Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG
Apabila suatu wilayah telah dikuasai oleh suatu Negara dan diakui oleh
internasioal maka wilayah tersebut sudah menjadi wilayah kedaulatannya. Ada
lima cara tradisional dan pada umumnya diakui untuk diperolehnya kedaulatan
teritorial adalah: okupasi, aneksasi, penambahan (accretion) wilayah, preskripsi
(prescription) dan penyerahan (cession). Cara-cara ini secara langsung beranalogi
pada metode-metode hukum sipil mengenai kepemilikan pribadi.
Tesis ini membahas hasil penelitian tentang okupasi dalam perspektif hukum
internasional. Sebagai pengetahuan bagaimana proses terjadinya okupasi itu,
teori-teori tentang okupasi dan syarat-syarat apa saja untuk dapat melakukan
okupasi.
Disini juga membahas mengenai sengketa-sengketa yang terjadi dengan adanya
okupasi sehingga kita dapat mengetahui betapa pentingnya arti sebuah wilayah
sehingga banyak diperebutkan antar Negara. Wilayah yang letaknya terpencil
namun memiliki sumber daya alam yang besar lebih rawan terkena konflik.
Karena letaknya yang jauh dari pantauan pemerintah sehingga Negara lain
mudah melakukan pengakuan/klaim.
Seperti yang terjadi pada pulau miangas yang terletak dekat perbatasan antara
Indonesia dengan Filipina. Pulau ini termasuk ke dalam desa Miangas,
kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, provinsi Sulawesi Utara,
Indonesia. Pulau ini semapat dipersengketakan antara Indonesia dengan Filipina
yang akhirnya keluarlah putusan inkracht pulau miangas tetap menjadi milik
Indonesia.
Kasus lainnya yaitu Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan yang dipersengketakan
antara Indonesia dan Malaysia selama kurang lebih 20 tahun. Pada akhirnya
1

kedua pulau ini resmi dimiliki Malaysia sejak 17 Desember 2012 yaitu tepat di
keluarkananya putusan Mahkamah Internasional/International Court of Justice
(ICJ).
1.2.

RUMUSAN MASALAH
1. Apa

syarat-syarat

unsur

yang

harus

ada

untuk

melakukan

okupasi/pendudukan agar okupasi/pendudukan tersebut berjalan efektif?


2. Mengapa sering terjadi sengketa pendudukan/okupasi atas suatu wilayah
antara satu Negara dengan Negara lain?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KERANGKA TEORI


Dalam beberapa kasus tertentu diperlukan penentuan keluasan wilayah yang tercakup
oleh tindakan okupasi. Beragam teori mengenai masalah ini telah dikemukakan
dalam sejarah hukum internasional. Tapi ada dua teori okupasi yang paling dianggap
memeiliki arti penting dalam kaitannya mengenai klaim-klaim beberapa negara atas
wilayah tak bertuan:
1.

Teori Kontinuitas (Continuity), menurut teori ini dimana suatu tindakan okupasi
di suatu wilayah tertentu memperluas kedaulatan negara yang melakukan okupasi
sejauh diperlukan untuk menjamin keamanan atau pengembangan wilayah
terkait.

2.

Teori Kontiguitas (Contiguity), menurut teori ini kedaulatan negara yang


melakukan okupasi tersebut mencakup wilayah-wilayah yang berbatasan yang
secara geografis berhubungan dengan wilayah terkait.1

Kedua teori tersebut sampai pada tingkat tertentu tercermin dalam klaim-klaim yang
diajukan oleh negara-negara terhadap wilayah kutub berdasarkan prinsip sektor
(sector principles). Dengan klaim-klaim berdasarkan prinsip ini, beberapa Negara
yang wilayahnya berbatasan dengan kutub telah menyatakan suatu hak kedaulatan
terhadap tanah atau laut membeku di dalam suatu sektor yang dibatasi garis pantai
wilayah ini dan oleh garis-garis bujur yang berpotongan di Kutub Utara atau Kutub
Selatan.
Dasar pembenaran utama untuk klaim-klaim sektor tersebut adalah tidak dapat
diterapkannya prinsip-prinsip normal asumsi fisik kontrol yang tersirat dalam hukum
internasional mengenai okupasi terhadap wilayah-wilayah kutub, yang tidak dapat
dimasuki, dengan kondisi iklim dan kurangnya pemukiman. Sektor-sektor ini sendiri
sesuai dengan pembagian yang adil dan pantas. Di lain pihak, kiranya tidak dapat
3

disangkal bahwa klaim-klaim sektor tersebut sebenarnya hanyalah sekedar


pengumuman mengenai kehendak di masa mendatang untuk memegang control
sepenuhnya, sesuatu yang hampir sama dengan keinginan untuk menunjukkan
lingkungan pengaruh atau lingkungan kepentingan dalam hubungan internasional.
2.2 Pendapat Ahli
Dalam Island Of Palmas Arbitration Max Huber (1928), memutuskan bahwa suatu
tindakan yang hanya bersifat menemukan semata-mata oleh suatu negara dan tidak
lebih darii tu tidak cukup untuk memberikan hak melalui okupasi, dan bahwa
pemilikan yang tidak lengkap tersebut harus mengarah pada suatu otoritas nyata yang
berlangsung terus-menerus dan secara damai oleh negara lain.2

BAB III
ANALISIS

1. Syarat-syarat unsur untuk melakukan okupasi/pendudukan agar okupasi/


pendudukan tersebut berjalan efektif
Okupasi (pendudukan) adalah perolehan dan/ penegakkan kedaulatan atas wilayah
yang terra nulius (wilayah yang bukan dan sebelumnya belum pernah diletakkan di
bawah kedaulatan suatu negara). Syarat-syaratnya :
1)

dilakukan oleh Negara,

2)

atas daerah yang tidak bertuan/ tidak dimiliki negara lain, biasanya dengan
penemuan,

3)

pemukiman harus dengan jangka waktu yangg wajar dan bersifat menetap,

4)

penguasaan yang efektif,

5)

ada maksud untuk bertindak sbg pemegang kedaulatan atas wilayah yang
bersangkutan.3
Okupasi merupakan penegakan kedaulatan atas wilayah yang tidak berada di

bawah penguasaan negara manapun, baik wilayah yang baru ditemukan, ataupun
yang ditinggalkan oleh negara yang semula menguasainya. Penguasaan tersebut
harus dilakukan oleh negara dan bukan oleh orang perorangan, secara efektif dan
harus terbukti adanya kehendak untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai bagian
dari kedaulatan negara. Hal itu harus ditunjukkan misalnya dengan suatu tindakan
simbolis yang menunjukkan adanya penguasaan terhadap wilayah tersebut, misalnya
dengan pemancangan bendera atau pembacaan proklamasi. Penemuan saja tidak
cukup kuat untuk menunjukkan kedaulatan negara, karena hal ini dianggap hanya
memiliki dampak sebagai suatu pengumuman. Agar penemuan tersebut mempunyai
arti yuridis, harus dilengkapi dengan penguasaan secara efektif untuk suatu jangka
waktu tertentu.

Dalam Eastern Greenland Case, Permanent Court of International Justice


menetapkan bahwa agar okupasi berjalan secara efektif, mensyaratkan dua unsur di
pihak negara yang melakukan okupasi:
1.

Suatu kehendak atau keinginan untuk bertindak sebagai yang berdaulat,

2.

Melaksanakan atau menunjukkan kedaulatan secara pantas.

Unsur kehendak merupakan masalah kesimpulan dari semua yang fakta, meskipun
kadang-kadang

kehendak

tersebut

dapat

secara

formal

ditegaskan

dalam

pengumuman resmi kepada negara-negara lain yang berkepentingan. Syarat kedua


yang menyebutkan bahwa pelaksanaan dan dipertunjukkannya kedaulatan dapat
dipenuhi dengan bukti kongkret kepemilikan dan kontrol, atau sesuai dengan sifat
kasusnya, suatu asumsi fisik dari kedaulatan dapat dipertunjukkan dengan suatu
tindakan yang jelas atau simbolis. Dapat juga dengan langkah-langkah yang berlaku
di wilayah yang diklaim, ataupun melalui traktat-traktat dengan negara-negara lain
yang mengakui kedaulatan negara penuntut tersebut.4
Hak atas Eastern Greenland pernah dipersengketakan oleh Norwegia dan Denmark,
dan Denmark mampu membuktikan keadaan-kadaan yang memperlihatkan adanya
kedua unsur tersebut di pihaknya.
2. Sengketa pendudukan/okupasi atas suatu wilayah antara satu Negara
dengan Negara lain
Wilayah adalah unsur suatu Negara yang sangat penting. Semakin besar wilayah
suatu Negara semakin besar pula kekuasaan yang dimiliki suatu Negara. Oleh karena
itu, sering terjadi sengketa pendudukan atas suatu wilayah. Perebutan dan pengakuan
terhadap suatu wilayah sangat marak belakangan ini. Banyak sekali faktor- faktor
yang menyebabkan terjadinya hal tersebut.
Biasanya permasalahan tersebut timbul di wilayah yang jarang dihuni oleh penduduk
yang memiliki potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan terutama
wilayah daratan dan laut, padahal sebenarnya wilayah tersebut sudah dimiliki Negara
lain karena mungkin letaknya yang sangat terpencil sehingga pemerintah tidak
6

mengurus wilayah tersebut dan dibiarkan terbengkalai. Dengan demikian, wilayah


yang terbengkalai tersebut diklaim oleh Negara lain karena dianggap tidak ada
pemiliknya.
Setelah wilayah tersebut di huni, diadakan pembangunan dan mulai diakui oleh
Negara-negara lain, Negara pemilik asli wilayah tersebut mulai menuntut
kepemilikannya. Sehingga terjadi sengketa atas kepemilikan wilayah. Dan apabila
sengketa tersebut terjadi maka yang berhak memutus adalah Mahkamah
Inernasional/International Court of Justice (ICJ).
Contoh dari okupasi beberapa waktu yang lalu adalah sengketa Pulau Miangas. Pulau
Miangas hanyalah satu dari 12 pulau terluar di Nusantara yang lama nyaris tidak
mendapat perhatian dari pemerintah. Miangas adalah pulau terluar Indonesia yang
terletak dekat perbatasan antara Indonesia dengan Filipina. Pulau ini termasuk ke
dalam desa Miangas, kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, provinsi
Sulawesi Utara, Indonesia. Miangas adalah salah satu pulau yang tergabung dalam
gugusan Kepulauan Nanusa yang berbatasan langsung dengan Filipina. Masyarakat
setempat menamakan Mangiasa yang berarti menangis atau kasihan karena letaknya
sangat terpencil dan jauh dari jangkauan transportasi laut. Ada pula yang menyebut
Pulau Tinonda yang berarti diseberangkan karena upaya Raja Talaud yang
memindahkan atau menyeberangkan beberapa keluarga dari Pulau Karakelang ke
Pulau Miangas.
Pulau Miangas dan Pulau Manoreh berdasarkan peta Spanyol 300 tahun lalu dan
Trakat Paris tahun 1989, merupakan wilayah Philiphina. Pernyataan Konsulat
Jenderal RI untuk Davao City Philipina yang mengejutkan bahwa Pulau Miangas dan
Pulau Manoreh berdasarkan peta Spanyol 300 tahun lalu merupakan wilayah
Philiphina, bahkan masalah ini dengan UU pemerintah Philipina yang baru, kedua
pulau ini telah masuk pada peta pariwisata Philipina. Pemerintah Philipina mengakui
keberadaan pulau Miangas sebagai miliknya berdasarkan Trakat Paris tahun 1989,
Trakat Paris tersebut memuat batas-batas Demarkasi Amerika serikat (AS) setelah
menang perang atas Spanyol yang menjajah Philipina hingga ke Miangas atau La
Palmas. Trakat itu sudah dikomunikasikan Amerika Serikat ke Pemerintah Hindia
7

Belanda, tetapi tidak ada reservasi formal yang diajukan pemerintah hindia Belanda
terhadap Trakat itu. Akan tetapi, putusan arbiter internasional DR. Max Huber
memenangkan Belanda atas kepemilikan Pulau Miangas. Menurut kajian Weter
(1979), DR. Max Huber memperkenalkan konsep hukum intertemporal dalam
menangani sengketa dimana kaidah-kaidah hukum internasional diterapkan
berdasarkan periode dan kasus tertentu. Dalam hal ini bukanlah menyangkut pilihan
hukum melainkan karena tidak adanya penerapan secara historis.
Sengketa Indonesia dengan Filipina adalah perairan laut antara P. Miangas
(Indonesia) dengan pantai Mindanao (Filipina) serta dasar laut antara P. Balut
(Filipina) dengan pantai Laut Sulawesi yang jaraknya kurang dari 400 mil.
Disamping itu letak P. Miangas (Indonesia) di dekat perairan Filipina, dimana
kepemilikan P. Miangas oleh Indonesia berdasarkan Keputusan Peradilan Arbitrage
di Den Haag tahun 1928. Di Kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud, Pulau Miangas
merupakan titik terluar yang paling jauh dan berbatasan dengan Filipina. Hingga kini
Indonesia dan Philipina belum mengikat perjanjian batas wilayah tersebut.
Selanjutnya, dalam beberapa kesempatan perundingan bilateral IndonesiaFilipina
sering muncul argumentasi yang mempertanyakan kembali status Pulau Miangas.
Filipina masih menggunakan dalil bahwa Las Palmas, masuk dalam posisi kotak
berdasarkan Traktat Paris 1898 dan hal ini dikuatkan dengan ditemukannya Pardao
(tugu peringatan) pendaratan Magelhaens di pulau pada tahun 1512. Di samping itu,
konstitusi Filipina masih menyebutkan Las Palmas dalam yurisdiksi dan
kedaulatannya.
Argumentasi di atas, dapat ditepis Pemerintah RI berdasarkan penetapan batas
wilayah Kerajaan Kepulauan Talaud yang menjadi bagian dan tradisi masyarakat
setempat. Secara historis, pengakuan batas wilayah Kerajaan Talaud telah terjadi
sejak kepulauan Talaud dan Filipina bagian selatan berada di bawah pengaruh dari
Kerajaan Tidore. Dalam hal ini, Indonesia harus menggunakan argumentasi historispolitis dan administratif.

Pada dekade 1960 hingga 1970-an, hubungan antara Miangas dan Filipina semakin
intens seiring dengan adanya kesepakatan tentang batas antara kedua negara.
Ironisnya, intensitas hubungan kedua negara tidak mempengaruhi kesadaran nasional
warga kepulauan tersebut. Masyarakat setempat lebih mengenal pejabat Filipina
ketimbang Indonesia. Hal ini terungkap ketika pada awal 1970-an sejumlah pejabat
pemerintah pusat yang menyertai kunjungan Wakil Presiden Sri Sultan Hamengku
Buwono IX ke wilayah perbatasan, melihat potret Presiden Filipina Ferdinand
Marcos menghiasi rumah penduduk.
Seiring perkembangan waktu, isu Miangas mencuat kembali di awal tahun 2002.
Adanya pernyataan yang menilai Pulau Miangas belum sepenuhnya milik Indonesia,
mengundang keprihatinan penduduk di pulau yang berdekatan dengan negara
Filipina itu. Kami sangat prihatin akan pemberitaan mengenai Pulau Miangas yang
seakan-akan tidak ada mengandung fakta-fakta hukum dari seorang yang dianggap
dituakan di daerah, yang dinilai tidak bertanggung-jawab terhadap pulau Miangas
sebagai bagian dari wilayah kepulauan Indonesia.
Sehubungan dengan itu, masyarakat setempat menyatakan bahwa jika demikian
halnya, biarlah rakyat Miangas yang bertanggungjawab sendiri kepada PBB. Dalam
menanggapi isu bahwa Miangas belum sepenuhnya milik Indonesia, warga
menyatakan akan tetap mempertahankan pulau Miangas sebagai milik Indonesia.
Karena itu, sebagaimana yang tertuang dalam kebulatan tekad masyarakat Pulau
Miangas dan ditandatangani oleh 20 perwakilan masyarakat dari 4 delegasi, dengan
tegas menolak penguasaan wilayah perbatasan Indonesia (Pulau Miangas) oleh
bangsa lain. Menurut mereka, hal ini bertentangan dengan konstitusi dan Hak Asasi
Manusia.
Hampir senada dengan politisi Sangihe-Talaud, sejumlah politisi Filipina yang
berada di Davao, Mindanau serta para kalangan akademisi mengangkat isu tentang
kepemilikan Pulau Miangas, Marore dan Marampit. Bahkan, seorang Profesor di
Universitas Filipina, H. Harry Roque menyatakan putusan pada tanggal 4 April 1928

antara Amerika Serikat dengan Belanda belum final karena Pulau Miangas, Marore
dan Marampit termasuk dalam traktat Paris tersebut.
Padahal menurut catatan, pada tanggal 4 April 1928 di atas kapal putih Greenphil
perundingan antara pemerintah Amerika dan Hindia Belanda telah memutuskan
Pulau Miangas termasuk dalam wilayah kepulauan Nusantara Indonesia sebab ciri
budayanya sama dengan masyarakat Talaud. Setelah proklamasi Negara Kesatuan
Republik Indonesia tanggal 17 Agustus secara tegas dinyatakan bahwa NKRI adalah
dari Pulau Sabang sampai Merauke dan dari Pulau Miangas sampai Timur-Kupang.
Hal itu lebih dipertegas lagi dengan diresmikannya tugu perbatasan antara Indonesia
dengan Filipina pada tahun 1955 di Pulau Miangas, dimana Miangas tetap berada
dalam wilayah Indonesia.
Kiranya, klaim politis yang berkembang saat ini Pemerintah Indonesia tidak perlu
khawatir akan kehilangan pulau miangas. Setelah pernyataan klaim politis atas Pulau
Miangas (2002), jawaban resmi pemerintah Filipina lewat Menteri Luar Negeri Blas
F. Ople menyatakan bahwa Miangas yang dalam Peta Filipina disebut Las Palmas,
adalah sah milik Indonesia. Bahkan dalam kesempatan kunjungan tiga hari Menlu
Blas F. Ople di Manado (1-3 Mei 2003), menawarkan kerjasama di bidang
Keamanan dan Ekonomi mengingat intensitas dan aktifitas masyarakat kedua negara
sangat potensial dan sudah terjalin sejak lama.
Setelah adanya kasus ini, kehidupan masyarakat perbatasan di Kabupaten SangiheTalaud mendapat perhatian lebih dari pemerintah, antara lain dengan membuka
jaringan pelayaran perintis ke pulau-pulau terpencil. Betapapun keterpencilan
membuahkan penderitaan bagi masyarakat pulau-pulau perbatasan namun mereka
tetap merasa sebagai bagian dari bangsa Indonesia, setidaknya dalam pendidikan
mereka konsisten berkiblat ke Indonesia. Fenomena ini tentu positif bagi keutuhan
bangsa

dan

negara

RI.

Okupasi Indonesia di Pulau Miangas dengan pemberian Kartu Tanda Penduduk


(KTP), pembangunan jaringan Perusahaan Listrik Tenaga Disel 10 KVA, dan
pemasangan simbol-simbol negara.5
10

Contoh kasus lainnya yaitu sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan. Pulau ini merupakan
salah satu pulau terluar Indonesia sehingga rawan masalah perbatasan, terorisme
serta penyelundupan. Putusan Mahkamah Internasional /MI, International Court of
Justice (ICJ) tanggal 17-12-2002 yang telah mengakhiri rangkaian persidangan
sengketa kepemilikan P. Sipadan dan P. Ligitan antara Indonesia dan Malaysia.
Keputusan ICJ mengatakan kedua pulau tersebut resmi menjadi milik Malaysia.
Sebenarnya Pulau Sipadan dan Ligitan bukanlah milik Indonesia mapun Malaysia.
Namun kedua pulau tersebut milik Inggris. Ada beberapa fakta yang menujukkan
bahwa menurut teori okupasi pulau sipadan dan ligitan milik Inggris yaitu di kedua
pulau tersebut setelah ditelusuri pernah berlaku hukum Inggris yaitu Turtle
Preservation Ordinance 1917; perijinan kapal nelayan kawasan Sipadan Ligitan;
regulasi suaka burung tahun 1933 dan pembangunan mercusuar pada tahun 1962 dan
1963. Kemudian fakta selanjutnya Kedua pulau Sipadan dan Ligitan tertera di Peta
Malaysia sebagai bagian dari wilayah negara RI, padahal kedua pulau tersebut tidak
tertera pada peta yang menjadi lampiran Perpu No. 4/1960 yang menjadi pedoman
kerja Tim Teknis Indonesia. Hasil voting Mahkamah Internasional/ ICJ pada kasus
sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan, 16 hakim menyatakan milik Malaysia,
sementara hanya 1 hakim yang menyatakan milik Indonesia. Dari 17 hakim itu, 15
merupakan hakim tetap dari MI, sementara satu hakim merupakan pilihan Malaysia
dan satu lagi dipilih oleh Indonesia. Alasan hakim memenangan Malaysia,
berdasarkan pertimbangan effectivity (tanpa memutuskan pada pertanyaan dari
perairan teritorial dan batas-batas maritim), yaitu pemerintah kolonial Inggris
(penjajah Malaysia) telah melakukan tindakan administratif secara nyata berupa
penerbitan ordonansi perlindungan satwa burung, pungutan pajak terhadap
pengumpulan telur penyu sejak tahun 1930, dan operasi mercu suar sejak 1960-an.
Dalam mengkaji bukti-bukti hukum sebelum 1969 yang menunjukkan adanya
effective

occupation

atas

pulau-pulau

Sipadan-Ligitan,

Mahkamah

mempertimbangkan bukti-bukti yang diajukan kedua negara, yakni:

11

1. Berkaitan dengan pembuktian effectivities Indonesia, Mahkamah menyimpulkan


bahwa tidak ada bukti-bukti kuat yang dapat mewujudkan kedaulatan oleh
Belanda atau Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan. Begitu pula halnya, tidak ada
bukti-bukti dan dokumen otentik yang dapat menunjukkan adanya bentuk dan
wujud pelaksanaan kedaulatan Indonesia atas kedua pulau dimaksud hingga
tahun 1969. MI tidak dapat mengabaikan fakta bahwa UU No. 4/Prp/1960
tentang Perairan yang ditetapkan pada 18 Pebruari 1960 merupakan produk
hukum awal bagi penegasan konsep kewilayahan Wawasan Nusantara, juga
tidak memasukkan Sipadan-Ligitan ke dalam wilayah NKRI.
2. Berkaitan dengan pembuktian effectivities Malaysia, Mahkamah menyimpulkan
bahwa sejumlah dokumen yang diajukan menunjukkan adanya beragam
tindakan pengelolaan yang berkesinambungan dan damai yang dilakukan
pemerintah kolonial Inggris sejak 1917. Serangkaian upaya Inggris tersebut
terwujud dalam bentuk tindakan legislasi, quasi yudisial, dan administrasi atas
kedua pulau sengketa, seperti :
a.

Pengutipan pajak terhadap kegiatan penangkapan penyu dan pengumpulan telur


penyu sejak 1917.

b.

Penyelesaian sengketa dalam kegiatan pengumpulan telur penyu di P. Sipadan


pada tahun 1930-an;

c.

Penetapan P. Sipadan sebagai cagar burung, dan

d.

Pembangunan dan pemeliharaan mercusuar sejak tahun 1962 di P. Sipadan dan


pada tahun 1963 di P. Ligitan.6

12

BAB IV
PENUTUP

4.1. SIMPULAN

okupasi/pendudukan tidak cukup dengan penemuan suatu wilayah saja tapi


juga harus ada bukti nyata akan kesungguhan pengelolaan atas penguasaan
suatu wilayah

agar okupasi berjalan secara efektif, mensyaratkan dua unsur di pihak negara
yang melakukan okupasi:

1.

Suatu kehendak atau keinginan untuk bertindak sebagai yang berdaulat,

2.

Melaksanakan atau menunjukkan kedaulatan secara pantas.

Penyebab sengketa pendudukan/ okupasi sering tejadi akibat terbengkalainya


suatu wilayah Negara karena letaknya yang jauh dan terpencil sehingga sulit
untuk menjangkau wilayah tersebut.

4.2. SARAN

Apabila suatu negara hendak melakukan okupasi/pendudukan terhadap suatu


wilayah harus diketahui dan dapat dipastikan bahwa wilayah tersebut
memang tidak ada pemiliknya atau tidak dibawah penguasaan siapapun.

Apabila suatu negara telah melakukan pendudukan/okupasi hendaknya


wilayah tersebut di rawat dan dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu dari
SDA yang ada agar Negara negara lain (internasional) mengakui
kepemilikannya.

13