Anda di halaman 1dari 25

DAFTAR ISI

Kata Pengantar........................................................................................i
Daftar Isi..................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan...............................................................................1
1.1. Latar Belakang...........................................................................1
1.2. Rumusan Masalah......................................................................1
1.3. Tujuan Masalah..........................................................................2

BAB II Pembahasan...............................................................................3
2.1 Pengertian Beta.........................................................................3
2.2 Mengestimasi Beta....................................................................4
2.3 Beta Pasar..................................................................................5
2.4 Beta Akuntansi..........................................................................11
2.5 Beta Fundamental......................................................................14
2.6 Beta Pasar dan Beta Fundamental ............................................20
2.7 Beta portofolio...........................................................................21
2.8 ...................................................................................................
2.9 ...................................................................................................
2.10 ...................................................................................................

BAB III Penutup......................................................................................


3.1 Kesimpulan................................................................................
3.2 Saran..........................................................................................

Daftar Pustaka.........................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam investasi saham ada dua risiko yang akan dihadapi investor yaitu
risiko sistematis (systematic risk) dan risiko tidak sistematis (unsystematic risk).
Risiko sistematik disebut dengan istilah Beta, yaitu risiko yang tidak dapat
dihilangkan begitu saja dengan diversifikasi. Beta merupakan koefisien dari
fungsi positif dan linier return pasar terhadap return saham, dimana Beta ini
adalah satu-satunya variabel yang diperlukan untuk menjelaskan return. Beta
sebagai komponen penting untuk mengestimasi return suatu saham tidak bersifat
stationer dari waktu ke waktu, sehingga perlu disesuaikan dengan kondisi pasar.
Sedangkan risiko tidak sistematis dapat dihilangkan dengan diversifikasi
(Jogiyanto, 2003)
Bagi investor akan sangat memperhatikan berbagai risiko yang diterima
ketika melakukan pembelian saham atau surat berharga lainnya. Untuk
mengimbangi atau menekan tingkat risiko yang ditanggung, seorang investor
cenderung melakukan strategi diversifikasi pada kelompok kesempatan investasi
atau sekuritas tertentu, karena dari strategi dapat mengeliminasi risiko sampai
pada nol atau risk free. Hal ini dikarenakan investor akan menghadapi risiko yang
disebabkan oleh faktor yang digerakan oleh mekanisme pasar yang bersifat makro
seperti inflasi, krisis moneter dan lain sebagainya. Dengan demikian investor tidak
akan lepas dari risiko pasar walaupun sudah diantisipasi dengan membentuk
berbagai portofolio sekuritas secara lebih efisien. (Suad Husnan, 2005)
Berdasarkan pada risiko pasar tersebut, diperlukan estimasi berapa besar
risiko yang terkandung pada masing masing saham. Informasi ini biasanya
dikenal sebagai Beta saham. Beta saham memberikan informasi berapa besar
kecenderungan return suatu saham bergerak mengikuti return pasar. Dengan
demikian perlu kiranya mengidentifikasi berapa besarnya Beta pada masing-
masing saham sehingga dapat memperkirakan tingkat risiko pasar dari saham
tersebut.

2
Investasi yang efisien adalah investasi yang memberikan risiko tertentu
dengan tingkat keuntungan yang terbesar, atau tingkat keuntungan tertentu dengan
risiko terkecil. Jika ada dua usulan investasi yang memberikan tingkat keuntungan
yang sama, tetapi mempunyai risiko yang berbeda, maka investor yang rasional
akan memilih investasi yang mempunyai risiko yang lebih kecil. Semakin besar
Betanya semakin besar pula tingkat keuntungan yang diharapkan dari
investasi.Teori Keynes juga mengatakan bahwa high risk high return, yang artinya
semakin tinggi tingkat risiko suatu saham akan memberikan tingkat keuntungan
yang semakin besar pula.
Beta suatu sekuritas dapat dihitung dengan teknik estimasi yang
menggunakan data historis. Beta yang dihitung berdasarkan data historis ini
selanjunya dapat digunakan untuk mengestimasi Beta masa datang. Bukti-bukti
empiris menunjukkan bahwa Beta historis mampu menyediakan informasi tentang
Beta masa datang.
Beta historis dapat dihitung dengan menggunakan data historis berupa data
pasar (return return sekuritas dan return pasar), data akuntansi (laba -laba
perusahaan dan laba indeks pasar) atau data fundamental (menggunakan variabel
variabel fundamental). Beta yang dihitung dengan data pasar disebut dengn Beta
pasar. Beta yang dihitung dengan data akuntansi disebut Beta akuntansi dan Beta
yang dihitung dengan data fundamental disebut dengan Beta fundamental.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Beta ?
2. Bagaimana cara mengestimasi Beta?
3. Ada berapa macam Beta yang digunakan?
4. Apakah yang dimaksud dengan Beta pasar ?
5. Apakah yang dimaksud dengan Beta Akuntansi?
6. Apakah yang dimaksud dengan Beta Fundamental?
7. Apa perbedaan antara Beta Pasar, Beta Akuntansi dan Beta Fundamental?
8.
9.

1.3 Tujuan Masalah


1. Untuk mengetahui pengertian Beta.
2. Untuk mengetahui cara mengestimasi Beta.

3
3. Untuk mengetahui apa itu Beta pasar.
4. Untuk mengetahui Beta Akuntansi
5. Untuk mengetahui Beta Fundamental
6. Untuk mengetahui perbedaan Beta Pasar, Beta Akuntansi dan Beta Fundamental
7.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Beta

4
Beta merupakan suatu pengukur volatilitas (volatility) return suatu
sekuritas atau return portofolio terhadap return pasar. Beta sekuritas ke-i
mengukur volatilitas return sekuritas ke-i dengan return pasar. Beta portofolio
mengukur volatilitas return portofolio dengan return pasar. Dengan demikian Beta
merupakan pengukur risiko sistematik (systematic risk) dari suatu sekuritas atau
portofolio relatip terhadap risiko pasar.
Volatilitas dapat didefinisikan sebagai fluktuasi dari return-return suatu
sekuritas atau portofolio dalam suatu periode waktu tertentu. Jika fluktuasi return-
return sekuritas atau portofolio secara statistik mengikuti fluktuasi dari return-
return pasar, maka Beta dari sekuritas atau portofolio tersebut dikatakan bernilai 1
atau Beta = 1 artinya bahwa setiap satu persen perubahan return pasar baik naik
ataupun turun maka return saham atau portofolio juga akan bergerak sama
besarnya mengikuti return pasar. Saham yang mempunyai nilai Beta > 1 dikatakan
sebagai saham agresif, artinya tingkat kepekaan saham tersebut terhadap
perubahan pasar sangat tinggi atau dapat juga dikatakan memiliki risiko yang
lebih besar dari tingkat risiko rata-rata pasar. Saham yang mempunyai Beta < 1
mengindikasikan bahwa saham bersifat depensif (conservative), artinya saham
tersebut kurang peka terhadap perubahan pasar dan memiliki risiko di bawah rata-
rata pasar.

2.2. Mengestimasi Beta


Mengetahui Beta suatu sekuritas atau Beta suatu portofolio merupakan hal
yang penting untuk menganalisis sekuritas atau portofolio tersebut. Beta suatu
sekuritas menunjukkan risiko sistematiknya yang tidak dapat dihilangkan karena
diversifikasi. Untuk menghitung Beta portofolio, maka Beta masing-masing
sekuritas perlu dihitung terlebih dahulu. Beta portofolio merupakan rata-rata
tertimbang dari Beta masing-masing sekuritas. Mengetahui Beta masing-masing
sekuritas juga berguna untuk pertimbangan memasukkan sekuritas tersebut ke
dalam portofolio yang akan dibentuk.
Beta suatu sekuritas dapat dihitung dengan teknik estimasi yang
menggunakan data historis. Beta yang dihitung berdasarkan data historis ini

5
selanjutnya dapat digunakan untuk mengestimasi Beta masa datang. Bukti-bukti
empiris menunjukkan bahwa Beta historis mampu menyediakan informasi tentang
Beta masa depan (Elton dan Gruber, 1994).
Beta historis dapat dihitung dengan menggunakan data historis berupa data
pasar (return-return sekuritas dan return pasar), data akuntansi (laba-laba
perusahaan dan laba indeks pasar) atau data fundamental (menggunakan variabel-
variabel fundamental). Beta yang dihitung dengan data pasar disebut dengan Beta
pasar. Beta yang dihitung dengan data akuntansi disebut dengan Beta akuntansi
dan Beta yang dihitung dengan data fundamental disebut dengan Beta
fundamental.

2.3 Beta Pasar


Beta pasar dapat diestimasi dengan mengumpulkan nilai-nilai historis
return dari sekuritas dan return dari pasar selama periode tertentu, misalnya
selama 60 bulan untuk return bulanan atau 200 hari untuk return harian. Dengan
asumsi bahwa hubungan antara return-return sekuritas dan return-return pasar
adalah linier, maka Beta dapat diestimasi secara manual dengan memplot garis di
antara titik-titik return atau dengan teknik regresi.
Contoh 1, return-return sekuritas A (RA) dan return-return pasar (RM)
selama 10 minggu tampak di tabel berikut ini.
Return Saham A Return Pasar
7,5 % 4,0 %
8,0 % 4,5 %
9,0 % 4,5 %
10,0 % 5,5 %
10,5 % 6,0 %
11,5 % 7,0 %
11,0 % 6,0 %
12,0 % 6,5 %
12,0 % 7,5 %
14,0 % 8,0 %

Secara manual, Beta sekuritas A dapat dihitung dengan cara sebagai


berikut ini.

6
1. Buat diagram tersebar (scatter diagram) yang menunjukkan titik-titik hubungan
antara return sekuritas A dengan return pasar untuk tiap-tiap periode yang sama
(untuk contoh ini periode yang digunakan adalah mingguan).
2. Tarik garis lurus yang paling mendekati dengan semua titik-titik hubungan di
atas (prosedur ini membuat kesalahan kuadrat bernilai terkecil).

Gambar 1
3. Beta historis untuk sekuritas A dapat dihitung berdasarkan slope dari garis lurus
yang ditarik tersebut. Besarnya Beta A dapat dihitung sebesar (13,5% - 7,5%) /
(8-4) = 1,5.
Beta dapat juga dihitung dengan menggunakan teknik regresi. Teknik
regresi untuk mengestimasi Beta suatu sekuritas dapat dilakukan dengan
menggunakan return-return sekuritas sebagai variabel dependen dan return-return
pasar sebagai variabel independen. Persamaan regresi yang dihasilkan dari data
time series ini akan menghasilkan koefisien Beta yang diasumsikan stabil dari
waktu ke waktu selama masa periode observasi. Jika Beta sifatnya adalah stabil,
semakin lama periode observasi yang digunakan di persamaan regresi, semakin
baik (karena kesalahan pengukurannya semakin lebih kecil) hasil dari Beta. Akan
tetapi bila periode observasi terlalu lama, anggapan Beta konstan dan stabil
kurang tepat, karena sebenarnya Beta berubah dari waktu ke waktu. Bogue (1972)
dan Gonedes (1973) menginvestigasi hal ini dan menyimpulkan bahwa untuk data
return bulanan, 60 bulan merupakan periode yang optimal.

7
Persamaan regresi yang digunakan untuk mengestimasi Beta dapat
didasarkan pada model indeks-tunggal atau model pasar atau dengan
menggunakan model CAPM. Jika digunakan model indeks tunggal atau model
pasar, Beta dapat dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut :
Ri = i + i . RM + ei
Dari persamaan di atas, koefisien imerupakan Beta sekuritas ke-i yang
diperoleh dari teknik regresi. Variabel acak ei di persamaan regresi menunjukkan
bahwa persamaan linier yang dibentuk mengandung kesalahan. Dari model pasar
sudah diketahui bahwa secara konstruksi E(ei) = 0. Akan tetapi ini bukan berarti
untuk tiap-tiap observasi nilai eiadalah sama dengan nol. Untuk tiap-tiap
observasi, nilai kesalahan residu eimenunjukkan perbedaan antara return observasi
sesungguhnya dengan return estimasi yang berada di garis linier.
Contoh 2:
Dari data di contoh 1, hasil dari perhitungan dengan teknik regresi adalah sbb:
Variabel Estimasi Parameter t-test p-variabel
INTERCEPT 2,014638 2,468 0,0389
RM 1,434515 10,692 0,0001
F-value = 114,311
R-square = 0,9346
Adj R-sq = 0,9264

Dari hasil regresi di atas, persamaan regresi yang didapat adalah :

RA=2,014638 + 1,43415 RM

Beta merupakan koefisien parameter dari variable RM, yaitu sebesar 1,43415.
Koefisien ini adalah signifikan dengan p-value sebesar 0,0001 (signifikan lebih
kecil dari 1%)1. Beta yang diperoleh dari teknik regresi tidak menyimpang jauh
dari Beta yang dihitung dengan teknik ploting (yaitu sebesar 1,50).
Beta juga dihitung dengan teknik regresi menggunan model CAPM.
Model CAPM dapat dituliskan:

Ri = RBR + i. (RM RBR )+ei

8
Notasi :
Ri = return sekuritas ke-i.
RBR = return aktiva bebas risiko.
RM = return portofolio pasar.
i = Beta sekuritas ke-i
Untuk mengaplikasikan model CAPM ini ke persamaan regresi, maka nilai R BR
perludipindahkan dari sebelah kanan ke sebelah kiri persamaan (lihat lebih lanjut
bab 12) sehingga didapat:

Ri - RBR = i . (RM - RBR)+ ei

Sehingga dependen variable persamaan regresi adalah sebesar (R i - RBR) dengan


independen variabelnya adalah (RM - RBR).

Contoh 3:
Dari contoh 1, return-return sekuritas A (R A) dan return-return pasar (RM) selama
10 minggu ditambah dengan return-return bebas risikonya (R BR) tampak di table
berikut ini.

(RA) (Rm) (RBR) (RA RBR) (RM RBR)


7,5% 4,0% 2,0% 5,5% 2,0%
8,0% 4,5% 2,0% 6,0% 2,5%
9,0% 4,5% 2,1% 6,9% 2,4%
10,0% 5,5% 2,05% 7,95% 3,45%
10,5% 6,0% 2,0% 8,5% 4,0%
11,5% 7,0% 2,2% 9,3% 4,8%
11,0% 6,0% 2,5% 8,5% 3,5%
12,0% 6,5% 4,0% 8,0% 2,5%
12,0% 7,5% 5,0% 7,0% 2,5%
14,0% 8,0% 5,5% 9,5% 2,5%

9
Hasil dari regresi tampak sebagai berikut ini:

Variable Estimasi Parameter t-test p-value


INTERCEPT 4,392592 4,550 0,0019
(RM RBR) 1,068792 3,465 0,0085
F-value = 12,005
R-square = 0,6001
Adj R-sq = 0,5501

Persamaan regresi yang diperoleh adalah sebagai berikut:

(RA RBR) = 4,392592 + 1,068792 (RM RBR)

Besarnya Beta adalah 1,068792 yang secara statistik juga signifikan tidak
sama dengan nol dengan p-value sebesar 0,0085. Beta yang diperoleh dengan
model CAPM ini cukup berbeda dengan Beta yang diperoleh dari model indeks
tunggal (yaitu sebesar 1,434515).
Secara definisi Beta merupakan pengukur volatilitas antara return-return
suatu sekuritas (portofolio) dengan return-return pasar. Jika volatilitas ini diukur
dengan kovarian, maka kovarian return antara sekuritas ke-i dengan return pasar
adalah sebesar iM. Jika kovarian ini dihubungkan realtif terhadap risiko pasar
(yaitu dibagi dengan varian return pasar atau M2), maka hasil ini akan mengukur
risiko sekuritas ke-i relatif terhadap risiko pasar atau disebut dengan Beta. Dengan
demikian Beta dapat juga dihitung dengan rumus sebagai berikut ini :


i=
M2

Contoh 4:
Dengan menggunakan data di contoh 1, besarnya Beta yang dihitung berdasarkan
rumus (contoh 2) adalah sebagai berikut ini.
RA (RM) (RA RM) . (RM

10
(RM RM) RM)2
7,5% 4,0% 5.9475 3.8025
8,0% 4,5% 3.6975 2.1025
9,0% 4,5% 2.2475 2.1025
10,0% 5,5% 0.2475 0.2025
10,5% 6,0% -0.0025 0.0025
11,5% 7,0% 0.9975 1.1025
11,0% 6,0% 0.0225 0.0025
12,0% 6,5% 0.7975 0.3025
12,0% 7,5% 2.2475 2.4025
14,0% 8,0% 7.0725 4.2025

(RA) = (RM)= iM= 23,275 M2 = 16,225


10,55 5,95

Besarnya Beta adalah sebagai berikut :


i=
M2

23,275

16,225

= 1,434515

Besarnya Beta yang diperoleh, yaitu sebesar 1,43515 adalah sama dengan Beta
yang dihitung dengan teknik regresi di contoh 2.

2.4 Beta Akuntansi

Data akuntansi seperti misalnya laba akuntansi


(accounting earnings) dapat juga digunakan untuk
mengestimasi Beta. Beta akuntansi ini dapat dihitun secara sama
dengan Beta pasar (yang menggunakan data return), yaitu
dengan mengganti data return dengan data laba akuntansi. Beta

11
akuntansi dengan demikian dapat dihitung dengan rumus:

laba ,
hi = 2
laba ,M

hi = Beta akuntansi sekuritas ke-i


laba,iM = Kovarian antara laba perusahaan ke-i denga
indeks laba pasar
2 laba,iM = Varian dari Indeks laba pasar

Indeks laba pasar dapat dihitung berdasarkan rata-rata laba


akuntansi untuk portofolio pasar.

Contoh 2.4:
Misalnya suatu pasar modal hanya mempunyai tiga macam
sekuritas, yaitu sekuritas A,B, dan C. Dengan demikian indeks
laba pasar dapat dihitung dengan cara rata-rata aritmatika laba
perusahaan A,B, dan C. Laba akuntansi untuk perusahaan A, B,C
dan indeks laba pasarnya selama 10 periode tampak di tabel
berikut ini.

T EA EB EC EM
1 4.0 1.15 2.5 2.55
2 4.5 1.5 2.7 2.9
3 5.0 1.7 2.9 3.2
4 5.5 1.8 3.0 3.43
5 5.0 2.0 3.5 3.5
6 5.1 2.1 3.7 3.63
7 4.9 2.2 3.9 3.67
8 5.0 2.0 4.0 3.67

12
9 4.5 2.5 3.5 3.5
10 5.5 2.7 3.8 3.5
Rata-rata 4.9 1.965 3.35 3.405

Kovarian antara laba sekuritas A dengan laba pasar (Cov(E A,EM)),


kovarian antara laba sekuritas B dengan laba pasar (Cov(E B,EM)),
kovarian antara laba sekuritas C dengan laba pasar (Cov(E c,EM))
dan varian laba pasar (Var(EM)) dapat dihitung sebaai berikut ini.

t Cov(EA,EM) Cov(EB,EM) Cov(EC,EM) Var(EM)


1 0.7695 0.696825 0.72675 0.731025
2 0.202 0.234825 0.32825 0.255025
3 -0.0205 0.054325 0.09255 0.042025
4 0.017 -0.00467 -0.00992 0.000803
5 0.0095 0.003325 0.01425 0.009025
6 0.045667 0,030825 0.079917 0.052136
7 0 0.061492 0.143917 0.068469
8 0.026167 0.009158 0.170083 0.068469
9 -0,038 0.050825 0.01425 0.009025
10 0,357 0.437325 0.26775 0.354025
Total 1.368333 1.57425 1.8275 1.590028

Beta akuntansi untuk sekuritas A, B dan C dapat dihitung sebagai


berikut ini.

Cov E A E M
hA=
Var E M

1.368333

1.590028

13
= 0.860572

Cov ( E B , E M )
h B=
Var ( E M )

1.57425

1.590028

= 0.9900769

Cov ( E C , E M )
hC =
Var ( E M )

1.8275

1.590028

= 1.14935083

Beda akuntansi digunakan pertama kali di studi Brown dan Ball


(1969) yang menggunakan persamaan regresi untuk
mengestimasinya. Brown dan Ball menggunakan perubahan laba
akuntansi, bukan tingkat laba akuntansi untuk menghitun Beta
akuntansi. Persamaan regresi untuk mengestimasi Beta
akuntansi adalah sebagai berikut:

Ei . t=g i+ hi EMt +wi , t

Ball dan Brown menggunakan model pasar (lihat bab 9) dan

14
model Beta akuntansi untuk mengestimasi Beta pasar ( i) dan
Beta akuntansi (hi) dengan menggunakan data sebanyak 261
perusahaan selama periode 1946-1966. korelasi (dihitung
berdasarkan Spearman rank order) utuk kedua beta tersebut
adalah sebesar 0.46, 0.39, dan 0.41 berturut turut untuk laba
operasi , laba setelah pajak, dan laba yang tersedia untuk
pemegang saham umum.

2.5 Beta Fundamental


Beaver, Kettler dan Scholes (1970) mengembangkan
penelitian Ball dan Brown dengan menyajikan perhitungan Beta
menggunakan beberapa variabel fundamental. Variabel yang
dipilih adalah variabel yang berhubungan dengan risiko, karena
Beta merupakan pengukur risiko. Dengan argumentasi bahwa
risiko dapat ditentukan menggunakan kombinasi karakteristik
pasar dari sekuritas dan nilai-nilai fundamental perusahaan,
maka kombinasi ini akan banyak membantu mengerti Beta dan
untuk memprediksinya. Walaupun variabel ini secara umu
dianggap bervariasi dengan risiko, tetapi secara teori mungkin
tidak semuanya berhubungan dengan resiko. Variabel itu antara
lain:

1. Dividend Payout
Dividend payout diukur sebagai dividen yang dibayarkan
dibagi dengan laba yang tersedia untuk pemegang saham
umum. Lintner (1956) memberikan alasan rasional bahwa
perusahaan-perusahaan enggan untuk menurunkan dividen.
Jika perusahaan memotong dividen, maka akan dianggap
sebagai sinyal yang buruk karena dianggap perusahaan
membutuhkan dana. Oleh karena itu, perusahang yang

15
mempunyai risiko tinggi cenderung untuk membayar dividend
payout lebih kecil supaya nanti tidak memotong dividen jika
laba yang diperoleh turun. Untuk perusahaan yang beresiko
tinggi,probabilitas untuk mengalami laba yang menurun
adalah tinggi. Dari hasil pemikiran ini, maka dapat
disimpulkan adanya hubungan yang negatif antara risiko dan
dividen payout, yaitu risiko tinggi maka dividen payout
rendah. Karena Beta merupakan pengukur resiko, maka dapat
juga dinyatakan bahwa Beta dan dividend payout hubungan
yang negatif.

Alasan lain yang menyatakan hubungan negative antara Beta


dengan dividend payout adalah bahwa pembayaran dividen
dianggap kebih kecil resikonya dibandingkan dengan capital
gains (Elton dan Gruber, 1994). Dengan demikian perusahaan
yang membayar rasio dividen yang tinggi akan mempunyai risiko
yang lebih kecil dibandingkan dengan yang menahannnya dalam
bentuk laba ditahan. Argumentasi ini sebenarnya didasarkan oleh
bird in the hand theory oleh Lintner (1962), Gordon (1963) dan
Batthacharya (1979). Teori ini menjelaskan bahwa investor
menyukai dividen yang tinggi karena dividen yang diterima
seperti burung yang ditangan yang resikonya kecil dibandingkan
dengan dividen yang tidak dibagikan.
2. Asset Growth
Variabel pertumbuhan aktiva (asset growth) didefinisikan sebagai
perubahan ( tingkat pertumbuhan) tahunan dari aktiva total. Variabel ini diprediksi
mempunyai hubungan positif dengan beta. Hubungan ini tidak didukung oleh
teori.
3. Leverage
Leverage didefenisikan sebagai nilai buku total hutang jangka panjang
dibagi dengan total aktiva. Leverage diprediksi mempunyai hubungan positif

16
dengan beta. Bowman (1980) menggunakan nilai pasar untuk total hutang dalam
menghitung leverage dan mendapatkan hasil yang tidak berbeda jika digunakan
dengan nilai buku.
4.Liquidity
Likuiditas diukur sebagai current ratio yaitu aktiva lancar dibagi dengan
hutang lancar. Likuiditas diprediksi mempnyai hubungan yang negatif dengan
beta, yaitu secara rasional diketahui bahwa semakin likuid perusahaan, semakin
kecil risikonya.
5.Asset size
Variabel ukuran aktiva (asset size) diukur sebagai logaritma dari total
aktiva. Variabel ini diprediksi mempunyai hubungan yang negatif dengan resiko.
Ukuran aktiva dipakai sebagai wakil pengukur (proxy) besarnya perusahaan.
Perusahaan yang besar dianggap mempunyai resiko yang lebih kecil dibandingkan
dengan perusahaan kecil. Alasannnya adalah karena perusahaan yang besar
dianggap mempunyai akses ke pasar modal, sehingga dianggap mempunyai Beta
yang lebih kecil (Elton dan Gruber ,1994). Anggapan ini merupakan anggapan
yang umum tidak didasarkan pada teori. Bagaimanapun juga Watts dan
Zimmeriman (1978) mencoba membuktikan hipotesis tentang hubungan ini untuk
membentuk teori yang disebut dengam teori akuntansi positif (positive avvounting
theory).Perusahaan yang besar merupakan subjek tekana politik. Perusahaan besar
yang melaporkan laba berlebihan menarik perhatian politikus dan akan
diintevestigasi karena dicurigai melakukan monopoli (Naam dan Hartono1996).
Watts dan Zimmerman selanjutnya menghipotesiskan bahwa perusahaan
besar cenderung menginvestasikan dananya ke proyek yang mempunyai varians
rendah dengan Beta yang rendah untuk menghindari laba yang berlebihan.
Dengan menginvestasikan ke proyek dengan beta yang rendah akan menurunkan
risiko dariperusahaan. Dengan demikian dihipotesiskan hubungan antar ukuran
perusahaan dengan beta adalah negatif.
6. Earnings variability.
Variabilitas laba diukur dengan nilai deviasi standar dari PER (price
earnings ratio) atau rasio P/E (harga saham dibagi dengan laba

17
perusahaan).variabilitas darilaba dianggap sebagai risiko perusahaan, sehingga
hubungan antara variabel ini dengan beta adalah positif.
7. Accounting beta.
Beta akuntansi diperoleh dari koesifien regresi dengan variabel dependen
perubahan laba akuntansi dan variabel independen adalah perubahan perubahan
indeks laba pasar untuk laba akuntansi portofolio pasar seperti tampak
dipersamaan. Karena beta akuntansi dan beta pasar keduanya pengukur risiko
yang sama, makadiprediksi keduanya mempunyai hubungan yang positif.
Beaver, Kettler dan Scholes mengumpulkan 307 perusahaan yang tercatat
di NYSE ( new york stock exchange ) selama dua peroide. Periode pertama adalah
1947-1956 dan peiode yang kedua adalah 1957-1965. Mereka memprediksi
hubungan antara beta pasar dengan tujuh variabel-variabel fundamental di atas
untuk portofolio yang terdiri dari sebuah perusahaan dan portofolio yang terdiri
dari terdiri dari sebuah perusahaan dan portifolio yang terdiri dari 5 perusahaan .
Portofolio dibnentuk dengan membuat ranking berdsarkan nilai-nilai
variabel fundamental. Lima perusahaan dengan nilai terbesar dikelompokkan
kedalam portofolio pertama, perusahaan dengan rangking keenam samapai dengan
kesepuluh dikelompokkan kedalam portofolio kedua danseterusnya sampai
dibentuk 61 buah portofolio yang masing-masing berisi lima perusahaan. Tabel ini
menunjukkan hasil korellasi Spearman Rank dan Producy Moment antarabeta
pasar dengan masing-masing dari ketujuh variabel fundamental.
Tabel 11.1. Korelasi antara beta dengan variabel-vaiabel fundamental
Tanda Periode 1 (1947-1956) Periode (1957-1965)
Portofolio Portofolio Portofolio Portofolio
Variable prediksi
1sekuritas 5 sekuritas 1sekuritas 5 sekuritas
Devided - -0,49 -0,79 -0,29 -0,50
payaout (-0,50) (-0,77) (-0,24) (-0,45)
Asset + 0,27 0,56 0,01 0,02
growth (0,23) (0,51) (0,03) (0,07)
Leverage + 0,23 0,41 0,22 0,48
(0,23) (0,45) (0,25) (0,56)
Liquidity - -0,13 -0,35 0,05 0,04

18
(-0,13) (-0,44) (-0,01) (-0,01)
Asset size - -0,06 -0,09 -0,16 -0,30
(-0,07) (-0,13) (-0,16) (-0,30)
Earning + 0,66 0,09 0,45 0,82
variability (-0,58) (0,77) (0,36) (0,62)
Accountinn + 0,44 0,68 0,23 0,46
g beata (0,39) (0,67) (0,23) (0,46)
Keterangan: koefisien korelasi spearman rank berada dibaris yang petama,
sedangkan koefisien koelasi product moment berada di baris kedua yang disajikan
dalam kurung.
Dari hasil di tabel 11.1 hanya sebuah koefisien korelasi yang tidak
mempunyai tanda yang diprediksi, yaitu untuk variabel likuditas di periode kedua.
Dari ke tujuh variabel, empat diantaranya mempunyai korelasi dengan tingkat
signifikan 1% baik untuk portofolio 1 perusahaan atau portofolio 5 perusahaan.
Ke-empat variabel itu adalah Dividend Payaout, Leverage, Earning Variability,
Accounting Beta. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara risiko perusahhan yang diukur dengan beta pasar dengan
keempat variabel fundamental. Yang juga menarik perhatikan disini dalah bahwa
ketiga variabel lainnya tidak signifikan merupak variabel-variabel yang tidak
didukung dengan teori mengenai hubungannya dengan beta pasar.
Langkah selanjutnya untuk mendapatkan beta fundamental adalah
mendapatkan efek dari variabel-variabel fundamental ini dengan beta pasar
secara serentak menggunakan model multivariat. Secara khusus, regresi Cross
Sectional untuk suatu periode tetentu dapat berupa:
bi= a0 + a1 x1i + a2 x2i +.....an xni + ei
dengan subskrip-i menunjukkan perusahaan ke-i5. Secara khusus jika
menggunakan ketujuh variabel-variabel fundamental dapat dituliskan sebagai
berikut:
bi = ai + ai DIVi + a2 GROWTHi + a3 LEVi + a4 LIKUIi + a5 SIZEi + a6 EVARi + a7
ABETAi +ei
Notasi :
bi = beta pasar perusahaan ke-i

19
DIVi = dividen payout (pembayaran dividen ) perusahaan ke-i
GROWTHi = asset growth (pertumbuhan aktiva) perusahaan ke-i
LEVI = leverage perusahaan ke-i
LIKUIi = likuidutas perusahaan ke-i
SIZEi = ukuran aktiva perusahaan ke-i
EVARi = variabilitas laba perusahaan ke-i
ABETAi = beta akuntansi perusahaan ke-i
ei = kesalahan residu peruahaan ke-i

Nilai-nilai variabel fundamental untuk suatu perusahaan pada periode ini adalah
sebagai berikut ini.
Dividend payout = 0,075
Asset growth = 0,05
Leverage = 0,9
Liquidity = 1,8
Log (total asset) = 5,1
Earning variability = 0,55
Accounting Beta = 1,5

Selanjutnya Beta fundamental dapat diprediksi sebesar:


= 0,05 1,2 (0,075) + 1,5 (0,05) + 1,05 (0,9) 0,07 (1,8) 0,0085 (5,1) + 0,15
(0,55) + 0,3 (1,5)
= 1,418.

Jika koefisien-koefisien hasil regresi mempunya nilai yang sacara statistik


signifikan berarti menunjukkan bahwa variabel-variabel fundamental yang
koefisiennya signifikan mempunyai akurasi untuk memprediksi Beta pasar.
Akibatnya, Beta fundamental yang dihitung berdasarkan variabel-variabel
fundamental tersebut seharusnya juga memprediksi secara akurat Beta pasar.
Beberapa studi seperti misalnya Beaver, Kettler dan Schles (1970), Bidersee
(1975), Rosenberg dan marathe (1975), Eskew (1979), Bren dan Lerner (1973),
Gonedes (1979), Melicher (1974) meneliti Beta fundamental ini. Hasi dari studi-
studi ini bervariasi. Beberapa mwndukung bahwa Beta fundamental dapat
dgunakan untuk memprediksi Beta pasar i masa depan dan beberapa tidak
mendukung.

20
Jumlah dari variabel yang diteliti untuk membentuk Beta fundamental juga
bervariasi. Seperti diketahui bahwa Beaver, Kettler dan scholes menggunakan
tujuh buah variabel. Thompson (1978) menggunakan 43 variabel dan Rosenberg
dan Marathe (1975) menggunaka 101 variabel (sebagian besar dari variabel-
variabel ini merupakan dummy variabel yang digunakan untuk mengontrol efek
dari industri ).

11.7. BETA PASAR DAN BETA FUNDAMENTAL


Beta return pasar dan Beta fundamental masing-masing mempunyai
kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dari Beta return pasar adalah Beta ini
mengukur respon dari masing-masing sekuritas terhadap pergerakan pasar.
Kelemahannya dari Beta return pasar adalah tidak langsung mencerminkan
perubahan dari karakteristik perusahaan karena Beta return pasar dihitung
berdasarkan hubungan data pasar (return perusahaan yang merupakan perubahan
dari harga saham dengan return pasar) dan tidak dihitung berdasarkan data
karakteristik (fundamental) perusahaan, seperti misalnya data fundamental
pembayaran dividen. Beta pasar mungkin mencerminkan pembayaran dividen
secara tidak langsung, yaitu lewat perubahan harga saham jika ada. Berbeda
dengan Beta fundamental yang mengukur perubahan pembayaran dividen secara
langsung.
Dilain pihak, Beta fundamental mempunyai kebaikan bahwa Beta ini
secara langsung berhubungan dengan perubahan karakteristik perusahaan, karena
Beta ini dihitung menggunakan data karakteristik tersebut. Beta fundamental juga
mempunyai kelemahan, yaitu variabel-variabel karakteristik perusahaan
mempunyai efek terhadap Beta fundamental yang sama untuk semua perusahaan.

Misalnya dari contoh 11.6 didapat nilai = -1,2 dan = 1,5. Ini berarti

bahwaperubahan sebesar 1% dari dividend payout akan mempengaruhi Beta


fundamental sebesar -1,2% untuk Beta semua perusahaan. Demikian juga
perubahan sebesar 1% dari asset growth akan mempengaruhi secara sama sebesar
1,5% untuk Beta setiap perusahaan.

21
Rosenberg dan Marathe (1975) kemudian menggabungkan data return
pasar dan data karakteristik perusahaan untuk menghitung Beta. Dengan
penggabungan ini diharapkan kelamahan masing-masing perhitungan Beta
tertutup dan semua kebaikannya tergabung, sehingga diharapkan daya prediksinya
untuk menghitung Beta di masa mendatang lebih akurat.
Rosenberg dan McKibben (1973) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
yang kuat antara Beta untuk industri-industri yang berbeda. Karena hasil ini, maka
Rosenberg dan Mckibben menambahkan efek dari industri sebagai variabel-
variabel di dalam perhitungan Beta yang sudah dilakukan oleh Rosenberg dan
Marathe sebelumnya. Hasil akhir dari perhitungan Beta ini melibatkan 101
variabel sebagai berikut: 14 variabel untuk variabilitas pasar (misalnya volume
perdagangan dan range dari harga saham), 7 buah variabel variabilitas laba, 8
buah variabel untuk evaluasi kesuksesan (ratio dari nilai buku dengan nilai pasar,
pertumbuhan laba dan lain sebagainya), 9 buah variabel pengukur besarnya
perusahaan (misalnya logaritma dari total aktiva), 9 variabel yang berhubungan
dengan orientasi pertumbuhan (misalnya dividend yield, P/E ratio), 9 variabel
mengukur risiko keuangan (misalnya leverage dan likuiditas),6 variabel
karakteristik perusahaan (misalnya tipe dari bisnis) dan 39 variabel merupakan
dummy variables. Variabel-variabel dummy menunjukkan sebanyak 40 industri
yang ada di dalam sampel dan variabel ini bernilai 1 jika perusahaan yang
diobservasi masuk ke dalam kategori industrinya dan bernilai 0 jika sebaliknya.

11.8. BETA PORTOFOLIO


Beta portofolio dapat dihitung dengan cara rata-rata tertimbang
(berdasarkan proporsi) dari masing-masing individual sekuritas yang membentuk
portofolio sebagai berikut:
n
p= w i i
t=1

Notasi:
p
= Beta portofolio

22
i
= Beta sekuritas ke-i
wi
= proporsi sekuritas ke-i
Beta portofolio umumnya lebih akurat dibandingkan dengan Beta tiap-tiap
individual sekuritas. Alasannya adalah sebagai berikut ini.
1. Beta individual diasumsikan konstan dari waktu ke waktu. Kenyataannya
Beta individual sekuritas dapat berubah dari waktu ke waktu. Perubahan
Beta individual sekuritas dapat berupa perubahan naik atau perubahan
turun. Beta portofolio akan meniadakan perubahan Beta individual
sekuritas yang lainnya. Dengan demikian jika Beta tidak konstan dari
waktu ke waktu, maka Beta portofolio akan lebih tepat dibandingkan
dengan Beta individual sekuritas.
2. Perhitungan beta individual sekuritas juga tidak lepas dari kesalahan
pengukuran (measurement error) atau kesalahan acak (random error).
Pembentukan portofolio akan mengurangi kesalahan acak ini, karena
kesalahan acak satu sekuritas mungkin akan ditiadakan oleh kesalahan
acak sekuritas lainnya. Dengan demikian, Beta portofolio juga diharapkan
akan lebih tepat dibandingkan dengan Beta individual sekuritas.

23
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Beta adalah pengukur risiko sistematik dari suatu sekuritas atau portofolio
relatip terhadap risiko pasar. Beta suatu sekuritas menunjukkan risiko
sistemetiknya yang tidak dapat dihilangkan karena diversifikasi. Untuk
menghitung Beta portofolio, maka Beta masing-masing rata-rata tertimbang dari
Beta masing-masing sekuritas. Mengetahui Beta masing-masing sekuritas juga
berguna untuk pertimbangan memasukkan sekuritas tersebut kedalam portofolio
yang akan dibentuk.
Beta suatu sekuritas dapat dihitung dengan teknik estimasi yang
menggunakan data historis. Beta yang dihitung berdasarkan data historis ini
selanjunya dapat digunakan untuk mengestimasi Beta masa datang. Bukti-bukti
empiris menunjukkan bahwa Beta historis mampu menyediakan informasi tentang
Beta masa datang (Elton dan Gruber,1994). Beta historis dapat dihitung dengan
menggunakan data historis berupa data pasar (return - return sekuritas dan return
pasar), data akuntansi (laba -laba perusahaan dan laba indeks pasar) atau data
fundamental (menggunakan variabel - variabel fundamental). Beta yang dihitung
dengan data pasar disebut dengn Beta pasar. Beta yang dihitung dengan data
akuntansi disebut Beta akuntansi dan Beta yang dihitung dengan data fundamental
disebut dengan Beta fundamental.

3.2 Saran

24
DAFTAR PUSTAKA

25