Anda di halaman 1dari 8

A.

Definisi Miopia
Miopia adalah kelainan refraksi pada mata dimana bayangan difokuskan di depan retina,
ketika mata tidak dalam kondisi berakomodasi. Miopia berasal dari bahasa Yunani muopia
yang artinya menutup mata. Miopia merupakan manifestasi kabur bila melihat jauh, atau yang
sering dikenal dengan istilah nearsightedness.1
Miopia yang juga dikenal dengan istilah rabun jauh merupakan kelainan refraksi dimana
berkas sinar sejajar yang memasuki mata tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di
depan retina. Dalam keadaan ini objek yang jauh tidak dapat dilihat secara teliti karena sinar
yang datang saling bersilangan pada humor vitreous, sehingga ketika sinar tersebut sampai di
retina sinar-sinar ini menjadi divergen, membentuk lingkaran yang difus menyebabkan terlihat
bayangan yang kabur. 2
B. Klasifikasi
Menurut American Optometric Association (AOA)1, ada beberapa klasifikasi atau
pembagian miopia yakni klasifikasi miopia berdasarkan temuan klinis dan klasifikasi miopia
berdasarkan derajat serta waktu timbulnya onset.
Klasifikasi miopia

Sumber: American Optometric Association. Optometri clinical practice guideline care of


the patient with myopia. USA: 2006.1

Berdasarkan temuan klinis, terdapat lima jenis miopia menurut AOA yakni yang pertama
miopia simpleks. Miopia jenis ini disebabkan oleh dimensi bola mata yang terlalu panjang atau
indeks bias kornea maupun lensa kristalina yang terlalu tinggi. Ini dikenal juga dengan istilah
miopia fisiologi. Kedua, miopia nokturnal yang hanya terjadi pada saat kondisi di sekeliling
kekurangan cahaya. Sebenarnya, fokus titik jauh mata seseorang bervariasi terhadap tahap
pencahayaan yang ada. Terjadinya miopia nokturnal ini dipercaya disebabkan oleh pupil yang
membuka terlalu lebar untuk memasukkan lebih banyak cahaya, sehingga menimbulkan aberasi
dan menambah kondisi miopia. Ketiga, pseudomiopia yang diakibatkan oleh rangsangan yang
berlebihan terhadap mekanisme akomodasi sehingga terjadi kekejangan pada otototot siliaris
yang memfiksasi lensa kristalina. Di Indonesia, pseudomiopia disebut juga dengan miopia palsu,
karena sifat miopia ini hanya sementara sampai kekejangan akomodasinya dapat direlaksasikan.
Keempat, Miopia Degeneretif yang disebut juga sebagai miopia maligna atau miopia progresif.
Biasanya merupakan miopia derajat tinggi dan tajam penglihatannya juga di bawah normal
meskipun telah dilakukan koreksi. Miopia jenis ini bertambah buruk dari waktu ke waktu.
Kelima, miopia Induksi. Miopia jenis ini disebabkan oleh pemakaian obatobatan, kadar gula
darah, terjadinya sklerosis pada nukleus lensa dan sebagainya. 1, 2
Sedangkan klasifikasi miopia berdasarkan ukuran dioptri lensa yang dibutuhkan untuk
mengoreksinya terbagi atas tiga jenis yakni miopia ringan dengan lensa yang digunakan untuk
mengoreksi adalah 0,25 s/d 3,00 dioptri. Miopia sedang dengan lensa yang digunakan untuk
mengoreksi adalah 3,25 s/d 6,00 dioptri dan miopia berat dengan lensa yang digunakan untuk
mengoreksi adalah > 6,00 dioptri.1,2
Miopia juga dapat diklasifikasi berdasarkan waktu timbulnya onset yakni diantaranya
miopia kongenital yang terjadi sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak. Miopia onset anakanak yakni miopia yang terjadi pada usia di bawah 20 tahun. Kemudian miopia onset awal
dewasa yakni miopia yang terjadi pada usia di antara 20 sampai 40 tahun dan miopia onset
dewasa yang terjadi di atas usia 40 tahun.1
Namun ada juga yang mengklasifikasikan miopia berdasarkan penyebabnya yakni yang
pertama miopia Aksial, dimana panjang bola mata abnormal, sedangkan daya bias komponen
refraksi mata dalam keadaaan normal. Baik kornea maupun lensa mempunyai kelengkungan,
daya bias dan posisi yang normal. Kedua, miopia Kurvartura. Pada miopia jenis ini terjadi
pertambahan kelengkungan kornea/lensa dengan panjang aksis bola mata dalam batas normal.

Contohnya pada keadaan intumesensi lensa. Ketiga, miopia Pembiasan yang terjadi akibat
perubahan indeks bias komponen refraksi mata, biasanya bersifat temporer dan sering ditemukan
pada penderita diabetes melitus dll. Meskipun demikian, sampai saat ini diklinik banyak yang
menggunakan klasifikasi miopia berdasarkan ukuran dioptri lensa yang dibutuhkan untuk
mengkoreksikannya.3

C. Epidemiologi
Prevalensi miopia bervariasi diberbagai belahan dunia. Hal ini disebabkan karena adanya
perbedaan genetik, usia, jenis kelamin, dan aktivitas. Ditinjau dari usia, menurut Fan dkk6
prevalensi miopia meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini dibuktikan dalam
penelitiannya terhadap 7860 siswa SD di hongkong dalam tahun 1998 sampai 2000 dengan nilai
signifikant <0,0001. Berdasarkan gender sendiri dikatakan bahwa wanita lebih cenderung
mengalami miopia dibandingkan pria. Sampai saat ini belum diketahui pasti penyebabnya.
Prevalensi miopia cenderung meningkat akhir-akhir ini. Tidak jarang anak-anak usia sekolah pun
banyak yang mengalami myopia.4

D. Faktor Risiko
Menurut AOA23, penyebab terjadinya miopia belum diketahui secara pasti, namun
diduga faktor genetik dan stress visual dalam hal ini kebiasaan-kebiasaan seperti membaca jarak
dekat, menonton tv atau menggunakan komputer dengan jarak dekat dalam waktu yang cukup
lama, dan mengerjakan tugas dalam waktu yang lebih lama menjadi faktor risiko dan faktor
predisposisi terjadinya miopia.1, 4

1. Keturunan.
Menurut Leo dkk,5 faktor genetik juga turut berpengaruhi yakni melibatkan gen PAX6
yang terlibat dalam okulogenesis, dan pertumbuhan ocular. Ini juga yang turut berperan dalam
meningkatnya prevalensi miopia di Asia dibandingkan negara lain. Orang tua yang mempunyai
sumbu bola mata yang lebih panjang dari normal juga akan melahirkan keturunan yang memiliki

sumbu bola mata yang lebih panjang dari normal. Ada bukti yang signifikan bahwa miopia
diwariskan, atau setidaknya kecenderungan untuk mengalami miopia pada anak-anak dengan
kedua orang tua atau salah satu orang tuannya mengalami miopia. Jika salah satu atau kedua
orang tua miopia, maka resiko mengalami miopia pada anak-anaknya juga meningkat.1,4
2. Stres Visual
Kebiasaan melihat jarak dekat secara terus menerus dapat memperbesar resiko miopia.
Demikian juga kebiasaan membaca dengan penerangan yang kurang memadai. Dari sebuah
penelitian oleh Lembaga Pengkajian dan Penelitian Senat Mahasiswa Ikatan Keluarga
Mahasiswa FKUI bahwa menonton televisi dengan jarak yang dekat akan berpengaruh terhadap
fungsi retina. Jadi semakin dekat jarak menonton televisi dan semakin lama waktu menonton
televisi, maka semakin turun fungsi retina. Padahal sebaiknya anak-anak menonton televisi
dengan jarak 4 meter dan untuk mereka yang berusia 6-9 tahun sebaiknya menonton televisi
selama 60 menit per hari, untuk yang 9-13 tahun menonton televisi selama 90 menit per hari.
Miopia dapat terjadi karena ukuran sumbu bola mata yang tumbuh terlalu panjang saat bayi.6
Meskipun kecenderungan untuk mengalami miopia dapat diwariskan, kemajuaan yang
sebenarnya dapat dipengaruhi oleh aktivitas matanya. Individu yang dengan intens
menghabiskan cukup waktu untuk membaca, bekerja di depan komputer, atau melakukan
pekerjaan visual yang dekat mungkin lebih cenderung untuk menjadi miopia. 6
E. Patogenesis
Miopia yang terjadi dapat dikarenakan ukuran sumbu bola mata yang relatif panjang yang
juga dikenal dengan miopia aksial, indeks bias media refraksi yang teralalu tinggi atau indeksi
bias kornea dan lensa yang terlalu kuat. Diameter anterior-posterior bola mata normal yakni
24,4mm.8 Bila anterior-posterior bola mata yang terlalu panjang atau lensa terlalu kuat, sumber
cahaya dekat dibawah tepat ke fokus di retina tanpa akomodasi (walaupun dalam keadaan
normal akomodasi diperlukan untuk penglihatan dekat) sementara sumber cahaya jauh
difokuskan didepan retina dan tampak kabur. Dalam keadaan ini objek yang jauh tidak dapat
dilihat secara teliti karena sinar yang datang saling bersilangan pada humor vitreous, sehingga
ketika sinar tersebut sampai di retina sinar-sinar ini menjadi divergen, membentuk lingkaran

yang difus menyebabkan terlihat bayangan yang kabur. Sehingga orang dengan miopia memiliki
penglihatan dekat lebih baik daripada penglihatan jarak jauh.2

F. Manifestasi Klinis
Pasien mengeluh penglihatan kabur ketika melihat jarak jauh, sedangkan jelas ketika
melihat jarak dekat. Jika derajat miopianya terlalu tinggi, sehingga letak pungtum remotum
kedua mata terlalu dekat, maka kedua mata harus melihat dalam posisi konvergensi dan hal ini
mungkin menimbulkan keluhan ( astenovergen). Apabila miopia pada mata yang satu lebih tinggi
dari mata yang lain, maka dapat terjadi ambliopia pada mata yang miopianya lebih tinggi. Mata
ambliopia akan menggulir ke temporal sehingga dapat menjadi strabismus divergen (ekstropia). 9
G. Diagnosis Miopia
Pasien dengan miopia akan menyatakan melihat jelas bila dari jarak dekat, sedangkan
kabur ketika melihat dari jarak jauh atau disebut pasien adalah rabun jauh. Pasien dengan miopia
akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai dengan strabismus dan celah kelopak
yang sempit. 9
Pengujian atau test yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan mata secara umum atau
standar pemeriksaan mata, terdiri dari : 9
1. Uji ketajaman penglihatan pada kedua mata dari jarak jauh (Snellen) dan jarak dekat (Jaeger).
2. Uji pembiasan, untuk menentukan benarnya resep dokter dalam pemakaian kaca mata.
3. Pemeriksaan celah dan bentuk tepat di retina.
4. Mengukur tekanan cairan di dalam mata dan pemeriksaan retina.

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan miopia dapat dilakukan dengan dua langkah yakni terapi optikal dan terapi
pembedahan.
1. Terapi optikal

Miopia bisa dikoreksi dengan menggunakan lensa spheris sehingga cahaya yang
sebelumnya difokuskan didepan retina dapat jatuh tepat di retina. Lensa sferis menyebabkan
cahaya mengalami divergensi sebelum masuk ke mata sehingga ketika cahaya berada di mata,
cahaya tersebut difokuskan berada tepat di retina sehingga pasien akan melihat objek dengan
jelas. Terapi optikal terdiri dari koreksi dengan menggunakan kacamata dan koreksi dengan
menggunakan kontak lens. 10
Koreksi Miopia dengan Penggunaan Kacamata
Penggunaan kacamata untuk pasien miopia sangat penting. Meskipun banyak pasien
miopia dewasa ini menggunakan lensa kontak, namun kacamata masih dibutuhkan. Semakin
tinggi indeks lensa, semakin tipis lensa yang dibutuhkan. Seseorang dengan miopia bila
diberikan lensa bantu negatif yang terlalu lemah akan menimbulkan ketidaknyamanan karena
membuat orang tersebut berakomodasi untuk dapat melihat dengan jelas. Jadi bila pasien miopia
dikoreksi dengan -3,0D memberikan tajam penglihatan 6/6, dan demikian juga bila diberi
-3.25D, maka sebaiknya diberikan lensa koreksi -3,0 untuk mengistirahatkan mata dengan baik
sesudah dikoreksi.11,12
Koreksi Miopia dengan Menggunakan Lensa Kontak
Cara yang disukai untuk mengoreksi kelainan miopia saat ini adalah dengan
menggunakan lensa kontak. Banyak jenis lensa kontak yang tersedia meliputi lensa kontak sekali
pakai yang sekarang telah tersedia lebih dari -16.00 dioptri.13
Lensa kontak ada dua macam yaitu lensa kontak lunak (soft lens) serta lensa kontak keras
(hard lens). Pengelompokan ini didasarkan pada bahan penyusunnya. Lensa kontak lunak
disusun oleh hydrogels, HEMA (hydroksimethylmetacrylate) dan vinyl copolymer sedangkan
lensa kontak keras disusun dari PMMA (polymethylmetacrylate).13 Keuntungan lensa kontak
lunak adalah nyaman, singkat masa adaptasi pemakaiannya, mudah memakainya, dislokasi lensa
yang minimal, dapat dipakai untuk sementara waktu. Kerugian lensa kontak lunak adalah
memberikan ketajaman penglihatan yang tidak maksimal. 14 Kontak lensa keras mempunyai
keuntungan yaitu memberikan koreksi visus yang baik, bisa dipakai dalam jangka waktu yang
lama (awet), serta mampu mengoreksi astigmatisme kurang dari 2 dioptri. Kerugiannya adalah
memerlukan fitting yang lama, serta memberikan rasa yang kurang nyaman. 14 Pemakaian lensa

kontak harus sangat hati-hati karena memberikan komplikasi pada kornea, tetapi komplikasi ini
dikurangi dengan pemilihan bahan yang mampu dilewati gas O2. Hal ini disebut koefisien difusi
(gas Diffusion Coefficient), semakin tinggi koefisien difusnya maka, semakin besar oksigen
dapat disalurkan, sehingga semakin baik bahan tersebut.13
2. Terapi bedah
Seiring dengan semakin berkembangnya teknik operasi dan semakin banyaknya orang
yang lebih memilih operasi dibandingkan dengan memakai kacamata ataupun lensa kontak.
Sekarang telah dilakukan banyak prosedur operasi untuk mengkoreksi kelainan refraksi seperti
miopia secara permanen. Setelah operasi penderita miopia akan mendapatkan tajam penglihatan
sampai 20/40 bahkan sampai 20/20. 1,14
Beberapa tehnik operasi yang telah digunakan untuk mengatasi kelainan refraktif miopia
ini, diantaranya epikeratophakia, radial keratotomy(RK),photo-refractive keratotomy (PRK),
laser insitu keratomileusis (LASIK), clear lens extraction in unilateral high myopia dan phakic
iol.1,14

DAFTAR PUSTAKA

1. American Optometric Association. Optometri clinical practice guideline care of the patient
with myopia. USA: 2006.
2. Curtin BJ. The myopias: basic science and clinical management. 2002. Philadephia: Harper
& Row.p.348-58.
3. Ilyas S., dkk. Ilmu penyakit mata: untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Ed,2.
Jakarta: Sagung Setyo.p.47
4. National Eyes Institute. Myopia [Internet]. 2010. [cited 2014 Agust 19]. Available from:
http://www.nei.nih.gov/eyedata/myopia.asp#4
5. Hartanto W., Inakawati S. Kelainan refraksi tak terkoreksi penuh di RSUP dr. Kariadi
Semarang periode 1 januari 2002 - 31 desember 2003. Media Medika Mudah 2010;4:25-29
6. Kliegmen. Behrman. Ilmu kesehatan anak nelson. Ed.15.Vol.3. Cetakan pertama. Jakarta:
EGC: 2000.h.2150.
7. Anonim.

Gangguan

Mata.

[cited

2011

January

31].

Available

from:

http://www.tempointeraktif.com. 2003
8. Silbernagl S., Lang F. Colour atlas of pathophysiology. Georg Thieme Verlag: Germany.
2000.p.323
9. Ilyas S. Penuntut Ilmu Penyakit Mata. Ed. 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2003. p. 52
10. Pachul

C.

High

Miopia-Nearsighted

Vision

[Internet].

available

from:

http://

www.lensdesign.com. [cited l 26 januari 2009].


11. Ilyas,sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Ed. 3. Jakarta Balai Penerbit FKUI, 2007. p.147-167
12. Sherwood L. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Ed. 2. Jakarta: EGC, 2001. p. 164
13. Hartono, Yudono RH, Utomo PT, Hernowo AS. Refraksi dalam: Ilmu Penyakit mata.
Suhardjo, Hartono (eds). Yogyakarta: Bagian Ilmu Penyakit Mata FK UGM,2007;185-7.
14. Semarang Eye Centre. Tindakan Bedah LASIK [Internet].[cited 21 Agustus 2014]. available
from http://www.semarang-eyecentre. com.