Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

Monomer Stirena ditemukan oleh


Newman dari distilasi cairan amber,
sedangkan polimerisasi dari monomer stirena
telah diketahui pada tahun 1839 oleh Eduard
Simon seorang apoteker Jerman (Dekker
2005). Namun penggunaan polimer stirena
secara luas baru sekitar 60 tahun yang lalu.
Penggunaan
polistirena
yang
meluas
disebabkan oleh harganya yang murah,
kemurnian tinggi, penggunaan elektrik yang
baik, kemampuan untuk dibentuk, dan mudah
dipolimerisasi (Malanga M et al 2010).
Polistirena adalah sebuah polimer dengan
monomer stirena, sebuah hidrokarbon cair
yang dibuat secara komersial dari minyak
bumi. Polimer ini merupakan plastik yang kuat
dan murah, yang merupakan salah satu
polimer golongan vinil (Storbl 2007).
polistirena biasanya bersifat termoplastik
padat pada suhu ruang, dan mencair pada
suhu yang lebih tinggi. Secara struktur,
polistirena
merupakan
rantai
panjang
hidrokarbon dengan gugus fenil yang
berdekatan dengan setiap atom karbon (Storbl
2007).

(a) (b)
(a)Struktur Stirena, (b)Struktur
polistirena
(Sumber: Storbl
2006)
Sebagian besar pembuatan monomer
stirena dibuat dari proses hidogenasi
etilbenzena
pada
suhu
tinggi
dan
menggunakan katalis besi oksida (Dekker
2005). Selain itu, Monomer stirena juga dibuat
melalui alkilasi benzena dengan AlCl3
kemudian ditambah etana dan dihasilkan etil
benzene, kemudian etil benzena direduksi
sehingga dihasilkan stirena (Cowd 1991). Dan
dan melalui jalur pathway etilbenzena
menggunakan pelarut toluene (Dekker 2005).
Pembuatan polistirena biasanya melalui
polimerisasi adisi radikal atau polimerisasi
anionic (Allock & Lampe 1981). Pembutan
polimer seperti ini biasanya menghasilkan
polistirena yang ataktik dan amorf (Storbl
Gambar 1

2006). Polistirena ini memiliki suhu Tg


(transisi gelas) sekitar 100C yang memilki
sifat gampang dibentuk (Malanga M et al
2010). Polistirena yang memiliki sifat isotaktik
dapat dihasilkan dengan menggunakan katalis
ziegler, dan polimer ini dapat membentuk
bahan polimer yang sangat berkristal (Storbl
2007).

Gambar 2

Sintesis stirena cara hidrogenasi


(Dekker 2005)
Viskositas adalah derajat kekentalan dari
suatu zat cair karena adanya gesekan antar
molekul. Kekentalan merupakan suatu sifat
cairan yang menggambarkan hambatan untuk
mengalir. Semakin tinggi kekentalan, semakin
besar nilai viskositasnya (Rosen 1993). Alat
yang digunakan untuk mengukur viskositas
biasanya berupa alat kaca yang disebut
viskometer (Rosen 1993). Viskometer yang
biasa digunakan adalah viskometer Ostwald.
Viskometer Ostwald terdiri atas tabung input
larutan, garis ukur waktu, tabung kapiler, dan
reservoir (Rosen 1993). Prinsip pada metode
viskometri adalah viskositas ditentukan
dengan mengukur waktu yang dibutuhkan bagi
cairan uji untuk lewat antara dua tanda ketika
ia mengalir karena gravitasi, melalui suatu
tabung kapiler vertikal. Waktu alir dari cairan
yang diuji dibandingkan dengan waktu yang
dibutuhkan
bagi
suatu
cairan
yang
viskositasnya sudah diketahui (Rosen 1993).
Massa molekul nisbi digunakan untuk
menentukan karakteristik polimer yang
ditentukan secara akurat. Teknik yang
digunakan akan memengaruhi ketepatan
(Cowd 1991). Viskositas dari larutan polimer
yang encer merupakan fungsi dari dimensi dan
zat yang terlarut.

METODE PERCOBAAN
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam percobaan
adalah neraca analitik, viscometer Ostwald,
labu ukur, gelas ukur, beker gelas, stopwatch,
thermometer, batang pengaduk, dan buret.
Bahan yang digunakan dalam percobaan
adalah stirofoam (polistirena), toluena,
metanol, dan aseton.
Prosedur
Percobaan pengukuran viskositas larutan
polistirena dalam pelarut toluene diawali
dengan pembuatan larutan polistirena 1%
dengan cara sebanyak 0,2501 gram polistirena
ditimbang dan dilarutkan dengan toluena.
Kemudian polistirena yang telah larut
dimasukkan ke dalam labu takar 25 ml dan
ditera dengan toluena. Selanjutnya dibuat
larutan polistirena 0,1%; 0,3%; dan 0,5%
dengan cara pengenceran dari larutan ynag
konsentrasinya lebih besar. Selanjutnya
viskometer dibilas dengan aquades dan aseton,
dan kemudian bilas dengan larutan yang akan
diukur viskositasnya. Setelah itu, sebanyak 10
ml toluena murni dimasukkan ke dalam
viskometer dan laju alirnya diukur sebanyak
tiga kali ulangan. Setelah itu, berturut-turut
larutan polistirena 0,1%; 0,3%; 0,5%; dan 1%
juga diambil sebanyak 10 ml dan diukur laju
alirnya masing-masing tiga kali ulangan.
Percobaan pengukuran viskositas larutan
polistirna dalam pelarut teta diawali dengan
cara sebanyak 2,5 ml larutan induk polistirena
dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer dan
methanol dimasukkan ke dalam buret. Metanol
ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam
larutan induk sambil diaduk-aduk hingga
larutan menjadi keruh. Volume metanol yang
digunakan untuk membuat pelarut t adalah 1
ml, sedangkan toluena yang digunakan adalah
24 ml. Larutan induk dalam pelarut dibuat
dengan cara 0,2516 gram polistirena
dilarutkan dengan toluena, dan dimasukkan ke
dalam labu takar 25 ml, setelah itu ditera
dengan pelarut . Kemudian polistirena yang
telah larut dimasukkan ke dalam labu takar 25
ml dan ditera dengan toluena. Selanjutnya
dibuat larutan polistirena 0,1%; 0,3%; dan
0,5% dengan cara pengenceran dari larutan
yang
konsentrasinya
lebih
besar
menggunakan pelarut toluena. Laju alir diukur

dengan cara sebanyak 10 ml toluena murni


dimasukkan ke dalam viskometer dan laju
alirnya diukur sebanyak tiga kali ulangan.
Setelah itu, berturut-turut larutan polistirena
0,1%; 0,3%; 0,5%; dan 1% juga diambil
sebanyak 10 ml dan diukur laju alirnya
masing-masing tiga kali ulangan.
PEMBAHASAN
Percobaan bertujuan untuk menentukan
bobot molekul polistirena pada pelarut yang
berbeda. Selain itu, percobaan ini juga
digunakan untuk mengetahui dimensi rantai
polimer polistirena pada pelarut yang berbeda.
Percobaan dilakukan menggunakan metode
viskometri dan alat yang digunakan adalah
viskometer Ostwald. Pengkuran laju alir
larutan, dimulai dari polistirena dengan
konsetrasi paling encer, hal ini dilakukan agar
tidak terjadi perubahan konsentrasi.
Percobaan
dilakukan
denagan
menggunakan dua pelarut, yaitu pelarut
toluena dan pelarut . Toluena merupakan
pelarut organik yang volatil, tidak bewarna,
tidak berbau, dan mudah terbakar (Dekker
2005). Pelarut yang digunakan merupakan
campuran etanol dan toluena dengan
perbandingan 1:24 yang diperoleh dari
percobaan. Pelarut merupakan pelarut suatu
polimer yang mencapai keadaan kritik (Rosen
1993). Perbandingan etanol toluena yang
digunakan untuk pelarut pada percobaan
berbeda dengan yang diperoleh Riquet et al
(2000), perbandingan etanol:toluena yang
diperoleh adalah sebesar 1,5:23,5.
Percobaan pengkuran viskositas dilakukan
pada temperatur ruang. Temperatur juga
memengaruhi laju alir larutan. Semakin besar
temperatur, maka laju alir akan semakin
berkurang (Rosen 1993). Tabel 1 dan Tabel 3
menunjukkan hasil percobaan pengukuran laju
alir. Diperoleh hasil yang sesuai literatur, yaitu
semakin besar konsentrasi polistirena, maka
waktu laju alir akan semakin lama.
Larutan polistirena menggunakan pelarut
toluena diukur terlebih dahulu. Hasil
percobaan dapat dilihat pada Gambar 3, yang
menunjukkan hubungan antara viskositas
reduksi terhadap fungsi konsentrasi. Diperoleh
kelinieran yang cukup besar, yaitu 0,972 yang
menunjukkan ketelitian hasil cukup tinggi.
Selain itu, diperoleh viskositas intirinsik dari

persamaan garis sebesar 2,6899. Viskositas


intrinsik ini digunakan untuk menentukan
bobot molekul (Mv). Bobot molekul yang
diperoleh pada percobaan adalah sebesar
1969,0957 g/mol. Hasil yang diperoleh ini
lebih kecil daripada literatur. Bobot molekul
polistirena dalam pelarut toluena yang
diperoleh pada literatur adalah sekitar 210 4 2106 g/mol pada suhu 20-30C (Allock &
Lampe 1981). Nilai yang diperoleh adalah
0,0372 (<1). Jika kurang dari 1
menunjukkan toluena memiliki interaksi yang
baik dengan polistirena (Allock & Lampe
1981).
100
80 f(x) = 8423.28x + 2.68
60 R = 0.97
red

40
20
0
0.0000

0.0100

0.0200

konsentrasi (g/ml)

Gambar 3

Kurva hubungan antara fungsi


konsentrasi dengan viskositas
reduksi polistirena dalam pelarut
toluena

Nilai yang diperoleh pada percobaan


adalah 1,115810-6, nilai ini digunakan untuk
mencari nilai kuadrat jari-jari dan jara rata-rata
antara ujung rantai polimer. Konstanta
universal

yang

digunakan

untuk

menemukan nilai merupakan hasil dari


perbandingan penghamburan sinar antara

pelarut (Flodas et al 1993). Nilai kuadrat jarak


rata-rata yang diperoleh adalah sebesar
9,687210-17, sedangkan kuadrat jari-jari garis
rata-rata adalah 2,210710-11. Jarak dan jarijari garis yang kecil ini menunjukkan bahwa
polistirena cenderung membuka rantainya dan
merubah dimensi semula makromolekulnya
(Allock & Lampe 1981).
Percobaan berikutnya adalah mengukur
laju alir polistirena pada pelarut . Pelarut teta
adalah pelarut yang memiliki interaksi yang
sama kuat antara polimer dengan polimer,
pelarut dengan pelarut dan pelarut dengan
polimer (Allock & Lampe 1981). Menurut
Flory pelarut merupakan pelarut yang
memiliki nilai koefisien ekspansi () sama
dengan 1 (Allock & Lampe 1981). Nilai laju
alir polistirena pada pelarut yang terlihat
pada Tabel 3 memiliki nilai yang lebih kecil
daripada pelarut toluena pada konsentrasi 1%.
Nilai yang lebih kecil ini disebabkan oleh
polistirena yang larut lebih sedikit akibat
halangan sterik dari pelarut sehingga
viskostiasnya berkurang.
Hasil pengukuran pada Tabel 4
menghasilkan
kurva
kalibrasi
antara
konsentrasi dengan viskositas reduksi yang
terlihat pada Gambar 4. Viskositas intrinsik
merupakan nilai a dari persamaan regresi,
yaitu 59,4420. Dari nilai viskositas intrinsik
ini, diperoleh bobot molekul polistirena
sebesar 140.783,8146 gram/mol. Nilai yang
besar ini menunjukkan bahwa polistirena
masih berupa makromolekul yang besar
(Riquet et al 2000). Nilai R2 yang diperoleh
pada percobaan sangat kecil yaitu 0,0000 yang
menunjukkan ketelitian percobaan sangat
kecil. Seharusnya kemiringan kurva yang
diperoleh bernilai negatif, karena pada pelarut
interaksi antara semua komponen sama,
sehingga semakin banyak polistirena, interaksi
akan semakin berkurang sehingga kekentalan
akan menurun (Melad et al 2003). Kesalahan
ini dapat disebabkan oleh kesalahan dalam
pengukuran konsentrasi polistirena dan
kesalahan paralaks dalam menentukan waktu
alir.

80.00
60.00
red

40.00

SIMPULAN
f(x) = - 45.13x + 59.1
R = 0

20.00
0.00
0.00000.00500.01000.0150
konsentrasi (g/ml)

Bobot molekul yang diperoleh pada


pelarut polistirena sebesar 1969,0957 g/mol.
Nilai ini lebih kecil daripada yang diperoleh
pada pelarut yaitu sebesar 140.783,8146
gram/mol. Nilai dan , jari-jari jarak rata-rata
yang diperoleh pada pelarut toluena juga lebih
kecil daripada pelarut . Hal ini menunjukkan
bahwa dimensi pelarut toluena lebih kecil
daripada pelarut sehingga interaksinya lebih
baik. Kesalahan yang mungkin terjadi selama
percobaan adalah kesalahan dalam pembuatan
pelarut , kesalahan konsentrasi larutan
polistirena, dan kesalahan paralaks.

DAFTAR PUSTAKA

Gambar 4

Kurva hubunga antara fungsi


konsentrasi dengan viskositas
reduksi
polistirena
dalam
pelarut

Nilai koefisien ekspansi () yang


diperoleh dari percobaan adalah 0,8864. Nilai
yang diperoleh ini tidak sesuai dengan
literature, yaaitu nilai sama dengan 1 jika
berada dalam pelarut . Kesalahan ini dapat
disebabkan
kesalahan
paralaks
dalam
penambahan methanol untuk pembuatan
pelarut , sehingga campuran pelarut kurang
tepat untuk menjadi pelarut . Nilai kuadrat
jarak rata-rata yang diperoleh adalah sebesar
9,495510-12 . Nilai kuadrat jarak rata-rata ini
lebih kecil daripada pelarut toluena murni. Hal
ini menunjukkan bahwa pada pelarut
polistirena lebih cenderung mempertahankan
dimensi awalnya daripada polistirena pada
pelarut toluena. Dengan demikian, interaksi
antara polistirena pada pelarut lebih kecil
daripada polistirena pada pelarut toluena
murni.

Allock HR, Lampe FW. 1981. Contemporary


Polymer Chemistry. Engelwood: Prentice
Hall inc.
Cowd MA. 1991. Kimia Polimer. Harry
Firman, penerjemah. Bandung: ITB.
Terjemahan
dari
:
Polymer
Chemistry.
Dekker M. 2005. Handbook Of Polymer
Synthesis. Second Ed. Oxford:
Oxford University Press.
Floudas G, Steffen W, Fischer EW. 1993.
Solvents and polymer dynamics in
concentrated
polystyrene/toluene
solutions. J. Chem. Phys. 99: 695-703
Malanga M, Iwasaki S, Isogai O, Yamada T,
Kuramoto M. 2010. Historical Overview
and Commercialization of Syndiotactic
Polystyrene. Di dalam: Schellenberg J,
editor.
Syndiotactic
Polystyrene:
Synthesis, Characterization, Processing,
And Applications. Hoboken: Jhon Wiley
& Sons
Melad O, Baraka R, Salem JK, Hilles H, ElKhazandar A. 2003. Viscometry study of
poly(methyl
methacrylate)
and
polystyrene blends in different solvent.
Chinese Journal of Polymer Science 21:
15-19
Riquet AM, Bosc V, Feigenbaum A. 2000.
Tailoring fatty food simulants made from
solvent mixtures (1): comparison of

methanol, ethanol and isopropanol


behaviour wi th polystyrene. Food
Additive and Contaminants 18: 165-167
Rosen SL. 1993. Fundamental Principles of
Polymeric Materials. New York: Jhon
Wiley and Sons
Strobl G. 2007. The Physics of Polymer:
Concepts for Understanding Their

Structures and Behavior. New York:


Springer Berlin Heilderberg