Anda di halaman 1dari 48

Deflasi

Sebagai meningkatkatnya permintaan terhadap uang berdasarkan jumlah uang yang berada
dimasyarakat. Deflasi terjadi ketika jumlah uang yang beredar di masyarakat lebih sedikit
dari jumlah barang yang ada. Sehingga terjadi penurunan harga-harga. Misalnya kenapa hal
ini bias terjadi dalam kehidupan sehari-hari harga barang-barang elektronik semakin hari
semakin murah. Hal ini terjadi karena perkembangan teknologi yang cepat sehingga supply
barang teknologi dipasaran semakin banyak. Sedangkan jumlah uang yang beredar di
masyrakat sedikit, sehingga barang-barang teknologi tersebut jatuh harganya. Atau deflasi
bias terjadi ketika permintaan barang dari masyrakat semakin menurun dan permintaan uang
dari masyrakat meningkat.

Dalam ekonomi deflasi ialah suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan nilai
uang bertambah, deflasi ialah kebalikan dari inflasi. Bila inflasi terjadi akibat banyaknya
jumlah uang yang beredar di masyrakat maka deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang
yang beredar, dimana cara menaggulanginya ialah dengan cara menurunkan tingkat suku
bunga atau yang lebih sederhana ialah dengan mencetak lebih banyak uang.

Penyabab Deflasi

Menurunnya persedia uang dimasyrakat


Menurunnya jumlah persedian uang dimasyrakat ini cenderung disebabkan karena
sebagian besar masyrakat menyimpan uangnya dibank masyrakat menyimpan
uangnya dibank kemungkinan disebabkan oleh tungkat suku bunga yang tinggi dapat
memberikan keutungan yang cukup tinggi. Sehingga dengan demikian persedian uang
dimasyrakat semakin berkurang.

Meningkatnya persediaan barang


Kadang kala produksi barang tdiak bias dibendung bila permintaan barang meningkat
produsen cenderung terus meningkatkan produksinya pada saat kondisi seperti itu,
jika jumlah barang yang diproduksi tersebut tidak habis terjual kepada konsumen dan
produksi tetap dilakukan sedangkan permintaan akan barang semakin berkurang maka
akan dapat meningkatkan jumlah persediaan barang dimasyarakat akibatnya harga
barang tersebut semakin menurun karena jumlahnya banyak.

Menurunnya permintaan akan barang


Bila permintaan akan suatu barang menurun sedangkan produksi tetap dilakukan
maka cebderung hal tersebut akan menurunkan tingkat harga barang yang
bersangkutan.

Dampak Deflasi

Kesempatan kerja berkurang karena terjadi pemecatan buruh akibat turunnya produksi
barang

Kegiatan perekonomian mundur

Pajak-pajak tidak dapat ditarik oleh Negara sehingga pendapatan Negara berkurang
Pengusaha-pengusaha kurang bernafsu untuk memproduksi barang karena harga terus
menurun.

Menyebabakan suku bunga disuatu Negara menjadi nol persen lalu diikuti juga
dengan turunnya suku bunga pinjaman di bank.

Dan sebagianya

Cara Mengatasi Deflasi

Dengan memberikan stimulasi ekonomi berupa bantuan likuiditas ke sector bisnis, dengan
demikian diharapkan kegiatan ekonomi kembali berputar. Pemerintahan juga dapat
memotong pajak dan meningkatkan belanjanya sendiri untuk meggairahkan perekonomian.
Dari sisi bank sentral pemerintah juga dapat meningkatkan peredaran uang dimasyrakat
dengan membeli surat hutang sektor swasta dan menukarkannya dengan uang tunai. Selain
itu juga dapat dilakukan dengan memotong suku bunga, namun seperti dijelaskan diatas
memotong suku bunga bukanlah jalan keluar yang sesungguhnya tetapi hanya sekedar
pengobatan sementara untuk menggairahkan ekonomi dan mengharapkan harga bergerak naik
dengan sendirinya.

Pengaruh Deflasi

Penurunan persedian uang deflasi dapat menyebabkan menurunnya persedian uang di


masyrakat dan akan menyebabkan depresi besar dan juga akan membuat pasar
investasi akan mengalami kekacauan.

Memperlambat aktivitas ekonomi dikarenakan barang mengalami penurunan,


konsumen memilikikemapuan untuk menunda belanja mereka lebih lama lagi dengan
harapan harga barang akan turun lebih jauh, akibatnya aktivitas ekonomi akan
melambat dan memberikan pengaruh pada spiral deflasi.

Dampak susulan dari melesunya kegiatan ekonomi ialah banyak pekerja yang
akhirnya mengalami PHK karena pemilik bisnis tidak sanggup membayar gaji
karyawannya dengan demikian pendapatan yang diterima masyrakat menjadi sedikit
dan jumlah uang yang beredar di masyrakat semakin berkurang.

Mengakibatkan melesunya investasi disektor riil maupun dilantai bursa akibatnya ini
akan menambah berat kelesua ekonomi dikarenakan tidak ada lagi aktivitas bisnis
yang berjalan.

Deplesi
Deplesi adalah pengurangan nilai yang terjadi atas sumber daya alam, seperti
pertambangan, sumur minyak dan gas bumi, kehutanan, dan lain-lain. Sejalan dengan
ekstraksi dan penjualan sumber daya, cadangan akan menurun dan nilai properti akan terus
berkurang. Pada depresiasi, properti dapat diganti dengan properti yang serupa jika properti
tersebut sudah terdepresiasi penuh (nilainya sudah habis). Hal ini tidak memunginkan pada
deplesi. Pada depresiasi, jumlah yang dibebankan untuk biaya depresiasi diinvestasikan pada
peralatan baru sehingga operasi dapat dilanjutkan tanpa batas. Pada deplesijumlah yang
dibebankan untuk biaya deplesi tidak dapat
digunakan untuk mengganti sumber daya alam, akibatnya perusahaan akan menutup
usahanya sedikit demi sedikit sejalan dengan operasi normalnya. Oleh karena itu,
pembayaran terhadap pemilik dilakukan dalam 2 bagian: (1) keuntungan yang diperoleh dan
(2) bagian dari modal pemilik yang dikembalikan, dalam bentuk deplesi.

Metode perhitungan deplesi:

1. Metode biaya:
Satuan deplesi ditentukan dengan membagi basis harga dengan jumlah satuan tersisa
yang masih dapat ditambang atau dipanen. Pengurangan deplesi dihitung sebagai hasil
perkalian antara jumlah satuan terjual pada tahun tersebut dengan satuan deplesi dalam dolar.
Diterapkan untuk semua tipe properti yang dikenai deplesi dan lebih umum digunakan.

2. Metode persentase
Deplesi dihitung sebagai suatu persentase dari pendapatan kotor, asalkan jumlah yang
dibebankan tidak melebihi 50% dari pendapatan bersih (100% untuk properti gas dan
minyak) sebelum pengurangan deplesi. Digunakan untuk hampir semua tipe tambang logam,
deposit geotermal, dan tambang batubara, tapi tidak untuk sumber hutan. Jika metode
persentase diterapkan untuk suatu properti, beban deplesi harus dihitung dengan kedua
metode. Beban yang lebih besar dapat digunakan untuk mengurangi basis properti.

Contoh penghitungan deplesi pada suatu perusahaan pertambangan


PT. Aneka Tambang baru-baru ini membeli sebidang tanah yang berada dipulau sumatera
yang mengandung bijih logam dengan harga $2,000,000. Cadangan yang dapat diperoleh
dari hasil tambang tersebut diperkirakan 500,000 ton.
a. Jika 75,000 ton bijih ditambang selama tahun pertama dan 50,000 ton dijual, berapa
beban deplesi untuk tahun pertama?
b. Seandainya pada akhir tahun pertama cadangan dievaluasi kembali dan diketahui hanya
400,000 ton. Jika 50,000 ton tambahan dijual pada tahun kedua, berapa beban deplesi untuk
tahun kedua?
Penyelesaian:
a. Satuan deplesi = $2,000,000/500,000 ton = $4.00 per ton.
Beban deplesi tahun 1 = 50,000 ton ($4.00/ton) = $200,000
b. Basis biaya pada akhir tahun kedua = $2,000,000 - $200,000 = $1,800,000.
Satuan deplesi = $1,800,000/400,000 ton = $4.50/ton
Beban deplesi tahun 2 = 50,000 ton ($4.50/ton) = $225,000

Depresiasi atau penyusutan dalam akuntansi adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat
disusutkan dari suatu aset selama umur manfaatnya.[1]. Penerapan depresiasi akan
memengaruhi laporan keuangan, termasuk penghasilan kena pajak suatu perusahaan.

Metode yang paling mudah dan paling sering digunakan untuk menghitung penyusutan
adalah metode penyusutan garis lurus (straight-line depreciation). Tapi selain itu, ada pula
metode penghitungan lain yang bisa juga digunakan, seperti metode penyusutan dipercepat,
penyusutan jumlah angka tahun, dan saldo menurun ganda.

Metode Garis-lurus:

Penyusutan (Depresiasi)

Penyusutan (depresiasi) adalah taksiran atas penurunan dari jasa potensial yang dimiliki
aktiva selama umur pemakaiannya. Istilah depresiasi ini khusus digunakan untuk
menunjukkan alokasi harga perolehan aktiva tetap yang berwujud dan dapat diganti
contohnya:

Gedung

Mesin

Peralatan

Dsb

Penting !!

Istilah ini tidak bisa digunakan untuk menyatakan biaya pemakaian aktiva-aktiva yang aus
(deplesi) dan juga bukan untuk aktiva tak berwujud (amortisasi). Atau istilah ini tidak bisa
juga di terapkan untuk menilai berkurangnya nilai aktiva akibat usang,
penurunan/kemerosotan.

Faktor-faktor dalam menentukan biaya penyusutan

Berikut ini merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan biaya penyusutan
secara berkala :

1. Harga Pokok Aktiva

Harga Pokok aktiva adalah semua yang terhitung sebagai pengeluaran untuk memperoleh
aktiva sampai aktiva tersebut siap dipakai, demikian pula kapitulasi yang dilakukan setelah
aktiva tersebut dipakai.

2. Nilai Sisa

Nilai sisa dikatakan sebagai nilai yang ditaksir yang diharapkan dapat direalisisr pada saat
aktiva tersebut tidak dapat dipergunakan lagi. Penetapan nilai sisa ini tergantung pada
kebiajakan perusahaan. Pada kenyataannya nilai ini sering diabaikan karena nilainya relatif
kecil dan sulit untuk mengadakan penaksiran secara tepat.
3. Taksiran umur ekonomis

Taksiran umur ekonomis pada suatu aktiva dipengaruhi oleh pola pemakaian dan kebijakan
manajemen perusahaan dalam perbaikan. Taksiran ini dapat dijabarkan dalam suatu periode
unit, waktu, atau satuan jam kerja. Dalam menaksir umur perlu dipertimbangkan penyebab
keausan fisik (gugus, keausan, kerusakan, kemunduran dan kehancuran) dan keausan
fungsional (perubahan permintaan dan kemajuan teknologi serta ketidakmampuan memenuhi
kebutuhan).

Biaya penyusutan merupakan suatu taksiran, ketelitiannya ditentukan oleh ketiga faktor
tersebut.

Ketelitian penetapan biaya penyusutan pun dengan sendirinya akan dipengaruhi perhitungan
besarnya laba rugi suatu perusahaan untuk setiap periode.

Metode Perhitungan Penyusutan (Depresiasi)

Beberapa metode ini dapat digunakan untuk menghitung beban depresiasi secara berkala
(periodic). Metode tersebut diantaranya adalah : (untuk contoh dan penjelasan lebih silahkan
klik linknya).

Metode Perhitungan Penyusutan berdasarkan Faktor Waktu :

1. Metode garis lurus

2. Metode beban menurun

Metode jumlah angka tahun

Metode saldo menurun

Metode saldo menurun dua kali (ganda)

Metode berdasarkan faktor pemakaian :

1. Metode jam jasa

2. Metode unit produksi

Metode tarif kelompok dan tarif gabungan :

1. Penyusutan kelompok

2. Penyusutan gabungan
Metode berdasarkan faktor lainnya :

1. Metode anuitas

2. Metode dana yang dialihkan

Metode Penyusutan Garis Lurus

Metode ini merupakan metode penyusutan yang sangat sederhana dan paling banyak
diterapkan pada perusahaan, Penerapan metode ini didasarkan dari beberapa anggapan
berikut ini:

1. Biaya tidak dipengaruhi oleh produktivitas atau penyimpangan efisiensi.

2. Biaya pemeliharaan dan perbaikan untuk setiap periode jumlahnya relatif stabil

3. Kegunaan ekonomis dari aktiva menurun proporsional setiap periode.

Metode garis lurus, penyusutan merupakan biaya yang sama / tetap setiap periode. Metode ini
sebaiknya digunakan untuk menghitung penyusutan aktiva tetap yang dipengaruhi perjalanan
waktu atau bukan oleh tingkat pemakaian contohnya : penyusutan gedung, peralatan kantor
dsb.

Jumlah penyusutan tahunan:


Sebagai contoh:

Pembelian satu unit mesin pada awal tahun dengan harga Rp. 50.000.000 dengan nilai sisa
sebesar Rp. 5.000.000 dan umur ekonomis diperkirakan selama 5 tahun.

Metode Penyusutan dengan Beban Menurun

1. Metode jumlah angka tahun

Metode ini diterapkan dengan cara menjumlahkan angka-angka dari taksiran umur ekonomis,
kemudian perhitungan penyusutan dimulai dari angka tertinggi dari umur aktiva yang terkait
dan selanjutnya menurun secara berurutan.

Misalnya, pembelian suatu aktiva pada awal tahun seharga Rp 50.000.000,- dengan nilai sisa
Rp 5.000.000,- dan perkiraan umur ekonomis diperkirakan 5 tahun.

Jumlah penyebut dilakukan dengan menjumlahkan angka tahun : 5+4+3+2+1 = 15


2. Metode saldo menurun

dalam penerapannya, perhitungan biaya penyusutan dengan cara mengalikan persentase


(tarif) tertentu dengan nilai buku suatu aktiva. Nilai buku pada setaip akhir tahun menurun
sehingga menimbulkan beban penurunan beban penyusutan. Tarif dihitung dengan rumus :

Misalnya pembelian suatu aktiva pada awal tahun seharga Rp 50.000.000,- dengan nilai sisa
Rp 5.000.000,- dan perkiraan umur ekonomis adalah 5 tahun.
Karena penyusutan merupakan suatu taksiran beban, tarif diatas dapat dibulatkan sehingga
akan praktis dalam perhitungannya, sedangkan selisih biaya yang terjadi dianggap tidak
terlalu penting.

3. Metode saldo menurun ganda

Beban penyusutan yang setiap tahun menurun akan dihitung dengan dasar persentase
depresiasi metode garis lurus. Kemudian, berikutnya persentase ini dikalikan dua dan setiap
tahunnya dikalikan dengan nilai buku aktiva tetap. Karena nilai buku selalu menurun maka
beban depresiasi juga selalu menurun.

Misalnya pembelian suatu aktiva pada awal tahun seharga Rp 50.000.000,- dengan nilai sisa
Rp 5.000.000,- dan taksiran umur ekonomis diperkirakan 5 tahun.

Berdasarkan hasil perhitungan diatas, ada perbedaan selisih sebesar 1.112.000 (5.000.000
3.888.000).

Itulah tadi penjelasan mengenai Metode Penyusutan Garis Lurus dan Beban Menurun Beserta
Contohnya. Semoga bermanfaat. Sekian dan terimakasih.

ESKALASI UNTUK PENYESUAIAN NILAI KONTRAK


YOHANES OE 21.01 kontrak-konstruksi No Comments

Eskalasi adalah tahapan-tahapan langkah yang harus dilalui untuk mewujudkan


target/cita-cita/visi/impian tadi.

Setiap kali pemerintah menaikkan harga BBM,


maka dapat dipastikan, hampir seluruh kegiatan
bisnis berusaha ikut menyesuaikan diri.
Penyesuaian ini akan berdampak pada bisnis
ikutan di belakangnya.

Ambil contoh, bisnis jasa konstruksi. Bisnis Jasa konstruksi tergolong bisnis yang
beresiko tinggi terhadap fluktuasi harga. Bisnis jasa konstruksi selalu mengalami
gejolak tidak menguntungkan bila dihadapkan pada problem kenaikan harga
BBM. Pasalnya, kontraktor harus menyelesaikan pekerjaan sesuai spesifikasi dan
harga pada kontrak. Yang dalam perjalanannya, kerap kali terjadi perubahan
harga di atas harga yang diprediksikan pada saat tender. Nah untuk kenaikan
harga yang jauh melampaui apa yang diprediksikan itu, membuat kontraktor
mau tidak mau harus mengusulkan penyesuaian harga atau eskalasi.

Berikut, rumusan / perhitungan eskalasi yang pernah dikeluarkan pemerintah


berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan di tahun 2005.

A. PERHITUNGAN ESKALASI

Hn = Ho {a + b(Bn/Bo) + c(Cn/Co) + d(Dn/Do) + }


Keterangan :

Hn = Harga satuan (barang dan jasa) hasil penyesuaian.


Ho = Harga satuan (barang dan jasa) sebelum penyesuaian.
a = Koefisien tetap yang terdiri dari overhead dan keuntungan.
Jika tidak dicantumkan dalam penawaran, maka nilainya = 0,15.
b,c,d..., dst = Penjumlahan koefisien-koefisien komponen utama = 0,85.
Penjumlahan a+b+c+d,dst = 1,00
Bn,Cn,Dn = Indeks harga Komponen pada bulan Oktober 2005.
Bo,Co,Do = Indeks harga komponen pada bulan September 2005.

B. PERHITUNGAN PENYESUAIAN NILAI KONTRAK

Pn = {Hn1 x V1} + {Hn2 x V2} + {Hn3 x V3} +


Keterangan :

Pn = Nilai kontrak hasil penyesuaian.

Hn = Harga satuan hasil penyesuaian.

V = Volume barang dan jasa pemborongan.

TATA CARA PERHITUNGAN ESKALASI

DAN PENYESUAIAN NILAI KONTRAK

A. Perhitungan eskalasi menggunakan rumus sbb :

B
n c D
n n
HN = a+
+ c. + d. +
HO b.
Bo co D
o

Keterangan :
Hn = Harga satuan barang dan jasa pemborongan hasil penyesuaian.

Ho = Harga satuan pada saat pekerjaan dilaksanakan atau pengadaan barang dan
jasa pemborongan diserahkan.

a = Koefisien tetap yang terdiri dari overhead dan keuntungan yang tidak
dicantumkan dalam penawaran maka nilainya = 0,15.

b,c,d..., dst = Penjumlahan koefisien-koefisien komponen utama = 0,85.

Penjumlahan a+b+c+d,dst = 1,00

Bn,Cn,Dn = Indeks harga Komponen pada bulan Oktober 2005.

Bo,Co,Do = Indeks harga komponen pada bulan September 2005.

(1 Koefisien komponen utama pekerjaan ditetapkan oleh :


)

a Departemen Pekerjaan Umum/Dinas Bidang Pekerjaan Umum untuk pekerjaan Jasa


) pemborongan.

b Departemen teknis/kantor wilayah departemen teknis/dinas teknis untuk pekerjaan teknis


) lainnya.

c) Kesepakatan antara Kepala Satuan Kerja dan rekanan untuk pekerjaan lain yang disetujui
oleh Departemen teknis atau kantor wilayah departemen teknis/dinas teknis yang
bersangkutan.

(2 Indeks harga yang digunakan adalah yang dikeluarkan BPS provinsi/kabupaten/kota.


)

(3 Indeks harga lainnya yang dapat digunakan setelah mendapat persetujuan departemen
) teknis atau kantor wilayah departemen teknis yang bersangkutan.

(4 Daftar harga dapat disusun oleh asosiasi, Kepala Satuan Kerja atau rekanan berdasarkan
) harga pasar untuk disampaikan kepada departemen teknis atau kantor wilayah departemen
teknis yang bersangkutan guna dinilai kewajarannya dan kemudian disetujui untuk dijadikan
dasar perhitungan penyesuaian harga.

B. Perhitungan nilai kontrak menggunakan rumus :

Pn = {Hn1 x V1} + {Hn2 x V2} + {Hn3 x V3} + dst

Keterangan :

Pn = Nilai kontrak hasil penyesuaian.

Hn = Harga satuan hasil penyesuaian.

V = Volume barang dan jasa pemborongan.

(1 Perhitungan nilai eskalasi kontrak dilakukan untuk pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam
) pasal 3 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan ini.

(2 Perhitungan penyesuaian harga dilakukan oleh Kepala Satuan Kerja/Satuan Kerja Sementara
) dan rekanan, selanjutnya diajukan ke Departemen PU/Departemen Teknis/Dinas Bidang
Pekerjaaan Umum untuk pekerjaan barang dan jasa pemborongan untuk mendapatkan
penetapan sesuai dengan jenis DIPA.

(3 Jika diperlukan revisi DIPA atau dokumen yang dipersamakan, maka berdasarkan
) perhitungan penyesuaian harga yang telah ditetapkan oleh Departemen PU/Departemen
Teknis/Dinas Bidang Pekerjaan Umum untuk pekerjaan barang dan jasa pemborongan,
Kepala Satuan Kerja/Satuan Kerja Sementara memproses revisi DIPA atau dokumen yang
dipersamakan.

MENTERI KEUANGAN,

ttd.

JUSUF ANWAR
1. AMORTISASI

2. A. Pengertian Amortisasi

Pada UU PPh menggunakan istilah harta tak berwujud tidak dengan asset tetapi mempunyai
pengertian yang sama dengan asset dalam SAK. Seperti yang telah dilakukan pada asset tetap
berwujud, nilai asset tetap tah berwujud harus juga dilakukan penyusutan yang disebut juga
dengan Amortisasi.

Pengertian asset tak berwujud adalah asset tak lancar (non-current asset) dan tak berbentuk
yang memberikan hak keekonomian dan hukum kepada pemiliknya dan dalam laporan
keuangan tidak dicakup secara terpisah dalam klasifikasi asset yang lain (PSAK no 19).
Termasuk dalam asset tak berwujud adalah hak paten, Good Will, hak merk.

Harta tak berwujud digolongkan menjadi:

1. Kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 4 tahun.

2. Kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 8 tahun

3. Kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 16 tahun

4. Kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 20 tahun

2. Metode Amortisasi

Metode amortisasi yang dipergunakan adalah metode garis lurus (straight line method) dan
metode saldo menurun (declining balance method). Wajib pajak diperkenankan untuk
memilih salah satu metode untuk melakukan amortisasi.

3. Kelompok Aset Tetap Tak Berwujud Dan Tarif Amortisasi

Dalam menghitung amortisasi asset tetap tidak berwujud terlebih dahulu harus
dikelompokkan sesuai dengan masa manfaatnya. Untuk lebih jelasnya pengelompokkan masa
manfaat dan tariff penyusutan terlihat sebagai berikut:

Kelompok Harta Tak Masa Tarif Amortsasi berdasarkan Tarif Amortsasi berdasarkan
Berwujud Manfaat metode garis lurus metode saldo menurun

Kelompok 1 4 tahun 25% 50%

Kelompok 2 8 tahun 12,50% 25%

Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,50%


Kelompok 4 20 tahun 5% 10%

Penetapan masa manfaat dan tariff amortisasi diatas dimaksudkan untuk memberikan
keseragaman dalam melakukan amortisasi. Metode yang digunakan sesuai dengan metode
yang dipilih berdasarkan masa manfaat yang sebenarnya. Kemungkinan dapat terjadi masa
manfaat asset tetap tak berwujud tidak tercantum pada kelompok masa manfaat, sehingga
wajib pajak menggunakan masa manfaat terdekat. Sebagai contoh asset tetap tak berwujud
masa manfaat sebenarnya 6 tahun, dapat menggunakan masa manfaat 4 tahun atau 8 tahun.
Apabila masa manfaat sebenarnya 5 tahun maka menggunakan kelompok masa manfaat 4
tahun.

4. Contoh Perhitungan Amortisasi

PT Asti Jaya pada tanggal 4 November 2001 mengeluarkan uang sebanyak Rp.
100.000.000,00 untuk memperoleh hak lisensi dari Phoenixcyle Ltd. selama 4 tahun untuk
memproduksi Sepeda Phoenix. Perhitungan amortisasi hak lisensi tersebut adalah sebagai
berikut:

Alternatif I : Metode Garis Lurus

Amortisasi tahun 2001:

25% x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 25.000.000,00

Amortisasi tahun 2002:

25% x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 25.000.000,00

Amortisasi tahun 2003:

25% x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 25.000.000,00

Amortisasi tahun 2004:

25% x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 25.000.000,00

Alternatif II : Metode Saldo Menurut

Amortisasi tahun 2001:

50% x Rp. 100.000.000,00 = Rp. 50.000.000,00

Amortisasi tahun 2002:

50% x (Rp. 100.000.000,00 Rp. 50.000.000,00)


50% x Rp. 50.000.000,00 = Rp. 25.000.000,00

Amortisasi tahun 2003:

50% x (Rp. 50.000.000,00 Rp. 25.000.000,00)

50% x Rp. 25.000.000,00 = Rp. 12.500.000,00

Amortisasi tahun 2004:

Karena tahun 2004 merupakan akhir masa manfaat, maka pada tahun 2004 seluruh sisa nilai
buku diamortisasikan sekaligus sehingga amortisasi tahun 2004 adalah:

(Rp. 25.000.000,00 Rp. 12.500.000,00) = Rp. 12.500.000,00

5. Amortisasi Berdasar Metode Satuan Produksi

1. Hak atau Pengeluaran di bidang Penambangan minyak dan gas bumi

Amortisasi dengan metode satuan produksi diterapkan pada amortisasi atas pengeluaran
untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1
tahun di bidang penambangan minyak dan gas bumi. Dalam hal ini, metode satuan produksi
dilakukan dengan menerapkan persentase tariff amortisasi yang besarnya setiap tahun sama
dengan persentase perbandingan antara realisasi penambangan minyak dan gas bumi pada
tahun yang bersangkutan dengan taksiran jumlah seluruh kandungan minyak dan gas bumi
dilokasi tersebut yang dapat diproduksi.

Contoh:

Pada tahun 2001 PT Dira Oil mengeluarkan uangnya sebesar Rp. 1.000.000.000,00 unutk
memperoleh hak penambangan minyak bumi. Kandungan minyak bumi ditaksir sebesar
5.000.000 barel. Produksi bumi tahun 2002 mencapai 1.500.000 barel. Besarnya amortisasi
untuk tahun 2002 adalah:

Tarif amortisasi = (realisasi penambangan : taksiran kandungan) x 100%

= (1.500.000 : 5.000.000) x 100%

= 30%

Amortisasi 2002 = 30% x Rp 1.000.000.000,00

= Rp. 300.000.000,00

Seandainya jumlah produksi yang sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan, sehingga
masih terdapat sisa pengeluaran yang belum diamortisasi, maka atas sisa tersebut boleh
dibebankan sekaligus dalam tahun pajak yang bersangkutan.
1. Hak penambangan selain minyak dan gas bumi, hak pengusahaan hutan, hak
pengusahaan sumber, dan hasil alam lainnya

Amortisasi dengan metode satuan produksi setinggi-tingginya 20% setahun, diterapakan pada
amortisasi atas:

1. Pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain minyak dan gas bumi

2. Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan

3. Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan sumber dan hasil alam lainnya,
yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun.

Contoh:

PT DiraWood pada tahun 2002 mengeluarkan uang sebesar Rp. 1.000.000.000,00 untuk
memperoleh hak pengusahaan hutan. Potensi hak pengusahaan hutan adalah 20.000.000 ton.
Jumlah produksi pada tahun 2002 adalah sebesar 8.000.000 ton. Jumlah yang diamortisasi
dengan persentase satuan produksi yang direalisasikan dalam tahun 2002 adalah sebesar:

(8.000.000 : 20.000.000) ton x Rp. 1.000.000.000,00 =

40% x Rp. 1.000.000.000,00 = Rp. 400.000.000,00

Jumlah yang telah diamortisasi maksimum adalah 20% dari pengeluaran, maka amortisasi
yang diperkenankan hanyalah sebesar 20% x Rp 1.000.000.000,00 = Rp. 200.000.000,00

1. IV. REVALUASI (PENILAIAN KEMBALI AKTIVA TETAP)

1. A. Revaluasi Aktiva Tetap Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan

Revaluasi aktiva tetap dalam akuntansi pada umumnya tidak diperkenankan kecuali
ditentukan berdasarkan ketentuan pemerintah, misalnya peraturan pajak. Dalam PSAK 16
disebutkan bahwa penilaian kembali aktiva tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena
standar akuntansi keuangan menganut penilaian aktiva berdasarkan harga perolehan atau
harga pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan
ketentuan pemerintah. Dalam hal ini laporan keuangan harus menjelaskan mengenai
penyimpangan dari konsep harga perolehan di dalam penyajian aktiva tetap serta pengaruh
penyimpangan tersebut terhadap gambaran keuangan perusahaan. Selisih revaluasi dengan
buku (nilai tercatat) aktiva tetap dibukukan dalam akun modal dengan nama selisih penilaian
kembali aktiva tetap.

Revaluasi atau pernyataan kembali (restatement) aktiva dan kewajiban menimbulkan


kenaikan atau penurunan ekuitas. Meskipun memenuhi definisi penghasilan dan beban,
menurut konsep pemeliharaan modal tertentu, kenaikan dan penurunan ini tidak dimasukkan
dalam laporan laba rugi. Sebagai alternative pos ini dimasukkan ke dalam ekuitas sebagai
penyesuaian pemeliharaan modal atau cadangan revaluasi.

1. B. Revaluasi Aktiva Tetap Berdasarkan Undang-Undang Pajak


Berdasarkan Kepmenkeu No.384/KMK.04/1998 tanggal 14 Agustus 1998 dan Surat Edaran
Dirjen. Pajak No. 29/PJ.42/1998, diatur mengenai:

Yang dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap adalah Wajib Pajak Badan dalam negeri
yang telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum
masa pajak dilakukannya penilaian kembali. Kewajiban pajak tersebut adalah semua
kewajiban dari Wajib Pajak yang bersangkutan, seperti Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Pajak Bumi dan Bangunan
yang telah terutang sampai dengan masa pajak sebelum masa pajak dilakukannya penilaian
kembali.

Aktiva tetap yang dapat dilakukan penilaian kembali adalah semua aktiva berwujud dalam
bentuk tanah, kelompok bangunan dan bukan bangunan yang tidak dimaksudkan untuk
dialihkan atau dijual (bukan barang dagangan) yang terletak atau berada di Indonesia.
Penilaian kembali harus dilakukan oleh perusahaan penilai atau penilai yang diakui oleh
Pemerintah.

Penilaian kembali aktiva tetap dihitung/dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar
yang berlaku pada saat dilakukannya penilaian kembali. Dalam hal nilai pasar atau nilai wajar
yang ditetapkan oleh perusahaan penilai ternyata tidak mencerminkan keadaan yang
sebenarnya, maka dalam rangka perhitungan pajak. Direktur Jendral Pajak dapat menetapkan
kembali nilai pasar atau nilai wajar aktiva yang bersangkutan.

1. C. Perlakuan Pajak Atas Selisih Lebih Penilaian Kembali Aktiva

Selisih lebih antara nilai pasar atau nilai wajar dengan nilai buku fiskal aktiva tetap yang
dinilai kembali, terlebih dahulu wajib dikompensasikan dengan kerugian fiskal tahun
berjalan. Jika masih terdapat sisa lebih, dapat dikompensasikan dengan sisa kerugian fiskal
tahun-tahun sebelumnya yang masih dapat dikompensasikan. Atas selisih lebih penilaian
kembali aktiva tetap setelah dilakukan kompensasi kerugian, dikenakan PPh yang bersifat
final sebesar 10%.

Contoh:

Pada akhir tahun 2002, PT Sukses melakukan penilaian kembali aktiva tetapnya. Nilai buku
fiskal aktiva yang dinilai kembali per 31 Desember 2002 adalah Rp. 100.000.000,00. Nilai
wajar aktiva tersebut adalah Rp 175.000.000,00. Sisa kerugian fiskal tahun sebelumnya yang
masih dapat dikompensasikan adalah Rp 25.000.000,00. Besarnya PPh atas selisih lebih
penilaian kembali aktiva adalah sebesar:

Nilai wajar aktiva Rp. 175.000.000,00

Nilai buku fiskal aktiva 100.000.000,00

Selisih lebih penilaian kembali aktiva Rp. 75.000.000,00

Kerugian fiskal yang dapat dikompensasikan 25.000.000,00

Selisih lebih setelah kompensasi Rp. 50.000.000,00


PPh = Rp. 50.000.000,00 x 10%

= Rp. 5.000.000,00 (bersifat final)

DAFTAR PUSTAKA

Gunadi, 2001, Restrukturisasi Perusahaan dalam Berbagai Bentuk dan Pemajakannya,


Jakarta: Salemba Empat.

Mardiasmo, 2009, Perpajakan, Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.

Suandy Erly, 2001, Perencanaan Pajak, Jakarta: Salemba Empat.

Waluyo, 2008, Perpajakan Indonesia, Jakarta: Salemba Empat

Cara Menghitung Amortisasi


2 Metode:Menghitung Bunga dan Pokok Pinjaman pada Bulan PertamaMenghitung
Amortisasi untuk Keseluruhan Pinjaman

Amortisasi (amortization) merujuk kepada pengurangan utang berjalan dengan membayar


jumlah yang sama pada setiap periode (biasanya bulanan). Dengan amortisasi, pembayaran
utang terdiri atas pembayaran pokok (principal) dan pembayaran bunga (interest). Pokok
adalah saldo pinjaman yang masih beredar. Karena semakin banyaknya pokok yang
dibayarkan, maka pembayaran bunga semakin berkurang. Seiring waktu, porsi pembayaran
bunga tiap bulan akan berkurang dan pembayaran porsi pokok meningkat. Amortisasi
biasanya ditemui saat melakukan pinjaman hipotek atau mobil, tetapi (dalam akuntansi)
amortisasi juga mengacu kepada pengurangan nilai aset tidak berwujud seiring waktu secara
periodik.

Metode 1

Menghitung Bunga dan Pokok Pinjaman pada Bulan Pertama


1.

Kumpulkan informasi untuk menghitung amortisasi pinjaman.


Anda membutuhkan jumlah pokok pinjaman dan suku bunga (interest
rate). Untuk menghitung amortisasi, Anda membutuhkan syarat pinjaman
dan jumlah pembayaran tiap periode. Dalam kasus ini, Anda akan
menghitung amortisasi bulanan.[1]

o Jumlah pokok pinjaman adalah saldo beredar pinjaman saat ini


(Rp1.000.000.000).

o Suku bunga (6%) pada pinjaman adalah suku bunga tahunan. Anda
perlu mengubahnya menjadi suku bunga bulanan.

o Syarat pinjaman adalah 360 bulan (30 tahun). Karena amortisasi


merupakan perhitungan secara bulanan, maka satuan tahun diubah
menjadi bulan.
o Jumlah pembayaran bulanan adalah Rp5.999.500. Jumlah
pembayaran tiap bulan tetap sama, tetapi porsi pembayaran pokok
dan bunga akan berubah tiap bulannya.

2. 2

Siapkan kertas kerja (spreadsheet). Perhitungan ini akan melibatkan


beberapa bagian yang bergerak dan sebaiknya dilakukan pada kertas
kerja karena Anda perlu memasukkan semua info yang relevan pada
kolom akun judul, misalnya: Pokok, Pembayaran Bunga, Pembayaran
Pokok, dan Saldo Akhir Pokok.

o Total jumlah baris di bawah judul-judul adalah 360 untuk mencatat


pembayaran tiap bulan.

o Kertas kerja akan membuat perhitungan dapat dilakukan dengan


cepat karena jika dilakukan dengan benar, persamaan hanya
dimasukkan sekali saja (atau dua kali, karena Anda menggunakan
perhitungan bulan sebelumnya untuk melengkapi semua
perhitungan berikutnya).

o Jika sudah dimasukkan dengan benar, cukup tarik persamaan ke


bawah dan mengisi sel-sel yang tersisa untuk menghitung
amortisasi sepanjang masa pinjaman.

o Mungkin lebih baik jika Anda menyisihkan satu set kolom yang
terpisah dan memasukkan variabel pinjaman utama (misalnya
pembayaran bulanan, suku bunga) karena Anda akan dapat melihat
dampak perubahan terhadap semua variabel di sepanjang masa
pinjaman.
3.

Hitunglah porsi bunga dari pembayaran bulanan pada bulan


pertama. Perhitungan ini melibatkan beberapa langkah. Anda perlu
mengubah suku bunga tahunan atau paruh tahunan menjadi bulanan.
[2]
Suku bunga bulanan digunakan untuk menghitung bunga tiap bulannya.

o Pinjaman yang memiliki amortisasi, seperti hipotek atau mobil,


mensyaratkan pembayaran bulanan. Oleh karenanya, Anda perlu
menghitung porsi bunga dan pokok tiap pembayaran setiap
bulannya.

o Carilah suku bunga bulanan. Dari contoh sebelumnya, (suku bunga


tahunan 6% dibagi dengan 12 = suku bunga bulanan 0.005).

o Kalikan jumlah pokok dengan suku bunga bulanan:


(Rp1.000.000.000 pokok dikalikan 0.005 = bunga bulan pertama
Rp5.000.000).
4.

Hitung porsi pembayaran pokok di bulan pertama. Kurangkan


dengan jumlah pembayaran bulanan dengan bunga bulan terkait untuk
menghitung porsi pembayaran pokok.[3]

o Kurangkan pembayaran bunga bulan terkait dari pembayaran


bulanan untuk memperoleh pembayaran pokok: (pembayaran
Rp5.995.500 bunga Rp5.000.000 = pembayaran pokok
Rp995.500).

o Karena sebagian pokok sudah dibayarkan, maka jumlah bunga


terhadap pokok akan berkurang. Tiap bulan, porsi pembayaran
pokok dari pembayaran bulanan akan meningkat.
5.

Gunakan jumlah pokok yang baru pada akhir bulan pertama untuk
menghitung amortisasi pada bulan kedua. Setiap kali Anda
menghitung amortisasi, Anda mengurangkan jumlah pokok dibayarkan
pada bulan sebelumnya.[4]

o Hitunglah jumlah pokok di bulan kedua: (Pokok Rp1.000.000.000


pembayaran pokok Rp995.500 = Rp99.904.500).

o Hitunglah bunga pada bulan kedua: (Pokok Rp99.904.500 X 0.005 =


Rp4.995.000).
6.

Tentukan pembayaran pokok di bulan kedua. Seperti perhitungan


pada bulan pertama, bunga pada bulan terkait dikurangi dari total
pembayaran bulanan. Jumlah sisanya adalah pembayaran pokok untuk
bulan terkait. [5]

o Hitunglah pembayaran pokok di bulan kedua: (Rp5.995.500.55 -


Rp4.995.000 = Rp1.000.500).

o Pembayaran pokok di bulan kedua (Rp1.000.500) jumlahnya lebih


besar dari bulan pertama (Rp995.500). Karena saldo pokok total
berkurang tiap bulannya, bunga yang dibayarkan tiap bulan juga
berkurang sehingga porsi pembayaran bunga pada pembayaran
bulanan juga berkurang. Di bulan pertama bunga yang dibayarkan
adalah Rp5.000.000. Di bulan kedua, bunga yang dibayar hanya
Rp4.995.000.
o Karena pembayaran bunga yang disyaratkan berkurang, maka porsi
pembayaran pokok bulanan jadi meningkat.

Metode 2

Menghitung Amortisasi untuk Keseluruhan Pinjaman

1.

Analisis tren yang muncul seiring waktu. Anda dapat melihat saldo
pokok pinjaman semakin berkurang tiap bulannya. Oleh karena jumlah
pokok berkurang, bunga yang dibayarkan juga turut berkurang. Seiring
waktu, jumlah yang tumbuh pada tiap pembayaran bulanan pergi menuju
pokok pinjaman. [6]

o Hitunglah saldo pokok baru untuk menghitung bunga di bulan


ketiga: (Rp999.004.500 - Rp1.000.500 = Rp998.004.000).
o Hitung bunga untuk bulan ketiga: (Rp998.004.000 X suku bunga
bulanan 0.005 = Rp4.990.000).

o Hitung pembayaran pokok di bulan ketiga: (Pembayaran bunga


Rp5.995.500 bunga di bula ketiga Rp4.990.000 = Rp1.005.500).

2.

Pertimbangkan dampak amortisasi pada akhir masa pinjaman.


Anda akan melihat, seiring waktu jumlah bunga yang dibayarkan
berkurang. Porsi pembayaran pokok pada tiap pembayaran pinjaman
meningkat seiring waktu. [7]

o Pembayaran bunga menurun sampai mendekati nol. Pada bulan


terakhir masa pinjaman, jumlah pembayaran bunga adalah
Rp29.800.
o Pada akhir periode masa pinjaman, porsi pembayaran pokok adalah
(Rp5.963.700), jumlah yang hampir mendekati keseluruham jumlah
pembayaran pinjaman.

o Jumlah saldo pokok pinjaman pada akhir masa pinjaman adalah


Rp0.

3.

Gunakan konsep amortisasi untuk membuat keputusan keuangan


yang cerdas. Karena pinjaman hipotek dan mobil menggunakan
amortisasi, Anda perlu memahami konsep ini. Anda dapat menggunakan
pengetahuan ini untuk mengelola utang pribadi Anda. [8]

o Kapan pun dimungkinkan, lakukan pembayaran ekstra untuk


mengurangi jumlah pokok pinjaman lebih cepat. Semakin cepat
pokok pinjaman bisa dikurangi, jumlah bunga yang dibayarkan juga
semakin berkurang.
o Pertimbangkan suku bunga pada utang yang beredar. Pembayaran
ekstra Anda akan emmiliki dampak terbesar terhadap utang dengan
suku bunga tertinggi. Sebaiknya Anda mengurangi jumlah pokok
utang dengan suku bunga tertinggi.

o Anda dapat menemukan kalkulator amortisasi di internet. Gunakan


kalkulator ini untuk menghitung bunga yang Anda hemat jika
membuat pembayaran ekstra. Katakanlah, pembayaran ekstra Anda
mengurangi pokok dari Rp100.000.000 menjadi Rp99.000.000.

o Gunakan Rp100.000.000 dan hitung amortisasi sepanjang masa


pinjaman. Ganti pokok dari Rp100.000.000 menjadi Rp99.000.000
dan hitung kembali dengan kalkulator. Lihatlah bunga total yang
dibayarkan sepanjang masa pinjaman. Anda akan melihat
perbedaannya, berdasarkan pembayaran pokok ekstra sebesar
Rp1.000.000

Payback Period dan Penjelasannya


Posted on 10 Juli 2014 by julrahmatiyalfajri

Pengertian Payback Period

Menurut Abdul Choliq dkk (2004) payback period dapat diartikan sebagai jangka waktu
kembalinya investasi yang telah dikeluarkan, melalui keuntungan yang diperoleh dari suatu
proyek yang telah direncanakan. Sedangkan menurut Bambang Riyanto (2004) payback
period adalah suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran
investasi dengan menggunakan proceeds atau aliran kas netto (net cash flows).

Selanjutnua menurut Djarwanto Ps (2003) menyatakan bahwa payback period lamanya waktu
yang diperlukan untuk menutup kembali original cash outlay.
Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian tersebut maka dapat dikatakan bahwa payback
period dari suatu investasi menggambarkan panjang waktu yang diperlukan agar dana yang
tertanam pada suatu investasi dapat diperoleh kembali seluruhnya. Analisis payback period
dalam studi kelayakan perlu juga ditampilkan untuk mengetahui seberapa lama usaha/proyek
yang dikerjakan baru dapat mengembalikan investasi.
Metode analisis payback period bertujuan untuk mengetahui seberapa lama (periode)
investasi akan dapat dikembalikan saat terjadinya kondisi break even-point (jumlah arus kas
masuk sama dengan jumlah arus kas keluar). Analisis payback period dihitung dengan cara
menghitung waktu yang diperlukan pada saat total arus kas masuk sama dengan total arus kas
keluar. Dari hasil analisis payback period ini nantinya alternatif yang akan dipilih adalah
alternatif dengan periode pengembalian lebih singkat. Penggunaan analisis ini hanya
disarankan untuk mendapatkan informasi tambahan guna mengukur seberapa cepat
pengembalian modal yang diinvestasikan.

Rumus Payback Periode


Rumus periode pengembalian jika arus kas per tahun jumlahnya berbeda
Payback Period=n+(a-b)/(c-b) x 1 tahun
n = Tahun terakhir dimana jumlah arus kas masih belum bisa menutup investasi mula-mula
a = Jumlah investasi mula-mula
b = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n
c = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n + 1
Rumus periode pengembalian jika arus kas per tahun jumlahnya sama
Payback Peiod=(investasi awal)/(arus kas) x 1 tahun

Periode pengembalian lebih cepat : layak


Periode pengembalian lebih lama : tidak layak
Jika usulan proyek investasi lebih dari satu, maka periode pengembalian yang lebih cepat
yang dipilih

Kelebihan dan Kelemahan Payback Period


Kelebihan
Metode payback period akan dengan mudah dan sederhana bisa di hitung untuk mennentukan
lamanya waktu pengembalian dana investasi.
Memberikan informasi mengenai lamanya break even project.
Bisa digunakan sebagai alat pertimbangan resiko karena semakin pendek payback periodnya
maka semakin pendek pula resiko kerugiannya.
Dapat digunakan untuk membandingkan dua proyek yang memiliki resiko dan rate of return
yang sama dengan cara melihat jangka waktu pengembalian investasi (payback period)
apabila payback period-nya lebih pendek itu yang dipilih.
Kelemahan
Metode ini mengabaikan penerimaan-penerimaan investasi atau proceeds yang diperoleh
sesudah payback periode tercapai.
Metode ini juga mengabaikan time value of money (nilai waktu uang).
Tidak memberikan informasi mengenai tambahan value untuk perusahaan.
Payback periods digunakan untuk mengukur kecapatan kembalinya dana, dan tidak
mengukur keuntungan proyek pembangunan yang telah direncanakan.

Contoh Perhitungan Payback Period


Contoh kasus arus kas setiap tahun jumlahnya sama
PT. Semakin Jaya melakukan investasi sebesar $ 45.000, jumlah proceed per tahun adalah $
22.500, maka payback periodnya adalah:
Payback Peiod=(investasi awal)/(arus kas) x 1 tahun
Payback Peiod=($ 45.000)/($ 22.500) x 1 tahun
Payback Period=2 tahun
Payback Period dari investasi tersebut adalah dua tahun. Artinya dana yang tertanam dalam
aktiva sebesar $. 45.000 akan dapat diperoleh kembali dalam jangka waktu dua tahun.
Apabila investor dihadapkan pada dua pilihan investasi, maka pilih payback period yang
paling kecil.
Contoh kasus arus kas setiap tahun jumlahnya berbeda
PT. Jaya Mandiri melakukan investasi sebesar $ 100.000 pada aktiva tetap, dengan proceed
sebagai berikut:

Tahun Proceed Proceed Kumulatif


1 $ 50.000 $ 50.000
2 $ 40.000 $ 90.000
3 $ 30.000 $ 120.000
4 $ 20.000 $ 140.000
Maka payback periodnya adalah:
Payback Period=n+(a-b)/(c-b) x 1 tahun
Payback Period=2+($ 100.000-$ 90.000)/($ 120.000-$ 90.000) x 1 tahun
Payback Period=2+($ 10.000)/($ 30.000) x 1 tahun
Payback Period=2,33 tahun atau 2 tahun 4 bulan

DAFTAR PUSTAKA

http://sunethz.blogspot.com/2011/06/kelebihan-dan-kelemahan-dari-masing.html
http://desy-pinarningrum.blogspot.com/2011/11/perbedaan-dan-fungsi-dari-metode-pbp.html
http://madces.blogspot.com/2011/02/capital-budgeting-decision-process.htm
http://henikaweningwening.blogspot.com/2012/10/metode-payback-period.html

PAY BACK PERIOD (PBP)

PBP adalah jangka wakyu tertentu yang menentukan terjadinya arus penerimaan (cash in
flow) yang secara kumulatif sama dengan jumlah investasi dalam bentuk present value. PBP
biasa digunakan untuk mengetahui berapa lama proyek dapat mengembalikan investasi.
Adapun rumus PBP yaitu :

BREAK EVEN POINT (BEP)

BEP adalah titik pulang pokok dimana TR (total pendapatan) = TC (ongkos total), atau
sebuah titik dimana biaya atau pengeluaran dan pendapatan adalah seimbang sehingga tidak
terdapat kerugian atau keuntungan. Hal tersebut dapat terjadi bila perusahaan dalam
operasinya menggunakan biaya tetap, dan volume penjualan hanya cukup untuk menutup
biaya tetap dan biaya variabel. Terjadinya BEP tergantung pada lama arus penerimaan sebuah
proyek dapat menutupi segala biaya operasi dan pemeliharaan serta biaya modal lainnya.
Adapun rumus BEP yaitu :
Perbedaan BEP dan PBP yaitu satuan jangka waktu yang digunakan untuk mengembalikan
nilai sisa uang dari investasi. BEP tergantung pada lama arus penerimaan, sedangkan PBP
untuk mengetahui berapa lama proyek dapat mengembalikan investasi

NPV
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

NPV merupakan selisih antara pengeluaran dan pemasukan yang telah didiskon dengan
menggunakan social opportunity cost of capital sebagai diskon faktor, atau dengan kata lain
merupakan arus kas yang diperkirakan pada masa yang akan datang yang didiskonkan pada
saat ini.Untuk menghitung NPV diperlukan data tentang perkiraan biaya investasi, biaya
operasi, dan pemeliharaan serta perkiraan manfaat/benefit dari proyek yang direncanakan.

Rumus yang digunakan


Arus kas masuk dan keluar yang didiskonkan pada saat ini (present value (PV)). yang
dijumlahkan selama masa hidup dari proyek tersebut dihitung dengan rumus:

dimana:

t - waktu arus kas

i - adalah suku bunga diskonto yang digunakan

- arus kas bersih (the net cash flow) dalam waktu t

Suku bunga yang dipakai harus sejalan (satuan yang sama) dengan waktu arus kas. Bila
waktu arus kas dalam satuan tahun, maka suku bunga juga dalam periode satu tahun,
demikian pula bila waktunya dalam satuan bulan.

Arti perhitungan NPV


Pada tabel berikut ditunjukkan arti dari perhitungan NPV terhadap keputusan investasi yang
akan dilakukan.

Bila..
Berarti... Maka...
.

NPV investasi yang dilakukan proyek bisa dijalankan


>0 memberikan manfaat
bagi perusahaan

investasi yang dilakukan


NPV akan mengakibatkan
proyek ditolak
<0 kerugian bagi
perusahaan

Kalau proyek dilaksanakan atau tidak


investasi yang dilakukan
dilaksanakan tidak berpengaruh pada keuangan
NPV tidak mengakibatkan
perusahaan. Keputusan harus ditetapkan dengan
=0 perusahaan untung
menggunakan kriteria lain misalnya dampak
ataupun merugi
investasi terhadap positioning perusahaan.

Net Present Value (NPV) Menurut Para Ahli

Net Present Value

Definisi Net Present Value

Setiap perusahaan menginvestasikan modal dalam usahanya

dengan harapan memperoleh keuntungan dari investasi yang

ditanamkannya, prediksi pengukuran seberapa keuntungan tersebut

bisa diperoleh oleh perusahaan dari jumlah investasi yang

dikeluarkannya adalah dengan Net Present Value (NPV).

Menurut R. Agus Sartono (2010:195) menyatakan bahwa :


Net Present Value adalah Selisih antara present value aliran kas

bersih atau sering disebut juga dengan procceed dengan present value

Investasi

Menurut Freddy Rangkuti (2012:159) :

NPV merupakan salah satu alat ukur untuk mengetahui

profitabilitas investasi yang kita tanamkan

Menurut Dina A. (2010:198) :

NPV (net present value) merupakan nilai dari proyek yang

bersangkutan yang diperoleh berdasarkan selisih antara cash flow

yang dihasilkan terhadap investasi yang dikeluarkan.

Keungguln Net Present Value

Menurut Freddy Rangkuti (2012:159) menyatakan bahwa net

present value mempunyai keunggulan dalam mengetahui profitabilitas

investasi, yaitu :

1. Dapat mengetahui time value of money atau nilai rupiah saat ini
memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rupiah
yang akan diterima dimasa yang akan datang.
2. Menggunakan seluruh nilai cash flow yang dimiliki suatu proyek.
3. Perhitungan NPV bersifat objektif karena menggunakan ukuran yang
sudah jelas yaitu estimasi cash flow dan discount rate.
4. Bersifat Value-additivitty principle, masing-masing NPV suatu
proyek dapat dijumlahkan. Artinya, jumlah NPV tersebut dapat
meningkatkan nilai suatu perusahaan. Selain itu, kita dapat
mengevaluasi nilai masing-masing proyek.
5. Metode NPV selalu Konsisten dengan tujuan memaksimalakan nilai
suatu proyek.

Perhitungan NPV

Menurut Bambang Riyanto (2012:128) NPV dapat dihitung

menggunakan Rumus :

Keterangan :

K = Discount Rate

At = Cash Flow

t = Periode

n = periode terahir dimana cashflow diharapkan

Metode Net Present Value (NPV) merupakan metode penilaian investasi klasik yang sampai
saat ini paling populer digunakan.
Internal Rate of Return (IRR) IRR adalah salah satu metode untuk mengukur tingkat
investasi. Tingkat investasi adalah suatu tingkat bunga di mana seluruh net cash flow setelah
dikalikan discount factor atau
telah di-present value-kan, nilainya sama dengan initial investment (biaya invetasi).
di mana : Ct dimulai dari C1, C2, ... Cn dan
merupakan net cash flow mulai dari
tahun 1,2, ... sampai dengan tahun
ke-n.
Co adalah initial cost atau biaya
investasi yang diperlukan.
n adalah perkiraan umur projek.
r adalah tingkat bunga.
Apabila kita membandingkan rumus IRR tersebut dengan rumus NPV, kita akan melihat
sedikit perbedaan, yaitu pada metode NPV rate of return ( k ) diasumsikan diketahui.
Sedangkan pada metode IRR, nilai r harus
diketahui dengan asumsi nilai NPV sama dengan nol. Pada umumnya, masalah yang sering
kita hadapi dalam perhitungan IRR adalah menentukan berapa besar nilai r pada kondisi NPV
sama dengan nol. Nilai r ini dapat
diketahui dengan cara trial & error. Caranya adalah dengan menentukan sembarang nilai r
untuk dasar perhitungan discount rate., sehingga kita dapat menghitung nilai present value
dari cash inflow. Apabila hasil
perhitungan present value dari cash inflow tersebut lebih rendah daripada present value cash
outflow, maka tingkat bunga sebagai dasar perhitungan discount factor harus diturunkan.
INTERNAL RATE OF RETURN (IRR)

Metode ini untuk membuat peringkat usulan investasi dengan menggunakan tingkat
pengembalian atas investasi yang dihitung dengan mencari tingkat diskonto yang
menyamakan nilai sekarang dari arus kas masuk proyek yang diharapkan terhadap nilai
sekarang biaya proyek atau sama dengan tingkat diskonto yang membuat NPV sama dengan
nol.

IRR yang merupakan indikator tingkat efisiensi dari suatu investasi. Suatu proyek/investasi
dapat dilakukan apabila laju pengembaliannya (rate of return) lebih besar dari pada laju
pengembalian apabila melakukan investasi di tempat lain (bunga deposito bank, reksadana
dan lain-lain). IRR digunakan dalam menentukan apakah investasi dilaksanakan atau tidak,
untuk itu biasanya digunakan acuan bahwa investasi yang dilakukan harus lebih tinggi dari
Minimum acceptable rate of return atau Minimum atractive rate of return (MARR) .
MARR adalah laju pengembalian minimum dari suatu investasi yang berani dilakukan oleh
seorang investor.

Dengan rumus umum sebagai berikut :

Penerimaan atau penolakan usulan investasi ini adalah dengan membandingkan IRR dengan
tingkat bunga yang disyaratkan (required rate of return). Apabila IRR lebih besar dari pada
tingkat bunga yang disyaratkan maka proyek tersebut diterima, apabila lebih kecil diterima.

IRR adalah nilai discount rate i yang membuat NPV dari proyek sama dengan nol. Discount
rate yang dipakai untuk mencari present value dari suatu benefit/biaya harus senilai dengan
opportunity cost of capital seperti terlihat dari sudut pandangan si penilai proyek. Konsep
dasar opportunity cost pada hakikatnya merupakan pengorbanan yang diberikan sebagai
alternatif terbaik untuk dapat memperoleh sesuatu hasil dan manfaat atau dapat pula
menyatakan harga yang harus dibayar untuk mendapatkannya.
DISKUSI MENGENAI PERBANDINGAN NPV DAN IRR

(1)

Pada umumnya pengambilan kepu-tusan investasi berdasarkan NPV dan IRR akan
memberikan hasil yang sama, artinya apabila suatu usulan investasi dinilai layak
berdasarkan NPV, maka usulan investasi tersebut juga dinilai layak berdasarkan IRR.

Namun demikian, menurut kalangan akademisi, NPV dianggap lebih unggul dibandingkan
IRR, karena NPV dapat mengatasi fenomena multiple IRR dan conflict ranking projects,
sedangkan IRR tidak dapat mengatasi fenomena tersebut. Meskipun demikian, NPV juga
memiliki kelemahan, yaitu NPV tidak memiliki safety margin (sedangkan IRR memiliki
safety margin) dan NPV kalah populer dibandingkan dengan IRR (para investor pada
umumnya lebih tertarik menggunakan IRR, karena IRR dapat segera dibandingkan dengan
cost of capital).

(2)

NPV dan IRR sama-sama termasuk kelompok discounted cash flow, penganut nilai waktu
dan proceeds selama total usia proyek. Berdasarkan kesamaan demikian, NPV IRR akan
memberikan keputusan yang sama dalam menilai usul investasi. Andaikan berbasis NPV usul
investasi layak diterima maka demikian pula IRR.

NPV danIRR akan memberikan keputusan yang sama., tetapi sebenarnya terkandung sebuah
pengecualian di dalamnya. Pengecualian yang dimaksudkan berkaitan saat menilai salah satu
dari dua atau lebih usul investasi bersifat mutually exclusive. Untuk kondisi seperti begitu
NPV, IRR dapat bertolak belakang memberikan jawaban secara khusus sering terjadi pada
susunan peringkat usul investasi.

Hal tersebut, dikarenakan perbedaan asumsi yang melekat terkait tingkat reinvestasi dana
bebas. IRR berasumsi dana bebas diinvestasikan kembali dengan tingkat rate of returnnya
selama periode sisa usia. Sebaliknya NPV berpegang konsisten besarnya tingkat reinvestasi
adalah tetap sebesar tingkat diskonto yang ditetapkan sebelumnya.

Namun NPV pada umumnya dipandang unggul ketimbang IRR. Hal ini disebabkan NPV
konsisten, yaitu mempertimbangkan perbedaan skala investasi dari pernyataan secara absolut
dalam rupiah tidak seperti IRR yang memiliki pernyataan berbentuk persentase sehingga
skala investasi terabaikan.

(3)

Kenapa IRR didapat dari mencari discount rate yg membuat NPV = 0? Karena itu
menggambarkan ekspektasi investor akan tingkat pengembalian investasinya.
Jika IRR tinggi, artinya ruang utk ekspektasi thd tingkat pengembalian investasinya cukup
lebar. Jika IRR rendah, maka rentang tsb sempit.

(4)

Kelompok yang proNPV mengatakan bahwa Cash is King. NPV adalah indicator yang
sebenarnya dalam merefleksikan tujuan dari bisnis yaitu menghasilkan uang sebanyak-
banyak.. Selain itu disebutkan IRR punya kelemahan yaitu tidak bisa memberikan nilai IRR
yang sebenarnya apabila cashflow nya multi-signs dan tidak menggambarkan konsep Time
Value of Money.

Kelompok yang pro IRR mengatakan bahwa bahwa NPV tidak menggambarkan optimasi dan
efisiensi penggunaan sumber daya dana investasi dalam kaitannya dengan rate dari
pengembaliannya (rate of return).

Contohnya nilai NPV Proyek A sebesar Rp 100 juta dan Proyek B sebesar Rp 10 juta. Secara
naluri mungkin kita akan memilih Proyek A karena nilainya 10x lebih besar. Tapi kalau
Proyek A membutuhkan investasi sebesar Rp 75 juta sedangkan Proyek B hanya sebesar Rp 1
juta, Proyek B dapat dikatakan mempunyai nilai resiko yang lebih kecil (exposure dana
perusahaan dalam kegiatan investasi yang lebih kecil) dan tingkat pengembalian yang lebih
besar (IRR besar).

(4)

Terminology NPV & IRR, sebenarnya merupakan indicator kelaikan project, yg dapat
diproyeksi pada tahap feasibility studi. Secara umum, dapat disebutkan indikator2 dasar,
yaitu:

1. Net Present Worth/Value, adalah perbedaan antara nilai sekarang dari penerimaan total dan
nilai sekarang dari pengeluaran sepanjang umur proyek pada discount rate yang diberikan.
Pendekatannya adalah pada konsep cash flow (cash in/cash out), project dikatakan laik
apabila NPV>0.

2. Rate of Return (ROR) atau Return on Investment (ROI), adalah discount rate yang
memberikan harga NPV = 0. ROR merupakan perolehan per tahun dari investasi suatu
proyek. ROR sendiri ada dua macam, yaitu:

> Eksternal ROR, yaitu return yang diperoleh apabila investasi dilakukan di luar organisasi.
Contoh: suatu perusahaan menyimpan dananya di Bank atau membeli saham perusahaan lain.

> Internal ROR (atau IRR), yaitu return yang diperoleh apabila investasi dilakukan di dalam
perusahaan sendiri. Contoh, suatu perusahaan melakukan pengeboran untuk menambah
kapasitas produksi, atau melakukan fracturing untuk meningkatkan produksi sumur.

(5)
Terdapat dua instrumen evaluasi investasi yang umum digunakan untuk menilai apakah suatu
investasi akan dilakukan atau tidak. Instrumen tersebut adalah Net Present Value (NPV) dan
yang kedua adalah Internal Rate of Return (IRR). Dalam melakukan investasi tentunya harus
dilakukan perbandingan antara investasi yang satu dengan yang lainnya misalnya uangnya
diinvestasikan di bank saja, karena bunganya lebih menarik. Investasi terbaik akan didapat
apabila NPV dan IRR sama-sama bernilai tinggi. Pada kasus tertentu sering dinyatakan
bahwa IRR dengan nilai yang tinggi akan lebih menguntungkan daripada investasi dengan
nilai IRR yang lebih rendah, walaupun tidak demikian, karena pada kondisi tertentu IRR bisa
menyesatkan.

Pada NPV, semua future cash flow dikonversikan menjadi suatu nilai ekuivalen pada waktu
tahun ke nol dengan menggunakan teknik diskounting. NPV merupakan penjumlahan dari
masing-masing present value dari net income yang diproyeksikan tiap tahun. Setiap future
income didiskon, artinya dibagi dengan bilangan yang merepresentasikan oppurtunity cost
dari memiliki modal mulai tahun ke nol hingga tahun dimana income diterima atau
dibelanjakan. Oppurtunity cost dapat berupa berapa banyak uang yang dapat diterima apabila
diinvestasikan di tempat lain atau berapa banyak bunga yang akan dibayar apabila kita
meminjam uang.

Rumus:

NPV = I0 + I1/(1+r) + I2/(1+r)^2 + I3/(1+r)^3 + .+ In/(1+r)^n

dimana:

I0 adalah investasi tahun ke-0

In merupakan net income tahun ke-1, 2, 3, .n

r merupakan discount rate

NPV > 0, proyek diterima

NPV < 0, proyek ditolak

Dari rumusan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan:

makin tinggi income, makin tinggi NPV

makin lebih awal datangnya income, makin tinggi NPV

makin tinggi discount rate, makin rendah NPV


Untuk membandingkan dua proyek yang mana akan dipilih dapat dilakukan dengan
membandingkan kedua nilai NPV proyek, dimana NPV proyek yang lebih besar yang akan
diambil.

IRR atau Internal Rate of Return, merupakan instrument evaluasi yang digunakan untuk
memutuskan apakah suatu pemilik modal ingin melakukan investasi atau tidak.

IRR > tingkat keuntungan yang diisyaratkan, proyek diterima

IRR < tingkat keuntungan yang disyaratkan, proyek ditolak

IRR lebih merupakan suatu indikator efisiensi dari suatu investasi, berlawanan dengan NPV,
yang mengindikasikan value atau suatu besaran uang. IRR merupakan effective compounded
return rate annual yang dapat dihasilkan dari suatu investasi atau yield dari suatu investasi.
Suatu proyek/investasi dapat dilakukan apabila rate of returnnya lebih besar daripada return
yang diterima apabila kita melakukan investasi di tempat lain (bank, bonds, dll). Jadi IRR
harus dibandingkan dengan alternatif investasi yang lain.

IRR memiliki kelemahan dimana IRR umumnya digunakan untuk pengambilan keputusan
untuk single project bukan mutually exclussive project (proyek yang saling menghilangkan).
Untuk mutually exclusive project, kriteria NPV lebih dominan digunakan dimana proyek
dengan NPV lebih besar akan dipilih walaupun memiliki IRR yang lebih kecil. Dari grafik,
suatu proyek mungkin akan memiliki beberapa discount rate yang membuat nilai NPV = 0
(ada net income negatif di sela-sela tahun net income positif), sehingga nilai IRR bisa lebih
dari satu atau kita dihadapkan pada beberapa pilihan nilai IRR. Dari segi reinvestasi, IRR
juga memiliki kelemahan sehingga digunakan MIRR (Modified Rate of Return).

Walaupun secara akademik NPV lebih dominan dipilih, survey mengindikasikan bahwa
kalangan eksekutif lebih menyukai IRR daripada NPV. Hal ini dikarenakan para manager
ataupun pemilik modal lebih gampang membandingkan investasi/proyek yang berbeda
besaran dalam bentuk % rate of return (IRR) dibandingkan dengan besaran uang (NPV).

(5)

Seperti IRR yang memiliki beberapa kelemahan, NPV pun mengandung kekurangan.
Pertama, berbeda dengan IRR, NPV tidak dinyatakan secara relatif. Karenanya, NPV sebesar
Rp600 juta belum dapat dikatakan bagus atau tidak. Bagus jika investasi awal Rp2 miliar,
tetapi jelek jika dana yang diperlukan untuk menghasilkan NPV ini Rp10 miliar. Dalam soal
ini, IRR lebih unggul dan lebih mudah dipahami karena sudah dinyatakan secara relatif.
Tidak aneh jika IRR sangat favorit dan investor lebih suka berbicara rasio daripada nilai
rupiah.

Kedua, NPV gagal untuk mengevaluasi dua atau lebih proyek mutually exclusive yang
mempunyai umur berbeda. Misalkan kita mempunyai dua proyek yang memerlukan investasi
awal sama besar, katakan Rp1 miliar. Proyek A mampu menghasilkan arus kas Rp400 juta
selama 5 tahun, sementara proyek B sebesar Rp280 juta selama 10 tahun. Berdasarkan
kriteria NPV, proyek B yang akan dipilih karena mempunyai NPV yang lebih besar yaitu
Rp582 juta berbanding Rp442 juta pada tingkat diskonto 12%. Bahwa kedua proyek akan
selesai dalam waktu yang berbeda yaitu 5 tahun dan 10 tahun tidak diperhitungkan dalam
NPV.

Yang bijak akan menyamakan umur kedua proyek itu terlebih dahulu sebelum
membandingkan NPV-nya. Ini tentunya dengan asumsi setiap proyek dapat direplikasi.
Dalam contoh di atas, proyek A diulangi sehingga menjadi berumur 10 tahun seperti proyek
B. Pendekatan replikasi ini tentunya mempunyai keterbatasan. Untuk tiga proyek dengan
umur 7 tahun, 9 tahun, dan 13 tahun, kita harus mereplikasinya hingga 819 tahun untuk dapat
dibandingkan. Tidak mungkin, bukan? Sebagai alternatif terhadap pendekatan ini, kita
menghitung nilai tahunan ekuivalen atau equivalent annual value (EAV) yaitu arus kas
tahunan yang ekuivalen dengan NPV proyek itu.

Ketiga, NPV, IRR, dan kriteria tradisional lainnya mengasumsikan satu angka tunggal untuk
arus kas pada periode-periode mendatang. Akan lebih tepat jika kita menyiapkan analisis
skenario seperti tiga skenario berbeda untuk kondisi pesimistis, paling mungkin, dan optimis
untuk masa depan yang penuh ketidakpastian.

(6)

Metode net present value (net present value method) adalah metode yang mendasarkan pada
nilai sekarang dari pengembalian masa depan yang didiskontokan pada tarif biaya modal.
Metode NPV ini mengatasi kelemahan dalam metode payback.

Metode internal rate of return (rate of return method) adalah metode yang didasarkan pada
tingkat suku bunga yang menyeimbangkan nilai sekarang dari pengembalian masa depan
dengan total biaya investasi.

Perbedaan metode NPV dan IRR

1. Fokus NPV adalah berapa tambahan nilai proyek pada nilai perusahaan dengan asumsi
semua arus kas dapat direalisir. Fokus IRR memberikan indikasi tingkat hasil pengembalian
proyek jika sesuai dengan yang diharapkan.

2. Jika kedua metode digunakan untuk menilai satu proyek maka kedua metode ini selalu
memberikan kesimpulan yang sama karena NPV positif dari suatu proyek akan memberikan
IRR yang lebih besar dari biaya modal.

3. Jika proyek yang dinilai bersifat eksklusif (mutually exclusive) kedua metode NPV dan
IRR dapat menghasilkan penilaian (kesimpulan) yang berbeda. Konflik antara kedua metode
NPV dan IRR terjadi karena profil NPV dari proyek berbeda, misalnya biaya investasi
berbeda dan umum proyek lebih panjang dari yang lain.

Metode NPV lebih baik secara teoritis jika dibandingkan dengan metode IRR, tetapi Metode
NPV lebih baik secara toeritis jika dibandingkan dengan metode IRR jika dalam kenyataan
lebih banyak perusahaan menggunakan metode IRR dibandingkan dengan metode NPV. Hal
ini disebabkan bahwa metode IRR dikembangkan lebih dahulu dari metode NPV dan metode
IRR sudah lama digunakan.

(7)

Dua kriteria utama investasi dalam aset riil adalah net present value (NPV) dan internal rate
of return (IRR). Logika dasar yang perlu dipahami tentang NPV dan IRR adalah keduanya
memerlukan tiga input utama yaitu arus kas, timing, dan risiko.

Arus kas sendiri terdiri atas kas keluar yang biasanya hanya terjadi sekali saja pada awal dan
kas masuk yang dapat dihasilkan pada periode-periode berikutnya. Adapun timing adalah
berapa lama proyek investasi mampu mendatangkan kas masuk dan besarnya kas ini untuk
setiap periode. Terakhir, risiko mencerminkan ketidakpastian atau kemungkinan timbulnya
kerugian atau hasil yang tidak diharapkan. Semakin besar risiko, semakin besar batas return
yang diminta investor. Sebuah proyek yang memberikan IRR 18% akan diterima jika return
patokan adalah 15%. Tetapi jika dinilai berisiko tinggi, proyek yang sama ini akan ditolak
karena investor sangat mungkin menaikkan return minimal menjadi 20%. Dengan NPV,
semakin besar risiko sebuah proyek, semakin besar tingkat diskonto yang akan digunakan
yang berimplikasi semakin rendahnya NPV yang akan diperoleh. Dengan kata lain, proyek
yang diterima pada tingkat diskonto tertentu, karena mempunyai NPV positif, mungkin saja
ditolak karena NPV menjadi negatif jika tingkat diskonto dinaikkan untuk kompensasi
tambahan risiko yang ada.

Kesimpulan umum di atas akan berlaku sepanjang pola arus kas bersifat konvensional yaitu
kas keluar terjadi pada awal yang diikuti dengan kas masuk selama beberapa periode. Hasil
menjadi berbeda jika arus kas bersifat nonkonvensional seperti proyek pertambangan yang
kadang memerlukan kas keluar dalam jumlah besar di akhir proyek untuk reklamasi. Dalam
kondisi ini, tingkat diskonto tinggi dapat membuat NPV semakin tinggi atau malah membuat
proyek menjadi diterima. Melihat IRR-nya lebih membingungkan lagi karena proyek dengan
arus kas nonkonvensional bisa memberikan kita multipel IRR, misalkan 12% dan 20%. Jika
return patokan adalah 15%, apakah proyek ini akan diterima? Sulit untuk menjawabnya.

Hampir semua buku keuangan satu suara soal ini bahwa kriteria NPV yang sebaiknya
digunakan dan proyek A yang harus dipilih. NPV atau tambahan kekayaan sebesar Rp6 miliar
jauh lebih menarik daripada IRR 30% tetapi hanya dari Rp5 miliar. Bagaimana jika skala
proyek A dan B relatif sama, misalnya masing-masing memerlukan dana Rp10 miliar, tetapi
NPV dan IRR memberikan peringkat yang berbeda?

Jawabannya tetap kriteria NPV yang dianjurkan untuk digunakan. Kriteria ini diakui lebih
unggul daripada IRR karena adanya tiga kelemahan yang melekat dalam IRR.

Pertama, NPV selalu memberikan satu angka sementara IRR bisa menghasilkan banyak
angka.

Kedua, tingkat return reinvestasi yang digunakan dalam NPV adalah tingkat diskontonya,
sedangkan IRR mengasumsikan IRR itu sendiri.

Ketiga, Copeland et al dalam bukunya Financial Theory and Corporate Policy (2005)
menyatakan kalau kriteria IRR melanggar prinsip penambahan nilai (value additivity).

Misalkan kita mempunyai tiga proyek investasi yang menguntungkan yaitu 1, 2, dan 3.
Diketahui proyek 1 dan 2 bersifat mutually exclusive, dan proyek 3 bersifat independen. Jika
prinsip penambahan nilai berlaku, kita mestinya dapat memilih antara proyek 1 dan 2 yang
lebih baik tanpa harus dipengaruhi proyek 3 yang independen. Maksudnya adalah, jika
proyek 1 lebih baik daripada proyek 2, proyek 1+3 mestinya akan lebih baik juga daripada
proyek 2+3. Kriteria NPV mematuhi prinsip ini tetapi tidak demikian dengan IRR yang
memilih proyek 1 tetapi berubah menjadi proyek 2+3 ketika pilihan proyek 3 juga
disodorkan.

(8)

Untuk mengatasi masalah ini, maka yang harus dilakukan adalah memberikan ranking
terhadap proyek-proyek yang tersedia, kemudian mengambil keputusan berdasarkan
anggaran investasi yang tersedia.

Capital rationing dilakukan pada umumnya dengan menggunakan IRR atau NPV. Misalnya,
jika limit yang ditetapkan sebanyak 1,000,ooo, berdasarkan kriteria IRR maka proyek yang
dipilih adalah proyek A, B dan D atau B dan C. Namun, jika dilihat dari kriteria NPV, maka
yang terpilih adalah proyek A dan C.
Untuk menentukan kriteria mana yang ingin Anda gunakan, maka ini tergantung preferensi,
karena masing-masing punya keunggulan dan kelemahan tersendiri. NPV menunjukkan
kekayaan yang dihasilkan atau bertambah dari suatu investasi, sementara IRR menunjukkan
tingkat returnnya. Jadi, tergantung mana preferensi dari investor.

Namun, yang jelas NPV lebih superior dan disukai karena menunjukkan present value arus
kas yang akan diterima. Sementara, IRR sendiri hanya menunjukkan tingkat return dalam
investasi itu sendiri, yang artinya menggunakan asumsi jika arus kas yang dihasilkan
direinvestasikan lagi pada rate yang sama dengan IRR tersebut. Padahal, kenyataannya tidak
semudah itu.

(9)

Keterangan :

*mutually exclusive : in Laymans terms, two events are mutually exclusive if they cannot
occur at the same time (i.e., they have no common outcomes).

*payback period : Metode payback (payback method) adalah metode yang mendasarkan pada
jumlah tahun yang diperlukan untuk mengembalikan investasi awal. Kelemahan metode ini
adalah (1) mengabaikan penerimaan setelah payback tercapai, (2) mengabaikan konsep time
value of money

Metode Payback Period (PP)


Payback period adalah suatu metode berapa lama investasi akan kembali atau periode yang
diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi (initial cash investment) dengan
menggunakan aliran kas, dengan kata lain payback period merupakan rasio antara initial cash
investment dengan cash flow- nya yang hasilnya merupakan satuan waktu. Suatu usulan
investasi akan disetujui apabila payback period-nya lebih cepat atau lebih pendek dari
payback period yang disyaratkan oleh perusahaan.
Metode payback period merupakan metode penilaian investasi yang sangat sederhana
perhitungannya, sehingga
banyak digunakan oleh perusahaan. Tetapi di lain pihak metode ini mempunyai kelemahan-
kelemahan, yaitu:
a) Tidak memperhatikan nilai waktu uang.
b) Mengabaikan arus kas masuk yang diperoleh sesudah payback period suatu rencana
investasi tercapai.
c) Mengabaikan nilai sisa (salvage value) investasi.

Meskipun metode payback period memiliki beberapa kelemahan, namun metode ini masih
terus digunakan secara intensif dalam membuat keputusan investasi, tetapi metode ini tidak
digunakan sebagai alat utama melainkan hanya sebagai indikator dari likuiditas dan risiko
investasi.

Keunggulan metode payback period adalah sebagai berikut:


a) Perhitungannya mudah dimengerti dan sederhana.
b)Mempertimbangkan arus kas dan bukan laba menurut akuntansi.
c) Sebagai alat pertimbangan risiko karena makin pendek payback makin rendah risiko
kerugian.