Anda di halaman 1dari 66

BAB I

PENDAHULUAN

Kepadatan penduduk menjadi permasalahan yang dihadapi dunia saat ini.


Adanya ketidakseimbangan antara luas wilayah pemukiman dengan tingkat
pertumbuhan penduduk merupakan dinamika kehidupan yang mencetuskan
permasalahan tersebut. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik atas Sensus
Penduduk tahun 2014 jumlah penduduk indonesia sebanyak 252.124.458 jiwa
dengan luas wilayah 1.913.378,68 km2 dan kepadatan penduduk sebesar 131,76
jiwa/km2. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik atas Sensus
Penduduk yang dilakukan pada tahun 2010 lalu maka didapatkan jumlah
penduduk Indonesia di tahun 2010 terhitung berjumlah sekitar 237 juta orang.
Dilihat dari tingkat pertambahan penduduk inilah maka salah satu butir sasaran
program KB di Indonesia yang menyebutkan peningkatan penggunaan metode
kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien, sekiranya dapat dijadikan acuan
dalam upaya menurunkan angka pertumbuhan penduduk. (BPSI)
Berbagai macam metode kontrasepsi di Indonesia cukup beragam namun
masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun demikian, meskipun
telah mempertimbangkan keuntungan dan kerugian semua kontrasepsi yang
tersedia, beberapa kesulitan masih harus dihadapi dalam mengontrol fertilitas
secara aman, efektif, dengan metode yang dapat diterima baik secara
perseorangan maupun budaya pada berbagai tingkat reproduksi. Maka dari itu,
seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran serta berbagai riset yang telah
dilakukan untuk menemukan ragam alat kontrasepsi yang lebih aman dan efektif,
diharapkan pemakaian kontrasepsi dapat meningkat. Berbagai pilihan metode
kontrasepsi yang dapat digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan
sekiranya dapat tersedia demi tercapainya target penurunan angka pertumbuhan
penduduk (Mochtar R, 1998).
Salah satu kontrasepsi yang paling banyak dipakai di seluruh dunia
termasuk Indonesia adalah tipe kontrasepsi hormonal. Kontrasepsi jenis ini
umumnya tersedia dalam bentuk konsumsi oral meskipun bentuk implantasi

subkutaneus dan insersi vaginal juga telah dikembangkan. Khususnya yang


berbentuk oral tersedia dalam bentuk pil dan bila dipakai secara benar terbukti
efektif mencegah kehamilan dengan keberhasilan sebesar 99.9%. Pil kombinasi
ini layaknya kontrasepsi hormonal lain, secara dasar bekerja dengan
mempengaruhi siklus hormonal seorang wanita maka dari itu, pemahaman
mengenai siklus menstruasi sangatlah erat kaitannya dalam memantau
keberhasilan kontrasepsi ini (Mochtar R, 1998)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Family Planning
Family planning atau Keluarga Berencana menurut WHO (World Health
Organisation) adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami isteri
untuk : (1) menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, (2) mendapatkan
kelahiran yang diinginkan, (3) mengatur interval diantara kelahiran, (4)
mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami dan istri,
(5) menetukan jumlah anak dalam keluarga (Hartanto, 2004).
Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang
diinginkan. Untuk dapat mencapai hal tersebut maka dibuatlah beberapa cara atau
alternatif untuk mencegah ataupun

menunda kehamilan. Cara-cara tersebut

termasuk kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan perencanaan keluarga


(Affandi, 2006:26).
Keluarga Berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan
suami istri untuk mendapatkan objektif-objketif tertentu, menghindari kelahiran
yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan,
mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktusaat kehamilan dalam
hubungan dengan umur suami istri dan menentukan jumlah anak dalam keluarga
(BKKBN, 2009).
Sasaran utama dari pelayanan KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS).
Pelayanan KB diberikan di berbagai unit pelayanan baik oleh pemerintah maupun
swasta dari tingkat desa hingga tingkat kota dengan kompetensi yang sangat
bervariasi. Pemberi layanan KB antara lain adalah Rumah Sakit, Puskesmas,
dokter praktek swasta, bidan praktek swasta dan bidan desa.
Jenis alat/obat kontrasepsi antara lain kondom, pil KB, suntik KB, AKDR,
implant, vasektomi, dan tubektomi. Untuk jenis pelayanan KB jenis kondom
dapat diperoleh langsung dari apotek atau toko obat, pos layanan KB dan kader
desa. Pelayanan kontrasepsi suntik KB sering dilakukan oleh bidan dan dokter
sedangkan pelayanan AKDR, implant dan vasektomi/tubektomi harus dilakukan
oleh tenaga kesehatan terlatih dan berkompeten.
3

2.1.1 Tujuan Keluarga berencana


Tujuan gerakan KB Nasional adalah mewujudkan keluarga kecil bahagia
sejahtera yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui
pengendalian kelahiran dan pertumbuhan penduduk Indonesia (Prawirahardjo,
2007:902).
Tujuan keluarga berencana menurut BKKBN (2012) adalah :
1. Meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak serta
keluarga dan bangsa pada umumnya.
2. Meningkatkan martabat kehidupan rakyat dengan cara menurunkan angka
kelahiran sehingga pertambahan penduduk tidak melebihi kemampuan
untuk meningkatkan reproduksi.
Berdasarkan tujuan BKKBN 2012 dapat disimpulkan bahwa Kerja keras yang
dilaksanakan BKKBN secara nasional di tahun 2012 sudah berhasil namun belum
maksimal. Karena berdasarkan hasil sementara Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia

(SDKI)

2012 mengisyaratkan

bahwa

indikator

pembangunan

Kependudukan dan Keluarga Berencana yang menjadi tanggungjawab BKKBN


seperti TFR, ASFR, CPR dan Unmet need belum tercapai. Target indikator TFR
(Total Fertility Rate - Rata-rata wanita usia subur yang melahirkan anak) sebesar
2,1 di tahun 2014 baru tercapai 2,6 tahun 2012. Indikator ASFR 15-19 tahun
sebesar 30/1000 wanita di tahun 2014, baru tercapai 48/1000 wanita. CPR atau
angka pemakaian kontrasepsi sebesar 65 persen di tahun 2014, baru tercapai 57,9
persen. Demikian juga target unmet need (pasangan usia subur ingin KB tetapi
belum terlayani) akan ditekan hingga 5 persen tahun 2014 namun kini masih 8,5
persen.
Tujuan KB berdasarkan rencana strategis (RENSTRA) 2010-2014 meliputi:
1. Mewujudkan keserasian
2. Keluarga dengan anak ideal
3. Keluarga sehat
4. Keluarga berpendidikan
5. Keluarga sejahtera
6. Keluarga berketahanan
7. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya

8. Penduduk tumbuh seimbang (PTS)


2.1.2 Visi dan Misi KB
Visi KB berdasarkan paradigma baru program BKKBN adalah untuk
mewujudkan Pembangunan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas.
Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia melalui Pembangunan
Kependudukan dan Keluarga Berencana. BKKBN turut memperkuat pelaksanaan
pembangunan kependudukan dengan upaya pengendalian kuantitas

dan

peningkatan kualitas penduduk dan mengarahkan persebaran penduduk.


Pembangunan kependudukan juga merupakan upaya untuk mewujudkan
keserasian kondisi yang berhubungan dengan perubahan keadaan penduduk yang
dapat

berpengaruh

dan

dipengaruhi

oleh

keberhasilan

pembangunan

berkelanjutan.
Upaya pengendalian pertumbuhan penduduk dilakukan melalui Program
Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga dalam rangka
mewujudkan norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera, serta diharapkan juga
dapat memberikan kontribusi terhadap perubahan kuantitas penduduk yang
ditandai dengan perubahan jumlah, struktur, komposisi dan persebaran penduduk
yang seimbang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
(RENSTRA BKKBN, 2015).
2.2 Kontrasepsi
Kontrasepsi (Contraception) adalah alat, obat, efek atau tindakan yang
dimaksudkan untuk mencegah kehamilan. Secara halus, kontrasepsi diistilahkan
juga sebagai Keluarga Berencana atau KB.

Gambar 2. Alat-alat kontrasepsi 10

Menurut cara pelaksanaannya, kontrasepsi dibagi dua, yaitu :

Cara temporer (spacing)


Yaitu menjarangkan kelahiran selama beberapa tahun sebelum hamil lagi
Cara permanen (kontrasepsi mantap)
Yaitu mengakhiri kesuburan dengan cara mencegah kehamilan secara
permanen, dimana pada wanita disebut sterilisasi dan pada pria disebut
vasektomi.

Pada dasarnya pelaksanaan kontrasepsi hendaknya memenuhi syarat-syarat


sebagai berikut :

Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya


Efek samping yang merugikan tidak ada
Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan
Tidak mengganggu hubungan persetubuhan
Tidak memerlukan bantuan medik atau kontrol yang ketat selama

pemakaiannya
Cara penggunaannya sederhana
Harganya murah supaya dapat dijangkau masyarakat luas
Dapat diterima oleh pasangan suami-isteri
(Hartanto,2003)

2.2.1 Tujuan Pelayanan Kontrasepsi


Pelayanan Kontrasepsi mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan
pokok, dimana tujuan umum meliputi pemberian dukungan dan pemantapan
penerimaan gagasan KB yaitu dihayatinya NKKBS, sedangkan tujuan pokok
meliputi penurunan angka kelahiran yang bermakna.
Guna mencapai tujuan-tujuan tersebut maka ditempuh kebijaksanaan dengan
mengkategorikan tiga fase untuk mencapai sasaran, yaitu:
1) Fase menunda perkawinan/kesuburan
Fase ini bagi Pasangan Usia Subur (PUS) dengan usia isteri kurang dari 20
tahun dianjurkan untuk menunda kehamilannya.
Alasan untuk menjarangkan kehamilan, disebabkan :
Umur dibawah 20 tahun adalah usia yang sebaiknya tidak mempunyai

anak dulu karena berbagai alasan


Prioritas penggunaan kontrasepsi Pil oral, karena peserta masih muda

Penggunaan kondom kurang menguntungkan, karena pasangan muda


masih tinggi frekuensi bersanggamanya, sehingga akan mempunyai

kegagalan tinggi
Penggunaan IUD-Mini bagi yang belum mempunyai anak pada masa ini
dapat dianjurkan, terlebih bagi calon peserta dengan kontraindikasi
terhadap pil oral

Untuk mendukung hal tersebut diatas dibutuhkan kontrasepsi dengan :

Reversibilitas yang tinggi, artinya kembalinya kesuburan dapat terjamin

hampir 100%, karena pada masa ini peserta belum mempunyai anak
Efektivitas yang tinggi, karena kegagalan akan menyebabkan terjadinya
kehamilan dengan risiko tinggi dan kegagalan ini merupakan kegagalan

program
(Hartanto, 2003)
2) Fase menjarangkan kehamilan
Periode usia isteri antara 20 30/35 tahun merupakan periode usia paling baik
untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara kelahiran
adalah 2 4 tahun. Hal ini dikenal sebagai Catur warga.
Alasan untuk menjarangkan kehamilan, disebabkan :
Umur antara 20 30 tahun merupakan usia yang terbaik untuk

mengandung dan melahirkan


Segera setelah anak pertama lahir, maka dianjurkan untuk memakai IUD

sebagai pilihan utama


Kegagalan yang menyebabkan kehamilan cukup tinggi, namun disini
tidak/kurang berbahaya karena yang bersangkutan berada pada usia

mengandung dan melahirkan yang baik


Disini kegagalan kontrasepsi bukanlah kegagalan program

Untuk mendukung hal tersebut diatas dibutuhkan kontrasepsi dengan :

Efektivitas cukup tinggi


Reversibilitas cukup tinggi karena peserta masih mengharapkan punya

anak lagi
Dapat dipakai 2 sampai 4 tahun yaitu sesuai dengan jarak kehamilan anak

yang direncanakan
Tidak menghambat air susu ibu (ASI), karena ASI adalah makanan terbaik
untuk bayi sampai umur 2 tahun dan akan mempengaruhi angka kesakitan

dan kematian anak


3) Fase menghentikan/mengakhiri kehamilan/kesuburan
7

Periode umur isteri di atas 30 tahun, terutama di atas 35 tahun, sebaiknya


mengakhiri kesuburan setelah mempunyai 2 orang anak.
Alasan untuk menjarangkan kehamilan, disebabkan :
Ibu-ibu dengan usia di atas 30 tahun dianjurkan untuk tidak hamil/tidak

punya anak lagi, karena alasan medis dan alasan lainnya


Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap
Pil oral kurang dianjurkan karena usia ibu yang relatif tua dan mempunyai
kemungkinan timbulnya akibat sampingan dan komplikasi

Untuk mendukung hal tersebut diatas dibutuhkan kontrasepsi dengan :

Efektivitas sangat tinggi, karena kegagalan menyebabkan terjadinya


kehamilan dengan risiko-tinggi bagi ibu dan anak, disamping itu akseptor

tersebut memang tidak mengharapkan punya anak lagi


Dapat dipakai untuk jangka panjang
Tidak menambah kelainan yang sudah ada. Pada masa usia tua kelainan
seperti penyakit jantung, darah tinggi, keganasan dan metabolik biasanya
meningkat. Oleh karena itu sebaiknya tidak diberikan cara kontrasepsi
yang menambah kelainan tersebut.

Maksud dari kebijaksanaan tersebut yaitu untuk menyelamatkan ibu dan anak
akibat melahirkan pada usia muda, jarak kelahiran yang terlalu dekat dan
melahirkan pada usia tua. (Julianto, 2007)
2.2.2 Memilih Metode Kontrasepsi
Dalam mencapai kenyamanan dan hasil yang optimal dari penggunaan
kontrasepsi, diperlukan pemilihan metode kontrasepsi yang cocok dengan
akseptor yang bersangkutan. Karena hal ini sangat penting, maka perlu
diperhatikan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu metode kontrasepsi
yang baik antara lain :

Aman/tidak berbahaya

Dapat diandalkan

Sederhana, sedapat-dapatnya tidak usah dikerjakan oleh seorang dokter

Murah

Dapat diterima oleh orang banyak

Pemakaian jangka lama (continuation rate tinggi)

Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih metode kontrasepsi,


meliputi :
Faktor pasangan, berkaitan dengan motivasi dan rehabilitas :

Umur

Gaya hidup

Frekuensi sanggama

Jumlah keluarga yang diinginkan

Pengalaman dengan kontraseptivum yang lalu

Sikap kewanitaan

Sikap kepriaan

Faktor kesehatan, berkaitan dengan kontraindikasi absolut atau relatif :

Status kesehatan

Riwayat haid

Riwayat keluarga

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan panggul

Faktor metode kontrasepsi, berkaitan dengan penerimaan dan pemakaian


berkesinambungan :

Efektivitas

Efek samping minor

Kerugian

Komplikasi-komplikasi yang potensial

Biaya

Dalam hal memilih metode kontrasepsi, kita harus dapat memandangnya dari dua
sudut :

Pihak calon akseptor


Terdapat dua hal yang sangat penting yang harus diketahui oleh pasangan
calon akseptor, yaitu mengenai efektivitas dan keamanan dari metode
kontrasepsi yang akan digunakan. Disamping itu keadaan yang paling ideal
adalah bahwa isteri dan suami harus bersama-sama :

o Memilih metode kontrasepsi terbaik


o Saling kerja-sama dalam pemakaian kontrasepsi
o Membiayai pengeluaran untuk kontrasepsi
o Memperhatikan tanda-tanda bahaya pemakaian kontrasepsi

Pihak medis/petugas KB
Pihak inilah yang sebaiknya menjelaskan kepada calon akseptor mengenai :
o Efektivitas dan risiko dari masing-masing metode kontraseptif yang ada
o Keuntungan non-kontraseptif
o Kontraindikasi
o Tanda-tanda bahaya dari metode kontraseptif yang ada
o Efek bahaya penggunaan poli farmasi

Penggunaan Kontrasepsi Menurut Umur :

Umur ibu kurang dari 20 tahun:


o Penggunaan prioritas kontrasepsi pil oral.
o Penggunaan kondom kurang menguntungkan, karena pasangan
muda frekuensi bersenggama tinggi sehingga akan mempunyai
kegagalan tinggi.
o Bagi yang belum mempunyai anak, AKDR kurang dianjurkan.
o Umur di bawah 20 tahun sebaiknya tidak mempunyai anak dulu.

Umur ibu antara 20 - 30 tahun


o Merupakan usia yang terbaik untuk mengandung dan melahirkan.
o Segera setelah anak pertama lahir, dianjurkan untuk memakai
spiral sebagai pilihan utama. Pilihan kedua adalah norplant atau
pil.

Umur ibu di atas 30 tahun


o Pilihan utama menggunakan kontrasepsi spiral atau norplant.
Kondom bisa merupakan pilihan kedua.
o Dalam kondisi darurat, metode mantap dengan cara operasi
(sterlilisasi) dapat dipakai dan relatif lebih baik dibandingkan
dengan spiral, kondom, maupun pil dalam arti mencegah.

10

2.3. Macam-Macam Metode Kontrasepsi


Banyak pilihan metode alat-alat kontrasepsi yang tersedia saat ini bagi
individu yang ingin mengikuti keluarga berencana. Pertimbangan dalam
pemilihan termasuk keamanan (misalnya memberikan perlindungan dari penyakit
menular seksual dan HIV dan juga menghindari efek samping penggunaan alatalat kontrasepsi tersebut), keefektifan, kemudahan, biaya, penerimaan seseorang
serta sikap pasangannya. Semua metode alat-alat kontrasepsi memiliki kelebihan
dan kekurangannya masing-masing.
Kontrasepsi dapat dibagi atau diklasifikasikan berdasarkan :

Kontrasepsi lokal / sistemik

Kontrasepsi sementara / permanen

Dengan operasi / tanpa operasi

Kontrasepsi hormonal / non hormonal


Berikut akan diuraikan jenis-jenis metode kontrasepsi secara berurutan

dari yang paling sederhana sampai metode yang dianggap paling mantap atau
biasa disebut KONTAP:
1. Cara alamiah, meliputi metode senggama terputus dan metode kalender
2. Cara sederhana, terdiri dari kondom, jelly, diafragma, spermisida, tisu KB.
3. Alat kontrasepsi hormonal, yakni pil dan susuk (implan)
4. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD) yang dikenal dalam beberapa
jenis desain seperti lippes loop (spiral), Cu T, multiload, Cu 7
5. Kontrasepsi mantap (KONTAP) yakni tubektomi (untuk perempuan) dan
vasektomi (untuk laki-laki)
2.3.1 Metode Sederhana
Metode sederhana dapat dibagi menjadi :
1. Tanpa alat :
a. KB alamiah :
i. Metode Kalender (Ogino-Knaus)

11

ii. Metode Suhu Badan Basal (Termal)


iii. Metode Lendir Servik (Billings)
iv. Metode Simpto-Termal
b. Coitus interuptus
2. Dengan alat :
a. Mekanis (Barrier) :
i. Kondom pria
ii. Barier intra-vaginal :
1. Diafragma
2. Cervical cap
3. Spons (sponge)
4. Kondom wanita
b. Kimiawi :
i.

Spermisid :
1. Vaginal cream
2. Vaginal foam
3. Vaginal jelly
4. Vaginal suppositoria
5. Vaginal tablet (busa)
6. Vaginal soluble film
2.3.2. Metode Modern
1. Kontrasepsi Hormonal :
a. Per-oral
i. Pil oral kombinasi
ii. Mini pil
iii. Morning after pill
b. Injeksi/suntikan
i.

DMPA

ii.

NET-EN

iii.

Microspheres

iv.

Microcapsules
c. Sub-kutis : Implan (Alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK))

12

i. Implan non-biodegradable
1. Norplant
2. Norplant-2
3. ST-1435
4. Implanon
ii. Implan biodegradable
1. Capronor
2. Pellets
2. Intra Uterine Devices (IUD / AKDR)
3. Kontrasepsi mantap

Pada Wanita
o Penyinaran : Radiasi Sinar-X, Radium Cobalt, Sinar Laser
o Operatif Medis Operatif Wanita
Ligasi tuba fallopii
Elektro-koagulasi tuba fallopii
Fimbriektomi
Salpingektomi
Ovarektomi bilateral
Histerektomi
Fimbriotexy (Fimbrial Cap)
Ovariotexy
o Penyumbatan Tuba Fallopii Secara Mekanis
a. Penjepitan Tuba Fallopii
-

Hemoclip

Tubal band / Falope Ring / Yoon band

Spring-loaded clip

Filshie clip
b. Solid Plugs (Intra Tubal Devices)

Solid Silastic Intra-tubal Device

Polyethylene Plug

Ceramic dan Proplast Plugs

Dacron dan Teflon Plugs

o Penyumbatan Tuba Fallopii Secara Kimiawi


Phenol (Carbolic acid) compounds
Quinacrine
Methyl-2-cyanoacrylate (MCA)

13

Ag-nitrat
Gelatin-Resorcinol-Formaldehyde (GRF)
Ovabloc
Pada Pria
o Operatif Medis Operatif Pria
Vasektomi/Vasektomi tanpa pisau (VTP)
o Penyumbatan vas deferens secara mekanis :
Penjepitan vas deferens : Vaso-clips
o Plugs
o Intra Vas Devices :
-

Intra Vasal Thread (IVT)

Reversible Intravas Device (R-IVD)

Shug

o Vas Valves
- Phaser (Bionyx Control)
- Reversible Intravasal Occlusive Devices (RIOD)
o Penyumbatan vas deferens secara kimiawi :
Kuinakrin
Etanol
Ag-nitrat
2.4 Pembahasan Metode Kontrasepsi
A. Metode Kalender
Metode kb kalender atau pantang berkala adalah cara/metode kontrasepsi
sederhana yang dilakukan oleh pasangan suami istri dengan tidak melakukan
senggama atau hubungan seksual pada masa subur/ovulasi.
KB kalender adalah usaha untuk mengatur kehamilan dengan menghindari
hubungan badan selama masa subur seorang wanita. Sebab pembuahan memang
hanya terjadi pada saat masa subur, atau lebih tepatnya 12-24 jam setelah puncak
masa subur (sel telur dilepas). 12-24 jam ini dari masa hidup sel telur rata-rata.
Metode ini efektif bila dilakukan secara baik dan benar. Dengan penggunaan
sistem kalender setiap pasangan dimungkinkan dapat merencanakan setiap
kehamilannya. Berbeda dengan sistem kontrasepsi lainnya, sistem kalender
menjanjikan aneka kelebihan dan karena itu banyak yang lebih menyukainya.
Sebelum menggunakan metode ini, tentunya pasangan suami istri harus

14

mengetahui masa subur. Siklus masa subur pada tiap wanita tidak sama. Untuk itu
perlu pengamatan minimal 6 kali siklus menstruasi.
Prinsip kerja metode kalender ini berpedoman kepada kenyataan bahwa
wanita dalam siklus haidnya mengalami ovulasi (subur) hanya satu kali sebulan,
dan biasanya terjadi beberapa hari sebelum atau sesudah hari ke-14 dari haid yang
akan datang. Sel telur dapat hidup selama 6-24 jam, sedangkan sel mani selama
48-72 jam, jadi suatu konsepsi mungkin akan terjadi kalau koitus dilakukan 2 hari
sebelum ovulasi. Hendaknya sebelum memakai cara para pemakai harus diberikan
penerangan medik yang jelas tentang cara ini
Hal yang perlu diperhatikan pada siklus menstruasi wanita sehat ada tiga tahapan:
1. Pre ovulatory infertility phase (masa tidak subur sebelum ovulasi).
2. Fertility phase (masa subur).
3. Post ovulatory infertility phase (masa tidak subur setelah ovulasi).
Perhitungan masa subur ini akan efektif bila siklus menstruasinya normal
yaitu 21-35 hari. Pemantauan jumlah hari pada setiap siklus menstruasi dilakukan
minimal enam kali siklus berturut-turut. Kemudian hitung periode masa subur
dengan melihat data yang telah dicatat.
Menghitung masa subur dengan siklus haid dan melakukan pantang berkala
atau lebih dikenal dengan sistem kalender merupakan salah satu cara atau metode
kontrasepsi alami (Kb alami) dan sederhana yang dapat dikerjakan sendiri oleh
pasangan suami istri dengan cara tidak melakukan sanggama pada masa subur.
Sebelum menggunakan metode ini, tentunya pasangan suami istri harus
mengetahui masa subur. Siklus masa subur pada tiap wanita tidak sama. Untuk itu
perlu pengamatan minimal 6 kali siklus menstruasi. Berikut ini cara mengetahui
dan menghitung masa subur :
Bila siklus haid teratur (28 hari) :
a. Hari pertama dalam siklus haid dihitung sebagai hari ke-1
b. Masa subur adalah hari ke-12 hingga hari ke- 16 dalam siklus haid
Bila siklus haid tidak teratur :
a. Catat jumlah hari dalam satu siklus haid selama 6 bulan (6 siklus). Satu
siklus haid dihitung mulai dari hari pertama haid saat ini hingga hari
pertama haid berikutnya, catat panjang pendeknya.

15

b. Masukan dalam rumus; jumlah hari terpendek dalam 6 kali siklus haid
dikurangi 18. Hitungan ini menentukan hari pertama masa subur.
c. Jumlah hari terpanjang selama 6 siklus haid dikurangi 11. Hitungan ini
menentukan hari terakhir masa subur.
Hal yang dapat menyebabkan metode kalender menjadi tidak efektif adalah:
a. Penentuan masa tidak subur didasarkan pada kemampuan hidup sel
sperma dalam saluran reproduksi (sperma mampu bertahan selama 3 hari).
b. Anggapan bahwa perdarahan yang datang bersamaan dengan ovulasi,
diinterpretasikan sebagai menstruasi. Hal ini menyebabkan perhitungan
masa tidak subur sebelum dan setelah ovulasi menjadi tidak tepat.
c. Penentuan masa tidak subur tidak didasarkan pada siklus menstruasi
sendiri.
d. Kurangnya pemahaman tentang hubungan masa subur/ovulasi dengan
perubahan jenis mukus/lendir serviks yang menyertainya.
e. Anggapan bahwa hari pertama menstruasi dihitung dari berakhirnya
perdarahan menstruasi. Hal ini menyebabkan penentuan masa tidak subur
menjadi tidak tepat.
Keuntungan KB kalender
a) Ditinjau dari segi ekonomi : KB kalender dilakukan secara alami dan tanpa
biaya sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli alat kontrasepsi.
b) Dari segi kesehatan : sistem kalender ini jelas jauh lebih sehat karena bisa
dihindari adanya efek sampingan yang merugikan seperti halnya memakai alat
kontrasepsi lainnya (terutama yang berupa obat).
c) Dari segi psikologis : yaitu sistem kalender ini tidak mengurangi
kenikmatan hubungan itu sendiri seperti bila memakai kondom misalnya. Meski
tentu saja dilain pihak dituntut kontrol diri dari pasangan untuk ketat berpantang
selama masa subur.
Kerugian KB kalender

16

Kemungkinan kegagalan yang jauh lebih tinggi. Ini terutama bila tidak
dilakukan pengamatan yang mendalam untuk mengetahui dengan pasti masa
subur, karena tidak ada yang bisa menjamin ketepatan perhitungan sebab masa
suburpun terjadi secara alami, selain itu kedua pasangan tidak bisa menikmati
hubungan suami istri secara bebas karena ada aturan yang ditetapkan dalam sistem
ini. Masa berpantang yang cukup lama dapat membuat pasangan tidak bisa
menanti dan melakukan hubungan pada waktu berpantang
Efektivitas
Bagi wanita dengan siklus haid teratur, efektifitasnya lebih tinggi
dibandingkan wanita yang siklus haidnya tidak teratur. Angka kegagalan berkisar
antara 6 42. Metode kalender akan lebih efektif bila dilakukan dengan baik dan
benar. Sebelum menggunakan metode kalender ini, pasangan suami istri harus
mengetahui masa subur. Padahal, masa subur setiap wanita tidaklah sama. Oleh
karena itu, diperlukan pengamatan minimal enam kali siklus menstruasi. Selain
itu, metode ini juga akan lebih efektif bila digunakan bersama dengan metode
kontrasepsi lain. Berdasarkan penelitian dr. Johnson dan kawan-kawan di Sidney,
metode kalender akan efektif tiga kali lipat bila dikombinasikan dengan metode
simptothermal. Angka kegagalan penggunaan metode kalender adalah 14 per 100
wanita per tahun.

B. Metode Suhu Basal Badan (THERMAL)


Suhu tubuh basal adalah suhu terendah yang dicapai oleh tubuh selama
istirahat atau dalam keadaan istirahat (tidur). Pengukuran suhu basal dilakukan
pada pagi hari segera setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas
lainnya.
Tujuan pencatatan suhu basal untuk mengetahui kapan terjadinya masa
subur/ovulasi. Suhu basal tubuh diukur dengan alat yang berupa termometer basal.
Termometer basal ini dapat digunakan secara oral, per vagina, atau melalui dubur
dan ditempatkan pada lokasi serta waktu yang sama selama 5 menit.

17

Suhu normal tubuh sekitar 36 derajat Celcius. Pada waktu ovulasi, suhu akan
turun terlebih dahulu dan naik menjadi 37-38 derajat kemudian tidak akan
kembali pada suhu 35 derajat Celcius. Pada saat itulah terjadi masa subur/ovulasi
Kondisi kenaikan suhu tubuh ini akan terjadi sekitar 3-4 hari, kemudian akan
turun kembali sekitar 2 derajat dan akhirnya kembali pada suhu tubuh normal
sebelum menstruasi. Hal ini terjadi karena produksi progesteron menurun.
Apabila grafik (hasil catatan suhu tubuh) tidak terjadi kenaikan suhu tubuh,
kemungkinan tidak terjadi masa subur/ovulasi sehingga tidak terjadi kenaikan
suhu tubuh. Hal ini terjadi dikarenakan tidak adanya korpus luteum yang
memproduksi progesteron. Begitu sebaliknya, jika terjadi kenaikan suhu tubuh
dan terus berlangsung setelah masa subur/ovulasi kemungkinan terjadi kehamilan.
Karena, bila sel telur/ovum berhasil dibuahi, maka korpus luteum akan terus
memproduksi hormon progesteron. Akibatnya suhu tubuh tetap tinggi.
Manfaat
1. Metode suhu basal tubuh dapat bermanfaat sebagai konsepsi maupun
kontrasepsi.
2. Manfaat konsepsi
3. Metode suhu basal tubuh berguna bagi pasangan yang menginginkan
kehamilan.
4. Manfaat kontrasepsi
5. Metode suhu basal tubuh berguna bagi pasangan yang menginginkan
menghindari atau mencegah kehamilan.
Efektifitas
Metode suhu basal tubuh akan efektif bila dilakukan dengan benar dan
konsisten. Suhu tubuh basal dipantau dan dicatat selama beberapa bulan berturutturut dan dianggap akurat bila terdeteksi pada saat ovulasi. Tingkat keefektian
metode suhu tubuh basal sekitar 80 persen atau 20-30 kehamilan per 100 wanita
per tahun. Secara teoritis angka kegagalannya adalah 15 kehamilan per 100 wanita
per tahun. Metode suhu basal tubuh akan jauh lebih efektif apabila
dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain seperti kondom, spermisida
ataupun metode kalender atau pantang berkala (calender method or periodic
abstinence).
Faktor yang Mempengaruhi Keandalan Metode Suhu Basal Tubuh

18

Adapun faktor yang mempengaruhi keandalan metode suhu basal tubuh antara
lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Penyakit.
Gangguan tidur.
Merokok dan atau minum alkohol.
Penggunaan obat-obatan ataupun narkoba.
Stres.
Penggunaan selimut elektrik.

Keuntungan
Keuntungan dari penggunaan metode suhu basal tubuh antara lain:
1. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pada pasangan suami istri
tentang masa subur/ovulasi.
2. Membantu wanita yang mengalami siklus haid tidak teratur mendeteksi
masa subur/ovulasi.
3. Dapat digunakan sebagai kontrasepsi ataupun meningkatkan kesempatan
untuk hamil.
4. Membantu menunjukkan perubahan tubuh lain pada saat mengalami masa
subur/ovulasi seperti perubahan lendir serviks.
5. Metode suhu basal tubuh yang mengendalikan adalah wanita itu sendiri.
Keterbatasan
Sebagai metode KBA, suhu basal tubuh memiliki keterbatasan sebagai berikut:
1. Membutuhkan motivasi dari pasangan suami istri.
2. Memerlukan konseling dan KIE dari tenaga medis.
3. Suhu tubuh basal dapat dipengaruhi oleh penyakit, gangguan tidur,
merokok, alkohol, stres, penggunaan narkoba maupun selimut elektrik.
4. Pengukuran suhu tubuh harus dilakukan pada waktu yang sama.
5. Tidak mendeteksi awal masa subur.
6. Membutuhkan masa pantang yang lama.
Petunjuk Bagi Pengguna Metode Suhu Basal Tubuh
Aturan perubahan suhu/temperatur adalah sebagai berikut:
1. Suhu diukur pada waktu yang hampir sama setiap pagi (sebelum bangun
dari tempat tidur).
2. Catat suhu ibu pada kartu yang telah tersedia.
3. Gunakan catatan suhu pada kartu tersebut untuk 10 hari pertama dari
siklus haid untuk menentukan suhu tertinggi dari suhu yang normal dan

19

rendah dalam pola tertentu tanpa kondisi-kondisi di luar normal atau


biasanya.
4. Abaikan setiap suhu tinggi yang disebabkan oleh demam atau gangguan
lain.
5. Tarik garis pada 0,05 derajat celcius 0,1 derajat celcius di atas suhu
tertinggi dari suhu 10 hari tersebut. Garis ini disebut garis pelindung
(cover line) atau garis suhu.
6. Periode tak subur mulai pada sore hari setelah hari ketiga berturut-turut
suhu tubuh berada di atas garis pelindung/suhu basal.
7. Hari pantang senggama dilakukan sejak hari pertama haid hingga sore
ketiga kenaikan secara berurutan suhu basal tubuh (setelah masuk periode
masa tak subur).
8. Masa pantang untuk senggama pada metode suhu basal tubuh labih
panjang dari metode ovulasi billings.
9. Perhatikan kondisi lendir subur dan tak subur yang dapat diamati.
Catatan:
1. Jika salah satu dari 3 suhu berada di bawah garis pelindung (cover line)
selama perhitungan 3 hari. Kemungkinan tanda ovulasi belum terjadi.
Untuk menghindari kehamilan tunggu sampai 3 hari berturut-turut suhu
tercatat di atas garis pelindung sebelum memulai senggama.
2. Bila periode tak subur telah terlewati maka boleh tidak meneruskan
pengukuran suhu tubuh dan melakukan senggama hingga akhir siklus haid
dan kemudian kembali mencatat grafik suhu basal siklus berikutnya.

C. Metode Lendir Cervic


Metode mukosa serviks atau ovulasi billings ini dikembangkan oleh Drs. John,
Evelyn Billings dan Fr Maurice Catarinich di Melbourne, Australia dan kemudian
menyebar ke seluruh dunia. Metode ini tidak menggunakan obat atau alat,
sehingga dapat diterima oleh pasangan taat agama dan budaya yang berpantang
dengan kontrasepsi modern.
Metode mukosa serviks atau metode ovulasi merupakan metode keluarga
berencana alamiah (KBA) dengan cara mengenali masa subur dari siklus

20

menstruasi dengan mengamati lendir serviks dan perubahan rasa pada vulva
menjelang hari-hari ovulasi.
Esensi Metode Mukosa Serviks
Lendir/mukosa seviks adalah lendir yang dihasilkan oleh aktivitas biosintesis sel
sekretori serviks dan mengandung tiga komponen penting yaitu:
1. Molekul lendir.
2. Air.
3. Senyawa kimia dan biokimia (natrium klorida, rantai protein, enzim, dll).
Lendir/mukosa serviks ini tidak hanya dihasilkan oleh sel leher rahim tetapi
juga oleh sel-sel vagina. Dalam vagina, terdapat sel intermediet yang mampu
berperan terhadap adanya lendir pada masa subur/ovulasi.
Ovulasi adalah pelepasan sel telur/ovum yang matang dari ovarium/indung
telur. Pada saat menjelang ovulasi, lendir leher rahim akan mengalir dari vagina
bila wanita sedang berdiri atau berjalan. Ovulasi hanya terjadi pada satu hari di
setiap siklus dan sel telur akan hidup 12-24 jam, kecuali dibuahi sel sperma. Oleh
karena itu, lendir pada masa subur berperan menjaga kelangsungan hidup sperma
selama 3-5 hari.
Pengamatan lendir serviks dapat dilakukan dengan:
1. Merasakan perubahan rasa pada vulva sepanjang hari.
2. Melihat langsung lendir pada waktu tertentu.
Pada malam harinya, hasil pengamatan ini harus dicatat. Catatan ini akan
menunjukkan pola kesuburan dan pola ketidaksuburan.
Pola Subur adalah pola yang terus berubah, sedangkan Pola Dasar Tidak
Subur adalah pola yang sama sekali tidak berubah. Kedua pola ini mengikuti
hormon yang mengontrol kelangsungan hidup sperma dan konsepsi/pembuahan.
Dengan demikian akan memberikan informasi yang bisa diandalkan untuk
mendapatkan atau menunda kehamilan.
Manfaat
Metode mukosa serviks bermanfaat untuk mencegah kehamilan yaitu dengan
berpantang senggama pada masa subur. Selain itu, metode ini juga bermanfaat
bagi wanita yang menginginkan kehamilan.
Efektifitas
21

Keberhasilan metode ovulasi billings ini tergantung pada instruksi yang tepat,
pemahaman yang benar, keakuratan dalam pengamatan dan pencatatan lendir
serviks, serta motivasi dan kerjasama dari pasangan dalam mengaplikasikannya.
Angka kegagalan dari metode mukosa serviks sekitar 3-4 perempuan per 100
perempuan per tahun. Teori lain juga mengatakan, apabila petunjuk metode
mukosa serviks atau ovulasi billings ini digunakan dengan benar maka
keberhasilan dalam mencegah kehamilan 99 persen.
Kelebihan
Metode mukosa serviks ini memiliki kelebihan, antara lain:
1. Mudah digunakan.
2. Tidak memerlukan biaya.
3. Metode mukosa serviks merupakan metode keluarga berencana alami lain
yang mengamati tanda-tanda kesuburan.
Keterbatasan
Sebagai metode keluarga berencana alami, metode mukosa serviks ini memiliki
keterbatasan. Keterbatasan tersebut antara lain:
1. Tidak efektif bila digunakan sendiri, sebaiknya dikombinasikan dengan
metode kontrasepsi lain (misal metode simptothermal).
2. Tidak cocok untuk wanita yang tidak menyukai menyentuh alat
kelaminnya.
3. Wanita yang memiliki infeksi saluran reproduksi dapat mengaburkan
tanda-tanda kesuburan.
4. Wanita yang menghasilkan sedikit lendir.
Hal yang Mempengaruhi Pola Lendir Serviks
Pola lendir serviks pada wanita dapat dipengaruhi oleh:
1. Menyusui.
2. Operasi serviks dengan cryotherapy atau electrocautery.
3. Penggunaan produk kesehatan wanita yang dimasukkan dalam alat
4.
5.
6.
7.
8.

reproduksi.
Perimenopause.
Penggunaan kontrasepsi hormonal termasuk kontrasepsi darurat.
Spermisida.
Infeksi penyakit menular seksual.
Terkena vaginitis.

Instruksi Kepada Pengguna/Klien


22

Petunjuk bagi pengguna metode ovulasi adalah sebagai berikut:


1. Cara mengenali masa subur dengan memantau lendir serviks yang keluar
dari vagina. Pengamatan dilakukan sepanjang hari dan dicatat pada malam
harinya.
2. Periksa lendir dengan jari tangan atau tisu di luar vagina dan perhatikan
perubahan perasaan kering-basah. Tidak dianjurkan untuk periksa ke
dalam vagina.
3. Pengguna metode ovulasi harus mengenali pola kesuburan dan pola dasar
ketidaksuburan.
4. Pasangan dianjurkan tidak melakukan hubungan seksual paling tidak
selama satu siklus. Hal ini bertujuan untuk mengetahui jenis lendir normal
atau pola kesuburan maupun pola dasar tidak subur.
5. Selama hari-hari kering (tidak ada lendir) setelah menstruasi, senggama
tergolong aman pada dua hari setelah menstruasi.
6. Lendir basah, jernih, licin dan elastis menunjukkan masa subur (pantang
bersenggama). Lendir kental, keruh, kekuningan dan lengket menunjukkan
masa tidak subur.
7. Berikan tanda (x) pada hari terakhir adanya lendir bening, licin dan elastis.
Ini merupakan hari puncak dalam periode subur (fase paling subur).
8. Pantang senggama dilanjutkan hingga tiga hari setelah puncak subur. Hal
ini untuk menghindari terjadinya pembuahan.
9. Periode tak subur dimulai pada hari kering lendir, empat hari setelah
puncak hari subur sehingga senggama dapat dilakukan hingga datang haid
berikutnya.
Contoh Kode yang Dipakai untuk Mencatat Kesuburan
-

Pakai tanda * atau merah untuk menandakan perdarahan (haid).


Pakai huruf K atau hijau untuk menandakan perasaan kering.
Gambar suatu tanda L dalam lingkaran atau biarkan kosong untuk

memperlihatkan lendir subur yang basah, jernih, licin dan mulur.


Pakai huruf L atau warna kuning untuk memperlihatkan lendir tak subur
yang kental, putih, keruh dan lengket.

D. Metode Sympto Thermal


Metode simptothermal merupakan metode keluarga berencana alamiah (KBA)
yang mengidentifikasi masa subur dari siklus menstruasi wanita. Metode
23

simptothermal mengkombinasikan metode suhu basal tubuh dan mukosa serviks.


Tetapi ada teori lain yang menyatakan bahwa metode ini mengamati tiga indikator
kesuburan yaitu perubahan suhu basal tubuh, perubahan mukosa/lendir serviks
dan perhitungan masa subur melalui metode kalender.
Metode simptothermal akan lebih akurat memprediksikan hari aman pada
wanita daripada menggunakan salah satu metode saja. Ketika menggunakan
metode ini bersama-sama, maka tanda-tanda dari satu dengan yang lainnya akan
saling melengkapi.
Manfaat
Metode simptothermal memiliki manfaat sebagai alat kontrasepsi maupun
konsepsi.
Manfaat Kontrasepsi
Metode simptothermal digunakan sebagai alat kontrasepsi atau menghindari
kehamilan dengan tidak melakukan hubungan seksual ketika berpotensi subur
(pantang saat masa subur).
Manfaat Konsepsi
Metode simptothermal digunakan sebagai konsepsi atau menginginkan
kehamilan dengan melakukan hubungan seksual ketika berpotensi subur.
Efektifitas
Angka kegagalan dari penggunaan metode simptothermal adalah 10-20 wanita
akan hamil dari 100 pasangan setiap tahunnya. Hal ini disebabkan kesalahan
dalam belajar, saran atau tidak ada kerjasama pasangan. Namun, studi lain juga
menyatakan angka kegagalan dari metode simptothermal mempunyai angka
kegagalan hanya 3 persen apabila di bawah pengawasan yang ketat.
Hal yang Mempengaruhi Metode Simptothermal Menjadi Efektif
Metode simptothermal akan menjadi efektif apabila:
1. Pencatatan dilakukan secara konsisten dan akurat.
2. Tidak menggunakan kontrasepsi hormonal, karena dapat mengubah siklus
menstruasi dan pola kesuburan.
3. Penggunaan metode barier dianjurkan untuk mencegah kehamilan.

24

Kerja sama dengan pasangan adalah perlu, karena ia harus bersedia untuk
membantu untuk menghindari kehamilan baik dengan tidak melakukan hubungan
seksual atau menggunakan beberapa metode penghalang selama hari-hari paling
subur.
Hal yang Mempengaruhi Metode Simptothermal Tidak Efektif
Metode simptothermal dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:
1.
2.
3.
4.

Wanita yang mempunyai bayi, sehingga harus bangun pada malam hari.
Wanita yang mempunyai penyakit.
Pasca perjalanan.
Konsumsi alkohol.

Hal-hal tersebut di atas dapat mempengaruhi pembacaan suhu basal tubuh


menjadi kurang akurat.
Pola Grafik Kesuburan pada Metode Simptothermal
Pola grafik kesuburan tidak sesuai digunakan wanita pada kasus sebagai berikut:
1. Wanita yang memiliki pasangan seksual lebih dari satu.
2. Tidak ada komitmen antara pasangan suami istri untuk menggunakan
metode simptothermal.
3. Wanita yang tidak dapat mengamati hari suburnya karena sifat wanita itu
sendiri atau alasan lain.
4. Wanita yang ragu apakah dia mampu tidak melakukan hubungan seksual
tanpa alat kontrasepsi barier minimal 10 hari setiap bulan atau menerapkan
metode kontrasepsi lain di hari tidak amannya.
5. Wanita yang mempunyai resiko kesehatan/medis
membahayakan jika dia hamil.
6. Wanita yang mengkonsumsi

obat-obatan

tertentu

tertentu

yang

yang

dapat

mempengaruhi suhu basal tubuh, keteraturan menstruasi maupun produksi


lendir serviks.
Keuntungan
Metode simptothermal mempunyai keuntungan antara lain:
1. Tidak ada efek fisik seperti obat-obatan, alat, bahan kimia atau operasi
2.
3.
4.
5.

yang dibutuhkan.
Aman.
Ekonomis.
Meningkatkan hubungan kerjasama antar pasangan.
Dapat langsung dihentikan apabila pasangan menginginkan kehamilan.
25

6. Tidak memerlukan tindak lanjut atau alat kontrasepsi lain setelah belajar
metode simptothermal dengan benar.
Keterbatasan
Metode simptothermal mempunyai keterbatasan antara lain:
1. Tidak cocok digunakan oleh wanita yang mempunyai bayi, berpenyakit,
pasca perjalanan maupun konsumsi alkohol.
2. Metode simptothermal kurang efektif karena pengguna harus mengamati
dan mencatat suhu basal tubuh maupun perubahan lendir serviks.
3. Metode simptothermal memerlukan kerjasama antara pasangan suami istri.
4. Pengguna harus mendapatkan pelatihan atau instruksi yang benar.
Petunjuk bagi Pengguna Metode Simptothermal
Pengguna/klien metode simptothermal harus mendapat instruksi atau petunjuk
tentang metode lendir serviks, metode suhu basal tubuh maupun metode kalender.
Hal ini bertujuan agar pengguna dapat menentukan masa subur dengan mengamati
perubahan suhu basal tubuh maupun lendir serviks.
1. Klien dapat melakukan hubungan seksual hingga dua hari berikutnya
setelah haid berhenti (periode tidak subur sebelum ovulasi).
2. Ovulasi terjadi setelah periode tidak subur awal yang ditandai dengan
mulai keluarnya lendir dan rasa basah pada vagina sama dengan metode
lendir serviks. Lakukan pantang senggama karena ini menandakan periode
subur sedang berlangsung.
3. Pantang senggama dilakukan mulai ada kenaikan suhu basal 3 hari
berurutan dan hari puncak lendir subur.
4. Apabila dua gejala ini tidak menentukan periode tidak subur awal, periode
subur, periode tak subur akhir maka ikuti perhitungan periode subur yang
terpanjang dimana masa pantang senggama harus dilakukan.
Contoh Pengamatan dan Pencatatan Grafik Simptothermal
Di bawah ini merupakan contoh pengamatan dan pencatatan pada grafik
simptothermal.
Grafik metode simptothermal
Interpretasi Grafik
Buat pengamatan Anda dalam urutan yang sama:

26

1. Tanyakan (nama, umur, grafik ke , jumlah hari siklus terpanjang dan


terpendek).
2. Apakah grafik suhu bifase terakhir?
3. Apakah grafik ini dari seorang wanita dalam keadaan khusus?
4. Menafsirkan grafik suhu (panjang siklus, pergantian hari, penerapan aturan
Three over Six, mengenali hari pertama masa tidak subur setelah
ovulasi).
5. Menafsirkan pola lendir serviks (mengenali perubahan lendir serviks
pertama kali, menafsirkan pola lendir serviks berdasarkan petunjuk,
mengenali lendir pada hari puncak subur, mengenali masa tidak subur
sebelum dan setelah ovulasi, periksa lendir dengan suhu).
6. Menafsirkan perubahan pada serviks (pilihan), antara lain: perubahan
serviks rendah, kaku, tertutup, serviks saat tidak subur dan perubahan
serviks tinggi, lunak, terbuka, serviks saat subur.
7. Menerapkan perhitungan siklus sedikitnya 6 kali siklus (siklus terpendek
dikurangi 20 untuk mengenali hari subur terakhir).
8. Amati perubahan yang terjadi.
9. Periksa bila terjadi hal yang mempengaruhi grafik seperti: gangguan,
faktor stres, penyakit ataupun obat.
10. Terapkan petunjuk metode simptothermal ini dengan tepat (untuk
merencanakan kehamilan atau mencegah kehamilan).
Kode Warna Grafik
Pewarnaan pada grafik metode simptothermal dapat membantu menafsirkan arti
grafik. Contoh untuk menekankan fase siklus antara lain:
1. Merah untuk periode menstruasi.
2. Kuning untuk periode subur.
3. Hijau untuk periode tidak subur.
E. Metode Amenore Laktasi
Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method
(LAM) adalah metode kontrasepsi sementara yang mengandalkan pemberian Air
Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI saja tanpa tambahan
makanan dan minuman lainnya. Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau
Lactational Amenorrhea Method (LAM) dapat dikatakan sebagai metode keluarga
berencana alamiah (KBA) atau natural family planning, apabila tidak
dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.
27

Meskipun penelitian telah membuktikan bahwa menyusui dapat menekan


kesuburan, namun banyak wanita yang hamil lagi ketika menyusui. Oleh karena
itu, selain menggunakan Metode Amenorea Laktasi juga harus menggunakan
metode kontrasepsi lain seperti metode barier (diafragma, kondom, spermisida),
kontrasepsi hormonal (suntik, pil menyusui, AKBK) maupun IUD.
Metode Amenorea Laktasi (MAL) dapat dipakai sebagai alat kontrasepsi, apabila:
1. Menyusui secara penuh (full breast feeding), lebih efektif bila diberikan
minimal 8 kali sehari.
2. Belum mendapat haid.
3. Umur bayi kurang dari 6 bulan.
Cara Kerja
Cara kerja dari Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah menunda atau
menekan terjadinya ovulasi. Pada saat laktasi/menyusui, hormon yang berperan
adalah prolaktin dan oksitosin. Semakin sering menyusui, maka kadar prolaktin
meningkat dan hormon gonadotrophin melepaskan hormon penghambat
(inhibitor). Hormon penghambat akan mengurangi kadar estrogen, sehingga tidak
terjadi ovulasi.
Efektifitas
Efektifitas MAL sangat tinggi sekitar 98 persen apabila digunakan secara
benar dan memenuhi persyaratan sebagai berikut: digunakan selama enam bulan
pertama setelah melahirkan, belum mendapat haid pasca melahirkan dan
menyusui secara eksklusif (tanpa memberikan makanan atau minuman tambahan).
Efektifitas dari metode ini juga sangat tergantung pada frekuensi dan intensitas
menyusui.
Manfaat
Metode Amenorea Laktasi (MAL) memberikan manfaat kontrasepsi maupun
non kontrasepsi.
Manfaat Kontrasepsi
Manfaat kontrasepsi dari MAL antara lain:

28

1. Efektifitas tinggi (98 persen) apabila digunakan selama enam bulan


pertama setelah melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui eksklusif.
2. Dapat segera dimulai setelah melahirkan.
3. Tidak memerlukan prosedur khusus, alat maupun obat.
4. Tidak memerlukan pengawasan medis.
5. Tidak mengganggu senggama.
6. Mudah digunakan.
7. Tidak perlu biaya.
8. Tidak menimbulkan efek samping sistemik.
9. Tidak bertentangan dengan budaya maupun agama.
Manfaat Non Kontrasepsi
Manfaat non kontrasepsi dari MAL antara lain:
Untuk bayi
1. Mendapatkan kekebalan pasif.
2. Peningkatan gizi.
3. Mengurangi resiko penyakit menular.
4. Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi air, susu formula atau
alat minum yang dipakai.
Untuk ibu
1. Mengurangi perdarahan post partum/setelah melahirkan.
2. Membantu proses involusi uteri (uterus kembali normal).
3. Mengurangi resiko anemia.
4. Meningkatkan hubungan psikologi antara ibu dan bayi.
Keterbatasan
Metode Amenorea Laktasi (MAL) mempunyai keterbatasan antara lain:
1. Memerlukan persiapan dimulai sejak kehamilan.
2. Metode ini hanya efektif digunakan selama 6 bulan setelah melahirkan,
belum mendapat haid dan menyusui secara eksklusif.
3. Tidak melindungi dari penyakit menular seksual termasuk Hepatitis B
ataupun HIV/AIDS.
4. Tidak menjadi pilihan bagi wanita yang tidak menyusui.
5. Kesulitan dalam mempertahankan pola menyusui secara eksklusif.

29

Yang Dapat Menggunakan MAL


Metode Amenorea Laktasi (MAL) dapat digunakan oleh wanita yang ingin
menghindari kehamilan dan memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Wanita yang menyusui secara eksklusif.
2. Ibu pasca melahirkan dan bayinya berumur kurang dari 6 bulan.
3. Wanita yang belum mendapatkan haid pasca melahirkan.
Wanita yang menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL), harus menyusui
dan memperhatikan hal-hal di bawah ini:
1. Dilakukan segera setelah melahirkan.
2. Frekuensi menyusui sering dan tanpa jadwal.
3. Pemberian ASI tanpa botol atau dot.
4. Tidak mengkonsumsi suplemen.
5. Pemberian ASI tetap dilakukan baik ketika ibu dan atau bayi sedang sakit.
Yang Tidak Dapat Menggunakan MAL
Metode Amenorea Laktasi (MAL) tidak dapat digunakan oleh:
1. Wanita pasca melahirkan yang sudah mendapat haid.
2. Wanita yang tidak menyusui secara eksklusif.
3. Wanita yang bekerja dan terpisah dari bayinya lebih dari 6 jam.
4. Wanita yang harus menggunakan metode kontrasepsi tambahan.
5. Wanita yang menggunakan obat yang mengubah suasana hati.
6. Wanita

yang

menggunakan

obat-obatan

jenis

ergotamine,

anti

metabolisme, cyclosporine, bromocriptine, obat radioaktif, lithium atau


anti koagulan.
7. Bayi sudah berumur lebih dari 6 bulan.
8. Bayi yang mempunyai gangguan metabolisme.
Metode Amenorea Laktasi (MAL) tidak direkomendasikan pada kondisi ibu
yang mempunyai HIV/AIDS positif dan TBC aktif. Namun demikian, MAL boleh
digunakan dengan pertimbangan penilaian klinis medis, tingkat keparahan kondisi
ibu, ketersediaan dan penerimaan metode kontrasepsi lain.
Keadaan yang Memerlukan Perhatian
Di bawah ini merupakan keadaan yang memerlukan perhatian dalam penggunaan
Metode Amenorea Laktasi (MAL).

30

Keadaan
Ketika mulai

pemberian

Anjuran
makanan Membantu

klien

memilih

metode

pendamping secara teratur.

kontrasepsi lain dan tetap mendukung

Ketika sudah mengalami haid.

pemberian ASI.
Membantu klien

memilih

metode

kontrasepsi lain dan tetap mendukung


Bayi menyusu kurang dari 8 kali sehari.

pemberian ASI.
Membantu klien

memilih

metode

kontrasepsi lain dan tetap mendukung


Bayi berumur 6 bulan atau lebih.

pemberian ASI.
Membantu klien

memilih

metode

kontrasepsi lain dan tetap mendukung


pemberian ASI.
Hal yang Harus Disampaikan Kepada Klien
Sebelum menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL), klien terlebih dahulu
diberikan konseling sebagai berikut:
1. Bayi menyusu harus sesering mungkin (on demand).
2. Waktu pengosongan payudara tidak lebih dari 4 jam.
3. Bayi menyusu sampai sepuasnya (bayi akan melepas sendiri hisapannya).
4. ASI juga diberikan pada malam hari untuk mempertahankan kecukupan
ASI.
5. ASI dapat disimpan dalam lemari pendingin.
6. Waktu pemberian makanan padat sebagai pendamping ASI (diberikan
pada bayi sudah berumur 6 bulan lebih).
7. Metode MAL tidak akan efektif, apabila ibu sudah memberikan makanan
atau minuman tambahan lain.
8. Ibu yang sudah mendapatkan haid setelah melahirkan dianjurkan untuk
menggunakan metode kontrasepsi lain.
9. Apabila ibu tidak menyusui secara eksklusif atau berhenti menyusui maka
perlu disarankan menggunakan metode kontrasepsi lain yang sesuai.
Hal yang perlu diperhatikan oleh ibu dalam pemakaian Metode Amenorea
Laktasi (MAL) agar aman dan berhasil adalah menyusui secara eksklusif selama 6
bulan. Untuk mendukung keberhasilan menyusui dan MAL maka beberapa hal
31

penting yang perlu diketahui yaitu cara menyusui yang benar meliputi posisi,
perlekatan dan menyusui secara efektif.
Langkah-Langkah Penentuan Pemakaian KB MAL
Di bawah ini merupakan langkah-langkah menentukan dalam menggunakan
kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL).

Langkah metode amenorea laktasi


F. Metode Coitus Interruptus (Senggama Terputus)
Nama lain dari coitus interuptus adalah senggama terputus atau ekspulsi pra
ejakulasi atau pancaran ekstra vaginal atau withdrawal methods atau pull-out
method. Dalam bahasa latin disebut juga interrupted intercourse.
Coitus interuptus atau senggama terputus adalah metode keluarga berencana
tradisional/alamiah, di mana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari
vagina sebelum mencapai ejakulasi.
Gambar coitus interuptus/withdrawal method
Cara Kerja
Alat kelamin (penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak
masuk ke dalam vagina, maka tidak ada pertemuan antara sperma dan ovum, dan
kehamilan dapat dicegah. Ejakulasi di luar vagina untuk mengurangi
kemungkinan air mani mencapai rahim.
32

Efektifitas
Metode coitus interuptus akan efektif apabila dilakukan dengan benar dan
konsisten. Angka kegagalan 4-27 kehamilan per 100 perempuan per tahun.
Pasangan yang mempunyai pengendalian diri yang besar, pengalaman dan
kepercayaan dapat menggunakan metode ini menjadi lebih efektif.
Manfaat
Coitus interuptus memberikan manfaat baik secara kontrasepsi maupun non
kontrasepsi.
Manfaat kontrasepsi
1. Alamiah.
2. Efektif bila dilakukan dengan benar.
3. Tidak mengganggu produksi ASI.
4. Tidak ada efek samping.
5. Tidak membutuhkan biaya.
6. Tidak memerlukan persiapan khusus.
7. Dapat dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.
8. Dapat digunakan setiap waktu.
Manfaat non kontrasepsi
1. Adanya peran serta suami dalam keluarga berencana dan kesehatan
reproduksi.
2. Menanamkan sifat saling pengertian.
3. Tanggung jawab bersama dalam ber-KB.
Keterbatasan
Metode coitus interuptus ini mempunyai keterbatasan, antara lain:
1. Sangat tergantung dari pihak pria dalam mengontrol ejakulasi dan
tumpahan sperma selama senggama.
2. Memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual (orgasme).
3. Sulit mengontrol tumpahan sperma selama penetrasi, sesaat dan setelah
interupsi coitus.
4. Tidak melindungi dari penyakit menular seksual.
5. Kurang efektif untuk mencegah kehamilan.

33

Penilaian Klien
Klien atau akseptor yang menggunakan metode kontrasepsi coitus interuptus
tidak memerlukan anamnesis atau pemeriksaan khusus, tetapi diberikan
penjelasan atau KIE baik lisan maupun tertulis. Kondisi yang perlu
dipertimbangkan bagi pengguna kontrasepsi ini adalah:
Coitus Interruptus
Sesuai untuk
Tidak Sesuai untuk
Suami yang tidak mempunyai masalah Suami dengan ejakulasi dini
dengan interupsi pra orgasmil
Pasangan yang tidak mau metode Suami yang tidak dapat mengontrol
kontrasepsi lain
interupsi pra orgasmic
Suami yang ingin berpartisipasi aktif Suami dengan kelainan fisik/psikologis
dalam keluarga berencana
Pasangan yang memerlukan kontrasepsi Pasangan yang tidak dapat bekerjasama
segera
Pasangan yang memerlukan metode Pasangan yang tidak komunikatif
sementara, sambil menunggu metode
lain
Pasangan yang membutuhkan metode Pasangan

yang

tidak

bersedia

pendukung
melakukan senggama terputus
Pasangan yang melakukan hubungan
seksual tidak teratur
Menyukai senggama

yang

dapat

dilakukan kapan saja/tanpa rencana


Cara Coitus Interuptus
1. Sebelum melakukan hubungan seksual, pasangan harus saling membangun
kerjasama dan pengertian terlebih dahulu. Keduanya harus mendiskusikan
dan sepakat untuk menggunakan metode senggama terputus.
2. Sebelum melakukan hubungan seksual, suami harus mengosongkan
kandung kemih dan membersihkan ujung penis untuk menghilangkan
sperma dari ejakulasi sebelumnya.
3. Apabila merasa akan ejakulasi, suami segera mengeluarkan penisnya dari
vagina pasangannya dan mengeluarkan sperma di luar vagina.
4. Pastikan tidak ada tumpahan sperma selama senggama.

34

5. Pastikan suami tidak terlambat melaksanakannya.


6. Senggama dianjurkan tidak dilakukan pada masa subur.
G. Kondom
Kondom tidak hanya mencegah kehamilan, tetapi juga mencegah penyakit
menular

seksual

termasuk

HIV/AIDS.

Kondom

akan

efektif

apabila

pemakaiannya baik dan benar. Selain itu, kondom juga dapat dipakai bersamaan
dengan kontrasepsi lain untuk mencegah PMS.
Kondom merupakan selubung/sarung karet yang terbuat dari berbagai bahan
diantaranya lateks (karet), plastik (vinil) atau bahan alami (produksi hewani) yang
dipasang pada penis saat berhubungan. Kondom terbuat dari karet sintetis yang
tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya berpinggir tebal, yang digulung
berbentuk rata. Standar kondom dilihat dari ketebalannya, yaitu 0,02 mm.
Jenis Kondom
Ada beberapa jenis kondom, diantaranya:
1. Kondom biasa.
2. Kondom berkontur (bergerigi).
3. Kondom beraroma.
4. Kondom tidak beraroma.
Kondom untuk pria sudah lazim dikenal, meskipun kondom wanita sudah ada
namun belum populer.
Cara Kerja Kondom
Alat kontrasepsi kondom mempunyai cara kerja sebagai berikut:
1. Mencegah sperma masuk ke saluran reproduksi wanita.
2. Sebagai alat kontrasepsi.
3. Sebagai pelindung terhadap infeksi atau tranmisi mikro organisme
penyebab PMS.
Efektifitas Kondom
Pemakaian kontrasepsi kondom akan efektif apabila dipakai secara benar
setiap kali berhubungan seksual. Pemakaian kondom yang tidak konsisten

35

membuat tidak efektif. Angka kegagalan kontrasepsi kondom sangat sedikit yaitu
2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun.
Manfaat Kondom
Indikasi atau manfaat kontrasepsi kondom terbagi dua, yaitu manfaat secara
kontrasepsi dan non kontrasepsi.
Manfaat kondom secara kontrasepsi antara lain:
1. Efektif bila pemakaian benar.
2. Tidak mengganggu produksi ASI.
3. Tidak mengganggu kesehatan klien.
4. Tidak mempunyai pengaruh sistemik.
5. Murah dan tersedia di berbagai tempat.
6. Tidak memerlukan resep dan pemeriksaan khusus.
7. Metode kontrasepsi sementara
Manfaat kondom secara non kontrasepsi antara lain:
1. Peran serta suami untuk ber-KB.
2. Mencegah penularan PMS.
3. Mencegah ejakulasi dini.
4. Mengurangi insidensi kanker serviks.
5. Adanya interaksi sesama pasangan.
6. Mencegah imuno infertilitas.
Keterbatasan Kondom
Alat kontrasepsi metode barier kondom ini juga memiliki keterbatasan, antara
lain:
1. Efektifitas tidak terlalu tinggi.
2. Tingkat efektifitas tergantung pada pemakaian kondom yang benar.
3. Adanya pengurangan sensitifitas pada penis.
4. Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual.
5. Perasaan malu membeli di tempat umum.
6. Masalah pembuangan kondom bekas pakai.
Penilaian Klien

36

Klien atau akseptor kontrasepsi kondom ini tidak memerlukan anamnesis atau
pemeriksaan khusus, tetapi diberikan penjelasan atau KIE baik lisan maupun
tertulis. Kondisi yang perlu dipertimbangkan bagi pengguna alat kontrasepsi ini
adalah:
Kondom
Baik digunakan
Ingin berpartisipasi dalam program KB

Tidak baik digunakan


Mempunyai pasangan yang beresiko

Ingin segera mendapatkan kontrasepsi


Ingin kontrasepsi sementara

tinggi apabila terjadi kehamilan


Alergi terhadap bahan dasar kondom
Menginginkan
kontrasepsi
jangka

Ingin kontrasepsi tambahan

panjang
Tidak mau terganggu dalam persiapan

Hanya

ingin

menggunakan

untuk melakukan hubungan seksual


alat Tidak
peduli
dengan
berbagai

kontrasepsi saat berhubungan


persyaratan kontrasepsi
Beresiko tinggi tertular/menularkan
PMS
Kunjungan Ulang
Saat klien datang pada kunjungan ulang harus ditanyakan ada masalah dalam
penggunaan kondom dan kepuasan dalam menggunakannya. Apabila masalah
timbul karena kekurangtahuan dalam penggunaan, maka sebaiknya informasikan
kembali kepada klien dan pasangannya. Apabila masalah yang timbul dikarenakan
ketidaknyamanan dalam pemakaian, maka berikan dan anjurkan untuk memilih
metode kontrasepsi lainnya.
Penanganan Efek Samping
Di bawah ini merupakan penanganan efek samping dari pemakaian alat
kontrasepsi kondom.
Efek Samping Atau Masalah
Penanganan
Kondom rusak atau bocor sebelum Buang dan pakai kondom yang baru
pemakaian
Kondom bocor saat berhubungan

atau gunakan spermisida


Pertimbangkan pemberian

Adanya reaksi alergi

After Pil
Berikan kondom jenis alami atau ganti
metode kontrasepsi lain

37

Morning

Mengurangi kenikmatan berhubungan Gunakan kondom yang lebih tipis atau


seksual

ganti metode kontrasepsi lain

H. Spermiside
Spermisida adalah alat kontrasepsi yang mengandung bahan kimia (non
oksinol-9) yang digunakan untuk membunuh sperma.
Jenis spermisida terbagi menjadi:
1. Aerosol (busa).
2. Tablet vagina, suppositoria atau dissolvable film.
3. Krim.
Cara Kerja
Cara kerja dari spermisida adalah sebagai berikut:
1. Menyebabkan sel selaput sel sperma pecah.
2. Memperlambat motilitas sperma.
3. Menurunkan kemampuan pembuahan sel telur.
Pilihan
1. Aerosol (busa) akan efektif setelah dimasukkan (insersi).
2. Aerosol dianjurkan bila spermisida digunakan sebagai pilihan pertama
atau metode kontrasepsi lain tidak sesuai dengan kondisi klien.
3. Tablet vagina, suppositoria dan film sangat mudah dibawa dan disimpan.
Penggunaannya dianjurkan menunggu 10-15 menit setelah dimasukkan
(insersi) sebelum hubungan seksual.
4. Jenis spermisida jeli biasanya digunakan bersamaan dengan diafragma.
Manfaat
Alat kontrasepsi spermisida ini memberikan manfaat secara kontrasepsi maupun
non kontrasepsi.
Manfaat kontrasepsi
1. Efektif seketika (busa dan krim).
2. Tidak mengganggu produksi ASI.
3. Sebagai pendukung metode lain.
4. Tidak mengganggu kesehatan klien.

38

5. Tidak mempunyai pengaruh sistemik.


6. Mudah digunakan.
7. Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual.
8. Tidak memerlukan resep ataupun pemeriksaan medik.
Manfaat non kontrasepsi
Memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual termasuk HBV dan
HIV/AIDS.
Keterbatasan
1. Efektifitas kurang (bila wanita selalu menggunakan sesuai dengan
petunjuk, angka kegagalan 15 dari 100 perempuan akan hamil setiap tahun
dan bila wanita tidak selalu menggunakan sesuai dengan petunjuk maka
angka kegagalan 29 dari 100 perempuan akan hamil setiap tahun).
2. Spermisida akan jauh lebih efektif, bila menggunakan kontrasepsi lain
(misal kondom).
3. Keefektifan tergantung pada kepatuhan cara penggunaannya.
4. Tergantung motivasi dari pengguna dan selalu dipakai setiap melakukan
hubungan seksual.
5. Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah spermisida dimasukkan
sebelum melakukan hubungan seksual.
6. Hanya efektif selama 1-2 jam dalam satu kali pemakaian.
7. Harus selalu tersedia sebelum senggama dilakukan.
Penilaian Klien
Meskipun tidak memerlukan pemeriksaan khusus, namun perlu diperhatikan
kondisi pengguna alat kontrasepsi spermisida. Hal yang perlu diperhatikan adalah
sebagai berikut:
Sesuai untuk klien yang:
Tidak
suka
atau
tidak
menggunakan

kontrasepsi

Spermisida
Tidak sesuai untuk klien yang:
boleh Mempunyai resiko tinggi apabila hamil

hormonal (berdasar

umur,

paritas,

(seperti perokok, wanita di atas 35 kesehatan)


tahun)
Lebih suka memasang sendiri alat Terinfeksi saluran uretra

39

masalah

kontrasepsinya
Menyusui dan memerlukan kontrasepsi Memerlukan metode kontrasepsi efektif
pendukung
Tidak ingin hamil dan terlindung dari Tidak mau repot untuk mengikuti
penyakit

menular

seksual,

tetapi petunjuk pemakaian kontrasepsi dan

pasangannya tidak mau menggunakan siap pakai sewaktu akan melakukan


kondom
hubungan seksual
Memerlukan metode sederhana sambil Tidak stabil secara psikis atau tidak
menunggu metode lain

suka menyentuh alat reproduksinya

Jarang melakukan hubungan seksual

(vulva dan vagina)


Mempunyai riwayat

sindrom

syok

karena keracunan
Penanganan Efek Samping
Pemakaian alat kontrasepsi spermisida juga mempunyai efek samping dan
masalah lain. Di bawah ini merupakan penanganan efek samping dan masalahmasalah yang timbul akibat pemakaian spermisida.
Efek Samping Atau Masalah
Penanganan
Iritasi vagina atau iritasi penis dan tidak Periksa adanya vaginitis dan penyakit
nyaman

menular seksual. Bila penyebabnya


spermisida,

sarankan

memakai

spermisida dengan bahan kimia lain


atau bantu memilih metode kontrasepsi
Gangguan rasa panas di vagina

lain.
Periksa reaksi alergi atau terbakar.
Yakinkan bahwa rasa hangat adalah
normal. Bila tidak ada perubahan,
sarankan

menggunakan

spermisida

jenis lain atau bantu memilih metode


kontrasepsi lain.
Tablet busa vaginal tidak larut dengan Pilih spermisida lain dengan komposisi
baik

bahan

kimia

berbeda

atau

memilih metode kontrasepsi lain.


I. Diafragma

40

bantu

Diafragma adalah kap berbentuk bulat, cembung, terbuat dari lateks (karet)
yang dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutupi
serviks.
Jenis diafragma antara lain:
1. Flat spring (flat metal band).
2. Coil spring (coiled wire).
3. Arching spring (kombinasi metal spring).
Flat spring (Diafragma pegas datar)
Jenis ini cocok untuk vagina normal dan disarankan untuk pemakaian pertama
kali. Memiliki pegas jam yang kuat dan mudah dipasang.
Coil spring (Diafragma pegas kumparan)
Jenis ini cocok untuk wanita yang vaginanya kencang dan peka terhadap
tekanan. Jenis ini memiliki pegas kumparan spiral dan jauh lebih lunak dari pegas
datar.
Arching spring
Jenis ini bermanfaat pada dinding vagina yang tampak kendur atau panjang
dan posisi serviks menyebabkan pemasangan sulit. Tipe ini merupakan kombinasi
dari flat spring dan coil spring, dan menimbulkan tekanan kuat pada dinding
vagina.
Cara Kerja
Alat kontrasepsi metode barier yang berupa diafragma ini mempunyai cara kerja
sebagai berikut:
1. Mencegah masuknya sperma melalui kanalis servikalis ke uterus dan
saluran telur (tuba falopi).
2. Sebagai alat untuk menempatkan spermisida.
Manfaat
Alat kontrasepsi diafragma memberikan dua manfaat secara kontrasepsi dan non
kontrasepsi.
Manfaat kontrasepsi
41

1. Efektif bila digunakan dengan benar.


2. Tidak mengganggu produksi ASI.
3. Tidak

mengganggu

hubungan seksual karena

telah

dipersiapkan

sebelumnya.
4. Tidak mengganggu kesehatan klien.
5. Tidak mempunyai pengaruh sistemik.
Manfaat non kontrasepsi
1. Memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual.
2. Dapat menampung darah menstruasi, bila digunakan saat haid.
Keterbatasan
Meskipun alat kontrasepsi diafragma ini mempunyai manfaat secara
kontrasepsi maupun non kontrasepsi, tetapi alat ini juga mempunyai keterbatasan.
Adapun keterbatasan diafragma, antara lain:
1. Efektifitas tidak terlalu tinggi (angka kegagalan 6-16 kehamilan per 100
perempuan per tahun pertama, bila digunakan dengan spermisida).
2. Keberhasilan kontrasepsi ini tergantung pada cara penggunaan yang benar.
3. Memerlukan motivasi dari pengguna agar selalu berkesinambungan dalam
penggunaan alat kontrasepsi ini.
4. Pemeriksaan pelvik diperlukan untuk memastikan ketepatan pemasangan.
5. Dapat menyebabkan infeksi saluran uretra.
6. Harus masih terpasang selama 6 jam pasca senggama.
Penilaian Klien
Sebelum alat kontrasepsi diafragma digunakan oleh klien, sebaiknya petugas
kesehatan mengkaji klien terlebih dahulu. Sehingga alat kontrasepsi ini sesuai atau
tidak digunakan oleh wanita tersebut.
Sesuai untuk klien yang:
Tidak
mau
atau
tidak
menggunakan

metode

Diafragma
Tidak sesuai untuk klien yang:
boleh Mempunyai umur dan paritas serta

kontrasepsi masalah kesehatan yang menyebabkan

hormonal (perokok, wanita di atas 35 kehamilan resiko tinggi


tahun)
Tidak menyukai metode yang diberikan Terinfeksi saluran uretra

42

oleh petugas kesehatan (AKDR)


Menyusui dan memerlukan kontrasepsi Tidak suka menyentuh alat kelaminnya
pendukung
(vulva dan vagina)
Jarang melakukan hubungan seksual Mempunyai riwayat

sindrom

syok

dengan pasangannya
karena keracunan
Ingin melindungi dari penyakit menular Ingin metode KB efektif
seksual
Memerlukan

metode

sederhana

sebelum memilih metode lain


Penanganan Efek Samping
Di bawah ini merupakan penanganan efek samping dari pemakaian alat
kontrasepsi diafragma.
Efek Samping Atau Masalah
Infeksi saluran uretra

Penanganan
Pemberian

antibiotik,

sarankan

mengosongkan kandung kemih pasca


senggama
Alergi diafragma atau spermisida

atau

gunakan

metode

kontrasepsi lain
Berikan spermisida bila ada gejala
iritasi vagina pasca senggama dan tidak
mengidap PMS atau bantu memilih

metode lain
Rasa nyeri pada tekanan terhadap Nilai kesesuaian ukuran forniks dan
kandung kemih/rectum

diafragma. Bila terlalu besar, coba


ukuran yang lebih kecil. Follow up

Timbul cairan vagina dan berbau

masalah yang telah ditangani


Periksa adanya PMS atau benda asing
dalam vagina. Sarankan lepas segera
diafragma pasca senggama. Apabila
kemungkinan
pemrosesan

ada
alat

PMS,

lakukan

sesuai

dengan

pencegahan infeksi
Luka dinding vagina akibat tekanan Hentikan penggunaan diafragma untuk
pegas diafragma

sementara dan gunakan metode lain.


Bila sudah sembuh, periksa kesesuaian

43

ukuran forniks dan diafragma


Hal yang Perlu Diperhatikan
Jika ada kemungkinan terjadi sindrom syok keracunan, rujuk segera pasien ke
fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap. Apabila terjadi panas lebih dari
38 derajat Celcius maka berikan rehidrasi per oral dan analgesik.

J. Pil KB laktasi (linestrenol 0,5mg)


99% efektif mencegah kehamilan jika diminum secara teratur oleh ibu
menyusui, tidak mempengaruhi jumlah produksi dan kualitas asi, mengurangi
resiko

kehamilan

diluar

kandungan,

mengurangi

risiko

anemia,

tidak

menyebabkan diare pada bayi.


Pil KB laktasi dapat digunakan bila ibu memberikan ASI secara ekslusif, pil
KB laktasi dapat digunakan 6 minggu setelah melahirkan, apabila belum
menstruasi pil KB laktasi dapat dimulai dalam interval 6 minggu sampai 6 bulan
setelah melahirkan. Bila sudah menstruasi, pil KB laktasi dapat dimulai pada hari
pertama menstruasi.
Untuk menjaga efektifitasnya, pil KB laktasi hendaknya dikonsumsi pada
waktu yang sama setiap hari. Minum pil KB laktasi sesuai petunjuk hari di bagian
belakang blister.
Efek samping umum
1. Perempuan menyusui biasanya tidak akan menstruasi dalam waktu
beberapa bulan setelah melahirkan. Penggunaan pil KB laktasi dapat
memperpanjang periode ini.
2. Spotting pada bulan-bulan pertama penggunaan
3. Sakit kepala, mual, payudara terasa lembek.
Yang harus diperhatikan adalah bila sudah tidak menyusui, pil KB laktasi tidak
akan seefektif metode hormonal lainnya. Akseptor dapat beralih ke pil KB
kombinasi.
Bila lupa minum pil KB laktasi

44

<12 jam

Lupa 1 Pil
Minum pil terlupa

Lupa 2 pil
Minum 2

sekaligus lalu minum 2 pil

>12 jam

Lanjutkan minum pil selanjutnya


Minum pil yang terlupa
Lanjutkan minum pil selanjutnya
meskipun waktunya berdekatan

pil

yang

telupa

keesokan harinya
Pakailah kondom hingga 7 hari
ke

depan

apabila

ingin

melakukan hubungan seksual.

K. Pil KB kombinasi
Mengandung 2 hormon Levonogestrel 0,15mg dan Ethynilestradiol 0,03mg
(estrogen), dalam 1 blister terdapat 28 pil mengandung hormone dan 7 pil
pengingat.
Efektifitas
Efektifitas tergantung akseptor. Risiko terjadinya kehamilan akan meningkat
apabila jadwal minum terlewati.
Waktu kembali subur
Akseptor akan kembali kepada kesuburan begitu berhenti mengkonsumsi. Pil KB
kombinasi tidak mempengaruhi siklus menstruasi akseptor.
Yang dapat menggunakan Pil KB Yang tidak dianjurkan menggunakan Pil
kombinasi
Hampir semua
menggunakan

Pil

perempuan
KB

KB kombinasi
dapat Dalam kondisi hamil

kombinasi, Menyusui karena kandungan estrogen

termasuk perempuan dalam kategori dapat mempengaruhi produksi asi


berikut:

Perempuan dengan tekanan darah tinggi

Sudah ataupun belum memiliki

Merokok

anak
Baru mengalami keguguran
Memiliki anemia
Dari berbagai kalangan umur

Berusia diatas 35 tahun


Penderita diabetes
Sensitif terhadap salah satu zat aktif di
dalam pil KB kombinasi
Memiliki sejarah kanker payudara

45

Pil KB dapat diminum mulai pada


1. Hari pertama menstruasi sesuai dengan tanda yang ada pada kemasan, dan
lanjutkan sesuai petunjuk arah panah
2. Hari ke 21 sampai dengan hari ke 28 setelah melahirkan apabila tidak
menyusui.
3. Untuk menjaga efektifitasnya pil KB hendaknya diminum pada waktu yang
sama setiap hari.
Manfaat lain
1.
2.
3.
4.
5.

Mengurangi risiko kanker rahim dan kanker indung telur


Membantu mengurangi rasa nyeri saat datang bulan
Membantu membuat menstruasi menjadi lebih teratur
Membantu melindungi dari anemia
Estrogen membantu menjaga kesehatan kulit

Efek samping umum

Spotting yang bukan tanda haid pada bulan-bulan pertama konsumsi


Sakit kepala, mual, payudara terasa lembek

Yang harus dilakukan bila terjadi efek samping:


1. Lanjutkan konsumsi pil KB. Menghentikan penggunaannya akan
menimbulkan risiko kehamilan.
2. Pastikan pil KB dikonsumsi sesuai jadwal
3. Konsumsi pil KB sesudah makan atau saat akan tidur untuk mengurangi
rasa mual
Bila lupa minum pil
<12 jam

Lupa 1 Pil
Minum pil terlupa

Lupa 2 pil
Minum 2

sekaligus lalu minum 2 pil

>12 jam

Lanjutkan minum pil selanjutnya


Minum pil yang terlupa
Lanjutkan minum pil selanjutnya
meskipun waktunya berdekatan

pil

yang

telupa

keesokan harinya
Pakailah kondom hingga 7 hari
ke

depan

apabila

ingin

melakukan hubungan seksual.


Apabila lupa 3 pil atau lebih,buanglah seluruh pil KB yang tersisa, gunakan
kondom atau tidak melakukan hubungan seksual hingga periode menstruasi
berikutnya. Kembali minum pil KB setelah periode menstruasi berikutnya.
46

L. Pil kontrasepsi darurat/Postpil (0,75 mg levonogestrel)


Dikonsumsi selambat-lambatnya setelah melakukan hubungan seksual tanpa
menggunakan kontrasepsi.
Pil yang mengandung hormone levonogestrel (progestin) dosis tinggi (0,75 mg)
Pil kontrasepsi darurat disebut juga morning after pill. Dalam satu blisternya
terdapat 2 buah pil. Bekerja untuk mencegah atau memperlambat pelepasan sel
telur dari ovarium.
Digunakan bila terjadi kegagalan kontrasepsi,seperti:
1.
2.
3.
4.

Kondom bocor
Lupa minum pil KB
Terlewat jadwal suntik
Tidak menggunakan kontrasepsi

Efektifitas
Kemungkinan terjadinya kehamilan adalah 1 dari 100 perempuan yang
melakukan hubungan seksual.
Waktu untuk memulai minum pil kontrasepsi darurat
Minum pil pertama paling lambat 72 jam setelah hubungan seks. Pil kedua
diminum setelah 12jam setelah pil pertama
Semakin cepat pil kontrasepsi darurat diminum setelah hubungan seks,
semakin tinggi efektifitasnya.
Efek samping umum
1. Spotting 1-2 hari setelah konsumsi pil kontrasepsi darurat
2. Sakit kepala, mual, nyeri abdominal
3. Perubahan siklus haid (lebih cepat atau lambat)

M. Pil KB Fe
Mengandung 2 hormon Levonogestrel 0,15mg, Ethynilestradiol 0,03mg
(estrogen) dan Ferrous fumarate 75mg yang mudah diserap usus halus, dalam 1
blister terdapat 28 pil mengandung hormone dan 7 pil pengingat.

47

Efektifitas
Efektifitas tergantung akseptor. Risiko terjadinya kehamilan akan meningkat
apabila jadwal minum terlewati.
Waktu kembali subur
Akseptor akan kembali kepada kesuburan begitu berhenti mengkonsumsi. Pil
KB kombinasi tidak mempengaruhi siklus menstruasi akseptor.
Yang dapat menggunakan pil KB Yang tidak dianjurkan menggunakan pil
kombinasi dengan kandungan Zat besi

KB kombinasi dengan kandungan Zat

Perempuan dengan kategori:

besi
Hamil

1. Sudah ataupun belum memiliki


anak
2. Baru mengalami keguguran
3. Memiliki anemia

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menyusui
Tekanan darah tinggi
Merokok
Usia diatas 35 tahun
Penderita diabetes
Sensitif terhadap salah satu zat
aktif di dalam pil KB kombinasi

dengan kandungan zat besi


7. Memiliki
sejarah
kanker
payudara
Manfaat lebih pil KB andalan fe
1.
2.
3.
4.
5.

Membantu mengatasi gejala anemia


Membuat siklus haid menjadi teratur
Dapat cepat kembali subur
Berat badan tetap stabil
Tidak menimbulkan flek pada kulit

Manfaat lain
1.
2.
3.
4.

Melindungi dari anemia


Mengurangi risiko kanker rahim dan kanker indung telur
Membantu mengurangi rasa nyeri saat datang bulan
Estrogen membantu menjaga kesehatan kulit

Efek samping umum


Spotting yang bukan tanda haid pada bulan-bulan pertama konsumsi
Sakit kepala, mual, payudara terasa lembek

48

Yang harus dilakukan bila terjadi efek samping:


1. Lanjutkan konsumsi pil KB. Menghentikan penggunaannya akan
menimbulkan risiko kehamilan.
2. Pastikan pil KB dikonsumsi sesuai jadwal
3. Konsumsi pil KB sesudah makan atau saat akan tidur untuk mengurangi
rasa mual
Bila lupa minum pil
<12 jam

Lupa 1 Pil
Minum pil terlupa

Lupa 2 pil
Minum 2

Lanjutkan minum pil selanjutnya


Minum pil yang terlupa

sekaligus lalu minum 2 pil

>12 jam

Lanjutkan minum pil selanjutnya


meskipun waktunya berdekatan

pil

yang

telupa

keesokan harinya
Pakailah kondom hingga 7 hari
ke

depan

apabila

ingin

melakukan hubungan seksual.


Apabila lupa 3 pil atau lebih,buanglah seluruh pil KB yang tersisa, gunakan
kondom atau tidak melakukan hubungan seksual hingga periode menstruasi
berikutnya. Kembali minum pil KB setelah periode menstruasi berikutnya.
N. Suntikan KB 1 Bulan (suntikan KB kombinasi)
Mengandung Medroxyprogesterone acetate 50 mg, Estradiol Cypionate 10
mg. sering disebut dengan suntikan KB kombinasi. Cara kerja utama adalah
mencegah pelepasan sel telur(ovulasi) sehingga kehamilan tidak terjadi.
Efektifitas
Efektifitas tergantung dari kepatuhan dalam mengikuti jadwal suntik ulang.
Risiko terjadinya kehamilan akan meningkat apabila jadwal suntikan terlewati.
Dengan penggunaan yang tipikal, 97 orang dari 100 perempuan tidak akan hamil
(tingkat efektifitas 97%). Apabila jadwal suntikan ulang dipenuhi dengan baik,
kemungkinan terjadinya kehamilan adalah kurang dari 1 per 100 perempuan
(99%).
Waktu kembali subur

49

Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk kembali subur adalah 1 bulan setelah
penghentian metode.
Akseptor suntikan KB 1 bulan tetap menstruasi seperti biasa.
Yang dapat menggunakan suntikan KB Yang tidak dianjurkan menggunakan
1 bulan
Sudah ataupun belum memiliki anak

suntikan KB 1 bulan
1. Hamil
2. Menyusui
3. Tekanan darah tinggi
4. Merokok
5. Usia diatas 35 tahun
6. Penderita diabetes
7. Sensitif terhadap salah satu zat

Baru mengalami keguguran


Memiliki anemia

aktif di dalam suntikan kb 1


bulan
8. Memiliki

sejarah

kanker

payudara
Manfaat lain
1.
2.
3.
4.

Melindungi dari anemia


Mengurangi risiko kanker rahim dan kanker indung telur
Membantu mengurangi rasa nyeri saat datang bulan
Estrogen membantu menjaga kesehatan kulit

O. Suntikan KB 3 bulan 1 ml
Suntikan KB 3 bulan mengandung Medroxyprogesterone Acetate 150
mg/DMPA (progestin), tersedia dalam larutan 3 ml dan 1 ml (rekomendasi WHO
3 bulan 1 ml). tidak mengandung hormone estrogen sehingga dapat digunakan
oleh ibu menyusui. Mencegah terjadinya ovulasi dan mengentalkan lendir rahim
hingga tidak dapat ditembus oleh sperma.
Efektifitas
Efektifitas tergantung dari kepatuhan dalam mengikuti jadwal suntik ulang.
Risiko terjadinya kehamilan akan meningkat apabila jadwal suntikan terlewati.
Dengan penggunaan yang tipikal, 97 dari 100 orang perempuan tidak akan hamil
(tingkat efektifitas 97%). Apabila jadwal suntikan ulang dipenuhi dengan baik,

50

kemungkinan terjadinya kehamilan adalah kurang dari 1 per 100 perempuan


(tingkat efektifitas 99%).
Waktu kembali subur
Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk kembali subur adalah 4 bulan setelah
penghentian metode.
Yang dapat menggunakan suntikan KB Yang tidak dianjurkan menggunakan
3 bulan
suntikan KB 3 bulan
Hampir semua perempuan, termasuk Hamil
perempuan dalam kategori berikut:

Mengalami perdarahan vaginal yang

Sudah ataupun belum memiliki anak

tidak diketahui penyebabnya

Menyusui

Kelainan patologis payudara yang tidak

Baru mengalami keguguran

diketahui penyebabnya
Sensitif

atau

alergi

terhadap

Medroxyprogesterone Acetate
Riwayat diabetes dan Hipertensi
Manfaat lain
Mengurani risiko kanker rahim dan kanker indung telur
Melindungi dari anemia
Mengurangi risiko kehamilan di luar rahim
P. Implant
Implant adalah salah satu jenis alat kontrasepsi yang berupa susuk yang
terbuat dari sejenis karet silastik yang berisi hormon, dipasang pada lengan atas
(Handayani, 2010:116).
Implant adalah Alat kontrasepsi yang berbentuk kapsul kosong silastic
(karet silikon) yang di isi dengan hormon dan ujung-ujungnya kapsul yang ditutup
dengan silastic adhesive (Hanafi, 2004:179).
Kontrasepsi implant adalah alat kontrasepsi berbentuk kapsul silastik berisi
hormon jenis progestin (progestin sintetik) yang dipasang dibawah kulit
(BKKBN, 2003).

51

Kontrasepsi Implan adalah metode kontrasepsi yang diinsersikan pada bagian


subdermal, yang hanya mengandung progestin dengan masa kerja panjang, dosis
rendah dan reversibel untuk wanita (Speroff & Darney, 2005).
Menurut Sulistyawati (2010:81) profil Implant terdiri dari:
1. Efektif 5 tahun untuk Norplant, 3 tahun untuk Jadena, Indoplant, atau
2.
3.
4.
5.
6.

Implanon
Nyaman
Dapat dipakai oleh semua Ibu dalam usia Reproduksi
Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan
Kesuburan segera kembali setelah implant dicabut
Efek samping utama berupa perdarahan tidak teratur, perdarahan bercak

dan amenorea
7. Aman dipakai pada masa laktasi
Menurut Handayani (2010:116) terdapat 2 macam implant ada 2 yaitu:
1. Non Biodograndable implant
Dengan ciri ciri sebagai berikut :
a. Norplant (6 kasul), berisi hormon Levonogrestel, daya kerja 5 tahun.
b. Norplant-2 (2 batang), berisi hormon Levonogrestel, daya kerja 3
tahun.
c. Satu batang, berisi hormon ST-1435, daya kerja 2 tahun. Rencana siap
pakai : tahun 2000
d. Satu batang, berisi hormone 3-keto desogesteri daya kerja 2,5-4 tahun.
Sedangkan Non Biodograndable Implant dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
a. Norplant
Dipakai sejak tahun 1987, terdiri dari 6 kapsul kosong silastic (karet
silicon) yang diisi dengan hormon Levonogrestel dan ujung ujung kapsul
ditutup dengan silastic adhesive. Tiap kapsul mempunyai panjang 34 mm,
diameter 2,4 mm, berisi 36 mg levonorgestrel, serta mempunyai ciri sangat
efektif dalam mencegah kehamilan untuk lima tahun. Saat ini Norplant banyak
dipakai.
b.

Norplant -2

Dipakai sejak tahun 1987, terdiri dari dua batang silactic yang padat, dengan
panjang tiap batang 44 mm. Dengan masing masing batang diisi 70 mg
Levonorgestrel di dalam matriks batangnya. Ciri norplan- 2 adalah sangat
efektif untuk mencegah kehamilan 3 tahun.

52

2. Biodegrodable Implant
Macam implant biodegradable dibagi menjadi 2 macam :
a.

Carpronor
suatu kapsul polymer yang berisi levonorgestrel, pada awal penelitian dan
pengembangannya, carpronor berupa suatu kapsul biodegradable yang
mengandung levonorgestrel yang dilarutkan dalam minyak ethyl-aleate
dengan diameter kapsul< 0,24 cm dan panjang kapsul yang teliti terdiri
dari 2 ukuran, yaitu :
2,5 cm : berisi 16 mg levonogestrel, melepaskan 20 mcg hormonnya/
hari.
4 cm : berisi 25 levonorgestrel, melepaskan 30 50 mcg

hormonal/hari.
b.
Narethindrone Pellets
Pellets dibuat dari 10 % kolesterol murni dan 90% norechindrone (NET).
Setiap pellets panjang 8 mm berisi 35 mg NET, yang akan dilepaskan saat
pellet dengan perlahan lahan melarut.
Pellets berukuran kecil, masing masing sedikit lebih besar dari pada butir
besar.
Uji coba pendahuluan menggunakan n4 dan 5 pellets.
Dosis harian NET dan efektivitas kontrasepsi bertambah dengan
banyaknya jumlah pellets.
Sediaan empat pellets tampaknya memberikan perlindungan yang besar
terhadap kehamilan untuk sekurang kurangnya 12 bulan.
Lebih dari 50% akseptor pellets mengalami pola haid regular. Perdarahan
inter menstrual atau perdarahan bercak merupakan problin utama.
Terjadi rasa sakit payudara pada 4 % akseptor
Jumlah kecil dari kolesterol dalam masing masing pellets kurang dari
2% kolesterol dalam satu butir telur ayam tidak mempunyai efek pada
kadar kolesterol darah akseptor.
Insersi pellets dilakukan pada bagian dalam lengan atas prosedur insersi
seperti pada capronor dan dapat dipakai dengan inserter yang sama.
Daerah insersi disuntikkan dengan anestesi lokal lalu dibuat insisi 3 mm.
Pellets diletakkan kira kira 3 cm dibawah kulit. Tidak diperlukam
penjahitan luka insisi, cukup ditutup dengan verband saja.
Cara Kerja
Cara kerja implant menurut Saifuddin (2006:MK:54) adalah sebagai berikut:
53

1 Mengentalkan lendir serviks.


2 Menganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi
implantasi.
3 Mengurangi transportasi sprema.
4 Menekan ovulasi.
Efektifitas
Menurut Hanafi (2004:182) efektivitas implant yaitu:
1. Efektivitas tinggi, angka kegagalan norplant < 1 per 100 wanita per tahun
dalam 5 tahun pertama.
2. Efektivitas norplant berkurang sedikit setelah 5 tahun, dan pada tahun ke 6
kira kira 2,5 - 3% akseptor menjadi hamil.
3. Norplant 2 sama efektifnya seperti Norplant, untuk waktu 3 tahun pertama.
Semula diharapkan norplant 2 juga akan efektif untuk 5 tahun, tetapi
ternyata setelah pemakaian 3 tahun terjadi kehamilan dalam jumlah besar yang
tidak diduga sebelumnya, yaitu sebesar 5-6%. Penyebab belum jelas, disangka
terjadi penurunan dalam pelepasan hormonnya.
Keuntungan
Keuntungan menurut kontrasepsi
a. Daya guna tinggi.
b. Perlindungan
jangka

Kerugian
a. Tidak memberikan efek protektif
terhadap

panjang

(sampai 5 tahun).
c. Pengembalian tingkat kesuburan
yang cepat setelah pencabutan.
d. Tidak memerlukan pemeriksaan
dalam.
e. Bebas dari pengaruh estrogen.
f. Tidak
mengganggu
kegiatan
senggama.
g. Tidak mengganggu ASI.
h. Klien hanya perlu kembali ke
klinik bila ada keluhan.
i. Dapat dicabut setiap saat sesuai
dengan kebutuhan.

penyakit

Menular

Seksual, termasuk AIDS.


b. Membutuhkan tindak pembedahan
minor

untuk

insersi

dan

pencabutan.
c. Akseptor tidak dapat menghentikan
sendiri pemakaian kontrasepsi ini
sesuai keinginan, akan tetapi harus
pergi ke klinik untuk pencabutan.
d. Dapat
mempengaruhi
baik
penurunan maupun kenaikan berat
badan
e. Memiliki semua risiko sebagai
layaknya setiap tindak bedah minor
(infeksi,

Keuntungan menurut Non kontrasepsi

hematoma

dan

perdarahan).
f. Secara kosmetik susuk Norplant

a. Mengurangi nyeri haid.

54

b. Mengurangi jumlah darah haid.


c. Mengurangi/ memperbaiki anemia.
d. Melindungi
terjadinya
kanker
endomentrium.
e. Menurunkan
angka

kejadian

kelainan jinak payudara.


f. Melindungi diri dari

beberapa

dapat terlihat dari luar


kebanyakan klien

g. Pada

dapat

menyebabkan terjadinya perubahan


pola daur haid

penyebab penyakit radang panggul.


g. Menurunkan
angka
kejadian
endometriosis.

Indikasi dan Kontraindikasi


Indikasi
Wanita yang

sedang

dalam

Kontraindikasi
masa Hamil atau diduga hamil.

menyusui (setelah enam minggu masa Perdarahan pervaginam yang belum


nifas).

jelas penyebabnya.

Wanita pasca keguguran.

Benjolan

Wanita usia reproduksi.

riwayat kanker payudara atau riwayat

kanker

payudara

atau

Wanita yang mengalami efek samping kanker payudara.


yang

tidak

penggunaan

diinginkan
pil

kontrasepsi

akibat Tidak dapat menerima perubahan pola


oral haid yang terjadi.

kombinasi yang mengandung estrogen.

Menderita mioma uterus dan kanker

Wanita yang sulit mengalami kesulitan payudara.


mengingat jadwal meminum pil atau Penyakit jantung, hipertensi, diabetes
enggan melakukan manipulasi yang militus.
diperlukan pada metode sawar.

Penyakit tromboemboli.

Tekanan darah < 180/110 mmHg, Gangguan toleransi glukosa.


dengan masalah pembekuan darah, atau
anemia bulan sabit.
Tidak menginginkan anak lagi, tetapi
menolak sterilisasi.
Tidak boleh menggunakan kontrasepsi
hormonal yang mengandung estrogen.

55

Wanita yang menginginkan kontrasepsi


jangka panjang (mis. Wanita yang masa
usianya suburnya telah berakhir, tetapi
tidak menginginkan strelisasi).
Wanita yang ingin mengatur jarak
kehamilannya.

Efek samping

Amenore
Spotting
Infeksi pada daerah insersi
Berat badan tidak stabil

Q. IUD/AKDR
IUD (Intra Uterine Device) atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
adalah alat kontrasepsi yang disisipkan ke dalam rahim, terbuat dari bahan
semacam plastik, ada pula yang dililit tembaga, dan bentuknya bermacam-macam.
Bentuk yang umum dan mungkin banyak dikenal oleh masyarakat adalah bentuk
spiral.
Dari berbagai jenis IUD, saat ini yang umum beredar dipakai di Indonesia ada 3
macam jenis yaitu:

IUD Copper T, terbentuk dari rangka plastik yang lentur dan tembaga yang
berada pada kedua lengan IUD dan batang IUD.

IUD Nova T, terbentuk dari rangka plastik dan tembaga. Pada ujung
lengan IUD bentuknya agak melengkung tanpa ada tembaga, tembaga
hanya ada pada batang IUD.

IUD Mirena, terbentuk dari rangka plastik yang dikelilingi oleh silinder
pelepas hormon Levonolgestrel (hormon progesteron) sehingga IUD ini
dapat dipakai oleh ibu menyusui karena tidak menghambat ASI.

Efektifitas

56

Sebagai kontrasepsi, AKDR tipe T efektifitasnya sangat tinggi yaitu berkisar


antara 0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan
dalam 125-170 kehamilan). Sedangkan AKDR dengan progesteron antara 0,5-1
kehamilan per 100 perempuan pada tahun pertama penggunaan.

Cara kerja
Cara kerja dari alat kontrasepsi IUD adalah sebagai berikut

Menghambat kemampuan sperma masuk ke tuba falopii


Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
IUD bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu
IUD membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan

dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi


Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus

Keuntungan
Sebagai kontrasepsi, efektifitasnya tinggi

IUD (AKDR) dapat efektif segera setelah pemasangan


Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A, 5 tahun untuk

nova t dan 5 tahun untuk mirena)


Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
Tidak mempengaruhi hubungan seksual
Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil
Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT-380A)
Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila

tidak terjadi infeksi)


Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun lebih setelah haid terakhir)
Tidak ada interaksi dengan obat-obat
Membantu mencegah kehamilan ektopik

Efek samping

57

Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan

berkurang setelah 3 bulan)


Haid lebih lama dan banyak
Perdarahan (spotting) antara menstruasi
Saat haid lebih sakit

Komplikasi

Merasakan sakit dan kejang selama 3-5 hari setelah pemasangan


Perdarahan pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan

penyebab anemia
Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangannya benar)

Kerugian

Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS


Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang

sering berganti pasangan


penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai

AKDR Penyakit radang panggul memicu infertilitas


Prosedur medis, termasuk pemeriksaan plevik diperlukan dalam

pemasangan AKDR Seringkali perempuan takut selama pemasangan


Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan

AKDR Biasanya menghilang dalam 1-2 hari


Klien tidak dapat melepas AKDR sendiri
Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila

AKDR dipasang segera setelah melahirkan)


Mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk

mencegah kehamilan normal


Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu.
Untuk melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya ke dalam
vagina, sebagian perempuan tidak mau melakukan ini.

58

SUMBER : sepydiscovery.wordpress.com/2012/12/04/iud-intra-uterine-device/,
2012

IUD TCu 380 Safe load


Intrauterine Contraceptive Device (IUD) adalah alat kontrasepsi nonHormonal
yang dipasang di dalam rahim. IUD TCu 380 Safe Load berbentuk huruf T dan
terbuat dari rangka plastik polyethylene dengan lilitan tembaga. Bekerja untuk
mencegah pertemuan sperma dengan sel telur. Ion yang dilepaskan oleh tembaga
juga membuat kondisi rahim tidak siap untuk pembuahan.
Efektifitas
IUD merupakan salah satu metode kontrasepsi jangkapanjang yang paling
efektif.

IUD

TCu

380A Safe

Load

direkomendasikan oleh WHO.

59

adalah

kontrasepsi

yang

paling

Kemungkinan terjadinya kehamilan adalah kurang dari 1 per 100 perempuan


yang menggunakan IUD, atausekitar 6-8 per 1.000 perempuan (efektifitas 99,2%99,4%)
IUD TCu 380A Safe Load efektif mencegah kehamilan untuk 10
tahun.kemungkinan terjadinya kehamilan setelah 10 tahun penggunaan adalah 2
per 100 perempuan (efektifitas 98%).
Waktu kembalinya kesuburan
Dapat langsung kembali subur begitu IUD dilepas. IUD juga tidak membuat
haid terhenti.
Yang dapat menggunakan IUD
Hampir

semua

Yang tidak dianjurkan menggunakan

IUD
perempuan,termasuk Memiliki kanker rahim

perempuan dengan kategori:

Riwayat perdarahan vaginal yang tidak

Menyusui

diketahui penyebabnya

Baru mengalami keguguran

Memiliki risiko tinggi terkena IMS

Cocok untuk semua kalangan umur

Perdarahan haid yang berat

Perempuan yang aktif dan bekerja


Pernah mengalami kehamilan ektopik
Waktu pemasangan IUD

IUD dapat dipasang kapan saja selama dapat dipastikanbahwa akseptor

tidak sedang hamil.


IUD juga dapat dipasang 48 jam setelah melahirkan (memerlukan

penyedia layanan yang terlatih untuk tekhnik postpartum insertion)


Apabila melebihi 48 jam post partum, tunda pemasangan hingga minggu
ke-4.

Yang perlu diperhatikan


Efek samping umum /Tanda awal pemasangan IUD
1. Perubahan pola haid
2. Spotting
3. Peningkatan rasa kram dan nyeri pada saat haid
Disarankan kontrol 3-6 minggu setelah pemasangan

60

Manfaat lain

Cukup pemeriksaan rutin minimal 1 tahun sekali


Membantu mencegah kanker endometrial
Hubungan intim dengan pasangan lebih natural
Tidak ada efek kontrasepsi hormonal

IUD Cu 375 Sleek


Alat kontrasepsi non hormonal yang terbuat dari bahan polyethylene. Sangat
praktis dengan ukuran plastic vertical hanya 2.8 cm. jenis lain dari IUD berbentuk
seperti tapal kuda. Bekerja untuk mencegah pertemuan sperma dengan sel telur,
ion yang dilepaskan oleh tembaga juga membuat kondisi rahim tidak siap untuk
pembuahan. Memiliki struktur anatomi mini, jauh lebih kecil dari IUD TCu 380A
safe load
Aman
Lebih steril karena lengan IUD tidak perlu ditekuk sehingga mencegah
kemungkinan infeksi
Tidak ada pengaruh hormone dalam tubuh
Sekali pasang efektif selama 5 tahun
Efektifitas
Kemungkinan terjadinya kehamilan adalah kurang dari 1 per 100 perempuan
yang menggunakan IUD, atausekitar 6-8 per 1.000 perempuan (efektifitas 99,2%99,4%)
Efektif mencegah kehamilan untuk 5 tahun.kemungkinan terjadinya
kehamilan setelah 10 tahun penggunaan adalah 2 per 100 perempuan (efektifitas
98%).
Waktu kembalinya kesuburan
Dapat langsung kembali subur begitu IUD dilepas. IUD juga tidak membuat haid
terhenti.
R. Metode Operatif Wanita (MOW) dan Metode Operatif Pria (MOP)

Metode operatif wanita (MOW), dan Metode Operatif Pria (MOP), termasuk
ke dalam golongan kontrasepsi mantap. Metode operatif wanita (MOW) disebut
juga dengan tubektomi merupakan salah satu metode kontrasepsi yang bersifat
permanen bagi seorang wanita bila tidak ingin hamil lagi dengan cara mengoklusi
61

tuba falopii. Oklusi tuba dilakukan dengan cara mengikat, memotong, atau
memasang cincin di tuba falopii, sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan
ovum (BKKBN & Kemenkes RI, 2012).
Metode Operatif Pria (MOP) adalah prosedur klinik untuk menghentikan
kapasitas reproduksi pria dengan cara mengoklusi vas defferens, sehingga jalur
transportasi spermatozoa terhambat, dan proses fertilisasi tidak terjadi. Kedua
metode ini dilakukan dengan prosedur operasi (BKKBN & Kemenkes RI, 2012).
Keuntungan MOW dan MOP
Keuntungan Metode Operatif Wanita (MOW) antara lain:
1. Efektif
MOW sangat efektif dengan angka kegagalan yang sangat rendah, yaitu
hanya 0,5 kehamilan per 100 perempuan selama 1 tahun pertama
penggunaan.
2. Efek samping rendah
3. Tidak mempengaruhi produksi asi
4. Tidak ada perubahan fungsi seksual
5. Tidak memerlukan kepatuhan akseptor (Hartanto,2004)
Metode Operatif Pria (MOP) memiliki beberapa keuntungan antara lain:
1. Efektif : MOP memiliki efektifitas yang tinggi, dengan angka kegagalan 1
banding 1000
2. Efek samping jarang terjadi
3. Tidak memerlukan kepatuhan akseptor
4. Tidak mengganggu fungsi seksual(Hartanto,2004).
Kerugian Metode operatif wanita (MOW) dan Metode Operatif Pria (MOP)
Pada umumnya kerugian Metode operatif wanita (MOW) dan Metode
Operatif Pria (MOP) adalah metode kontrasepsi ini bersifat permanen, dalam
artian kesuburan sangat sulit untuk dikembalikan apabila suatu saat akseptor ingin
memiliki anak kembali. Oleh karena itu, metode ini hanya dilakukan terutama
pada pasangan yang telah memiliki anak, dan tidak menginginkan anak lagi.
Kerugian lainnya metode ini perlu dilakukan dengan tindakan operatif, dan harus
dilakukan di tempat yang memiliki fasilitas yang lengkap dan tenaga kerja yang
terlatih. Selain itu biaya untuk metode ini cenderung lebih mahal dari metode
lainnya. Pada perempuan yang melakukan prosedur MOW efek samping lainnya
yaitu nyeri bekas luka operasi, infeksi pada luka oprasi, dan apabila terjadi
kehamilan maka kehamilan yang terjadi berupa kehamilan ektopik. Pada pria
dapat terjadi komplikasi akibat prosedur operatif. Akseptor MOP harus
menggunakan kontraepsi tambahan selama 3 bulan setelah prosedur atau kurang
lebih 20 kali ejakulasi (BKKBN dan Kemenkes RI, 2012).
KontraindikasiMOW:
1. Kehamilan
2. PID
3. Penyakit jantung
4. Hipertensi
5. DM

62

6.
7.
8.
9.

Tumor pelvis
Penyakit perdarahan
Anemia berat/ pasien dengan anemia
Tidak dianjurkan untuk orang yang tidak stabil secara perkawinan,
psikologis dan seksual (Hartanto, 2004)

Kontraindikasi MOP
1. Infeksi pada kulit lokal disekitar tempat pembedahan
2. Infeksi traktus genitalis
3. Kelainan pada scrotum dan sekitarnya: varicocele, hydrocele, filariasis,
hernia inguinalis dan scrotum yang sangat tebal.
4. Tidak dianjurkan untuk orang yang tidak stabil secara perkawinan,
psikologis dan seksual (Hartanto, 2004)

63

BAB III
KESIMPULAN
Family planning atau Keluarga Berencana adalah tindakan yang membantu
individu atau pasangan suami isteri untuk menghindari kelahiran yang tidak
diinginkan, mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara
kelahiran, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami
dan istri, menetukan jumlah anak dalam keluarga.
Sasaran utama dari pelayanan KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS).
Pelayanan KB diberikan di berbagai unit pelayanan baik oleh pemerintah maupun
swasta dari tingkat desa hingga tingkat kota dengan kompetensi yang sangat
bervariasi.
Jenis alat/obat kontrasepsi antara lain kondom, pil KB, suntik KB, AKDR,
implant, vasektomi, dan tubektomi. Untuk jenis pelayanan KB jenis kondom
dapat diperoleh langsung dari apotek atau toko obat, pos layanan KB dan kader
desa. Pelayanan kontrasepsi suntik KB sering dilakukan oleh bidan dan dokter
sedangkan pelayanan AKDR, implant dan vasektomi/tubektomi harus dilakukan
oleh tenaga kesehatan terlatih dan berkompeten.

64

DAFTAR PUSTAKA
1. Saifuddin AB. 1996. Buku Acuan Nasional Pelayanan Keluarga Berencana.
Edisi 1. Yogyakarta: NRC-POGI.
2. Badan Pusat Statistik Indonesia. Hasil Sensus Penduduk Indonesia Tahun
2010. 8 September 2010. Diakses tanggal 18 oktober 2016
3. Baird DT, Glasier AF. Hormonal Contraception, N. Engl. J. Med. 1993; 328:
1543-49.
4. Mochtar R. Kependudukan dan Keluarga Berencana. Dalam : Sinopsis
Obstetri. Jakarta: EGC, 1998: 236,250-251,255-256,268-274.
5. Smith MW. The No-Period Pills. 13 April 2011. Diakses tanggal 18 oktober
2016 dari http://www.webmd.com/sex/birth-control/features/no-period-pills?
page=2
6. Goldfien H, Monroe SE, Ovarium Dalam: Endokrinologi Dasar & Klinik,
Edisi 4, Jakarta: EGC, 2000 : 554, 562-567.
7. Mtawali G, Pina M, Angle M, Murphy C, The Menstrual Cycle and Its
Relation to Contraceptive Methods: A Reference for Reproductive Health
Trainers, 1st edition, Chapel Hill: INTRAH, 1997: 3-16, 27-32.
8. Hartanto H, Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 2003: 36-38, 42-45,96-100, 46-57.
9. Julianto A, Biran S. Kontrasepsi. 20 November 2007. diakses tanggal 18
oktober

2016

dari

http://bintangmawar.net/forum/come_inside.php?

s=1a2db39cae8188.
10. Schorge JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Hoffman BL, Bradshaw KD,
Cunningham FG, Contraception and Sterilization, In: Williams Gynecology, 1st
edition. Dallas: The McGraw Hill Companies, Inc, 2008: 252-62.
11. Glaiser A, Contraception, In: Dewhursts Textbook of Obstetrics &
Gynaecology, 7th edition, Edmonds DK, ed. London: Blackwell Publishing,
2007: 299-309.
12. Bloom SL, Hauth JC, Contraception, In: Williams Obstetrics, 23rd edition,
Cunningham FG, Leveno KJ, ed. Philadelphia: The McGraw-Hill Companies,
Inc, 2005: 356-60.

65

13. Stubblefield PG, Carr-Ellis S, Kapp N, Family Planning, In: Berek & Novaks
Gynecology, 14th edition, Berek JS, ed. USA: Lippincott William & Wilkins,
2008: 450-56.
14. Hansen LB. Oral Contraceptives: An Update on Health Benefits and Risks:
Progestin-Only Minipill, J Am Pharm Assoc. 2001; 41: 15-16.
15. Speroff L, Darney PD, Oral Contraception, In: A Clinical Guide for
Contraception, 4th edition, Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2005:
12138.
16. Rivera R, Yacobson I, Grimes D. The mechanism of action of hormonal
contraceptives and intrauterine contraceptive devices. Am J Obstet Gynecol.
1999; 181: 126369.
17. Cibula D, Gompel A, Mueck AO, La Vecchia C, Hannaford PC, Skouby SO,
et al. Hormonal contraception and risk of cancer. Human Reproduction
Update. 2010; 16: 630-32.

66