Anda di halaman 1dari 26

BAB V

ANALISA SISTEM NODAL


5.1.

DASAR TEORI
Analisa sistem nodal merupakan suatu sistem pendekatan untuk optimasi

produksi sumur minyak, dengan cara mengevaluasi secara menyeluruh. Nodal


merupakan titik pertemuan antara dua komponen dan pada titik pertemuan
tersebut secara fisik akan terjadi kesetimbangan, dalam bentuk kesetimbangan
masa fluida yang mengalir ataupun kesetimbangan tekanan.
Analisa sistem nodal ini dilakukan dengan membuat diagram tekanan laju
produksi yang merupakan grafik yang menghubungkan antara perubahan tekanan
dan laju produksi untuk setiap komponen, menghasilkan perpotongan kurva
inflow performance dengan outflow performance, sehingga laju produksi optimum
dapat ditentukan. Komponen-komponen titik nodal tersebut adalah :
1. Titik nodal di dasar sumur.
2. Titik nodal di kepala sumur.
3. Titik nodal di separator.
4. Titik nodal di upstream dan downstream untuk sistem alir dalam pipa dengan
menggunakan kurva pressure traverse.
Analisa sistem nodal yang dilakukan pada metode artificial lift seperti
pada gas lift adalah dengan menentukan besarnya GLR optimum dan pada ESP
dengan menentukan penempatan pump setting depth, tipe pompa dan jumlah
stage yang digunakan.
5.1.1. Analisa Nodal
Analisa sistem nodal terhadap suatu sumur, diperlukan untuk tujuan :
1. Meneliti kelakuan aliran fluida reservoir disetiap komponen sistem sumur
untuk menentukan masing-masing komponen tersebut terhadap sistem sumur
secara keseluruhan.
2. Menggabungkan kelakuan aliran fluida reservoir diseluruh komponen
sehingga dapat diperkirkan laju prduksi optimum.

Komponen produksi, yang menghubungkan antara formasi produktif


dengan separator dapat dibagi menjadi enam komponen, seperti yang
ditunjukkan oleh Gambar 5.1., yaitu :
1. Komponen formasi produktif/reservoar.
Dalam komponen ini fluida reservoir mengalir dari batas reservoar menuju ke
lubang sumur, melalui media berpori. Ini ditunjukkan oleh kurva IPR.
2. Komponen komplesi.
Adanya lubang perforasi ataupun gravel pack didasar lubang sumur akan
mempengaruhi aliran fluida dari formasi kedasar lubang sumur. Berdasarkan
analisa dikomponen ini dapat diketahui pengaruh jumlah lubang perforasi
ataupun adanya gravel pack terhadap laju produksi sumur.
3. Komponen tubing.
Fluida multifasa yang mengalir dalam pipa tegak ataupun miring akan
mengalami kehilangan tekanan yang besarnya antara lain tergantung dari
ukuran tubing. Dengan demikian analisa tentang pengaruh ukuran tubing
terhadap laju produksi dapat dilakukan dalam komponen ini. Ini ditunjukkan
oleh Vertical Flow Performance (VFP).
4. Komponen pipa salur.
Pengaruh ukuran pipa salur terhadap laju produksi yang dihasilkan suatu
sumur, dapat dianalisa berdasarkan komponen ini. Komponen ini disebut juga
Horizontal Flow Performance (HFP).
5. Komponen retreksi/jepitan.
Jepitan yang dipasang di kepala sumur atau dipasang di dalam tubing sebagai
Safety Valve, akan mempengaruhi besarnya laju produksi yang dihasilkan
dari suatu sumur. Pemilihan ataupun analisa tentang pengaruh ukuran jepitan
terhadap laju produksi dapat dianalisa dalam komponen ini.
6. Komponen separator.
Laju produksi suatu sumur dapat berubah dengan berubahna tekanan kerja
separator. Pengaruh perubahan tekanan kerja separator terhadap laju
produksi untuk sistem sumur dapat dilakukan dengan komponen ini.

Gambar 5.1. Sistem Sumur Produksi


Sesuai dengan Gambar 5.1. dalam sistem sumur produksi dapat ditemui 4
titik nodal, yaitu :
1. Titik nodal di dasar sumur.
Titik nodal ini merupakan pertemuan antara komponen formasi
produktif/reservoir dengan komponen tubing apabila komplesi sumur
adalah open-hole atau pertemuan antara komponen tubing dengan
komponen komplesi yang diperforasi atau dipasang gravel pack.

2. Titik nodal di kepala sumur.


Titik nodal ini merupakan titik pertemuan antara komponen tubing dan
komponen pipa salur dalam hal sumur tidak dilengkapi dengan jepitan.
3. Titik nodal di separator.
Pertemuan komponen pipa salur dengan komponen separator
merupakan suatu titik nodal.
4. Titik nodal di upstream/ downstream jepitan.
Sesuai dengan letak jepitan, titik nodal ini dapat merupakan pertemuan
antara komponen tubing dengan komponen jepitan, apabila jepitan
dipasang di tubing sebagai safety valve atau merupakan pertemuan
antara komponen tubing di permukaan dengan jepitan, apabila jepitan
dipasang di kepala sumur.
5.2.

LANGKAH KERJA ANALISA NODAL


Prosedur analisa sistem nodal untuk titik nodal di dasar sumur, kepala

sumur ataupun di separator, pada akan diterangkan sebagai berikut :


5.2.1

Dasar sumur pada kondisi open hole

5.2.1.1.Langkah Kerja
1.

Siapkan data penunjang yaitu :


Kedalaman sumur (D).
Panjang pipa salur (L).
Diameter Tubing (dt).
Diameter pipa salur (dp).
Kadar air (KA).
Perbandingan gas cairan (GLR).
Tekanan Separator (Psep).
Kurva IPR.

2.

Pada kertas grafik kartesian,buat sisitem koordinat dengan tekanan


pada sumbu tegak dan laju produksi pada sumbu datar.

3.

Berdasarkan uji tekanan dan produksi terbaru atau berdasarkan


peramalan kurva IPR plot kurva IPR pad kertas grafik dilangkah (2).

4.

Ambil laju produksi tertentu (qt) yang sesuai dengan salah satu harga
laju produksi pada grafik traverse baik untuk aluiran horisontal
maupun untuk aliran vertikal.

5.

Berdasrkan qt, dp, dan KA, pilih grafik pressure traverse untuk
aliran horisontal.

6.

Pilih garis gradien aliran berdasrakan perbadingan gas-cairan (GLR).


Seringkali perlu dilakukan interpolasi apabila garis-garis aliran untuk
GLR yang diketahui tidak tercantum.

7.

Berdasarkan garis gradien aliran pada pressure traverse tersebut,


tentukan tekanan kepala sumur, Pwh (tekanan upstream) dari Psep
(tekanan downstream).

8.

Dari harga qt, dt, dan KA pilih grafik pressure traverse untuk aliran
vertikal.

9.

Pilih garis aliran untuk GLR yang diketahui. Apabilka garis gradien
aliran untuk harga GLR tersebut tidak tercanutm, lakukan interpelosi.

10. Gunakan harga Pwh di langkah (7) (Pwh = tekanan downstream)


untuk menentukan tekanan alir dasar sumur. (Pwf = tekanan
upstream).
11. Ulangi langkah (4) sampai dengan (10) untuk harga laju produksi
yang lain. Dengan demikian akan diperoleh variasi harga qt terhadap
Pwf.
12. Plot qt terhadap Pwf pada kertas grafik yang memuat kurva IPR
langkah (3). Kurva yang terbentuk disebut kurva tubing intake.
13. Berdasarkan letak kurva tubing intake terhadap kurva IPR terdapat
tiga kemungkinan, yaitu :
a. Kurva tubing intake di atas kurva IPR sehingga tidak dapat
ditentukan titik potongnya. Hal ini berarti bahwa sumur tersebut
mati untuk sistem pipa produksi yang digunakan.
b. Kurva

tubing

intake

tidak

memotong

kurva

IPR,

tetapi

perpanjangan kurva tubing intake dapat memotong kurva IPR.


Apabila hal ini ditemui, ulangi langkah (4) smpai dengan (10)

untuk harga laju produksi lain sehingga kurva tubing intake dapat
memotong kurva IPR.
Disarankan nuutk tidak melakukah ekstrapolasi, kecuali apabila
laju produksi yang diperlukan tidak tersedia di pressure traverse.
c. Kurva tubing memotong kurva IPR dan perpotongan tersebut
memberikan laju produksi qt. Hal ini berarti bahwa untuk sistem
rangkaian tubing didalam sumur dan pipa salur dipermukaan,
sumur dapat berproduksi sebesar qt.
14. Dengan membuat variasi ukuran tubing dan pipa salur, maka dapat
diperoleh kondisi sistem optimum.
5.2.1.2.Contoh Soal
Diketahui :
Panjang pipa salur

= 3000 ft

Diameter

= 2 in

Kedalaman sumur

= 5000 ft

Diameter Tubing

= 2 3/8 in

Kadar Air

= 0

Perbandingan gas cairan = 400 SCF/STB


Tekanan Statik

= 2200 psi

PI

= 1 BPD/psi

Tentukan laju produksi yang diperoleh dengan menggunakan dasar sumur


sebagai titik nodal.
Perhitungan :
1.

Pada kertas grafik kartesian, buat sistem koordinat tekanan pada


sumbu tegak dan laju produksi pada sumbu datar.

2.

Berdasarkan PI = 1.0 dan Ps = 2200 psi, hitung Pwf pada berbagai


anggapan harga q,
Pwf = Ps -

q
PI

Untuk q = 200 bbl/hari, dan Pwf = 2200-200/1 =2000 psi.

Tabel V-1
Harga Pwf Berdasarkan Qasumsi

3.

Q asumsi Oil

Pwf

(BPD)
200
400
600
800
1000
1500

(Psi)
2000
1800
1600
1400
1200
700

Buat kurva IPR dengan memplot q vs Pwf dari tabel di Langkah 2.

Gambar 5.2. Grafik IPR


4.

Gunakan langkah kerja, untuk menentukan tekanan kepala sumur


pada aliran mendatar.
Tabel V-2
Harga Pwh dari Grafik Pressure traverse
Qasumsi Oil

P sep

Pwh

(BPD)
200
400
600
800

(Psi)
100
100
100
100

(Psi)
115
140
180
230

1000
1500
5.

100
100

275
420

Tentukan tekanan alir dasar sumur, menggunakan grafik pressure


traverse aliran tegak untuk diameter tubing 2 3/8 GLR = 400
SCF/STB, KA= 0 dan q anggapan.
Tabel V-3
Harga Pwf dari Grafik Pressure Traverse

6.

Qasumsi Oil

Pwh

Pwf

(BPD)
200
400
600
800
1000
1500

(Psi)
115
140
180
230
275
420

(Psi)
750
880
1030
1190
1370
1840

Plot q terhadap PWf dari langkah (5), pada kertas grafik di Gambar
3.3. Kurva ini disebut Kurva Tubing intake.

Gambar 5.3. Kurva Tubing Intake

7.

Perpotongan antara kurva IPR (inflow performance) dengan kurva


tubing intake (outflow performance), menghasilkan laju produksi
sebesar 900 BPD.

8.

Laju produksi yang diperoleh 900 BPD.

5.2.2. Dasar Sumur Diperforasi


5.2.2.1.Langkah Kerja
Prosedur perhitungan analisa sisitim nodal pada titik nodal di dasar sumur
untuk kondisi lubang di dasr sumur diperforasi adalah sebagai berikut :
1. Siapkan data penunjang yaitu :
Kedalaman sumur (D).
Panjang pipa salur (L).
Diameter tubing (dt).
Diameter pipa salur (dp).
Kadar air (KA).
Perbandingan gas cairan (GLR).
Tekanan separator (Psep).
Kurva IPR.
Table formasi produktif (ft).
Permeabilitas formasi per foot (SPF).
Panjang lubang perforasi (in).
Jari-jari lubang perforasi (in).
Teknik perforasi (overbalanced atau underbalanced).
2. Pada kertas grafik kartesian, buat sistem koordinat dengan tekanan
pada sumbu tegak dan laju produksi pada sumbu datar.
3. Berdasarkan uji tekanan dan produksi terbaru atau berdasarkan
peramalan kurva IPR (lihat modul II) plot kurva IPR pada kertas grafik
di langkah (2). tekanan alir dasar sumur yang diperoleh dari persamaan

kurva IPR merupakan tekanan di permukaan formasi produktif


(sandface).
4. Ambil laju produksi tertentu (qt) yang sesuai dengan salah satu harga
laju produksi pada grafik pressure traverse baik untuk aliran horizontal
maupun untuk aliran vertikal.
5. Berdasarkan pada qt, dp, dan KA, pilih grafik pressure traverse untuk
aliran horizontal.
6. Pilih garis gradient aliran berdasarkan perbandingan gas cairan (GLR).
Seringkali perlu dilakukan interpolasi apabila garis-garis aliran untuk
GLR yang diketahui tidak tercantum.
7. Berdasarkan garis gradient aliran pada pressure traverse tersebut,
tentukan tekanan kepala sumur, Pwh (tekanan upstream) dari Psep
(tekanan downstream).
8. Dari harga qt, dt, dan KA pilih grafik pressure traverse untuk
aliran vertical.
9. Pilih garis gradient aliran untuk GLR yang diketahui. Apabila garis
gradient aliran untuk harga GLR tersebut tidak tercantum, lakukan
interpolasi.
10. Gunakan harga Pwh di langkah (7) (Pwh = tekanan downstream) untuk
menentukan tekanan alir dasar sumur (Pwf = tekanan upstream).
11. Ulangi langkah (4-10) untuk harga laju produksi yang lain. Dengan
demikian akan diperoleh variasi harga qt terhadap Pwf.
12. Hitung tekanan dasar sumur di permukaan formasi produktif,
berdasarkan harga laju produksi yang digunakan di langkah (4-10).
13. Hitung perbedaan tekanan di dasar sumur, antara tekanan di permukaan
formasi produktif dan kaki tubing, yaitu tekanan dasar sumur dari
langkah (12) dikurangi dengan tekanan dasar sumur dari langkah (11),
pada harga laju produksi yang sama. Plot antara laju produksi dengan
perbedaan tekanan di dasar sumur tersebut.
14. Berdasarkan data perforasi, hitung kehilangan tekanan sepanjang
perforasi.

15. Plot perbedaan tekanan (kehilangan tekanan) terhadap laju produksi


pada kertas grafik yang sama dengan plot di langkah (13).
16. Perpotongan kurva dari langkah (13) dengan langkah (15) menunjukan
laju produksi yang diperoleh pada kerapatan perforasi yang dimaksud.
17. Dengan mengubah harga kerapatan perforasi maka dapat ditentukan
kerapatan perforasi yang optimum.
5.2.2.2.Contoh Soal
Diketahui :
Panjang pipa salur

= 3000 ft

Diameter pipa salur

= 2 in

Kedalaman sumur

= 5000 ft

Diameter tubing

= 2 3/8

Kadar air

=0

Perbandingan gas cairan

= 400 SCF/bbl

Tekanan statis

= 2200 psi

Tebal formasi produktif

= 20 ft

Permeabelitas formasi

= 162 md

Kerapatan perforasi

= 2, 4, 6, 8, 10 SPF

Panjang lubang perforasi

= 11,6 in

Diameter lubang perforasi

= 0,51 in

Teknik perforasi

= overbalanced

Factor vol formasi minyak

= 1,083 bbl/STB

Viskositas minyak

= 2,5 cp

Densitas minyak

= 30,0 lbm/ cuft

Tentukan laju produksi yang diperoleh dengan menggunakan dasar sumur


sebagai titik nodal, dengan memperhitungkan kerapatan perforasi.
Perhitungan :
1. Pada kertas grafik kartesian, buat sistim koordinat dengan tekanan pada
sumbu tegak dan laju produksi pada sumbu datar.

2. Berdasarkan PI=1,0 dan Ps=2200 psi, hitung Pwf pada berbagai anggapan
harga q, yaitu sebagai berikut :
Pwf = Ps -

q
PI

Untuk q = 200 bbl/ hari Pwf = 2200 -

200
= 2000 psi
1

Untuk laju produksi yang lain di peroleh hasil seperti pada table berikut :
Tabel V-4
Harga Pwf berdasarkan Qasumsi

3.

Q asumsi Oil

Pwf

(BPD)
200
400
600
800
1000
1500

(Psi)
2000
1800
1600
1400
1200
700

Berdasarkan hasil perhitungan kehilangan tekanan sepanjang pipa


salur dan tubing untuk beberapa harga laju produksi diperoleh tekanan
alir dasar sumur (di kaki tubing), sebagai berikut :
Tabel V-5
Harga Pwh dan Pwf dari Pressure Traverse

4.

Q asumsi Oil

Pwh

Pwf

(BPD)
200
400
600
800
1000
1500

(Psi)
115
140
180
230
275
420

(Psi)
750
880
1030
1190
1370
1840

Hitung perbedaan tekanan antara tekanan di permukaan formasi


produktif dengan tekanan di kaki tubing, sebagai berikut :

Tabel V-6
Beda Tekanan pada Tubing
q anggapan

Pwh (Sandface)

Pwf (Tubing)

Beda Tekanan

(bbl/day)
200
400
600
800
1000
1500

(Psi)
2000
1800
1600
1400
1200
700

(Psi)
750
880
1030
1190
1370
1840

(Psi)
1250
920
570
210
-

Plot perbedaan tekanan tersebut terhadap laju produksi di gambar


5.

Berdasarkan data perforasi, hitung kehilangan tekanan sepanjang


perforasi untuk kerapatan perforasi 2, 4, 6, 8 dan 10 SPF. Persamaan
kehilangan tekanan sepanjang perforasi untuk data, telah dihitung di
modul II, dan telah di peroleh hubungan berikut :
Pwfs Pwf = 0.024621 . q2 + 30,443 . q
Hasil perhitungan kehilangan tekanan untuk setiap kerapatan perforasi
adalah sebagai berikut :
Tabel V-7
Kehilangan Tekanan untuk Setiap Kerapatan Perforasi
Laju
produksi
(BPD)
200
400
600
800
1000
1500

2 SPF

4 SPF

6 SPF

q/perf

dp

q/perf

Dp

q/perf

dp

5
10
15
20
25
37,5

152,83
306,89
462,18
618,71
776,46
1176,24

2,50
5,00
7,50
10,00
12,50
18,75

76,26
152,83
229,71
306,86
384,38
579,46

1,67
3,33
5,00
6,67
8,33
12,50

50,81
101,75
152,83
204,05
215,40
384,38

Plot antara perbedaan tekanan tersebut terhadap laju produksi pada


kertas grafik di gambar

6.

Perpotongan antara kurva perbedaan tekanan di kaki tubing dengan


tekanan di perforasi, menunjuakn laju produksi yang dihasilkan untuk
setiap kerapatan perforasi, yaitu sebagai berikut :
Tabel V-8
Laju Produksi untuk Setiap Kerapatan Perforasi
Kerapatan Perfo

Laju Produksi

(SPF)
2
4
6
8
10

(STB/D)
620
740
790
820
840

Gambar 5.4. Analisa Sistem Nodal untuk Sumur Diperforasi


5.2.3. Kepala sumur tanpa jepitan
5.2.3.1.Langkah Kerja
1.

Siapakan data penunjang yaitu :


Kedalaman sumur (D).
Panjang pipa salur (L).
Diameter Tubing (dt).
Diameter pipa salur (dp).
Kadar air (KA).

Perbandinagn gas cairan (GLR).


Tekanan separator (P sep).
Kurva IPR.
2. Pada kertas grafik kartesian, buat sistem sumbu dengan tekanan pada
sumbu tegak dan laju priduksi pada sumbu datar.
3. Ambil laju produksi tertentu (qt) yang sesuai dengan salah satu harga
laju produksi pada grafik pressure traverse untuk aliran horizontal.
4. Berdasrkan harga qt, dp, dan KA, pilih grafik pressure taverse aliran
horizontal.
Pilih garis gradien aliran dengan GLR yang diketahui. Apabila garis
gradien aliran tersebut tidak tercantum, lakukan interpolsasi.
5. Dari P sep tentukan tekanan kepala sumur Pwh dengan mengunakan
garis gradient alir di langkah lima, catat harga pwh yang diperoleh.
6. Mengulangi langkah (3) samapi dengan (6) untuk berbagai harga laju
produksi yang lain. Dengan demikian

diperoleh variasi harga Qt

tehadap Pwh.
7. Plot qt terhadap Pwh pada kertas grafik di langkah (2).
8. Ambil laju produksi tertentu (qt ) yang sesuai dengan salah satu harga
laju produksi pada grafik pressure traverse untuk aliran vertikal.
7. Berdasarkan harga qt, dt, dan KA pilih gravik pressure traverse aliran
vertikal.
9. Pilih garis gradien aliran dengan GLR yang diketahui. Apabila garis
gradien aliran untuk harga GLR tersebut tidak ada, lakukan
Interpolasi.
10. Menurut persamaan IPR yang diperoleh dari uji tekanan dan produksi
terbaru atau menurut peramalan IPR, hitung tekanan alir pada dasar
sumur (Pwf), pada qt dilangkah (10).
11. Dari harga Pwf

tentukan tekanan kepala sumur (Pwh) dengan

menggunakan garis gradien aliran pada langkah (11); catat harga Pwh
yang diperoleh.

12. Ulangi langkah (9) sampai (13) untuk berbagai harga laju produksi lain.
Dengan demikain akan diperoleh variasi harga qt terhadap Pwh.
13. Plot harga qt terhadap Pwh dari alngkah (14) pada kertas grafik
dilangkah (2). Kurva yang diperoleh disebut kurva tubing.
Apabila kurva tubing memotong kurva pipa salur,maka sumur akan
terproduksi dengan laju produksi (qt) yang ditentukan dari titk
perpotongan tersebut.
Apabila kurva tubing tidak memotong kurva pipa salur maka sumur
tidak dapat berproduksi untuk sisitem rangkaian pipa tersebut.
Apabila kurva tubing dan kurva pipa salur tidak berpotongan tetapi
perpanjanjangan kedua kurva tersebut memberikan kemungkinan
untuk berpotonganmaka ulangi langkah (3) sampai dengan (15)
untuk laju produksi yang lain, sehingga kurva tubing dan kurva pipa
salur dapat diperpanjang dan kemudian tentukan titik potongnya.
Titik potong ini memberikan laju produksi yang diperoleh.
14. Dengan membuat kurva tubing dan kurva pipa salur untuk brbagai
ukuran tubing dan ukuran pipa salur, maka dipilih pasangan ukuran
tubing dan pipa salur yang dapat menghasilkan laju produksi optimum.
5.2.3.2.Contoh Soal
Diketahui :
Panjang pipa salur

= 3000 ft

Diameter

= 2 in

Kedalaman sumur

= 5000 ft

Diameter Tubing

= 2 3/8 in

Kadar Air

= 0

Perbandingan gas cairan = 400 SCF/STB


Tekanan Statik

= 2200 psi

PI

= 1 BPD/Psi

Tentukan laju produksi dengan menggunkan kepala sumur sebagai titik


nodal tanpa mengunakan jepitan.

Perhitungan :
1.

Pada kertas grafik kartesian, buat sistem koordinat

tekanan pada

sumbu tegak dan laju produksi pada sumbu datar.


2.

Berdasrkan PI = 1.0 dan Ps = 2200 psi, hitung Pwf pada berbagai


anggapan harag q,
Pwf = Ps -

q
PI

Untuk q = 200 bbl/hari Pwf = 2200-200/1 =2000 psi


Tabel V-9
Harga Pwf Berdasarkan Qasumsi

3.

Q asumsi Oil

Pwf

(BPD)
200
400
600
800
1000
1500

(Psi)
2000
1800
1600
1400
1200
700

Gunakan langkah kerja, untuk menentukan tekanan kepala sumur pada


aliran mendatar.
Tabel V-10
Harga Pwh dari Grafik Pressure Traverse
Qasumsi

P sep

Pwh

(BPD)
200
400
600
800
1000
1500

(Psi)
100
100
100
100
100
100

(Psi)
115
140
180
230
275
420

4.

Plot antara q terhadap Pwh.

Gambar 5.5. Grafik Q vs Pwh


5.

Dengan mengunakan grafik pressure traverse untuk aliran


tegak pada masing-masing q dan diperoleh
berikut :
Tabel V-11
Pwh Untuk Aliran Tegak
Qasumsi Oil

Pwf

Pwh

(BPD)
200
400
600
800
1000

(Psi)
2000
1800
1600
1400
1200

(Psi)
610
540
450
330
180

hasil sebagai

6.

Plot antara q terhadap Pwh pada kertas grafik.

Gambar 5.6. Analisa Nodal dengan Titik Nodal di Kepala Sumur Tanpa
Jepitan
7.

Perpotongan antara kurva dilangkah (4) dan (6) memberikan laju


produksi yang diperoleh.

8.

Laju produksi yang diperoleh = 900 bbl / hari.

5.2.4 Kepala sumur dengan jepitan


5.2.4.1.Langkah Kerja
1.

Siapkan data penunjang, yaitu :

Kedalaman sumur (D).

Panjang pipa salur (L).

Diameter tubing (dt).

Diameter pipa salur (dp).

Kadar air (KA).

Perbandingan gas cairan (GLR).

Tekanan separator (Psep).

2.

Kurva IPR.

Ukuran jepitan.

Pada kertas grafik kertasian, buat sistim sumbu dengan tekanan pada
sumbu tegak dan laju produksi pada sumbu datar.

3.

Ambil laju produksi tertentu (qt) yang sesuai dengan salah satu harga
laju produksi pada grafik pressure traverse untuk aliran vertikal.

4.

Berdasarkan harga qt, dp, dan KA, pilih grafik pressure traverse untuk
aliran vertikal.

5.

Pilih garis gradien aliran dengan GLR yang diketahui. Apabila tidak
diketahui maka lakukan interpolasi.

6.

Berdasarkan persamaan IPR yang diperoleh dari uji tekanan dan


produksi terbaru atau menurut peramalan IPR, hitung tekanan alir dasar
sumur pada harga qt di langkah (3).

7.

Dari harga Pwf tentukan tekanan kepala sumur dengan mengguanakan


garis gradient aliran di langkah (5).

8.

Ulangi langkah (3) sampai dengan (7) untuk berbagai harga laju
produksi yang lain. Dengan demikian akan diperoleh variasi harga qt
terhadap Pwh.

9.

Plot qt terhadap Pwh dari langkah (8) pada kertas grafik di langkah (2).
kurva yang diperoleh disebut kurva tubing.

10. Pilih korelasi aliran fluida dalam jepitan yang sesuai dengan kondisi
lapangan.
11. Berdasarkan korelasi yang dipilih, buat hubungan antara laju produksi
dengan tekanan kepala sumur.
12. Plot antara laju produksi terhadap tekanan kepala sumur yang diperoleh
dari langkah (11), pada kertas grafik di langkah (2), kurva yang
diperoleh disebut kurva jepitan.
13. Perpotongan antara kurva tubing dengan kurva jepitan menunjukan
harga laju produksi yang dihasilkan oleh sumur, dengan menggunakan
ukuran jepitan yang diberikan.

14. Untuk mengetahui pengaruh ukuran jepitan terhadap laju produksi


sumur, maka buat kurva jepitan dengan dengan mengguankan langkah
(11), untuk beberapa ukuran jepitan yang berbeda.
15. Perpotongan kurva-kurva jepitan dengan kurva tubing, menunjukan laju
produksi yang diperoleh untuk setiap ukuran jepitan.
5.2.4.2.Contoh Soal
Tentukan laju produksi yang diperoleh dengan menggunakan kepala sumur
sebagai titik nodal, apabila digunakan jepitan dengan ukuran 12/64 in.
gunakan persamaan Gilbert untuk memperkirakan kelakuan aliran fluida
dalam jepitan.
Perhitungan :
1.

Pada kertas grafik kartesian, buat sistem koordinat dengan tekanan


sebagai sumbu tegak dan laju produksi sebagai sumbu datar.

2.

Dengan mengguanakn grafik pressure traverse untuk aliran tegak,


tentukan Pwh pada masing-masing q, dan diperoleh hasil sebagai
berikut :
Tabel V-12
Pwh pada Masing-Masing Q
q anggapan

Pwf

Pwh

(bbl/day)
200
400
600
800
1000
1500

(Psi)
2000
1800
1600
1400
1200
700

(Psi)
610
540
450
330
180
-

3.

Plot antara q terhadap Pwh, kurva ini adalah kurva tubing.

4.

Buat hubungan antara laju produksi dengan tekanan kepala sumur


dengan mengguanakan persamaan Gilbert, dan diperoleh :

Tabel V-13
Pwh berdasarkan Persamaan Gilbert

5.

q anggapan

Pwh

(bbl/day)
200
400
600
800
1000
1500

(Psi)
75,34
150,68
220,02
301,36
376,70
565,04

Plot laju produksi terhadap tekanan kepala sumur yang diperoleh dari
langkah (4), pada kertas grafik di langkah (2).

6.

Tentukan perpotongan antara kurva tubing yang diperoleh dari


langkah (3) dengan kurva jepitan yang diperoleh dari langkah (5).
Perpotongan kedua kurva tersebut menunjukan laju produksi sebesar
840 STB/ hari.

5.2.5. Separator
5.2.5.1.Langkah Kerja
1. Siapkan data penunjang, yaitu :

Kedalaman sumur (D).

Panjang pipa salur (L).

Diameter tubing (dt).

Kadar air (KA).

Perbandingan gas-cairan (GLR).

Tekanan separator (P sep).

Kurva IPR.

2. Pada kertas grafik kartesian buat sistim sumbu dengan tekanan pada
sumbu tegak dan laju produksi pada sumbu datar.
3. Plot kurva IPR pada kertas grafik dilangkah (2).

4. Anggap laju produksi (qt) yang sesuai dengan salah satu harga laju
produksi pada grafik

pressure traverse untuk aliran horizontal dan

vertikal.
5. Pilih grafik pressure traverse aliran vertikal sesuai dengan qt, dt, dan
KA. Apabila KA tidak sesuai dengan KA yang tersedia pada grafik,
pilih grafik pressure traverse dengan KA yang terdekat.
6. Pilih kurva gradien tekanan aliran dengan GLR yang diketahui. Apabila
untuk harga GLR tersebut tidak tersedia kurva gradient alirannya,
lakukan interpolasi.
7. Berdasarkan kurva IPR dilangkah (3), baca harga tekanan alir dasar
sumur( Pwf ) pada qt.
8. Gunakan grafik preassure traverse langkah (5) dan kurva gradien aliran
langkah (6) untuk menentukan tekanan kapala sumur Pwh berdasarkan
Pwf.
9. Catat harga Pwh yang diperoleh.
10. Pilih grafik pressure traverse aliran horizontal yang sesuai dengan qt,
dp, dan KA. Apabila KA tidak sesuai dengan KA yang tersedia pada
grafik,pilih grafik pressure traverse dengan harga KA yang terdekat.
11. Pilih kurva gradien yang sesuai dengan GLR yang diketahui. Apabila
harga GLR tersebut tidak tersedia kurva gradien alirannya, lakukan
interpolasi.
12. Gunakan grafik pressure traverse langkah (10) dan kurva gradien aliran
langkah (11) untuk menentukan tekanan masuk di separator, (Pin)
berdasarkan harga Pwh dari langkah (9).
13. Catat harga P in dan qt.
14. Ulangi langkah (4) sampai dengan (13) untuk berbagai harga laju
produksi. Dengan demikian akan diperoleh hubungan antara Pin
terhadap qt.
15. Plot harga Pin terhadap qt pada kertas grafik di langkah (2).

16. Plot Psep pada sumbu tekanan, dari titik ini tarik garis datar ke kanan
sampai memotong kurva yang diperoleh dari langkah (15).
17. Perpotongan tersebut menunjukan laju produksi yang akan diperoleh.
5.2.5.2.Contoh Soal
Diketahui :
Panjang pipa salur

= 3000 ft

Diameter

= 2 in

Kedalaman sumur

= 5000 ft

Diameter Tubing

= 2 3/8 in

Kadar Air

= 0

Perbandingan gas cairan = 400 SCF/STB


Tekanan Statik

= 2200 psi

PI

= 1 BPD/Psi

Tentukan laju produksi yang dapat diperoleh dengan mengunakan


separator sebagai titik nodal.
Perhitungan :
1.

Dengan menggunakan grafik pressure traverse untuk aliran


tegak pada masing-masing

q, dan diperoleh

hasil sebagai

berikut :
Tabel V-14
Pwh Untuk Aliran Tegak

2.

Qasumsi

Pwf

Pwh

(BPD)
200
400
600
800
1000

(Psi)
2000
1800
1600
1400
1200

(Psi)
610
540
450
330
180

Berdasarkan Pwh di langkah 1 tentukan tekanan masuk di separator


untuk beberapa anggapan laju produksi.
Hasil perhitungan adalah sebagai berikut :
Tabel V-15

P in berdasarkan Pressure traverse

3.

Qasumsi

Pwh

P sep

P in

(BPD)
200
400
600
800
1000

(Psi)
610
540
450
330
180

(Psi)
100
100
100
100
100

(Psi)
595
525
410
255
-

Plot q terhadap P ins.

Gambar 5.7. Grafik q vs P ins


Plot tekanan separator = 100 psi pada sumbu tekanan. Titik
perpotongan ini menunjukan laju produksi yang di peroleh, yaitu :
q = 900 bbl/hari.

Gambar 5.8. Kurva Analisa Nodal dengan titik Nodal di Separator