Anda di halaman 1dari 16

PENYADAPAN TANAMAN KARET

Penyadapan merupakan suatu tinndakan pembukaan pembuluh lateks, agar lateks yang terdapat
didalam tanaman karet luar. Cara penyadapan yang telah dikenal luas adalah dengan mengiris
sebagian dari kulit batang. Sistem penyadapan diharahpkan mampu menghasilkan lateks yang
banyak, biayanya rendah, dan tidak mengganggu kesinambungan produksi tanaman. Oleh
karena itu pelaksanaan penyadapan harus mengikuti aturan atau norma yang benar.
A. Penentuan Matang Sadap
Matang sadapTanaman karet akan siap apabila sudah matang sadap pohon, artinya tanaman
karet telah sanggup disadap untuk dapat diambil lateksnya tanpa menyebabkan gangguan yang
berarti terhadap pertumbuhan dan kesehatannya. Kesanggupan tanaman untuk disadap dapat
ditentukan berdasarkan lilit batang pada umur tanaman .
1. Umur Tanaman.
Dalam keadaan pertumbuhan normal, tanaman karet akan siap disadap pada umur 5 6 tahun.
Namun demikian seringkali dijumpai tanaman belum siap disadap walau umurnya sudah lebih
dari 6 tahun. Hal ini terjadi akibat kondisi lingkungan dan pemeliharaan yang kurang mendukung
pertumbuhan tanaman. Sebenarnya Penyadapan karet dapat dilakukan pada usia kurang dari 5
tahun dengan syarat kondisi lingkungan dan pemeliharaan dilakukan dengan sangat baik
sehingga pertumbuhan tanaman akan lebih cepat. Artinya umur tanaman karet tidak dapat
digunakan sebagai pedoman untuk menetapkan matang sadap dan hanya dapat digunakan
sebagai pedoman untuk pengukuran lilit batang .
2 Pengukuran lilit batang
Lilit batang telah disepakati sebagai pedoman untuk mengetahui pertumbuhan tanaman karet,
karena hasil tanaman karet berupa lateks diperoleh dari batangnya(kulit batang). Tanaman karet
dikatakan matang sadap apabila lilit batang sudah mencapai 45 cm atau lebih. Pengukuran lilit
batang untuk menentukan matang sadap mulai dilakukan pada waktu tanaman berumur 4 tahun.
Lilit batang diukur pada ketinggian batang 100 cm dari pertautan mata okulasi.
3. Matang Sadap Kebun
Penyadapan dapat dimulai setelah kebun karet memenuhi kriteria matang sadap kebun. Kebun
dikatakan matang sadap kebun apabila jumlah tanaman yang sudah matang sadap pohon sudah
mencapi 60% atau lebih. Pada kebun yang terpelihara dengan baik, jumlah tanaman yang
matang sadap pohon biasanya telah mencapai 60-70% pada umur 4-5 tahun.
B. Persiapan Pembukaan Bidang Sadap
Sebelum melakukan pembukaan bidang sadap dilakukan Penggambaran bidang sadap pada
kebun yang sudah mencapai matang sadap. Kriteria yang ditetapkan dalam penggambaran
bidang sadap terdiri dari tinggi bukaan sadap, arah dan sudut kemiringan irisan sadap, panjang
irisan sadap, dan letak bidang sadap .
1. Tinggi bukaan sadap adalah 130 cm diatas pertautan okulasi. Ketinggian ini berbeda dengan
ketinggian pengukuran lilit batang untuk penentuan matang sadap.
2. Arah dan sudut kemiringan irisan sadap diharapkan dapat memotong pembuluh lateks
sebanyak mungkin agar lateks yang keluar maksimal. Posisi pembuluh lateks pada umumnya
tidak sejajar dengan batang tanaman tetapi agak miring dari kanan atas kekiri bawah membentuk
sudut 3,7 derajat dengan bidang tegak. Agar pembuluh yang terpotong maksimal jumlahnya, arah

irisan sadap harus dari kiri atas kekanan bawah tegak lurus terhadap pembulu lateks. Sudut
kemiringan irisan sadap berpengaruh terhadap produksi. Sudut kemiringan yang paling baik
berkisar antar 30 40 derajat terhadap bidang datar untuk bidang sadap bawah dan 45 derajat
pada bidang sadap atas. Sudut kemiringan sadap juga berpengarug pada aliran lateks kearah
mangkuk sadap. Sudut kemiringan yang terlalu datar dapat menyimpang dari alur aliran lateks,
selain itu
dapat menyebabkan aliran lateks menjadi lambat dan sering membeku sebelum sampai
kemangkuk.
3. Panjang irisan sadap sangat berpengaruh terhadap produksi dan pertumbuhan tanaman.
Panjang irisan sadap yang dianjurkan untuk karet rakyat adalah S ( irisan miring sepanjang
spiral )
4. Penentuan letak bidang sadap perlu dilakukan agar pelaksanaan penyadapn cepat dan mudah
dikontrol. Oleh karena itu bidang sadap harus diletakkan pada arah yang sama dengan arah
pergerakan penyadap waktu menyadap. Jadi bidang sadap diletakkan pada arah timur-barat
( pada jarak antar tanaman yang pendek )
5. Pemasangan talang sadap dilakukan bertujuan supaya tidak mengganggu pelaksanaan
penyadapan sehingga lateks dapt mengalir dengan baik dan tidak terlalu banyak meninggalkan
getah bekuan pada batang,. Talang sadap baiknya dibuat dari seng dengan lebar 2,5 cm dan
panjang +/- 8 cm dipasang pada jarak 5-10cm dari ujung irisan bagian bawah.. Pemasangan
mangkuk sadap dilakukan pada jarak 15 cm 20 cm dibawah talang sadap hal ini dilakukan agar
lateks dapat mengalir sampai ke mangkuk dengan baik, mangkuk pada umumnya terbuat dari
tanah liat, plastik, alumunium, atau batok kelapa yang diikat dengan menggunakan kawat
C. Pelaksanaan Penyadapan
1. Kedalaman Irisan Sadap
Pembuluh lateks dalam kulit batang tersusun berupa barisan dan terdapat pada bagian luar
sampai bagian dalam kulit, semakin kedalam jumlah pembuluh kateks semakin banyak.
Penyadapan diharapkan dapat dilakukan selama 25 30 tahun karena itu diusahakan pulit
pulihan dapat terbentuk dengan baik oleh karena itu kerusakan saat penyadapan harus dihindari.
Kedalaman irisan sadap yang dianjurkan adalah 1 mm 1,5 mm agar pohon dapat disadap 25
30 tahun.
2. Ketebalan irisan sadap
Lateks akan mengalir dengan cepat pada awalnya, dan semakin lama akhirnya akan semakin
lambat hingga akhirnya terhenti sama sekali. Hal ini disebabkan tersumbatnya ujung pembuluh
lateks dengan gumpalan lateks. Sumbatan berupa lapisan yang sangat tipis. Lateks akan
mengalir bila sumbatan dibuang dengan cara mengiris kulit pada hari sadap berikutnya dengan
ketebalan 1,5 mm 2 mm setiap penyadapan .
3. Frekuensi penyadapan adalah jumlah penyadapan yang dilakukan dalam jangka waktu
tertentu. Penentuan frekuensi penyadapan sangat erat kaitannya dengan panjang irisan dan
intensitas penyadapan. Dengan panjang irisan spiral (1/2 S) , frekuensi penyadapan yang
dianjurkan untuk karet rakyat adalah satu kali dalam 3 hari (d/3) untuk 2 tahun pertama
penyadapan, dan kemudian diubah menjadi satu kali dalam dalam 2 hari (d/2) untuk tahun
selanjutnya. Menjelang peremajaan tanaman, panjang irisan dan frekuensi penyadapan dapat
dilakukan secara bebas .
4. Waktu penyadapan

Jumlah lateks yang keluar kecepatan alirannya dipengaruhi oleh tekanan turgor sel. Tekanan
turgor mencapai maksimum pada saat menjelang fajar, dan akan menurun bila hari semakin
siang. Oleh karena itu penyadapan sebaiknya dilakukan sepagi mungkin setelah penyadap dapat
melihat tanaman dengan jelas, yaitu jam 05.00 07.00 .
D. Sistem Eksploitasi
Kemampuan tanaman dalam menghasilkan lateks berubah yang dipengaruhi oleh umur tanaman.
Oleh karena itu aturan penyadapannya juga harus disesuaikan dalam suatu sistem sadap yakni
aturan-aturan yang dilakukan pada suatu periode. Beberapa sistem sadap yang dirangkai dan
dilakukan secara berurutan sepanjang siklus produksi tanaman dinamakan sistem eksploitasi.
Sistem ekploitasi yang dianjurkan untuk karet rakyat adalah sistem eksploitasi konvensional.
No Sistem Sadap Jangka Waktu
0(I) Kulit Perawan
1(II)Kulit Perawan
2(II)Kulit Perawan
3(II) Kulit Perawan
4(III)Kulit Pulihan Pertama
5(III)Kulit Pulihan Pertama
6a(IV)Kulit Pulihan Pertama
6b(IV) kulit Pulihan Pertama
7-8(V) Kulit Pulihan Kedua TBM
s d/3
s d/2
s d/2
s d/2
s d/2
s d/2
s d/2
Bebas
5 Tahun
2 Tahun
3 Tahun
4 Tahun
4 Tahun
4 Tahun
2 Tahun
2 Tahun
4 Tahun
Ket : 1.TBM (Tanaman Belum Menghasilkan)2. : sadapan atas

TEKNIK PENYADAPAN KARET


Pengertian Penyadapan
Tanaman karet merupakan tanaman yang menghasilkan getah. Tanaman ini dipanen dengan
cara disadap, yaitu menyayat atau mengiris kulit batang dengan cara tertentu, dengan maksud
untuk memperoleh lateks atau getah.kulit batang yang disadap adalah modal utama
berproduksinya tanaman karet. Kesalahan dalam penyadapan akan membawa akibat yang
sangat merugikan baik bagi pohon itu sendiri maupun bagi produksinya.
Kesalahan dalam penyadapan, seperti pemborosan pemakaian kulit dan kerusakan kulit dan lainlain akan berdampak pada pemendekan umur ekonomis tanaman, penurunan produksi sehingga
mengakibatkan kerugian perusahaan. Syarat-syarat penyadapan yang baik :
1. Dapat memberikan hasil karet kering yang tinggi baik per pohon maupun per hektar
2. Hemat dalam penggunaan kulit
3. Mudah dilaksanakan dan efisien tenaga serta biaya
4. Mempertimbangkan kesehatan tanaman dan stabilitas produktivitas dalam jangka panjang
Komposisi umur tanaman menghasilkan karet yang standart (25 tahun sadap) dengan sifat
produksinya sebagai berikut :
Table 4.1 Komposisi Umur TM Dengan Sifat Produksinya
Umur Tanaman (tahun)
Kelas
Standart Luas (%)
Sifat Produksi
6 - 12 tahun
Taruna
23
Belum potensi
13 - 18 tahun
Muda
20
Potensial
19 - 23 tahun
Dewasa
17
Sangat potensial
24 - 27 tahun
Tua

13
Kurang potensial
27 tahun
Tua renta
10
Tidak potensial
Sumber : Pedoman Budidaya Pengelolaan Karet (1997)
Table 4.2 Tipe Produksi Tanaman Karet
Tipe
Puncak Produksi (kg/ha/tahun)
Total 1 Siklus (kg/ha/25 th)
Tinggi
2.500
40.000
Sedang
1.800
31.000
Rendah
1.500
27.000
Sumber : Pedoman Budidaya Pengelolaan Karet (1997)
4.2 Strategi Eksploitasi Karet
a. Dalam keadaan harga karet rendah dan upah penyadap tinggi maka sistem eksploitasi yang
menghasilkan produksi tinggi per penyadap adalah yang paling ekonomis
b. Dalam keadaan harga karet tinggi, maka sistem eksploitasi yang menghasilkan produksi per
hektar paling tinggi meskipun mangakibatkan naiknya biaya penyadapan pada batas tertentu,
adalah yang paling menguntungkan.
4.3 Macam Sadapan
Berdasarkan cara dan arah penyadapan, maka sadapan karet dibedakan menjadi 5 macam, yaitu
:
a. Sadap tusuk (Puncture Tapping)
b. Sadap ke arah bawah (Down Ward Tapping)
c. Sadap ke arah atas (Up Ward Tapping), sadap ke arah atas biasa dan sadap ke arah atas ATS
(Alternate Tapping Sistem)
d. Sadap kombinasi arah atas dan bawah bersamaan
e. Sadap mati/cacah runcah (CCRC)
4.4 Pola Dasar Sadapan
4.4.1 Kriteria Matang Sadap
Tanaman karet dapat disadap apabila telah memenuhi kriteria matang sadap, yaitu :
a. Umur 5 6 tahun
b. Lilit batang pada ketinggian 100 cm dari pertautan okulasi minimal 45 cm
c. Jumlah tanaman karet dalam 1 blok/areal tanaman yang sama dengan lilit batang minimal 45
cm telah mancapai minimal 60% dari populasi

d. Ketebalan kulit pada ketinggian 100 cm untuk daerah subur telah mencapai 7 mm, sedang
daerah kurang subur telah mencapai 6 mm.
4.4.2 Persiapan TM 1
a. Pengukuran lilit batang
Pengukuran lilit batang dilakukan pada ketinggian 100 cm dari pertautan okulasi pada setiap
pohon, dengan tujuan untuk menginventarisasi jumlah pohon yang lilit batangnya telah memenuhi
criteria matang sadap. Pengukuran lilit batang terakhir dilakukan pada bulan Agustus.
Pada pohon yang lilit batangnya mencapai 45 cm atau lebih diberi tanda 2 totolan dan 35 45
diberi tanda 1 totolan. Pemberian tanda totolan pada ketinggian 150 cm dari pertautan okulasi
dengan menghadap ke arah jalan.
b. Waktu buka sadap baru
Pelaksanaan buda sadapan pertama dilakukan pada bulan oktober, yaitu saat setelah lewat
masa gugur daun.
c. Pembagian hanca
Pembagian hanca pada tanaman TM 1 dilaksanakan pada akhir masa TBM dengan cara sebagai
berikut :
1) Lilit batang 35 cm keatas dihitung sampai dengan jumlah 500 pohon
2) Setiap hanca disisipkan 500 pohon walaupun pada kenyataannya yang disadap kurang dari
500 pohon. Akan tetapi pada akhir TM 1 yang disadap akan mencapai 500 pohon dengna
pertimbangan agar tidak selalu merubah hanca.
3) Setiap batas hanca diberi tanda gelang 5 cm, ketinggian dari tanah 2 m
4) Setiap setengah hanca diberi warna merah dan setengah hanca selebihnya deberi gelang
warna putih
5) Nama penyadap agar dipasang disetiap blok hanca untuk memudahkan control
d. Proyeksi Bidang Sadap
1) Setiap blok/tahun tanama dibuat proyeksi bidang sadapan yang ditempatkan pada tempat
yang strategis di pinggir jalan, sehingga mudah dilihat. Warna dasar putih sedangkan garis dan
tulisan warna merah.
2) Pelaksanaan proyeksi bidang sadap
a) Sekali dalam setahun bersama-sama pada waktu penyusunan RKAP
b) Setiap kondisi sadapan per tahun tanam
c) Setiap posisi/kondisi sadapan agar diberi warna yang berlainan
e. Pembuatan garis/mal sadap
1) Pada areal datar, garis sadap mengarah ke gawangan sehingga letak mangkok sadap ada di
luar barisan tanaman
2) Pada areal bertekstur kontur, garis sadap searah dengan gars kontur sehingga letak mengkok
sadap berada dalam barisan tanaman
3) Jumlah garis sadap 3 daun dengan jarak antar garis 1,5 cm
4) Cara pembuatan mal sadap :
a) Kemiringan 40o
b) Dibuat garis muka dan belakang
c) Menggunakan blak/mal sadap
f. Kelengkapan peralatan di pohon

Sebulan sebelum pelaksanaan bukaan sadap baru, perlu dipasang peralatan sarana sadap
disetiap pohon, yaitu :
1) Membuat got alur lateks dari titik terendah geris sadap teratas, tegak lurus ke arah bawah
sepanjang 10 15 cm
2) Pemasangan talang sadap 10 cm dari ujung bawah alur sadap dengan kemiringan 40o
3) Pemasangan mangkok tetesan yang dipaku/diikat di pohon, dengan jarak 10 cm dari talang
sadap.
4.4.3 Tinggi Bukaan Sadap Baru
Tinggi bukaan sadap baru adalah 130 cm diukur dari pertautan okulasi sampai titik terendah alur
sadap. Tinngi bukaan susulan tatap disamakan dengan ketinggian 130 cm.
4.4.4 Kemiringan/Sudut Sadap
Sudut sadap ditetapkan 40o terhadap horizontal baik untuk sadap bawah maupun sadap atas
dengan tujuan :
a. Memperpanjang laur sadap agar produksi bisa lebih optimal
b. Memperlancar/mempercepat aliran lateks
c. Untuk penyadapan selanjutnya dengan sadap atas dapat dihindarkan adanya bark island yang
tersisa tidak di sadap
4.4.5 Kulit Pohon
a. Seri kulit
Kulit pohon karet yang disadap dibagi menjadi 4 kulit, yaitu :
1) Seri kulit A : kulit perawan atau kulit pulihan purna (licin dan tidak berbenjol) untuk sadap
bawah normal
2) Seri kulit B : kulit pulihan agak berbenjol, kurang rata dan kurang sempurna untuk sadap
normal
3) Seri kulit C : kulit berbenjol agak tipis untuk disadap ATS atau Upward Tapping
4) Seri kulit D : kulit berbenjol-benjol sangat tipis disadap mati
b. Tebal kulit
1) Ketebalan kulit untuk pohon dengan pertumbuhan normal adalah 7 mm dan pada pohon di
tanah tandus 6 mm
2) Pada renewed bark pemulihan kulit pertama dalam 7 tahun dapat mencapai 7 mm, sedang
untuk pemulihan kedua 8 tahun
3) Secara ekonomis tebal kulit pohon harus mencapai 7 mm, pemulihan kulit yang tipis tidak
menguntungkan.
4.4.6 Rumus Sadapan
a. Symbol sadapan
S (Spiral) = keratin sadapan sepanjang 1 spiral dengan susut 40o
D (Day) = hari, menunjukkan hari sada
b. Pedoman
S = angka pertama di depan S menunjukkan jumlah atau panjang keratan
D3 = angka di belakang D menunjukkan hari sadap (rotasi sadap)
= tanda panah menunjukka arah sadapan
Contoh : Sd3

Artinya : satu irisan sadap dengan panjang spiral, satu hari sadap dua hari istirahat (disadap 3
hari sekali).
4.4.7 Intensitas Sadap
a. Menunjukkan tingkat kekuatan/beban sadapan dan dinyatakan dalam %
b. Sebagai tolok ukur intensitas sadap sesuai kesepakatan bersama untuk 1SD1 = 400%
c. Pedoman pada sadapan dengan SD2 yaitu disadap 2 hari sekali, intensitasnya x x
400% = 100%.
4.4.8 Kedalaman Sadapan
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, penyadapan dilakukan dengan kedalaman 1 1,5 mm
dari kambium. Karena pada kedalaman tersebut terdapat pembuluh lateks paling banyak.
Table 4.3 Kedalaman Sadap Untuk Optimalkan Hasil Lateks
kedalaman
hasil lateks (%)
2,0 mm dari kambium
38
1,5 mm dari kambium
48
1,0 mm dari kambium
62
0,5 mm dari kambium
80
Sumber : Pedoman Budidaya Pengelolaan Karet (1997)
Oleh karena itu menyadap dangkal, yaitu 1,5 mm dari kambium hanya dapat menghasilkan 48%
dari produksi maksimum.
4.4.9 Konsumsi Kulit
Konsumsi kulit untuk bidang sadap bawah diukur secara vertikal pada bidang sadap. Tingkat
konsumsi kulti ditentukan oleh sistem sadap yang digunakan. Karena kulit pohon merupakan
modal utama bagi usaha budidaya tanaman karet, masalah menejemen pemakaian kulit harus
medapatkan perhatian khusus. Penyadpan dengan penggunaan kulit yang baik dan teratur akan
dapat mewujudkan umur ekonomis pohon karet yang optimal.
4.4.10 Waktu Penyadapan
Semakin pagi pelaksanaan penyadapan, produksi yang dihasilkan makin tinggi karena tekanan
turgor tanaman masih tinggi. Akan tetapi perlu dipertimbangkan tentang :
a. Keahlian penyadap, menyadap pada keadan gelap lebih mudah terkena kayu
b. Kesehatan penyadap
c. Penyadap yang mengadap terlalu pagi serta dalam suasana yang lembab, kemungkinan
terserang penyakit lebih besar. Waktu penyadapan dimulai dan dapat diselesaikan sepagi
mungkin (disesusikan dengan kondisi iklim/musim). Keluarnya lateks ipengaruhi oleh tekanan sel
pembuluh lateks dan sel-sel parenkim disekitar pembuluh lateks. Tekanan turgor ini dipengaruhi
oleh suhu udara.

4.4.11 Pelaksanaan Buka Sadap Baru


a. Irisan sadap pertama dimulai dari batas 1 cm diatas garis sadap paling atas dengan
kedalaman sadap 4,5 mm dari kambium
b. Sadapan diteruskan scara bertahap sampai mencapai garis sadap teratas (dilakukan
sebanyak 5 kali) dengan kedalaman 1,5 mm dari kambium dan sudah menghasilkan lateks
c. Diupayakan agar kedudukan pisau sadap pada panel sadap telah tepat untuk menghindari luka
kayu.
4.5 Teknik Penyadapan
4.5.1 Proses/Urutan Penyadapan
Urutan pekerjaan dalam menyadap pohon karet khususnya sadap ke bawah, yaitu :
a. Lump mangkok diambil dan dimasukkan ember plastic, tidak dibenarkan jika diletakkan di
tanah
b. Mengambil scrap dan dikumpulkan
c. Menempatkan letak talang 10 cm di bawah alur sadap terendah
d. Membuat garis belakang
e. Melakukan pengirisan/pengadapan dengan langkah awal menyotok bagian alur sadap teratas
f. Memasang mengkok
g. Mengarahkan agar getah mengalir tidak menyimpang dari mangkok
h. Pohon awal yang disadap adalah dimulai dari pohon awal yang distimulansia pertama kali.
4.5.2 Gerakan Penyadapan Ke Bawah
Gerakan-gerakan dasar penyadapan dilakukan dengan gerakan yang kompak antara gerakan
kedua tangan yag memegang pisau sadap, gerakan memutar badan dan langkah kaki berjalan
mundur setapak mengikuti lingkaran pohon karet dan arah miringnya sadapan. Berikut langkahlangkahnya :
a. Tangkai pisau dipegang dengan jari tangan kanan tepat pada pertengahan sehingga terdapat
keseimbangan berat untuk memudahkan pengendalian penyadapan
b. Jari tangan kiri, selain kelingking dan ibu jari ditempelkan pada punggung pisau sadap untuk
membantu mengendalikan pisau baik untuk menyadap maupun untuk mengatur kedalaman irisan
yang menentukan jumlah liter lateks yang dikeluarkan
c. Penyadap berdiri disamping bidang sadap, bertumpu pada kadua kaki, berat badan bertumpu
pada kaki kiri yang berada diposisi depan dan kaki kanan bertumpu pada ujung kaki yang
diletakkan disebelah tumit kaki kiri dengan jarak 1 genggam
d. Sebelum dilakukan penyadapan pada bidang sadapan, bagian ujung sidap dengan mata pisau
bagaian atas untuk memudahkan duduk pisau pada bidang sadapan dan selanjutnya
penyadapan dilakukan dari kiri atas ke kanan bawah dengan menggerakkan pisau yang diatur
oleh reflek pergelangan tangan dan kemudian diarahkan jari tangan kiri
e. Gerakan kaki mengikuti jalannya pisau ke arah kanan bawah samapai melingkar menurut
pohon, kaki kiri berjalan mundur setapak bergantian dengan kaki kanan dan posisi badan
menyesuaiakan dengan membongkok mengikuti posisi bidang sadap
f. Pada akhir penyadapan, pada saat mata pisau dibatas selokan bawah, mata pisau diangkat
keatas memotong sedikit bidang sadap untuk menambah keluarnya lateks.
4.6 Metode Sadapan
4.6.1 Sadap Biasa (konvensional)

Sistem sadap konvensional adalah sistem sadap yang dilakukan dengan mengiris kulit secara
menual untuk memotong pembuluh lateks, sehingga terjadi pembuangan kulit. Teknik ini
mengakibatkan kelelahan pada pohon yang dapat menimbulkan :
a. Berkurangnya aktivitas metabolisme
b. Berkurangnya pertumbuhan tanaman
c. Mudah menimbulkan penyakit akibat terputusnya saluran
Sadapan konvensional ini dibagi menjadi 2 macam, yaitu sadapan ke arah bawah, sadapan ke
arah atas yang terdiri dari SKA biasa dan SKA-ATS.
a. Sadap ke arah bawah (SKB)
Sadapan ini dilaksanakan mulai TM 1 sampai dengan tanaman mencapai umur sadap ke 17
dengan arah sadapan ke bawah menggunakan pisau sadap biasa. Berikut norma sadap untuk
SKB :
1) Tinggi bukaan sadap, tinggi bukaan sadap adalah 130 cm diukur dari pertautan okulasi sampai
titik terendah alur sadap
2) Sudut sadapan, sudut sadapan 40o terhadap horizontal kemiringan alur sadap mulai titik
tertinggi di sebelah kiri atas samapai pada bagian terendah kanan bawah
3) Panjang irisan dan kedalaman sadap, panajang irisan sadapan maksimal adalah spiral
dengan kedalaman irisan sadapan diupayakan 1 1,5 mm dari kambium., karena pada posisi
tersebut terdapat susunan jaringan lateks terbanyak dengan harapan dapat menghasilkan lateks
yang maksimal
4) Bentuk alur dan arah sadap, bentuk alur sadap adalah ke arah bawah dan arah sadap untuk
SKB adalah ke arah bawah
5) Konsumsi kulit, standart pemakaian kulit untuk setiap sistem sadap berbeda, semakin jarang
frekuensi sadapan konsumsi kulit per sadapan cenderung lebih tebal.
Table 4.4 Standard Konsumsi Kulit Per Sadapan
sistem sadap
per sadapan
pemakaian kulit
1 bulan
1 tahun
1/2 SD4
1,7 mm
1,3
16 cm
1/2 SD3
1,5 mm
1,5
18 cm
Sumber : Pedoman Budidaya Pengelolaan Karet (1997)
b. Sadap ke Arah Atas (SKA)
Pemakaian kulit untuk bidang atas 2 mm. Dengan semakin tingginya letak sadapan maka
konsumsi kulit diperlonggar dengan pertimbangan penyadapan lebih sulit. Jumlah pohon per
hanca untuk sadapan atas 75% dari jumlah pohon per hanca untuk sadapan SKB dan semakin
tinggi bidang sadap jumlah pohon per hanca semakin sedikit. Berikut kriteria sadap atas :
1) Sadapan dilakukan ketika tanaman telah mencapai umur sadapan ke 18
2) Rata-rata memiliki lilit batang 70 cm pada ketinggian 150 cm

3) Ketebalan kulit mencapai 9 10 mm


4) Sudut kemiringan sama dengan sadapan lain yaitu 40o dengan arah penyadapan dimulai dari
titik terendah sebelah kanan pada bidang H0.2 yang bergantian dengan bidang B1.2
SKA bukan merupakan sadapan mati melainkan sudah masuk pada sistem sadap eksploitasi,
sehingga norma sadpan harus benar-benar konsisten. SKA menggunakan pisau sadap biasa
untuk menyadap, bidang sadap atas disadap dengan sistem sadam SD4 + ET.2,5% SAS 30
disadap bulan Januari-Juni, sadap bawah disadap bulan Juli-Desember dengan sistem sadap
SD3.Et 2,5% GAS 15.
Table 4.5 Konsumsi Kulit SKA
Tingggi Bidang Sadap
Pemakaian Kulit
ph/hc
Sadapan
Bulan
Tahun
130-155 cm
2,6 mm
1,9 cm
23
420-350
135-178 cm
2,6 mm
1,9 cm
23
420-358
178-205 cm
3,0 mm
2,1 cm
27
400-300
205-239 cm
4,0 mm
2,8 cm
34
380-300
239-273 cm
4,5 mm
3,1 cm
40
360-280
274-299 cm
5,0 mm
3,5 cm
43
340-280
300 cm

5,5 mm
4,0 cm
48
280-220
Sumber : Pedoman Budidaya Pengelolaan Karet (1997)
c. Sadap Cacah Runcah (CCRC)/sadap mati
Sadap mati diberlakukan untuk tanaman yang sudah memasuki umur sadap 24 tahun menjelang
dongkel dengan bentuk sadapan spiral (1 bidang sadapan atas dan bawah).
4.7 Sarana Sadapan
a. Blok/hanca
1) SKB = 400-500 pohon yang dapat disadap
2) SKA = 300-375 pohon yang dapat disadap
3) Batas hanca ditandai dengan gelang cat, blok A merah, blok B biru, blok C kuning. Batas
setengah hanca diberi tanda gelang cat merah dan putih
4) Nama penyadap ditulis untuk menubuhkan rasa bangga dan memudahkan kontrol
pengawasan
b. Talang sadap, fungsi dari talang sadap ini adalah untuk mengalirkan lateks ke mangkok sadap.
c. Mal sadap, sebagai alat kontrol konsumsi kulit dan kemiringan sadpan, dibuat 3 bulan sekali
sebanyak 3 daun dengan lebar tergantung sisitem sadap.
d. Mangkon aluminium, disesuaikan dengan jumlah pohon yang disadap ditambah dengan 5%
untuk cadangan. Pemeriksaan mangkok dilakukan 1 bulan sekali, jika mangkok hilang menjadi
tanggung jawab penyadap.
e. Mangkok plastik, diperlukan untuk areal dengan produksi tinggi, mangkok ini berfungsi untuk
menampung tetes lanjut. Volume mangkok 300 cc.
f. Pisau sadap dan batu asah, katajaman pisau sadap dikontrol setiap kali melakukan rol.
g. Ember sadap dan bull ukuran 30 liter
h. Palet dari pelepah pisang, pengambilan lateks harus benar-benar bersih karena pengambilan
tanpa menggunkan palet dapat mengakibatkan kehilangan produksi 15-20%.
i. Paku sadap, diperlukan untuk tempat menggantungnya mangkok sadap.
j. Peralatan sadap lainnya adalah keranjang mangkon sebagai tempat mangkok setelah
pengambilan lateks.
4.8 Usaha- Usaha Dalam Pencapaian Target Produksi
4.8.1 Waktu Penyadapan
Sadapan diusahakan selesai sedini mungkin kolot segera setelah lateks tidak menetes lagi.
Selama bulan potensial penyadap per hari ditambah 16% pohon yang harus disadap semua
dengan benar. Menggunakan antikoagulan untuk kulit pulihan. SKA digunakan untuk tanaman
yang mamiliki umur sadap 18 tahun keatas. Upaya untuk meningkatkan KKK dengan cara
sebagai berikut :
a. Lump lateks dipisahkan sejak dari kebun
b. Kebersihan sarana sadapan dan pelaksanaan sadapan
c. Dilakukan pengambilan contoh KKK per penyadap
d. Dihindarkan kemungkinan tercampunya lateks dengan air
e. Kedalaman sadapan diusahakan 1 mm dari kambium

f. Meningkatkan pengambilan scrap dan lump mengkok secepatnya dengan sistem pembelian
dengan harga yang menarik.
4.8.2 Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman yang intensif, pemupukan dan pengendalian penyakit yang dilakukan
secara rutin tepat waktu. Pada saat tanaman mencapai fase flush yaitu fase pembentukan daun
baru maka tanaman tidak disadap terlebih dahulu. Masa istirahat berkisar antara 2 minggu.
4.8.3 Eksploitasi Stimulansia
Stimulansia yang digunakan dalam ekploitasi tanaman karet ini adalah menggunakan bahan aktif
hormone Ethephone yang terkandung dalam merk dagang bernama ethrel. Ethephone disini
berfungsi sebagai anti koagulasi.
a. Persyaratan pohon yang dapat diberi anti koagulasi
1) Daun sudah berwarna hijau tua setelah masa gugur daun
2) Kondisi pohon sehat, tingkat serangan BB 8%
3) Dilakukan pemupukan yang mencukupi
4) KKK minimal 27%
5) Umur tanaman minimal 18 tahun dengan penyadapan pada kulit pulihan.
b. Tujuan penggunaan ethephone
Tujuan penggunaan hormone ini adalah untuk mmpertahankan produksi dengan menurunkan
frekuensi sadapan hingga biaya penyadapan menjadi lebih murah. Intensitas sadapan
menggunakan SD3.
c. Cara kerja ethephone
1) Etefon melepaskan gas etylen ke dalam jaringan kulit tanaman yang berfungsi sebagai
agensia anti penyumbatan pembuluh lateks
2) Menstabilkan lutoid dengan jalan meningkatkan permeabilitas membrannya
3) Berfungsi sebagai anti koagulan sehingga memperpanjang waktu pengaliran lateks dengan
menunda tersumbatnya pembuluh lateks dan memperlebar areal drainase lateks.
d. Manfaat penggunaan etefon
1) Tenaga penyadap lebih sedikit
2) Konsumsi kulit dalam penyadapan lebih kecil.
e. Prasyarat penggunaan etefon
1) Selain pertimbangan kesehatan tanaman perlu diperhatikan pula KKK lateks tidak turun labih
dari 2% dari standart 27%
2) Produk yang dicapai tidak melampaui 115% disbanding produksi hanca kontrol sistem SD2
3) Tanaman tidak dalam mondisi gugur daun
4) Untuk sistem sadap SKB digunakan dosis 0,5g/pohon/aplikasi. Dengan sistem aplikasi groove
dilakukan 2 minggu sekali, carier air dan konsentrasi 2,5%
5) Untuk sistem sadap SKA digunakan dosis 1g/pohon/aplikasi. Aplikasi 1 bulan sekali dengan
sistem Scrap, carier minyak sawit konsentrasi yang digunakan adalah 2,5 5 %.
f. Respon klon terhadap penggunaan etefon
Penggunaan stimulansia hanya disarankan untuk klon karet yang memiliki metabolisme rendah
samapai sedang. Untuk klon karet yang memiliki metabolisme tinggi, respon terhadap etefon
kurang baik. Berikut keterangan respon klon terhadap etefon :
1) Respon baik : RRM 600, AVROS 2037, PR 255 dan Tjir 1

2) Respon sedang : GT1, PR1107, PR 261, PRIM 712 dan BPM 24


3) Respon rendah : RRIM 501, 701, 707, WR 101, PR 25.
g. Dampak negatif penggunaan etefon dalam jangka panjang. Jika kultur teknis tanaman kurang
baik, maka :
1) Produktivitas menurun, sehingga umur ekonomis pendek
2) KKK menurun
3) Kemiringan alur sadap dan kekeringan alur sadap meningkat, sehingga konsumsi kulit
perisisan boros
4) Perkembangan lilit batang terhambat
5) Persentase pohon BB meningkat yang mengakibatkan kerusakan akibat angin meningkat.
h. Pengendalian penggunaan anti koagulan
1) Pembuatan hanca kontrol yang disadap sistem SD2 tanpa anti koagulan. Penggunaan
etefon dianggap efktif dan efisien apabila produksi areal sebesar 115% dari prouksi hanca
kontrol. Apabila produksi lebih rendah dari angka tersebut di atas disbanding hanca kontrol
penggunaan perlu ditinjau kembali karena pengurasan produksi sudah dianggap berlebihan
2) Etefon hanya dilakukan pada pohon-pohon yang memiliki KKK 27% dan berumur sadap
minimal 18 tahun.
4.9 Penentuan Target Produksi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan target produksi, yaitu :
a. Klasifikasi TM
b. Klon yang ditanam
c. Umur tanaman
d. Intensitas dan sistem sadap
e. Proyeksi bidang sadap
f. Produksi 5 tahun terakhir
g. Produksi tiap bulan
h. Pemeliharaan tanaman dan pemupukan
i. Gangguan pertumbuhan daun
Cara menghitung target produksi :
1) Jumlah pohon yang bisa disadap per Ha
2) Sistem sadap yang digunakan. Hari sadap D3 = 113 hari sadap efektif dan D4 = 85 hari sadap
efektif selama setahun
3) GTT. Gram perpohon per hari sadap, perlu uji petik pada bulan potensial dan kurang potensial,
lalu diambil rata-ratanya

Ketarangan :
P = protas per hektas per tahun
A = populasi pohon produktif per hektas
d = jumlah hari sadap efektif per tahun
GTT = potensi produksi pohon
4.10 Eksploitasi yang dilakukan di Kebun Kali Sanen
4.10.1 Stimulansia Ethrel

Pengertian stimulansia Ethrel dan prasyarat penggunaannya serta tujuan dan dampak dari
penggunaannya telah dijelaskansebelumnya pada sub pokok bahasan mengenai eksploitasi
stimulansia di atas.
4.10.2 Double Cutting
Double cutting ini merupakan sistem eksploitasi yang melakukan penyadapan/pengirisan pada
dua bidang sadap, yaitu bidang kulit pulihan kedua B1.2 dan bidang perawan pada H0.2 dengan
rumus sadapan SD3 pada panel H0.2 dan SD3 pada panel B1.2. Perlakuan ini
diterapkan berdasarkan pertimbangan produksi yang dicapai di Kebun kali Sanen setelah
mencapai panel B1.2 mengalami penurunan, sehingga untuk mengatasinya dilakukan sistem
sadap double cutting.
Perlakuan Double Cutting ini hanya boleh dilakukan pada saat musim basah saja ketika daun
tanaman karet ditdak mengalami gugur. Pertimbangan lainnya adalah dilakukan pada tanaman
yang telah mencapai umur 18th dengan asumsi telah mencapai lilit batang 60cm. hal ini
dikarenakan untuk syarat double cutting irisan S minimal membentuk panjang irisan sadap 15
cm.
4.10.3 LET 200
LET 200 merupakan merk dagang yang dipakai untuk stimulansia gas dengan bahan dasar gas
etylen. Sistem kerja dari stimulansia LET 200 ini sama seperti stimulansia ethrel yaitu
memperlama waktu penyumbatan pembuluh lateks sehingga memperpanjang waktu pengaliran
lateks yang sehingga dapat menghasilkan produksi lateks dengan volume tinggi.
Pertimbangan penggunaan LET 200 ini adalah untuk mengoptimalkan produksi lateks. Namun
harus memperhatikan beberapa syarat penggunannya sesuai dengan factor yang mempengaruhi
efektivitas kerja stimulant gas etylen yaitu jenis klon, umur tanaman, potensi produksi dan
kesehatan tanaman serta pelaksanaan aplikasi stimulant. Tanaman yang akan diperlakukan
menggunakan stimulant sebaiknya memenuhi persyaratan sudah berumur sekitar 15th, kondisi
tanaman sehat dengan daun tidak meranggas, tidak mengalami kering alur sadap dan status
hara tanaman baik.

4.10.4 Sistem Sadap Senar


Sistem sadap senar ini di Kebun Kali Sanen diterapkan pada tanaman kaet yang telah mencapai
masa sadap mati. Pertimbangan untuk menggunakan sistem ini adalah untuk memaksimalkan
produksi yang bisa didapat pada kulit perawan yang letaknya berada di percabangan sehingga
dapat memperlama umur ekonomis tanaman sebelum dongkel. Penggunaan senar ini
dimaksudkan untuk mengurangi kehilangan lateks akibat getah tanah dan lateks yang kering
sebagai scrab.
Pertimbangan yang lain adalah untuk mentertibkan konsumsi kulit dan alur sadapan karena
penyadapan dilakukan dengan menggunakan tangga, sehingga konsumsi kulit lebih dapat
terkontrol dibandingkan dengan sadapan sebelum menggunakan senar. Selain itu optimalisasi ini
dipacu dengan tingginya harga karet saat ini, sehingga pemanfaatan kulit karet semakin
dioptimalkan untuk menghasilkan produksi yang tinggi sehingga bisa mendatangka keuntungan
yang besar bagi perusahaan.