Anda di halaman 1dari 12

ADMINISTRATIVE PROCESSES AND CONTROLS

1. ADMINISTRATIVE PROCESSES
Banyak proses yang terjadi dalam sebuah organisasi, termasuk penjualan dari produk
dan jasa, pembayaran tunai, pembelian bahan dan akitiva tetap, gaji, pengeluaran kas, dan
proses konversi. Masing-masing proses melibatkan proses transaksi rutin yang terjadi
setiap hari atau pada interval yag berulang. Proses tersebut akan menghasilkan sejumlah
besar transaksi yang harus dicatat dalam sistem akuntansi. Pada bab sebelumnya telah
dijelaskan proses pengumpulan data dalam proses bisnis tersebut, catat data transaksi, dan
kejadian setelahnya. Pada bab ini akan dijelaskan dua proses administrasi.

Proses yang pertama adalah kolom yang paling bawah, yaitu proses modal atau proses
investasi. Proses ini contohnya adalah penjualan saham atau obligasi, pinjaman, surat
hutang dan investasi dana di surat berharga. Proses ini tidak rutin dan hanya terjadi ketika
diperlukan. Sifat dari proses ini biasanya memerlukan otorisasi khusus untuk setiap
transaksi. Walaupun ini tidak rutin tetapi tetap harus dibentuk proses, prosedur, dan
kontrol untuk memproses, mencatat, dan melaporkan hasil transaksi. Tanpa adanya
prosedur dan pengendalian internal, proses tidak akan diotorisasi, dicatat, atau dilaporkan.
Proses yang kedua adalah general ledger processes. Setiap transaksi akan
menghasilkan informasi keuangan yang dicatata dalam buku besar, yang artinya setiap
penjualan, penerimaan kas, pengeluaran, atau pembayaran akan berpengaruh akun buku
besar seperti pendapatan, rekening pengeluaran, dan rekening kas. Karena itu harus ada
proses dalam organisasi yang menyalurkan semua informasi transaksi dari masing-masing
proses ke rekening buku besar. Informasi saldo rekening buku besar dan informasi
lainnya yang kemudian digunakan untuk menyiapkan laporan bagi pengguna internal dan
eksternal.
Proses diatas adalah proses administrasi, yaitu traksaksi dan kegiatan yang secara
khusus diizinkan oleh manajer puncak atau digunakan oleh manajer untuk melakukan
fungsi-fungsi administratif.
2. CAPITAL PROCESSES
Operasi dari setiap organisasi memerlukan aset modal jangka panjang seperti tanah,
bangunan, dan peralatan. Untuk membeli aset modal tersebut, manajemen puncak harus
memiliki modal yang tersedia. Modal adalah dana yang digunakan untuk mengakuisisi
aset modal jangka panjang organisasi. Modal biasanya berasal dari utang jangka panjang
atau ekuitas. Hasil utang jangka panjang dari pinjaman dana melalui pinjaman atau
hutang obligasi, dan hasil ekuitas dari menerbitkan saham biasa atau pilihan. Instrumen
keuangan menyediakan modal yang diperlukan untuk memperoleh aset modal jangka
panjang. Sumber proses modal adalah mereka proses untuk mengizinkan peningkatan
modal, melaksanakan peningkatan modal, dan benar memperhitungkan modal yang.
Karena besarnya dan pentingnya metode ini meningkatkan modal, instrumen keuangan
harus digunakan hanya bila diperlukan.
Transaksi dan proses yang dihasilkan terkait dengan pinjaman, hutang obligasi, dan
saham harus dijalankan hanya ketika manajemen puncak atau direksi kewenangan
mereka, dan penggunaan modal yang dihasilkan harus dikontrol dengan baik. Proses ini
adalah proses administrasi karena manajer puncak, para administrator dari organisasi,
bertanggung jawab untuk otorisasi, kontrol, dan penggunaan modal.
Dewan direksi harus memutuskan antara dua sumber umum dana modal: utang atau
ekuitas. Jika ekuitas dipilih sebagai sumber modal, perusahaan akan perlu menjual saham
biasa atau pilihan. Perusahaan biasanya tidak dapat mengakses pasar saham secara
langsung dan harus melakukan penjualan saham melalui underwriter. Underwriter adalah
pihak ketiga yang kontrak dengan sebuah perusahaan untuk membawa efek baru ke pasar
umum.
Sejak manajemen puncak mengarahkan proses modal ini, ada kontrol yang melekat.
Proses ini tidak dapat terjadi tanpa otorisasi khusus dan pengawasan oleh manajemen
puncak yang merupakan internal kontrol yang kuat.
3. INVESTMENT PROCESSES
Dalam banyak kasus, sebuah organisasi menemukan bahwa ia memiliki dana lebih di
tangan dari yang diperlukan untuk mengoperasikan organisasi. Kinerja yang tepat dari
fungsi kepengurusan akan menyarankan bahwa manajemen harus menginvestasikan dana
kas berlebih tersebut di tempat di mana mereka bisa mendapatkan keuntungan.
Manajemen harus benar mengelola investasi dana berlebih. Proses investasi
mengotorisasi, melaksanakan, mengelola, dan benar memperhitungkan investasi dana
berlebih.
Terlepas dari bagaimana kelebihan dana yang diinvestasikan, harus ada serangkaian
proses administrasi yang mengotorisasi, melaksanakan, dan account yang tepat untuk
investasi. Hal yang penting untuk memastikan bahwa ketika proses investasi dimulai,
manajemen puncak tidak memiliki rencana untuk menggunakan dana tersebut.
Manajemen puncak harus terus memantau dana yang tersedia dan mempertimbangkan
kebutuhan masa depan. Dengan demikian, pengakuan bahwa ada kelebihan dana dan
keputusan terkait dengan otorisasi investasi dana mereka adalah fungsi administrasi (top
manajemen). Biasanya, bendahara korporasi (atau orang-orang di bawah wewenang
bendahara) memiliki tanggung jawab untuk membuat keputusan investasi dan mengawasi
investasi. Para pihak yang membentuk manajemen puncak tergantung pada jenis
organisasi. Untuk sebuah perusahaan, dewan direksi adalah tingkat manajemen puncak
yang memberikan kewenangan dan mengontrol sumber proses modal. Untuk kemitraan
atau kepemilikan, pemilik adalah manajer puncak.
Karena sebagian besar perusahaan-perusahaan besar memiliki sistem IT akuntansi
yang kompleks, sistem akuntansi dapat mengotomatisasi banyak proses investasi,
termasuk memberitahukan manajemen ketika ada kelebihan dana. Artinya, sistem IT
dapat meramalkan kebutuhan uang tunai di masa depan dan arus kas masa depan dengan
memonitor waktu jatuh tempo hutang dan tanggal penerimaan piutang. Sistem terus dapat
membandingkan saldo kas saat ini dengan perkiraan kebutuhan dan sumber, dan
memberikan umpan balik ke manajemen tentang kelebihan dana potensial.
4. RISK AND CONTROLS IN CAPITAL AND INVESTMENT PROCESS
Kontrol yang penting untuk proses sumber modal dan proses investasi adalah otorisasi
khusus dan pengawasan oleh manajemen puncak. Pengawasan langsung manajemen
puncak ini membantu untuk mencegah resiko pencurian atau penyalahgunaan kas yang
berhubungan dengan proses modal dan proses investasi. Selain itu karena jumlah uang
yang besar dalam proses ini tidak memungkinkan untuk ditangani oleh karyawan biasa.
Karena transaksi ini di autorisasi langsung oleh manajemen puncak dan dana tidak
ditangani oleh karyawan, resiko yang perlu digarisbawahi tidak sama dengan resiko
proses lainnya, secara umum tidak terkait dengan kecurangan karyawan (employee fraud)
akan tetapi akan terkait dengan manajemen fraud, dimana manajemen puncak jauh lebih
mungkin untuk melakukan kecurangan dengan memanipulasi proses modal dan investasi.
Bukan berarti pengendalian internal yang ada diabaikan, tetapi disamping kontrol rutin di
tempat, perusahaan harus hati-hati memeriksa resiko yang terkait dan menerapkan
pengendalian yang relevan yang ditujukan untuk pencegahan dan mendeteksi kecurangan
manajemen.
5. GENERAL LEDGER PROCESSES
Proses bisnis dalam suatu organisasi terdiri dari berbagai transaksi akuntansi. Ketika
suatu peristiwa terjadi, akuntan harus memutuskan apakah transaksi tersebut adalah
transaksi biasa yang berulang. Jika merupakan transaksi reguler dan berulang maka akan
dicatat di dalam jurnal khusus, yang merekam tipe tertentu dari transaksi. Misalnya
penjulan ke pelanggan akan dicatat dalam jurnal khusus yang disebut jurnal penjualan.
Transaksi yang rutin dan berulang ini nantinya akan diposting ke buku besar
pembantu. Buku besar pembantu (subsidiary ledger) mempertahankan informasi detail
mengenai transaksi rutin dengan akun yang ditetapkan untuk masing-masing entitas.
Misalnya, penjualan kredit kepada pelanggan harus dicatat dalam piutang buku besar
pembantu. buku besar pembantu ini mempertahankan detail dan saldo transaksi untuk
setiap pelanggan individu. Secara berkala, seperti akhir setiap hari atau akhir setiap
minggu, subtotal dari jurnal khusus yang diposting ke rekening buku besar.
Untuk transaksi yang tidak biasa dan tidak berulang, maka tidak dicatat dalam jurnal
khusus dan buku besar pembantu. Transaksi tidak rutin ini akan masuk ke jurnal umum
dan diposting kebuku besar, contohnya transaksi proses modal dan investasi.
Pada akhir periode penting untuk memastikan bahwa semua pendapatan, pengeluaran,
penggajian, hutang dan piutang telah diposting ke buku besar. Setelah semua transaksi
diperoleh dan diposting, neraca saldo disusun dari saldo rekening di buku besar. Setelah
koreksi untuk posting yang terdapat kesalahan, jurnal penyesuaian dicatat dalam jurnal
umum dan diposting ke buku besar. Laporan keuangan disusun dari jurnal penyesuaian
dalam buku besar. Untuk mempersiapkan buku besar untuk periode akuntansi berikutnya
dan untuk mentransfer laba ke laba ditahan, jurnal penutup dicatat di dalam jurnal umum
dan di posting ke buku besar.
Sementara sangat sedikit organisasi menggunakan sistem akuntansi manual, banyak
perangkat lunak akuntansi yang digunakan saat ini dibangun di atas konsep-konsep yang
mendasari proses siklus akuntansi manual. Misalnya, ketika memasuki transaksi di
software akuntansi Microsoft Dynamics, salah satu harus memilih modul yang benar
dari menu. Temukan modul ini mirip dengan memilih jurnal khusus yang benar. Pameran
12-8 memiliki screen capture dari menu pilihan modul dari Microsoft Dynamics.
Sebagai contoh, jika transaksi penggajian untuk diproses dalam perangkat lunak,
pengguna akan memilih "Payroll," dan untuk transaksi penjualan pengguna akan memilih
"Penjualan." Oleh karena itu, apakah sistem akuntansi manual maupun komputerisasi,
kita harus memahami proses dan jurnal khusus, buku besar pembantu, dan rekening buku
besar dalam sistem akuntansi.

6. RISK AND CONTROLS IN GENERAL LEDGER PROCESSES


a. Authorization of transactions
#Pada sistem akuntansi manual, voucher jurnal disiapkan oleh manajer pada
departemen penjualan, dan voucher jurnal yang disetujui diteruskan ke departemen
general ledger (buku besar). Voucher jurnal akan meliputi jumlah, account yang
terkait dan tanda tangan pengesahan (authorized signed). Posting ke buku besar tidak
akan terjadi tanpa adanya tanda tangan pengesahan pada voucher dari departemen
yang terkait.
Contoh : Upah dan pemotongan tidak akan diposting ke buku besar tanda adanya
voucher yang telah di tanda tangani oleh departemen penggajian.
Vocher yang ditandatangani inilah yang berfungi sebagai otorisasi untuk memposting
data ke buku besar (general ledger).

#Pada sistem akuntansi yang telah komputerisasi, dokumen voucher jurnal dalam
bentuk fisik kertas bisa jadi tidak ada. Dalam sistem ini, transaksi akan dimasukkan
ke dalam modul khusus, tetapi tidak akan diposting ke buku besar sebelum batch
transaksi benar-benar lengkap dan kesalahan telah diperbaiki.
Contoh : Penjualan selama satu hari akan dimasukkan ke dalam modul Penjualan,
akan tetapi tidak akan diposting ke buku besar sampai akhir hari.

Selain itu, penugasan terbatas untuk karyawan tertentu yang telah ditunjuk oleh
manajemen yang dapat melakukan posting ke buku besar. Karyawan ini akan
memiliki ID dan password yang akan memungkin baginya untuk masuk ke penjualan
individual dalam modul Penjualan. Dan hanya karyawan yang telah ditunjuk ini
yang akan bisa melakuka akses ke buku besar.

Baik itu sistem manual ataupun sistem komputerisasi, posting ke akun buku
besar hanya dapat terjadi ketika adanya otorisasi yang tepat. Pada sistem manual dan
sistem komputerisasi yang kurang kompleks, otorisasi untuk memposting terletak
pada voucher.
b. Segregation of duties (Pemisahn Tugas)
Pada sistem manual dan sistem IT yang masih simple pemisahan tugas dilakukan pada
pemisahan :
Otorisasi untuk merekam data pada buku besar
Pemisahan asset pada buku besar
Melakukan memasukkan jurnal khusus dan jurnal pembantu pada buku besar

Pada sistem IT yang lebih kompleks : tidak banyak pemisahan tugas yang mungkin
dilakukan karena sistem yang menyiapkan dan memposting data.

c. Adequate records and documents


Untuk mempertahankan catatan dan dokumen yang memadai dalam buku besar
manual maka ada dua hal yang penting, yaitu :
Organisasi harus mempunyai grafik yang dapat mendefinisikan akun dengan baik.
Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan klasifikasi transaksi yang
diposting ke akun yang salah, maka bagan harus dirancang dengan cara yang dapat
meminimalkan kesalahan tentang jenis transaksi. Bagan akun harus memiliki jumlah
yang cukup dan jenis akun yang memfasilitasi klasifikasi akurat dari transaksi.
Harus ada audit trail yang memadai untuk memungkinkan transaksi dilacak kembali
ke sumber. Dalam sistem manual, dokumen sumber, jurnal khusus, buku besar
pembantu, voucher jurnal, dan buku besar akan menjadi audit trail.
Dalam sistem akuntansi komputerisasi IT, audit trail dapat terdiri dari gambar
elektronik di file. Contohnya terdiri dari kertas dokumen sumber, log transaksi,
file transaksi, dan file induk
d. Security of the general ledger and documents
Untuk sistem manual, buku besar dan dokumen pendukung harus dilindungi dari akses
yang tidak sah yang akan memungkinkan untuk mengubah catatan. Kertas dokumen
dan catatan dari sistem manual dapat dilindungi dengan membatasi jumlah orang yang
memiliki akses ke dokumen ini.
Untuk sistem akuntansi berbasis IT, melindungi catatan akses dengan cara yang
berbeda, yaitu dengan penggunaan ID, Password dan meja otoritas sumber daya. Hal
ini untuk mengontrol hanya karyawan tertentu yang memiliki akses ke catatan atau file
tertentu.
e. Independent checks and reconciliation
Pada buku besar yang menggunakan sistem manual, rekonsiliasi jurnal khusus dan
buku besar pembantu dengan buku besar adalah pemeriksaan independen atas
keakuratan pencatatan rutin dan berulang. Manajer juga harus secara teratur meninjau
laporan buku besar untuk akurasi dan kelengkapan.
Pada sistem IT, untuk memastikan kebenarannya dengan mencetak dan melakukan
saling memeriksa laporan terhadap satu sama lain untuk memastikan keakuratan.

7. REPORTING AS AN OUTPUT OF GENERAL LEDGER PROCESSES


Informasi dalam rekening buku besar akan memberikan umpan balik yang penting
bagi kedua belah pihak baik internal maupun eksternal. Pihak eksternal seperti investor
dan kreditor akan menggunakan unutk mengevaluasi kinerja bisnis. Sedangkan manajer
internal membutuhkan umpan balik financial dan nonfinansial untuk perencanaan yang
tepat dan control terhadap operasi.
a. External Reporting
Secara umum laporam keuangan terdiri dari laporan laba rugi, posisi keuangan, arus
kas, laporan perubahan ekuitas dan catatan atas laporan keuangan. Laporan ini lah
nantinya yang akan dilihat oleh pihak eksternal. Laporan-alaporan tersebut merupakan
rangkuman dari berbagai general ledger yang ada dalam organisasi. Pengguna
eksternal tidak akan menggunakan informasi terinci yang ada pada buku besar (general
ledger) dan akan kewalahan oleh detail pada buku besar yang terdiri dari banyak akun.
Karena itu pihak eksternal akan lebih melihat pada laporan keuangan.
Sistem IT akuntansi telah deprogram untuk menggabungkan dan memproses akun-
akun yang ada menjadi laporan keuangan. Ketika laporan ini diperlukan pada akhir
periode maka laporan ini dapat dicetak.
b. Internal Reporting
Laporan internal diberikan yang diberikan kepada manajer biasanya bervariasi
tergantunf pada beberapa faktor. Laporan internal tidak seperti laporan keuangan yang
umum, namun laporannya akan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik dari masing-
masing tingkat manajemen dan fungsinya. Banyak faktor yang mempengaruhi jenis
laporan internal, akan tetapi dapat diringkas pada tiga kategori :
Tipe organisasi
Jenis organisasi akan sangat mempengaruhi jenis laporan yang dibutuhkan untuk
mengelola organisasi. Contohnya, perusahaan manufaktur akan membutuhkan
laporan yang berbeda dari perusahaan retail. Perusahaan manufaktur
membutuhkan laporan internal untuk mengelola aliran bahan baku, barang dalam
proses dan tenaga kerja manufaktur. Sementara perusahaan retail tidak memiliki
proses tersebut. Perusahaan manufaktur dan retail akan mengelola persediaan,
sementara untuk perusahaan jasa tidak.
Function managed
Jenis fungsi bisnis yang manajer awasi juga akan mempengaruhi jenis
laporanyang dibutuhkan. Contoh : seorang manajer operasi membutuhka laporan
tentang operasi, seperti layanan tentang jam mesin, unit yang diproduksi, unit
yang rusak, dan penggunaan material. Jenis laporan operasional tidak dapat dibuat
berdasarkan kepada buku besar. Namun, semua transaksi dicatat dalam proses
akuntansi, baik data finansial maupun non finansial yang nantinya akan
diakumulasi. Oleh karena itu, sistem akuntansi sering mencatat, baik data
keuangan dan operasional yang dapat digunakan dalam laporan.
Sementara manajer yang mengarahkan aspek keuangan bisnis akan
membutuhkan data keuangan pada laporan internal.
Time Horizon
Relevan horizon waktu akan memiliki dampak terhadap jenis laporan yang
dibutuhkan oleh manajemen. Contoh : untuk harian manajer cenderung fokus pad
penghitungan fisik, seperti jumlah yang dipesan, namun untuk jangka waktu
bulanan atau dalam waktu satu bulan data keuangan serti varians harga pembelian
akan lebih berguna.
8. ETHICAL ISSUES RELATED TO ADMINISTRATIVE PROCESSES AND
REPORTING
Pada proses dan pelaporan administrasi ini perilaku tidak etis akan lebih mungki
dilakukan oleh manajemen. Ada beberapa alasan bahwa perilaku tidak etis akan
dilakukan oleh manajemen daripada karyawan :
Sistem yang dikontrol dengan baik pada proses dan pelaopran adminitrasi ini,
karyawan tisak memiliki akses ke asset yang terkait atau dokumen sumber.
Proses administrasi secara ketat dikontrol dan diawasi oleh manajemen puncak, karena
proses ini memerlukan otorisasi khusus. Karyawan tidak memeliki kewenangan untuk
menyetujui atau memulai proses.
Volume transaksi yang besar dan sifatnya bervariasi serta tidak rutinnya transaksi
tersebut membuatnya gampang dideteksi oleh manajemen dan tidak memungkinkan
bagi karyawan yang melakukan kecurangan.

Unethical Behavior Management Source Of Capital And Investment (perilaku tidak


etis manajeman terhadapa sumber modal dan investasi)

Proses sumber modal dan proses investasi, dijelaskan di bagian awal bab ini, sumber
penting hadir dan penggunaan modal dalam suatu organisasi. Proses ini harus dilakukan
untuk keseluruhan baik organisasi dan dengan cara yang etis bertanggung jawab. Mereka
harus melakukan etika, dan laporan keuangan dan pengungkapan lainnya harus lengkap
dan benar. Sayangnya, proses dapat disalahgunakan atau dilecehkan oleh manajemen.
Misalnya, ketika peningkatan modal, sangat penting bahwa investor atau pemberi
pinjaman sepenuhnya diberitahu tentang semua informasi yang relevan untuk membuat
keputusan investasi atau kredit. Seringkali, manajemen berusaha untuk menyembunyikan
informasi negatif ketika meminjam dana atau menjual saham. Seperti kurangnya
pengungkapan penuh dan lengkap tidak etis, karena itu adalah upaya untuk menyesatkan
calon investor atau kreditor. Manajemen dapat menyesatkan investor dengan mengubah
atau menghilangkan data kunci. Untuk melakukan penjualan saham secara etis,
manajemen harus secara lengkap dan jujur mengungkapkan informasi yang relevan
kepada investor.

Internal Reporting Of Ethical Issues

Untuk mengelola operasi yang sedang berlangsung, manajemen harus meninjau


laporan. Selain itu manajemen dari operasi juga menginginkan laporan diterima oleh
manajer dibawahnya untuk dua tujuan penting yaitu :

- Laporan memberikan umpan balik kepada lower manager yang memantau dan
mengontrol proses dimana mereka terlibat.
- Mengevaluasi dan menghargai kinerja lower manager

Manajeman puncak memiliki kewajiban etis untuk menggunakan laporan keuangan


dan lainnya untuk mendorong perilaku etika. Mungkin lebih mudah memahami kewajiban
etis adalah dengan melihat bagaimana penggunaan laporan ini dapat mendorong perilaku
tidak etis. Ada pepatah lama apa yang diukur akan dilakukan. Jadi jika manajemen
puncak menggunakan laporan pendapatan untuk mengevaluasi dan memberikan reward,
maka manajer akan termotivasi untuk menaikkan keuntungan. Permasalahan akan terjadi
ketika manajeman puncak terlalu banyak melakukan penekanan pada keuntungan dan
tidak melakukan pengukuran dan reward atas faktor yang lain. Penekanan pada
keuntungan ini akan menyebabkan muncul perilaku tidak etis, seperti memanipulasi angka
dan transaksi untuk mencapai keuntungan yang lebih tinggi. Karena itulah manajemen
puncak harus dapat menggunakan laporan untuk memastikan tone etika yang benar dan
tepat.

Unruk mengatur tone etika yang tepat, manajemen puncak harus mengukur
beberapa faktor kinerja manajerial tanpa penekanan yang berlebih pada keuntungan atau
memperkecil biaya. Banyak perusahaan yang telah mengadopsi dan mempertimbangkan
balanced scorecard untuk pelaporan internal. Balanced scorecard mengukur beberapa
faktor, diantaranya : finansial, konsumen, proses internal, dan pembelajaran dan
pertumbuhan. Ketika sebuah perusahaan mengukur dan mempertimbangkan non
keuangan, akan berkurang juga tekanan pada manajer untuk fokus pada angka-angka
keuangan dan akan mengurangi kecenderungan untuk perilaku tidak etis.

9. CORPORATE GOVERNANCE IN ADMINISTRATIVE PROCESSES AND


REPORTING
Empat fungsi utama dari tata kelola perusahaan : pengawasan mnajemen, control
internal dan kepatuhan, pengelolaan keuangan, dan perilaku etika yang telah dijelaskan
secara rinci pada chapter 5, fungsi-fungsi ini juga berlaku pada proses dan pelaporan
administrasi seperti struktur tata kelola perusahaan yang tepat untuk mencegah kasus
penipuan, pencurian, dan penyalahgunaan atau manipulasi administrasi sumber daya dan
laporan.
Sistem, proses dan pengendalian internal yang dijelaskan merupakan bagian dari tata
kelola perusahaan. Ketika manajemen merancang, melaksanakan, dan terus menerus
mengelola proses dan pengendalian internal, hal tersebut membantu untuk memastikan
pengelolaan yang tepat untuk aser perusahaan. Tata kelola perusahaan membutuhkan
pengelolaan keuangan yang tepat, dank arena pembiayaan dan transaksi ivestasi termasuk
dalam proses administrasi yang fokus dengan penggunaan yang tepat dari kas, asset pada
neraca perusahaan paling rentan terhadap pencurian, karena itu pengelolaan keuangan
sangan penting.
Salah satu metode latihan tata kelola perusahaan atas proses administrasi dan
pelaporan keuangan adalah dengan proses penganggaran perusahaan. Jika manajemen
terlibat dalam pembentukan dan monitoring dari target yang terukur, manajemen dapat
lebih yankin dalam pengelolaan keuangan. Informasi anggaran dapat dipantau untuk
membantu manajer mengidentifikasi masalah, serta untuk menetapkan tanggung jawab
untuk berbagai fungsi dan mengevaluasi kinerja karyawan.
Akhirnya, tata kelola perusahaan yang baik tergantung pada perilaku etis dari
manajemen. Ketika manajemen menetapkan tone at the top dengan konsisten
menunjukkan dan mendorong perilaku etis, dengan itu mungkin sistem yang lebih kuat
dari tata kelola perusahaan akan dihasilkan. Peningkatan efektivitas dan efisiensi dan
mengurangi risiko penipuan cenderung untuk lingkungan tempat kerja yang ditandai
dengan tata kelola perusahaan yang efektif.