Anda di halaman 1dari 34

Proses Pemisahan dengan Perpimdahan Massa

PENGOLAHAN DAN PEMISAHAN


MINYAK BUMI

Di
S
U
S
U
N
Oleh :
Rida Sirta Dewi
1504003010009

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SYAHKUALA
DARUSSALAM-BANDA ACEH
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta nikmat iman dan islam kepada kita
semua sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah ini. Shalawat serta salam
semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya,
sahabat dan umatnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang baik ini tidak lupa penyusun menyampaikan terima
kasih kepada:
1. Kedua orang tua yang selalu mendukung kami
2. Kepada dosen pembimbing Mata Kuliah Proses Pemisahan dengan
Perpimdahan Massa.
3. Kepada kawan-kawan yang telah membantu, baik dari segi materi,
pengetahuan, maupun material hingga selesainya penyusunan Makalah ini.

Makalah ini yang berjudul PENGOLAHAN DAN PENGOLAHAN


MINYAK BUMI disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Proses
Pemisahan dengan Perpimdahan Massa. Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan baik itu dari segi penyajian maupun dari segi
penyusunannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari
semua pihak yang sifatnya membangun dan perbaikan penyusunan makalah ini
lainnya yang akan datang. Semoga Makalah ini bermanfaat, khususnya bagi
penulis dan umumnya bagi semua pembaca. Amin.

Banda aceh, 16 April 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Minyak bumi adalah salah satu sumber energi yang paling berperan dalam
kehidupan manusia Minyak Bumi merupakan salah satu sumber enetgi yang
paling sering digunakan oleh manusia. Berdasarkan model OWEM (Opec World
Energi Model)/ permintaan minyak dunia pada periode jangka menengah (2002-
2010) diperkirakan meningkat sebesar 12 juta barel perhari (bph) menjadi 89 juta
bph atau tumbuh rata-rata 1,8% pertahun. Sedangkan pada periode
berikutnya(2010-2020), permintaan naik menjadi 106 juta bph dengan
pertumbuhan sebesar 17 juta bph.

Tak hanya untuk bahan bakar mesin, namun minyak bumi juga digunakan
untuk sumber energi dalam memasak, bahkan lilin pun terbuat dari minyak bumi.
Minyak bumi berasal dari sisa sisa tumbuhan dan hewan yang telah mati
kemudian diuraikan oleh tanah, sehingga Sumber Daya Alam ini tergolong lambat
dalam pembaharuan, sehingga dapat dikategorikan sumber daya alam tak
terbaharui. Minyak bumi yang telah diolah dan dimanfaatkan oleh manusia
contohnya seperti pelumas, plastik, karet, bahan bakar minyak, bitumen, lilin,
pestisida, cat).

Minyak bumi merupakan senyawa hidrokarbon. Sifat dan karakteristik


dasar minyak bumi inilah yang menentukan perlakuan selanjutnya untuk
mengolah minyak bumi itu Hal ini juga akan mempengaruhi produk yang
dihasilkan dari pengolahan minyak tersebut.Maka dari itu pengetahuan tentang
minyak bumi sangat penting, mengingat SDA yang paling banyak digunakan ini
tidak dapat diperbahrui sehingga kita harus berusaha mencari alternatif dan
berusaha menghemat minyak bumi ini.
1.2.Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan Minyak Bumi
b. Bagaimana Sejarah Minyak Bumi
c. Apa saja Komposisi Minyak Bumi
d. Bagaimana Pembentukan Minyak Bumi
e. Bagaimana Cara Pengolahan Minyak Bumi.
f. Apa saja Produk Pengolahan Minyak Bumi dan Manfaatnya

1.3.Tujuan
a. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Minyak Bumi
b. Untuk mengetahui bagaimana Sejarah Minyak Bumi
c. Untuk mengetahui apa saja Komposisi Minyak Bumi
d. Untuk mengetahui bagaimana Pembentukan Minyak Bumi
e. Untuk mengetahui bagaimana cara Pengolahan Minyak Bumi.
f. Untuk mengetahui apa saja Produk Pengolahan Minyak Bumi dan
Manfaatnya
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Minyak Bumi

Gambar 1. Pompa minyak di pengeboran minyak dekat Lubbock, Texas

Minyak bumi (bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa Latin petrus


karang dan oleum minyak), dijuluki juga sebagai emas hitam, adalah cairan
kental, berwarna coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada
di lapisan atas dari beberapa area di kerak bumi. Minyak bumi terdiri dari
campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon, sebagian besar seri alkana, tetapi
bervariasi dalam penampilan, komposisi, dan kemurniannya. Minyak bumi
diambil dari sumur minyak di pertambangan-pertambangan minyak. Lokasi
sumur-sumur minyak ini didapatkan setelah melalui proses studi geologi, analisis
sedimen, karakter dan struktur sumber, dan berbagai macam studi lainnya. Setelah
itu, minyak bumi akan diproses di tempat pengilangan minyak dan dipisah-
pisahkan hasilnya berdasarkan titik didihnya sehingga menghasilkan berbagai
macam bahan bakar, mulai dari bensin dan minyak tanah sampai aspal dan
berbagai reagen kimia yang dibutuhkan untuk membuat plastik dan obat-obatan.
Minyak bumi digunakan untuk memproduksi berbagai macam barang dan
material yang dibutuhkan manusia.
2.2. Sejarah Minyak Bumi

Gambar 2. Pengeboran minyak di Okemah, Oklahoma, 1922.

Minyak bumi telah digunakan oleh manusia sejak zaman kuno, dan sampai
saat ini masih merupakan komoditas yang penting. Minyak bumi menjadi bahan
bakar utama setelah ditemukannya mesin pembakaran dalam, semakin majunya
penerbangan komersial, dan meningkatnya penggunaan plastik.

Lebih dari 4000 tahun yang lalu, menurut Herodotus dan Diodorus
Siculus, aspal telah digunakan sebagai konstruksi dari tembok dan menara
Babylon; ada banyak lubang-lubang minyak di dekat Ardericca (dekat Babylon).
Jumlah minyak yang besar ditemukan di tepi Sungai Issus, salah satu anak sungai
dari Sungai Eufrat. Tablet-tablet dari Kerajaan Persia Kuno menunjukkan bahwa
kebutuhan obat-obatan dan penerangan untuk kalangan menengah-atas
menggunakan minyak bumi. Pada tahun 347, minyak diproduksi dari sumur yang
digali dengan bambu di Tiongkok.

Pada tahun 1850-an, Ignacy ukasiewicz menemukan bagaimana proses


untuk mendistilasi minyak tanah dari minyak bumi, sehingga memberikan
alternatif yang lebih murah daripada harus menggunakan minyak paus. Maka,
dengan segera, pemakaian minyak bumi untuk keperluan penerangan melonjak
drastis di Amerika Utara.[19] Sumur minyak komersial pertama di dunia yang
digali terletak di Polandia pada tahun 1853. Pengeboran minyak kemudian
berkembang sangat cepat di banyak belahan dunia lainnya, terutama saat Kerajaan
Rusia berkuasa. Perusahaan Branobel yang berpusat di Azerbaijan menguasai
produksi minyak dunia pada akhir abad ke-19.

2.3. Komposisi Minyak Bumi


Minyak bumi adalah campuran yang kompleks hidrokarbon plus
senyawaan organik darisulfur, oksigen, nitrogen dan senyawa-senyawa yang
mengandung konstituen logam terutamanikel, besi dan tembaga. Minyak bumi
sendiri bukan merupakan bahan yang uniform, melainkanberkomposisi yang
sangat bervariasi, tergantung pada lokasi, sumur minyak dan juga kedalaman
sumur. Dalam minyak bumi parafin ringan mengandung hidrokarbon tidak kurang
dari 97 % sedangkan dalam jenis asphaltik berat paling rendah 50 %.

Komponen hidrokarbon dalam minyak bumi diklasifikasikan atas tiga


golongan, yaitu :
golongan parafinik
golongan naphthenik
golongan aromatik

sedangkan golongan olefinik umumnya tidak ditemukan dalam minyak,


demikian juga hidrokarbon asetilenik sangat jarang. Crude oil mengandung
sejumlah senyawaan non hidrokarbon, terutama senyawaan
sulfur, senyawaan nitrogen, senyawaan oksigen, senyawaan organometal (dalam
jumlah kecil/trace sebagai larutan) dan garam-garam anorganik (sebagai suspensi
koloidal).

1. Senyawa sulfur
Crude oil yang kerapatannya lebih tinggi mempunyai kandungan sulfur
yang lebih tinggu pula. Keberadaan Sulfur dalam minyak bumi sering banyak
menimbulkan masalah, misalnya dalam gasoline dapat menyebabkan korosi
(khususnya dalam keadaan dingin atau berair), karena terbentuknya asam yang
dihasilkan dari oksida sulfur (sebagai hasil pembakaran gasolin) dan air.

2. Senyawa Oksigen
Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah kurang dari 2 % dan
mengaiami kenaikan dengan naiknya titik didih fraksi. Kandungan oksigen dapat
menaik apabila produk itu lama berhubungan dengan udara. Oksigen dalam
minyak bumi berada dalam bentuk ikatan sebagai asam karboksilat, keton, ester,
eter, anhidrida, senyawa monosiklo dan disiklo dan phenol. Sebagai asam
karboksilat berupa asam Naftent (asam alisiklik) dan asam alifatik.

3. Senyawa Nitrogen
Umumnya kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat rendah, yaitu
0,1-0,9 %. Kandungan tertinggi terdapat pada tipe Asphalitik. Nitrogen
mempunyai sifat racun terhadap katalis dan dapat membentuk gum/getah pada
fuel oil. Kandungan nitrogen terbanyak terdapat pada fraksi titik didih tinggi.
Nitrogen kelas dasar yang mempunyai berat molekul yang relatif rendah dapat
diekstrak dengan asam mineral encer, sedangkan yang mempunyai berat molekul
yang tinggi tidak dapat diekstrak dengan asam mineral encer.

4. Konstituen Metalik
Logam-logam seperti besi, tembaga, terutama nikel dan vanadium pada
proses catalytic cracking mempengaruhi aktifitas katalis, sebab dapat menurunkan
produk gasoline, menghasilkan banyak gas dan pembentukkan coke. Pada power
generator temperatur tinggi, misalnya oil-fired gas turbin, adanya konstituen
logam terutama vanadium dapat membentuk kerak pada rotor turbine. Abu yang
dihasilkan dari pembakaran fuel yang mengandung natrium dan terutama
vanadium dapat bereaksi dengan refactory furnace (bata tahan api), menyebabkan
turunnya titik lebur campuran sehingga merusakkan refractory itu. Agar dapat
diolah menjadi produk-produknya, minyak bumi dari sumur diangkut ke kilang
menggunakan kapal, pipa, mobil tanki atau kereta api. Didalam Kilang, minyak
bumi diolah menjadi produk yang kita kenal secara fisika berdasarkan trayek titik
didihnya (distilasi), dimana gas berada pada puncak kolom fraksinasi dan residu
(aspal) berada pada dasar kolom fraksinasi. Setiap trayek titik didih disebut
Fraksi, misalnya :
S0-50C : Gas yaitu metana, etana, propana
50-85C : nafta yaitu senyawa alkana rantai lurus, sikloalkana,
aromatic, alkena
85-105C : Kerosin yaitu senyawa alkana rantai lurus, sikloalkana,
alkena
105-135C : Solar
> 135C : Residu (Umpan proses lebih lanjut)

Jadi yang namanya minyak bumi atau sering juga disebut crude oil(minyak
mentah) adalah merupakan campuran dari ratusan jenis hidrokarbon dari rentang
yang paling kecil, seperti metan, yang memiliki satu atom karbon sampai dengan
jenis hidrokarbon yang paling besar yang mengandung 200 atom karbon bahkan
lebih. Secara garis besar minyak bumi dikelompokkan berdasarkan komposisi
molekulnya menjadi empat jenis, yaitu :

Tabel 1. Komposisi molekul berdasarkan berat


Hidrokarbon Rata-rata Rentang
Parafin 30% 15-60%
Naptena 49% 30-60%
Aromatik 15% 3-30%
Aspaltena 6% sisa

Tetapi karena di alam bisa dikatakan tidak pernah ditemukan minnyak


bumi dalam bentuk olefin, maka minyak bumi kemudian dikelompokkan menjadi
tiga jenis saja, yaitu Parafin, Naften dan Aromat.
Kandungan utama dari campuran hidrokarbon ini adalah parafin atau
senyawa isomernya. Isomer sendiri adalah bentuk lain dari suatu senyawa
hidrokarbon yang memiliki rumus kimia yang sama. Misal pada normal-butana
pada gambar berikut memiliki isomer 2-metil propana, atau kadang disebut juga
iso-butana. Keduanya memiliki rumus kimia yang sama, yaitu C4 H10 tetapi
memiliki rumus bangun yang berbeda seperti tampak pada gambar.
Jika atom karbon (C)
dinotasikan sebagai bola berwarna
hitam dan atom hidrogen (H)
dinotasikan sebagai bola berwarna
merah maka gambar dari normal-
butan dan iso-butan akan tampak
seperti gambar berikut :
Gambar 3. n butana

Senyawa hidrokarbon normal sering juga disebut sebagai senyawa


hidrokarbon rantai lurus, sedangkan senyawa isomernya atau iso sering juga
disebut sebagai senyawa hidrokarbon bercabang.

Keduanya merupakan jenis minyak bumi jenis paraffin, sedangkan sisa


kandungan hidrokarbon lainnya dalam minyak bumi adalah senyawa siklo-parafin
yang disebut juga naften dan/atau senyawa aromatik. Berikut adalah contoh dari
siklo paraffin dan aromat.

Gambar 4. Paraffin Gambar 5. Sikloheksana


Keluarga hidrokarbon tersebut di atas disebut homologis, karena
sebagian besar kandungan yang ada dalam minyak bumi tersebut dapat dipisahkan
ke dalam beberapa jenis kemurnian untuk keperluan komersial.
Secara umum, didalam kilang minyak bumi, pemisahan perbandingan
kemurnian dilakukan terhadap hidrokarbon yang memiliki kandungan karbon
yang lebih kecil dari C7. Pada umumnya, kandungan tersebut dapat dipisahkan
dan diidentifikasi, tetapi hanya untuk keperluan di laboratorium. Campuran siklo
parafin dan aromatik dalam rantai hidrokarbon panjang dalam minyak bumi
membuat minyak bumi tersebut digolongkan menjadi minyak bumi jenis
aspaltin.

Minyak bumi di alam tidak pernah terdapat dalam bentuk parafin murni
maupun aspaltin murni, tetapi selalu dalam bentuk campuran antara paraffin dan a

Pengelompokan minyak bumi


menjadi minyak bumi jenis parafin
dan minyak bumi jenis aspaltin
berdasarkan banyak atau dominasi
minyak parafin atau aspaltin dalam
Gambar 6. Benzena minyak bumi.Artinya, minyak bumi.
dikatakan jenis parafin jika senyawa parafinnya lebih dominan dibandingkan
aromatik dan/atau siklo parafinnya. Begitu juga sebaliknya. Dalam skala industri,
produk dari minyak bumi dikelompokkan berdasarkan rentang titik didihnya, atau
berdasarkan trayek titik didihnya. Pengelompokan produk berdasarkan titik didih
ini lebih sering dilakukan dibandingkan pengelompokan berdasarkan
komposisinya.

Minyak bumi tidak seluruhnya terdiri dari hidrokarbon murni. Dalam


minyak bumi terdapat juga zat pengotor (impurities) berupa sulfur (belerang),
nitrogen dan logam. Pada umumnya, zat pengotor yang banyak terdapat dalam
minyak bumi adalah senyawa sulfur organik yang disebut merkaptan. Merkaptan
ini mirip dengan hidrokarbon pada umumnya, tetapi ada penambahan satu atau
lebih atom sulfur dalam molekulnya, seperti pada gambar 7. berikut :
Senyawa sulfur yang lebih
kompleks dalam minyak bumi
terdapat dalam bentuk tiofen dan
disulfida. Tiofen dan disulfida ini
banyak terdapat dalam rantai
hidrokarbon panjang atau pada
produk distilat pertengahan, (middle
Gambar 7. Markaptan
distillate).
Selain itu zat pengotor lainnya yang terdapat dalam minyak bumi adalah berupa
senyawa halogen organik, terutama klorida, dan logam organik, yaitu natrium
(Na), Vanadium (V) dan nikel (Ni).

Titik didih minyak bumi parafin dan aspaltin tidak dapat ditentukan secara
pasti, karena sangat bervariasi, tergantung bagaimana komposisi jumlah dari
rantai hidrokarbonnya. Jika minyak bumi tersebut banyak mengandung
hidrokarbon rantai pendek dengan jumlah atom karbon lebih sedikit maka titik
didihnya lebih rendah, sedangkan jika memiliki hidrokarbon rantai panjang
dengan jumlah atom karbon lebih banyak maka titik didihnya lebih tinggi.

2.4. Pembentukan Minyak Bumi


Minyak bumi terbentuk dari penguraian (dekomposisi) senyawa-senyawa
organik yang berasal dari jasad organism yang hidup di laut jutaan tahun yang
lalu. Begitu organisme ini mati, lalu terkubur di dasar laut dan kemudian
tertimbun oleh pasir dan lumpur.Kemudian ia akan terbentuk lapisan yang kaya
akan zat organik yang akhirnya akan menjadi batuan endapan. Proses ini berulang
secara terus-menerus, sehingga satu lapisan akan menutup lapisan berikutnya. Ini
berlangsung selama jutaan tahun. Yang memungkingkan lautan tersebut menyusut
dan berpindah tempat karena adanya gerakan dari lempeng-lempeng bumi.
Endapan yang terbentuk ini umumnya miskin oksigen, sehingga tidak
dimungkinkan material organik dari organisme, tumbuhan, maupun hewan
tersebut terdekomposisi secara sempurna. Akan tetapi ada bakteri anaerob (tidak
menggunakan oksigen dalam hidupnya) yang mengurai material ini, sedikit demi
sedikit, molekul demi molekul, selama jutaan tahun menjadi material yang kaya
akan hidrogen dan karbon. Seiring dengan terdekomposisinya material ini,
muncul tekanan yang disebabkan oleh batuan yang mengendap di atasnya,
sehingga temperaturdan tekanannya menjadi tinggi dan kemudian secara
perlahan-lahan akan mengubah sisa-sisa bahan organik tersebut menjadi minyak
dan gas bumi.

Minyak bumi yang dihasilkan ini kemudian akan bergerak ke lapisan


batuan yang atas karena massa jenisnya yang rendah. Minyak bumi ini akan
menuju batuan yang mempunyai poripori yang ukurannya cukup. Sehingga
minyak akan terakumulasi di lapisan batuan tersebut. Lapisan batuan yang dapat
mengandung minyak inilah yang disebut dengan reservoir minyak.

Batuan yang mengandung minyak bumi tertua yang diketahui berumur


lebih dari 600 juta tahun, sedangkan yang paling muda berumur sekitar 1-juta
tahun. dapat kita bayangkan berapa lama waktu pembentukan minyak bumi
tersebut. Waktu pembentukan yang lama inilah yang menyebabkan minyak bumi
termasuk sumber daya yang tidak dapat diperbarui, sehingga sudah seharusnyalah
kita menghemat penggunaan minyak bumi ini demi kelangsungan hidup manusia.

Proses penguraian berlangsung lambat di bawah suhu dan tekanan tinggi


dan menghasilkan campuran hidrokarbon yang kompleks. Sebagian campuran
berada dalam fasa cair dan dikenal sebagai minyak bumi. Sebagian lagi berada
dalam fasa gas dan disebut gas alam. Karena memiliki nilai kerapatan yang lebih
rendah dari air, maka minyak bumi dan gas alam dapat bergerak ke atas melalui
batuan sedimen yang berpori. Jika tidak menemui hambatan, minyak bumi dapat
mencapai permukaan bumi. Akan tetapi, pada umumnya minyak bumi
terperangkap dalam batuan yang tidak berpori dalam pergerakannya ke atas. Hal
ini menjelaskan mengapa minyak bumi juga disebut petroleum. Petroleum dari
bahasa Latin petrus artinya batu dan oleum artinya minyak.

Langkah awal untuk mendapatkan minyak bumi adalah eksplorasi, yaitu


upaya mencari daerah yang mengandung minyak bumi dan prakiraan minyaknya.
Setelah mengetahui daerah-daerah yang akan diselidiki, para ahli geologi
menyelidiki contoh-contoh batuan. Penyelidikan selanjutnya adalah penyelidikan
secara geofisika yang dikenal dengan istilah kegiatan seismik. Selanjutnya,
mereka melakukan pengoboran kecil untuk menentukan ada tidaknya minyak.
Jika ada maka dilakukan beberapa pengeboran untuk memperkirakan apakah
jumlah minyak bumi tersebut ekonomis untuk diambil atau tidak. Pengeboran
untuk mengambil minyak bumi dan gas alam dilepas pantai dapat dilakukan dua
cara, yaitu:
a. menanam jalur pipa di dasar laut dan memompa minyak dan gas alam ke
daratan. Cara ini digunakan apabila jarak sumur minyak ke darat cukup
dekat.
b. membuat anjungan dimana minyak bumi dan gas alam selanjutnya
dibawah ke kilang minyak (refinery) untuk diolah.
2.5. Pengolahan Minyak Bumi.
Diagram alir pengolahan minyak bumi

Minyak bumi ditemukan bersama-sama dengan gas alam. Minyak


bumiyang telah dipisahkan dari gas alam disebut juga minyak mentah (crude oil).
Minyak mentah dapat dibedakan menjadi:
Minyak mentah ringan yang mengandung kadar logam dan belerang
rendah, berwarna terang dan bersifat encer (viskositas rendah).
Minyak mentah berat ( heavy crude oil) yang mengandung kadar logam
dan belerang tinggi, memiliki viskositas tinggi sehingga harus dipanaskan
agar meleleh.
Tabel 2. Komposisi komponen minyak mentah
Komponen minyak mentah Komposisi (%)
karbon 84
hydrogen 14
belerang 1-3
nitogen <1
Oksigen <1
Logam(Ni,Cu,As,Fe,V) <1
Garam(Nacl,MgCl2,CaCl2) <1

Untuk memisahkan komponen-komponennya, yakni berdasarkan


perbedaan titik didihnya. Proses ini disebut distilasi bertingkat. Selanjutnya untuk
mendapatkan produk akhir sesuai yang diinginkan, maka sebagian hasil dari
distilasi bertingkat perlu diolah lebih lanjut melalui proses konversi, pemisahan
pengotor dalam fraksi, dan campuran fraksi.

1. Destilasi Bertingkat

Gambar 8. Menara Destilasi


Pipa yang keluar dari setiap tingkatan menara menunjukkan level fraksi
Destilasi adalah pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi berdasarkan
perbedaan titik didihnya. Dalam hal ini adalah destilasi fraksinasi. Mula-mula
minyak mentah dipanaskan dalam aliran pipa dalam furnace (tanur) sampai
dengan suhu 370C. Minyak mentah yang sudah dipanaskan tersebut kemudian
masuk kedalam kolom fraksinasi pada bagian flash chamber (biasanya berada
pada sepertiga bagian bawah kolom fraksinasi). Untuk menjaga suhu dan tekanan
dalam kolom maka dibantu pemanasan dengan steam (uap air panas dan
bertekanan tinggi).

Minyak mentah yang menguap pada proses destilasi ini naik ke bagian
atas kolom dan selanjutnya terkondensasi pada suhu yang berbeda-beda.
Komponen yang titik didihnya lebih tinggi akan tetap berupa cairan daN turun ke
bawah, sedangkan yang titik didihnya lebih rendah akan menguap dan naik ke
bagian atas melalui sungkup-sungkup yang disebut sungkup gelembung. Makin ke
atas, suhu yang terdapat dalam kolom fraksionasi tersebut makin rendah, sehingga
setiap kali komponen dengan titik didih lebih tinggi akan terpisah, sedangkan
komponen yang titik didihnya lebih rendah naik ke bagian yang lebih atas lagi.
Demikian selanjutnya sehingga komponen yang mencapai puncak adalah
komponen yang pada suhu kamar berupa gas. Komponen yang berupa gas ini
disebut gas petroleum, kemudian dicairkan dan disebut LPG (Liquified Petroleum
Gas).

Fraksi minyak mentah yang tidak menguap menjadi residu. Residu minyak
bumi meliputi parafin, lilin, dan aspal. Residu-residu ini memiliki rantai karbon
sejumlah lebih dari 20. Fraksi minyak bumi yang dihasilkan berdasarkan rentang
titik didihnya antara lain sebagai berikut :
1. Gas
Rentang rantai karbon : C1 sampai C5 Trayek didih : 0 sampai 50C.
2. Gasolin (Bensin)
Rentang rantai karbon : C6 sampai C11 Trayek didih : 50 sampai 85C
3. Kerosin (Minyak Tanah)
Rentang rantai karbon : C12 sampai C20 Trayek didih : 85 sampai 105C
4. Solar
Rentang rantai karbon : C21 sampai C30 Trayek didih : 105 sampai 135C
5. Minyak Berat
Rentang ranai karbon : C31 sampai C40 Trayek didih : 135 sampai 300C
6. Residu
Rentang rantai karbon : di atas C40 Trayek didih : di atas 300C

Fraksi-fraksi minyak bumi dari proses destilasi bertingkat belum memiliki


kualitas yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga perlu pengolahan
lebih lanjut yang meliputi proses cracking, reforming, polimerisasi, treating, dan
blending.

Minyak mentah yang telah melalui proses desalting kemudian diolah lebih
lanjut dengan proses distilasi bertingkat, yaitu cara pemisahan campuran berdasar
perbedaan titik didih. Fraksi-fraksi yang diperoleh dari proses distilasi beringkat
ini adalah campuran hidrokaron yang mendidih pada interval (range) suhu
tertentu. proser distilasi bertingkat dan fraksi yang dihasilkan dari distilasi
bertingkat tesebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Gambar 9. Proses Distilasi Bertingkat

Tabel 3. Fraksi Hidrokarbon yang diperoleh dari Distilasi Bertingkat

2. Proses konversi
Proses konversi adalah penyususnan ulang struktur molekul hidrokarbon,
yang bertujuan untuk memperoleh fraksi-fraksi dengan kuantitas dan kualitas
sesuai permintaan pasar. Sebagai contoh untuk memenuhi fraksi bensin yang
tinggi, maka sebagian fraksi rantai panjang perlu diubah/dikonversi menjadi rantai
pendek. Demikian pula sebagian besar fraksi rantai lurus harus dikonversi
menjadi rantai bercabang/asiklik/aromatik dibandingkan rantai lurus.
Beberapa jenis proses konversi dalam kilang minyak adalah:

A. Cracking
Setelah melalui tahap destilasi, masing-masing fraksi yang dihasilkan dimurnikan
(refinery)

Gambar 10. Proses Cracking(perengkahan)

Cracking adalah penguraian molekul-molekul senyawa hidrokarbon


yang besar menjadi molekul-molekul senyawa hidrokarbon yang kecil.
Contoh cracking ini adalah pengolahan minyak solar atau minyak tanah menjadi
bensin.

Proses ini terutama ditujukan untuk memperbaiki kualitas dan perolehan


fraksi gasolin (bensin). Kualitas gasolin sangat ditentukan oleh sifat anti knock
(ketukan) yang dinyatakan dalam bilangan oktan. Bilangan oktan 100 diberikan
pada isooktan (2,2,4-trimetil pentana) yang mempunyai sifat anti knocking yang
istimewa, dan bilangan oktan 0 diberikan pada n-heptana yang mempunyai sifat
anti knock yang buruk. Gasolin yang diuji akan dibandingkan dengan campuran
isooktana dan n-heptana. Bilangan oktan dipengaruhi oleh beberapa struktur
molekul hidrokarbon.
Terdapat 3 cara proses cracking, yaitu :
a. Cara panas (thermal cracking), yaitu dengan penggunaan suhu tinggi
dan tekanan yang rendah.
Contoh reaksi-reaksi pada proses cracking adalah sebagai berikut :
n-C30H62 C8H8 + C6H12 + C14H28 atau
n-C30H62 C7H16 + C9H18 + C4H8 + C10H20

b. Cara katalis (catalytic cracking), yaitu dengan penggunaan katalis.


Katalis yang digunakan biasanya SiO2 atau Al2O3 bauksit. Reaksi dari
perengkahan katalitik melalui mekanisme perengkahan ion karbonium.
Mula-mula katalis karena bersifat asam menambahkna proton ke
molekul olevin atau menarik ion hidrida dari alkana sehingga
menyebabkan terbentuknya ion karbonium :
R CH2CH2CH=CH2 + H+ RCH2CH2C + HCH3
R CH2CH2CH2CH3 H- + RCH2CH2C + HCH3

c. Hidrocracking
Hidrocracking merupakan kombinasi antara perengkahan dan
hidrogenasi untuk menghasilkan senyawa yang jenuh. Reaksi tersebut
dilakukan pada tekanan tinggi. Keuntungan lain dari Hidrocracking ini
adalah bahwa belerang yang terkandung dalam minyak diubah menjadi
hidrogen sulfida yang kemudian dipisahkan.
B. Reforming

Gambar 11. Proses Reforming

Reforming adalah perubahan dari bentuk molekul bensin yang bermutu


kurang baik (rantai karbon lurus) menjadi bensin yang bermutu lebih baik (rantai
karbon bercabang). Kedua jenis bensin ini memiliki rumus molekul yang sama
bentuk strukturnya yang berbeda. Oleh karena itu, proses ini juga disebut
isomerisasi. Reforming dilakukan dengan menggunakan katalis dan pemanasan.
Contoh reforming adalah sebagai berikut :
CH3 CH2 CH2 CH3 CH3 CH CH3

CH3
Reforming juga dapat merupakan pen gubahan struktur molekul dari
hidrokarbon parafin menjadi senyawa aromatik dengan bilangan oktan tinggi.
Pada proses ini digunakan katalis molibdenum oksida dalam Al2O3 atauplatina
dalam lempung.Contoh reaksinya :
C6H14 CH6H12 + H2
Heksana Sikloheksana

C6H12 C6H6 + 3H2


C. Alkilasi dan Polimerisasi
Alkilasi merupakan penambahan jumlah atom dalam molekul menjadi
molekul yang lebih panjang dan bercabang. Dalam proses ini menggunakan
katalis asam kuat seperti H2SO4, HCl, AlCl3 (suatu asam kuat Lewis). Reaksi
secara umum adalah sebagai berikut:
RH + CH2 =CRR R-CH2 -CHRR

Polimerisasi adalah proses penggabungan molekul-molekul kecil


menjadi molekul besar. Reaksi umumnya adalah sebagai berikut :
M CnH2n Cm+nH2 (m+n)

Contoh polimerisasi yaitu penggabungan senyawa isobutena dengan


senyawa isobutana menghasilkan bensin berkualitas tinggi, yaitu isooktana.
CH3

CH3 C = CH2 + CH3 CH CH3 CH3 CH CH2 C CH3

CH3 CH3 CH3


Isobutena Isobutana Isooktana

D. Treating

Gambar 12. Proses Treating


Treating adalah pemurnian minyak bumi dengan cara menghilangkan
pengotor-pengotornya. Cara-cara proses treating adalah sebagai berikut :

Copper sweetening dan doctor treating, yaitu proses penghilangan


pengotor yang dapat menimbulkan bau yang tidak sedap.
Acid treatment, yaitu proses penghilangan lumpur dan perbaikan warna.
Dewaxing yaitu proses penghilangan wax (n parafin) dengan berat
molekul tinggi dari fraksi minyak pelumas untuk menghasillkan minyak
pelumas dengan pour point yang rendah.
Deasphalting yaitu penghilangan aspal dari fraksi yang digunakan untuk
minyak pelumas
Desulfurizing (desulfurisasi), yaitu proses penghilangan unsur belerang.

Sulfur merupakan senyawa yang secara alami terkandung dalam minyak


bumi atau gas, namun keberadaannya tidak dinginkan karena dapat menyebabkan
berbagai masalah, termasuk di antaranya korosi pada peralatan proses, meracuni
katalis dalam proses pengolahan, bau yang kurang sedap, atau produk samping
pembakaran berupa gas buang yang beracun (sulfur dioksida, SO2) dan
menimbulkan polusi udara serta hujan asam. Berbagai upaya dilakukan untuk
menyingkirkan senyawa sulfur dari minyak bumi, antara lain menggunakan proses
oksidasi, adsorpsi selektif, ekstraksi, hydrotreating, dan lain-lain. Sulfur yang
disingkirkan dari minyak bumi ini kemudian diambil kembali sebagai sulfur
elemental.

Desulfurisasi merupakan proses yang digunakan untuk menyingkirkan


senyawa sulfur dari minyak bumi. Pada dasarnya terdapat 2 cara desulfurisasi,
yaitu dengan :
Ekstraksi menggunakan pelarut, serta
Dekomposisi senyawa sulfur (umumnya terkandung dalam minyak bumi
dalam bentuk senyawa merkaptan, sulfida dan disulfida) secara katalitik
dengan proses hidrogenasi selektif menjadi hidrogen sulfida (H2S) dan
senyawa hidrokarbon asal dari senyawa belerang tersebut. Hidrogen
sulfida yang dihasilkan dari dekomposisi senyawa sulfur tersebut
kemudian dipisahkan dengan cara fraksinasi atau pencucian/pelucutan.

Akan tetapi selain 2 cara di atas, saat ini ada pula teknik desulfurisasi yang
lain yaitu bio-desulfurisasi. Bio-desulfurisasi merupakan penyingkiran sulfur
secara selektif dari minyak bumi dengan memanfaatkan metabolisme
mikroorganisme, yaitu dengan mengubah hidrogen sulfida menjadi sulfur
elementer yang dikatalis oleh enzim hasil metabolisme mikroorganisme sulfur
jenis tertentu, tanpa mengubah senyawa hidrokarbon dalam aliran proses. Reaksi
yang terjadi adalah reaksi aerobik, dan dilakukan dalam kondisi lingkungan
teraerasi. Keunggulan proses ini adalah dapat menyingkirkan senyawa sulfur yang
sulit disingkirkan, misalnya alkylated dibenzothiophenes. Jenis mikroorganisme
yang digunakan untuk proses bio-desulfurisasi umumnya berasal dari
Rhodococcus sp, namun penelitian lebih lanjut juga dikembangkan untuk
penggunaan mikroorganisme dari jenis lain.

Proses ini mulai dikembangkan dengan adanya kebutuhan untuk


menyingkirkan kandungan sulfur dalam jumlah menengah pada aliran gas, yang
terlalu sedikit jika disingkirkan menggunakan amine plant, dan terlalu banyak
untuk disingkirkan menggunakan scavenger. Selain untuk gas alam dan
hidrokarbon, bio-desulfurisasi juga digunakan untuk menyingkirkan sulfur dari
batubara.

Proses Shell-Paques Untuk Bio-Desulfurisasi Aliran Gas Salah satu lisensi


proses bio-desulfurisasi untuk aliran gas adalah Shell Paques dari Shell Global
Solutions International dan Paques Bio-Systems. Proses ini sudah diterapkan
secara komersial sejak tahun 1993, dan saat ini kurang lebih terdapat sekitar 35
unit bio-desulfurisasi dengan lisensi Shell-Paques beroperasi di seluruh dunia.
Proses ini dapat menyingkirkan sulfur dari aliran gas dan menghasilkan
hidrogen sulfida dengan kapasitas mulai dari 100 kg/hari sampai dengan 50
ton/hari, menggunakan mikroorganisme Thiobacillus yang sekaligus bertindak
sebagai katalis proses bio-desulfurisasi. Dalam proses ini, aliran gas yang
mengandung hidrogen sulfida dilewatkan pada absorber dan dikontakkan pada
larutan soda yang mengandung mikroorganisme. Senyawa soda mengabsorbi
hidrogen sulfida, dan kemudian dialirkan ke bioreaktor THIOPAQ berupa tangki
atmosferik teraerasi dimana mikroorganisme mengubah hidrogen sulfida menjadi
sulfur elementer secara biologis dalam kondisi pH 8,2-9. Sulfur hasil reaksi
kemudian melalui proses dekantasi untuk memisahkan dengan cairan soda. Cairan
soda dikembalikan ke absorber, sedangkan sulfur diperoleh sebagai cake atau
sebagai sulfur cair murni. Karena sifatnya yang hidrofilik sehingga mudah
diabsorpsi oleh tanah, maka sulfur yang dihasilkan dari proses ini dapat juga
dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk.Tahapan reaksi bio-desulfurisasi dapat
digambarkan sebagai berikut :
Absorpsi H2S oleh senyawa soda
H2S(g) + OH- HS- + H2O

Pembentukan sulfur elementer oleh mikroorganisme


HS- + O2 S+ OH-

Keunggulan dari proses Shell-Paques adalah :


dapat menyingkirkan sulfur dalam jumlah besar (efisiensi penyingkiran
hidrogen sulfida dapat mencapai 99,8%) hingga menyisakan kandungan
hidrogen sulfida yang sangat rendah dalam aliran gas (kurang dari 4 ppm-
volume)
pemurnian gas dan pengambilan kembali (recovery) sulfur terintegrasi
dalam 1 proses- gas buang (flash gas/vent gas) dari proses ini tidak
mengandung gas berbahaya, sehingga sebelum dilepas ke lingkungan tidak
perlu dibakar di flare. Hal ini membuat proses ini ideal untuk lokasi-lokasi
dimana proses yang memerlukan pembakaran (misalnya flare atau
incinerator) tidak dimungkinkan.
menghilangkan potensi bahaya dari penanganan solvent yang biasa
digunakan untuk melarutkan hidrogen sulfida dalam proses ekstraksi
sifat sulfur biologis yang hidrofilik menghilangkan resiko penyumbatan
(plugging atau blocking) pada pipa
Bio-katalis yang digunakan bersifat self-sustaining dan mampu
beradaptasi pada berbagai kondisi proses
Konfigurasi proses yang sederhana, handal dan aman (antara lain
beroperasi pada suhu dan tekanan rendah) sehingga mudah untuk
dioperasikan

Proses Shell-Paques ini dapat diterapkan pada gas alam, gas buang
regenerator amine, fuel gas, synthesis gas, serta aliran oksigen yang mengandung
gas limbah yang tidak dapat diproses dengan pelarut.

E. Blending
Proses blending adalah penambahan bahan-bahan aditif kedalam
fraksi minyak bumi dalam rangka untuk meningkatkan kualitas produk
tersebut. Bensin yang memiliki berbagai persyaratan kualitas merupakan contoh
hasil minyak bumi yang paling banyak digunakan di barbagai negara dengan
berbagai variasi cuaca. Untuk memenuhi kualitas bensin yang baik, terdapat
sekitar 22 bahan pencampur yang dapat ditambanhkan pada proses
pengolahannya.
Diantara bahan-bahan pencampur yang terkenal adalah tetra ethyl lead
(TEL). TEL berfungsi menaikkan bilangan oktan bensin. Demikian pula halnya
dengan pelumas, agar diperoleh kualitas yang baik maka pada proses pengolahan
diperlukan penambahan zat aditif. Penambahan TEL dapat meningkatkan
bilangan oktan, tetapi dapat menimbulkan pencemaran udara.
2.6. Produk Pengolahan Minyak Bumi dan Manfaatnya
Keberadaan minyak bumi dan berbagai macam produk olahannya
memiliki manfaat yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, sebagai
contoh penggunaan minyak tanah, gas, dan bensin. Tanpa ketiga produk hasil
olahan minyak bumi tersebut mungkin kegiatan pendidikan, perekonomian,
pertanian, dan aspek-aspek lainnya tidak akan dapat berjalan lancar. Dibawah ini
adalah beberapa produk hasil olahan minyak bumi beserta pemanfaatannya:

Gambar 13. Produk Olahan Minyak Bumi


1. Bahan bakar gas
Bahan bakar gas terdiri dari :
LNG (Liquified Natural Gas) dan
LPG (Liquified Petroleum Gas).

Bahan baker gas biasa digunakan untuk keperluan rumah tangga dan
indusri. Elpiji, LPG (liquified petroleum gas,harfiah: "gas minyak bumi yang
dicairkan"), adalah campuran dari berbagai unsur hidrokarbon yang berasal
darigas alam. Dengan menambah tekanan dan menurunkan suhunya, gas berubah
menjadi cair. Komponennya didominasi propana dan butana . Elpiji juga
mengandung hidrokarbon ringan lain dalam jumlah kecil, misalnya etana dan
pentana.

Dalam kondisi atmosfer, elpiji akan berbentuk gas. Volume elpiji dalam
bentuk cair lebih kecil dibandingkan dalam bentuk gas untuk berat yang sama.
Karena itu elpiji dipasarkan dalam bentuk cair dalam tabung-tabung logam
bertekanan. Untuk memungkinkan terjadinya ekspansi panas (thermal expansion)
dari cairan yang dikandungnya, tabung elpiji tidak diisi secara penuh, hanya
sekitar 80-85% dari kapasitasnya. Rasio antara volume gas bila menguap dengan
gas dalam keadaan cair bervariasi tergantung komposisi, tekanan dan temperatur,
tetapi biasaya sekitar 250:1.

Tekanan di mana elpiji berbentuk cair, dinamakan tekanan uap-nya, juga


bervariasi tergantung komposisi dan temperatur; sebagai contoh, dibutuhkan
tekanan sekitar 220 kPa (2.2 bar) bagi butana murni pada 20 C (68 F) agar
mencair, dan sekitar 2.2 MPa (22 bar) bagi propana murni pada 55C (131 F).
Menurut spesifikasinya, elpiji dibagi menjadi tiga jenis yaitu elpiji campuran,
elpiji propana dan elpiji butana. Spesifikasi masing-masing elpiji tercantum dalam
keputusan Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi Nomor: 25K/36/DDJM/1990.
Elpiji yang dipasarkan Pertamina adalah elpiji campuran.
Sifat elpiji terutama adalah sebagai berikut:
Cairan dan gasnya sangat mudah terbakar
Gas tidak beracun, tidak berwarna dan biasanya berbau menyengat
Gas dikirimkan sebagai cairan yang bertekanan di dalam tangki atau
silinder.
Cairan dapat menguap jika dilepas dan menyebar dengan cepat.
Gas ini lebih berat dibanding udara sehingga akan banyak menempati
daerah yang rendah.

Penggunaan Elpiji di Indonesia terutama adalah sebagai bahan bakar alat


dapur (terutama kompor gas). Selain sebagai bahan bakar alat dapur, Elpiji juga
cukup banyak digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor (walaupun
mesin kendaraannya harus dimodifikasi terlebih dahulu).

Salah satu resiko penggunaan elpiji adalah terjadinya kebocoran pada


tabung atau instalasi gas sehingga bila terkena api dapat menyebabkan kebakaran.
Pada awalnya, gas elpiji tidak berbau, tapi bila demikian akan sulit dideteksi
apabila terjadi kebocoran pada tabung gas. Menyadari itu Pertamina
menambahkan gas mercaptan, yang baunya khas dan menusuk hidung. Langkah
itu sangat berguna untuk mendeteksi bila terjadi kebocoran tabung gas. Tekanan
elpiji cukup besar (tekanan uap sekitar 120 psig), sehingga kebocoran elpiji akan
membentuk gas secara cepat dan merubah volumenya menjadi lebih besar.

2. Naptha atau Petroleum eter, biasa digunakan sebagai pelarut dalam


industri.

3. Gasolin (bensin), biasa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan


bermotor.

4. Kerosin (minyak tanah), biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk


keperluan rumah tangga. Selain itu kerosin juga digunakan sebagai bahan baku
pembuatan bensin melalui proses cracking.
Minyak tanah (bahasa Inggris: kerosene atau paraffin) adalah cairan
hidrokarbon yang tak berwarna dan mudah terbakar. Dia diperoleh dengan cara
distilasi fraksional dari petroleum pada 150C and 275C (rantai karbon dari C12
sampai C15). Pada suatu waktu dia banyak digunakan dalam lampu minyak tanah
tetapi sekarang utamanya digunakan sebagai bahan bakar mesin jet (lebih
teknikal Avtur, Jet-A, Jet-B, JP-4 atau JP-8). Sebuah bentuk dari kerosene dikenal
sebagai RP-1dibakar dengan oksigen cair sebagai bahan bakar roket.
Nama kerosene diturunkan dari bahasa Yunani keros (, wax ).

Biasanya, kerosene didistilasi langsung dari minyak mentah membutuhkan


perawatan khusus, dalam sebuah unit Merox atau, hidrotreater untuk mengurangi
kadar belerangnya dan pengaratannya. Kerosene dapat juga diproduksi oleh
hidrocracker, yang digunakan untuk mengupgrade bagian dari minyak mentah
yang akan bagus untuk bahan bakar minyak.
Penggunaanya sebagai bahan bakar untuk memasak terbatas di negara
berkembang, di mana dia kurang disuling dan mengandung ketidakmurnian dan
bahkan "debris". Bahan bakar mesin jet adalah kerosene yang mencapai
spesifikasi yang diperketat, terutama titik asap dan titik beku.

Kerosene biasa di gunakan untuk membasmi serangga seperti semut dan


mengusir kecoa. Kadang di gunakan juga sebagai campuran dalam cairan
pembasmi serangga seperti pada merk/ brand baygone.

5. Minyak solar atau minyak diesel,


biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk mesin diesel pada kendaraan
bermotor seperti bus, truk, kereta api dan traktor. Selain itu, minyak solar juga
digunakan sebagai bahan baku pembuatan bensin melalui proses cracking.

6. Minyak pelumas, biasa digunakan untuk lubrikasi mesin-mesin.

7. Residu minyak bumiyang terdiri dari :


Parafin , digunakan dalam proses pembuatan obat-obatan, kosmetika,
tutup botol, industri tenun menenun, korek api, lilin batik, dan masih
banyak lagi.
Aspal , digunakan sebagai pengeras jalan raya

Tabel 4. Kegunaan Minyak Bumi


BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahsan pada makalah ini, maka dapat disimpulkan

bahwa :

Minyak bumi adalah salah satu sumber energi yang paling berperan dalam

kehidupan manusia Minyak Bumi merupakan salah satu sumber enetgi yang

paling sering digunakan oleh manusia. Terbentuk dari berbagai fosil yang

diuraikan oleh bumi. Tersusun dari Alkana, Alkena, Hidrokarbon Aromatik,

Sikloalkana, dan beberapa senyawa lain. Diolah dengan proses Destilasi

Bertingkat untuk menghasilkan berbagai produk. Namun karena jumlahnya

terbatas sehingga kita perlu menghematnya.Ditambah dengan polusi hasil

pembakaran olahannya yang tidak begitu ramah lingkungan. Adapun beberapa

Sumber Daya Alam Alternatif yang bila diolah dengan baik, akan tidak kalah

dengan Minyak Bumi.

3.2. Saran
Penulis berharap agar mengetahui pengolahan dan pemisahan Minyak
Bumi yang telah disajikan dalam bab pembahasan dapat dijadikan referensi atau
tambahan wawasan bagi pembaca sehingga dapat membedakannya dan
menerapkannya secara tepat dengan tujuan memajukan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA

Muchtaridi dkk,2006. Kimia Kelas X. Yudiastira.

Mulyati Arifin, dkk. 2000. Strategi belajar mengajar kimia. Bandung: FMIPA

UPI.

Ratumanan, T. G. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya: Unesa University

Press

Sukardjo. 2002. Kapita selekta pendidikan kimia. Yogyakarta: FMIPA

Universitas Negeri Yogyakarta.

Tresna Sastrawijaya. 1988. Proses belajar mengajar kimia. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.