Anda di halaman 1dari 24

39

BAB IV
TEORI DASAR
4.1

Dasar-dasar Teknik Produksi

4.1.1

Teknik menganalisa karakteristik sumur Produksi Minyak yaitu:

1. Reservoir Flow Energy


1.1 Inflow Performance Relationship
IPR adalah hubungan antara tekanan alir dasar sumur (Pwf) dan laju alir
(q). Hubungan ini menggambarkan kemampuan suatu sumur untuk
mengangkat fluida dari formasi k permukaan atau berproduksi.
Metode-metode pembuatan kurva IPR :
1.

Metode Gilbert
Memberikan gambaran yang tepat pada reservoir dengan aliran
satu fasa yaitu aliran dengan kondisi tekanan diatas tekanan jenuh
(Pb). Sering digunakan untuk reservoir Water Drive.
Pwf Ps

2.

q
PI

Metode Vogel
Untuk Aliran 2 fasa.
Metode ini dalam bentuk Fraksi Pwf/Ps versus q/qmax
2

q
Pwf
Pwf
1 0.2
0.8

q max
Ps
Ps

Dimana Qmax merupakan laju alir maksimum, bpd.


3.

Metode Aliran darcy

7.08 x 10 3 xkh ( pr pwf )


qo
oBo ln(re / rw) 3 S
4

40

4.

Kombinasi aliran Vogel dengan Darcy, Pr > Pb


1. Pwf test > Pb
PI

q
Pr Pwf

... 4.1

Qb PI (Pr Pb)

... 4.2

PI Pb
1.8

.. 4.3

Qo max Qb

Titik kurva IPR


Untuk Pwf > Pb
Qo PI (Pr Pwf )

. 4.4

Untuk Pwf < Pb

Pwf
Pwf
Qo Qb (Qo max Qb) 1 0.2
0.8

Pb
Pb

............... 4.5
2. Pwf test < Pb
q

PI
(Pr Pb)

Pb
Pwf
Pwf
1 0.2
0.8

1.8
Pb
Pb

4.6
Qb PI (Pr Pb)

Qo max Qb

PI Pb
1.8

. 4.7
............. 4.8

41

Titik Kurva IPR

Untuk Pwf > Pb


Qo PI (Pr Pwf )

. 4.9

Untuk Pwf < Pb

Pwf
Pwf
Qo Qb (Qo max Qb) 1 0.2
0.8

Pb
Pb

.. 4.10
1.2 Productivity Index
PI adalah Index yang digunakan untuk menyatakan kemampuan suatu
sumur untuk berproduksi, pada suatu kondisi tertentu secara kwalitatif. Secara
definisi PI adalah perbandingan antara laju alir produksi (q) suatu sumur pada
harga tekanan alir dasar sumur tertentu (pwf) dengan perbedaan tekanan statik
formasi (ps).
( PI )

q
q

Ps Pwf
Drawdown

1.3 Flow Efficiency


Flow Efisiensi didefinisikan sebagai perbandingan antara selisih tekanan
statik reservoir dengan tekanan alir reservoir jika disekitar lubang tidak terjadi
perubahan permeabilitas (ideal drawdown) terhadap besar penurunan sebenarnya
(actual drawdown).
FE

Ideal drawdown
Ps Pwf '

Actual drawdwn
Ps Pwf

Dimana Pwf = Pwf + pskin


2. Oil Well Production Testing yaitu dengan :
2.1 Pressure Buid Up Test
2.2 Pressure DrawDown Test
2.3 Production Test

42

4.1.2

Skematik dan sistem produksi


Sistem Produksi terbagi menjadi 2 yaitu :

1. Primary Recovery
Yaitu metode produksi fluida reservoir dengan menggunakan natural
source energy yg berupa: natural water drive, gas cap drive, solution gas
drive, rock & fluid expansion.
2. Secondary Recovery
EOR adalah metode yang dipakai untuk mereplace oil atau gas di
reservoir dengan lebih efektif setelah dilakukan Primary recovery .
Primary Recovery mempunyai 2 teknik pengangkatan yaitu :
Natural Flow
Tekanan reservoir > kehilangan tekanan selama aliran dari reservoir
sampai ke separator/peralatan proses
Kehilangan tekanan terjadi di:
* reservoir
* perforasi
* aliran vertikal di tubing
* choke/bean
* flowline
* separator & peralatan proses lainnya
Natural Flow merupakan Teknik pengangkatan Fluida dari Reservoir ke
permukaan dengan tenaga alami yang berasal dari dalam sumur itu sendiri.
Prosesnya yaitu :
1. Aliran fluida melalui media berpori
Yaitu aliran dari reservoir ke lubang sumur

Pr Pwf

Yaitu kemampuan reservoir mengalirkan fluida ke dalam sumur bila ada


beda tekanan (Pr > Pw)

Hubungan antara q dan Pwf dinyatakan dalam bentuk kurva yang disebut
inflow performance relationship (IPR). Pada harga Pwf tertinggi yaitu

43

tekanan statik (Pst) , q = 0. Bila q membesar maka Pwf mengecil, sampai


pada Pwf = 0, harga laju produksinya mencapai maksimum (qmax).
Bila tekanan reservoir masih di atas bubble point pressure, kurva IPR
merupakan garis lurus, tetapi sesudah tekanan turun melewati bubble point
pressure, kurva tersebut membentuk garis lengkung karena penambahan q
tidak lagi sebanding dengan penurunan Pwf

Untuk aliran radial satu phasa, homogen, isotropik, steady state persamaan
Darcy menggambarkan aliran dari formasi produktir menuju dasar sumur
menjadi:
qo

0.00708kh(Pr Pwf )
re

oBo ln

rw

Aliran pada media ini dipengaruhi oleh :


a. Sifat fisik dari batuan formasi
b. Sifat fisik dari fluida yang mengalir
c. Geometri dari sumur dan daerah pengurasannya
d. Perbedaan tekanan antara formasi produktif dengan lubang sumur
pada saat terjadi aliran
e. Kemiringan lubang sumur
f. Jumlah fasa yang mengalir
g. Konfigurasi sekitar lubang bor (faktor skin,gravel pack,lubang
perforasi,rekahan hasil hidraulic fracturing)
2. Aliran fluida dari dasar sumur ke permukaan (melalui media pipa)
Pwf Pwh

a. Aliran dari lubang sumur ke kepala sumur


Vertical Lift Performance

Aliran

vertikal

di

dalam

tubing

menyebabkan kehilangan tekanan oleh gaya gravitasi,


gesekan antara dinding tubing dengan fluida yang mengalir,
dan antar partikel fluida.

44

Gaya gravitasi dipengaruhi oleh densitas

fluida yang mengalir, sedangkan gesekan dipengaruhi oleh


kecepatan aliran, densitas dan viskositas fluida, dan
diameter serta kekasaran dinding internal pipa
Artificial Lift
Artificial lift merupakan teknik produksi untuk mengangkat fluida dari
dasar sumur ke permukaan ketika tekanan sumur tersebut sudah tidak mampu lagi
mengangkat fluida dengan dorongan alami.
Contoh Artifial Lift :
1. PCP (Progresive Cavity Pump)
2. Gas Lift
3. Sucker Rod Pump
4. ESP (Electrical Submersible Pump)
2. Secondary Recovery / EOR (Enhanced Oil Recovery)
Jenis-jenis EOR yaitu :
1. Water Injection
2. Gas Injection
3. Chemical Injection
4. Thermal Injection
Perolehan minyak total akibat EOR merupakan gabungan antara factor - faktor
makroskopik, mikroskopik dan juga heterogenitas reservoir. Secara kuantitatif,
efisiensi perolehan minyak total akibat EOR (ETOTAL) dapat dinyatakan sbb:

ETOTAL = EA x EV x ED
di mana:

EA = efisiensi penyapuan areal (makroskopik)


EV = efisiensi penyapuan vertikal (dipengaruhi heterogenitas
lapisan)

45

ED = efisiensi pendesakan (mikroskopik, skala pori)

46

4.2
4.2.1

Sistem Nodal
Pengertian sistem nodal
Nodal merupakan titik pertemuan antara dua komponen, dimana di titik
pertemuan tersebut secara fisik akan terjadi kesetimbangan baik dalam bentuk
massa maupun tekanan. Hal ini berarti bahwa massa fluida yang keluar dari suatu
komponen akan sama dengan massa fluida yang masuk kedalam komponen
berikutnya yang saling berhubungan atau tekanan di ujung suatu komponen akan
sama dengan tekanan di ujung komponen lain yang berhubungan.
Dalam sistem sumur produksi dapat ditemui 4 titik nodal yaitu :
1.
Titik nodal di dasar sumur
Titik nodal ini merupakan pertemuan antara dua komponen formasi
produktif/ reservoir dengan komponen tubing apabila komplesi sumur

2.

3.

4.

adalah open hole atau titik pertemuan antara komponen tubing dengan
komponen komplesi apabila sumur di perforasi atau di pasang gravel pack.
Titik nodal di kepala sumur
Titik nodal ini merupakan titik pertemuan antara komponen tubing dengan
komponen pipa salur dalam hal sumur tidak dilengkapi dengan jepitan atau
merupakan titik pertemuan antara komponen tubing dengan komponen
jepitan apabila sumur dilengkapi dengan jepitan.
Titik nodal di separator
Titik nodal ini merupakan titik pertemuan antara komponen pipa salur
dengan komponen separator.
Titik nodal di upstream/downstream jepitan
Titik nodal ini merupakan titik pertemuan antara komponen jepitan dengan
komponen tubing. Apabila jepitan dipasang ditubing sebagai safety valve
atau merupakan pertemuan antara komponen tubing dipermukaan dengan
komponen jepitan, apabila jepitan dipasang di kepala sumur.
Untuk memperoleh laju produksi optimum dapat diperoleh dengan cara

memvariasikan ukuran tubing, pipa salur, jepitan dan tekanan kerja separator.
Pengaruh kelakuan aliran fluida di masing-masing komponen terhadap sistem
sumur secara keseluruhan akan dianalisa dengan menggunakan Analisa Sistem
Nodal. Ada 6 komponen yang menghubungkan antara formasi produktif dengan
separator, keenam komponen ini berpengaruh terhadap laju produksi sumur yang
akan dihasilkan.

47

Keenam komponen ini adalah :


1. Komponen formasi produktif/reservoir.
2. Komponen komplesi
3. Komponen tubing
4. Komponen pipa salur (flowline)
5. Komponen restriksi (jepitan)
6. Komponen separator
Analisa sistem nodal dilakukan dengan membuat diagram tekanan-laju
produksi, yang merupakan grafik yang menghubungkan antara perubahan tekanan
dan laju produksi untuk setiap komponen.
Hubungan antara tekanan dan laju produksi di ujung setiap komponen
untuk sistem sumur secara keseluruhan, pada dasarnya merupakan kelakuan aliran
di :
1. Media berpori menuju dasar sumur, yang mana kelakuan aliran akan
berpengaruh.
2. Pipa tegak/ tubing dan pipa datar/ horisontal.
3. Jepitan
Sistem sumur produksi yang menghubungkan antara formasi produktif
dengan separator, dapat dibagi menjadi enam komponen, yaitu :
1. Komponen Formasi produktif/reservoir
Media berpori merupakan tempat dimana fluida reservoir mengalir dari
reservoir menuju ke lubang sumur. Karakteristik media berpori memberikan
kontribusi

yang

cukup

signifikan

terhadap

performa

sumur

secara

keseluruhan.
2. Komponen Komplesi sumur
Adanya lubang perforasi ataupun gravel pack di dasar lubang sumur akan
mempengaruhi aliran fluida dari formasi ke dasar lubang sumur. Berdasarkan
analisa di komplesi ini, dapat diketahui pengaruh jumlah lubang perforasi
ataupun adanya gravel pack terhadap laju produksi sumur. Tipe komplesi ini

48

diaplikasikan pada sumur (open hole, cased hole dengan perforasi, gravel
pack, stimulasi).
3. Komponen tubing
Saluran alir vertikal, dalam hal ini adalah rangkaian tubing dan casing
memberikan pengaruh drop tekanan terbesar pada aliran fluida. Kurang lebih
80 % drop tekanan yang terjadi pada aliran fluida di sistem produksi sumur
terjadi di bagian ini. Kontribusi terbesar performa sumur adalah pada
komponen saluran alir vertikal yang digunakan pada sumur tersebut.
4. Komponen pipa salur (flowline)
Pengaruh ukuran pipa salur terhadup laju produksi yang dihasilkan suatu
sumur, dapat di analisa dalam komponen ini seperti halnya pengaruh ukuran
tubing dalam komponen tubing.
5. Komponen Restriksi jepitan
Jepitan yang dipasang di kepala sumur atau dipasang di dalam tubing sebagai
safety valve akan mempengaruhi besarnya laju produksi yang dihasilkan
dari suatu sumur. Komponen ini biasanya berupa jepitan (choke), katup
pengaman sumur bawah permukaan (SSV atau subsurface safety valve), dan
SSD (sliding side door), dimana terkadang tidak semua komponen itu terdapat
dalam satu sumur.
6. Separator.
Laju produksi suatu sumur dapat berubah dengan berubahnya tekana kerja
separator. Pengaruh perubahan tekanan kerja separator terhadap laju produksi
untuk sitem sumur dapat dilakukan di komponen ini.
4.2.2

Tujuan sistem nodal


Analisa sistem nodal terhadap suatu sumur, diperlukan untuk tujuan :

1. Meneliti kelakuan aliran fluida reservoir di setiap komponen sistem sumur


untuk menentukan pengaruh masing-masing komponen tersebut terhadap
sistem sumur secara keseluruhan.
2. Menggabungkan kelakuan aliran fluida reservoir di seluruh komponen
sehingga dapat diperkirakan laju produksi sumur.

49

3. Menentukan kapan sumur mati,


4. Menentukan saat yang baik untuk mengubah sumur sembur alam menjadi
sumur sembur buatan.
5. Optimisasi laju produksi.
Untuk menganalisa pengaruh suatu komponen terhadap sistem sumur
secara keseluruhan, dipilih titik nodal terdekat dengan komponen tersebut.
Sebagai contoh apabila ingin mengetahui pengaruh ukuran jepitan terhadap laju
produksi sumur, maka dipilih titik nodal di kepala sumur atau apabila ingin
diketahui pengaruh jumlah lubang perforasi terhadap produksi maka dipilih titik
nodal di dasar sumur.
Perencanan sistem sumur produksi ataupun perkiraan laju produksi dari
sistem sumur yang telah ada dengan menggunakan Analisa Sistem Nodal ini
sangat tergantung dari ketelitian dan tepatnya pemilihan korelasi/ metoda
kelakuan aliran fluida reservoir yang digunakan dalam analisa. Penyelesaian
Analisa Sistem Nodal ini selain disesuaikan dengan komputer juga dapat
diselesaikan dengan kurva-kurva Pressure Traverse, asalkan kurva-kurva yang
digunakan dibuat khusus untuk lapangan berdasarkan korelasi yang dipilih.
4.3

Analisa Tiga titik nodal


Titik nodal yang sering digunakan dalam analisis adalah sebagai berikut :
1. Titik nodal di dasar sumur
2. Titik nodal di kepala sumur
3. Titik nodal di separator
1

Analisa nodal bila titik nodal di dasar sumur


Jika dasar sumur digunakan sebagai Titik nodal, maka perhitungan dimulai

dari separator ke kepala sumur dan dilanjutkan ke dasar sumur.

50

Dari Gambar 4.l terlihat bahwa dasar sumur merupakan pertemuan antara
dua komponen yaitu:
1. Komponen sistem rangkaian pipa keselurunan,
2. Komponen kemampuan sumur untuk berproduksi, (IPR). Kedua komponen
tersebut dinyatakan secara grafis dalam diagram tekanan-laju produksi, seperti
tertera pada pada Gambar 2. Perpotongan kedua grafik tersebut memberikan laju
produksi yang sesuai dengan kedua komponen tersebut di atas.
Analisa nodal dengan titik nodal di dasar sumur ini terutama digunakan untuk
meramalkan penurunan produksi sebagai akibat perubahan IPR di kemudian hari
untuk sistem rangkaian pipa keselurunan yang tetap.

Gambar 4.1
Arah Perhitungan Analisa Nodal dengan Dasar Sumur sebagai Titik Nodal

Analisa Nodal Bila Titik Nodal Di Kepala Sumur


Gambar 4.2 menunjukkan arah perhitungan apabila kepala sumur

digunakan sebagai titik nodal.


Dua Komponen yang ditemukan dalam hal ini adalah :
1. Komponen Separator dan Pipa Salur.
2. Komponen Reservoir dan Tubing.

51

Secara grafis pada diagram tekanan-laju produksi Gambar 4.3 diperlukan


perubahan laju produksi terhadap tekanan kepala sumur. Perpotongan kedua
grafik tersebut menunjukkan laju produksi yang akan diperoleh sesuai dengan IPR
dan ukuran tubing tertentu serta tekanan separator dan ukuran pipa salur yang
digunakan. Titik nodal di kepala sumur ini digunakan untuk melihat pengaruh
ukuran pipa salur dan tubing terhadap laju produksi yang diperoleh, Dengan
membuat kurva pipa salur dan kurva tubing untuk beberapa ukuran (lihat Gambar
5), maka dapat dipilih kombinasi ukuran pipa salur dan tubing yang terbaik.

Gambar 3
Arah perhitungan analisa nodal dengan kepala sumur sebagai titik nodal

52

Gambar 4.3
Plot Kurva Tubing dan Kurva Pipa Salur

3.

Analisa Nodal Bila Titik Nodal Di Separator


Gambar 4.4 menunjukkan arah perhitungan jika separator digunakan

sebagai titik nodal. Komponen reservoir dan sistem pipa di dalam sumur dan di
permukaan ditentukan dengan harga tekanan separator yang direncanakan, Cara
ini digunakan untuk melihat dengan mudah pengaruh tekanan separator terhadap
laju produksi yang akan diperoleh.

Gambar 4.4
Arah perhitungan analisa nodal dengan separator sebagai titik nodal

53

4.4

Analisa kehilangan tekanan

4.3.1

Sumur minyak ketika dipasang Gravel Pack


Berikut persamaan menghitung pressure drop dengan menggunakan

persamaan Jones, Blount dan Glaze.


Untuk sumur minyak:
Pwfs Pwf = P = aq2+bq

9.08 x10 13 Bo o L 2
o Bo L
P
q
q
2
A
1.127 x10 13 kG A
2

Dimana :

9.08 x10 13 Bo o L
a
A2
2

o Bo L
1.127 x10 13 k G A

Keterangan :
q

= laju alir, b/d,

Pwf

= tekanan alir sumur, psi,

Pwfs

= tekanan dasar sumur di sandface, psi,

= koefisien turbulensi, ft-1, untuk gravel adalah

1.47 x10 7
kG

0.55

Bo

= faktor volume formasi, rb/stb

= densitas minyak, lb/ft3

= panjang bagian aliran linear, ft

= luas total aliran, ft2, (A = luas 1 perforasi shot density interval


perforasi)

kG

= permeabilitas gravel, md

54

4.3.2

Sumur Perforasi
Berikut persamaan Jones, Blount dan Glaze untuk menghitung kehilangan

tekanan akibat perforasi pada Sumur Minyak:


Pwfs Pwf P aq 2 bq

1
1

r

r
o Bo ln(rc / r p )
c
p

q2
7.08 x10 3 L k

p
p

2.30 x10 14 B 2
o
o

Lp

1
1

r
rc
p

2.30 x10 14 B 2
o
o

Dimana :

Lp

o B o ln(rc / r p )

7.08 x10 3 L k
p p

= laju alir/perforasi, b/d,

Pwf

= tekanan alir sumur, psi,

Pwfs

= tekanan dasar sumur di sandface, psi,

= koefisien turbulensi, ft-1, untuk gravel adalah

Bo

= faktor volume formasi, rb/stb

= densitas minyak, lb/ft3

= viskositas minyak, cp

Lp

= panjang lubang perforasi, ft (lihat Tabel 4.44)

Kp

= permeabilitas daerah terkompaksi, md

2.33x1010

k p1.201

= 0.1 k jika diperforasi overbalance


= 0.4 k jika diperforasi underbalance
rp

= radius lubang perforasi, ft

rc

= radius daerah terkompaksi, ft ( rc = rp + 0.5/12 )

4.3.3

Pada pipa Vertikal

55

Kehilangan tekanan pada pipa vertikal dianalisa untuk mengetahui berapa


banyak tekanan yang dibutuhkan untuk mengangkat fluida ke permukaan ketika
hendak melakukan artificial lift. Aliran vertikal multifasa ditemukan di setiap
tubing string yang digunakan dalam memproduksi minyak. Analisa tekanan pada
pipa vertikal sangat penting dilakukan agar dapat memilih secara tepat
Completion string, memprediksi rate aliran, dan design instalasi artificial lift.
Pada dasarnya persamaan drop tekanan terdiri dari tiga elemen, yaitu :
1. Gradien kemiringan
2. Gradien gesekan
3. Gradien akselerasi
dP

dZ

dP

dZ

total

dP

dZ

elevasi

dP

dZ

friksi

akselerasi

1. Gradien Kemiringan (elevation)


Komponen ini sama dengan nol untuk aliran horisontal dan mempunyai harga
untuk aliran compressible atau incompressible atau transient, baik dalam aliran
pipa vertikal maupun miring. Untuk aliran ke bawah harga sin akan berharga
negatif dan tekanan hidrostatik akan bertambah pada arah aliran.
2. Gradien Gesekan (friction)
Komponen ini berlaku untuk semua jenis aliran pada setiap sudut pipa
dan menyebabkan drop tekanan dalam arah aliran. Pada aliran laminer friction
loss berbanding lurus dengan kecepatan fluida. Sedangkan pada aliran turbulen
friction loss berbanding lurus dengan vn, dimana 1,7<n<2.
3. Gradien Percepatan (acceleration)
Komponen ini berlaku untuk setiap kondisi aliran transient, berharga nol
untuk luas penampang yang konstan dan aliran inkompresibel. Pada setiap
kondisi aliran dimana terjadi perubahan kecepatan, seperti dalam aliran
kompresibel,drop tekanan terjadi dalam arah pertambahan kecepatan.

56

Perhitungan gradien tekanan untuk aliran fluida multi fasa dalam pipa
lebih kompleks, dimana semua parameter yang digunakan merupakan parameter
gabungan dari fasa-fasa yang mengalir. Aliran multi fasa dapat berupa aliran
fluida minyak dan air ataupun aliran minyak gas, atau bahkan dari ketiga fasa
tersebut. Perhitungan gradient tekanan untuk aliran dua fasa memerlukan hargaharga kondisi aliran seperti kecepatan aliran dan sifat-sifat fisik fluida (berat jenis,
viskositas dan dalam beberapa hal tegangan permukaan). Apabila harga-harga
tersebut telah dapat ditentukan untuk masing-masing fasa yang mengalir, maka
perlu dilakukan penggabungan-penggabungan.
Untuk menentukan parameter gabungan digunakan suatu parameter
penghubung yang disebut hold-up, yang jenisnya tergantung dari asumsi kondisi
kecepatan masing-masing fasa yang mengalir.
a. Hold-Up (H)
Asumsi yang digunakan dalam penggunaan parameter ini adalah kecepatan
aliran antara fluida dan fasa gas berbeda. Hold-up untuk cairan (liquid hold-up,
HL) didefinisikan sebagai perbandingan antara volume pipa yang terisi oleh fluida
dengan volume pipa secara keseluruhan. Sedangkan untuk hold-up gas,
merupakan perbandingan antara volume pipa yang terisi oleh gas dengan volume
pipa secara keseluruhan.
HL

VL
sedangkan H g 1 H l
Vp

b. No-Slip Hold-Up ()
Asumsi yang digunakan dalam penggunaan parameter ini adalah fluida dan
gas mengalir dengan kecepatan yang sama. Besarnya no-slip hold-up untuk cairan
(no-slip liquid hold-up, L) dapat ditentukan dengan membandingkan besarnya
laju aliran volumetrik fluida dengan laju aliran volumetrik seluruh fasa (gas dan
fluida). Sedangkan harga no-slip gas hold-up (g) ditentukan dengan
membandingkan besarnya laju aliran volumetrik gas dengan laju aliran volumetrik
seluruh fasa.

qL
qL qg

57

Penggunaan parameter hold-up dalam penentuan parameter campuran dapat


dilihat pada penentuan viskositas, densitas, parameter aliran dan faktor gesekan
untuk aliran multi fasa, sebagai berikut :
1. Viskositas campuran (m)
Pada kondisi dimana terdapat perbedaan kecepatan aliran fluida dan gas, maka
viskositas campuran ditentukan dengan persamaan :

m l g (1 ) (6.72 10 4 )
Sedangkan pada kondisi dimana fluida dan gas mengalir dengan kecepatan
yang sama (no-slip), maka viskositas campuran ditentukan dengan persamaan :

Dimana viskositas cairan (L) ditentukan dengan persamaan :


L o f o w f w

Dimana f merupakan fraksi volume untuk masing-masing komponen dan :


HL = hold-up cairan
L = no-slip hold-up cairan
Keterangan :
m= campuran (mixture)
l = cairan (liquid)
o = minyak (oil)
g = gas
w = air (water)
2. Densitas campuran (m)
Pada kondisi dimana terdapat perbedaan kecepatan aliran fluida dan gas, maka
densitas campuran ditentukan dengan persamaan :

Sedangkan pada kondisi dimana fluida dan gas mengalir dengan kecepatan
yang sama, maka densitas campuran ditentukan dengan persamaan :

58

dimana densitas cairan dan gas ditentukan dengan persamaan :


L ( o Fo ) ( w Fw )
g

0.0764 g P 520
(14.7)(T 460) Z g

3. Kecepatan aliran
Parameter aliran yang digunakan dalam perhitungan kehilangan tekanan
adalah variabel kecepatan (superficial velocity, vs), yang didefinisikan sebagai
besarnya kecepatan suatu fasa untuk mengalir melewati keseluruhan penampang
pipa, yang secara matematis adalah sebagai berikut :
VS

Q
AP

dimana :
vs = kecepatan superfisial fluida, ft/sec
q = laju alir, cu ft/sec
A = luas penampang pipa, ft2
Besarnya kecepatan superfisial untuk fluida multi fasa (v m) ditentukan
dengan persamaan :
Vm VSL VSG

keterangan :
vsL = kecepatan superfisial cairan, besarnya ditentukan dengan persamaan
V SL

QL
AP

vsg = kecepatan superfisial gas, besarnya ditentukan dengan persamaan


VSg

Qg
AP

59

Menentukan jenis aliran dengan batasan-batasan korelasi Beggs and Brill


a. Segregated :
< 0.01 dan Nfr < L1 atau,
0.01 dan Nfr < L2
b. Transisi :
0.01 dan L2 < Nfr L3
c. Intermittent
0.01 < 0.4 dan L3 < Nfr L4 atau,
0.4 dan L3 < Nfr L4
d. Distributed
< 0.4 dan Nfr L1 atau,
0.4 dan Nfr > L4
4. Faktor gesekan (f)
Faktor yang menentukan dalam perhitungan kehilangan tekanan pada aliran
fluida dalam pipa adalah faktor gesekan (friction factor) antara fluida yang
mengalir dengan dinding pipa.
Faktor gesekan merupakan fungsi dari dua parameter yang tidak berdimensi,
yaitu kekasaran relatif pipa (relatif roughness) dan bilangan Reynold (Reynolds
number, NRe). Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
f ns 0.0056

0.5
( N rens ) 0.32

Kekasaran relatif pipa adalah perbandingan antara kekasaran absolut (absolute


roughness, ), yang diketahui untuk setiap jenis pipa, dengan diameter pipa (d,
ft). Persamaan untuk menentukan bilangan Reynold pada aliran fluida multi fasa
adalah sebagai berikut :
N rens

Gm d
m

5. Tegangan Permukaan
Apabila fasa cair terdiri dari air dan minyak maka tegangan permukaan cairan
(L) ditentukan dengan :

60

L o fo w fw

dimana o, w = tegangan permukaan minyak, air


Dengan memperhatikan keseluruhan perhitungan parameter campuran untuk
fluida multi fasa, maka besarnya gradien tekanan untuk aliran fluida multi fasa
dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut :

f tp GmVm
g
tp sin
2gc d
gc

tpVmVsd

gc p

Korelasi yang digunakan untuk menganalisa kehilangan tekanan pada pipa


vertikal yaitu
1. Hagedorn and Brown
2. Duns and Ros
3. Orkiszewski
4. Beggs and Brill
Dalam perhitungan pada studi kasus ini digunakan korelasi Beggs and
Brill karena dalam analisanya menggunakan model fisik di laboratorium, dengan
membuat instalasi pipa dan peralatan pengukuran, Beggs and Brill merupakan
penelitian

pertama

yang

memperhitungkan

sudut

kemiringan

pipa,

memperhitungkan pola aliran untuk menentukan sifat fisik fluida campuran serta
untuk menentukan faktor gesekan, selain itu pola aliran ditentukan berdasarkan
pada kedudukan pipa horizontal. Sehingga dari proses analisanya kita dapat
mengetahui jenis aliran fluidanya serta faktor koreksinya..
Tiga pola aliran dalam pipa ini yaitu :
Segregated Flow
Intermittent Flow
Distributed Flow
Ditambah dengan Transition Flow

61

4.5

Pengontrolan laju produksi


Pengontrolan terhadap laju produksi sangat diperlukan agar dapat

diketahui segala kemungkinan yang akan timbul selama sumur berproduksi.


Pengaturan laju produksi perlu dilakukan agar mencapai hasil perolehan yang
maksimum tanpa terjadi resiko teriadinya problema produksi. Laju produksi yang
terlalu tinggi dapat mengakibatkan penurunan tekanan reservoir yang terlalu
cepat, sehingga gas akan terbebaskan dari minyak. Adanya gas yang terbebaskan
akan menurunhan tenaga pendorong dan permeabilitas effektif minyak, sehingga
laju produksi minyak ahan berkurang, maka akan terjadi gas dan water coning
reservoir rate sensitive. Dari kenyataan ini maka harus ditentukan besarnya laju
produksi agar tidak terjadi coning, yaitu tidak melebihi kapasitas aliran kritisnya.
Kapasitas aliran kritis merupakan laju tertinggi tanpa terjadi coning. Laju aliran
kritis tanpa terjadinya gas coning didefinisikan sebagai laju produksi tertinggi
dimana. tidak terjadi water coning.
Adapun konsep yang digunakan untuk pengontrolan dalam laju produksi
sumur adalah konsep Maximum Efficient Rate (MER). MER didefinisikan
sebagai laju produksi tertinggi yang diiiinkan dan dapat dipertahankan sepanjang
waktu tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan serta kehilangan energi yang siasia, sehingga dapat dicapai ultimate recovery.
Konsep MER pada dasarnya dibagi meniadi dua, yaitu :
1. Pengaturan laju produksi reservoir (MER reservoir)
2. Pengaturan laju produksi sumur (MER sumur).
MER reservoir adalah pembatasan laju produksi total seluruh reservoir
agar tidak terjadi kerusakan formasi dan pembuangan energi reservoir secara tidak
efisien, sehingga besarnya MER reservoir ini dalam penentuannya tergantung
kepada mekanisme pendorong setiap reservoir. Sedangkan MER sumur adalah
laju produksi maksimum dari suatu sumur yang diijinkan agar tidak terjadi
kerusakan formasi, akan tetapi tergantung pada mekanisme pendorong serta
keadaan fluidanya yang terkandung di dalam reservoir.

62