Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Mayoritas dari lesi-lesi yang terjadi pada payudara adalah jinak.

Sebagian besar perhatian diberikan pada lesi-lesi yang membahayakan


(malignant) pada payudara karena kanker payudara adalah penyakit
membahayakan yang umumnya terjadi pada wanita. Walau bagaimanapun,
lesi-lesi jinak pada payudara adalah yang paling sering terjadi dibandingkan
dengan lesi-lesi yang berbahaya.
Dengan menggunakan mammography, ultrasound, dan magnetic resonance
imaging pada payudara, dan penggunaan needle biopsy, diagnosis tumor
jinak pada payudara dapat dilakukan tanpa melalui operasi pada sebagian
besar pasien. Karena mayoritas dari lesi-lesi jinak tersebut tidak berkaitan
dengan peningkatan risiko untuk kanker payudara, prosedur-prosedur
operasi yang tidak perlu harus dihindari. Tulisan ini di buat dengan tujuan
agar dapat mengenali lesi-lesi jinak, untuk membedakan mereka dari kanker
payudara, dan juga untuk menilai risiko pasien akan pertumbuhan kanker
payudara, sehingga modalitas penanganan yang paling sesuai dapat
ditetapkan.

B.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin disampaikan penulis dalam makalah ini

yaitu Kelainan Jinak Pada Payudara :


1. Tujuan umum

Memberikan Gambaran Mengenai Kelainan Pada Tumor


Jinak Dan Tumor Ganas Pada Payudara.
2. Tujuan khusus
a. Dapat mengetahui tanda dan gejala kelainan pada payudara
b. Dapat mengetahui kelainan-kelainan pada payudara
c. Dapat Mengetahui penanganan atau pemeriksaan penunjang
untuk mendeteksi kelainan payudara.
C.

Manfaat Penulisan Makalah


1. Dengan penyusunan makalah ini diharapkan dapat memberi
2.

manfaat, sebagai berikut:


Sebagai masukan untuk melakukan pembelajaran khusunya

3.
4.

Mata Kuliah Ginekologi


Sebagai acuan dalam penyusunan makalah selanjutnya.
Diharapkan dapat memberi masukan dalam pengembangan
konsep dan pengetahuan bidang manajemen promosi kesehatan,

D.

khususnya aspek strategi promosi kesehatan.


Rumusan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari tumor pada payudara
2. Untuk mengetahui macam-macam tumor jinak pada payudara
3. Untuk mengetahui tumor ganas pada payudara

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Tumor mamae adalah adalah karsinoma yang berasal dari
parenkim, stroma, areola dan papilla mamma. (Lab. UPF Bedah
RSDS, 2010).
Tumor mammae adalah pertumbuhan sel sel yang
abnormal yang menggangu pertumbuhan jaringan tub uh terutama
pada sel epitel di mammae ( Sylvia,1995 )

Tumor mammae adalah adanya ketidakseimbangan yang


dapat terjadi pada suatu sel / jaringan di dalam mammae dimanba
ia tumbuh secara liar dan tidak bias dikontol ( Dr.Iskandar,2007 )
Menurut Dr.Iskandar (2007) Sampai saat ini, penyebab
pasti tumor payudara belum diketahui. Namun, ada beberapa
faktor resiko yang telah teridentifikasi, yaitu :
1. Jenis kelamin
Wanita lebih beresiko menderita tumor payudara dibandingkan
dengan pria.Prevalensi tumor payudara pada pria hanya 1% dari seluruh
tumor payudara.
2. Riwayat keluarga
Wanita yang memiliki keluarga tingkat satu penderita tumor
payudara beresiko tiga kali lebih besar untuk menderita tumor payudara.
3. Faktor genetik
Mutasi gen BRCA1pada kromosom 17 dan BRCA2 pada kromosom 13
dapat meningkatkan resiko tumor payudara sampai 85%. Selain itu,
gen p53, BARD1, BRCA3, dan noey2 juga diduga meningkatkan
resiko terjadinya
kanker payudara.
4. Faktor usia
Resiko tumor payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia.
5. Faktor hormonal
Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif, terutama
jika tidak diselingi oleh perubahan hormon akibat kehamilan, dapat
meningkatkan resiko terjadinya tumor payudara.
6. Usia saat kehamilan pertama
Hamil pertama pada usia 30 tahun beresiko dua kali lipat
dibandingkan dengan hamil pada usia kurang dari 20 tahun.
B. ANATOMI PAYUDARA
Payudara (mammae, susu) adalah kelenjar yang terletak di bawah
kulit, di atas otot dada. Fungsi dari payudara adalah memproduksi susu untuk
nutrisi bayi. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang beratnya
kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram dan saat menyusui 800 gram.
Pada payudara terdapat tiga bagian utama, yaitu :
1. Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar.
2. Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah.
3. Papilla atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara.

Gambar 1. Anatomi payudara


a) Korpus
Alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu.
Bagian dari alveolus adalah sel Aciner, jaringan lemak, sel
plasma, sel otot polos dan pembuluh darah.
Lobulus,
yaitu
kumpulan
dari
alveolus.
Lobus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 1520
lobus
pada
tiap
payudara.
ASI dsalurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil
(duktulus), kemudian beberapa duktulus bergabung
membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus).

b) Areola
Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar
melebar, akhirnya memusat ke dalam puting dan bermuara
ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran-saluran
terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa
ASI keluar.
c) Papilla
Bentuk puting ada empat, yaitu bentuk yang normal,
pendek/ datar, panjang dan terbenam (inverted).

Gambar 2. Bentuk puting susu normal

Gambar 3. Bentuk puting susu pendek

Gambar 4. Bentuk puting susu panjang

Gambar 5. Bentuk puting susu terbenam/ terbalik

C. MACAM-MACAM TUMOR JINAK PADA PAYUDARA


1. FIBROADENOMA MAMMAE
A.Definisi
Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak yang sering terjadi di
payudara. Benjolan tersebut berasal dari jaringan fibrosa (mesenkim) dan
jaringan glanduler (epitel) yang berada di payudara, sehingga tumor ini
disebut sebagai tumor campur (mix tumor), tumor tersebut dapat berbentuk
bulat atau oval , bertekstur kenyal atau padat, dan biasanya nyeri.
Fibroadenoma ini dapat kita gerakkan dengan mudah karena pada tumor ini
terbentuk kapsul sehingga dapat mobile, sehingga sering disebut sebagai
breast mouse.
Penyakit fibroadenoma adalah penyakit wanita muda dengan frekuensi
yang paling tinggi pada wanita yang berumur 20- 25 tahun menurut Wilson
dalam buku christoper davis ada hubungan antara kadar hormone wanita
dalam darah dan penyakit ini. Karena dapat timbul soliter atau multiple,
gampang digerakkan berbentuk licin atau cobulated sama sekali bebas dr
jaringan payudara sekitarnya dan tidak berubah ubah besarnya dengan siklus
haid .

B. Etiologi dan Epidemiologi


Penelitian saat ini belum dapat mengungkap secara pasti apa
penyebab sesungguhnya dari fibroadenoma mammae, namun diketahui
bahwa pengaruh hormonal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan
dari fibroadenoma mammae, hal ini diketahui karena ukuran
fibroadenoma dapat berubah pada siklus menstruasi atau pada saat
kehamilan. Perlu diingat bahwa tumor ini adalah tumor jinak, dan
fibroadenoma ini sangat jarang atau bahkan sama sekali tidak dapat
menjadi kanker atau tumor ganas.
Fibroadenoma mammae biasanya terjadi pada wanita usia muda,
yaitu pada usia sekitar remaja atau sekitar 20 tahun. Berdasarkan laporan
dari NSW Breats Cancer Institute, fibroadenoma umumnya terjadi pada
wanita dengan usia 21-25 tahun, kurang dari 5% terjadi pada usia di atas
50, sedangkan prevalensinya lebih dari 9% populasi wanita terkena
fibroadenoma. Sedangkan laporan dari Western Breast Services Alliance,
fibroadenoma terjadi pada wanita dengan umur antara 15 dan 25 tahun,
dan lebih dari satu dari enam (15%) wanita mengalami fibroadenoma
dalam hidupnya. Namun, kejadian fibroadenoma dapat terjadi pula wanita
dengan usia yang lebih tua atau bahkan setelah menopause, tentunya
dengan
jumlah
kejadian
yang
lebih
kecil
disbanding pada usia muda.
C. Diagnosis
Fibroadenoma dapat didiagnosis dengan tiga cara, yaitu dengan
pemeriksaan fisik (phisycal examination), dengan mammography atau
ultrasound, dengan Fine Needle Aspiration Cytology (FNAC). Pada
pemeriksaan fisik dokter akan memeriksa benjolan yang ada dengan
palpasi pada daerah tersebut, dari palpasi itu dapat diketahui apakah mobil
atau tidak, kenyal atau keras,dll. Mammography digunakan untuk
membantu diagnosis, mammography sangat berguna untuk mendiagnosis
wanita dengan usia tua sekitar 60 atau 70 tahun, sedangkan pada wanita
usia muda tidak digunakan mammography, sebagai gantinya digunakan
ultrasound, hal ini karena fibroadenoma pada wanita muda tebal, sehingga
tidak terlihat dengan baik bila menggunakan mammography. Pada FNAC
kita akan mengambil sel dari fibroadenoma dengan menggunakan
penghisap berupa sebuah jarum yang dimasukkan pada suntikan. Dari alat
tersebut kita dapat memperoleh sel yang terdapat pada fibroadenoma, lalu
hasil pengambilan tersebut dikirim ke laboratorium patologi untuk
diperiksa di bawah mikroskop.
Dibawah mikroskop tumpor tersebut tampak seperti berikut : a.
Tampak jaringan tumor yang berasal dari mesenkim (jaringan ikat fibrosa)
dan berasal dari epitel (epitel kelenjar) yang berbentuk lobus-lobus; b.
Lobuli terdiri atas jaringan ikat kolagen dan saluran kelenjar yang
berbentuk bular (perikanalikuler) atau bercabang (intrakanalikuler); c.

Saluran tersebut dibatasi sel-sel yang berbentuk kuboid atau kolumnar


pendek
uniform
D. Penyebab
Penyebab terjadinya fibroadenoma masih belum diketahui secara
pasti. Para ahli medis berpendapat jika terbentuknya fibroadenoma ada
hubungannya dengan hormon reproduksi. Sebabnya, fibroadenoma
seringkali muncul pada usia produktif, masa kehamilan, terapi estrogen,
dan cenderung menghilang pada saat menopause.
F. Terapi (treatment)
Terapi untuk fibroadenoma tergantuk dari beberapa hal sebagai berikut:
1. Ukuran
2. Terdapat rasa nyeri atau tidak
3. Usia pasien
4. Hasil biopsy
Terapi dari fibroadenoma mammae dapat dilakukan dengan operasi
pengangkatan tumor tersebut, biasanya dilakukan general anaesthetic pada
operasi ini. Operasi ini tidak akan merubah bentuk dari payudara, tetapi hanya
akan meninggalkan luka atau jaringan parut yang nanti akan diganti oleh
jaringan normal secara perlahan.
Benjolan fibroadenoma bisa bertumbuh besar dan mengubah bentuk
payudara. Benjolan tersebut bisa dihilangkan dengan jalan operasi jika pasien
merasa tidak nyaman dengan bentuk payudaranya. Atau bisa juga dihilangkan
jika dokter merasa benjolan tersebut akan menjadi bibit suatu masalah
kesehatan.
Proses untuk menghilangkan fibroadenoma ini disebut dengan lumpektomi.
Prosedur ini bisa menggunakan anastesi lokal atau umum. Kemudian ahli
bedah akan membuat sayatan kecil di payudara untuk mengangkat benjolan
fibroadenoma beserta jaringan payudara yang menempel pada benjolan.
Benjolan fibroadenoma bisa muncul berulang kali. Jadi, meski sudah
menjalani pengangkatan, benjolan baru bisa muncul kembali. Benjolan baru
ini bisa dihilangkan dengan jalan pembedahan, sama seperti benjolan lama.
Tapi tidak menjamin jika benjolan tidak akan tumbuh kembali.
Walau demikian, tindakan bedah tidak selalu menjadi jalan keluar untuk
mengatasi fibroadenoma. Terutama pada wanita yang masih tergolong usia
muda (20 hingga 30 tahun). Alasannya, tindakan bedah bisa merusak bentuk
payudara dan meninggalkan bekas sayatan. Bekas luka dan bentuk abnormal
ini dikhawatirkan malah menjadi masalah di kemudian hari. Apalagi benjolan
ini cenderung mengecil dan hilang ketika wanita menginjak usia diatas 30

tahun. Jika hendak membiarkan benjolan tersebut, sebaiknya terus dipantau


perkembangannya. Jika benjolan bertambah besar dan mulai terasa nyeri,
segera periksakan diri ke dokter.

2. KELAINAN FIBROKISTIK

Kelainan fibrokistik pada payudara ini sering pula disebut sebagai kista
mammae. Kista mammae merupakan suatu kelainan dari fisiologi normal
lobular. Penyebab utama terjadinya kelainan ini masih belum diketahui pasti
walaupun terdapat bukti yang mengaitkan pembentukan kista ini dengan
hiperestrogenism akibat penggunaan terapi pengganti hormon.

Kelainan fibrokistik mencakup perubahan baik pada jaringan glandular maupun


stroma. Kelainan fibrokistik pada payudara adalah kondisi yang ditandai
penambahan jaringan fibrous dan glandular.
a) Tanda dan gejala.
Manifestasi dari kelainan ini termasuk adanya kista, fibrosis,
benjolan konsistensi lunak, terdapat penebalan, dan rasa nyeri. Kista
dapat membesar dan terasa sangat nyeri selama periode menstruasi
karena hubungannya dengan perubahan hormonal tiap bulannya.
Wanita dengan kelainan fibrokistik mengalami nyeri payudara
siklik berkaitan dengan adanya perubahan hormon estrogen dan
progesteron. Perubahan fibrokistik adalah penyebab tumor yang
terbanyak pada wanita berusia 30 sampai 50 tahun. Pembengkakan
payudara biasanya berkurang setelah menstruasi berhenti. Keluhankeluhan dari perubahan fibrokistik biasanya berhenti setelah menopause
namun bisa menjadi lebih lama jika wanita tersebut melakukan terapi
sulih hormon.

b). Terapi
Kelainan fibrokistik dapat diketahui dari pemeriksaan fisik,
mammogram, atau biopsi. Biopsi dilakukan terutama untuk
menyingkirkan kemungkinan diagnosis kanker. Perubahan fibrokistik
biasanya ditemukan pada kedua payudara baik di kuadran atas maupun
bawah.

3. KISTA
Kista adalah ruang berisi cairan yang dibatasi sel-sel glandular. Kista
terbentuk dari cairan yang berasal dari kelenjar payudara. Mikrokista terlalu kecil
untuk dapat diraba, dan ditemukan hanya bila jaringan tersebut dilihat di bawah
mikroskop. Jika cairan terus berkembang akan terbentuk makrokista. Makrokista ini
dapat dengan mudah diraba dan diameternya dapat mencapai 1 sampai 2 inchi.
Selama perkembangannya, pelebaran yang terjadi pada jaringan payudara.

a) Tanda Dan Gejala


Menimbulkan rasa nyeri. Benjolan bulat yang dapat digerakkan
dan terutama nyeri bila
disentuh, mengarah pada kista.
Walaupun penyebab kista masih belum diketahui, namun para ahli
mengetahui bahwa terdapat hubungan antara kista dengan kadar hormon.
Kista muncul seminggu atau 2 minggu sebelum periode menstruasi mulai
dan akan menghilang sesudahnya. Kista banyak terjadi pada wanita saat
premenopause, terutama bila wanita tersebut menjalani terapi sulih
hormon. Beberapa penelitian membuktikan bahwa kafein dapat
menyebabkan kista payudara walaupun hal ini masih menjadi
kontroversial
di
kalangan
medis.
Kebanyakan wanita hanya mengalami kista payudara sebanyak satu atau
dua, namun pada beberapa kasus, kista multipel dapat terjadi. Kista
biasanya dipastikan dengan mammografi dan ultrasound (sonogram).
Ultrasound sangat tepat digunakan untuk mengidentifikasi apakah
abnormalitas payudara tersebut merupakan kista ataukah massa padat.

Kebanyakan kista yang simpel dapat digambarkan dengan baik,


yaitu memiliki tepi yang khas, dan sinyal ultrasound dapat dengan mudah
melewati. Walaupun begitu, beberapa kista didapatkan dengan tingkat
ekoik internal yang rendah yang menyulitkan ahli radiologi untuk
mendiagnosis sebagai kista tanpa mengeluarkan cairan. Tipe kista yang
seperti ini disebut kista kompleks. Walaupun kista kompleks tersebut
terlihat sebagai massa yang solid, namun kista tersebut bukanlah kanker.
Dalam keadaan tertentu, kista dapat menimbulkan nyeri yang hebat.
Mengeluarkan isi kista dengan aspirasi jarum halus akan mengempiskan
kista dan mengurangi ketidaknyamanan. Beberapa ahli radiologis
memasukkan udara ke daerah tersebut setelah drainase untuk
meminimalkan kemungkinan kista muncul lagi. Apabila cairan dari kista
tampak seperti darah atau terlihat mencurigakan, cairan tersebut harus
diperiksakan ke laboratorium patologi untuk dilihat di bawah mikroskop.
Cairan kista yang normal dapat berwarna kuning, coklat, hijau , hitam,
atau berwarna seperti susu.
b. Terapi
1. Melakukan operasi pengangkatan pada payudara dan memberikan anti
nyeri
2. Pemeriksaan payudara.
3. Aspirasi jarum halus (fine-needle aspiration)
4. Penggunaan hormon
4. GALAKTOKEL
Galaktokel adalah kista berisi susu yang terjadi pada wanita yang sedang
hamil atau menyusui. Seperti kista lainnya, galaktokel tidak bersifat seperti
kanker. Biasanya galaktokel tampak rata, benjolan dapat digerakkan,
walaupun dapat juga keras dan susah digerakkan. Penatalaksanaan galaktokel
sama seperti kista lainnya, biasanya tanpa melakukan tindakan apapun.
Apabila diagnosis masih diragukan atau galaktokel menimbulkan rasa tidak
nyaman, maka dapat dilakukan drainase dengan aspirasi jarum halus.

a. tanda-tanda atau gejalanya


1. Ada benjolan yang keras di payudara
2. Bentuk puting berubah ( bisa masuk kedalam, atau terasa sakit terus-menerus),
mengeluarkan cairan / darah
3. Ada perubahan pada kulit payudara diantaranya berkerut, iritasi, seperti kulit
jeruk
4. adanya benjolan-benjolan kecil
/
b. Penyebab
1. Umur diatas 30 tahun ( sekarang, dibawah 20 tahun juga sudah ditemukan kanker
payudara )
2. Riwayat dalam keluarga ada
3. Punya riwayat tumor
4. Haid terlalu muda atau menopause diatas umur 50 tahun
5. Tidak menikah / tidak menyusui
5.HIPERPLASI EPITALIA
Hiperplasi epitel ( disebut juga kelainan payudara proliferatif) adalah
pertumbuhan abnormal dari sel-sel yang membatasi antar duktus atau lobulus.
Apabila hiperplasi melibatkan duktus maka disebut hiperplasia duktus.
Sedangkan bila melibatkan lobulus, maka disebut hiperplasia lobular.
Berdasarkan pengamatan dibawah mikroskop, hiperplasia dapat dikelompokkan
menjadi tipe biasa dan atipikal. Hiperplasia tipe biasa mengindikasikan
peningkatan yang tipis dari resiko seorang wanita untuk berkembang menjadi
kanker payudara. Resikonya adalah 1,5 sampai 2 kali lipat dibandingkan wanita
tanpa abnormalitas payudara. Hiperplasia atipikal mengindikasikan peningkatan
yang sedang yaitu 4 sampai 5 kali lipat dibandingkan wanita tanpa abnormalitas
payudara.
Hiperplasi epitelial biasanya didiagnosa melalui biopsi jarum atau biopsi

melalui pembedahan. Apabila telah didiagnosis menderita hiperplasia terutama


hiperplasia atipikal, berarti diperlukan pemantauan yang lebih oleh dokter,
misalnya pemeriksaan fisik payudara yang rutin dan mammografi setiap setahun
sekali. Hal ini dikarenakan mengalami hiperplasia akan meningkatkan
kemungkinan untuk berkembang menjadi kanker payudara di masa yang akan
datang.

6. ADENOSIS
Adenosis adalah temuan yang sering didapat pada wanita dengan kelainan
fibrokistik. Adenosis adalah pembesaran lobulus payudara, yang mencakup kelenjarkelenjar yang lebih banyak dari biasanya. Apabila pembesaran lobulus saling
berdekatan satu sama lain, maka kumpulan lobulus dengan adenosis ini
kemungkinan
dapat
diraba.
Banyak istilah lain yang digunakan untuk kondisi ini, diantaranya adenosis agregasi,
atau tumor adenosis. Sangat penting untuk digarisbawahi walaupun merupakan
tumor, namun kondisi ini termasuk jinak dan bukanlah kanker. Adenosis sklerotik
adalah tipe khusus dari adenosis dimana pembesaran lobulus disertai dengan parut
seperti jaringan fibrous. Apabila adenosis dan adenosis sklerotik cukup luas sehingga
dapat diraba, dokter akan sulit membedakan tumor ini dengan kanker melalui
pemeriksaan fisik payudara. Kalsifikasi dapat terbentuk pada adenosis, adenosis
sklerotik, dan kanker, sehingga makin membingungkan diagnosis. Biopsi melalui
aspirasi jarum halus biasanya dapat menunjukkan apakah tumor ini jinak atau tidak.
Namun dengan biopsi melalui pembedahan sabat dianjurkan untuk memastikan tidak
terjadinya
kanker.

a. Klasifikasi
Kasifikasi Adenosis yaitu dapat terbentuk pada adenosis sklerotik dan kanker,
sehingga makin membingunkan doagnosis. Terapi biasanya dilakukan biopsi
melalui aspirasi jarum halus biasanya dapat menunjukan apakah tumor ini jinak
atau tidak
b.Tanda dan gejala
1. nyeri pada kuadran tertentu dari payudara,
2. peningkatan atau asimetri, kanker payudara, deteksi segel, kadang-kadang
beberapa karakter.
3. Pada adenosis lokal juga dapat diperbesar kelenjar getah bening regional: di
ketiak dan di atas tulang selangka.
4.
c. Terapi
Dalam adenosis menyebar ditampilkan pengobatan konservatif dengan terapi
hormon.Terapi adalah penggunaan kontrasepsi oral kombinasi dan
progestogen.Dalam bentuk yang lebih ringan dari adenosis digunakan kontrasepsi
oral yang setidaknya enam bulan.
8. TUMOR FILOIDES (SISTOSARKOMA FILOIDES)

1. DEFINISI
Kista sarcoma filodes (tumor filodes) adalah fibroadenoma yang
tumbuh meliputi seluruh mammae. Tumor filodes juga merupakan suatu
neoplasma jinak yang bersifat menyusup (invasive) secara lokal dan dapat
menjadi ganas (10-15%) dan (80-95%) jinak. Pertumbuhannya cepat dan
dapat ditemukan dalam ukuran yang besar. Tumor ini timbul biasanya
pada umur 35-40 tahun, Tumor filodes ini dapat berukuran kecil sekitar 34 cm, dan dapat pula dalam ukuran yang sangat besar dan membuat
payudara menjadi besar (bengkak).
Nama kista sarcoma filodes berasal dari Muller (1838) karena
mengandung kista-kista besar diantaranya banyak sekali jaringan ikat
sehingga waktu itu diduga sarkoma. Di permukaan tumor terdapat banyak
jaringan sperti lembaran-lembaran buku (phyllon).
2. ETIOLOGI
Tumor filodes secara nyata berhubungan dengan fibroadenoma
dalam beberapa kasus, karena pasien dapat memiliki kedua lesi dan
gambaran histologis, kedua lesi mungkin terlihat pada tumor yang sama.
Namun, apakah tumor filodes berkembang dari fibroadenoma atau

keduanya berkembang bersama-sama, atau apakah tumor filodes dapat


muncul de novo, tidaklah jelas. Noguchi dan kolega telah mempelajari
pertanyaan ini dengan analisis klonal dalam tiga kasus dimana
fibroadenoma dan tumor filodes diperoleh berurutan dari pasien yang
sama. Pada masing-masing kasus, kedua tumor monoklonal dan
memperlihatkan alel inaktif yang sama. Mereka berargumen dengan
meyakinkan bahwa tumor filodes memiliki asal yang sama dengan
fibroadenoma, fibroadenoma tertentu dapat berkembang menjadi tumor
filodes.
3. PATOFISIOLOGIS
Bermula dari intralobular stroma dan jarang disebabkan oleh
fibroadenoma. Tumor payudara ini biasanya tumbuh cepat, terkadang
jinak, terkadang di batas antara jinak dan ganas dan terkadang ganas.
Tumor filodes (sistosarkoma filoides) merupakan suatu neoplasma
jinak yang bersifat menyusup (invasive) secara local dan dapat menjadi
ganas (10-15%). Pertumbuhannya cepat dan dapat ditemukan dalam
ukuran yang besar. Tumor ini terdapat pada semua usia, tetapi kebanyakan
terdapat pada usia sekitar 45 tahun.
Tumor filodes ini dapat berukuran kecil sekitar 3-4 cm, dan dapat
pula dalam ukuran yang sangat besar dan membuat payudara menjadi
besar (bengkak).
Tumor filodes merupakan neoplasma non-epitelial payudara yang
paling sering terjadi, meskipun hanya mewakili 1% dari tumor payudara.
Tumor ini memiliki tekstur halus, berbatas tajam dan biasanya bergerak
secara bebas.Tumor ini adalah tumor yang relatif besar, dengan ukuran
rata-rata 5 cm. Namun, lesi yang > 30 cm pernah dilaporkan.
4. TANDA

DAN

GEJALA

KLINIS

Adapun tanda dan gejala dari kista sarcoma filodes yaitu:


a. Kulit di atas tumor mengkIiap, regang, tipis, merah dan pembuluhpembuluh balik melebar & panas
b. Jarang terjadi mestastasis (pembesaran kelenjar regional) hal ini yang
menjadi petunjuk untuk membedakan tumor ini dari kanker karena jarang
sekali kita menemukan kanker payudara dengan ukuran diameter 10 15
cm yang tidak bermestastasis dan menginfiltrasi kulit atau toraks
c. Tumor tumbuh cepat, nekrosis dan radang pada kulit
d. Tumor ini memiliki tekstur halus, berbatas tajam dan biasanya
bergerak secara bebas. Tumor ini adalah tumor yang relatif besar, dengan
ukuran rata-rata 5 cm
Haagensen melaporkan kira-kira satu tumor filodes untuk setiap 40
fibroadenoma. Distribusi usia luas, dari 10-90 pada seri Haagensen dari 84

pasien, namun dengan mayoritas antara 35 dan 55 tahun. Tumor bilateral


sangat jarang, meskipun sebuah kasus luar biasa dari tiga buah tumor
terpisah pada jaringan payudara ektopik aksila bilateral juga payudara
normal telah dilaporkan. Tumor filodes jarang pada pasien dibawah usia
20 tahun, ketika muncul untuk memberikan reaksi terutama dengan cara
jinak, tanpa memperhatikan corak histologis. Juga telah dijelaskan dalam
kelenjar mirip mammae di vulva, payudara pria dan di prostat dan vesikula
seminalis.
Kebanyakan tumor tumbuh dengan cepat menjadi ukuran besar
sebelum pasien datang, namun tumor-tumor tidak menetap dalam arti
karsinoma besar.Hal ini disebabkan mereka khususnya tidak invasif;
besarnya tumor dapat menempati sebagian besar payudara, atau
seluruhnya, dan menimbulkan tekanan ulserasi di kulit, namun masih
memperlihatkan sejumlah mobilitas pada dinding dada.
5. PENATALAKSANAAN
Tindakan: Karena potensi ganas dan lebih radikal dari
fibroadenoma, biasanya dilakukan mastektomi, dengan pengangkatan fasia
pektoralis
b. Pascabedah diberi radiasi
c. Usia penting dalam manajemen lesi-lesi ini. Dibawah umur 20,
semuanya harus diterapi dengan enukleasi, karena mereka hampir selalu
berperilaku dalam sikap jinak
d. Terapi Bedah
Pada kebanyakan kasus cystosarcoma phylloides, melakukan eksisi luas
normal, dengan lingkaran jaringan normal.Tidak terdapat aturan tentang
besarnya batas. Namun, batas 2 cm untuk tumor kecil (< 5 cm) dan batas 5
cm untuk tumor besar (> 5 cm) telah dianjurkan.
Lesi tidak seharusnya "dikupas keluar", seperti yang mungkin dilakukan
dengan fibroadenoma, atau angka rekurensi tanpa dapat diterima jadi
meningkat.
a) Jika tumor terhadap rasio payudara cukup tinggi untuk menghindarkan
hasil kosmetik yang memuaskan dengan eksisi segmental, mastektomi
total, dengan atau tanpa rekonstruksi, adalah sebuah alternative
b) Prosedur yang lebih radikal tidak secara umum dibenarkan
c) Melakukan diseksi nodus limfatikus aksila hanya untuk nodus yang
dicurigai secara klinis. Namun, sebenarnya semua nodus ini reaktif dan
tidak mengandung sel-sel maligna

9. PAPILLOMA INTRADUKTAL
Papilloma intraduktal adalah pertumbuhan menyerupai kutil dengan
disertai tangkai yang tumbuh dari dalam payudara yang berasal dari jaringan
glandular dan jaringan fibrovaskular. Papilloma seringkali melibatkan sejumlah
besar kelenjar susu. Lesi jinak yang berasal dari duktus laktiferus dan 75%.

a). Tanda dan gejala


tumbuh di bawah areola mamma ini memberikan gejala berupa sekresi
cairan berdarah dari puting susu. Papilloma dapat juga ditemukan di duktus yang
kecil di daerah yang jauh dari puting. Keadaan ini seringkali tumbuh dalam
jumlah banyak dan juga mungkin disertai hiperplasi epitelial.Perubahan payudara
jinak yang menyebabkan keluarnya sekresi cairan dari puting, hampir
setengahnya adalah papilloma, dan sisanya adalah campuran perubahan
fibrokistik ataupun ektasia duktus. Walaupun papilloma bisa dicurigai dari
pemeriksaan terhadap discharge, namun banyak dokter menganggap pemeriksaan
tersebut tidak begitu bermanfaat.
b). Diaknosa
melalui pemeriksaan pencitraan pada duktus payudara yaitu dengan
duktogram atau galaktogram.
c). terapi
Terapi untuk papilloma adalah dengan mengangkat papilloma serta
bagian duktus dimana papilloma tersebut ditemukan, dimana biasanya dengan
melakukan insisi pada tepi sekeliling areola.Apabila papilloma cukup besar,
biopsi jarum bisa dilakukan.

10. TUMOR SEL GRANULAR


Tumor sel granular biasanya terdapat pada mulut atau kulit, namun dalam
jumlah yang jarang dapat ditemukan juga di payudara.
a).tanda dan gejala
Kebanyakan tumor sel granular pada saat perabaan dapat digerakkan,
konsistensi keras, berdiameter antara sampai 1 inchi. Konsistensinya yang
keras terkadang mengacaukan diagnosisnya dengan kanker, namun aspirasi jarum
halus atau biopsi jarum dapat dilakukan untuk membedakannya.
b). Terapi
Tumor ini diatasi dengan cara mengangkat tumor beserta sedikit jaringan
normal disekelilingnya. Tumor sel granular tidak akan meningkatkan resiko pada
wanita untuk terjadinya kanker payudara di kemudian hari

11. EKTASIA DUKTUS


Ektasia duktus merupakan pelebaran dan pengerasan dari duktus. Ektasia
duktus biasanya menyerang wanita usia sekitar 40 sampai 50 tahun. Ektasia
duktus adalah kelainan jinak yang walaupun begitu dapat mengacaukan diagnosis
dengan kanker dikarenakan benjolan yang keras di sekitar duktus yang abnormal
akibat terbentuknya jaringan parut.

Gambar ektasia duktus

a).Tanda dan gejala


dicirikan dengan sekresi puting yang berwarna hijau atau hitam pekat,
dan lengket. Pada puting serta daerah disekitarnya akan terasa sakit serta tampak
kemerahan.
b).terapi
Kondisi ini umumnya tidak memerlukan tindakan apapun, atau dapat
membaik dengan melakukan pengkompresan dengan air hangat dan obat-obat
antibiotik. Apabila keluhan tidak membaik, duktus yang abnormal dapat diangkat
melalui
pembedahan
dengan
cara
insisi
pada
tepi
areola.
12. NEKROSIS LEMAK
Nekrosis lemak terjadi bila jaringan payudara yang berlemak rusak, bisa
terjadi spontan atau akibat dari cedera yang mengenai payudara. Nekrosis lemak
dapat juga terjadi akibat terapi radiasi. Ketika tubuh berusaha memperbaiki
jaringan payudara yang rusak, daerah yang mengalami kerusakan tergantikan
menjadi jaringan parut.

a).tanda dan gejala


Nekrosis lemak berupa massa keras yang sering agak nyeri tetapi tidak
membesar. Kadang terdapat retraksi kulit dan batasnya tidak rata. Karena
kebanyakan kanker payudara berkonsistensi keras, daerah yang mengalami
nekrosis lemak dengan jaringan parut sulit untuk dibedakan dengan kanker jika
hanya dari pemeriksaan fisik ataupun mammogram sekalipun.
b).terapi
Dengan biopsi jarum atau dengan tindakan pembedahan eksisi sangat
diperlukan untuk membedakan nekrosis lemak dengan kanker. Secara
histopatologik terdapat nekrosis jaringan lemak yang kemudian menjadi
fibrosis.Menurut American Cancer Society, beberapa area dari nekrosis dapat
berespon berbeda-beda terhadap cedera. Desamping pembentukan jaringan parut,
sel-sel lemak akan mati dan mengeluarkan isi sel, yang membentuk kumpulan
seperti kantong-kantong berisi cairan berminyak dan disebut kista minyak. Kista
minyak dapat ditemukan melalui aspirasi jarum halus, yang sekaligus merupakan
tindakan
untuk
terapinya.

13. MASTITIS
Mastitis adalah infeksi yang sering menyerang wanita yang sedang
menyusui atau pada wanita yang mengalami kerusakan atau keretakan pada kulit
sekitar puting. Kerusakan pada kulit sekitar puting tersebut akan memudahkan
bakteri dari permukaan kulit untuk memasuki duktus yang menjadi tempat
berkembangnya bakteri dan menarik sel-sel inflamasi. Sel-sel inflamasi
melepaskan substansi untuk melawan infeksi, namun juga menyebabkan
pembengkakan jaringan dan peningkatan aliran darah.

Gambar 1.1 symptoms of mastitis


a.penyebab
Mastitis lebih sering disebabkan karena ASI yang terjebak di dalam
saluran susu. ASI yang terjebak akan mengiritasi jaringan di sekitarnya
dan menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit pada payudara.
Mastitis juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri di dalam
jaringan payudara. Bakteri yang menyebabkan infeksi dapat masuk ke
payudara melalui saluran susu atau kulit di sekitar puting susu yang retak
atau pecah-pecah.
Mastitis lebih sering mengenai wanita menyusui, tetapi tidak
menutup kemungkinan mastitis juga terjadi di luar periode menyusui.
Artikel mastitis ini akan fokus membahas gejala dan pengobatan mastitis
terkait menyusui.
b. gejala
Gejala mastitis antara lain:

Demam

Lemah dan lesu

Mual dan muntah

Pegal-pegal, menggigil atau gejala lain seperti gejala flu

Payudara bengkak, merah dan nyeri

Perasaan panas/terbakar pada payudara

Terasa benjolan lunak atau keras pada payudara

Nanah mengalir dari puting

Kelenjar getah bening di ketiak atau di atas tulang clavicula (selangka)


membengkak.
c. Terapi

Metode menghilangkan sumbatan saluran susu


Menghilangkan sumbatan di saluran susu adalah cara yang efektif
untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan. Untuk menghilangkan
sumbatan pada saluran susu, cobalah untuk:

Lebih sering menyusui - Jangan takut, mastitis tidak berbahaya bagi


bayi.

Ketika akan menyusui, berikan bayi payudara yang terkena mastitis.


Hal ini dilakukan untuk mengosongkan ASI pada payudara yang
terinfeksi.

Gunakan pompa untuk mengeluarkan ASI.

Kompres hangat payudara sebelum menyusui anak. Hal ini untuk


menstimulasi reflek ejeksi ASI.

Meringankan nyeri dan bengkak


Untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan payudara:

Kompres es pada area payudara yang terkena mastitis setelah


menyusui.

Jika mastitis bukan disebabkan karena faktor menyusui, gunakan obat


penghilang rasa sakit yang direkomendasikan oleh dokter.

Pastikan dokter memberikan obat penghilang rasa sakit yang aman


bagi ibu dan bayi. Aspirin tidak disarankan selama kehamilan atau
menyusui.

Minum banyak cairan.

Banyak beristirahat.

Obat-obatan
Antibiotik dapat digunakan untuk mengobati infeksi mastitis.
Antibiotik akan membantu menyembuhkan infeksi atau mengurangi risiko
komplikasi yang lebih serius. Jika dalam periode menyusui, pastikan
dokter memberikan antiobiotik yang aman bagi ibu dan bayi.

B. TUMOR PAYUDARA GANAS (KARSINOMA MAMMA)


Dari epidemiologi tampak bahwa kemungkinan untuk menderita kanker
payudara 2 sampai 3 kali lebih besar pada wanita yang ibunya atau saudara
kandungnya menderita kanker payudara. Kemungkinan ini lebih besar bila ibu
atau saudara kandung itu menderita kanker bilateral atau pre menopause. Seperti
pada banyak jenis kanker, insidensi menurut usia naik sejalan dengan
bertambahnya usia, makin lanjut usia resiko menderita kanker makin tinggi.
Pertumbuhan kanker payudara sering dipengaruhi oleh perubahan keseimbangan
hormon. Menarche yang cepat dan menopause yang lambat ternyata disertai
dengan peninggian resiko. Resiko karsinoma mamma lebih rendah pada wanita
yang melahirkan anak pertama pada usia lebih muda. Laktasi tidak
mempengaruhi resiko. Kemungkinan resiko meninggi terhadap adanya kanker
payudara pada wanita yang menelan pil KB dapat disangkal berdasarkan
penelitian yang dilakukan selama puluhan tahun. Sampai sekarang tidak terbukti
bahwa diit lemak berlebihan dapat memperbesar atau memperkecil resiko kanker
payudara.

Gambar1.1 kangker payudara

a. Insiden
Menurut penelitian, kanker payudara menempati urutan ke dua
penyebab kematian pada wanita setelah kanker mulut rahim.Kurva
insiden-umur bergerak naik sejak usia 30 tahun. Kanker ini jarang
ditemukan pada wanita usia dibawah 20 tahun. Angka tertinggi
terdapat pada usia 45-60 tahun.

2)

3)

4)
5)

b. Etiologi dan Faktor Resiko (3,4)


Sejauh ini belum diketahui etiologi pasti dari kanker payudara,
namun ada beberapa faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya
kanker payudara:
a. Riwayat keluarga
Terdapat resiko peningkatan keganasan pada wanita yang dalam
keluarganya (ibu, nenek atau saudara perempuannya) menderita kanker
payudara.
a. Hormon
Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara.
Laporan dan Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat
peningkatan kanker payudara yang signifikan pada para pengguna terapi
estrogen replacement. Suatu metaanalisis menyatakan bahwa walaupun
tidak terdapat risiko kanker payudara pada pengguna kontrasepsi oral,
wanita yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai
risiko tinggi untuk mengalami kanker payudara sebelum menopause. Selsel yang sensitive terhadap rangsangan hormonal mungkin mengalami
perubahan degenerasi jinak atau menjadi ganas.
a. Usia
Sekitar 60% kanker payudara terjadi di usia 60 tahun. Resiko terbesar usia
75 tahun.
a. Reproduksi
Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya
kanker payudara adalah nuliparitas, menarche pada umur muda,

menopause pada umur lebih tua, dan kehamilan pertama pada umur tua.
Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya umur. Diperkirakan,
periode antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan
pertama merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara.
Secara anatomi dan fungsional, payudara akan mengalami atrofi dengan
bertambahnya umur.
a. Diet
6) Kelebihan berat badan atau obesitas ditemukan dapat meningkatkan resiko
terkena kanker payudara, terutama bagi perempuan paska menopause.
Sebelum menopause, ovarium Anda menghasilkan sebagian besar
estrogen. Setelah menopause, sebagian besar estrogen wanita berasal dari
jaringan lemak. Memiliki jaringan lemak berlebihan setelah menopause
dapat meningkatkan probabilitas Anda terkena kanker payudara akibat
tingkat estrogen.
a. Radiasi:
7) Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas
meningkatkan terjadinya risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian
yang dilakukan disimpulkan bahwa risiko kanker radiasi berhubungan
secara linier dengan dosis dan umur saat terjadinya eksposur.
c. Patofisiologi
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-se! normal dalam suatu proses rumit
yang disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi.
Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang
memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini
disebabkan oleh suatu agen yang disebut yang bisa berupa bahan kimia, virus,
radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. Tetapi tidak semua sel memiliki
kepekaan yang sama terhadap suatu karsinogen. Kelainan genetik dalam sel
atau bahan lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan
terhadap suatu karsinogen. Bahkan gangguan fisik menahunpun bisa membuat
sel menjadi lebih peka untuk mengalami suatu keganasan.
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah
menjadi sel ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan
terpengaruh dalam tahap promosi, karena diperlukan beberapa faktor untuk
terjadinya keganasan, yaitu gabungan dari sel-sel yang peka dan suatu
karsinogen.
d. Klasifikasi
Berdasarkan WHO Histological Classification of breast tumor, kanker
payudara diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Non-invasif karsinoma
o

Non-invasif duktal karsinoma

Lobular karsinoma in situ

2. Invasif karsinoma
o

Invasif duktal karsinoma

Papilobular karsinoma Solid-tubular karsinoma

Scirrhous karsinoma

Special types

Mucinous karsinoma

Medulare karsinoma

Invasif lobular karsinoma

Adenoid cystic karsinoma

karsinoma sel squamos

karsinoma sel spindel

Apocrin karsinoma

Karsinoma dengan metaplasia kartilago atau osseus metaplasia

Tubular karsinoma

Sekretori karsinoma

e. Terapi
1. Operasi
Operasi adalah pengobatan yang paling umum untuk kanker payudara.
Tujuan operasi adalah mengangkat jaringan kanker sebanyak mungkin.
Terdapat 2 jenis operasi yaitu:
2. Lumpektomi
Operasi untuk mengangkat tumor dan sedikit jaringan payudara di
sekitarnya,
tetapi
tidak
mengangkat seluruh payudara, disebut juga Breast Conservation Therapy.
Pengobatan
ini
dikombinasikan juga dengan radioterapi.
3.

Mastektomi
Pengangkatan sebagian besar payudara (partial mastectomy) atau
seluruh bagian payudara (radikal mastektomi). Pengobatan ini juga perlu

dikombinasikan dengan radioterapi. Walau seluruh bagian payudara Anda


diangkat, Anda tidak perlu kuatir karena Anda dapat melakukan
rekonstruksi payudara.
4. Kemoterapi
Meskipun Anda telah melakukan pengangkatan tumor melaluii
operasi, tetap ada kemungkinan terdapat penyebaran kanker pada bagian
tubuh lainnya. Karena itu, para penderita kanker payudara mempunyai
pilihan untuk melakukan kemoterapi yang berguna untuk menurunkan
risiko penyebaran kanker. Kemoterapi adalah penggunaan obat anti
kanker. Semakin tinggi stadium kanker, kemoterapi menjadi semakin
penting. Dalam beberapa kasus, pasien dengan stadium i juga mendapat
manfaat kemoterapi. Namun demikian, kemoterapi juga memiliki efek
samping seperti kerontokan rambut, rasa mual, dan lain-lain.
5. Radioterapi
Penderita kanker payudara biasanya juga perlu melakukan radioterapi.
Radioterapi adalah pengobatan dengan menggunakan high energy ray
(hampir
sama
dengan
x-ray)
yang
dapat
membunuh sel-sel kanker. Radio terapi hanya memakan waktu 8 menit dan
tidak sakit.Dalam seminggu, pasien harus datang 5 kali. Pengobatan
berlangsung
selama
kurang
lebih
6 minggu. Radioterapi dilakukan oleh semua pasien yang menjalani Breast
Conservation Therapy. Radiasi penting dilakukan untuk menurunkan risiko
penyebaran kanker. Diskusikan dengan onkolog radiasi Anda tentang
manfaat, proses, dan efek samping dari radioterapi
6. Terapi Hormonal
Setelah patolog menguji spesimen tumor, maka akan dapat ditentukan
apakah tumor pada tubuh Anda sebagai receptor estrogen dan progesteron.
Pasien dengan tumor receptor estrogen cocok melakukan terapi obat penahan
estrogen yang disebut Tamoxifen yang dapat menurunkan secara drastis risiko
penyebaran kanker. Efek samping yang umum pada penggunaan Tamoxifen
adalah penambahan berat badan, gangguan pada vagina, dan lain-lain. Efek
samping lainnya yang tidak biasa adalah pembekuan darah, stroke atau
kanker rahim yang mungkin menakutkan pasien untuk memilih pengobatan
ini. Yang perlu diketahui adalah kemungkinan menyebarnya kanker lebih
tinggi daripada timbulnya efek samping yang serius akibat penggunaan
tamoxifen untuk Anda. Seorang pasien kanker payudara harus rutin
melakukan check up yang bertujuan untuk mencegah atau mengetahui
penyebaran kanker. Untuk awalnya, lakukan kunujungan ke dokter setiap 3
4 bulan. Semakin lama Anda dinyatakan bersih dari kanker, kunjungan ke
dokter semakin berkurang. Setelah 5 tahun, kunjungan ke dokter menjadi 1

tahun sekali. Anda juga harus melakukan mamografi baik untuk payudara
yang terkena maupun yang masih sehat setiap tahunnya karena risiko terkena
kanker payudara tetap ada walaupun Anda sudah terkena. Jika Anda
melakukan pengobatan Tamoxifen, lakukan pemeriksaan panggul setiap tahun
dan jika terjadi pendarahan yang tidak normal pada vagina, segera periksakan
ke dokter.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Tumor mammae adalah pertumbuhan sel sel yang abnormal yang


menggangu pertumbuhan jaringan tub uh terutama pada sel epitel di
mammae ( Sylvia,1995 )
payudara adalah jinak. Sebagian besar perhatian diberikan pada
lesi-lesi yang membahayakan (malignant) pada payudara karena kanker
payudara adalah penyakit membahayakan yang umumnya terjadi pada
wanita.

B. SARAN

Untuk meningkatkan taraf hidup kaum wanita maka perlu dilakukan


perawatan/pencegahan secara dini pada payudara agar dapat
mengurangi/terhindar dari kanker payudara serta perlu peran dinas kesehatan
dalam memberikan promosi kesehatan mengenai pencegahan serta perawatan
payudara.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges M., (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta


Doenges, Marilyn E, et all. 1993. Nursing Care Plans : Guidelines for Planning
and Documenting Patient Care, Edition 3, F.A. Davis Company,
Philadelphia.
Junaedi, Iskandar dr., (2007) Kanker. Jakarta : PT. Buana Ilmu Populer
Lab. UPF Bedah, 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi , RSDS-FKUA,
Surabaya.
Price, Sylvia Anderson, (1995) Patofisiologi Konsep Klinis Proses Prses
Penyakit Edisi 4 buku 2 : Jakarta EGC
sarwono prawirohardjo,1999, Ilmu kandungan ed. 2, cet. 3 Jakarta: yayasan bia
Hal 485