Anda di halaman 1dari 9

KISI-KISI SOAL HOTS ( HIGH ORDER THINKING SKILLS )

Mata Pelajaran

: Geograf

Kelas/Semester

: X/1

NO

KOMPETENSI DASAR

MATERI

3.3. Menganalisis dinamika


planet bumi sebagai ruang
kehidupan

Diberikan tabel cirri-ciri planet

Peserta didik dapat menganalsis


kemungkinan suatu planet untuk dapat
ditinggai manusia

3.4. Menganalisis hubungan


antara manusia dengan
lingkungan sebagai akibat
dari dinamika litosfer

Kelayakan
planet bumi
untuk
kehidupan
Pengaruh
vulkanisme
terhadap
kehidupan

Diberikan peta lempeng dunia

3.5. Menganalisis hubungan


antara manusia dengan
lingkungan sebagai akibat
dari dinamika atmosfera
3.6. Menganalisis hubungan
antara manusia dengan
lingkungan sebagai akibat
dari dinamika hidrosfera

Dampak
perubahan
iklim global
Pemanfaatan
dan
pelestarian
perairan
darat dalam
unit Daerah
Aliran
Sungai
(DAS)

STIMULUS

INDIKATOR

NOMOR
SOAL

BENTUK

KELAS

SOAL
Essai

Peserta didik dapat menganalisis


tentang terjadinya/munculnya
gunungapi di suatu wilayah

Essai

Diberikan gambar tentang efek


rumah kaca

Peserta didik dapat menganalsis tenang


penyebab dan akibat adanya efek
rumah kaca

Essai

Diberikan artikel tentang Daerah


Aliran Sungai

Peserta didik dapat menganalisis


manfaat DAS bagi kehidupan

Essai

1. Bumi adalah planet tempat manusia hidup. Secara umum, kita meyakini bahwa sampai sekearang orang berpendapat manusia hanya terdapat di bumi.
Bumi merupakan planet ketiga dari matahari. Selain bumi, masih banyak planet lain di tata surya.
Jono dan Mario sedang berdiskusi tentang kemungkinan manusia dapat tinggal di planet lain. Guru geografi memberi mereka data tentang Bumi dan
sebuah planet imajiner bernama Athena. Data tersebut ada pada table berikut:
Kondisi Atmosfer

Jarak dari matahari


Rotasi pada sumbunya
Revolusi terhadap matahari

Bumi
21% oksigen
0.03% karbon dioksida
78% nitrogen
Terdapat lapisan ozon
148,640,000 km
1 hari
365 1/4 hari

Athena
10% oksigen
80% karbon dioksida
5% nitrogen
Tidak ada lapisan ozon
103,600,000 km
200 hari
200 hari

Tuliskan salah satu alas an penting mengapa manusia akan sulit untuk dapat tinggal di Athena!
Jawaban: Jawabannya harus mencakup bahwa itu akan menjadi terlalu panas di Athena karena efek rumah kaca yang disebabkan oleh tingginya
persentase karbon dioksida

2. Panas dari internal bumi akan bergerak ke atas dan akan menimbulkan arus konveksi. Hal ini akan menimbulkan bergeraknya lempeng. Arus ini akan
membentuk simpul raksasa yang akan mengganti kerak lama dengan kerak baru. Keluarnya lava dari punggung laut akan mendingin menghasilkan
kerak samudera yang baru. Oleh sebab itu terbentuklah zona subduksi dimana kerak lama dilipat ke bawah kea rah mantel. Di daerah inilah sering
terdapat jalur gunung api
Perhatikan gambar berikut ini!
A. Menurut anda, dimana sajakah letak gunungapi yang ada di gambar tsb?
B. Tandailah letak gunung api tersebut!
C. Mengapa gunung api dapat terjadi di tempat tersebut?
Jawaban:
A. Terletak di zona pertemuan antar lempeng bumi yang disebut zona subduksi yang mana
lempeng satu menghujam di bawah lempeng lainnya.
B.

C. Karena di zona tersebut terjadi akumulasi magma yang akan dikeluarkan ke permukaan bumi sehingga terbentuklah gunung api

3. Pemanasan gloal merupakan isu lingkungan yang paling banyak mendapat sorotan dalam decade ini. Pengaruh pemanasan global adalah diantaranya
adalah perubahan iklim, naiknya permukaan air laut, serta naiknya suhu permukaan bumi dan lain sebagainya. Salah satu penyebab pemanasan global
adalah efek rumah kaca akibat pencemaran udara.

Perhatikan gambar berikut!

A.
B.
C.
D.

Apakah yang dimaksud dengan Efek Rumah Kaca (ERK) dan penyebabnya?
Apakah Efek Rumah Kaca merupakan proses alami?
Apa buktinya bahwa Efek Rumah Kaca itu benar-benar terjadi ?
Apa sajakah yang termasuk dalam kelompok Gas Rumah Kaca?

Jawaban:
A. Efek Rumah Kaca dapat divisualisasikan sebagai sebuah proses. Pada kenyataannya, di lapisan atmosfer terdapat selimut gas. Rumah kaca adalah
analogi atas bumi yang dikelilingi gelas kaca. Nah, panas matahari masuk ke bumi dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi gelombang
pendek. Sebagian diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang. Namun, panas yang
seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh permukaan gelas kaca dan terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam
rumah kaca di pertanian dan perkebunan, gelas kaca memang berfungsi menahan panas untuk menghangatkan rumah kaca.
Masalah timbul ketika aktivitas manusia menyebabkan peningkatan konsentrasi selimut gas di atmosfer (Gas Rumah Kaca) sehingga melebihi
konsentrasi yang seharusnya. Maka, panas matahari yang tidak dapat dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula. Semua proses itulah yang
disebut Efek Rumah Kaca. Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dampak dari Efek Rumah Kaca.
B. Ya! Efek Rumah Kaca terjadi alami karena memungkinkan kelangsungan hidup semua makhluk di bumi. Tanpa adanya Gas Rumah Kaca, seperti
karbon dioksida (CO2), metana (CH4), atau dinitro oksida (N2O), suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius lebih dingin. Sejak awal jaman
industrialisasi, awal akhir abad ke-17, konsentrasi Gas Rumah Kaca meningkat drastis. Diperkirakan tahun 1880 temperatur rata-rata bumi
meningkat 0.5 0.6 derajat Celcius akibat emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia.
C. Melalui beberapa bukti berikut:

Pertama, berdasarkan ilmu fisika, beberapa gas mempunyai kemampuan untuk menahan panas. Tak ada yang patut diragukan dari pernyataan
ini.
Kedua, pengukuran yang dilakukan sejak tahun 1950-an menunjukkan tingkat konsentrasi Gas Rumah Kaca meningkat secara tetap, dan
peningkatan ini berhubungan dengan emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan industri dan berbagai aktivitas manusia lainnya.
Ketiga, penelitian menunjukkan udara yang terperangkap di dalam gunung es telah berusia 250 ribu tahun . Artinya: Konsentrasi Gas Rumah
Kaca di udara berbeda-beda di masa lalu dan masa kini. Perbedaan ini menunjukkan adanya perubahan temperatur. Konsentrasi Gas Rumah
Kaca terbukti meningkat sejak masa pra industri.

D. Yang termasuk dalam kelompok Gas Rumah Kaca adalah karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC),
perfluorokarbon (PFC), sampai sulfur heksafluorida (SF6). Jenis GRK yang memberikan sumbangan paling besar bagi emisi gas rumah kaca adalah
karbondioksida, metana, dan dinitro oksida. Sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) di sektor
energy
dan
transport,
penggundulan
hutan,
dan
pertanian.
Sementara,
untuk
gas
rumah
kac a lainnya (HFC, PFC, SF6 ) hanya menyumbang kurang dari 1%

4. Kunjungan Menteri Lingkungan Hidup ke Hulu DAS Ciliwung.

Bogor, 20 Januari 2014. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melakukan kunjungan lapangan ke hulu sungai Ciliwung di Desa Tugu Utara,
Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor dan pintu air Katulampa Bogor, yang dihadiri secara langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr.
Balthasar Kambuaya. Kunjungan ke hulu sungai Ciliwung ini dalam rangka menyikapi perkembangan banjir dan longsor khususnya di DAS Ciliwung
yang berdampak ke daerah hilir di Jakarta dan juga merupakan fenomena banjir longsor yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia sebagai bentuk
kerusakan ekologis. Sebagian daerah hulu sungai merupakan daerah resapan air telah banyak beralih fungsi sehingga perlu upaya pengendaliannya.
Upaya pemerintah daerah melakukan pembongkaran bangunan di Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan dalam rangka menegakkan peraturan daerah
tentang tata ruang yang juga telah mempertimbangkan aspek lingkungan.
Banjir yang terjadi di bulan Januari 2014 ini merupakan pengaruh Monsoon Asia yang terkonsentrasi di wilayah Jakarta dan sebagian wilayah
Jawa Barat dengan curah hujan yang cukup lebat secara bersamaan mulai dari hulu sungai Ciliwung hingga hilir yang disertai dengan air laut pasang.
Jika dibandingkan dengan banjir tahun 2007 yang lalu, curah hujan 2014 ini tidak lebih 300 mm, namun karena perubahan tata ruang yang meningkat
pesat baik di kawasan hulu, tengah maupun hilir terutama untuk pemukiman.
Kecenderungan laju kerusakan ekologis atau degradasi lingkungan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan. Hal ini dapat terlihat dari
penurunan luas tutupan hutan di Indonesia dari 49.37 % pada tahun 2008 menjadi 47.73 % pada tahun 2012, atau mengalami laju degradasi lingkungan
sebesar 1.64 % dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Di DAS Ciliwung sendiri juga sangat memprihatinkan, yang tercermin dari penurunan luas tutupan
hutan dari 9.4 % pada tahun 2000 menjadi 2.3 % pada tahun 2010, atau mengalami laju degradasi lingkungan sebesar 7.14 % dalam kurun waktu 10
tahun terakhir (0.7 % per tahun).
Kerusakan ekologis di Daerah Aliran Sungai Ciliwung yang terjadi saat ini, seperti meningkatnya lahan kritis dengan tingkat erosi dan
sedimentasi yang tinggi, fluktuasi debit yang tinggi antara musim kemarau dan penghujan, merupakan salah satu faktor penyebab kejadian banjir di
daerah DKI Jakarta dan tanah longsor di beberapa daerah hulu DAS Ciliwung. Ini menandakan DAS Ciliwung semakin tidak sehat dengan perbedaan
debit air musim kemarau dan musim penghujan lebih dari 300 kali lipat. Semua ini terjadi karena salah manusia, perilaku manusia yang tidak ramah
lingkungan seperti tidak peduli kepada lingkungan khususnya di Sungai Ciliwung, dimana sampah banyak yang dibuang langsung ke sungai, diperparah

limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai. Semua hal tersebut menjadikan beban yang harus ditanggung oleh DAS Ciliwung semakin berat, kalau
tidak didukung dengan perencanaan tata ruang yang baik dan sinergis antara hulu dengan hilir.
Sementara itu, berdasarkan data hasil pemantauan kualitas air yang dilakukan oleh Pusarpedal pada tahun 2012, kondisi kualitas air Sungai
Ciliwung sampai dengan saat ini berada pada kondisi tercemar berat (berdasarkan indek storet, dengan batas cemar berat adalah -30), mulai dari Masjid
Attaawun di hulu DAS Ciliwung (nilai -66) sampai di PIK yang merupakan hilir DAS Ciliwung (nilai -102). Hasil kajian terhadap daya tampung beban
pencemaran air di Sungai Ciliwung juga menunjukkan bahwa beban pencemaran terbesar pada seluruh segmen adalah beban pencemar limbah domestik
berkisar antara 57,0% 85,4%, kedua adalah limbah industri berkisar antara 8,1% 31,4%, dan ketiga adalah limbah peternakan 0,4% 19,9% (Profil
Sungai Ciliwung, 2012).
Pantauan status ketinggian muka air sungai di Bendungan Katulampa menjadi sangat penting sebagai salah satu indikator kesiap-siagaan bagi
masyarakat di DKI Jakarta dan sekitarnya untuk waspada terhadap bencana banjir, apabila ketinggian airnya sudah melewati batas normal. Kategorisasi
status di Bendungan Katulampa Bogor adalah sebagai berikut: Kondisi Normal bila ketinggian air antara 0-80 cm, Siaga IV bila ketinggian air antara
80-170 cm, Siaga III bila ketinggian air antara 170-240 cm, Siaga II bila ketinggian air antara 240-300 cm, dan Siaga I bila ketinggian air >300 cm.
Dengan perkiraan waktu tempuh 6-7 jam dari Bendungan Katulampa Bogor ke DKI Jakarta, maka dengan adanya informasi status siaga banjir,
diharapkan masyarakat dapat meningkatkan upaya kesiap-siagaannya terhadap banjir yang tinggal di bantaran sungai Ciliwung di DKI Jakarta.
Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup memandang bahwa banjir di Indonesia dan banjir sungai Ciliwung saat ini merupakan
bencana ekologis dan menyarankan penyelesaian banjir didasarkan atas konsep One River, One Ecosystem, One Management sebagai suatu rencana
dan pelaksanaan pengelolaan terpadu hulu dan hilir dengan dukungan kerjasama sinergi antar pemangku kepentingan dan tidak parsial.
Solusi jangka menengah, selain rehabilitasi kawasan hulu, penegakan hukum juga harus ditingkatkan dalam rangka perlindungan kawasan
lindung untuk hidrologi. Sedangkan solusi jangka panjang harus dapat mewujudkan komitmen pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan,
penertiban tata ruang, peningkatan partisipasi masyarakat, serta penegakan hukum. Untuk DAS Ciliwung telah tertuang dalam Rancangan Peraturan
Presiden tentang Penetapan Kelas Air serta terkait pemulihan kualitas lingkungan DAS Ciliwung dan telah disepakati K/L dan daerah.
(Sumber: http://www.menlh.go.id/kunjungan-menteri-lingkungan-hidup-ke-hulu-das-ciliwung/)

Setelah membaca artikel di atas, jawablah pertanyaan berikut ini!


A. Apa pentingnya DAS bagi kehidupan manusia?
B. Mengapa kita harus menjaga kelestarian DAS?

C. Apa saja tahapan-tahapan dalam pengelolaan DAS?

Jawaban:
A. Pentingnya asas keterpaduan dalam pengelolaan DAS erat kaitannya dengan pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan DAS, yaitu pendekatan
ekosistem. Ekosistem DAS merupakan sistem yang kompleks karena melibatkan berbagai komponen biogeofisik dan sosial ekonomi dan budaya
yang saling berinteraksi satu dengan lainnya. Kompleksitas ekosistem DAS mempersyaratkan suatu pendekatan pengelolaan yang bersifat multisektor, lintas daerah, termasuk kelembagaan dengan kepentingan masing-masing serta mempertim- bangkan prinsipprinsip saling ketergantunga n.
Hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengelolaan DAS :
a. Terdapat keterkaitan antara berbagai kegiatan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pembinaan aktivitas manusia dalam pemanfaatan
sumberdaya alam.
b. Melibatkan berbagai disiplin ilmu dan mencakup berbagai kegiatan yang tidak selalu saling mendukung.
c. Meliputi daerah hulu, tengah, dan hilir yang mempunyai keterkaitan biofisik dalam bentuk daur hidrologi

B. Karena

DAS merupakan merupakan suatu sistem yang didalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Jika salah satu
komponen mengalami gangguan maka akan berakibat pada menurunnya fungsi DAS tersebut. DAS berfungsi sebagai penghasil air baik untuk
sungai maupun air tanah. Indonesia merupakan negara yang di setiap pulau memiliki DAS yang beranekaragam. Saat ini pengelolaan DAS menjadi
masalah yang harus segera diatasi, khususnya di daerah yang padat penduduknya. DAS merupakan salah satu sumber air bagi masyarakat di daerah
perkotaan. Akhir-akhir ini di berita kita sering melihat bencana banjir yang melanda kota-kota di Indonesia yang salah satunya diakibatkan oleh
kerusakan lingkungan DAS baik di daerah hulu maupun hilir.

C. Tahapan pertama : penilaian kerentanan dan analisis risiko iklim untuk menjustifikasi pentingnya mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam
pengelolaan sumber daya air terpadu.
Tahapan kedua: berfokus pada pembangunan visi dan tujuan bersama para pemangku kepentingan untuk merancang aksi pengelolaan DAS
Citarum.
Tahapan ketiga: mengembangkan sistem pendukung untuk mendorong inisiatif berbagai pihak melaksanakan kegiatan nyata lapangan.
Tahapan keempat : integrasi berbagai inisiatif dalam pengelolaan kolaboratif berbasis komunitas/masyarakat ke dalam rencana pembangunan
daerah.

Tahap kelima: mengembangkan upaya monitoring dan evaluasi.