Anda di halaman 1dari 34

SKENARIO

OBESITAS
Seorang laki-laki berusia 15 tahun dibawa oleh ibunya ke klinik gizi karena
mengalami obesitas. ia senang sekali makan junk food dan gorengan. Aktivitasnya
setelah pulang sekolah, bermain video games selama berjam-jam. Ibu khawatir
dengan kesehatan anaknya. Karena akhir-akhir ini sering mengeluh sakit kepala
juga. Anak ini mengaku sudah pernah mencoba diet, tetapi gagal terus. Hasil
laboratorium menunjukan kadar kolesterol total 300mg/dl. Dokter mengatakan
bahwa anak ini mengalami dislipidemia. Dokter meyarankan untuk merubah gaya
hidup dahulu, jika masih gagal, maka dokter akan memberikan obat golongan
HMG-CoA reduktase inhibitor.
STEP 1
1. Obesitas: Kelebihan lemak pada tubuh, biasanya pada jaringan subkutan dan
sekitar organ.
2. Junk food: Makanan cepat saji.
3. LDL: Low Density Lipoprotein, yang mengangkut kolesterol paling banyak
dalam darah (Normalnya < 100mg/dl)
4. Dislipidemia: peningkatan trigliserid dan kolesterol, serta penurunan HDL.
5. HDL: High Density Lipoprotein, yang berfungsi mengangkut kolesterol ke
dalam hati
6. HMG-CoA reduktase inhibitor: obat pencegah kerja enzim HMG-CoA
reduktase
STEP 2
1. Berapakah nilai normal LDL, HDL, dan trigliserid?
2. Bagaimana penentuan obesitas dan apa saja tipe-tipe obesitas?
3. Apa saja faktor resiko obesitas?
4. Apakah hubungan obesitas dengan dislipidemia?
5. Apakah hubungan aktivitas dengan keluhan pasien?
6. Mengapa pasien mengeluhkan sering sakit kepala?
7. Bagaimana penegakan diagnosis pada kasus?
8. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus?
9. Bagaimana cara kerja obat HMG-CoA reduktase inhibitor?
STEP 3
1. Nilai Normal

A. LDL : 100mg/dl
B. HDL: 40-59 mg/dl
C. Trigliserid: < 150mg/dl
2. Tipe obesitas
A. Obesitas Hiperplastik
B. Obesitas Hipertropik
C. Obesitas Campuran
Berdasarkan penyebaran dalam tubuh: Android dan Genoid
3. Faktor Resiko
A. Genetik
B. Gaya hidup tidak sehat
C. Usia
D. Jenis kelamin
E. Faktor kegemukan
4. Hubungan obesitas dengan dislipidemia
A. Karena adanya akumulasi lemak sehingga dapat menyebabkan
aterosklerosis
B. Berhubungan juga dengan penyakit diabetes mellitus tipe 2, batu
ginjal, batu empedu, dan hipertensi
5. Hubungan aktivitas dengan keluhan pasien
A. Makan junk food dan aktivitas yang jarang dapat menyebabkan
penumpukan lemak, sehingga terjadi obesitas
B. Harus di perbaiki dengan mengubah gaya hidup
6. Penyebab sakit kepala pada kasus
A. Peningkatan trigliserid dan kolesterol menyebabkan aterosklerosis
sehingga dapat menyebabkan kurangnya oksigenasi otak, maka akan
sakit kepala.
B. Hipertensi dapat menyebabkan sakit kepala
7. Penegakan diagnosis
A. Anamnesis
1) Pola hidup/pola makan
2) Aktivitas fisik
3) Riwayat penyakit keluarga
4) Gejala
5) Usia
6) Lingkungan
B. Pemeriksaan fisik
1) Berat badan
2) Tinggi badan
C. Pemeriksaan penunjang
1) LDL
2) HDL

3) Trigliserid
4) Kolesterol total
8. Penatalaksanaan
A. Farmako
B. Non-farmako
9. Cara kerja obat
A. Metabolik primer: Menghambat sintesis kolesterol
B. Metabolisme lipoprotein: Meningkatkan pembersihan LDL

STEP 4
1. Nilai normal
A. Trigliserid dihasilkan diusus lalu masuk ke aliran limfe lalu ke dalam
darah. Bila dipakai, trigliserid akan pecah menjadi gliserol dan asam
lemak. Trigliserid tetap disimpan bila aktivitas hanya ringan
B. LDL akan meningkat bila asupan kolesterol meningkat
C. HDL akan menurun karena hati masih memiliki persediaan dari hasil
gluconeogenesis
Mekanisme Lipoprotein
A. Jalur Eksogen
B. Jalur Endogen
2. Tipe obesitas :
A. Hiperplastik: Jumlah sel lebih banyak dari normal
B. Hipertropik: Ukuran sel lebih besar dari normal
C. Campuran: Keadaan hiperplastik dan hipertropik
D. Android: Penumpukan lemak pada tubuh bagian atas
E. Genoid: Penumpukan lemak pada tubuh bagian bawah
Menurut WHO :
A. Pradiabetes: IMT 25-29,9
B. Diabetes tipe I: IMT 30-34,9
C. Diabetes tipe II: IMT 35-39,9
D. Diabetes tipe III IMT >40
3. Faktor resiko dislipidemia, antara lain :
A. Jenis kelamin: Berhubungan dengan hormone estrogen dan progesterone
B. Umur: Pria 45 dan wanita 55
C. Penurunan aktivitas

8. Penatalaksanaan
A. Non-farmako
1) Terapi Nutrisi
a) Karbohidrat 60%
b) Lemak 20-25%
c) Protein 15%
2) Aktivitas fisik
Jalan kaki, bersepeda, berenang, dll
B. Farmako
1) Bile Acid Sequestrants
2) HMG-CoA reduktase inhibitor
3) Asam Nikotinik
4) Ezitimib

Faktor
Resiko

OBESITAS

Metabolisme
Lipoprotein

S
Aterosklerosi
s

Penatalaksanaa
n

Komplikasi

Dislipidemi
a

Hipertensi

Penegakan
Diagnosis

STEP 5
1. Mekanisme homeostatic kebutuhan energi
2. Dislipidemia (Klasifikasi, etiologi, penegakan diagnosis, dan penatalaksanaan)

STEP 6
Belajar Mandiri
STEP 7
1. Mekanisme homeostatic kebutuhan energi
A. Jenis lipoprotein
1. Kilomikron

Lipoprotein dengan komponen 80% trigliserida dan 5% kolesterol


ester. Kilomikron membawa makanan ke jaringan lemak dan otot rangka
serta membawa kolesterol kembali ke hepar. Kilomikron yang
dihidrolisis akan mengecil membentuk kilomikron remnan yang
kemudian masuk ke hepatosit. Kilomikronemia post pandrial mereda
setelah 8 10 jam. (Sudoyo, 2009)
2. VLDL
Lipoprotein terdiri dari 60% trigliserida dan 10 15 % kolesterol.
VLDL digunakan untuk mengangkut trigliserida ke jaringan. VLDL
reman sebagian akan diubah menjadi LDLyang mengikuti penurunan
hipertrigliserida sedangkan sintesis karbohidrat yang berasal dari asam
lemak bebas dan gliserol akan meningkatkan VLDL. (Sudoyo, 2009)
3. IDL
Lipoprotein yang mengandung 30% trigliserida, dan 20%
kolesterol. IDL merupakan zat perantara sewaktu VLDL dikatabolisme
menjadi IDL. (Sudoyo, 2009)
4. LDL
Lipoprotein pengangkut kolesterol terbesar (70%). Katabolisme
LDL melalui receptor-mediated endocytosis di hepar. Hidrolisis LDL
menghasilkan kolesterol bebas yang berfungsi untuk sintesis sel
membran dan hormone steroid. Kolesterol juga dapat disintesis dari
enzim HMG-CoA reduktase berdasarkan tinggi rendahnya kolesterol di
dalam sel. (Sudoyo, 2009)
5. HDL
HDL

diklasifikasikan

lagi

berdasarkan

Apoprotein

yang

dikandungnya. Apo A-I merupakan apoprotein utama HDL yang


merupakan inverse predictor untuk resiko penyakit jantung koroner.
Kadar HDL menurun pada kegemukan, perokok, pasien diabetes yang
tidak terkontrol dan pemakai kombinasi estrogen-progestin. HDL
memiliki efek protektif yaitu mengangkut kolesterol dari perifer untuk di
metabolisme di hepar dan menghambat modifikasi oksidatif LDL melalui
paraoksonase (protein antioksidan yang bersosiasi dengan HDL).
(Sudoyo, 2009)
6. Lipoprotein (a)

Terdiri atas partikel LDL dan apoprotein sekunder selain apoB100. Lipoprotein jenis ini menghambat fibrinolisis atau bersifat
aterogenik. (Sudoyo, 2009)
B. Metabolisme Lipoprotein dan Patofisiologi
Metabolisme lipoprotein dapat dibagi atas tiga jalur utama yaitu:
A. Jalur metabolisme eksogen
B. Jalur metabolisme endogen
C. Jalur reverse cholesterol transport.
Kedua jalur pertama berhubungan dengan metabolisme kolesterolLDL dan trigliserid, sedang jalur yang ketiga khusus mengenai
metabolisme kolesterol-HDL.
A. Jalur metabolisme eksogen
Makanan berlemak yang kita makan terdiri atas trigliserid dan
kolesterol. Selain kolesterol yang berasal dari makanan, dalam usus
juga terdapat kolesterol dari hati yang diekskresi bersama empedu ke
usus halus. Baik lemak di usus halus yang berasal dari makanan
maupun yang berasal dari hati disebut lemak eksogen. Trigliserid dan
kolesterol dalam usus halus akan diserap ke dalam enterosit mukosa
usus halus. Trigliserid akan diserap sebagai asam lemak bebas sedang
kolesterol sebagai kolesterol. Di dalam usus halus asam lemak bebas
akan dirubah lagi menjadi trigliserid, sedang kolesterol akan mengalami
esterifikasi menjadi kolesterol ester dan keduanya bersama dengan
fosfolipid dan apolipoprotein akan membentuk lipoprotein yang dikenal
dengan kilomikron. (Sudoyo, 2009)
Kilomikron ini akan masuk ke saluran limfe dan akhirnya melalui
duktus torasikus akan masuk ke dalam aliran darah. Trigliserid dalam
kilomikron akan mengalami hidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase
yang berasal dari endotel menjadi asam lemak bebas (free fatty acid ).
Asam lemak bebas dapat disimpan sebagai trigliserid kembali di
jaringan lemak, tetapi bila terdapat dalam jumlah yang banyak sebagian
akan diambil oleh hati menjadi bahan untuk pembentukan trigliserid

hati. Kilomikron yang sudah kehilangan sebagian besar trigliserid akan


menjadi kilomikron remnant yang mengandung kolesterol ester dan
akan dibawa ke hati.

Gambar 2.1. Jalur Metabolisme Eksogen


B. Jalur metabolisme endogen.
Trigliserid dan kolesterol yang disintesis di hati dan disekresi ke
dalam sirkulasi sebagai lipoprotein VLDL. Apoliproprotein yang
terkandung dalam VLDL adalah apolipoprotein B100. Dalam sirkulasi,
trigliserid di VLDL akan mengalami hidrolisis oleh enzim lipoprotein
lipase (LPL), dan VLDL berubah menjadi IDL yang juga akan
mengalami hidrolisis dan berubah menjadi LDL. Sebagian dari VLDL,
IDL, dan LDL akan mengangkut kolesterol ester kembali ke hati. LDL
adalah lipoprotein yang paling banyak mengandung kolesterol.
Sebagian kolesterol di LDL akan dibawa ke hati dan jaringan
steroidogenik lainnya seperti kelenjar adrenal, testis, dan ovarium yang
mempunyai reseptor untuk kolesterol-LDL. Sebagian lain dari
kolesterol-LDL akan mengalami oksidasi dan ditangkap oleh reseptor
scavenger-A (SR-A) di makrofag dan akan menjadi sel busa (foam
cell ). Makin banyak kadar kolesterol-LDL dalam plasma makin banyak
yang akan mengalami oksidasi dan ditangkap oleh sel makrofag.
Jumlah kolesterol yang akan teroksidasi tergantung dari kadar

kolesterol yang terkandung di LDL. Beberapa keadaaan mempengaruhi


tingkat oksidasi seperti:
- Meningkatnya jumlah LDL kecil padat seperti pada diabetes
melitus dan sindroma metabolik.
- Kadar kolesterol-HDL, makin tinggi kadar kolesterol-HDL akan
bersifat protektif terhadap oksidasi LDL. (Sudoyo, 2009)
C. Jalur reverse cholesterol transport
HDL dilepaskan sebagai partikel kecil miskin kolesterol yang
mengandung apolipoprotein (apo ) A,C,E dan disebut HDL nascent.
HDL nascent berasal dari usus halus dan hati, mempunyai bentuk
gepeng dan mengandung apolipoprotein A1. HDL nascent akan
mendekati makrofag untuk mengambil kolesterol yang tersimpan di
makrofag. Setelah mengambil kolesterol dari makrofag, HDL nascent
berubah menjadi HDL dewasa yang berbentuk bulat. Agar dapat
diambil oleh HDL nascent, kolesterol ( kolesterol bebas ) di bagian
dalam dari makrofag harus dibawa ke permukaan membran sel
makrofag oleh suatu tranporter yang disebut adenosin triphosphatebinding cassate tranporter-1 atau disingkat ABC-1.
Setelah mengambil kolesterol bebas dari sel makrofag, kolesterol
bebas akan diesterifikasi menjadi kolesterol ester oleh enzim lechitin
cholesterol acyotranferase (LCAT ). Selanjutnya sebagian kolesterol
ester yang dibawa oleh HDL akan mengambil dua jalur. Jalur pertama
ialah ke hati dan ditangkap oleh scavenger reseptor class B type 1
dikenal dengan SR-B1. Jalur kedua adalah kolesterol ester dalam HDL
akan dipertukarkan dengan trigliserid dari VLDL dan IDL dengan
bantuan kolesterol ester transfer protein ( CETP ). Dengan demikian
fungsi HDL sebagai penyerap kolesterol dari makrofag mempunyai
dua jalur yaitu langsung ke hati dan jalur tidak langsung melalui VLDL
dan IDL untuk membawa kolesterol kembali ke hati. (Sudoyo, 2009)

Gambar 2.2. Jalur metabolisme lipoprotein


Lipid dalam plasma terdiri dari kolesterol, trigliserida, fosfolipid,
dan asam lemak bebas. Normalnya lemak ditranspor dalam darah
berikatan dengan lipid yang berbentuk globuler. Ikatan protein dan lipid
tersebut menghasilkan 4 kelas utama lipoprotein : kilomikron, VLDL,
LDL, dan HDL. Terganggunya jalur metabolisme lipoprotein dapat
meningkatkan lipid dalam darah yang akan mempengaruhi jumlah
kolesterol, trigliserida, LDL, dan HDL sehingga dapat menyebabkan
terjadinya dislipidemia. (Sudoyo, 2009)
Pasien dengan hiperkolesterolemia (> 200 220 mg/dl serum)
merupakan gangguan yang bersifat familial, berhubungan dengan
kelebihan berat badan dan diet. Makanan berlemak

meningkatkan

sintesis kolesterol di hepar yang menyebabkan penurunan densitas


reseptor LDL di serum (> 135 mg/dl). Ikatan LDL mudah melepaskan
lemak dan kemudian membentuk plak pada dinding pembuluh darah
yang selanjutnya akan menyebabkan terjadinya arterosklerosis dan
penyakit jantung koroner. (Sudoyo, 2009)

2. Dislipidemia (Klasifikasi, etiologi, penegakan diagnosis, dan penatalaksanaan)


A. Etiologi dan Faktor Resiko
Kadar lipoprotein, terutama LDL meningkat sejalan dengan bertambahnya
usia. Pada keadaan normal pria m

emiliki kadar LDL yang lebih tinggi, tetapi setelah menopause kadarnya
pada wanita lebih banyak. Faktor lain yang menyebabkan tingginya kadar lemak
tertentu (VLDL dan LDL) adalah (Davey,2002):
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Riwayat keluarga dengan hiperlipidemia


Obesitas
Diet kaya lemak
Kurang melakukan olah raga
Penyalahgunaan alkohol
Merokok sigaret
Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik
Hipotiroidisme
Sirosis

B. Klasifikasi
1) Klasifikasi Fenotipik
a) Klasifikasi EAS (European Atheroselerosis Society) (Anwar, 2004).
Tabel 1. Klasifikasi Berdasarkan EAS (European Atheroselerosis Society)
(Anwar, 2004).

b) Klasifikasi NECP (National Cholesterol Education Program) (Anwar,


2004).
Tabel 2. Klasifikasi Berdasarkan NECP (National Cholesterol Education
Program) (Anwar, 2004).

c. Klasifikasi WHO (World Health Organization) (Anwar, 2004).


Tabel 3. Klasifikasi Berdasarkan WHO (World Health Organization)
(Anwar, 2004).

2) Klasifikasi Patogenik
Klasifikasi dislipidemia berdasarkan atas ada atau tidaknya penyakit dasar
yaitu primer dan sekunder. Dislipidmia primer memiliki penyebab yang tidak
jelas sedangkan dislipidemia sekunder memiliki penyakit dasar seperti
sindroma nefrotik, diabetes melitus, hipotiroidisme (Sudoyo, 2006). Contoh
dari

dislipidemia

primer

adalah

hiperkolesterolemia

poligenik,

hiperkolesterolemia familial, hiperlipidemia kombinasi familial, dan lain-lain


(Anwar, 2004).

C. Patofisiologi
Lipid dalam plasma terdiri dari kolesterol, trigliserida, fosfolipid, dan
asam lemak bebas. Normalnya lemak ditranspor dalam darah berikatan dengan
lipid yang berbentuk globuler. Ikatan protein dan lipid tersebut menghasilkan 4
kelas utama lipoprotein : kilomikron, VLDL, LDL, dan HDL. Peningkatan lipid
dalam darah akan mempengaruhi kolesterol, trigliserida dan keduanya
(hiperkolesterolemia,

hipertrigliseridemia

atau

kombinasinya

yaitu

hiperlipidemia). Hiperlipoproteinemia biasanya juga terganggu (Silbernagl, 2000).


Pasien dengan hiperkolesterolemia (> 200 220 mg/dl serum) merupakan
gangguan yang bersifat familial, berhubungan dengan kelebihan berat badan dan
diet. Makanan berlemak

meningkatkan sintesis kolesterol di hepar yang

menyebabkan penurunan densitas reseptor LDL di serum (> 135 mg/dl). Ikatan

LDL mudah melepaskan lemak dan kemudian membentuk plak pada dinding
pembuluh darah yang selanjutnya akan menyebabkan terjadinya arterosklerosis
dan penyakit jantung koroner (Silbernagl, 2000).

Gambar 1. Lipoprotein Metabolisme (Silbernagl, 2000)

Gambar 2. Metabolisme Lipoprotein Lanjutan (Silbernagl, 2000)


D. Penegakan diagnosis
1. Hasil Anamnesis (Subjective)
Pada anamnesis biasanya didapatkan pasien dengan faktor risiko seperti konsumsi
tinggi lemak, merokok, riwayat keluarga dengan dislipidemia dan DM, kurang
beraktivitas fisik, konsumsi alkohol, riwayat diabetes sebelumnya. Pada umumnya
dislipidemia tidak bergejala dan biasanya ditemukan pada saat pasien melakukan
pemeriksaan rutin kesehatan (medical check-up).

2. Faktor Risiko
1. Umur pria 45 tahun dan wanita 55 tahun.
2. Riwayat keluarga PAK (Penyakit Arteri Koroner) dini yaitu ayah usia < 55
tahun dan ibu < 65 tahun.
3. Kebiasaan merokok.
4. Hipertensi ( 140/90 mmHg atau sedang mendapat obat antihipertensi ).
5. Kolesterol HDL rendah (<40 mg/dl). Jika didapatkan kolesterol HDL 60
mg/dl maka mengurangi satu faktor risiko dari jumlah total.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaaan antropometri (lingkar perut dan IMT/Indeks Massa Tubuh) dan
tekanan darah. Cara pengukuran dengan rumus : IMT(kg/m2)= BB(kg)/TB2(m)
4. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium memegang peranan penting dalam menegakkan
2.

diagnosa.
Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan kadar kolesterol total,
kolesterol LDL, kolesterol HDL dan trigliserida plasma.
(Mansjoer, 2009)

Gambaran Laboratorium.
Untuk menilai apakah kadar kolesterol seseorang tinggi atau rendah,
semuanya harus mengacu pada pedoman umum yang telah disepakati dan
digunakan di seluruh dunia yaitupedoman dari NCEP ATP III (National
cholesterol Education Program, Adult Panel Treatment III), yang antara lain
menetapkan bahwa :
1. Total Kolesterol :
Nilai Normal

< 200 mg/dl

Perbatasan tinggi

200 239 mg/dl

Tinggi

> 240 mg/dll

2. LDL Kolesterol :
Optimal

< 100 mg/dl

Mendekati optimal

100 129 mg/dl

Perbatasan tinggi

130 159 mg/dl

Tinggi

160 189 mg/dl

Sangat tinggi

> 190 mg/dl

3. HDL Kolesterol :
Rendah

< 40 mg/dl

Tinggi

60 mg/dl

4. Trigliserida
Normal

< 150 mg/dl

Perbatasan tinggi

150 -199 mg/dl

Tinggi

200 499 mg/dl

Sangat tinggi

> 499 mg/dl

Pada

pemeriksaan

laboratorium

memegang

peranan

penting

dalam

menegakkan diagnosa. Parameter yang diperiksa yaitu kadar kolesterol total,


kolesterol LDL, kolesterol HDL dan trigliserid.
a.

Persiapan
Sebaiknya pasien dalam keadaan metabolik yang stabil, tidak ada

perubahan berat badan, pola makan, kebiasaan merokok, olahraga, minum


kopi/alcohol dalam 2 minggu terakhir sebelum dilakukan pemeriksaan, tidak ada
sakit berat atau operasi dalam 2 bulan terakhir
Tidak mendapat obat yang mempengaruhikadar lipid dalam 2 minggu
terakhir. Bila haltersebut tidak memungkinkan, pemeriksaantetap dilakukan tetapi,
dengan disertai catatan
b.

Pengambilan bahan pemeriksaan

Pengambilan bahan dilakukan setelah puasa makanan 12-16 jam. Sebelum bahan
diambil pasien duduk selama 5 menit. Pengambilan bahan dilakukan dengan
melakukan bendungan vena seminimal mungkin. Bahan yang diambil adalah
serum.
c.

Analis

Analis kolesterol total dan trigliserida dilakukan dengan metode ensimatik. Analis
kolesterol HDL dan Kol-LDL dilakukan dengan metode presipitasi dan ensimatik.
Kadar kolesterol LDL sebaiknya diukur secara langsung, atau dapat juga dihitung
menggunakan rumus Friedewaid kalau kadar trigliserida <400 mg/d, sebagai

berikut: Kadar kolesterol LDL = Kolesterol Total kolesterol HDL 1/5


trigliserid.
(Mansjoer, 2009)

E. Penatalaksanaan
a. Non farmakologi
Penatalaksanaan dalam dislipidemia dimulai dengan melakukan penilaian
jumlah faktor resiko koroner pada pasien untuk menentukan kolesterol-LDL
yang harus dicapai. Berikut ini adalah tabel faktor resiko (selain kolesterol
LDL) yang menentukan sasaran kolesterol LDL yang ingin dicapai berdasarkan
NCEP-ATP III :
Tabel 4 Faktor Risiko (Selain Kolesterol LDL) yang Menentukan
Sasaran Kolesterol LDL yang Ingin Dicapai
Faktor Resiko (Selain Kolesterol LDL) yang Menentukan Sasaran
Kolesterol LDL yang Ingin Dicapai
- Umur pria 45 tahun dan wanita 55 tahun.
- Riwayat keluarga PAK (Penyakit Arteri Koroner) dini yaitu ayah
-

usia < 55 tahun dan ibu < 65 tahun.


Kebiasaan merokok
Hipertensi (140/90 mmHg atau

atihipertensi)
Kolesterol HDL rendah ( <40 mg/dl). Jika didapatkan kolesterol

sedang

mendapat

obat

HDL 60mg/dl maka mengurangi satu faktor resiko


Setelah menemukan banyaknya faktor resiko pada seorang pasien, maka
pasien dibagi kedalam tiga kelompok resiko penyakit arteri koroner yaitu
resiko tinggi, resiko sedang dan resiko tinggi. Hal ini digambarkan pada tabel
berikut ini
Tabel 5 Tiga Kategori Risiko yang Menentukan Sasaran Kolesterol LDL
yang Ingin Dicapai berdasarkan NCEP
Kategori Resiko

Sasaran

Kolesterol

LDL (mg/dl)
1. Resiko Tinggi

<100

a. Mempunyai Riwayat PAK dan


b. Mereka yang disamakan dengan PAK
- Diabetes Melitus
- Bentuk lain penyakit arterosklerotik yaitu
strok, penyakit arteri perifer, aneurisma aorta
abdominalis
- Faktor resiko multipel (> resiko) yang
diperkirakan dalam kurun waktu 10 tahun
mempunyai resiko PAK > 20 %
2. Resiko Multipel (2 faktor resiko)
3. Resiko Rendah (0-1 faktor resiko)

<130
<160

Selanjutnya penatalaksanaan pada pasien ditentukan berdasarkan


kategori resiko pada tabel diatas. Berikut ini adalah bagan penatalaksanaan
untuk masing-masing katagori resiko :

Gambar 3 Bagan Penatalaksanaan dislipidemia dengan faktor resiko


tinggi

Gambar 4 Bagan Penatalaksanaan dislipidemia dengan faktor resiko sedang

Gambar 5 Bagan Penatalaksanaan Dislipidemia dengan faktor resiko 0-1

Penatalaksanaan dislipidemia diabetik ditentukan atas dasar derajat risiko


yang ditunjukkan oleh tingginya kadar masing-masing lipoprotein seperti
diperlihatkan pada tabel 1. Sasaran kadar lipid bagi pasien DM dewasa adalah
kadar lipid yang termasuk kategori risiko rendah. Bagi semua pasien yang
termasuk kategori risiko tinggi dan sedang, direkomendasikan untuk mendapat
terapi obat-obat penurun lipid disamping perubahan gaya hidup dan obat-obat
penurun kadar glukosa darah.
Tabel 6 Kategori risiko berdasarkan kadar lipoprotein pada pasien
diabetes

Walaupun kelainan lipid pada dislipidemia diabetik ditandai oleh


hipertrigliseridemi, dan kadar kolesterol-HDL rendah sedang kolesterol-LDL
umumnya normal, sasaran yang harus dicapai pada dislipidemia diabetik
adalah kolesterol-LDL. Dari berbagai penelitian seperti misalya UKPDS,
didapatkan bahwa penentu utama keberhasilan pengelolaan lipid dalam
mencegah kelainan kardiovaskular adalah kadar kolesterol-LDL karena
mempunyai peran yang sangat nyata dan kuat dalam proses aterosklerosis,
melebihi peran fraksi lipid yang lain ( Trigliserida dan HDL-kolesterol ).
Meliputi modifikasi diet, latihan jasmani serta pengelolaan berat badan.
Terapi diet memiliki tujuan untuk menurunkan resiko PKV dengan mengurangi
asupan lemak jenuh dan kolesterol serta mengembalikan kesimbangan kalori,
sekaligus memperbaiki nutrisi. Perbaikan keseimbangan kalori biasanya
memerlukan peningkatan penggunaan energi melalui kegiatan jasmani serta
pembatasan asupan kalori. (Katzung, 2004)
Meliputi terapi nutrisi medik, aktivitas fisik serta beberapa upaya lain
seperti berhenti merokok, menurunkan berat badan bagi yang gemuk dan
mengurangi asupan alkohol. Penurunan berat badan dan peningkatan aktivitas
fisik dapat menurunkan kadar trigliserida dan meningkatkan kadar HDL kolesterol
serta sedikit menurunkan kadar LDL kolesterol. (Katzung, 2004)
a. Terapi nutrisi medik
Selalu merupakan tahap awal penatalaksanaan dislipidemi, oleh karena itu
disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi. Pada dasarnya adalah
pembatasan jumlah kalori dan jumlah lemak. Pasien dengan kadar kolesterol LDL
atau kolesterol total yang tinggi dianjurkan untuk mengurangi asupan lemak jenuh
dan meningkatkan asupan lemak tidak jenuh rantai tunggal dan ganda ( mono

unsaturated fatty acid = MUFA dan poly unsaturated fatty acid = PUFA). Pada
pasien dengan kadar trigliserida yang tinggi perlu dikurangi asupan karbohidrat,
alkohol dan lemak. (Katzung, 2004)
Tabel 4: Komposisi makanan untuk hiperkolesterolemia (Katzung, 2004)

b. Aktivitas fisik
Pada prinsipnya pasien dianjurkan untuk meningkatkan aktivitas fisik sesuai
dengan kondisi dan kemampuannya. Semua jenis aktivitas fisik bermanfaat,
seperti jalan kaki, naik sepeda, berenang dll. Penting sekali diperhatikan agar jenis
olahraga disesuaikan dengan kemampuan dan kesenangan pasien, selain itu agar
dilakukan secara terus menerus. Pasien DM yang mempunyai BB berlebih
sebaiknya mendapat Terapi Nutrisi Medik dan meningkatkan aktivitas fisik. The
American Heart Association merekomendasikan untuk pasien DM dengan
Penyakit Kardiovaskular bahwa Terapi Nutrisi Medik maksimal dapat
menurunkan kadar LDL kolesterol sebesar 15 sampai 25 mg/dl. Jadi, bila kadar
LDL kolesterol mengalami peningkatan lebih dari 25 mg/dl diatas kadar sasaran
terapi, hendaklah diputuskan untuk menambahkan terapi farmakologik terutama
terhadap pasien-pasien dengan risiko tinggi (pasien DM dgn riwayat infark
miokard sebelumnya atau dengan kadar LDL kolesterol tinggi (diatas 130 mg/dl).
(Katzung, 2004)
b. Farmakologi
Berbagai studi klinis menunjukkan bahwa terapi farmakologik dengan obatobat penurun lipid memberi manfaat perbaikan profil lipid dan menurunkan

komplikasi Kardiovaskular pada pasien-pasien diabetes. Pada saat ini dikenal


sedikitnya 6 jenis obat yang dapat memperbaiki propil lipid serum yaitu:
1) HMG-CoA reduktase inhibitor
Dalam 10 tahun terakhir ini di seluruh dunia, HMG-CoA reduktase inhibitor
yang biasa disebut sebagai statin menjadi obat yang paling banyak diresepkan
sebagai obat penurun kadar lipid. Obat golongan ini bekerja dengan cara
menghambat kerja enzim HMG-CoA reduktase yaitu suatu enzim di hati yang
berperan dalam pembentukan kolesterol. Dengan menurunnya sintesis kolesterol
maka hati akan mengkompensasi dengan meningkatkan reseptor LDL pada
permukaan hati. Dengan demikian kadar kolesterol LDL di dalam darah akan
ditarik ke hati, sehingga akan menurunkan kadar kolesterol LDL dan juga VLDL.
(Katzung, 2014).

Gambar 6: Mekanisme kerja HMG-CoA reductase inhibitor


(Sudoyo, 2009).
Mengenai dosis obat sangat individual sekali, tergantung pada karakteristik
pasien seperti target terapi dan respon terhadap terapi yang diberikan. Dibawah ini
dapat dilihat dosis beberapa obat golongan statin (Sudoyo, 2009).

Tabel 7: Dosis-dosis obat golongan statin (Sudoyo, 2009).

Popularitas statin dipengaruhi oleh banyaknya data uji klinik yang


mengkonfirmasi bahwa penurunan kadar lipid pada pasien yang diterapi akan
berakibat juga pada turunnya risiko penyakit kardiovaskuler terutama pada
penyakit jantung, infark miokard, prosedur revaskularisasi dan menurunnya angka
kematian. Heart Protection Study melakukan penelitian yang berskala besar
melibatkan 5963 pasien penderita diabetes berusia > 40 tahun dengan kadar total
kolesterol > 135 mg/dl. Pada penelitian ini, pasien diabetes yang diberikan
simvastatin

mengalami penurunan risiko hingga 22% terhadap terjadinya

penyakit CVD (Cardio Vascular Disease). Penurunan resiko ini terjadi pada
semua subkategori LDL yang diperiksa, termasuk pasien dengan kadar kolesterol
LDL yang lebih rendah sebelum terapi (<116 mg/dl) (Sudoyo, 2009).
Collaborative Atorvastatin Diabetes Study (CARDS) meneliti sebanyak
2838 penderita diabetes melitus yang tidak menderita penyakit kardiovaskular
atau revaskularisasi koroner sebelumnya. Secara acak diberikan atorvastatin 10
mg/hari dan plasebo selama 4 tahun. Kadar kolesterol LDL pada awal penelitian
adalah sekitar 116 mg/dl. Pada akhir penelitian, sebanyak 75 % dari penderita
kadar kolesterol LDL menurun mencapai 96 mg/dl dan 25 % menurun sampai <
64 mg/dl. Seiring dengan penurunan kadar kolesterol LDL, terdapat penurunan
risiko kejadian penyakit kardiovaskular sebesar 37% (Sudoyo, 2009).

Sedangkan Anglo Scandinavian Cardiac Outcomes Trials-lipid Lowering


Arm (ASCOTT-LLA) melakukan penelitian dengan mengikutsertakan 10.305
penderita hipertensi tanpa riwayat penyakit kardiovaskuler sebelumnya tetapi
sedikitnya mempunyai tiga faktor risiko kardiovaskular, yang secara acak
diberikan atorvastatin 10 mg dan plasebo. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2532
orang adalah penderita diabetes. Tujuan penelitian ini adalah ingin melihat
manfaat penurunan kolesterol pada penderita diabetes dimana tekanan darah
terkendali baik sedang kadar kolesterol sedikit tinggi atau normal yaitu total
kolesterol < 250 mg/dl. Setelah 3,3 tahun kadar kolesterol pada penderita diabetes
mellitus yang mendapat atorvastain 38,6 mg/dl lebih rendah dibandingkan
penderita yang mendapat plasebo. Jumlah penderita yang mengalami penyakit
kardiovaskuler jauh lebih sedikit pada mereka yang mendapat atorvastain
dibandingkan plasebo masing masing 9,2 % dan 11,9 % (Sudoyo, 2009).
Efek samping pemakaian statin biasanya terjadi peningkatan yang sifatnya
minor pada kadar enzim hati sering dijumpai pada 5 bulan pertama terapi statin
yang biasanya akan normal kembali dengan sendirinya. Peningkatan yang
bermakna terjadi pada 2% pasien pada awal terapi tergantung pada dosis statin
yang digunakan, dan akan normal kembali jika dosis statin diturunkan atau
dihentikan. Pemantauan enzim hati secara teratur selama penggunaan statin, yaitu
pada 1bulan, 3 bulan dan 6 bulan setelah terapi statin dimulai, dan kemudian
sekali setiap tahun. Walaupun ada pembatasan penggunaan statin, hanya ada
sedikit bukti yang menunjukkan bahwa statin berbahaya untuk pasien dengan
penyakit hati kronik seperti hepattis B dan C atau kholestasis (Sudoyo, 2009).
Efek samping lain yang dijumpai pada 5% pasien adalah miopati, muncul
sebagai gejala nyeri pada otot dan persendian tanpa adanya perubahan kadar
kreatin kinase (CK). Miopati yang parah (rhaddomiolisis fatal) dialami oleh 0,2%
pasien, disertai dengan peningkatan CK (10 kali batas atas kadar normal, CK
normal adalah 10150 IU/L), dan dalam hal ini penggunaan statin harus segera
dihentikan. Jika CK berkisar antara 310 kali batas atas normal, statin tetap
dilanjutkan tetapi CK harus terus dipantau sampai diketahui apakah keadaan
membaik atau memburuk (sehingga memerlukan penghentian statin). Jika perlu
dosis statin diturunkan untuk meredakan efek samping tersebut. Gejala efek
samping pada otot ini bisanya lebih banyak terjadi pada pasien yang

menggunakan kombinasi obat penurun kadar lipid, misalnya kombinasi statin dan
fibrat atau asam nikotinat (Sudoyo, 2009).
2) Derivat asam fibrat
Obat antihiperlipidemik yang termasuk golongan asam fibrat adalah:
Gemfibrozil, Fenofibrate, Ciprofibrate dan Bezafibrate. Obat ini bekerja dengan
cara meningkatkan oksidasi asam lemak bebas di hati ataupun otot dan
mengurangi lipogenesis dihati sehingga sekresi dari VLDL dan trigliserid hati
menjadi menurun. Fibrat juga mempunyai efek merubah struktur lipid melalui
aktivasi dari Peroxisome Proliferator Activated receptor Type Alpha (PPAR).
Aktivasi dari PPAR meningkatkan lipolisis dan eliminasi aterogenik yang
banyak mengandung partikel trigliserida dari plasma dengan mengaktifkan
Lipoprotein lipase dan mengurangi produksi apoprotein CIII (suatu inhibitor dari
aktivitas lipoprotein lipase). Aktivasi PPAR juga memicu peningkatan sintesa
apoprotein AI and AII, yang dapat menimbulkan berkurangnya kolesterol VLDL
dan kolesterol LDL yang berisi apoprotein B dan peningkatan kolesterol HDL
yang mengandung apoprotein AI dan AII. Mengenai mekanisme kerja obat fibrat
untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini (Sudoyo, 2009).

Gambar 7: Mekanisme kerja fibrat


(Sudoyo, 2009)
Fibrat di absorpsi dengan baik di saluran cerna, kadar puncaknya di plasma
dapat ditemukan 6 sampai 8 jam setelah di konsumsi. Setelah diabsorpsi fibrat
dieksresikan melalui urine dalam bentuk metabolitnya, asam fibrat terkonjugasi.
Rata-rata 60% dosis di eksresikan melalui urine dan 25 % nya di eksresikan

melalui feses. Asam fibrat di eliminasi dengan waktu paruh sekitar 20 jam,
sehingga di berikan dengan dosis sekali sehari . Fibrat meningkatkan kadar statin.
Karena itu dosis statin seharusnya lebih rendah jika di berikan bersamaan dengan
fibrat. Dosis fibrat harusnya juga di kurangi pada pasien dengan gagal ginjal
sedang dan berat. Para ahli merekomendasikan pemberian di pagi hari,
sedangkan statin di malam hari (Sudoyo, 2009).
Efek samping yang paling sering dijumpai adalah gangguan saluran cerna
pada 5% pasien. Seperti juga pada statin, peningkatan enzim hati juga terjadi pada
awal terapi tapi tidak berlanjut. Miopati jarang dilaporkan jika fibrat digunakan
sebagai terapi tunggal. Harus dipertimbangkan risiko dan manfaatnya sebelum
memberikan fibrat sebagai terapi kombinasi. Fibrat di kontraindikaskan pada
pasien pasien yang hipersensitif terhadap fibrat, pasien dengan kerusakan ginjal
yang berat, sirhosis bilier, dan pasien dengan kerusakan fungsi hepar yang
persisten, serta penyakit kandung empedu (Sudoyo, 2009).
Fenofibrate Intervention and Event Lowering in Diabetes (FIELD study)
tahun 2009 dalam suatu penelitiannya mendapatkan bahwa fenofibrat 200 mg/hari
secara signifikan mengurangi kejadian penyakit kardiovaskuler pada pasienpasien dengan kolesterol LDL yang rendah dan hipertensi. Efek terbesar dari
fenofibrat adalah menurunkan risiko penyakit kardiovaskular yang diobservasi
pada pasien dengan dislipidemia (trigliserida yang tinggi yaitu diatas 2,3 mmol/L
dan kolesterol LDL yang rendah) sebanyak 27 % (Sudoyo, 2009).
Veterans Affairs High-Density Lipoprotein Cholesterol InterventionTrial
(VA-HIT) mendapatkan bahwa gemfibrozil 1200 mg/hari dihubungkan dengan
penurunan cardiovascular events sebesar 24% pada penderita diabetes yang
sebelumnya telah menderita penyakit kardiovaskuler dengan HDL rendah (<40
mg/dl) dan peningkatan trigliserida (Sudoyo, 2009).
3) Sekuestran asam empedu (Penangkap asam empedu)
Terdapat tiga jenis Sekuestran asam empedu yaitu cholestyramin, colestipol
dan Colesevelam dengan dosis masing-masing adalah 8-16 g/hari, 10-20 g/hari
dan 6,5 g/hari. Mekanisme kerjanya ada dua yaitu meningkatkan bersihan
(klirens) kolesterol dan menurunkan resirkulasi asam empedu. Mulamula obat ini
mengikat asam empedu pada usus halus sehingga mencegah resirkulasinya ke
dalam sistem entrohepatik. Dengan demikian ekskresi asam empedu meningkat

hingga 10 kali lipat, dan karena asam empedu berkurang, hati berespon
meningkatkan produksi asam empedu dengan cara memecah kolesterol. Selain itu
reseptor LDL juga meningkat untuk mengikat kolesterol, sehingga kadar
kolesterol yang ada dalam sirkulasi darah makin menurun (Sudoyo, 2009).

Gambar 8: Mekanisme kerja sekuestran asam empedu


(Sudoyo, 2009)
Sekuestran asam empedu menurunkan kolesterol LDL 1530%, dan
meningkatkan HDL sampai 5%. Pada beberapa pasien sekuestran asam empedu
meningkatkan kadar trigliserida, sehingga penggunaannya dihindari untuk pasien
hipertrigliseridemia atau hiperlipidemia campuran dengan peningkatan kadar
trigliserida yang signifikan. Sekuestran asam empedu dapat menurunkan kejadian
gangguan fungsi jantung dan progresi aterosklerosis. Obat ini terutama berguna
untuk mengobati pasien yang mengalami peningkatan kolesterol LDL saja atau
sebagai obat tambahan jika monoterapi gagal mencai target terapi (Sudoyo, 2009).
Masalah utama pada terapi sekuestran asam empedu ini adalah penerimaan
pasien karena rasa obat yang tidak enak. Biasanya obat diminum 4 kali sehari,
dalam bentuk serbuk yang dicampurkan ke dalam sejumlah besar air. Pada dosis
maksimum, golongan obat ini sering menimbulkan rasa tidak nyaman pada
abdomen, refluks esofagus dan konstipasi. Obat ini juga dapat mengikat obat lain,
misalnya digoksin, levotiroksin, atau warfarin, sehingga harus diperhatikan agar
penggunaan antar obatobat tersebut dengan sekuestran asam empedu ini terpisah
paling sedikit 46 jam (Sudoyo, 2009).
4) Asam nikotinik
Asam nikotinik merupakan obat penurun lipid yang pertama kali
diperkenalkan. Oleh karena bentuk yang lama yaitu asam nikotinik serap cepat

mempunyai efek samping cukup banyak, maka obat ini tidak banyak dipakai.
Dengan diperkenalkannya asam nikotinik yang lepas lambat (niaspan) sehingga
absorpsi di usus berjalan lambat, maka efek samping menjadi lebih kurang
(Sudoyo, 2009).
Obat ini diduga menghambat enzim hormone sensitive lipase di jaringan
adiposa, dengan demikian akan mengurangai asam lemak bebas. Diketahui bahwa
asam lemak bebas yang ada dalam darah sebagian akan ditangkap oleh hati dan
akan menjadi sumber pembentukan VLDL. Dengan menurunnya sintesis VLDL
dihati, akan mengakibatkan penurunan kadar trigliserida dan juga kolesterol LDL
plasma. Pemberian asam nikotinik ternyata juga meningkatkan kadar kolesterol
HDL bahkan merupakan obat yang terbaik untuk meningkatkan kolesterol HDL.
Oleh karena menurunkan trigliserida, menurunkan LDL dan meningkatkan
kolesterol HDL maka disebut juga sebagai broad spectrum lipid lowering agent
(Sudoyo, 2009).

Gambar 9: Mekanisme kerja asam nikotinik


(Sudoyo, 2009)
Efek samping yang paling sering terjadi adalah flushing yaitu perasaan
panas pada muka bahkan di badan. Untuk mencegah hal tersebut, pada
penggunaan asam nikotinik sebaiknya dimulai dengan dosis rendah kemudian
ditingkatkan, misalnya selama satu minggu 375 mg/hari kemudian ditingkatkan
secara bertahap sampai dosis maksimal sekitar 1500- 2000 mg/hari. Dengan asam
nikotinik yang baru yaitu lepas lambat, efek samping sangat berkurang. Hasil
yang sangat baik didapatkan bila dikombinasikan dengan golongan HMG-CoA
reductase inhibitor (Sudoyo, 2009).
5) Ezetimibe

Ezetimibe tergolong obat penurun lipid yang baru, diperkenalkan di pasaran


sejak tahun 2003. Obat ini bekerja sebagai Karena jumlah kolesterol yang masuk
melalui usus halus turun, maka hati meningkatkan asupan kolesterolnya dari
sirkulasi darah, sehingga kadar kolesterol serum akan turun. Ezetimibe 10 mg/hari
digunakan untuk hiperkolesterolemia primer (Sudoyo, 2009).
Sebagai terapi tunggal, efek utama ezetimibe adalah menurunkan kadar
kolesterol LDL sampai 18%,dengan sedikit efek pada trigliserida dan HDL.Jika
dikombinasi dengan statin, bisa menghasilkan penurunan kadar LDL serum 20%
lagi dibanding statin saja, penurunan kadar trigliserida 9%, dan peningkatan
kolesterol HDL 3%.Saat ini ezetimibe digunakan jika terapi tunggal statin gagal
mencapai target terapi,atau sebagai alternatif monoterapi jika pasien tidak tahan
statin. Efek samping yang yang sering muncul pada pemakaian ezetimibe adalah
gangguan intestinal,sakit kepala dan mialgia (Sudoyo, 2009).
6) Asam lemak omega-3.
Bukti epidemiologi sejak lama menunjukkan bahwa diet kaya asam lemak
omega3 yang diperoleh dari minyak ikan menurunkan resiko kardiovaskuler.
Asam lemak omega3,terutama asam eikosapentanoat (EPA) dan asam
dokosaheksanoat (DHA) mempunyai beberapa efek pada lipid dan metabolism
lipid (Sudoyo, 2009).
Asam lemak omega3 menurunkan kadar lipid dengan cara menekan
produksi trigliserida dan VLDL di hati dan meningkatkan konversi VLDL menjadi
LDL. Kadar trigliserida menurun hingga 30% disertai sedikit peningkatan
HDL.Suplemetasi

asam

lemak

omega3

46g/hari

digunakan

untuk

hiperkolestrolemia. Juga dapat ditambahkan pada terapi statin atau fibrat untuk
meningkatkan efektivitas penurunan lipidnya. Dosis rendah 1g/hari digunakan
untuk menurunkan risiko kardiovaskular dengan hasil penurunan mortalitas infark
miokard dan stroke 10%, dan kematian jantung mendadak 44%. Efek samping
utama adalah pada saluran cerna, berupa diare (Sudoyo, 2009).
Tabel 9: Obat Penurun Lipid, Jenis, Cara Kerja, Dosis dan
Efek samping (Sudoyo, 2009)
Jenis
Bile

Acid-

sequestran

Cara Kerja

Lipoprotein

Dosis

Menghambat

Samping
LDL-C 20- Kolestramin 8-12 Obstipasi,

sirkulasi

30%,

Efek

mual, perut

enterohepatik

asam

HDL-C (2/3

empedu, menurunkan dan TG

kali tidak enak

pemberian)
Kolestipol 10-15 g
(2/3
kali

sintesis asam empedu


dan reseptor LDL

pemberian)

HMG-CoA

Gangguan

reductase

Penurunan

inhibitor

kolestrol,

sintesis LDL-C 25-

peningkatan reseptor

40%,
VLDV

LDL

Lovastatin

10-80

mg/dl
Simvastatin

5-40

fungsi hati,
mg/dl
miosis
Pravastatin 10-40

mg/dl
Fluvastatin 20-40
mg/dl
Atorvastatin 10-80
mg/dl
Rosuvastatin

Derivat asam
fibrat

Asam nikotin

TG

10-

Mual,

25- 20 mg/dl

gangguan
40%,
Gemfibrozil 600- fungsi hati,
peningkatan
or LDL1200 mg
miosis
hidrolisis TG,
C
Fenofibrat 160 mg
Penurunan
sintesis HDL
Peningkatan LPL dan

VLDL,
Peningkatan
Flushing,

katabolisme LDL
Penurunan

sintesis Trigliserida

Niasin 50-100 mg

takikardia,

gatal, mual,
3 kali pemberian,
25-85 %,
diare,
VLDL-C kemudian
hiperurisemi
25-35%,
tingkatkan 1.0-2.5
LDL-C 25a,
ulkus
g 3 kali pemberian
40% dan
peptik,

VLDL dan LDL

Ezetimibe

HDL

intoleransi

mungkin

glukosa,
gangguan

Asam lemak Penurunan


omega 3

kolestrol
halus

absorpsi
di

fungsi hati
10 mg/hari

usus

Sakit
LDL-C 16-

18%
Penurunan

kepala,

sintesis

nyeri perut,

VLDL

dan diare

pada

50-60%
hiper

Mual

TG berat
Terapi kombinasi untuk pasien dislipidemia
Pengobatan kombinasi untuk dislipidemia diabetik adalah satu cara
penatalaksanaan lipid yang optimal dengan menggunakan dua macam obat lipid
yang mekanisme kerjanya berbeda, bersifat efektif dan ditoleransi baik dan aman
terhadap pasien. Kombinasi yang digunakan sebaiknya menggunakan kombinasi
jalur endogen dengan eksogen sintesa kolesterol, kombinasi tersebut adalah statinniacin, statin-fibrat, statin-bile acid sequestrant, statin-ezetimibe, dan niacin-bile
acid sequestrant. Penggunaan kombinasi dua obat juga terbukti efektif untuk yang
gagal dengan monoterapi, karena kombinasi dengan dosis kecil mempunyai efek
penurun lipid lebih besar dibandingkan terapi dosis yang ditingkatkan. Secara
umum menurunkan dosis dari tiap obat yang digunakan akan memperkecil risiko
efek samping (Sudoyo, 2009).
Studi-studi membuktikan bahwa terapi kombinasi antara statin dan
berbagai obat lain seperti bile acid resin, fibrat dan niacin memberikan manfaat
yang lebih baik dalam hal penurunan kadar LDL kolesterol. Kombinasi ezetimibe
dengan statin merupakan strategi baru dalam memperbaiki profil lipid pada pasien
DM tipe 2. Studi terbaru menunjukkan bahwa kombinasi ezetimibe dengan
simvastatin pada dosis 10/10, 10/20, 10/40 dan 10/80 mg menghasilkan
penurunan kadar LDL kolesterol, total kolesterol, trigliserida, non HDL
cholesterol dan apolipoprotein (Apo) B yang lebih besar dibandingkan simvastatin
monoterapi serta ditoleransi dengan baik. Berikut ini adalah daftar prioritas
pilihan obat- obatan dalam penatalaksanaan dislipidemia diabetik menurut
American Diabetes Association (Sudoyo, 2009).
Tabel 10: Prioritas pilihan penatalaksanaan dislipidemia diabetik.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Bahri. 2004. Dislipidemia sebagai Faktor Resiko Penyakit Jantung


Koroner. Medan : FK USU.
Darey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta : Erlangga.
Ganiswarna, Sulistia. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta : Gaya Baru.
Katzung, B. G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: Salemba Medika.
PDT. 2009. Standar Pelayanan Medis RSUD AW Sjahrannie SMF IPD.
Samarinda : RSUD AW Sjahrannie SMF IPD.
Silbernagl, Stefan, Florian, Lang. 2000. Color Atlas of Patophysiology. New
York : Thieme.
Sudoyo, Ary, Setyohadi, Bambang, Alwi, Idrus. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta : FK UI.
Sukandar, Elind., et al. 2008. ISO Farmakoterapi. Jakarta : PT. ISFI.