Anda di halaman 1dari 11

I.

II.

Nama sediaan : injeksi R-laktat


Kekuatan Sediaan
Ringeris Lactatis adalah larutan steril dari Kalsium Klorida,
Kalium klorida, Natrium klorida dan Natrium Lactat dalam air untuk
injeksi.
Tiap 100 ml mengandung tidak kurang dari 285,0 mg dan tidak lebih dari
315,0 mg natrium (sebagai NaCl dan C 3H5NaO3), tidak kurang dari 14,1
mg dan tidak lebih dari 17,3 mg Kalium (K, setara dengan tidak kurang
dari 27,0 mg dan tidak lebih dari 33,0 mg KCl), tidak kurang dari 4,90 mg
dan tidak lebih dari 6,00 mg kalsium (Ca, setara dengan tidak kurang dari
18,0 mg dan tidak lebih dari 2,0 mg CaCl 2.2H2O), dan tidak kurang dari
231,0 mg dan tidak lebih dari 261,0 mg laktat (C3H5O3, setara dengan tidak
kurang dari 290,0 mg dan tidak lebih dari 330,0 mg C 3H5NaO3). Injeksi
Ringer Laktat tidak boleh mengandung bahan antimikroba (USP).
Tiap 500 mL mengandung : 1425 1575 mg Natrium klorida, 135 165
mg kalium klorida, 90 100 mg kalsium klorida, dan 1450 1650 mg
natrium laktat.

III.
-

Preformulasi Zat Aktif


Kalsium Klorida (Farmakope Indonesia edisi IV, hal 160)
Pemerian
: Granul atau serpihan, putih, keras, tidak berbau.
Kelarutan
: Mudah larut dalam air, dalam etanol, dan dalam
etanol mendidih, sangat mudah larut dalam air
pH
OTT

panas.
: 4,5 9,2 (5% larutan air)
: karbonat, fosfat, sulfat, tartrat, sefalotin sodium,

Stabilitas

CTM dengan tetrasiklin membentuk kompleks


: Injeksi kalsium dilaporkan inkompatibel dengan

larutan IV
Kegunaan

yang mengandung banyak zat aktif.


: Untuk mempertahankan elektrolit tubuh, untuk
hipokalemia, sebagai elektrolit yang esensial bagi
tubuh untuk mencegah kekurangan ion kalsium yang

Sterilisasi
-

menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.


: autoklaf

Kalium Klorida (Farmakope Indonesia edisi IV, hal 477)

Pemerian

: Kristal atau serbuk kristal putih atau tidak

berwarna,
Kelarutan

tidak berbau, tidak berasa atau berasa asin


: Larut dalam air, sangat mudah larut dalam air

panas,
pH
Konsentrasi
Stabilitas

praktis tidak larut dalam eter, etanol dan alkohol.


: 4-8
: 2,5-11,5%
: Stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup

rapat,
Kegunaan

ditempat sejuk dan kering.


: Biasa digunakan dalam sediaan parenteral sebagai

OTT

senyawa pengisotonis.
: Larutan KCl IV inkompatibel dengan protein

Sterilisasi

hidrosilat, perak dan garam merkuri.


: Dengan otoklaf atau filtrasi.

Natrium Klorida (Farmakope Indonesia edisi IV, hal 584)


Pemerian
: Kristal tidak berbau tidak berwarna atau serbuk
Kristal

putih, tiap 1g setara dengan 17,1 mmol NaCl. 2,54g

Bobot molekul
Kelarutan

NaCl ekivalen dengan 1 g Na.


: 58,44
: 1 bagian larut dalam 3 bagian air, 10 bagian

Sterilisasi
Stabilitas

gliserol
: Autoklaf atau filtrasi
: Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat

pH
OTT
Konsentrasi/dosis

menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas


: 4,5 7
: logam Ag, Hg, Fe
: lebih dari 0,9%. Injeksi IV 3-5% dalam 100 ml
selama 1 jam (DI 2003 hal 1415). Injeksi NaCl
mengandung

2,5 - 4 /ml. Na+ dalam plasma = 135-

145 mEq/L (steril dosage form hal 251).


IV.

Pengembangan Formula
Formula yang digunakan untuk infus Ringer Laktat mengacu pada
USP (US Pharmacopeia).
Ringer Laktat terdiri dari NaCl, KCl, CaCl2, dan natrium laktat. Kalsium
merupakan zat yang penting bagi integritas fungsional sistem saraf, otot
dan tulang.

Kalsium berperan dalam mengatur fungsi jantung, fungsi ginjal, respirasi,


koagulasi darah, permeabilitas kapiler dan membran sel. Kalsium juga
membantu dalam pelepasan dan penyimpanan neurotransmitter dan
hormon, peningkatan asam amino, absorpsi vitamin B12 dan sekresi

lambung.
Kalium berfungsi untuk memelihara fungsi ginjal dan keseimbangan asambasa. Keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah komposisi
elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung
cairan ekstra seluler. Ringer Laktat merupakan larutan infus untuk
memelihara keseimbangan atau mengganti elektrolit dan cairan tubuh.
Konsentrasi kalium intrasel yang tinggi dibutuhkan untuk proses

metabolisme sel.
Natrium berfungsi membantu memelihara keseimbangan cairan tubuh.
Klorida merupakan anion terpenting dalam memelihara keseimbangan

elektrolit.
Aqua pro injection berfungsi sebagai pembawa. Air merupakan pembawa
yang paling umum digunakan karena sesuai dengan cairan tubuh. Air yang
digunakan untuk sediaan injeksi harus steril, memiliki pH 5-7, tidak

V.

mengandung logam berat, dan bebas pirogen.


Perhitungan Tonisitas dan Osmolaritas
- Perhitungan Tonisitas
R/
Natrium Klorida
1,5
Kalium Klorida
0,15
Kalsium Klorida
0095
Natrium Laktat
1,5
Aqua Pro injeksi ad 500 ml
Volume injeksi 50 ml + 2% 510 ml
Natrium Klorida

510
500

x 1,5 = 1,53

Kalium Klorida

510
500

x 0,15 = 0,153

Kalsium Klorida

510
500

x 0,095 = 0,097

510
500

Natrium Laktat
Aqua Pro injeksi ad
Dalam 100 ml :

Nama Zat
Natrium Klorida
Kalium Klorida
Kalsium Klorida
Natrium Laktat

x 1,5 = 1,53

510 ml

Natrium Klorida

100
510

x 1,53 = 0,3 %

Kalium Klorida

100
510

x 0,153 = 0,03 %

Kalsium Klorida

100
510

x 0,097 = 0,019 %

Natrium Laktat

100
510

x 1,53 = 0,3 %

E
1
0,76
0,7
0,58
Total

W (%)
0,3
0,030
0,019
0,3

W x E (%)
0,3
0,0228
0,0133
0,0116
0,3477

NaCl yang ditambahkan : 0,9 % 0,3477 % = 0,5523 %


51 0
Untuk 500 ml
: 100 X 0,5523 gram = 2,817 gram 2817
mg
-

Perhitungan Osmolaritas
Osmolaritas=

Mr-

g /l
jumla hion 1000
Mr

NaCl
KCl
CaCl2
C3H5NaO3

= 58,4
= 74,5
= 110,88
= 112,02

Natrium Klorida

1,5 3/0,5 1
2 1000=102,74 mosmosl / L
58,4

Kalium Klorida

0,15 3 /0,5 1
2 1000=8,0 5 mosmosl /L
74,5

Kalsium Klorida

0,097 /0,5 1
3 1000=3,427 mosmol/ L
110,88

Natrium Laktat

1,5 3/0,5 1
2 1000=53,562 mosmosl/ L
112,02

Jumla h Total osmolaritas=(102,74+ 8,05+3,427+53,562)mosmol


= 167,78 mosmol
VI.

Formula Akhir
R/
Natrium Klorida
Kalium Klorida
Kalsium Klorida
Natrium Laktat
Aqua Pro injeksi ad

VII.

4,347
0,153
0,097
1,53
510 ml

Performulasi Eksipien

Aqua Pro Injeksi (Excipient, 2009 ; 337)


Nama Resmi
: Aqua Sterile Pro Injectionea
Rumus Molekul
: H2O
Berat Molekul
: 18,02
Pemerian
: Cairan jernih, tidak bewarna, tidak berbau, tidak
Stabilitas

berasa.
: Stabil dalam semua keadaan baik minyak, dingin

Inkompatibilitas

ataupun panas
: Dalam formulasi sediaan , air dapat bereaksi

dengan

obat dan bahan tambahan lainnya terurai atau


terhidrolisis. Air juga dapat bereaksi dengan logam

Kegunaan
-

alkali, kalsium dioxid dan magnesium oxid.


: Pembawa atau pelarut

Karbo Adsorbens (Hope halaman; 40)

Pemerian

: Serbuk halus, bebas dari butiran, hitam; tidak


berbau; tidak berasa

Kelarutan

:. Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol

Fungsi

: Adsorbsi pirogen

Konsentrasi

: 0,1%

Stabilitas

: Dapat mengadsorbsi air. Sebaiknya disimpan


dalam wadah tertutup kedap, ditempat sejuk dan
kering.

Inkompatibilitas

: Dapat menurunkan ketersediaan hayati beberapa


obat seperti loperamid dan riboflavin. Reaksi
hidrolisis dan oksidasi dapat dinaikkan.

VIII.

Perhitungan dan penimbangan


Bahan
Natrium Klorida
Kalium Klorida
Kalsium Klorida
Natrium Laktat
Aqua Pro injeksi

IX.

X.

Berat/botol
4,347
0,153
0,097
1,53
ad
510 ml

Berat/2 botol
8,694
0,306
0,194
3,06
Ad 1020 ml

Penentuan metode sterilisasi


Natrium Laktat : Autoklaf atau filtrasi
Natrium Klorida : Autoklaf atau filtrasi (Martindale 28 hal: 635)
Kalium Klorida : Autoklaf
Kalsium Klorida : Autoklaf
Aqua Pro Injeksi : Autoklaf
Prosedur
Alat yang digunakan telah disterilkan terlebih dahulu
Kalibrasi erlenmeyer lalu disterilkan
Timbang semua bahan Kalsium Klorida 0,09, Kalium Klorida 0,135
Natrium Klorida 1,425, Natrium Laktat 0,1, Karbon adsorben 0,1%,
Aqua Pro injeksi ad 500 ml

Pencampuran bahan dilakukan di dalam LAF :


Larutkan natrium klorida dan kalsium klorida dengan aqua pro injeksi
dalam beaker glass
Masukan kalium klorida dan natrium laktat, aduk dengan
menggunakan batang pengaduk hing ahomogen
Lakukan pengecekan pH apabila pH kurangdari 7 maka ditambahkan
dapar pospat dan bila lebih dari 7 tambahkan dapar sitrat
Ad dengan aqua pro injeksi hingga tanda kalibrasi kemudian disaring
dengan kertas saring
Masukan dalam botol infus yang sudah disterilkan
Beri etiket dan label

XI.
1.

Evaluasi
Penetapan pH (Depkes RI, 1995: 1039-1040)
Alat : pH meter
Tujuan : Mengetahui pH sediaan sesuai dengan persyaratan yang
telah ditentukan.
Prinsip : Pengukuran pH cairan uji menggunakan pH meter yang
telah dikalibrasi.
Prosedur: Digunakan

alat

potensiometri

(pH

terkalibrasi. Pengukuran dilakukan pada suhu 25C


dinyatakan lain dalam masing-masing monografi.
ditetapkan dengan persamaan
pH = pHs+

meter)

yang

2, kecuali
Skala

pH

sebagai berikut:

( EEs )
k

Penafsiran hasil : Harga pH dilihat dari yang tertera pada


potensiometer.

2.

Bahan partikulat dalam injeksi (Depkes RI, 1995: 981-985)

Tujuan : Memastikan larutan injeksi, termasuk larutan yang


dikonsitusi dari zat padat steril untuk penggunaan parenteral, bebas
dari partikel yang dapat diamati pada pemerikasaan secara visual.
Prinsip : Sejumlah tertentu sediaan uji difiltrasi menggunakan
membran, lalu membrane tersebut diamati dibawah mikroskop
dengan perbesaran 100x. Jumlah partikel dengan dimensi linier
selektif 10m atau lebih dan sama atau lebih besar dari 25m
dihitung.
Prosedur: Larutan disaring dengan penyaring membrane lalu diamati
dibawah mikroskop micrometer dan hitung partikel pada penyaring
untuk
3.

melihat

jumlah

partikel

dengen

ukuran

lebih

dari

10.000/wadah.
Uji keseragaman bobot dan keseragaman volume (Depkes RI, 1995:
1044)
Tujuan : Untuk mengetahui volume larutan injeksi, apakah tetap
atau berubah antara sebelum dan sesudah proses sterilisasi dan
apakah ada penyusutan.
Prinsip : Mengevaluasi keseragaman sediaan yang meliputi
keseragaman bobot dan keseragaman volume.
Prosedur: Sediaan diletakkan pada permukaan yang rata secara
sejajar lalu dilihat keseragaman bobot dan volume secara visual.
4. Uji kejernihan larutan (Depkes RI, 1995: 998)
Tujuan : Untuk mengetahui kejernihan dari sediaan injeksi yang
dibuat.
Prinsip : Mengevaluasi kejernihan sediaan.
Prosedur: Pemerikasaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan
oleh seseorang yang memeriksa wadah bersih dari luar dibawah
penerangan cahaya yang baik, kemudian terhalang leh refleksi ke
dalam matanya dan berlatar belakang hitam dan putih, dengan
rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar, harus benarbenar bebas dari partikel kecil yang dapat dilihat dengan mata.
Penafsiran hasil : Suatu cairan dinyatakan jernih jika kejernihannya
sama dengan air atau pelarut yang digunakan.
5. Uji kebocoran (Depkes RI, 1995: 1055)

Tujuan : Memeriksa keutuhan kemasan untuk menjaga sterilitas


dan volume serta kestabilan sediaan.
Prosedur : Pada pembuatan secara kecil-kecilan hal ini dapat
dilakukan dengan mata tetapi dalam jumlah besar hal ini tidak
mungkin bisa dikerjakan. Wadah-wadah takaran tunggal yang masih
panas setelah selesai disterilkan dimasukkan ke dalam larutan biru
metilena 0,1%. Jika ada wadah-wadah yang bocor maka larutan
metilena akan masuk ke dalamnya karena perbedaan tekanan diluar
dan didalam. Sehingga cara ini tidak digunakan atau dipakai untuk
larutan-larutan yang sudah berwarna.
Wadah-wadah takaran tunggal disterilkan terbalik dengan cara
ujungnya dibawah. Ini digunakan dalam pembuatan skala kecil. Jika
terjadi kebocoran maka larutan ini akan keluar dari dalam wadah dan
wadah menjadi kosong.
Wadah-wadah yang tidak dapat disterilkan, kebocorannya harus
diperiksa dengan memasukkan wadah-wadah tersebut ke eksikator
yang kemudian divakumkan. Jika terjadi kebocoran larutan akan di
serap keluar. Oleh karena itu, harus dijaga agar jangan sampai
larutan yang keluar diisap kembali jika di vakum dihilangkan.
6. Uji sterilisasi (Depkes RI, 1995: 855)
Tujuan : Untuk menetapkan apakah bahan farmakope yang harus
steril memenuhi persyaratan yang berhubungan dengan uji sterilitas
yang tertera pada masing-masing monografi.
Prosedur
:
Uji Fertilitas : Tetapkan Sterilitas setiap lot media dengan
menginkubasi sejumlah wadah yang mewakili, pada suhu dan

selama waktu yang tertera pada uji.


Uji Sterilitas : Prosedur pengujian terdiri dari inokulasi langsung
kedalam media uji dan teknik penyaringan membran.

7. Volume terpindahkan (Depkes RI, 1995: 1089).


Uji berikut dirancang sebagai jaminan bahwa larutan oral
dan suspense yang dikemas dalam wadah dosis ganda, dengan
volume yang tertera pada etiket tidak lebih dari 250 ml, yang

tersedia dalam bentuk sediaan cair yang dikonstitusi dari bentuk


padat dengan penambahan bahan pembawa tertentu dengan volume
yang ditentukan, jika dipindahkan dari wadah asli, akan memberikan
volume sediaan seperti yang tertera pada etiket (Depkes RI, 1995:
1089).
Untuk penetapan volume terpindahkan, pilih tidak kurang dari 30
wadah, dan selanjutnya ikuti prosedur berikut untuk sediaan tersebut
(Depkes RI, 1995: 1089).
Larutan oral, suspense oral dan sirup dalam wadah dosis
ganda, kocok isi 10 wadah satu per satu (Depkes RI, 1995: 1089).
Serbuk dalam wadah dosis ganda yang mencantumkan penendaan
volume untuk larutan oral atau suspense oral yang dihasilkan bila
serbuk dikonstitusi dengan sejumlah pembawa seperti tertera pada
etiket diukur secara seksama dan campur (Depkes RI, 1995: 1089).
Tujuan : Untuk menguji volume sampel.
Prinsip : Uji berikut dirancang sebagai jaminan bahwa sampel yang
dikemas dalam wadah dosis ganda dengan volume yang tertera pada
etiket tidak lebih dari 250 ml.
Prosedur : tuang isi perlahan-lahan dari tiap wadah ke dalam gelas
ukur kering terpisah dengan kapasitas gelas ukur tidak boleh lebih
dari dua setengah kali volume yang diukur dan telah dikalibrasi,
secara hati-hati untuk menghindarkan pembentukan gelembung
udara pada waktu penuangan dan didiamkan selam tidak lebih dari
30 menit. Jika terbebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap
campuran; volume rata-rata larutan, suspensi, atau sirup yang
diperoleh dari 10 wadah tidak kurang dari 100%, dan tidak satupun
volume wadah yang kurang dari 95% dari volume yang dinyatakan
pada etiket. Jika A adalah volume dari rata-rata kurang dari 100%
dari yang tertera pada etiket akan tetapi tidak ada satu wadah pun
volumenya kurang dari 95% dari volume yang tertera pada etiket,
atau B tidak lebih dari satu wadah volume kurang dari 95%, tetapi
tidak kurang dari 90% dari volume yang tertera pada etiket, lakukan
pengujian terhadap 20 wadah tambahan. Volume rata-rata larutan,

suspense atau sirup yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari
100% dari volume yang tertera pada etiket. Dan tidak lebih dari satu
dari 30 wadah volue kurang dari 95%, tetapi tidak kurang dari 90%
seperti yang tertera pada etiket.
XII.

Wadah dan Kemasan

Daftra Pustaka
Departemen Kesehatan RI. (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen
Kesehatan RI, Jakarta.
Reynold, James EF, Martindale. The Extra Pharmacopeia twenty-eight edition.
The Pharmaceutical Press: London, 1982. page 1325
Kibbe, AH. Handbook of pharmaceutical Excipients. Third Edition. Washington
D.C: American Pharmaceutical Association; 2000. hal 7, 35, 407, 433.
Reynold, James EF, Martindale the extra pharmacopeia, Twenty-eight edition. The
pharmaceutical press : London, 1982.
The United States Pharmacopeia. The Nasional Formulari 23. Volume I. United
States Pharmacopeia Convention Inc.: Washington, D.C