Anda di halaman 1dari 23

BAB1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Elemen utama sebuah sel adalah protoplasma. Protoplasma pada


semua sel terdiri atas dua komponen utama, yaitu komponen anorganik dan
komponen organik. Komponen-komponen anorganik terdiri atas air, garam-
garam mineral, gas oksigen, karbon dioksida, nitrogen, dan amonia,
sedangkan komponen organik terutama terdiri atas karbohidrat, lipida,
protein, dan beberapa komponen-komponen spesifik seperti enzim, vitamin,
dan hormon (Sheeler & Bianchi, 1983). Pada sel hewan dan tumbuhan,
protoplasma mengandung sekitar 75-85% air, 10-20% protein, 2-3% lipida, 1%
karbohidrat, dan 1% zat-zat anorganik lainnya (De Robertis et al., 1975).
Pengetahuan akan komposisi dan cara kerja sel merupakan hal
mendasar bagi semua bidang ilmu biologi. Pengetahuan akan persamaan dan
perbedaan di antara berbagai jenis sel merupakan hal penting khususnya
bagi bidang biologi sel dan biologi molekular. Persamaan dan perbedaan
mendasar tersebut menimbulkan tema pemersatu, yang memungkinkan
prinsip-prinsip yang dipelajari dari suatu sel diekstrapolasikan dan
digeneralisasikan pada jenis sel lain. Penelitian biologi sel berkaitan erat
dengan genetika, biokimia, biologi molekular, dan biologi perkembangan.
Kemajuan dalam bidang biologi sel sejalan dengan kemajuan bidang ilmu
fisika dan ilmu kimia. Dengan menggunakan mikroskop elektron struktur sel
dapat dikenal sampai pada tingkat dan aturan milimikron, misalnya organel yang
berukuran kecil dan struktur makromolekul yang berukuran besar. Sedangkan
kemajuan di bidang kimia dapat digunakan untuk membantu menganalisis
struktur molekul sel.
. Sel memiliki sistem organisasi molekuler dan biokimiawi yang mampu
menyimpan informasi, menterjemahkan informasi untuk mensintesis molekul sel,
serta menggunakan sumber energi untuk melakukan kegiatan. Berdasarkan
penjelasan di atas dan mengingat pentingnya kajian tentang sel baik secara
struktural dan fungsinal serta mekanismenya menarik minat untuk menyusun
makalah biologi sel molekuler tentang Komponen Kimia Dalam Sel.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana ikatan kimia di dalam sel?
2. Bagaimana molekul-molekul di dalam sel?
3. Bagaimana makromolekul di dalam sel?

1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui ikatan kimia di dalam sel
2. Untuk mengetahui moleku-molekul kimia di dalam sel
3. Untuk mengetahui makromolekul di dalam sel
BAB II
PEMBAHASAN

Materi tersusun atas kombinasi elemen (zat) seperti hidrokarbon arau


karbon yang tidak dapat dihancurkan atau diubah menjadi zat lain. Partikel
terkecil dari sebuah elemen yang tetap menahan sifat khususnya disebut atom.
Karakteristik zat bergantung pada atom mana yang menyusun zat tersebut dan
cara atom-atom tersebut berikatan bersama dalam kelompok untuk menyusun
molekul. Agar dapat memahami bagaimana makhluk hidup disusun oleh materi,
maka penting untuk mengetahui bagaimana ikatan kimia yang mengikat atom
secara bersama-sama dalam molekul dibentuk.
2.1 Sel Disusun oleh Beberapa Jenis Atom

Setiap atom memiliki bagian yang tebal pada pusatnya, yang disebut nukleus yang
dikelilingi oleh elektron yang melakukan orbit oleh gaya elektrostatis. Nukleus
terdiri atas dua jenis partikel sub atomik yaitu proton dengan muatan positif dan
neutron yang tidak bermuatan atau netral. Jumlah proton dalam atom ditentukan
oleh nomor atomnya. Sebuah atom hidrogen memiliki nukleus yang disusun oleh
satu proton, sehingga hidrogen memiliki nomer atom 1 adalah elemen tertinggi.
Muatan listrik yang dibawa oleh proton adalah sepenuhnya sama dan sepenuhnya
berlawanan dengan muatan yang dibawa oleh sebuah elektron. Karena
keseluruhan atom bermuatan netral, jumlah muatan negatif elektron yang
mengelilingi nukleus adalah sama dengan jumlah muatan yang terdapat di dalam
nukleus. Seluruh atom dengan pemberian sebuah elemen memiliki nomor atom
yang sama.

(a) (b)
Gambar 2.1 (a) Struktur Proton, Neutron & Elektron (b) nukleus
Neutron adalah partikel sub atomik yang tidak bermuatan dengan memiliki
massa yang sama dengan proton. Neutron berperan dalam stabilitas struktural
nukleus jika nukleus terpapar pancaran radioaktif yang terlalu tinggi ataupun
terlalu rendah. Selanjutnya, sebuah elemen dalam beberapa sifat fisik dapat
dibedakan namun tidak dalam bentuk kimia yang disebut isotop. Setiap isotop
memiliki jumlah neutron yang berbeda namun memiliki jumlah proton yang sama.
Isotop ganda hampir terdapat pada semua elemen secara alami, termasuk beberapa
dari elemen tersebut tidak stabil. Sebagai contoh, semasih kebanyakan karbon di
Bumi berada dalam isotop karbon 12, dengan 6 proton, dan 6 neutron, akan selalu
ada sejumlah kecil isotop yang tidak stabil seperti karbon radioaktif 14 yang
atomnya memiliki 6 proton dan 8 neutron.
Berat atom dan berat molekul adlah massa relatifnya terhadap atom
hidrogen. Hal ini secara mendasar sama dengan jumlah proton ditambah dengan
jumlah neutron yang terdapat dalam atom atau molekul tersebut. Hal tersebut
karena elektron terlalu ringan yang hampir tidak memiliki total massa.
12
Selanjutnya, isotop karbon yang besar memiliki berat atom C. Karbon isotop
14
yang tidak stabil dikatakan hanya memiliki satu berat atom yaitu C. Massa dari
sebuah atom atau molekul sering disimbulkan dengan Dalton, satu daltom berarti
semuah atom memiliki massa rata-rata sama dengan masa atom hidrogen.
Atom berukuran sangat kecil dan sangat sulit untuk membayangkan
ukurannya. Sebuah atom secara kasar memiliki ukuran diameter 0.2 nm sehingga
membutuhkan 5 juta atom untuk membuat debuah garis sepanjang 1 mm. Berat
proton dan neutron adalah sekitar 1/(6x1023) gram. Hidrogen hanya memiliki 1
proton, dengan berat atom 1, sehingga berat atom hidrogen adalah sekitar 6x1023.
Besaran bilangan tersebut disebut dengan bilangan Avogadro yang merupakan
faktor skala yang mendeskripsikan hubungan antara kuantitas setiap hari dan
jumlah atom atau molekul.
Terdapat 92 elemen yang terbentuk secara alami yang membedakannya
dari elemen-elemen lain dalam jumlah proton dan neutron pada atomnya.
Makhluk hidup disusun oleh oleh setidaknya empat elemen inti yaitu karbon (C),
hidrogen (H), nitrogen (N), dan oksigen (O), yang menyusun 96,5% berat
makhluk hidup.
Gbr 2.2 Diagram Kandungan Molekul

2.2 Elektron Terluar Menentukan Interaksi Atom


Untuk memahami mekanisme atom berikatan dengan atom lainnya yang
menyusun makhluk hidup, kita harus memerhatikan elektron dari atom-atom
tersebut. Proton dan neutron diikat dengan kuat satu sama lain di dalam nukleus
dan berganti pasangan hanya ketika berada dalam tekanan kondisi ekstrim. Dalam
jaringan makhluk hidup, hanya elektron yang bisa melakukan penyusunan ulang.
Elektron membentuk bagian yang dapat diakses pada suatu atom dan menentukan
peran kimia dengan gambungan atom untuk membentuk molekul.
Elektron bergerak secara berkelanjutan mengeliling nukleus namun
pergerakannya berbeda dengan gerakan yang sudah umum dalam kehidupan
sehari-hari. Elektron memiliki ciri-ciri tersendiri dalam atom dengan pergerakan
yang khas dan terdapat batas yang kaku terhadap jumlah elektron yang dapat
diakomodir dalam sebuah orbit yang disebut cangkang elektron. Elektron yang
tersekat dengan nukleus ditarik dengan paling kuat. Cangkang paling dalam dapan
menampung paling banyak 2 elektron. Cangkang kedua berada lebih jauh dari
nukleus dengan ikatan elektron yang lebih lemah. Cangkang kedua dan ketiga
dapat menampung sampai 8 elektron. Selanjutnya canggkang ke-4 dan ke-5
masing-masing dapat 18 elektron.
Gambar 2.3 Tingkat Energi Pada Kulit Elektron
Susunan elektron dalam atom menjadi sangat stabil ketika seluruh elektron
berada pada ikatan paling kuat, ketika elektron menempati cangkang yang paling
dalam yang paling dekat dengan nukleus. Atom-atom yang berada pada cangkang
terluar yang secara penuh terisi dengan elektron akan menjadi stabil.
Karena sebuah ketidakpenuhan cangkang elektron menjadikan elektron
lebih labil, atom dengan cangkang luar yang tidak lengkap memiliki tendensi kuat
untuk berinteraksi dengan atom yang lain sehingga baik mendapatkan ataupun
kehilangan sejumlah elektron untuk mencapai cangkang yang lengkap berisi
elektron. Pergantian elektron ini dapat dicapai dengan baik mentransfer elektron
dari satu atom ke atom yang lain atau dengan berbagi elektron dengan dua atom.
Kedua strategi ini disebut ikatan kimia yang mengikat atom satu dengan lainnya.
Ikatan ionic dibentuk ketika elektron ditransfer dari satu atom ke atom yang lain,
sedangkan ikatan kovalen dibentuk ketika dua atom berbagi pasangan elektron.
Dalam konteks ikatan kovalen, pasangan elektron yang dibagi sering dalam
keadaan tidak sama, dengan satu atom yang mengikat elektron lebih dari yang
lainnya yang disebut ikatan kovalen polar.

Gambar 2.4 Ikatan Ion dan Ikatan Kovalen


2.3 Ikatan Ion Dibentuk Dengan Mendapatkan atau Melepaskan Elektron
Ikatan ion umumnya dibentuk oleh atom yang memiliki satu atau dua
elektron pada cangkang luarnya yang belum terisi. Atom-atom ini dapat mencapai
cangkang luar yang lengkap dengan lebih mudah dengan cara memberikan atau
melepaskan elektron ke atau dari atom lain.
Sebagai contoh, atom Na dengan nomor atom 11 dapat melengkapi
cangkang luarnya dengan melepaskan 1 elektron, berlawanan dengan atom Cl
yang memiliki nomor atom 17 yang harus melengkapi cangkang luarnya dengan
mendapatkan 1 elektron. Konsekuensinya, jika atom Na bertemu dengan atom Cl,
sebuah elektron akan berpindah dari Na ke Cl dan membentuk NaCl.
Ketika elektron berpindah dari Na ke Cl, kedua atom menjadi menjadi
memiliki muatan ion. Atom Na yang kehilangan elektron sekarang memiliki satu
kekurangan elektron daripada jumlah protonnya di dalam nukleus, hal tersebut
yang menyebabkan atom Na bermuatan positif (Na+). Di sisi lain atom Cl yang
mendapat satu tambahan elektron memiliki kelebihan elektron dibandingkan
dengan proton pada nukleusnya sehingga atom Cl bermuatan negatif (Cl-). Ion
positif disebut kation, sedangkan ion negatif disebut anion.

Gambar 2.5 Mekanisme Pelepasan Elektron

Ikatan Kovalen DIbentuk Oleh Pembagian Elektron


Seluruh karakteristik sel bergantung pada molekul yang menyusunnya.
Sebuah molekul adalah atom yang berikatan bersma-sama oleh ikatan kovalen.
Pembagian kelengkapan elektron pada cangkang luar kedua atom. Dalam molekul
yang sederhana, sebuah molekul hidrogen (H2) yang memiliki dua buah atom H
dengan masing-masing satu elektron. Elektron yang dibagi tersebut membentuk
muatan negatif yang paling padat diantara dua muatan positif nukleus. Kepadatan
elektron ini membantu menahan nukleus secara bersama-sama melawan mutual
repuls diantara muatan yang dapat memisahkan mereka. Gaya repulsi seimbang
ketika nukleus dipisahkan oleh sebuah jarak yang disebut dengan lengan ikatan.
Ketika atom membentuk ikatan kovalen dengan beberapa atom lain, ikatan
ganda ini memiliki orientasi dalam jarak yang relatif satu dengan lainnya,
merefleksikan orientasi dari orbit elektron yang dibagi. Ikatan kovalen antara
atom-atom ganda dikarakteristikkan oleh sudut ikatan spesifik oleh lengan ikatan
dan ikatan energi.

(a) (b)

Gambar 2.6 (a), (b pembagian elektron)

2.4 Ikatan Kovalen Memiliki Kekuatan yang Bervariasi


Kekuatan ikatan diukur dengan jumlah energi yang harus dikeluarkan
untuk memutus ikatan tersebut, biasanya dilambangkan dengan kilokalori/mol
atau kilokalori/joule. Kilokalori adalah jumlah energi yang dibutuhkan untuk
meningkatkan temperatur dari satu liter air dengan sebuah skala derajat. 1
kilokalori energi harus diberikan untuk memutus 6x1023 ikatan. Proses
pembentukan dan pemutusan ikatan kovalen adalah sebuah peristiwa yang luar
biasa, dan dalam sel makhluk hidup, peristiwa ini diatur oleh enzim.
2.5 Macam-macam Ikatan Kovalen
Ada dua macam ikatan kovalen, yaitu ikatan kovalen tunggal dan ikatan
kovalen rangkap. Ikatan kovalen tunggal adalah ikatan dengan satu pasang
elektron yang digunakan bersama., sedangkan ikatan kovalen rangkap adalah
ikatan dengan lebih dari satu pasang elektron yang digunakan bersama. Ikatan
ganda akan membentuk ikatan yang lebih pendek dan lebih kuat daripada ikatan
tunggal. Seperti gambar 2.7

(a) (b)
Gambar 2.7 Perbedaan Ikatan Tunggal Dan Ikatan Rangkap Dari Atom C-C
Gambar 2.7 Menunjukkan bahwa ada perbedaan antara ikatan kovalen
tunggal (A) dengan ikatan kovalen ganda (B). Ikatan kovalen tunggal (A) yang
menggunakan dua atom carbon seperti athane membentuk susunan tetrahedral
yang dibentuk oleh karbon. Setiap ikatan CH3 akan bergabung dengan CH3 yang
lain membentuk ikatan kovalen dapat berputar disekitar sumbu ikatan. Ikatan
kovalen rangkap (B) seperti ethene yang menggunakan dua ikatan antara CH2
akan mencegah perputaran antar satu kelompok CH2.
Suatu atom yang saling berikatan biasanya penggunaan elektron untuk
membentuk ikatan tidak sama satu dengan yang lain. Dari segi ini ikatan kovalen
dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu ikatan kovalen polar dan ikatan kovalen
non polar. Dikatakan ikatan kovalen polar apabila suatu elektron tidak digunakan
bersama. Hal tersebut dapat terjadi ketika satu atom mempunyai elektronegativitas
yang lebih tinggi daripada atom yang lain. Atom yang mempunyai
keelektronegativitas yang tinggi akan mempunyai tarikan elektron yang lebih
kuat. Di dalam ikatan kovalen polar ada ujung yang bermuatan negatif dan ada
ujung yang bermuatan positif, seperti molekul H2O. Ikatan kovalen polar sangat
penting dalam Biologi karena dengan ikatan tersebut memungkinkan molekul
untuk berinteraksi satu dengan yang lain melalui kekuatan elektrik. Sedangkan
ikatan kovalen nonpolar merupakan ikatan kovalen yang terbentuk ketika atom
membagikan elektronnya secara merata antara satu dengan yang lainnya. Seperti
pada molekul H2 dan O2.
a. Ikatan hydrogen
Ikatan hydrogen terbentuk ketika ada atom hydrogen berikatan dengan
elektron atom lain yang tidak berpasangan baik antarmolekul yang sama
(intramolekuler) ataupun molekul yang berbeda (intermolekuler). Contoh senyawa
yang mempunyai ikatan hydrogen adalah H2O (atau yang baiasa disebut dengan
air). Dalam molekul air, atom O bersifat sangat elektronegatif sehingga pasangan
elektron antara atom O dan H lebih tertarik ke arah atom O.
Dalam keadaan cair, atom hydrogen dalam molekul air yang parsial positif
ditarik oleh pasangan elektron atom O molekul lain yang elekronegatif, sehingga
terbentuklah ikatan hydrogen. Ikatan hydrogen yang membentuk air sangat
penting bagi kehidupan, karena 70% bagian dari sel terdiri atas air, kebanyakan
reaksi intraseluler terjadi pada lingkungan yang mengandung air. Tidak semua
atom hidrogen dapat membentuk ikatan hidrogen. Secara umum, hidrogen dapat
membentuk ikatan hidrogen ketika H bermuatan positif berikatan dengan atom
negatif seperti oksigen atau nitrogen.
Alkohol yang merupakan ikatan polar bisa menjadi ikatan hidrogen
apabila bergabung bersama dengan air. Kenapa bisa demikian? Karena molekul
yang membawa muatan positif atau negatif (ion) akan mudah terlarut dengan air.
Molekul tersebut bersifat hidrofilik. Contohnya gula, DNA, RNA dan protein.
Sebaliknya, ada molekul yang tidak bisa beriktan dengan air yang biasa disebut
dengan hidrofobik, seperti hidrokarbon.
b. Beberapa Molekul Porar dari Asam dan Basa di Dalam Air
Jenis reaksi kimia yang paling sederhana dan memiliki peran yang
signifikan di dalam sel terjadi ketika sebuah molekul yang memroses sebuah
ikatan kovalen dengan polaritas tinggi dan atom terlarut dalam air. Atom hidrogen
dalam molekul meningkatkan elektronnya dengan atom lainnya, sehingga terjadi
nukleus atom hidrogen dengan muatan positif, dengan kata lain proton (H+).
Ketika molekul polar dikelilingi oleh molekul air, proton akan tertarik menuju
muatan parsial negative pada atom O. Proton ini dapat terpisah dari pasangan
aslinya dan berikatan dengan atom oksigen pada molekul air yang disebut ion
hydronium (H3O+). Proton yang lepas ketika larut dalam air kemudian membentuk
H3O+ yang bersifat asam. Berlawanan dengan molekul asam, terdapat molekul
basa. Beberapa molekul yang mampu untuk meneripa proton disebut basa.
Dengan definisi sifat asam adalah meningkatkan konsentrasi H3O+ di dalam air,
dapat dinyatakan bahwa sifat basa adalah meningkatkan konsentrasi ion hidroksil
(OH-).

2.6 Molekul dalam Sel


Karbon
Unsur kimia yang yang paling mendominasi kehidupan adalah karbon.
Tanpa kecuali, semua molekul kimia penting kehidupan selalu mengandung unsur
karbon. Unsur utama penyusun molekul biologi adalah karbon. Ragam dan
stabilitas molekul yang mengandung unsur karbon disebabkan oleh
karakteristiknya yang spesifik, terutama ketika membentuk ikatan dengan unsur-
unsur lain sehingga mampu membentuk molekul besar.
Salah satu sifat yang paling mendasar dari unsur karbon adalah pada
orbital elektron terluarnya kekurangan 4 elektron dari seharusnya 8 elektron.
Karena orbital elektron terluar merupakan pertanda stabil-tidaknya suatu unsur,
maka agar stabil, karbon cenderung berasosiasi dengan 4 unsur lainnya yang juga
kekurangan elektron. Dengan kata lain, unsur karbon mempunyai valensi 4.
Penggunaan bersama elektron oleh dua unsur atau lebih akan membentuk ikatan
kovalen. Dari ikatan tersebut memungkinkan carbon dapat membentuk molekul
yang lebih besar.
Pada umumnya, karbon akan membentuk ikatan kovalen dengan 1 karbon
yang lain dan dengan oksigen, hidrogen, nitrogen dan sulfur. Metana (satu karbon
berikatan dengan 4 hidrogen), etanol (CH3 CH2OH) dan metilamina (CH3
NH2). Molekul-molekul yang terbentuk dari atom karbon, hidrogen, oksigen,
nitrogen, sulfur dan fosfor biasa disebut dengan molekul organik.
Molekul organik dalam sel
Molekul organik dalam sel adalah senyawa karbon dengan berat molekul
antara 100 sampai 1000 yang berisi 30 atom karbon atau lebih. Molekul organik
banyak ditemukan dalam sitoplasma dengan bentuk yang berda-beda. Semua
molekul organik akan disintesis dan dipecah menjadi senyawa yang sederhana.
Sintesis dan pemecahan molekul tersebut dilakukan secara bertahap dengan
memperhatikan urutan perubahan kimia dari molekul yang disintesis dan dipecah.
Dari proses tersebut terdapat empat golongan yang diklasifikasikan menjadi
molekul organik, antara lain gulan, asam lemak, asam amino dan nukleotida.
Beberapa molekul dapat membangun polimer yang lebih besar (makromolekul)
seperti protein, asam nukleat, polisakarida, dan lain lain. Berikut adalah tabel
yang menunjukkan beberapa unit terbesar dari sel yang dibangun dari molekul
organik dalam sel.

2.8 Gambar unit tersebar dalam dari sel yang dibangun dari molekul organik
dalam sel.

2.7Gula Merupakan Sumber Energi bagi Sel dan Subunit Polisakarida


Gula paling sederhanamonosakaridaadalah komponen dengan rumus
umum (CH2O)n, n biasanya 3, 4, 5, atau 6 (Alberts, 2004). Gula dan molekul
yang tersusun dari gula, disebut juga karbohidrat, dikarenakan rumus(CH2O)nini.
Akan tetapi, rumus tersebut tidak mendefinisikan molekul secara menyeluruh:
rangkaian karbon, hidrogen, dan oksigen yang sama dapat terhubung oleh ikatan
kovalen dengan berbagai cara, membentuk suatu struktur yang berbenda
bentuknya. Sebagai contoh, glukosa dapat diubah menjadi gula yang lain
manosa atau galaktosahanya dengan mengubah orientasi gugus OH tertentu.
Selain itu, menurut Alberts (2004), gula memiliki dua bentuk, yaitu D-
form dan L-form, yang merupakan bentuk bayangan satu sama lain. Molekul
yang memiliki rumus kimia yang sama namun struktur yang berbeda disebut
isomer, dan pasangan bentuk-bayangan molekul disebut isomer optikal. Isomer
tersebar luas diantara molekul organik secara umum, dan berperan penting dalam
menghasilkan berbagai macam gula. Struktur kimia gula dijelaskan pada Gambar
2.9 berikut.
Gambar 2.9 Beberapa jenis gula (Alberts, 2004)

Monosakarida dapat terhubung oleh ikatan kovalen untuk membentuk


karbohidrat yang lebih besar. Dua monosakarida berikatan membentuk disakarida,
seperti sukrosa, yang tersusun dari unit glukosa dan fruktosa. Polimer gula yang
lebih besar membentuk oligosakarida (trisakarida, tetrasakarida, dan sebagainya)
hingga polisakarida besar, yang dapat tersusun dari ribuan unit monosakarida.
Umumnya, prefix oligo- ditujukan pada makromolekul yang tersusun dari
sedikit monomer, sekitar 3-50 (Alberts, 2004). Sebaliknya, polimer dapat
mengandung ratusan atau ribuan subunit gula.
Cara gula berikatan satu sama lain menggambarkan beberapa ciri umum
formasi ikatan biokimia. Ikatan terbentuk antara gugus OH pada gula yang satu
dan gugus OH pada gula yang lain dengan reaksi kondensasi, dimana molekul air
dihilangkan ketika ikatan terbentuk. Subunit pada polimer lain, seperti asam
nukleat dan protein, juga berikatan dengan reaksi kondensasi. Ikatan yang
terbentuk dengan reaksi kondensasi dapat dipecah dengan proses balik hidrolisis,
dimana molekul air dikonsumsi. Reaksi kondensasi dan hidrolisis pada molekul
gula dijelaskan pada Gambar berikut.
Gambar 2.10. Reaksi kondensasi dan hidrolisis pada molekul gula(Alberts, 2004)
Karena tiap monosakarida memiliki beberapa gugus hidroksil bebas yang
dapat membentuk ikatan dengan monosakarida lain (atau komponen lain), polimer
gula dapat bercabang, dan jumlah struktur polisakarida yang mungkin terbentuk
sangatlah banyak. Untuk alasan ini, menentukan susunan polisakarida lebih sulit
dibandingkan dengan menentukan rantai nukleotida dapa molekul DNA, dimana
tiap unit berikatan dengan cara yang sama.
Glukosa memiliki peran sentral sebagai sumber energi bagi sel. Glukosa
dipecah menjadi molekul yang lebih kecil dengan serangkaian reaksi, melepas
energi yang dapat dipanen sel untuk kerja. Sel menggunakan polisakarida
sederhana yang hanya tersusun dari gugus glukosaglikogen pada hewan, pati
pada tumbuhansebagai penyimpanan glukosa jangka panjang, sebagai cadangan
produk energi.
Gula tidak hanya berfungsi sebagai penghasil dan penyimpanan energi.
Glukosa juga digunakan, contohnya, untuk membentuk dukungan mekanik.
Molekul organik yang paling kompleksselulosa yang membentuk dinding sel
tumbuhanmerupakan polisakarida glukosa. Substansi organik kompleks
lainnya, kitin dari eksoskeleton dan dinding sel fungi, juga merupakan
polisakarida. Polisakarida lain, dengan kecendrungan licin ketika basah,
merupakan komponen utama dari lumpur, lendir, dan tulang rawan.
Oligosakarida yang lebih kecil dapat berikatan secara kovalen dengan
protein untuk membentuk glikoprotein, atau dengan lipid membentuk glikolipid,
dimana keduanya ditemukan pada membran sel. Permukaan kebanyakan sel
terdekorasi dengan polimer gula berupa glikoprotein dan glikolipid di membran
plasma. Perbedaan tipe bentuk gula permukaan sel membentuk molekul dasar
untuk golongan darah manusia.

2.8 Asam Lemak Merupakan Komponen Membran Sel


Menurut Alberts (2004), molekul asam lemak, seperti asam palmiat,
memiliki area yang berbeda secara kimiawi. Area pertama merupakan rangkaian
panjang hidrokarbon, yang hidrofobik dan kurang reaktif secara kimiawi. Area
lainnya merupakan gugus karboksil (-COOH), yang berperan sebagai asam (asam
karboksilik): yang terionisasi (COOH-) dalam campuran, sangat hidrofilik, dan
reaktif secara kimiawi. Hampir semua molekul asam lemak dalam sel berikatan
kovalen dengan molekul lain dengan gugus asam karboksilik. Molekul seperti
asam lemak, yang memiliki area hidrofobik dan hidrofilik, disebut amfipatik.
Area hirofobik dan hidrofilik pada asam palmiat dijelaskan pada Gambar berikut:

Gambar 2.11 Area Hidrofobik dan Hidrofilik pada asam lemak(Alberts,


2004)
Ekor hidrokarbon pada asam palmiat adalah jenuh: tidak memiliki ikatan
ganda pada atom karbon dan mengandung jumlah maksimum hidrogen. Asam
stearat, asam lemak yang umum terdapat pada hewan, juga jenuh. Beberapa asam
lemak, seperti asam oleat, memiliki ekor tak jenuh, dengan satu atau lebih dua
ikatan ganda sepanjang rantai. Ikatan ganda menyebabkan kekakuan pada
molekul, mencegah kemampuan untuk berikatan dalam massa solid. Asam lemak
yang ditemukan pada sel berbeda pada panjang rantai hidrokarbon dan jumlah
serta posisi ikatan ganda karbon. Asam lemak jenuh dan tak jenuh digambarkan
pada Gambar berikut.
Gambar 2.12 Asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh(Alberts, 2004)
Asam lemak menyediakan cadangan makanan bagi sel: asam lemak dapat
dipecah untuk memproduksi sekitar enam kali dari energi yang digunakan. Asam
lemak disimpan dalam sitoplasma sel dalam bentuk droplet molekul triagliserol
komponen yang dibentuk dari tiga asam lemak yang berikatan dengan molekul
gliserol. Molekul ini merupakan lemak hewani yang ditemukan pada daging,
mentega, dan krim, dan minyak nabati seperti minyak jagung dan minyak zaitun.
Ketika sel membutuhkan energi, rantai asam lemak akan dilepaskan dari
triagliserol dan dipecah menjadi gugus 2-karbon. Gugus 2-karbon sama dengan
turunan dari penguraian glukosa, dan memasuki jalur reaksi yang sama.
Fungsi terpenting dari asam lemak dalam sel adalah membangun membran
sel. Membran sel terdiri dari sejumlah besar fosfolipid yang dibangun oleh asam
lemak dan gliserol. Pada fosfolipid, gliserol berikatan dengan dua rantai asam
lemak. Situs ketiga gliserol berikatan dengan gugus fosfat hidrofilik. Fosfolipid
sangat amfipatik: tiap molekul fosfolipid memiliki ekor hidrofobik, yang tersusun
dari dua rantai asam lemak, dan kepala hidrofilik, tempat fospat berikatan.
Struktur ini memungkinkan perbedaan fisik dan kimiawi dibanding triagliserol.
Lemak lain yang terdapat pada membran sel mengandung satu atau lebih gula
daripada gugus fosfat. Beberapa glikolipid berperan penting dalam sinyal
intraselular sel. Membran sel yang tersusun dari fosfolipid digambarkan pada
Gambar berikut.
Gambar 2.13 Fosfolipid yang menyusun membran sel(Alberts, 2004)

2.9 Asam amino merupakan subunit protein


Asam amino merupakan molekul yang memiliki gugus asam karboksilik
dan gugus amino, keduanya berikatan pada atom karbon yang sama yang disebut
-carbon. Keberagaman kimiawi asam amino berasal dari rantai yang berikatan
dengan -carbon(Alberts, 2004). Sel menggunakan asam amino untuk membentuk
protein, yang merupakan polimer asam amino.
Ikatan kovalen antara dua asam amino pada rantai protein disebut ikatan
peptida; rantai asam amino juga dikenal sebagai polipeptida. Ikatan peptida
dibentuk dengan reaksi kondensasi yang menghubungkan asam amino yang satu
dengan yang lain. Polipeptida selalu memiliki gugus asam amino (NH2) di ujung
(C-terminus). Hal ini menyebabkan polipeptida memiliki struktur polar. Ikatan
peptida pada asam amino dijelaskan pada Gambar berikut.

Gambar 2.14 Ikatan peptida pada protein(Alberts, 2004)


20 jenis asan amino yang umumnya dijumpai pada protein, masing-masing
memiliki rantai yang berbedapada -carbon.Seperti gula, semua asama amino
(kecuali glisin) terdapat isomer dalam bentuk D dan L.
2.10 Nukleotida meruapakan subunit DNA dan RNA
Nukleosida merupakan molekul yang terbuat dari komponen cincin yang
mengandung nitrogen yang berikatan dengan gula 5-karbon, yang berupa ribosa
atau deoksiribosa. Nukleosida yang terdapat satu atau lebih gugus fosfat pada
cincin gula disebut nukleotida. Nukleotida yang mengandung ribosa disebut
ribonukleotida, dan yang mengandung deoksiribosa disebut sebagai
deoksiribonukleotida.Struktur ATP, yang merupakan nukleotida, dijelaskan pada
Gambar 2.15 berikut.

Gambar 2.15 Struktur ATP(Alberts, 2004)

Cincin yang mengandung nitrogen secara umum merupakan basa: dalam


keadaan asam, cincin tersebut mengikat proton (H+) dan meningkatkan
konsentrasi ion OH- di cairan. Sitosis (C), timin (T), dan urasil (U) disebut
pirimidin karena merupakan turunan dari cincin 6-karbon; guanin (G) dan adenin
(A) adalah komponen purin, karena merupakan turunan dari cincin 5-karbon, yang
berpasangan dengan cincin 6-karbon.
Nukleotida dapat berperan sebagai pembawa energi kimia sementara.
Ribonukleotida adenosin trifosfat (ATP), berperan dalam transfer energi pada
ratusan reaksi selular. ATP dibentuk melalui reaksi pelepasan energi dalam
oksidasi penguraian makanan. Terdapat tiga fosfat yang berikatan dengan ikatan
fosfoanhidrida. Pemutusan ikatan ini melepaskan banyak energi. ATP sebagai
sumber energi bagi sel dijelaskan pada Gambar berikut.
Gambar 2.16 ATP sebagai sumber energi(Alberts, 2004)
Peran paling penting dari nukleotida bagi sel adalah penyimpanan dan
informasi biologis. Nukleotida berperan sebagai balok bangungan untuk
membentuk asam nukelatpolimer panjang dimana subunit nukleotida berikatan
kovalen dengan formasi ikatan fodiester antara gugus fosfat yang terdapat pada
gula nukleotida dengan gugus hidroksil pada gula nukleotida selanjutnya. Rantai
asam nukelat disintesis dari nukleosida trifosfat yang kaya energi dengan reaksi
kondensasi yang melepaskan pirofosfat inorganik selama pembentukan ikatan
fosfodiester.
Terdapat dua jenis utama asam nukleat, yang berbeda pada jenis gula yang
digunakan dalam kerangka gula-fosfat. Gula ribosa yang disebut asam ribonukleat
(RNA) mengandung basa A, G, C, U. Gula deoksiribosa yang dikenal sebagai
asam deoksiribonukleat (DNA) mengandung basa A, G, C, dan T (T secara kimia
sama dengan U di RNA). Di sel, RNA biasanya dalam bentuk rantai tunggal
polinukleotida, namun DNA selalu dalam bentuk rantai ganda, double helix yang
terdiri dari 2 rantai polipeptida yang antiparalel dan berikatan ikatan hidrogen
antar basa pada kedua rantai.
Sekuens linear nukleotida pada DNA dan RNA mengkode informasi
genetik. Akan tetapi, kedua asam nukleat tersebut memiliki peranan yang berbeda
dalam sel. DNA, yang lebih stabil, berperan sebagai pusat informasi genetik,
sedangkan RNA biasanya sebagai pembawa instruksi molekuler.Basa di molekul
asam nukleat yang berbeda, mengenali dan berpasangan dengan ikatan hidrogen
(pasangan basa) dengan ketentuan G dengan C, dan A dengan T atau U.

2.11 Makromolekul penyusun sel


Secara umum makromolekul kimia penyusun sel tersusun dari senyawa
karbon. Beberapa protein berfungsi sebagai enzim yang mengkatalis semua reaksi
di dalam sel. Makromolekul ini terbentuk dari polimer monomer yang berikatan
kovalen membentuk rantai panjang. Secara umum protein merupakan polimer
yang sangat berlimpah di dalam sel. Kebanyakan protein berfungsi sebagai enzim
yang mengkatalis secara langsung pembentukan dan pemecahan ikatan kovalen
pada reaksi di dalam sel. Misalnya enzim riboluse bifosfat karboksilase yang
membantu mengubah CO2 menjadi gula dalam proses fotosintesis. Selain itu
protein dalam sel juga berfungsi sebagai komponen struktural, seperti tubulin
yang menyusun mikrotubul, protein histon yang memadatkan DNA dalam
kromosom. Fungsi lain dari protein adalah untuk pergerakan seperti miosin dalam
sel otot. Berikut ini adalah komponen makromolekul dalam sel bakteri.

Gambar 2.17 Komposisi Makromolekul Penyusun Sel

Monomer-monomer akan berikatan secara kovalen membentuk polimer


atau makromolekul yang bersifat fleksibel. Ikatan kovalen ini memungkinkan sel
berubah bentuk dan berotasi. Namun pada prinsipnya secara biologi polimer atau
makromolekul bentuknya dibakukan oleh ikatan non kovalen yang mengikat
bagian makromolekul tersebut. Jika ikatan non kovalen terbentuk pada molekul
tertentu rantai polimer akan bertahan kuat pada bentukan tertentu. Ikatan non
kovalen yang sifatnya lemah ini bekerja sama untuk mempertahankan bentuk unik
dari suatu makromolekul. Selain itu, ikatan non kovalen juga berfungsi untuk
memperkuat ikatan antar dua molekul yang berbeda. Sebagai contohnya adalah
ikatan non kovalen yang terjadi pada kompleks besar mesin sintesis DNA dan
protein yang memiliki struktur berbelit-belit yaitu ribosom

Gambar 2.18 Bentukan Stabil Makromolekul Akibat Ikatan Nonkovalen

Beberapa protein berfungsi sebagai enzim yang mengkatalis semua reaksi


di dalam sel. Makromolekul dibentuk dari mikromolekul yang terikat dengan
tepat dengan ikatan kovalen dan kumpulan makromolekul terikat secara
nonkovalen. Berikut ini adalah gambar skematis pembentukan makromolekul.

Gambar 2.19 Pembentukan Makromolekul


BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN

Materi terbuat dari kombinasi elemen - zat seperti hidrogen atau karbon
yang tidak dapat dipecah atau diubah menjadi zat lain dengan cara kimia. Partikel
terkecil dari suatu unsur yang masih mempertahankan sifat khas kimia adalah
atom. Namun, karakteristik zat selain unsur murni -termasuk bahan dari mana sel-
sel hidup yang dibuat-tergantung pada cara atom mereka dihubungkan bersama-
sama dalam kelompok untuk membentuk molekul.
Glukosa memiliki Peran sentral sebagai sumber energi bagi sel. Gula juga
berperan sebagai dukungan pada bentuk sel, contohnya selulosa pada dinding sel
tumbuhan. Fungsi terpenting asam lemak dalam sel adalah membangun membran
sel. Peran asam amino bagi sel adalah sebagai bahan untuk membentuk protein,
yang merupakan polimer asam amino. Peran paling penting dari nukleotida bagi
sel adalah penyimpanan dan informasi biologis. Akan tetapi, kedua asam nukleat
yakni DNA dan RNA memiliki peran yang berbeda. DNA berperan sebagai pusat
informasi genetik, sedangkan RNA biasanya sebagai pembawa instruksi
molekuler.
DAFTAR PUSTAKA

Alberts, B., Bray, D., Hopkin, K., Johnson, A., Lewis, J., Raff, M., Roberts, K., &
Walter, P. 2004. Essential Cell Biology, Second Edition. New York:
Garland Science.

Hardin, J., Bertoni, G., Kleinsmith, L. J. 2012. Beckers-World of the Cell Eighth
Edition. New York: The Benjamin Publishing Company