Anda di halaman 1dari 126

PENGARUH PENYULUHAN TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP

DAN TINDAKAN PETANI PAPRIKA DI DESA KUMBO - PASURUAN


TERKAIT PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD)
DARI BAHAYA PESTISIDA
TAHUN 2014
SKRIPSI

OLEH :
DEFRI AFRIANTO
NIM : 109101000080

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H / 2013 M

LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah
satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai

dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.


3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi
yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Maret 2014

_____________________
Defri Afrianto

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Skripsi, April 2014
Defri Afrianto, NIM 109101000080
PENGARUH PENYULUHAN TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP DAN
TINDAKAN PETANI PAPRIKA DI DESA KUMBO - PASURUAN TERKAIT
PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) DARI BAHAYA PESTISIDA
TAHUN 2014
xvi + 89 halaman, 14 tabel, 3 Bagan, 17 lampiran
ABSTRAK
Dalam konteks Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), budidaya paprika yang
menggunakan pestisida berpotensi membahayakan petani. Untuk mencegah bahaya
tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan Alat
Pelindung Diri (APD). Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa petani paprika
belum menggunakan APD yang memenuhi standar aman. Berdasarkan permasalahan
tersebut, peneliti memberi penyuluhan K3 kepada petani paprika dengan menggunakan
media elektronik yaitu projektor. Konten yang dipresentasikan terdiri dari slide dan video
pendek terkait K3, APD dan bahaya pestisida.
Jenis penelitian adalah eksperimen semu dengan menggunakan desain one
group pretest and posttest design. Tujuannya yaitu untuk mengetahui pengaruh
penyuluhan tersebut terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan petani paprika terkait
penggunaan APD. Penelitian dilakukan pada bulan januari 2014 di Desa Kumbo Pasuruan dengan jumlah sampel sebanyak 32 petani.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum penyuluhan, lebih dari 20 petani
(>65%) memiliki pengetahuan dan sikap yang kurang. Setelah penyuluhan, pengetahuan
dan sikap petani menjadi baik 100% . Dari uji statistik wilcoxon baik pada pengetahuan
maupun sikap diperoleh P-value sebesar 0,000. Artinya, pada alpha 5% terdapat
perbedaan yang signifikan pada skor median antara sebelum dan setelah penyuluhan.
Sedangkan pada aspek tindakan, terjadi peningkatan jumlah pengguna APD antara
sebelum dan sesudah penyuluhan.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa penyuluhan K3
yang dilakukan dapat memperbaiki pengetahuan, sikap dan tindakan petani paprika di
Desa Kumbo terkait penggunaan APD dari bahaya pestisida.
Kata Kunci

:Bahaya Pestisida, petani paprika, penyuluhan, pengetahuan, sikap,


tindakan.

Daftar Bacaan : 36 (1991-2013)

ii

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES


DEPARTEMENT OF PUBLIC HEALTH
OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY MAJOR
Thesis, April 2014
Defri Afrianto, NIM 109101000080
EFFECT OF COUNSELING INTERVENTIONS TO CHANGES PAPRIKA
FARMERS IN THEIR KNOWLEDGE, ATTITUDE AND BEHAVIOR RELATED
TO THE USE OF PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT (PPE) FROM
HAZARDS OF PESTICIDES IN 2014
xvi + 89 pages, 14 tables, 3 Chart, 17 attachments
ABSTRACT
In the context of Occupational Health and Safety (OHS), cultivation of paprika
that use pesticides is potentially harmful for farmers. To avoid that hazards, one attempts
to do is to use Personal Protective Equipment (PPE). The results of preliminary studies
indicated that paprika farmers have not been using PPE that meet safety standards. Based
on these problems, researchers gave OHS counselling to paprika farmers using electronic
media. Contents that was presented consisting of slides and short videos related to OHS,
PPE and hazards of pesticides.
This research type was quasi-experimental with using one-group pretest and
posttest design. The goal was to determine the effect of counseling on knowledge, attitudes
and behaviors paprika farmers related to the use of PPE. The study was conducted in
January 2014 in the village of Kumbo - Pasuruan with 32 farmers total sample.
The results showed that before the counselling, more than 20 farmers (> 65%)
have less knowledge and attitudes. After counseling, knowledge and attitudes of farmers
to be good 100%. Wilcoxon statistical test of both knowledge and attitudes acquired Pvalue 0.000. That is, the alpha 5% there have significant differences in median scores
between before and after counseling. While on aspects of the behavior, there was an
increasing number of PPE users between before and after counseling..
Based on the results, it can be concluded that the OHS counselling could improve
the knowledge, attitudes and behavior paprika farmers in the village of Kumbo related to
the the use of PPE from hazards of pesticides.
Keywords: Hazzards of pesticides, paprika farmers, counselling, knowledge, attitudes,
behavior.
References: 36 (1991-2013)

iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Judul Proposal Skripsi

PENGARUH PENYULUHAN TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP DAN


TINDAKAN PETANI PAPRIKA DI DESA KUMBO TERKAIT PENGGUNAAN
ALAT PELINDUNG DIRI (APD) DARI BAHAYA PESTISIDA
TAHUN 2013

Oleh :
DEFRI AFRIANTO
NIM. 109101000080

Telah disetujui, diperiksa dan dipertahankan di Hadapan Tim Penguji Proposal Skripsi
Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 5 Mei 2013

Mengetahui,
Pembimbing Skripsi I

Pembimbing Skripsi II

_______________________________

________________________________

Raihana Nadra Alkaff, SKM, MMA

Minsarnawati, SKM, M.Kes.

iv

PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Jakarta, 5 Mei 2014

Penguji I

___________________
Fase Badriah, Ph.D

Penguji II

___________________
Dewi Utami, Ph.D

Penguji III

___________________
Rulyenzi Rasyid, MKKK

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


DATA PRIBADI
Nama
TTL
Jenis Kelamin
Agama
Alamat Sekarang

:
:
:
:
:

Defri Afrianto
Pasuruan, 21 April 1990
Laki-Laki
Islam
Desa Tlogosari, RT/ RW : 01/01
Nongkojajar, Tutur - Pasuruan
: 08980-369-363
: defri.indonesia@gmail.com

No. HP
Email

PENDIDIKAN FORMAL
1995 - 1997
1997 - 2003
2003 - 2006
2006 - 2009
2009 - 2014

:
:
:
:
:

TK Tunas Budi Gendro, Tutur - Pasuruan


SDN I Tlogosari, Tutur Pasuruan
SLTP N 3 Lawang - Malang
MA. Darul Karomah Singosari Malang
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Jurusan Kesehatan Masyarakat

PENDIDIKAN NON FORMAL

Instalasi dan Pemrograman Komputer (Operating System, Software, etc.)


Desain Grafis & Photo Editing (Adobe Photoshop, M.O. Publisher, etc)
Video Shooting & Editing (Corel Video Studio, Movie Maker, dll)
Kesekretariatan (Office Program)
Public Speaking and Leadership
English For Basic Conversation

PENGALAMAN ORGANISASI/ KERJA


2009 - 2012

2009 - 2013

2010 - 2011

2010 - 2013

2013 - 2014

2013 - 2014

Departemen Media Sarana Informasi dan Jurnalistik


Ikatan Remaja Masjid Fathullah (IRMAFA)
CSS MoRA Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB)
Kementrian Agama
BEMJ Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Jakarta
Tamir Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Muhajirin
Pisangan, Ciputat - Tangerang Selatan
Sekretaris Pribadi (Sekpri) Drs. H. Abdul Hamid, MSQ
(Ketua Yayasan Ponpes Darul Hamid - Bima NTB)
Admin dan Marketting Wisma Annisa Ciputat

vi

Lembar Persembahan

~~~

Karya sederhana ini saya persembahkan untuk :

Ayahanda dan Ibunda tercinta

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Taala yang memberikan limpahan


rahmat dan nikmat-Nya dengan tak terbatas, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW
beserta keluarga dan pengikutnya, dan semoga kelak kita mendapat syafaat nya. Amin.
Pada kesempatan ini, penulis haturkan banyak terima kasih yang setulus-tulusnya
kepada :
1. Keluarga saya (Ibu, Bapak, Kakak, dan Adik), terima kasih atas bimbingan,
dukungan, bantuan, doa, motivasi, semangat, nasehat, serta segala curahan cinta
dan kasih yang telah diberikan.
2. Bapak Prof. Dr. (hc). dr. M.K. Tadjudin, Sp.And, selaku Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. Ibu Ir. Febriyanti, M.Si, selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Ibu Iting Shofwati, ST, MKKK. selaku penanggung jawab peminatan K3 sekaligus
dosen yang sudah seperti ibu saya sendiri. Terima kasih atas segalanya.
5. Ibu Raihana Nadra Alkaff, SKM, MMA dan Ibu Minsarnawati, SKM, M.Kes
selaku Dosen Pembimbing Skripsi. Terima kasih atas arahan dan bimbingannya
sebelum, selama dan sesudah penyusunan skripsi ini.
6. Ibu Fase Badriah, Ph.D, Ibu Dewi Utami, Ph.D dan Bapak Rulyenzi Rasyid,
MKKK selaku penguji skripsi. Terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu menjadi
penguji dan memberikan bimbingan, saran-saran san kemudahan dalam
menyelesaikan skripsi ini.
7. Seluruh Dosen dan Staf Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
8. Teman seperjuangan saya; Zil Ardi (Farmasi 2009), Afif Abdul Raziq (Tetangga
kos), Aries Firdaus (teman foks), Fadil, Dio, dll. Salam sukses dan damai selalu.
viii

9. Teman spesial saya. Terimakasih untuk semangat, kekuatan dan pengalaman yang
berharga. Terimakasih untuk semuanya.
10. Teman-teman K3 (Fadil, Piqih, Ubay, Rifqy, Dio, Novan, Reza, Mufil, Ipeh, VJ,
Amel, Diana, Nia, Deniz, Heni, Lina, Sandy, Desi, Sca, dan Ex.K3 Vina) dan
seluruh teman-teman angkatan 2009 Kesehatan Masyarakat, terimakasih banyak
ya! Mohon maaf atas segala ucapan dan tindakan yang kurang berkenan. Saya
akan sering kangen teman-teman semua.
11. Para Senior, Junior, teman-teman FKIK, dan teman-teman UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang telah membantu dengan caranya masing-masing.
12. Ustadz Badar selaku pengasuh Ponpes Manbaul Quran Singosari, Ustadz H. Ali
Fahrudin, MA. selaku Pengasuh Ponpes RUQI (Rumah Qurani Indonesia), Ustadz
Sofwan Hadi, dan semua ustadz dan guru yang telah mendidik dan mengajar saya
ilmu agama dan ilmu lainnya. Semoga saya dapat mengamalkan dan mengajarkan
ilmu yang telah diberikan. Amin allahumma amin.
13. Pengurus Masjid Al-Muhajirin dan sahabat-sahabat yang sering berkunjung;
Bapak Samiin (ketua Tamir Masjid), Asep Viking, Ahmad Furqon, Falah calon
guru besar, Damar cinta damai, dan seluruh jamaah masjid Al-Muhajirin. Semoga
kita senantiasa menjadi hamba Allah yang istiqomah dalam kebaikan. Amin.
14. Teman-teman santri Pondok Pesantren RUQI. Terimakasih atas kebersamaanya.
Semoga kita semua santri RUQI menjadi Hafidzul Quran yang dimuliakan Allah
azza wajalla. Aamiin..
15. Teman-teman CSS MoRA Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) dan
teman-teman Remaja Masjid Fathullah (IRMAFA) beserta jajaran pengurusnya.
Terimakasih atas segalanya. Semoga kita senantiasa menjalin silaturrahmi.
16. Seluruh pihak lainnya yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Penulis dengan penuh kesadaran menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.
Aamiin...
Jakarta, Mei 2014
Penulis
ix

DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN .................................................................................... i
ABSTRAK ..............................................................................................................ii
LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................. iv
PANITIA SIDANG ................................................................................................v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................................ vi
LEMBAR PERSEMBAHAN ...............................................................................vii
KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii
DAFTAR ISI .........................................................................................................x
DAFTAR TABEL ................................................................................................. xiv
DAFTAR GAMBAR ...........................................................................................xv
DAFTAR BAGAN ..................................................................................................xv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xvi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah .........................................................................................4
C. Pertanyaan Penelitian ....................................................................................5
D. Tujuan Penelitian ..........................................................................................5
E. Manfaat Penelitian ........................................................................................6
F. Ruang Lingkup Penelitian .............................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Keselamatan dan Kesehatan Kerja ................................................................8
1. Definisi ....................................................................................................8
2. Konsep Pengendalian Bahaya Akibat Kerja .........................................10

B. Alat Pelindung Diri (APD)...........................................................................12


1. Definisi APD .........................................................................................12
2. Standar Occupational Safety and Health Association (OSHA)

Mengenai APD .......................................................................................13

3. Peraturan Perundang-Undangan Terkait Dengan APD..........................14


4. Pemilihan APD.......................................................................................15
5. Bahaya-Bahaya yang Membutuhkan Penggunaan APD ........................15
6. Jenis-Jenis Alat Pelindung Diri (APD) ..................................................17
7. Pemeliharaan Alat PelindungDiri (APD) ..............................................18
8. Penyimpanan Alat Pelindung Diri (APD) .............................................18
9. Alat Pelindung Diri (APD) Untuk Pengguna Pestisida..........................19

C. Pestisida .......................................................................................................19
1. Pengertian Pestisida ..............................................................................19
2. Jenis Pestisida.........................................................................................20
3. Alat Penyemprot Pestisida .....................................................................24
4. Penyemprotan Pestisida .........................................................................25
5. Penyimpanan Pestisida ...........................................................................27
6. Dampak Pestisida ...................................................................................28
7. Toksikologi Pestisida .... ........................................................................33

D. Perilaku ........................................................................................................36
1. Definisi Perilaku.....................................................................................36
2. Ruang Lingkup Perilaku ........................................................................38

a. Pengetahuan .....................................................................................38
b. Sikap .................................................................................................40
c. Tindakan...........................................................................................42
3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi perilaku ..........................................44
4. Perubahan Perilaku.................................................................................45

E. Penyuluhan ...................................................................................................46
1. Definisi Penyuluhan ...............................................................................46
2. Metode Penyuluhan ................................................................................47
3. Media Penyuluhan ..................................................................................48
4. Faktor-faktor yang Mempengeruhi Penyuluhan ....................................49
5. Kerangka Toori ......................................................................................51

xi

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL


A. Kerangka Konsep .........................................................................................52
B. Definisi Operasional.....................................................................................53
C. Hipotesis .......................................................................................................54
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian..........................................................................................55
B. Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................................................57
C. Populasi dan Sampel ....................................................................................57
D. Media Penyuluhan ........................................................................................57
E. Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian ..............................................58
1. Pengumpulan Data .................................................................................58
2. Instrumen Penelitian...............................................................................58
3. Uji Validitas dan Reliabilitas .................................................................59
4. Pengolahan Data.....................................................................................61
5. Analisi Data ............................................................................................62

BAB V HASIL PENELITIAN


A. Lokasi Penelitian .........................................................................................63
B. Karakteristik Umum Petani Paprika di Desa Kumbo ...................................64
C. Analisis Univariat ........................................................................................68
1. Pengetahuan Petani ................................................................................68
2. Sikap Petani ............................................................................................69
3. Tindakan Petani ......................................................................................71

D. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Perubahan Pengetahuan dan Sikap Petani


Paprika terkait Alat Pelindung Diri (APD) dari Bahaya Pestisida ...............73
1. Uji Normalitas ........................................................................................73
2. Uji Wilcoxon ..........................................................................................74

xii

BAB VI PEMBAHASAN
A. Keterbatasan Penelitian ................................................................................75
B. Pengetahuan Petani Paprika .........................................................................75
C. Sikap Petani Paprika.....................................................................................78
D. Tindakan Petani Paprika...............................................................................81
E. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Petani
Paprika Terkait Alat Pelindung Diri (APD) dari Bahaya Pestisida .............85
BAB VII KESIMPULAN
A. Kesimpulan...................................................................................................88
B. Saran .............................................................................................................88
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xiii

DAFTAR TABEL
Nomor
Tabel

Halaman

3.1

Definisi Operasional

53

4.1

Tingkat Rebilitas Data

60

5.1

Distribusi Petani Paprika Pengguna Pestisida di Desa Kumbo


Berdasarkan Umur Tahun 2014

65

5.2

Distribusi Petani Paprika Pengguna Pestisida di Desa Kumbo


Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2014

66

5.3

Distribusi Petani Paprika Pengguna Pestisida di Desa Kumbo


Berdasarkan Lama Kerja Dalam Menggunakan Pestisida
Tahun 2014
Distribusi Petani Paprika Pengguna Pestisida di Desa Kumbo
Berdasarkan Frekuensi Penggunaan Tahun 2014

5.4

66
67

5.5

Distribusi Petani Paprika di Desa Kumbo Berdasarkan Durasi


Penggunaan Tahun 2014

67

5.6

Pengetahuan Petani Paprika di Desa Kumbo Sebelum dan


Setelah Penyuluhan Tahun 2014

68

5.7

Perubahan Pengetahuan Petani Paprika di Desa Kumbo antara


Sebelum dan Setelah Penyuluhan Tahun 2014

69

5.8

Sikap Petani Paprika di Desa Kumbo Sebelum dan Setelah


Penyuluhan Tahun 2014

70

5.9

Perubahan Sikap Petani Paprika di Desa Kumbo Setelah


Mendapat Penyuluhan Tahu 2014

71

5.10

Penggunaan APD Petani Paprika di Desa Kumbo Sebelum


dan Setelah Mendapat Penyuluhan Tahun 2014

71

5.11

Hasil Uji Normalitas Data Skor Pengetahuan dan Sikap Petani


Paprika Sebelum dan Setelah Penyuluhan Tahun 2014

73

5.12

Hasil Uji Wilcoxon Skor Pengetahuan dan Sikap Petani


Paprika Sebelum dan Setelah Penyuluhan Tahun 2014

74

xiv

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar
4.1

Halaman

Potret greenhouse (atap putih) di Desa Kumbo dari puncak gunung


31

Tunggangan
5.1

Observasi Tindakan Petani Paprika Sebelum Penyuluhan

33

5.2

Petani yang Mengalamai Penyakit Kulit Akibat Pestisida

34

5.3

Observasi Tindakan Petani Paprika Setelah Penyuluhan

34

DAFTAR BAGAN

No. Bagan

Halaman

3.1

Kerangka Konsep

53

4.1

Desain Penelitian

55

4.2

Garis Waktu (Time Line) Penelitian

57

xv

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1

Pedoman Wawancara Keterangan Umum Petani Paprika Pengguna


Pestisida di Desa Kumbo - Pasuruan

Lampiran 2

Kuisioner Pengetahuan dan Sikap Petani Paprika Terkait Penggunaan


Alat Pelindung Diri (APD) Dari Bahaya Pestisida

Lampiran 3

Kuisioner Pengetahuan dan Sikap Petani Paprika Terkait Penggunaan


Alat Pelindung Diri (APD) Dari Bahaya Pestisida (poin
A.Pengetahuan)

Lampiran 4

Kuisioner Pengetahuan dan Sikap Petani Paprika Terkait Penggunaan


Alat Pelindung Diri (APD) Dari Bahaya Pestisida (poin B. Sikap)

Lampiran 5

Kunci Jawaban Kuesioner dan Pedoman Observasi

Lampiran 6

Tabulasi Data Hasil Wawancara (bagian 1)

Lampiran 7

Tabulasi Data Hasil Wawancara (bagian 2)

Lampiran 8

Tabulasi Data Hasil Observasi (bagian 1)

Lampiran 9

Tabulasi Data Hasil Observasi (bagian 2)

Lampiran 10

Tabulasi Jawaban Kuesioner ( Pretest) Bagian 1

Lampiran 11

Tabulasi Jawaban Kuesioner ( Pretest) Bagian 2

Lampiran 12

Tabulasi Jawaban Kuesioner (Posttest) Bagian 1

Lampiran 13

Tabulasi Jawaban Kuesioner (Posttest) Bagian 2

Lampiran 14

Uji Validitas dan Realibilitas Instrumen bagian 1

Lampiran 15

Uji Validitas dan Realibilitas Instrumen bagian 1

Lampiran 16

UJI Normalista

Lampiran 17

Uji Wilcoxon

xvi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang
digunakan untuk mengendalikan berbagai Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Hingga saat ini, sebagian besar petani di Indonesia menganggap bahwa pestisida
merupakan input yang paling efektif dalam mengendalikan OPT. Hal ini telah
mendorong penggunaan pestisida secara berlebihan (Adiyoga dan Soetiarso, 1999).
Pada saat berhadapan dengan pestisida, perhatian petani dan praktisi pertanian pada
umumnya tertuju pada masalah pengendalian OPT yang menyerang tanaman,
sehingga keselamatan kerja dan pencemaran lingkungan tidak mendapat perhatian.
Pemakaian pestisida menjadi rutinitas yang seolah-olah tidak mendatangkan bahaya
(Novizan, 2003).
Penggunaan pestisida yang semakin meningkat tentunya diikuti dengan
meningkatnya pemajanan yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi tenaga kerja
pertanian, khususnya bagi pekerja di bagian penyemprotan hama (Suwarni, 1998).
Dampak negatif pestisida dapat terjadi secara akut maupun kronik akibat kontaminasi
melalui 3 jalur, yaitu kulit (epidermis), pernafasan (inhalation), dan saluran
pencernaan (ingestion). Pemaparan akut dapat mengakibatkan keracunan, iritasi pada
kulit/ mata, bahkan kematian. Sedangkan pemaparan kronik dapat menyebabkan
kanker, gangguan saraf, kerusakan organ dalam dan lain-lain (Kementrian Pertanian,
2011).
1

Dalam konteks Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), salah satu


pengendalian dampak negatif pestisida yang dapat dilakukan adalah dengan
menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Berdasarkan Pedoman Bimbingan
Penggunaan Pestisida (Kementrian Pertanian, 2011), jenis APD yang diperlukan
bagi pengguna pestisida adalah pakaian yang menutupi tubuh, penutup atau pelindung
kepala, pelindung mata, sepatu boot, masker, dan sarung tangan.
Menurut Novizan (2003), petani pada umumnya beranggapan bahwa
menggunakan APD saat menangani pestisida adalah hal yang tidak praktis dan
merepotkan. Bahkan, tidak jarang ditemukan petani yang mengaku bahwa mereka
sudah kebal dan terbiasa dengan bau pestisida yang menyengat. Hal ini dapat terjadi
karena minimnya pengetahuan petani terkait keselamatan kerja. Disamping itu,
kegiatan penyuluhan dan informasi pertanian yang sampai pada petani hanya
memberikan pengetahuan tentang cara pemakaian dan manfaat pestisida untuk
meningkatkat hasil panen.
Desa Kumbo adalah daerah dengan mayoritas penduduknya sebagai petani.
Tanaman yang menjadi komoditi utama adalah sayur paprika. Dalam mengendalikan
hama, petani paprika tidak lepas dari penggunaan pestisida. Frekuensi penyemprotan
pestisida pada tanaman paprika tergolong tinggi yaitu dua hingga tiga kali dalam
seminggu. Penelitian oleh Environmental Working Group (2012) yang berpusat di
Washington DC menempatkan paprika pada peringkat ketiga dari 10 sayuran dan
buah yang mengandung kadar pestisida tinggi. Berdasarkan studi pendahuluan yang
dilakukan pada bulan September 2013 dengan cara observasi langsung, didapatkan

hasil bahwa seluruh petani paprika di Desa Kumbo belum menggunakan APD yang
memenuhi standar aman. Petani hanya memakai pakaian biasa, masker dari kain, alas
kaki berupa sandal, dan penutup kepala berupa topi atau kaos. Mayoritas petani
berpendapat bahwa prosedur kerja dengan APD tersebut sudah cukup aman karena
tidak ada keluhan serius setelah aplikasi pestisida. Namun demikian, ditemukan
beberapa petani yang mengalami iritasi kulit pada bagian tangan. Salah satu
diantaranya memerlukan penanganan khusus dan harus libur bekerja.
Sejalan dengan permasalahan di atas, salah satu upaya promosi kesehatan
yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan penyuluhan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) tentang Alat Pelindung Diri (APD). Menurut Sumardjo (1999),
penyuluhan merupakan suatu intervensi komunikasi yang diselenggarakan untuk
menimbulkan perubahan kualitas perilaku secara sukarela (voluntare change) bagi
kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya, dalam aspek perilaku, Benyamin Bloom
(1908) yang dikutip Notoatmodjo (2007), membagi perilaku manusia menjadi tiga
domain, yaitu kognitif

(cognitive), afektif

(affective)

dan psikomotor

(psychomotor). Dalam perkembangannya, tiga domain dalam teori ini dimodifikasi


untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan.
Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti bermaksud mengadakan penyuluhan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tentang APD serta menganalisis pengaruh
penyuluhan tersebut terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan petani paprika di Desa
Kumbo terkait penggunaan APD dari bahaya pestisida.

B. Rumusan Masalah
Dalam konteks Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), budidaya paprika
yang menggunakan pestisida berpotensi membahayakan keselamatan dan kesehatan
petani. Untuk mencegah bahaya tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan
adalah dengan menggunakan APD. Menurut Pedoman Bimbingan Penggunaan
Pestisida (Kementrian Pertanian, 2011), jenis APD yang diperlukan bagi pengguna
pestisida adalah pakaian yang menutupi tubuh, celemak, penutup atau pelindung
kepala, pelindung mata, sepatu boot, masker, dan sarung tangan.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan September 2013 dengan
cara observasi langsung, menunjukkan bahwa petani paprika belum menggunakan
APD yang memenuhi standar aman. Petani hanya memakai pakaian biasa, masker dari
kain, alas kaki berupa sandal, dan penutup kepala berupa topi atau kaos. Selain itu,
ditemukan petani yang mengalami iritasi kulit pada bagian tangan yang menyebabkan
petani tersebut tidak dapat lagi bekerja dengan pestisida. Jika ditinjau dari teori S-OR

atau

Stimulus-Organisme-Respon,

maka

didapatkan

tiga

faktor

yang

mempengaruhi pemakaian APD tersebut, yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan.


Berdasarkan permasalahan di atas, dalam penelitian ini dilakukan intervensi
berupa penyuluhan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tentang Alat Pelindung
Diri (APD). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penyuluhan
tersebut terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan petani paprika di Desa Kumbo
terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dari bahaya pestisida.

C. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai
berkut :
1. Bagaimana gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan petani paprika di Desa
Kumbo terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dari bahaya pestisida
sebelum penyuluhan?
2. Bagaimana gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan petani paprika di Desa
Kumbo terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dari bahaya pestisida
setelah penyuluhan?
3. Bagaimana pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan
petani paprika di Desa Kumbo terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
dari bahaya pestisida?
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan, sikap dan
tindakan petani paprika di Desa Kumbo terkait penggunaan APD pada saat
aplikasi pestisida, tahun 2014.
2. Tujuan Khusus
a.

Dapat mengidentifikasi gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan petani


paprika di Desa Kumbo terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
sebelum penyuluhan.

b.

Dapat mengidentifikasi gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan petani


paprika di Desa Kumbo terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
sesudah penyuluhan.

c.

Dapat mengidentifikasi pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan, sikap


dan tindakan petani paprika di Desa Kumbo terkait penggunaan APD pada
saat aplikasi pestisida, tahun 2014.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat
Sebagai bahan literatur di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
tentang pengaruh penyuluhan terhadap penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).
2. Bagi Peneliti
Melatih pola berpikir sistematis dalam menghadapi permasalahan di
bidang kesehatan khususnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta sebagai
aplikasi nyata dari keilmuan yang diperoleh selama di bangku kuliah.
3. Bagi Pemerintah dan Petani Paprika di Desa Kumbo
Bagi pemerintah, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai
bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan terkait penggunaan pestisida.
Bagi petani paprika di Desa Kumbo diharapakan dapat digunakan sebagai bahan
evaluasi dalam kegiatan pertanian khususnya dalam menangani pestisida.

F. Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini dilakukan pada petani paprika di Desa Kumbo Kecamatan Tutur
Kabupaten Pasuruan. Waktu penelitian dimulai pada bulan January 2014 sampai bulan
Februari 2014. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi
Experiment) dengan memberikan intervensi berupa penyuluhan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) tentang penggunaan alat Pelindung Diri (APD). Tujuan
penelitian ini yaitu untuk

mengetahui pengaruh penyuluhan tersebut terhadap

pengetahuan, sikap dan tindakan petani paprika terkait penggunaan APD dari bahaya
pestisida. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari hasil
wawancara, kuesioner dan observasi terkait pengetahuan, sikap dan perilaku.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Keselamatan dan Kesehatan Kerja


1. Definisi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah ilmu pengetahuan dan
penerapan untuk mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. K3
merupakan upaya perlindungan yang ditujukan agar tenaga kerja dan orang lain
ditempat kerja atau perusahaan selalu dalam keadaan selamat dan sehat, serta agar
setiap produksi digunakan secara aman dan efisien (Ramli, 2010). Pada
hakekatnya, K3 merupakan suatu pengetahuan yang berkaitan dengan dua
kegiatan. Kegiatan pertama berkaitan dengan upaya keselamatan terhadap
keberadaan tenaga kerja yang sedang bekerja. Kegiatan kedua berkaitan dengan
kondisi kesehatan sebagai akibat adanya penyakit akibat kerja (Suardi, 2005).
Santoso (2002) menjelaskan bahwa keselamatan kerja bersifat teknik dan
sasarannya adalah lingkungan kerja. Keselamatan kerja berhubungan dengan
mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja
dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaaan. Keselamatan kerja juga
menyangkut seluruh proses produksi dan distribusi barang maupun jasa. Adapun
tujuan dari keselamatan kerja adalah melindungi tenaga kerja atas hak
keselamatannya dalam melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraan hidup,
menjamin keselamatan setiap orang lain di tempat kerja, dan meningkatkan

produksi. Adapun Kesehatan kerja didefinisikan sebagai ilmu kesehatan dan


penerapan yang bertujuan untuk mewujudkan tenaga kerja sehat, produktif dalam
bekerja, berada dalam keseimbangan antara kapasitas kerja, beban kerja dan
keadaan lingkungan kerja, serta terlindung dari penyakit yang disebabkan oleh
pekerjaan dan lingkungan kerja. Kesehatan kerja memiliki sifat medis dan
sasarannya adalah tenaga kerja (Sumakmur, 2009).
Tujuan

dari

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

(K3)

menurut

Mangkunegara (2002) adalah sebagai berikut:


a. Agar setiap pegawai/tenaga kerja mendapat jaminan keselamatan dan
kesehatan kerja baik secara fisik, sosial, dan psikologis.
b. Agar setiap peralatan kerja digunakan secara baik dan selektif.
c. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
d. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi
pegawai/tenaga kerja.
e. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
f. Agar tehindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau
kondisi kerja.
g. Agar setiap pegawai/tenaga kerja merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.

10

2. Konsep Pengendalian Bahaya Akibat Kerja


Pengendalian bahaya yang menjadi objek dalam Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) mencangkup semua bahaya yang dapat mengganggu
keselamatan dan kesehatan pekerja. Menurut Ramli (2010), pengendalian bahaya
tersebut dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan sebagai berikut :
a. Pendekatan Energi
Kecelakaan bermula karena adanya sumber energi yang mengalir
mencapai penerima. Pendekatan energi untuk mengendalikan kecelakaan
dilakukan melalui 3 titik, yaitu :
1. Pengendalian pada sumber bahaya
Bahaya sebagai sumber terjadinya kecelakaan dapat dikendalikan langsung
pada sumbernya dengan melakukan pengendalian secara teknis atau
administratif.
2. Pendekatan pada jalan energi
Pendekatan ini dapat dilakukan dengan melakukan penetrasi pada jalan
energi sehingga intesitas energi yang mengalir ke penerima dapat
dikurangi.
3. Pengendalian pada penerima
Pendekatan ini dilakukan melalui pengendalian terhadap penerima.Salah
satu upaya yaitu dengan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).
Pendekatan ini dapat dilakukan jika pengendalian pada sumber atau
jalannya energi tidak dapat dilakukan dengan efektif.

11

b. Pendekatan Manusia
Pendekatan secara manusia didasarkan hasil statistik yang menyatakan
bahwa 85 % kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia dengan tindakan yang
tidak aman. Untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian mengenai K3
dilakukan berbagai pendekatan dan program K3 antara lain:
1. Pembinaan dan Pelatihan
2. Promosi K3 dan kampanye K3
3. Pembinaan Perilaku Aman
4. Pengawasan dan Inspeksi K3
5. Audit K3
6. Komunikasi K3
7. Pengembangan prosedur kerja aman
c. Pendekatan Teknis
Pendekatan teknis menyangkut kondisi fisik, peralatan, material,
proses maupun lingkungan kerja yang tidak aman. Untuk mencegah
kecelakaan yang bersifat teknis dilakukan upaya keselamatan antara lain :
1. Rancang bangun yang aman yang disesuaikan dengan persyaratan teknis
dan standar yang berlaku untuk menjamin kelaikan instalasi atau peralatan
kerja.
2. Sistem pengaman pada peralatan atau instalasi untuk mencegah kecelakaan
dalam pengoperasian alat atau instalasi.

12

d. Pendekatan Administratif
Pendekatan secara administratif dapat dilakukan dengan berbagai cara
antara lain:
1. Pengaturan waktu dan jam kerja sehingga tingkat kelelahan dan paparan
bahaya dapat dikurangi.
2. Penyediaan alat keselamatan kerja.
3. Mengembangkan dan menetapkan prosedur dan peraturan tentang K3.
4. Mengatur pola kerja, sistem produksi dan proses kerja.
e. Pendekatan Manajemen
Banyak kecelakaan yang disebabkan faktor manajemen yang tidak
kondusif sehingga mendorong terjadinya kecelakaan. Upaya pencegahan yang
dapat dilakukan antara lain :
1. Menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3).
2. Mengembangkan organisasi K3 yang efektif.
3. Mengembangkan komitmen dan kepemimpinan dalam K3, khususnya
untuk manajemen tingkat atas.
B. Alat Pelindung Diri (APD)
1. Definisi APD
Menurut OSHA atau Occupational Safety and Health Association,
personal protective equipment atau Alat Pelindung Diri (APD) didefinisikan
sebagai alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari luka atau penyakit

13

yang diakibatkan oleh adanya kontak dengan bahaya di tempat kerja, baik yang
bersifat kimia, biologis, radiasi, fisik, elektrik, mekanik dan lainnya.
APD dipakai jika telah dilakukan usaha yang maksimum terhadap rekayasa
(engineering) dan cara kerja yang aman (work practice). Namun pemakaian APD
bukanlah pengganti dari kedua usaha tersebut tetapi sebagai usaha terakhir dalam
upaya melindungi tenaga kerja (Milos Nedved & Soemanto Imamkhasani, 1991)
2. Standar Occupational Safety and Health Association (OSHA) Mengenai APD
Untuk meningkatkan perlindungan diri dari bahaya-bahaya yang ada di
tempat kerja maka OSHA (Occupational Safety and Health Association) membuat
peraturan APD sebagai berikut :
a. Memeriksa sekeliling tempat kerja untuk menentukan apakah ada bahayabahaya yang dapat terjadi sewaktu kerja.
b. Memilih dan mempersiapkan APD yang benar-benar cocok untuk masingmasing pekerja (sesuai dengan lingkup pekerjaanya).
c. Melatih bagaimana cara menggunakan atau memakai APD secara benar
untuk mencegah dari bahaya-bahaya yang dapat mengancam bagian tubuh
seperti kepala, muka, mata, telinga, sistem pernafasan, tangan, kaki dan
lain-lain.
Masing-masing APD dirancang atau dibuat untuk mencegah bahayabahaya yang mengancam di tempat kerja. Untuk meyakinkan bahwa pekerja telah
memakai APD yang sesuai dan tepat, maka OSHA merekomendasikan agar
mengadakan pemeriksaan atau peninjauan ke tempat kerja terlebih dahulu dan

14

kemudian mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan adanya bahaya-bahaya


yang timbul dan dapat mengancam pekerja pada waktu mereka sedang melakukan
pekerjaannya.
3. Peraturan Perundang-Undangan Terkait Dengan APD
Peraturan Pemerintah atau perundang-undangan yang terkait dengan
penggunaan APD antara lain :
a. Undang-Undang No. 1 tahun 1970 Bab V pasal 9 ayat (1) butir c tentang
kewajiban pengurus menjelaskan alat-alat pelindung diri bagi tenaga kerja
yang bersangkutan.
b. UU No.1 Tahun 1970 BAB X : Pengurus diwajibkan menyediakan secara
cuma-cuma alat pelindung diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang
berada dibawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang
memasuki tempat kerja tersebut, disertai petunjuk-petunjuk yang
diperlukan menurut petunjuk pegawai pengawasan atau ahli-ahli tenaga
kerja.
c. UU No.1 Tahun 1970 BAB IX pasal 13
d. Instruksi Menteri Tenaga Kerja No.1ns.02/M/BW/BK/1984 tentang
pengesahan APD
e. Surat Edaran Dirjen Biawas No.SE/06/BW/1997 tentang Pendaftaran Alat
Pelindung Diri.

15

4. Pemilihan APD
Kebutuhan APD didasarkan pada bahaya dan resiko yang ada di tempat
kerja yang menyangkut tipe bahaya dan resiko, efek atau dampak yang
ditimbulkan, kecelakaan yang sering terjadi dan lain-lain. Menurut Sumamur
(1986), dalam pemilihan APD harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Nyaman dipakai pada kondisi pekerjaan yang sesuai dengan Desain alat
tersebut.
b. Tidak mengganggu kerja dalam arti APD tersebut harus sesuai dengan
besar tubuh pemakainya dan tidak menyulitkan gerak pengguna.
c. Memberikan perlindungan yang efektif terhadap bahaya yang khusus
sebagaimana APD tersebut didesain.
d. Alat-alat pelindung diri harus tahan lama.
e. Alat-alat pelindung diri tersebut mudah dibersihkan dan dirawat oleh
pekerja.
f. Harus ada Desain, konstruksi, pengujian dan penggunaan APD sesuai
dengan standar.
5. Bahaya-Bahaya yang Membutuhkan Penggunaan APD
Beberapa kemungkinan bahaya yang dapat ditemui di lingkungan
pekerjaan seperti berikut ini :
a. Bahaya Kimia
Jika bekerja dengan bahan kimia yang berbahaya, maka pekerja
harus memakai APD untuk mencegah terhirupnya atau terpercik bahan

16

kimia tersebut ke bagian tubuh pada saat penggunaan bahan kimia tersebut
atau secara tidak sengaja dapat menyebabkan kerusakan pada kulit.
b. Partikel-Partikel
Banyak pekerjaan yang dapat menyebabkan timbulnya debu atau
kotoran yang dapat membahayakan mata, selain itu jika debu atau kotoran
tersebut terhirup maka akan membahayakan paru-paru dan system
pernafasan.
c. Panas dan Temperatur Tinggi
Tanpa APD yang benar-benar sesuai dan tepat pemakaiannya maka
dalam pelaksanaan proses atau pekerjaan yang menimbulkan panas dapat
mencederai atau membakar kulit dan melukai mata.
d. Radiasi Cahaya
Bahaya radiasi seperti dapur api, intensitas cahaya yang tinggi dari
api pengelasan, pemotongan yang menggunakan panas tinggi dan
pekerjaan yang menimbulkan radisai cahaya yang dapat merusak mata atau
menggunakan radio aktif yang bisa menyebabkan cidera bagi pekerja.
e. Pemindahan bagian dari suatu peralatan
Mesin-mesin yang mempunyai pelindung (guards) untuk mencegah
hubungan langsung antara pekerja dengan alat-alat atau mesin-mesin yang
berputar. Kadang-kadang bila pekerja lupa memindahkan ataupun
memperbaiki mesin, lupa untuk memasanganya kembali.

17

f. Kejatuhan suatu barang


Jika barang-barang ditempatkan pada ketinggian secara tidak benar
atau membawa alat-alat dan kurang hati-hati pada pada saat naik, maka
barang tersebut bisa lepas dan jatuh yang menyebabkan bahaya bagi orang
yang ada dibawahnya dan bisa mencederai bagian tubuh atau bagian kepala
dan kaki.
g. Barang-barang tajam/runcing
Perkakas

atau

barang-barang

yang

tajam/runcing

dapat

membahayakan tangan, kaki dan bagian tubuh lainnya bila tidak memakai
alat pelindung diri.
h. Keadaan atau kondisi tempat kerja
Bahaya juga dapat diakibatkan oleh keadaan tempat kerja atau cara
pekerja berdiri dan bergerak ketika mereka sedang melakukan aktifitas
pekerjaannya.
i. Jatuh dari ketinggian
Pekerja harus dilindungi dari bahaya jatuh pada saat bekerja di
tempat ketinggian, pekerja diharuskan memakai APD.
6. Jenis-Jenis Alat Pelindung Diri (APD)
Macam-macam alat pelindung diri berdasarkan Surat Edaran Direktorat
Jendral Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan No.
SE.06/BW/1997antara lain :
a. Alat pelindung kepala

18

b. Alat pelindung wajah/mata


c. Alat pelindung telinga
d. Alat pelindung pernafasan
e. Alat pelindung tangan
f. Alat pelindung kaki
g. Pakaian panjang
7. Pemeliharaan Alat Pelindung Diri (APD)
Menurut Budiono, dkk (2003) secara umum pemeliharaan APD dapat
dilakukan antara lain dengan:
1. Mencuci dengan air sabun, kemudian dibilas dengan air secukupnya.
Terutama untuk helm, kacamat, earplug, dan sarung tangan kain/kulit/karet.
2. Menjemur dipanas matahari untuk menghilangkan bau, terutama pada helm.
3. Mengganti filter atau catridge-nya untuk respirator.
8. Penyimpanan Alat Pelindung Diri (APD)
Menurut Budiono, dkk (2003) untuk menjaga daya guna dari APD,
hendaknya disimpan ditempat khusus sehingga terbebas dari debu, kotoran, gas
beracun, dan gigitan serangga/binatang. Hendaknya tempat tersebut kering dan
mudah dalam pengambilannya.

19

9. Alat Pelindung Diri (APD) Untuk Pengguna Pestisida


Berdasarkan Pedoman Bimbingan Penggunaan Pestisida (Kementrian
Pertanian, 2011) APD yang diperlukan dalam penggunaan pestisida baik saat
pencampuran (formulasi) maupun saat penyemprotan yaitu :
1. Pakaian panjang
2. Celemak (Appron).
3. pelindung kepala.
4. Pelindung mata, misalnya kacamata, goggle, face shield.
5. Sarung tangan
6. Sepatu boot.
7. Pelindung pernafasan (masker/ respirator).
C. Pestisida
1. Pengertian Pestisida
Menurut Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1973 tentang pengawasan atas
peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida, pestisida adalah semua zat
kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :
a. Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit-penyakit yang
merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian
b. Memberantas rerumputan
c. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan
d. Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian
tanaman tidak termasuk pupuk

20

e. Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan piaraan


atau ternak
f. Memberantas atau mencegah hama-hama air
g. Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik
dalam rumah tangga, bangunan dan dalam alat-alat pengangkutan.
h. Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan
penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan
penggunaan pada tanaman, tanah atau air.
2. Jenis Pestisida
Ditinjau dari jenis jasad yang menjadi sasaran penggunaan pestisida dapat
dibedakan menjadi beberapa jenis antara lain (kementrian pertanian, 2011) :
a. Akarisida, berasal dari kata akari (bahasa Yunani) yang artinya tungau
atau kutu. Akarisida sering juga disebut Mitesida. Fungsinya untuk
membunuh tungau atau kutu.
b. Algasida, berasal dari kata alga (bahasa Latin) yang artinya ganggang
laut, berfungsi untuk membunuh alge.
c. Alvisida, berasal dari kata alvis (bahasa Latin) yang berarti burung,
fungsinya sebagai pembunuh atau penolak burung.
d. Bakterisida, Berasal dari bahasa Latin bacterium, atau bahasa Yunani
bakron, berfungsi untuk membunuh bakteri.
e. Fungsida, berasal dari bahasa Latin fungus, atau bahasa Yunani spongos
yang artinya jamur, berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan.

21

Dapat bersifat fungitoksik

(membunuh cendawan) atau

fungistatik

(menekan pertumbuhan cendawan).


f. Herbisida,

berasal bahasa Latin herba, artinya tanaman setahun,

berfungsi untuk membunuh gulma.


g. Insektisida, berasal dari bahasa Latin insectum, artinya potongan keratan
segmen tubuh, berfungsi untuk membunuh serangga.
h. Molluskisida, berasal dari bahasa Yunani molluscus, artinya berselubung
tipis atau lembek, berfungsi untuk membunuh siput.
i. Nematisida, berasal dari bahasa Latin nematoda, atau bahasa Yunani
nema yang berarti benang, berfungsi untuk membunuh nematoda.
j. Ovisida, berasal dari bahasa Latin ovum berarti telur, berfungsi untuk
merusak telur.
k. Pedukulisida,

berasal dari bahasa Latin pedis,

berarti kutu, tuma,

berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.


l. Piscisida, berasal dari bahasa Yunani piscis yang berarti ikan, berfungsi
untuk membunuh ikan.
m. Rodentisida, berasal dari bahasa Yunani rodene yang berarti pengerat
berfungsi untuk membunuh binatang pengerat.
n. Termisida, berasal dari bahasa Yunani termes yang artinya serangga
pelubang kayu. Berfungsi untuk membunuh rayap.
Menurut Kementrian Kesehatan RI Dirjen P2M dan PL 2000, berdasarkan
struktur kimianya pestisida dapat digolongkan menjadi :

22

a. Organochlorin
Golongan ini pada umumnya merupakan racun yang universal,
degradasinya berlangsung sangat lambat dan larut dalam lemak. Contoh
golongan organochlorin adalah DDT, Dieldrin, Endrin dan lain-lain.
b. Organophosfat
Golongan ini mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : Merupakan racun
yang tidak selektif degradasinya berlangsung lebih cepat atau kurang
persisten di lingkungan; menimbulkan resisten pada berbagai serangga dan
memusnahkan populasi predator dan serangga parasit, lebih toksik terhadap
manusia dari pada organokhlor. Contoh golongan ini adalah Diazonin dan
Basudin.
c. Carbamat
Golongan ini mempunyai sifat sebagai berikut : mirip dengan sifat pestisida
organophosfat, tidak terakumulasi dalam sistem kehidupan, degradasi tetap
cepat diturunkan dan dieliminasi namun pestisida ini aman untuk hewan,
tetapi toksik yang kuat untuk tawon. Contoh golongan carbamat yaitu
Baygon, Bayrusil, dan lain-lain.
d. Senyawa dinitrofenol
Contoh golongan ini adalah Morocidho 40EC. Salah satu pernafasan dalam
sel hidup melalui proses pengubahan Adenesone-5-diphosphate (ADP)
dengan bantuan energi sesuai dengan kebutuhan dan diperoleh dari
rangkaian pengaliran elektronik potensial tinggi ke yang lebih rendah
sampai dengan reaksi proton dengan oksigen dalam sel. Berperan memacu

23

proses pernafasan sehingga energi berlebihan dari yang diperlukan


akibatnya menimbulkan proses kerusakan jaringan.
e. Pyretroid
Golongan ini merupakan salah satu insektisida tertua di dunia. golongan ini
terdiri dari campuran beberapa ester yang disebut pyretrin dan diekstraksi
dari bunga Chrysanthemum. Jenis pyretroid yang relatif stabil terhadap
sinar matahari adalah : deltametrin, permetrin, fenvalerate. Sedangkan jenis
pyretroid yang stabil terhadap sinar matahari dan sangat beracun bagi
serangga adalah : difetrin, sipermetrin, fluvalinate, siflutrin, fenpropatrin,
tralometrin, sihalometrin, flusitrinate.
f. Fumigant
Golongan ini merupakan senyawa atau campuran yang menghasilkan gas
atau uap atau asap untuk membunuh serangga , cacing, bakteri, dan tikus.
Biasanya fumigant merupakan cairan atau zat padat yang mudah menguap
atau menghasilkan gas yang mengandung halogen yang radikal (Cl, Br, F),
misalnya

chlorofikrin,

ethylendibromide,

naftalene,

metylbromide,

formaldehid, fostin.
g. Petroleum
Golongan ini merupakan minyak bumi yang dipakai sebagai insektisida dan
miksida.

24

h. Antibiotik
Contoh golongan antibiotik adalah senyawa kimia seperti penicillin yang
dihasilkan dari mikroorganisme. Golongan ini mempunyai efek sebagai
bakterisida dan fungisida.
3. Alat Penyemprot Pestisida
Semua alat yang digunakan untuk mengaplikasikan pestisida dengan cara
penyemprotan disebut alat semprot atau sprayer. Apapun bentuk dan mekanisme
kerjanya, sprayer berfungsi untuk mengubah atau memecah larutan semprot, yang
dilakukan oleh nozzle, menjadi bagian-bagian atau butiran-butiran yang sangat
halus (droplet). Menurut sumber tenaga yang digunakan untuk menggerakkan atau
menjalankan sprayer tersebut, sprayer dibagi menjadi 2 kelompok (Djojosumarto,
2004) yaitu :
1. Sprayer manual
Sprayer manual adalah sprayer yang digerakkan dengan tangan. Contoh
sprayer manual adalah:
a. Trigger pump, yakni pompa tangan (hand pump) yang banyak
digunakan untuk pengendalian hama di rumah tangga.
b. Bucket pump atau trombone pump dan garden hose sprayer, untuk
mengendalikan hama dan penyakit di pekarangan.
c. Sprayer gendong otomatis (pre pressurized knapsack sprayer,
compression sprayer), yang banyak digunakan di bidang pertanian

25

d. Sprayer gendong yang harus dipompa terus-menerus (Level operated


knapsack sprayer), banyak digunakan di bidang pertanian Indonesia.
2. Sprayer tenaga mesin
Sprayer tenaga mesin adalah sprayer yang digerakkan oleh tenaga mesin.
Contoh sprayer tenaga mesin adalah :
a. Sprayer punggung bermesin (motorized knapsack sprayer)
b. Mesin pengkabut (mist blower)
c. Power sprayer atau gun sprayer, yang digerakkan oleh motor stasioner
atau traktor.
d. Sprayer-sprayer yang digerakkan atau dihubungkan dengan traktor
atau truk: boom sprayer, boomless sprayer, air blast sprayer.
e. Sprayer yang dipasang pada pesawat udara untuk penyemprotan udara.
4. Penyemprotan Pestisida
Menurut Wudianto (2005), dalam melakukan penyemprotan perlu
diperhatikan hal-hal berikut:
a. Pilih volume alat semprot sesuai dengan luas areal yang akan disemprot.
Alat semprot bervolume kecil untuk areal yang luas, tentu kurang cocok
karena pekerja harus sering mengisinya.
b. Gunakan alat pengaman, berupa masker penutup hidung dan mulut, kaos
tangan, sepatu boot, dan jaket atau baju berlengan panjang.

26

c. Penyemprotan yang tepat untuk golongan serangga sebaiknya saat stadium


larva dan nimfa, atau saat masih berupa telur. Serangga dalam stadium
pupa dan imago umumnya kurang peka terhadap racun insektisida.
d. Waktu paling baik untuk penyemprotan adalah pada saat waktu terjadi
aliran udara naik (thermik) yaitu antara pukul 08.00-11.00 WIB atau sore
hari pukul 15.00-18.00 WIB. Penyemprotan terlalu pagi atau terlalu sore
akan mengakibatkan pestisida yang menempel pada bagian tanaman akan
terlalu lama mengering dan mengakibatkan tanaman yang disemprot
keracunan. Sedangkan penyemprotan yang dilakukan saat matahari terik
akan menyebabkan pestisida mudah menguap dan mengurai oleh sinar
ultraviolet.
e. Penyemprotan di saat angin kencang sebaiknya tidak dilakukan karena
banyak pestisida yang tidak mengena sasaran. Selain itu, penyemprotan
tidak boleh melawan arah angin, karena pestisida bisa mengenai orang
yang menyemprot.
f. Penyemprotan yang dilakukan saat hujan turun akan membuang tenaga dan
biaya sia-sia.
g. Jangan makan dan minum atau merokok pada saat melakukan
penyemprotan.
h. Alat penyemprot segera dibersihkan setelah selesai digunakan. Air bekas
cucian sebaiknya dibuang ke lokasi yang jauh dari sumber air dan sungai.
i. Penyemprot segera mandi dengan bersih menggunakan sabun dan pakaian
yang digunakan segera dicuci.

27

5. Penyimpanan Pestisida
Penyimpanan pestisida dengan cara baik dapat dapat menjegah terjadinya
pencemaran pada lingkungan serta mencegah terjadinya keracunan pada manusia
ataupun hewan. Menurut Sostroutomo (1992) yang dikutip oleh Meliala (2005)
ada beberapa petunjuk penyimpanan pestisida yang perlu untuk diikuti,yaitu:
a. Pestisida hendaknya segera disimpan di tempat yang sesuai setelah dibeli,
jangan sekali-kali meletakkan pestisida yang mudah dijangkau oleh anakanak.
b. Sediakan tempat yang khusus untuk menyimpan pestisida. Gudang
penyimpanan harus mempunyai ventilasi udara yang cukup dan
mempunyai tanda larangan tidak didekati oleh orang-orang yang tidak
berkepentingan.
c. Pestisida yang disimpan perlu untuk memiliki buku yang memuat catatan
berapa banyak yang telah digunakan, kapan digunakannya, dan siapa yang
menggunakan dan berapa sisa yang ada.
d. Semua pestisida harus disimpan di tempat asalnya sewaktu dibeli dan
mempunyai label yang jelas. Pestisida jangan sekali-kali disimpan dalam
bekas penyimpanan makanan dan minuman.
e. Jangan menyimpan pestisida dan bibit tanaman dalam ruangan atau gudang
yang sama.
f. Perlu untuk melakukan pengecekan terhadap tempat penyimpanan untuk
mengetahui ada tidaknya kebocoran-kebocoran. Hindari penyimpanan

28

pestisida yang terlampau berlebihan di dalam gudang. Oleh karena itu


perkiraan kebutuhan untuk setiap jenis pestisida perlu untuk dibuat
permusim tanamannya.
g. Gudang penyimpanan harus senantiasa terkunci.
6. Dampak Pestisida
Walaupun penggunaan pestisida mempunyai nilai positif, namun pestisida
juga dapat memberikan dampak negatif bagi manusia dan lingkungan. Pada
manusia, pestisida dapat menimbulkan keracunan yang dapat mengancam jiwa
ataupun menimbulkan penyakit/cacat (Munaf, 1997).
World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah keracunan
pestisida akibat paparan akut (short-term exposure) mencapai 3.000.000 orang dan
sebanyak 220.00 diantaranya meninggal dunia. Sedangkan jumlah keracunan
pestisida akibat paparan jangka panjang (Long-term exposure) mencapai 735
orang dengan dampak yang spesifik (specificeffects) dan sebnayak 37.000 orang
dengan dampak yang tidak spesifik (unspecificeffects). Selanjutnya, hasil survey
oleh WHO pada periode 1998-1999 menunjukkan bahwa angka kejadian
(incidence rates) keracunan pestisida akut pada pekerja pertanian mencapai 18.2
tiap 100.000 pekerja. Angka kasus yang sebenarnya diperkirakan lebih besar
mengingat beberapa faktor seperti kurang efektifnya sistem surveilans, minimnya
pelatihan, sistem informasi yang kurang optimal, buruknya pemeliharaan atau
tidak adanya Alat Pelindung Diri (APD), serta perbedaan populasi petani pada
tiap-tiap negara (Thundiyil, 2008).

29

Menurut Quijano (1999), ada dua tipe keracunan yang ditimbulkan


pestisida, yaitu :
a. Keracunan Akut
Keracunan akut terjadi bila efek-efek keracunan pestisida dirasakan
langsung pada saat itu. Beberapa efek kesehatan akut adalah sakit kepala,
pusing, mual, sakit dada, muntah-muntah, kudis, sakit otot, keringat berlebih,
kram. Diare, sulit bernafas, pandangan kabur, bahkan dapat menyebabkan
kematian.Berdasarkan luas keracunan yang ditimbulkan keracunan akut dapat
dibagi 2 efek, yaitu:
1. Efek lokal
Efek lokal terjadi bila efek hanya mempengaruhi bagian tubuh yang
terkena kontak langsung dengan pestisida. Biasanya berupa iritasi, seperti
rasa kering, kemerahan dan gatal-gatal di mata, hidung, tenggorokan dan
kulit, mata berair, batuk, dan sebagainya.

2. Efek sistemik
Efek sistemikterjadi jika pestisida masuk ke dalam tubuh manusia dan
mempengaruhi seluruh sistem tubuh. Darah akan membawa pestisida ke
seluruh bagian dari tubuh dan memengaruhi mata, jantung, paru-paru,
perut, hati, lambung, otot, usus, otak, dan syaraf
b. Keracunan Kronis
Keracunan kronis terjadi bila efek-efek keracunan pada kesehatan
membutuhkan waktu untuk muncul atau berkembang. Efek-efek jangka

30

panjang ini dapat muncul setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun


setelah paparan pestisida. Dampak kronis pestisida antara lain yaitu kanker,
gangguan hati, perut, sistem syaraf, system kekebalan tubuh, dan
keseimbangan hormon. Selain itu, dampak pestisida juga dapat sampai pada
bayi melalui Air Susu Ibu (ASI). Hal ini terjadi jika sang ibu terpapar pestisida.
Gejala keracunan padasetiap jenis pestisida tergantung pada bahan aktif yang
dikandungnya. Berikut beberapa gejala yang ditimbulkan dari berbagai jenis
pestisida (Wudianto, 2005) :
1. Golongan organofosfat
Gejala keracunan yang ditimbulkan dapat berupa gerakan otot-otot
tertentu, penglihatan kabur, mata berair, mulut berbusa, banyak
berkeringat, air liur banyak keluar, mual, pusing, kejang-kejang,
muntah-muntah, detakj antung menjadi cepat, mencret, sesak nafas,
otot tidak bisa digerakkan dan akhirnya pingsan. Organofosfat
menghambat kerja enzim kholineterase, enzim ini secara normal
menghidrolisis asetycholin menjadi asetat dan kholin. Pada saat enzim
dihambat, mengakibatkan jumlah asetylkholin meningkat dan
berikatan dengan reseptor muskarinik dan nikotinik pada system syaraf
yang menyebabkan gejala keracunan dan berpengaruh pada seluruh
bagian tubuh.

31

2. Golongan organoklor
Jenis pestisida ini dapat menimbulkan keracunan dengan gejala sakit
kepala, pusing, mual, muntah-muntah, mencret, badan lemah, gugup,
gemetar, kejang-kejang, dan kehilangan kesadaran.
3. Golongan karbamat
Gejala keracunan yang ditimbulkan oleh pestisida jenis ini sama
dengan gejala yang di timbulkan golongan organofosfat, hanya saja
berlangsung lebih singkat karena lebih cepat terurai dalam tubuh.
4. Golongan bipiridilium
Jenis pestisida ini dapat menimbulkan gejala seperti sakit perut, mual,
muntah-muntah, dan diare. Gejala tersebut timbul 1-3 jam setelah
pestisida masuk dalam tubuh.
5. Gologan arsen
Gejala keracunanakut berupa rasa nyeri pada perut, muntah, dan diare,
sementara keracunan semi akut ditandai dengan sakit kepala dan
banyak keluar air ludah.
6. Golongan antikoagulan
Gejala yang ditimbulkan dapat berupa nyeri punggung, lambung, usus,
muntah-muntah, perdarahan hidung dan gusi, kulit berbintik-bintik
merah, dan kerusakan ginjal.

32

Menurut WHO 1986 yang dikutip Afriyanto (2008), ada beberapa


faktor yang dapat mempengaruhi keracunan pestisida antara lain :
1. Dosis
Dosis pestisida berpengaruh langsung terhadap bahaya keracunan
pestisida, karena itu dalam melakukan pencampuran pestisida untuk
penyemprotan petani hendaknya memperhatikan takaran atau dosis
yang tertera pada label. Dosis atau takaran yang melebihi aturan akan
membahayakan penyemprot itu sendiri. Setiap zat kimia pada dasarnya
bersifat racun dan terjadinya keracunan ditentukan oleh dosis dan cara
pemberian.
2. Toksisitas
Toksisitas merupakan kesanggupan pestisida untuk membunuh
sasarannya. Pestisida yang mempunyai daya bunuh tinggi dalam
penggunaan dengan kadar yang rendah menimbulkan gangguan lebih
sedikit bila dibandingkan dengan pestisida dengan daya bunuh rendah
tetapi dengan kadar tinggi. Toksisitas pestisida dapat diketahui dari LD
50 oral dan dermal yaitu dosis yang diberikan dalam makanan hewanhewan percobaan yang menyebabkan 50% dari hewan-hewan tersebut
mati.
3. Jangka waktu atau lama paparan.
Paparan yang berlangsung terus-menerus lebih berbahaya daripada
paparan yang terputus-putus pada waktu yang sama. Jadi pemaparan

33

yang telah lewat perlu diperhatikan bila terjadi resiko pemaparan baru.
Karena itu penyemprot yang terpapar berulang kali dan berlangsung
lama dapat menimbulkan keracunan kronik.
4. Jalur masuk pestisida.
Keracunan pestisida terjadi jika ada bahan pestisida yang mengenai
dan/atau masuk ke dalam tubuh dalam jumlah tertentu. Keracunan akut
atau kronik akibat kontak dengan pestisida dapat melalui mulut,
penyerapan melalui kulit dan saluran pernafasan. Pada petani pengguna
pestisida keracunan yang terjadi lebih banyak terpapar melalui kulit
dibandingkan dengan paparan melalui saluran pencernaan dan
pernafasan.
7. Toksikologi Pestisida
Toksisitas atau daya racun pestisida adalah sifat bawaan yang
menggambarkan potensi pestisida untuk membunuh secara langsung pada hewan
atau manusia. Toksisitas dinyatakan dalam LD50 (lethal dose), yakni jumlah
pestisida yang menyebabkan kematian 50% dari binatang percobaan yang
umumnya digunakan adalah tikus. Dosis dihitung dalam mg per kilogram berat
badan (mg/kg). Namun ada perbedaan antara LD50 oral dan LD50 dermal. LD50
oral adalah dosis yang menyebabkan kematian pada binatang percobaan tersebut
diberikan secara oral atau melalui makanan, sedangkan LD50 dermal ialah dosis
yang terpapar melalui kulit (Depkes RI, 2003)

34

Pestisida terdistribusi ke seluruh jaringan terutama sistem saraf pusat.


Beberapa diantaranya mengalami biotransformasi yaitu berubah menjadi
intermediet yang lebih toksik (paraoxon) sebelum dimetabolisir (Lu, 1995).
Menurut Djojosumarto (2004), pestisida dapat masuk kedalam tubuh manusia
melalui tiga jalur, yaitu :
a. Penetrasi lewat kulit (dermal contamination)
Pestisida yang menempel di permukaan kulit dapat meresap ke dalam
tubuh dan menimbulkan keracunan. Kejadian kontaminasi pestisida lewat kulit
merupakan kontaminasi yang paling sering terjadi. Pekerjaan yang
menimbulkan resiko tinggi kontaminasi lewat kulit adalah:
a. Penyemprotan dan aplikasi lainnya, termasuk pemaparan langsung
oleh droplet atau drift pestisida dan menyeka wajah dengan tangan,
lengan baju, atau sarung tangan yang terkontaminsai pestisida.
b.

Pencampuran pestisida.

c.

Mencuci alat-alat aplikasi

b. Terhisap lewat saluran pernafasan (inhalation)


Kasus keracunan pestisida karena terhisap lewat hidung merupakan
terbanyak kedua setelah kulit. Gas dan partikel semprotan yang sangat halus
(kurang dari 10 mikron) dapat masuk ke paru-paru, sedangkan artikel yang
lebih besar (lebih dari 50 mikron) akan menempel di selaput lendir atau

35

kerongkongan.

Pekerjaan-pekerjaan

yang

menyebabkan

terjadinya

kontaminasi lewat saluran pernafasan adalah :


a. Bekerja dengan pestisida di ruang tertutup atau ventilasinya buruk.
b. Aplikasi pestisida berbentuk gas atau aerosol, terutama aplikasi di
dalam ruangan, aplikasi berbentuk tepung mempunyai resiko tinggi.
c. Mencampur pestisida berbentuk tepung (debu terhisap pernafasan).
c. Masuk ke dalam saluran pencernaan melaui organ mulut (oral)
Pestisida keracunan lewat mulut sebenarnya tidak sering terjadi
dibandingkan dengan kontaminasi lewat kulit. Keracunan lewat mulut dapat
terjadi karena :
a. Makan, minum, dan merokok ketika bekerja dengan pestisida.
b. Menyeka keringat di wajah dengan tangan, lengan baju, atau sarung
tangan yang terkontaminasi pestisida.
c. Drift pestisida terbawa angin masuk ke mulut.
d. Makanan dan minuman terkontaminasi pestisida.

Gambar 2.1 Jalur Pemaparan Pestisida

36

D. Perilaku
1. Definisi Perilaku
Menurut Skinner seorang ahli psikologi yang dikutip Notoatmodjo (2007)
merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap
stimulus (rangsang dari luar). Dalam teori ini, terjadinya perilaku didasari oleh
adanyastimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut
merespons.Oleh sebab itu, teori Skiner ini disebut teori S-O-R atau StimulusOrganisme-Respons. Skinner membedakan respon menjadi dua, yaitu:
a. Respondent respon

atau

flexive, yakni respon yang ditimbulkan oleh

rangsangan-rangsangan (stimulus tertentu). Stimulus semacam ini disebut


eleciting stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relative tetap.
b. Operant respons atau instrumental respons, yakni respon yang timbul dan

berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu.


Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforcer karena
memperkuat respon.
Menurut Notoatmodjo (2007), dilihat dari bentuk respon terhadap
stimulus, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Perilaku tertutup (covert behavior)
Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian,
persepsi, pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang

37

menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang
lain.
b. Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau
praktik(practice) yang mudah diamati atau dilihat orang lain.
Perilaku manusia didorong oleh motif tertentu. Dalam hal ini ada beberapa
teori tentang perilaku yang dikemukakan oleh Machfoedz dan Suryani (2007) :
a. Teori Naluri (Instinc Theory)
Menurut Mc Dougall perilaku itu disebabkan oleh naluri. Naluri merupakan
perilaku yang innate, perilaku yang bawaan, dan naluri akan mengalami
perubahan karena pengalaman.
b. Teori Dorongan (Drive Theory)
Teori ini mengetakan bahwa organisme itu mempunyai dorongan-dorongan
(drive) tertentu. Dorongan-dorongan ini berkaitan dengan kebutuhan
organisme yang kemudian mendorong organisme tersebut berperilaku untuk
memenuhi kebutuhannya.
c. Teori Insentif (Incentive Theory)
Teri ini mengetakan bahwa perilaku timbul karena adanya insentif atau
reinforcement. Terdapat dua Insentif yaitu positif dan negatif. Insentif positif

38

adalah yang berkaitan dengan hadiah atau award, sedangkan insentif negatif
berkaitan dengan sanksi atau hukuman.
d. Teori Atribusi
Teori ini menjelaskan tentang sebab-sebab perilaku yang terdiri dari faktor
internal (motif, sikap, dll) dan faktor eksternal (budaya, geografis, dll).
2. Ruang Lingkup Perilaku
Perilaku manusia sangat kompleks dan mempunyai ruang linngkup yang
sangat luas. Benyamin Bloom (1908) yang dikutip Notoatmodjo (2007), membagi
perilaku manusia ke dalam 3 domain ranah atau kawasan yaitu kognitif
(cognitive), afektif

(affective)

dan psikomotor

(psychomotor). Dalam

perkembangannya, teori ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan


kesehatanyakni pengetahuan, sikap dan tindakan (Notoatmodjo, 2007).
a. Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007), Pengetahuan adalah merupakan hasil
tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu
objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu melalui
indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan
diakategorikan menjadi enam tingkat, yaitu :
1) Tahu
Pengetahuan sebagai pengingat sesuatu yang telah dipelajari
sebelumnya termasuk pengetahuan ini adalah mengingat kembali

39

sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau


rangsangan yang telah diterima.
2) Memahami
Pengetahuan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan
materi tersebut dengan benar.
3) Aplikasi
Pengetahuan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi yang real (sebenarnya). Aplikasi ini
diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,
metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks dan situasi yang lain.
4) Analisis
Pengetahuan sebagai kemampuan untuk menjabarkan materi atau
komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi
dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat
dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan
(membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan
sebagainya.
5) Sintesis
Sintesis berkaitan dengan kemampuan untuk menyusun formulasiformulasi yang ada misalnya dapat menyusun, merencanakan,
meningkatkan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumus-rumus
yang ada.

40

6) Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
/ penilaian terhadap suatu materi atau objek, penilaian-penilaian itu
didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri menggunakan
kriteria yang ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
angket yang menanyakan isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian
atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur
dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatannya (Notoatmodjo, 2007).
b. Sikap
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap suatu stimulus atau
obyek, sehingga manifestasinya tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya
dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup tersebut. Sikap
secara realitas menunjukkan adanya kesesuaian respon terhadap stimulus
tertentu ( Sunaryo, 2004)
Menurut Allport sebagaiaman dikutip dalam Notoatmojo (2007), sikap
mempunyai 3 komponen pokok, yaitu :
1. Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap suatu objek.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)

41

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai


tingkatan yaitu (Notoatmodjo, 2007) :
1. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan
2. Merespon (responding)
Memberikan jawaban bila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan s
uatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang
diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti
bahwa orang menerima ide tersebut.
3. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu
masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Misalnya seorang ibu
yang mengajak ibu yang lain untuk pergi menimbangkan anaknya ke
posyandu, atau mendiskusikan tentang gizi, adalah suatu bukti bahwa
si ibu tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap gizi anak.
4. Bertanggungjawab (responsible)
Bertanggungjawab merupakan bentuk sikap yang paling tinggi atas
segala yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pertanyaan

42

responden terhadap suatu obyek atau juga dapat dilakukan dengan cara
memberikan pendapat dengan menggunakan setuju atau tidak setuju terhadap
pernyataan-pernyataan obyek tertentu (Notoatmodjo, 2007).
Pernyataan sikap dapat berisi hal-hal yang positif mengenai
obyeksikap, yaitu bersifat mendukung

atau memihakpada obyek sikap.

Pernyataan ini disebut dengan pernyataanyang favourable. Sebaliknya


pernyataan sikap juga dapat berisi hal-hal negatif mengenai obyek sikap dan
bersifattidak mendukung atau kontra terhadap obyek sikap.Pernyataan seperti
ini disebut dengan pernyataan yang tidak favourabel. Suatu skala sikap sedapat
mungkin diusahakan agar terdiri atas pernyataan favorable dan tidak favorable
dalam jumlah yang seimbang. Dengan demikian pernyataan yang disajikan
tidak semua positif dan tidak semua negatif yang seolah-olah isi skala
memihak atau tidak mendukung sama sekali obyek sikap (Azwar, 2005).
c. Tindakan
Menurut Notoatmodjo (2007), suatu sikap belum tentu mewujudkan
suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi tindakan
diperlukan

faktor

pendukung

(support)

atau

suatu

kondisi

yang

memungkinkan seperti adanya fasilitas dan dukungan dari berbagai pihak.


Selanjutnya, tindakan dibagi menjadi beberapa tingkat, yaitu :

43

1. Persepsi (Perception)
Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penginterpretasian
terhadap rangsang yang diterima hingga mencapai sesuatu yang berarti.
Persepsi akan menyadarkan individu tentang keadaan sekitarnya dan
juga keadaan dirinya. Orang yang mempunyai persepsi yang baik
cenderung akan berperilaku sesuai dengan persepsi yang dimilikinya
2. Respons Terpimpin (Guided Response)
Respon terpimpin ditunjukkan apabila seseorang dapat melakukan
sesuatu sesuai dengan urutan yang benar.
3. Mekanisme (Mecanism)
Tindakan mencapai tingkat mekasnisme apabila seseorang telah dapat
melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah
merupakan kebiasaan.
4. Adaptasi (Adaptation)
Adaptasi adalah tingkat tertinggi dari tindakan. Seseorang yang telah
beradaptasi menunjukkan bahwa suatu praktek atau tindakan yang
dilakukan sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah
dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.
Pengukuran tindakan dapat dilakukan secara tidak langsung dengan cara
wawancara terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh individu sebelumnya, dan
secara langsung dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan individu tersebut
(Notoatmodjo, 2007).

44

3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi perilaku


Menurut Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007), perilaku
dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu:
a. Faktor predisposisi (predisposing factors)
Faktor-faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap individu terhadap
kesehatan, tradisi dan kepercayaan,nilai yang dianut masyarakat, tingkat
pendidikan, tingkat sosial ekonomi, pekerjaan, dan sebagainya.
b. Faktor pendukung (enabling factors)
Faktor pendukung merupakan faktor pemungkin. Faktor ini bisa
sekaligus menghambat atau mempermudah niat suatu perubahan perilaku dan
perubahan lingkungan. Faktor pendukung mencakup ketersediaan sarana dan
prasarana atau fasilitas. Sarana dan fasilitas ini pada hakekatnya mendukung
atau memungkinkan terwujudnya suatu perilaku, sehingga disebut sebagai
faktor pendukung
c. Faktor penguat (reinforcing factors)
Faktor-faktor pendorong merupakan penguat terhadap timbulnya sikap
dan niat untuk melakukan sesuatu atau berperilaku. Suatu pujian, sanjungan
dan penilaian yang baik akan memotivasi, sebaliknya hukuman dan pandangan
negatif seseorang akan menjadi hambatan proses terbentuknya perilaku.

45

4. Perubahan Perilaku
Menurut

Rogers

(1974)

yang

dikutip

Notoatmodjo

(2007),

mengungkapkan bahwa terjadinya perubahan perilaku diawali dengan serangkaian


proses yang berurutan, yaitu :
1.

Awareness (kesadaran), yaitu proses menyadari adanya stimulus


(objek).

2.

Interest, yakni adanya ketertarikan pada stimulus yang diterima

3.

Evaluation, ysitu proses menimbang baik dan tidaknya stimulus yang


diterima.

4.

Trial, yakni proses mencoba perilaku baru.

5.

Adoption, yakni subjek telah berperilaku baru sesuai dengan


pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

Salah satu strategi untuk memperoleh perubahan perilaku menurut WHO


yang dikutip oleh Notoadmodjo (2003) adalah dengan pemberian informasi untuk
meningkatkan pengetahuan sehingga menimbulkan kesadaran dan pada akhirnya
orang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuannya tersebut. Salah satu upaya
pemberian informasi yang dapat dilakukan adalah dengan penyuluhan. Dalam
teori Skiner, yaitu S-O-R atau Stimulus-Organisme-Respons, penyuluhan
merupakan bentuk stimulus. Setelah seseorang mengetahui stimulus, kemudian
mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses
selanjutnya yang diharapkan adalah mempraktikkan apa yang diketahui atau

46

disikapinya (dinilai baik). Inilah yang disebut tindakan (practice), atau dapat juga
dikatakan perilaku.
E. Penyuluhan
1. Definisi Penyuluhan
Pengertian penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang
mempelajari system dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar
dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan
Penyuluhan sebagai proses perubahan perilaku tidak mudah.

Titik berat

penyuluhan sebagai proses perubahan perilaku adalah penyuluhan yang


berkelanjutan. Dalam proses perubahan perilaku dituntut agar sasaran berubah
tidak semata-mata karena penambahan pengetahuan saja namun, diharapkan juga
adanya perubahan pada keterampilan sekaligus sikap mantap yang menjurus
kepada tindakan atau kerja yang lebih baik, produktif, dan menguntungkan (Lucie,
2005).
Dalam aspek kesehatan, Muninjaya (2004) memaparkan definisisi
penyuluhan kesehatan sebagai penambahan pengetahuan dan kemampuan
seseorang melalui teknik praktik belajar atau instruksi dengan tujuan mengubah
atau mempengaruhi perilaku manusia baik secara individu, kelompok maupun
masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan nilai kesehatan sehingga dengan
sadar mau mengubah perilakunya menjadi perilaku sehat. Sedangkan dalam aspek
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), George (1998) yang dikutip dalam

47

Helliyanti (2009), menyatakan bahwa penyuluhan K3 adalah bentuk usaha yang


dilakukan untuk mendorong dan menguatkan kesadaran dan perilaku pekerja
tentang K3 sehinggga dapat melindungi pekerja, properti, dan lingkungan.
2. Metode Penyuluhan
Metode penyuluhan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
tercapainya suatu hasil penyuluhan secara optimal. Semua metode akan baik bila
digunakan secara tepat yaitu sesuai dengan kebutuhan (Notoatmodjo, 2005). Pada
garis besarnya hanya ada dua jenis metode dalam penyuluhan, yaitu :
a. Metode satu arah (One Way Methode)

Pada Metode ini hanya terjadi komunikasi satu arah yaitu dari pihak
penyuluh ke pihak sasaran. Dengan demikian, pihak sasaran tidak diberi
kesempatan untuk aktif. Yang termasuk metode ini adalah : metode ceramah,
siaran melalui radio, pemutaran film, penyebaran selebaran, pameran.
b. Metode dua arah (Two Way Methode)

Pada metode ini terjadi komunikasi dua arah antara pendidik dan
sasaran.Yang termasuk dalam metode ini adalah : wawancara, demonstrasi,
sandiwara, simulasi, curah pendapat, permainan peran (role playing) dan
tanya jawab.

48

3. Media Penyuluhan
Menurut Notoatmodjo (2005), penyuluhan tidak dapat lepas dari media
karena melalui media pesan disampaikan dengan mudah untuk dipahami. Media
dapat menghindari kesalahan persepsi, memperjelas informasi, dan mempermudah
pengertian. Dengan demikian, sasaran dapat mempelajari dan mengadopsi pesanpesan yang disampaikan. Berdasarkan fungsinya sebagai penyalur informasi,
media dibagi menjadi tiga, yakni:
a. Media cetak sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan yaitu:
1) Flip chart (lembar balik) ialah media penyampaian pesan kesehatan
dalam bentuk lembar balik, dimana tiap lembar berisi gambar peragaan
dan dibaliknya berisi informasi yang berkaitan dengan gambar tersebut.
2) Booklet ialah pesan-pesan kesehatan dalam bentuk buku, baik tulisan
maupun gambar.
3) Poster ialah lembaran kertas dengan kata-kata dan gambar atau simbol
untuk menyampaikan pesan/ informasi kesehatan.
4) Leaflet

ialah penyampaian informasi kesehatan dalam bentuk

kalimat,gambar ataupun kombinasi melalui lembaran yang dilipat.


5) Flyer (selebaran) seperti leaflet tapi tidak dalam bentuk lipatan.
6) Rubrik atau tulisan pada surat kabar atau majalah mengenai bahasan suatu
masalah kesehatan.
7) Foto yang mengungkapkan informasi-informasi kesehatan.

49

b. Media elektronik sebagai saluran untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan


memiliki jenis yang berbeda, antara lain:
1) Televisi: penyampaian informasi kesehatan dapat dalam bentuk
sandiwara, diskusi, kuis, cerdas cermat seputar masalah kesehatan.
2) Radio: penyampaian pesan-pesan kesehatan dalam bentuk tanya jawab,
sandiwara radio, ceramah tentang kesehatan.
3) Video: penyampaian informasi kesehatan dengan pemutaran video yang
berhubungan dengan kesehatan.
4) Slide dan Film strip
c. Media papan (Bill Board) yaitu media yang dapat dipasang di tempat umum.
Media papan ini juga mencakup pesan kesehatan yang ditulis pada lembaran
seng yang ditempel pada kendaraan-kendaraan umum.
4. Faktor-faktor yang Mempengeruhi Penyuluhan
Menurut Notoatmodjo (2005), penyuluhan merupakan proses perubahan
perilaku melalui suatu kegiatan pendidikan nonformal. Oleh karena itu selalu saja
ada berbagai kendala pelaksanaannya di lapangan. Secara umum ada beberapa
faktor yang mempengaruhi perubahan keadaan yang disebabkan oleh penyuluhan,
diantaranya sebagai berikut:
a.

Keadaan pribadi sasaran


Beberapa hal yang perlu diamati pada diri sasaran adalah ada tidaknya
motivasi pribadi sasaran dalam melakukan suatu perubahan, adanya ketakutan

50

atau trauma dimasa lampau yang berupa ketidakpercayaan pada pihak lain
karena pengalaman ketidakberhasilan atau kegagalan, kekurangsiapan dalam
melakukan perubahan karena keterbatasan pengetahuan, keterampilan, dana,
sarana dan pengalaman serta adanya perasaan puas dengan kondisi yang
dirasakan sekarang.
b.

Keadaan lingkungan fisik


Lingkungan fisik

yang dimaksud

adalah lingkungan yang

berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung dalam keberhasilan


penyuluhan.
c.

Keadaan sosial dan budaya masyarakat


Kondisi sosial budaya dimasyarakat akan mempengaruhi efektifitas
penyuluhan karena kondisi sosial budaya merupakan suatu pola perilaku yang
dipelajari, dipegang teguh oleh setiap warga masyarakat dan diteruskan secara
turun menurun, dan akan sangat sulit merubah perilaku masyarakat jika sudah
berbenturan dengan keadaan sosial budaya masyarakat.

d.

Akifitas kelembagaan yang tersedia dan menunjang penyuluhan


Peran serta lembaga terkait dalam proses penyuluhan akan
menentukan efektifitas penyuluhan. Dalam hal ini lembaga berfungsi sebagai
pembuat keputusan yang akan ditetapkan sehingga harus dilaksanakan oleh
masyarakat.

51

Kerangka Teori
Kerangka teori dibawah ini mengacu pada dua teori, yaitu (1) Teori perubahan
perilaku oleh WHO dalam Notoatmodjo (2003), dan (2) Teori yang mencangkup tiga
domain perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) oleh Benyamin Bloom (1908) yang
dikutip Notoatmodjo (2007).

Perilaku tidak Menggunakan

Perilaku Menggunakan Alat

Alat Pelindung Diri (APD)

Pelindung Diri (APD)

--------------------------------

--------------------------------

- Pengetahuan Buruk

- Pengetahuan Baik

- Sikap Negatif

- Sikap Positif

- Tindakan Tidak Tepat

- Tindakan Tepat

WHO : Perubahan Perilaku


Pemberian Informasi
----------------------------- Penyuluhan (Councelling)
- Pendidikan (education)
- Pelatihan (trainning)
- Promosi (Promotion)

BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL, DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep pada penelitian ini terdiri dari perilaku kelompok
eksperimen (petani paprika), penyuluhan, pretest, dan posttest. Kelompok eksperimen
adalah obyek penelitian yang mendapat intervensi berupa penyuluhan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) tentang Alat Pelindung Diri (APD). Perilaku kelompok
eksperimen diukur sebanyak dua kali, yaitu sebelum dan sesudah penyuluhan (pretest
dan postest). Variabel perilaku yang akan diukur mengacu pada teori Benyamin
Bloom (1908) yang menyatakan bahwa perilaku manusia dibagi menjadi tiga domain
ranah atau kawasan, yaitu kognitif (cognitive), afektif (affective) dan psikomotor
(psychomotor). Dalam perkembangannya, teori ini dimodifikasi untuk pengukuran
hasil pendidikan kesehatan yakni pengetahuan, sikap dan tindakan. Skema kerangka
konsep dapat dijelaskan pada bagan 3.1 berikut_:

52

53

Bagan 3.1
Kerangka Konsep
Penyuluhan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) tentang Alat Pelindung Diri (APD)
pada petani paprika

Pengetahuan, sikap, dan

Pengetahuan, sikap, dan

tindakan petani paprika

tindakan petani paprika

sebelum penyuluhan

setelah penyuluhan

Pretest

Posttest

B. Definisi Operasional
Tabel 3.1
Definisi Operasional
variabel

Definisi

Alat
Ukur

Hasil Ukur

Skala

Intervensi yang diberikan


sebagai upaya pendidikan
kesehatan mengenai APD
Penyuluhan

dengan

menggunakan

media elektronik dan alat


bantu proyektor.

54

1. Baik jika

Tahu atau tidaknya petani

skor >75%

paprika mengenai Alat


Pengetahuan Pelindung Diri (APD)

Kuesioner

dari bahaya pestisida.

2. Cukup jika

skor 60-75%

Ordinal

3. Buruk jika

skor <60 %
1. Baik jika

Respon petani paprika


Sikap

terhadap Alat Pelindung


Diri (APD) dari bahaya

skor >75%
Kuesioner

pestisida.

2. Cukup jika

skor 60-75%

Ordinal

3. Buruk jika

skor <60 %
Aktivitas petani paprika
dalam menggunakan
APD yang meliputi
Tindakan

pakaian panjang,
pelindung kepala,

Pedoman

1. Iya

observasi

2. Tidak

Ordinal

masker, sarung tangan,


kacamata, sepatu boot
A. Hipotesis
1. Ada pengaruh penyuluhan terhadap peningkatan pengetahuan petani paprika di

Desa Kumbo tentang Alat Pelindung Diri (APD) dari bahaya pestisida.
2. Ada pengaruh penyuluhan terhadap perubahan sikap petani paprika di Desa

Kumbo terkait Alat Pelindung Diri (APD) dari bahaya pestisida.


3. Ada pengaruh penyuluhan terhadap perubahan tindakan petani paprika di Desa

Kumbo terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dari bahaya pestisida.

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini termasuk pada penelitian eksperimen semu (quasi experiment)
dengan menggunakan desain one group pretest and posttest design.
Bagan 4.1
Desain Penelitian
Pretest
T1

Treatment
X

Postest
T2

Sumber : Suryabrata (2010)


Keterangan :
X

: Treatment yaitu bentuk perlakuan (intervensi) yang diberikan kepada


kelompok eksperimen

T1

: Pretest yaitu pengukuran yang dilakukan sebelum intervensi (treatment)

T2

: Postest yaitu pengukuran yang dilakukan setelah intervensi (treatment)


Menurut Suryabrata (2010), hasil dari penelitian eksperimen semu merupakan

perkiraan yang mendekati hasil dari penelitian eksperimen sebenarnya (true


experiment). Dalam penelitian eksperimen semu, variabel yang seharusnya dikontrol
tidak dapat dikontrol, sehingga validitas penelitian tidak cukup memadai untuk disebut
sebagai penelitian eksperimen yang sebenarnya.

55

56

Selanjutnya, Suryabrata (2010) juga menerangkan bahwa penelitian


eksperimen semu dengan desain one group pretest and posttest design memiliki
kelebihan dan kekurangan pada validitas penelitiannya. Kelebihan desain ini yaitu; (1)
Dapat mengontrol selection biases and mortality, dan (2) Dapat memberi landasan
untuk komparasi prestasi subjek yang sama sebelum dan sesudah dikenai perlakuan
(treatment). Adapun kelemahan desain ini yaitu; (1) Tidak ada jaminan bahwa
perlakuan (treatment) adalah satu-satunya faktor atau bahkan faktor utama yang
menimbulkan perbedaan antara pretest dan posttest, dan (2) Terdapat beberapa
hipotesis tandingan (probable error) yang meliputi; history, maturation, testing effect,
changing effect of instrumentation, statistical regression, dan selection biases and
mortality.
Untuk meminimalisisir history yang merupakan salah satu hipotesis tandingan
(probable error), maka garis waktu (time line) antara pretest, penyuluhan, dan posttest
ditentukan dengan jarak yang relatif dekat. Pada penelitian ini, Pretest dilakukan satu
hari sebelum penyuluhan, sedangkan posttest dilakukan satu minggu setelah
penyuluhan karena dalam tempo setelah penyuluhan hingga dilakukan posttest, petani
bisa saja mendapat paparan informasi dari sumber lain yang juga dapat berpengaruh
terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan petani. Untuk itu, penelliti berusaha
meminimalisir hal tersebut dengan cara mengadakan posttest pada tempo yang relatif
pendek yaitu satu minggu setelah penyuluhan. Garis waktu (time line) pada penelitian
ini dapat digambarkan sebagai berikut :

57

Bagan 4.2
Garis Waktu (Time Line) Penelitian
Pretest
1 hari sebelum
penyuluhan

Penyuluhan

Posttest
1 minggu setelah
penyuluhan

B. Lokasi dan Waktu Penelitian


Lokasi penelitian di Dusun Kumbo Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan.
Waktu penelitian yaitu dari bulan januari 2014 sampai bulan februari 2014.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh petani paprika yang
menggunakan pestisida di Desa Kumbo dengan jumlah total sebanyak 33 petani.
2. Sampel
Sampel yang diambil pada penelitian ini adalah seluruh populasi yang
bersedia yaitu 33 petani. Dengan demikian, teknik pengambilan sampel pada
penelitian ini adalah sampling jenuh. Adapun pertimbangan penggunaan sampling
jenuh adalah karena jumlah populasi yang sedikit (< 50). Pada saat penyuluhan,
terdapat 1 petani yang tidak hadir sehingga sampel pada penelitian ini menjadi 32.
D. Media Penyuluhan
Dalam penelitian ini, media penyuluhan yang digunakan yaitu media
elektronik dengan menggunakan alat bantu projektor. Konten yang akan

58

dipresentasikan terdiri dari video pendek dan slide yang berisi tentang informasi
terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) khususnya tentang Alat Pleindung Diri
(APD) dari bahaya pestisida.
Video pendek tersebut terdiri dari dari 3 tema yang meliputi :
1. Video tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
2. Video tentang bahaya pestisida
3. Video tentang penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
E. Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
1. Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui :
a. Wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner untuk memperoleh
gambaran karakterisitik responden yang meliputi; nama, umur, durasi
penggunaan pestisida, pengalaman menggunaakan pestisida, pendidikan, serta
pengetahuan dan sikap responden terkait penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD).
b. Observasi langsung untuk melihat tindakan responden terkait penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD).
2. Instrumen Penelitian
Instrument adalah alat bantu yang digunakan dalam mengumpulkan data
pada suatu penelitian (Arikunto, 2002). Instrumen atau alat bantu dalam penelitian
ini adalah kuesioner dan pedoman observasi. Kuesioner yang digunakan meliputi

59

kuesioner untuk karakteristik umum, pengetahuan dan sikap responden.


Sedangkan pedoman observasi digunakan untuk memperoleh gambaran tindakan
responden dalam menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Instrumen untuk
variabel pengetahuan, sikap dan tindakan digunakan sebanyak dua kali yaitu
untuk Pre-test yang dilakukan sebelum penyuluhan, dan Post-test yang dilakukan
setelah penyuluhan.
3. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan teori yang
mendasari sebagaimana dalam tinjauan pustaka, oleh karena itu sebelum
digunakan untuk pengumpulan data instrumen penelitian perlu dilakukan uji coba.
Ujicoba instrumen dilaksanakan di luar anggota sampel penelitian yaitu di Desa
Gendro Krajan dengan jumlah 30 orang. Dalam penelitian ini, instrumen yang
digunakan menghasilkan data dikotomis yang menunjukkan nilai benar atau salah.
Dengan demikian uji validitas dan reliabilitas dilakukan dengan menggunakan
metode split half (Palupi, 2013).
a. Uji Validitas
Uji validitas merupakan uji instrumen yang digunakan untuk mengukur
apakah sebuah instrumen penelitian tersebut valid atau sahih. Sebuah
instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan
(Arikunto, 2006). Pada metode split half, pertanyaan dinyatakan valid apabila

60

nilai Cronbach Alpha if Item Deleted lebih kecil dari nilai cronbach alpha
instrumen.
Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan (lampiran 14), dapat
diketahui bahwa semua nilai Cronbach Alpha if Item Deleted pada soal
pengetahuan dan sikap lebih kecil dari nilai cronbach alpha instrumen (<0,503
untuk pengetahuan, <0,325 untuk sikap). Sehingga dapat disimpulkan bahwa
semua data pada penelitian ini telah valid.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas terhadap instrumen penelitian dapat menunjukkan
bahwa suatu instrumen tersebut dapat dipercaya dan diandalkan (Arikunto,
2006). Menurut Sugiyono (2007), pengujian reliabilitas digunakan dengan
rumus koefisien reliabilitas alpha cronbach dengan bantuan perhitungan
komputer. Model Pengujian cronbach alpha menunjukan reliabilitas
instrumen yang digunakan. Semakin tinggi nilai cronbach alfa maka tingkat
reliabilitas data semakin baik atau dapat dikatakan instrumen semakin handal.
Kriteria reliabilitas instrumen dapat ditunjukkan pada tabel berikut :
Tabel 4.2
Tingkat Reliabilitas Data

Sumber : Palupi (2013)

61

Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan (lampiran 14), dapat


diketahui nilai Cronbach Alpha pada soal pengetahuan sebesar 0.503 dan pada
soal sikap sebesar 0.325. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat
reliabilitas pada soal pengetahuan tergolong pada kriteria moderat. Sedangkan
pada soal sikap, nilai reliabilitasnya tergolong pada kriteria rendah.
4. Pengolahan Data
Seluruh data yang terkumpul akan diolah melalui tahap-tahap sebagai
berikut:
a. Menyunting data (data editing)
Proses pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran data seperti kelengkapan
pengisian, kesalahan pengisian, konsistensi pengisian setiap jawaban.
b. Mengkode data (data coding)
Proses pemberian kode kepada setiap variabel yang telah dikumpulkan
untuk memudahkan dalam pengelolaan lebih lanjut.
c. Memasukkan data (data entry)
Memasukkan data dalam program

software

komputer berdasarkan

klasifikasi yang telah ditentukan.


d. Membersihkan data (data cleaning)
Pengecekan kembali data yang telah dimasukkan untuk memastikan tidak
ada kesalahan dalam entry data, sehingga data tersebut telah siap diolah
dan dianalisis.

62

5. Analisis Data
a. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dan
persentase dari setiap variabel yang dikehendaki. Analisis ini digunakan untuk
mengetahui gambaran karakteristik umum, pengetahuan, sikap, dan tindakan
petani paprika di Desa Kumbo terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat perbedaan pengetahuan dan
sikap petani paprika antara sebelum dan sesudah intervensi (penyuluhan). Data
dianalisis dengan bantuan komputer menggunakan uji statistik yaitu Paired
Sample t-test jika data berdistribusi normal dan uji Wilcoxon jika data tidak
berdistribusi normal. Pada penelitian ini, Skor sikap (posttest) dan skor
pengetahuan (pretest dan posttest) tidak berdistribusi normal karena nilai Pvalue sebesar 0.000 (<0.05).

Dengan demikian, analisis bivariat

menggunakan uji Wilcoxon.


Uji wilcoxon digunakan untuk memperoleh perbandingan skor
pengetahuan dan sikap petani paprika antara sebelum dan setelah penyuluhan.
Analisis dilakukan dengan memperhatikan nilai median, nilai minimun dan
maksimum, serta nilai probabilitas (P-value). Adapun nilai rerata dan simpang
baku tidak dilaporkan karena data yang tidak berdistribusi normal, nilai rerata
dan simpang baku tidak dapat mewakili data (Dahlan, 2008).

BAB V
HASIL PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kumbo Kecamatan Tutur Kabupaten
Pasuruan. Jumlah petani yang menjadi objek penelitian berjumlah 33 orang. Selama
proses penelitian, terdapat 1 orang yang tidak hadir dalam kegiatan penyuluhan
sehingga jumlah petani yang masuk dalam penelitian ini menjadi 32 orang.
Penelitian dimulai dengan kegiatan obeservasi di tempat kerja (tempat
tanaman paprika) yang disebut greenhouse. Hingga bulan Januari 2014, jumlah
greenhouse di Desa Kumbo mencapai 53 unit. Hampir seluruh greenhouse tersebut
dibangun di sisi-sisi Desa. Untuk mempermudah kegiatan penelitian, setiap
greenhouse diberi nama dengan huruf abjad dan nomor. Huruf abjad menunjukkan
area greenhouse yaitu T untuk area timur, U untuk area utara, B untuk area
barat, dan dan S untuk area selatan. Sedangkan nomor menunjukkan urutan
greenhouse pada masing-masing area. Adapun jumlah greenhouse di masing-masing
area adalah sebagai berikut :
a. Area timur = 22 unit
b. Area utara = 17 unit
c. Area barat = 9 unit
d. Are selatan = 5 unit

63

64

Greenhouse di Desa Kumbo memiliki ukuran yang bermacam-macam. Ukuran


greenhouse rata-rata 600 m2 dengan dimensi 20 m x 30 m. Ukuran terkecil adalah 300
m2 dengan dimensi 15 m x 20 m, sedangkan ukuran terbesar mencapai 2400 m 2 dengan
dimensi 30 m x 80 m.
U

Gambar 4.1
Potret greenhouse (atap putih) di Desa Kumbo dari puncak gunung Tunggangan
B. Karakteristik Umum Petani Paprika di Desa Kumbo
Usaha budidaya paprika yang dilakukan oleh petani di Desa Kumbo termasuk
pada usaha informal yang tidak berbadan hukum, tidak ada status permanen atas
pekerjaan dan tempat kerja, serta tidak terdapat sistem keamanan kerja (job security
system). Hingga saat ini, jumlah petani paprika di Desa Kumbo mencapai 54 orang.
Dari total jumlah petani tersebut, sebanyak 33 orang adalah pengguna pestisida,

65

sedangkan 21 petani lain bekerja dibagian perawatan, kebersihan atau pemetikan.


Seluruh petani paprika yang menggunakan pestisida adalah laki-laki.
1. Gambaran Umur
Distribusi petani paprika yang menggunakan pestisida berdasarkan umur
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.1
Distribusi Petani Paprika Pengguna Pestisida di Desa Kumbo Berdasarkan Umur
Tahun 2014
Umur
<20 tahun
21-30 tahun
31-40 tahun
>40 tahun
Total

Jumlah
1
20
9
3
33

Presentase
3%
61 %
27 %
9%
100%

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa mayoritas petani yang


menggunakan pestisida berumur 20 30 tahun yaitu sebanyak 20 orang.
Sementara sembilan petani lainnya berada pada usia 31 40 tahun, empat petani
pada usia 41 50, dan hanya satu petani pada usia dibawah 20 tahun.
2. Gambaran Tingkat Pendidikan
Distribusi petani paprika yang menggunakan pestisida berdasarkan tingkat
pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut :

66

Tabel 5.2
Distribusi Petani Paprika Pengguna Pestisida di Desa Kumbo Berdasarkan
Tingkat Pendidikan Tahun 2014
Tingkat Pendidikan
SD
SMP
SMA
PT
Total

Jumlah
12
12
8
1
33

Presentase
36 %
36 %
25 %
3%
100 %

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa petani dengan tingkat pendidikan
SD dan SMP masing-masing sebanyak 12 orang. Sedangkan petani dengan tingkat
pendidikan SMA sebanyak 8 orang dan petani dengan tingkat pendidikan
Perguruan Tinggi (PT) hanya ada 1 orang.
3. Gambaran Lama Kerja
Distribusi petani paprika yang menggunakan pestisida berdasarkan lama
kerja dalam menggunakan pestisida dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.3
Distribusi Petani Paprika Pengguna Pestisida di Desa Kumbo Berdasarkan Lama
Kerja Dalam Menggunakan Pestisida Tahun 2014
Lama Kerja
< 5 tahun
5-10 tahun
> 10 tahun
Total

Jumlah
19
13
1
33

Presentase
58 %
39 %
3%
100 %

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebanyak 19 petani telah


menggunakan pesisida selama 1-5 tahun, 13 petani 6-10 tahun, dan satu petani
lebih dari 10 tahun.

67

4. Gambaran Frekuensi Penggunaan Pestisida


Distribusi petani paprika yang menggunakan pestisida berdasarkan
frekuensi penggunaan pestisda dalam seminggu dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.4
Distribusi Petani Paprika Pengguna Pestisida di Desa Kumbo Berdasarkan
Frekuensi Penggunaan Tahun 2014
Frekuensi Penggunaan
2 x / minggu
4 x / minggu
Total

Jumlah
31
2
33

Presentase
94 %
6%
100 %

Pada umumnya, petani paprika di Desa Kumbo menggunakan pestisida


sebanyak dua kali dalam seminggu. Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa
sebanyak 31 petani menggunakan pestida dua kali dalam seminggu. Sedangkan
dua petani lainnya menggunakan pestisida 4 kali dalam seminggu dikarenakan
petani tersebut menangani lebih dari dua greenhouse.
5. Gambaran Durasi Penggunaan Pestisida
Distribusi petani paprika berdasarkan durasi penggunaan pestisda dalam
setiap pemakainnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.5
Distribusi Petani Paprika di Desa Kumbo Berdasarkan Durasi Penggunaan
Tahun 2014
Durasi Penggunaan
2 jam
4 jam
Total

Jumlah
17
16
33

Presentase
52 %
48 %
100 %

68

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebanyak 17 petani menggunakan


pestida selama kurang lebih dua jam. Sedangkan 15 petani lainnya menggunakan
pestisida selama kurang lebih 4 jam.
C. Gambaran Pengetahuan dan Sikap Petani
1. Pengetahuan Petani
a. Pengetahuan Petani Sebelum dan Setelah Penyuluhan
Pengetahuan petani paprika mengenai Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) dan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum dan setelah penyuluhan
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.6
Pengetahuan Petani Paprika di Desa Kumbo Sebelum dan Setelah
Penyuluhan Tahun 2014
Tingkat Pengetahuan
Buruk
Cukup
Baik
Total

Pretest
n
27
2
3
32

Posttest
%
85
6
9
100

n
0
0
32
32

%
0
0
100
100

Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa sebelum penyuluhan


(pretest), sebanyak 85% petani memiliki pengetahuan yang buruk. Setelah
penyuluhan (posttest), semua pengetahuan petani menjadi baik (100 %).
Berdasarkan hasil jawaban petani pada soal pengetahuan yang
dilakukan sebelum penyuluhan (lampiran 10), diketahui bahwa sebanyak 31
petani (94%) menjawab salah pada soal tentang definisi dan tujuan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Selanjutnya, pada pertanyaan tentang

69

perlunya K3 diterapkan pada pekerjaan petani paprika yang menggunakan


pestisida, hanya 7 petani yang menjawab benar. Pada pertanyaan tentang
dampak pestisida, hanya 8 orang yang menjawab benar sedangkan pada
pertanyaan tentang jalur masuk pestisida, sebanyak 16 petani yang menjawab
benar.
b. Perubahan Pengetahuan Petani antara Sebelum dan Setelah Penyuluhan
Perubahan pengetahuan petani paprika mengenai Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) dan Alat Pelindung Diri (APD) setelah mendapat
penyuluhan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.7
Perubahan Pengetahuan Petani Paprika di Desa Kumbo antara Sebelum dan
Setelah Penyuluhan Tahun 2014
Perubahan Pengetahuan
Menurun
Tetap
Meningkat
Total

Jumlah
0
0
32
32

Presentase
0%
0%
100 %
100 %

Berdasarkan tabel 4.8 dapat diketahui bahwa setelah penyuluhan


(posttest), semua petani mengalami peningkatan pengetahuan (100%).
2. Sikap Petani
a. Sikap Petani Sebelum dan Setelah Penyuluhan
Sikap petani paprika terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
dan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum penyuluhan dapat dilihat pada tabel
berikut :

70

Tabel 5.8
Sikap Petani Paprika di Desa Kumbo Sebelum dan Setelah Penyuluhan
Tahun 2014
Tingkat Pengetahuan
Buruk
Cukup
Baik
Total

Pretest
n
21
10
1
32

Posttest
%
66
31
3
100

n
0
0
32
32

%
0
0
100
100

Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui bahwa sebelum penyuluhan


(pretest), sebanyak 66 % petani memiliki sikap buruk. Setelah penyuluhan
(posttest), semua sikap petani menjadi baik (100 %).
Berdasarkan jawaban petani pada pretest soal sikap yang dilakukan
sebelum penyuluhan (lampiran 10), diketahui sebanyak 20 petani (63%)
menunjukkan sikap yang salah karena memberikan jawaban setuju pada
pernyataan bahwa petani yang berpengalaman tidak perlu menggunakan APD.
Sikap yang salah juga ditunjukkan oleh 16 petani (56%) yang setuju bahwa
pestisida tidak dapat masuk ke tubuh manusia melalui kulit. Kemudian, 29
petani (91%) juga menunjukkan sikap yang salah dengan menjawab setuju
bahwa masker dari kain sudah cukup melindungi petani dari bahaya pestisida.
b. Perubahan Sikap Petani antara Sebelum dan Setelah Penyuluhan
Perubahan sikap petani paprika mengenai Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) dan Alat Pelindung Diri (APD) setelah mendapat penyuluhan
dapat dilihat pada tabel berikut :

71

Tabel 5.9
Perubahan Sikap Petani Paprika di Desa Kumbo Setelah Mendapat
Penyuluhan Tahu 2014
Perubahan Pengetahuan
Memburuk
Tetap
Membaik
Jumlah

Jumlah
0
0
32
32

Presentase
0%
0%
100 %
100 %

Berdasarkan tabel 4.11 dapat diketahui bahwa setelah mendapat


penyuluhan (posttest), semua sikap petani membaik (100 %).
3. Tindakan Petani (Penggunaan APD)
a. Tindakan Petani (Penggunaan APD) Sebelum dan Setelah Penyuluhan
Tindakan petani (penggunaan APD) sebelum dan setelah mendapat
penyuluhan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.10
Penggunaan APD Petani Paprika di Desa Kumbo Sebelum dan Setelah
Mendapat Penyuluhan Tahun 2014
Jenis APD
Pakaian Panjang
Masker
Penutup Kepala
Kacamata
Sarung Tangan
Sepatu Boot

Sebelum Penyuluhan
n
%
22
68
16
50
6
18
0
0
6
18
0
0

Setelah Penyuluhan
n
%
28
88
30
94
18
56
4
12
23
72
12
38

Berdasarkan tabel 4.12 dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan


jumlah pengguna APD antara sebelum dan setelah penyuluhan. Petani yang
memakai masker meningkat dari 50% menjadi 94%. Sedangkan pada
penggunaan kacamata hanya meningkat 12 % (4 petani).

72

b. Perubahan Tindakan Petani Setelah Penyuluhan


Berdasarkan observasi tindakan petani terkait penggunaan APD baik
sebelum dan setelah penyuluhan, diperoleh hasil bahwa jumlah petani yang
menggunakan APD mengalami peningkatan (lampiran 8). Perubahan
penggunaan APD antara sebelum dan setelah penyuluhan dapat dilihat pada
grafik berikut ini :
Grafik 5.1
Penggunaan APD Petani Paprika di Desa Kumbo antara Sebelum dan Setelah
Penyuluhan Tahun 2014
35
25

30

28

30

23

22

20

18

16

12

15
10

Pakaian
Pelindung

Masker

Penutup
Kepala

Sebelum Penyuluhan

Kacamata

Sarung
tangan

Sepatu
Boot

Setelah Penyuluhan

Berdasarkan grafik 4.1 dapat dilihat perubahan tindakan petrani


terkait penggunaan APD. Secara keseluruhan, terjadi peningkatkatan jumlah
penggunaan APD dengan presentase yang berbeda-beda.

73

D. Pengaruh Penyuluhan terhadap Perubahan Pengetahuan dan Sikap Petani


Paprika terkait Alat Pelindung Diri (APD) dari Bahaya Pestisida
Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan terhadap perubahan pengetahuan dan
sikap petani paprika digunakan analisis bivariat, yaitu analisis untuk mengetahui
hubungan antara dua variabel. Pada penelitian ini, variabel yang akan dianalisis yaitu
perbedaan pengetahuan dan sikap petani antara sebelum dan setelah penyuluhan. Jenis
uji (test) yang digunakan tergantung pada hasil uji normalitas data. Jika data
berdistribusi normal maka jenis uji yang digunakan adalah Paired Sample T-test, jika
data tidak berdistribusi normal maka jenis uji yang digunakan adalah uji Wilcoxon.
1. Uji Normalitas
Peneliti melakukan uji normalitas dengan menggunakan saphiro- wilk
yaitu uji normalitas untuk sampel yang sedikit (kurang dari 50). Data dikatakan
normal jika nilai probabilitas lebih dari 0.05 (P-Value > ). Hasil uji normalitas
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.11
Hasil Uji Normalitas Data Skor Pengetahuan dan Sikap Petani Paprika Sebelum
dan Setelah Penyuluhan Tahun 2014
Variabel
Pengetahuan
Sikap

Pretest
Posttest
Pretest
Posttest

Uji Normalitas
saphiro- wilk (P-Value)
0,000
0,000
0,111
0,000

Keterangan
Tidak Normal
Tidak Normal
Normal
Tidak Normal

Berdasarkan tabel 4.14 dapat diketahui bahwa hanya skor sikap (pretest)
yang berdistribusi normal dengan P-value sebesar 0.111 (>0.05). Skor sikap
(posttest) dan skor pengetahuan (pretest dan posttest) tidak berdistribusi normal

74

karena nilai P-value sebesar 0.000 (<0.05). Dengan demikian, analisis bivariat
pada penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon.
2. Uji Wilcoxon
Uji

wilcoxon

digunakan

untuk

memperoleh

perbandingan

skor

pengetahuan dan sikap petani paprika antara sebelum dan setelah penyuluhan.
Analisis dilakukan dengan memperhatikan nilai median, nilai minimun dan
maksimum, serta nilai probabilitas (P-value). Adapun nilai rerata dan simpang
baku tidak dilaporkan karena data yang tidak berdistribusi normal, nilai rerata dan
simpang baku tidak dapat mewakili data (Dahlan, 2008). Hasil uji wilcoxon pada
penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.12
Hasil Uji Wilcoxon Skor Pengetahuan dan Sikap Petani Paprika Sebelum dan
Setelah Penyuluhan Tahun 2014
Variabel
Pengetahuan
Sikap

Pretest
Posttest
Pretest
Posttest

Median
(Minimum-Maksimum)
30 (10 - 90)
100 (80 - 100)
50 (10 - 80)
100 (90 - 100)

P-Value
0,000
0,000

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui perbandingan nilai median pada


skor pengetahuan antara pretest dan posttest yaitu 30:100. Sedangkan
perbandingan nilai median pada skor sikap antara pretest dan posttest yaitu 50:100.
Dari uji statistik wilcoxon baik pada pengetahuan maupun sikap diperoleh P-value
sebesar 0,000. Dengan demikian, pada alpha 5% terdapat perbedaan pengetahuan
dan sikap petani antara sebelum dan setelah penyuluhan.

BAB VI
PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian
Selama proses penelitian, terdapat beberapa keterbatasan yang dialami oleh
peneliti yaitu :
1. Penelitian ini tidak menjelaskan hubungan karakterisitik petani (umur, pendidikan,
dll) dengan pengetahuan, sikap dan tindakan petani.
2. Tidak ada kelompok kontrol.
Dengan keterbatasan ini, diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk
perbaikan pada penelitian berikutnya.
B. Pengetahuan Petani Paprika
Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan merupakan hasil tahu yang terjadi
setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Dalam
penelitian ini, pengetahuan petani paprika yang diukur mencakup pengetahuan tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) khususnya mengenai Alat Pelindung Diri
(APD) dari bahaya pestisida.
Pengetahuan petani diukur dengan menggunakan kuesioner sebanyak dua kali,
yaitu sebelum dan sesudah penyuluhan.

Sebelum penyuluhan, 27 petani (80%)

berpengetahuan buruk, 2 petani (6%) berpengetahuan cukup, dan hanya 3 petani yang
berpengetahuan baik. Setelah penyuluhan, semua petani berpengatahuan baik.

75

76

Berdasarkan hasil jawaban petani pada soal pengetahuan yang dilakukan sebelum
penyuluhan (lampiran 10), diketahui bahwa sebanyak 31 petani (94%) menjawab
salah pada soal tentang definisi dan tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Sebagian besar petani beranggapan bahwa K3 adalah upaya untuk menangani
kecelakaan dan mengobati penyakit akibat kerja. Jawaban tersebut mengandung
prinsip pendekatan kuratif yang berlawanan dengan definisi K3 sesungguhnya, yaitu
upaya pencegahan terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Selanjutnya, pada pertanyaan tentang perlunya K3 diterapkan pada pekerjaan
petani paprika yang menggunakan pestisida, hanya 7 petani yang menjawab benar.
24 petani menjawab perlu dengan alasan yang salah, yaitu agar petani mendapat
pengobatan terhadap penyakit akibat kerja., dan 1 orang menjawab tidak perlu dengan
alasan bahwa pestisida mudah digunakan. Pada pertanyaan tentang dampak pestisida,
hanya 8 orang yang menjawab benar. Sedangkan 24 petani lainnya menjawab salah
karena beranggapan bahwa pestisida tidak dapat menyebabkan kanker maupun
gangguan saraf. Pada pertanyaan tentang jalur masuk pestisida, sebanyak 16 petani
menjawab benar. Sedangkan 16 petani lainnya menjawab salah karena menurut petani
pestisda tidak dapat masuk melalui kulit.
Dari hasil jawaban juga dapat diketahui sebanyak 14 petani menjawab salah
pada pertanyaan tentang tubuh petani yang kebal terhadap pestisida. Petani tersebut
mengira bahwa jika seseorang sering terkena pestisida atau sudah terbiasa dengan
pestisida, maka tubuh orang tersebut dapat memiliki kekebalan terhadap dampak
buruk pestisida. Pada pertanyaan tentang APD yang dibutuhkan, sebanyak 18 petani
menjawab salah. Menurut petani tersebut, APD yang perlu digunakan hanyalah

77

masker, kacamata dan sarung tangan. Selain itu, pada pertanyaan tentang kapankah
APD digunakan, terdapat 8 petani yang menjawab salah karena beranggapan bahwa
APD hanya digunakan pada saat menyemprot pestisda. Padahal, resiko terkena
pestisida dengan konsentrasi tinggi terjadi pada saat pencampuran pestisida. Sehingga
pada saat pencampuran pun perlu menggunakan pestisida.
Rendahnya pengetahuan petani paprika tentang K3 dapat disebabkan oleh
berbagai faktor. Menurut Notoatmodjo (2007), salah satu tujuan pendidikan adalah
mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan. Jadi semakin tinggi tingkat
pendidikan seseorang maka semakin banyak pengetahuan yang diperoleh. Dari segi
pendidikan, mayoritas petani paprika di Desa Kumbo adalah lulusan SD dan SMP.
Notoatmodjo (2007) juga menyebutkan bahwa umur juga mempengaruhi individu
dalam meperoleh pengetahuan. Semakin dewasa umur seseorang maka semakin tinggi
tingkat pengalamannya dan semakin bertambah pengetahuannya. Sebanyak 61%
Petani paprika di Desa Kumbo berusia 20 -30 tahun. Dengan demikian, mayoritas
petani paprika di Desa Kumbo masih dalam usia produktif (<40 tahun) dalam
menambah pengetahuan dan pengalamannya.
Setelah penyuluhan, dapat diketahui adanya peningkatan skor pengetahuan
petani paprika tentang K3. Peningkatan pengetahuan ini menunjukkan adanya
pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan yang kemudian dianalaisis secara statistik
dengan menggunakan uji wilcoxon. Dari hasil P-value yaitu sebesar 0,000 dapat
disipulkan bahwa pada alpha 5% terdapat pengaruh penyuluhan yang bermakna
(signifikan) terhadap perubahan pengetahuan petani terkait Alat Pelindung Diri (APD)
dari bahaya pestisida.

78

Penelitian ini relevan dengan penelitian Bernadetta (2011) yang menunjukkan


adanya peningkatan pengetahuan petani jeruk dalam menyemprot pestisida. Sebelum
penyuluhan, petani jeruk yang berpengetahuan buruk dan cukup masing-masing 65%
dan 35%. Setelah penyuluhan, semua petani jeruk memiliki pengetahuan yang baik.
Adapun secara statistik, penelitian Bernadetta (2011) tersebut menggunakan uji tberpasangan dengan hasil p-value sebesar 0,000. Artinya, pada alpha 5% terdapat
pengaruh penyuluhan yang signifikan terhadap perubahan pengetahuan petani jeruk
dalam menyemprot pestisda.
Selanjutnya penelitian Solhi, dkk (2008) yang dilakukan di Ahwaz Iran
tentang pengaruh penyuluhan terhadap penggunaan APD pada 100 pekerja di pabrik
karbon juga menunjukkan hasil yang sama. Setelah

penyuluhan, rata-rata nilai

pengetahuan meningkat dari 59.2 menjadi 84.9. Adapun hasil uji statistik one-way
anova menghasilkan p-value 0.00001. Artinya, pada alpha 5% terdapat pengaruh
penyuluhan yang signifikan terhadap perubahan pengetahuan pekerja di pabrik karbon
tentang APD.
C. Sikap Petani Paprika
Notoadmodjo (2007) mengemukakan bahwa sikap (attitude) merupakan reaksi
atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau obyek. Dalam
penelitian ini, sikap petani paprika yang menjadi objek pengukuran mencakup reaksi
atau respon terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terkait penggunaan
APD. Sebagaimana pengukuran pada pengetahuan petani, sikap petani juga diukur
dengan menggunakan kuesioner sebanyak dua kali, yaitu sebelum dan sesudah

79

penyuluhan. Sebelum penyuluhan, 21 petani (66%) memiliki sikap buruk, 10 petani


(31%) memiliki sikap cukup, dan hanya 1 petani (3%) yang memiliki sikap baik.
Setelah penyuluhan, sikap petani menjadi baik 100%.
Berdasarkan jawaban petani pada pretest soal sikap yang dilakukan sebelum
penyuluhan (lampiran 10), diketahui bahwa 30 petani (94%) setuju dengan pernyataan
bahwa pestisida mengandung bahan yang dapat membahayakan keselamatan dan
kesehatan petani. Artinya, sebagian besar petani sudah bersikap dengan baik terkait
potensi bahaya pestisida. Namun, terdapat 20 petani (63%) menunjukkan sikap yang
salah karena memberikan jawaban setuju pada pernyataan bahwa petani yang
berpengalaman tidak perlu menggunakan APD. Sikap yang salah juga ditunjukkan
oleh 16 petani (56%) yang setuju bahwa pestisida tidak dapat masuk ke tubuh manusia
melalui kulit. Hal ini menunjukkan bahwa petani tersebut belum memahami dengan
baik jalur masuk pestisida ke dalam tubuh manusia. Selain itu, sikap yang salah juga
ditunjukkan oleh 29 petani (91%) yang menyatakan setuju bahwa masker dari kain
sudah cukup melindungi petani dari bahaya pestisida. Petani tersebut masih belum
memahami bahwa masker dari kain tidak efektif menyaring zat kimia pestisida yang
berbahaya.
Sikap petani yang kurang baik terkait K3 dapat disebabkan oleh berbagai
faktor. Selain faktor umur dan pendidikan, sikap juga berhubungan dengan tingkat
pengetahuan petani itu sendiri. Menurut Notoadmodjo (2007), semakin baik tingkat
pengetahuan maka akan semakin baik sikap. Berdasarkan hasil yang diperoleh,
pengetahuan petani paprika di Desa Kumbo terkait K3 masih tergolong kurang.

80

Setelah penyuluhan, dapat diketahui adanya peningkatan skor sikap petani


paprika. Berdasarkan analisis dengan menggunakan uji wilcoxon, dihasilkan P-value
sebesar 0,000. Artinya, pada alpha 5% terdapat pengaruh penyuluhan yang bermakna
(signifikan) terhadap perbaikan sikap petani terkait Alat Pelindung Diri (APD) dari
bahaya pestisida.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Bernadetta (2011) yang
menunjukkan adanya perbaikan sikap petani jeruk dalam menyemprot pestisida.
Sikap petani jeruk sebelum diberikan penyuluhan memiliki sikap baik 85% dan sikap
sedang 15%. Setelah mendapat penyuluhan sikap petani jeruk menjadi baik 100%.
Adapun secara statistik, penelitian Bernadetta tersebut menggunakan uji Tberpasangan dengan hasil p-value sebesar 0,000. Artinya, pada alpha 5% terdapat
pengaruh penyuluhan yang bermakna terhadap perubahan pengetahuan petani jeruk
dalam menyemprot pestisda.
Selanjutnya penelitian Solhi, dkk (2008) yang dilakukan di Ahwaz Iran
tentang pengaruh penyuluhan terhadap penggunaan APD pada 100 pekerja di pabrik
karbon juga menunjukkan hasil yang sama. Setelah penyuluhan, rata-rata nilai sikap
meningkat dari 37.6 menjadi 66.3. Adapun hasil uji statistik one-way anova
menghasilkan p-value 0.00001. Artinya, pada alpha 5% terdapat pengaruh penyuluhan
yang signifikan terhadap perubahan sikap pekerja di pabrik karbon tentang APD.

81

D. Tindakan Petani Paprika


Dalam penelitian ini, tindakan petani paprika diobservasi sebanyak dua kali,
yaitu sebelum penyuluhan dan setelah penyuluhan. Adapun APD yang menjadi objek
observasi meliputi pakaian panjang, masker, penutup kepala, kacamata, sarung tangan
dan sepatu boot.
Sebelum penyuluhan, petani yang memakai pakaian panjang berjumlah 22
orang (68%), petani yang menggunakan masker berjumlah 16 orang (50%), petani
yang menggunakan penutup kepala dan sarung tangan berjumlah 6 orang (18 %) dan
tidak ditemukan petani yang menggunakan kacamata maupun sepatu boot. Hal ini
menunjukkan bahwa petani paprika di Desa Kumbo belum menerapkan budaya K3
dengan baik.
Petani paprika di Desa Kumbo mengaku tidak pernah mendapat informasi
tentang K3 baik dari media masa maupun penyuluhan. Hampir semua petani paprika
masih asing dengan istilah K3. Hal ini sejalan dengan Novizan (2003) yang
mengatakan bahwa kegiatan penyuluhan pertanian yang sampai pada petani kurang
memperhatikan aspek K3 karena hanya memberikan pengetahuan tentang cara
pemakaian dan manfaat pestisida untuk meningkatkat hasil panen.

82

Gambar 5.1
Observasi Tindakan Petani Paprika Sebelum Penyuluhan
Selama observasi, tidak ditemukan petani yang menggunakan pakaian dari
bahan yang tidak tembus air. Semua petani menggunakan pakaian yang terbuat dari
kain. Pada saat observasi di greenhouse S-1 dan greenhouse T-22, peneliti
menemukan pakaian berupa jas hujan yang terbuat dari plastik. Namun, pakaian
tersebut tidak digunakan karena faktor kenyamanan. Selanjutnya, peneliti juga tidak
menemukan petani yang menggunakan masker dengan penyaring khusus (filter).
Masker yang digunakan adalah masker dari bahan kain seperti masker yang
diperuntukkan bagi pengendara sepeda motor. Selain itu, ditemukan juga petani yang
menggunakan kaos dan slayer sebagai masker.

83

Berdasarkan standar OSHA, sarung tangan yang sesuai untuk melindungi


pengguna pestisida adalah Gloves yang terbuat dari karet (latex, nitrile atau butyl),
plastik atau material lainnya yang tahan terhadap zat kimia pestisida. Sarung tangan
ini akan melindungi petani dari paparan pestisida terutama pada saat pencampuran.
Hasil observasi menunjukkan bahwa sarung tangan yang digunakan petani juga masih
terbuat dari kain. Terkait hal ini, peneliti menemukan masalah kesehatan yang
meninmpa petani di greenhouse S-12. Petani tersebut mengalami penyakit kulit pada
jari-jari dan telapak tangan.

Gambar 5.2
Petani yang Mengalami Penyakit Kulit Akibat Pestisida
Setelah penyuluhan, petani yang memakai pakaian panjang berjumlah 28
orang (88%), petani yang menggunakan masker berjumlah 32 orang (94%), petani
yang menggunakan penutup kepala berjumlah 18 (56%), petani yang menggunakan
kacamata berjumlah 4 orang (12%), petani yang menggunakan sarung tangan
berjumlah 23 orang (72 %), dan petani yang menggunakan sepatu boot berjumlah 12
orang (38%). Dari hasil tersebut, dapat diketahui adanya peningkatan jumlah petani
yang menggukanan APD (grafik 4.1).

84

Gambar 5.3
Observasi Tindakan Petani Paprika Setelah Penyuluhan
Walaupun terjadi peningkatan jumlah petani yang menggukanan APD, namun
tidak semua APD yang digunakan telah memenuhi standar aman. Sebagian besar
masker dan sarung tangan yang digunakan masih terbuat dari kain. Hanya 2 petani
yang menggunakan masker dengan penyaring khusus. Hal ini dapat terjadi karena
beberapa faktor seperti ketersediaan APD, kenyamanan, motivasi, dan keadaan
ekonomi petani. Untuk penggunaan sepatu boot, beberapa petani mengaku keberatan
karena khawatir lantai greenhouse yang terbuat dari plastik akan sobek atau rusak.
Sehingga sebagian besar petani masih menggunakan sandal. Namun demikian, tidak
ditemukan lagi petani yang tidak memakai alas kaki seperti pada saat sebelum
penyuluhan.

85

E. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Petani


Paprika Terkait Alat Pelindung Diri (APD) dari Bahaya Pestisida
Salah satu strategi untuk memperoleh perubahan perilaku menurut WHO yang
dikutip oleh Notoadmodjo (2003) adalah dengan pemberian informasi untuk
meningkatkan pengetahuan sehingga menimbulkan kesadaran dan pada akhirnya
seseorang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuannya tersebut. Salah satu upaya
pemberian informasi yang dapat dilakukan adalah dengan penyuluhan. Sedangkan
dalam aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), George (1998) yang dikutip
dalam Helliyanti (2009), menyatakan bahwa penyuluhan K3 adalah bentuk usaha yang
dilakukan untuk mendorong dan menguatkan kesadaran dan perilaku pekerja tentang
K3 sehinggga dapat melindungi pekerja, properti, dan lingkungan.
Dalam tempo setelah penyuluhan hingga dilakukan posttest, petani bisa saja
mendapat paparan informasi dari sumber lain yang juga dapat berpengaruh terhadap
pengetahuan, sikap dan tindakan petani. Hal ini memang sulit dikontrol mengingat
media pada saat ini memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Untuk itu,
penelliti berusaha meminimalisir hal tersebut dengan cara mengadakan posttest pada
tempo yang relatif pendek yaitu satu minggu setelah penyuluhan.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa tidak ada petani yang memperoleh
informasi terkait K3 maupun APD dari sumber lain. Beberapa petani berpendapat
bahwa informasi tentang K3 jarang dimuat di media masa seperti televisi dan radio.
Bahkan sebagian besar petani mengaku belum pernah mendapat penyuluhan tentang
K3. Hal ini dapat terjadi karena profesi petani pada umumnya termasuk pada usaha
informal yang tidak berbadan hukum. Sehingga tidak ada kontrol khusus terkait sistem

86

keamanan kerja (job security system) seperti yang diterapkan pada perusahaan formal
pada umumnya.
Penyuluhan terkait APD yang dilakukan peneliti kepada petani paprika
merupakan salah satu bentuk penyaluran informasi. Peneliti menggunakan dua metode
penyuluhan yaitu metode satu arah dan metode dua arah. Metode satu arah dilakukan
dengan presentasi slide dan pemutaran film pendek. Sedangkan metode dua arah
dilakukan dengan diskusi dan tanya jawab. Dengan penyuluhan ini, peneliti berasumsi
bahwa informasi yang diberikan dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap
perilaku petani yang kemudian diukur dengan melihat perubahan pengetahuan, sikap
dan tindakan petani tersebut.
Pada saat sesi diskusi dan tanya jawab, banyak petani yang khawatir tentang
kondisi kesehatannya, terutama petani yang baru menyadari adanya dampak negatif
pestisida yang bersifat jangka panjang. Selain itu, banyak petani yang mulai
memperhatikan dampak negatif pestisida terlebih setelah melihat film tentang petani
yang mengalami gangguan kesehatan akibat pestisida.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui adanya peningkatan skor pengetahuan
dan sikap antara sebelum dan setelah penyuluhan. Hal ini menunjukkan adanya
pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan dan sikap. Adapun secara statistik (uji
wilcoxon), dihasilkan P-value sebesar 0,000. Artinya, pada alpha 5% terdapat
pengaruh penyuluhan yang bermakna terhadap pengetahuan dan sikap petani terkait
Alat Pelindung Diri (APD) dari bahaya pestisida. Pengaruh penyuluhan ini juga terjadi
pada aspek tindakan petani terkait penggunaan APD. Setelah penyuluhan, terjadi

87

peningkatan jumlah petani yang menggunakan APD walaupun tidak semua APD yang
digunakan telah memenuhi standar aman.
Lucie (2005) menjelaskan bahwa penyuluhan sebagai proses perubahan
perilaku tidak mudah. Dalam proses perubahan perilaku, sasaran diharapkan untuk
berubah bukan semata-mata karena penambahan pengetahuan saja. Namun,
diharapkan juga adanya perubahan pada keterampilan sekaligus sikap mantap yang
menjurus kepada tindakan atau kerja yang lebih baik, produktif, dan menguntungkan.
Lebih lanjut Notoatmojo (2007) menjelaskan bahwa suatu sikap belum tentu
mewujudkan suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi
tindakan diperlukan faktor pendukung (support) atau suatu kondisi yang
memungkinkan seperti adanya fasilitas dan dukungan dari berbagai pihak.

BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
1. Terdapat perbedaan pengetahuan, sikap dan tindakan petani paprika terkait Alat
Pelindung Diri (APD) dari bahaya pestisida antara sebelum dan setelah dilakukan
penyuluhan terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dari bahaya pestisida.
2. Terdapat perubahan yang signifikan pada pengetahuan dan sikap petani dimana
terjadi peningkatan skor pengetahuan dan sikap petani setelah mendapat
penyuluhan terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dari bahaya pestisida.
3. Terdapat perubahan pada tindakan petani dimana terjadi peningkatan jumlah
petani yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).
B. Saran
1. Bagi Petani
a. Agar lebih giat dalam menambah pengetahuan tentang Keselamata dan
Kesehatan Kerja (K3)
b. Agar lebih berhati-hati terhadap bahaya pestisida
c. Agar pemilik greenhouse menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) untuk
pekerja yang menggunakan pestisida.
d. Agar lebih disiplin dalam menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)

88

89

2. Bagi Pemerintah
a. Mengadakan program promosi terkait Kelematan dan Kesehatan Kerja (K3)
pada petani pengguna pestisida
b. Memperluas sasaran program indonesia berbudaya K3 2015 yaitu tidak hanya
pada pekerja formal di industri besar atau berbadan hukum, namun juga pada
setiap pekerja baik formal maupun informal yang berhadapan dengan hazard
di lingkungan kerja.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
a. Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan tentang pengaruh penyuluhan
terhadap perilaku petani terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dari
bahaya pestisida.
b. Disarankan untuk melakukan penelitian komparatif untuk mendapatkan
metode penyuluhan yang paling efektif dalam aspek perubahan perilaku petani
terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dari bahaya pestisida.

DAFTAR PUSTAKA
Adiyoga dan Soetiarso. 1999. Strategi Petani dalam Pengelolaan Resiko pada Usahatani
Cabai. J. Hort. 8 (4):1299-1311, 1999.
Afriyanto. 2008. Kajian Keracunan Pestisida Pada Petani Penyemprot cabe di Desa
Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten semarang. Tesis Pasca Sarjana
Universitas Dipenogoro Semarang.
Anonim, 2011. Pedoman Pembinaan Penggunaan Pestisida. Direktorat Jenderal
Prasarana dan Sarana Pertanian - Direktorat Pupuk dan Pestisida. Kementrian
Pertanian
Anonim, Sepuluh Buah dan Sayur yang Mengandung Kadar Pestisida Tinggi artikel
diakses

pada

tanggal

11

Desember

2012

dari

http://www.infospesial.net/lifestyle/10-buah-sayur-mengandung-kadarpestisida-tinggi/
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, Saifuddin. 2005. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Bernadetta. 2011. Pengaruh Penyuluhan Pestisida Terhadap Pengetahuan dan Sikap
Petani Jeruk dalam Menyemprot Pestisida Di Desa Serdang Kecamatan
Barusjahe Kabupaten Karo Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Universitas Sumatera Utara Medan.
Budiono, A.M. Sugeng. 2003,. Bunga Rampai Hiperkes dan KK. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Dahlan, Sopiyudin M. 2008. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba
Medika.
Depkes RI, 2003. Pedoman Pengamanan Penggunaan Pestisida Khusus untuk Petani dan
Operator Pestisida. Jakarta: Ditjen PPM & PLP.
Djojosumarto, Panut. 2004. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Yogyakarta: Kanisius.

Helliyanti, Putri. 2009. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Tidak Aman
di Departemen Utility And Operation, PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk Divisi
Bogasari Flours Mills Tahun 2009. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Universitas Indonesia - Depok.
Lucie, S. 2005. Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Bogor. Ghalia
Indonesia.
Lu F.C., 1995. Toksikologi Dasar. Ed. 2. Jakarta: UI-Press.
Machfoedz, Ircham dan Suryani, eko. 2007. Pendidikan Kesehatan dan Promosi
Kesehatan. Yogyakarta: Fitramaya
Mangkunegara. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung : PT.
Remaja Rosda Karya.
Meliala, arihta. 2005. Karakteristik dan Hygiene Perorangan Petani Hortikultura Serta
Keluhan Kesehatan Dalam Penggunaan Pestisida di Desa Gurukihayan
Kecamatan Payung Kabupaten Karo Tahun 2005. Skripsi Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan
Munaf, S. 1997. Keracunan Akut Pestisida Teknik Diagnosis, PertolonganPertama
Pengobatan dan Pencegahannya. Jakarta: Widya Medika.
Muninjaya. 2004. Manajemen Kesehatan. Jakarta : EGC.
Nedved, Milos. 1991. Dasar-dasar Keselamatan Kerja Biokimia dan Pengendalian
Bahaya Besar. Editor Soemanto Imam Hanafi. Jakarta: ILO
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Promosi kesehatan teori dan Aplikasi. Jakarta : Rineka
Cipta
__________________. 2007. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.
__________________. 2010. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Novizan, 2003. Petunjuk Pemakaian Pestisida. Jakarta: Agro Media Pustaka
Occupational Safety and Health Administration (OSHA). 2003. Personal Protective
Equipment. Artikel diakses pada tanggal 11 Desember 2012 dari www.osha.gov
Palupi M, Monika. 2013. Alat-alat Pengujian Hipotesis. Semarang : Unika
Soegijapranata.

Quijano, R. dan Sarojeni V Rengam. 1999. Awas! Pestisida Berbahaya Bagi Kesehatan.
Solo: Duta Alam.
Santoso, G. 2004. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Prestasi
Pustaka.
Soehatman, Ramli. 2010. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (OHSAS
18001), Seri Manajemen K3. Jakarta: Dian Rakyat.
Solhi, Mahnaz. 2013.The Effect of Health Education on the Use of Personal Respiratory
Protective Equipments based on BASNEF Model among Workers of Block
Carbon Factory in Ahwaz. International Journal of Applied Science and
Technology, vol.3. No.3. Maret.
Suardi, R. 2005. Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Jakarta: Penerbit
PPM.
Sumamur PK. 1996. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: CV. Haji Mas
Agung
Sumardjo. 1999. Transformasi Model Penyuluhan Pertanian Menuju Pengem-bangan
Kemandirian Petani: Kasus di Propinsi Jawa Barat. Disertasi Doktor. Bogor:
Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta:EGC.
Suryabrata, Sumadi. 2010. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Suwarni, Agus, 1998. Tingkat Keracunan, Faktor Risiko dan Kerugian Ekonomi Akibat
Penggunaan Pestisida Bagi Petni Bawang Merah dan Cabe di Kabupaten
Brebes. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja (Jawa Tengah,Vol. XXXI No.
2).
Thundiyil, Josef G, Dkk., 2013. Acute pesticide poisoning: a proposed classification
tool.

Artikel

diakses

pada

tanggal

13

Agustus

2013

dari

http://www.who.int/entity/bulletin/volumes/en/
Wudianto, Rini. 2005. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Edisi Revisi. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Yusuf, Syamsu LN. (2000). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:
Remaja Rosdakarya.

Lampiran

PEDOMAN WAWANCARA
KETERANGAN UMUM PETANI PAPRIKA PENGGUNA PESTISIDA
DI DESA KUMBO - PASURUAN

No.

: .........

Nama

: .......................................................................................................

Umur

: ......... Tahun

Jenis Kelamin

: L/P

Pendidikan Terakhir : SD/ SMP/ SMA / PT / Lain-lain : .................................................

A. Keterangan Umum Penggunaan Pestisida


1. Sudah berapa lama Bapak menggunakan pestisda? ................................................
2. Dalam seminggu, berapa kali Bapak menggunakan pestisida? ......................... kali
3. Berapa lama durasi penyemprotan pestisida dalam setiap penggunaanya? ...... Jam

Lampiran

2
KUISIONER PENGETAHUAN DAN SIKAP PETANI PAPRIKA
TERKAIT PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD)
DARI BAHAYA PESTISIDA

No. Responden

: ......................

Umur

: ......... Tahun

Jenis Kelamin

: L/P

Pendidikan Terakhir : SD/ SMP/ SMA / PT / Lain-lain : .................................................

A. PENGETAHUAN
1. Menurut anda, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah :
a. Ilmu untuk mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja
b. Ilmu untuk manangani kecelakaan dan mengobati penyakit akibat kerja
c. Upaya perlindungan agar tenaga kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat
d. Upaya penanganan dan pengobatan terhadap pekerja yang mengalami kecelakaan atau
penyakit akibat kerja
2. Berikut ini yang tidak termasuk tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah :
a. Agar setiap tenaga kerja mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja
b. Agar setiap peralatan kerja digunakan secara baik dan selektif
c. Agar setiap tenaga kerja merasa aman dan terlindungi
d. Agar pekerja mendapat pengobatan terhadap penyakit akibat kerja
3. Menurut anda, apakah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) perlu diterapkan pada
budidaya paprika yang menggunakan pestisida ?
a. Perlu, agar pekerja dapat menggunakan pestisida dengan cara yang aman
b. Tidak perlu, karena pestisida dapat digunakan dengan mudah
c. Perlu, agar pekerja mendapat pengobatan terhadap penyakit akibat kerja
d. Tidak perlu, karena pestisida tidak berbahaya bagi keselamatan dan kesehatan pekerja
4. Berikut ini yang merupakan dampak pestisida terhadap kesehatan adalah :
a. Keracunan dan Iritasi pada kulit
b. Kanker (tumor ganas)
c. Gangguan saraf
d. Semua benar (jawaban a,b, dan c)

Lampiran

5. Pestisida dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui jalur sebagai berikut:
a. Jalur pernafasan (terhirup) dan jalur pencernaan (tertelan atau terminum)
b. Jalur kulit dan jalur pencernaan (tertelan/ terminum)
c. Jalur pernafasan (terhirup) dan jalur kulit
d. Jalur kulit, jalur pernafasan (terhirup), dan jalur pencernaan (tertelan atau terminum)
6. Hal-hal berikut yang mempengaruhi tingkat keracunan pestisida adalah :
a. Dosis, Jalur masuk pestisida, pencahayaan lingkungan kerja
b. Dosis, lama kerja, jalur masuk pestisida
c. Dosis, suhu lingkungan kerja, toksisitas
d. Suhu lingkungan kerja, jalur masuk pestisida, lama kerja
7. Tubuh petani akan kebal terhadap dampak buruk pestisida, jika:
a. Telah terbiasa menggunakan pestisida
b. Telah lama menggunakan pestisida
c. Sering terkena pestisida
d. Tubuh petani tidak dapat kebal terhadap pestisida
8. Manakah Alat Pelindung Diri (APD) yang harus digunakan bagi pekerja saat
menggunakan pestisida?
a. Masker, Kaca mata, sarung tangan
b. Sepatu Boot, Pelindung Kepala
c. Pakaian panjang tidak tembus air
d. Semua di perlukan (jawaban a, b, dan c)
9. Berikut ini yang bukan merupakan syarat Alat Pelindung Diri (APD) yang baik adalah:
a. Nyaman diapakai, tidak mengganggu atau menyulitkan gerak pekerja
b. Memiliki nilai seni yang dapat menambah gaya dan penampilan pekerja
c. Memberikan perlindungan yang tepat terhadap bahaya
d. Desain dan bentuk APD yang teruji dan memenuhi standar
10. Kapankah Alat Pelindung Diri (APD) digunakan?
a. Saat mencampur, menyemprot, dan membuka bungkus pestisida

b. Saat mencampur pestisida


c. Saat menyemprot pestisida
d. Saat membuka bungkus pestisida

Lampiran

B. SIKAP

NO

PERNYATAAN

Pestisida adalah bahan kimia/ lainnya yang dapat berbahaya


bagi kesehatan dan keselamatan penggunanya.

Zat berbahaya pestisida tidak dapat masuk ke dalam tubuh


manusia melalui kulit. Zat tersebut hanya dapat masuk
memalui pernafasan (terhirup) dan pencernaan (tertelan).

Zat berbahaya pestisida yang telah masuk dalam tubuh dapat


mengendap di organ dalam seperti : hati, paru-paru, dan
ginjal.

Gangguan kesehatan akibat pestisida dapat bersifat kronik


(jangka panjang). Yaitu baru muncul setelah beberapa bulan
bahkan beberapa tahun.

Agar terhindar dari bahaya pestisida, maka Alat Pelindung


Diri (APD) yang harus digunakan terdiri dari : masker,
sarung tangan, pelindung kepala, kacamata, sepatu boot dan
pakaian panjang.

Makser yang terbuat dari kain sudah cukup aman untuk


melindungi petani saat menggunakan pestisida.

Pakaian, sarung tangan, dan pelindung kepala harus terbuat


dari bahan yang tidak tembus air/ pestisida.

Alat Pelindung Diri (APD) tidak diperlukan jika penggunaan


pestisida dilakukan dalam waktu kurang dari 1 jam.

Alat Pelindung Diri (APD) diperlukan pada saat


penyemprotan pestisida dan tidak diperlukan pada saat
pencampuran pestisida.

10

Petani yang telah berpengalaman tidak perlu menggunakan


Alat Pelindung Diri (APD).

SETUJU

TIDAK
SETUJU

Lampiran

Kunci Jawaban Kuesioner

A. Pengetahuan (a, b, c, d)
1. a/ c
2. d
3. a
4. d
5. d
6. b
7. d
8. d
9. b
10. a

B. Sikap (S: Setuju , TS: Tidak Setuju)


1. S
2. TS
3. S
4. S
5. S
6. TS
7. S
8. TS
9. TS
10. TS

PEDOMAN OBSERVASI
PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD)
DALAM PENGGUNAAN PESTISIDA

Objek Observasi

Pakaian panjang

Masker

Penutup atau pelindung kepala

Kacamata/ pelindung mata

Sarung tangan

Sepatu boot

Menggunakan

Tidak menggunakan

Lampiran

TABULASI DATA HASIL WAWANCARA


No.

Nama

Umur
(Thn)

L/P

Pendidikan
Terakhir

A1

A2

A3

1 Huda

29

SMA

2 Yuyuz

27

SMA

3 Alimin

21

SMP

4 Abdul Wahab

24

SD

5 Abdul Fakih

28

SD

6 Ali Murtadha

32

SMA

7 Saiful Bahri

37

PT

13

8 Saifudin Zuhri

29

SMP

9 Tonari

50

SD

10 Yoyok Suhartono

29

SMP

11 Fauzan

34

SD

12 Suratman

36

SD

13 Kaseri

43

SD

14 Kusnadi

41

SD

15 Tirto

29

SMP

16 Nurul

32

SMP

17 Rokhim

27

SMP

18 Rais

34

SD

19 Choirul

27

SMA

20 Khoiron

28

SD

Keterangan :
A1 : Pengalaman menggunakan pestisida (Tahun)
A2 : Frekuensi menggunakan pestidida (per minggu)
A3 : Durasi menggunakan pestisida (jam)

Lampiran

No.

Nama

Umur
(Thn)

L/P

Pendidikan
Terakhir

A1

A2

A3

21 Hufron

46

SMA

22 Ridwan

23

SMP

23 Suprioni

34

SD

24 Didin Hendra P.

25

SMP

25 Zoni

22

SMP

26 Dodik

25

SMA

27 Koswanto

23

SMP

28 Sofyan

20

SMP

29 Hermanto

31

SMA

30 Nurkholik

28

SMA

31 Toyek

26

SD

32 Johan

19

SMP

33 Nuraji

39

SD

Keterangan :
A1 : Pengalaman menggunakan pestisida (Tahun)
A2 : Frekuensi menggunakan pestidida (per minggu)
A3 : Durasi menggunakan pestisida (jam)

Lampiran

TABULASI DATA HASIL OBSERVASI


Objek Observasi
1

Sebelum Penyuluhan
2
3
4
5

0
0
0
1
0
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0
0

1
1
0
0
0
1
1
0
1
1
0
0
0
0
1
0
1
0
0
1

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

1
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Setelah Penyuluhan
2
3
4
5

1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

1
0
1
0
1
0
0
1
0
1
1
0
1
0
0
0
0
1
1
0

0
1
0
1
1
0
1
0
1
1
1
0
1
0
1
0
0
1
1
0

0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0

1
0
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1

Lampiran

Objek Observasi
1

Sebelum Penyuluhan
2
3
4
5

1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
1
22

1
0
1
1
1
0
0
1
0
0
1
1
16

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

No.
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
JML

0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
6

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Keterangan : 1 = Pakaian Panjang


2 = Masker
3 = Penutup Kepala

0
1
0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
6

Setelah Penyuluhan
2
3
4
5

1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
28

0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
30

1
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
12

4 = Kacamata
5 = Sarung tangan
6 = Sepatu Boot

0
1
1
1
0
1
0
1
1
0
1
0
18

0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
4

0
1
0
1
0
1
0
1
1
1
0
1
23

Lampiran

TABULASI JAWABAN KUESIONER ( PRETEST)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

PERTANYAAN
1
d
d
d
b
d
d
a
b
d
d
d
b
b
d
d
d
b
d
d
d

2
b
b
c
b
c
b
b
b
c
b
b
b
b
c
b
b
c
b
b
b

3
c
c
c
a
c
c
a
c
b
c
c
c
a
c
c
c
c
a
a
c

A. PENGETAHUAN
4
5
6
7
a
a
d
b
a
d
c
b
a
a
b
c
d
a
d
b
a
d
d
b
a
d
b
c
d
d
b
d
a
a
a
c
a
d
b
c
a
a
d
c
a
d
d
b
a
a
c
b
a
d
b
c
a
d
c
b
a
a
b
c
d
a
d
b
a
a
d
b
d
d
c
c
d
d
d
d
a
a
b
c

8
a
d
d
d
a
a
d
a
a
a
a
d
d
a
a
d
d
d
a
d

9
b
b
d
b
b
b
b
b
d
c
b
b
b
d
b
d
b
b
b
b

10
a
c
a
a
a
c
a
a
a
a
c
c
a
a
a
a
a
c
a
a

1
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
TS
S
S
S
S
S

2
S
TS
S
TS
TS
TS
S
S
TS
S
TS
S
TS
TS
S
S
S
TS
TS
S

3
S
S
S
S
S
S
S
TS
S
S
S
S
S
S
TS
S
S
TS
S
S

4
S
S
S
S
TS
S
S
TS
S
TS
S
S
S
S
TS
S
S
S
S
S

B. SIKAP
5
6
TS
S
S
S
S
S
S
S
TS
S
TS
S
S
TS
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
S
S
S
S
TS
S
TS
S
S
S
S
S
S
S
TS
S
S
S

7
TS
S
TS
TS
S
S
S
TS
S
S
S
TS
S
TS
S
TS
TS
S
TS
TS

8
S
TS
S
S
S
S
TS
TS
S
S
S
S
S
TS
S
TS
S
S
TS
S

9
S
S
TS
TS
S
S
S
S
S
S
TS
S
S
S
S
S
TS
S
TS
S

10
TS
S
S
TS
S
S
TS
TS
S
S
TS
S
S
S
S
S
TS
TS
TS
S

10

No.
Resp.

PERTANYAAN
1
c
d
d
b
d
b
d
d
a
d
d
b

2
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b

3
c
c
c
c
a
c
c
c
c
a
c
c

A. PENGETAHUAN
4
5
6
7
d
d
b
d
a
a
b
c
a
d
d
c
a
a
b
b
a
a
c
b
a
d
b
c
a
d
c
c
a
a
b
c
d
d
b
d
a
a
d
b
d
a
b
b
a
d
c
c

8
d
d
a
d
a
a
a
d
d
d
d
a

9
b
d
b
d
b
b
b
b
b
b
b
b

10
a
a
c
a
a
c
c
a
a
a
a
a

1
S
S
S
TS
S
S
S
S
S
S
S
S

2
S
S
TS
S
S
TS
TS
S
S
S
S
TS

3
S
S
S
S
TS
S
S
S
S
TS
S
S

4
S
S
S
S
S
TS
TS
S
TS
S
S
TS

B. SIKAP
5
6
S
TS
S
S
TS
S
S
S
TS
S
TS
S
TS
S
S
S
S
TS
S
S
S
S
TS
S

7
S
TS
TS
TS
TS
S
S
TS
S
S
TS
S

8
S
S
S
S
S
S
S
S
TS
S
S
S

9
S
S
S
S
S
S
TS
S
S
S
S
S

10
TS
S
S
S
S
S
TS
S
TS
TS
S
S

11

21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

Lampiran

No.
Resp.

Lampiran

TABULASI JAWABAN KUESIONER (POSTTEST)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

PERTANYAAN
1
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a

2
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d

3
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a

A. PENGETAHUAN
4
5
6
7
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
a
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
d
d
d
d
b
d
d
d
b
b
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
d
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d

8
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d

9
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b

10
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
c
a
a
a
a
a
a
a
a

1
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S

2
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS

3
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S

4
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S

B. SIKAP
5
6
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS

7
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S

8
TS
TS
TS
TS
TS
S
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
S
TS
TS
TS
TS
TS

9
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
S
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS

10
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
S
TS
TS
TS
TS
TS
TS
S
TS
TS
S

12

No.
Resp.

PERTANYAAN
1
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a

2
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d

3
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a
a

A. PENGETAHUAN
4
5
6
7
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
a
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
b
d
d
d
c
d

8
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d
d

9
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b
b

10
a
a
c
a
a
a
a
a
a
a
a
a

1
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S

2
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS

3
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S

4
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S

B. SIKAP
5
6
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS
S
TS

7
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S

8
TS
TS
S
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
S

9
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS

10
TS
TS
TS
TS
S
TS
TS
TS
TS
TS
TS
TS

13

21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

Lampiran

No.
Resp.

Lampiran

14

Uji Valifditas dan Reabilitas Instrumen


A. Kuesioner Pengetahuan
Case Processing Summary
N
Valid
Cases

Excludeda
Total

%
30

100,0

,0

30

100,0

Reliability Statistics
Part 1
Cronbach's Alpha

Part 2

Value

,503

N of Items

5a

Value

,163

N of Items

5b

Total N of Items

10

Correlation Between Forms

,220

Spearman-Brown Coefficient

Equal Length

,361

Unequal Length

,361

Guttman Split-Half Coefficient

,356

a. The items are: P1, P2, P3, P4, P5.


b. The items are: P6, P7, P8, P9, P10.
Item-Total Statistics
Scale Mean if

Scale Variance

Corrected Item-

Cronbach's

Item Deleted

if Item Deleted

Total

Alpha if Item

Correlation

Deleted

P1

3,77

3,151

,353

,387

P2

3,53

2,947

,361

,370

P3

3,70

3,390

,142

,452

P4

3,63

2,930

,406

,357

P5

3,47

3,430

,073

,478

P6

3,53

3,568

,002

,502

P7

3,73

3,168

,309

,398

P8

3,57

3,151

,242

,417

P9

3,20

3,545

,060

,476

P10

3,57

3,564

,007

,499

Lampiran

15

B. Kuesioner Sikap
Case Processing Summary
N
Valid
Cases

Excludeda
Total

%
30

100,0

,0

30

100,0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.
Reliability Statistics
Part 1
Cronbach's Alpha

Part 2

Value

,325

N of Items

5a

Value

,281

N of Items

5b

Total N of Items

10

Correlation Between Forms

-,074c

Spearman-Brown Coefficient

Equal Length

-,160c

Unequal Length

-,138c

Guttman Split-Half Coefficient

-,160

a. The items are: S1, S2, S3, S4, S5.


b. The items are: S6, S7, S8, S9, S10.
Item-Total Statistics
Scale Mean if

Scale Variance

Corrected Item-

Cronbach's

Item Deleted

if Item Deleted

Total

Alpha if Item

Correlation

Deleted

S1

4,07

2,202

,379

,090

S2

4,53

1,913

,272

,047

S3

4,23

2,116

,200

,112

S4

4,33

2,575

-,164

,312

S5

4,47

2,464

-,107

,289

S6

4,73

2,271

,058

,190

S7

4,50

2,466

-,108

,290

S8

4,73

2,064

,221

,096

S9

4,73

2,340

,007

,218

S10

4,67

2,092

,166

,125

Lampiran

16

UJI Normalistas
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova
Statistic

df

Shapiro-Wilk

Sig.

Statistic

df

Sig.

skor pengetahuan pretest

,308

32

,000

,808

32

,000

skor pengetahuan posttest

,470

32

,000

,541

32

,000

skor sikap pretest

,172

32

,017

,946

32

,111

skor sikap posttest

,450

32

,000

,565

32

,000

Descriptives
Statistic
Mean

35,94

95% Confidence Interval for

Lower Bound

28,97

Mean

Upper Bound

42,90

5% Trimmed Mean

34,38

Median

30,00

Variance
skor pengetahuan pretest

3,415

373,286

Std. Deviation

19,321

Minimum

10

Maximum

90

Range

80

Interquartile Range

20

Skewness

1,480

,414

Kurtosis

1,692

,809

Mean

97,50

,898

95% Confidence Interval for

Lower Bound

95,67

Mean

Upper Bound

99,33

5% Trimmed Mean

skor pengetahuan posttest

Std. Error

98,13

Median

100,00

Variance

25,806

Std. Deviation

5,080

Minimum

80

Maximum

100

Range
Interquartile Range
Skewness
Kurtosis

20
0
-1,969

,414

3,374

,809

Lampiran

17

Descriptives
Statistic
Mean

35,94

95% Confidence Interval for

Lower Bound

28,97

Mean

Upper Bound

42,90

5% Trimmed Mean

34,38

Median

30,00

Variance
skor pengetahuan pretest

3,415

373,286

Std. Deviation

19,321

Minimum

10

Maximum

90

Range

80

Interquartile Range

20

Skewness

1,480

,414

Kurtosis

1,692

,809

Mean

97,50

,898

95% Confidence Interval for

Lower Bound

95,67

Mean

Upper Bound

99,33

5% Trimmed Mean

skor pengetahuan posttest

Std. Error

98,13

Median

100,00

Variance

25,806

Std. Deviation

5,080

Minimum

80

Maximum

100

Range

20

Interquartile Range

Skewness

-1,969

,414

3,374

,809

Kurtosis

Uji Wilcoxon
Test Statisticsa
skor pengetahuan posttest -

skor sikap posttest -

skor pengetahuan pretest

skor sikap pretest

Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Wilcoxon Signed Ranks Test

-4,970b

-4,963b

,000

,000

b. Based on negative ranks