Anda di halaman 1dari 5

Kelompok :

Anggota :
:
:
:
:

LEMBAR KERJA SISWA


HUKUM MENDEL I
(Waktu: 15 menit)
A. Ringkasan Materi

Hukum Mendel I

Ketika Mendel telah berhasil mengisolasi galur murni (pure-breeding lines) dari beberapa set
sifat, ia kemudian melakukan beberapa persilangan pada individu-individu dengan satu sifat
beda, misalnya warna biji dan panjang batang. Pada setiap persilangan, satu induk
membawa satu bentuk sifat dan induk lainnya membawa bentuk alternatif dari sifat
tersebut. Gambar 1.6 berikut ini menunjukkan salah satu contoh dari persilangan tersebut:

Pada gambar 1.6 tersebut, mengilustrasikan persilangan antara galur murni polong
berwarna kuning dengan galur murni polong berwarna hijau. Pada persilangan ini Pisum
sativum dengan polong berwarna kuning dan Pisum sativum de-ngan polong berwarna hijau
adalah parental (P). Dari persilangan tersebut beserta resiproknya seluruh keturunan yang
dihasilkan memiliki polong yang berwarna kuning. Seluruh keturunan dari generasi P disebut
sebagai generasi flial pertama (F1) (Hartwell dkk, 2011). Pada persilangan yang dicontohkan
pada paragraf sebelumnya, guna mempelajari apakah sifat hijau telah benar-benar
menghilang ataukah tetap ada namun hanya tersembunyi pada generasi F1 yang
seluruhnya berpolong kuning, Mendel menanam kembali polong F1 tersebut dan
membiarkannya mengalami fertilisasi sendiri. Eksperimen yang melibatkan persilangan
hibrida dengan satu sifat beda disebut sebagai persilangan monohibrida (monohybrid
crosses) (Hartwell dkk, 2011). Keturunan yang dihasilkan dari persilangan antar sesama F1
disebut sebagai filial kedua (F2) (Hartwell dkk, 2011). Di antara seluruh keturunan yang
dihasilkan dari persilangan antar sesama F1 dihasilkan 6022 F2 berpolong kuning dan 2001
F2 berpolong hijau (lihat Gambar 1.6). Data dari hasil persilangan tersebut kemudian
dianalisis secara matematis sehingga diperoleh perbandingan 3 kuning : 1 hijau. Persilangan
resiprok yang dilakukan Mendel untuk sifat warna polong juga diperoleh hasil yang sama.
Hal ini kemudian mendasari munculnya perbandingan 3 : 1 pada persilangan monohibrida
(Hartwell dkk, 2011). Kehadiran Pisum sativum berpolong hijau pada F2 adalah bukti tak
terbantahkan bahwa peristiwa blend inheritances tidak terjadi. Jika peristiwa blend
inheritances terjadi maka sifat yang membawa warna polong hijau akan hilang pada F1
sebab tercampur dengan sifat warna polong kuning, sifat yang tercampur tidak mungkin
dimurnikan lagi (Hartwell dkk, 2011). Hal tersebut mendasari Mendel untuk menyimpulkan
bahwa pasti ada dua tipe sifat polong warna kuning, yakni polong warna kuning mutlak
seperti yang terdapat pada generasi parental (P) dan sifat polong warna kuning yang
terdapat pada hibrida F1. Jenis kedua inilah yang kemudian informasi sifat polong berwarna
hijau. Mendel kemudian menyebut bahwa sifat yang muncul pada setiap F1 sebagai sifat
dominan - pada kasus ini sifat polong warna kuning - sedangkan sifat antagonis yang tetap
ada namun tersembunyi pada F1 namun muncul kembali pada F2 - pada kasus ini sifat
polong warna hijau- sebagai sifat resesif (Hartwell dkk, 2011).

Guna menjelaskan hasil eksperimennya tersebut, Mendel menjelaskan bahwa untuk setiap
sifat pada Pisum sativum, setiap individu Pisum sativum memiliki dua salinan unit
pewarisan. Setiap unit pewarisan menentukan satu sifat. Setiap individu menerima satu
salinan unit pewarisan sifat dari induk jantan dan satu salinan dari induk betina, sehingga
setiap individu memiliki dua salinan unit pewarisan sifat. Unit pewarisan inilah yang
nantinya disebut sebagai gen.

Lebih lanjut, Mendel menjelaskan bahwa setiap gen memiliki bentuk alternatif yang disebut
dengan alel. Kombinasi antara bentuk-bentuk aletrnatif dari suatu gen tersebut menentukan
sifat morfologis yang diamati oleh Mendel. Sebagai contoh misalnya gen pengkode warna
polong memilki dua bentuk alternatif yakni warna kuning dan hijau. Pada persilangan
monohibrida Mendel, satu alel bersifat dominan dan satu alel yang lain bersifat resesif. Pada
generasi parental (P) salah satu induk memiliki alel domina dan satunya lagi memiliki alel
resesif. Pada generasi F1 memiliki satu alel dominan dan satu alel resesif, kondisi yang
seperti itu disebut dengan kondisi heterozigot.

Mendel menjelaskan bahwa setiap parental mewariskan satu salinan dari setiap gennya
kepada keturunannya sebagai akibat dari terjadinya pembelahan meiosis saat proses
pembentukan gamet. Gamet adalah sel yang berdiferensiasi untuk membawa gen-gen dari
parental ke keturunannya. Gamet ada dua macam yakni gamet jantan yakni sperma (pada
tumbuhan terdapat dalam serbuk sari) dan gamet betina ovum (pada tumbuhan terdapat
pada ovule). Lebih lanjut, Mendel menjelaskan bahwa selama pembelahan meiosis pada
proses gametogenesis, kedua salinan dari setiap gen yang dimiliki oleh parental saling
berpisah (bersegregasi) sehingga setiap gamet hanya menerima salah satu alel dari setiap
gen (lihat Gambar 1.7a). Kemudian saat proses fertilisasi berlangsung, salah satu polen
dengan satu alel untuk setiap gen bergabung dengan salah satu ovum dengan satu alel
untuk setiap gen secara acak, sehingga zigot yang terbentuk memiliki dua alel untuk setiap
gen atau bisa juga disebut memiliki dua salinan untuk setiap gen. Contoh dari hal tersebut
dapat dilihat pada Gambar 1.6. Hukum I Mendel atau hukum segregasi acak yang
merupakan prinsip dasar pewarisan sifat, berbunyi sebagai berikut :
Dua alel dari setiap sifat berpisah selama proses pembentukan gamet (gametogenesis) dan
bersatu kembali secara acak saat proses fertilisasi terjadi; setiap keturunan akan memiliki
satu salinan gen dari kedua induk (Hartwell dkk, 2011).

Lebih lanjut, dalam pembahasan buku ini, istilah segregasi diartikan sebagai segregasi
setara (equal segregation) yang mana satu alel, dan hanya satu alel dari setiap gen yang
diwariskan ke setiap gamet.

Aturan Dasar Probabilitas

Eksperimen Mendel dan kuadran Punnet menggambarkan dua aturan dasar probabilitas,
yakni aturan produk (product rule) dan aturan sumasi (sum rule) (Hartwell dkk, 2011).

1. Aturan Produk (Product Rule) Aturan produk menyatakan bahwa peluang dari dua
atau lebih kejadian yang tidak saling terkait terjadi secara bersamaan adalah hasil
kali dari peluang bahwa setiap kejadian akan terjadi dengan sendirinya (Hartwell dkk,
2011). Hal ini berarti : Peluang dari kejadian 1 dan kejadian 2 = Peluang dari kejadian
1 x Peluang dari kejadian 2

Pada lemparan uang koin berkaitan, kemungkinan muncul lambang negara akan
meningkatkan ataupun mengurangi atau meningkatkan peluang munculnya gambar
lain pada lemparan berikutnya. Di pihak lain, jika kamu melemparkan dua koin secara
bersamaan, akan menghasilkan peluang yang tidak berkaitan. Hal ini menyebabkan
peluang kemunculan lambang negara tidak berpengaruh pada peluang kemunculan
gambar lainnya. Lebih lanjut, peluang terhadap munculnya suatu kombinasi
merupakan produk dari peluang tidak terkait dari keduanya. Sebagai contoh peluang
munculnya gambar lambang Negara pada kedua koin adalah x =

LEMBAR KERJA SISWA

HUKUM MENDEL I
(Waktu: 15 menit)

1. (Nilai: 5, @ 2.5) Di suatu laboratorium terdapat dua populasi tikus, yakni tikus ekor
pendek dan tikus ekor panjang. Pada bahasan ini tikus berekor pendek bersifat
dominan. Lokus sifat ekor berjarak sangat dekat (hampir berimpitan) dengan lokus
pengkode warna bulu, dimana bulu abu-abu bersifat dominan, sehingga satu tikus
yang berekor pendek pasti berbulu abu-abu.
a. (Nilai: 2.5) Apabila seorang ilmuwan ingin menghilangkan salah satu sifat melalui
selective breeding, sifat manakah yang lebih mudah dihilangkan dari populasi?
b. (Nilai: 2.5) Jelaskan alasanmu?

2. (Nilai: 5, @ 2.5) Pada penduduk asli amerika (suku indian) terdapat dua jenis
cerumen (kotoran telinga). Ada dua variasi cerumen yang dapat ditemui pada suku
indian yakni cerumen kering (dry) dan lengket (sticky). Seorang ilmuwan mengamati
pola pewarisan sifat cerumen ini pada salah satu desa indian di Taman Nasional
Yellow stone, hasil pengamatan adalah sebagai berikut:

Keturunan
Orang tua Jumlah pasangan
Sticky Dry
Sticky x Sticky 10 32 6
Sticky x Dry 8 21 9
Dry x Dry 12 0 42

Berdasarkan data tersebut, tentukan:


a. (Nilai: 2.5) Bagaimana pola pewarisan sifat cerumen?
b. (Nilai: 2.5) Apakah data tersebut menunjukkan pola perbandingan 3 : 1? Jelaskan!

3. (Nilai: 5, @ 2.5) Albino adalah kondisi pada manusia dimana sel-sel kulit mengalami
defisiensi produksi pigmen, sehingga menyebabkan kulit dan rambut berwarna putih
dan iris berwarna merah jambu (pink). Albino disebabkan oleh gen resesif. Sepasang
suami-istri normal, sebut saja bernama Ani dan Budi memiliki anak pertama yang
albino. Berdasarkan data tersebut, tentukan:
a. (Nilai: 2.5) Ketika Ani hamil anak kedua, tentukan berapa kemungkinan anak
keduanya adalah albino?
b. (Nilai: 2.5) Jika Ani hamil anak kedua tentukan berapa kemungkinan anak
keduanya adalah laki-laki dan albino
4. (Nilai: 5, @ 2.5) Galaktosemia merupakan penyakit yang disebabkan oleh suatu gen
resesif pada kromosom autosom manusia. Penderita galaktosemia dapat hidup
normal dengan cara melakukan diet tidak mengkonsumsi laktosa dan glukosa. Susan
dan suaminya adalah individu yang heterozigot untuk gen galactosemia. Berdasarkan
informasi tersebut tentukanlah:
a. (Nilai: 2.5) Jika Susan hamil anak kembar dizigotik, tentukanlah berapa peluang
kedua anak kembarnya berjenis kelamin perempuan dan menderita
galaktosemia?
b. (Nilai: 2.5) Jika Susan hamil anak kembar monozigotik, tentukanlah berapa
peluang kedua anak kembarnya berjenis kelamin perempuan dan menderita
galaktosemia?
Kunci Jawaban

Nomor 1:
a. Sifat dominan (sifat ekor pendek-bulu abu-abu)
b. Karena persilangan antara individu resesif tidak mungkin menghasilkan individu
dominan

Nomor 2:
a. Cerumen sticky dominan terhadap cerumen dry sebab persilangan antara dry x dry
menghasilkan anak yang 100% dry
b. Iya pada data persilangan sticky x dry diperoleh perbandingan 21 : 9 yang mana
dekat ke 27 : 9 atau 3 : 1

Nomor 3:
a. 1/4
b. 1/2 x 1/4 = 1/8

Nomor 4:
a. 1/3 x 1/4 = 1/12
b. 1/2 x 1/4 = 1/8