor pada metode Culmann.

Kedalaman penggalian tanah yang aman dapat dihitung dengan persamaan :

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 49

H=

4.c d .sin.cosd
.( 1 cos( d ))

dengan,
H=Kedalaman penggalian yang aman (m)
cd = c / FS
c = kohesi tanah (ton/m2)
= sudut kemiringan lereng ()
d = arctg [(tg)/FS]
= sudut geser dalam ()
= berat volume tanah (ton/m3)
arctg = tg-1
Konversi kohesi tanah, 1 kg/cm2 = 10 ton/m2
C. PERHITUNGAN STABILITAS DENGAN METODE STABILTY NUMBER
Dalam metode ini tanah dianggap homogen dan bidang longsor yang berupa garis
lingkaran. Ns adalah angka stabilitas (stability number) yang merupakan
persamaan,

Bidang longsor
asumsi

Ns = H/c
dengan,
H
c

=
=
=

Kedalaman penggalian yang aman (m)


kohesi tanah (ton/m2)
berat volume tanah (ton/m3)

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 50

Gambar 4. Stability number untuk tanah c-

CONTOH SOAL 1 : Penggunaan metode stability number:


Chek faktor aman (FS) penggalian lereng pada Gambar 5.

= 1,76 ton/m3
= 10
c = 0,2 kg/cm2 = 2 ton/m2

H = 6 meter
= 45

Gambar 5. Hasil penyederhanaan kondisi lereng yang sebenarnya.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 51

Langkah 1 :
Dengan coba-coba tentukan nilai FS = 1
d = arctg [(tg)/FS] = 10
Lihat Gambar 4, nilai Ns=9,25
cd = .H/Ns = 1,141
FSc = c / cd = 2/1,141 = 1,753
Lakukan perhitungan seperti pada langkah 1 hingga FSc = FS
Langkah
2
3
4

FS
1,2
1,4
1,6

FSc
1,6
1,53
1,47

Langkah 2 :
Untuk mendapatkan nilai FSc = FS maka gambarlah persamaan garis dari nilainilai yang didapat dari langkah 1 sampai dengan 4.

FSc
1.8
1.6
1.4
1.2
1

1.2

1.4

1.6

1.8

FS

Gambar 6. Grafik hubungan FSc dengan FS.

maka FS lereng galian adalah 1,48.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 52

D. METODE ORDINARY METHOD OF SLICE (OMS)


Metode ini termasuk cara yang praktis dan fleksibel untuk perhitungan analisa
kestabilan lereng (per meter tegak lurus bidang gambar). Lereng dibagi menjadi
beberapa irisan (slice) dengan arah vertikal, kemudian tentukan posisi bidang
longsornya yang berupa garis lengkung dengan jari-jari r. Pada Gambar 7, untuk
tiap-tiap irisannya, gaya yang melongsorkan lereng adalah w.sin. Sedangkan
yang menahan adalah kohesi tanah (c) ditambah dengan gesekan (w.cos.tg)
yang terjadi pada bidang longsornya.

Faktor aman (FS) = c.L + (w.cos. tg)


(w.sin)
dengan,
w
=
=

=
c
=

berat per irisan (ton)


. Luas area irisan
sudut geser dalam ()
kohesi tanah (ton/m2)
berat volume tanah (ton/m3)

Tanah c-
w

w.cos

w.sin

Gaya penahan

Bidang longsor

Gambar 7. Resultan gaya yang bekerja untuk tiap-tiap irisannya.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 53

CONTOH

SOAL

2:

Hitunglah faktor aman suatu galian basement sedalam 6 m dengan perbandingan


kemiringan lereng 1:1 seperti pada Gambar 8. Hasil penyelidikan tanah = 10, c
= 2 ton/m2, =1,76 ton/m3 dan muka air tanah sedalam 30 meter dari muka tanah
asli.

1
2
6m
3
4
5
6

Gambar 8. Bidang longsor asumsi untuk menghitung FS.

Pias

A
(m2)
2,4810
5,0502
4,8850
3,9861
2,6450
0.9310

1
2
3
4
5
6

Faktor aman (FS)

=
=

w
(ton)
4,3665
8,8883
8,5976
7,0155
4,6552
1,6385

64
45
31
19
8
3
TOTAL

w.cos
(ton)
1,9141
6,2850
7,3695
6,6333
4,6098
1,6363
28,448

w.sin
(ton)
3,9246
6,2850
4,4280
2,2840
0,6478
0,0857
17,4837

L
(m)
3,5474
1,9076
1,5653
1,4107
1,3486
1,3341
11,1137

= c.L + (w.cos. tg)


(w.sin)

2.11,1137 + 28,448.tg10
17,4837
1,558

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 54

Dari berbagai alternatif bidang longsor yang mungkin terjadi, dicari nilai FS-nya.
Nilai FS terkecil yang dihasilkan merupakan nilai FS minimumnya.
Untuk mendapatkan nilai FS minimumnya dalam waktu yang singkat, praktisi
biasanya menggunakan software sebagai alat bantunya. Gambar 9, merupakan
hasil perhitungan FS minimum untuk contoh soal 1 dengan menggunakan software
SLOPE/W 2004. Jumlah irisan adalah 30 irisan, dengan FS minimum adalah
1,492.

Gambar 9. Berbagai alternatif bidang longsor yang mungkin terjadi.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 55

ANALISIS
STABILITAS
LERENG
DENGAN
MENGGUNAKAN SOFTWARE SLOPE/W 2004
A. Proses penggambaran model pada SLOPE/W

7
6

2
3

Langkah yang perlu dilakukan untuk menggambarkan model


lereng adalah sebagai berikut :

8
9

ZOOM (click) berfungsi untuk mengatur perbesaran gambar


yang dikehendaki. Gunakan perbesaran whole page untuk melihat
batas halaman yang tersedia.
SNAP GRID (click) berfungsi untuk pengaturan dan
menampilkan grid.
SKETCH AXES (click-drag) berfungsi untuk menggambarkan
garis aksis-ordinat bidang dengan titik acuan model lereng
koordinat (0,0).
SKETCH LINES (click-click) berfungsi untuk menyeket garis
bantu, teks dan dimensi di tepi gambar lereng.
Setelah proses 1-4, isilah terlebih dahulu parameter tanah pada
menu KeyIn Material Properties.

DRAW REGIONS berfungsi untuk menggambar permukaan lereng dan batas


lapisan tanah.
DRAW SLIP SURFACE GRID (click-click ke samping-drag ke bawah) untuk
pengaturan bidang gelincir. Nilai increment adalah jumlah pembagian grid pada
area slip surface.
DRAW SLIP SURFACE RADIUS (click 4x) untuk pengaturan variasi titik pusat
bidang gelincir.
SOLVE perintah untuk memulai perhitungan.
CONTOUR berfungsi untuk menggambarkan bidang gelincir, kekuatan geser
yang dimobilisasi oleh tanah dan angka keamanan untuk beberapa metode.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 56

Berikut ini akan disajikan langkah-langkah penyelesaian perhitungan stabilitas


lereng pada Gambar 1 yang diambil dari contoh soal no.1 materi ke-10, dengan
metode ordinary method of slice (OMS) pada software SLOPE/W.

= 17,6 kN/m3
= 10
c = 20 kN/m2

H = 6 meter
= 45

SLIP
SURFACE
SLIP
SURFACE

Gambar 1. Kasus stabilitas lereng dan pemodelannya pada SLOPE/W.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 57

B. Hasil Perhitungan Stabilitas Lereng

Gambar 2. Hasil perhitungan stabilitas lereng metode OMS pada SLOPE/W.

Dari hasil perhitungan dengan metode stabity number dihasilkan FS=1,48 dan
sedangkan dari metode slice didapatkan hasil FS=1,491.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 58

Kapasitas Dukung Tanah


untuk Pondasi Dangkal

MATERI

12
A. STRUKTUR PONDASI DAN PERSYARATANNYA
Struktur pondasi didefinisikan sebagai bagian dari bangunan bawah yang
meneruskan beban di atasnya ke tanah pendukung. Pondasi mempunyai
persyaratan tanah pendukung agar struktur dapat bekerja dengan baik.
Persyaratan itu antara lain :
1) STABILITAS. Kapasitas dukung tanah pada pondasi di letakkan dan
Kemampuan pondasi menahan gaya tarik (PullOut).
Beban
kolom

Kegagalan kapasitas
dukung tanah

Tahanan
geser
Tegangan
Normal

Gambar 1. Kegagalan kapasitas dukung tanah

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 59

2) DEFORMASI. Batas penurunan tanah (S) dan batas perbedaan penurunan


tanah (S)
Ada 3 (tiga) kategori umum kerusakan yang disebabkan oleh perbedaan
penurunan yakni kerusakan arsitektural, kerusakan fungsional atau kemampuan
layan dan kerusakan struktural.
Untuk melihat tingkat keamanan struktur atas terhadap perbedaan penurunan,
menurut Skempton dan MacDonald (1956) mendefinisikan 2 persyaratan yakni
angular distorsion (/L) dan perbedaan penurunan kolom maksimum (max).
Angular distorsion (/L) didefinisikan sebagai perbedaan penurunan antara 2 (dua)
kolom dibagi dengan jarak as ke as kolom. Berdasarkan studi yang dilakukan,
retakan dinding pasangan bata pada struktur bangunan terjadi bila /L melebihi
1/300. Kerusakan struktur pada kolom dan balok terjadi bila /L melebihi 1/150.
Sedangkan perbedaan penurunan kolom maksimum (max) didefinisikan sebagai
selisih penuruan terbesar dan terkecil yang terjadi pada sebuah bangunan.
Retakan dinding pasangan bata pada struktur bangunan terjadi bila max melebihi
32 mm. Kedua kriteria ini berlaku untuk gedung struktur baja dan beton bertulang
dengan dinding pasangan bata tanpa pengaku diagonal.
Menurut Sowers (1962) untuk struktur yang fleksibel seperti struktur baja dan
pondasi yang kaku mampu menahan nilai yang lebih besar dari penurunan total
dan perbedaan penurunan yang terjadi.

Dalam perhitungan penurunan dikenal :


Penurunan seketika (immediate settlement) diakibatkan oleh elastisitas tanah
yang terjadi begitu pembebanan dilakukan dengan waktu berkisar dari 0 hari
sampai kurang dari 7 hari. Umumnya terjadi pada tanah lanau dan pasir, atau
tanah lempung dengan drajat kejenuhan (Sr < 90%)
Penurunan konsolidasi (consolidation settlement) diakibatkan oleh peristiwa
keluarnya air dari ruang pori partikel tanah pada tanah lempung dengan drajat
kejenuhan (Sr) 90%-100%.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 60

Beban
Pondasi

Tanah termampatkan

Gambar 3. Penurunan pondasi akibat adanya penambahan beban kolom.

Agar syarat terpenuhi, biasanya perencana struktur mengusulkan menggunakan


balok sloof untuk mengkakukan struktur. Namun untuk bangunan 5-6 lantai, sloof
menjadi tidak ekonomis karena dimensinya dapat mencapai tinggi (h) 150 cm.
SARAN : Perbaikan tanah dan pemilihan struktur pondasi yang tepat, dapat juga
dilakukan agar syarat penurunan dan perbedaan penurunan terpenuhi. Sehingga
nantinya sloof hanya direncanakan menahan beban aksial tarik dan tekan yang
nilainya adalah 10% beban kolom.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 61

B. KAPASITAS DUKUNG TANAH


Kapasitas dukung ultimit (qult) didefinisikan sebagai tekanan terkecil yang dapat
menyebabkan keruntuhan geser pada tanah pendukung tepat di bawah dan di
sekeliling pondasi.
q

Q
General shear
failure
Local
shear
failure

q = Q/A
Setlement

Punching
shear
failure

Gambar 4. Kemungkinan pola keruntuhan kapasitas dukung tanah dalam grafik


penurunan vs q.
Metode perhitungan untuk kapasitas dukung tanah antara lain :
1)
2)
3)
4)
5)

Pendekatan rumus empirik pengujian tanah di lapangan (in situ test).


Uji pembebanan langsung di lapangan (full scale load test).
Uji pembebanan model pondasi telapak (Load tests on model footings).
Limit equilibrium analysis.
Pendekatan metode elemen hingga (FEM).

Menurut Versic (1963) Ada 3 pola keruntuhan kapasitas dukung tanah yakni,
General Shear Failure
Kondisi kesetimbangan plastis terjadi
penuh diatas failure plane.
Muka tanah disekitarnya mengembang
(naik).
Keruntuhan (slip) terjadi di satu sisi
sehingga pondasi miring.
Terjadi pada tanah dengan
kompresibilitas rendah (padat atau
kaku).
Kapasitas dukung ultimit (qult) bisa diamati
dengan baik.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 62

Local Shear Failure


Muka tanah disekitar kurang berarti
pengembangannya, karena cukup besar
desakan ke bawah pondasi.
Kondisi kesetimbangan plastis hanya
terjadi pada sebagian tanah saja.
Miring pada pondasi diperkirakan tidak
terjadi.
Terjadi pada tanah dengan
kompresibilitas tinggi ditunjukan
dengan setlement yang relatif besar.
Kapasitas dukung ultimit sulit dipastikan
sehingga sulit dianalisis, hanya bisa
dibatasi setlementnya saja.
Punching Shear Failure
Terjadi jika terdapat desakan pada tanah
di bawah pondasi yang disertai pergeseran
arah vertikal disepanjang tepi.
Tak terjadi kemiringan dan pengangkatan
pada permukaan tanah.
Penurunan relatif besar.
Terjadi pada tanah dengan
kompresibiltas tinggi dan rendah jika
pondasi agak dalam.
Kapasitas dukung ultimit tidak dapat
dipastikan.

INGAT ! Cara keruntuhan secara umum tergantung pada


kompresibilitasnya dan kedalaman pondasi relatif terhadap lebarnya.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 63

Analisis kapasitas dukung didasarkan kondisi general shear failure,

q = .Df

Df

Gambar 5. Pembebanan pondasi dan bentuk bidang geser yang terjadi.


Biasanya pondasi tidak diletakan pada permukaan tanah, dan dalam praktek
diasumsikan, tanah pada kedalaman Df hanya diperhitungkan sebagai beban yang
menambah tekan merata q pada elevasi pondasi, hal ini disebabkan tanah diatas
elevasi pondasi biasanya lebih lemah, khususnya jika diurug, daripada tanah pada
tempat yang lebih dalam. Kapasitas dukung ultimit di bawah pondasi pelat
menerus dapat dinyatakan dengan persamaan Terzaghi (1943),
qult = c Nc + q Nq + b N
, c, nilainya diambil di bawah pondasi.
dengan,
q = .Df
nilanya diambil di atas elevasi pondasi.
Untuk pondasi telapak bentuk bujur sangkar :
qult = 1.3 c Nc + q Nq + 0.4 b N
Untuk pondasi telapak bentuk lingkaran :
qult = 1.3 c Nc + q Nq + 0.3 b N
Nilai Nq,Nc,N diambil dari grafik hubungan dengan Nq,Nc,N Terzaghi pada
Gambar 6.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 64

Gambar 6. Hubungan dengan Nq,Nc,N Terzaghi.


Catatan :
Untuk lebih realistis setelah pengecekan terhadap qult (general shear failure),
pondasi perlu dichek terhadap setlement (hasil lab).
Dapat juga hasil lab dibandingkan dengan uji lapangan (SPT atau CPT). Hasil qult
lab biasanya lebih besar dari qult lapangan (pendekatan). Mengapa hasil qult
lapangan nilainya lebih rendah ? karena teorinya hanya sederhana, tanah dibagi
menjadi tanah kohesif dan non-kohesif.
Kondisi khusus,
pada tanah non-kohesif c = 0 maka qult = q Nq + b N
pada tanah kohesif = 0 maka Nc = 5.7, Nq=1, N=0, qult = 5.7 c + q
pondasi pada permukaan tanah Df = 0 maka qult = c Nc + b N

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 65

C. PENGARUH AIR TERHADAP KAPASITAS DUKUNG TANAH.


Air dapat mengurangi kapasitas dukung tanah hingga -nya (Terzaghi), untuk
pasir pendapat ini terlalu kecil dan untuk lempung pendapat ini terlalu besar.
Berdasar elevasi m.a.t terhadap pondasi nilai qult menjadi,

D1

sat

Df
D2

0 D1 Df
q = D1 b + D2
qult = c Nc + q Nq + b N
= sat - w

Df
d

sat

D1 > Df, 0 d b
q = Df.b
qult = c Nc + q Nq + b N
= 1/b [ b.d + (b-d) ]
= sat - w
d >b
Tidak ada pengaruh air.

Gambar 7. Pengaruh ketinggian muka air tanah terhadap


besarnya kapasitas dukung tanah.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 66

D. DEFINISI FAKTOR KEAMANAN (FS)


Nilai F.S tidak ada batasannya, namun karena banyak ketidakpastian nilai dan c,
maka secara umum F.S diambil minimum = 3 dengan pertimbangan tanah tidak
homogen, dan tidak isotropis.
Nilai FS berdasarkan keadaan tanah di bawah pondasi dan tingkat resiko
keruntuhannya dapat diambil :
FS = 2, digunakan untuk kasus keadaan tanah di bawah pondasi diketahui dengan
baik dan resiko keruntuhan yang timbul mungkin tidak besar.
FS = 3, digunakan untuk kasus keadaan tanah di bawah pondasi diketahui dengan
baik dan resiko keruntuhan cukup tinggi.
FS = 4, digunakan untuk kasus keadaan tanah di bawah pondasi tidak diketahui
dengan baik dan resiko keruntuhan cukup tinggi.
Tiga definisi kapasitas dukung ijin pada pondasi dangkal,
Gross Allowable Bearing Capacity.
qall = qult / FS
Diharapkan tidak akan terjadi kegagalan bearing capacity (bukan kegagalan
setlement), beban yang bekerja pada pondasi :
Beban Hidup (W L)
Beban Mati (W D)
Berat Sendiri Pondasi (W F)
Berat Tanah di atas Pondasi (W S)
[ W L + W D + W F + W S ] qall
A
Net Allowable Bearing Capacity
Beban tambahan yang diijinkan persatuan luas selain berat sendiri tanah
(
tegangan yang telah ada ) pada level dasar pondasi.
qult(NET) = qult - q
qall(NET) = qult(NET) / FS
dalam praktek qall(NET) digunakan terhadap beban bangunan diatas saja, berat
pondasi dan tanah diatasnya dianggap berat tanah saja.
[ W L + W D ] qall(NET)
A
Secara teoritis jika W bangunan = W tanah yang digali , maka penurunan tidak terjadi.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 67

Gross Allowable Bearing Capacity dengan faktor aman pada kuat geser
tanah.
Hanya untuk memuaskan dan jarang digunakan.
Cd = C / FS
tan d = tan / FS
qall = Cd Nc + q Nq + b N
FS pada penyelesaian ini antara 2-3 kira-kira sama dengan hasil SF 3-4 untuk dua
metode sebelumnya.
Catatan :
qult belum memperhatikan setlement, jadi FS bisa 4,5,.. untuk mencover setlement.
Jika menggunakan rumus qult setlement yang terjadi 5-25% x b untuk tanah pasir
dan 3-15% pada tanah lempung. Pondasi Mat / Raft memiliki setlement relatif
besar karena b besar.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 68

CONTOH 1 : HITUNG KAPASITAS DUKUNG TANAH


Hitung besarnya kapasitas dukung ijin tanah (qallNET), jika diketahui lebar pondasi
(B) rencana diasumsikan 1,6 meter dan data tanah berdasarkan hasil penyelidikan
tanah seperti Gambar C.1 dan Tabel C.1.
Tabel C.1. Soil Properties dan Hasil Direct Shear
Depth

GS

(m)

e
3

(%)

(ton/m )

sat*)

(ton/m )

c
3

(ton/m )

(kg/cm )

()

-1.0

2,015

39,41

1,123

0,794

1,566

1,566

0,16

15

-2.0

2,020

37,88

1,144

0,765

1,578

1,578

0,15

15

-3.0

2,165

33,27

1,259

0,720

1,677

1,677

0,03

15

-4.0

2,170

39,48

1,167

0,859

1,628

1,628

0,03

14

-5.0

2,175

42,83

1,126

0,931

1,608

1,608

0,03

15

*) Pada kondisi S=1 (tanah jenuh) besarnya sat = b.

0.00

0.00

LAPISAN 1
b1 = 1,566 ton/m3

LEMPUNG
PADAT

-2.00
-2.25

-2.25
-2.75
PASIR HALUS
BERLANAU DAN
BERKULITKERANG

-5.00

-5.00

(a)

LAPISAN 2
sat = 1,608 ton/m3
c = 0,03 kg/cm2
= 14

(b)

Gambar C.1. (a) Penampang soil profile dan (b) Simplifikasi soil profile untuk
analisis pondasi.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 69

PERHITUNGAN TEGANGAN IJIN TANAH


Lebar pondasi (B) = 1,6 meter
Kedalaman pondasi (Df) = 2 meter
Nilai faktor kapasitas dukung tanah Terzaghi untuk nilai = 14 :
Nc=12,11
Nq=4,02
N=2,23
q = b1. Df
= 1,566 . 2
= 3,132 ton/m2

= 1/B (.d + (sat 1)(B-d))


= 1/1,6 (1,566.0,25 + (1,608 1)(1,6 0,25))
= 0,7577 ton/m3
qult = 1,3.c.Nc + q.Nq + 0,4.b..N
= 1,3.0,03.12,11 + (3,132/10).4,02 + 0,4.160.(0,7577/1000).2,23
= 0,47229 + 1,259064 + 0.108
= 1,84 kg/cm2
Faktor aman (FS) = 3
qallNET =
(qult-q)/FS
=
(1,84 (3,132/10)) / 3
=
0,50 kg/cm2
Besarnya tegangan ijin yang dapat digunakan untuk mendesain pondasi
adalah qallNET = 0,5 kg/cm2.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 70

E. KAPASITAS DUKUNG TANAH IJIN DARI DATA SONDIR


Untuk Jenis Tanah Non-Kohesif
Persamaan kapasitas dukung ijin netto Mayerhof (1956) dalam Bowles (1996)
dengan besar penurunan 25 mm :
Untuk B 1,2 meter
qa =

qc
30

Untuk B > 1,2 meter


qa =

q c 0,3048
1 +

50
B

dengan,
qa = kapasitas dukung ijin netto dalam kg/cm2
qc = nilai rata-rata qc dari kedalaman Df +0,5B
hingga Df + 2B dalam kg/cm2
B = lebar pondasi telapak (dalam meter).
Df = kedalaman pondasi telapak.

Bowles (1996) merekomendasikan nilai qa pada persamaan di atas dikalikan


dengan 1,5.kd menjadi :
Untuk B 1,2 meter
qa =

qc
.k d
20

Untuk B > 1,2 meter


2
q 0,3048
qa = c 1 +
kd
33
B
dengan,
k d = 1 + 0,33

.D f
1,33
B

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 71

Untuk Jenis Tanah Kohesif


Pendekatan Schmertmann (1978) untuk mencari kapasitas dukung ultimit pondasi
telapak hanya sesuai untuk Df/B 1,5 :
qu = 5 + (0,34 . qc)
qs = qu / SF
dengan,
qu = kapasitas dukung ultimit dalam kg/cm2.
qs = kapasitas dukung aman dalam kg/cm2.
qc = nilai rata-rata qc dari kedalaman Df + 0,5B
hingga Df + 1,1B dalam kg/cm2
B
= lebar pondasi telapak.
Df = kedalaman pondasi telapak.
SF = faktor aman.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 72

LAMPIRAN CONTOH SOAL

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 73

JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


UJIAN AKHIR SEMESTER
Mata Kuliah : Mekanika Tanah 1
Hari/Tanggal : Selasa, 6 Januari 2003
Waktu
: 30 menit
Sifat
: Buku Terbuka

1. Terangkan dengan jelas dan singkat tentang peristiwa yang terjadi pada
percobaan tegangan efektif dari gambar (b) sampai dengan (f) di bawah ini :

Muka air

Piston

Piston

Katup

Tanah
Jenuh
S=100%
Pembaca
tekanan

(b)

(a)

Pegas

(c)

P
P

Katup

(d)

(e)

(f)

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 74

2. Pada bak silinder yang berisi tanah pasir (non-kohesif), diketahui perhitungan
tegangan efektif adalah :
v = sat.D
u = w.(D+h)
v = v - u
= (sat-w).D - w.h
dengan h adalah ketinggian dari muka air dalam tandon air.

u
Gambar diambil dari http://geo.Verruijt.net

Pertanyaan :
Apakah persamaan untuk menghitung tegangan efektif sudah benar ? jika salah
tolong berikan alasannya.
Pada gambar (d), pada saat tegangan efektif besarnya nol, kenapa orang yang
berdiri di atas permukaan tanah menjadi terbenam dalam pasir.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 75

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


UJIAN MID SEMESTER
MATA KULIAH
: MEKANIKA TANAH 2
KELAS
: D3 TEKNIK SIPIL
HARI / TANGGAL : SENIN, 10 MEI 2004

Struktur dinding penahan tanah dari pasangan batu kali yang dibebani oleh dinding
bata mempunyai tinggi (H) = 3,5 meter. Jika ditentukan tanah urugan memiliki
sudut geser dalam ()=19 dan berat volume tanah () = 1,82 ton/m3. Hitung :
Tekanan tanah lateral yang bekerja pada dinding penahan tanah. (50)
Gambar tekanan tanah lateralnya. (40)
Gambarkan bidang longsor yang mungkin terjadi. (10)

Balok Ring

Pasangan
dinding bata

Paving blok
q = 0,3 t/m2

Sloof

Tanah urugan
H

Tanah asli

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 76

D3-TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


SOAL UJIAN AKHIR
MATA KULIAH : MEKANIKA TANAH 1
TANGGAL
: SENIN, 10 JANUARI 2005
WAKTU
: 90 MENIT
SIFAT
: BUKU TERBUKA

1.
(20) Tentukan besarnya berat air (W w), jika volume butiran padat (Vs) sama
dengan 1 pada diagram fase tanah di bawah ini :

VOLUME

BERAT

Udara

Ww

Air

w.G

GS.W

Butiran

Drajat kejenuhan (S) < 1


2.
(30) Menurut Anda, apakah prinsip pemadatan tanah yang digambarkan
melalui diagram fase tanah sudah benar ? jelaskan dengan alasannya.

Pemadatan
Udara
Air

Udara
Air

Butiran

Butiran

Kondisi Awal

Setelah Proses
Pemadatan

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 77

3.
(50) Dari hasil pengujian tanah suatu proyek, dihasilkan data tanah sebagai
berikut :
KEDALAMAN
(meter)
0.0

Timbunan, timbunan=1.8

- 0.5

ton/m

Lempung pasiran
b=1.6943 ton/m
w=44.82 %
Gs=2.4594
e=1.1022

- 3.0

Lempung kelanauan
- 4.0
A

b=1.4637 ton/m
w=90.02 %
Gs=2.5117
e=2.2607

- 5.0

Anda sebagai staff enginner di sebuah konsultan diberi tugas untuk :


Memberikan komentar tentang hasil klasifikasi tanah dengan metode Unified
(USCS) jika dibandingkan dengan hasil boring untuk kedalaman 2 meter jika
diketahui LL=55% dan PL=23.93%.

Chek apakah lapisan tanah di bawah muka air tanah (m.a.t) sudah jenuh air? Jika
belum hitung sat-nya.

Hitunglah besarnya tegangan efektif () di titik A.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 78

D3-TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


SOAL UJIAN AKHIR
MATA KULIAH : MEKANIKA TANAH 1
TANGGAL
: SENIN, 10 JANUARI 2005
WAKTU
: 90 MENIT
SIFAT
: BUKU TERBUKA

1. (20) Tentukan besarnya berat air (W w), jika volume butiran padat (Vs) sama
dengan 1 pada diagram fase tanah di bawah ini :

VOLUME

BERAT

Air

Butiran

GS.w

Drajat kejenuhan (S) = 1


2. (30) Menurut Anda, apakah prinsip pemadatan tanah yang digambarkan melalui
diagram fase tanah sudah benar ? jelaskan dengan alasannya.

Pemadatan

Udara
Air

Udara
Air

Butiran

Butiran

Kondisi Awal

Setelah Proses
Pemadatan

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 79

3. (50) Dari hasil pengujian tanah suatu proyek, dihasilkan data tanah sebagai
berikut :
KEDALAMAN
(meter)
0.0

Lempung lunak
3

b =1.7182 ton/m
- 1.5

Lempung lunak
b=1.6965 ton/m
w=35.46 %
Gs=2.6087
e=1.0830

- 3.5

Lempung kelanauan
- 5.0
A

b=1.6547 ton/m
w=46.64 %
Gs=2.6489
e=1.3475

- 6.0

Anda sebagai staff enginner di sebuah konsultan diberi tugas untuk :


Memberikan komentar tentang hasil klasifikasi tanah dengan metode Unified
(USCS) jika dibandingkan dengan hasil boring boring untuk kedalaman 2 meter
jika diketahui LL=54% dan PL=32.22%.

Chek apakah lapisan tanah di bawah muka air tanah (m.a.t) sudah jenuh air? Jika
belum hitung sat-nya.

Hitunglah besarnya tegangan efektif () di titik A.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 80

D3-TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


SOAL UJIAN AKHIR 2006
MATA KULIAH : MEKANIKA TANAH 1
WAKTU
: 90 MENIT
SIFAT
: BUKU TERBUKA

1.
Hitunglah faktor aman stabilitas lereng suatu galian material untuk timbunan
jalan dengan metode ORDINARY METHOD OF SLICE (OMS) untuk suatu bidang
longsor asumsi. Jika diketahui perbandingan kemiringan lereng H:V=1:1 seperti
pada Gambar 1. Hasil penyelidikan tanah = 35, c = 0 ton/m2, b=1,8 ton/m3 dan
muka air tanah sedalam 30 meter dari muka tanah asli.

Muka tanah asli


1
2
6m
3

4
5
6

Pias
1
2
3
4
5
6

A
(m2)
2,4810
5,0502
4,8850
3,9861
2,6450
0.9310

64
45
31
19
8
3

L
(m)
3,5474
1,9076
1,5653
1,4107
1,3486
1,3341

Gambar 1. Bidang longsor asumsi untuk menghitung FS.

Lab. Mekanika Tanah UNNES Semarang | 81