Anda di halaman 1dari 21

2.3.

3 Komponen Kelengkapan Lainnya


1. Cross arm
Palang (Cross Arm) adalah tempat dudukan isolator. Beban mekanis pada palang
arah horizontal akibat dari gaya regangan penghantar dan beban vertikal akibat
berat penghantar. Umumnya beban vertikal diabaikan. Bahan palang adalah besi
(ST.38) profil UNP galvanis dengan panjang berbeda.
Tabel x.x Karakteristik Palang

Sumber : Buku 1 Kriteria Desain Enjinering Kontruksi Jaringan Distribusi Tenaga Listrik
Pemasangan Cross arm/travers pada tiang diikat dengan klem dan mur-baut, tetapi pada
tiang beton tidak diperlukan klem, karena baut bisa langsung menembus tiang dan Cross
arm/travers. Untuk menjaga agar Cross arm tidak miring setelah dibebani isolator dan
kawat, maka dipasang konstruksi berupa besi penyangga atau berupa plat simpul (braca
Steel).

Berikut adalah bebapa model/bentuk crossarm pada jaringan SUTM :

a. Pemasangan Cross arm double tumpu pada tiang beton bulat

Gambar x.x Pemasangan Cross arm double tumpu padatiang beton bulat
Sumber : Buku Teknik Distribusi Tenaga Litsrik Jilid 2, (Suhadi 2008)
Tabel x.x Jenis Material Pemasangan Cross arm double tumpu padatiang beton bulat
No

Kode

.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

tb
a-1
c
j
bkp
stp
e-1
e
stp
g
h

Jumlah

Jenis Material

1 bt
Tiang beton bulat
2 bh
Cross arm UNP 10 100.50.5 x 2000 mm
4 bh
Klem beugel boll 5/8 x 300 mm
2 bh
Double arming boll 5/8 x 300 mm
2 bh
Arm tie broce 50.50 x 1270 mm
4 bh
Steel plat type I
12 bh
Mur baut spring washer 5/8 x 148 mm
4 bh
Mur baut spring washer 5/8 x 70 mm
4 bh
Steel plat type II
6 set
Isolator tumpu type post
6 bh
Double side ties
Sumber : Buku Teknik Distribusi Tenaga Litsrik Jilid 2, (Suhadi 2008)

b. Cross arm double tumpu pada tiang beton H

Gambar x.x Cross arm double tumpu pada tiang beton H


Sumber : Buku Teknik Distribusi Tenaga Litsrik Jilid 2, (Suhadi 2008)
Tabel x.x Jenis Material Pemasangan Cross arm double tumpu padatiang beton bulat
No

Kode

Jumlah

Jenis Material

.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

tb
a-1
c
stp
bkp
e
e-1
stp
g
h
e-1

1 bt
2 bh
4 bh
4 bh
2 bh
4 bh
12 bh
4 bh
6 set
6 bh
1 bh

Tiang beton bulat


Cross arm UNP 10 100.50.5 x 2000 mm
Klem beugel boll 5/8 x 300 mm
Double arming boll 5/8 x 300 mm
Arm tie broce 50.50 x1270 mm
Mur baut spring washer 5/8 x 70 mm
Mur baut spring washer 5/8 x 148 mm
Steel plat type II
Isolator tumpu type post
Prilarm double side tie
Klem beugel type I tiang H

Sumber : Buku Teknik Distribusi Tenaga Litsrik Jilid 2, (Suhadi 2008)

c. Cross arm tention support 2000 mm pada tiang beton bulat

Gambar x.x Cross arm tention support 2000 mm pada tiang beton bulat
Sumber : Buku Teknik Distribusi Tenaga Litsrik Jilid 2, (Suhadi 2008)
Tabel x.x Jenis Material Pemasangan Cross arm tention support 2000 mm pada tiang
beton bulat
No

Kode

Jumlah

Jenis Material

.
1
2

tb
a-1

1 bt
2 bh

Tiang beton bulat


Cross arm UNP 10 100.50.5 x 2000 mm

3
4
5
6
7
8
9
10
11

c
j
bkp
stp
e-1
e
stp
g
h

4 bh
Klem beugel boll 50x6 mm
2 bh
Double arming boll 5/8 x 300 mm
2 bh
Arm tie broce 50.50 x 1270 mm
4 bh
Steel plat type I
12 bh
Mur baut spring washer 5/8 x 148 mm
4 bh
Mur baut spring washer 5/8 x 70 mm
4 bh
Steel plat type II
6 set
Isolator tumpu type post
6 bh
Double side ties
Sumber : Buku Teknik Distribusi Tenaga Litsrik Jilid 2, (Suhadi 2008)
d. Pemasangan Cross arm tention support 2000 mm pada tiang beton H

Gambar x.x Cross arm tention support 2000 mm pada tiang beton H
Sumber : Buku Teknik Distribusi Tenaga Litsrik Jilid 2, (Suhadi 2008)
Tabel x.x Jenis Material Pemasangan Cross arm tention support 2000 mm pada tiang
beton bulat
No

Kode

Jumlah

Jenis Material

.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

tb
1 bt
Tiang beton bulat
a-1
2 bh
Cross arm UNP 10 100.50.5 x 2000 mm
bkp
2 bh
Arm tie broce 50.50 x 1270 mm
c
4 bh
Klem beugel type II tiang beton bulat
j
2 bh
Double arming boll 5/8 x 300 mm
c-1
4 bh
Klem beugel type II tiang beton bulat
e-1
10 bh
Mur baut dan ring 5/8 x 148 mm
k
4 bh
Steel plat type I
l
4 bh
Steel plat type II
g
1 bh
Isolator tumpu type post
ml
6 set
Isolator penegang/afspan long rod
prt
1 bh
Prilarm lop ties
pil/tjn
6 bh
Parallel groove/non tension joint
Sumber : Buku Teknik Distribusi Tenaga Litsrik Jilid 2, (Suhadi 2008)

e. Cross arm tention support 2200 mm double pole pada tiang beton bulat

Gambar x.x Cross arm tention support 2200 mm double pole pada tiang beton bulat
Sumber : Buku Teknik Distribusi Tenaga Litsrik Jilid 2, (Suhadi 2008)
Tabel x.x Jenis Material Pemasangan Cross arm tention support 2000 mm pada tiang
beton bulat
No

Kode

Jumlah

Jenis Material

.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

tb
a-2
j
j
stp
e-1
g
h
ml

1 bt
2 bh
4 bh
4 bh
6 bh
6 bh
3 set
3 bh
6 set

Tiang beton bulat


Cross arm UNP 10 100.50.5 x 2200 mm
Klem beugel type II tiang beton bulat
Double arming boll 5/8 x 300 mm
Steel plat type II
Mur baut spring washer 5/8 x 148 mm
Isolator tumpu type post
Prilarm lop ties
Isolator tarik

10

pil/tjn
6 bh
Parallel groove/non tension joint
Sumber : Buku Teknik Distribusi Tenaga Litsrik Jilid 2, (Suhadi 2008)

f. Cross arm tention support 2200 mm double pole pada tiang beton H

Gambar x.x Cross arm tention support 2200 mm double pole pada tiang beton H
Sumber : Buku Teknik Distribusi Tenaga Litsrik Jilid 2, (Suhadi 2008)
Tabel x.x Jenis Material Pemasangan Cross arm tention support 2000 mm pada tiang
beton bulat
No

Kode

Jumlah

Jenis Material

.
1
2
3
4
5
6
7
8

tb
a-2
stp
c
e
e-1
g
h

1 bt
2 bh
6 bh
4 bh
8 bh
6 bh
3 set
3 bh

Tiang beton bulat


Cross arm UNP 10 100.50.5 x 2200 mm
Steel plat type II
Klem beugel type II tiang beton H
Mur baut dan ring 5/8 x 70 mm
Mur baut spring washer 5/8 x 148 mm
Isolator tumpu type post
Prilarm lop ties

9
10

ml
6 set
Isolator tarik
pil/tjn
6 bh
Parallel groove/non tension joint
Sumber : Buku Teknik Distribusi Tenaga Litsrik Jilid 2, (Suhadi 2008)
2. Ioslator
Menurut buku Komponen Jaringan (PT PLN Udikalt Semarang) fungsi utama isolator
adalah sebagai penyekat listrik pada penghantar terhadap penghantar lainnya dan
penghantar terhadap tanah. Tetapi karena penghantar yang disekatkan tersebut
mempunyai gaya mekanis berupa berat dan gaya tarik yang berasal dari berat penghantar
itu sendiri, dari tarikan dank arena perubahan akibat tempertur danangin, maka isolator
harus mempunyai kemampuan untuk menahan beban mekanis yang harus dipikulnya.
Untuk penyekatan terhadap tanah berarti mengandalkan kemampuan isolasi antara kawat
dan batang besi pengikat isolator ke travers, sedangkan untuk penyekatan antar fasa
maka jarak antara penghantar satu dengan yang lainnya dilakukan adalah member jarak
antara isolator satu dengan lainnya dimana pada kondisi suhu panas sampai batas
maksimum dan angin yang meniup sekencang apapun dua pengantar tidak akan saling
bersentuhan.

Gambar 2.5 Isolator


Sumber: http://tokokenarilistrik.blogspot.com
Fungsi isolator dapat ditinjau dari 2 (segi), yaitu :
a. Fungsi dari segi listrik:
1) Untuk menyekat / mengisolasi antara kawat phasa dengan tagangan.
2) Untuk menyekat / mengisolasi antara kawat phasa dengan kawat phasa.
b. Fungsi dari segi mekanik:
1) Menahan berat dari penghantar / kawat.
2) Mengatur jarak dan sudut antar penghantar / kawat dan kawat.
3) Menahan adanya perubahan kawat akibat perbedaan temperatur dan angin.
Bahan isolator untuk SUTM adalah porselin/keramik yang dilapisiglazur dan gelas, tetapi
yang paling banyak adalah dari porselin ketimbang gelas, dikarenakan udara yang
mempunyai kelembaban tinggi pada umumnyadi Indonesia isolator dari bahan gelas

permukaannya mudah ditempeli embun. Warna isolator pada umumnya coklat untuk
bahan porselin dan hijau-bening untuk bahan gelas.
Kontruksi isolator pada umumnya dibuat dengan lekukan-lekukan yang bertujuan untuk
memperjauh jarakrambatan, sehingga pada kondisi hujan maka ada bagian permukaan
isolator yang tidak ditempeli air hujan.
3. Trafo
Menurut Buku Materi I Kontruksi Jaringan Distribusi Tegangan Menengah (PT PLN
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Semarang, 2006) transformator tenaga adalah suatu
peralatan tenaga listrik yang berfungsi untuk menyalurkan tenaga/daya listrik dari
tegangan tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya (mentansformasikan tegangan).
Bagian-bagain dari trafo adalah :
a. Inti besi
Inti besi tersebut berfungsi untuk membangkitkan fluksi yang timbul karena arus
listrik dalam belitan atau kumparan trafo, sedang bahan ini terbuat dari lempenganlempengan baja tipis, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi panas yang diakibatkan
oleh arus eddy (weddy current).
b. Kumparan primer dan kumparan sekunder
Kawat email yang berisolasi terbentuk kumparan serta terisolasi baik antar kumparan
maupun antara kumparan dan inti besi. Terdapat dua kumparan pada inti tersebut
yaitu kumparan primair dan kumparan skunder, bila salah satu kumparan tersebut
diberikan tegangan maka pada kumparan akan membangkitkan fluksi pada inti serta
menginduksi kumparan lainnya sehingga pada kumparan sisi lain akan timbul
tegangan.
c. Minyak trafo
Belitan primer dan sekunder pada inti besi pada trafo terendam minyak trafo, hal ini
dimaksudkan agar panas yang terjadi pada kedua kumparan dan inti trafo oleh
minyak trafo dan selain itu minyak tersebut juga sebagai isolasi pada kumparan dan
inti besi.
d. Isolator bushing
Pada ujung kedua kumparan trafo baik primair ataupun sekunder keluar menjadi
terminal melalui isolator yang juga sebagai penyekat antar kumparan dengan body
badan trafo.
e. Tangki dan konsekfator

Bagian-bagian trafo yang terendam minyak trafo berada dalam tangki, sedangkan
untuk pemuaian minyak tangki dilengkapi dengan konserfator yang berfungsi untuk
menampung pemuaian minyak akibat perubahan temperature.

f. Katub pembuangan dan pengisian


Katup pembuangan pada trafo berfungsi untuk menguras pada penggantian minyak
trafo, hal ini terdapat pada trafo diatas 100 kVA, sedangkan katup pengisian
berfungsi untuk menambahkan atau mengambil sample minyak pada trafo.
g. Oli level
Fungsi dari oil level tersebut adalah untuk mengetahui minyak pada tangki trafo, oil
level inipun hanya terdapat pada trafo diatas 100 kVA.
h. Indikator suhu trafo
Untuk mengetahui serta memantau keberadaan temperature pada oil trafo saat
beroperasi, untuk trafo yang berkapasitas besar indikator limit tersebut dihubungkan
dengan rele temperature.
i. Pernapasan trafo
Karena naik turunnya beban trafo maupun suhu udara luar, maka suhu minyaknya
akan berubah-ubah mengikuti keadaan tersebut. Bila suhu minyak tinggi, minyak
akan memuai dan mendesak udara diatas permukaan minyak keluar dari tangki,
sebaliknya bila suhu turun, minyak akan menyusut maka udara luar akan masuk
kedalam tangki.
Kedua proses tersebut diatas disebut pernapasan trafo, akibatnya permukaan minyak
akan bersinggungan dengan udara luar, udara luar tersebut lembab. Oleh sebab itu
pada ujung pernapasan diberikan alat dengan bahan yang mampu menyerap
kelembaban udara luar yang disebut kristal zat Hygrokopis (Clilicagel).
j. Pendingin trafo
Perubahan temperature akibat perubahan beban maka seluruh komponen trafo akan
menjadi panas, guna mengurangi panas pada trafo dilakukan pendingin pada trafo,
guna mengurangi pada trafo dilakukan pendinginan pada trafo. Sedangkan cara
pendinginan trafo terdapat dua macam yaitu alamiah/natural (Onan) dan
paksa/tekanan (Onaf).
Pada pendinginan alamiah (natural) melalui sirip-sirip radiator yang bersirkulasi
dengan udara luar dan untuk trafo yang besar minyak pada trafo disirkulasikan

dengan pompa. Sedangkan pada pendinginan paksa pada sirip-sirip trafo terdapat fan
yang bekerjanya sesuai setting temperaturnya.
k. Tap changer (perubahan tap)
Tap changer adalah alat perubah pembanding transformasi untuk mendapatkan
tegangan operasi sekunder yang sesuai dengan tegangan sekunder yang diinginkan
dari tegangan primer yang berubah-ubah. Tiap changer hanya dapat dioperasikan
pada keadaan trafo tidak bertegangan atau disebut dengan Off Load Tap Changer
serta dilakukan secara manual.
4. Disconnecting Switch
Disconnecting Switch (DS) adalah sebuah alat pemutus yang digunakan untuk menutup
dan membuka pada komponen utama pengaman/recloser. DS tidak dapat dioperasikan
secara langsung, karena alat ini mempunyai desain yang dirancang khusus dan
mempunyai kelas atau spesifikasi tertentu. DS didesain sebagai saklar pemutus yang
tidak bisa beroperasi langsung atau terbuka pada saat arus beban masih melaluinya.Jika
dipaksakan untuk pengoperasian langsung, maka akan menimbulkan busur api yang
dapat berakibat fatal. Untuk menghindari hal tersebut, maka DS dilengkapi dengan
peringatan visual untuk keamanan operator. Peringatan visual tersebut berguna untuk
memberikan informasi mengenai keamanan operasi DS.

Gambar x.x Disconnecting Switch

Gambar x.x Diconnecting Switch pada SUTM


Pengoperasian DS tidak dapat secara bersamaan melainkan dioperasikan satu persatu,
karena antara satu DS dengan DS yang lain tidak berhubungan. Biasanya pengoperasian
dilakukan menggunakan stick (tongkat khusus) yang dapat dipendekkan atau
dipanjangkan sesuai dengan jarak dimana DS itu berada. DS terdiri dari bahan keramik
sebagai penopang dan sebuah pisau yang berbahan besi logam sebagai switch-nya.
DS dilengkapi dengan pemutus beban, dengan tujuan agar pengoperasian DS dilakukan
secara aman. DS dapat dioperasikan apabila pemutus beban telah dalam
keadaan terbuka. Fungsi dari DS adalah untuk menjamin keamanan pekerja pada saat
melakukan pekerjaan yang menyangkut tegangan listrik, serta memberikan efisiensi
karena sifatnya lebih ekonomis dibandingkan CB (circuit breaker). Syarat-syarat yang
harus dipenuhi pada pemisah/DS adalah sebagai berikut :
a. Harus sanggup menahan tegangan nominal sampai dengan tegangan 10%diatas
tegangan nominal.
b. Dalam keadaan tertutup mampu menahan momentary current pada waktu hubung
singkat.
c. Dapat menahan timbulnya beban thermis dan daya elektrodinamis yang timbul saat
terjadi hubung singkat.

Standar arus nominal yang direkomendasikan oleh IEC adalah 200, 400, 630, 800, 1250,
1600, 2000, 2500, 3150, 4000, 5000, dan 6300 A. Sedangkan untuk rating arus
pentanahan hubung singkat adalah harga efektif arus hubung singkat terbesar yang
mampu dialirkan pemutus daya dalam periode tertentu. Standar rating arus hubung
singkat yang diberikan oleh IEC adalah 8, 10, 12,5 , 20, 25, 31,5 , 40, 50, 63, 80, dan
100 kA.
Untuk menentukan besarnya rating DS berdasarkan besarnya arus nominal pada saklar
pemisah dan berdasarkan arus hubung singkat ke tanah saklar pemisah tersebut. Sesuai
dengan penempatannya, DS dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Pemisah bus, yaitu pemisah yang terpasang di sisi bus.
b. Pemisah line, yaitu pemisah yang terpasang di sisi penghantar.
c. Pemisah tanah, yaitu pemisah yang terpasang pada peralatan untuk menghubungkan
ke tanah.
Selain digolongkan berdasarkan penempatannya, DS juga dapat digolongkan
berdasarkan posisi penggeraknya.
a.
b.
c.
d.

Pemisah dengan batang gerak di sisi penghantar.


Pemisah dengan batang gerak terletak di tengah.
Pemisah dengan batang gerak bergerak ke atas (pantograf).
Pemisah dengan gerakan bersama-sama PMT.

Apabila dilihat dari cara sistem pengoperasiannya, pemisah dapat dibedakan


menjadi 3 jenis yaitu :
a. Manual untuk sistem 70 kV dan 150 kV
b. Motor listrik untuk sistem 150 kV
c. Pneumatik dengan tekanan udara untuk sistem 150 kV dan 500 kV.

5. PHB TR
Yang dimaksud dengan PHB TR adalah Perlengkapan Hubung Bagi yang dipasang pada
sisi TR atau sisi sekunder Trafo sebuah gardu Distribusi baik Gardu beton, Gardu kios,
Gardu portal maupun Gardu cantol.
Adapun PHB TR yang banyak kita jumpai adalah PHB TR yang ada pada Gardu Trafo
Tiang (GTT). PHB TR yang terpasang pada Gardu Trafo Tiang berbentuk lemari besi
yang didalamnya terdapat komponen-komponen antara lain :
a. Kerangka / Rak TR

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Sakar utama
NH fuse utama
Rel Tembaga
NH fuse jurusan
Isolator penumpu Rel
Sirkuit Pengukuran
Alat ukur Ampere & Volt meter
Trafo Arus (CT)
Sistem Pembumian
Lampu Kontrol / Indikator

Gambar x.x PHB Garudu Terbuka

Gambar x.x PHB TR (Out door)

Gambar x.x Rangkaian utama, pengukuran dan control PHB TR

Fungsi atau kegunaan PHB TR adalah sebagai penghubung dan pembagi atau
pendistribusian tenaga listrik dari out put trafo sisi tegangan rendah TR ke Rel pembagi
dan diteruskan ke Jaringan Tegangan Rendah (JTR) melalui kabel jurusan (Opstyg Cable)
yang diamankan oleh NH Fuse jurusan masing-masing.
Untuk kepentingan efisiensi dan penekanan susut jaringan (loses) saat ini banyak unit
PLN yang mengambil kebijaksanaan untuk melepas atau tidak memfungsikan rangkaian
pengukuran maupun rangkaian kontrolnya, hal ini dimaksudkan agar tidak banyak energi
listrik yang mengalir ke alat ukur maupun kontrol terbuang untuk keperluan kontrol dan
pengukuran secara terus menerus, sedangkan untuk mengetahui besarnya beban maupun
tegangan, dilakukan pengukuran pada saat di perlukan saja dan bisa menggunakan
peralatan ukur portable seperti AVO atau Tang Ampere saja.
6. Lighting Arrester

Arrester adalah alat pelindung bagi peralatan sistem khususnya pada transformator
pasangan terhadap surja petir dan tegangan abnormal frekuensi jala-jala. Arrester berlaku
sebagai jalan pintas (by-pass) sekitar isolasi. Arrester membentuk jalan yang mudah
dilalui oleh arus kilat atau petir, sehingga tidak timbul tegangan lebih yang tinggi pada
peralatan. Jalan pintas harus sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu aliran daya
sistem. Jadi pada keadaan normal arrester berlaku sebagai isolator dan bila timbul surja
berlaku sebagai konduktor, jadi melewatkan arus yang tinggi. Setelah surja hilang,
arrester harus dapat dengan cepat kembali menjadi isolator, sehingga pemutus beban
tidak sempat membuka.
Arrester terdiri dari dua jenis yaitu jenis ekspulsi (expulsion type) atau tabung pelindung
(protector tube) yang digunakan pada saluran transmisi untuk mengurangi besar tegangan
surja petir yang masuk ke gardu induk dan jenis katup (valve type) yang digunakan gardu
maupun saluran distribusi
a. Arrester jenis ekspulsi atau tabung pelindung
Lightning Arrester jenis ekspulsi atau tabung pelindung ini pada prinsipnya terdiri
dari sela percik yang berada dalam tabung serat dan sela percik yang berada di luar
udara atau disebut juga sela seri.
Bila ada tegangan surja yang tinggi sampai pada jepitan arrester kedua sela percik,
yang diluar dan yang berada didalam tabung serat, tembus seketika dan membentuk
jalan penghantar dalam bentuk busur api. Jadi arrester menjadi konduktor dengan
impedansi rendah dan melalukan surja arus dan arus daya system bersama sama.
Panas yang timbul karena mengalirnya arus petir menguapkan sedikit bahan tabung
serat, sehingga gas yang timbul akan menyembur pada api dan mematikannya pada
waktu arus arus susulan melewati titik nolnya.
Arus susulan dalam arrester jenis ini dapat mencapai harga yang tinggi sekali tetapi
lamanya tidak lebih dari 1 (satu) atau 2 (dua) gelombang, dan biasannya kurang dari
setengah gelombang. Jadi tidak menimbulkan gangguan.
Arrester jenis ekspulasi ini mempunyai karakteristik volt waktu yang lebih baik
dari sela batang dan dapat memutuskan arus susulan. Tetapi tegangan percik

impulsnya lebih tinggi dari arrester jenis katup. Tambahan lagi kemampuan untuk
memutuskan arus susulan tergantung dari tingkat arus hubung singkat dari system
pada titik di mana arrester itu dipasang. Dengan demikian perlindungan dengan
arrester jenis ini dipandang tidak memadai untuk perlindungan transformator daya,
kecuali untuk system distribusi. Arrester jenis ini banyak juga digunakan pada
saluran transmisi untuk membatasi besar surja yang memasuki gardu induk. Dalam
penggunaan yang terakhir ini arrester jenis ini sering disebut sebagai tabung
pelindung.

Gambar x.x Arrester Jenis Ekspulsi


b. Arrester jenis katup
Arrester jenis ini terdiri dari sela percik terbagi atau sela seri yang terhubung dengan
elemen tahanan yang mempunyai karakteristik tidak linear, lihar Gambar 2.39 (a).
Tegangan frekuensi dasar tidak dapat menimbulkan tembus pada sela seri. Apabila
sela seri tembus pada saat tibanya suatu surja yang cukup tinggi, alat tersebut menjadi
penghantar. Sela seri itu tidak dapat memutuskan arus susulan. Dalam hal ini dia
dibantu oleh tahanan tak-linear yang mempunyai karakteristik tahanan kecil untuk
arus besar dan tahanan besar untuk arus susulan dari frekuensi dasar, lihat Gambar
2.39 (b)

Gambar x.x (a) elemen arrester jenis katup dan karakteristik volt-ampere tahanan
katup
Arrester jenis katup ini dibagi dalam empat jenis yaitu :
a. Arrester katup jenis gardu (station)
b. Arrester katup jenis saluran (intermediate)
c. Arrester katup jenis gardu untuk mesin mesin
d. Arrester katup jenis distribusi untuk mesin mesin (distribution)
7. Fused Cut Out
FCO merupakan peralatan proteksi yang bekerja apabila terjadi gangguan arus lebih. Alat
ini akan memutuskan rangkaian listrik yang satu dengan yang lain apabila dilewati arus
yang melewati kapasitas kerjanya.
Pengaman lebur untuk gardu distribusi pasangan luar dipasang pada Fused Cut Out
(FCO) dalam bentuk Fuse Link. Terdapat 3 jenis karakteristik Fuse Link, tipe-K (cepat),
tipeT (lambat) dan tipeH yang tahan terhadap arus surja. Data aplikasi pengaman lebur
dan kapasitas transformatornya dapat dilihat pada tabel x.x.
Tabel x.x Spesifikasi Fused cut out (FCO) dan fused link (expulsion type) tegangan
menengah (Publikasi IEC No. 282-2 NEMA).

Sumber : Buku 1 Kriteria Desain Enjinering Kontruksi Jaringan Distribusi Tenaga Listrik

Apabila tidak terdapat petunjuk yang lengkap, nilai arus pengenal pengaman lebur sisi
primer tidak melebihi 2,5 kali arus nominal primer tranformator.
Jika sadapan Lighning Arrester (LA) sesudah Fused Cut Out, dipilih Fuse Link tipeH.
Jika sebelum Fused Cut Out (FCO) dipilih Fuse Link tipeK. Sesuai Publikasi IEC 282-2
(1970)/NEMA) di sisi primer berupa pelebur jenis pembatas arus. Arus pengenal pelebur
jenis letupan (expulsion) tipe-H (tahan surja kilat) tipe-T (lambat) dan tipe-K (cepat)
menurut publikasi IEC No. 282-2 (1974) NEMA untuk pengaman berbagai daya
pengenal transformator, dengan atau tanpa koordinasi dengan pengamanan sisi sekunder.