Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH TOLERANSI

NAMA : TIFANY LAURENT AGHATA


AMBARITA
GINDATA ANGELA GINTING

BAB I
PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG

Kerukunan umat beragama adalah suatu bentuk sosialisasi


yang damai dan tercipta berkat adanya toleransi dalam
kehidupan beragama. Toleransi adalah sikap saling pengertian
dan menghargai tanpa adanya diskriminasi dalam hal apapun,
khususnya dalam masalah kehidupan beragama. Kerukunan
umat beragama adalah hal yang sangat penting untuk
mencapai sebuah kesejahteraan hidup di negeri ini.

Sila Ketuhanan yang maha Esa mempunyai makna bahwa


segala aspek penyelenggaraan hidup bernegara harus sesuai
dengan nilai-nilai yang berasal dari Tuhan. Karena sejak awal
pembentukan bangsa ini, bahwa negara Indonesia berdasarkan
atas Ketuhanan. Maksudnya adalah bahwa masyarakat
Indonesia merupakan manusia yang mempunyai iman dan
kepercayaan terhadap Tuhan, dan iman kepercayaan inilah
yang menjadi dasar dalam hidup berbangsa, bernegara, dan
bermasyarakat.

Kebebasan beragama pada hakikatnya adalah dasar bagi


terciptanya kerukunan antar umat beragama. Tanpa kebebasan
beragama tidak mungkin ada kerukunan antar umat beragama.
Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia. Hak untuk
menyembah Tuhan diberikan oleh Tuhan, dan tidak ada seorang
pun yang boleh mencabutnya.

Demikian juga sebaliknya, toleransi antarumat beragama


adalah cara agar kebebasan beragama dapat terlindungi
dengan baik. Kebebasan dan toleransi tidak dapat diabaikan.

B.

RUMUSAN MASALAH

Penulis telah menyusun beberapa masalah yang akan dibahas


dalam makalah ini sebagai batasan dalam pembahasan bab isi.
Beberapa masalah tersebut antara lain :
Apa pengertian toleransi?
Apa yang dimaksud dengan trilogi kerukunan umat beragama ?
Bagaimana kerukunan umat beragama di Indonesia ?
Apa saja landasan hukum yang di gunakan ?
Bagaimana upaya mewujudkan kerukunan beragama ?
C.

TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dalam


penulisan makalah ini sebagai berikut
Dapat mengetahui pengertian toleransi.
Dapat mengetahui makna dari trilogi kerukunan umat
beragama secara terperinci
Dapat mengetahui kerukanan umat beragama di Indonesia
Dapat mengetahui landasan hukum yang di gunakan
Dapat memahami bagaimana upaya mewujudkan kerukunan
beragama

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian Toleransi

Toleransi berasal dari kata Tolerare yang berasal dari bahasa


latin yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Jadi
pengertian toleransi secara luas adalah suatu sikap atau
perilakumanusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana
seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang
orang lain lakukan. Toleransi juga dapat dikatakan istilah dalam
konteks sosial budaya dan agama yang berarti sikap dan
perbuatan yang melarang adanya deskriminasi terhadap
kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima
oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah
toleransi beragama dimana penganut mayoritas dalam suatu
masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya.
Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi
kelompok yang lebih luas , misalnya partai politik, orientasi
seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi
dan kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi baik dari kaum
liberal maupun konservatif. Jadi toleransi antar umat beragama
berarti suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan
mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai
manusia yang beragama lain.

Dalam masyarakat berdasarkan pancasila terutama sila


pertama, bertaqwa kepada tuhan menurut agama dan
kepercayaan masing-masing adalah mutlak. Semua agama
menghargai manusia maka dari itu semua umat beragama juga
wajib saling menghargai. Dengan demikian antar umat
beragama yang berlainan akan terbina kerukunan hidup.
Sebagaimana dalam konsep hidup beragama mencakup tiga
kerukunan, yakni: Kerukunan intern umat beragama, Kerukunan
antar umat beragama dan, Kerukunan antara umat beragama
dengan Pemerintah. Hal ini harus dihormati, ditaati dan
dijalankan dengan kecerdasan hati, bukan dengan kekuatan
otot bahkan dengan cara anarkis.

Kerukunan umat beragama adalah hal yang sangat penting


untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup di negeri ini.
Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki keragaman yang
begitu banyak. Tak hanya masalah adat istiadat atau budaya
seni, tapi juga termasuk agama.

Walau mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam,


ada beberapa agama lain yang juga dianut penduduk ini.
Kristen, Khatilik, Hindu, dan Budha adalah contoh agama yang
juga banyak dipeluk oleh warga Indonesia. Setiap agama tentu
punya aturan masing-masing dalam beribadah. Namun
perbedaan ini bukanlah alasan untuk berpecah belah. Sebagai
satu saudara dalam tanah air yang sama, kita harus menjaga
kerukunan umat beragama di Indonesia agar negara ini tetap
menjadi satu kesatuan yang utuh.

Persamaan Membangun Kerukunan Antar Umat Beragama.


Tidak bisa dibantah bahwa pada akhir-akhir ini, ketidak rukunan
antar dan antara umat beragama (yang terpicu karena
bangkitnya fanatisme keagamaan) menghasilkan berbagai

ketidak harmonisan di tengah-tengah hidup dan kehidupan


berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Oleh sebab itu,
perlu orang-orang yang menunjukkan diri sebagai manusia
beriman (dan beragama) dengan taat, namun berwawasan
terbuka, toleran, rukun dengan mereka yang berbeda agama.

Disinilah letak salah satu peran umat beragama dalam rangka


hubungan antar umat beragama, yaitu mampu beriman
dengan setia dan sungguh-sungguh, sekaligus tidak
menunjukkan fanatik agama dan fanatisme keagamaan. Di
balik aspek perkembangan agama-agama, ada hal yang
penting pada agama yang tak berubah, yaitu credo atau
pengakuan iman. Credo merupakan sesuatu khas, dan mungkin
tidak bisa dijelaskan secara logika, karena menyangkut iman
atau percaya kepada sesuatu di luar jangkauan kemampuan
nalar manusia. Dan seringkali credo tersebut menjadikan umat
agama-agama melakukan pembedaan satu sama lain. Dari
pembedaan, karena berbagai sebab, bisa berkembang menjadi
pemisahan, salah pengertian, beda persepsi, dan lain
sebagainya, kemudian berujung pada konflik.

Di samping itu, hal-hal lain seperti pembangunan tempat


ibadah, ikon-ikon atau lambang keagamaan, cara dan suasana
penyembahan atau ibadah, termasuk di dalamnya perayaan
keagamaan, seringkali menjadi faktor ketidaknyamanan pada
hubungan antar umat beragama. Jika semua bentuk
pembedaan serta ketidaknyamanan itu dipelihara dan dibiarkan
oleh masing-masing tokoh dan umat beragama, maka akan
merusak hubungan antar manusia, kemudian merasuk ke
berbagai aspek hidup dan kehidupan. Misalnya, masyarakat
mudah terjerumus ke dalam pertikaian berdasarkan agama (di
samping perbedaan suku, ras dan golongan). Untuk mencegah
semuanya itu, salah satu langkah yang penting dan harus
terjadi adalah kerukunan umat beragama. Suatu bentuk

kegiatan yang harus dilakukan oleh semua pemimpin dan umat


beragama.

Toleransi sendiri terbagi atas tiga yaitu :


Negatif
Isi ajaran dan penganutnya tidak dihargai. Isi ajaran dan
penganutnya hanya dibiarkan saja karena menguntungkan
dalam keadaan terpaksa.Contoh PKI atau orang-orang yang
beraliran komunis di Indonesia pada zamanIndonesia baru
merdeka.

Positif
Isi ajaran ditolak, tetapi penganutnya diterima serta
dihargai.Contoh Anda beragama Islam wajib hukumnya
menolak ajaran agama lain didasari oleh keyakinan pada ajaran
agama Anda, tetapi penganutnya atau manusianya Anda
hargai.

Ekumenis
Isi ajaran serta penganutnya dihargai, karena dalam ajaran
mereka itu terdapat unsur-unsur kebenaran yang berguna
untuk memperdalam pendirian dan kepercayaan sendiri.Contoh
Anda dengan teman Anda sama-sama beragama Islam atau
Kristen tetapi berbeda aliran atau paham. Dalam kehidupan
beragama sikap toleransi ini sangatlah dibutuhkan, karena
dengan sikap toleransi ini kehidupan antar umat beragama
dapat tetap berlangsung dengan tetap saling menghargai dan
memelihara hak dan kewajiban masing-masing.

Mengingat pentingnya toleransi, maka ia harus diajarkan


kepada anak-anak baik dilingkungan formal maupun lingkungan

informal. Di lingkungan formal contohnya siswa dapat dibekali


tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan kerukunan umat
beragama melalui bidang studi Agama, Kewarganegaraan,
ataupun melalui aspek pengembangan diri seperti Pramuka,
PMR, OSIS, dll. Hal yang sama dapat juga dilakukan di
lingkungan informal oleh orang tua kepada anak-anaknya
melalui pengajaran nilai-nilai yang diajarkan sedini mungkin di
rumah.
Ada beberapa manfaat yang akan kita dapatkan dengan
menanamkan sikap toleransi, manfaat tersebut adalah:
Hidup bermasyarakat akan lebih tentram
Persatuan, bangsa Indonesia, akan terwujud
Pembangunan Negara akan lebih mudah

B.

Trilogi Kerukunan umat Beragama

Hidup di era sekarang ini masyarakat dihadapkan pada kondisi


kehidupan yang serba majemuk dalam segala bidang
kehidupan. Semua keberanekaragaman ada dalam bidang
politik, sosial, dan budaya. Dalam berpolitik misalnya adanya
perbedaan partai, perbedaan sudut pandang dalam isu-isu
nasional, maupun perbedaan falsafah dan ideologi yang dianut
oleh masing-masing orang meskipun, di Indonesia sendiri
sudah ada ideologi pemersatu yakni pancasila. Sedangkan
dalam bidang sosial dan budaya adalah adanya perbedaan
suku, etnik, adat-istiadat, norma, termasuk agama yang
masing-masing dianut oleh warga negara Indonesia.
Kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi dewasa ini
semakin mempercepat arus interaksi antara satu dengan yang
lainnya sehingga keberagaman pun tidak hanya dalam lingkup
terbatas disekitar tempat tinggal akan tetapi juga dalam
interaksi dengan orang lain pada media cetak maupun
elektronik yang sekarang ini maju seperti jejaring sosial misal
facebook dan twiter juga email account. Meskipun hanya

melalui jejaring sosial, terkadang bisa timbul kekisruhan,


percecokan dan saling lempar hujatan menjadi hal yang biasa.
Seolah-olah di dalam dunia maya etika, toleransi dan prinsip
hidup toleransi menjadi hal yang asing dan tidak berlaku.

Hal-hal tersebut diatas diperparah dengan adanya isu SARA


yang dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk men-teror dan
mengambil keuntungan dalam kekisruhan yang terjadi di
masyarakat. Hal ini sangat berbahaya dan mengancam
terbentuknya kebhinekaan yang telah terjalin bertahun-tahun
lamanya bersemayam di tanah air kita tercinta Indonesia.
Maka, hendaknyalah masyarakat mau kembali kepada ideologi
pancasila dan kembali mengenal trilogi kerukunan antar umat
beragama. Inilah yang mampu menjadi solusi untuk meredam
konflik yang tengah terjadi dalam kehidupan berbangsa
sekarang ini.

Dalam setiap jenjang pendidikan, selalu dikenalkan adanya


trilogi kerukunan umat beragama yang harus dijunjung oleh
masing-masing warga negara Indonesia guna terbentuknya
kerukunan, kedamaian, dan terciptanya stabilitas nasional.
Trilogi kerukunan umat beragama itu antara lain adalah:
Kerukunan intern umat beragama.
Kerukunan antar umat beragama.
Kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah.

Hal-hal tersebut diataslah yang menjadi nilai-nilai yang bisa


diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta
kehidupan bermasyarakat yang madani, aman dan sejahtera.

Kerukunan intern umat beragama berarti adanya kesepahaman


dan kesatuan untuk melakukan amalan dan ajaran agama yang
dipeluk dengan menghormati adanya perbedaan yang masih
bisa ditolerir.
BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan

Kerukunan hidup umat beragama yang diharapkan adalah


kerukunan antar para pemeluk agama dalam semangat saling
mengerti, memahami antara satu dengan yang lainnya.
Dengan kata lain secara bahasa mengerti artinya memahami,
tahu tentang sesuatu hal, dapat diartikan mengerti keadaan
orang lain, tahu serta paham mengenai masalah-masalah sosial
kemasyarakatan, sehingga dapat merasakan apa yang orang
lain rasakan.
Dengan semangat saling mengerti, memahami, dan tenggang
rasa- maka akan menumbuhkan sikap dan rasa berempati
kepada siapa pun yang sedang mengalami kesulitan dan dapat
memahami bila berada di posisi orang lain. Sehingga akan
terwujud dan terpelihara kerukunan antar umat beragama.

B.
Saran
Agar kerukunan hidup umat beragama dapat terwujud dan
senantiasa terpelihara, perlu memperhatikan upaya-upaya
yang mendorong terjadinya kerukunan secara mantap dalam
bentuk memperkuat dasar-dasar kerukunan internal dan antar
umat beragama, serta antar umat beragama dengan
pemerintah.

Contoh dari Lukas 10:29-37

Menjelaskan tentang kasih kepada Tuhan, sebagai yang


mendasari kasih kepada sesama, Yesus kemudian menjelaskan
perumpamaan Orang Samaria yang baik hati, yang
menjelaskan siapakah sebenarnya sesama kita dan
bagaimana sesungguhnya kita harus mengasihinya, bahkan
jika ia adalah musuh kita.
St. Agustinus (De verbis Domini sermones, 37), seperti juga
para Bapa Gereja yang lain, mengidentifikasikan orang Samaria
itu sebagai Yesus dan orang yang dirampok itu sebagai Adam
yang mewakili kita semua manusia yang berdosa. Karena belas
kasihan-Nya, Kristus datang ke dunia, untuk menyembuhkan
luka-luka manusia akibat dosa (Is 53:4, Mat 8:17, 1 Pet 2:24, 1
Yoh 3:5). Yesus memang sangat berbelas kasihan kepada
manusia yang menderita (lih. Mat 9: 36, Mrk 1:41, Luk 7:13).
Rasul Yohanes mengatakan, Dalam hal inilah kasih Allah
dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah
mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita
hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah
mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan
yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-

dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah


sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling
mengasihi. (1 Yoh 4: 9-11)
Maka di sini kita mengetahui bahwa sesama kita adalah
siapapun juga, tanpa pembedaan dari suku apa atau agama
apa, yang memerlukan bantuan kita. Dan kasih ini bukan
terlihat dari bagaimana kita mengasihinya, seperti merasa
kasihan, atau mempunyai perasaan simpati; tetapi kita harus
berani melakukan sesuatu yang nyata, yaitu untuk melayani
mereka, membantu meringankan beban mereka yang
membutuhkan bantuan.
Jadi kita umat beriman harus mempunyai kasih yang semacam
ini, yang peduli kepada kebutuhan orang lain, terutama jika kita
sudah diberkati oleh Tuhan. Salah satu cara untuk menyatakan
kasih kepada sesama adalah dengan melakukan perbuatanperbuatan belas kasihan, yang semuanya ada empat belas
macam: tujuh hal secara rohani; dan tujuh hal lainnya secara
jasmani. Perbuatan kasih secara rohani yang dapat kita lakukan
kepada sesama kita yang membutuhkan adalah: untuk
membantu mereka kepada pertobatan, untuk mengajar mereka
yang tidak tahu, untuk membantu menguatkan mereka yang
ragu-ragu, untuk menghibur mereka yang berduka, untuk
dengan sabar menerima kesalahan/ kekurangan orang lain,
untuk mengampuni kesalahan, dan untuk mendoakan mereka
yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sedangkan
tujuh perbuatan kasih secara jasmani adalah: memberi makan
mereka yang kelaparan, memberi minum untuk mereka yang
haus, memberikan pakaian kepada mereka yang telanjang,
memberikan tumpangan tempat tinggal kepada mereka yang
tidak punya rumah, mengunjungi mereka yang sakit,
mengunjungi mereka yang ada di dalam penjara, dan
menguburkan orang yang meninggal dunia. Di antara
perbuatan kasih yang menyangkut rohani dan jasmani ini, tentu
yang rohani mempunyai tempat yang lebih utama, walaupun
yang jasmani juga bukannya tidak penting. Sebab perbuatan

kasih yang menyangkut rohani ini berkaitan dengan membawa


seseorang kepada keselamatan.