Anda di halaman 1dari 21

Pengertian Pengetahuan Menurut Notoatmodjo

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu

seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung,

telinga, dan sebagainya) (Notoatmodjo, 2010).

Tingkat pengetahuan Menurut Notoatmodjo

Menurut Notoatmodjo (2010) Pengetahuan seseorang terhadap objek

mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis

besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu :

Tahu (know)

Diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada

sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Untuk mengetahui atau

mengukur bahwa orang tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaan-

pertanyaan.

Memahami (comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekadar tahu terhadap objek tersebut, tidak

sekadar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat

menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.


Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang

dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang

diketahui tersebut pada situasi yang lain.

Analisa (analisys)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau

memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen

yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui.

Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum

atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-

komponen pengetahuan yang dimiliki.

Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu.


Pengertian dan Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010), ada beberapa faktor yang mempengaruhi

pengetahuan seseorang yaitu:

Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan

kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.

Media masa / sumber informasi

Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi,

radio, surat kabar, majalah, internet, dan lain-lain mempunyai pengaruh

besar terhadap pembentukan opini dan kepercayaan orang.

Sosial budaya dan ekonomi

Kebiasan dan tradisi yang dilakukan oleh orang-orang tanpa melalui

penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk.


Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar individu, baik

lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.

Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali

pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi

masa lalu

Kategori pengetahuan Menurut Notoatmodjo


Pengukuran pengetahuan penulis menggunakan pengkategorian menurut

Machfoedz (2009) yaitu:

1. Baik, bila subjek mampu menjawab dengan benar 76-100% dari

seluruh pernyataan.

2. Cukup, bila subjek mampu menjawab dengan benar 56-75% dari

seluruh pernyataan.

3. Kurang, bila subjek mampu menjawab dengan benar <56% dari

seluruh pernyataan.

sumber:
Notoatmodjo, S. (2005) Metode Penelitian Kesehatan, edisi revisi, Rineke Cipta. Jakarta.
Konsep Perilaku Kesehatan Menurut Prof. Dr. Soekidjo
Notoatmodjo, 2003

A. Pengertian Perilaku
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan
yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis,
membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku
manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun
yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa
perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari
luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan
kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori S-O-R
atau Stimulus Organisme Respon.

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua
(Notoatmodjo, 2003) :

1. Perilaku tertutup (convert behavior)

Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau
tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian,
persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus
tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

2. Perilaku terbuka (overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon
terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan
mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.

B. Klasifikasi Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang (organisme)
terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan
kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan
dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :
1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance).

Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar
tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.

2. Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering disebut
perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior).

Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit
dan atau kecelakaan.

3. Perilaku kesehatan lingkungan

Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya,
dan sebagainya.

C. Domain Perilaku

Menurut Bloom, seperti dikutip Notoatmodjo (2003), membagi perilaku itu didalam 3
domain (ranah/kawasan), meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan
yang jelas dan tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan,
yaitu mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut, yang terdiri dari
ranah kognitif (kognitif domain), ranah affektif (affectife domain), dan ranah psikomotor
(psicomotor domain).

Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk kepentingan
pengukuran hasil, ketiga domain itu diukur dari :

1. Pengetahuan (knowlegde)

Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan
terhadap suatu objek tertentu. Tanpa pengetahuan seseorang tidak mempunyai dasar untuk
mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang :

1) Faktor Internal : faktor dari dalam diri sendiri, misalnya intelegensia, minat, kondisi fisik.

2) Faktor Eksternal : faktor dari luar diri, misalnya keluarga, masyarakat, sarana.

3) Faktor pendekatan belajar : faktor upaya belajar, misalnya strategi dan metode dalam
pembelajaran.
Ada enam tingkatan domain pengetahuan yaitu :

1) Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya.

2) Memahami (Comprehension)

Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

3) Aplikasi

Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi
dan kondisi yang sebenarnya.

4) Analisis

Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-
komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan ada kaitannya dengan yang lain.

5) Sintesa

Sintesa menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-


bagian dalam suatu bentuk keseluruhan baru.

6) Evaluasi

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu materi / objek.

2. Sikap (attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu
stimulus atau objek. Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen
pokok :

1) Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu objek

2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek

3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)


Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan :

1) Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan
(obyek).

2) Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan
adalah suatu indikasi dari sikap.

3) Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu
indikasi sikap tingkat tiga.

4) Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan
sikap yang paling tinggi.

3. Praktik atau tindakan (practice)

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk
mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau
suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan faktor dukungan (support)
praktik ini mempunyai beberapa tingkatan :

1) Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil
adalah merupakan praktik tingkat pertama.

2) Respon terpimpin (guide response)

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah
merupakan indikator praktik tingkat kedua.

3) Mekanisme (mecanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu
itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mancapai praktik tingkat tiga.

4) Adopsi (adoption)

Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya
tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan wawancara terhadap
kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu (recall).
Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan
atau kegiatan responden.

Menurut penelitian Rogers (1974) seperti dikutip Notoatmodjo (2003), mengungkapkan


bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses
berurutan yakni :

1) Kesadaran (awareness)

Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus
(objek)

2) Tertarik (interest)

Dimana orang mulai tertarik pada stimulus

3) Evaluasi (evaluation)

Menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini
berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

4) Mencoba (trial)

Dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.

5) Menerima (Adoption)

Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya
terhadap stimulus.

D. Asumsi Determinan Perilaku


Menurut Spranger membagi kepribadian manusia menjadi 6 macam nilai kebudayaan.
Kepribadian seseorang ditentukan oleh salah satu nilai budaya yang dominan pada diri orang
tersebut. Secara rinci perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala
kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi, sikap dan
sebagainya.

Namun demikian realitasnya sulit dibedakan atau dideteksi gejala kejiwaan tersebut
dipengaruhi oleh faktor lain diantaranya adalah pengalaman, keyakinan, sarana/fasilitas,
sosial budaya dan sebagainya. Proses terbentuknya perilaku dapat diilustrasikan pada gambar
berikut :

Gambar 2.1 Determinan terbentuknya perilaku

Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkap faktor penentu yang dapat
mempengaruhi perilaku khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara
lain :

1. Teori Lawrence Green (1980)

Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan. Bahwa
kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku (behavior causes)
dan faktor diluar perilaku (non behavior causes).

Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh :

1) Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap,


kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
2) Faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau
tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-
obatan, alat-alat steril dan sebagainya.

3) Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas
kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

2. Teori Snehandu B. Kar (1983)

Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan
fungsi dari :

1) Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan


kesehatannya (behavior itention).

2) Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support).

3) Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan
(accesebility of information).

4) Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan atau
keputusan (personal autonomy).

5) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (action situation).

3. Teori WHO (1984)

WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu adalah :

1) Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling), yaitu dalam bentuk pengetahuan, persepsi,
sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap objek (objek kesehatan).

(1) Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

(2) Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek, atau nenek. Seseorang
menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.

(3) Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering
diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat. Sikap membuat
seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap
tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam suatu tindakan tergantung pada
situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh tindakan mengacu kepada pengalaman orang lain,
sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak atau sedikitnya
pengalaman seseorang.

2) Tokoh penting sebagai Panutan. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang ia
katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.

3) Sumber-sumber daya (resources), mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga dan sebagainya.

4) Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-sumber didalam suatu


masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life) yang pada umumnya disebut
kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu berubah, baik
lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia (Notoatmodjo, 2003).

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Pengetahuan


2.1.1 Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil tahu dari manusia, yang sekadar menjawab

pertanyaan what, misalnya apa air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya. Pengetahuan

hanya dapat menjawab pertanyaan apa sesuatu itu. Pengetahuan merupakan respons mental

seseorang dalam hubungannya objek tertentu yang disadari sebagai ada atau terjadi.

Pengetahuan dapat salah atau keliru, karena bila suatu pengetahuan ternyata salah atau keliru,

tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan. Sehingga apa yang dianggap pengetahuan tersebut

berubah statusnya menjadi keyakinan saja, (Notoatmodjo, 2010).

Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan

seseorang dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Pengetahuan tersebut diperoleh

baik dari pengalaman langsung maupun melalui pegalaman orang lain, (Notoatmodjo, 2010).

2.1.2 Klasifikasi Pengetahuan

Pengetahuan dalam struktur kognitif hirarkis mencakup enam klasifikasi, yaitu :

1) Tahu (Know)
7

Tahu di artikan sebagai pengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelumnya temasuk
dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang di
pelajari atau rangsangan yang di terima, (Notoatmodjo, 2007).
2) Memahami (Comprehension)

Memahami di artikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar-

benar tentang objek yang di ketahui dan dapat menginterpretsakan materi tersebut secara

benar, (Notoatmodjo, 2007).

3) Aplikasi (Aplication)

Aplikasi di artikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang di pelajari

pada situasi atau kondisi reall (sebenarnya ), (Notoatmodjo, 2007).

4) Analisis (Analysis)

Analisi adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam

komponen. Tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya

satu sama lain, (Notoatmodjo, 2007).

5) Sintesis (Syntesis)

Sintesis menujuk pada kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian di

dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, (Notoatmodjo, 2007).

6) Evaluasi (Evaluation)

Evalusi ini berkaitan dengan kemampuan untuk meletakkan justifikasi atau penelitian

terhadap suatu materi atau objek, (Notoatmodjo, 2007).

2.1.3 Proses Adopsi Pengetahuan

Dari suatu pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang disadari

pengetahuan mengungkapkan sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) di

dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu:

1) Awarness (Kesadaran)
Dimana orang menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus

(obyek).

2) Interest (Tertarik)

Subyek mulai tertarik pada stimulus atau obyek tersebut, maka disini sikap obyek

sudah timbul.

3) Evaluation (Evaluasi)

Menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus-stimulus bagi dirinya, hal

ini berarti sikap respon sudah lebih baik lagi.

4) Trial (Mencoba)

Dimana subyek mulai mencoba melaksanakan sesuatu hal sesuai dengan apa yang

dikehendaki oleh stimulus atau obyek.

5) Adaptation (Adaptasi)

Subyek mencoba melaksanakan sesuatu sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan

sikapnya terhadap stimulus. Penerimaan perilaku baru atau adopsi yang didasari oleh

pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan berlangsung

lama, (Notoatmodjo, 2007).

Disebutkan pula bahwa pengetahuan merupakan suatu wahana untuk mendasari

seseorang berperilaku secara alamiah, sedangkan tingkatannya maupun lingkungan pergaulan

melalui pengetahuan yang didapatnya akan mendasari seseorang dalam mengambil keputusan

rasional dan efektif untuk kesehatannya. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang untuk

mengadaptasikan dirinya dalam lingkungan inovasi yang baru maka semakin baik pula

penerimaannya, (Notoatmodjo, 2007).

2.1.4 Cara Memperoleh Pengetahuan

Cara memperoleh pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

1) Cara tradisional atau non ilmiah


Cara kuno atau tradisional ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran

pengetahuan, sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematik

dan logis adalah dengan cara non ilmiah, tanpa melalui penelitian. Cara-cara penemuan

pengetahuan pada periode ini antara lain meliputi :

(1) Cara Coba Salah (Trial and Error)

Cara memperoleh kebenaran non ilmiah, yang pernah digunakan oleh manusia dalam

memperoleh pengetahuan adalah melalui cara coba-coba atau dengan kata yang lebih dikenal

trial and error. Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin

sebelum adanya peradaban. Pada waktu itu seseorang apabila menghadapi persoalan atau

masalah, upaya pemecahannya dilakukan dengan coba-coba saja. Cara coba-coba ini

dilakukan dengan menggunakan beberapa kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan

apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila

kemungkinan kedua ini gagal pula, maka dicoba lagi dengan kemungkinan ketiga, dan

apabila kemungkinan ketiga gagal dicoba kemungkinan keempat dan seterusnya, sampai

masalah tersebut dapat terpecahkan. Itulah sebabnya maka cara ini disebut metode trial

(coba) and error (gagal atau salah) atau metode coba salah (coba-coba), (Notoatmodjo,

2010).

(2) Secara kebetulan

Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja oleh orang yang

bersangkutan. Salah satu contoh adalah penemuan enzin urease oleh Summers pada tahun

1926. Pada suatu hari Summer bekerja dengan ekstrak acetone, dan karena terburu-buru ingin

bermain tennis, maka ekstrak acetone tersebut disimpan di dalam kulkas. Keesokan harinya

ketika ingin meneruskan percobaanya, ternyata ekstrak acetone yang disimpan didalam

kulkas tersebut timbul kristal-kristal yang kemudian disebut enzim urease, (Notoatmodjo,

2010).
(3) Cara kekuasaan atau otoritas

Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-

tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut

baik atau tidak. Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan turun-temurun dari generasi ke

generasi berikutnya, (Notoatmodjo, 2010).

(4) Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung

maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu

merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman

pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan

dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan

permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. Apabila dengan cara yang digunakan

tersebut orang dapat memecahkan masalah yang dihadapi, maka untuk memecahkan masalah

lain yang sama, orang dapat pula menggunakan atau merujuk cara tersebut. Tetapi bila ia

gagal menggunakan cara tersebut, ia tidak akan mengulangi cara itu, dan berusaha untuk

mencari cara yang lain, sehingga berhasil memecahkannya, (Notoatmodjo, 2010).

(5) Cara akal sehat (Common sense)

Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat menemukan teori atau

kebenaran. Sebelum ilmu pendidikan ini berkembang, para orang tua zaman dahulu agar

anaknya mau menuruti nasihat orang tuanya, atau agar anak disiplin menggunakan cara

hukuman fisik bila anaknya berbuat salah, misalnya dijewer telinganya atau dicubit,

(Notoatmodjo, 2010).

(6) Kebenaran melalui wahyu


Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang diwahyukan dari tuhan

melalui para Nabi. Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut-pengikut agama

yang bersangkutan, terlepas dari apakah kebenaran tersebut rasional atau tidak. Sebab
kebenaran ini diterima oleh para Nabi adalah sebagai wahyu dan bukan karena hasil usaha

penalaran atau penyelidikan manusia, (Notoatmodjo, 2010).


(7) Kebenaran secara intuitif
Kebenaran secara intuitif diperoleh oleh manusia secara cepat sekali melalui proses

diluar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau berpikir. Kebenaran yang diperoleh

melalui intuitif sukar dipercaya karena kebenaran ini tidak menggunakan cara-cara yang

rasional dan yang sistematis.Kebenaran ini diperoleh seseorang hanya berdasarkan intuisi

atau suara hati atau bisikan hati saja, (Notoatmodjo, 2010).


(8) Melalui jalan pikiran
Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berpikir manusiapun

ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam

memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan

manusia telah menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi. Induksi

dan deduksi pada dasarnya merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung

melalui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan, kemudian dicari hubungannya sehingga

dapat dibuat suatu kesimpulan, (Notoatmodjo, 2010).


(9) Induksi
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa induksi adalah proses penarikan

kesimpulan yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus ke pernyataan yang bersifat

umum. Hal ini berarti dalam berpikir induksi pembuatan kesimpulan tersbut berdasarkan

pengalaman-pengalaman empiris yang ditangkap oleh indra. Kemudian disimpulkan ke

dalam suatu konsep yang memungkinkan seseorang untuk memahami suatu gejala,

(Notoatmodjo, 2010).
(10) Deduksi
Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum ke khusus.

Aristoteles (384-322 SM) mengembangkan cara berpikir deduksi ini kedalam suatu cara yang

disebut silogisme. Silogisme ini merupan suatu bentuk deduksi yang memungkinkan

seseorang untuk dapat mencapai kesimpulan yang lebih baik. Didalam proses berpikir

deduksi berlaku bahwa sesuatu yang dianggap benar secara umum pada kelas tertentu,
berlaku juga kebenarannya pada semua peristiwa yang terjadi pada setiap yang termasuk

dalam kelas itu, (Notoatmodjo, 2010).


2) Cara ilmiah dalam memperoleh pengetahuan

Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih

sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah, atau lebih populer

disebut metodologi penelitian (research methodology). Cara ini mula-mula dikembangkan

oleh Francis Bacon (1561-1626). Ia adalah seorang tokoh yang mengembangkan metode

berpikir induktif. Mula-mula ia mengadakan pengamatan langsung tehadap gejala-gejala

alam atau kemasyarakatan. Kemudian hasil pengamatannya tersebuat dikumpulkan dan

diklasifikasikan, dan akhirnya diambil kesimpulan umum. Kemudian metode berpikir

induktif yang dikembangkan oleh Bacon ini dilanjutkan oleh Deobold van Dallen. Ia

mengatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan dilakukan dengan mengadakan observasi

langsung, dan membuat pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan

objek yang diamatinya. Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok, yakni :

a. Segala sesuatu yang positif, yakni gejala tertentu yang muncul pada saat dilakukan

pengamatan.

b. Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang tidak muncul pada saat dilakukan

pengamatan.

c. Gejala-gejala yang muncul bervariasi, yaitu gejala-gejala yang berubah-ubah pada kondisi-

kondisi tertentu, (Notoatmodjo, 2010).

2.1.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

1. Umur

Usia adalah umur individu yang terpenting mulai saat di lahirkan sampai berulang

tahun, (Nursalam, 2011). Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang

bertambah dalam berpikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seorang yang lebih
dewasa akan lebih di percaya dari orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini

sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya, (Nursalam, 2011).

2. Minat

Minat diartikan sebagai sesuatu kecendrungan atau keinginan yang tinggi terhadap

sesuatu. Dengan adanya pengetahuan yang tinggi didukung minat yang cukup sangatlah

mungkin seseorang tersebut akan sesuai dengan apa yang diharapkan, (Nothoadmodjo, 2007).

3. Tempat tinggal

Tempat tinggal adalah tempat menetap responden sehari-hari. Pengetahuan seseorang

akan lebih baik jika berada di perkotaan dari pada di pedesaan karena di perkotaan akan

meluasnya kesempatan untuk melibatkan diri dalam kegiatan sosial maka wawasan sosial

makin kuat serta di perkotaan mudah mendapatkan informasi.

4. Sumber informasi

Informasi yang di peroleh dari berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat

pengetahuan seseorang. Bila seseorang banyak memperoleh informasi maka ia cenderung

mempunyai pengetahuan yang lebih luas, (Notoatmodjo, 2007).

5. Pendidikan

Adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan

diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar,

makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi

baik dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang masuk

semakin banyak pula pengetahuan yang di dapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat

kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka

orang tersebut semakin luas pula pengetahuannya.


6. Sosial budaya dan ekonomi

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah

dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya

walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya

fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga stastus sosial ekonomi akan

mempengaruhi pengetahuan seseorang.

7. Pengalaman

Pengalaman adalah peristiwa yang pernah dialami seseorang. Azwar mengatakan

bahwa sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam

situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan

akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lekas berbekas.

2.1.6 Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan memberikan

seperangkat alat tes atau kuesioner tentang obyek pengetahuan yang mau di ukur, selanjutnya

dilakukan penilaian dimana setiap jawaban benar dari masing-masing pertanyaan diberi nilai

5 dan jika salah diberi nilai 0. Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor

jawaban dengan skor yang diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan 100% dan hasilnya

prosentase dengan rumus yang digunakan sebagai berikut:

SP
N= x 100%
SM

Keterangan :

N : Nilai pengetahuan
SP : Skor yang di dapat

N : Skor tertinggi maksimum

Selanjutnya prosentase jawaban yang di interpretsikan dalam kalimat kualitatif

dengan cara sebagai berikut:

Baik : Nilai : 76-100%

Cukup : Nilai : 56-75%

Kurang: Nilai : 55% (Arikunto, 2010).

Diposkan oleh qori nur istiqomah di 19.24


Notoatmodjo, S. (2005) Metode Penelitian Kesehatan, edisi revisi, Rineke Cipta. Jakarta.