Anda di halaman 1dari 18

USAHA BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA DAN ANEKA UMBI

DENGAN KOMBINASI TEKNIK BUDIDAYA HIDROPONIK DAN


SISTEM PERTANIAN YANG BERKELANJUTAN

Disusun sebagai Salah Satu Syarat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Manajemen Usaha Pertanian Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Jember

Oleh:
Kelompok 4
1. Sheka Panji P.

(141510501016)

2. Zupri Nur C.

(141510501021)

3. Matria Pamungkas

(141510501040)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKUTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

I.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikategorikan negara yang


memiliki luas wilayah yang luas, apabila dibanding den gan negara lain didunia.
Tingkat kepadatan penduduk Indonesia juga termasuk dalam kategori tinggi.
Berdasarkan data dari World Population Data Sheet (2003). Indonesia merupakan
salah satu negara dengan penduduk terbesar keempat didunia. Jumlah penduduk
Indonesia yang tercatat saat itu ialah 220,5 juta jiwa dan diperkirakan akan
mencapai angka 265 juta jiwa ditahun 2025. Pertambahan populasi ini menuntut
adanya penambahan sektor usaha sebagai penyerap tenaga kerja, sehingga
masyarakat dapat tetap memenuhi kebutuhannya.
Kegiatan kewirausahaan merupakan salah satu terobosan yang mungkin
dapat diambil masyarakat demi pemenuhan tingkat kebutuhan akan mata
pencaharian. Kegiatan wirausaha (Kewirausahaan) membutuhkan 4 faktor
produksi yang dikombinasikan yaitu land, labour, capital, dan skill. Pelaku usaha
atau wirausahawan haruslah memiliki sifat kreatif, inovatif, originalitas,
keberanian mengambil resiko, orientasinya prestasi, tahan pengujian, tekun,
pantang menyrah, semangat tinggi, disiplin, serta teguh dalam pendirian
(Sumarsono dalam Saaada dan Wismandanikung, 2012).
Kewirausahaan yang digeluti dapat berupa bidang perniagaan hingga
pertanian. Indonesia dengan jenis wilayah tropis, menjadikan sektor pertanian
banyak dilirik para pelaku wirausaha. Pertanian merupakan sektor dengan
pekerjaan yang mampu menjajikan penghasilan yang tinggi pada pelaku usaha
yang mampu memanajemen dan mengetahui pangsa pasar yang ada. Akan tetapi
pertanian sering dianggap sebagai pekerjaan dengan banyak resiko dan tantangan.
Kemampuan manajemen yang mampu merancang sebuah rencana bisnis pertanian
yang berkelanjutan menjadi kunci utama untuk menghadapi resiko dan tantangan
yang ada.
Kegiatan pertanian yang berpegang hanya pada kebutuhan pasar sementara
tanpa

memperhatikan

prospek

usaha

kedepannya

akan

mengakibatkan

terkendalanya program pemerintah yakni keberlanjutan pertanian Indonesia baik

dari segi ekonomi, sosial maupun lingkungan. Perencanaan bisnis atau Buisnes
Plan menjadi suatu hal yang wajib ada sebelum memulai kegiatan wirausaha.
Buisnes Plan merupakan salah satu bagian dari kegiatan manajemen usaha
pertanian.

II.

PETA USAHA

A. Lokasi Usaha Budidaya


Desa Jugo, Kecamatan
Kesamben, Kabupaten Blitar,
Provinsi Jawa Timur
B. Sumber : Google Earth
Lokasi Usaha budidaya
tersebut terletak Dusun Jugo,
RT 06, RW 03, Desa Jugo,
Kecamatan
Kabupaten

Kesamben,
Blitar,

Provinsi

Jawa Timur. Lokasi terletak


pada ketinggian 700 mdpl, serta
memiliki luas 10 hektar. Alasan
memilih lokasi tersebut karena
memiliki ketinggian topografi
yang

mendukung

pertumbuhan

untuk
dan

perkembangan sayuran secara maksimal, kemudian memiliki lokasi yang landai,


sumber air yang dekat dan sangat memadai untuk kegiatan budidaya hidroponik,
kemudian akses transportasi sangat memadai serta jarak ke pasar local hanya 2 km
kemudian jarak untuk pasar induk sekitar 6 km serta jarak dengan pusat kota
hanya 20 km. Faktor-faktor tersebut sangat tepat apabila digunakan sebagai lokasi
usaha tani budidaya pertanian secara hidroponik.

B. Denah Lokasi Usaha Tani Budidaya Hidroponik

Gambar 2. Denah Lokasi Usaha Tani Budidaya Hidroponik


Sumber : Kelompok 4
Keterangan
Luas Lahan
Ketinggian Lokasi
Alamat Lokasi
Rincian lokasi

:
: 10 Ha
: 700 mdpl
: Dusun Jugo, RT 06, RW 03, Desa Jugo, Kecamatan
Kesamben, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur.
: Lahan pembesaran 1 untuk kubis, lahan pembesaran 2
untuk wortel, lahan pembesaran 3 untuk brokoli, lahan
pembesaran 4 untuk selada, lahan pembesaran 5 untuk
lobak serta untuk tanaman singkong ditanaman
dipinggiran lahan dan juga sebagai tanaman pagar.

Lokasi penempatan ruangan dan lahan budidaya juga sangat diperhatikan.


Lokasi kantor berada didepan dan sangat strategis sehingga mudah diakses
darimana saja. Kemudian lokasi instalasi dan sarpras budidaya berdekatan dengan
lokasi laha perkecambahan, pembibitan serta lahan pembesaran sehingga apabila
terjadi kerusakan ataupun kondisi yang tidak sesuai untuk budidaya dapat segera
ditangani. Setelah itu lokasi sortasi dan gudangan berdekatan dengan kantor serta
lokasi pembesaran sehingga mudah untuk pengawasan dan pengkontrolan.
Lokaasi parker kendaraan perusahaan berada didepan dan akses sangat mudah ke
bagian gudang hal tersebut mempermudah pengangkutan untuk proses
pengiriman.

III. TINJAUAN PUSTAKA


Hidroponik merupakan sistem menanam tanaman dengan menggunakan
media

tanpa

tanah.

Pada

tanaman

mempunyai

pengaruh

lebih

baik

pertumbuhannya dalam mendapatkan nutrisi dari pada menggunakan media tanah.


Nutrisi untuk budidaya hidroponik dapat membuat sendiri atau mendapatkan dari
toko-toko pertanian yang menjual bahan-bahan untuk pertanian. Tanaman yang
dikembangkan dengan hidroponik memiliki keunggulan karena produk yang
dihasilkan sangat unggul dan berkualitas serta secara kuantitas tinggi (Wahome et
al., 2011).
Tanaman letus atau selada merupakan sayuran

daun

yang

berumur

semusim dan termasuk dalam famili compositae. Selada tumbuh baik di


dataran tinggi, pertumbuhan optimal di lahan subur yang banyak mengandung
humus,

pasir

atau lumpur.dengan

pH

tanah

5-6,5. Selada juga dapat

ditanamdengan teknik hidroponik sehingga mempermudah dalam pemantauan


maupun perawatan serta dapat dipanen kapanpun. Pemanenan dapat dilakukan
setelah tanaman berumur 2-3 bulan. Tanaman ini mampu berproduksi 15 ton/ha
bila kondisi tanaman baik (BPTP Jambi, 2009).
Wortel dan lobak merupakan tanaman subtropis dengan suhu yang cocok
untuk budidaya dikisaran (22-24 C), lembap, serta cukup sinar matahari. Wilayah
Indonesia memiliki kondisi demikian di ketinggian antara 1.000-1.500 m dpl.
Sekarang wortel dan lobak sudah dapat ditanam di daerah berketinggian 600 m
dpl.

Dianjurkan untuk

menanam wortel dan lobak pada tanah yang subur,

gembur dan kaya humus dengan pH antara 5,5-6,5. Tanah yang kurang subur
masih dapat ditanami wortel dan lobak asalkan dilakukan pemupukan intensif.
Kebanyakan tanah dataran tinggi di Indonesia mempunyai pH rendah. Bila
demikian, tanah perlu dikapur, karena tanah yang asam menghambat
perkembangan umbi. Tanaman wortel dan lobak termasuk sayuran bernilai
ekonomis penting di dunia. Produksi wortel telah menjadi salah satu mata
dagang komoditas pertanian antar negara. Peluang ekspor wortel antara lain
pasar Jepang. Sedangkan lobak masih kurang prosfektif dibandingkan dengan

wortel Prospek pengembangan budidaya wortel di Indonesia sangat cerah. Selain


keadaan agroklimatologi wilayah nusantara cocok untuk Wortel, juga akan
berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi
masyarakat, perluasan kesempatan kerja, pengembangan agrobisnis, pengurangan
impor dan peningkatan ekspor (Suyoko, 2008).
Tanaman kubis merupakan tanaman hortikultura di wilayah tropis
memiliki ciri fisik daun lebar berkelompok seperti bunga dan berbentuk bola serta
berwarna sedikit kehijauan. Tanaman ini dapat ditanam sepanjang tahun dapat
tumbuh serta berproduksi dengan baik pada ketinggian 800 mdpl hingga 1000
mdpl, curah hujan hujan cukup serta temperatur hawa 15 20 derajat celcius.
Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik dengan tekstur tanah yang gembur, mudah
atau sarang dan ph 6 6, 5 (Mujib, dkk., 2014).
Morfologi tanaman brokoli yaitu rmemiliki sistem perakaran yang dangkal
yaitu sekitar 20 cm hingga 30 cm menyebar ke samping. Batangnya berwarna
hijau, dan bulat. Sedangkan daunnya berbentuk oval dan tepi daunnya bergerigi,
berwarna hijau, agak keras, berlapis lilin dan tumbuh berselang-seling pada
batang tanaman. Syarat tumbuh tanaman brokoli adalah memiliki pH tanah 6-6,8.
Tanaman brokoli cocok ditanam pada ketinggian 1000 hingga 2000 m dpl dengan
curah hujan 1000 sampai dengan 1500 mm/tahun, dan kelembaban tanah 60
antara 100 % serta suhu sekitar 180C hingga 200C (Pinem, dkk., 2015).
Daerah yang cocok untuk penanaman selada yaitu daerah pada ketinggian
500-2.000 mdpl dengan suhu 15-20 C. Selada juga dapat tumbuh di dataran
rendah, tetapi krop atau daun yang terbentuk kurang baik. Tanaman selada peka
terhadap hujan, kelembapan tinggi, dan air yang menggenang. Kondisi tersebut
menyebabkan tanaman mudah terkena penyakit. Maka, waktu tanam yang paling
baik adalah pada saat musim kemarau dengan penyiraman cukup. Tanaman selada
juga memerlukan sinar matahari yang cukup, tidak banyak awan, serta
tempat terbuka. Selada dapat ditanam di berbagai jenis tanah. Namun,
pertumbuhan yang baik akan diperoleh bila ditanam pada tanah liat berpasir yang
cukup mengandung bahan organik, gembur dan tidak mudah tergenang air. Selada
tumbuh baik dengan pH tanah 6,06,8 (Restiani, dkk., 2015).

Tanaman hortikultura terbagi antara tanaman sayuran, tanama buah dan


juga tanaman bunga, untuk tanaman sayur serta tanaman buah apat ditanaman dan
dikembangkan dengan baik dengan metode budidaya tanaman secara hidroponik.
Teknik tanaman secara hidroponik memiliki keunggulan yang sangat baik seperti
watu panen yang dapat diatur, esiko terserang hama an penyakit yang sangat kecil,
kemudian untuk kebersihan atau kesterilan hasil produksi terjamin dan juga dapat
dijami secara gizinya. Buddidaya tanaman secara hidroponik untuk tanaman
hortikultura sangat direkomendasikan untuk diaplikasikan pada kondisi lahan
yang tidak memungkinkan untuk melakukan budidaya secara konfensional
(Restiani, dkk., 2015).
Tanaman singkong atau biasa dikenal dengan nama ubi kayu dapat
digunakan sebagai tanaman pagar dan penambat nitrogen bagi tanah. Tanaman ini
tergolong tanaman tropis denganketinggian antara 0-1500 mdpl dan iklim yang
sesuai, seperti tingkat curah hujan 750-1000 mm/tahun dan suhu antara 250C280C. Kondisi tanah yang dibutuhkan untuk menanam singkong haruslah
bertekstur berpasir hingga liat, tumbuh baik pada tanah lempung berpasir yang
cukup hara, mempunyai struktur gembur dan ph yang optimal 5,8. Singkong dapat
diapanen berkisar antara umur 11-12 bulan setelah tanam (LIPTAN, 1995).
Tanaman singkong dan umbi-umbian lainnya sering difungsikan unuk
lahan budidaya mengingat mudahnya tanaman jenis ini untuk tumbuh diberbagai
kondisi tanah dan cuaca. Meskipun tidak dipungkiri bahwa untuk skala produksi
kondisi

lingkungan

harus

sesuai

untuk

proses

pertumbuhan

dan

perkembangannya. Kegiatan budidaya tanaman hortikultura dan tanaman umbiumbian ini dirasa sangat berpotensi untuk pemenuhan kebutuhan. Baik secara
ekonomi maupun sosial.

IV. MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA

No.
1
2
3
4
5

9
10
11
12
13
14
15

16

17
18

Kegiatan
Pengadaan Sarana dan
Prasarana
Penataan Lokasi
Penanaman
Pengolahan Tanah Sekitar
Pembibitan Tanaman
Hortikultura
Penanaman Tanaman
Pagar Ubi dan Singkong
Pembuatan Media
Hidrponik Substrat dan
Non Substrat
Pemindahan dari
Penyemaian Ketempat
Penanaman
Perawatan dan
Pemeliharaan Tanaman
Hortikultura
Perawatan dan
Pemeliharaan Tanaman
Ubi Jalar
Pemanenan Tanaman
Hortikultura dan Ubi Jalar
Perawatan Singkong
Pemanenan Singkong
Evaluasi dan Perawatan
Peralatan
Pembibitan Tanaman
Hortikultura
Pembibitan Tanaman Ubi
Jalar
Pemindahan dari
Penyemaian Ketempat
Penanaman
Perawatan dan
Pemeliharaan Tanaman
Hortikultura
Perawatan dan

Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

19
20

Pemeliharaan Ubi Jalar


Pemanenan Tanaman
Hortikultura dan Ubi Jalar
Evaluasi dan Perawatan
Peralatan
Kebutuhan Tenaga kerja dalam Budidaya

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Kegiatan
Pengadaan Sarana dan Prasarana
Penataan Lokasi Penanaman
Pengolahan Tanah Sekitar
Pembibitan Tanaman Hortikultura
Penanaman Tanaman Pagar Ubi dan Singkong
Pembuatan Media Hidrponik Substrat dan Non
Substrat
Pemindahan dari Penyemaian Ketempat Penanaman
Perawatan dan Pemeliharaan Tanaman Hortikultura
Perawatan dan Pemeliharaan Tanaman Ubi Jalar
Pemanenan Tanaman Hortikultura dan Ubi Jalar
Perawatan Singkong
Pemanenan Singkong
Evaluasi dan Perawatan Peralatan
Pembibitan Tanaman Hortikultura
Pembibitan Tanaman Ubi Jalar
Pemindahan dari Penyemaian Ketempat Penanaman
Perawatan dan Pemeliharaan Tanaman Hortikultura
Perawatan dan Pemeliharaan Ubi Jalar
Pemanenan Tanaman Hortikultura dan Ubi Jalar
Evaluasi dan Perawatan Peralatan

Jumlah Tenaga
Kerja
4
4
4
2
2
3
4
2
2
4
2
4
4
2
2
4
2
2
4
4

V.

PEMBAHASAN

A. Rencana Usaha Budidaya


Budidaya

tanaman

merupakan

salah

satu

bentuk

dari

kegiatan

kewirausahaan dibidang pertanian. Lahan yang akan digunakan sebagai tempat


budidaya seluas 10 Ha. Rencana usaha yang akan dilaksanakan akan berfokus
pada komoditas hortikultura dan umbi-umbian. Komoditas yang akan ditanam
akan dipilih setelah pelaku usaha menganalisis kebutuhan pasar serta
mempertimbangkan segi keberlanjutan usaha melalui manajemen usaha pertanian.
Pasar yang dituju dalam kegiatan budidaya ini adalah pasar-pasar kalangan
menengah keatas, yaitu swalayan dan supermarket yang menjual aneka produk
pertanian segar.
Pada wilayah tanam seluas 10 Ha akan dibagi menjadi beberapa kelompok
budidaya yakni komoditas hortikultura dan umbi-umbian. Komoditas hortikultura
yang ditanam antara lain adalah brokoli,kubis,wortel,lobak,seledri, daun bawang ,
dan lektus. Sedangkan umbi umbian yang ditanam akan ebih berfokus pada ubi
jalar dan ketela pohon. Skala produksi yang ditawarkan adalah skala besar untuk
beberapa komoditas yang akan dipasarkan di seluruh wilayah Indonesia. Hal
tersebut dimaksudkan agar produsen mampu memenuhi kebutuhan pasar yang
beragam, sellain itu kecenderungan pemasok induk atau swalayan besar
cenderung memasok hasil panen dalam jumlah yang sedikit dengan variasi
kebutuhan yang beragam juga menjadi alasan mengapa komoditas yang ditanam
memiliki jenis yang beragam.
Sistem budidaya untuk komoditas hortikultura yang akan ditanam
menggunakan sistem hidroponik. Sistem budidaya hidroponik yang akan
dilakukan terdiri dari dua jenis yakni hidroponik substrat dan non-substrat.
Penggunaan sistem hidroponik bertujuan untuk memudahkan pengontrolan nutrisi
yang keluar, masuk serta diserap tanaman. Sistem hdroponik memiliki produk
yang terkenal bersih dan higenis secara penampilan apabila dibandingkan dengan
produk hortikultura non-hidroponik. Oleh sebab itu produk hasil budidaya dapat
dipasarkan dengan harga yang cukup tinggi sehngga menambah pendapatan

pelaku usaha. Selain itu sistem hidroponik dapat dijadikan sebagai investasi
jangka panjang melalui pertimbangan masa pakai dari seperangkat instalasi yang
ada. Hal ini menjadi salah satu kelebihan dari kegiatan budidaya hidroponik
mengingat masa pakai dari peralatan dapat diperhitungkan.
Komoditas yang ditanam adalah komoditas hortikultura, hal ini
diakarenakan komoditas hortikultura memiliki waktu untuk produksi lebih pendek
sehingga mampu menghasilkan perputaran nilai usaha yang cepat. Permintaan
pasar akan produk sayuran segar yang selalu meningkat seiring perubahan gaya
hidup masyarakat modern mendorong pelaku usaha untuk memilih melakoni
usaha budidaya dengan sistem hidroponik. Selain berbagai analisi pasar yang
digunakan peilihan komoditas hortikultura tersebut dikarenakan wilayah usaha
yang akan digunakan merupakan wilayah yang cocok untuk ditanami tanaman
hortikultura. Penanaman tanaman budidaya harus memperhatikan kondisi iklim,
tanah dan topografi berdaarkan peta agroekologi agar jumlah produksi yang
dihasilkan dapat optimal. Tanaman sayuran seperti lektus akan ditanam dengan
sistem hidroponik non substrat yakni dengan aliran nutrisi langsung atau sistem
NFT. Keudian untuk jenis sayuran yang berumbi seperti wortel akan ditanam
dengan menggunakan sistem hidroponik substrat dengan media cocopeat dan
arang sekam. Perbedaannya didasarkan pada kekuatan tanaman dalam sistem
perakaran dan jumlah tempat tumbuh tanaman. Nutrisi tanaman akan dialirkan
melalui drip-drip nutrisi dengan sistem irigasi tetes.
Selain komoditas hortikultura, umbi-umbian juga dipilih sebagai
komoditas budidaya yang akan ditanam pada lahan budidaya. Pemilihan ubi jalar
dan ketela pohon sebagai tindak lanjut dari diversivikasi pangan oleh pemerintah
dan juga untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Umbi-umbian akan ditanam
disekitar area lahan budidaya. Fungsinya selain untuk produksi juga digunakan
sebagai tanaman pagar yang mengelilingi kebun. Ketela pohon juga dipercaya
dapat menguraikan beberapa jenis mineral yang ada dalam tanah, sehingga
tanaman dapat tumbuh dengan subur dan dapat meningkat hasil produksi.

Pada usaha budidaya dibutuhkan perhitungan terperinci sebagai kunci


awal untuk mempersiapkan modal awal dan segala kemungkinan yang mungkin
terjadi pada kegiatan pertanaman. Berikut adalah contoh perhitungan
baiaya produksi pada komoditas hortikultura :
No

BIAYA INVESTASI

1.

Bangunan
Bangunan Semi Permanen 100 m2

Harga
Satuan

Biaya Rp

400,000

40,000,000

1,500,000

1,500,000

Instalasi Listrik 2.200 watt


Sub Total
41,500,000
2.

Perangkat Hidroponik 5 tahun


Instalasi Hidroponik Bertingkat
400,000

80,000,000

2,750,000

5,500,000

5,250,000

10,500,000

3,000,000

6,000,000

1,000,000

2,000,000

1,000,000

4,000,000

Meja Semai
Pompa Sirkulasi 3/4 HP
Tangki Air Volume 1500 liter
Jaringan Utilitas
Pompa air jrt pump (2 buah)
Sub Total
108,000,000
3.

Biaya Peralatan (30 bulan)


Keranjang Plastik (5 buah)
100,000

2,000,000

250,000

1,000,000

300,000

1,200,000

100,000

400,000

EC Meter (1 buah)
pH Meter (1 bah)
Timbangan Meja (1 buah)
Sub Total
4,600,000

4.

Biaya Pemasangan Instalasi


1,000,000
TOTAL BIAYA INVESTASI
155,100,000

1.

Biaya Variabel (Tidak tetap)


Benih Pokchoy 8 Bungkus
35,000

280,000

20,000

1,000,000

35,000

1,120,000

1,100

2,772,000

Rockwool 50 buah
Nutrisi 32 botol
Kemasan Pembungkus + Label (2520
buah)
Sub Total
5,172,000
2.

Biaya Tetap
Sewa lahan perbulan
1,000,000

1,000,000

155,100,000

1,292,500

2,500,000

2,500,000

2,500,000

2,500,000

2,000,000

2,000,000

750,000

750,000

Penyusutan Investasi (120 bulan)


Transportasi hasil panen
Tenaga kerja perbulan
a. Penyela
b. Tenaga Kerja Lapang
c. Biaya Listrik dan Air
Sub Total
10,042,500
TOTAL BIAYA PRODUKSI
15,214,500
PENDAPATAN
Panen 700 kg per bulan
40,000

25,200,000

KEUNTUNGAN
Keuntungan perbulan
9,985,500

Penyusutan Bangunan
Penyusutan Instalasi Hidroponik
602,500
Penyususutan
1. Keuntungan Budidaya Hidroponik tanaman Pakchoy perbulan = Rp
10.411.333,00
2. BEP (Titik Impas) untuk Volume Produksi 369,717 kg per bulan
BEP = Total Biaya Produksi/ Biaya Produksi Rata-rata = 14,788,677/40,000 =
369,717 kg/bulan
3. BEP (Titik Impas) untuk Biaya Produksi Rp 21.126,67 per bulan
BEP = Total Biaya Produksi/Volume Produksi Rata-rata = 14,788,677/700 =
21,126.67
4. Rasio Pendapatan R/C = 2 atau R/C > 1 berarti usaha sudah dijalankan
secara efisien
Rasio Pendapatan R/C = Total Pendapatan/Total Biaya Produksi =
25,200,000/14,788,667 = 2

KESIMPULAN
Kegiatan usaha budidaya komoditas pertanian pada dasarnya dapat
dilakukan oleh semua orang. Hal ini hanya bergantung pada bagaimana
kemampuan dari pelaku usaha untuk mengatur atau memanajemen usaha yang
akan dikembangkan. Berbagai analisis kelebiahan dan kekurangan produk sangat
dibutuhkan untuk meminimalisir kerugian yang dapat ditimbulkan selama
kegiatan usaha budidaya.

DAFTAR PUSTAKA
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi. 2009: Jambi.
https//:google.earth.com diakses tanggal 12 Sepember 2016
Mujib, A., M. A. Syabana, dan D. Hastuti. Uji Efektifitas Larutan Pestisida
Nabati Terhadap Hama Ulat Krop (Crocidolomia Pavonana L.) Pada
Tanaman Kubis (Brassica Oleraceae). Ilmu Pertanian dan Perikanan,
3(1): 67-72.
Pinem, D. Y. F., T. Irmansyah, dan F. E. T. Sitepu. Respons Pertumbuhan dan
Produksi Brokoli Terhadap Pemberian Pupuk Kandang Ayam dan Jamur
Pelarut Fosfat. Agroekoteknologi, 3(1 : 198-205.
Restiani, A. R., S. Triyono, A. Tusi, dan R. Zahab. 2015. Pengaruh Jenis Lampu
Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Produksi Tanaman Selada (Lactuca
Sativa L.) Dalam Sistem Hidroponik Indoor. Teknik Pertanian Lampung,
4(3): 219-226.
Saada, N., dan B. Wismandanikung. 2012. Kreativitas dan Inovasi untuk
Memupuk Semangat Kewirausahaan. TEKNIS.7(3) : 144 148.
Suyoko. 2008. Kesesuaian Lahan Kering Untuk Tanaman Wortel (Daucus Carota
L.) Dan Bawang Merah (Allium Oscolonium L.) Di Sub Das Samin
Kabupaten Karanganyar. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret:
Surakarta
Wahome,P. K., T. O. Oseni., M. T. Masarirambi and V. D. Shongwe. 2011. Effects
of Different Hydroponics System and Growing Media the Vegetative
Growth, Yield and Cut Flower Quality o Gypsophila (Gypsophila
paniculata L.). Agricultural Sciensce, 7(6): 692-698.