Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1 Latar Belakang
Insiden dari osteomyelitis kronis adalah meningkatkan karena prevalensi
kondisi dari predisposisi seperti diabetes mellitus dan penyakit vaskuler
perifer.Peningkatan ketersediaan tes pencitraan sensitif, seperti pencitraan
resonansi magnetik dan tulang scintigraphy, telah meningkatkan akurasi
diagnostik dan kemampuan untuk mengkarakterisasi infeksi. Radiografi yg jelas
adalah sebuah sifat penyelidikan sementara untuk mengidentifikasi alternatif
potensi diagnosis dan komplikasi.Sampel langsung dari luka dan antimicroba
sensitivitas sangat penting untuk target treatment. Peningkatan insiden
methicillin-resistant staphylococcus aureus osteomyelitis mempersulit seleksi
antibiotik.Bedah debridement biasanya diperlukan dalam kasus kronis.Angka
kekambuhan tetap tinggi meskipun intervensi bedah dan jangka panjang terapi
antibiotik.Hematogenous akut osteomyelitis pada anak-anak biasanya dapat
diperlakukan dengan sebuah four-week saja dari antibiotik. Pada orang
dewasa ,jangka dari antibiotk untuk osteomyelitis kronis yang bersifat bebrapa
mnggu lebuh lama. Dalam 2 situasi yang baik , akan tetapi , empiris antibiotik
secara menyeluruh bagi s . Aureus
Osteomyelitis secara umum dapat dikatagorikan dalam kategori akut atau
kronis yang didasarkan pada temuan histopathologic , daripada durasi dari
infeksi .Osteomyelitis adalah peradangan akut yang terkait dengan perubahan
tulang yang disebabkan oleh bakteri patogen , dan gejala ini biasanya dalam
waktu dua minggu setelah infeksi .Necrotic ada dalam tulang kronis
osteomyelitis , dan gejala mungkin tidak akan berlangsung hingga 6 minggu
setelah terjadinya infection. klasifikasi lebih lanjut dari osteomyelitis adalah
berdasarkan mekanisme yang diduga terinfeksi ( misalnya , inokulasi atau
langsung hematogenous bakteri ke dalam tulang atau jaringan lunak yang
berdekatan dari infeksi yang kronis atasnya ) . luka terbuka yang lebih
kompleks cierny-mader klasifikasi sistem operasi dikembangkan untuk
1

membantu mengarahkan pengelolaan , Tapi secara umum tidak digunakan


dalam pelayanan dasar

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.I Anatomi Dan Fisiologi Kerangka Anggota Gerak Bawah (Ektremitas


Inferior)
Tulang ini dikaitkan pada batang tubuh dengan perantaraan gelang panggul,
terdiri dari 31 pasang tulang koksa (tulang pangkal paha), femur (tulang paha),
tibia (tulang kering), fibula (tulang betis), patela (tempurung lutut), tarsalia (tulang
pangkal kaki), metatarsalia (tulang telapak kaki), dan falang (ruas jari kaki).

a. Os koksa (tulang pangkal paha)


Tulang koksa membentuk gelang panggul. Letaknya di setiap sis dan di depan
bersatu dengan simpisis pubis dan membentuk sebagian besar tulang pelvis. Os
koksa terdiri dari os ilium (tulang usus), os pubis (tulang kemaluan) dan os iski
(tulang duduk).
b.

Os femur (tulang paha)


Merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar. Kepala sendinya disebut kaput
femoris, pada kolumna femoris terdapat taju yang disebut trokanter mayor dan

minor. Dibagian ujung membentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan
yang disebut kondilus medialis dan kondilus lateralis.
Os tibia dan fibularis merupakan tulang yang bentuk persendian lutut dengan os
femur. Pada ujungnya tedapat tonjolan yang disebut os maleolus atau mata kaki
luar. Os tibia bentuknya lebih kecil, pada bagian pangkal meletak os fibula, pada
bagian ujung mementuk persendian dengan tulang pangkal kaki dan terdapat taju
yang disebut os maleolus medialis.
c. Os tarsalia (tulang pangkal kaki)
Os tarsalia dihubungkan dengan tulang bawah oleh sendi pergelangan kaki. Terdiri
dari tulang-tulang kecil yang banyaknya 5 buah yaitu :
1)

Talus (tulang loncat)

2)

Kalkaneus (tulang tumit)

3)

Navikular (tulang bentuk kapal)

4)

Os kuboideum (tulang bentuk dadu)

5)

Kunaiformi (3 buah): kunaiformi lateralis, kunaiformi intermedialis dan


kunaiformi medialis,

7. Metatarsalia (tulang telapak kaki)


Terdiri dari tulang-tulang pendek yang banyaknya 5 buah, yang masingmasing berhubungan dengan tarsus dan falangus dengan perantaraan persendian.

8. Falangus (ruas jari tangan)

Ruas jari kaki merupakan tulang-tulang pendek yang masing-masing


terdiri atas 3 ruas kecuali ibu jari kaki banyaknya 2 ruas.. Lengkung melingkang
dibentuk oleh tulang tarsal, dan lengkung tranversal anterior dibentuk oleh kepala
tulang metatarsal pertama dan kelima.

II.II Osteomyelitis
II.II.I Definisi
Osteomielitis merupakan infeksi tulang ataupun sum-sum tulang, biasanya
disebabkan oleh bakteri piogenik atau mikobakteri. Osteomielitis bisa mengenai
semua usia tetapi umumnya mengenai anak-anak dan orang tua. Osteomielitis juga
mengenai orang dengan gangguan kondisi kesehatan yang serius. Ketika tulang
terinfeksi maka sumsum tulang akan membengkak dan menimbulkan tekanan pada
dinding tulang, namun karena dinding tulang bersifat rigid maka pembuluh darah
yang ada di di dalam sumsum tulang tersebut akan terkompresi sehingga
menurunkan suplai darah ke tulang. Tanpa suplai darah yang cukup, bagian-bagian
tulang dapat mengalami nekrosis. Bagian tulang yang mati tersebut sulit untuk
diobati karena sel-sel leukosit dan antibiotik sulit untuk mencapainya. Infeksi pada
tulang dapat juga menyebar dengan terbentuknya pus dan menginfeksi jaringan
lunak disekitarnya seperti otot.
5

2.2. EPIDEMIOLOGI
Osteomielitis sering ditemukan pada usia dekade I-II, tetapi dapat pula
ditemukanpada bayi. Insiden di amerika 1 dari 5000 anak. Pada keseluruhan ins
iden terbanyak pada negara berkembang. Osteomielitis pada anakanak sering be
rsifat akut dan menyebar secarahematogen, sedangkan osteomielitis pada orang
dewasa merupakan infeksi kronik yang berkembang secara sekunder dan fraktur
terbuka dan meliputi jaringan lunak.
Kejadian pada anak laki-laki lebih sering dibandingkan dengan anak
perempuan
dengan perbandingan 4:1. Lokasi yang sering ialah tulangtulang panjang, misalnya femur,tibia,humerus, radius, ulna dan fibula. Namun
tibia
menjadi
lokasi
tersering
untuk
osteomielitis post trauma karena pada tibia hanya terdapat sedikit pembuluh dar
ah. Faktor-faktor pasien seperti perubahan pertahanan netrofil, imunitas
humoral, dan imunitas selural dapat meningkatkan resiko osteomielitis.
2.3 ETIOLOGI
Biasanya mikroorganisme dapat menginfeksi tulang melalui tiga cara yaitu
melalui pembuluh darah, langsung melalui area lokal infeksi (seperti selulitis) atau
melalui trauma, termasuk iatrogenik seperti dislokasi sendi atau fiksasi internal.
Pada balita, infeksi dapat menyebar ke sendi dan menyebabkan arthritis.
Pada anak-anak yang biasanya terinfeksi adalah tulang panjang. Abses
subperiosteal dapat terbentuk karena periosteum melekat longgar di permukaan
tulang, sedangkan pada orang dewasa tulang yang paling sering terinfeksi adalah
tulang belakang dan tulang panggul.
Tibia bagian distal, femur bagian distal, humerus, radius dan ulna bagian
proksimal dan distal, vertebra, maksila, dan mandibula merupakan tulang yang
paling beresiko untuk terkena osteomielitis karena merupakan tulang yang banyak
vaskularisasinya. Bagaimanapun, abses pada tulang dapat dipicu oleh trauma di

daerah infeksi. Infeksi dapat disebabkan oleh Staphylococcus aureus, yang


merupakan flora normal yang dapat ditemukan di kulit dan mukosa membran.

Umur

Organisme

aureus, Enterobacter species,


Neonatus (lebih kecil dari 4 S.
Aand B Streptococcus species
bulan)
aureus, group
Anak-anak (4 bulan 4 tahun) S.
species,Haemophilus
and Enterobacterspecies

and group

A Streptococcus
influenzae,

aureus (80%), group


A Streptococcus
Anak-anak, remaja ( 4 tahun- S.
species, H. influenzae, and Enterobacterspecies
dewasa)
Orang dewasa

S.
aureus and
occasionally Enterobacter orStreptococcus species

Selain bakteri, jamur dan virus juga dapat menginfeksi langsung melalui
fraktur terbuka, operasi tulang atau terkena benda yang terkontaminasi.
Osteomielitis kadang dapat merupakan komplikasi sekunder dari tuberkulosis paru.
Pada keadaan ini, bakteri biasa menyebar ke tulang melalui sistem sirkulasi,
pertama yang terinfeksi adalah sinovium (karena kadar oksigen yang tinggi)
sebelum menginfeksi tulang. Pada osteomielitis tuberkulosis, tulang panjang dan
tulang belakang merupakan satu-satunya tulang yang terinfeksi.
Osteomielitis dapat juga disebabkan potongan besi yang mengenai tulang
pada saat pembedahan untuk memperbaiki fraktur. Spora bakteri dan jamur dapat
juga mengenai sendi tulang yang terlibat. Osteomielitis juga dapat terjadi akibat
penyebaran infeksi jaringan lunak. Infeksi tersebut meyebar ke tulang dalam
beberapa hari sampai beberapa minggu. Tipe penyebaran ini biasa terjadi pada
7

orang yang lebih tua. Infeksi dapat dimulai dari kerusakan akibat trauma, terapi
radiasi, kanker, atau pada kulit yang luka yang disebabkan sedikitnya sedikit
sirkulasi darah pada tulang atau pada penyakit diabetes. Infeksi sinus, gusi atau
gigi dapat meyebar ke tulang-tulang kepala.
2.4. KLASIFIKASI
Berdasarkan lama infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu:
1. Osteomielitis akut, yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 minggu sejak infeksi
pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis akut ini biasanya
terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa dan biasanya terjadi sebagai
komplikasi dari infeksi di dalam darah (osteomielitis hematogen)
Osteomielitis akut terbagi lagi menjadi 2, yaitu:
1. Osteomielitis hematogen, merupakan infeksi yang penyebarannya berasal
dari darah. Osteomielitis hematogen akut biasanya disebabkan oleh
penyebaran bakteri darah dari daerah yang jauh. Kondisi ini biasanya
terjadi pada anak-anak. Lokasi yang sering terinfeksi biasa merupakan
daerah yang tumbuh dengan cepat dan metafisis yang bervaskular
banyak. Aliran darah yang lambat pada daerah distal metafisis
menyebabkan thrombosis dan nekrosis local serta pertumbuhan bakteri
pada tulang itu sendiri. Osteomielitis hematogen akut mempunyai
perkembangan klinis dan onset yang lambat.
2. Osteomielitis direk, disebabkan oleh kontak langsung dengan jaringan
atau bakteri akibat trauma atau pembedahan. Osteomielitis direk adalah
infeksi tulang sekunder akibat inokulasi bakteri yang disebabkan oleh
trauma, yang menyebar dari fokus infeksi atau sepsis setelah prosedur
pembedahan. Manifestasi klinis dari osteomielitis direk lebih terlokalisasi
dan melibatkan banyak jenis organisme.
2. Osteomielitis sub-akut, yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 1-2 bulan sejak
infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul.

3. Osteomielitis kronis, yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 bulan atau lebih
sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul.

Osteomielitis sub-akut dan kronis biasanya terjadi pada orang dewasa dan biasanya
terjadi karena ada luka atau trauma (osteomielitis kontangiosa), misalnya
osteomielitis yang terjadi pada tulang yang fraktur.

Berikut merupakan beberapa pembagian osteomielitis yang lain :


1. Osteomielitis pada vertebra
Kelainan ini lebih sulit untuk didiagnosis. Biasanya ada demam, rasa sakit
pada tulang dan spasme otot. Proses ini lebih sering mengenai korpus vertebra
dan dapat timbul sebagai komplikasi infeksi saluran kencing dan operasi
panggul.
Pada stadium awal tanda tanda destruksi tulang yang menonjol, selanjutnya
terjadi pembentukan tulang baru yang terlihat sebagai skelerosis. Lesi dapat
bermula dibagian sentral atau tepi korpus vertebra .
Pada lesi yang bermula ditepi korpus vertebra, diskus cepat mengalami
destruksi dan sela diskus akan menyempit. Dapat timbul abses para vertebral
yang terlihat sebagai bayangan berdensitas jaringan lunak sekitar lesi. Di daerah
torakal, abses ini lebih mudah dilihat karena terdapat kontras paru. Daerah
Lumbal lebih sukar untuk dilihat, tanda yang penting adalah bayangan psoas
menjadi kabur.
Untuk membedakan penyakit ini dengan spondilitis tuberkulosa sukar,
biasanya pada osteomielitis akan terlihat sklerosis, destruksi diskus kurang dan
sering timbul penulangan antara vertebra yang terkena proses dengan vertebra di
dekatnya (bony bridging).
2. Osteomielitis pada tulang lain
Tengkorak

Biasanya osteomielitis pada tulang tengkorak terjadi sebagai akibat perluasan


infeksi di kulit kepala atau sinusitis frontalis. Proses detruksi bias setempat atau
difuse. Reaksi periosteal biasanya tidak ada atau sedikit sekali.
Mandibula
Biasanya terjadi akibat komplikasi fraktur atau abses gigi.
Pelvis
Osteomielitis pada tulang pelvis paling sering terjadi pada bagian sayap tulang
ilium dan dapat meluas ke sendi sakroiliaka. Pada foto terlihat gambaran destruksi
tulang yang luas, bentuk tidak teratur, biasanya dengan skwester yang multiple.
Sering terlihat sklerosis pada tepi lesi. Secara klinis sering disertai abses dan
fistula.
Bedanya dengan tuberculosis, ialah destruksi berlangsung lebih cepat dan pada
tuberculosis abses sering mengalami kalsifikasi. Dalam diagnosis differential perlu
dipikirkan kemungkinan keganasan.
3. Tipe khusus osteomielitis
Abses Brodie
Abses ini bersifat kronis, biasanya ditemukan dalam spondilosa tulang dekat ujung
tulang. Bentuk abses biasanya bulat atau lonjong dengan pinggiran sklerotik,
kadang-kadang terlihat skwester. Abses tetap terlokalisasi dan kavitas dapat secara
bertahap terisi jaringan granulasi.

Osteomielitis sklerosing Garre


Pada kelainan ini yang menonjol adalah sklerosis tulang dengan tanda-tanda
destruksi yang tidak nyata. Bersifat kronis, dan biasanya hany satu tulang yang
terkena dengan pelebaran tulang yang bersifat fusiform. Diagnosis differential
yang penting adalah osteoid osteoma.

10

4. Osteomielitis pada neonatus dan bayi


Osteomielitis pada neonatus dan bayi sering kali hanya dengan gejala
klinis yang ringan, dapat mengenai satu atau banyak tulang dan mudah meluas
ke sendi di dekatnya. Biasanya lebih sering terjadi pada bayi dengan resiko
tinggi seperti prematur, berat badan kurang. Tindakan-tindakan seperti resusitasi,
vena seksi, kateterisasi dan infuse secara potensial dapat merupakan penyebab
Infeksi. Kuman penyebab tersering adalah Streptococcus.
Osteomielitis pada bayi biasanya disertai destruksi yang luas dari tulang,
tulang rawan dan jaringan lunak sekitarnya. Pada neonatus ada hubungan antara
pembuluh darah epifisis dengan pembuluh darah metafisis, yang disebut
pembuluh darah transfiseal, Hubungan ini menyebabkan mudahnya infeksi
meluas dari metafisis ke epifisis dan sendi. Kadang-kadang osteomielitis pada
bayi juga dapat mengenai tulang lain seperti maksila, vertebra, tengkorak, iga
dan pelvis. Tanda paling dini yang dapat ditemukan pada foto rontgen ialah
pembengkakan jaringan lunak dekat tulang yang terlihat kira-kira 3 hari setelah
infeksi. Demineralisasi tulang terlihat kira-kira 7 hari setelah infeksi dan
disebabkan hyperemia dan destruksi trabekula. Destruksi korteks dan sebagai
akibatnya pembentukan tulang sub-periosteal terlihat pada kira-kira 2 minggu
setelah infeksi.

Faktor predisposisi osteomielitis antara lain :


1. Diabetes mellitus
2. Penyakit sickle cell disease
3. Acquired immune deficiency syndrome (AIDS)
4. IV drug abuse
5. Alcoholism
6. Penggunaan steroid jangka panjang
7. Immunosupresi
8. Penyakit sendi kronis
11

9. Penggunaan alat-alat bantu ortopedik.

2. 4. DIAGNOSA
Osteomielitis dapat didiagnosa dari gambaran klinis, gambaran radiologi dan
pemeriksaan laboratorium.

2. 4. 1. GAMBARAN KLINIS
Pada anak-anak, infeksi tulang yang didapat melalui aliran darah, dapat
menyebabkan demam dan kadang-kadang di kemudian hari, menyebabkan nyeri
pada tulang yang terinfeksi. Daerah diatas tulang bisa mengalami luka dan
membengkak, dan pergerakan akan menimbulkan nyeri.
Infeksi tulang belakang biasanya timbul secara bertahap, menyebabkan nyeri
punggung dan nyeri tumpul jika disentuh. Nyeri akan memburuk bila penderita
bergerak dan tidak berkurang dengan istirahat, pemanasan atau minum obat pereda
nyeri. Demam, yang merupakan tanda suatu infeksi, sering tidak terjadi.
Infeksi tulang yang disebabkan oleh infeksi jaringan lunak di dekatnya atau
yang berasal dari penyebaran langsung, menyebabkan nyeri dan pembengkakan di
daerah diatas tulang, dan abses bias terbentuk di jaringan sekitarnya. Infeksi ini
tidak menyebabkan demam dan pemeriksaan darah menunjukkan hasil yang
normal. Penderita yang mengalami infeksi pada sendi buatan atau anggota gerak,
biasanya memiliki nyeri yang menetap di daerah tersebut.
Jika suatu infeksi tulang tidak berhasil diobati, bisa terjadi osteomielitis
menahun (osteomielitis kronis). Kadang-kadang infeksi ini tidak terdeteksi selama
bertahun-tahun dan tidak menimbulkan gejala selama beberapa bulan atau
beberapa tahun.
Osteomielitis menahun sering menyebabkan nyeri tulang, infeksi jaringan
lunak diatas tulang yang berulang dan pengeluaran nanah yang menetap atau
hilang
timbul
dari
kulit.
12

Pengeluaran nanah terjadi jika nanah dari tulang yang terinfeksi menembus
permukaan kulit dan suatu saluran (saluran sinus) terbentuk dari tulang menuju
kulit.
1.4.2.

GAMBARAN RADIOLOGI
Kelainan tulang yang terjadi pada foto roentgen biasanya baru dapat dilihat
kira-kira 10-14 hari setelah infeksi. Sebelumnya mungkin hanya dapat dilihat
pembengkakan jaringan lunak saja. Perubahan-perubahan pada tulang lebih cepat
terlihat pada anak-anak. Bila pada foto pertama belum terlihat kelainan tulang
sedangkan klinis dicurigai osteomielitis, sebaiknya foto diulang kira-kira 1 minggu
kemudian. Sering kali reaksi periosteum yang terlihat lebih dahulu, baru kemudian
terlihat daerah-daerah berdensitas lebih rendah pada tulang yang menunjukkan
adanya destruksi tulang, dan disebut rarefaksi. Gambaran tulang selanjutnya
bergantung pada terapi yang diberikan. Bila terapi adekuat, proses akan
menyembuh dan yang terlihat pada foto mungkin hanya berupa reaksi periostel dan
skelerosis. Bila terapi terlambat atau tidak adekuat, maka gambaran radiologik
akan memperlihatkan proses patologik.

13

Gambaran radiologi osteomielitis sangat bervariasi. Radiografi yang


dilakukan pada awal perjalanan penyakit akan memperlihatkan pembengakakan
jaringan lunak atau edem jaringan lunak subkutan, akan tetapi radiografi akan
terlihat normal pada 7-10 hari pertama infeksi. Pada hari ke 10-14, suatu area fokal
yang opak akan terlihat di metafisis. Hal ini diakibatkan oleh proses perusakan litik
yang berhubungan dengan reaksi fokal periosteal. Gambaran radiologi yang tipikal
akan menunjukkan suatu gambaran lusen berbentuk oval dan terletak longitudinal
dengan dikelilingi oleh batas-batas sklerotik dengan sedikit atau tidak ada
pembentukan tulang baru periosteal.
Gambaran radiologi dapat terlihat normal, terutama diawal perjalanan
penyakit. Pada beberapa keadaan, gambaran akan menunjukkan pembengakakan
jaringan lunak, reaksi periosteal, resorpsi tulang subperiosteal, erosi dan
14

skwestrum. Perluasan infeksi melalui korteks metafisis akan menyebabkan


pembentukan tulang baru periosteal. Bila terjadi pembentukan tulang baru, baik di
trabekula maupun korteks, maka tulang akan terlihat lebih opak yang dikenal
dengan sklerosis. Tulang baru periosteal ini jika membungkus tulang lama akan
menjadi involukrum. Bila terjadi perluasan infeksi ke tulang lain yang
menyebabkan nekrosis maka disebut dengan skwestrum.
COMPUTED TOMOGRAFI
CT scan merupakan alat pencitraan pilihan untuk memperlihatkan skwestrum dan
erosi kortikal pada kasus osteomielitis kronis.

2.5.

DIAGNOSA BANDING
Gambaran radiologik osteomielitis dapat menyerupai gambaran penyakitpenyakit lain pada tulang diantaranya yang terpenting adalah tumor ganas primer
tulang.

1.Osteosarkoma
Biasanya mengenai metafisis tulang panjang seperti osteomielitis sehingga
stadium dini sangat sukar dibedakan dengan osteomielitis.Pada stadium yang
lebih lanjut, kemungkinan untuk membadakan lebih besar karena pada
osteosarkoma pembentukan tulang yang lebih banyak serta adanya infiltrasi
tumor yang disertai penulangan patologik ke dalam jaringan lunak. Juga pada
osteosarkoma ditemukan segitiga Codman.

2.Ewing sarkoma
Ewing sarcoma biasanya mengenai diafisis,tampak destruksi tulang yang
bersifat infiltratif, reaksi periosteal yang kadang-kadang menyerupai kulit
bawang yang berlapis-lapis dan massa jaringan lunak yang besar.

15

2.6.

PENGOBATAN

Setelah mendiagnosa osteomielitis, mengklasifikasikannya dan mengetahui


penyebabnya, pengobatan yang dilakukan terdiri dari antibakteri, debridement dan
jika perlu dilakukan penstabilan tulang. Kebanyakan pasien dengan
osteomielitis berhasil diobati dengan terapi antibiotik. Antibakteri harus diberikan
selama minimum 4 minggu (sebenarnya, 6 minggu) untuk mencapai penyembuhan.
Untuk mengurangi biaya pengobatan, antibiotik parenteral untuk pasien rawat jalan
dapat diganti dengan antibiotik oral.
Beberapa penelitian telah membuktikan pengobatan untuk osteomielitis. Ada
yang menemukan bahwa hanya 5 penelitian yang mencakup 154 pasien dengan
infeksi tulang. Perencanaan pengobatan sulit dilakukan karena beberapa alasan:
debridement tidak secara jelas mempengaruhi kerja antibiotik, keadaan klinis dan
mikroorganisme patogen yang heterogen dan evaluasi bertahun-tahun diperlukan
untuk menentukan ada atau tidak adanya remisi. Banyak penelitian yang tidak
secara acak, tidak mempunyai grup sebagai kontrol dan hanya mencatat sejumlah
kecil pasien.

A. Terapi Antibiotik
Osteomielitis hematogen akut paling bagus diobati dengan evaluasi tepat
terhadap mikroorganisme penyebab dan kelemahan mikroorganisme tersebut
dan 4-6 minggu terapi antbiotik yang tepat.
Debridement tidak perlu dilakukan jika diagnosis osteomielitis hematogen
telah cepat diketahui. Anjuran pengobatan sekarang jarang memerlukan
debridement. Bagaimanapun, jika terapi antibiotik gagal, debridement dan
pengobatan 4-6 minggu dengan antibiotik parenteral sangat diperlukan. Setelah
kutur mikroorganisme dilakukan, regimen antibiotik parenteral (nafcillin
[Unipen] + cefotaxime lain [Claforan] atau ceftriaxone [Rocephin]) diawali
untuk menutupi gejala klinis organisme tersangka. Jika hasil kultur telah
diketahui, regimen antibiotik ditinjau kembali. Anak-anak dengan osteomielitis
16

akut harus menjalani 2 minggu pengobatan dengan antibiotik parenteral


sebelum anak-anak diberikan antibiotik oral.
Osteomielitis kronis pada orang dewasa lebih sulit disembuhkan dan
umumya diobati dengan antibiotik dan tindakan debridement. Terapi antibiotik
oral tidak dianjurkan untuk digunakan. Tergantung dari jenis osteomielitis
kronis, pasien mungkin diobati dengan antibiotik parenteral selam 2-6 minggu.
Bagaimanapun, tanpa debridement yang bagus, osteomielitis kronis tidak akan
merespon terhadap kebanyakan regimen antibiotik, berapa lama pun terapi
dilakukan. Terapi intravena untuk pasien rawat jalan menggunakan kateter
intravena yang dapat dipakai dalam jangka waktu lama (contohnya : kateter
Hickman) akan menurunkan masa rawat pasien di rumah sakit.
Terapi secara oral menggunakan antibiotik fluoroquinolone untuk organisme
gram negatif sekarang ini digunakan pada orang dewasa dengan osteomielitis.
Tidak ada fluoroquinolone yang tersedia digunakan sebagai antistaphylococcus
yang optimal, keuntungan yang penting dari insidensi kebalnya infeksi
nosokomial yang didapat dengan bakteri staphylococcus. Untuk lebih lanjutnya,
sekarang ini quinolone tidak menyediakan pengobatan terhadap patogen yang
anaerob.

B. Debridement
Debridement pada pasien dengan osteomielitis kronis dapat dilakukan.
Kualitas debridement merupakan faktor penting dalam suksesnya pengobatan.
Setelah debridement dengan eksisi tulang, adalah hal yang perlu untuk
menghapuskan/ menghilangkan dead space yang dilakukan dengan
memindahkan jaringan di atasnya. Pengobatan dead space termasuk myoplasty
lokal, pemindahan jaringan dan penggunaan antibiotik. Pelaksanaan pada
jaringan lunak telah dikembangkan untuk meningkatkan aliran darah lokal dan
pendistribusian antibiotik.

2.7.

PROGNOSIS

17

Setelah mendapatkan terapi, umumnya osteomielitis akut menunjukkan hasil


yang memuaskan. Prognosis osteomielitis kronik umumnya buruk walaupun
dengan pembedahan, abses dapat terjadi sampai beberapa minggu, bulan atau
tahun setelahnya. Amputasi mungkin dibutuhkan, khususnya pada pasien dengan
diabetes atau berkurangnya sirkulasi darah. Pada penderita yang mendapatkan
infeksi dengan penggunaan alat bantu prostetik perlu dilakukan monitoring lebih
lanjut. Mereka perlu mendapatkan terapi antibiotik profilaksis sebelum dilakukan
operasi karena memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mendapatkan osteomielitis.
Komplikasi yang mungkin muncul dari osteomielitis antara lain:

Osteomielitis kronis

Penyebaran infeksi yang lokal

Penurunan fungsi ekstremitas dan sendi

Amputasi

18

BAB III
KESIMPULAN
Osteomielitis merupakan infeksi tulang ataupun sum-sum tulang, biasanya
disebabkan oleh bakteri piogenik atau mikobakteri. Osteomielitis bisa mengenai
semua usia tetapi umumnya mengenai anak-anak dan orang tua. Oteomielitis
umumnya disebabkan oleh bakteri, diantaranya dari species staphylococcus dan
stertococcus. Selain bakteri, jamur dan virus juga dapat menginfeksi langsung
melalui fraktur terbuka. Tibia bagian distal, femur bagian distal, humerus , radius
dan ulna bagian proksimal dan distal, vertebra, maksila, dan mandibula merupakan
tulang yang paling beresiko untuk terkena osteomielitis karena merupakan tulang
yang banyak vaskularisasinya.
Berdasarkan lama infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu :
osteomielitis akut, sub akut dan kronis. Gambaran klinis terlihat daerah diatas
tulang bisa mengalami luka dan membengkak, dan pergerakan akan menimbulkan
nyeri. Osteomielitis menahun sering menyebabkan nyeri tulang, infeksi jaringan
lunak diatas tulang yang berulang dan pengeluaran nanah yang menetap atau
hilang timbul dari kulit. Pengeluaran nanah terjadi jika nanah dari tulang yang
terinfeksi menembus permukaan kulit dan suatu saluran (saluran sinus) terbentuk
dari tulang menuju kulit.
Oteomielitis didiagnosis banding dengan osteosarkoma dan Ewing sarkoma
sebab memiliki gambaran radiologik yang mirip. Gambaran radiologik
osteomielitis baru terlihat setelah 10-14 hari setelah infeksi, yang akan
memperlihatkan reaksi periosteal, sklerosis, sekwestrum dan involikrum.
Osteomielitis dapat diobati dengan terapi antibiotik selama 2-4 minggu atau
dengan debridement. Prognosis osteomielitis bergantung pada lama perjalanan
penyakitnya, untuk yang akut prognosisnya umumnya baik, tetapi yang kronis
umumnya buruk.
19

DAFTAR PUSTAKA

1. Diagnosis and management of Osteomyelitis 2011;84(9):1027-1033.


2. Sjamsuhidajat.R; De Jong.W, Editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi,
Cetakan Pertama, Penerbit EGC; Jakarta.1997. 1058-1064.
3. Sabiston. DC; alih bahasa: Andrianto.P; Editor Ronardy DH. Buku Ajar Bedah
Bagian 2. Penerbit EGC; Jakarta.
4. Schwartz.SI; Shires.GT; Spencer.FC; alih bahasa: Laniyati; Kartini.A;
Wijaya.C; Komala.S; Ronardy.DH; Editor Chandranata.L; Kumala.P. Intisari
Prinsip Prinsip Ilmu Bedah. Penerbit EGC; Jakarta.2000.
5. Reksoprojo.S:

Editor;

Pusponegoro.AD;

Kartono.D;

Hutagalung.EU;

Sumardi.R; Luthfia.C; Ramli.M; Rachmat. KB; Dachlan.M. Kumpulan Kuliah


Ilmu Bedah. Penerbit Bagian Ilmu Bedah FKUI/RSCM; Jakarta.1995.

20