Anda di halaman 1dari 12

PAJAK PENGHASILAN UNTUK TRANSAKSI KHUSUS

1. PPh PASAL 4 ayat 2


PPh Pasal 4 (2) adalah Pajak Penghasilan yang dikenakan terhadap penghasilan yang
merupakan objek PPh Pasal 4 (2) Undang-Undang no.36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.
PPh Pasal 4 (2) ini bersifat final sehingga apabila wajib pajak telah dipotong PPh Pasal 4 (2) maka
atas bukti potong tersebut hanya dapat dikreditkan dengan penghasilan objek PPh Pasal 4 ayat (2)
tersebut. Atas biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh penghasilan yang bersifat final tidak boleh
dikurangkan dari Penghasilan Kena Pajak yang berasal dari penghasilan yang tidak bersifat final.
Apabila biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh penghasilan yang bersifat final tidak dapat
dipisahkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh penghasilan yang bersifat tidak final,
maka biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan kena pajak untuk menghitung PPh Terutang
berdasarkan Pasal 17 UU No.36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan adalah sebesar persentase
omzet penghasilan yang tidak bersifat final dibandingkan dengan seluruh omzet final & non Final.
Yang menjadi objek pajak PPh Pasal 4 (2) yang bersifat final antara lain :
1. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya (PP 131 Tahun 2000);
2. Bunga obligasi dan surat utang Negara;
3. Bunga simpanan anggota yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi;

4. Penghasilan berupa hadiah undian (PP 132 Tahun 2000);

5. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, dan transaksi penjualan saham atau
pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan
modal ventura;

6. Penghasilan dari transaksi pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan (harta berupa tanah
dan/atau bangunan dan usaha real estate);

7. Persewaan tanah dan/atau bangunan.


Pemotong PPh Pasal 4 ayat (2):
1. Koperasi;
2. Penyelenggara kegiatan;
3. Otoritas bursa; dan
4. Bendaharawan;
Penerima Penghasilan Yang Dipotong PPh Pasal 4 ayat (2):

1
1. Penerima bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan
bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi;
2. Penerima hadiah undian;
3. Penjual saham dan sekuritas lainnya; dan
4. Pemilik properti berupa tanah dan/atau bangunan;

2. KREDIT PAJAK LUAR NEGERI (PPh 24)


Pajak penghasilan pasal 24 merupakan pajak yang terutang atau dibayarkan di luar negeri atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri yang boleh dikreditkan terhadap Pajak
Penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan Wajib Pajak Dalam Negeri. Pengkreditan pajak
luar negeri tersebut dilakukan dalam dalam Tahun Pajak digabungkan penghasilan dari luar negeri
tersebut dengan penghasilan di Indonesia. Pengkreditan pajak yang dimaksudkan dalam pasal 24 ini
untuk menghindarkan pajak berganda, tetapi jumlah yang dikreditkan tidak melebihi penghitungan
pajak yang terutang berdasarkan undang-undang pajak penghasilan. Pada prinsipnya bagi wajib
pajak dalam negeri terutang pajak atas seluruh penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar
negeri. Untuk meringankan beban pajak ganda yang dapat terjadi karena pengenaan pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri. Ketentuan pasal 24 ini mengatur tentang
perhitungan Besarnya pajak atas Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapat
dikreditkan terhadap pajak yang terutang atas seluruh penghasilan Wajib Pajak Dalam Negeri.
Penghasilan yang boleh diperhitungkan/ dikreditkan tersebut antara lain penghasilan dari
luar negeri berupa :
1. penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari pengalihan saham dan
sekuritas lainnya;

2. penghasilan berupa bunga, royalti, dan sewa sehubungan dengan penggunaan harta gerak;

3. penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak;

4. penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;

5. Penghasilan BUT luar negeri;

6. penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan atau tanda turut serta dalam
pembiayaan atau permodalan dalam perusahaan pertambangan;

7. keuntungan karena pengalihan harta tetap;

2
8. keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu bentuk usaha tetap.
Hal yang paling mendasar PPh Pasal 24 ini adalah adanya batas maksimum yang boleh
dikreditkan seperti yang tercantum dalam ayat 2 Pasal 24 UU PPH seperti tersebut di atas.
Penggabungan Penghasilan yang berasal dari Luar Negeri :
1. Penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya penghasilan.
2. Penghasilan berupa dividen, dilakukan dalam tahun pajak pada saat perolehan dividen tersebut.
3. Penghasilan lainnya, dilakukan dalam tahun pajak diterimanya penghasilan tersebut.
4. Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh digabungkan dalam menghitung Penghasilan
Kena Pajak di Indonesia.
Mekanisme Pengkreditan PPh yang Dibayar di Luar Negeri :
1. Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di Luar Negeri dapat dikreditkan dengan Pajak
Penghasilan yang terutang di Indonesia.
2. Pengkreditan PPh yang dibayar di Luar Negeri (PPh Pasal 24) dilakukan dalam tahun pajak
digabungkannya penghasilan dari luar negeri tersebut dengan penghasilan di Indonesia.
3. Jumlah PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan maksimum sebesar jumlah yang lebih rendah di
antara PPh yang dibayar atau terutang di Luar Negeri dan jumlah yang dihitung menurut
perbandingan antara penghasilan dari luar negeri dan seluruh Penghasilan Kena Pajak, atau
maksimum sebesar PPh yang terutang atas seluruh Penghasilan Kena Pajak dalam hal di dalam
negeri mengalami kerugian (Penghasilan dari LN lebih besar dari jumlah Penghasilan Kena
Pajak).
Untuk melaksanakan pengkreditan pajak luar negeri, Wajib Pajak wajib menyampaikan
permohonan kepada direktur Jenderal Pajak dengan melampirkan :
1. Laporan keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri;
2. Fotokopi surat pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri; dan
3. Dokumen pembayaran pajak di luar negeri.
Permohonan kredit pajak luar negeri tersebut harus disampaikan bersamaan dengan
penyampaian Surat Pembeitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. Namun, atas permohonan Wajib
Pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian lampiran-lampiran
permohonan tersebut karena alasan-alasan di luar kemampuan wajib pajak (force majeur).
Atas permohonan wajib pajak, Kepala KPP dapat memperpanjang jangka waktu
penyampaian lampiran-lampiran di atas, karena alasan-alasan di luar kekuasaan wajib pajak :
1. Dalam hal terjadi perubahan besarnya penghasilan yang berasal dari luar negeri, wajib pajak
harus melakukan pembetulan SPT Tahunan yang bersangkutan dengan melampirkan dokumen-
dokumen yang berkenaan dengan perubahan tersebut.
2. Apabila karena pembetulan SPT tersebut menyebabkan PPh kurang dibayar, maka atas
kekurangan bayar tersebut tidak dikenakan sanksi bunga.
3. Apabila karena pembetulan SPT tersebut menyebabkan lebih bayar, maka atas kelebihan tersebut
dapat dikembalikan kepada wajib pajak setelah diperhitungkan dengan utang pajak lainnya.

3
3. KETENTUAN KHUSUS PPh ATAS TRANSAKSI / INDUSTRI TERTENTU

3.1 Penghasilan Modal Ventura


Bagian laba yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura dari penyertaan modal
pada perusahaan kecil dan menengah (nilai penjualan bersih tahun sebelumnya tidak melebihi Rp 5
Milyar), bukan merupakan obyek PPh apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut :
1) Perusahaan pasangan usaha tersebut belum go publik;
2) Penyertaan tersebut dilakukan tidak melebihi jangka waktu 10 tahun; dan
3) Apabila penyertaan tersebut telah melewati jangka waktu 10 tahun, maka bagian laba tersebut
merupakan penghasilan (obyek PPh).
Perusahaan modal ventura wajib membukukan secara terpisah antara penghasilan yang
merupakan obyek PPh dan bukan obyek PPh. Atas penghasilan perusahaan modal ventura dari
transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangan usahanya
(dengan syarat tersebut di atas) dikenakan PPh Final sebesar 0,1% dari jumlah bruto nilai
penjualan/pengalihan ( Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1995 ).

2. Transaksi Pasar Modal


Penghasilan dari penjualan saham di bursa merupakan objek PPh yang bersifat final. Tarif
pemungutan PPh yang bersifat final adalah 0,1% dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan saham.
Khusus untuk transaksi penjualan saham pendiri berlaku ketentuan sebagai berikut:
1) Transaksi penjualan saham pendiri dikenakan tambahan PPh dengan tarif 0,5% (setengah persen)
dari nilai saham perusahaan pada saat penutupan bursa di akhir tahun 1996;
2) Dalam hal saham perusahaan diperdagangkan di bursa efek setelah 1 Januari 1997, maka nilai
saham pendiri ditetapkan sebesar harga saham pada saat penawaran umum perdana;
3) Penyetoran tambahan PPh atas saham pendiri dilakukan oleh emiten atas nama pemilik saham
pendiri:
a. selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 14
Tahun 1997 (tanggal 29 Mei 1997), apabila saham perusahaan telah diperdagangkan di
bursa efek sebelum Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997 ditetapkan;
b. selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah saham tersebut diperdagangkan di bursa, apabila
saham perusahaan baru diperdagangkan di bursa efek pada saat atau setelah Peraturan
Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997 ditetapkan (tanggal 29 Mei 1997);
4) Wajib Pajak yang memilih untuk memenuhi kewajiban PPhnya tidak berdasarkan angka 3 di
atas, atas penghasilan dari transaksi penjualan saham pendiri dikenakan PPh sesuai dengan tarif
umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 Undang-undang PPh.
Dengan demikian tarif pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) atas penghasilan dari transaksi
penjualan saham di Bursa Efek adalah sebagai berikut:

4
No Tarif Besaran Transaksi Saham
1 0,1% (nol koma Nilai transaksi penjualan saham
satu persen)
2 Tambahan 0,5% Nilai saham perusahaan pada saat penutupan bursa
(nol koma lima efek di akhir tahun 1996
persen)
3 Tambahan 0,5% Nilai saham pada saat Penawaran Umum Perdana
(nol koma lima (IPO) dalam hal saham perusahaan
persen) diperdagangkan di bursa efek setelah 1 Januari
1997
Peraturan terkait pelaksanaan pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) atas penghasilan dari transaksi
penjualan saham di bursa adalah:
1) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1994 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997;
2) Keputusan Menteri Keuangan Nomor 282/KMK.04/ 1997.

3. Penghasilan yang Dibebankan pada Keuangan Negara/Daerah


Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1994 pasal 2 ayat (1) dan (2)
menyatakan:
(1) Atas penghasilan yang diterima oleh Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, Anggota
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, dan Pensiunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
1 ayat (1) dihitung Pajak Penghasilan yang terutang dan ditanggung pemerintah sesuai dengan
ketentuan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994 dengan menerapkan tarif Pasal 17 undang-undang
tersebut.
(2) Atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) dipotong Pajak Penghasilan
Pasal 21 oleh Bendaharawan Pemerintah sebesar 15% (lima belas persen), dan bersifat final.

4. Konstruksi
PP Nomor 51 Tahun 2008 mengenal beberapa tarif yaitu :
1) 2% untuk pelaksanaan konstruksi yang dilakukan penyedia jasa yang berkualifikasi usaha kecil;
2) 4% untuk pelaksanaan konstruksi yang dilakukan penyedia jasa yang tidak memiliki
berkualifikasi usaha;
3) 3% untuk pelaksanaan konstruksi yang dilakukan penyedia jasa yang berkualifikasi usaha
menengah dan besar;
4) 4% untuk perencanaan atau pengawasan konstruksi yang dilakukan penyedia jasa yang
berkualifikasi usaha; dan
5) 6% untuk perencanaan atau pengawasan konstruksi yang dilakukan penyedia jasa yang tidak
berkualifikasi usaha.

5
5. Pajak Penghasilan atas Dana Pensiun
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 234/PMK.03/2009 bahwa Penghasilan yang
diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan dari
penanaman modal berupa:
1) bunga, diskonto, dan imbalan dari deposito, sertifikat deposito, dan tabungan, pada bank di
Indonesia yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip
syariah, serta Sertifikat Bank Indonesia;
2) bunga, diskonto, dan imbalan dari obligasi, obligasi syariah (sukuk), Surat Berharga Syariah
Negara, dan Surat Perbendaharaan Negara, yang diperdagangkan dan / atau dilaporkan
perdagangannya pada bursa efek di Indonesia; atau
3) dividen dari saham pada perseroan terbatas yang tercatat pada bursa efek di Indonesia,
dikecualikan dari objek Pajak Penghasilan.

6. Restrukturisasi Utang
Restrukturisasi hutang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2001 mengenai
pemberian keringanan Pajak Penghasilan kepada Wajib Pajak yang melakukan restrukturisasi utang
usaha melalui lembaga khusus yang dibentuk pemerintah.
Restrukturisasi hutang hanya dapat dilakukan oleh Satuan Tugas Prakarsa Jakarta. Keringanan
pajak diberikan pada kreditur dan juga debitur berdasar rekomendasi Komite Kebijakan Standar
Keuangan yang berada di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Selain itu,
dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2000 Pasal 4 ayat (1) huruf k mengatur pembebasan pajak
dengan mengurangi Pendapatan Kena Pajak debitur sebesar pembebasan pajak yang diterima
debitur bagi debitur yang menerima pembebasan hutang hinga batasan 350 juta Rupiah.
(Pembebasan itu tidak menjadi penghasilan bagi debitur) Kreditur juga menerima keringanan pajak
berupa pengurangan penghasilan sebesar pembebasan pajak yang diberikan kreditur seperti diatur
di dalam UU PPh pasal 6 ayat (1) huruf h. Hal ini juga berlaku bagi pembebasan bunga. ( Tidak
akan mengurangi peghasilan kena pajak kreditor)
Berdasarkan Keputusan Direktur Jendral Pajak Nomor Kep. 28/PJ71999, pengakuan
penghasilan atas pembebasan hutang bagi wajib pajak tertentu memutuskan bahwa keuntungan dari
penghapusan hutang dari kreditur dalam pelaksanaan program pemerintah, pengakuan penghasilan
atas penghapusan hutang tersebut dapat diakui bertahap selama 5 tahun, tiap tahun sebesar 20% dari
total penghapusan hutang. Kreditur juga dapat memilih untuk mengakui keuntungan pembebasan
hutang tersebut secara sekaligus. Kreditur harus melaporkan hal ini kepada Kantor Pelayanan Pajak

6
setempat, jika tidak, maka kreditur akan dianggap mengakui keuntungan pembebasan hutang
tersebut secara sekaligus.

7. Holding Company, Merger dan Akuisisi


Holding Company adalah perusahaan yang didirikan khusus untuk menguasai saham
perusahaan lain dan mengontrol aktivitasnya. Contoh perusahaan yang melakukan holding company
adalah PT. Semen Gresik. PT Semen Gresik Tbk membentuk perusahaan induk (holding company)
bagi Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa. Permodalan Semen Gresik masih yang
paling kuat, sedangkan pertumbuhan kinerja Semen Padang dan Tonasa berada di peringkat
terbawah sehingga PT Semen Gresik Tbk melakukan Holding company untuk meningkatkan kinerja
perusahaannya.
Merger terjadi manakala dua organisasi yang berukuran kurang lebih sama bersatu untuk
membangun satu jenis usaha. Jenis-jenis merger (Brigham dan Houston 2001):
1) Merger horizontal
Merger horizontal adalah penggabungan dua jenis perusahaan yang menghasilkan jenis produk
atau jasa yang sama. Merger ini terjadi apabila perusahaan dalam jenis usaha yang sama saling
bergabung, misalnya jika suatu pabrikan komputer mengakuisisi pabrikan lain.
2) Merger vertikal
Merger vertikal adalah penggabungan atau merger antara satu perusahaan dengan salah satu
pemasok atau pelangganya. Contoh merger vertikal adalah pengambilalihan pabrik baja oleh
suatu pemasoknya, seperti perusahaan minyak yang mengakuisisi sebuah perusahaan petrokimia
yang menggunakan minyak sebagai bahan baku.
3) Merger kongenerik
Merger kongenerik adalah penggabungan perusahaan yang bergerak dalam industri umum yang
sama tetapi tidak ada hubungan pelanggan dan pemasok diantara keduanya. Merger ini
melibatkan perusahaanperusahaan yang berkaitan satu sama lain tetapi bukan merupakan
produsen produk yang sama (horizontal) dan juga tidak mempunyai hubungan sebagai produsen
pemasok (vertikal). Contoh dari merger jenis ini adalah pengambilalihan Lotus oleh IBM .
4) Merger konglomerat
Merger konglomerat adalah penggabungan perusahaan dari industri yang benar-benar berbeda,
seperti halnya pengambilalihan Mongtomery oleh Mobil Oil.
Akuisisi adalah pengambilan kepemilikan atau pengendalian atas saham atau asset suatu
perusahaan oleh perusahaan lain, dan dalam peristiwa ini baik perusahaan pengambilalih atau yang
diambil alih tetap eksis sebagai badan hukum yang terpisah. (Abdul Moin, 2004). Menurut
Reksohadiprojo dalam Wiharti (1999) akuisisi dapat dibedakan dalam tiga kelompok besar, yaitu:
7
1) Akuisisi horizontal, yaitu akuisisi yang dilakukan oleh suatu badan usaha yang masih dalam
bisnis yang sama.
2) Akuisisi vertical, yaitu akuisisi pemasok atau pelanggan badan usaha yang dibeli.
3) Akuisisi konglomerat, yaitu akuisisi badan usaha yang tidak ada hubungannya sama sekali
dengan badan usaha pembeli.
Klasifikasi berdasarkan obyek yang diakuisisi dibedakan atas akuisisi saham dan akuisisi
asset, yaitu:
1) Akuisisi saham
Istilah akuisisi digunakan untuk menggambarkan suatu transaksi jual beli perusahaan, dan
transaksi tersebut mengakibatkan beralihnya kepemilikan perusahaan dari penjual kepada
pembeli. Akuisisi saham merupakan salah satu bentuk akisisi yang paling umum ditemui dalam
hampir setiap kegiatan akuisisi.
2) Akuisisi Asset
Apabila sebuah perusahaan bermaksud memiliki perusahaan lain maka ia dapat membeli
sebagian atau seluruh aktiva atau asset perusahaan lain tersebut. Jika pembelian tersebut hanya
sebagian dari aktiva perusahaan maka hal ini dinamakan akuisisi parsial. Akuisisi asset secara
sederhana dapat dikatakan merupakan Jual beli (asset) antara pihak yang melakukan akuisisi
asset ( sebagai pihak pembeli ) dengan pihak yang diakuisisi assetnya (sebagai pihak penjual),
Jika akuisisi dilakukan dengan pembayaran uang tunai. Atau Perjanjian tukar menukar antara
asset yang diakuisisi dengan suatu kebendaan lain milik dan pihak yang melakukan akuisisi, jika
akuisisi tidak dilakukan dengan cara tunai.

8. Pelayaran, Penerbangan, dan Pengeboran


Norma Perhitungan Khusus untuk menghitung penghasilan neto dari Wajib Pajak tertentu
yang tidak dapat dihitung berdasarkan ketentuan Pasal 16 ayat (1) atau ayat (3) ditetapkan Menteri
keuangan. Ketentuan ini mengatur tentang Norma Perhitungan Khusus untuk golongan Wajib Pajak
tertentu, antara lain perusahaan pelayaran atau penerbangan internasional, perusahaan asuransi luar
negeri, perusahaan pengeboran minyak, gas dan panas bumi, perusahaan dagang asing, perusahaan
yang melakukan investasi dalam bentuk bangunan-guna-serah ("build, operate, and transfer")
Untuk menghindari kesukaran dalam menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi
golongan Wajib Pajak tertentu tersebut, berdasarkan pertimbangan praktis, atau sesuai dengan
kelaziman pengenaan pajak dalam bidang-bidang usaha tersebut, Menteri Keuangan diberi
wewenang untuk menetapkan Norma Perhitungan Khusus guna menghitung besarnya penghasilan
neto dari Wajib Pajak tertentu tersebut.

8
Tabel Tarif PPh Pasal 15

Penyetoran &
No Uraian Tarif x DPP Dasar Hukum
Pelaporan

Disetor oleh pemotong


paling lambat tanggal 10
bulan berikutnya.

Setor dengan
menggunakan SSP,
1,8%x Peredaran Bruto dengan:
yang diterima KMK
Charter
berdasarkan perjanjian KAP: 411129, 475/KMK.04/199
1 Penerbangan
charter. 6
Dalam Negeri KJS: 101
TIDAK FINAL SE 35/PJ.4/1996
Dilaporkan dalam SPT
Masa PPh Pasal 15,
dilaporkan paling
lambat tanggal 20 bulan
berikutnya.

Disetor oleh
pemotong: disetor
paling lambat tanggal 10
bulan berikutnya.

Disetor sendiri:disetor
paling lambat tanggal 15
bulan berikutnya
Perusahaan
Pelayaran Setor dengan KMK
1,2% x Peredaran bruto
2 Dalam Negeri menggunakan SSP, 416/KMK.04/199
FINAL dengan: 6
KAP: 411128 SE 29/PJ.4/1996

KJS: 410

Dilaporkan dalam SPT


Masa PPh Pasal 15,
dilaporkan paling
lambat tanggal 20 bulan
berikutnya.

3 Perusahaan 2,64% x Peredaran Bruto Disetor oleh KMK


pelayaran dan pemotong:disetor paling 417/KMK.04/199
penerbangan FINAL lambat tanggal 10 bulan 6
Luar Negeri berikutnya. SE 32/PJ.4/1996
Disetor sendiri:disetor
paling lambat tanggal 15
bulan berikutnya

Setor dengan
menggunakan SSP,
dengan:

KAP: 411128,

9
KJS: 411

Dilaporkan dalam SPT


Masa PPh Pasal 15,
dilaporkan paling
lambat tanggal 20 bulan
berikutnya.

Untuk negara yang tidak Disetor sendiri paling


ada P3B dengan lambattanggal 15 bulan
Indonesia: berikutnya setelah bulan
diterima penghasilan.
0,44% x nilai ekspor
bruto Disetor dengan KMK
WPLN yang menggunakan SSP 634/KMK.04/199
Penghasilan neto= 1% x
mempunyai dengan: 4, berlaku mulai 1
nilai ekspor bruto
kantor Januari 1995
KAP: 411128 KEP
perwakilan Untuk negara yang
4
dagang di mempunyai P3B dengan KJS: 413 667/PJ/2001,berla
Indonesia Indonesia: ku mulai 29
Dilaporkan paling Oktober 2001
disesuaikan dengan tarif lambat tanggal 20bulan SE 2/PJ.03/2008,
P3B, untuk contoh berikutnya dengan ditetapkan tgl 31
penghitungan lihat di SE menggunakan Formulir Juli 2008.
2/PJ.03/2008. dalam Lampiran I
KEP 667/PJ./2001 dan
FINAL
dilampiri SSP lembar
ke-3.

7% x tarif tertinggi Pasal


17 ayat (1) huruf b UU
PPh x total biaya Disetor dengan
pembuatan atau perakitan menggunakan SSP PPh
5 WP yang Final paling lambat tgl
melakukan barang tidak termasuk
biaya pemakaian bahan 15 bulan berikutnya.
kegiatan usaha
jasa maklon baku (direct materials). KAP: 411128
(Contract Didalam SE
02/PJ.31/2003 KMK
Manufacturing KJS: 499 (krn tdk ada
disebutkan: 543/KMK.03/200
) Internasional disebutkan secara
2
di bidang spesifik ttg jasa maklon
7% x 30% x total biaya SE
produksi ini)
pembuatan atau perakitan 02/PJ.31/2003
mainan anak-
barang tidak termasuk Dilaporkan paling
anak.
biaya pemakaian bahan lambat tgl 20 bulan
baku (direct materials). berikutnya. Tetapi tidak
FINAL ada formulir khusus utk
pelaporannya.
berlaku sejak 1 Januari
2003

9. Dana Pensiun
Keputusan Dirjen Pajak No. KEP-333/PJ/2001 pasal 2 menyatakan:

10
Dengan adanya pengalihan tanggung jawab pembayaran pensiun dari Dana Pensiun yang telah
disahkan Menteri Keuangan kepada perusahaan asuransi jiwa, maka perlakuan perpajakan terhadap
pembayaran pensiun adalah sebagai berikut :
1) Pada saat tanggung jawab pembayaran pensiun dialihkan kepada perusahaan asuransi jiwa,
Peserta dianggap telah menerima hak atas manfaat pensiun yang dibayarkan secara sekaligus,
sehingga Dana Pensiun wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21 sebagaimana diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 149 Tahun 2000 jo. Keputusan Menteri Keuangan Nomor
112/KMK.03/2001 tanggal 6 Maret 2001, dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Penghasilan bruto di atas Rp 25.000.000.00 (dua puluh lima juta rupiah) sampai dengan Rp
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dipotong PPh Pasal 21 sebesar 5% (lima persen);
b. Penghasilan bruto di atas Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah), dipotong PPh Pasal 21 sebesar 10% (sepuluh persen);
c. Penghasilan bruto diatas Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) sampai dengan Rp
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dipotong PPh Pasal 21 sebesar 15% (lima belas
persen);
d. Penghasilan bruto di atas Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dipotong PPh Pasal 21
sebesar 25% (dua puluh lima persen); dan
e. Dikecualikan dari pemotongan PPh Pasal 21 apabiia penghasilan bruto sebesar Rp
25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) atau kurang.
2) Pemotongan PPh Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) bersifat final.
3) Dengan adanya pengalihan tanggung jawab pembayaran pensiun kepada perusahaan asuransi
jiwa maka program pensiun berubah menjadi program asuransi sehingga pada saat peserta
menerima hak atas manfaat pensiun tersebut, perusahaan asuransi jiwa tidak melakukan
pemotongan PPh Pasal 21.

10. Derivatif
Peraturan Pemerintah RI Nomor 17 Tahun 2009 menyatakan:
Pasal 1
Penghasilan yang diterima dan/atau diperoleh orang pribadi atau badan dari transaksi derivatif
berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat
final.

Pasal 2
Besarnya Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 adalah sebesar 2,5% (dua
koma lima persen) dari margin awal.
Pasal 3

11
(1) Lembaga kliring dan penjamin wajib memungut Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 1 pada saat menerima penyetoran margin awal oleh pialang berjangka atau
anggota bursa.
(2) Lembaga kliring dan penjamin wajib menyetor seluruh pajak yang dipungut sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) kepada kantor pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.
(3) Lembaga kliring dan penjamin wajib menyampaikan laporan pemungutan dan penyetoran
Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) kepada Kantor
Pelayanan Pajak.

12