Anda di halaman 1dari 27

BAB IV

PERHITUNGAN DAN

PEMBAHASAN

4.1 Diagram alir perhitungan


Selanjutnya dibuat diagram alir (flowchart) untuk tahapan perhitungan

komponen yang ditunjukkan oleh Gambar 4.1

MULAI

Jenis benda kerja = Kertas

Tinjauan pembebanan

- Beban vacuum pad


- Beban aktuator pengangkat
- Beban aktutuator penggeser

- Perancangan vacuum pad


- Perancangan piston dan batang
piston
- Perancangan silinder
- Kebutuhan udara
- Analisa gaya pada lengan
penggeser

Perancangan Sistem
peneumatik

STOP

Gambar 4.1 Diagram alir perhitungan sistem pneumatik alat pemindah

kertas
4.2 Tinjauan pembebanan
Peninjauan beban kerja merupakan langkah awal untuk mengetahui beban

yanga akan dikenakan pada aktuator.

Berikutnya dilakukan perhitungan untuk mengetahui beban angkat pada

vacum pad dan aktuator pengankat. Perhitungan tersebut didapatkan dari

spesifikasi benda kerja dan berat vacuum dan aktuator pengangkat. Alur

peninjauan beban yaitu sebagai berikut :

4.2.1 Tinjauan pembebanan pada vacuum pad


Beban kerja vacuum pad didapatkan dari berat benda kerja, Jenis benda

kerja yang diangkat dan di pindahkan adalah berupa kertas berjenis carton.

Dengan spesifikasi sebagai berikut:

Ukuran kertas = 30 cm x 30 cm x 0,1 cm

= 0,00009 m3

Massa jenis kertas = 1201 kg/m3

Maka massa dari tersebut dapat dihitung dengan rumus :

m = Vx

m = 0,00009 x 1201

= 0,108 kg

Maka beban yang diterima vacuum pad sebesar 0,108 kg

4.2.2 Tinjauan beban pada pada aktuator pengangkat


Pembebanan pada aktuator pengangkat di peroleh dari besaran berat benda

kerja dan dan berat vacuum pad. Berat dari benda kerja sebesar 0,108 kg

sedangkan tinjauan berat pada vacuum pad sebesar 0,075 kg, besaran

terebut di dapatkan dari desain dan dimensi menggunakan perangkat lunak


Autodesk Inventor 2016, dengan pemilihan bahan material : vacuum pad

berupa Rubber dan Vacuum ejector menggunakan steel.


Maka beban angkat aktuator (F) yang diterima adalah :
F = Fbenda kerja + Fvacuum pad
= 0,108 kg + 0,075 kg
= 0,183 kg

4.2.3 Tinjauan beban pada aktuator penggeser

Pembebanan pada aktuator penggeser diperoleh dari beban benda kerja,

vacuum pad, aktuator pengangkat dan berat lengan penggeser . langkah

pertama yaitu menentukan volume dari lengan penggeser. Bahan yang

digunakan utuk lengan penggeser yaitu berupa blat baja dengan profil

kotak , dimana ditunjukkan pada Gambar 4.2

Gambar 4.2 Dimensi lengan penggeser

Dengan panjang = 70 cm

Untuk menentukan volume pada lengan dapat dicari dengan :

Vlengan = Vluar -Vdalam

a. Volume luar
Vluar = p x l x t
= 70 x 15 x 9
= 9450 cm3
b. Volume dalam
Vdalam = p x l x t
= 70 x 14,4 x 8,4
= 8467,2 cm3

Maka Vlengan = 9450 cm3 - 8467,2 cm3

= 982,8 cm3

Untuk menentukan massa dari lengan penggeser dapat dihitung dengan

rumus :


m=vx

Dimana : V = 982,8 cm3


= 7850 kg/m3

m = 982,8 cm3 x 7850 kg/m3

= 7,71 kg

Maka beban total alat pemindah kertas ditunjukkan pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Beban total Pemindah kertas

No Berat ( kg ) Jumlah Total Berat ( kg )


Vacuum
1 0,108 kg 1 0,108 kg
pad
Aktuator
2 1 0,183kg
pengangkat 0,183kg
Aktuator
3 1 7,71 kg
pendorong 7,71 kg
berat total lengan penggeser 8,001 kg

Beban total alat pemindah kertas adalah

Qtotal = Qbendakerja + Qvacumpad + Qpenggeser

= 8,001 kg

4.2.4 Gaya angkat pada Vacuum pad diameter


Teori gaya angkat dapat ditemukan dari diameter pad dan tekanan vacuum,

gaya angkat yang dibutuhkan kemudian ditemukan dengan membagi gaya

angkat dengan faktor keamanan (t).

Gaya angkat (F) = P x A


Dimana:
A = 8,04 cm2
P = P1 P2
=10
= 1 atm = 1,03 kg / cm2
Maka (F) :
= 1,03 x 8,04
= 8,281 kg

Maka didapatkan gaya sebesar = 8,281 kg

Tabel 4.2 Teori gaya angkat

Pad diameter [mm) 32 40 50 63 80 100 125


S : Pad area [cm2] 8.04 12.5 19.6 31.1 50,2 78.5 122.6

6 3 6 4 0 6
-85 68.3 107 167 265 427 667 1043
-80 64.3 100 157 249 402 628 981
-75 60.3 94.2 147 234 377 589 921
-70 56.3 87.9 137 218 352 550 859
Vacuum -65 52.2 81.6 128 203 327 510 797
-60 48.2 75.4 118 187 301 471 736
Preasur -55 44.2 69.1 108 171 276 432 675
[kPa] -50 40.2 62.8 98.1 156 251 393 613
-45 36.2 56.5 88.3 140 226 353 552
-40 32,2 50.2 78.5 125 201 491 491
4.2.5 Gaya angka pada aktuator pengangkat
Gaya angkat pada aktuator didapat saat piston bergerak mundur, maka

persamaan rumus adalah:



F= (D2 d2). 4 p

Dimana : D = 16 mm
D = 8 mm
P = 1,7 N/cm2 = 0,17 bar
Maka didapatkan gaya sebesar = 0,25 kg ( tabel 4.2)

Tabel 4.3 Gaya piston silinder

(https://maswie2000.wordpress.com/2007/11/03/silinder-pneumatik/)

4.3 Perancangan vacuum


4.3.1 pilihan kondisi
1. Benda kerja : Kertas

Dimensi : 30 x 30 x 0,1 cm

massa jenis :1201 kg/m3

2. Panjang pipa vacum :1m


3. Respon waktu : 300 msec atau lebih

4.3.2 Perancangan vacuum pad


1. Berdassarkan ukuran benda kerja, maka diameter yang dipakai adalah

32 mm.
2. Pemeriksaan gaya angkat
W : P x S x 0,1 x 1/t
Dimana : W = 0,108 kg = 1,05 N
S = /4 x (32)2 = 8,04 cm2
t = 4 (angkat Horisontal)
maka :
1,05 = P x 8,06 x 0,1 x
1,05 = 0,201
= 0,19 kPa
Dari hasil perhitungan diatas tekanan vacuum sebesar -0,19 kPa untuk

dapat mengangkat benda kerja.


3. Berdasarkan pada bentuk benda kerja dan jenis, maka dipilih :
Tipe pad : flat type with groove
Pad material : silicone rubber

4.3.3 Perancangan Ejector


1. Menentukan kapasitas pipa
Diasumsikan bahwa diameter tabung adalah 1,5 mm, kapasitas pipa

sebagai berikut :
V = /4 x D2 x L x 1/ 1000
= /4 x 1,5 mm x 1 m x 1/1000
= 0,0017 L

2. Perancangan ejector vacuum


Dengan asumsi kebocoran (QL) selama bekerja adalah 0, menentukan

aliran hisap rata-rata untuk memenuhi waktu respon kerja, maka dapat

di cari menggunkan rumus :


Q = (V x 60) / T1 + QL
= (0,0017 x 60) / 0,3 + 0
= 0,34 L
Dari hasil besaran hisab tersebut, maka maksimum laju aliran hisap

rata-rata Qmax adalah


Qmax = (2 to 3) x Q
= (2 to 3) x 0,34 L
= 0,68 to 1,02 L/mm
Menurut laju aliran hisap maksimum dari ejector vacuum , maka

diameter nozzle 0,5 cm.


4.3.4 Menentukan waktu respon
Dalam menentukan waktu respon berdasarkan karakteristik ejector

vacuum.
1. Laju aliran hisap maksimum dari vacuum ejector,
Maka laju aliran hiap rata-rata (Q1) adalah sebagai berikut :
Q1 = (1/2 to 1/3) x ejector max. Suction flow rate
= (1/2 to 1/3) x 1,02 = 0,51 to 0,34 L/min.

2. Karena Q2 lebih keci dari Q1 ,mak respon waktunya adalah :


T = (V x 60) / Q =
= (0,0017 x 60) / 0,51
= 0,2 seconds
= 200 msec
Hasil perhitungan diatas memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan

yaitu 300 msec.

4.4 Perancangan Piston dan Batang piston aktuator pengangkat


Perancangan piston dan batang piston pneumatik yang digunakan untuk

pemindah kertas dilakukan dengan tahapan-tahapan pemeriksaan ditunjukkan oleh

diagram alir pada Gambar 4.

MULAI

Beban kerja pada aktator pneumatik

1. Diameter dan tinggi piston


2. Panjang langkah dan batang
piston
3. Pemeriksaan terhadap tegangan
4. Seal piston
1. Piston dan batang
piston
Gambar 4.3 Perancangan piston dan batang piston
Langkah-langkah pemeriksaan
STOPdiameter piston, tinggi piston terhadap

tekanan kerja yang digunakan, urutan perhitungan sebagai berikut :


1. Bahan yang digunakan untuk piston adalah besi tuang kelabu JIS G 5501,

dengan spesifikasi bahan :

a. Tegangan tarik bahan


B
= 20 kg/ mm2

b. Faktor Keamanan

Sf1 6.0 Sf 2
dan = 1,0 (Sularso & Suga, K., 2004 : 8)

c. Tegangan desak bahan

20
c= = =3,4 kg /mm 2
6

d. Tegangan tarik ijin :

B 24
a 3,4 kg / mm2
Sf1 Sf 2 6

F p 0,183 kg kg 1,7, N
e. Beban maksimal :

2. Perhitungan untuk menentukan dimensi dari bagian-bagian silinder

pneumatik dengan perhitungan sebagai berikut :


a. Diameter piston (dpis) yang digunakan yaitu 16 mm = 1,6 cm

Dapat diketahui Luas area piston (Ap)

Maka :
2

A p= d 2pis = 1,62=2 cm
4 4

Diameter batang piston yang dipilih drod = 8 mm = 0,8 cm n

Maka :
2

A p= (d 2pisd 2rod )= (1,6 2 0,82)=1,07 cm
4 4
Luas area piston dan dan luas area batang piston sudah diketahui,

maka selanjutnya menentukan Tekanan kerja (P) pada saat aktuator

mengangkat benda kerja:

F
P=
A Rod

1,79
P=
1,07

P = 1,7 N/cm2 = 0,17 bar

b. Gaya efektif pada langkah maju (F)


Fmaju = Ap x p) FR
Dengan : Ap = Luas area piston = 2 cm2
FR = 10 % x Flift = 1,79 x 0,1 = 0,179 N
Maka F = Fmaju = (2 x 1,7) 0,179 = 3,221 N = 0,3 kg

c. Gaya efektif pada langkah mundur


Fmundur = Ap x p) FR
Dengan : Ap = Luas area piston = 1,07 cm2
Maka F mundur = ( 1,07 x 1,7 ) 0,179 = 1,64 N = 0,16 kg
d. Tinggi piston

H= 4F
x a = 4 x 0,183
3,14 x 3,4 = 2 mm
Tinggi piston yang digunakan adalah 2 mm
e. Pemeriksaan terhadap tegangan tekan yang terjadi pada piston (c) :

c = 4F
xH 2 = 4 x 0,183
3,14 x 22 = 0,059 kg/mm
2

Tinggi piston 4 mm dapat digunakan karena tegangan tekan yang

terjadi lebih kecil dari tegangan tekan yang diijinkan , yaitu 0,59

kg/mm2 < 2,94 kg/mm2 ( khurmi dan Gupta, 1982 : 69)


f. Pemeriksaan beban kritis (Fcr), bahan batang piston :
C 2 . E . I
Fcr = 2
L pis

Dimana : C = Kontanta kondisi adalah bulat 1


E = Modulus elastisitas untuk bahan baja ( 2,9 x 10 4 kg/

mm2
4 3,14
I = Momen inersia = d = 84 =
64 rod 64

200,96 mm4

Maka :
2
1,0 x 3,14 x 29000 x 200,96
Fcr = 100
2

= 57185,6 kg

Batang piston dinyatakan aman untuk digunakan karena F F cr, yaitu kg

0,291 57185,6 kg.

g. Perhitungan untuk menentuka tebal perapat (S) dan tinggi perapat.


Adapun urutan perhitungan sebagai berikut :
a. Tebal perapat (S). Tebal seal dapat dihitung dengan menggunkan

persamaan:
S = d pis
Dimana : Diameter piston (d) = 16 mm
Maka : S = 16 = 4 mm

4.5 Perancangan Silinder pneumatik


Perancangan silinder pneumatik pemindah kertas ditunjukkan oleh

diagram alir pada Gambar 4.4

MULAI

Beban kerja maksimal pada silinder

1. Tebal silinder
2. Panjang silinder
3. Pemeriksaan ketebalan silinder
4. Pemeriksaan ketebalan silinder
terhadap tegangan memanjang
5. Pemeriksaan ketebalan silinder
Silinder pneumatik
terhadap tegangan keliling
STOP
Gambar 4.4 diagram alir pemeriksaan silinder pneumatik
Perancangan silinder pneumatik pemindah kertas yang berfungsi untuk

alat bantu mengambil dan meletakkan kertas berdaarkan pada tekanan kerja (P)
Yang dialami oleh silinder sistem pneumatik, perancangan meliputi : tebal silinder

(tsil), panjang silinder (Lsil), Diameter silinder (Dsil) . Dilakukan pemeriksaan

ketebalan silinder terhadap tegangan memanjang (pft1), ketebalan silinder terhadap

tegangan keliling (pft2) :


1. Tekanan kerja dapat dihitung menggunkan rumus :
P = 0,17 bar = 0,0017 kg/ mm2

2. Tebal silinder (t) dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Khurni dan

Gupta, 1982 : Bahan JIS S30C :


b. Tegangan tarik bahan
B
= 48 kg/mm
c. Faktor keamanan

Sf1 6.0 Sf 2
dan = 2,0

d. Tegangan tarik ijin bahan :


B
a 48
Sf1 Sf 2
12
= = 4 kg/mm2

Maka : tsil =
d sil
2 a +P /
aP - 1 =

16
2 4+ 0,0017
40,0017 - 1 = 2,02 mm

Tebal silinder yang digunakan adalah 3 mm

3. Panjang silinder (Lsil) yang diaplikasikan adalah 100 mm


4. Diameter luar silinder (Dsil) silinder yang digunakan adalah jenis single

acting cilinder maka sistem pneumatik terdiri dari satu silinder pneumatik

diameter luar silinder pneumatik tersebut adalah :


D0 = Dsil + 2tsil
Diameter dalam : Dsil = dpis + 0,004 mm = 16 + 0,004 = 16,004 mm
D0 = Dsil + 2tsil sehingga D0 = 16,004 + 2 x 3 = 22,004 mm

5. Pemeriksaan ketebalan silinder terhadap tegangan memanjang (pft1)


p . Dsil 0,0017 x 16,004
ft1 = 4. t . sil = = 0,023 kg/mm2
4 x3

Ketebalan silinder 6 mm aman digunkan karena ft 1 a , yaitu 0,023

kg/mm2 4 kg/mm2 (Khurmi dan Gupta, 1982 :68)

6. Pemeriksaan ketebalan silinder terhadap tegangan keliling (pft2)


p . Dsil 0,0017 x 16,004
ft2 = 2 x t sil = 2x 3 = 0,046 kg/mm2

Ketebalan silinder 8 mm aman digunakan karena ft2 a , yaitu = 0,046

kg/mm2 4 kg/mm2 (Khurmi dan Gupta, 1982 :68),

7. Perhitungan untuk menentukan tebal perapat (S), dan tinggi perapat (h).

Adapun urutan perhitungan sebagai berikut :


a. Tebal perapat (S)
Tebal seal perapat dihitung dengan menggunkan (stolk dan Kross,

1994 : 523 ) yaitu :


S = d rod
Dengan : Diameter batang piston (drod) = 8 mm
Maka : S = 8 = 2,82 mm

b. Tinggi perapat ( h )
Panjang seal dapat di hitung dengan menggunkan rumus (stolk dan

Kross, 1994 : 523 ) :


H=nxS
Dengan Jumlah perapat (n) = 3 buah
Maka : h = 3 x 2,82 = 6,84 mm

4.6 Perencanaan Aktuator Rotary


Untuk menghitung kekuatan aktuator rotary dalam menggerakkan beban

maka perlu dicari diameter pistonya.


Dimana : Aktuator rotary
F = 8.001 kg = 78,46 N
a = 2 m/s2
R= 10 %
a. Diameter piston (dpis) yang digunakan yaitu 16 mm = 1,6 cm

Dapat diketahui Luas area piston (Ap)

Maka :
2

A p= d 2pis = 1,62=2 cm
4 4

Diameter batang piston yang dipilih drod = 8 mm = 0,08

Maka :
2

A p= (d 2pisd 2rod )= (1,6 2 0,82)=1,07 cm
4 4

Luas area piston dan dan luas area batang piston sudah diketahui,

maka selanjutnya menentukan Tekanan kerja (P) pada saat aktuator

mengangkat benda kerja:

F
P=
Ap

78,46 N
P=
2

P = 39,23 N/cm2 = 3,923 bar

Tekanan kerja yang di pilih yaitu = 4 bar

4.7 Kebutuhan Udara


Didalam kriteria untuk perencanaan udara yang dibutuhkan , hal yang

penting harus diketahui adalah :


1. Kapasitas penghantaran volume
Kapasitas penghantaran volume adalah jumlah atau volume efektif per

satuan waktu yang harus dihamtar atau dibangkitkan oleh kompresor.


2. Tekanan kerja
Tekanan kerja adalah tekanan yang ada dalam suatu perangkat

pneumatik. Pada umumnya tekanan operasi 6 bar, dibedakan menjadi 2

macam :
a. Tekanan kerja
Adalah tekanan yang keluar dari kompresor atau tekanan dalam

penampung dan tekanan dalam pipa-pipa saluran kesilinder, kontrol

dan katup.
b. Tekanan Operasi
Adalah tekanan yang dibutuhkan pada saat operasi pemampatan

atau pada saat peralatan pneymatik bekerja

Jumlah total konsumsi udara :

Dalam Perencanaan menggunkan 3 buah aktuator ,yaitu

a. Vacuum Pad
b. Aktuator pengangkat
c. Aktuator Rotary
Untuk menyiapkan udara dan untuk mengetahui biaya pengadaan energi

terlebih dahulu harus diketahui konsumsi udara pada sistem. Pada tekanan kerja

diameter piston dan langkah tertentu, konsumsi udara dihitung sebagai berikut

(Croser, 1999 : 174)


Q= 2 x s x n x q
Dimana :

Q = kebutuhan udara silinder (ltr/min)

q = kebutuhan udara persentimeter langkah piston


- q (Aktuator pengangkat) : 0,004 ltr/cm
- q (Aktuator penggeser) : 0,010 ltr/cm
s = panjang langkah piston
n = jumlah siklus kerja permenit = 1

Maka :

1. Kebutuhan Udara pada Vacumm Pad


Q = (1/2 to 1/3) x ejector max. Suction flow rate (Di ambil dari

perhitungan 4.3.4)
= (1/2 to 1/3) x 1,02 = 0,51 to 0,34 L/min.

Maka kebutuhan max yang diambil rata-rata yaitu 0,51 L/min

2. Kebutuhan udara pada aktuator pengangkat


Q = 2 . ( s. n . q ) Liter/ min
= 2. (10. 1 . 0,004 )
= 0,08 Liter/ min

3. Kebutuhan udara pad aktuator rotary


Q = 2 . ( s. n . q ) Liter/ min
= 2 . ( 15 . 1 . 0.010)
= 0,3 Liter/ min

Maka hasil perhitungan diatas dapat diketahui :

Kebutuhan Udara pada Vacumm Pad = 0,51 Liter/ min

Kebutuhan udara pada aktuator pengangkat = 0,08 Liter/ min

Kebutuhan udara pad aktuator rotary =0,3 Liter/ min

Total kebutuhan udara adalah

Qtotal = Q1 + Q2 + Q3

= 0,51 Liter/ min + 0,08 Liter/ min + 0,3 Liter/ min

= 0,89 Liter/ min

Jadi kompresor yang digunakan yaitu kompresor torak, dengan

tekanan 6 Bar dan volume penghantaran sebesar 0,96 liter/menit.

Batas maksimal untuk jenis kompresor torak adalah sebagai berikut :

1. Kompresor satu tingkat


100 kPa ( 1 Bar/ 14,5 Psi ) sampai 4 kPa ( 4 Bar/ 58 Psi )
2. Kompresor dua tingkat
500 kPa ( 5 Bar/ 72,5 Psi ) sampai 1500 kPa ( 15 Bar/ 217,5 Psi)
3. Kompresor tiga tingkat atau lebih
Diatas 1500 kPa ( 15 Bar/217,5 Psi )

Jadi kompresor yang digunakan adalah kompresor torak satu tingkat.

4.8 Kecepatan aktuator


Suatu silinder pneumatik memiliki torak dengan luas dan memiliki luas

penampang totak, maka kecepatan torak saat maju akan lebih kecil dibandingkan

dengan bergerak mundur .


Q
Vmaju = A pis

Q
Vmundur = A rod

Dimana :
V = Kecepatan Torak (m/s)
Q = Debit aliran udara (m3/s)
A = Luas penampang piston (m2)
1. Kecepatan langkah maju untuk aktuator pada vacuum pad
Kecepatan vacuum pad didapat dari perhitungan waktu respon pada

(4.3.2).
Dimana :
Qmax = (2 to 3) x Q
= (2 to 3) x 0,34 L
= 0,68 to 1,02 L/mm

2. Kecepatan lagkah maju untuk aktuator pengangkat


Kebutuhan udara pada aktuator pengangkat = 0,08 Liter/ min
= 1,33 x 10-6 m3/sec
2
A piston = 2 cm
A batang piston = 1,07 cm2
0,00000133
Vmaju = 0,00113

= 0,006 m/sec
0,00000133
Vmundur = 0,000107

= 0,012 m/sec
3. Kecepatan geser untuk aktuator rotary

Kebutuhan udara pada aktuator rotary = 0,3 Liter/ min

= 5 x 10-6 m3/sec

A piston = 2 cm2
A batang piston = 1,07 cm2
0,000005
Vmaju = 0,0002

= 0,025 m/sec
0,000005
Vmundur = 0,000107

= 0,046 m/sec
Waktu yang dibutuhkan ketika bergerak maju ataupun mundur adalah

sebagai berikut :
1. Kebutuhan Waktu yang dibutuhkan ketika vacuum pad bekerja,

didapat dari perhitungan waktu respon pada (4.3.4).


T = (V x 60) / Q
= (0,00628 x 60) / 1,7
= 0,221 seconds
= 221 m/sec

2. Kebutuhan waktu aktuator pengangkat benda kerja


Panjang langkah = 10 cm = 0,1 m
V maju = 0,06 m/sec
V mundur = 0,012 m/sec
S
Tmaju = V

0,1
T = 0,06

= 1,7 sec
S
Tmundur = T

0,1
T = 0,012

= 0,8 sec

3. Kebutuhan waktu aktuator penggeser


Panjang langkah = 15 cm = 1,5 m
V maju = 0,025 m/sec

V mundur = 0,046 m/sec


S
Tmaju = V
1,5
t = 0,025

= 6 sec
S
Tmundur = v

1,5
t = 0,046

= 3,2 sec

4.9 Analisa Gaya Pada lengan Penggeser


Mekanisme kerja lengan penggeser dan ilustrasi pembebanan pada lengan

penggeser pemindah kertas, ditunjukkan oleh Gambar 4.

Gambar 4.5 Ilustrasi pembebanan pada lengan penggeser

Urutan analisa gaya pembebanan pada lengan pengangkat adalah sebagai

berikut :
a. Dengan : Beban kerja = 0,813 kg
Jarak a-b = 0,70 m
b. Reaksi pada tumpuan A :

X=0 HA =0

Y =0 R A + RB - F = 0 RA + RB = 0,813 kg

MB
=0 RA . a (F x L) = 0
c. Diagram gaya geser (SFD)
0 x 0,70 : Q0-0,7 - RA = 0

Q0 = -0,813 kg ; Q0-0,7 = - 0,813 kg

d. Diagram momen bending (BMD)


0,72 x : M0-0,7 - RA . X = 0
M0 = RA x 0 = - 0,813 x 0 = 0 kg
M0,7 = RA x 0,7 = -0,813 x 0,7 = - 0,569 kg.m
e. Diagram gaya geser (SFD = shear force diagram) dan momen bending

(BMD = banding moment diagram) ditunjukkan oleh Gambar 4.

Gambar 4.6 SFD dan BMD pada lengan penggeser


Menghitung tegangan yang teradi pada lengan penggeser
M xC
= I

Dimana :
M = Momen bending max (kg.m)
C = Letak titik beban (m)
I = Momen inersia (m4)
Adapun profil untuk bahan lengan penggeser ditunjukkan oleh Gambar

4.5

Gambar 4.7 Profil bahan lengan penggeser


a. Menentukan letak titk berat (c) terhadap y dan x lengan penggeser,

menggunakan bantuan tabel. 4.3


Tabel 4.4 Letak titik berat terhadap sumbu x dan y pada lengan penggeser

Komponen Luas Letak titik berat Letak titik berat (cm2)


Luas y Luas x
(cm2) terhadap y terhadap x

A1 4,5 7,5 0,15 33,75 0,68


A2 4,5 7,5 14,85 33,75 66,82
B1 2,7 8,85 4,5 23,89 12,15
B2 2,7 0,15 4,5 0,405 12,15
Total 14,4 91,80 91,80

luas x y 91,80
Sehingga : ey rangka = luas = 14,4 = 6,3

luas x y 91,80
ex rangka = luas = 14,4 = 6,3
Maka : carm = ey rangka = ex rangka = 6,38

b. Mencari momen inersia profil lengan penggeser


Iarm = I luar I dalam
Momen inersia untuk luar bagian luar
bh3 9.4,53
Iluar = 12 = 12 = 2531,25 cm4
Momen inwesia untuk bagian dalam
bh3 8,4.14,83
I dalam = 12 = 12 = 2090,19 cm4
Maka ,momen inersianya :
Iarm = I luar I dalam = 2531,19 2090,19 = 4621,38 cm4
Momen banding pada lengan penggeser

M = M0,7 = 0,569 kg.m = 56,89 kg

Maka tegangan yang terjadi pada rangka lengan penggeser

M xC 56,89 x 6,38
lengan = I = 4621,38 = 0,07 kg/cm2 = 0,0007 kg/mm2

4.10 Diagram Rangkaian sistem pneumatik


Adapun diagram rangkaian sistem pneumatik yang dirancang untuk

mengambil dan meletakkan yang berfungsi untuk alat bantu pemindah kertas pada

mesin Plong.
Gambar 3.8 Skema rangkaian pneumatik alat bantu pemindah kertas
Keterangan Gambar
1A1. Vacuum suction nozzel 2A1. Double acting sylinder 3A1. Semi rotary actuator
1A2. Vacuum pad 2V1. 5/3 way valve 3V1. 3/2 way valve
1V1. 3/2 way valve 1Z. Air service unit 3V2. 5/2 way valve
1V2. 5/2 way valve 2V2. 3/2 way valve 3V3. Time delay valve
1V3. 3/2 way valve

3.1.1 Cara kerja sistem pneumatik


1. Udara bertekanan dari kompresor akan masuk keseluruh rangkaian

pneumatik, sistem pneumatik dalam keadaan siap untuk dijalankan. Dalam

posisi ini aktuator double acting cylinder (1A1) bergerak maju karena

udara yang masuk katup 5/2 way valve (1V2) kesaluran 2 sehingga

aktuator terdorong maju.


Gambar 3.9 Posisi awal udara mengalir keseluruh rangkaian

2. Setelah sistem pneumati siap dijalankan, katup 3/2 way valve (1V1)

ditekan maka udara akan masuk melalui saluran 2 kemudian katup 5/2

way valve (1V2) akan bergeser posisi, udara dari saluran 1 akan masuk

melalui saluran 4 sehingga vacuum suction nozzel akan terlewati udara dan

akan menimbulkan kevacuman.


Gambar 3.10 Posisi Vacum Pad Bekerja
3. Setelah vacuum teraktuasi, udara yang sudah terhubung melalui saluran 4

dari katup 5/2 way valve udara akan tersalurkan ke time delay valve (sudah

di atur opening level) kemudian udara akan keluar melalui saluran 2 lalu

masuk ke katub 5/2 way valve ,udara masuk dari saluran 1 ke saluran 4

sehingga menggerakkan aktuator semi rotary (3A1), udara di depan

aktuator akan keluar melaui saluran 2 ke saluran buang 3 pada katup 5/2

way valve (3V2) dan katup ketika aktuator (3A1) sudah pada posisi 2B2

maka katup 3/2 way valve (1V3) akan teraktuasi udara masuk masuk

saluran 1 ke saluran 2, katup 5/2 (1V2) akan bergeser dan udara saluran 1

ke saluran 2 maka vacuum pad, maka aliran udara akan mendorong ke

arah keluar.
Gambar 3.11 posisi aktuator semi rotary berputar
4. Ketika vacuum dan aktuator semi rotary sudah berjalan maka posisi ini,

katup 3/2 way valve (1V3) mendapat sinya dari 2B2 semi rotary (3A1)

maka katup akan menggerakkan katup 5/3 way valve (3V2) kesaluran

udara 2, udara menggerakkan aktuator semi rotary, dan udara di aktuator

kesaluran 4 kemudian akan keluar kesaluran 5.


Gamabar 3.12 Aktuator kembali keposisi awal