Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN LIKUID,


SEMISOLID, DAN STERIL
OBAT TETES MATA GENTAMISIN SULFAT

Disusun oleh :
Kelompok II
Farmasi B 2013
Mochtaromi Tri Yanto

(135070501111005)

Dhenik Swastika Wahyu C.

(135070501111007)

Intan Retno Palupi

(135070501111015)

Gusti Ayu Pradnya Paramitha

(135070501111016)

Elan Aisyafuri

(135070501111022)

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

INJEKSI AMINOPHYLLINE 2.4 %


I.

Penentuan Kekuatan Sediaan


Dalam FI III, dosis lazim aminophylline untuk dewasa = 240 mg / injeksi
Dimana ampul yang digunakan adalah 10 ml

II.

Penentuan kekuatan sediaan adalah 2.4 %


2.4 % = 2.4 gram
100 ml
= 2400 mg
100 ml
= 24 mg, sehingga dalam 10 ml sediaan terdapat 240 mg aminophylline
1 ml
Pemilihan Kemasan
Pemilihan kemasan yaitu wadah yang berasal dari gelas dan transparan serta wadah dosis
tunggal. Maksud dari wadah gelas yaitu gelas merupakan wadah yang tidak berpori
sehingga kontaminan tidak memiliki kesempatan untuk menembus membran dari kaca
dan menghindari cairan merembes dari wadah (bocor), wadah kaca juga inert atau tidak
bereaksi dengan bahan aktif, wadah kaca juga mampu melindungi bahan dari temperature
tinggi atau kuat sehingga dapat melindungi bahan saat sterilisasi. Dipilih dengan warna
kaca yang transparan yaitu untuk mengetahui partikel yang berada pada sediaan karena
pada sediaan parenteral terutama obat suntik tidak boleh mengandung partikel sehingga
wadah transparran memudahkan konsumen untuh melihat isi sediaan. Wadah dosis
tunggal menunjukkan bahawa obat ini hanya sekali pakai dan tidak berulang.
Kemasan yang digunakan adalah ampul dengan volume 10 ml. Kemasan tersebut untuk
sediaan injeksi single dose, dimana untuk penggunaan aminophylline pada orang dewasa
membutuhkan 10 ml larutan yang mengandung aminophyilline 2.4 %.

III.

Preformulasi
III.1
Aminophylline (Anonim, 2007)
Nama lain

: Aminofilin; Aminofilina; Aminofylin; Aminofylliini; Aminofyllin;


Aminophyllinum; Euphyllinum; Metaphyllin; Teofilinas-etilendiaminas;
Teofillinetilndiamin; Teofylliinietyleenidiamiini; Teofyllinetylendiamin;
Theophyllaminum; Theophylline and Ethylenediamine; Theophylline

Ethylenediamine
Compound;
Thophylline-thylnediamine;
Theophyllinum et ethylenediaminum.
Pemerian
: merupakan bubuk putih atau kuning terang, kadang- kadang berupa
granul. Berbau seperti amonia.
Struktur kimia :

Nama kimia

: 1Hpurine2,6dione, 3,7-dihydro-1.3-dimethyil-,comp.with 1,2ethanediamne (2:1).

Rumus molekul

: C16H24N10O4

Kelarutan

: mudah larut dalam air (larutan dapat menjadi berasap kareana adanya
penyerapan kerbon dioksida), sebagian tidak larut pada alkohol
dehidrat.

Ph stabil

: 8.6 9.0

Titik didih

:-

Wadah dan penyimpanan: dalam wadah tertutup rapat


Stabilitas

:-

Inkompatibilitas

: larutan aminophylline tidak dapat berinteraksi dengan logam.


Larutan bersifat alkali, apabila Ph dibawah 8 maka terjadi
pengendapan kristal. Tidak stabil terhadap larutan alkali, atau larutan
dibawah pH kritis.

Khasiat

: sebagai bronkhodilator pada penderita asma dan COPD.

Sifat Khusus

:-

Koefisien partisi

:-

III.2

Etilendiamine (Depkes RI, 1979)

Pemerian

: Cairan jernih tidak berwarna atau agak kuning, bau seoerti


amoniak, bereaksi alkali kuat

Kelarutan

: Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol

Kegunaan

: Pelarut, pembentuk garam aminofilin

Wadah

: Dalam wadah tertutup rapat

III.3

IV.

Natrium klorida (Depkes RI, 1979)

Pemerian

: Hablur bentuk kubus, tidak berwana atau serbuk hablur putih

Kelarutan

rasa asin.
: Mudah larut dalam air,sedikit mudah larut dalam air

Kegunaan
Wadah

mendidih,larut didalam gliserin, sukar larut dalam etanol.


: Larutan pengisotonis
: Dalam wadah tertutup baik

Rancangan Formula dan Rasionalisasi

4.1 Formulasi Aminophyllin Injectio 2,4%


Nama bahan
Theophyllin
Etilendiamin
NaCl
Aqua pro injectio

Konsentrasi (FI III, dan USP)


2,4 %
0,5 %

Fungsi Bahan
Bahan aktif
Pembentuk garam

qs
Ad 100 ml

aminofilin
Pengisotonis
Cairan pembawa

4.2 Rasionalisasi
Injeksi Aminofilin merupakan obat asma yang merupakan larutan steril aminofillin
dalam air untuk injeksi, atau larutan steril teofilin dalam air untuk injeksi yang dibuat
dengan penambahan etilendiamin. Tiap 1 ml mengandung aminofilin setara dengan
tidak kurang dari 93,0% dan tidak lebih dari 100,7% teofillin anhidrat, C7H8N4O2,
dari jumlah yang tertera pada etiket (Depkes RI, 1995). Aminofilin ini dibuat dalam
bentuk injeksi bertujuan untuk meningkatkan bioavailabilitasnya sebagai antiasma
sehingga berefek cepat jika digunakan secara parenteral dan tepat jika digunakan
pada kasus serangan asma akut yang nantinya aminofilin ini akan memberikan efek

melebarkan saluran atau bronkodilator. Injeksi ini tidak dibuat langsung dengan
bahan aktif aminofilin melainkan theofilin dalam air yang ditambahkan etilendiamin.
Pada sumber menyatakan bahwa sifat dari aminophyllin yang pada udara terbuka
menyebabkan ketidakstabilan sehingga jika dibuat larutan sebagai injeksi aminofilin
akan mengubah bentuknya dan menyebakan penurunan efek obat padahal syarat dari
sediaan injeksi adalah harus stabil. Oleh karena itu maka, dibuat theofilin dalam air
dengan

penambahan etilendiamin. Theofilin akan

ditambahkan

dengan

etilendiamin,

garam

membentuk garam jika


ini

merupakan

garam

aminophyllin.Pemilihan konsentrasi sebesar 2,4% karena berdasarkan dosis lazim


dari bahan obat Aminofilin sendiri, yaitu 240 mg untuk sekali pakainya, dan 720 mg
untuk sehari pakainya dan berdasarkan diinginkannya aminofilin tersebut dalam
ampul dengan volume sebesar 10 ml sebanyak 10 ampul (Depkes RI, 1979).
Etilendiamin merupakan cairan jernih yang tidak berwarna atau berwarna agak
kuning, dengan bau seperti amoniak dan bereaksi alkali kuat. Yang dalam sediaan
injeksi ini digunakan sebagai pelarut atau pembentuk garam aminofillin. Karena
bahan obat aminofillin sendiri lebih stabil dalam keadaan garamnya. Digunakan
sebanyak 500 mg dalam injeksi aminofillin (Anonim, 2007). Injeksi aminofillin boleh
mengandung etilendiamin berlebih, tetapi tidak boleh ditambahkan zat lain untuk
pengaturan PH. Digunakan etilendiamin tetes demi tetes hingga cairan jernih dan
sesuai dengan PH yang diinginkan, yaitu 8,6 9,0 (Depkes RI, 1995).
Pembuatan larutan isotonis yaitu pembuatan NaCl sebagai senyawa pengisotonis
dilarutakan dalam aqua pro injection. NaCl dikatakan sebagai senyawa pengisotonis
karena memiliki titik beku yang sama dengan cairan tubuh (mata dan darah) sehingga
penambahan NaCl pada larutan akan mengisotoniskan cairan larutan dengan cairan
tubuh. Isotonis yang dimaksudkan adalah tekanan pada larutan sama dengan cairan
tubuh sehingga keaadaan yang tidak diinginkan seperti hipotonis atau hipertonis tidak
terjadi. Keadaan yang tidak diperbolehkan adalah hipotonis karena larutan memiliki
tekanan yang lebih kecil dibanding cairan tubuh. Sesuai dengan tekanan osmosis,
cairan dengan tekanan rendah akan tertarik/berpindah ke dalam cairan dengan
tekanan tinggi dan menyebabkan sel akan membengkak lalu pecah (hemolisis).
Keadaan hipotonis bersifat irreversible. Sedangkan hipertonis masih diperbolehkan

karena hanya menyebabkan kulit/jaringan mengkerut karena cairan tubuh akan


tertarik keluar dan keadaan ini bersifat reversible.
Aqua pro injection atau air untuk injeksi digunakan sebagai cairan pembawa. Air
untuk injeksi juga harus ditentukan yaitu air yang bebas CO2 alasannya untuk
menjaga kestabilan sediaan injeksi aminophilin. Jika garam aminophylin yang
nantinya terbentuk ditambahkan air biasa yang memiliki CO2 maka akan terjadi
kerusakan sediaan karena aminofilin tidak stabil dengan adanya CO2. Selain itu air
untuk injeksi yang bebas CO2 digunakan untuk mencegah adanya gelembung udara
dari CO2. Jika gas CO2 masuk dalam pembuluh darah akan menyebabkan bengkak
atau nekrosis (kerusakan jaringan). Air bebas CO2 dibuat dengan cara memanaskan
aquadest selama 15 menit dan hindarkan air didihan untuk kontak secara sering dan
langsung dengan udara kemudian biarkan air hingga dingin .
V.
VI.

Penentuan Jumlah Sediaan


Jumlah sediaan yang akan dibuat adalah berjumlah 10 ampul.
Perhitungan Tonisitas dan Dapar
6.1 Dapar
Kapasitas dapar = = 0,01%
H2PO4- sebagai asam (KH2PO4 dihidrat)
HPO42- sebagai garam (Na2HPO4 anhidrat)
pKa Na2HPO4
= 7,21
pH
=7
maka, pKa = - log Ka
7,21 = - log Ka
Ka

= 10-7,21
= 6,2 10-8

pH

= - log [H+]

7
[H+]

= - log [H+]
= 10-7

Pers.1
pH
= pKa + log [G]
[A]
7
= 7,21 + log [G]
[A]
log [G] = - 0,21
[A]
[G] = 10-0,21
[A]
[G] = 0,62

[A]
[G] = 0,62 [A]
Pers.2

= 2,3 C Ka [H+]
(Ka + [H+])2
0,01 = 2,3 C 6,2 10-8 10-7
[(6,2 10-8) + 10-7]2
C
= 0,018 M
Pers.3
C
0,018
0,018
[A]
Maka,
[G]

= [A] + [G]
= [A] + (0,62 [A])
= 1,62 [A]
= 0,01 M
= 0,62 [A]
= 0,62 0,01 M
= 0,008 M

Pers.4
BM Na2HPO4 anhidrat (garam) = 141,96
BM KH2PO4 dihidrat (asam)
= 136,09
Asam (KH2PO4 dihidrat)
M
= massa 1000
BM
V(ml)
0,01 = massa 1000
136,09 10 ml
Massa asam = 0,0136 gram
% massa asam (dalam 10 ml) = 0,136%
Garam (Na2HPO4 anhidrat)
M
= massa 1000
BM
V(ml)
0,008 = massa 1000
141,96 10 ml
Massa garam = 0,0114 gram
% massa garam (dalam 10 ml) = 0,114%
6.2 Tonisitas
Gentamisin sulfat
Benzalkonuim klorida
Disodium edetat
Na metabisulfit
Na2HPO4 anhidrat

50,8 mg
0,01%
0,02%
0,05%
0,114%

KH2PO4 dihidrat
NaCl
Api

0,136%
(Lihat perhitungan)
ad 10 ml

Tf gentamisin sulfat
Liso gentamisin sulfat (lar.elektrolit lemah)
=2
Massa gentamsin sulfat
= 50,8 mg
BM gentamisin sulfat
= 673,59
Volume obat tetes
= 10 ml
Tf gentamisin sulfat = Liso massa gentamisin sulfat 1000
BM
V(ml)
Tf gentamisin sulfat = 2 50,8 gram
673,59 10 ml
= 0,0150
% massa Na2HPO4 dihidrat
% massa Na2HPO4 anhidrat
= 0,114%
BM Na2HPO4 anhidrat
= 141,96
BM Na2HPO4 dihidrat
= 159,96
% massa Na2HPO4 dihidrat= BM Na2HPO4 dihidrat % massa Na2HPO4 anhidrat
BM Na2HPO4 anhidrat
= 159,96 0,114%
141,96
= 0,128%
No.

Zat

Tf (0)

Konsentrasi Zat

Tf Konsentrasi

(%)
-

Zat (0)
0,015

1.

Gentamisin

2.

sulfat
Benzalkonium

0,09

0,01

0,0009

3.
4.
5.
6.

klrorida
Disodium edetat
Na metabisulfit
Na2HPO4dihidrat
KH2PO4dihidrat

0,13
0,38
0,24
0,25

0,02
0,05
0,128
0,136

0,0026
0,019
0,0672
0,034
0,1387
0,52

Total
Tf isotonis (NaCl 0,9%)
Sumber FI edisi 4 hlm.1236

Karena, 0,1387 < 0,52 maka larutan tetes mata tersebut hipotonis.
Tf yang harus ditambahkan
= 0,52 0,1387
= 0,38130

Setara dengan NaCl

= 0,38130 0,9%
0,52
= 0,6599%
= 0,6599 gram/ 100 ml

VII. Penimbangan
VII.1 Perhitungan
Jumlah sediaan yang dibuat adalah 10 ampul, masing masing ampul volumenya 10 ml
Pada masing masing bahan dilebihkan 10%
Perhitungan bahan yang digunakan untuk sediaan unjeksi teofilin 2,4% adalah :
1. Teofilin 2,4 %
12,4 gram x 100 ml = 2,4 gram ( untuk 10 ampul)
100 ml
10 x 2,4
= 0,24 gram
100
Total penimbangan = 2,4 gram + 0,24 gram = 2,64 gram
2. Etilendiamin 0,5 %
0,5 gram x 100 ml = 0,5 gram ( untuk 10 ampul)
100 ml
10 x 0,5
= 0,05 gram
100
Total penimbangan = 0,5 gram + 0,05 gram = 0,55 gram
3. NaCl 1%
1 gram x 0,5 = x
100 ml
52,217 ml
x = 0,522 gram (untuk 10 ampul)
10 x 0,522 gram = 0,0522 gram
100
Total Penimbangan = 0,522 gram + 0,0522 gram = 0,5742 gram
4. Aqua Pro Injecto ad 100
100% - (2,4% + 0,5% + 1%) = 96,1% = 96,1 ml
96,1 gram x 100 ml = 96,1 gram 96,1 ml (untuk 10 ampul)
100 ml
10 x 96,1 ml
= 9,61 ml
100
Total Pengukuran = 96,1 ml + 9,61 ml = 105,71 ml

VIII.

Penimbangan
Bahan

Kadar

Bobot 10 Ampul

Bobot 10 ampul + 10%

Teofilin

2,4 %

2,4 gram

2,64 gram

Etilendiamin

0,5 %

0,5 gram

0,55 gram

NaCl

1%

0,522 gram

0,5472 gram

Aqua Pro Injectio

Ad 100 %

96,1 ml

105,71 ml

IX.

Alat

No

Alat yang Dibutuhkan

Jumlah

Neraca

Gelas ukur 25 ml dan 100 ml

Autoklaf

Inkubator

Ampul

10
XI.

Metode Sterilisasi
Larutan yang sudah jernih dimasukkan pada ampul tepat 10 mL kemudian ditutup
dengan pengelasan. Setelahnya ampul ditata rapi dalam wadah plastik dan disterilisasi
uap basah atau autoklav selama 20 menit pada suhu 121oC.
Proses sterilisasi dipilih sterilisasi dengan uap atau panas basah. Sterilisasi
bertujuan untuk menghilangkan semua bentuk mikroorganisme yang terdapat pada suatu
obyek. Sediaan injeksi harus memiliki nilai steril yang tepat tidak boleh kurang lebih

karena injeksi akan merobek jaringan kulit untuk dirobelk. Sterilisasi panas basah atau
uap akan menghasilkan tekanan dalam bejana pada suhu tinggi dan waktu tertentu. Uap
dibantu dengan tekanan akan masuk dalam sel dan mendenaturasi dengan adanya
koagulasi pada sel. Tekanan cairan sel yang rendah akan berpindah ke yang tinggi dna
mengakibatkan sel bakteri lisis atau pecah. Sterilisasi ini cocok untuk sediaan dalam
wadah gelas. Karena wadah gelas tidah mudah pecah dan tekanan uapnya dapat
menembus dinding kaca kemudian dengan mudah membunuh bakteri dalam larutan.
Selain itu larutan injeksi aminophyllin tidak rusak oleh panas bertekanan ini. Setelah
dilakukan sterilisasi, sediaan ampul dilakukan pengujian. Sehingga dapat dikatakan
bahwa metode sterilisasi yang digunakan adalah metode sterilisasi akhir.

X. Prosedur Pembuatan
Teofilin

Aquadest

-Ditimbang
sebanyak 2,64
gram
Hasil

- Aq di ukur
sebanyak
105,71 ml

-Dilarutkan teofilin 2,64 g


kedalam aqua bebas CO2
sebanyak setengah dari
jumlah aqua bebas CO2
(52,855 ml)

-Dididihkan
dalam keadaan
tertutup
-Didinginkan
dalam keadaan
tertutup
Aq bebas

-Diaduk hingga larut dan


homogen
Hasil 1

NACl
-Ditimbang di
beaker glass
0.5742 g
Hasil
-Dilarutkan NaCl
dengan Aqua
bebas CO2
sebanyak
52,855 ml
-Diaduk hingga
larut dan
Hasil 2

-Dicampurkan dari larutan teofilin dengan


larutan NaCl
-Diaduk hingga homogen
-Ditambahkan Etilendiamine hingga larutan
jernih dan pH dari larutan 8.6 9.0

Hasil
Laruta

XI. Evaluasi Sediaan


1. Evaluasi partikulat(FI IV, 751)
Tujuan : untuk memastikan tidak adanya partikulat dalam sediaan injeksi
Prinsip : uji memerlukan alat penghitungan elektronik partikel pengotor cairan yang
dilengkapi dengan sensor cahaya redup dengan alat untuk memasukkan contoh yang
sesuai .
Metode : dilakukan penetapan alat dan alat penghitungan pada ukuran 10-15
mikrometer. Dicampur larutan uji dengan membalikkan 25 kali dalam 10 detik.
Awaudarakan dengan ultrasonikasi ringan selama 30 detik atau dengan membiarkan
selama 2 menit. Kemudian lepaskan tutup. Aduk isi wadah perlahan-lahan dengan
menggoyang-goyangkan atau dengan alat mekanik. Ambil contoh langsung dari wadah
tiga kali berturut-turut setiap kali tidak kurang dari 5ml. Selesaikan penetapan dalam
waktu 5 menit. Ulangi prosedur yang sama dengan blanko.
2. Uji Pirogen (Depkes RI, 1995)
Tujuan : Untuk membatasi resiko reaksi demam pada tingkat yang dapat diterima oleh
pasien pada pemberian sediaan injeksi.
Metode : Digunakan kelinci dewasa yang sehat sebagai subjek yang diuji, pengukuran
yang dilakukan meliputi pengukran kenaikian suhu tubuh setelah penyuntikan larutan
uji. Alat suntik, jarum, dan alat kaca dipanaskan pada suhu 250C selama tidak krang
dari 30 menit. Alat pengukur suhu yang digunakan yang teliti seperti termometer
klinik atau termistor atau alat sejenis yang telah dikalibrasi.

Pengujian dilakukan dalam ruang terpisah yang khusus untuk uji pirogen dan dengan
kondisi lingkungan yang sama. Apabila pengujian menggunakan termistor maka
kelinci dimasukkan dalam kotak penyekap sedemikian rupa sehingga kelinci tertahan
dengan letak leher yang longgar sehingga dapat duduk dengan bebas. Disuntikakan
larutan uji melalui vena tepi telinga dan dilakukan selama 10 menit. Alat pengukur
suhu dimasukkan ke dalam anus kelinci tidak kurang dari 7,5 cm, dan direkam suhu
berturut turut antara jam ke-1 dan ke-3 setelah penyuntikan dengan selang waktu 30
menit.
Penafsiran Hasil: Sedian memenuhi syarat apabila kelinci tidak menunjukkan kenaikan
suhu 0,5 atau lebih. Jika ada kelinci yang menunjukkan kenaikan suhu 0,5 atau lebih
dilanjutkan pengujuan dengan menggunakan 5 ekor kelinci , jika tidak lebih dari 2
ekor dari 8 ekor kelinci masing masing menunjukkan kenaikan suhu 0,5 atau lebih
dan jumlah kenaikan suhu 8 ekor kelinci tidak lebih dari 3,3 sediaan dinyatakan
memenuhi syarat bebas pirogen.
3. Uji Kejernihan Larutan (Langille, Stephen, 2015)
Tujuan : Untuk mengetahui bahwa sediaan jernih dan benar benar bebas dari partikel
partikel kecil yang dapat terlihat oleh mata.
Metode : Pemeriksaan dilakukan secara visual di bawah penerangan cahaya yang baik,
dan berlatar belakang warna hitam. Dan dipastikan bahwa sediaan benar benar jernih
dan tidak ada partikel partikel yang terlihat.
Penafsiran Hasil : Sediaan jernih dan tidak ada partikel pertikel kecil yang dapat
terlihat oleh mata.
4. Uji keseragaman bobot dan volume (FI III Hal 767)
Tujuan : untuk memastikan keseragaman bobot dan volume sediaan
Prinsip : untuk keseragaman volume digunakan alat ukur volume seperti gelas ukur,
sedangkan untuk keseragaman bobot ditimbang sediaan bersama wadahnya kemudian
dilakukan penimbangan wadah kosong, sehingga perbedaan antara keduanya adalah
volume sediaan.
Metode : pengujian keseragaman volume menggunakan gelas ukur. Volume larutan
setiap wadah harus sedikit lebih besar daripada volume yang ditetapkan. Untuk
pengujian keseragaman bobot diambil 5 buah wadah dan etiketnya dihilangkan. Wadah

tersebut dicuci pada bagian luarnya dengan air dan dikeringkan. Selanjunya timbang
satu persatu dalam keadaan terbuka dan seluruh wadah beserta isinya ditimbang. Isi
wadah dikeluarkan dan wadah tersebut dicuci dengan air dan selanjutnya dibilas degan
alcohol 95% kemudian dikeringkan pada suhu 1050c. dan ditimbang. Perbedaannya
dalam penimbangan menyatakan berat isi wadah
Penafsiran hasil : Sediaan obat tetes mata bobot dan volume seragam
5. Uji kebocoran wadah ( Langille, Stephen, 2015)
Tujuan
: Untuk memastikan tidak adanya kebocoran pada wadah sediaan
Prinsip
: Memasukan sediaan beserta wadahnya ke dalam wadah yang berisi
metilen blue
Metode
: Pada pembuatan kecil-kecilan dapat dilakukan secara visual, namun
untuk skala pabrik tidak dapat dilakukan secara visual. Wadah wadah takaran
tunggal yang masih panas setelah di sterilkan di masukan ke dalam larutan metilen
biru 0,1%. Jika ada wadah yang bocor maka larutan metilen biru akan masuk kedalam
karena perbedaan tekanan dari luar dan di dalam wadah, cara ini tidak dapat
dilakuakan untuk cairan sedian yang berwarna. Wadah takaran tunggal di sterilkan
terbalik jika ada kebocoran maka larutan ini akan keluar dari wadah.
Penafsiran hasil : tidak ada kebocoran pada wadah sediaan.
6. Evaluasi pH
Prinsip: Pengukuran pH sediaan dengan menggunakan kertas pH meter
Tujuan : Untuk dapat menentukan pH dari sediaan
Metode : Penetapan pH dilakukan dengan menggunakan kertas pH meter. Yakni
kertas pH meter dicelupkan ke dalam sediaan kemudian dicocokkan kertas pH dengan
indikatornya sehingga diperoleh pH akhir.(FI IV, hal. 1039).
Penafsiran hasil : Sediaan yang dihasilkan akan memiliki pH

Daftar Pustaka
Anonim. 2007. United State Pharmacopeia. US
Depkes RI, 1979. FARMAKOPE INDONESIA EDISI III. Jakarta ; Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.

Depkes RI, 1995. FARMAKOPE INDONESIA EDISI IV. Jakarta ; Departemen


Kesehatan Republik Indonesia.
Langille, Stephen, 2015. Particulate Matter in Injectable Drug Products. PDA
Journal of Pharmaceutical Science and Technology.