Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
LAPORAN KASUS
1

Identitas Pasien
Nama

: Tn. S

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat
Usia
Pekerjaan
Pasien diambil
Status pasien
Nomor RM

: Cempaka Sari III/12 Jakarta Pusat


: 46 tahun
: Swasta
: Bangsal bedah lantai 5/ kamar 10
: Baru
: 310473

Anamnesa (auto anamnesa)


Keluhan utama
Benjolan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan benjolan dilipat paha kanan sejak satu bulan sebelum masuk
rumah sakit, benjolan hilang dan timbul. Benjolan timbul ketika pasien mengedan dan
batuk lalu menghilang ketika pasien berbaring, Semakin hari benjolan semakin membesar
dan satu minggu terakhir tidak bisa dimasukkan kembali. benjolan tidak terasa nyeri.
Mual, muntah dan demam disangkal oleh pasien, buang air besar dan buang air kecil
tidak ada gangguan.
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat keluhan serupa sebelumnya

: Disangkal

Riwayat penyakit kencing manis

: Disangkal

Riwayat penyakit darah tinggi

: Disangkal

Riwayat penyakit jantung

: Disangkal

Riwayat penyakit ginjal

: Disangkal

Riwayat stroke

: Disangkal

Riwayat operasi dan trauma

: Disangkal

Riwayat alergi

: Disangkal

Riwayat penggunaan obat rutin

: Disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat keluhan serupa


Riwayat asma dan allergi

: Disangkal
: Disangkal

Riwayat penyakit kencing manis

: Disangkal

Riwayat penyakit darah tinggi

: Disangkal

Riwayat penyakit jantung

: Disangkal

Riwayat Penggunaan obat


Disangkal
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien bekerja sebelumnya sebagai buruh, pasien menyangkal biasa membawa
barang dengan beban berat, pasien juga jarang berolahraga. Pasien tinggal bersama istri
dan anaknya, pasien sedang tidak bekerja, kehidupan sehari hari dibiayai oleh istri nya
sebagai PNS.
3

Pemeriksaan Fisik
KU
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
TTV
TD
: 120 / 80 mmHg
Nadi
: 84 x / menit, isi dan tegangan cukup
RR
: 18 x / menit
Temperatur : 36,4C
BB
: 60 Kg
TB
: 170 cm
Kepala
: Normocephal, rambut hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut.
Edema palpebra -/-, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil
Telinga
Hidung
Mulut
Leher

isokor diameter 3/3 mm, reflek cahaya +/+, reflek kornea +/+
: Bentuk normal, simetris, lubang lapang, serumen -/: Bentuk normal, tidak ada septum deviasi, sekret -/: Bibir kering, faring tidak hiperemis, Tonsil T1-T1 tenang, lidah kotor
: Simetris, tidak tampak pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada deviasi trakhea,
tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening, kaku kuduk (-)

Dada

: Pulmo : I : Normochest, dinding dada simetris


P : ekspansi dada simetris
P : Sonor di kedua lapang paru
A : Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Cor

: I : Tidak tampak ictus cordis


P : Iktus cordis tidak teraba, thrill tidak teraba
P : Batas Kiri atas ICS II linea parasternal sinistra
Batas Kanan atas ICS II linea parasternal dextra
Batas kiri bawah ICS V antara linea midclavicula sinistra
Batas kanan bawah ICS V linea stemalis dextra
A : BJ I dan II reguler, Gallop -/-, Murmur -/-

Abdomen

: I : Perut simetris, tidak ada jejas.


A : Bising usus (+) normal
P : Dinding perut supel, turgor kulit baik, hepar teraba 1 jari dibawah
arcus costae & lien tidak teraba membesar
P : Timpani

Ekstremitas

: Akral tidak dingin, edema tungkai (-), sianosis (-),capilary refill


<2detik

Status Lokalis
Regio
: Inguinal dextra
Inspeksi
: terlihat benjolan dengan ukuran 5 x 3 cm, tidak terlihat jejas, benjolan
Palpasi

tidak sampai ke skrotum.


: Benjolan teraba lunak, tidak nyeri, dan tidak bisa dimasukkan kembali.

Laboratorium
JENIS PEMERIKSAAN
HASIL
Hematologi
Hemoglobin
15,2 g/dL
Hematokrit
44 %
Eritrosit
5,1 juta/ uL
Leukosit
9880 /uL
Trombosit
254.000 /uL
MCV
87 fL
MCH
30 pg
MCHC
34
FAAL HEMOSTASIS (KOAGULASI)
Waktu perdarahan
145
Waktu pembekuan
500
KIMIA KLINIK
SGOT (AST)
23 mU/dl
SGPT (ALT)
10 mU/dl
Ureum
21 mg/dL
Kreatinin
1,3 mg/dL
Glukosa Darah (Sewaktu)
115 mg/dL

NILAI NORMAL
13-18 g/dL
40-52 %
4,3 6,0 juta / uL
4.800 10.800 /uL
150.000 400.000 /uL
80 96 fL
27 32 pg
32-36 g/dL
1-3 menit
1-6 menit
0-40 mU/dl
0-41 mU/dl
20-50 mg/dL
0,5 1,5 mg/dL
< 140 mg/dL

Diagnosa
Hernia inguinalis lateralis dextra irreponibel

Tata Laksana
Umum

: Hindari semua faktor yang memperberat, diet 1700 kkal

Khusus

Herniotomy
Hernioraphy
8

Laporan Operasi
a) Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik
b) Dilakukan insisi dari cutis, subcutis, fascia
c) Identifikasi funiculus spermaticus
d) Identifikasi kantung hernia, berisi omentum omentum lengket pada ujung
kantung omentektomy ligasi kantung
e) Dilakukan pemasangan wool dijahit pada ligamentum inguinalis dan aponeurosis
obliquus internus
f) Fascia ditutup, dan lapisan dijahit lapis demi lapis.
g) Operasi hernia ditutup
h) Perdarahan 75 cc

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENDAHULUAN
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian
lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui
defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas
cincin, kantong dan isi hernia. 1
Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas hernia bawaan atau congenital dan hernia
dapatan atau akuisita. Hernia diberi nama menurut letak nya, umpamanya diafragma, inguinal,
umbilikal, atau femoral. 2

Menurut sifatnya, hernia dapat disebut hernia reponibel bila isi hernia dapat keluar
masuk, usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong
masuk perut. Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga perut, maka
disebut hernia irreponibel.1
Di amerika serikat lebih dari 1 juta kasus hernia abdomen dioperasi setiap tahun, dengan
hernia inguinalis sebanyak 770.000 dan 90% operasi hernia terjadi pada laki-laki (emedicine).
Pada hernia inguinal penonjolan terjadi melalui dinding abdomen ke dalam kanalis inguinalis.
Sekitar 80% kasus hernia adalah hernia inguinal dan lebih sering terjadi pada laki laki. 6
Operasi darurat untuk hernia inkarserata merupakan operasi terbanyak nomor dua setelah
operasi darurat untuk appendicitis. Selain itu, hernia inkarserata merupakan penyebab obstruksi
usus nomor satu di Indonesia.1
Oleh karena itu memahami dan mengerti gejala dan tanda hernia sangat penting untuk
para petugas medis, karena hernia berkelanjutan dapat menyebabkan komplikasi kegawat
daruratan. Dan untuk tenaga medis umum diharapkan dapat mendiagnosis hernia, lalu
menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya dan selanjutnya untuk menganjurkan pasien
datang ke ahli bedah dan segera mengkonsulkan hernia ini kepada ahli bedah jika ditemukan
tanda tanda kegawat daruratan.
Berdasarkan terjadi nya, hernia dapat dibagi menjadi :
Hernia bawaan atau kongenital : merupakan hernia yang terjadi sejak lahir karena
kelainan bawaan
-

Hernia dapatan atau akuisita : merupakan hernia yang terjadi bukan karena kelainan
kongenital

Berdasarkan letak atau lokasi nya, hernia dapat dibagi menjadi :


- Hernia interna : merupakan penonjolan isi suatu rongga melalui suatu celah ke dalam
rongga lain dan tanpa diliputi kantong, contoh nya :
(a) Hernia diafragmatika
- Hernia kongenital
Hernia bochdalek : hernia akibat gangguan penutupan diafragma di sebelah
posterolateral meninggalkan foramen bochdalek yang mungkin menjadi lokasi
hernia pleuroperitoneal, hernia bochdalek dapat menyebabkan gangguan
pernafasan segera setelah lahir. Diagnosis pada hernia bochdalek pada
pemeriksaan foto toraks memperlihatkan masa di bagian dorsal, yaitu viskus
berisi udara.

Hernia morgagni : hernia akibat gangguan fusi bagian sterna dan bagian
kostal diafragma digaris median mengakibatkan defek yang disebut foramen
morgagni, hernia morgagni jarang menimbulkan gejala sebelum usia dewasa.
Diagnosis pada hernia morgagni pada pemeriksaan foto toraks
memperlihatkan masa retrosternal, yaitu viskus berisi udara.

Hernia traumatik
Hernia traumatic adalah hernia yang disebabkan oleh trauma pada
diafragma dapat disebabkan oleh trauma tumpul ataupun trauma tajam. Hernia
karena trauma tumpul kebanyakan terjadi karena di bagian tendineus kiri karena
sebelah kanan dilindungi oleh hati. Visera seperti lambung dapat masuk ke dalam
thoraks segera setelah trauma atau berangsur angsur dalam waktu berbulan bulan
atau bertahun tahun.

(b) Hernia foramen winslow : yaitu herniasi yang melewati foramen winslow atau
foramen epiploicum antara kantung peritoneum besar dan kantung peritoneum kecil,
kebanyakan organ yang terlibat adalah ileum, caecum atau kolon ascenden.

Hernia eksterna : penonjolan isi suatu rongga ke arah luar seperti dinding perut, pinggang
atau perineum, contohnya :
(a) Hernia inguinalis : hernia yang terjadi melalui kanalis inguinalis. Dapat dibagi
menjadi hernia inguinalis lateralis melalui annulus inguinalis profundus ataupun hernia
inguinalis medialis melalui trigonum hasselbach (arteri epigastrica inferior,
ligamentum inguinalis, tepi lateral muskulus rectus abdominis dan tuberculum
pubicum)

(b) Hernia scrotalis

: adalah hernia inguinalis lateralis yang telah mencapai skrotum.

(c) Hernia femoralis : hernia yang terjadi dibawah ligamentum inguinale, ketika isi
abdomen masuk ke dalam area lemah pada dinding posterior dari kanalis femoralis,
lebih banyak terjadi pada wanita dan usia lanjut. Keluhan biasanya berupa benjolan di
lipat paha yang muncul terutama pada waktu melakukan tindakan yang menaikkan

10

tekanan intra abdomen seperti mengangkat barang atau batuk. Benjolan ini hilang
waktu berbaring. Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan lunak di lipat paha di
bawah ligamentum inguinale di medial v.femoralis dan lateral tuberculum pubicum
Pintu masuk hernia femoralis adalah annulus femoralis. Selanjutnya, isi hernia masuk
ke dalam kanalis femoralis yang terbentuk corong sejajar dengan v. femoralis
sepanjang kurang lebih 2 cm dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha.

(d) Hernia umbilikalis : hernia yang terjadi akibat protrusi isi intraabdomen melewati
tempat yang lemah dari korda umbilikalis melalui dinding abdomen. Hernia
umbilikalis pada dewasa merupakan akuisita dan lebih sering pada wanita obesitas dan
hamil. Penyebab nya dapat berupa abnormalitas dari serat serat di linea alba. Pada
anak anak hernia umbilikalis merupakan hernia congenital pada umbilicus yang hanya
tertutup peritoneum dan kulit.

11

(e) Hernia epigastrium : hernia epigastrika atau hernia linea alba adalah hernia yang keluar
melalui defek di linea alba antara umbilicus dan prosesus xifoideus. Isi hernia terdiri
atas penonjolan jaringan lemak preperitoneal dengan atau tanpa kantung peritoneum.
Linea alba dibentuk oleh anyaman serabut aponeurosis lamina anterior dan posterior
sarung m.rektus, anyaman ini sering hanya satu lapis. Selain itu, linea alba di sebelah
cranial umbilicus lebih lebar dibandingkan dengan yang sebelah kaudal sehingga
merupakan predisposisi terjadinya hernia epigastrika. Hernia ini ditutupi oleh kulit,
lemak subkutis, lemak preperitoneal, dan peritoneum
(f) Hernia insisional : hernia insisional terjadi ketika defek akibat tidak sempurna nya
penyembuhan dari luka pembedahan. Ketika ini terjadi pada insisi laparotomi median
pada linea alba, maka dinamakan hernia ventralis

(g) Hernia ventralis : adalah nama umum untuk semua hernia di dinding perut bagian
anterolateral seperti hernia sikatriks. Hernia sikatriks merupakan penonjolan
peritoneum melalui bekas luka operasi yang baru maupun lama. Faktor predisposisi
yang berpengaruh dalam terjadinya hernia sikatriks ialah infeksi luka operasi,
dehisensi luka, tekhnik penutupan luka operasi yang kurang baik, jenis insisi, obesitas,
peninggian tekanan intra abdomen seperti pada asites, distensi usus pasca bedah, batuk
karena kelainan paru. Keadaan umum pasien yang kurang baik, seperti pada malnutrisi
dan juga pemakaian obat steroid yang lama, juga merupakan faktor predisposisi.

12

Hernia jenis lain :


(a) Hernia amyand
kantung hernia

: adalah hernia yang megandung appendix vermiformis dalam

(b) Hernia cooper


: adalah hernia femoral dengan dua kantung, kantung pertama
berada dalam kanalis femoralis dan kantung kedua melalui defek pada fascia
superficial dan terlihat dibawah kulit.
(c) Hernia Littre
: hernia yang sangat jarang dijumpai ini merupakan hernia yang
mengandung divertikulum meckel. Sampai dikenalnya divertikulum meckel (1809),
hernia littre dianggap sebagai hernia sebagian dinding usus yang pada waktu itu
(sekitar tahun 1700) belum disebut sebagai hernia richter
(d) Hernia maydl
: adanya dua lengkung usus dalam kantung hernia dengan leher
yang sempit, bagian usus yang terintervensi menjadi terganggu suplai darah nya da
akhirnya menjadi nekrosis.
(e) Hernia obturator : hernia yang melalui foramen obturator. Kanalis obturator
merupakan saluran yang berjalan miring ke kaudal yang dibatasi di cranial dan lateral
oleh sulkus obturatorius os pubis, di kaudal oleh tepi bebas membrane obturator,
m.obturatorius internus dan eksternus. Di dalam kanalis obturatorius berjalan saraf,
arteri dan vena obturatoria. Hernia obturatoria dapat berlangsung dalam empat tahap.
Mula mula tonjolan lemak retroperitoneal masuk ke dalam kanalis obturatorius,
disusul oleh tonjolan peritoneum parietale, kantung hernia ini mungkin diisi oleh lekuk
usus yang dapat mengalami inkarserasi parsial atau total.
Diagnosis dapat ditegakkan atas dasar adanya keluhan nyeri seperti ditusuk tusuk dan
poarestesia di daerah panggul, lutut, dan bagian medial paha akibat penekanan pada
n.obturatorius (tanda howship Romberg) yang patognomonik

13

(f) Hernia pantaloon : atau nama lain nya saddle bag hernia adalah kombinasi dari
hernia direk dan indirek, dimana kantung hernia mengalami protrusi pada kedua sisi
dari pembuluh darah epigastrik inferior.
(g) Hernia perineal
: hernia perinealis merupakan tonjolan hernia pada perineum
melalui defek dasar panggul yang dapat terjadi secara primer pada perempuan
multipara, atau sekunder setelah operasi melalui perineum seperti prostatektomi atau
reseksi rectum secara abdominoperineal.
Hernia keluar melalui dasar panggul yang terdiri atas m.levator anus dan
m.sakrokoksigeus beserta fasia nya dan dapat terjadi pada semua daerah dasar
panggul, hernia perinealis biasanya dibagi atas hernia anterior dan hernia posterior.
Hernia labialis yang bukan merupakan hernia inguinalis lateralis, hernia pudendalis,
dan hernia vaginolabialis, termasuk hernia perinealis anterior. Sedangkan hernia
isiorektalis dan hernia retrorektalis termasuk hernia perinealis posterior.
(h) Hernia richter
: hernia yang melibatkan hanya satu dinding dari usus yang dapat
menyebabkan strangulasi yang akhirnya dapat menyebabkan perforasi tanpa
menyebabkan adanya obstruksi. Berasal dari ahli bedah german August Gottlieb
Richter (1742-1812).
(i) Hernia spigeli
: hernia interstitial dengan atau tanpa isinya melalui fasia spieghel.
Hernia sangat jarang dijumpai. Biasanya dijumpai pada usia 40-70 tahun, tanpa
perbedaan antara laki laki dan perempuan, biasanya terjadi di kanan dan jarang terjadi
bilateral
Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya benjolan di sebelah atas titik mcburney
kanan atau kiri, pada tepi lateral m.rektus abdominis. Isi hernia dapat terdiri dari usus,
omentum, atau ovarium

14

B. ANATOMI REGIO INGUINALIS


Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh annulus inguinalis internus yang
merupakan bagian terbuka dari fascia transversalis dan aponeurosis m.transversus abdominis.
Di medial bawah, di atas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh annulus inguinalis
eksternus, yang merupakan bagian terbuka dari aponeurosis m.oblikus eksternus. Atap nya
adalah aponeurosis m.oblikus eksternus, dan di dasarnya terdapat ligamentum inguinale.
Kanal berisi tali sperma pada laki laki, dan ligamentum rotundum pada perempuan. 1

Hernia inguinalis indirek, disebut juga hernia inguinalis lateralis, karena keluar dari
rongga peritoneum melalui annulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh
darah epigastrika inferior. Kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis dan jika
cukup panjang menonjol keluar dari annulus inguinalis eksternus. Apabila hernia ini
berlanjut, tonjolan akan sampai ke skrotum, ini disebut hernia skrotalis. Kantung hernia
berada di dalam m.kremaster, terletak anteromedial terhadap vas deferens dan struktur lain
dalam tali sperma.1
Hernia inguinalis direk disebut juga hernia inguinalis medialis, menonjol langsung ke
depan melalui segitiga hasselbach. Daerah yang dibatasi oleh ligamentum inguinale di bagian
inferior, pembuluh darah epigastrika inferior di bagian lateral dan tepi otot rektus di bagian
medial. Dasar segitiga hasselbach dibentuk oleh fascia transversal yang diperkuat oleh serat
aponeurosis m.transversus abdominis yang kadan tidak sempurna sehingga daerah ini

15

potensial untuk menjadi lemah. Hernia medialis, karena tidak keluar melalui kanalis
inguinalis dan tidak ke skrotum, umumnya tidak disertai strangulasi karena cincin hernia
longgar.1,2

16

C. HERNIA SECARA UMUM


1. DEFINISI
Merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah
dari dinding rongga yang bersangkutan. 1
2. ETIOLOGI
Kondisi apapun yang meningkatkan tekanan intraabdomen
berkontribusi untuk
2
pembentukan hernia, diantara nya. :
a. Obesitas
b. Mengangkat beban yang berat
c. Batuk
d. Mengedan berlebihan ketika buang air besar atau buang air kecil
e. Asites
f. Penyakit paru obstruktif kronik
g. Riwayat keluarga yang hernia
3. KLASIFIKASI
a. Berdasarkan terjadi nya
- Hernia bawaan atau kongenital : merupakan hernia yang terjadi sejak lahir karena
kelainan bawaan
-

Hernia dapatan atau akuisita : merupakan hernia yang terjadi bukan karena
kelainan kongenital

b. Menurut sifat nya


- Hernia reponibel
: terjadi jika isi hernia dapat keluar masuk, isi hernia keluar
biasanya pada saat berdiri atau mengedan (aktifitas) dan masuk saat tiduran
(istirahat), hernia jenis ini biasanya tanpa keluhan
-

Hernia ireponibel
: terjadi jika isi hernia tidak dapat keluar masuk karena
sudah ada perlekatan antara isi hernia dengan kantung nya, hernia jenis ini
biasanya tanpa keluhan nyeri maupun gangguan pasase usus

Hernia strangulate
: terjadi jika isi hernia mengalami jepitan oleh cincin hernia
sehingga timbul gejala gangguan pasase (obstruksi) dan gangguan vaskularisasi.
Gangguan pasase dapat berupa mual, muntah, kembung, tidak dapat BAB, tidak
dapat flatus, dan gangguan vaskularisasi. Bila hernia strangulate hanya menjepit
sebagian dinding usus biasanya disebut hernia richter.

17

Hernia inkarserata
: terjadi jika isi hernia tidak dapat keluar masuk karena
adanya jepitan isi hernia oleh cincin hernia sehingga timbul gejala gangguan
pasase usus seperti mual, muntah, kembung, tidak dapat BAB, tidak dapat flatus.

c. Berdasarkan tipe
- Hernia eksterna : Penonjolan isi suatu rongga ke arah luar seperti dinding perut,
pinggang atau perineum, contohnya :
(a) Hernia inguinalis
(b) Hernia scrotalis
(c) Hernia femoralis
(d) Hernia umbilikalis
-

Hernia interna : merupakan penonjolan isi suatu rongga melalui suatu celah
kedalam rongga lain dan tanpa diliputi kantung, contohnya :
(a) Hernia diafragmatika
: menonjol melalui foramen bochdalek
(b) Hernia foramen winslow
(c) Hernia mesenterium
: biasanya terjadi secara iatrogenic misalnya setelah
anastomosis usus

D. HERNIA INGUINALIS
1. DEFINISI
Protrusi atau penonjolan isi rongga melalui defek atau bagian lemah (lokus
minoris resistensia), melalui kanalis inguinalis. 1
2. EPIDEMIOLOGI
Lebih dari 1 juta kasus hernia dioperasi setiap tahun di amerika serikat, dengan
hernia inguinal mencapai 770.000 kasus yang dioperas. Sekitar 75% dari semua hernia
terjadi di inguinal 2/3 adalah hernia indirect dan 1/3 adalah hernia direct. Hernia inguinal
indirect adalah hernia yang paling sering pada pria dan wanita, paling dominan di sisi
sebelah kanan. 1,2,6
3. ETIOLOGI
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomaly congenital atau karena sebab yang
didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia. Lebih banyak pada laki laki ketimbang
perempuan. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia
pada annulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantung dan isi
hernia. Selain itu, diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewatu pintu
yang sudah terbuka cukup lebar itu. 1
Pada orang yang sehat, ada tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya
hernia inguinalis, yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur m.oblikus
eksternus internus abdominis yang menutup annulus inguinalis internus ketika
berkontraksi, dan adanya fascia transversa yang kuat yang menutup trigonum hasselbach

18

yang umumnya tidak berotot. Gangguan pada mekanisme ini dapat menyebabkan
terjadinya hernia.
Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang
terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut
karena usia.
Proses turunnya testis mengikuti prosesus vaginalis. Pada neonates kurang lebih
90% prosesus vaginalis tetap terbuka, sedangkan pada bayi umur satu tahun sekitar 30%
prosesus vaginalis belum tertutup. Akan tetapi, kejadian hernia pada umur ini hanya
beberapa persen. Tidak sampai 10% anak dengan prosesus vaginalis pasien menderita
hernia. Pada lebih dari separuh populasi anak, dapat dijumpai prosesus vaginalis paten
kontralateral, tetapi insiden hernia tidak melebihi 20%, umumnya disimpulkan adanya
prosesu vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia, tetapi
diperlukan faktor lain, seperti annulus inguinalis yang cukup besar.
Tekanan intraabdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk kronis,
hipertrofi prostat, konstipasi, dan asites, sering disertai hernia inguinalis
Insiden hernia inguinalis pada bayi dan anak antara 1 dan 2 % kemungkinan
terjadi hernia pada sisi kanan 60%, sisi kiri 20-25% dan bilateral 15%. Anak yang pernah
mengalami operasi hernia pada waktu bayi, mempunyai kemungkinan 16% mendapat
hernia kontralateral pada usia dewasa. Insidens hernia meningkat dengan bertambahnya
usia mungkin karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intraabdomen
dan berkurangnya kekuatan jaringan penunjang.
Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi annulus
internus kendur. Pada keadaan itu tekanan intraabdomen tidak tinggi dan kanalis
inguinalis berjalan lebih vertical, sebaliknya, bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis
inguinalis berjalan lebih transversal dan annulus inguinalis tertutup sehingga dapat
mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut
antara lain terjadi akibat kerusakan n.ilioinguinalis dan n.iliofemoralis setelah
apendektomi.
4. KLASIFIKASI
a. Hernia inguinalis medialis
Hernia inguinalis direk ini hampir selalu disebabkan oleh faktor peninggian
tekanan intraabdomen kronik dan kelemahan otot dinding di trigonum hasselbach.
Oleh Karenna itu, hernia ini umumnya bilateral, khususnya pada laki-laki tua. Hernia
ini jarang, bahkan tidak pernah mengalami inkarserasi dan strangulasi.1
b. Hernia inguinalis lateralis
Hernia ini disebut lateralis karena menonjol dari perut di lateral pembuluh
epigastrika inferior. Disebut indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran,
yaitu annulus dan kanalis inguinalis, berbeda dengan hernia medialis yang langsung
menonjol melalui segitiga hasselbach dan disebut juga sebagai hernia direk.pada

19

pemeriksaan hernia lateralis, akan tampak tonjolan berbentuk lonjong sedangkan


hernia medial berbentuk tonjolan bulat.
Pada bayi dan anak, hernia lateralis disebabkan oleh kelainan bawaan berupa
tidak menutupnya prosesus vaginalis peritoneum sebagai akibat proses penurunan
testis ke skrotum. Hernia geser dapat terjadi di sebelah kanan atau kiri. Hernia di
kanan biasanya berisi sekum dan sebagian kolon ascendens, sedangkan yang di kiri
berisi sebagian kolon descendens
5. GAMBARAN KLINIS
Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan di lipat paha yang
timbul pada waktu mengedan, batuk, atau mengangkat beban berat, dan menghilang
waktu istirahat baring. Pada bayi dan anak-anak, adanya benjolan yang hilang timbul
dilipat paha biasanya diketahui orang tua. Jika hernia mengganggu dan anak atau bayi
sering gelisah, banyak menangis, dan kadang-kadang perut kembung, harus difikirkan
kemungkinan hernia strangulate. 1
Pada inspeksi diperhatikan keadaan asimetri pada kedua sisi lipat paha, skrotum,
atau labia dalam posisi beridiri dan berbaring. Pasien diminta mengedan atau batuk
sehingga adanya benjolan atau keadaan asimetri dapat dilihat. Palpasi dilakukan dalam
keadaan ada benjolan hernia, diraba konsistensi nya, dan dicoba didorong apakah
benjolan dapat direposisi. Setelah benjolan dapat direposisi dengan jari telunjuk atau jari
kelingking pada anak anak, kadang cincin hernia dapat diraba berupa annulus inguinalis
yang melebar.1
6. DIAGNOSIS
Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia
reponibel keluhan satu satunya adalah adanya benjolan di lipat paha yang muncul pada
waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan. Dan menghilang setelah berbaring. Keluhan
nyeri jarang dijumpai. Kalau ada biasanya diarasakan di daerah epigastrium atau
paraumbilikal berupa nyeri visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu
segmen usus halus masuk ke dalam kantung hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah
baru timbul kalau terjadi inkarserata karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau
gangrene.
Tanda klinis pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada inspeksi saat pasien
mengedan, dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan di region
inguinalis dari lateral atas ke medial bawah. Kantung hernia yang kosong kadang dapat
diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantung yang
memberikan sensasi gesekan gesekan dua permukaan sutera, tetapi umumnya tanda ini
sukar ditemukan, kalau kantung hernia berisi organ tergantung, tergantung isi nya, pada
palpasi mungkin teraba usus, omentum (seperti karet), atau ovarium. Dengan jari telunjuk

20

atau jari kelingking pada anak dapat dicoba untuk mendorong isi hernia dengan menekan
kulit skrotum melalui annulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia
dapat direposisi atau tidak. Dalam hal hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih
berada dalam annulus eksternus, pasien diminta mengedan, kalau ujung jari menyentuh
hernia, berarti hernia inguinalis lateralis dan kalau bagian sisi jari yang menyentuh nya
berarti hernia inguinalis medialis. Isi hernia pada bayi perempuan yang teraba seperti
sebuah masa padat biasanya terdiri atas ovarium.
Diagnosis ditegakkan atas dasar benjolan yang dapat direposisi atau jika tidak dapat
direposisi, atas dasar tidak adanya pembatasan jelas di sebelah kranial dan adanya
hubungan ke cranial melalui annulus eksternus
7. KOMPLIKASI
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi
hernia dapat tertahan dalam kantung hernia pada hernia ireponibel, ini dapat terjadi kalau
isi hernia terlalu besar, misalnya terdiri atas omentum, organ ekstraperitoneal. Dapat pula
terjadi jika isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi hernia strangulata yang
menimbulkan gejala obstruksi usus sederhana, jepitan cincin hernia akan menyebabkan
gangguan perfusi jaringan isi hernia, pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga
terjadi udem organ atau struktur di dalam herniadan transudasi ke dalam kantung hernia.
Timbulnya udem menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin bertambah sehingga
akhirnya peredaran darah jaringan terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantung
hernia akan berisi transudat berupa cairan serosanguinus. Kalau isi terdiri atas usus dapat
terjadi perforasi yang akhirnya dapat menimbulkan abses local, fistel, atau peritonitis jika
terjadi hubungan dalam rongga perut.
Gambaran klinis hernia inkarserata yang mengandung usus dimulai dengan
gambaran obstruksi usus dengan gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam
basa. Bila telah terjadi strangulasi karena ganggun vaskularisasi, terjadi keadaan toksik
akibat gangrene dan gambaran klinis menjadi kompleks dan sangat serius. Penderita
mengeluh nyeri lebih hebat di tempat hernia, nyeri akan menetap karena rangsangan
peritoneal.
Pada pemeriksaan local ditemukan benjolan yang tidak dapat dimasukkan
kembali disertai nyeri tekan dan tergantung keadaan isi hernia, dapat dijumpai tanda
peritonitis atau abses local. Hernia strangulate merupakan keadaan gawat darurat, oleh
karena itu perlu mendapat pertolongan segera.
8. TATALAKSANA
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan
pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah
direposisi. Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate, kecuali pada
pasien anak-anak. Reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia

21

membentuk corong, sedangkan tangan kanan mendorong nya kea rah cincin hernia
dengan sedikit tekanan perlahan yang tetap sampai terjadi reposisi. Pada anak anak
inkarserasi lebih sering pada usia dibawah 2 tahun. Reposisi dilakukan dengan
menidurkan anak dengan pemberian sedatif dan kompres es di atas hernia. Bila usaha
reposisi ini berhasil. Anak disiapkan untuk operasi pada hari berikutnya, jika reposisi
hernia tidak berhasil, dalam waktu 6 jam harus dilakukan operasi segera. Pengobatan
operatif merupakan satu satunya pengobatan rasional hernia inguinalis. Indikasi operasi
sudah ada begitu diagnosis sudah ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia terdiri atas
herniotomi dan hernioplasik. 1
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantung hernia saampai ke lehernya,
kantung dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi.
Kantung hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
Pada hernioplastik dilakukan tindakan memperkecil annulus inguinalis
internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis . hernioplastik lebih
penting dalam mencegah terjadinya residif dibanding dengan herniotomi. Dikenal
berbagai metode hernioplastik seperti memeperkecil annulus inguinalis internus dengan
jahitan terputus, menutup dan memperkuat fascia transversa, dan menjahitkan pertemuan
m. transverses internus abdominis dan muskulus oblikus internus abdominis yang dikenal
sebagai conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut metode bassini atau
menjahitkan fasia transversa, m. transverses abdominis, m. oblikus internus abdominis ke
ligamentum cooper pada metode mc vay.
Metode bassini merupakan tekhnik herniorofi yang pertama dipublikasikan
tahun 1887. Setelah diseksi kanalis inguinalis, dilakukan rekonstruksi dasar lipat pada
dengan cara mengaproksimasi muskulus oblikus internus, muskulus transverses
abdominis, dan fasia transversalis dengan traktus iliopubik dan ligamentum inguinale.
Pada hernia congenital pada bayi dan anak yang faktor penyebabnya adalah
prosesus vaginalis yang tidak menutup hanya dilakukan herniotomi karena annulus
inguinalis internus cukup elastis dan dinding belakang kanalis cukup kuat.
Terjadinya residif lebih banyak dipengaruhi oleh tekhnik reparasi
dibandingkan dengan faktor konstitusi. Pada hernia inguinalis lateralis penyebab residif
yang paling sering adalah penutupan annulus inguinalis internus yang tidak memadai,
diantaranya karena diseksi kantung yang kurang sempurna, adanya lipoma preperitoneal,
atau kantung hernia tidak ditemukan. Pada hernia inguinalis medialis penyebab residif
umumnya karena tegangan yang berlebihan pada jahitan plastic atau kekurangan lain
dalam tekhnik.

22

BAB III
PEMBAHASAN
Dari anamnesa didapatkan pasien mengalami benjolan dilipat paha kanan sejak satu bulan
sebelum masuk rumah sakit, benjolan hilang dan timbul. Benjolan timbul ketika pasien
mengedan dan batuk lalu menghilang ketika pasien berbaring, Semakin hari benjolan semakin
membesar dan satu minggu terakhir tidak bisa dimasukkan kembali. benjolan tidak terasa nyeri.
Benjolan yang ada pada lipat paha pasien dapat menimbulkan beberapa macam dugaan
dapat berupa tumor, peradangan, infeksi, ataupun hernia. Tetapi keluhan pasien yang khas bahwa

23

sebelum nya benjolan hilang dan timbul ketika mengedan dan batuk lalu menghilang ketika
berbaring menguatkan dugaan bahwa pasien mengalami hernia. Dan satu minggu terakhir
benjolan tidak bisa dimasukkan kembali menguatkan jika hernia maka sudah irreponibel.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan :
Status Lokalis
Regio
: Inguinal dextra
Inspeksi
: terlihat benjolan dengan ukuran 5 x 3 cm, tidak terlihat jejas, benjolan tidak
sampai ke skrotum.
Palpasi

: Benjolan teraba lunak, tidak nyeri, dan tidak bisa dimasukkan kembali.

Sehingga dari anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien dapat didiagnosis hernia inguinalis
lateralis dextra ireponibel. Dengan terapi berupa operasi elektif. herniotomi dan hernnioplasty.
Operasi dilakukan secara elektif karena tidak ada tanda tanda strangulasi dan inkarserata pada
pasien.
Pada pasien ini dilakukan operasi elektif dan tidak dilakukan operasi cyto karena hernia belum
menjadi hernia strangulate dan hernia inkarserata didasarkan bahwa hernia tidak nyeri, pasien
masih bisa flatus, buang air besar masih normal. Sehingga sesuai dengan teori bahwa pada pasien
ini dilakukan operasi elektif dan tidak dioperasi secara cyto.
Pada pasien ini dilakukan herniotomy yaitu dilakukan pembebasan kantung hernia sampai ke
lehernya, kantung dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi.
Kantung hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
Pada pasien ini dilakukan hernioplasty dengan menggunakan mesh makropore dan light weight
dengan berat 26-45 g/ mm3 , menggunakan mesh yang makropore karena akan terbentuk jaringan
ikat di permukaan mesh dan pori-pori mesh dan akan memperkuat dinding dan memperkecil
kemungkinan terjadinya residif, jika menggunakan mesh mikropore tidak akan masuk pori-pori
dan tidak kuat dan akan jebol kembali
DAFTAR PUSTAKA
1. De Jong, W., Sjamsuhidayat, R. Buku Ajar ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2005. H. 523-532.
2. Nicks, B.A. Hernias. [Internet] 2013 [cited 2014 feb 02] available from : www. emedicine
medscape.com
3. Putz, R. & Pabst, R. Atlas Anatomi Manusia Sobotta. Ed 22. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2006

24

4. Reksoprodjo, S., et al. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : Departemen Bedah Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2010
5. Snell, R.S. Clinical anatomy. 7th Ed. Philadelphia : Lippincott and Williams wilkins; 2004
6. Willacy, H. Inguinal Hernias [Internet] 2013 [Cited 2014 feb 02] available from :
www.patient.co.uk/doctor/inguinal-hernias