Anda di halaman 1dari 4

Pengertian Organisasi Pemerintahan

Sebelum membahas organiasi pemerintahan, kelompok kami kembali sedikit


membahas tentang defini organisasi dan pemerintahan menurut para ahli, seperti :
Definisi Organisasi :
1. Stoner, mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang
melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
2. James D. Mooney, mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap
perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
3. Chester I. Bernard, berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem
aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
4. Stephen P. Robbins, menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial
yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat
diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai
suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
Definisi Pemerintahan
1. C.F. Strong, Menjelaskan pemerintahan dalam arti luas sebagai aktivitas badan-badan
publik yang terdiri dari kegiatan-kegiatan eksekutif, legislatif dan yuridis dalam upaya
mencapai tujuan sebuah negara. Dalam arti yang sempit, beliau mengungkapkan
bahwa pemerintahan merupakan segala bentuk kegiatan badan publik dan hanya
terdiri dari badan eksekutif.
2. Syafie Inu Kencana, Pemerintahan merupakan sebuah ilmu yang mempelajari
bagaimana cara melaksanakan pengurusan badan eksekutif, pengaturan badan
llegistlatif, kepemimpinan dan juga koordinasi pemerintahan baik pusat dengan
daerahnya ataupun rakyat dengan pemerintahnya dalam segala peristiwa & gejala
pemerintahan.
3. A. Brasz, Pemerintahan ialah ilmu yang mempelajari bagaimana cara lembaga umum
disusun & di fungsikan dengan baik secara ekstern & intern terhadap warga
negaranya.
4. W.S. Sayre, Mengemukakan bahwa pemerintahan merupakan sebuah organisasi suatu
negara yang menjalankan kekuasaannya.
Organisasi pemerintah adalah organisasi atau kelompok yang bergerak atau
berkepentingan atau terlibat dalam proses politik dan dalam ilmu kenegaraan, secara aktif
berperan dalam menentukan nasib bangsa tersebut. Organisasi politik dapat mencakup
berbagai jenis organisasi seperti kelompok advokasi yang melobi perubahan kepada politisi,
lembaga think tank yang mengajukan alternatif kebijakan, partai politik yang mengajukan
kandidat pada pemilihan umum, dan kelompok teroris yang menggunakan kekerasan untuk
mencapai tujuan politiknya. Dalam pengertian yang lebih luas, suatu organisasi politik dapat
pula dianggap sebagai suatu sistem politik jika memiliki sistem pemerintahan yang lengkap.
Organisasi politik merupakan bagian dari suatu kesatuan yang berkepentingan dalam
pembentukan tatanan sosial pada suatu wilayah tertentu oleh pemerintahan yang sah.
Organisasi ini juga dapat menciptakan suatu bentuk struktur untuk diikuti.
Organisasi publik maupun bisnis pada dasarnya memerlukan adanya keutuhan elemen-
elemen organisasi dalam desain dasarnya. Elemen-elemen dasar dari organisasi bekerja
secara bersama-sama dalam alur yang berbeda, yaitu alur kewenangan, alur materi/bahan
kerja, alur informasi dan alur proses keputusan. Oleh karenanya organisasi sebagai sebuah
sistem, dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu:
1. organisasi sebagai sebuah sistem kewenangan formal.
2. organisasi sebagai sebuah sistem alur yang teratur.
3. organisasi sebagai sebuah sistem komunikasi informal.
4. organisasi sebagai sebuah sistem konstelasi kerja.
5. organisasi sebagai sebuah sistem proses keputusan ad hoc.
Berdasarkan alur tersebut, desain organisasi pemerintah dirancang dengan memperhatikan
kapasitas kelembagaan yang telah diuraikan sebelumnya. Yang dimaksud dengan definisi
kapasitas dalam hal ini adalah kemampuan seorang individu, sebuah organisasi atau sebuah
sistem untuk melaksanakan fungsi-fungsi dan mencapai tujuan-tujuan secara efektif dan
efisien. Hal ini harus didasari pada suatu tinjauan yang terus-menerus terhadap kondisi-
kondisi kerangka kerja, dan pada penyesuaian dinamis dari fungsi-fungsi dan tujuan.
Fungsi Orgnisasi Pemerintahan
Penyusunan struktur manajemen pada organisasi pemerintah seringkali berfokus pada
mandat atau tugas yang diberikan peraturan perundangan, dan kurang melihat organisasi
instansi pemerintah itu sebagai sebuah subsistem dari sistem yang besar. Sehingga ada
kecenderungan membangun istana baru di sebuah kompleks permukiman. Pemikiran yang
mementingkan sektor-nya sendiri, atau berpikir dalam kotak-kotak kepentingannya sendiri
haruslah ditinggalkan. Yang penting bukanlah mendapatkan mandat sebesar dan seluas-
luasnya, akan tetapi hasil yang besar, keberhasilan yang gemilang dan ketepatan
memerankan diri dalam melaksanakan mandat itulah yang lebih penting.
Pembagian fungsi dalam organisasi Pemerintah menurut Peter Self1 (1972), didasarkan
pada dua prinsip yaitu :
a. Political significance atau bobot kepentingan politik yaitu seberapa penting bobot
politik dari bidang yang dilaksanakan oleh pemerintah. Penyelenggaraan fungsi fungsi
yang terkait dengan bidang yang dianggap penting secara politik pada umumnya akan
dipimpin langsung oleh Menteri sebagai figure pejabat politik. Menteri
Pendayagunaaan Aparatur Negara merupakan bidang yang dianggap penting bagi
keberlangsungan pendayagunaan aparatur negara. Dengan dipimpin langsung oleh
wakil rakyat, maka penyelenggaraan kebijakan di bidang Pendayagunaan Aparatur
Negara diharapkan akan lebih responsif dan akuntabel terhadap harapan dan
kepentingan masyarakat secara luas.

b. Methode of Provision yang terkait dengan bagaimana seharusnya bentuk pelaksanaan


tugas dan fungsi harus dilakukan. Pengelolaan kebijakan dilakukan secara garis besar
melalui dua cara yaitu secara hirarkis (hierarchy) dan melalui cara koordinasi
(network). Cara yang pertama dilakukan dimana perumusan kebijakan, pelaksanaan
dan pengendalian suatu kebijakan dilakukan dalam satu organisasi. Sedangkan cara
yang kedua, organisasi pemerintah yang bersangkutan hanya mengkoordinir
perumusan dan pelaksanaan kebijakan, sementara itu kewenangan dalam kebijakan
kebijakan terkait berada pada organisasi pemerintah yang lain. Suatu kebijakan
dikelola dalam satu organisasi pemerintah didasarkan pada pertimbangan dimana
bidang kebijakan yang bersangkutan bersifat strategis bagi kepentingan nasional,
memiliki dampak atau eksternalitas bersifat lintas propinsi dan bidang tersebut belum
dapat dilakukan secara optimal oleh pemerintah daerah ataupun oleh masyarakat.
Pada umumnya-tetapi tidak selalu-bidang kebijakan tersebut merupakan satu sektor
atau kalau tidak bidang bidang tersebut sangat terkait satu sama lain. Disisi lain
mekanisme pengelolaan kebijakan yang dilakukan dengan cara koordinasi didasarkan
pertimbangan bahwa bidang kebijakan yang ditangani bersifat lintas sektor,
memerlukan intervensi yang bersifat tidak langsung. Disamping itu bentuk koordinasi
ini dimaksud sebagai bentuk supporting sebagai upaya pengakuan otonomi instansi
terkait dalam pelaksanaan bidang bidang kebijakan terkait. Otonomi ini bisa terkait
dengan kemandirian masyarakat atau otonomi daerah.
Pembagian organisasi pemerintah dengan menggunakan prinsip diatas tentunya tidak
bersifat statis tetapi akan menyesuaikan konteks politik. Dalam keadaan tertentu
pengelompokan fungsi dapat berubah dari satu kementerian kepada kementerian yang lain.
Disamping itu karena persepsi elit politik yang berubah, suatu departemen dapat saja berubah
menjadi menteri negara. Sebaliknya sebuah Menteri negara bisa saja menjadi departemen
karena pertimbangan politik tertentu misalnya karena komitmen pemerintah untuk
menjadikan bidang kebijakan yang ditangani sebagai sebuah prioritas politik nasional.
Secara konseptual, dalam menyusun dan menata pelembagaan tugas dan fungsi organisasi
pemerintah, ada dua variabel yang dapat dijadikan pertimbangan untuk menentukan jenis
kelembagaannya. Variabel pertama adalah political significance yaitu derajat pentingnya
suatu bidang atau masalah secara politik. Suatu bidang yang memiliki signifikansi politik
tinggi harus dipimpin oleh Menteri. Sedangkan bidang dengan derajat signifikansi lebih
rendah maka biasanya tidak perlu dipimpin oleh pejabat politik. Variabel yang kedua adalah
methode of provision yaitu pola pengaturan melalui mana pemerintah menjawab masalah
masalah publik yang dianggap penting secara politik. Pola pengaturan dibedakan menjadi dua
yang bersifat hirarkis dan non hirarkis. Secara hirarkis berarti pengaturan dilakukan oleh satu
agency atau birokrasi pemerintah yang cukup besar dengan formalisasi pengaturan yang
tinggi. Sedangkan sifat non hirarkis, pengaturan dilakukan dengan cara berkoordinasi dengan
melibatkan banyak pihak. Dalam hubungan ini kapasitas kelembagaan meliputi paling tidak
tiga hal, yaitu menyangkut struktur kelembagaan itu sendiri, sumber daya manusia, dan
mekanisme kerja atau tatalaksana.
Aspek struktur kelembagaan adalah menyangkut struktur dan desain dari sebuah
organisasi. Pemahaman mengenai desain organisasi melahirkan banyak pendapat. Salah
satunya yang dapat diambil kesimpulan bahwa desain organisasi bersifat unik, dalam
pengertian sama uniknya seperti sidik jari. Jadi tidak ada desain organisasi yang betul-betul
persis sama antara satu dengan yang lainnya. Format kelembagaan organisasi pemerintah
pada dasarnya bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh konteks perubahan lingkungan baik
perubahan dari dalam negeri maupun luar negeri. Kecuali untuk bidang-bidang yang
dianggap menentukan kedaulatan suatu negara yaitu urusan luar negeri dan sektor
pertahanan, seluruh kelembagaan pemerintah baik pusat dan daerah pada dasarnya dapat
diubah, dikembangkan atau dibubarkan.
Penataan kelembagaan sangatlah erat kaitannya dengan penataan fungsi kewenangan
yang melekat pada organisasinya. Oleh karenanya dalam rangka penataan kelembagaan ini,
dibutuhkan kompetensi inti sesuai dengan tingkatan kepemimpinannya.

Daftar Pustaka :
https://www.menpan.go.id/cerita-sukses-rb/5457-transformasi-organisasi-
pemerintahan-melalui-penataan-struktur-dan-pengembangan-badaya-kerja
http://www.lan.go.id/images/RB/Dokumen_Program_Penataan_dan_Penguatan_Orga
nisasi.pdf