0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
255 tayangan43 halaman

Pengertian dan Tujuan AMDAL

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1) Dokumen tersebut membahas tentang pengertian AMDAL, tujuan AMDAL, dan manfaat AMDAL. 2) AMDAL merupakan kajian dampak lingkungan yang diperlukan untuk proses pengambilan keputusan suatu rencana usaha. 3) Tujuan AMDAL adalah mengidentifikasi dampak lingkungan dan merumuskan rencana pengelolaan lingkungan.

Diunggah oleh

Hendy Wijaya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
255 tayangan43 halaman

Pengertian dan Tujuan AMDAL

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1) Dokumen tersebut membahas tentang pengertian AMDAL, tujuan AMDAL, dan manfaat AMDAL. 2) AMDAL merupakan kajian dampak lingkungan yang diperlukan untuk proses pengambilan keputusan suatu rencana usaha. 3) Tujuan AMDAL adalah mengidentifikasi dampak lingkungan dan merumuskan rencana pengelolaan lingkungan.

Diunggah oleh

Hendy Wijaya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian AMDAL
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut
Amdal, adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
Menurut PP 29/1986, yang kemudian disempurnakan dengan PP 27/1999,
yang semula hanya memiliki satu model AMDAL, berkembang dan mempunyai
beberapa bentuk AMDAL dan mempunya pengertian:
1)

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah kajian mengenai


dampak besar dan penting suatu usaha/kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan usaha/kegiatan. Kajian ini menghasilkan dokumen
Kerangka

Acuan

Analisis

Dampak

Lingkungan,

Analisis

Dampak

Lingkungan, Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan


2)

Lingkungan. Sementara itu pengertian ANDAL adalah sebagai berikut.


Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan
mendalam tentang dampak besar dan penting suatu kegiatan yang
direncanakan.
Pada PP 27/1999 pengertian AMDAL adalah merupakan hasil studi mengenai

dampak besar dan penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan
hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Hasil studi ini terdiri dari
beberapa dokumen. Atas dasar beberapa dokumen ini kebijakan dipertimbangkan dan
diambil.
Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah:

Komisi Penilai AMDAL, komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL

Pemrakarsa, orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu


rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan, dan

masyarakat yang berkepentingan, masyarakat yang terpengaruh atas segala


bentuk keputusan dalam proses AMDAL. (Suparni, 2004)

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:


(Soemarno, 2007)
1. Penentuan

kriteria

wajib

AMDAL,

saat

ini,

Indonesia

menggunakan/menerapkan penapisan 1 langkah dengan menggunakan


daftar kegiatan wajib AMDAL. Daftar kegiatan wajib AMDAL dapat
dilihat di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun
2006
2. Apabila kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut, maka wajib
menyusun UKL-UPL, sesuai dengan Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 86 Tahun 2002
3. Penyusunan AMDAL menggunakan Pedoman Penyusunan AMDAL
sesuai dengan Permen LH NO. 08/2006
4. Kewenangan Penilaian didasarkan oleh Permen LH no. 05/2008
2.2 Tujuan AMDAL
AMDAL bertujuan untuk: (Soemarno, 2007)
a. Mengidentifikasikan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan
terutama yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting
terhadap lingkungan hidup.
b. Mengidentifikasikan komponen-komponen lingkungan hidup yang akan
terkena dampak besar dan penting.
c. Memprakirakan dan mengevaluasi rencana usahan dan atau kegiatan yang
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.
d. Merumuskan RKL dan RPL.
2.3 Fungsi, Peran dan Manfaat AMDAL

2.3.1 Fungsi dan Peran Amdal


Pada waktu yang lampau, kebutuhan manusia akan sumber alam belum begitu
besar karena jumlah manusianya sendiri masih relatif sedikit, di samping itu
intensitas kegiatannya juga tidak besar. Pada saat-saat itu perubahan-perubahan pada
lingkungan oleh aktifitas manusia masih dalam kemampuan alam untuk memulihkan
diri secara alami. Tetapi aktifitas manusia makin lama makin besar sehingga
menimbulkan perubahan lingkungan yang besar pula. Pada saat inilah manusia perlu
berfikir apakah perubahan yang terjadi pada lingkungan itu tidak akan merugikan
manusia. Manusia perlu memperkirakan apa yang akan terjadi akibat adanya kegiatan
oleh manusia itu sendiri. (Fandeli, 2007)
AMDAL (Analisis Mengenai Danpak Lingkungan) merupakan alat untuk
merencanakan tindakan preventif terhadap kerusakan lingkungan yang mungkin akan
ditimbulkan oleh suatu aktifitas pembangunan yang direncanakan.
Undang-undang No. 4 Tahun 1982 Pasal 1 menyatakan : Analisis mengenai
dampak lingkungan adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang
direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pngambilan
keputusan.
AMDAL harus dilakukan untuk proyek yang diperkirakan akan menimbulkan
dampak penting, karena ini memang yang dikehendaki baik oleh Peraturan
Pemerintah maupun oleh Undang-undang, dengan tujuan agar kualitas lingkungan
tidak rusak karena adanya proyek-proyek pembangunan. Oleh karena itu pemilik
proyek atau pemrakarsa akan melanggar perundangan bila tidak menyusun AMDAL,
semua perizinan akan sulit didapat dan di samping itu pemilik proyek dapat dituntut
dimuka pengadilan. Keharusan membuat AMDAL merupakan cara yang efektif untuk
memaksa para pemilik proyek memperhatikan kualitas lingkungan, tidak hanya
memikirkan keuntungan proyek sebesar mungkin tanpa memperhatikan dampak
lingkungan yang timbul. Dampak dari suatu kegiatan, baik dampak negatif maupun
dampak positif harus sudah diperkirakan sebelum kegiatan itu dimulai. Dengan
adanya AMDAL, pengambil keputusan akan lebih luas wawasannya di dalam
3

melaksanakan tugasnya. Karena di dalam suatu rencana kegiatan, banyak sekali halhal yang akan dikerjakan, maka AMDAL harus dapat membatasi diri, hanya
mempelajari hal-hal yang penting bagi proses pengambilan keputusan. (Fandeli,
2007)
AMDAL ini sangat penting bagi negara berkembang khususnya Indonesia,
karena Indonesia sedang giat melakasanakan pembangunan, dan untuk melaksanakan
pembangunan maka lingkungan hidup banyak berubah, dengan adanya AMDAL
maka perubahan tersebut dapat diperkirakan. Dampak kegiatan terhadap lingkungan
hidup dapat berupa dampak positif maupun dampak negatif, hampir tidak mungkin
bahwa dalam suatu kegiatan / pembangunan tidak ada dampak negatifnya. Dampak
negatif yang kemungkinan

timbul harus sudah diketahui sebelumnya (dengan

MDAL), di samping itu AMDAL juga membahas cara-cara untuk menanggulangi /


mengurangi dampak negatif. Agar supaya jumlah masyarakat yang dapat ikut
merasakan hasil pembangunan meningkat, maka dampak positif perlu dikembangkan
di dalam AMDAL. (Fandeli, 2007)
Nurkin, (2002) mengemukakan bahwa penerapan AMDAL di negara-negara
berkembang ditujukan untuk :
a. Untuk mengidentifikasi kerusakan lingkungan yang mungkin dapat terjadi
akibat kegiatan pembangunan
b. Mengidentifikasi kerugian dan keuntungan terhadap lingkungan alam dan
ekonomi

yang

dapat

dialami

oleh

masyarakat

akibat

kegiatan

pembangunan
c. Mengidentifikasi masalah lingkungan yang kritis yang memerlukan kajian
lebih dalam dan pemantauannya.
d. Mengkaji dan mencari pilihan alternatif yang baik dari berbagai pilihan
pembangunan.
e. Mewujudkan

keterlibatan

masyarakat

dalam

proses

pengambilan

keputusan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan.

f. Memabantu pihak-pihak terkait yang terlibat dalam pembangunan dan


pihak pengelola lingkungan untuk memahami tanggung jawab, dan
keterkaitannya satu sama lain.
2.3.2 Manfaat AMDAL
AMDAL memiliki banyak manfaat dimana akan terbagi menjadi manfaat bagi
masyarkat, bagi pemilik proyek, bagi pemilik modal, bagi pemerintah, dan bagi
peneliti dan ilmuwan. Berikut merupakan penjelasan mengenai manfaat AMDAL:
(Djamin, 2007)
Bagi masyarakat
-

Masyarakat dapat mengetahui rencana pembangunan di daerahnya, sehingga


dapat mempersiapkan diri di dalam penyesuaian kehidupannya apabila
diperlukan;

Masyarakat dapat mengetahui perubahan lingkungan di masa sesudah proyek


dibangun

sehingga

dapat

memanfaatkan

kesempatan

yang

dapat

menguntungkan dirinya dan menghindarkan diri dari kerugian-kerugian yang


dapat diderita akibat adanya proyek tersebut;
-

Masyarakat dapat ikut berpartisipasi di dalam pembangunan di daerahnya


sejak dari awal, khususnya di dalam memberikan informasi-informasi ataupun
ikut langsung di dalam membangun dan menjalankan proyek;

Masyarakat dapat memahami hal-ihwal mengenai proyek secara jelas


sehingga

kesalahfahaman

dapat

dihindarkai

dan

kerja

sama

yang

menguntungkan dapat digalang;


-

Masyarakat dapat mengetahui hak den kewajibannya di dalam hubungannya


dengan proyek tersebut khususnya hak dan kewajiban di dalam ikut dan
mengelola lingkungan.

Bagi pemilik proyek


-

Proyek terhindar dari perlanggaran terhadap undang-undang atau peraturan


yang berlaku;

Proyek terhindar dari tuduhan pelanggaran pencemaran atau perusakan


lingkungan;

Pemilik proyek dapat melihat masalah-masalah lingkungan yang akan


dihadapi di masa yang akan datang;

Pemilik proyek dapat mempersiapkan cara-cara pemecahan masalah di masa


yang akan datang;

Nalisis dampak lingkungan merupakan sumber informasi lingkungan di


sekitar lokasi proyeknya secara kuantitatif, termasuk informasi sosial ekonomi
dan sosial budaya;

Analisis dampak lingkungan merupakan bahan penguji secara komprehensif


dari

perencanaan

proyeknya,

sehingga

dapat

diketahui

kelemahan-

kelemahannya untuk segera dapat dilakukan penyempurnaannya;


-

Dengan adanya analisis dampak lingkungan, pemilik proyek dapat


mengetahui keadaan lingkungan yang membahayakan (misalnya banjir, tanah
longsor, gempa bumi dan lain-lain) sehingga dapat dicari keadaan lingkungan
yang aman bagi proyek.

Bagi pemerintah
-

Untuk mencegah agar potensi sumberdaya alam yang dikelola tersebur tidak
rusak (khusus untuk sumberdaya alam yang dapat diperbaharui);

Untuk mencegah rusaknya sumberdaya alam lainnya yang berada di luar


lokasi proyek baik yang dioleh olrh proyek lain, diolah masyarakat atau yang
belum diolah;

Untuk

menghindari

perusakan

lingkungan

hidup

seperti

timbulnya

pencemaran air, pencemaran udara, kebisingan dan lain sebagainya, sehingga


tidak mengganggu kesehatan, kenyamanan dan keselamatan masyarakat;
6

Untuk menghindari terjadinya pertentangan-pertentangan yang mungkin


timbul khususnya dengan masyarakat dan proyek-proyek lainnya;

Untuk menjamin agar proyek yang dibangun sesuai dengan rencana


pembangunan daerah, nasional ataupun internasional serta tidak mengganggu
proyek lain;

Untuk menjamin agar proyek tersebut mempunyai manfaat yang jelas bagi
negara dan masyarakat;

Analisis dampak lingkungan diperlukan bagi pemerintah sebagai alat


pengambil keputusan.

2.4 Sistem Regulasi AMDAL


Sistem regulasi AMDAL mencakup :
UU No 23 tahun 1997 tentang lingkungan hidup
PP No 27 tahun 1999 tentang AMDAL:

Pasal 3 ayat 1
1.
2.
3.

Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam


Eksploitasi SDA baik yang dapat diperbaharui/tidak dapat diperbaharui
Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan
pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup serta

4.
5.
6.

kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya


Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, jasad renik.
Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati
Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk

7.
8.

mempengaruhi lingkungan
Kegiatan yang mempunyai tinggi dan mempengaruhi pertahanan negara
Proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi lingkungan alam,

9.

lingkungan buatan serta lingkungan sosial dan budaya


Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi pelestarian
kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar
budaya.
Pasal 5

Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan atau kegiatan
terhadap lingkungan hidup antara lain :
a. Jumlah manusia yang akan terkena dampak
b. Luas wilayah persebaran dampak
c. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
d. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak
e. Sifat kumulatif dampak
f. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.
-

Permen LH

no8 tahun 2006 tentang pedoman penyusunan dokumen

AMDAL
Permen LH no.11 tahun 2006 tentang jenis rencana kegiatan yang wajib

dilengkapi dengan dokumen


Keputusan kepala bappedal no.8 tahun 2000 yentan keterlibatab

masyarakat untuk memperoleh info dalam AMDAL


Peraturan UU no.15 tentang pedoman penilaian dokumen AMDAL.

2.5 Tahapan Penyusunan AMDAL


2.5.1 Prosedur Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
1. Tata laksana menurut PP 29 Tahun 1986
Menurut Hardjasoemantri (1988), garis besar prosedur AMDAL sebagaimana
tercantum pada PP No. 29/1986 Mengenai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
adalah sebagai berikut ini.
a. Pemrakarsa rencana

kegiatan

mengajukan

Penyajian

Informasi

Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab. PIL tersebut


dibuatkan berdasarkan pedoman

yang ditetapkan oleh Menteri yang

ditugaskan mengelola lingkungan hidup. Dalam uraian dibawah ini, yang


dimaksud degan menteri KLH adalah Menteri yang di tugasi mengelola
lingkungan hidup

instansi yang bertanggung jawab adalah yang

berwenang memberi keputusan tentnag pelaksanaan rencana kegiatan,


dengan pengertian bahwa kewenangan berada pad menteri atau Pimpinan
Lembaga Pemerintah Nondepartemen yang membidangi kegiatan yang

bersangkutan dan pada Gubernur Daerah Tingkat I untuk kegiatan yang


berada di bawah wewenangnya
b. Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak tepat,
maka instansi yang bertanggung

jawab menolak lokasi tersebut dan

memberikan petunjuk tentang kemungkinan lokasi lain dengan kewajiban


bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang baru. Apabila suatu lokasi
dapat menimbulkan perbenturan kepentingan antar sektor maka instansi
yang bertanggung jawab mengadakan konsultasi dengan menteri KLH dan
Menteri atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen yang
bersangkutan.
c. Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan ANDAL,
berhubung dengan adanya dampak penting rencana kegiatan terhadap
lingkungan, baik lingkungan geobiofisik maupun sosial budaya, maka
pemrakarsa bersama instansi yang bertanggung jawab membuat Kerangka
Acuan (KA) bagi penyusunan ANDAL.
d. Apabila ANDAL tidak perlu dibuat untuk suatu rencana kegiatan,
berhubung tidak ada dampak penting, maka pemrakarsa diwajibkan untuk
membuat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi kegiatan tersebut. Huruf K dalam
RKL adalah Kelola dan huruf P dalam RPL dari Pantau.
e. Apabila dari semula sudah diketahui bahwa akan ada dampak penting,
maka tidak perlu dibuat PIL lebih dahulu akan tetapi dapat langsung
menyusun KA bagi pembuat ANDAL.
f. ANDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga
dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam perencanaan
pembangunan, yaitu: teknis, ekonomis dan lingkungan (TEL). biaya
rencana kegiatan sebagaimana tercantum dalam studi kelayakan rencana
kegiatan tersebut meliputi pula biaya penanggulangan dampak negatif dan
pengembangan dampak positifnya.

g. Pedoman umum penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri KLH.


Pedoman teknis penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri atau
Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen yang membidangi
kegiatan yang bersangkutan berdasarkan pedoman umum penyusunan
ANDAL yang dibuat oleh Menteri KLH.
h. Apabila ANDAL menyimpulkan bahwa dampak negatif yang tidak dapat
ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi lebih besar dibanding
dengan dampak positifnya, maka instansi yang bertanggung jawab
memutuskan menolak rencana kegiatan yang bersangkutan. Terhadap
penolakan ini, pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat
yang lebih tinggi dari instansi yang bertanggung jawab selambatlambatnya 14 (empat belas) hari. Sejak diterimanya keputusan penolakan.
Pejabat yang lebih tinggi tersebut memberi keputusan atas keberatan
tersebut selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya
pernyataan keberatan, setelah mendapat pertimbangan dari menteri KLH.
Keputusan tersebut merupakan keputusan terakhir.
i. Apabila ANDAL disetujui, maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL
dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang dibuat
oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung jawab.
j. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan kadaluwarsa apabila rencana
kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak
ditetapkannya keputusan tersebut. Pemrakarsa wajib mengajukan kembali
permohonan persetujuan atas ANDAL. Terhadap permohonan ini instansi
yang bertanggung jawab memutuskan dapat digunakan kembali ANDAL,
RKL dan RPL yang telah dibuat atau wajib diperbaharuinya dokumendokumen tersebut.
k. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan gugur, apabila terjadi
perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau

10

karena kegiatan lain, sebelum rencana kegiatan dilaksanakan. Pemrakarsa


perlu membuat ANDAL baru berdasarkan rona lingkungan baru.
2.5.2 Dokumen AMDAL Menurut PP 29/1986 Dan PP 51/1993 serta PP 29/1999
Menurut PP 29/1986, AMDAL terdiri atas 5 dokumen, sebagai berikut:
1. Penyajian informasi lingkungan (PIL)
2. Kerangka acuan untuk analisis dampak lingkungan (KA-ANDAL)
3. Analisis dampak lingkungan (ANDAL)
4. Rencana pengelolaan lingkungan (RKL)
5. Rencana pemantauan lingkungan (RPL)
Sementara itu menurut PP 51/1993 Serta PP 29/1999, AMDAL terdiri atas 4
dokumen yaitu:
1.
2.
3.
4.

Kerangka Acuan untuk ANDAL (KA)


Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL)
Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
Rencana Pemantauan Lingkungan RPL)

Keempat dokumen tersebut sangat erat kaitannya dengan tahapan/proses


perencanaan dan pelaksanaan dari suatu kegiatan pembangunan. Dokumen AMDAL
tersebut berkaitan dan diperlukan dalam mengurus perisinan suatu usaha/kegitan yang
direncanakan.
Menurut PP 29/1986 (Damopolii,1988) fungsi dan proses penyusunan PIL
adalah sebagai berikut:
a)

Penyajian Informasi Lingkungan


1. Fungsi PIL
a. PIL berfungsi sebagai alat penapis apakah suatu rencana kegiatn perlu
dilengkapi dengan ANDAL atau tidak yang dikaitkan dengan dampak
lingkungan.
b. PIL digunakan untuk penilaian ketetapan lokasi dari suatu rencana
kegiatan apakah lokasinya harus dipindah atau tidak
c. PIL berfungsi sebagai acuan untuk menyusun RKL dan RPL apabila
rencana kegiatan tidak mempunyai dampak penting.
d. PIL berfungsi sebagai acuan untuk penyusunan KA ANDAL apabila
ternyata rencana kegiatan mempunyai dampak penting.

11

e. Data PIL digunakan pula untuk ANDAL, sehingga tidak diperlukan


lagi pengambilan sampel ulang, hanya menambahkan saja ini berati
juga menghemat biaya dalam studi ANDAL.
2. Penyusunan PIL
Dalam rangka penyusunan PIL maka sebaiknya dapat dibuat suatu matriks
interaksi antara komponen rencana kegiatan dengan rona kegiatan awal
sesuai pedoman yang ada. Apabila diduga ada interaksi, maka inilah yang
akan dikumpulkan nantinya. Selanjutnya langkah-langkah berikutnya
adalah sebagai berikut:
a. Pengumpulan Data
1. Aktifitas Kegiatan
Data yang dikumpulkan adalah komponen aktifitas kegiatan yang
relevan yaitu yang ada interaksinya dengan rona lingkungan awal,
baik pada tahap pra konstruksi, konstruksi maupun pasca
konstruksi. Atau dengan kata lain data yang dikumpulkan adalah
komponen rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan
dampakterhadap lingkungan. Data ini diambil dari pemrakarsa.
2. Rona Lingkungan Awal
Data yang dikumpulkan adalah rona lingkungan awal yang
relevan, yaitu ada interaksinya dengan komponen rencana kegiatan
tersebut, baik yang akan terkena dampak dari rencana kegiatan
maupun yang dapat menimbulkan dampak terhadap rencana
kegiatan itu sendiri. Data yang dikumpulkan ini adalah data
sekunder yang masih cukup validitasnya dan bila tidak ada maka
perlu diambil data primernya. Dalam pengumpulan data sekunder
tersebut maka pertama-tama yang harus diperhatikan adalah
ketersediaan data yang ada pada pra studi kelayakan teknis dan
ekonomis rencana kegiatan tersebut.
b. Analisis dampak dan penentuan dampak
Interaksi antara komponen rencana kegiatan dan komponen rona
lingkungan awal dikaji untuk mengetahui dampak yang mungkin
timbul, baik besar maupun sifat/ karakteristiknya menurut waktu dan
12

ruang. Hasil analisis dampak tersebut kemudian dibandingkan dengan


kriteria ukuran dampak penting atau baku mutu limbah dan
lingkungan. Apabila ternyata salah satu atau lebih parameter
lingkungan masuk kategori dampak penting atau melebihi ambang
batas, maka kegiatan tersebut dikategorikan mempunyai dampak
penting sehingga diperlukan ANDAL.
c. Penanganan dampak lingkungan
Penyajian penanganan dampak lingkungan

(pengelolaan

dan

pemantauan) hanya diperlukan bagi rencana kegiatan yang ternyata


tidak mempunyai dampak penting. Hasil kajian secara garis besar ini
kemudian digunakan untuk bahan acuan bagi penyusunan RKL dan
RPL. Bagi sesuatu kegiatan yang mempunyai dampak penting, tidak
diperlukan uraian penanganan dampak karena hal ini akan diuraikan
dalam laporan ANDAL nantinya.
b)

Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL


1. Pengertian menurut PP 27 Tahun 1999
Kerangka acuan ANDAL adalah runag lingkup kajian analisis dampak
lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan ( PP 27 Tahun 1999 pasal
1)
2. Tujuan dan fungsi KA ANDAL
a. Tujuan penyusunan KA ANDAL adalah:
a.1. Merumuskan lingkup dan kedalaman studi ANDAL
a.2. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien
sesuai dengan biaya,tenaga dan waktu yang tersedia.
b. Fungsi dokumen KA ANDAL
b.1. Sebagai rujukan penting bagi pemrakarsa, instansi teknis yang
bertanggung

jawab, konsultan penysun dan komisi ANDAL,

tentang lingkup dan kedalaman studi AMDAL.


b.2. Sebagai salah satu rujuan untukpenilaian dokumen ANDAL untuk
evaluasi hasil studi ANDAL.
3. Manfaat Kerangka Acuan

13

a. KA menggambarkan ruang lingkup sesuatu pekerjaan yang disepakati


bersama oleh semua pihak yang berkepentingan.
b. Bahwa KA harus disusun dan disepakati bersama oleh semua pihak
yang berkepentingan, yaitu: pemrakarsa, instansi yang bertanggung
jawab/komisi maupun calon penyusun ANDAL dimaksud untuk
mempercepat proses penyelesaiannya.
c. Dasar pertimbangan perlunya KA ANDAL disusun adalah:
1. Keanekaragaman
Rencana kegiatan sangatlah beranekaragam menurut bentuknya,
ukuran, tujuan dan lain sebagainya.Demikian pua ronalingkungan akan
berbeda pule menurut keanekaragaman geografis, factor lingkungan,
factor manusia dan sebagainya. Dengan demikian KA diperlukan
untuk memberikan arahan tentang komponen kegiatan yang manakah
yang harus ditelaah , dan komponen lingkungan manakah yang perlu
diamati selama penyususnan ANDAL.
2. Keterbatasan SDA
Dalam KA ditonjolkan upaya untuk menyusun prioritas yang harus
diutamakan agar tujuan AMDAL dapat terpenuhi meskipun sumber
daya terbatas.
3. Efisiensi
Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan ANDAL perlu
dibatasi pada factor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan.
Dengan cara ini maka ANDAL dapat dilaksanakan dengan cara
efisien.
4. Hubungan penyusun KA dengan pemakai hasil ANDAL
Dalam penyusunan KA perlu dipahami bahwa pemakai hasil ANDAL
adalah para pengambil keputusan, perencana dan pengelola lingkungan

14

sehingga studi ini harus ditekankan pada pendugaan dampak yang


ditimbulkan terhadap lingkungan dan usaha penanganannya.
5. Wawasan lingkungan bagi penyusun ANDAL
Setiap penyusunan KA harus menempatkan rencana kegiatan sebagai
bagian dari pembangunan berwawasan lingkungan yang bertujuan untuk
melestarikan kemampuan sumber daya alam dan memelihara serta
meningkatkan keserasian kualitas lingkungan hidup.
6. Proses pelingkupan dalam penyusunan KA
Pelingkupan pada saat menyusun KA adalah proses awal untuk
menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting yang
terkait dengan usaha atau rencana kegiatan. Dalam KA ini pelingkupan
meliputi main issues untuk mendapatkan dampak besar dan dampak penting
serta mendapat batas wilayah studi.
c)

Penyusunan ANDAL
1. Umum
Dalam penyusunan ANDAL, maka hal-hal yang perlu diperhtikan antara
lain:
a. Dalam pelaksanaan ANDAL harus berpegangan pada KA yang telah
disepakati bersama
b. Laporan ANDAL disusun sesuai Pedoman Umum secara nasional
tentang Penyusunan ANDAL yang telah ditetapkan oleh Kep. Kaepala
Bapedal No. 09 Tahun 2000 beserta lampirannya.
c. Setiap tahapan penyusunan ANDAL, dibuat laporan kemajuan secara
bersambung yang ini dikonsultasikan dengan pihak pemrakarsa dan
pihak tim teknis AMDAL dan komisi penilai untuk memperoleh
perbaikan seperlunya.
d. Draft laporan akhir

dipresentasikan/diseminarkan

dihadapan

pemrakarsa dan pihak lain yang dianggap perlu untuk mendapat


masukan bagi penyempurnaan lapran tersebut.
15

e. Laporan ANDAL yang telah selesai dibuatkan (Exekutif Summary)


ringkasan eksekutifnya sekitar 10-20 halaman terpisah dari dokumen
ANDAL.
2. Tahapantahapan penyusunan ANDAL
Dalam ANDAL ada 5 (lima) tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan
sebagai berikut :
a) Pengumpulan data informasi tentang :
i. Komponen rencana kegiatan
ii. Komponen rona lingkungan awal
Komponen rencana kegiatan
Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai aktifitas rencana
kegiatan baik pada tahap pra konstruksi, konstruksi maupun pasca
konstruksi. Pemilihan data yang dikumpulkan tersebut harus
mengutamakan data yang berkaitan langsung dengan berbagai dampak
yang mungkin akan timbul apabila rencana kegiatan tersebut akan
dilaksanakan nantinya.
Komponen Rona Lingkungan Awal
Data yang dikumpulkan terutama komponen lingkungan (biogeofisik,
sosial, ekonomi, sosial budaya dan kesehatan masyarakat
b) Proyeksi perubahan rona lingkungan awal
Rona lingkungana awal merupakan kondisi (kualitas) linggkungan
sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum ada
kegiatan. Rona lingkungan awal ini akan mengalami perubahan akibat
adanya rencana kegiatan apabila telah dilaksanankan nantinya.
Besarnya perubahan lingkungan ini perlu diketahui menurut ruang dan
waktu bagi kepentingan evaluasi maupun penanganan.
c) Penentuan (prakiraan/prediksi dan interpretasi) dampak penting
Hasil kajian terhadap besarnya perubahan dari rona lingkungan awal
dengan kondisi lingkungan akibat adanya rencana kegiatan yang kelak
16

dilaksanakan.untuk mengetahui apakah dampak termasuk penting atau


tidak, dapat dibandingkan dengan kriteria ukuran dampak penting atau
baku mutu lingkungan atau baku mutu limbah yang telah ditetapkan
oleh pemerintah.
d) Evalusi dampak penting
Pada tahap evaluasi dampak penting ini, uraian yang disajikan
meliputi hal-hal berikut ini.
Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap seluruh
dampak yang diperkirakan misal dampak positif maupun dampak
negatif dianalisis sebagi satu kesatuan yang saling terkait dan
pengaruh

mempengaruhi,

sehungga

akan

diketahui

perimbangannya.
Hubungan sebab akibat (kausatif) antara rencana kegiatan dengan
rona lingkungan
Setiap rencana

kegiatan

apabila

telah

dilaksanakan

akan

menimbulkan dampak yang berbeda pada rona lingkungan yang


berbeda. Miisalnya mungkin saja sesuatu dampak penting timbul
karena rencana kegiatan itu dilaksanakan pada sesuatu lokasi yang
padat penduduknya, pada sesuatu daaerah yang sensitif terhadap
kegiatan atau bentuk teknologi yang tidak sesuai atau lain

sebagainya.
Ciri (karakteristik) dampak penting
Pada bagian ini perlu dikemukakan adalah sifat-sifat (karakteristik)
sesuatu dampak seperti lama berlangsungnya, fluktuasinya sifat
antagonistik atau sinergetik antara berbagai dampak atau satu sama

lain, saling meniadakan.


Luas penyebaran dampak penting
Sesuatu dampak mungkin akan mengenai sesuatu daerah yang
sempit atau mungkin akan sangat luas. Misalnya dampak hanya
bisa dirasakan secara lokal, regional, nasional maupun mungkin
antar negara.

17

Cara pendekatan dalam penanganan dampak


Hal ini memuat cara penanganan dampak yang mungkin akan
terjadi, baik dari segi ekonomi, teknologi maupun instansi. Dari
segi ekonomi misalnya dengan bantuan, pemerintah untuk
menanggulangi

masalah

lingkungan.

dari

segi

teknologi

adalahdengan cara membatasi,mengisolasi atau netralisasi terhadap


bahan berbahaya dan lain sebagainya.
e) Alternatif pengelolaan dan pemantauan lingkungan
Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut:
Komponen lingkungan terkena dampak, sumber dampak, tolak
ukur dam bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan maupun

pemantauan lingkungan.
Metode pengeloaan dan pemantauan lingkungan yang mencakup
faktor biogeofisik-kimia, sosial ekonomi,sosial budaya dan

kesehtan masyarakat
Saat pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilaksankan

frekuensi/kekerapanya menurut ruang dan waktu.


Pelaksanaan yang bertanggung jawab dalam

pengelolaan dan pemantauan lingkungannya.


Pemanfaatan hasil pemantauan lingkungan baik sebagai umpan

pelaksanaan

balik penyempurnaan sistem pengelolaan lingkungan kedalam


maupun keluar dari batas rencana kegiatan.
d)

Rencana Pengelolaan Lingkungan


1. Umum
Rencan pengelolaan lingkungan (RKL) sebagai sesuatu dokumen
harus dibuat setelah ANDAL diterima oleh Komisi AMDAL (menurut PP
29/1986). Tetapi pada PP 27/1999 dokumen RKL dan RPL disusun bersamaan
dengan penyusunan ANDAL. Presentasi dokumen ANDAL,RKL, RPL
dilakukan penilaian bersama-sama.
Untuk membuat RKL dapat dilaksanakan tanpa pengumpulan data
dilapangan. RKL didasarkan akan adanya dampak penting ynag timbul. RKL

18

yang akan dilaksanakan disusun dengan pendekatan teknologi, ekonomi dan


institusional.sesuai dengan prosedur penyusunan dokmen ANDAL,RKL yang
bersamaan sesuai PP 51/1993 dan PP 27 Tahun 1999 maka penyusunan RKL
dan RPL tidak perlu melakukan studi ke lapangan. RKL ini bersi uraian
tentang komponen lingkungan terkena dampak, tujuan, sumber dampak, bobot
dan tolak ukur dampak serta upaya pengelolaan lingkungan.
Di dalam dokumen RKL ada pendekatan teknologi berupa upaya
secara teknis untuk menanggulangi kerusakan lingkungan khususnya limbah
dan

pencemaran.

Penanggulangan

terutama

diprioritaskan

terhadap

pencemaran B3 (bahan beracu berbahaya) dan kerusakan sumber daya alam


( hayati dan non hayati) yang diduga timbul.
2. Fungsi
RKL berfungsi sebagai pedoman dalam menanggulangi dampak.
Dengan demikian RKL dapat mengikat semua pihak untuk ikut membantu
menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negatif dalam pembangunan.
Dalam RKL dapat dikemukakan instansi yang bertindak sebagai pelaksana,
dan instansi lainnya yang bertindak sebagai pengawas dan instansi
bertanggung jawab.
3. Penyusunan RKL
Dokumen RKL ini penyusunannya menjadi tanggung jawab
pemrakarsa kegiatan.

e)

Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan


1. Umum
RPL merupakan dokumen ke empat dalam AMDAL. RPL disusun atas
dasar rekomendasi yang terdapat dalam dokumen ANDAL dan dokumen
RKL. RPL sangat penting artinya terutama terkait dengan upaya
mempertahankan mutu kualitas lingkungan dan mengurangi pemborosan
sumberdaya.

19

RPL berisikan uraian tentang dampak penting yang timbul, faktor


lingkungnan yang dipantau, tolak ukur dampak, lokasi dan periode
pemantauan. Disamping itu juga secara jelas diuraikan pihak-pihak yang
berkewajiban sebagai pelaksana untuk memantau lingkungan dan kewajiban
pihak-pihak lain (selain pemrakarsa), yang memanfaatka umpan balik hasil
pemantauan yang dilaksanakan.
2. Fungsi
RPL merupakan pedoman yang lebih rinci tentang bagaimana
seharusnya pemantauan lingkungan dilaksanakan, kapan dilaksanakan dan
sipa yang bertanggung jawab terhadap upaya pemantauan dari hasil
pemantauan. Sehingga RPL dapat memberikan pedoman bagi setiap instansi
terkait tentang apa, bagaimana, kapan ikut menjaga, mempertahankan, sokur
meningkatkan mutu lingkungan.
3. Penyusunan RPL
Penyusunan RPL (seperti halnya RKL, KA dan ANDAL) menjadi
tanggung jawab pemrakarsa. Pelaksanaan penyusunan KA, ANDAL, RKL
DAN RPL harus disusun oleh konsultan. Konsultan yang ditunjuk harus
sesuai kualifikasinya dan bukan perusahaan yang ada hubungan secara
organisatoris dengan pemrakarsa.
Syarat kualifikasi konsultan adalah memiliki bdan hukum dengan akte
notaries dan memiliki staf yang telah memiliki sertifikat AMDAL B, memiliki
kemampuan untuk menganalisis data yang didapat di laboratorium dan
terdaftar di Inkindo atau kantor yang bertanggung jawab di bidang AMDAL.
Konsultan yang memiliki peralatan dan laboratorium sendiri mempunyai
kualifikasi yang lebih tinggi. Pada saat ini berhubung konsultan swasta masih
belum banyak yang kualifikasinya baik, maka untuk sementara dapat ditunjuk
konsultan pemerintah yaituPusat Studi Lingkungan atau Pusat Penelitian
Lingkungan Hidup yang dimiliki oleh Universitas .

20

Konsultan yang ditunjuk dapat sama, yaitu mengerjakan KA, ANDAL


sekaligus RKL dan RPL, tetapi dapat juga berbeda-beda konsultan.
Permasalahan seputar AMDAL dalam pembuatan dokumen AMDAL
diantaranya:
1. Status lahan yang sering bermasalah.
Permasalahan biasanya muncul

dari

pihak

pemrakarsa

yang

menyatakan secara sepihak telah mengurus perijinan melalui prosedur


pemerintahan. Kenyataan dilapangan ternyata lahan tersebut dalam
keadaan bermasalah. Ini sering ditemui pada investor yang akan

mendirikan perkebunan tapi terkendala pada status tanah ulayat.


Permasalahan bisa muncul dari masyarakat sekitar kegiatan yang

merasa lahan itu adalah lahan pribadi.


Dibeberapa daerah yang mengakui hak ulayat, akan mendapat
tantangan yang lebih berat mengenai status lahan ini. Ini disebabkan
adanya perlindungan hukum terhadap hak ulayat. Jadi harus jelas dulu

status lahan baru bisa melanjutkan pembangunan.


2. Adanya alih fungsi lahan yang sering terjadi dengan alasan untuk
pembangunan ekonomi suatu daerah. Alih fungsi lahan ini biasanya
mempersempit areal pertanian khususnya sawah. Padahal kita ketahui
bersama bahwa areal sawah tiap tahunnya selalu terjadi penurunan luasan.
Perkebunan dimana-mana, pembangunan perumahan adalah contoh yang
dominan terhadap alih fungsi lahan produktif ini.
3. Tidak adanya pengawasan terhadap proses pembuatan dokumen AMDAL
dari tim yang independent. Ketika memasukkan dokumen KA-ANDAl ke
instansi lingkungan didaerah, maka status kegiatan ini adalah pada tahap
Pra konstruksi. Tapi pada kenyataan masih banyak ditemukan ketika
prosedur AMDAL masih dalam pengurusan, pemrakarsa telah melakukan
prose kontruksi, kenyataan yang lebih parah ketika dokumen AMDAL
tersebut di fiktifkan.
4. Seringnya lokasi kegiatan tidak mengacu pada tata ruang. Padahal semua
kegiatan tidak boleh bertentangan dengan tata ruang peruntukan lahan.
21

5. Masih belum beraninya Tim Komisi Teknis dan Komisi Penilai untuk
menyatakan tidak layak secara lingkungan untuk sebuah dokumen
AMDAL .
6. Lamanya proses dari satu sidang ke sidang berikutnya disebabkan
prosedur yang ada tidak berjalan sesuai peraturan dalam pengurusan
perijinan AMDAL. Apabila dokumen sudah didaftarkan pada institusi
lingkungan hidup daerah yang bersangkutan, selama 75 hari kerja tidak di
proses oleh instansi tersebut, maka dokumen secara hukum sudah syah.
7. Masih banyaknya Konsultan yang asal jadi dalam membuat dokumen
AMDAL ini, ini disebabkan tidak adanya harga minimal dan maksimal
dari pembuatan sebuah dokumen AMDAL. Jadi terkadang ada konsultan
yang banting harga. Tentunya hasil yang diharapkan akan jauh panggang
dari api.
2.6

Dampak pada AMDAL


Sesuai dengan definisi AMDAL dan peraturan PP No. 27/1999 Pasal 3 ayat 1

yang ditetapkan dalam pembuatan AMDAL. Kegiatan yang berdampak pada


lingkungan hidup antara lain adalah:
1. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam
2. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak
terbaharu
3. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan
pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta
kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya
4. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam,
lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya
5. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian
kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan cagar budaya
6. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan, dan jenis jasad renik.
Selain itu, kriteria pengukuran dampak pada AMDAL juga bergantung pada:

22

1. Besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha


2.
3.
4.
5.
6.

dan/atau kegiatan.
Luas wilayah penyebaran dampak.
Intensitas dan lamanya dampak berlangsung.
Banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak.
Sifat kumulatif dampak.
Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.

Pada beberapa kasus, terdapat beberapa proyek yang dijalankan tanpa


melaksanakan pembuatan AMDAL terlebih dahulu. Hal ini dapat menyebabkan
berbagai dampak negatif baik dalam aspek sosioekonomi, ekologi, maupun
masyarakat.
2.7 Waktu Penggunaan AMDAL
Setiap rencana kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting, wajib
dibuat AMDAL Hal ini mengacu pada pasal 3 ayat 1 PP 27 tahun 1999 yaitu;(Djamin,
2007)

Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam.


Eksploitasi SDA baik yang dapat diperbaharui/tidak dapat diperbaharui.
Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan
pemborosan, kerusakan, pemerosotan dalam pemanfaatan SDA, cagar

budaya.
Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, jasad renik.
Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati.
Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk

mempengaruhi lingkungan.
Kegiatan yang mempunyai tinggi dan mempengaruhi pertahanan negara

Meskipun AMDAL secara resmi diperkenalkan ke Indonesia pada tahun 1982,


sebagian besar praktisi mengetahui asal muasal sebenarnya untuk beranjak dari
Peraturan No. 29/19869 yang menciptakan berbagai elemen penting dari proses
AMDAL. Sepanjang awal era 1990 didirikan suatu badan perlindungan lingkungan
pusat (BAPEDAL) terlepas dari Kementerian Negara Lingkungan, dengan mandat
meningkatkan pelaksanaan. (Horas, 2004)

23

AMDAL dan kendali atas polusi, didukung oleh tiga kantor daerah. Kajian
dan persetujuan atas berbagai dokumen AMDAL pada saat ini ditangani oleh Komisi
Pusat atau Komisi Daerah, sesuai dengan skala proyek dan sumber pendanaan. Lebih
dari 4000 AMDAL dikaji sampai dengan 1992 dimana menjadi lebih jelas bahwa
berbagai elemen dari proses tersebut terlalu kompleks dan terlalu banyak didasarkan
pada AMDAL gaya barat. Legislasi AMDAL yang baru yang diberlakukan pada
tahun 1993 yang memiliki efek pembenahan atas prosedur penapisan, mempersingkat
jangka waktu pengkajian, dan memperkenalkan status format EMP yang
distandardisasi (UKL/UPL) untuk proyek dengan dampak yang lebih terbatas. Lebih
dari 6000 AMDAL nasional dan propinsi diproses berdasarkan peraturan ini termasuk
sejumlah kecil AMDAL daerah di bawah suatu komisi pusat yang didirikan di dalam
BAPEDAL. (Soemarno dan Djamin, 2007)
Dengan diundangkannya Undang-undang Pengelolaan Lingkungan yang baru
(No. 23/1997) berbagai reformasi lanjutan atas regulasi AMDAL menjadi perlu.
Peraturan 27/1999 diperkenalkan dengan simplifikasi lebih lanjut. Komisi sektoral
dibubarkan dan dikonsolidasikan ke dalam suatu komisi pusat tunggal, sementara
komisi propinsi diperkuat. Ketentuan yang lebih spesifik dan lengkap atas
keterlibatan publik juga diperkenalkan, sebagaimana halnya juga dengan suatu
rangkaian arahan teknis pendukung. Namun demikian PP 27/1999 ternyata tidak tepat
waktu, gagal untuk secara memadai merefleksikan berbagai perubahan politis yang
pada saat itu lebih luas yang akhirnya mengarah kepada desentralisasi politik dan
administratif. Analisis mengenai dampak lingkungan, yang sering di singkat dengan
AMDAL, lahir dengan di undangkannya undang-undang tentang lingkungan hidup di
Amerika Serikat, National Environmental Policy Act (NEPA), pada tahun 1969.
NEPA 1969 mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Pasal 102 (2) (C) dalam
undang-undang ini menyatakan, semua usulan legislasi dan aktifitas pemerintah
federal yang besar di perkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap
lingkungan diharuskan disertai laporan Environmental Impact Assessment (Analisis
Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut.
24

NEPA 1969 merupakan suatu reaksi terhadap kerusakan lingkungan oleh


aktifitas manusia yang makin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh
pestisida serta limbah industri dan transpor, rusaknya habitat tumbuhan dan hewan
langka, serta menurunnya nilai estetika alam. Misalnya, sejak permulaan tahun 1950an Los Angeles di negara bagian Kalifornia, Amerika Serikat, telah terganggu oleh
asap-kabut atau asbut (smog = smoke + fog), yang menyelubungi kota, mengganggu
kesehatan dan merusak tanaman. Asbut berasal dari gas limbah kendaraan dan pabrik
yang mengalami fotooksidasi dan terdiri atas ozon, peroksiasetil nitrat (PAN),
nitrogenoksida, dan zat lain lagi. (Djamin, 2007)
AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) adalah instrumen yang
sifatnya formal dan wajib (control and command) yang merupakan kajian bagi
pembangunan proyek-proyek kegiatan-kegiatan pasal 17a yang kemungkinan akan
menimbulkan dampak besar dari penting terhadap lingkungan hidup. (Soemarno,
2007)
Dalam PP No.27 Tahun 1999 dinyatakan bahwa dampak besar dan penting
adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh
suatu usaha dan atau kegiatan. Selanjutnya pada pasal 5 PP tersebut dinyatakan
bahwa kriteria dari dampak besar dan periting dari suatu usaha atau kegiatan terhadap
lingkungan antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Jumlah manusia yang akan terkena dampak.


Luas wilayah persebaran dampak.
Intensitas dan lamanya dampak berlangsung.
Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak.
Sifat kumulatif dampak.
Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (ireversible).

Dasar hukum dan prosedur pelaksanaan AMDAL diatur dalam PP No.27


tahun 1999 beserta beberapa KEPMEN yang terkait dan dikeluarkan oleh Kementrian
Negara Lingkungan Hidup. AMDAL dibuat sebelum kegiatan berjalan atau operasi
proyek dilakukan. Karena itu AMDAL merupakan salah satu persyaratan keluarnya
perizinan.

25

2.8

Faktor Penghambat AMDAL


AMDAL merupakan teknologi pembuatan perencanaan dan keputusan yang

berasal dari barat, negara industri yang demokratis dengan kondisi budaya dan sosial
berbeda, sehingga ketika program ini diterapkan di negara berkembang dengan
kondisi budaya dan sosiopolitik berbeda, kesulitan pun muncul (Hendartomo, 2000).
AMDAL di Indonesia telah lebih dari 15 tahun diterapkan. Meskipun
demikian, berbagai hambatan atau masalah selalu muncul dalam penerapan AMDAL,
seperti juga yang terjadi pada penerapan AMDAL di negara-negara berkembang
lainnya. Hambatan tersebut cenderung terfokus pada faktor-faktor teknis, seperti
(Hendartomo, 2000):
a.
b.
c.
d.

Tidak memadainya aturan dan hukum lingkungan


Kekuatan institusi
Pelatihan ilmiah dan profesional
Ketersediaan data

Karakter budaya serta perilaku sosial dan politik orang Indonesia sangat
mempengaruhi bentuk penerapan AMDAL. Inisiatif program dan kebijakan
lingkungan di Indonesia sangat bersifat top down oleh pemerintah sendiri. Inisiatif
top down tersebut muncul bukan karena adanya kebutuhan penganalisisan dampak,
tetapi sebagai tanggapan terhadapa perkembangan barat. Tekanan perkembangan
barat untuk menanggapi masalah lingkungan terutama melalui konferensi lingkungan
internasional di Stockholm tahun 1972 dan Rio De Janiero tahun 1992. Berbeda
dengan di negara barat, program dan kebijakan lingkungan dibuat karena adanya
kebutuhan masyarakat, sehingga inisiatif bersifat bottom up (Hendartomo, 2000).
Penerapan AMDAL di Indonesia tidak semudah di negara barat, karena
kondisi masyarakat yang berbeda, yang tidak dapat sepenuhnya memberi dukungan
terhadap tindakan pemerintah. Walaupun banyak isu lingkungan dalam agenda sosial,
tetapi isu tersebut masih dianggap kurang penting. Masyarakat juga cenderung lebih
mempertahankan hidup dengan menggantungkan pada sumber daya alam daripada
melakukan tindakan untuk melindungi kehidupan liar, spesies langka dan
26

keanekaragaman hayati. Agenda sosial untuk perlindungan lingkungan tersebut juga


lemah dan mempunyai sedikit kesempatan untuk diangkat menjadi agenda politik.
Kemiskinan, buta huruf, kurangnya informasi, sangat berkuasanya elit politik dan
ekonomi, rejim politik yang terlalu mengontrol dan otoriter, merupakan faktor adanya
situasi tersebut (Hendartomo, 2000).
Pengelolaan lingkungan sebenarnya merupakan kegiatan yang dilakukan antar
instansi, karena mencakup multi disiplin. Untuk efektifitas AMDAL, seharusnya
instansi lingkungan dan sektoral pemerintah harus melakukan koordinasi, berbagi
informasi dan bekerjasama untuk menerapkan AMDAL dalam siklus proyek,
melakukan evaluasi terhadap usaha penilaian dan perencanaan lingkungan, serta
mneyusun rekomendasi (Hendartomo, 2000).
Kerjasama ini tampaknya kurang terjadi pada pelaksanaan AMDAL di
Indonesia. Dalam penyusunan rancangan program, komisi AMDAL, yang berada di
masing-masing sektor kementrian dan propinsi bekerja sendiri-sendiri. Komisi dapat
menyetujui laporan AMDAL tanpa adanya konsultasi dengan departemen lain yang
bertanggung jawab terhadap lokasi proyek, kontrol gangguan dan ijin kegiatan. Jadi
program AMDAL hanya menyediakan sedikit atau tidak sama sekali kesempatan
secara resmi bagi staf pemerintah untuk bekerjasama menghindari atau mengurangi
dampak lingkungan selama perancangan proyek dan selama proses kesepakatan
pelaksanaan proyek (Hendartomo, 2000).
Pada umumnya, pelaksanaan AMDAL tidak mengikutsertakan partisipasi
masyarakat dalam perencanaan proyek dan pengambilan keputusan. Konsultasi
dengan masyarakat secara resmi pada proyek-proyek yang diusulkan biasanya hanya
dilakukan pada waktu survei untuk mengumpulkan informasi. Konsultasi masyarakat
dianggap tidak penting, karena dianggap semua telah sepakat. Kalaupun ada
keinginan masyarakat untuk menolak usulan proyek, karakter budaya yang ada akan
menghambat pengungkapan keinginan tersebut. Sebaliknya di negara barat,
pemerintah justru mensponsori diadakannya konsultasi masyarakat dalam setiap

27

usulan pembangunan, yang mana pertikaian dan perdebatan dapat terjadi, dan
semuanya adalah untuk tujuan atau kepentingan bersama (Hendartomo, 2000).
Dalam kondisi pelaksanaan AMDAL di Indonesia tersebut, faktor budaya
seharusnya menjadi perhatian utama disamping faktor teknis, ketika mengkaji
kesulitan yang timbul dalam pelaksanaan kebijakan atau program seperti AMDAL,
yang berasal dari Barat dan diterapkan di negara dengan budaya yang berbeda
(Hendartomo, 2000).
Implementasi AMDAL kurang efektif karena beberapa alasan sebagai berikut:
a. AMDAL dilakukan terlambat sehingga tidak dapat lagi memberikan
masukan untuk pengambilan keputusan dalam proses perencanaan
b. Tidak adanya pemantauan pada tahap operasional
c. AMDAL disalahgunakan untuk membenarkan diadakannya suatu proyek
Oleh karena itu, upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas
AMDAL adalah sebagai berikut :
a. Menumbuhkan pengertian bahwa AMDAL bukan sebagai penghambat
b.
c.
d.
e.
f.

pembangunan tetapi untuk menyempurnakan perencanaan pembangunan


Banyak data yang kurang relevan dengan masalah-masalah yang dipelajari
Laporan AMDAL harus ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti
Rekomendasi yang diberikan harus jelas dan spesifik
Adanya komisi AMDAL yang berkualitas
Belum digunakan RPL sebagai umpan balik untuk penyempurnaan
implemmentasi dan operasi proyek

2.9 Alasan suatu rencana kegiatan wajib AMDAL


Setiap rencana kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting, wajib
dibuat AMDAL Hal ini mengacu pada pasal 3 ayat 1 PP 27 tahun 1999 yaitu ;
1. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam
2. Eksploitasi SDA baik yang dapat diperbaharui/tidak dapat diperbaharui
3. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan,
kerusakan, pemerosotan dalam pemanfaatan SDA, cagar budaya
4. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, jasad renik.
5. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati

28

6. Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk


mempengaruhi lingkungan
7. Kegiatan yang mempunyai tinggi dan mempengaruhi pertahanan negara
Jadi, apabila rencana kegiatan mempunyai peran seperti yang telah disebutkan
di atas wajib AMDAL.
Meskipun AMDAL secara resmi diperkenalkan ke Indonesia pada tahun 1982,
sebagian besar praktisi mengetahui asal muasal sebenarnya untuk beranjak dari
Peraturan No. 29/19869 yang menciptakan berbagai elemen penting dari proses
AMDAL10. Sepanjang awal era 1990 didirikan suatu badan perlindungan lingkungan
pusat (BAPEDAL) terlepas dari Kementerian Negara Lingkungan, dengan mandat
meningkatkan pelaksanaan
AMDAL dan kendali atas polusi, didukung oleh tiga kantor daerah. Kajian
dan persetujuan atas berbagai dokumen AMDAL pada saat ini ditangani oleh Komisi
Pusat atau Komisi Daerah, sesuai dengan skala proyek dan sumber pendanaan. Lebih
dari 4000 AMDAL dikaji sampai dengan 1992 dimana menjadi lebih jelas bahwa
berbagai elemen dari proses tersebut terlalu kompleks dan terlalu banyak didasarkan
pada AMDAL gaya barat. Legislasi AMDAL yang baru yang diberlakukan pada
tahun 199311 yang memiliki efek pembenahan atas prosedur penapisan,
mempersingkat jangka waktu pengkajian, dan memperkenalkan status format EMP
yang distandardisasi (UKL/UPL) untuk proyekdengan dampak yang lebih terbatas.
Lebih dari 6000 AMDAL nasional dan propinsi diproses berdasarkan peraturan ini
termasuk sejumlah kecil AMDAL daerah di bawah suatu komisi pusat yang didirikan
di dalam BAPEDAL.
Dengan diundangkannya Undang-undang Pengelolaan Lingkungan yang baru
(No. 23/1997) berbagai reformasi lanjutan atas regulasi AMDAL menjadi perlu.
Peraturan 27/199912 diperkenalkan dengan simplifikasi lebih lanjut. Komisi sektoral
dibubarkan dan dikonsolidasikan ke dalam suatu komisi pusat tunggal, sementara
komisi propinsi diperkuat. Ketentuan yang lebih spesifik dan lengkap atas
keterlibatan publik juga diperkenalkan, sebagaimana halnya juga dengan suatu

29

rangkaian arahan teknis pendukung. Namun demikian PP 27/1999 ternyata tidak tepat
waktu, gagal untuk secara memadai merefleksikan berbagai perubahan politis yang
pada saat itu lebih luas yang akhirnya mengarah kepada desentralisasi politik dan
administratif. AnalisisMengenai Dampak Lingkungan, yang sering di singkat dengan
AMDAL, lahir dengan di undangkannya undang-undang tentang lingkungan hidup di
Amerika Serikat, National Environmental Policy Act (NEPA), pada tahun 1969.
NEPA 1969 mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Pasal 102 (2) (C) dalam
undang-undang ini menyatakan, semua usulan legislasi dan aktifitas pemerintah
federal yang besar di perkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap
lingkungan diharuskan disertai laporan Environmental Impact Assessment (Analisis
Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut.
NEPA 1969 merupakan suatu reaksi terhadap kerusakan lingkungan oleh
aktifitas manusia yang makin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh
pestisida serta limbah industri dan transpor, rusaknya habitat tumbuhan dan hewan
langka, serta menurunnya nilai estetika alam. Misalnya, sejak permulaan tahun 1950an Los Angeles di negara bagian Kalifornia, Amerika Serikat, telah terganggu oleh
asap-kabut atau asbut (smog = smoke + fog), yang menyelubungi kota, mengganggu
kesehatan dan merusak tanaman. Asbut berasal dari gas limbah kendaraan dan pabrik
yang mengalami fotooksidasi dan terdiri atas ozon, peroksiasetil nitrat (PAN),
nitrogenoksida, dan zat lain lagi.
AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) adalah instrumen yang
sifatnya formal dan wajib (control and command) yang merupakan kajian bagi
pembangunan proyek-proyek kegiatan-kegiatan pasal 17a yang kemungkinan akan
menimbulkan dampak besar dari penting terhadap lingkungan hidup.
Dalam PP No.27 Tahun 1999 dinyatakan bahwa dampak besar dan penting
adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang di akibatkan oleh
suatu usaha dan atau kegiatan. Selanjutnya pada pasal 5 PP tersebut dinyatakan
bahwa kriteria dari dampak besar dan periting dari suatu usaha atau kegiatan terhadap
lingkungan antara lain:
30

a. Jumlah manusia yang akan terkena dampak


b. Luas wilayah persebaran dampak
c. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
d. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak
e. Sifat kumulatif dampak
f. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (ireversible)
Dasar hukum dan prosedur pelaksanaan AMDAL diatur dalam PP No.27
tahun 1999 beserta beberapa KEPMEN yang terkait dan dikeluarkan oleh Kementrian
Negara Lingkungan Hidup. AMDAL dibuat sebelum kegiatan berjalan atau operasi
proyek dilakukan. Karena itu AMDAL merupakan salah satu persyaratan keluarnya
perizinan.
2.10 AMDAL DI INDONESIA
Dalam rangka melaksanakan pembangunan berkelanjutan, lingkungan perlu
dijaga kerserasian hubungan antar berbagai kegiatan. Salah satu instrumen
pelaksanaan kebijaksanaan lingkungan adalah AMDAL sebagaimana diatur dalam
Pasal 16 UULH. Sebagai pelaksanaan Pasal 16 UULH, pada tanggal 5 Juni 1986
telah ditetapkan Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan yang mulai berlaku tanggal 5 Juni 1987 berdasarkan Pasal 40
PP tersebut.
Dalam upaya melestarikan kemampuan lingkungan, analisis mengenai
damapak lingkungan bertujuan untuk menjaga agar kondisi lingkungan tetap berada
pada suatu derajat mutu tertentu demi menjamin kesinambungan pembangunan.
Peranan instansi yang berwenang memberikan keputusan tentang proses analisis
mengenai dampak lingkungan sudah jelas sangat penting. Keputusan yang diambil
aparatur dalam proses administrasi yangditempuh pemrakarsa sifatnya sangat
menentukan terhadap mutu lingkungan, karena AMDAL berfungsi sebagai instrumen
pencegahan pencemaran lingkungan.

31

Pada waktu berlakunya PP No. 29 Tahun 1986, pemerintah bermaksud


memberikan waktu yang cukup memadai yaitu selama satu tahun untuk
mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan efektifitas berlakunya PP
tersebut. Hal ini erat hubungannya dengan persiapan tenaga ahli penyusun AMDAL.
Di samping itu diperlukan pula waktu untuk pembentukan Komisi Pusat dan Komisi
Daerah yang merupakan persyaratan esensial bagi pelaksanaan PP No. 29 Tahun 1986
tersebut. PP 29 Tahun 1986 kemudian dicabut dengan Peraturan Pemerintah Nomor
51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang diberlakukan
pada tanggal 23 Oktober 1993. Perbedaan utama antara PP tahun 1986 dengan PP
tahun 1993 adalah ditiadakannya dokumen penyajian informasi lingkungan (PIL) dan
dipersingkatnya tenggang waktu prosedur (tata laksana) AMDAL dalam PP yang
baru. PIL berfungsi sebagai filter untuk menentukan apakah rencana kegiatan dapat
menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan atau tidak.
Sebagai instrumen pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, AMDAL
harus dibuat pada tahap paling dini dalam perencanaan kegiatan pembangunan.
Dengan kata lain, proses penyusunan dan pengesahan AMDAL harus merupakan
bagian dari proses perijinan satu proyek. Dengan cara ini proyek-proyek dapat
disaring seberapa jauh dampaknya terhadap lingkungan. Di sisi lain, studi AMDAL
juga dapat memberi masukan bagi upaya-upaya untuk meningkatkan dampak positif
dari proyek tersebut.
Instrumen AMDAL dikaitkan dengan sistem perizinan. Menurut Pasal 5 PP
Nomor 51 Tahun 1993, keputusan tentang pemberian izin usaha tetap oleh instansi
yang membidangi jenis usaha atau kegiatan dapat diberikan setelah adanya
pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan
Lingkungan (RPL) yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab.
Peraturan

Pemerintah

Nomor

51

Tahun

1993

dimaksudkan

untuk

menyempurnakan kelemahan yang dirasakan dalam PP Nomor 29 Tahun 1986


tentang AMDAL. Namun, upaya penyempurnaan itu ternyata tidak tercapai, bahkan
terdapat ketentuan baru yang menyangkut konsekuensi yuridis yang rancu (Pasal 11
32

ayat (1) PP AMDAL 1993). Meski demikian yang penting dalam PP AMDAL 1993
ialah Studi Evaluasi Dampak Lingkungan (SEMDAL) bagi kegiatan yang sedang
berjalan pada saat berlakunya PP AMDAL 1986 menjadi ditiadakan., sehingga
AMDAL semata-mata diperlukan bagi usaha atau kegiatan yang masih direncanakan.
Selanjutnya PP Nomor 51 Tahun 1993 dicabut dengan Peraturan Pemerintah Nomor
27 Tahun 1999.
Dalam PP 51 Tahun 1993 ditetapkan 4 jenis studi AMDAL, yaitu
(Hendartomo, 2000):
1. AMDAL Proyek, yaitu AMDAL yang berlaku bagi satu kegiatan yang berada
dalam kewenangan satu instansi sektoral. Misalnya, rencana kegiatan pabrik
tekstil yang mempunyai kewenangan memberikan ijin dan mengevaluasi studi
AMDALnya ada pada Departemen Perindustrian.
2. AMDAL Terpadu/Multisektoral, adalah AMDAL yang berlaku bagi suatu
rencana kegiatan pembangunan yang bersifat terpadu, yaitu adanya
keterkaitan dalam hal perencanaan, pengelolaan dan proses produksi, serta
berada dalam satu kesatuan ekosistem dan melibatkan kewenangan lebih dari
satu instansi. Contohnya, satu kesatuan kegiatan pabrik pulp dan kertas yang
kegiatannya terkait dengan proyek hutan tanaman industri (HTI) untuk
penyediaan bahan bakunya, pembangkit tenaga listrik uap (PLTU) untuk
menyediakan energi, dan pelabuhan untuk distribusi produksinya. Di sini
terlihat adanya keterlibatan lebih dari satu instansi, yaitu Departemen
Perindustrian, Departemen Kehutanan, Departemen Pertambangan dan
Departemen Perhubungan.
3. AMDAL Kawasan, yaitu AMDAL yang ditujukan pada satu rencana kegiatan
pembangunan yang berlokasi dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan
menyangkut kewenangan satu instansi. Contohnya, rencana kegiatan
pembangunan kawasan industri. Dalam kasus ini, masing-masing kegiatan di
dalam kawasan tidak perlu lagi membuat AMDALnya, karena sudah tercakup
dalam AMDAL seluruh kawasan.

33

4. AMDAL Regional, adalah AMDAL yang diperuntukkan bagi rencana


kegiatan pembangunan yang sifat kegiatannya saling terkait dalam hal
perencanaan dan waktu pelaksanaan kegiatannya. AMDAL ini melibatkan
kewenangan lebih dari satu instansi, berada dalam satu kesatuan ekosistem,
satu rencana pengembangan wilayah sesuai Rencana Umum Tata Ruang
Daerah. Contohnya, pembangunan kota-kota baru.
Sebagaimana telah dievaluasi oleh banyak pihak, proses AMDAL di Indonesia
memiliki banyak kelemahan, yaitu (Hendartomo, 2000):
1. AMDAL belum sepenuhnya terintegrasi dalam proses perijinan satu rencana
kegiatan pembangunan, sehingga tidak terdapat kejelasan apakah AMDAL
dapat dipakai untuk menolak atau menyetujui satu rencana kegiatan
pembangunan.
2. Proses partisipasi masyarakat belum sepenuhnya optimal. Selama ini LSM
telah dilibatkan dalam sidang-sidang komisi AMDAL, akan tetapi suaranya
belum sepenuhnya diterima didalam proses pengambilan keputusan.
3. Terdapatnya berbagai kelemahan didalam penerapan studi-studi AMDAL.
Dengan

kata lain, tidak ada jaminan bahwa berbagai rekomendasi yang

muncul dalam studi AMDAL serta UKL dan UPL akan dilaksanakan oleh
pihak pemrakarsa.
4. Masih lemahnya metode-metode penyusunan AMDAL, khususnya aspek
sosial-budaya, sehingga kegiatan-kegiatan pembangunan yang implikasi
sosial-budayanya penting, kurang mendapat kajian yang seksama.
2.11 Contoh AMDAL di Indonesia
1. Kasus Lumpur Lapindo Surabaya

34

Peristiwa lumpur lapindo terjadi pada tanggal 26 Mei 2006 tepatnya di


Surabaya. Kejadian ini merupakan akibat kelalaian PT. lapindo brantas yang
merupakan kontraktor pertambangan minyak melakukan kesalahan prosedur
pengeboran. PT Lapindo Brantas telah lalai dalam melaksanakan dengan tidak
35

memasang casing yang menjadi standar keselamatan pengeboran. Hal tersebut


bertentangan dengan Pasal 39 ayat (2) dan (4) Peraturan Pemerintah Nomor
34 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.
Kelalaian tersebut menimbulkan kerusakan lingkungan yang sangat
merugikan masyarakat. Dampak yang terlihat dari aspek ekologis dan social.
Dalam aspek social banyak masyarakat kehilangan rumah tinggal. Dalam
aspek ekologis banyak sawah maupun perkebunan masyarakat yang
ditenggelamkan oleh lumpur akbitanya mematikan perekonomian. Selain itu
air sumur didaerah sekitar semburan lumpur tercemar dan tidak dapat
digunakan masyarakat.
Selain melakukan perusakan lingkungan, berdasarkan hasil investigasi
WALHI, selama melakukan usaha pertambangannya, Lapindo Brantas Inc.
tidak memiliki AMDAL. Hal tersebut tentu saja bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku, mengingat bahwa AMDAL
merupakan prasyarat mutlak dalam memperoleh izin usaha, dalam hal ini
adalah kuasa pertambangan. Kasus Lumpur Lapindo merupakan salah satu
bentuk sengketa lingkungan yang harus segera diselesaikan.

2. Pelaku usaha dan pemerintah daerah dinilai masih mengabaikan masalah


lingkungan. Hal ini terlihat dari masih adanya kawasan industri di Semarang
yang beroperasi tanpa terlebih dahulu memenuhi kewajiban stu di Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Selain itu, sejumlah industri di
Semarang juga masih banyak yang belum secara rutin, yaitu enam bulan
sekali, menyampaikan laporan kepada Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan Daerah (Bapedalda) Semarang. "Kalau sebuah kawasan industri
sudah beroperasi sebelum melakukan studi Amdal, Bapedalda tidak bisa
36

berbuat apa -apa. Kami paling hanya bisa mengimbau, tapi tidak ada tindakan
apa pun yang bisa kami lakukan. Terus terang, Bapedalda adalah instansi yang
mandul," kata Mohammad Wahyudin, Kepala Sub -Bidang Amdal, Bapedalda
Semarang, Kamis (1/8), di Semarang. Wahyudin menceritakan, kawasan
industri di Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang,
misalnya, sejak beroperasi dua tahun lalu hingga saat ini bel um mempunyai
Amdal. Padahal, menurut Wahyudin, salah satu syarat agar sebuah kawasan
industri bisa beroperasi ialah dipenuhinya kewajiban melaksanakan studi
Amdal. "Bapedalda berkali -kali menelpon pengelola kawasan industri
tersebut, menanyakan kelengkapan dokumen Amdal mereka. Namun, sampai
sekarang, jangankan memperoleh jawaban berupa kesiapan membuat studi
Amdal, bertemu pemilik kawasan itu saja belum pernah," ujarnya. Wahyudin
menyayangkan sikap pihak berwenang yang tetap memberikan izin kepada
suatu usaha industri atau kawasan industri untuk beroperasi walau belum
menjalankan studi Amdal. Menurut dia, hal ini merupakan bukti bahwa bukan
saja pengusaha yang tidak peduli terhadap masalah lingkungan, melainkan
juga pemerintah daerah. Sikap tidak peduli terhadap masalah lingkungan juga
ditunjukkan sejumlah pemilik usaha industri ataupun kawasan industri dengan
tidak menyampaikan laporan rutin enam bulan sekali kepada Bapedalda.
Wahyudin mengatakan, kawasan industri di Terboyo, misalnya, tidak pernah
menyampa ikan laporan perkembangan usahanya, terutama yang diperkirakan
berdampak pada lingkungan, kepada Bapedalda. Hal serupa juga dilakukan
pengelola lingkungan industri kecil (LIK) di Bugangan Baru. Keadaan
tersebut, menurut Wahyudin, mengakibatkan Bapedalda ti dak bisa
mengetahui perkembangan di kedua kawasan industri tersebut. Padahal,
perkembangan sebuah kawasan industry sangat perlu diketahui oleh
Bapedalda

agar

instansi

tersebut

dapat

memprediksi

kemungkinan

pencemaran yang bisa terjadi. Ia menambahkan, indu stri kecil, seperti


industri mebel, sebenarnya berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.
37

Namun, selama ini, orang terlalu sering hanya menyoro ti industry berskala
besar. (Kompas, 2 Agustus 2002)
3. Sebanyak 575 dari 719 perusahaan modal asing (PMA) dan perusahaan modal
dalam negeri (PMDN) di Pulau Batam tak mengantungi analisa mengenai
dampak lingkungan (Amdal) seperti yang digariskan. Dari 274 industri
penghasil limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), hanya 54 perusahaan
yang melakukan pengelolaan pembu angan limbahnya secara baik. Sisanya
membuang limbahnya ke laut lepas atau dialirkan ke sejumlah dam penghasil
air bersih. "Tragisnya, jumlah limbah B3 yang dihasilkan oleh 274 perusahaan
industri di Pulau Batam yang mencapai tiga juta ton per tahun selama ini tak
terkontrol. Salah satu industry berat dan terbesar di Pulau Batam penghasil
limbah B3 yang tak punya pengolahan limbah adalah McDermot," ungkap
Kepala Bagian Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda)
Kota Batam Zulfakkar di Batam, Senin (17/3). Menurut Zulfakkar, dari 24
kawasan industri, hanya empat yang memiliki Amdal dan hanya satu yang
memiliki unit pengolahan limbah (UPL) secara terpadu, yaitu kawasan
industri Muka Kuning, Batamindo Investment Cakrwala (BIC). Selain BIC,
yang memiliki Amdal adalah Panbil Idustrial Estate, Semblong Citra Nusa,
dan Kawasan Industri Kabil. "Semua terjadi karena pembangunan di Pulau
Batam yang dikelola Otorita Batam (OB) selama 32 tahun, tak pernah
mempertimbangkan aspek lingkungan dan social kemasyarakatan. Seolaholah, investasi dan pertumbuhan ekonomi menjadi tujuan segalanya. Sesuai
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup, dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisa
Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), maka pengelolaan sebuah kawasan
industri tanpa mengindahkan aspek lingkungan, jelas melanggar hukum.
"Semenjak Pemerintah Kota (Pemkot) Batam dan Bapedalda terbentuk tahun

38

2000, barulah diketahui bahwa Pulau Batam yang kita bangga-banggakan itu,
kondisi lingkungan dan alamnya sudah rusak parah. (Kompas, 18 Maret 2003)
4. Gugatan pembatalan Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian (Mentan)
Nomor 107 Tahun 2001 tentang pelepasan secara terbatas kapas transgenik Bt
dinilai tidak ada dasar hukumnya. Surat keputusan tersebut merupakan
peraturan yang bersifat publik, tidak menyangkut izin usaha yang
mengharuskan analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal). Penanaman
kapas transgenik juga tidak wajib Amdal, seperti yang diatur dalam Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 1999 tentang Amdal. Demikian pendapat
Prof Dr Daud Silalahi SH, pakar Amdal dari Universitas Padjadjaran (Unpad)
atas pertanyaan Hot-man Paris selaku pengacara PT Monagro Kimia-pihak
tergugat intervensi I, pada siding gugatan pembatalan SK Menpan Nomor 107
Tahun 2001 di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta Timur, Kamis
(30/8) lalu. Sidang yang dipimpin hakim Moch Arif Nurdu'a SH itu
menghadirkan pula Y Andi Trisyono PhD dari Fakultas Pertanian Universitas
Gadjah Mada (UGM) selaku saksi ahli ked ua daripihak tergugat intervensi I.
Saksi kedua ini ditolak oleh tim penggugat karena mempunyai hubungan kerja
dengan para tergugat. Andi melakukan uji multilokasi yang dibiayai oleh PT
Monagro Kimia, dan saat ini menjadi salah satu anggota tim pengendali an
kapas transgenik yang ditunjuk oleh Mentan melalui SK Nomor 305 Tahun
2001. Dalam PP No 27/1999, Amdal merupakan syarat yang harus dipenuhi
untuk mendapatkan izin melakukan usaha atau kegiatan yang diterbitkan oleh
pejabat yang berwenang. Jenis usaha at au kegitan yang wajib Amdal adalah
usaha yang dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap
lingkungan hidup, seperti yang tersebut dalam Pasal 3 -antara lain adalah
introduksi jenis tumbuhan, jenis hewan, dan jasad renik. Hotman Paris
menambahkan, izin usaha Monagro Kimia diperoleh dari Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM). Izin ini tidak ada kaitannya dengan kegiatan

39

penanaman kapas transgenik di lapangan. Dari sudut hukum, yang melakukan


kegiatan adalah pemrakarsa, dalam hal ini petani. Tetapi, kegiatan penanaman
kapas oleh petani tidak menggunakan izin usaha karena mereka telah
melakukannya sejak dulu. Oleh karena itu, lanjutnya, petani juga tidak perlu
wajib Amdal. (Kompas, 3 September 2001)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kami tarik dari pembahasan mengai AMDAL
di atas ialah :
1.

Pada PP 27/1999 pengertian AMDAL adalah merupakan hasil studi mengenai


dampak besar dan penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap
lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.
2. Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah:

Komisi Penilai AMDAL, komisi yang bertugas menilai dokumen


AMDAL

Pemrakarsa, orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu


rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan, dan

masyarakat yang berkepentingan, masyarakat yang terpengaruh atas


segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL.

3. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

Penentuan kriteria wajib AMDAL, saat ini, Indonesia


menggunakan/menerapkan penapisan 1 langkah dengan menggunakan

40

daftar kegiatan wajib AMDAL (one step scoping by pre request list).
Daftar kegiatan wajib AMDAL dapat dilihat di Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006

Apabila kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut,


maka wajib menyusun UKL-UPL, sesuai dengan Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 Tahun 2002

Penyusunan AMDAL menggunakan Pedoman Penyusunan


AMDAL sesuai dengan Permen LH NO. 08/2006

Kewenangan Penilaian didasarkan oleh Permen LH no.


05/2008

4. Sistem regulasi AMDAL mencakup :


UU No 23 tahun 1997 tentang lingkungan hidup
PP No 27 tahun 1999 tentang AMDAL:
5. Menurut PP 29/1986, AMDAL terdiri atas 5 dokumen, sebagai berikut:
Penyajian informasi lingkungan (PIL)
Kerangka acuan untuk analisis dampak lingkungan (KA-ANDAL)
Analisis dampak lingkungan (ANDAL)
Rencana pengelolaan lingkungan (RKL)
Rencana pemantauan lingkungan (RPL)
6. Setiap rencana kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting, wajib
dibuat AMDAL Hal ini mengacu pada pasal 3 ayat 1 PP 27 tahun 1999 yaitu ;
Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam
Eksploitasi SDA baik yang dapat diperbaharui/tidak dapat diperbaharui
Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan
pemborosan, kerusakan, pemerosotan dalam pemanfaatan SDA, cagar

budaya
Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, jasad renik.
Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati
Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk

mempengaruhi lingkungan
Kegiatan yang mempunyai tinggi dan mempengaruhi pertahanan negara
Jadi, apabila rencana kegiatan mempunyai peran seperti yang telah
disebutkan di atas wajib AMDAL.
41

7. Pada pasal 5 PP tersebut dinyatakan bahwa kriteria dari dampak besar dan
periting dari suatu usaha atau kegiatan terhadap lingkungan antara lain:

Jumlah manusia yang akan terkena dampak

Luas wilayah persebaran dampak

Intensitas dan lamanya dampak berlangsung

Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak

Sifat kumulatif dampak

Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (ireversible)

B. Saran
Saran yang dapat kami berikan ialah, karena dalam penyusunan makalah ini
kami hanya belandaskan dari buku-buku atau referensi lain yang berhubungan dalam
penyusunan makalah mengenai AMDAL ini, oleh karena itu kami menyarankan di
adakannya kunjungan lapangan. Dengan kunjungan lapangan tersebut bermaksud
untuk mengetahui secara langsung tentang AMDAL tersebut serta penyusunannya.

42

DAFTAR PUSTAKA

Djamin, Djanius. 2007. Pengawasan & Pelaksanaan Undang-Undang Lingkungan


Hidup.
Fandeli, Chapid. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan: Prinsip dasar dalam
Pembangunan. Penerbit Liberty : Yogyakarta.
Hendartomo, Tomi. 2000. Permasalahan dan Kendala Penanganan AMDAL dalam
Pengelolaan Lingkungan. (http://indonesiaforest.webs.com/masalah
amdal.pdf, diakses pada 23 Januari 2016 pukul 19.00 WIB).
Suparni, Niniek. 2004. Penyajian Informasi AMDAL. PT. Citra Aditya Bakti :
Bandung
Soemarno, Otto. 2007. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.

43

Anda mungkin juga menyukai