Anda di halaman 1dari 16

INFUS RINGER LAKTAT

I. Nama sediaan
Infus Ringer Laktat (USP)

II. Volume sediaan


500 mL
Resep standar
Tiap 1000 mL mengandung:
R/ NaCl 6
Natrium laktat 3,100
KCl 0,300
CaCl2 0,200
Aqua pro injeksi ad 1000 mL

III. Preformulasi Zat Aktif


1 Natrium laktat (Trissel, 2009)
Rumus molekul : C3CHOHCOONa
Bobot molekul : 112,06 g/mol
Pemerian : Tidak berwarna , bening ; tidak berbau;
atau sedikit berbau dengan bau garam yang khas ;higroskopis
Kelarutan : Larut dalam methanol 95% dan dalam air,
kloroform dan gliserol.praktis tidak larut dalam kloroform,eter dan minyak
Stabilitas : Stabil dalam air
pH : 6-7,5
Titik lebur : 163 - 165
Inkompatibilitas : Novabison sodium,oksitetrasiklin HCl,
sodium karbonat,sodium kalsium edetal,sulfanidin sodium
Wadah penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup baik dan
kering
Khasiat dan penggunaan : Buffering agent, Isotonis agent
2. Natrium Klorida (FI IV 1995, Hal. 584-586)
Rumus molekul : NaCl
Bobot molekul : 458,44
Pemerian : Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau
serbuk hablur putih; rasa asin
Kelarutan : Mudah larut dalam air; sedikit lebih
mudah larut dalam air mendidih; larut dalam gliserin;sukar larut dalam
etanol.
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan
stabil dapat menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas
pH : antara 5,0 dan 7,5
Titik lebur : 801oC (1047 K)
Inkompatibilitas : Logam Hg,Fe dan Ag
Wadah penyimpanan : Dalam wadah kaca atau plastik dosis
tunggal, sebaiknya dari kaca Tipe 1 atau Tipe II
Dosis : Lebih dari 0,9% (Excipient hal 440).
Injeksi IV 3-5% dalam 100ml selama 1 jam (DI 2003 hal 1415). Injeksi
NaCl mengandung 2,5-4 mEq/ml. Na+ dalam plasma = 135-145 mEq/L.
Khasiat dan penggunaan : pengganti Na+ dan Cl- dalam tubuh

3. Kalium Klorida (FI IV 1995, Hal. 477)


Rumus molekul : KCl
Bobot molekul : 74,55 g/mol
Pemerian : Hablur bentuk memanjang, prisma atau
kubus,tidak berwarna,atau serbuk granul putiih;tidak berbau;rasa
garam;stabil diudara;larutan bereaksi netral terhadap lakmus
Kelarutan : Mudah larut dalam air;lebih mudah larut
dalam air mendidih;tidak larut dalam etanol
Stabilitas : stabil diudara; stabil dan harus disimpan
dalam wadah tertutup rapat, ditempat sejuk dan kering
pH : Antara 4-8
Titik lebur :-
Inkompatibilitas : Larutan KCl IV inkompatibel dengan
protein hidrosilat,perak dan garam merkuri
Wadah penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Dosis : konsentrasi kalium pada rute IV tidak
lebih dari 40 mEq/L dengan kecepatan 20 mEq/jam (untuk hipokalemia).
Untuk mempertahankan konsentrasi kalium pada plasma 4 mEq/L
(DI,2003:1410). K+ dalam plasma = 3,5-5 mEq/L (steril dosage from hal
251).
Khasiat dan penggunaan : zat antimikroba

4. Kalsium Klorida (FI IV 1995, Hal. 160)


Rumus molekul : CaCl2.2H2O
Bobot molekul : 147,02 g/mol
Pemerian : Granul atau serpihan ; putih, keras ; tidak
berbau
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol, dan
dalam etanol mendidih; sangat mudah larut dalam air panas
Stabilitas : Injeksi kalsium dilaporkan inkompatibel
dengan larutan IV yang mengandung banyak Zat aktif.
pH : Antara 4,5 dan 9,2
Titik lebur :-
Inkompatibilitas : Karbonat, Sulfat, Tartrat, Sefalotin
sodium, CTM dengan tetrasiklin membentuk kompleks
Wadah penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Dosis :-
Khasiat dan penggunaan : Zat penyerap air dan antimikroba
IV. Pengembangan Formula
Infus Ringer laktat (USP)
1. Bentuk sediaan yang akan dibuat yaitu larutan sejati karena zat aktif
yang digunakan dalam sediaan infus Ringer laktat ini memiliki
kelarutan yang baik dalam air.
2. Volume minimal untuk sediaan parenteral volume besar (infus)
adalah 100 mL dan maksimal 1000mL. Sediaan akan dibuat dalam
volume 500 mL
3. Rute pemberian yang digunakan adalah intravena. Karena rute
intravena adalah satu satunya rute yang dapat menerima sediaan
dalam volume besar ( >10mL).
4. Pembawa yang digunakan adalah aqua pro injeksi yang bebas
pirogen, karena semua zat aktif yang digunakan memiliki sifat
kelarutan yang baik dalam air. Selain itu air merupakan cairan yang
memiliki kemiripan sifat dengan cairan tubuh, jika cairan yang
digunakan berupa pelarut non air seperti minyak maka berpotensi
menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah dan dapat
menempel didinding pembuluh darah.
5. Sediaan Infus Ringer Laktat ini ditambahkan Karbon aktif karena
karbon aktif adalah salah satu senyawa yang dapat menghilangkan
pirogen. Karbon aktif ini akan menyerap pirogen yang dapat
membahayakan tubuh jika sampai masuk bersama aliran darah.
Karbon aktif yang digunakan sebanyak 0,1% dari volume total
kemudian dipanaskan selama 10-15 menit dengan suhu 60-70ºC
sambil diaduk.
6. Sediaan Infus Ringer Laktat ditambahkan pengatur tonisitas karena
isotonis merupakan syarat mutlak yang sangat diperhatikan terutama
untuk sediaan dengan volume besar (>10mL) agar pada saat masuk
kedalam tubuh tidak terjadi hemolisa sel darah.
V. Perhitungan Osmolaritas
g

M osmole/L= ( L) ×1000×jumlah ion
BM
3,415 g
⁄0,5 L
Mosmol NaCl= ( ) ×1000×2=233,744 M osmole/L
58,44
1,550 g
⁄0,500 L
Mosmol Na laktat= ( ) ×1000×2=55,327 M osmole/L
112,06
0,150 g
⁄0,500 L
Mosmol KCl= ( ) ×1000×2=8,054 M osmole/L
74,5
0,100 g
⁄0,500 L
Mosmol CaCl2 anhidrat = ( ) ×1000×3=5,405 M osmole/L
111

Osmolaritas=233,744+55,327+8,054+5,405=302,53 M osmole/L
Sediaan infus bersifat isotonis (270-328 M osmole/L).
Perhitungan Tonisitas
Zat W konsentrasi (%) E NaCI WxE
NaCI 3𝑔 1 0,6 % × 1 = 0,6
× 100 =0,6 %
500 𝑚𝑙
% NaCI
Na Laktat 1,550 𝑔 0,58 0,31% × 0,58 =
× 100 = 0,31%
500 𝑚𝑙
0,180 % NaCI
KCI 0,150 𝑔 0,76 0,03 % × 0,76 =
× 100 = 0,03%
500 𝑚𝑙
0,023 % NaCI
CaCI2 0,100 𝑔 0,7 0,02 % × 0,7 =
× 100 = 0,02%
500 𝑚𝑙
0,014 % NaCI
Total 0,817 % NaCI
Sediaan bersifat hipotonis karena (<0,9% NaCI), sehingga perlu dilakukan
Penambahan NaCI supaya sediaan dapat isotonis.
NaCI yang ditambahkan = 0,9 % NaCI – 0,817 % NaCI
= 0,083 % NaCI
0,083 𝑔 𝑁𝑎𝐶𝐼
NaCI yang ditambahkan = × 500 𝑚𝑙 = 0,415 𝑔 𝑁𝑎𝐶𝐼
100

VI. Formula Akhir


R/ NaCl 3,415
Natrium laktat 1,550
KCl 0,150
CaCl2 0,100
Aqua pro injeksi ad 500 mL

VII. Preformulasi Ekspien


1. NaCl (Natrium Klorida) (Dirjen POM 1979, 403)
Pemerian : serbuk kristal putih, tidak berwarna, berasa garam
Kelarutan : sedikit larut dalam etanol, larut dalam 250 bagian etanol
95%, larut dalam 10 bagian gliserin, larut dalam 2,8 bagian air dan 2,6
bagian pada suhu 100˚C.
Inkompatible : larutan NaCl bersifat korosif dengan besi,
membentu endapan bila bereaksi dengan perak, garam merkuri, agen
oksidasi kuat pembebas klorin dari larutan assam NaCl, kelarutan
nipagin menurun dalam larutan NaCl.
Stabilitas : larutan NaCl stabil tetapi dapat memecah partikel kaca
dari tipe tertentu wadah kaca. Larutan cair ini dapat disterilisasi dengan
cara autoklaf atau filtrasi. Dalam bentuk padatakan stabil dan harus
disimpan dalam wadah tertutup rapat, sejuk, dan tempat kering.
2. Aqua pro injection (Rowe, 2009:776)
Pemerian : Cairan, jernih, tidak berwarna, tidak berbau.
Kelarutan : Larut dengan kebanyakan pelarut polar.
Stabilitas : Stabil disegala bentuk (es, cair, gas/uap)
Fungsi : Pembawa atau pelarut.
Sterilisasi : Autoklaf 1210C, 15 menit.
Inkompatibilitas : Dalam formulasi farmasi, air dapat bereaksi
dengan obat-obatan dan eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis
(penguraian dalam keberadaan air atau uap air) di suhu kamar yang
tinggi. Air dapat bereaksi cepat dengan logam alkali dan dengan logam
alkali dan oksida mereka, seperti kalsium oksida dan magnesium
oksida. Air juga bereaksi dengan garam anhidrat untuk membentuk
hidrat dari berbagai komposisi, dan dengan beberapa organik bahan dan
kalsium karbida

VIII. Sterilisasi Alat dan Zat


Nama zat Metode sterilisasi Stabilitas
Na-Laktat Metode sterilisasi Zat tahan panas dan dapat
KCl awal dengan bercampur dengan air
NaCl menggunakan oven
Ca2Cl
Infus ringer laktat Metode sterilisasi Diakhir disterilkan sediaan
akhir dengan ringer lakat
menggunakan autoklaf

Nama alat Metode sterilisasi Stabilitas


Batang pengaduk Autoklaf atau oven Karena bukan alat ukur
Corong
Erlenmeyer
Gelas ukur Autoklaf Karna alat ukur

Sediaan infus ringer laktat menggunakan metode sterilisasi akhir dengan


autoklaf.

VIII. Perhitungan dan Penimbangan


Volume sediaan 500 mL
Volume sediaan=500 mL+10 mL=510 mL
6g
NaCl= ×500 mL=3 g
1000 mL
Penambahan NaCI = 3 g + 0,416 g = 3,416 g
3,1 g
Na laktat= ×500 mL=1,55 g
1000 mL
0,3 g
KCl= ×500 mL=0,150 g
1000 mL
0,2 g
CaCl2 = ×500 mL=0,100 g
1000 mL
Nama zat 1 botol @ 500 mL
NaCl 3,416 g + 5% = 3,587 g
Na laktat 1,55 g + 5% = 1,6275 g
KCl 150 mg + 5% = 157,5 mg
CaCl2 100 mg + 5% = 105 mg
Aqua pro injeksi ad 500 mL + 10 mL = 510 mL

IX. Prosedur Pembuatan


Bahan-bahan ditimbang dengan menggunakan kaca arloji sesuai dengan
data penimbangan. Na laktat, KCI, CaCI2, NaCI dimasukkan ke dalam gelas
piala steril yang telah dikalibrasi, kemudian dilarutkan dengan aqua pro
injeksi. Karbon aktif sejumlah 0,1 % b/v dan dimasukkan ke dalam gelas
piala, ditambahkan aqua pro injeksi hingga volume yang diminta. Larutan
dipanaskan di atas api bunsen pada suhu 60 – 70o C selama 15 menit sambil
sesekali diaduk kemudian ambil carbon aktif menggunakan spatel. Larutan
disaring hangat – hangat ke dalam Erlenmeyer dengan menggunakan kertas
saring rangkap 2 steril yang telah dibasahi air bebas pirogen dan dibantu
dengan vakum. Larutan dipidahkan ke botol infus yang telah dikalibrasi dan
ditambahkan aqua pro injeksi ad 500 mL. Dilakukan sterilisasi akhir dengan
autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. Kemas dan beri etiket.
X. Prosedur Evaluasi
1. Penetapan pH
Dilakukan pengukuran menggunakan pH universal.
2. Penetapan volume injeksi dalam wadah
Bertujuan untuk menetapkan volume injeksi yang dimaksudkan dalam
wadah agar volume injeksi yang digunakan tepat/sesuai dengan yang tertera
pada penandaan (volume injeksinya itu harus dilebihkan. Kelebihan volume
yang dianjurkan dipersyaratkan dalam FI IV).
a. Pilih satu atau lebih wadah, bila volume 10 ml atau lebih,
b. Ambil isi tiap wadah dengan alat suntik hipodermik kering berukuran
tidak lebih dari 3 kali volume yang akan diukur dan dilengkapi dengan
jarum suntik nomor 21, panjang tidak kurang 2,5 cm.
c. Keluarkan gelembung udara dari dalam jarum dan alat suntik dan
pindahkan isi dalam alat suntik. Tanpa mengosongkan bagian jarum
kedalam gelas ukur kering volume tertentu yang telah dibakukan
sehingga volume yang diukur memenuhi sekurang-kurangnya 40%
volume dari kapasitas tertera (garis-garis penunjuk volume gelas ukur
menunjuk volume yang ditampung, bukan yang dituang).
3. Uji kejernihan larutan
Dilihat dengan mata biasa yaitu dengan menyinari wadah dari samping dgn
latar belakang hitam, dipakai untuk menyelidiki kebocoran2 kotoran2
berwarna muda, sedangkan latar belakang putih untuk menyelidiki kotoran
yg berwarna gelap.
Lakukan penetapan menggunakan tabung reaksi alas datar diameter 15 mm
hingga 25 mm, tidak berwarna, transparan, dan terbuat dari kaca netral.
4. Uji kebocoran
Wadah takaran tunggal disterilkan terbalik. Jika ada kebocoran, maka ini
akan keluar dari dalam wadah-wadah yang tidak dapat disterilkan.
Kebocorannya harus diperiksa dgn memasukkan wadah tsb ke dlm eksikator
yang divakumkan. Jika ada kebocoran akan diserap ke luar.
No. Evaluasi Sediaan Hasil Evaluasi
1. Penetapan pH 7
Penetapan volume injeksi
2. dalam wadah 505 mL
3. Uji kejernihan larutan Jernih
4. Uji kebocoran Kemasan tidak bocor

XI. Pembahasan
Formulasi sediaan steril merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang
banyak dipakai terutama saat pasien dirawat di rumah sakit. Sediaan steril
sangatmembantu pada saat pasien dioperasi, diinfus, disuntik, mempunyai luka
terbuka yang harus diobati, dan sebagainya. Semuanya sangat membutuhkan
kondisi steril karena pengobatan yang langsung bersentuhan dengan sel tubuh,
lapisan mukosa organ tubuh, dan dimasukkan langsung ke dalam cairan atau
rongga tubuh sangat memungkinkan terjadinya infeksi bila obatnya tidak steril.
Oleh karena itu, kita memerlukan sediaan obat yang steril. Disamping steril, kita
pun memerlukan sediaan obat dalam kondisi isohidris dan isotonis agar tidak
mengiritasi.
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, ataupun
serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan.
Injeksi pun memiliki beragam jenis sesuai dengan penggunaannya. Salah satunya
yakni injeksi infus, sesuai dengan percobaan yang telah dilakukan pada praktikum
kali ini. Infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan, atau emulsi, bebas
pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah, disuntikkan
langsung ke dalam vena dalam volume yang banyak. Infus berupa sediaan injeksi
dosis tunggal untuk intravena yang dikemas dalam wadah volume lebih dari 100
mL. Tujuan pemberian infus adalah mensuplai kebutuhan air, elektrolit, dan
karbohidrat sederhana; sebagai pembawa untuk obat-obat yang dapat bercampur
dengan larutan infus; mensuplai kebutuhan nutrisi pada saat bahan makanan tidak
dapat diberikan secara oral; memperbaiki kesetimbangan asam-basa tubuh;
meningkatkan diuresis saat dehidrasi; sebagai agen dialisis pada gagal ginjal;
sebagai cairan pengganti plasma.
Sediaan infus harus memenuhi persyaratan yaitu steril, bebas pirogen,
isotonis, jernih dan praktis bebas partikel. Oleh karena itu, sediaan ini lebih mahal
jika dibandingkan dengan sediaan nonsterilnya karena ketatnya persyaratan yang
harus dipenuhi.
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan infus ringer laktat dengan
menggunakan zat aktif natrium laktat, kalium klorida, dan kalsium klorida.
Natrium laktat, kalium klorida, dan kalsium klorida merupakan bahan aktif yang
berkhasiat sebagai elektrolit sehingga digunakan untuk memenuhi kebutuhan
elektrolit ataupun cairan tubuh secara fisiologis. Larutan ringer laktat sering
digunakan untuk mengisi cairan yang hilang setelah kehilangan darah akibat
trauma, operasi, ataupun cidera kebakaran. Pada formula ini digunakan eksipien
berupa NaCl dan aqua pro injeksi. NaCl berfungsi sebagai pengisotonis agar
diperoleh larutan infus yang isotonis, karena salah satu syarat untuk infus yaitu
harus isotonis. Aqua pro injeksi berfungsi untuk melarutkan bahan-bahan dan
sebagai zat pembawa. Selain itu air merupakan cairan yang memiliki kemiripan
sifat dengan cairan tubuh, jika cairan yang digunakan berupa pelarut non air
seperti minyak maka berpotensi menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah
dan dapat menempel didinding pembuluh darah.
Pada prosedur pembuatan infus ringer laktat hal pertama yang dilakukan
yaitu alat dan bahan disterilisasi terlebih dahulu untuk meminimalisir jumlah
mikroba atau kontaminasi. Kemudian dilakukan kalibrasi botol infus sebesar 500
mL. Na laktat, KCI, CaCI2, NaCI ditimbang dengan menggunakan kaca arloji
sesuai dengan data penimbangan. Na laktat, KCI, CaCI2, NaCI dimasukkan ke
dalam gelas piala steril yang telah dikalibrasi, kemudian dilarutkan dengan aqua
pro injeksi. Karbon aktif sejumlah 0,1 % b/v dan dimasukkan ke dalam gelas
piala, ditambahkan aqua pro injeksi hingga volume yang diminta. Dilakukan
penambahan karbon aktif karena karbon aktif adalah salah satu senyawa yang
dapat menghilangkan pirogen. Karbon aktif ini akan menyerap pirogen yang dapat
membahayakan tubuh jika sampai masuk bersama aliran darah. Larutan
dipanaskan di atas api bunsen pada suhu 60 – 70o C selama 15 menit sambil
sesekali diaduk kemudian ambil karbon aktif menggunakan spatel. Proses
pemanasan disini bertujuan untuk mengaktivasi karbon aktif. Larutan disaring
hangat – hangat ke dalam Erlenmeyer dengan menggunakan kertas saring rangkap
2 steril yang telah dibasahi air bebas pirogen dan dibantu dengan vakum.
Penyaringan bertujuan agar larutan infus bebas dari partikulat, adanya vakum
pada penyaring berfungsi untuk mempercepat proses penyaringan dengan cara
menurunkan tekanan didalam sistem. Larutan dipidahkan ke botol infus yang telah
dikalibrasi dan ditambahkan aqua pro injeksi ad 500 mL. Dilakukan sterilisasi
akhir dengan autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. Dilakukan pemilihan
metode sterilisasi akhir menggunakan autoklaf karena berdasarkan data stabilitas
sediaan yaitu tahan panas dan dapat bercampur dengan air. Kemas dan beri etiket.
Dilakukan penetapan pH bertujuan untuk mengetahui bahwa larutan infus yang
dibuat harus isohidris. Penetepan pH ini dilakukan dengan cara mencelupkan pH
universal kedalam larutan infus. Dari evaluasi yang dilakukan, menunjukkan pH 7 yang
berarti sudah mendekati pH darah yaitu 7,4. Syarat penetapan pH sediaan infus sangat
penting karna sediaan parenteral volume besar mempunyai pH diluar batas akan
menyebabkan masalah pada tubuh, menjamin stabilitas obat, misalnya perubahan warna,
efek terapi optimal obat, menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat, mencegah
terjadinya rangsangan / rasa sakit waktu disuntikkan.
Dilakukan penetapan volume injeksi dalam wardah bertujuan untuk menetapkan
volume injeksi yang dimaksudkan dalam wadah agar volume injeksi yang digunakan
tepat/sesuai dengan yang tertera pada penandaan. Penetepan volume inejeksi dalam
wadah dilakuan dengan cara larutan infus yang sudah dimasukan kedalam botol infus
kemudian dipindahkan larutan infus kedalam gelas ukur. Dari evaluasi yang dilakukan,
menunjukkan volume injeksi sebesar 505 mL yang berarti memenuhi syarat. Syarat
penetapan volume injeksi dalam wardah adalah volume yang diukur memenuhi sekurang-
kurangnya 40% volume dari kapasitas yang tertera.
Dilakukan uji kejernihan larutan bertujuan untuk mengetahui bahwa larutan infus
ini bebas dari kotoran atau partikel asing. Uji kejernihan ini dilakukan dengan
menggunakan indra penglihatan yaitu dengan menyinari wadah dari samping. Kejernihan
adalah suatu batasan yang relatif, yang dipengaruhi oleh penilaian subjektif dari
pengamat. Dari evaluasi yang dilakukan, larutan infus yang dibuat telah jernih dan
memenuhi syarat kejernihan. Syarat kejernihan sediaan larutan adalah tidak ada zat yang
terdispersi dalam larutan jernih.
Dilakukan uji kebocoran bertujuan untuk mengetahui apakah ada kebocoran atau
tidak pada kemasan. Uji kebocorang ini dilakukan dengan cara membalikkan botol infus
sehingga tutup berada di bawah. Dari evaluasi yang dilakukan, larutan infus yang dibuat
tidak terdapat kebocoran. Uji kebocoran ini berkaitan dengan sterilitas sediaan, stabilitas
sediaan, dan volume sediaan. Jika terdapat kebocoran, maka dapat berbahaya karena
melalui lubang atau celah tersebut dapat menyebabkan masuknya mikroorganisme atau
kontaminan lain yang berbahaya. Sehingga hal tersebut juga dapat mempengaruhi
stabilitas sediaan. Selain itu, volume infus juga dapat berkurang dan mempengaruhi
penampilan kemasan.

XII. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan sediaan infus ringer laktat
yang dibuat saat praktikum telah memenuhi persyaratan untuk sediaan infus yaitu
isohidris,isotonis, steril, jernih, dan tidak bocor berdasarkan hasil evaluasi yang
dilakukan. Infus ringer berguna sebagai sumber elektrolit dan air untuk hidrasi.

XIII. Wadah dan Kemasan


Wadah: botol plastik 500 mL
Label & brosur :
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 1997. Ilmu Meracik Obat. UGM Press :Yogyakarta.


Dirjen POM. 1979.Farmakope Indonesia Edisi Ketiga.Depkes RI:Jakarta.
Dirjen POM.1995.Farmakope Indonesia Edisi Keempat.Depkes RI :Jakarta.
Dirjen POM.2014.Farmakope Indonesia Edisi Kelima.Depkes RI :Jakarta.
Lachman L,Lieberman HA.,Kaning JL.Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi
Ketiga.Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. UI Press :Jakarta.
Lund.Walter.1994.The Pharmaceutical Codex 12thEdition.The Pharmaceutical
Press :London.
Rowe,Raymond C.,Paul,dkk.2009.Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth
Edition.APHA :London.