Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara terus
menerus mengakibatkan tingkat pendidikan dan teknologi semakin maju. Orang dengan
mudah berobat dan tidak takut dengan penyakit berbahaya. Tapi hal ini dipengaruhi oleh
peningkatan biaya pengobatan sementara masyarakat, masih banyak yang hidup dibawah
garis kemiskinan. Oleh karena itu masyarakat Indonesia harus sudah mengenal kesehatan
keluarga dari sekarang agar masyarakat mengenal arti pentingnya kesehatan. Agar
masyarakat Indonesia hidup sehat keperawatan keluarga merupakan salah satu area
spesalis dalam keperawatan yang berfokus kepada keluarga sebagai target pelayanan.
Tujuan dari keperawatan keluarga adalah untuk meningkatkan kesehatan keluarga secara
menyeluruh bagi anggota keluarga.
Karakteristik keluarga terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh
hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, anggota keluarga biasanya hidup bersama,
atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain. Anggota keluarga
berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial yaitu suami,
istri, anak, kakak, dan adik yang mempunyai tujuan. Perawat perlu mengetahui dan
memiliki pikiran yang terbuka mengenai konsep keluarga. Sekilas keluarga memiliki halhal yang umum, tetapi setiap bentuk keluarga memiliki kekuatan dan permasalahan yang
unik. Keluarga banyak menghadapi tantangan seperti salah satunya pada tahap
perkembangan keluarga pada kelahiran anak pertama. Periode kelahiran anak pertama
adalah waktu transisi fisik dan psikologis bagi ibu dan seluruh keluarga. Orang tua harus
beradaptasi terhadap perubahan struktur karena adanya anggota baru dalam keluarga,
yaitu bayi. Dengan kehadiran bayi maka sistem dalam keluarga akan berubah dan pola
interaksi dalam keluarga harus dikembangkan.
Pada periode transisi, keluarga membutuhkan adaptasi yang cepat, sehingga
kondisi ini menempatkan keluarga menjadi sangat rentan dan mereka memerlukan
bantuan untuk beradaptasi dengan peran yang baru. Stress dari berbagai sumber dapat
berefek negatif pada fungsi dan interaksi ibu dengan bayi dan keluarga, yang berdampak
pada kesehatan fisik ibu dan bayi. Maka dari itu kelompok tertarik untuk membahas
mengenai konsep keluarga dan tumbuh kembang keluarga pada kelahiran anak pertama.

B. RUMUSAN MASALAH
1

Berdasarkan latar belakang diatas, didapatkan bahwa rumusan masalah antara lain:
1. Apa konsep dasar keluarga?
2. Bagaimana konsep tugas perkembangan keluarga pada kelahiran anak pertama?
3. Bagaimana asuhan keperawatan keluarga dengan tahap perkembangan kelahiran anak
pertama?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Umum
Setelah membaca makalah ini, mahasiswa diharapkan mampu :
a. Memahami konsep dasar keluarga.
b. Memahami konsep tugas perkembangan keluarga pada kelahiran anak pertama.
c. Memahami asuhan keperawatan keluarga dengan tahap perkembangan kelahiran
anak pertama.
2. Khusus
Setelah membaca makalah ini, mahasiswa diharapkan mampu:
a. Menjelaskan definisi konsep dasar keluarga pada kelahiran anak pertama.
b. Mengaplikasikan asuhan keperawatan keluarga dengan tahap perkembangan
kelahiran anak pertama.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2

A.

KONSEP DASAR KELUARGA


1. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama melalui
ikatan perkawinan dan kedekatan emosi yang masing-masing mengidentifikasi diri
sebagai bagian dari keluarga (Ekasari, 2000).
Menurut Duval, 1997 (dalam Supartini, 2004) mengemukakan bahwa keluarga
adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, dan
kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum,
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial setiap anggota.
Bailon, 1978 (dalam Achjar, 2010) berpendapat bahwa keluarga sebagai dua atau
lebih individu yang berhubungan karena hubungan darah, ikatan perkawinan atau
adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dalam peranannya
dan menciptakan serta mempertahankan budaya.
Keluarga adalah suatu sistem sosial yang dapat menggambarkan adanya jaringan
kerja dari orang-orang yang secara regular berinteraksi satu sama lain yang
ditunjukkan oleh adanya hubungan yang saling tergantung dan mempengaruhi dalam
rangka mencapai tujuan (Leininger, 1976).
Jadi dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah sekumpulan dua orang atau lebih
yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, hubungan darah, hidup dalam satu
rumah tangga, memiliki kedekatan emosional, dan berinteraksi satu sama lain yang
saling

ketergantungan

untuk

menciptakan

atau

mempertahankan

budaya,

meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial setiap anggota


dalam rangka mencapai tujuan bersama.
2. Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga
Tahap dan siklus tumbuh kembang keluarga menurut Duval 1985 dan Friedman 1998,
ada 8 tahap tumbuh kembang keluarga, yaitu :
Tahap I
: Keluarga Pemula
Keluarga pemula merujuk pada pasangan menikah/tahap pernikahan. Tugas
perkembangan keluarga saat ini adalah membangun perkawinan yang saling
memuaskan, menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis, merencanakan
keluarga berencana.
Tahap II
: Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua bayi sampai umur
30 bulan)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap II, yaitu membentuk keluarga muda sebagai
sebuah unit, mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan, memperluas
persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran orang tua kakek dan
3

nenek dan mensosialisasikan dengan lingkungan keluarga besar masing-masing


pasangan.
Tahap III

: Keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua berumur 2-

6 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap III, yaitu memenuhi kebutuhan anggota
keluarga, mensosialisasikan anak, mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap
memenuhi kebutuhan anak yang lainnya, mempertahankan hubungan yang sehat
dalam keluarga dan luar keluarga, menanamkan nilai dan norma kehidupan, mulai
mengenalkan kultur keluarga, menanamkan keyakinan beragama, memenuhi
kebutuhan bermain anak.
Tahap IV

: Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua usia 6-13 tahun)

Tugas perkembangan keluarga tahap IV, yaitu mensosialisasikan anak termasuk


meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya,
mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan, memenuhi kebutuhan
kesehatan fisik anggota keluarga, membiasakan belajar teratur, memperhatikan anak
saat menyelesaikan tugas sekolah.
Tahap V

: Keluarga dengan anak remaja (anak tertua umur 13-20 tahun)

Tugas perkembangan keluarga pada tahap V, yaitu menyeimbangkan kebebasan


dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi dewasa dan mandiri, memfokuskan
kembali hubungan perkawinan, berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan
anak-anak, memberikan perhatian, memberikan kebebasan dalam batasan tanggung
jawab, mempertahankan komunikasi terbuka dua arah.
Tahap VI

: Keluarga yang melepas anak usia dewasa muda (mencakup anak

pertama sampai anak terakhir yang meninggalkan rumah)


Tahap ini adalah tahap keluarga melepas anak dewasa muda dengan tugas
perkembangan keluarga antara lain : memperluas siklus keluarga dengan memasukkan
anggota keluarga baru yang didapat dari hasil pernikahan anak-anaknya, melanjutkan
untuk memperbaharui dan menyelesaikan kembali hubungan perkawinan, membantu
orang tua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami dan istri.
Tahap VII

: Orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan atau pensiunan)

Tahap keluarga pertengahan dimulai ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan
berakhir atau kematian salah satu pasangan. Tahap ini juga dimulai ketika orang tua
memasuki usia 45-55 tahun dan berakhir pada saat pasangan pensiun. Tugas
perkembangannya adalah menyediakan lingkungan yang sehat, mempertahankan
4

hubungan yang memuaskan dan penuh arah dengan lansia dan anak-anak,
memperoleh hubungna perkawinan yang kokoh.
Tahap VIII

: Keluarga dalam tahap pensiunan dan lansia

Dimulai dengan salah satu atau kedua pasangan memasuki masa pensiun terutama
berlangsung hingga salah satu pasangan meninggal dan berakhir dengan pasangan lain
meninggal. Tugas perkembangan keluarga adalah mempertahankan pengaturan hidup
yang

memuaskan,

menyesuaikan

terhadap

pendapatan

yang

menurun,

mempertahankan hubungan perkawinan, menyesuaikan diri terhadap kehilangan


pasangan dan mempertahankan ikatan keluarga antara generasi.
3. Fungsi Keluarga
Friedmann mengidentifikasikan lima prinsip fungsi dasar keluarga, diantaranya
adalah fungsi afektif, fungsi sosialisasi, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, dan fungsi
keperawatan keluarga. (Friedmann, 1998, dalam Mubarak, dkk, 2011: 76-78)
a)

Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang


mkerupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan
kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada
kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota
keluarga slaing mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dapat dipelajari
dan didkembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam kelduarga. Dengan
demikian, keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh anggota
keluarga dapat mengembangkan konsep diri positif.

b)

Fungsi sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui


individu, yang menghasilkan interaksi social dan belajar berperan dalam
lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak manusia lahir. Keluarga merupakan
tempat individu untuk belajar bersosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia
akan menatap ayah, ibu dan orang-orang yang disekitarnya. Kemudian beranjak
balita dia mulai belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar meskipun
demikian keluarga tetap berperan penting dalam bersosialisasi. Keberhasilan
perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan
antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi anggota keluarga
belajar disiplin, belajar norma-norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan
interaksi keluarga.

c)

Fungsi reproduksi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya


manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain untuk memenuhi
5

kebutuhan biologis pada pasangan tujuan untuk membentuk keluarga adalah


untuk meneruskan keturunan.
d) Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh
anggota keluargta seperti memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian, dan
tempat tinggal. Banyak pasangan sekarang kita lihat dengan penghasilan yang
tidak seimbang antara suami dan istri hal ini menjadikan permasalahan yang
berujung pada perceraian.
e)

Fungsi perawatan kesehatanjuga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan


praktek asuhan kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan
dan atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam
memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga.
Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari
tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakan
tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan.

B. KONSEP

DASAR

KELUARGA

DENGAN

TAHAP

PERKEMBANGAN

KELUARGA KELAHIRAN ANAK PERTAMA


Perkembangan keluarga adalah proses perubahan yang terjadi pada system keluarga
meliputi perubahan pola interaksi dan hubunga antara anggotanya di sepanjang waktu.
Siklus perkembangan keluarga sebagai komponen kunci dalam setiap kerangka kerja
yang memandang keluarga sebagai suatu system. Perkembangan ini terbagi menjadi
beberapa tahap atau kurun waktu tertentu. Pada setiap tahapnya keluarga memiliki tugas
perkembangan yang harus dipenuhi agar tahapan tersebut dapat dilalui dengan sukses.
Kerangka perkembangan keluarga menurut Evelyn Duvall memberikan pedoman untuk
memeriksa dan menganalisa perubahan dan perkembangan tugas-tugas dasar yang ada
dalam keluarga selama siklus kehidupan mereka.
1. Tahap-Tahap Perkembangan Keluarga Kelahiran Anak Pertama
Tahap perkembangna keluarga dibagi sesuai kurun waktu tertentu yang dianggap
stabil, misalnya keluarga dengan anak pertama berbeda dengan anak keluarga remaja.
Meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangan secara unik, namun secara
umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama. Tiap tahap perkembangan
membutuhkan tugas dan fungsi keluarga agar dapat melalui tahap tersebut. Keluarga
yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama
6

dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan (3,2 tahun) merupakan tahap
perkembangan keluarga kelahiran anak pertama. Kehamilan dan kelahiran bayi
pertama dipersiapkan oleh pasangan suami istri melalui beberapa tugas perkembangan
yang penting. Kelahiran bayi pertama memberikan perubahan yang besar bagi
keluarga, sehingga pasangan harus beradaptasi dengan peranya untuk memenuhi
kebutuhan bayi. Sering terjadi dengan kelahiran bayi, pasangan merasa diabaikan
karena focus perhatian kedua pasangan tertuju pada bayi. Suami merasa belum siap
menjadi ayah atau sebaliknya istri belum siap menjadi ibu. Peran utama perawat
keluarga adalah mengkaji peran orang tua; bagaimana orang tua berinteraksi dan
merawat bayi serta bagaimana bayi berespon. Perawat perlu memfasilitasi hubungan
orang tua dan bayi yang positif dan hangat sehingga jalinan kasih sayang antara bayi
dan orang tua dapat tercapai.
2. Tugas Perkembangan Dengan Keluarga Keluarga Kelahiran Anak Pertama
Tahap ini dimulai dimulai saat ibu hamil sampai dengan kelahiran anak pertama
dan berlanjut sampai dengan anak pertama berusia 30 bulan. Ada beberapa hal tugas
perkembangan keluarga pada fase childbearing yaitu: (Duval, dalam buku Santun
Setiawati : 19 dan dalam buku Mubarak, dkk : 87-88).
a. Persiapan menjadi orang tua dan merawat bayi
b. Membagi peran dan tanggung jawab
c. Menata ruang untuk anak atau mengembangkan suasana rumah yang
menyenangkan
d. Mempersiapkan biaya atau dana kelahiran anak pertama
e. Memfasilitasi role learning anggota keluarga
f. Bertanggung jawab memenuhi kebutuhan bayi sampai balita
g. Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin
h. Beradaptasi pada pola hubunga seksual
i. Mensosialisasikan anak dengan lingkungan keluarga besar masing-masing
pasangan.
Sedangkan menurut Carter dan Mc. Goldrik, 1988, Duval dan Miller, 1985,
(Dalam buku ilmu keperawatan komunitas, hal: 87-88) tugas perkembangan
keluarga pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a. Membentuk keluraga muda sebagai sebuah unit yang mantap ( mengintegrasikan
bayi baru ke dalam keluarga).
7

b. Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota


keluarga .
c. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
d. Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peranperan orang tua, kakek, dan nenek.
3. Fungsi Perawat Dalam Tahap Perkembangan Keluarga Dengan Kelahiran Anak
Pertama
Sebagi kekhususan perawatan keluarga memiliki peran yang cukup banyak dalm
memberikan asuhan keperawatan keluarga.
Fungsi perawat dalam tahap ini adalah melakukan perawatn dan konsultasi antara
lain (Mubarak, dkk : 88) :
a.

Bagaimana cara menentukan gizi yang baik untuk ibu hamil dan bayi,

b.

Mengenali gangguan kesehatn bayi secara dini dan mengatasinya,

c.

Imunisasi yang dibutuhkan anak,

d.

Tumbang anak yang baik,

e.

Interaksi keluarga,

f.

Keluarga berencana, serta

g.

Pemenuhan kebutuhan anak terutama pada ibu yang bekerja.

4. Karakteristik Keluarga Dengan Kelahiran Anak Pertama


1) Perkembangan fisik
Rata-rata berat badan lahir 3400 g, panjang 50 cm.Sampai 10% berat lahir
hilang dalam beberapa hari pertama, utamanya karena kehilangan cairan melalui
pernapasan, uri, defekasi, dan penurunan pemasukan. Berat lahir akan naik kembali
pada minggu kedua kehidupan, dan terjadi peningkatan secara bertahap dalam
berat badan, tinggi badan, tinggi badan dan lingkar kepala. Pada bulan pertama,
berat badan rata-rata meningkat 120-240 g per minggu, tinggi badan 0,6-2,5 cm,
dan 2 cm dalam lingkar kepala.
Denyut jantung neonatus secara bertahap menurun dari denyut jantung janin
130 sampai 160 kali per menit turun menjadi 120 sampai 140 kali per menit. Ratarata tekanan darah 74/46 mmHg. Rata-rata waktu pernapasan adalah 30 sampai 50
kali per menit. Karena neonatus bernapas melalui hidung, penting untuk menjaga
saluran hidung bersih. Temperatur aksila berada dalam rentang antara 36oC sampai
37,5o C dan secara umum menjadi stabil dalam 24 jam setelah lahir.
8

Karakteristik fisik yang normal termasuk tetap adanya lanugopada kulit di


bagian belakang ; sianosis pada tangan dan kaki, khususnya selama aktivitas ; dan
abdomen yang lebih lembut dan menonjol.
Fungsi neorologis dikaji dengan mengobservasi tingkat aktivitas neonatus,
kewaspadaan, iritabilitas, dan respon terhadap stimulus dan kehadiran

serta

kekuatan dari refleks. Refleks normal termasuk berkedip dalam berespon terhadap
cahaya yang terang dan gerakan terkejut dalam respon terhadap suara ribut yang
tiba-tiba dan keras.
Karakteristik perilaku bayi baru lahir yang normal meliputi periode mengisap,
menangis, tidur, dan beraktivitas.
2) Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif yang awal mulai dengan perilaku bawaan, refleks, dan
fungsi sensori. Bayi baru lahir memulai aktivitas refleks, menyesuaikan bendabenda yang baru ke dalam perilaku, dan mengakomodasikan perilaku ini untuk
mencapai keinginan mereka. Fungsi sensori membantu perkembangan kognitif
pada bayi baru lahir. Pada saat baru lahir, anak-anak dapat berfokus pada benda
berjarak kira-kira 8 sampai 10 inci dari wajah mereka dan dapat melihat benda.
Sistem auditorius dan vestibular berfungsi dari saat lahir. Kemampuan sensori ini
memberikan neonatus untuk mengeluarkan stimulus lebih daripada hanya
menerima stimulus. Orang tua harus diajarkan pentingnya memberikan stimulus
sensori, misalnya berbicara dengan bayi mereka dan memegang mereka untuk
melihat wajah mereka. Hal ini memungkinkan bayi untuk mencari atau mengambil
stimulus,

dengan

demikian

memperbesar

pembelajaran

dan

peningkatan

perkembangan kognitif.
Untuk neonatus menangis adalah komunikasi. Mereka menangis untuk suatu
alasan, walaupun pada saatnya alasan ini sulit untuk ditentukan. Dengan bantuan
perawat, orang tua belajar untuk mengenali arti tangisan bayi dan mengambil
tindakan yang sesuai jika dibutuhkan.
3) Perkembangan Psikososial
Selama bulan pertama kehidupan, orang tua dan bayi baru lahir normalnya
membangun hubungan yang kuat yang tumbuh ke dalam kedekatan yang dalam.
Interaksi selama perawatan rutin memperbesar atau memperkecil proses kedekatan.
Tindakan menyusui, kebersihan, dan memberikan rasa nyaman sebanyak mungkin
9

ketika bayi terjaga. Pengalaman interaksi ini memberi dasar untuk terjadi bentuk
kedekatan yang dalam. Neonatus merupakan partisipan yang aktif dalam proses ini.
Jika orang tua atau anak-anak mengalami komplikasi kesehatan setelah lahir,
hubungan dapat terganggu. Isyarat perilaku bayi mungkin lemah atau tidak ada.
Perawatan dan pengasuh secara bersama kurang memuaskan. Rasa lelah, orang tua
yang sakit memiliki kesulitan untuk mengartikan dan merespons bayi mereka.
4) Emosi bayi (Neonatal)
Melihat tidak adanya koordinasi yang merupakan ciri dari aktifitas bayi
neonatal, tidaklah masuk akal untuk mengharapkan emosi yang khusus, yang jelas,
pada saat bayi dilahirkan. Reaksi emosional hanya dapat diuraikan sebagai keadaan
yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Yang pertama ditandai oleh tubuh
yang tenang dan yang kedua ditandai oleh tubuh yang tegang.
Ciri yang menonjol dari keadaan emosi adalah tidak adanya tingkatan reaksi
yang menunjukkan tingkat intensitas yang berbeda. Apapun rangsangannya, yang
dihasilkan adalah emosi yang kuat (intens) dan tiba-tiba.
5) Kemampuan Belajar
Perkembangan otak dan saraf yang memungkinkan proses belajar belum
terdapat pada bayi neonatal terutama pada hari-hari pertama kehidupan pascanatal.
Bayi neonatal sering tidak mampu melakukan bentuk belajar yang sangat sedehana
atau belajar melalui asosiasi. Kecuali situasi makan, reaksi yang berupa kebiasaan
sulit diperoleh. Kalau reaksi ini tampak biasanya tidak stabil dan kurang bernilai.
6) Bermain
Pola bermain yang umum dari masa bayi :
a.

Sensomotorik : ini adalah bentuk permainan yang paling awal dan terdiri dari
tendangan,

gerakan-gerakan

mengangkat

tubuh,

bergoyang-goyang,

menggerak-gerakkan jari jemari tangan dan kaki, memanjat, berceloteh dan


mengelinding.
b.

Menjelajah : dengan berkembangnya koordinasi lengan dan tangan, bayi mulai


mengamati tubuhnya dengan menarik rambut, menghisap jari tangan dan kaki,
memasukkan jari-jari ke dalam pusar, dan memainkan alat kelamin. Mereka
mengocok, membuang, membanting, menghisap dan menarik-narik mainan
dan menjelajah dengan cara menarik, membanting dan merobek benda-benda
yang dapat diraihnya.
10

c.

Meniru : dlam tahun kedua, bayi mencoba meniru kelakuan orang-orang di


sekitar mereka, seperti membaca majalah, menyapu lantai atau menulis dengan
pensil atau krayon.

d.

Berpura-pura : selama tahun kedua, kebanyakan bayi memberikan sifat kepada


mainannya seperti sifat-sifat yang sesungguhnya. Boneka-boneka hewan diberi
sifat hewan sungguhan sama halnya boneka atau mobil-mobilan dianggap
seperti orang atau mobil.

e.

Permainan : sebelum berusia satu tahun bayi memainkan permainanpermainan

tradisional

seperti

Cilukba,

Petak

umpet

(sembunyi-

sembunyian) dsb. Biasanya dilakuakan bersama orang tua, nenek, atau kakakkakak.
f.

Hiburan : bayi senang dinyanyikan, diceritai, dan dibacakan dongengdongeng. Kebanyakan bayi menyenangi siaran radio dan televisi dan melihat
gambar-gambar.

5. Masalah Kelahiran Anak Pertama


Masalah-masalah yang sering terjadi pada anak baru lahir meliputi bahaya fisik,
bahaya fisiologis, dan bahaya psikologis.
1) Bahaya Fisik
a. Kematian
Selama tahun pertama, kematian biasanya disebabkan oleh penyakit yang
parah sedangkan dalam tahun kedua kematian lebih banyak disebabkan oleh
kecelakaan. Sepanjang masa bayi, lebih banyak anak laki-laki yang mati dari
pada anak perempuan.
b. Penyakit
Meskipun benar bahwa banyak kematian dalam bulan-bulan pertama
disebabkan karena penyakit gastrointestinal atau komplikasi pernapasan, tetapi
jumlah kematian yang dulu disebabkan karena penyakit parah sekarang jauh
berkurang karena sekarang bayi diberi suntikan dan vaksinasi untuk
memperkebal tubuh terhadap penyakit yang dulu merupakan penyakit yang
fatal. Tetapi penyakit ringan seperti selesma dan gangguan pencernaan umum
terjadi. Diagnosa yang tetap dan perawatan medis yang baik dapat mencegah
akibat yang buruk. Tetapi kalau diabaikan, seperti yang terjadi dalam selesma,
gangguan-gangguan yang lebih parah berkembang cepat, terutama radang
telinga. Penyakit yang lama dapat mengganggu pola pertumbuhan normal.
11

Tidak

semua

bayi

setelah

sembuh

dapat

mengejar

perkembangan

pertumbuhannya. Seberapa jauh pola pertumbuhan dipengaruhi oleh penyakit


yang lama diderita sampai sekarang belum dapat ditentukan.
c. Kecelakaan
Pada tahun pertama kecelakaan tidak banyak terjadi karena bayi sangat
terlindung dalam tempat tidur atau kereta tidurnya. Namun dalam tahun kedua
pada saat bayi dapat bergerak lebih bebas dan tidak sangat dilindungi,
kecelakaan lebih sering terjadi. Kecelakaan seperti luka memar dan luka garuk
merupakan kecelakaan ringan dan tidak meninggalkan akibat yang permanen.
Jenis lain seperti pukulan di kepala atau sobekan-sobekan merupakan
kecelakaan yang cukup parah dan dapat meninggalkan bekas luka atau bahkan
mengakibatkan akibat yang fatal. Tetapi kecelakaan ringan sekalipun dapat
meninggalkan luka psikologis. Bayi sering menakuti situasi yang sama dengan
situasi yang menimbulkan kecelakaan atau ia mengembangkan sikaf takut
sebagai akibat seringnya mengalami kecelakaan.
d. Kurang Gizi
Kekurangan gizi yang dapat disebabkan karena kurang makan atau diet yang
tidak seimbang, tidak saja dapat merusak pertumbuhan fisik tetapi juga
merusak perkembangan mental. Hal ini dapat menyebabkan rintangan dalam
pertumbuhan dan mengakibatkan cacat fisik seperti gigi busuk, kaki bengkak
dan kecenderungan menderita banyak penyakit. Karena otak tumbuh dan
berkembang sangat cepat dalam masa bayi maka dapat sangat dipengaruhi
oleh kurangnya gizi. Dua tahun pertama disebut periode kritis dalam
pertumbuhan otak karena adanya peningkatan yang mencolok dalam
perkembangan sel-sel otak pada masa ini, oleh karena itu merupakan periode
dimana otak sangat rentan terhadap kerusakan. Kalau pada saat ini bayi
menderita kekurangan gizi tidak dapat dijamin bahwa perkembangan
selanjutnya akan berjalan normal. Kalau pertumbuhan dan perkembangan otak
terganggu anak tidak dapat mencapai potensi-potensi intelektualnya, sekalipun
sudah menjadi lebih besar anak tidak dapat melakukan tugas-tugas intelektual
yang seharusnya dapat dilakukan seandainya perkembangan yang normal tidak
terganggu oleh rusaknya perkembangan otak karena kekurangan gizi.
2) Bahaya Fisiologis
a. Kebiasaan Makan
12

Bayi yang menetek terlampau lama menunjukkan tanda-tanda tegang. Mereka


lebih lama terlibat dalam kegiatan menghisap lainnya (seperti menghisap ibu
jari), lebih banyak mengalami kesulitan tidur dan lebih gelisah dari pada bayi
yang periode meneteknya lebih singkat. Kalau terlambat disapih bayi
cenderung menolak jenis makanan yang baru dan cenderung menghisap ibu
jari sebagai pengganti puting susu ibu. Bayi juga akan menolak makanan yang
agak padat kalau makanan agak keras terlampau cepat diperkenalkan, bukan
karena rasanya melainkan karena kekerasannya.
b. Kebiasaan Tidur
Menangis, permainan yang berat dengan orang dewasa, atau kegaduhan dapat
membuat anak menjadi tegang dan sulit tidur. Jadwal tidur yang tidak
memenuhi persyaratan membuat bayi tegang dan menolak tidur.
c. Kebiasaan Pembuangan
Kebiasaan ini tidak dapat dibentuk sebelum saraf dan otot-otot berkembang
dengan baik. Mencoba melatih pembuangan terlampau awal membuat bayi
tidak mau berkerja sama dalam membentuk kebiasaan ini kalau ia sudah
matang nantinya. Sebaliknya, penundaan melatih pembuangan mengakibatkan
kebiasaan yang tidak teratur dan kurangnya motivasi. Mengompol merupakan
hal yang umum bila latihan bila tidak dilakukan sesuai dengan kesiapan
perkembangan bayi.
3) Bahaya Psikologis
a. Bahaya dalam perkembangan motorik
Kalau perkembangan motorik terlambat, bayi akan sangat dirugikan pada saat
mulai bermain dengan teman-teman sebaya. Semakin banyak kelambatan
dalam pengendalian motorik, akan semakin lambat ia memperoleh
keterampilan yang dimiliki anak-anak lain. Lagi pula, karena keinginan
mandiri sudah mulai berkembang pada awal tahun kedua, maka bayi yang
perkembangan motoriknya terlambat akan merasa kecewa kalau gagal dalam
usahanya melakukan sesuatu secara sendirian. Yang juga sangat mengganggu
dalam penyesuaian diri anak adalah tekanan dari orang tua untuk mencapai
pengendalian motorik dan untuk belajar keterampilan motorik sebelum ia
cukup matang untuk melakukannya. Di bawah kondisi ini bayi sering
mengembangkan sikap menolak dan negativistik yang akan melemahkan
13

motivasinya dan menyebabkan tertunda mempelajari tugas-tugas yang


seharusnya sudah dapat kuasai.
b. Bahaya Dalam Berbicara
Kelambatan dalam berbicara, seperti halnya kelambtan dalam pengendalian
motorik, menjadi serius dalam masa bayi karena pada masa ini diletakkan
dasar-dasar untuk alat komunikasi yang nanti diperlukan kalau cakrawala
sosial meluas. Dalam masa awal kanak-kanak, ketika minat terhadap orangorang di luar rumah mulai timbul, anak yang mengalami kelambatan berbicara
akan merasa dikucilkan. Kelambatan berbicara disebabkan karena beberapa
hal, yang paling sering adalah intelegensi yang rendah, kurangnya
perangsangan (terutama dalam tahun pertama) dan kelahiran kembar. Kalau
orang tua atau pengasuh tidak merangsang anak untuk berceloteh

atau

mencoba mulai bicara, maka kebanyakan bayi akan kehilangan minat untuk
mencoba bicara. Kelambatan bicara pada bayi kembar banyak dapat
disebabkan karena kelambatan perkembangan yang merupakan ciri dari bayi
tersebut atau karena bayi biasanya belajar saling berkomunikasi dengan bentuk
prabicara.
c. Bahaya Emosi Yang Umum Pada Masa Bayi
- Kurangnya kasih sayang
- Tekanan
- Terlampau banyak kasih sayang
- Emosi yang kuat
d. Bahaya Sosial
Bahaya sosial yang utama adalah kurangnya kesempatan dan motivasi untuk
belajar menjadi sosial. Ini mendorong lambatnya sifat-sifat egosentris
berlangsung, yang merupakan ciri dari setiap bayi, dan mengakibatkan
perkembangan sikaf introvert. Kurangnya kesempatan untuk kontak sosial
dalam setiap usia akan mengganggu, terutama dari usia 6 minggu sampai 6
bulan yang merupakan saat keritis dalam pengembangan sikap yang
mempengaruhi pola sosialisasi. Meskipun sikap sosial dapat dan memang
berubah, banyak individu yang membentuk sikap sosial yang kurang baik pada
saat bayi akan terus bersikap kurang sosial kalau besar nanti.
e. Bahaya Bermain
14

Bermain pada masa bayi merupakan bahaya potensial, baik secara fisik
maupun psikologis. Banyak mainan dapat menimbulkan goresan, memar atau
menyebabkan bayi tercekik karena ada bagian yang lepas. Bahaya psikologis
yang utama adalah bahwa bayi sangat bergantung pada mainan untuk
memperoleh hiburan dan tidak belajar bermain yang melibatkan interaksi
dengan orang-orang lain. Televisi, yang digunakan pengganti pengasuh, tidak
mendorong anak untuk memainkan peran aktif dalam bermain.
f. Bahaya dalam Pengertian
Meskipun pengertian merupakan tahap perkembangan yang masih sangat
sederhana namun dapat merupakan bahaya psikologis yang bahaya. Dalam
perkembangan konsep, relatif mudah untuk memperbaiki konsep yang salah
tentang orang, benda atau situasi dengan konsep yang benar. Tetapi, semua
konsep mempunyai bobot emosi, dan disinilah letak bahayanya. Kalau,
misalnya, bayi belajar mengasosiasikan kembang gula dengan perilaku yang
baik dan menganggap sayur-sayuran sebagai bentuk hukuman, bobot emosi
dari konsep ini akan mengakibatkan suka atau tidak terhadap jenis makanan.
g. Bahaya Moralitas
Bahaya psikologis yang serius untuk perkembangan moral di masa depan
terjadi bila bayi mendapatkan bahwa ia lebih banyak memperoleh perhatian
kalau ia melakukan sesuatu yang mengganggu atau melawan orang lain
daripada kalau melakukan tindakan yang lebih diterima.
h. Bahaya Hubungan Keluarga pada Masa Bayi
-

Perpisahan dengan Ibu

Gagal mengembangkan perilaku akrab

Merosotnya hubungan keluarga

Terlampau melindungi

Latihan yang tidak konsisten

Penganiayaan anak

6. Perawat Dalam Tahap Perkembangan Keluarga Dengan Keluarga Kelahiran


Anak Pertama
Sebagi kekhususan perawatan keluarga memiliki peran yang cukup banyak dalm
memberikan asuhan keperawatan keluarga.
15

Fungsi perawat dalam tahap ini adalah melakukan perawatn dan konsultasi antara
lain (Mubarak, dkk : 88) :
a. Bagaimana cara menentukan gizi yang baik untuk ibu hamil dan bayi,
b. Mengenali gangguan kesehatn bayi secara dini dan mengatasinya,
c. Imunisasi yang dibutuhkan anak,
d. Tumbang anak yang baik,
e. Interaksi keluarga,
f. Keluarga berencana, serta
g. Pemenuhan kebutuhan anak terutama pada ibu yang bekerja.
C. ASUHAN KEPERAWATAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN
KELAHIRAN ANAK PERTAMA
Asuhan keperawatan keluarga merupakan proses yang kompleks dengan menggunakan
pendekatan sistematis untuk bekerjasama dengan keluarga dan individu sebagai anggota
keluarga. Tahapan dari proses keperawatan keluarga adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap terpenting dalam proses keperawatan, mengingat
pengkajian sebagai awal bagi keluarga untuk mengidentifikasi data yang ada pada
keluarga. Oleh karena itu, perawat keluarga diharapkan memahami betul lingkup,
metode, alat bantu, dan format pengkajian yang digunakan. Data-data yang
dikumpulkan antara lain: (Santun setiawan dkk, hal 45)
a) Data umum
b) Riwayat dan tahapan perkembangan
c) Lingkungan
d) Struktur keluarga
e) Fungsi keluarga
f) Stress dan koping keluarga
g) Harapan keluarga
h) Data tambahan
i) Pemeriksaan fisik
Dari hasil pengumpulan data tersebut maka akan dapat diidentifikasi masalah
kesehatan yang dihadapi keluarga.
16

2. Tahap perumusan diagnosa keperawatan


Diagnosa keperawatan merupakan kumpulan pernyataan, uraian dari hasil
wawancara, pengamatan langsung dan pengukuran dengan menunjukan status
kesehatan mulai dari potensial, resiko tinggi sampai dengan masalah yang aktual.
(Santun setiawan dkk, hal 48)
3. Tahap penyusunan rencana keperawatan
Apabila masalah kesehatan maupun masalah keperawatan telah teridentifikasi,
maka langkah selanjutnya adalah menyusun rencana keperawatan sesuai dengan
urutan prioritas masalahnya. Rencana keperawatan keluarga merupakan kumpulan
tindakan yang direncanakan oleh perawat untuk dilaksanakan dalam menyelesaikan
atau mengatasi masalah kesehatan atau masalah kesehatan yang telah diidentifikasi.
(Mubarak dkk, 2011,hal 106)
4. Tahap pelaksanaan keperawatan keluarga
Pelaksanaan merupakan salah satu dari proses kepearawatan keluarga dimana
perawat mendapat kesempatan untuk membangkitkan minat keluarg dalam
mengadakan perbaikan kearah perilaku yang hidup sehat. (Mubarak dkk, 2011,hal
108)
5. Tahap evaluasi
Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan, tahap penilaian dilakukan
untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak atau belum berhasil, maka perlu disusun
rencana baru yang sesuai. Sesuai tindakan keperawatan mungkin tidak dapat dilakuka
dalam satu kali kunjungan ke keluarga. Oleh karena itu, kunjungan dapat dilakukan
secara bertahap sesuai dengan waktu dan ketersediaan keluarga. (Mubarak dkk,
2011,hal 109)

17

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN.Y DAN NY.F
(PASANGAN KELUARGA KELAHIRAN ANAK PERTAMA)
KASUS
Yanto dan Firdah pasangan pengusaha muda, mempunyai 1 anak berumur 1 tahun, belum
bisa bicara dan duduk. Pasangan ini sibuk bekerja dan dugem sehingga tidak memperhatikan
anaknya. Pengasuhan diserahkan kepada pembantu.
A. PENGKAJIAN KELUARGA
a. Identitas Keluarga
1. Identitas kepala keluarga
Nama

: Tn. Y

Umur

: 27 tahun

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Pendidikan

: S1 ekonomi

Alamat

: Jln. komp.TPI Indralaya no.33

2. Komposisi keluarga
18

No

Nama

L/P

Umur Hub. Keluarga

Pendidikan

1.

Firdah
yuaningsih

25
tahun

Istri

Ekonomi

2.

Riskiya
ramadhania

1
tahun

Anak

Status kes

BB

sehat

45
kg

sakit

12
kg

3. Genogram
27

2
5

Keterangan:

: Laki-Laki
: Perempuan
: Tinggal serumah

4. Type Keluarga
Keluarga Tn. Y merupakan keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak dan
Ny. F mengatakan tidak ada masalah dengan type keluarga
5. Suku Bangsa
Tn. Y menyatakan bahwa keluarganya merupakan suku jawa dan hidup
dilingkungan etnis jawa. Tn. Y dan Ny. F sama-sama berasal dari indralaya. Tn. Y
berkomunikasi dengan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia baik antara anggota
keluarga maupun dengan tetangga sekitar. Ny. F mengatakan tidak ada budaya
yang bertentangan dengan kesehatan
6. Agama
Semua anggota keluarga Tn. Y beragama Islam dan menjalankan ibadah di rumah
dan di masjid.
7. Status Sosial Ekonomi Keluarga
a. Anggota keluarga yang mencari nafkah: yang mencari nafkah Tn. A yang
sebagai kepala keluarga dan Ny. Y juga membantu mencari nafkah
b. Penghasilan: Rp. 10.000.000 penghasilan Tn. A dan 8.000.000 untuk
penghasilan Ny. Y
c. Upaya lain: Ny. F mengatakan bahwa Tn. Y dan Ny. F memiliki usaha
menyewakan mobil
19

d. Harta benda yang dimiliki: mobil, motor, sepeda, dan memiliki perabotan rumah
yang lengkap
e. Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan: Ny. F mengatakan kebutuhan yang
dikeluarkan tiap bulan yaitu membayar cicilan mobil, berbelanja untuk
kebutuhan sehari-hari seperti susu anaknya, berbelanja makanan sehari-hari.
8. Aktivitas Rekreasi Keluarga
Kegiatan yang dilakukan keluarga, setiap hari mereka menoton TV bersama-sama
istri anak di malam hari. Kadang mereka juga berkumpul bersama tetangaga atau
saudara dekat untuk berbincang-bincang bersamak. Jika liburan panjang keluarga
pergi ke kampong halaman mengunjungi orang tua.
b. Riwayat Dan Tahap Perkembangan Keluarga
1. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini
Keluarga Tn. Y dan Ny. F baru memiliki anak 1, jadi keluarga Tn. Y dan Ny. F
berada pada tahap perkembangan keluarga dengan kelahiran anak pertama.
2. Tahap Perkembangan Keluarga Yang Belum Terpenuhi
Saat ini keluarga Ny. F dan Tn. Y sebagai keluarga dengan kelahiran anak pertama
yang memiliki anak 1. Menurut Ny. F mereka sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan
aktivitas diluar seperti dugem sehingga anak diasuh oleh pembantu. Namun Ny. F
pernah bicarakan dengan suaminya masalah kebiasaan dugem tersebut. Menurut
Ny. F saat ini dia dengan suaminya ingin lebih giat focus untuk bekerja dan anak
juga diasuh oleh pembantu.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga Inti
a) Tn Y mengatakan tidak mempunyai penyakit keturunan, setiap malam hari
badannya terasa keju linu, setiap mau manid Tn. Y selalu mintaa untuk
direbuskan air agar tubuhnya tidak pegal-pegal, mennurut Tn. Y hal itu
disebabkan karena kelelahan.
b) Istri Tn. Y (Ny. F), tidak memiliki masalah kesehatan
c) Anak Tn. Y (An. Z) anak saya sudah berumur 1 tahun tetapi belum bisa bicara
dan duduk.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga Sebelumnya
Menurut pengakuan keluarga, anaknya pernah dirawat di rumah sakit karena tipes
selama 5 hari. Dari riwayat kesehatan keluarga Tn. Y dan Ny. F tidak ada yang
memilki penyakit kronis maupun penyakit keturunan.
c. Data Lingkungan
20

1. Karakteristik Rumah
Rumah Tn. Y merupakan rumah permanent dengan ukuran panjang 20 meter
dan lebar 9 meter. Dirumah tersebut tetrdapat:
Kamar tidur (1 kamar tidur yang terdapat diruang tengah dan 2 kamar tidur
yang terdapat di ruang samping)
Kamar kosong (4 kamar kosong, model rumah Tn. Y adalah model rumah
modern yang banyak terdapat kamar-kamar yang jarang digunakan untuk
sholat atau menaruh barang-barang)
Ruang tamu berukuran 5x6 meter
Rumah makan Tn. Y bergabung dnegan dengan ruang dapur
Kamar mandi berjumlah 2 dan WC 1
Gudang
Lantai rumah Tn. Y terbuat dari plester. Sumber air keluarga berasal dari sumur
gali yang telah dipasang pompa air dan tendon, kualitas airnya bersih. Jarak
septictank dengan sumur >10 meter. Keluarga mengatakan membuang air limbah
di belakang rumah dengan membuatkan saluran dan tempat penampungan. Untuk
pembuangan sampah dilakukan dengan ditampung dulu didalam lubang
kemudian bakar. Untuk sarana penerangan keluarga Tn. Y menggunakan listrik
semuanya.
Gambar Denah Rumah
Jalan Raya
U
B

sum
ur

T
S

Gudang

k. tidur
k. kosong
k.kosong

Ruang Tamu
k. kosong k.

k. tidur

Dapur
k. mandi
k. mandi
WC
21

Pembuanga
n limbah

2. Karakteristik Tetangga Dan Komunitas


Rumah Tn. Y berada diwilayah kelurahan yang mayoritas penduduk disekitarnya
adalah pegawai swasta dan negeri. Sarana jalan didaerah tersebut sudah di aspal.
Sarana kesehatan dilingkungan tersebtu berupa dokter, bidan dan mantra desa.
Disekitar rumah Tn. Y terdapat masjid. Tetangga Tn. Y mayoritas beragama Islam
serta memiliki sifat kebersamaan serta menganut adat jawa, misalnya selamatan,
gotong-royong, bersih desa, pengkajian PKK, dan lain-lain.
3. Mobilitas Geografis Keluarga
tn. Y dan istrinya adalah asli Indralaya dan sejak berkeluarga mereka tidak
berpindah-pindah rumah.
4. Perkumpulan Keluarga Dan Interaksi Dengan Masyarakat
Keluarga Tn. Y mengatakan tidak ada perkumpulan atau pertemuan-pertemuan
khusus dan biasanya berkumpul hanya di waktu-waktu tertentu seperti lebaran
kemarin semua keluarga berkumpul.
5. System Pendukung Keluarga
Saat ini dalam keluarga tidak terdapat anggota keluarga yang sakit, hubungan satu
anggota keluarga dengan yang lainnya cukup baik dan sudah terbiasa saling
tolong menolong. Keluarga Tn. Y tidak mempunyai Jamsostek/asuransi
kesehatan, biasanya mereka berobat langsung di bawah ke dokter.
d. Struktur Keluarga
1. Struktur Peran
Tn. Y sebagai kepala keluarga, seorang suami, bapak berkewajiban mencari
nafkah untuk keluarga dalam sehari-hari.
Ny. F sebagai istri dan turut bekerja membantu suaminya mencari nafkah tetapi
dirinya juga tetap melakukan perannya sebagai isteri yang harus menyiapkan
semua keperluan suaminya di rumah.
An. Z berperan sebagai anak belum menyadari dan menjalankan perannya
karena masih kecil.
2. Nilai Dan Norma Keluarga

22

Sebagai bagian dari masyarakat indralaya dan beragama islam keluarga memiliki
nilai-nilai dan norma yang dianut seperti sopan santun terhadap orang tua, suami
terhadap isteri. Selama ini dirinya dan suaminya makan bersama kalau malam hari,
karena siang hari masing-masing kerja sampai sore. Keluarga juga menganut
norma/adat yang ada dilingkungan sekitar misalnya takziah, menjeguk orang sakit,
gotong royong, dll.
3. Pola/Cara Komunikasi Keluarga
Menurut Ny. F dalam keluarganya berkomunikasi biasa menggunakan bahasa Jawa
dan bahasa Indonesia, menurut Ny. F dirinya juga cepat akrab dengan keluarga
suaminya.
4. Struktur Kekuatan Keluarga
Dalam pengambilan keputusan keluarga Tn. Y dan Ny. F selalu memutuskan secara
bersama-sama atau musyawarah. Perbedaan-perbedaan pendapat yang ada selalu
bisa di atasi jika mereka bermusyawarah
e. Fungsi keluarga
1. Fungsi Afektif
Menurut Ny. F belum pernah menemukan masalah. Tn. A dan Ny. F selalu
memberikan dukungan satu sama lain. Hubungan antara dirinya dengan suaminya
sampai sejauh ini baik dan hubungna dengan keluarga besarnya pun baik. Mereka
selalu menumbuhkan sikap saling menghargai dan berusaha saling membantu.
2. Fungsi Sosialisasi
a) Kerukunan hidup dalam keluarga : Hubungan antara dirinya dengan suaminya
sampai sejauh ini baik dan hubungna dengan keluarga besarnya pun baik.
Hubungan keluarga dengan orang lain pun baik, terutama tetangga-tetangga
terdekat.
b) Interaksi dan hubungan dalam keluarga : interaksi dan hubungan dalam keluarga
baik-baik saja.
c) Anggota keluarga yang dominan dalam pengambilan keputusan : menurut Ny. F
yang selalu mengambil keputusan ialah Tn. Y .
d) Kegiatan keluarga waktu senggang: kegiatan di waktu senggang keluarga sering
jalan-jalan bersama anaknya.
e) Partisipasi dalam kegiatan social : membantu dalam kegiatan gotong royong
3. Fungsi Reproduksi
23

Menurut Ny. F belum merencanakan untuk memiliki anak lagi karena lebih focus
untuk bekerja. Ny. F menggunakan alat kontrasepsi yang berbentuk pil
4. Fungsi Ekonomi
Ny. F mengatakan penghasilannya dan suaminya sudah cukup untuk memenuhi
kebutuhan sandang, pangan. Dalam anggota keluarga tidak ada yang sekolah jadi
pendapaan keluarga Tn. Y cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari.
5. Fungsi Perawatan kesehatan
a) Kemampuan mengenal masalah kesehatan
Menurut Ny. F sebenarnya dalam keluarganya belum mengetahui tentang
bagaimana memberikan perlindungan yang terbaik untuk anaknya. Karena
kesibukan dari suami istri anak menjadi kurang perhatian. Karena sejauh ini
anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan pengasuhnya.
Keluarga mengatakan mengetahui sebagian penyakit keluarganya dan sebagian
yang lain tidak tahu. Tetapi tidak tahu penyebabnya. Tn. Y menderita sakit keju
linu dan menurutnya itu hal yang biasa yang terjadi.
b) Kemampuan Mengambil Keputusan Mengenal Tindakan Kesehatan
Tn. Y menderita sakit keju linu dan menurutnya itu hal yang biasa yang terjadi.
An. Z anak Tn. Y dengan umur 1 tahun belum bisa bicara dan duduk hal
tersebut menurut keluarga bisa di atasi oleh pembantunya karena suami istri
sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
c) Kemampuan Merawat Anggota Keluarga Yang Sakit
Keluarga Tn. Y mengatakan tidak begitu banyak mengetahui tentang penyakit,
namun keluarga Tn. Y hanya segera membawa keluarganya yang sakit ke
pelayanan kesehatan
d) Kemampuan Keluarga Memelihara/Memodifikasi Lingkungan Rumah Yang
Sehat
Keluarga mengatakan pembuangan sampah dilakukan di tempat pembuangan
penampungan semnetra (lubang) dan selanjutnya dibakar. Pembuangan air
llimbah dilakukan dnengan cara dibuatkan saluran yang kemudian ditampung.
e) Kemampuan Menggunakan Fasilitas Kesehatan
Keluarga Tn. Y mengatakan jika ada anggota keluarga yang sakit maka Ny. F
membawanya ke dokter.
f. Stres dan Koping Keluarga
1. Stressor Jangka Pendek dan Panjang
24

a) Stressor Jangka Pendek


Menurut Ny. F dirinya tidak tahu dari pihak suaminya apakah sedang
mengalami beban pikiran atau tidak, tetapi dari dirinya yang jadi stressor
adalah adaptasi atau perkembangan pada anak.
b) Stressor Jangka Panjang
Keluarga memikirkan nasib anaknya yang berumur 1 tahun tetapi belum bisa
juga berbicara dan duduk.
2. Respon Keluarga Terhadap Stressor
Kurang baik, menurut Ny. F dirinya melakukan perlakuan untuk anak kurang
maksimalm karena istri dan suami sibuk dengan pekerjaan dari keluarga dan
sekarang dirinya sedang berusaha belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik
dengan belajar mengurusi anak.
3. Strategi Koping
Untuk menghadapi stressor Ny. F lebih banyak belajar pada orang tuanya tentang
cara mengurus rumah tangga.
g. Kesehatan Tiap Individu Anggota Keluarga
Nama Anggota Keluarga
No

Variabel
Tn. Y

Riwayat
saat ini

penyakit -

Keluhan
dirasakan

yang

Tanda dan gejala

Riwayat penyakit sebelumnya

Tanda-tanda vital

Ny. F
-

An. Z
-

Badan terasa keju linu

Belum
berbicara
duduk

Jika malam hari badan terasa keju


linu

TD = 120/80
mmHg
S = 36,5oC
RR = 24 x/menit
N = 80 x/menit

25

TD = 120/80 S = 36,5oC
mmHg
S = 36,5oC
RR
=
20
x/menit
N = 77 x/menit

bisa
dan

Sistem
kardiovaskuler

Sistem respirasi

Sistem GI tract

Letak normal ics


2 dan 3 5dan 6
Ictus
cordis
normal yaitu ics 5
dan 6
Irama
teratur,
suara tambahan
tidak ada

Letak normal
ics 2 dan 3
5dan 6
Ictus
cordis
normal yaitu
ics 5 dan 6
Irama teratur,
sura tambahan
tidak ada

Saat
bernafas
tidak
menggunakan
otot
bantuan
pernafasan.
Tidak
ada
bengkak, lesi (-)
Tidak
ada
penimbunan
cairan
Bunyi
nafas
vesikuler

Saat bernafas
tidak
menggunakan
otot bantuan
pernafasan.
Tidak
ada
bengkak, lesi
(-)
Tidak
ada
penimbunan
cairan
Bunyi
nafas
vesikuler

Saat
bernafas
tidak
menggunakan otot
bantuan
pernafasan.
Tidak
ada
bengkak, lesi (-)
Tidak
ada
penimbunan
cairan
Bunyi
nafas
vesikuler

Simetris, warna
normal, asites (-)
Tidak ada nyeri
tekan, tidak ada
benjolan
Bising usus (+)
Organ
pada
abdomen normal

Simetris,
warna normal,
asites (-)
Tidak
ada
nyeri
tekan,
tidak
ada
benjolan
Bising usus (+)
Organ
pada
abdomen
normal

Simetris, warna
normal, asites (-)
Tidak ada nyeri
tekan, tidak ada
benjolan
Bising usus (+)
Organ
pada
abdomen normal

Sistem
musculoskeletal

Berfungsi dengan Berfungsi


Berfungsi dengan
baik
dengan baik
baik
Reflek patella (+) Reflek patella Reflek patella (+)
(+)

10

Sistem genetalia

h. Harapan Keluarga
1) Terhadap masalah kesehatannya: Keluarga berharap agar tetap sehat.
2) Terhadap petugas kesehatan yang ada: Dengan adanya petugas kesehatan yang
datang ke rumahnya menurutnya mengharapkan supaya petugas kesehatan bisa
26

memberikan pengetahuan kepada masyarakat dengan penyuluhan-penyuluhan


seperti saat ini diharapkan dapat membantu dirinya mempersiapkan bagaimana
sebenarnya kesehatan dalam rumah tangga yang baru dibangunnya.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Analisa Data
Data

Penyebab
Masalah / Diagnosis
DS:
Gangguan
tumbuh Keterlambatan
tumbuh
- Ny. F mengatakan kurang kembang
motoric kembang motoric kasar dan
pengetahuan
tentang kasar dan halus.
halus pada anak dan
pertumbuhkembangan
penanganan
b/d
- Ny. Y mengatakan terlalu sibuk
ketidakmampuan keluarga
dengan
pekerjaannya
dan
mengenal masalah
aktifitas diluar.
- Ny. Y tidak mengetahui kalau
usia 1 tahun harusnya bisa
bicara dan duduk
DO :
- Anak belum bisa bicara dan
duduk dengan cepat
- Keluarga tampakk gelisah,
berkeringat dingin, keluarga
klien sering bertanya tentang
keadaan dan prognosis anaknya.
DS:
Ketidakmampuan
Defisiensi
pengetahuan
Ny.F mengatakan belum bisa
merawat
anggota merawat
bayi
b/d
merawat anaknya sehingga selalu keluarga
yang ketidakmampuan merawat
meminta bantuan kdari
mengalami gangguan anggota keluarga yang
pembantunya/pengasuh
perkembangan bicara mengalami
gangguan
DO:
dan
duduk
yang perkembangan bicara dan
Tampak aktivitas anaknya lebih
dialami anaknya.
duduk
yang
dialami
banyak dengan pembantunya.
anaknya.
DS:
Ansietas/cemas pada Ansietas/cemas pada An. Z
-Ny. F mengatakan takut hal ini An. Z keluarga Tn. Y khususnya Ny. F b/d
akan
menyebabkan
ketidakmampuan keluarga
pertumbuhan An. Z terganggu
mengenal masalah
-Ny. F mengatakan tidak tahu
mengapa An. Z pada saat
sekarang susah untuk berbicara
dan duduk
DO:
27

An.Z tampak rewel


- Tampak
keluarga
sering
bertanya keadaan anaknya

2. Perumusan Diagnosa Keperawatan


No.
1.

Diagnosa keperawatan
Keterlambatan tumbuh kembang motoric kasar dan halus pada anak dan

2.

penanganan b/d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah


Defisiensi pengetahuan merawat bayi b/d ketidakmampuan merawat anggota
keluarga yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan duduk yang

3.

dialami anaknya.
Ansietas/cemas pada An. Z khususnya Ny. F b/d ketidakmampuan keluarga
mengenal masalah

3. Penilaian (Scoring) Diagnose Keperawatan


Dx.
Kriteria
Skor
Dx.1a. Sifat masalah :aktual
3 x1=1
b. Kemungkinan masalah dapat
3
diubah:sebagian
Potensial masalah untuk dicegah:
1x2=1
cukup
2
Menonjolnya masalah: Masalah
berat, harus segera ditangani
2 x1=2
3
3
2x1=2
Total skor 4 2/3
2/3x1=2/3

Dx.2 Sifat masalah : risiko


Kemungkinan masalah dapat
diubah: tidak dapat
Potensial masalah untuk dicegah:
tinggi
Menonjolnya masalah: Masalah
berat, harus segera ditangani

1/2x2=1
3/3x1=1

Pembenaran
Bila keadaan ini
dibiarkan
akan
membuat keadaan
anak lebih buruk
sehingga
bisa
terjadi
keterlambatan
motoric
kasar
maupun
halus
disbanding dengan
anak-anak lain
Ibu
harus
bisa
merawat
sendiri
anaknya karena itu
tugas
dan
kewajiban seorang
ibu yang harus
dilaksanakan.

2/2x1=1
Dx.3 Sifat masalah:aktual
Kemungkinan
masalah
diubah:sebagian

Total skor 3 2/3


3 x1=1
dapat 3
2x2=2
28

Jika tidak diberikan


perhatian pada anak
bisa menyebabkan
kurang
perhatian

Potensial masalah untuk dicegah:


rendah

dan bisa berdampak


risiko
gangguan
mental bila tidak
ditangani
dengan
cepat.

1 x1=1
3
3

d. Menonjolnya masalah
Ada masalah, tetapi tidak perlu
ditangani.

1x2=1
2
Total skor 4 1/3
4. Penetapan Prioritas Diagnosis Keperawatan Keluarga
Prioritas
Diagnose keperawatan
1.
Keterlambatan tumbuh kembang motoric kasar dan halus

skor
4 2/3

pada anak dan penanganan b/d ketidakmampuan keluarga


2

mengenal masalah
Ansietas/cemas pada An. Z khususnya Ny. F b/d

4 1/3

3.

ketidakmampuan keluarga mengenal masalah


Defisiensi pengetahuan merawat bayi b/d ketidakmampuan

3 2/3

merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan


perkembangan bicara dan duduk yang dialami anaknya.
C. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KELUARGA
1. Diagnosa 1:
Keterlambatan tumbuh kembang motoric kasar dan halus pada anak dan penanganan
b/d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah
Tujuan
Kriteria
Setelah
Perilaku
dilakukan
(psikomotor)
tindakan
keperawatan
selama 1 x
kunjungan
diharapkan
keluarga
dapat
mengenali
masalah
tumbuh
kembanng
motoric
kasar dan
halus pada
anak

Hasil/Standar
- Mengerti tentang
tugas
perkembangan
motoric kasar dan
halus
sesuai
dengan kelompok
anak seusianya.
- Mampu melatih
anaknya sendiri
- Mampu
melakukan
apa
yang
dilatihkan
dari orang tuanya
- Mampu
menangkap
stimulasi dengan
baik

29

Intervensi
- Kontrak dengan keluarga
- Ajarkan orang tua terhadap
tugas
perkembangan
motoric kasar dan halus
sesuai dengan kelompok
anak seusianya.
- Ajari orang tua melatih
anaknya
- Berikan kesempatan pada
anak bermain dengan teman
sebayanya
- Berikan stimulasi dengan
cara
melatih
berbicara
sepatah dua kata
- Latihlah merangkak dengan
cepat
- Latihlah
duduk
dengan
perlahan
yang
masih
dipegang oleh orang tuanya
- Berikan waktu istrhat dan
lakukan observasi kepada

orang tua selama interaksi


- Beri
pujian
tehadap
kemampuan
memahami
penjelasan yang diberikan
- Berikan penjelasan ulang
bila ada penjelasan yang
belum dipahami
- Pantau respon terhadap
stimulasi yang diberikan
2. Diagnosa 2: Ansietas/cemas pada An. Z khususnya Ny. F b/d ketidakmampuan
keluarga mengenal masalah
Tujuan
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 1 x
kunjungan
diharapkan
keluarga
menerima
keadaan
putrInya.

Kriteria
Perilaku
(psikomotor)
dan verbal
pengetahuan

Hasil/Standar
- Ibu tidak tampak
cemas
- ibu
dapat
menguraikan halhal yang positip
yang
dapat
dikembangkan
yang
berkaitan
dengan keadaan
anaknya seperti
mau
melatih
anaknya dirumah,
mengajak
anak
bermain.
- Setuju
untuk
melakukan suatu
pemeriksaan yang
lengkap
yang
dianjurkan pihak
medis
dalam
penanganan
masalah
kemampuan
bicara dan duduk
anaknya

Intervensi
Kontrak dengan keluarga
Kaji tingkat kecemasan
keluarga mengenai keadaan
tumbuhkembang anak
Terangkan
bahwa
anak
mengalami keterlambatan
perkembangan bicara dan
duduk dan dapat di perbaiki
secara maksimal dalam
batas waktu tertentu dengan
usaha yang keras.
Dorong keluarga untuk mau
melakukan pemeriksan yang
lengkap terhadap gangguan
perkembangan bicara dan
duduk yang di alami
anaknya.
Support keluarga dalam
melakukan stimulasi pada
anak
Kuatkan koping keluarga
dalam menerima kondisi
anak.

3. Daiagnosa 3:
Defisiensi pengetahuan merawat bayi b/d ketidakmampuan merawat anggota keluarga
yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan duduk yang dialami anaknya.
Tujuan
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 1 x
kunjungan
diharapkan

Kriteria
Perilaku
(psikomotor)
dan verbal
pengetahuan

Hasil/Standar
- Mengenali isyarat
perilaku bayi yang
mengkomunikasik
an stress.
- Memodivikasi
lingkungan dalam
berespon terhadap
30

Intervensi
- Kontrak dengan keluarga
- Kaji tingkat pengetahuan
keluarga mengenai merawat
bayi
- Ajarkan orang tua tentang
kebutuhan
bayi
dan
kemampuannya.

keluarga
dapat
merawat
bayi dengan
optimal

perilaku bayi.
- Menunjukkan
teknik penanganan
yang layak untuk
meningkatkan
perkembangan
normal.

- Demostrasikan
cara
merawat bayi dengan benar.
- Beri contoh respon yang
tepat
terhadap
isyarat
perilaku bayi.
- Ajarkan orang tua tentang
pertumbuhan
dan
perkembangan
yang
normal.
- Bekali orang tua dengan
keterampilan
yang
dibutuhkan untuk merawat
bayi
(sikap
perhatian
dengan diajak bermain dan
perawatan
kebutuhan
tubuh).
- Berikan
kesempatan
keluarga untuk menanyakan
penjelasan
yang
telah
didiskusi
- Beri
pujian
tehadap
kemampuan
memahami
penjelasan yang diberikan
- Berikan penjelasan ulang
bila ada penjelasan yang
belum dipahami
- Evaluasi secara singkat
terhadap
topic
yang
diberikan
- Pantau respon terhadap
penjelasan yang diberikan

D. TINDAKAN KEPERAWATAN (IMPLEMENTASI)


Tgl & waktu

Diagnosa

Implementasi

Jumat 26
Keterlambatan tumbuh
Agustus 2016 kembang motoric kasar
13.00 WIB
dan halus pada anak
dan penanganan b/d
ketidakmampuan
keluarga
mengenal
masalah

31

- Melakukan kontrak dengan keluarga


- Mengajarkan orang tua terhadap tugas
perkembangan motoric kasar dan halus
sesuai
dengan
kelompok
anak
seusianya.
- Mengajari orang tua melatih anaknya
- Memberikan kesempatan pada anak
bermain dengan teman sebayanya
- Memberikan stimulasi dengan cara
melatih berbicara sepatah dua kata
- Melatih merangkak dengan cepat
- Melatihh duduk dengan perlahan yang
masih dipegang oleh orang tuanya

Sabtu 27
Ansietas/cemas
pada
Agustus 2016 An. Z khususnya Ny. F
10.00 WIB
b/d
ketidakmampuan
keluarga
mengenal
masalah

Senin 29
agustus 2016
14.00 WIB

Defisiensi pengetahuan
merawat
bayi
b/d
ketidakmampuan
merawat
anggota
keluarga
yang
mengalami gangguan
perkembangan bicara
dan duduk yang dialami
anaknya.

32

- Memberikan waktu istrhat dan lakukan


observasi kepada orang tua selama
interaksi
- Memberi pujian tehadap kemampuan
memahami penjelasan yang diberikan
- Memberikan penjelasan ulang bila ada
penjelasan yang belum dipahami
- Melakukan kontrak dengan keluarga
- Mengkaji tingkat kecemasan keluarga
mengenai keadaan tumbuhkembang
anak
- Menerangkan bahwa anak mengalami
keterlambatan perkembangan bicara
dan duduk dan dapat di perbaiki secara
maksimal dalam batas waktu tertentu
dengan usaha yang keras.
- Mendorong keluarga untuk mau
melakukan pemeriksan yang lengkap
terhadap gangguan perkembangan
bicara dan duduk yang di alami
anaknya.
- Mensupport keluarga dalam melakukan
stimulasi pada anak
- Menguatkan koping keluarga dalam
menerima kondisi anak.
- Melakukan kontrak dengan keluarga
- mengkaji tingkat pengetahuan keluarga
mengenai merawat bayi
- Mengajarkan
orang
tua
tentang
kebutuhan bayi dan kemampuannya.
- Mendemostrasikan cara merawat bayi
dengan benar.
- Memberikan contoh respon yang tepat
terhadap isyarat perilaku bayi.
- Mengajarkan
orang
tua
tentang
pertumbuhan dan perkembangan yang
normal.
- Membekali
orang
tua
dengan
keterampilan yang dibutuhkan untuk
merawat bayi (sikap perhatian dengan
diajak
bermain
dan
perawatan
kebutuhan tubuh).
- Memberikan kesempatan keluarga untuk
menanyakan penjelasan yang telah
didiskusi
- Memberi pujian tehadap kemampuan
memahami penjelasan yang diberikan
- Memberikan penjelasan ulang bila ada
penjelasan yang belum dipahami

E. EVALUASI TINDAKAN KEPERAWATAN


Tgl & waktu
Diagnosa
Evaluasi
Jumat 26
Keterlambatan tumbuh S:
Agustus 2016 kembang motoric kasar - Ny. F mengatakan sedikit mengetahui
14.00 WIB
dan halus pada anak
tentang pertumbuhkembangan
dan penanganan b/d - Ny. F mengatakan tidak akan bekerja
ketidakmampuan
terlalu keras dan banyak dirumah
keluarga
mengenal
daripada dluar
masalah
- Ny. Y mengetahui kalau usia 1 tahun
harusnya bisa bicara dan duduk

Sabtu 27
Ansietas/cemas
pada
Agustus 2016 An. Z khususnya Ny. F
11.00 WIB
b/d
ketidakmampuan
keluarga
mengenal
masalah

O:
- Anak masih belum bisa bicara dan duduk
dengan cepat
- Keluarga tampakk mengajarkan anak
berbicara dan duduk
- Keluarga klien masih sering bertanya
tentang keadaan dan prognosis anaknya.
A: Masalah teratasi sebagian
P: Intervensi dilanjutkan, evaluasi ulang
pada kunjungan berikutnya
- Ajarkan orang tua terhadap tugas
perkembangan motoric kasar dan halus
sesuai
dengan
kelompok
anak
seusianya.
- Ajari orang tua melatih anaknya
- Berikan kesempatan pada anak bermain
dengan teman sebayanya
- Berikan stimulasi dengan cara melatih
berbicara sepatah dua kata
- Latih merangkak dengan cepat
- Latihh duduk dengan perlahan yang
masih dipegang oleh orang tuanya
S:
-Ny. F mengatakan berkurang rasa takut
terhadap ganggu pertumbuhan An. Z
O:
- An.Z masih tampak rewel
- Tampak keluarga masih sering bertanya
keadaan anaknya
A: Masalah teratasi sebagian
P: Intervensi dilanjutkan, evaluasi ulang
pada kunjungan berikutnya
- Kaji tingkat kecemasan keluarga
mengenai keadaan tumbuhkembang

33

Senin 29
agustus 2016
15.00 WIB

anak
Terangkan bahwa anak mengalami
keterlambatan perkembangan bicara
dan duduk dan dapat di perbaiki secara
maksimal dalam batas waktu tertentu
dengan usaha yang keras.
Dorong keluarga untuk mau melakukan
pemeriksan yang lengkap terhadap
gangguan perkembangan bicara dan
duduk yang di alami anaknya.
Support keluarga dalam melakukan
stimulasi pada anak
Kuatkan koping keluarga dalam
menerima kondisi anak.

Defisiensi pengetahuan S:
merawat
bayi
b/d - Ny.F mengatakan sedikit bisa merawat
ketidakmampuan
anaknya
sehingga
untuk
tidak
merawat
anggota
membiasakan meminta bantuan dari
keluarga
yang
pembantunya/pengasuh
mengalami gangguan O:
perkembangan bicara - Ny. F mampu menjelaskan atau
dan duduk yang dialami
mempragakan stimulasi merawat bayi
anaknya.
dan hal-hal yang harus diperjatikan
kepada anak supaya tidak kurang
perhatian
- Tampak aktivitas anak bermain dengan
orang tua
A: Masalah teratasi sebagian
P: Intervensi dilanjutkan, evaluasi ulang
pada kunjungan berikutnya
- Kaji tingkat pengetahuan keluarga
mengenai merawat bayi
- Demostrasikan cara merawat bayi dengan
benar.
- Berikan contoh respon yang tepat
terhadap isyarat perilaku bayi.
- Ajarkan orang tua tentang pertumbuhan
dan perkembangan yang normal.
- Bekali orang tua dengan keterampilan
yang dibutuhkan untuk merawat bayi
(sikap perhatian dengan diajak bermain
dan perawatan kebutuhan tubuh).

34

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Secara umum pengertian dari child bearing adalah keluarga yang berada pada tahap
perkembangan ke II mulai dari kehamilan samapi berlanjut sampai anak pertama berusia
30 bulan. Tahap kedua ini perkembangan orangtua adalah belajar untuk menerima
pertumbuhan dan perkembangan anak yang terjadi dalam masa usia bermain , khususnya
orangtua yang baru memiliki anak pertama membutuhkan bimbingan dan dukungan.
Orangtua perlu memahami tugas-tugas yang harus dikuasai oleh anak dan kebutuhan anak
akan keselamatan, keterbatasan dan latihan buang air (toilet training). Mereka perlu
memahami konsep kesiapan perkembangan, konsep tentang saat yang tepat untuk
mengajar mereka. Pada saat yang sama pula orangtua perlu bimbingan dalam memahami
tugas-tugas yang harus mereka kuasai selama tahap ini.
B. SARAN
Untuk mahasiswa diharapkan agar dapat melakukan asuhan keperawatan keluarga
pada keluarga baru mempunyai anak satu dengan baik dan benar. Dengan banyak
membaca buku dan memahaminya dengan baik dan benar, latihan-latihan , serta praktek
kasus di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA
35

Ali. 2006. Pengantar keperawatan keluarga. Jakarta. EGC.


Mubarak, Wahit Iqbal, dkk. 2011. Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan Aplikasi.
Jakarta: Salemba Medika
Setiadi. 2008. Konsep dan proses keperawatan keluarga
Setiawati, Satun, dkk. 2008. Penutun Praktis Asuhan Keperawatan Keluaraga. Jakarta: Trans
Info Media

36