Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar salep yang cocok. Salep mata berbeda dengan salep dermatologi, salep mata harus steril. Apakah dibuat dari bahan-bahan yang sudah steril dalam keadaan bebas hama sepenuhnya atau disterilkan sesudah pembuatan. Salep mata harus memenuhi uji sterilitas sebagaimana tertera pada kompedia resmi. Sterilitas merupakan syarat yang paling penting. Larutan mata yang dibuat dapat membawa banyak mikroorganisme, yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan, ini khususnya berbahaya untuk penggunaan produk-produk nonsteril pada mata saat kornea terkena. Bahan partikulat dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien. Salep mata memberikan arti lain dimana obat dapat mempertahankan kontak dengan mata dan jaringan di sekelilingnya tanpa tercuci oleh cairan air mata. Salep mata memberikan keuntungan dimana waktu kontaknya lebih lama dan bioavaibilitasnya dan letal obat lebih besar meski dengan onset yang lebih lambat dan waktu untuk mencapai absorbsi lebih lama. Ssatu kekurangan dari penggunaan salep mata adalah salep akan mengganggu pandangan kecuali digunakan selama waktu tidur. B. Tujuan Tujuan dibuatnya makalah formulasi ini adalah untuk memperoleh sediaan salep mata yang memiliki formulasi terbaik dibandingkan dengan formula lainnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Salep Mata Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok (Anief, 2000). Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata. Pada pembuatan salep mata harus diberikan perhatian khusus. Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas (Anonim, 1995). Bila bahan tertentu yang digunakan dalam formulasi salap mata tidak dapat disterilkan dengan cara biasa, maka dapat digunakan bahan yang memenuhi syarat uji sterilitas dengan pembuatan secara aseptik. Salap mata mengandung bahan atau campuran bahan yang sesuai untuk mecegah pertumbuhan atau memusnahkan mikroba yang mungkin masuk secara tidak sengaja bila wadah dibuka pada waktu aplikasi penggunaan, kecuali dinyatakan lain dalam monografi, atau formulanya sendiri sudah bersifat bakteriostatik (Goeswin, ). Obat biasanya dipakai untuk mata untuk maksud efek lokal pada pengobatan bagian permukaan mata atau pada bagian dalamnya. Yang paling sering digunakan adalah larutan dalam air, tapi bisa juga dalam bentuk suspensi, cairan bukan air dan salep mata. Berbeda dengan salep dermatologi, syarat salep mata yang baik yaitu : Steril Bebas hama/bakteri Tidak mengiritasi mata Difusi bahan obat ke seluruh mata yang dibasahi karena sekresi cairan mata. Dasar salep harus mempunyai titik lebur/titik leleh mendekati suhu tubuh (Ansel,1989). B. Karakteristik Sediaan Salep Mata 1. Kejernihan Larutan mata adalah larutan bebas dari partikel asing dan jernih secara normal diperoleh dengan filtrasi. Tentunya, pentingnya peralatan filtrasi agar jernih dan tercuci baik sehingga bahan-bahan partikulat tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain

peralatan untuk menghilangkannya. Pengerjaan penampilan untuk larutan dalam lingkungan yang bersih, penggunaan LAF dan harus tidak tertumpah memberikan kebersihan untuk penyiapan larutan jernih bebas dari partikel asing. Dalam beberapa permasalahan, kejernihan dan sterilisasi dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Ini penting untuk menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan wadah dan tutup. Keduanya, wadah dan tutup harus bersih, steril dan tak tertumpahkan. Wadah atau tutup tidak membawa partikel dalam larutan selama kontak lama dalam penyimpanan. Normalnya dilakukan tes sterilisasi 2. Stabilitas Stabilitas obat dalam larutan seperti produk mata tergantung sifat kimia bahan obat, pH produk, metode penyiapan (khususnya penggunaan suhu), zat tambahan larutan dan tipe pengemasan. Obat seperti pilokarpin dan fisostigmin aktif dan cocok pada mata pada pH 6,8. Namun demikian pH stabilitas kimia (atau ketidakstabilan) dapat diukur dalam beberapa hari atau bulan. Dengan obat ini, bahan kehilangan stabilitas kimia kurang dari 1 tahun. Sebaliknya pada pH 5 kedua obat stabil dalam beberapa tahun. 3. Buffer dan pH Idealnya, sediaan mata sebaiknya diformulasi pada pH yang ekuivalen dengan cairan air mata yaitu 7,4. dan prkteknya jarang dicapai. Mayoritas bahan aktif dalam optalmology adalah garam basa lemah dan paling stabil pada pH asam. Ini umumnya dapat dibuat dalam suspensi kortikosteroid tidak larut. Suspensi biasanya paling stabil pada pH asam pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator. pH diseleksi jadi optimum untuk stabil. Sistem dapar diseleksi agar mempunyai kapasitas adekuat untuk memperoleh pH dengan range stabilitas untuk durasi umur produk. Kapasitas buffer adalah kunci utama situasi ini 4. Tonisitas Tonisitas berarti tekanan osmotik yang diberikan oleh garam-garam dalam larutan berair. Larutan mata adalah isotonik dengan larutan lain ketikamagnitude sifat koligatif larutan adfalah sama. Larutan mata dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan 0,9 % larutan NaCl Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas dari suatu waktu yang diusulkan. Mata biasanya dapat mentoleransi larutan sama untuk range

0,5 % 1,8 % NaCl intraokuler. Namun demikian ini tidak dibutuhkan ketika stabilitas produk dipertimbangkan 5. Viskositas USP mengizinkan penggunaan peningkat viskositas untuk memperpanjang waktu kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat dan aktivitasnya. Bahan-bahan seperti metil selulose, polivinil alkohol dan hidroksil metil selulose ditambahkan secara berkala untuk meningkatkan viskositas. Investigator telah mempelajari efek peningkatan viskositas pada waktu kontak dalam mata. Umumnya viskositas meningkat dari 25 50 cps range signifikan meningkatkan lama kontak dalam mata. 6. Bahan Tambahan Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata dibolehkan, namun

pemilihannya dalam jumlah tertentu. Antioksidan, khususnya natrium bisulfit atau metasulfit, digunakan dalam konsentrasi sampai 0,3 %, khususnya dalam larutan yang mengandung garam epinefrin. Antioksidan lain seperti asam askobat atau asetilsistein dapat digunakan. Antioksidan ini berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi epinefrin. Penggunaan surfaktan dalam sediaan mata dibatasi hal yang sama. Surfaktan nonionik, keluar toksis kecil seperti bahan campuran digunakan dalam konsentrasi rendahkhususnya suspensi steroid dan berhubungan dengan kejernihan larutan. Surfaktan jarang digunakan sebagai kosolven untuk meningkatkan kelarutan. Penggunaan surfaktan, khususnya beberapa konsentrasi signifikan, sebaiknya dengan karakteristik bahan-bahan. Surfaktan nonionik, khususnya dapat bereaksi dengan adsorpsi dengan komponen pengawet antimikroba dan inaktif sistem pengawet. Benzalkonium klorida dalam range 0,01 0,02 % dengan toksisitas faktor pembatas konsentrasi, sebagai pengawet digunakan dalam jumlah besar larutan dengan suspensi sediaan mata.

C. Syarat Syarat Salep Mata Salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan dibawah kondisi yang benar-benar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi resmi. Sterilisasi terminal dari salep akhir dalam tube disempurnakan dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi gamma.

Salep mata harus mengandung bahan yang sesuai atau campuran bahan untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang berbahaya ketika wadah terbuka selama penggunaan. Bahan antimikroba yang biasa digunakan adalah klorbutanol, paraben atau merkuri organik. Salep akhir harus bebas dari partikel besar. Basis yang digunakan tidak mengiritasi mata, membiarkan difusi obat melalui pencucian sekresi mata dan mempertahankan aktivitas obat pada jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang sesuai. Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. Beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap, bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar larut dalam air dapat digunakan untuk obat yang larut dalam air. Bahan dasar salep seperti ini memungkinkan dispersi obat larut air yang lebih baik tetapi tidak boleh menyebabkan iritasi pada mata. Sterilitas merupakan syarat yang paling penting, tidak layak membuat sediaan larutan mata yang mengandung banyak mikroorganisme yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan, bahaya yang paling utama adalah memasukkan produk nonsteril ke mata saat kornea digosok. Bahan partikulat yang dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien. Jika suatu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata menjelaskan dengan sendirinya bahwa sediaan mata harus steril. Air mata tidak seperti darah tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Mekanisme utama untuk pertahanan melawan infeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lizosim) yang mempunyai kemampuan menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa mikroorganisme, satu dari mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lizosim yakni yang paling mampu menyebabkan kerusakan mata yaitu Pseudomonas aeruginosa (Bacilllus pyocyamis). Infeksi serius yang disebabkan

mikroorganisme ini ditunjukka dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. Penting untuk dicatat bahwa ini bukan mikroorganisme yang jarang, namun juga ditemukan disaluran intestinal, dikulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada diudara.

D. Bahan Pembuatan Salep Mata Bahan tambahan yang ditambahkan ke dalam dasar salap mata berbentuk larutan atau serbuk halus. Salep mata harus bebas dari partikel kasar dan harus memenuhi syarat kebocoran dan partikel logam pada uji salep mata. Wadah untuk salep mata harus dalam keadaan steril pada waktu pengisian dan penutupan serta harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada penggunaan pertama obat. Dasar salap mata yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata, memungkinkan difusi obat dalam caitan mata, dan tetap dapat memperthankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang tepat (usia) guna. Vaselin merupakan dasar salap mata yang banyak digunakan. Beberapa bahan dasar salap dapat menyerap air, bahan dasar yang mudah dicuci dengan air, dan bahan seperti ini memungkinkan dispersi obat larut secara lebih baik, tetapi tidak boleh

menyebabkan iritasi pada mata. Zat obat yang ditambahkan ke dalam dasar salep, apakah dalam bentuk larutan atau dalam bentuk serbuk yang dibuat halus sekali sampai ukuran mikron. Lalu obat dicampur sampai sempurna dengan dasar salap biasanya memakai penggiling. Setelah pembuatan saeap mata ini diisikan ke dalam tube yang terbuat dari plastik atau timah dimana sebelumnya telah dibuat steril. Tube yang isinya kurang lebih 3,5 gram salap dan dikocokkan dengan ujungnya berliku sempit yang memungkinkan lompatan segumpal kecil salep. Hal ini sesuai untuk menempatkan salap pada garis tepi kelopak mata. Suatu tempat yang biasa dalam pemakaian obat. Hal ini harus dikerjakan tanpa menyentuh mata (Ansel, ). E. Kualitas Basis Salep 1. Stabil, selama masih dipakai dalam masa pengobatan. Maka salep harus bebas dari inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembaban yang ada dalam kamar. 2. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak dan homogen, sebab salep digunakan untuk kulit yang teriritasi, inflamasi dan ekskoriasi. 3. Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi adalah yang palintg mudah dipakai dan dihilangkan dari kulit. 4. Dasar salep yang cocok adalah dasar salep yang kompatibel secara fisika dan kimia dengan obat yang dikandungnya.

5. Terdistribusi secara merata, obat harus terdistribusi merata melalui dasar salep padat atau cair pada pengobatan. F. Penggolongan Basis Salep 1. Dasar salep berminyak. Contohnya : Vaselin, parafin, minyak tumbuh-tumbuhan dan silikon. 2. Dasar salep absorpsi Golongan dasar salep absorpsi meliputi minyak hidrofil yaitu adeps lanae, Hydrophylic petrolatum dan dasar salep yang baru seperti polysorb. Dasar salep absorpsi ada dua tipe : Dasar salep anhidrous yang mampu menyerap air dan membentuk tipe emulsi A/M seperti adeps lanae dan Hydrophilic petrolatum. Dasar salep hidrus dan merupakan tipe emulsi A/M tetapi masih mampu menyerap air yang ditambahkan seperti cold cream dan lanolin.Sifat lain dasar salep absorpsi adalah tidak mudah dicuci, karena fase kontinyu adalah minyak. 3. Dasar salep tercuci Dasar salep tercuci adalah anhidrous, larut dalam air dan mudah dicuci dengan air. Hanya bagian kecil dari cairan dapat didukung oleh dasar salep tanpa perubahan viskositas. Contohnya : Polietilenglikol. 4. Dasar salep emulsi Ada dua macam yaitu : Dasar salep emulsi tipe A/M seperti lanolin dan cold cream. Dasar salep emulsi tipe M/A seperti hydrophilic oinment dan Vanishing cream

Pemilihan dasar salep disesuaikan dengan kebutuhan atau sifat salep yang diinginkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah: Laju penglepasan bahan obat dari basis salep; Peningkatan absorpsi perkutan oleh basis salep dari bahan obat; Kelayakan melindungi kelembaban kulit oleh basis salep; Jangka waktu obat stabil dalam basis salep; dan Pengaruh obat terhadap kekentalan atau hal lainnya dari basis salep.

G. Cara - Cara Sterilisasi Menurut Farmakope Indonesia edisi IV 1. Sterilisasi Uap Adalah proses sterilisasi thermal yang menggunakan uap jenuh dibawah tekanan selama 15 menit pada suhu 121o. Kecuali dinyatakan lain, berlangsung di suatu bejana yang disebut otoklaf, dan mungkin merupakan proses sterilisasi paling banyak dilakukan. Alat: Disebut otoklaf, yaitu suatu panci logam yang kuat dengan tutup yang berat,

mempunyai lubang tempat mengeluarkan uap air beserta krannya, termometer, pengatur tekanan udara, klep pengaman. Cara bekerja : Otoklaf dipanaskan, ventilasi dibuka untuk membiarkan udara keluar. Pengusiran udara pada otoklaf berdinding dua, uap air masuk dari bagian atas dan udara keluar dari bagian bawah yang dapat ditunjukkan pada gelembung yang keluar dari ujung pipa karet dalam air. Setelah udara bersih, bahan yang akan disterilkan dimasukkan sebelum air mendidih, tutup otoklaf dan dikunci, ventilasi ditutup dan suhu serta tekanan akan naik sesuai dengan yang dikehendaki. Atur klep pengaman supaya tekanan stabil. Setelah sterilisasi selesai, otoklaf dibiarkan dingin hingga tekanannya sama dengan tekanan atmosfir. Cara sterilisasi ini lebih efektif dibanding dengan pemanasan basah yang lain, karena suhunya lebih tinggi. Bahan / alat yang dapat disterilkan : Alat pembalut, kertas saring, alat gelas ( buret, labu ukur ) dan banyak obat-obat tertentu. 2. Sterilisasi Panas Kering Sterilisasi cara ini menggunakan suatu siklus Oven modern yang dilengkapi udara yang dipanaskan dan disaring. Rentang suhu khas yang dapat diterima di dalam bejana sterilisasi kosong adalah lebih kurang 15o, jika alat sterilisasi beroperasi pada suhu tidak kurang dari 250C.

Alat : Oven yaitu lemari pengering dengan dinding ganda, dilengkapi dengan termometer dan lubang tempat keluar masuknya udara, dipanaskan dari bawah dengan gas atau listrik.

Bahan / alat yang dapat disterilkan dengan cara kering Alat-alat dari gelas (gelas kimia, gelas ukur, pipet ukur, erlemeyer, botol-botol, corong), bahan obat yang tahan pemanasan tinggi (minyak lemak, vaselin).

Ciri-ciri pemanasan kering : Yang dipanaskan adalah udara kering. Proses pembunuhan mikroba berdasarkan oksidasi O2 udara. Suhu yang digunakan lebih tinggi, kira-kira 150. Satu gram udara pada suhu 100, jika didinginkan menjadi 99 hanya membebaskan 0,237 kalori. Waktu yang diperlukan lebih lama, antara 1 jam sampai 2 jam, kecuali pemijaran. Digunakan untuk sterilisasi bahan obat / alat yang tahan pemanasan tinggi.

3. Sterilisasi gas Bahan aktif yang digunakan adalah gas etilen oksida yang dinetralkan dengan gas inert, tetapi keburukan gas etilen oksida ini adalah sangat mudah terbakar, bersifat mutagenik, kemungkinan meninggalkan residu toksik di dalam bahan yang disterilkan, terutama yang mengandung ion klorida. Pemilihan untuk menggunakan sterilisasi gas ini sebagai alternatif dari sterilisasi termal, jika bahan yang akan disterilkan tidak tahan terhadap suhu tinggi pada sterilisasi uap atau panas kering. Proses sterilisasinya berlangsung di dalam bejana bertekanan yang didesain seperti pada otoklaf dengan modifikasi tertentu. Salah satu keterbatasan utama dari proses sterilisasi dengan gas etilen oksida adalah terbatasnya kemampuan gas tersebut untuk berdifusi sampai ke daerah yang paling dalam dari produk yang disterilkan. 4. Sterilisasi dengan radiasi ion Ada 2 jenis radiasi ion yang digunakan yaitu disintegrasi radioaktif dari radioisotop (radiasi gamma) dan radiasi berkas elektron. Digunakan isotop radio aktif, misalnya Cobalt 60. Pada kedua jenis ini, dosis yang menghasilkan derajat jaminan sterilitas yang diperlukan harus ditetapkan sedemikian rupa hingga dalam rentang satuan dosis minimum dan maksimum, sifat bahan yang disterilkan dapat diterima. Walaupun

berdasarkan pengalaman dipilih dosis 2,5 megarad (Mrad) radiasi yang diserap, tetapi dalam beberapa hal, diinginkan dan dapat diterima penggunaan dosis yang lebih rendah untuk peralatan, bahan obat dan bentuk sediaan akhir. Cara ini dilakukan jika bahan yang disterilkan tidak tahan terhadap sterilisasi panas dan khawatir tentang keamanan etilen oksida. Keunggulan sterilisasi ini adalah reaktivitas kimia rendah, residu rendah yang dapat diukur serta variabel yang dikendalikan lebih sedikit. 5. Sterilisasi dengan penyaringan Sterilisasi larutan yang labil terhadap panas sering dilakukan dengan penyaringan menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba, hingga mikroba yang dikandungnya dapat dipisahkan secara fisika. Perangkat penyaring umumnya terdiri dari suatu matriks berpori bertutup kedap atau dirangkaikan pada wadah yang tidak permeable. Efektivitas penyaring media atau penyaring subtrat tergantung pada ukuran pori matriks, daya adsorpsi bakteri dari matriks dan mekanisme pengayakan. Penyaring yang melepas serat, terutama yang mengandung asbes harus dihindari penggunaannya kecuali tidak ada penyaringan alternatif lain yang mungkin bisa digunakan. Ukuran porositas minimal membran matriks tersebut berkisar 0,2 mm 0,45 mm tergantung pada bakteri apa yang hendak disaring. Penyaring yang tersedia saat ini adalah selulosa asetat, selulosa nitrat, flourokarbonat, polimer akrilik, polikarbonat, poliester, polivinil klorida, vinil nilon, potef dan juga membran logam. Larutan disaring melalui penyaring bakteri steril, diisikan ke dalam wadah steril, kemudian ditutup kedap menurut teknik aseptik . Keuntungan cara ini : Digunakan untuk bahan obat yang tidak tahan pemanasan tetapi larut dalam air. Dapat dilakukan dengan cepat, terutama untuk pembuatan kecil-kecilan. Semua mikroba hidup atau mati dapat disaring dari larutan, virus jumlahnya dikurangi. Penyaring dapat bersifat adsorpsi, sebagian besar virus dapat diadsorpsi

Kerugian cara ini : Masih diperlukan zat bakterisida. Hanya dapat digunakan untuk pembawa berair, tidak dapat digunakan untuk pembawa minyak.

Beberapa jenis penyaring dapat mengadsorpsi bahan obat, terutama kalau kadarnya kecil.

Beberapa penyaring sukar dicuci : porselin, Keiselguhr. Beberapa penyaring bersifat alkalis (Seitz filter) dan penyaring dari asbes melepaskan asbes ke dalam larutan.

Filtrat yang diperoleh belum bebas dari virus.

Cara-cara menyaring. Ada 2 cara untuk menyaring , yaitu : Dengan tekanan positip : larutan dalam penyaring ditekan dengan tekanan yang lebih besar dari udara luar. Dengan tekanan negatip : larutan dalam penyaring diisap (penampung di vakumkan). Udara yang dipakai untuk itu harus udara bersih, biasanya digunakan gas nitrogen (N2) yang dialirkan melalui kapas berlemak dalam tabung gelas atau platina yang dipanaskan. Pembersihan penyaring bakteri : Dengan menyedot air bersih berlawanan dengan cara penyaringan atau larutan HCl panas lalu dibilas. Memasak dalam larutan Na-karbonat 2 % lalu dibilas (protein akan hancur , karena pH 8,5). Penyaring bakteri disterilkan dengan cara pemanasan kering, pemijaran, otoklaf atau secara kimiawi.. 6. Sterilisasi dengan cara aseptic Proses ini untuk mencegah masuknya mikroba hidup ke dalam komponen steril atau komponen yang melewati proses antara yang mengakibatkan produk setengah jadi atau produk ruahan atau komponennya bebas dari mikroba hidup. Cara sterilisasi dengan menggunakan teknik yang dapat memperkecil

kemungkinan terjadi cemaran/ kontaminasi dengan mikroba hingga seminimal mungkin. Digunakan untuk bahan obat yang tidak dapat disterilkan dengan cara pemanasan atau dengan cara penyaringan. Caranya : Bahan obat: memenuhi syarat p.i , tidak disterilkan. Zat pembawa: disterilkan tersendiri dahulu.

Zat pembantu: disterilkan tersendiri. Alat-alat: disterilkan dengan cara yang cocok. Ruang kerja: bersih, bebas debu, dan angin, disterilkan dengan sinar u.v atau cara lain yang sesuai. Kemudian bahan obat, zat pembawa, zat pembantu disimpan secara aseptic dalam

ruang aseptic hingga terbentuk obat / larutan injeksi dan dimasukkan ke dalam wadah secara aseptic. Pemilihan cara sterilisasi harus mempertimbangkan beberapa hal seperti berikut: Stabilitas : sifat kimia, sifat fisika, khasiat, serat, struktur bahan obat tidak boleh mengalami perubahan setelah proses sterilisasi. Efektivitas : cara sterilisasi yang dipilih akan memberikan hasil maksimal dengan proses yang sederhana, cepat dan biaya murah. Waktu : lamanya penyeterilan ditentukan oleh bentuk zat, jenis zat, sifat zat dan kecepatan tercapainya suhu penyeterilan yang merata.

H. Pengujian Salep Mata 1. Uji Kebocoran Salep Mata Pilih 10 tube salep mata, dengan segel khusus jika disebutkan. Bersihkan dan keringkan baik-baik permukaan luar tiap tube dengan kain penyerap. Letakkan tube pada posisi horizontal di atas lembaran kertas penyerap, dalam oven dengan suhu yang diatur pada 60 + 3 0C selama 8 jam. Tidak boleh terjadi kebocoran yang berarti selama atau setelah pengujian selesai (abaikan bekas salep yang diperkirakan berasal dari bagian luar dimana terdapat lipatan dari tube atau bagian luar dari ulir tutup tube). Jika terdapat kebocoran pada satu tube tapi tidak lebih dari satu; ulangi pekerjaan dengan tambahan 20 tube salep. Persyaratan ini memenuhi jika tidak ada satupun dari 10 tube uji pertama dan kebocoran yang diamati tidak lebih dari satu dari 30 tube yang diuji. 2. Uji Partikulat Keluarkan isi dari 10 tube salep. Pertama-tama lebur dalam cawan Petri datar dan kemudian biarkan memadat lalu diamati di bawah mikroskop tenaga rendah yang dilengkapi dengan micrometer lensa mata untuk partikel yang berukuran 50 m atau lebih besar dalam beberapa dimensi. Syarat-syaratnya diterima jika jumlah total dari partikel

logam dalam seluruh 10 tube tidak lebih dari 50 dan jika tidka lebih dari satu tube ditemukan mengandung delapan partikel yang sama. 3. Uji Sterilisasi Uji untuk sterilisasi produk seperti salep mata telah dipermudah dengan penggunaan steril membran bacteria-retaining (yang mempunyai porositas 0,45 atau 0,22 m yang umumnya digunakan). Untuk salep yang larut dalam isopropyl miristat (pelarut yang digunakan tes official untuk sterilisasi), sampel dilarutkan dalam pelarut tes steril. Untuk salep yang tidak larut dalam isopropyl miristat disuspensikan dalam pembawa cairan yang cocok yang mengandung bahan pendispersi dan uji dengan Prosedur Umum Konvensional.

I. Keuntungan dan Kelemahan Sediaan Salep Mata Keuntungan utama suatu salep mata terhadap larutan untuk mata adalah penambah waktu hubungan anatara obat dengan obat dengan mata, dua sampai empat kali lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai larutan garam. Satu kekurangan bagi pengggunaan salep mata adalah kaburnya pandangan yang terjadi begitu dasar salep meleleh dan menyebar melalui lensa kontak (Ansel, ). Sediaan mata umumnya dapat memberikan bioavailabilitas lebih besar daripada sediaan larutan dalam air yang ekuivalen. Hal ini disebabkan karena waktu kontak yang lebih lama sehingga jumlah obat yang diabsorbsi lebih tinggi. Salep mata dapat mengganggu penglihatan, kecuali jika digunakan saat akan tidur (Remington Pharmaceutical Science, ).

BAB III PEMBAHASAN Formulasi:


Bahan I Kloramfenikol Tetrasiklin HCl Pemerian: Serbuk hablur, kuning, rasa pahit, amfoter Kelarutan: Larut dalam 10 bagian air dan dalam 100 bagian etanol 95% P, Larut dalam air jika dibiarkan akan keruh karena pengendapan tetrasiklin, praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P, dalam aseton P, dan dalam larutan alkali hidroksida dan dalam larutan alkali karbonat. Penyimpanan: Dalam wadah tertutup rapat, II Formula III Kelompok Keterangan

terlindung dari cahaya, jika dalam udara lembab terkena sinar matahari warna menjadi gelap, larutan dengan pH tidak lebih dari 2. Rusak pada pH 7 atau lebih. Kegunaan: Zat aktif Stabilitas: Akan terhidrolisis dalam larutan alkali dan menjadi kabur, sebaiknya stabil di udara dan menjadi gelap jika terpapar cahaya yang kuat Incomp: Tetrasiklin mempunyai potensi untuk rusak atau adanya asam kuat. Sterilisasi: Disterilkan dengan radiasi sinar gamma Klorobutanol Pemerian: Menguap, sedikit berwarna atau kristal putih yang rapuh, bau kamfer. Kelarutan: Larut bebas dalam kloroform, eter dan minyak menguap, 1 bagian dalam 0,6 ml etanol (95 %) P Penyimpanan: Serbuk materiil disimpan pada wadah tertutup baik pada temperature 8 15oC Kegunaan: Pengawet tokoferol Pemerian: Tidak berbau atau sedikit berbau, tidak berasa atau sedikit berasa cairan, seperti minyak, kuning jernih

Kelarutan: Praktis tiak larut dalam air, larut dlam etanol (95%) P, dan dapat bercampur dengan eter P, dan dengan aseton P, dengan ,minyak nabati, dengan kloroform P Penyimpanan: Harus disimpan di bawah gas inert dalam wadah kedap udara pada temperature yang sejuk dan kering, terlindung dari cahaya Kegunaan: Sebagai antioksidan Paraffin cair Pemerian: Cairan kental, transparan, tidak

berfluoresensi, tidak berwarna, hampir tidak berbau, hampir tidak mempunyai rasa. Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95 %) P, larut dalam kloroform P dan dalam eter P. Penyimpanan: Dalam wadah tertutup rapat, Kegunaan: Sebagai basis Adeps lanae Pemerian: Cairan jernih, tidak berwarna, odourless, tidak berasa Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, mudah larut dalam kloroform P dan eter P Penyimpanan: Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk dan kering. Kegunaan: Sebagai basis Kestabilan : Dapat mengalami autooksidasi selama penyimpanan untuk menghambat proses ini dapat ditambah BFIT sebagai antioksidan Incomp : Lanolin dapat mengandung prooksidan yang dapat mengandung bahan aktif. Sterilisasi : Oven pada suhu 150oC selama 1 jam, salep mata steril yang mengandung lanolin dapat disterilkan dengan cara filtrasi atau disinari dengan radiasi BHT Vaselin flavum Pemerian : Massa lunak, lengket, kuning, bening, sifat ini tetap setelah zat dilebur dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk, berfluoresensi lemah. Jika

dicairkan tidak berbau, hampir tidak berasa. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, dan dalam etanol (95 %) P, larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam eter minyak tanah, larutan kadangkadanag teropalesensi lemah Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. Kegunaan : Sebagai basis Kestabilan : Kebanyakan masalah stabilitas terjadi karena sejumlah kecil larutan dengan pemaparan cahaya, kotoran ini teroksidasi yang dapat merupah petrolatum dan menciptakan bau yang tidak sedap. Incomp : Bahan inert yang memiliki beberapa sifat incomp Jarak lebur : 38,56 38,60oC Sterilisasi : Oven pada suhu 150oC selama 1 jam Setil alkohol

1. Formula I Pada formula 1, bahan aktif yang digunakan adalah kloramfenikol. Bahan pengawet yang digunakan adalah klorobutanol dan tokoferol sebagai antioksidan. Basis yang digunakan adalah paraffin cair, adeps lanae, dan vaselin flavum. Kelebihan dari sediaan salep mata kloramfenikol ini adalah pada khasiat kloramfenikol yang ditujukan untuk penggunaan blepharitis yaitu radang pada kelopak mata, jadi harus dibuat sediaan salep karena berkerja pada kelopak mata, kelenjar sebaseus, konjungtiva, kornea dan iris. Namun kloramfenikol memiliki efek samping umum, antara lain gangguan lambung dan usus, neuropati optis dan perifer, radang lidah dan mulut. 2. Formula II Pada formula 2, bahan aktif yang digunakan adalah kloramfenikol, sama dengan formula pertama. Namun pada formula kedua ini tidak ditambahkan pengawet ataupun antioksidan. Sehingga dikhawatirkan sediaan ini cepat mengalami reaksi rancidity maupun menjadi rusak. Untuk khasiat dan indikasi sama dengan formula yang pertama.

3. Formula III Pada formula 3, bahan aktif yang digunakan adalah Tetrasiklin HCl. Tetrasiklin HCL sebagai zat aktif bekhasiat sebagai antimikroba spektrum luas. Bahan pengawet yang digunakan pada formula ini adalah BHT. Kelemahan dari formula ini adalah pada kestabilan BHT terganggu pada paparan terhadap cahaya, kelembaban, dan panas sehingga menyebabkan perubahan warna dan hilangnya aktifitas. 4. Formula Kelompok Pada formula kelompok, kami memilih menggunakan Tetrasiklin HCl sebagai zat aktifnya. Bahan pengawet yang digunakan adalah klorobutanol dan tokoferol sebagai antioksidan. Basis yang digunakan adalah paraffin cair, adeps lanae, dan vaselin flavum. Alasan pemilihan Tetrasiklin HCl adalah karena khasiatnya sebagai antimikroba (bakteriostatik) spectrum luas. Salep mata golongan tetrasiklin efektif untuk mengobati trachoma dan infeksi lain pada mata oleh kuman gram positif dan gram negatif yang sensitif. Mekanisme kerja Tetrasiklin HCl yaitu hambatan pada sintesis protein ribosom yaitu dengan menghambat pemasukan asil t-RNA pada fase pemanjangan yang termasuk fase translasi. Ini akan menyebabkan blockade perpanjangan rantai peptide. Alasan pemilihan tokoferol sebagai antioksidan adalah karena vaselin distabilkan dengan penambahan sejumlah alfa tokoferol. Selain itu, karena sebelum dimurnikan, paraffin cenderung teroksidasi dan menimbulkan bau yang tak sedap. Ini dicegah dengan pemakain alfa tokoferol. Alasan penggunaan klorobutanol adalah karena klorbutanol secara luas digunakan sebagai pengawet pada sediaan farmasetik sebagian besar pada sediaan mata. Konsentasi yang digunakan sebagai pengawet pada sediaan mata adalah 0,5%. Klorbutanol aktif melawan bakteri gram positif dan gram negatif dan beberapa jamur seperti Candida albicans, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus albus. Salep mata harus mengandung bahan yang cocok atau campuran bahan untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang ada ketika wadah dibuka selama pemakaian.