Anda di halaman 1dari 21

KLIPING

PRAMUKA

Disusun Uleh :
Nama : Ahmad Julianto
Kelas : VII B

SMP NEGERI 3 BAWANG


Tahun Pelajran
2014/2105

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb,
Salam Pramuka,
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa
yang telah memberi kita limpahan rahmat-Nya kepada kita semua hingga saat ini.
Pramuka merupakan wadah bagi generasi penerus bangsa untuk mengembangkan
kemampuan diri di era globalisasi yang semakin berkembang pesat. selain itu,
pramuka dapat melatih kemandirian serta ketelitian dan kekreativitasan juga
mampu melatih diri untuk hidup mandiri serta disiplin.
Pramuka dapat pula menjadi wadah sosial untuk bersosialisasi antar sesama
anggota pramuka dan melatih kita untuk lebih cetakatan dan berani dalam
menghadapi alam bebas serta meningkatkan keterampilan kaum muda sehingga
siap menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat.
Kliping ini dibuat untuk memberi sedikit informasi tentang pramuka dan segala
hal yang berkaitan dengan pramuka penggalang.
Terimakasih,
Wassalamualaikum Wr.Wb
Bawang, .... November 2015

Penulis

SEJARAH PRAMUKA INDONESIA

Scouting yang di kenal di Indonesia dikenal dengan istilah Kepramukaan,


dikembangkan oleh Lord Baden Powell sebagai cara membina kaum muda di
Inggris yang terlibat dalam kekerasan dan tindak kejahatan, beliau menerapkan
scouting secara intensif kepada 21 orang pemuda dengan berkemah di pulau
Brownsea selama 8 hari pada tahun 1907. Pengalaman keberhasilan Baden Powell
sebelum dan sesudah perkemahan di Brownsea ditulis dalam buku yang berjudul
Scouting for Boy.
Melalui buku Scouting for Boy itulah kepanduan berkembang termasuk di
Indonesia. Pada kurun waktu tahun 1950-1960 organisasi kepanduan tumbuh
semakin banyak jumlah dan ragamnya, bahkan diantaranya merupakan organisasi
kepanduan yang berafiliasi pada partai politik, tentunya hal itu menyalahi prinsip
dasar dan metode kepanduan.
Keberadaan kepanduan seperti ini dinilai tidak efektif dan tidak dapat
mengimbangi perkembangan jaman serta kurang bermanfaat dalam mendukung
pembangunan Bangsa dan pembangunan generasi muda yang melestarikan
persatuan dan kesatuan Bangsa.

Memperhatikan keadaan yang demikian itu dan atas dorongan para tokoh
kepanduan saat itu, serta bertolak dari ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960,
Presiden Soekarno selaku mandataris MPRS pada tanggal 9 maret 1961
memberikan amanat kepada pimpinan Pandu di Istana Merdeka. Beliau merasa
berkewajiban melaksanakan amanat MPRS, untuk lebih mengefektifkan
organisasi kepanduan sebagai satu komponen bangsa yang potensial dalam
pembangunan bangsa dan negara.

Oleh karena itu beliau menyatakan pembubaran organsiasi kepanduan di


Indonesia dan meleburnya ke dalam suatu organisasi gerakan pendidikan
kepanduan yang tunggal bernama GERAKAN PRAMUKA yang diberi tugas
melaksanakan pendidikan kepanduan kepada anak-anak dan pemuda Indoneisa.
Gerakan Pramuka dengan lambang TUNAS KELAPA di bentuk dengan
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20
Mei 1961.

Meskipun Gearakan Pramuka keberadaannya ditetapkan dengan Keputusan


Presiden Republik Indonesia Nomor 238 tahun 1961, namun secara resmi
Gerakan Pramuka diperkenalkan kepada khalayak pada tanggal 14 Agustus 1961
sesaat setelah Presiden Republik Indonesia menganugrahkan Panji Gerakan
Pramuka dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 448 Tahun 1961.
Sejak itulah maka tanggal 14 Agustus dijadikan sebagai Hari Ulang Tahun
Gerakan Pramuka.
Perkembangan

Gerakan

mengalami pasang surut dan


waktu

tertentu

Pramuka
pada kurun

kurang

dirasakan pentingnya oleh


kaum muda, akibatnya
pewarisan nilai-nilai yang
terkandung

dalam

falsafah Pancasila dalam


pembentukan kepribadian
kaum

muda

yang

merupakan inti dari pendidikan kepramukaan tidak optimal. Menyadari hal


tersebut maka pada peringatan Hari Ulang Tahun Gerakan Pramuka ke-45 Tahun
2006, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan
Revitalisasi Gerakan Pramuka. Pelaksanaan Revitalisasi Gerakan Pramuka yang
antara lain dalam upaya pemantapan organisasi Gerakan Pramuka telah
menghasilkan terbitnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang
GERAKAN PRAMUKA.

PRAMUKA PENGGALANG

Golongan

pramuka

berdasarkan

usia

peserta didik setelah


pramuka

siaga

adalah

pramuka

penggalang. Apa itu


penggalang,
mengapa dinamakan
penggalang,

kode

kehormatannya,
pakaian

seragam

yang dikenakan dan


segala sesuatu mengenai golongan peserta didik pramuka ini akan kita bahas.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa berdasarkan usianya, peserta didik
pramuka digolongkan dalam empat kelompok yaitu siaga, penggalang, penegak,
dan pandega.
Pramuka penggalang merupakan penggolongan sekaligus sebutan bagi anggota
pramuka yang telah berusia antara 11 hingga 15 tahun. Seorang pramuka resmi
menjadi penggalang selain telah menginjak usia 11 tahun juga telah
menyelesaikan Syarat-syarat Kecakapan Umum Pramuka Penggalang tingkat
Rakit

serta

mengucapkan
trisatya

pada

upacara
pelantikan yang
dipimpin

oleh

pembinanya. Meskipun telah berusia sebelas tahun namun belum menyelesaikan


SKU Penggalang Rakit, pramuka tersebut disebut sebagai Tamu Penggalang.
Penggunaan istilah penggalang, sebagaimana istilah-istilah lainnya dalam
kepramukaan, diambil dari romantisme sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kata

penggalang merujuk kepada masa penggalangan persatuan dan kesatuan


bangsa yang sitandai dengan berlangsungnya Konggres Pemuda Indonesia yang
kemudian menghasilkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Kode Kehormatan Pramuka Penggalang


Kode Kehormatan Pramuka Penggalang terdiri atas janji
(satya) dan ketentuan moral (darma). Janji penggalang
disebut

Trisatya

sedangkan

ketentuan

moralnya

dinamakan Dasadarma. Trisatya terdiri atas tiga butir


janji sedangkan Dasadarma memuat 10 butir sikap yang
kesemuanya musti ditepati dan dipraktekkan dalam
kehidupan sehari-hari. Adapun bunyi Trisatya dan
Dasadarma untuk pramuka penggalang adalah sebagai
berikut:
Trisatya
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguhsungguh:

menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Negara


Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila,

menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun


masyarakat,

menepati Dasadarma.

Dasadarma
1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.

3. Patriot yang sopan dan kesatria.


4. Patuh dan suka bermusyawarah.
5. Rela menolong dan tabah.
6. Rajin, terampil, dan gembira.
7. Hemat, cermat, dan bersahaja.
8. Disiplin, berani, dan setia.
9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya.
10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Pengorganisasian Pramuka Penggalang


Sebagaimana golongan peserta didik pramuka lainnya, dalam setiap kegiatannya
pramuka penggalang diorganisasikan dalam dalam kelompok atau satuan secara
berjenjang. Hal ini sesuai dengan metode kepramukaan yang salah satunya
silaksanakan dengan metode kegiatan berkelompok, bekerja sama, dan
berkompetisi.

Satuan terkecil pramuka penggalang disebut regu yang terdiri atas 5 s.d 10
anggota. Regu putra dinamai dengan menggunakan nama hewan atau alat-alat
yang berguna seperti Regu Rajawali, Regu Harimau, atau Regu Traktor.
Sedangkan regu putri dinamai dengan nama tumbuhan atau bunga semisal Regu
Melati, Regu Kenanga, atau Regu Mawar. Setiap regu dipimpin oleh Pemimpin
Regu yang disingkat Pinru dan dibantu seorang wakil yang dinamai Wakil
Pemimpin Regu atau disingkat Wapinru. Pinru mempunyai hak dan kewajiban
antara lain: membantu pembina dalam melatih anggota regunya, merencanakan
kegiatan bagi regunya, memilih wakil pemimpin regu, menjadi anggota Dewan
Penggalang, serta memilih Pemimpin Regu Utama (Pratama).

Empat regu dihimpun dalam satuan yang lebih besar yang dinamakan pasukan.
Pasukan dipimpin oleh seorang Pemimpin Regu Utama atau disebut Pratama.
Pratama sendiri dipilih dari dan oleh para pimpinan regu anggota pasukan
tersebut. Dalam kegiatannya, pasukan dibimbing oleh seorang pembina
penggalang dengan dibantu oleh dua pembantu pembina. Berbeda dengan siaga,
pembina dan pembantu pembina penggalang dipanggil dengan sebutan kakak
baik untuk putra maupun putri.
Dalam pasukan juga dibentuk Dewan Pasukan Penggalang atau Dewan
Penggalang. Dewan ini bertugas mengurus dan mengatur kegiatan-kegiatan
Pasukan Penggalang serta mengurusi tata tertib dan tata usaha Pasukan. Dewan

Penggalang beranggotakan semua Pemimpin Regu dan Wakil Pemimpin Regu


dalam sebuah pasukan yang diketuai oleh Pratama. Sedangkan pembina dan
pembantu pembina bertindak sebagai penasehat dan pembimbing namun
mempunyai hak untuk mengambil keputusan akhir.

Selain itu juga terdapat Dewan Kehormatan bertugas membina kepemimpinan


dan rasa tanggung jawab para pramuka seperti menentukan pelantikan, pemberian
TKK dan Tanda Penghargaan, Pelantikan Pinru, Wapinru dan Pratama,
menentukan tindakan atas pelanggaran kode Kehormatan dan merehabilitasi
anggota Pasukan. Ketua Dewan Kehormatan adalah Pembina Penggalang,
wakilnya Pembantu Pembina dan sekretarisnya Pinru.

Seragam Pramuka Penggalang


Pakaian seragam pramuka penggalang adalah sebagai berikut:

Sistem Tanda Kecakapan Pramuka Penggalang

Kecapakapan pramuka penggalang terdiri atas Kecakapan Umum, Kecakapan


Khusus,

dan

Pramuka

Garuda.

Kecakapan

Umum

ditempuh

dengan

menyelesaikan Syarat-syarat Kecakapan Umum (SKU) yang terdiri atas tiga


tingkatan yaitu ramu, rakit, dan terap. Kecakapan Khusus dicapai dengan
menyelesaikan Syarat-syarat Kecakapan Khusus yang tertidi atas tiga tingkatan
juga yaitu purwa, madya, dan utama. Pramuka penggalang yang telah mencapai
SKU Penggalang Terap dapat mengajukan diri menempuh Pramuka Garuda.

Lain-lain Tentang Penggalang

Pramuka penggalang biasa disingkat dengan huruf G yang diambil dari


huruf pertama kata dasar galang.

Penggalang

menggunakan

kode

warna

berwarna

merah

yang

melambangkan penggalang sebagai masa-masa berkembang yang penuh


kemeriahan hidup.

Upacara-upacara dalam pasukan penggalang menggunakan format barisan


angkare (seperti segi empat dengan salah satu sisi yang terbuka) dengan
posisi pembina dan pembantu pembina berada di sisi yang terbuka. Ini
mempunyai filosofi mulai berkembangnya pandangan Penggalang dalam
menerima pengaruh yang baik dari lingkungan di sekitarnya.

Kegiatan-kegiatan (pertemuan pramuka) untuk pramuka penggalang antara


lain jambore, lomba tingkat, perkemahan bakti, Gladian Pimpinan Regu
(Dianpinru), forum penggalang, penjelajahan, JOTA (Jamboree on the
Air), JOTI (Jamboree on the Internet), dan perkemahan lain.

Kegiatan Penggalang

a. Kegiatan Penggalang adalah kegiatan yang selalu berkarakter, dinamis,


progresif, menantang. Pembina menjadi kunci pokok di dalam mengemas
bahan latihan dan kreativitas Pembina sangat diperlukan. Semakin akrab
hubungan antara Pembina dengan Penggalang maka akan semakin tinggi
tingkat ketertarikan Penggalang untuk tetap berlatih.
b. Pembina tidak perlu khawatir tentang materi apa yang akan dilatihkan
karena pada hakekatnya semua aspek hidup yang normatif dapat dilatihkan
kepada Penggalang.
c. Materi latihan perlu dikemas sehingga memenuhi 4 H sebagaimana yang
dikemukakan oleh Baden Powell yakni: Health, Happiness, Helpfulness,
Handicraft. Yang perlu diutarakan lagi adalah materi latihan itu datang dari
hasil rapat Dewan Penggalang, namun demikian Pembina bisa
menawarkan program-program baru yang menarik, yang belum diketahui
oleh Dewan Penggalang itu sendiri, sehingga menjadi keputusan latihan
Dewan Penggalang.
d. Di dalam latihan, dapat dilakukan pemenuhan/pengujian Syarat Kecakapan
Umum (SKU), Syarat Pramuka Garuda (SPG), dan Syarat Kecakapan
Khusus (SKK). SKU dan SPG merupakan standar nilai-nilai dan
keterampilan yang dicapai oleh seorang Pramuka. Sedangkan SKK adalah
standar kompetensi Pramuka berdasarkan peminatannya, oleh karena itu

tidak semua SKK yang tersedia dianjurkan untuk dicapai. Hasil pendidikan
dan pelatihan Pramuka Penggalang dilihat dari SKU - SPG yang dicapai
dan SKK yang diraih. SKU Penggalang terdiri atas 3 tingkatan, yakni:
Penggalang Ramu, Penggalang Rakit, dan Penggalang Terap. Setelah
menyelesaikan Syarat Kecakapan Umum PenggalangTerap, seorang
Penggalang diperkenankan menempuh Pramuka Garuda (SPG) yang
dalam

pramuka

internasional

disebut

Eagle

Scout.

e. Secara garis besar kegiatan Penggalang dibagi menjadi Kegiatan Latihan


rutin dan kegiatan insidental. Kegiatan Latihan Rutin
1) Mingguan
Kegiatan latihan dimulai dengan:
- Upacara pembukaan latihan.
- Pemanasan dengan permainan ringan atau ice breaking, atau
sesuatu yang sifatnya menggembirakan tetapi tetap mengandung
-

pendidikan.
Latihan inti, dapat diisi dengan hal-hal yang meliputi penanaman
nilai-nilai dan sekaligus keterampilan. Berbagai cara untuk
menyajikan nilai-nilai dan keterampilan yang dilakukan secara
langsung atau dikemas dalam bentuk permainan. (contohnya:
Teknik membuat tandu dan membalut korban; permainan
Nusantara-1 ciptaan kak Joko Mursitho yang berisikan wawasan
kebangsaan, dinamika kelompok, dan team building; permainan
Sepak Bola Sampah ciptaan kak Joko yang berisikan kepedulian
kebersihan, kerja bakti tetapi menggembirakan; Membuat Woogle

atau cincin setangan leher; dsb.).


Latihan penutup, dapat diisi dengan permainan ringan, menyanyi,

atau pembulatan dari materi inti yang telah dilakukan.


Upacara penutupan latihan. Pada upacara penutupan latihan
Pembina Upacara menyampaikan rasa terima-kasih dan titip
salam pada keluarga adik-adik Penggalang, dan menghimbau agar
pada latihan mendatang adik-adik penggalang dapat membawa

teman-temannya untuk ikut menjadi anggota baru Penggalang.


2) Bulanan/ dua bulanan / tiga bulanan/ menurut kesepakatan.
Kegiatan

diselenggarakan

atas

dasar

keputusan

Dewan

Penggalang dan Pembinanya, dengan jenis kegiatan yang berbeda


dengan kegiatan rutin mingguan. Kegiatan rutin dengan interval
waktu tersebut dapat dilakukan di luar pangkalan gugusdepan;
misalnya hiking, rowing, climbing, mountainering, junggle
survival, orientering, swimming,kegiatan-kegiatan permainan
high element, dan low element, praktek pionering yang
sebenarnya, first aids, bakti masyarakat, camping, atau lombalomba.
3) Latihan Gabungan (Latgab).
Pada hakekatnya latihan gabungan ini adalah latihan bersama
dengan

gugusdepan

lain,

sehingga

terdapat

pertukaran

pengalaman antara sesama Penggalang, dan diantara sesama


Pembina. Materi kegiatannya bisa sama dengan kegiatan Bulanan/
dua bulanan / tiga bulanan/ menurut kesepakatan.
4) Kegiatan di tingkat Kwartir Cabang, Daerah, dan Nasional
Jenis kegiatan dikategorikan ke dalam kegiatan rutin, karena
diselenggarakan satu tahunan, dua tahunan, tiga tahunan, empat
tahunan, atau lima tahunan yang diputuskan dan diselenggarakan
oleh Kwartirnya, seperti kegatan:
a. Gladian Pemimpin Satuan,
b. Gladian Pemimpin Regu,
c. Lomba Tingkat Gudep atau LT I (khusus diselenggarakan oleh
Gudep), LT II di Tingkat Ranting, LT III di tingkat Cabang,
LT IV di Tingkat Daerah, dan LT V di tingkat Nasional.
d. Kemah Bakti Penggalang.
e. Jambore Ranting, Cabang, Daerah, Nasional, Asean, Regional
(Asia Pacific), dan Jambore Dunia (World Scout Jambore).
5) Kegiatan Insidental

Kegiatan
ini

merupakan

kegiatan

partisipasi

terhadap

kegiatan

yang

diselenggarakan lembaga-lembaga Pemerintah atau lembaga nonpemerintah lainnya. Misalnya Gerakan Upacara mengikuti
kegiatan penghijauan yang dilakukan oleh Departemen Pertanian,
Kegiatan Imunisasi, Kegiatan bakti karena bencana alam, dan
sebagainya.
Peserta didik pada proses pendidikan dalam Gerakan Pramuka
berperan sebagai subjek pendidikan, oleh karena itu pendapatnya,
keinginannya, harus kita hargai. Dalam membina Penggalang
penerapan konsep Ing Madya Mangun Karsa (di tengah-tengah
membangun/menggerakkan kemauan) porsinya lebih banyak
dibandingkan dengan Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan memberi
teladan) dan Tut Wuri Handayani (dari belakang memberi
dorongan).